At Pain [1/3] – Present

present

Author: Jung MinHee

Title: At Pain (Present)

Cast: Han Sonhye

Cho KyuHyun

Lee DongHae

Lee HyukJae

Genre: Angst

Rating: G

Length: One Shot

A/N: Hai! Me again! Sudah cukup lama author gk kirim FF ke sini di karenakan sibuk dengan blog pribadi. Tpi setelah dipikir2, tiba2 pengen aja kirim lagi ke sini ^^

Mungkin bakal ada yg mikir, ‘kok judulnya aneh sih?‘ ‘nih author gk bisa b.ing sok2an lagi.’ ‘grammarnya parah bgt ya?‘ and so others. Itu judul bukan karna author gk pinter bhs inggris, judulnya seperti itu karna, ini terinspirasi dari lagu D&E dan Kyuhyun yg berjudul, Growing pains dan At close, so author putuskan untuk gabungin aja itu judul kedua lagu sebagai judul ff ini karna jujur author bingung mau ngasih judul apa..

Ini adalah Trilogy, jadi ada 3 dengan judul yang sama, so jgn bingung dan jgn heran. Ketiga part itu ada masa sekarang, masa lalu dan masa depan.

WARNING: FF INI UDH PERNAH DI POST DI BLOG PRIBADI AUTHOR.

 

At Pain
Han Sonhye

 

Author POV

“Kyuhyun-ah” panggil yeoja dengan blus putih dan rok hitam selutut serta fantopel berwarna senada “apa kau melihat berkas pemesanan barang dari Jeju?” yeoja itu membongkar laci mejanya, sedang yang ditanya hanya menggumam tidak jelas tanpa memalingkan pandangannya dari layar komputer miliknya. “Hya! Cho Kyuhyun aku serius! Ini menyangkut hidup dan matiku!” Kyuhyun membanting mousenya kasar ke meja.

“Bisa tidak kau hentikan semua hiperbolamu itu? Itu hanya sebuah berkas, kau tidak akan ma…”

“Okay, arraseo. Aku tidak akan mati karena berkas itu, melainkan karena aku kemungkinan besar dipecat oleh Lee sajangnim bila aku tidak menemukannya. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Bang! Aku pengangguran dan tidak jelas harus kemana. Sekarang lebih baik kau membantuku mencarinya bila masih ingin aku hidup!” omel yeoja itu panjang lebar, sedang yang diomeli hanya menghela nafas panjang seraya menggerutu tidak jelas dan kembali fokus pada komputernya sendiri.

“Benar-benar tidak bisa diandalkan” batin yeoja itu putus asa dan memutuskan untuk mencari berkas itu sendiri. Tanpa mereka berdua sadari, seorang namja lain menatap terdiam pertarungan mulut mereka itu. Namja itu juga diam-diam mencari berkas yang dicari sang yeoja.

“Apa ini yang kau cari? Pemesanan 50 tempat tidur berukuran king size untuk Immi Hotel di Jeju yang harus dikirim pada 23 Juli ini?” Tanya Donghae, pria yang tadi menatap mereka dalam diam.

“Ah! Eoddi?” seru yeoja itu seraya berjalan ke meja Donghae “Ah matta. Igeo majja! Gomawo Donghae-ah. Kau bisa diandalkan tidak seperti orang lain.” Sindir yeoja itu. Donghae hanya tersenyum menanggapinya, sedangkan Kyuhyun, ia berpura-pura tidak pernah mendengar apapun yang diucapkan yeoja itu.

“Okay eumm. Aku akan ke ruang sajangnim dulu. Jeongmal gomawo Donghae-ah!” ucap yeoja itu setelah mengecek berkas itu lalu berlalu.

“Wae?” Tanya Donghae pada Kyuhyun.

“Mwo?” jawab Kyuhyun singkat.

“Kenapa kau selalu seperti itu pada Sonhye?”

“Lalu kau berharap aku bagaimana?” jawab Kyuhyun dingin masih menatap monitornya.

“Dwaetta!”(lupakan) Donghae kembali ke mejanya dan mulai mengerjakan berkasnya.

***

Sonhye Pov

Sesuatu menyentuh rambutku, geraknya teratur dan sangat pelan, namun begitu tetap membangunkanku dari tidurku. Sebentar, tidur? Aku… bukankah tadi ada di kantor? Dan ini bukan sesuatu, ini tangan , tangan yang terasa sangat hangat dan nyaman. Mungkinkah ini…. Aku tertidur dikantor?! Aku melompat bangun setelah sadar apa yang terjadi. Tubuhku limbung seketika karena belum sepenuhnya sadar, dan tangan hangat tadi menangkap tubuhku agar tidak terjatuh. Donghae, pemilik tangan itu.

“Gwaenchana?” tanyanya pelan. Aku hanya mengangguk tidak jelas dan reflex melihat ke meja didepanku. “Ini sudah pukul setengah enam, apa kau berencana menginap di kantor? Bahkan Kyuhyun sudah pulang sejak setengah jam lalu.” Ujar Donghae yang sudah kembali ke mejanya dan merapihkan barang-barangnya.

“Lebih baik kau pulang. Kau sudah kelelahan, tidurmu tadi menjadi buktinya. Jangan terlalu memaksakan diri.” Sarannya.

“Sejak kapan?” tanyaku rancu yang membuat Donghae menatapku bingung sesaat “sejak kapan aku tertidur?” terlihat garis lega di wajahnya.

“Sekitar satu jam lalu? Entahlah, yang kuingat kau kembali dari ruangan sajangnim dengan wajah kusut dan mulai bekerja. Aku sadar kau tertidur karena Kyuhyun terus menggerutu tidak jelas selama 15 menit tanpa henti yang membuatku pusing.” Jelasnya terkekeh.

“Ah… arraseo, gomawo Donghae-ah. Jalga!” ucapku seraya melambaikan tangan. Donghae hanya tersenyum lalu menyampirkan backpacknya ke punggung lalu melenggang pergi. Kurasa Donghae benar, aku perlu istirahat. Aku pun mulai mengemasi berkas yang akan kuurus di rumah nanti.

***

Sonhye Pov

Kuparkirkan mobilku di basement gedung apartemen yang ku tinggali dan segera masuk ke lift untuk mencapai apartemenku. Sebelum masuk aku menyempatkan diri untuk menatap pintu di seberang apartemenku, pintu apartemennya. Aku hanya dapat tersenyum menatap pintu itu. Lalu sebuah ide gila masuk ke kepalaku. Aku membuka pintu apartemenku setelah menulis post it dan menempelkannya ke pintu tadi. Setelah yakin pintuku terbuka aku menekan bel pintu itu beberapa kali lalu berlari masuk ke apartemenku. Seperti yang biasa kulakukan saat kecil bersama Hyukjae yang notabenenya adalah bosku sekarang. Aku mengintip apa yang dilakukan tetangga seberangku ini. Ia membuka pintunya, mencari siapa yang telah menekan belnya sejenak, lalu kembali menutupnya tanpa menyadari keberadaan post it yang kutinggalkan. Namja itu, kapan akan sadar? Bagiku ia seperti memang ditakdirkan untukku, semua bermula saat ia pindah ke apartemen diseberangku 3 tahun lalu.

FLASHBACK

Author’s POV

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi namun yeoja ini belum menunjukan tanda akan beranjak dari ranjangnya.

“Ini ditaruh di ruang tamu saja ahjussi. Hati-hati dengan barang itu! Eommaku yang memberikannya. Ahjussi! Sudah ku bilang jangan dibanting. Itu berisi peralatan makan!” terdengar suara teriakkan dari luar yang membuat yeoja itu menggeliat malas di ranjangnya.

PRANG!

“AHJUSSI! SUDAH KUBILANG JANGAN DIBANTING! LIHAT SEMUANYA PECAH SEKARANG!” Suara piring pecah serta teriakkan namja yang sama membuat yeoja itu bangkit dari ranjangnya dan hendak memarahi siapapun yang menggangu hari minggu paginya. ‘Ini jadwal beauty sleep-ku’ batinya.

“AHJUSSI! BISAKAH KAU TIDAK BERTERIAK DAN MENGANGGU TIDURKU?! SUDAH CUKUP MELELAHKAN BAGIKU UNTUK BEKERJA DARI SENIN HINGGA JUMAT. TIDAK BISAKAH KAU MEMBANTUKU SEDIKIT?! AKU BUKAN IDOL YANG HARUS SELALU BANGUN PAGI DAN TIDUR MALAM HARI!” omel yeoja itu panjang lebar yang tidak dihiraukan sama sekali oleh namja itu. “HYA!” teriak yeoja itu frustasi.

“Waeyo ahjumma? Tidakkah kau sadar sudah pukul berapa sekarang?” balas namja itu.

“AHJUMMA?!” suara yeoja itu naik satu oktaf “Jogi, ahjussi bagaimana bisa kau pangil aku ahjumma?! Aku baru berumur 22 tahun, kau tahu?” omel yeoja itu sekali lagi. Sedangkan yang diomeli kembali sibuk dengan kegiatannya sendiri. “Jogiyo…” panggil yeoja itu lagi.

“Sudahlah, aku sibuk. Kau boleh pergi sekarang.” Ucap namja itu santai seraya mengibaskan tangannya bermaksud menyuruh yeoja itu pergi. Akhirnya yeoja itu hanya menghetakkan kakinya kesal dan kembali melangkah masuk ke apartemennya.

FLASBACK END

***

Sonhye POV

Aku mengerjabkan mataku karena sinar matahari berusaha menerobos mataku. Aku melirik jam weker diatas meja lampuku. Pukul 6, aku harus bersiap-siap untuk berangkat kerja. Setelah selesai bersiap-siap aku membuka pintu apartemenku dan menemukan post it-ku telah hilang dari pintunya. Apa ia mengambilnya? Atau, pengantar Koran yang mengambilnya? Entahlah, tapi aku rasa aku akan menempelkan post it lain sebelum berangkat hari ini.

Apa tidurmu nyenyak? Hari baru telah dimulai, berarti sudah semakin lama sejak aku mulai menyukaimu. Semoga harimu menyenangkan.. ^^

***

SonHye POV

Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku bahkan belum sempat menginjakkan kakiku pada lift kantor dan HyukJae sudah menyeretku ke Café terdekat. Maka, disinilah aku sekarang, tidak berani menatapnya yang terus melemparkan tatapan tajamnya padaku.

“Waeyo sajangnim?” tanyaku hati-hati.

“Lee HyukJae.” Ucapnya dingin.

“Ne, Lee sajangnim.”

“Apa dengan menjadi bosmu kita menjadi 2 orang asing? Apa bahkan kau ingat pernah bermain dengan ku?!” apa yang merasukkinya sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ia menjadi begini?

“Neo… Apa maksudmu?” tanyaku putus asa.

“Kenapa kau tidak bercerita padaku? Kau tidak perlu menceritakannya pada teman masa kecilmu, hanya pada bosmu! Apa itu sulit?!” Aku mengerutkan dahi tanda tidak mengerti. “Ini.” Ia melemparkan sebuah amplop coklat ke atas meja seraya menghela nafas panjang. Aku mulai membukanya dan segera terkejut setelah melihat isinya.

“Ini…” ucapku dengan susah payah. HyukJae hanya menatapku tajam sekali lagi.

“Kenapa kau tidak memberi tahuku?” aku hanya tertunduk lemas. “SonHye-ah, ani SonHye-ssi. Kalau kau tidak mau menceritakannya padaku karena aku temanmu maka beri tahu aku karena aku bosmu, begitu pun sebaliknya.”

“Aku… HyukJae-ah” kuputuskan untuk menceritakan semuanya. “Kau, masih ingat saat kita kecil dulu? Aku selalu berkata bahwa aku ingin menjadi aktris bukan?” ia menganggukan kepalanya. “Dan inilah saatnya. Mungkin aku sudah tidak muda lagi, tetapi aku memiliki potensi besar, begitu yang mereka katakan.”

“Tapi itu Amerika, dan kau akan sendiri di sana. Apa kau tidak memikirkan itu?”

“HyukJae-ah, aku sudah 25 tahun ini, aku yakin aku pasti bisa menjadi lebih baik. Selain itu, aku juga sudah banyak merepotkanmu di perusahaan ini.”

“Baiklah, kalau memang itu keputusanmu. Aku tidak bisa berbuat apapun.” Aku tersenyum mendengarnya.

“Gomawo HyukJae-ah. Tapi, bagaimana kau mendapatkan ini?” aku mengacungkan amplop coklat tadi “Aku yakin aku menyimpanya di laci mejaku.”

“Ah.. eum, itu.. Kau belum mengembalikan novelku! Jadi kuputuskan untuk mengambilnya sendiri.” Ucapnya lalu berlalu. Ia, benar-benar tidak berubah.

***

SonHye POV

Aku melangkahkan kakiku dengan semangat kedalam ruanganku hingga tiba-tiba aku menabrak seseorang. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menydari bahwa ada sesuatu yang panas di kemeja putihku ini.

“Apa yang kau lakukan?!” Teriakku bersamaan dengan orang yang menumpahkan kopinya ke kemejaku.

“Neo…” ucap kami bersamaan lagi.

“Aish! Hya, berapa kali perlu kukatakan padamu untuk berhati-hati saat berjalan? Huh?” omelnya.

“Hya! Apa aku yang salah disini? Tentu jelas yang salah adalah kau! Enak saja mengatakan aku yang…”

“Hya!” ia melemparkan tatapan tajamnya padaku seraya mengambil langkah mendekat perlahan yang membuatku tersudut pada dinding. Aku tidak kuat lagi, ini terlalu dekat, dan matanya terus mengintimidasiku. Apa yang ia inginkan sesungguhnya?! “Sejak pertama aku bertemu denganmu, kau hanya membawa kesialan bagiku!” teriaknya tepat di depan wajahku. “Karena itu aku mohon, pergilah dari kehidupanku!”

Deg!

Aku tidak dapat berkata apa-apa. Mungkin aku bisa menerima saat ia berkata bahwa aku membawa kesialan baginya. Memang aku sering kali merepotkannya. Tapi, apa dia harus melangkah sejauh ini?

DongHae memanggil namja itu, yang membuat namja itu akhirnya mengakhiri tatapan tajamnya. Entah apa yang dikatakan DongHae padanya, namun ia segera melangkahkan kaiknya pergi dariku. Aku segera jatuh terduduk. Tidakkah ia tahu bahwa ialah alasan mengapa aku begitu semangat saat berangkat kerja? Tidakkah ia tahu bahwa ialah alasan mengapa aku enggan pergi dari apartemen itu? Tidakkah ia tahu bahwa… bahwa ia begitu berharga bagiku? Tidakkah ia tahu bahwa aku, bahwa aku… mencintainya? Sangat, bahkan aku sangat mencintainya. Tapi apa yang kudapat? Ia bahkan tidak menginginkanku di kehidupannya. Apa bahkan aku pantas walau hanya untuk menatapnya dari jauh? Layaknya seorang anak kecil yang selalu menyukai bintang, namun sadar bahwa ia tidak akan mendapatkannya. Bintang itu terlalu jauh untuk ia gapai. Namun sekarang anak itu tahu bahwa sesungguhnya bintang itu tidak menginginkannya. Tidak bahkan sedikitpun. Maka keputusan anak itu adalah…

“SonHye-ah, gwaenchana?” Tanya DongHae. Ia mengambil saputangan dari sakunya lalu menyeka air mataku yang entah sejak kapan sudah mengalir. “Apa yang terjadi?” Aku menarik nafas panjang sebelum menjawabnya.

“Aku akan ke Amerika. Lusa aku akan ke Amerika.” Ucapku seraya menunduk semakin dalam. Berusaha untuk tidak menangis atau setidaknya berusaha menyembunyikan air mata ini dari DongHae.

Pergi, keputusan anak itu adalah untuk pergi. Menjauhi bintang itu, pergi ketempat dimana ia tidak akan melihat bintang itu, sekligus, dimana bintang itu tidak akan menemukannya.

***

SonHye POV

Jam kerja sudah selesai. Kami semua sedang merapihkan barang-barang kami dan bersiap pulang.

“SonHye-ah” panggil DongHae.

“Eung?” aku mengalihkan perhatianku dari beberapa berkas yang akan kuberikan pada DongHae.

“Apa kau mau makan bersama? Maksudku, ini sudah lama sekali sejak kita makan bersama dan…”

“Mothae.” Jawabku pelan “Mianhae DongHae-ah, nan mothae.”

“Wae?”

“Aku harus mengurus beberapa hal lagi disini.”

“Aku akan menunggu.”

“Aku akan lama.” KyuHyun melangkahkan kakinya keluar begitu saja tanpa berpamitan pada kami. Ada baiknya ia tidak tahu. Setelah memastikan bahwa KyuHyun sudah tidak ada, aku kembali melanjutkan “Aku sudah resign. Maka dari itu aku harus merapihkan barang-barangku disini.”

“Ah.. baiklah. Kalau begitu bagaimana dengan besok? Kaukan sudah akan pergi ke Amerika Lusa, maka setidaknya biarkan aku makan untuk terakhir kalinya denganmu.”

“Arraseo.” Jawabku singkat lalu kembali membereskan barang-barangku.

“Han SonHye!” teriak HyukJae tiba-tiba, sejak kapan ia… “Apa maksud dari ini?!” ia melemparkan surat pengunduran diriku ke atas meja.

“Sajangnim, igeo…”

“Lee HyukJae!” mengapa ia begitu terobsesi dengan namanya?

“Ini masih di kantor jadi…”

“Jam kantor sudah selesai. Panggil aku Lee HyukJae!”

“Arraseo. Aku akan pergi ke Amerika lusa jadi….”

“Lusa?! Kau bilang lusa?”

“Iya, aku ingin pergi kesana secepatnya. Lagi pula pihak agency bilang bahwa lebih cepat maka lebih baik jadi aku… Yah, pasti kau mengerti.”

“Baiklah kalau begitu. Tapi dengan satu syarat.” Ia memberi jeda sejenak “Kau harus makan malam bersamaku. Kau sudah lama tidak datang ke rumahku. Kau tidak tahu betapa cerewetnya eomma. Ia selalu bertanya mengapa kau tidak berkunjung. Maka sebelum kau pergi jauh, berpamitlah dulu padanya.”

“Keundae…”

“Aku tidak menerima penolakkan atau kau tidak kuijinkan keluar dari kantor ini. Aku tunggu di lobby.” Setelah selesai berkata seperti itu, ia melngkahkan kakinya keluar ruangan.

“Apa aku tidak terlihat?” Tanya DongHae polos.

“Mungkin” candaku.

***

DongHae mengajakku turun bersama, namun aku masih ingin di sini sebentar. Maka disinilah aku sekarang. Tempat dimana aku mengetahui namanya.

FLASHBACK

Author POV

Seorang yeoja melangkah dengan gontai menuju ruangannya, tidak hanya itu, ia juga menggerutu sepanjang langkahnya.

“Apa ada yang terjadi?” Tanya temannya yang ia balas dengan gelengan tak bertenaga.

“Seseorang pindah ke depan apartemenku” ujar yeoja itu seraya mendaratkan pantatnya ke kursi “ia sangat berisik dan mengganggu minggu damaiku.” Yeoja itu mengakhiri ceritanya dengan menguap lebar-lebar.

“Donghae-ssi, Sonhye-ssi.” Panggil presdir mereka.”Coba perhatikan sebentar, saya ingin mengenalkan karyawan baru di bagian kalian ini. Silahkan perkenalkan diri, saya akan kembali dulu.” Ucapnya pada karyawan baru itu lalu berlalu.

“Na Lee Donghae, 22 tahun.” Donghae menjabat tangan karyawan baru itu. “Dan dia Sonhye, Han Sonhye, sama sepertiku 22 tahun” ujar Donghae lagi melihat Sonhye yang hanya terbengong menatap karyawan baru itu.

“Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”

FLASHBACK END

***

Sonhye POV

Dua hari berjalan dengan cepat. Ibu HyukJae cukup terkejut saat aku bilang bahwa aku akan ke Amerika. Walau begitu, ia tetap menasehatiku untuk berhati-hati disana. Dan disinilah aku sekarang, di depan pintu boardpass ditemani oleh Donghae.

“Kau yakin tidak mau memberi tahukannya?” tanyanya sekali lagi.

“Aniya.” Aku menggeleng perlahan.

“Setidaknya kau harus berpamitan padanya.” Ujarnya lagi.

“Philyoeobseo Donghae-ah. Dia tidak akan mencariku, mungkin bahkan ia tidak akan sadar bahwa aku telah pergi.”

“Tapi tetap saja…”

“Aniya Donghae-ah.” Aku memotongnya cepat seraya menggelengkan kepala “Bahkan tidak untuk menyatakan perasaanku. Aku yakin kau sudah mendengarnya sendiri. Di lorong dua hari lalu, kau yang memanggilnya, dan itu karena kau tahu apa yang ia ucapkan. Aku benarkan?” aku berusaha keras menahan air mataku agar tidak jatuh.

“Arraseo.” Jawabnya setelah menghela nafas panjang. “Kau berhati-hailah disana. Bertemu dengan lelaki yang baik dan lupakan semua hal buruk yang terjadi disini.” Tanpa terasa aku sudah menangis, astaga, kenapa aku jadi seperti ini?

“Kau harus kuat Sonhye-ah. Eung?” ia mencengkram pundakku, seolah membuatku lebih kuat.

“Wae? Geunyang wae Donghae-ah? Wae?” aku menangis semakin keras. “Kenapa ia tidak menyadarinya? Tidak, ia tidak harus menyadarinya, kenapa ia membenciku? Apa aku benar-benar menyebalkan? Apa aku benar-benar membawa sial baginya? Apa aku.. apa aku..” aku tidak sanggup meneruskan kalimatku. Aku hanya menangis, sedangkan Donghae berusaha menenangkanku dengan memelukku. Munkin orang akan berpikir aku menangis karena aku akan berpisah dengan Donghae, tapi itu tidak penting bagiku. Aku menangis menjadi, membasahi kemeja kerja Donghae dengan air mata serta ingusku ini. Tapi aku merasakan kenyamanan, seakan aku aman. Sama seperti biasa, Donghae selalu bisa menenangkanku, ia selalu dapat membuatku percaya pada perkataannya. Seakan Donghae adalah cenayang hebat yang perkataannya adalah kebenaran.

“Gwaenchana, eung. Sudah selesai mengotori kemejaku?” ejeknya, aku hanya tersenyum kecil.

“Aku… aku sangat mencintainya Donghae-ah, kau tahu itu.”

“Tentu aku tahu,seperti yang selalu kau bilang, aku peka, tidak seperti orang lain. Aku selalu bisa diandalkan, tidak seperti orang lain.”

“Tapi, kenapa ia tidak kunjung sadar? Ah tidak. Lupakan saja.” Aku mulai menghentikan tangisku. “lebih baik aku segera masuk agar aku dapat segera meninggalkan ini semua.” Donghae membalas dengan anggukan.

“Hati-hati di jalan! Hati-hati di sana. Ingat pesanku tadi!” serunya seraya melambaikan tangan yang kubalas dengan hal yang sama. Akhirnya aku meninggalkan semuanya. Aku pasti bisa melupakannya. Pasti.

TBC~

Bagaimana? well, sorry for typos, don’t forget to leave comment and wait for next part ya.. Anyeong.. ^^

 

8 Comments (+add yours?)

  1. riskakyuu
    Jun 07, 2016 @ 13:28:30

    Kyu kok nyebelin gitu… kan kasian sonhye… sonhye hwaiting… nanti kyu pasti nyesel uwda benci ama sonhye…

    Reply

  2. sophie
    Jun 07, 2016 @ 23:46:02

    Bertepuk sebelah tangan toh,,mg ajah sadar stlh ditinggal ke amerika

    Reply

  3. lieyabunda
    Jun 09, 2016 @ 03:56:52

    kyu kok judes gitu sih,,,,
    lanjut

    Reply

  4. wiwiex le
    Jun 12, 2016 @ 18:32:58

    sonhye mencintai kyuhyun?? tp kyuhyun ga tau gitu?? kayaknya donghae suka ama sonhye, abis perhatiannya melebihi batas wajar sieh

    Reply

  5. esakodok
    Jun 13, 2016 @ 22:17:17

    cibt bertepuk sebelah tangan
    kyuhyun knapa benci banget sama sonhye y?

    Reply

  6. Monika sbr
    Jun 14, 2016 @ 18:13:47

    Jadi kasihan sama sonhye.
    Semoga aja kyuhyun menyesal karena mengabaikan sonhye

    Reply

  7. lee gia
    Jun 15, 2016 @ 21:34:23

    izin baca ffnya ya thorr, thankyouu

    Reply

  8. ama@0224
    Jul 20, 2016 @ 15:15:30

    knp kyu jahat bgt yaa??? kasian sonhye….

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: