At Pain [2/3] – Past

past

Author: Jung MinHee

Title: At Pain (Past)

Cast: Han Sonhye

Lee DongHae

Lee HyukJae

Cho KyuHyun

Genre: Angst, Romance

Rating: PG 13

Length: One Shot

A/N: Then again, ini lanjutan At Pain kemaren, dan ini mundur waktunya. Jadi nyeritain masa lalunya SonHye, I hope you’ll get the Idea. Part ini juga udh pernah author post di blog pribadi.

Enjoy and Happy Reading!

At Pain
Lee DongHae

 

“Lee Donghae!” aku menoleh tanpa mengalihkan pandanganku dari pohon maple di depanku ini, “Neo! Berapa kali harus ku bilang? Hah? Bila ada yang memanggilmu jangan hanya kepalamu saja yang menoleh, tetapi bersama matamu” omel yeoja itu. Dia, sama cerewetnya dengan eomma.

“Arraseo. Wae?” kali ini aku menatapnya.

“Ini!” ia menjatuhkan buku matematikaku ke pangkuanku, “Bagaimana bisa kau hanya benar 3 dari 10 nomor?!” ocehnya lagi yang kubalas dengan cengiran. “Utjima!” ia memukul bahuku.

“Arraseo.” Keheningan tercipta. Kami hanya saling menatap dengan aku yang duduk bersila di kursi taman ini dan ia yang berkacak pinggang, yang menurutku merasa nyaman.

“Apa yang kau tunggu? Kerjakan soal itu lagi!” perintahnya setengah berteriak. “Sudah kubilang kau butuh latihan. Kau yang selalu mengadu padaku bahwa nilaimu jelek-jelek. Sekarang aku dengan baik hati mau mengajarimu dan kau hanya menatapku. Apa sebenarnya motifmu? Ah tidak, maksudku maumu. Mungkin kau tidak mengerti motif yang kumaksud. Apa kau tidak berencana mengganti Pentium otakmu?” omelnya lagi.

“Well, Han Sonhye,” aku bangkit dari dudukku dan berdiri diatas kursi taman ini, “apa kau pikir kau sehebat itu? Tidak. Itu jawabannya bukan? Aku memang lemah di pelajaran, tapi aku bisa mengingat dengan baik apa saja yang kulakukan, dimana aku menaruh barang-barangku, terutama yang berharga. Kita hanya berkebalikan bukan?” aku menatapnya tajam, atau setidaknya kutajam tajamkan.

“Ah.. i..itu..” jawabnya tergagap.

“Oleh karena itu,” aku melompat turun dari kursi itu dan meniysakan jarak yang sangat kecil diantara kami, “kita adalah satu bukan?” Aku menatapnya sebentar, tersenyum yang segera ia balas dan memeluknya, erat.

“Saranghae Han Sonhye.” Bisikku setelah menaruh daguku dikepalanya.

“Eung. Na do saranghae, Lee Donghae.” Balasnya seraya memelukku.

***

“Uri heojija.” Aku menghentikan gerakkanku membuat americanoku menyentuh ujung bibirku.

“Mworago?” aku menaruh americanoku. Hanya itu yang dapat ku ucapkan. Tubuhku kaku, otakku mulai bekerja dengan liar, antara ingin atau tidak ingin memastikan apa input yang tadi diberikan melalui indra pendengaranku benar atau tidak.

“Heojijagu.” Ulangnya sekali lagi.

“Na.. wae?” Otakku serasa membeku, terlalu banyak hal yang berkecamuk di otakku, terlalu besar badai yang datang di otakku, yang membuat seluruh tubuh dan organku kaku.

“Geunyang, aku lelah berpacaran. Terlebih aku ingin focus ke sidangku terlebih dahulu. Aku tidak ingin perhatianku terbagi pada hal yang tidak penting.” Ucapnya santai tanpa beban.

“Mwo?! Tidak penting? Han Sonhye!”

“Wae? Kau tidak senang? Aku bukan dirimu, aku harus mendapat gelar cum loud itu.” Ucapnya cepat dan tegas seperti biasa, “Kau masih ingat kata kataku kan?” nada bicaranya menurun ada akhir kalimat.

“Bila dua atau lebih orang memang ditakdirkan…”

“Maka mereka pasti akan bersatu kembali bagaimanapun caranya, kapanpun, dimanapun.” Aku menyelesaikan kalimatnya, “Baiklah, selama kita masih bisa berteman…”

“Tentu saja. Mungkin awalnya akan terasa sulit, namun aku yakin kita bisa menyelesaikannya. Benarkan?” ucapnya dengan senyuman yang ku balas dengan anggukan serta senyum yang kupaksakan.

***

Aku menyusuri taman ini. Walau hari sudah gelap, semangatku untuk mengelilingi taman ini masih cukup besar. Udara dingin yang menusuk tidak menggangguku. Yang membuatku sakit adalah langkah kaki ini. Biasanya Sonhye akan menemainku berjalan jalan, namun sekarang? Sudah 2 bulan sejak kami putus dan aku masih belum bisa menyesuakian diri dengan ketidak beradaannya. Taman ini merupakan saksi bisu kisah-kisah kami. Mulai dari awal kami bertemu, saat aku memintanya menjadi dateku, dan acara-acara dateku bersama Sonhye. Aku cukup bahagia karena taman ini hanya menyimpan kenangan baik, kenangan menyenangkanku bersama Sonhye. Di musim gugur kami membantu menyapu taman bersama, bermain bola salju bersama di musim dingin, melihat bunga-bunga bermekaran di musim semi, dan makan es krim bersama di musim panas. Iya, mungkin bila satu persatu musim itu datang lagi, aku pasti dapat membuat memori baru. Sehingga pada akhirnya aku pasti akan melupakan memori demi memori yang kulakukan bersamanya. Namun satu hal yang aku yakin, waktu itu bukan sekarang, karna aku masih dapat mengenali dengan baik punggungnya. Punggung seorang Han Sonhye, punggung yang biasa kupeluk saat aku membutuhkan semangat untuk bertahan, punggung yang sekarang tengah mendapatkan rangkulan dari seorang lelaki lain.

Ia menolehkan kepalanya untuk menatap lelaki itu, tapi aku yakin sudut matanya menangkap sosokku yang tengah membatu. Ia mengajak lelaki itu untuk melihatku dengan dekat. Namun pada nyatanya hanya keheningan yang ada saat kami bertiga tengah berkumpul di satu tempat.

“Nugunya? I saram?” sosok lelaki itu masih merangkul Sonhye.

“Geunyang chingu.” Jawabnya, jawaban yang membuatku kembali terpuruk dan menyadari bahwa aku takkan pernah berhasil kembali ke masa di mana kami bersama, bahwa pintu hatinya telah tertutup bagiku, bahwa hanya tinggal aku sendiri di ruangan kecil yang dulu kami bangun bersama, dan bahwa hubungan kami telah hancur dan takkan dapat kembali.

“Ah… Joneun, Lee HyukJaeimnida.” Lelaki itu mengulurkan tangannya.

“Lee DongHae.” Jawabku singkat seraya menjabat tangannya, “Maaf sebelumnya jika pertanyaanku ini kasar, namun apa hubungan kalian?” aku tidak dapat membendung rasa ingin tahuku lebih lama lagi.

“Urineun…”

“Bukan urusanmu.” Sonhye memotong ucapan pria itu. Aku menatapnya tidak percaya, menatapnya yang hanya berani menatap tanah di bawah kakinya. Itu merupakan salah satu kebiasaan buruknya, ia tidak dapat menatap mata seseorang terlalu lama.

“Jibe gajja Hyukjae-ah.” Ia menarik tangan pria itu begitu saja, masih dengan kepala tertunduknya. Ia, kembali melangkah pergi.

***

Satu tahun telah berlalu, 365 hari itu kulalui tanpa melihat wajahnya satu detikpun. Tiap-tiap harinya aku berusaha untuk kembali mengingat wajahnya, mengingat harum tubuhnya, mengingat suaranya. Namun aku tidak bisa mengingat satu pun dari dirinya, bahkan tiap-tiap hal yang telah kami lakukan bersama, hilang satu persatu tanpa bahkan kusadari. Dan aku sadar bahwa aku tidak dapat selamanya tinggal dalam kenangan saat kami bersama. Aku juga harus hidup, aku harus tetap terus bertahan. Maka dari itu, aku sedang dalam perjalananku menuju kantor baruku. Aku memang bukan pegawai tetap, lebih tepatnya belum. Ini masih hari pertamaku.

“Jogiyo, saya Lee DongHae, pegawai baru.” Laporku pada resepsionis.

“Ah.. Karyawan pengganti itu? Lewat sini.” Ia bangkit berdiri dan mengantarku hingga suatu ruangan.

“Han Sonhye.” Panggilnya seraya membuka pintu. Ia menyebut nama itu, nama orang yang selama ini ku coba untuk ingat, orang itu sekarang hanya terhalang tembok ini denganku. Aku maju satu langkah untuk dapat melihatnya.

“Eoh? Sajangnim?” ucap resepsionis itu terkejut.

“Ah, Hyena-ssi, gwaenchanayo. Urusanku sudah selesai dengan Sonhye. Gamsahamnida Sonhye-sii.” Pemilik perusahaan ini bangkit dan menunjukan wajahnya padaku. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari wajah itu, orang itu adalah pria yang bersama Sonhye satu tahun lalu, pria yang merangkul Sonhye di taman tahun lalu.

Aku membungkuk hormat saat ia berjalan di sebelahku yang tengah berdiri di ambang pintu.

“Han Sonhye,” ucap sang resepsionis sekali lagi yang membangunkan ku dari lamunanku, “ini adalah pegawai sementara yang akan menggantikan HaeMin untuk beberapa saat hingga ia kembali dari bulan madunya, namanya…”

“Lee DongHae?” ia mengerutkan dahinya.

“Kau mengenalnya?” tanya resepsionis itu.

“Eo, dia temanku saat SMA.” Tatapannya tidak lepas dariku.

“Ah… kalau begitu aku tidak diperlukan lagi di sini. Sampai jumpa.” Resepsionis itu meninggalkan kami berdua di ruangan ini.

“Neo… bagaimana kau bisa bekerja disini?” tanyanya tak percaya.

“Well, mungkin benar katamu, bila dua atau lebih orang memang ditakdirkan…”

“Maka mereka pasti akan bersatu kembali bagaimanapun caranya, kapanpun, dimanapun.” Sambungnya, “Lee Donghae…”

“Jadi apa yang harus aku kerjakan, sunbaenim?” sindirku.

“Lee DongHae.”

“Ah, sebelumnya dimana mejaku?”

“LEE DONGHAE!” jeritnya, “Geumanhae. Hajima.” Ia menatap ujung sepatunya. Sudah satu tahun dan kebiasaan buruknya belum hilang.

“Kau boleh duduk di sana.” Ia menunjuk meja di sebelah kanannya dan kembali duduk di kursinya.

***

Satu bulan sudah aku bekerja di sini. Dan, aku sedang dalam masa pencobaan. Mengapa? Karna pasalnya pegawai yang posisinya ku gantikan mengundurkan diri karna ia mau fokus pada keluarganya. Well, itu berita baik bukan? Sonhye memasuki ruangan ini dengan lemas, entah apa yang terjadi padanya. Biasanya ia selalu terlihat ceria. Aku juga dapat mendengarnya menggerutu tidak jelas.

“Apa ada yang terjadi?” Tanyaku yang ia balas dengan gelengan tak bertenaga.

“Seseorang pindah ke depan apartemenku” ujarnya seraya mendaratkan pantatnya ke kursi “ia sangat berisik dan mengganggu minggu damaiku.” Jelasnya kemudian menguap lebar-lebar. Sama sekali tidak terlihat seperti wanita terhormat.

“Donghae-ssi, Sonhye-ssi.” Panggil presdir kami, Lee HyukJae, ”Coba perhatikan sebentar, saya ingin mengenalkan karyawan baru di bagian kalian ini. Silahkan perkenalkan diri, saya akan kembali dulu.” Ucapnya pada karyawan baru itu lalu berlalu.

“Na Lee Donghae, 22 tahun.” Aku menjabat tangannya, “Dan dia Sonhye, Han Sonhye, sama sepertiku 22 tahun” aku melirik Sonhye yang hanya terbengong menatap karyawan baru itu.

“Kyuhyun. Cho Kyuhyun.” Ia memperkenalkan dirinya.

***

“Apa yang membuatmu terbengong saat melihat anak baru itu hah?” ejekku saat kami sedang menyantap makan siang di kantin kantor kami.

“Pertama Lee DongHae, kau juga anak baru.”

“Well dibandingkan dengannya aku lebih tua 1 bulan.” Potongku.

“Abaikan,” ia mengerucutkan bibirnya. Bibirnya, aku merindukan saat bibir itu mengajariku soal-soal matematika, saat bibir itu membisikan kata-kata manis saat aku membutuhkan kekuatan, saat bibir itu menyentuh permukaan kulit pipiku, juga…

“Lee DongHae,” ia melambaikan tangannya tepat di depan wajahku yang membuat lamunanku buyar, “apa kau mendengarkanku?”

“Memang kau berbicara apa?” tanyaku.

“Astaga. Namja tadi, anak baru itu, ia adalah orang yang pindah ke apartemen di seberang miliku kemarin. Aku tidak bisa mempercayai ini, betapa sialnya diriku.” Gerutunya.

“Well, pasti hal buruk akan berlalu walau perlahan. Kau hanya harus bersabar. Itu saja.” Saranku.

“Arraseo.” Ia melanjutkan kegiatan makannya.

***

“Aku… aku rasa aku menyukainya.” Duniaku serasa berhenti berputar. Empat kata itu, berhasil menyerap habis oksigen yang aku butuhkan.

“Bukankah kau bilang kau membencinya?” aku berusaha terlihat biasa saja.

“Awalnya ku kira ia memang menyebalkan, tapi ternyata tidak separah itu. Apa kau memperhatikannya saat ia sedang fokus bekerja? Astaga, itu sangat keren. Ah, jangan lupakan bahwa ia juga pandai sekali mencari jalan keluar.” Ocehnya panjang lebar. Time’s up. Waktuku telah habis, aku benar-benar hanya seorang teman baginya. Setidaknya aku masih dapat berada di sisinya.

***

3 tahun telah berlalu, sudah lama aku dan Kyuhyun menjadi karyawan tetap di sini. Han Sonhye, gadis itu amat mencintai seorang Cho Kyuhyun yang amat terganggu dengan keberadaannya. Entah apa yang terjadi, entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu, walau hubungan mereka seperti tom dan jerry, Sonhye tetap menjadi sosok Jerry yang selalu berada di dekat Tom, tanpa kenal kata tahu rasa atau jera. Aku baru saja mengetahui satu fakta yang disembunyikan baik oleh Sonhye maupun Lee Hyukjae. Aku masih belum yakin bahwa hubungan mereka hanyalah hubungan teman biasa. Walau aku tahu di mana letak hati Sonhye sekarang ini, aku tetap tidak mengenal sosok Lee Hyukjae itu. Kyuhyun melangkahkan kakinya keluar ruangan.

“Aku pulang duluan. Jangan lupa kau urus pacarmu itu. Ia sudah tertidur sejak lama.” Ucap Kyuhyun seraya berlalu.

Tertidur? Oh astaga, bahkan sosok Tom itu lebih memperhatikan Jerry dibanding sosok anjing yang biasa mendukungnya. Aku bangkit dan menghampiri meja Sonhye kemudian mengelus surai lembutnya perlahan, berusaha memberikannya kehangatan.

Kuharap Sonhye tidak merasakan sakit hati sebanyak yang aku rasakan. Aku selalu mengharapkan hal itu setiap harinya, tanpa bisa kuhitung. Aku juga sering berharap bahwa ia tidak akan mengingat memori tentangku dan dirinya sesering aku mengingatnya. Aku juga berharap bahwa keadaannya jauh lebih baik dari padaku, dari pada aku yang tak bisa melepaskan kenyataan dan terus tinggal dalam angan, dalam kenangan masa lalu. Kuharap Cho Kyuhyun dapat membuatnya bahagia.

Tiba-tiba saja Sonhye menggeiat kecil yang membuatku segera henghapus genangan air mata yang kutahan sejak tadi. Tanpa aba-aba Sonhye melonjak berdiri dan membuat tubuhnya limbung. Reflex aku segera menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh.

 

“Gwaenchana?” tanyaku pelan. Ia mengangguk kecil dan kembali menundukan kepalanya, “Ini sudah pukul setengah enam, apa kau berencana menginap di kantor? Bahkan Kyuhyun sudah pulang sejak setengah jam lalu.” Aku berusaha mencairkan suasana dengan memulai percapakan dan merapihkan barang-barangku. Ah, bukan mencairkan suasana, melainkan menghilangkan rasa gugupku.

“Lebih baik kau pulang. Kau sudah kelelahan, tidurmu tadi menjadi buktinya. Jangan terlalu memaksakan diri.” Lanjutku.

“Sejak kapan?” dua kata itu membuatku tegang, apa ia menanyakan kegiatanku tadi? “sejak kapan aku tertidur?” aku menghembuskan nafas lega dengan agak tertahan agar ia tidak menyadarinya.

“Sekitar satu jam lalu? Entahlah, yang kuingat kau kembali dari ruangan sajangnim dengan wajah kusut dan mulai bekerja. Aku sadar kau tertidur karena Kyuhyun terus menggerutu tidak jelas selama 15 menit tanpa henti yang membuatku pusing.” Aku terkekeh berusaha kembali menormalkan detak jantungku.

“Ah… arraseo, gomawo Donghae-ah. Jalga!”ucapnya seraya melambaikan tangannya. Persis seperti yang dulu ia sering lakukan. Aku hanya tersenyum dan menyampirkan backpackku ke punggung lalu melenggang pergi. Sadarlah Lee DongHae, sudah tidak ada harapan apa-apa lagi bagimu. Aku memukuli kepalaku sendiri saat sudah berada di dalam lift.

 

***

 

Hari masih pagi, namun pekerjaanku telah menumpuk. Inilah hal yang paling kubenci. Ah, aku lupa mengambil berkas Hyemin kemarin. Aku melangkah keluar ruangan hendak menuju ruangan Hyemin, namun langkahku terhenti begitu aku sampai di depan lorong. Pemandangan ini membuatku membatu.

 

“Hya!” seru Kyuhyun seraya mengambil langkah mendekat perlahan pada Sonhye yang membuatnya tersudut pada dinding. Aku tak tahu apa yang terjadi lagi kali ini antara mereka berdua.

“Sejak pertama aku bertemu denganmu, kau hanya membawa kesialan bagiku!” teriak Kyuhyun di depan wajah Sonhye. “Karena itu aku mohon, pergilah dari kehidupanku!”

Ini keterlaluan, aku dapat melihat Sonhye tegang.

“Cho Kyuhyun!” panggilku tepat sebelum ia menyemburkan makiannya lagi pada Sonhye. Ia menoleh singkat ke arahku, “Tolong berikan ini pada Hyemin, aku lupa memberikannya padanya kemarin namun aku terlalu sibuk sekarang.” Ia melangkah cepat ke arahku dan mengambil berkas itu dari tanganku kemudian pergi begitu saja.

Tanpa kusadari, Sonhye telah jatuh terduduk entah sejak kapan, ia juga menangis walau tangis itu jelas ia tahan.

“SonHye-ah, gwaenchana?” aku berlari ke arahnya dan segera mengambil saputangan dari sakuku lalu menyeka air matanya, “Apa yang terjadi?” tanyaku panik, namun ia tidak langsung menjawabnya.

“Aku akan ke Amerika. Lusa aku akan ke Amerika.” Sekali lagi, gadis ini menghentikan duniaku dan merebut semua oksigenku.

***

“Hati-hati di jalan! Hati-hati di sana. Ingat pesanku tadi!” seruku seraya melambaikan tangan yang ia balas dengan hal yang sama. Kemudian ia melangkah masuk ke dalam boarding pass.

***

Aku melangkahkan kakiku keluar airport dengan lemas, hingga aku teringat satu hal. Aku berlari kembali ke arah boarding pass yang Sonhye masuki dan menghitung 3 pilar ke arah pintu keluar. Aku menemukannya. Cho Kyuhyun. Ia sedang duduk tak berdaya, terduduk dan menangis. Aku memberi tahu Kyuhyun bahwa Sonhye akan pergi hari ini. Aku berkata padanya untuk berpamitan pada Sonhye, namun bila ia tidak mau, ia boleh saja datang diam-diam dengan jarak 3 pilar ke arah pintu keluar. Aku benar-benar tidak menyangka ia akan datang.

“Cho Kyuhyun.” Panggilku pelan.

“Wae?” tanyanya perih, “WAE?!”

“Aku telah menanyakan hal itu padamu selama 2 tahun belakangan Kyuhyun-ah, dan jawabanmu selalu sama. Maka ini jawabanku,” aku menarik nafas panjang sebelum mengatakannya, “lalu kau berharap aku bagaimana?” ucapku dingin dan segera meninggalkannya sendiri.

TBC~

So? Bagaimana? Semoga kalian semua yg membaca berkenan untuk meninggalkan comment demi kebaikan bersama. Thanks for reading! Tunggu cerita berikutnya ya…

4 Comments (+add yours?)

  1. sophie
    Jun 09, 2016 @ 23:46:26

    Cakep bgt,,jdi apaa kyu jga suka sma sonhye? Kalo iya knp pake judes segala si?? Mga next part jawaban bwt rasa penasarannya yahh,,,semangat kak,,mga bisa cepet update :))

    Reply

  2. memey
    Jun 12, 2016 @ 18:46:31

    Kyuhyun mah suka gitu slalu menyembunyikan perasaan -_-

    Kasian abang dongekk 😭

    Reply

  3. wiwiex lee
    Jun 12, 2016 @ 20:08:05

    kyuhyun juga suka ama sonhye? aduh… jadi complicated gini sieh?

    Reply

  4. esakodok
    Jun 13, 2016 @ 22:20:57

    hae..tulus banget oerasaanya…lasihan dia…
    kyuhyun juga kliatannya cinta sama sonhye ya?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: