My Thoughts, Your Memories.

mtym-2

My Thoughts, Your Memories

Judul : My Thoughts, Your Memories

Tag : Cho Kyuhyun, Shin Ri-Rin

Genre : Romance

Length : One-Shot

Catatan : Sudah pernah di-publish di blog pribadi https://gaemrafanfiction.wordpress.com/

Poster By : Xilverspear @ HospitalArtDesign

***

Galleria degli Uffizi, Firenze, Italy

11.10 AM

Kyuhyun berjalan pelan, mengamati setiap lukisan yang terpampang dengan jelas di sisi kanan dan kirinya. Ia memang tidak tahu banyak tentang lukisan-lukisan itu, karena kenyataannya dia bukanlah seorang kurator, yang biasa menganalisis faktor-faktor yang menjadikan sebuah karya seni rupa itu menjadi unggul. Bukan, ia bukan itu. Kyuhyun hanya sekadar menikmati waktu senggangnya dengan berkunjung ke tempat ini. Museum yang dulunya sebuah kerajaan yang dibangun pada tahun 1650 ini merupakan museum seni terbesar dan tertua di Firenze. Museum ini juga merupakan museum terpenting dengan koleksi seni Renaissance yang paling ramai dikunjungi. Uffizi memiliki koleksi ribuan lukisan dari abad pertengahan hingga zaman modern, karena banyak patung antik, iluminasi, dan permadani. Ada 45 ruangan juga 2 galeri, yang menurut orang-orang akan sayang untuk dilewatkan kalau berkunjung ke tempat ini. Maka dari itu, sejak 30 menit yang lalu, Kyuhyun menahan dirinya untuk terus berjalan menyusuri berbagai ruangan yang ada, untuk melihat-lihat seperti apa rupa lukisan yang jika dijual itu akan menghasilkan jumlah uang yang akan membuatmu terkena stroke mendadak.

Kyuhyun menghentikan langkah kakinya, ketika lukisan karya Leonardo da Vinci, yang berjudul The Annunciation, menarik perhatiannya. Ia mengubah posisi berdirinya, menghadap lukisan itu sepenuhnya. Memikirkan berapa banyak orang yang sudah jatuh cinta pada lukisan itu, dan apa maksud dari dua orang yang ada di lukisan tersebut.

Menurut pendapatnya—yang tidak ahli mendeskripsikan karya seni— orang yang berada di luksian tersebut telihat seperti dewa-dewa Yunani yang mungkin sudah banyak diketahui orang. Ia tidak tahu jenis kelamin kedua orang itu. Yang jelas, di sana ada seseorang berambut pirang yang keriting di bagian bawahnya, sedang duduk sambil menghadap seseorang lagi yang tengah bertekuk lutut di atas rerumputan, bersebrangan dengannya—karena terhalangi oleh sebuah meja kecil. Orang yang bertekuk lutut itu memiliki rambut yang serupa dengannya, hanya saja rambutnya berwarna cokelat dan ada sayap di punggungnya. Orang tersebut sedikit mengangkat tangan kanannya, entah untuk alasan apa. Ada beberapa pepohonan yang mungkin dimaksudkan si pencipta untuk menggambarkan latar tempat dan bagaimana suasana yang ada di sana.

Untuk beberapa saat, Kyuhyun hanya fokus menatap gambar yang tidak bergerak itu, sampai ia mendengar sesuatu yang jatuh ke atas lantai, menimbulkan bunyi gemerincing yang membuatnya menoleh dan mendapati ada seorang wanita yang tengah berjalan ke sudut ruangan untuk melakukan kegiatan yang serupa dengannya. Sepertinya wanita itu tidak menyadari gantungan tasnya terjatuh, makanya dia tetap saja berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Kyuhyun berjalan satu langkah, membungkukkan badan untuk mengambil gantungan tas tersebut. Setelah itu, ia melangkahkan lagi kakinya, kali ini untuk menghampiri wanita tersebut sekalian mengembalikan barangnya yang terjatuh.

Kyuhyun berdiri di samping wanita itu tapi tidak langsung menyapa. Wanita itu memiliki rambut sebahu yang sedikit bergelombang, penampilannya terlihat sangat berkelas, ditambah sebuah cartwheel hat yang menutupi kepalanya. Kyuhyun bisa mencium aroma fougere yang menguar dari tubuh wanita tersebut. Wajah wanita itu tidak begitu terlihat jelas dari samping, apalagi terhalangi oleh penutup kepalanya yang lebar itu.

Excuse me. Is it yours?” tanya Kyuhyun sembari menyodorkan gantungan kunci yang ada di tangan kanannya.

Di detik berikutnya, ketika wanita itu menoleh, wajah yang tidak lagi terhalangi oleh cartwheel hat, sukses membuat Kyuhyun nyaris seperti orang tolol yang tidak bisa mengatupkan mulutnya dengan benar. Bola mata dan jantung pria itu nyaris keluar dari tempatnya saat ia melihat dengan jelas wajah pemilik gantungan kunci yang terjatuh itu.

Kyuhyun bisa merasakan tubuhnya menegang, ia kesulitan untuk menarik napas dengan benar, dan ia melihat tangannya yang terulur itu sedikit bergetar karena terlalu terkejut dengan semuanya. Lidahnya kelu, yang mengakibatkan ia seperti orang yang lumpuh dalam hitungan detik, seolah organ-organ di tubuhnya mengalami disfungsional dengan cara yang mendadak.

Hanya ada satu kata yang kemudian keluar dari bibirnya, itu pun ia paksakan dengan sekuat yang ia bisa, tidak menyangka bahwa ia mendapat kejadian tidak terduga hari ini.

“Kau?”

 

***

 

A caffé, near Galleria degli Uffizi

11.32 AM

“Benar-benar tidak terduga, kita bertemu di sini,” ucap Kyuhyun memulai pembicaraan setelah pesanan mereka berdua datang dan menit-menit yang berlalu dengan keheningan.

Wanita itu mengangguk, setuju. “Tepatnya, sudah berapa lama kita tidak bertemu?”

“Mungkin 30 tahun yang lalu adalah waktu terakhir kita bertatap muka.”

“Sudah sangat lama ternyata,” balas wanita tersebut. “Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat,” jawab Kyuhyun. “Kau sendiri?”

“Mungkin sama sepertimu.”

Mungkin? Jadi, maksudmu, kau tidak baik-baik saja?”

Wanita itu mengangkat bahu. “Entahlah. Aku tidak bisa menjawabnya dengan pasti.”

Kyuhyun diam, tidak membalas. Ia tahu, wanita di hadapannya itu sedang mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

“Ngomong-ngomong, di mana suamimu? Kau datang sendirian saja kemari?” tanya pria itu mengalihkan pembicaraan.

“Tidak ada suami. Belum lebih tepatnya.”

“Kau belum menikah?”

“Kau bisa menyimpulkannya sendiri.”

“Aku sudah bisa menebaknya.”

“Sialan kau!” gerutu wanita itu. “Lalu, di mana istrimu? Aku tidak melihatmu bersama seorang wanita tadi.”

“Sama sepertimu.”

“Jadi?”

“Aku juga belum menikah.”

“Waaaaaahhh, tidak menyangka, seorang Cho Kyuhyun belum menikah sampai detik ini. Masih tidak bisa melupakanku, hmm?” goda wanita tersebut.

Kyuhyun tersenyum. “Kau benar. Aku belum bisa melupakan gadis masa laluku. Shin Ri-Rin.”

“Kau pasti bercanda,” ujar wanita di hadapan Kyuhyun, Shin Ri-Rin.

“Tidak,” bantah pria itu tegas. “Aku tidak pernah bercanda jika itu sudah bersangkutan denganmu.”

Ri-Rin meremas jemari-jemari yang ada di pangkuannya. Tidak, pria itu tidak boleh melihat kegugupannya.

“Kenapa kau masih tidak bisa melupakanku? Bukankah kau sendiri yang menginginkan kita berpisah?” ucap Ri-Rin mencoba mengendalikan suaranya yang sedikit bergetar karena grogi.

“Ya, memang aku yang memutuskan untuk berpisah denganmu. Tapi, kau belum tahu kenapa aku melakukannya.”

“Ada alasankah? Bisa jelaskan semuanya padaku agar aku tidak berlarut-larut dalam hidup ketidakpastian ini?”

“Bisa saja. Asalkan kau menyetujui syarat yang aku ajukan.”

Ri-Rin bisa mengendus aura tidak mengenakan dari pria di hadapannya. “Apa itu?”

“Aku mengajakmu berkencan detik ini. Menurutmu bagaimana? Kalau kau menolak, aku tidak akan bisa menjelaskan semuanya padamu. Lain halnya kalau kau menerimanya. Akan kupastikan kau mengetahui semuanya, penjelasan yang keluar dari mulutku, tanpa terkecuali.”

“Cih, begitu? Selalu saja meminta imbalan. Kapan kau akan melakukan apa yang aku inginkan tanpa meminta bayarannya, huh?”

Pria itu mengedikkan bahunya. “Sudah kujelaskan kan dulu? Di dunia ini tidak ada yang gratis. Kau meminta penjelasan dariku, berarti aku akan banyak bicara dan kau membuatku mengeluarkan kalori untuk itu. Sebagai gantinya, tentu aku meminta sesuatu darimu. Anggap saja, dengan kau menuruti apa yang aku inginkan, merupakan balas jasa yang aku terima. Adil kan?”

“Adil menurut sudut pandangmu, tapi tidak berlaku untukku,” dengus wanita itu.

“Oh ayolah,” ujar Kyuhyun dengan nada memohon yang dibuat-buat. “Aku tahu kau tidak akan menolak yang satu ini. Kau masih tidak bisa melupakanku kan? Masih mencintaiku kan? Aku pun begitu. Jadi lebih baik, kita ulangi lagi semuanya dari awal, kita perbaiki semua kesalahan yang pernah diperbuat, khususnya oleh aku sendiri, setuju?”

Ri-Rin tampak berpikir, lalu ia mengembuskan napas pasrah. “Ya sudah, aku terima ajakanmu. Meskipun usia kita tidak lagi muda, tapi secara terus-terang, aku memang menginginkannya.”

 

***

Demini Lor Advolgigo Apartment, Firenze, Italy

01.10 PM

“Kau tinggal di sini sendirian?” tanya Kyuhyun tidak tahan untuk berkomentar setelah mengempaskan tubuhnya di sofa berwarna cokelat pudar yang ada di ruang tengah.

“Tentu saja,” jawab Ri-Rin.”Kau pikir aku tinggal dengan siapa lagi di sini? Aku kan ke negara ini hanya sendiri saja.”

Wanita itu berjalan ke arah dapur, yang masih bisa terlihat dari tempat Kyuhyun duduk karena memang jarak dapur dan ruang tengah yang berdekatan.

“Tepatnya, untuk apa kau kemari? Ada urusan untuk pekerjaan? Atau yang lainnya?”

“Hanya untuk liburan saja,” sahut gadis itu di sela-sela kucuran air di tempat pencucian piring.

Ri-Rin muncul beberapa detik kemudian, yang langsung mengambil tempat, tepat di samping Kyuhyun.

“Kau sendiri? Kenapa kau ada di negara ini? Kupikir kau berada di Benua Amerika sana.”

“Aku memang tinggal di sini.”

“Benarkah?” tanya wanita itu terkejut.

“Sudah 2 tahun aku tinggal di sini. Sekadar untuk mencari pengalaman, di beberapa negara lain yang sudah kukunjungi selama ini. Anggap aja, aku ini seorang petualang yang sedang menikmati kehidupan,” kekehnya. “Kau, kemari hanya untuk liburan kan? Sudah berapa lama di sini?”

“Baru 3 hari. Mungkin tiga minggu ke depan aku baru pulang. Ini pertama kalinya aku ke sini, dan tentu saja tidak akan menyianyiakan kesempatan yang ada.”

“Apartment ini milikmu?”

“Bukan,” jawab Ri-Rin menggeleng. “Ini milik anak dari teman mendiang ayahku. Myung-Jae yang memberitahuku, kalau ayah memiliki seorang teman dan anaknya tinggal di sini, memiliki sebuah apartment.”

“Ahhh, Myung-Jae!” seru Kyuhyun setelah Ri-Rin menyebutkan nama adik laki-lakinya. “Shin Myung-Jae, bagaimana kabar bocah itu? Aku sudah lama tidak melihatnya. Terakhir kali aku bertemu, dia masih di sekolah dasar. Apa sekarang dia sudah menikah?”

“Ya, dia sudah menikah, mempunyai dua orang anak.”

“Kau sudah memiliki keponakan ternyata,” ujar Kyuhyun.

“Aku hanya berpikir, kau juga sudah memiliki keponakan sekarang, bahkan sudah menjadi kakek, ya kan?” canda Ri-Rin. “Kakak perempuanmu itu pasti sudah mempunyai cucu, yang berarti, kau juga sekarang menjadi seorang kakek untuk mereka. Hahaha, aku sama sekali tidak pernah membayangkan kau setua itu, Kyu.”

Kyuhyun mendorong dahi Ri-Rin dengan telunjuknya. “Bicara saja sesuka mulutmu! Menyebalkan!”

“Yak, apa yang baru saja kau lakukan hah? Kenapa kau mendorong kepalaku? Astaga, tingkahmu masih seperti anak-anak, Kyuhyun~ssi!”

“Kau tidak ingat tujuan pertama kita, hmm?” ucap Kyuhyun.

Ri-Rin bergerak, mengubah posisi duduknya menjadi menyamping. “Ceritakan semuanya padaku. Dari awal. Jangan sampai ada yang tertinggal.”

“Kejadian yang sebenarnya yaitu, aku hanya berdalih dengan alasan akan melaksanakan ujian kelulusan agar bisa berpisah denganmu. Itu semua aku lakukan dengan terpaksa, dan butuh waktu yang lama bagiku untuk melakukan hal tersebut padamu,” pria itu mulai bercerita.

“Nenekku yang kala itu tinggal di New York sakit keras, dan meminta kami sekeluarga untuk pindah ke sana. Kalau untuk masalah kepindahan saja, aku akan berkata yang sebenarnya padamu, tapi ini bukan hanya sekadar kepindahan. Melainkan sebuah keputusan yang dibuat secara sepihak.”

“Apa maksudmu?” tanya Ri-Rin tidak mengerti.

“Aku sempat mendengarkan pembicaraan orang tuaku. Betapa terkejutnya aku mendapati kenyataan bahwa, permintaan nenek tentang kepindahan kami, ternyata ada maksud tertentu. Beliau menginginkan aku untuk bisa dekat dengan seorang gadis yang menjadi pilihannya.”

Nenek Kyuhyun menginginkan gadis lain untuk bisa dekat dengan pria itu? Bagaimana bisa?

“Apa nenekmu belum tahu kalau kau sudah memiliki kekasih? Maksudmu, yang lebih parah, apa orang tuamu tidak mengetahuinya, atau kau dan keluargamu yang tidak memberitahu nenekmu itu?”

“Orang tuaku sudah tahu, tapi nenek punya penyakit jantung. Kau tahu risiko seperti apa jika berhadapan dengan seseorang yang memiliki masalah dengan jantungnya. Keluargaku merupakan bagian yang tidak ingin bermain-main untuk itu, makanya orang tua sekaligus kakak perempuanku menyembunyikan identitasmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, makanya aku sangat berdosa sekali padamu.

“Aku sempat menghilang selama beberapa minggu. Tidak masuk sekolah, tidak mengaktifkan ponsel, semuanya aku lakukan karena aku sedang menata diri, menata pikiran bagaimana cara mengatakan semuanya padamu. Ditambah, mencoba bagaimana rasanya… kau yang jauh dari jangkauanku.

“Kalau kau mau tahu, aku sempat masuk sekolah, meminta teman-temanku untuk tidak memberitahumu. Kau, yang notabenenya waktu itu adalah juniorku, satu tahun di bawahku, tidak mengerti kenapa, membuatku lemah seperti pecundang,” jelas Kyuhyun. “Kita memang berbeda 3 tahun, tapi kau mengikuti program akselerasi, makanya kau bisa menjadi adik kelasku, persis satu tahun di bawahku.”

Kyuhyun memberi jeda sejenak.

“Kemudian aku memberanikan diri untuk muncul di depanmu. Yang di hari itu juga aku langsung meminta berpisah, dengan alasan akan mengikuti ujian kelulusan. Setelah mengatakan maksud dan tujuanku, aku pergi begitu saja, tanpa menoleh lagi ke belakang, karena aku tahu, sekali aku menoleh, maka aku tidak akan bisa melakukan itu untuk yang kedua kalinya.”

Pria itu menoleh, ingin tahu bagaimana reaksi Ri-Rin mendengar pengakuan yang selama puluhan tahun dipendamnya. Yang didapatinya, wanita itu yang bergeming, tidak membuka mulutnya sama sekali, matanya memandang lurus ke arahnya, dengan tatapan kosong.

“Aku yakin kau pasti menganggapku pria paling brengsek waktu itu, karena aku sendiri mengakuinya. Aku merasa menjadi pria paling kejam, dan tidak tahu malu karena sudah melakukan hal tersebut padamu. Aku menghilang, bersikap dingin padamu, lalu meminta berpisah tanpa menunggu jawaban darimu. Aku ingin sekali menghajar diriku sendiri, kau tahu.”

Merasa tidak ada respons, ia pun melanjutkan.

“Satu minggu setelah aku menjalani ujian kelulusan, aku dan keluargaku diberondong ke Amerika, yang pertanda aku harus meninggalkanmu di Korea, tempat kelahiran kita berdua, tanpa memberitahumu.

Rinnie~ya, ceritanya sangat panjang, kau yakin ingin mendengarkan semuanya?” potong pria itu sendiri. “Mungkin tidak akan selesai dalam waktu satu hari. Akan membutuhkan beberapa hari untuk itu. Bagaimana?”

Ri-Rin tersadar, wanita itu terlihat gugup karena sempat melamun tadi. “Tidak ada masalah untukku. Kau lanjutkan saja. Aku akan menjadi pendengar setia kali ini.”

“Tapi tidak denganku,” sahut Kyuhyun seraya menggeleng cepat. “Aku tidak berminat untuk melanjutkannya. Lebih baik, aku berbincang, membicarakan masalah yang lain saja denganmu, daripada harus menceritakan cerita kelam itu.”

Mata Ri-Rin membulat. “Yak, tidak bisa begitu!” protesnya. “Aku sudah menerima syarat darimu, berarti kau harus menceritakan semuanya padaku. Aku akan mencekikmu kalau kau tidak melakukannya!”

Pria itu bergerak, sedikit menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Ri-Rin. Kemudian, ketika jarak duduk mereka sudah sangat dekat, Kyuhyun menangkup wajah wanita itu dengan sebelah tangannya, mengusap-usap pipi Ri-Rin dengan ibu jarinya.

“Sudah lama aku tidak menyentuhmu seperti ini,” gumam Kyuhyun lirih, namun masih bisa tertangkap jelas oleh Ri-Rin, dengan jarak sedekat ini. “Kau tahu? Aku tidak tahu harus berterimakasih yang seperti apalagi pada Tuhan karena sudah mempertemukan kita di sini.”

“Kau tidak sendirian,” balas wanita tersebut. “Aku masih ingin mendengarkan ceritamu, Kyu,” rengeknya kemudian.

“Tidak sekarang. Aku ingin melakukan hal yang lainnya di sini. Denganmu. Ada saatnya kau tahu semua yang telah terjadi. Dan itu nanti. Kau tenang saja, aku yang akan menjamin kalau cerita itu keluar sendiri dari mulutku.”

“Kapan itu?”

“Ketika aku mengajukan syarat lainnya padamu.”

“Kau benar-benar menyebalkan, kau tahu?”

Kyuhyun tersenyum. “Aku tahu itu. Bukankah aku memang seperti ini?”

Di detik berikutnya, Kyuhyun tidak menyangka jika Ri-Rin akan melemparkan tubuh ke arahnya, membenamkan wajahnya pada dadanya itu. Wanita itu memeluknya erat, yang membuat pria itu tidak bisa untuk tidak membalasnya.

“Aku merindukanmu, Kyu. Amat sangat merindukanmu.”

 

***

07.10 AM

“Kau sudah bangun?” sapa Ri-Rin ketika melihat Kyuhyun keluar dari kamarnya.

Semalam, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk menginap di apartment ini, dan tidur bersama dengan wanita itu. Memang bukan suatu perilaku bermoral, dia dan Ri-Rin tidur di satu ranjang, tanpa status apa-apa. Tapi, yang dipikirkan Kyuhyun hanyalah, rasa rindunya yang sudah membuatnya nyaris gila. Sudah cukup 30 tahun memisahkan mereka, dan kali ini, ia tidak akan melepaskan Ri-Rin begitu saja.

Kyuhyun mengangguk, dengan mata yang masih sedikit terpejam, rambut yang berantakan, dan pakaian tidur yang kusut di beberapa tempat.

Ri-Rin tersenyum. Ia meletakkan menu sarapan di meja makan, setelah itu ia berjalan mendekati Kyuhyun, menepuk-nepuk kedua pipi pria itu agar terbangun sepenuhnya.

“Hei, mandilah terlebih dahulu. Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu hari ini. Setelah itu, kita sarapan bersama,” perintahnya. “Tampangmu tidak enak dipandang, Kyu. Terlihat menyedihkan,” lanjutnya dengan nada bercanda.

Pria itu berusaha membuka matanya yang terasa berat, seperti apa lem perekat yang membuat matanya nyaris tidak bisa dibuka sama sekali. Astaga, kenapa dia mengantuk sekali?

“Kau menyebalkan!” aku Kyuhyun tapi tetap mematuhi apa yang dikatakan Ri-Rin. Ia berjalan melewati wanita itu, menuju kamar mandi, dengan tangan menutupi mulutnya menahan kuap.

Beberapa menit kemudian, Kyuhyun sudah terlihat lebih segar dan rapi setelah mandi, lengkap dengan pakaian yang disiapkan Ri-Rin, sesuai yang diucapkan wanita itu tadi. Ia berniat menghampiri meja makan, untuk sarapan bersama Ri-Rin. Namun, sesampainya ia di meja makan, Kyuhyun tidak menemukan Ri-Rin di sana.

Kyuhyun menyapukan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan, tetapi hasilnya nihil, wanita itu tidak terlihat.

Sial! Tiba-tiba saja Kyuhyun merasa kepanikan menjalari tubuh dan pikirannya dengan cepat. Bagaimana kalau Ri-Rin memilih untuk kabur, karena tidak ingin melihat wajahnya lagi? Bagaimana kalau Ri-Rin ternyata sudah tidak mencintainya lagi, ingin melanjutkan kehidupannya yang normal, tanpa ada dia di dalamnya? Bagaimana kalau…

“Kyu, sudah selesai mandinya?”

Suara itu membuatnya menoleh dengan cepat, seketika itu juga ia mengembuskan napas lega, seolah rasa takut yang sempat menghampirinya tadi menguap begitu saja, hanya dengan kehadiran Ri-Rin di hadapannya.

Entahlah, ia hanya merasa takut saja. Takut jika wanita itu akan pergi lagi, takut jika ia tidak bisa melihat wanita itu untuk yang kedua kalinya, takut jika wanita itu lalu menghilang dari hidupnya. Lagi.

Untuk kali ini, Kyuhyun mulai akan bersikap egois, mengabaikan segalanya, dan lebih memilih menahan wanita tersebut agar selalu berada di sampingnya, apa pun yang terjadi. Ia sudah memantapkan, untuk melakukan tahapan-tahapan yang dulu belum pernah ia sempat lakukan. Tahapan di mana, ia terlihat menjadi seorang pria yang sesungguhnya untuk menunjukkan keseriusan, bukannya pria brengsek yang tidak mempunyai urat malu dengan meninggalkan gadisnya setelah memutuskan hubungan secara sepihak, lalu pergi tanpa memberitahu.

Kyuhyun berjalan lebar-lebar mendekati Ri-Rin, langsung memeluknya tanpa berkata apa-apa.

Ri-Rin sedikit terkejut dengan sikap Kyuhyun pagi ini. Tetapi ia mengerti, kenapa pria itu melakukan ini semua padanya. Jawabannya sederhana. Kyuhyun, tidak ingin kehilangannya lagi. Walaupun sudah puluhan tahun berpisah, Ri-Rin masih mengingat dengan jelas bagaimana posesifnya Kyuhyun terhadap dirinya. Pria tersebut selalu menganggap kalau Ri-Rin adalah miliknya satu-satunya, dan tidak ada orang lain yang boleh memilikinya, bahkan menyentuhnya. Kedengarannya memang agak berlebihan, tapi yah, begitulah Cho Kyuhyun. Selalu menganggap harta kesayangannya, sebagai milik dirinya seorang, tidak akan membiarkan yang lain menyentuh barang seujung kuku saja.

“Dasar bodoh,” desis Kyuhyun setelah melepaskan pelukannya. “Kenapa tidak bilang padaku dulu, eo? Aku nyaris saja memikirkan kau pergi karena sudah tidak ingin melihatku lagi, dan itu benar-benar membuatku takut setengah mati.”

Ri-Rin terkekeh. “Aku tidak akan ke mana-mana, Kyu. Tidak sampai kau sendiri yang menginginkannya.”

Merasa dirinya frustasi, Kyuhyun dengan cepat merengkuh tengkuk Ri-Rin, mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu dengan kasar, menyampaikan dengan jelas kekhawatiran yang sempat melandanya.

Bibir itu masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berbeda, tidak ada yang berubah. Hanya, mungkin orang lain yang melihat mereka sekarang ini, beranggapan bahwa sudah tidak pantas untuk orang-orang di usia seperti mereka berdua melakukan hal tersebut secara intim.

Kyuhyun memperlembut ciumannya, dan ia bisa merasakan Ri-Rin yang membalas ciuman tersebut, dengan tangan wanita itu yang mencengkeram ujung kemeja yang ia kenakan.

Tidak tahu di mana akal sehatnya berada, Kyuhyun malah mendorong tubuh Ri-Rin ke belakang, menyandarkannya ke dinding dengan bibir yang masih menempel satu sama lain. Oh ya ampun Cho Kyuhyun, makhluk halus apa yang sedang ada di dalam jiwamu hah, sampai beraninya melakukan yang seperti itu dengan Ri-Rin?!

Mereka akhirnya menjauhkan wajah satu sama lain ketika paru-paru keduanya memberontak meminta asupan oksigen, yang membuat Kyuhyun mengerang dalam hati atas tindakannya barusan.

Pria itu meletakkan tangan kanannya di samping kepala Ri-Rin, mengusap pipi wanita itu, merasakan tekstur halus kulit wanita tersebut di tangannya, lalu memajukan tubuh dan mengecup pipi Ri-Rin singkat, sekuat ia menahan pertahanan dirinya.

“Setelah 30 tahun bertemu, kau masih tetap sama seperti dulu,” ujar Kyuhyun serak. “Berada di dekatmu membuatku tidak bisa mengontrol diri dengan baik. Jadi, aku ingin cepat-cepat mengajukan syarat berikutnya, agar aku bisa bebas melakukan apa saja padamu, Rinnie~ya.”

Kening Ri-Rin mengerut. “Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu.”

Kyuhyun menegakkan tubunya, menyeringai sambil menatap wanita di depannya dengan intens.

“Baguslah kalau kau tidak mengerti. Nanti kau juga akan tahu apa maksudku.”

 

***

The Baptistery of St. John, Piazza del Duomo, Firenze, Italy

11.00 AM

Mereka berdua tengah beridiri di depan pintu masuk Baptistery yang berada di sisi timur, yaitu di depan sebelah barat Duomo. Setelah mendapatkan tiket, keduanya masuk bersama, berjalan bersisian, dengan tangan kanan Kyuhyun yang melingkar di sekeliling pinggang Ri-Rin.

Kyuhyun memang sengaja mengajak Ri-Rin ke tempat ini. Karena tujuan wanita itu datang ke negara ini untuk berlibur, maka tidak salah jika pria tersebut—anggap saja sebagai tour guide—yang mengenalkan beberapa tempat wisata yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Florence.

Salah satunya Baptistery ini. Bangunan yang didedikasikan untuk St. John sang pembaptis, dibangun pada abad 12 dan baru selesai 2 abad kemudian. Bangunan tersebut berbentuk melingkar dengan atap yang berbentuk kubah, memiliki warna dan gaya arsitektur yang selaras dengan katedralnya, yaitu berwarna putih dan bergaya arsitektur Romanesque style. Meskipun demikian, bagian loggia-nya atau disebut teras dengan tiang-tiang, tingkat paling atas, dan kubahnya, dibuat dengan gaya gothic style.

Baptistery ini adalah baptistery tersebesar di Italia dengan keliling mencapi 107, 25 meter. Walaupun bagian dalamnya luas, baptistery tersebut cenderung polos dan tidak memiliki banyak dekorasi. Mereka berdua menjumpai beberapa barang yang ada di dalam seperti bak tempat air untuk pembaptisan yang berbentuk oktagonal dengan patung perunggu di bagian tengahnya, dan mimbar berukir yang menjadi salah satu pelopor penting dari seni ukir Renaissance Italia.

“Kyu, kau tidak keberatan mengajakku ke tempat-tempat seperti ini?” tanya Ri-Rin setelah menit-menit yang lalu diselimuti oleh atmosfer keheningan. Mereka terlalu sibuk menjelajah segala ruangan-ruangan yang ada, dan hanya sesekali bertanya sepatah atau dua kata, itu pun menyangkut benda-benda yang mereka lihat. “Aku bisa mengganti uangmu nanti. Aku hanya merasa tidak enak kalau kau yang membayarkannya. Padahal jelas-jelas aku yang berlibur ke sini, jadi sudah pantas kalau aku yang membayar seluruh biaya wisataku.”

Kyuhyun menarik wanita itu agar semakin mendekat. “Jangan banyak bicara. Masalah uang tidak perlu dipikirkan. Yang kau lakukan hanya diam, kemudian nikmati apa yang tersaji di depan matamu. Kau ke sini untuk liburan kan? Jadi jangan pikir akan ada kesempatan yang seperti ini lagi nantinya.”

“Tapi Kyu——”

“Diamlah Rinnie~ya,” sambar Kyuhyun. “Atau aku akan membungkammu secara paksa agar kau berhenti berkomentar.”

 

***

 

Concerto Paszkowski Caffé, Firenze, Italy

12.43 PM

“Aku berhutang beberapa lembar uang padamu, Kyu,” keluh Ri-Rin sambil mengiris panino—roti yang dipotong horizontal dan diisi dengan bahan-bahan lezat seperti daging asap, ham, keju, mortadella, atau makanan lainnya yang terkadang disajikan hangat setelah dimasak di atas panggangan yang super panas—dan memasukkannya ke mulut.

“Aku bahkan tidak memikirkan itu,” jawab Kyuhyun santai, setelah menelan lasagna yang ada di mulutnya.

Ri-Rin menghela napas. “Bisa tidak, biarkan aku saja yang membayarnya? Aku tidak enak padamu.”

“Demi Tuhan! Untuk apa merasa tidak enak denganku? Kau tidak lupa kan kalau sekarang ini aku adalah kekasihmu? Lupakan masalah usia, karena aku yakin kau tidak memedulikannya. Tapi aku mohon, tolong jangan seperti ini. Aku tidak akan mati hanya karena membayar liburanmu.”

“Kau keras kepala!” seru Ri-Rin mengerucutkan bibirnya. “Ah tapi baiklah, karena kau yang meminta, jadi aku tidak akan memikirkannya lagi. Itu malah suatu keberuntungan untukku.”

“Apa sulitnya menjawab yang seperti itu dari tadi? Kau membuatku jengah, tahu tidak?”

Wanita itu menyengir tanpa perasaan dosa sedikit pun. “Ngomong-ngomong, setelah ini kau ingin membawaku ke mana? Ingin mengajakku ke tempat wisata yang lainnya, hmm?” godanya.

“Kau bisa berubah dalam waktu yang cepat ya,” komentar Kyuhyun sarkartis. “Tadi mengeluh masalah uang, lalu sekarang memberiku kode ingin diajak ke tempat wisata yang lain. Tidak berminat menguras dompetku sekalian?”

“Kau menginzinkannya?” respons Ri-Rin dengan mata berbinar.

“Cih, otakmu sekalinya bergeser, langsung merubahmu menjadi mengerikan seperti ini,” cemooh pria itu lagi. “Kau ingin ke mana? Ada banyak tepat wisata yang harus didatangi seharusnya. Kau tidak akan mampu menghabiskan keseluruhannya dalam waktu satu atau dua hari, kurasa.”

“Kau pikir siapa yang hanya ingin tinggal di sini sampai 2 hari seperti itu?” dengus Ri-Rin.

“Aaahh ya, kau kan di sini sampai tiga minggu ke depan, aku benar? Tapi coba sekarang aku tanya, setelah 3 hari datang di negara ini, kau sudah berjelajah ke mana saja?”

“Nggg… itu… belum banyak tempat yang kudatangi sebenarnya. Uffizi merupakan tempat pertama yang aku kunjungi untuk menghabiskan waktu beberapa minggu di sini,” jawab Ri-Rin polos.

“Nah!” seru Kyuhyun menghantamkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kiri. “Maka dari itu seharusnya kau bersyukur aku yang menemanimu jalan-jalan. Karena aku sudah tinggal di sini selama 2 tahun, jadi mungkin aku bisa membantu. Tapi jangan pikir, aku juga sudah mengunjungi semua objek wisatanya.”

Ri-Rin memajukan tubuhnya, membuat bagian perutnya menyentuh sisi meja. “Belum mengunjungi semua objek wisata kau bilang?” tanyanya dengan tatapan tidak percaya. “Kalau begitu, kenapa kau bersedia menemaniku dan menunjukkan tempat-tempat wisatanya? Dari mana kau tahu tempat semenarik itu, huh?”

Kyuhyun memutar kedua bola matanya dengan malas. “Kau tidak tahu apa yang disebut dengan internet ya? Kau pikir dari mana orang-orang akan tahu berbagai macam tempat menarik kalau bukan karena mencarinya di jaringan internet? Kau ke manakan otakmu hah?”

Wanita itu mengerucutkan bibirnya mendengar kata-kata tajam dari Kyuhyun dan langsung menegakkan tubuhnya, melayangkan tatapan terbunuh yang dimilikinya pada pria yang anehnya sulit enyah dari otaknya.

“Bisa perhalus kata-katamu tidak, Cho? Ucapanmu itu sangat menyebalkan, tahu!” sungutnya.

“Kau sudah lupa ya bagaimana aku kalau bicara?”

Mendengar itu, Ri-Rin menusuk panino dengan garpu yang berada di tangannya, lalu memasukkannya dalam ukuran yang cukup besar ke mulut dengan gerakan yang kasar. Kyuhyun sama menyebalkannya seperti dulu. Tipe pria yang akan membuatmu naik darah dengan cepat karena lidahnya yang tajam ketika berbicara.

Wanita itu mengunyah makanannya cepat, namun tatapannya tidak lepas dari Kyuhyun, seakan menantang pria tersebut untuk adu mulut dengannya lebih lama. Walaupun Ri-Rin sendiri tahu, ia pasti langsung kalah telak jika sudah beragumen dengan pria itu.

“Aku sedang malas berdebat denganmu. Bagaimana pun caranya aku memutar otak agar bisa mengalahkanmu dalam hal adu mulut, tetap saja kau yang akan jadi pemenangnya. Itu menyebalkan sekali, kau tahu?”

“Sudah berapa kali kau mengucapkan kata menyebalkan dan itu semuanya untukku?” protes Kyuhyun. “Akui sajalah, aku memang menyebalkan, tapi kau mencintaiku. Ya kan?”

Ri-Rin menjulurkan lidahnya, berpura-pura bersikap muak dengan perkataan Kyuhyun barusan.

“Ucapanmu tadi membuatku ingin memuntahkan makanan yang baru saja aku makan, Kyu,” dustanya dengan nada mengeluh. “Kau harus bertanggung jawab jika setelah ini aku berlari ke kamar mandi lalu memuntahkan semua isi perutku.”

“Berani bertaruh denganku?” balas pria itu tidak takut. “Apa yang akan kau beri dan aku beri jika kau tidak memuntahkan isi perutmu itu? 5 kali ciuman untukku, kalau kau tidak berlari dan memuntahkan apa yang telah kau makan. Seru kan?”

Ri-Rin mendelik, ingin sekali mencabik-cabik wajah tampan yang ada di hadapannya itu. Demi Tuhan, sebenarnya apa yang dimakan Kyuhyun setiap hari? Kenapa ketampanannya sama sekali tidak berubah meskipun usianya sudah menginjak kepala lima?

“Terimakasih atas tawaran murahanmu itu,” tolak Ri-Rin mentah-mentah menekankan pada kalimat murahannya.

Kyuhyun mengedikkan bahunya santai. “Setelah ini, kau mau aku mengajakmu ke mana?” tanyanya dengan raut wajah serius setelah menyesap vanilla-late miliknya.

“Kau ada referensi?”

“Banyak sebenarnya. Tapi apa kau ingin mengunjungi lebih dari satu tempat dalam satu hari? Waktumu di sini masih banyak, menurutku, ada baiknya kalau satu hari untuk satu atau dua tempat wisata.”

“Idemu menarik juga untuk dipertimbangkan. Masalahnya adalah, usiaku tidak lagi muda Kyu, tenaga yang aku punya sudah tidak sebanyak dulu. Aku sudah tidak mempunyai stamina yang besar seperti dulu. Aku mudah lelah dan semacamnya.”

“Memangnya dulu kau punya stamina yang sebesar apa?” sergah pria itu bercanda. “Kau paling tidak suka berolah raga, jadi wajar saja kau itu orangnya cepat lelah. Baru lari sebentar saja sudah mengeluh.”

“Tujuanku ke Florence untuk berlibur, bukan untuk mendengar ejekan-ejekan paling menjengkelkan dari mulutmu itu. Aku bisa membunuhmu sesuka hati, kalau kau terus-terusan berceloteh tidak jelas, Kyuhyun~ssi!”

“Hahaha, baiklah baiklah,” kata Kyuhyun mengangkat kedua tangannya. “Aku tidak ingin kau merasa jengah dan tidak bisa menikmati liburanmu di sini.”

“Bagus kalau kau mengerti.”

“Jadi, setelah ini, kau mau ke mana?”

Ri-Rin tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Suatu pertanyaan yang menyimpang dari apa yang sedang dipertanyakan pria itu tiba-tiba saja melintas di otaknya. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa ragu untuk bertanya, tapi penasaran sendiri kalau menelan pertanyaan itu bulat-bulat.

“Nggg.. Kyu? Malam ini, kau tidur di apartmentku lagi atau pulang ke rumah?”

“Baik di apartmentmu atau di rumahku saat ini tidak ada bedanya. Karena, aku akan membuatmu tidur di atas ranjang. Bersamaku.”

 

***

Piazza Della Santissima Annunziata, Firenze, Italy

08.00 PM

Saat ini, Kyuhyun dan Ri-Rin tengah berjalan di jalur pejalan kaki, Piazza Della Santissima Annunziata. Tadinya, pria itu berniat mengajak Ri-Rin untuk pulang tapi wanita itu malah merengek seperti anak kecil karena terasa ingin menghabiskan waktu seharian di luar rumah, dengan menikmati suasana malam kota Firenze.

Jalur pejalan kaki yang mereka lewati berada di ketiga sisi alun-alun Piazza Della Santissima Annunziata yang memang berbentuk persegi. Di tengah alun-alun tersebut, berdiri sebuah patung Ferdinando I de’ Medici yang sedang menaiki kuda, dan patung itu terbuat dari perunggu.

Di sisi lain, terdapat dua buah air mancur yang dihiasi dengan tokoh-tokoh makhluk mitos Romawi. Siraman cahaya lampu yang berdiri di sepanjang jalan—yang juga menghiasi deretan bangunan-bangunan di sekitarnya—mampu membuatmu terkagum dan dijamin tidak akan bisa mengatupkan mulut dengan benar saking indahnya pemandangan yang disuguhkan.

Ada beberapa restaurant atau sekadar kedai yang terletak tidak jauh dari alun-alun, yang kursi-kursinya sengaja diletakkan di luar bangunan, bertujuan agar pengunjung bisa dengan leluasa menikmati sajian kemerlap lampu-lampu yang bervariasi warna itu sambil menghirup udara malam Firenze yang terasa nyaman.

Ri-Rin dan Kyuhyun berjalan bersisian dengan jemari yang saling bertautan, sesekali melewati wisatawan yang sedang menikmati sajian makan malam di pinggir-pinggir jalan itu.

“Aku tidak pernah menyesal tadi karena sudah merengek padamu agar bersedia menemaniku jalan-jalan malam,” kekeh Ri-Rin ketika mereka memutuskan untuk berhenti sejenak di depan bangunan sederhana, memesan minuman yang belum pernah wanita itu cicipi sebelumnya.

“Sedikit disayangkan kalau kau datang ke tempat ini di awal kau menginjakkan kaki di Firenze,” sahut Kyuhyun ketika Ri-Rin mengambil pesanannya, dan memberika beberapa lembar uang pada penjual tersebut.

Mereka pun kembali melanjutkan langkah kaki masing-masing, hanya saja, bedanya kali ini ada satu cup minuman di tangan kanan Ri-Rin.

“Disayangkan kenapa?”

“Yah, kau lihat sendiri bagaimana indahnya alun-alun ini. Terang, indah, menakjubkan. Padahal waktumu di sini masih banyak, tapi sudah datang ke tempat seindah ini.”

“Kau kira aku akan berkunjung ke sini hanya sekali? Meskipun aku belum seminggu di sini, namun mengetahui ada tempat seperti ini, aku akan memastikan jika aku akan sesering mungkin datang kemari. Kau tidak berpikiran sejauh itu ya?” ejek wanita tersebut.

“Terserah kau sajalah.” Pria itu malah melingkarkan tangannya di pinggang Ri-Rin dan menariknya mendekat.

“Kau mau?” tawar Ri-Rin menyodorkan minuman di tangan kanannya, setelah mencobanya sedikit.

Kyuhyun menoleh, tanpa aba-aba mendekatkan wajahnya dan mencium bibir wanita itu kilat.

“Terimakasih.”

Ri-Rin membeliak. “Yak! Apa-apaan yang tadi itu? Kau amnesia ini tempat umum, hah?” protesnya meninju dada pria yang berjalan di sampingnya.

“Aku tidak amnesia, Rinnie~ya,” jawab Kyuhyun memutar kedua bola matanya. “Bukannya tadi kau menawarkanku minuman itu? Aku menerima tawaranmu itu. Akan tetapi, aku menyesapnya langsung dari bibirmu. Rasanya sama saja. Bahkan jauh lebih enak.”

Ri-Rin ternganga untuk beberapa saat. “Kau sakit jiwa!”

 

***

Demini Lor Advolgigo Apartment, Firenze, Italy

10.05 PM

“Kau tidak lelah setelah seharian berperilaku seperti setrika? Berjalan ke sana kemari?” komentar Kyuhyun saat Ri-Rin baru saja muncul dari dapur dengan semangkuk pop corn di tangannya.

“Belum terlalu lelah. Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa belum mengantuk,” jawab Ri-Rin setelah mendaratkan bokongnya di samping Kyuhyun.

Kyuhyun segera merebut mangkuk berisikan pop corn itu dari tangan Ri-Rin, dengan cepat berkelit ketika wanita itu berusaha mengambil apa yang menjadi miliknya.

“Yak Cho Kyuhyun!” serunya marah. “Kembalikan itu padaku! Bilang saja jika kau—”

Perkataan Ri-Rin terhenti karena Kyuhyun menjejalkan pop corn yang diraup pria itu dengan tangannya yang besar ke mulutnya, membuat ia hampir tersedak akibat gerakan yang tiba-tiba itu.

“Jangan berteriak-teriak. Suaramu itu tidak ada merdu-merdunya sama sekali, tahu tidak?” sahut Kyuhyun.

AISH, kau ingin mati, hah?” amuk Ri-Rin setelah berhasil menelan apa yang di dalam mulutnya tersebut.

Kemudian keduanya saling diam. Ri-Rin tidak terlalu mempermasalahkan perbuatan Kyuhyun lagi seperti yang tadi dilakukannya.

Kyuhyun bergerak, meletakkan mangkuk yang sedang dipegangnya di atas meja, lalu tanpa permisi menjadikan paha Ri-Rin sebagai bantalan, membaringkan kepalanya di pangkuan wanita itu.

Ri-Rin sedikit terhenyak dengan apa yang dilakukan Kyuhyun, tapi itu hanya sebentar, karena ia bisa dengan cepat mengontrol ekspresinya.

“Tidak keberatan kalau aku tiduran di pangkuanmu seperti ini?” tanya Kyuhyun mendongakkan kepalanya.

Wanita itu tersenyum. Tangannya ia gunakan untuk mengelus-elus rambut Kyuhyun.

“Sama sekali tidak. Lakukan sesukamu, asal itu tidak merugikanku.”

“Aku merindukan masa-masa kebersamaan seperti ini denganmu, Rinnie~ya,” ucap Kyuhyun sama sekali tidak melepaskan tatapan matanya dari wajah yang selama ini menghilang dari pandangannya.

Ri-Rin menunduk, secara otomatis pandangan mata mereka pun bertemu. “Tidak usah kau katakan, aku juga sudah tahu.”

“Kalau boleh aku tahu, bagaimana kehidupanmu di Seoul setelah aku menghilang tanpa meninggalkan jejak apa pun?” tanya pria itu penasaran.

“Hancur?” balas Ri-Rin tak yakin. “Ah bukan. Mungkin kata hancur saja tidak cukup untuk mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat itu. Selama satu bulan, aku merasa sekarat karena tidak bisa menemukan keberadaanmu. Permintaanmu untuk berpisah kala itu, membuatku berpikir ulang, dan akhirnya membawaku untuk mencarimu, meminta penjelasan yang lebih dari itu. Tapi ternyata, aku tidak menemukanmu di rumah. Bahkan, aku terlalu terkejut mendapati ada orang lain yang menempati rumahmu. Seperti ada badai yang menghantam perasaanku, saat mereka mengatakan pemilik rumah itu sudah pindah dua minggu yang lalu.”

“Apa yang kau pikirkan setelah tahu aku sudah pindah dari rumah itu? Aku kan tidak memberitahumu dulu. Tidak ada seorang pun yang tahu mengenai kepindahanku ke Amerika. Itu benar-benar dirahasiakan.”

“Kecewa sudah pasti. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kau kan sudah meminta berpisah dariku, meskipun secara sepihak. Aku mengharagai keputusanmu itu. Namun jauh di lubuk hatiku, aku yakin ada alasan tertentu yang memaksamu untuk berbuat seperti itu padaku.”

“Seberapa yakinnya kau kalau aku memiliki alasan tertentu?”

“Hampir 100 persen aku yakin. Kita memang baru 6 bulan berpacaran, hanya saja, aku sudah sangat tahu kau baik luar maupun dalamnya. Seperti aku sudah mengenalmu untuk jangka waktu yang lama. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Apa kau bisa menjelaskannya padaku?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak tahu. Yang merasa itu kau, bukan aku. Jadi, tanyakan pada hatimu sendiri, jangan tanya orang lain.”

“Kau tahu tidak Kyu? Orang tuaku bahkan menganggapku sudah tidak waras karena terus-terusan memikirkanmu. Aku menolak setiap kali orang tuaku membawakan seorang pria ke rumah, mereka berniat mengenalkannya padaku untuk dijadikan menantu,” ucap Ri-Rin. “Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah. Aku menjelaskan pada orang tuaku, bahwa aku tidak ingin menikah dengan pria selain Cho Kyuhyun. Sejak saat itu, mereka menganggapku gila.”

Mata Kyuhyun melebar mendengar penuturan Ri-Rin. “Mereka menganggapmu gila, karena kau tidak mau menikah dengan pria, jika pria itu bukan aku?”

“Mmmm,” gumam Ri-Rin sebagai jawaban sambil menganggukkan kepala. “Menurutmu, apa aku segila itu?”

Kyuhyun menghela napas. Ia mengangkat sebelah tangannya, memegangi pipi wanita itu.

“Kenapa kau tidak ingin menikah dengan pria selain aku? Kau tahu aku sudah… yah, anggap saja mencampakkanmu, tetapi kenapa kau bersikap seperti itu?”

“Kau yang menyimpulkannya sendiri,” sergah Ri-Rin. “Aku berani bersumpah, tidak pernah memiliki pikiran sudah dicampakkan olehmu.”

“Tidak pernah? Sama sekali? Kau yakin?”

“Apa sumpahku tadi tidak cukup untuk meyakinkanmu, huh?” protes Ri-Rin. “Ohya, kau belum melanjutkan ceritanya. Aku penasaran setengah mati, Kyu. Aku mohon, ceritakan padaku semuanya.”

Kyuhyun menurunkan tangannya terbata-bata. “Kau masih ingin tahu?”

Bibir Ri-Rin langsung melengkung ke bawah, menatap pria di pangkuannya dengan malas.

“Tentu saja aku masih ingin tahu. Kau kan belum selesai bercerita.”

“Terakhir aku bercerita, di bagian mana?”

“Kau pindah ke Amerika, tanpa memberitahuku.”

Kyuhyun mengangguk. Ia merundukkan kepalanya, tidak lagi memandangi wajah Ri-Rin. Sedikit tidak yakin, sekuat apa dirinya menceritakan masa lalu yang pahit itu kalau sambil memandangi wajah favoritnya. Pasti rasanya akan sakit sekali.

“Di Amerika, nenekku memintaku agar bisa dekat dengan seorang gadis yang menurut penilaiannya baik. Gadis itu bernama Raina Hwang. Keturunan Amerika-Korea, namun sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di Korea.

“Aku mencoba dekat dengan Raina. Kebetulan, kami sama-sama kuliah di Harvard University. Aku tidak tahu dari mana asalnya, tapi banyak gosip yang beredar kalau aku dan dia berpacaran. Mereka sama sekali tidak tahu. Aku dan Raina tidak pacaran. Hanya dekat. Dan aku, karena terpaksa.

“Berulang kali aku mengenyahkanmu, mencoba untuk tidak memikirkanmu, namun nyatanya aku tidak bisa. Kau selalu masuk, merangsek ke dalam otak, tanpa bisa aku kendalikan. Jadi, aku dengan cepat mengambil keputusan, untuk tidak bisa menggantikan posisimu.

“Aku berpura-pura baik pada Raina. Tapi hanya berlaku dalam kurun waktu 3 bulan. Karena setelah itu, nenekku meninggal, yang berarti, aku tidak perlu lagi berdekatan dengan gadis itu. Awalnya, aku memang berusaha berjanji pada nenek untuk mengabulkan keinginannya. Menikah dengan Raina. Janjiku hanya di mulut saja, tidak di dalam hati. Aku cucu yang durhaka kan?”

“Orang tuamu tidak melakukan hal yang sama seperti nenekmu?” sela Ri-Rin.

“Tidak,” jawab Kyuhyun cepat. “Mereka kan sudah tahu aku sudah memilikimu. Mereka juga tahu, keinginanku untuk berpisah denganmu itu hanya karena paksaan. Hanya karena tekanan. Aku bahagia nenekku meninggal, dengan begitu, aku bisa jauh-jauh dari Raina, dan hidup bebas.”

“Aku menyelesaikan pendidikan S1 di Amerika tepat waktu. 3 tahun. Tidak kurang, tidak lebih. Setelah itu, aku meneruskan pendidikan untuk S2 di Jerman. Dulu aku pernah mengatakannya padamu, bahwa aku ingin sekali bisa kuliah di sana. Beruntungnya, itu semua bisa aku raih dengan mudah.

“Singkat cerita, aku berhasil menamatkan S2 di Jerman selama 2,5 tahun. Aku kembali ke Amerika, lalu ayahku meminta agar aku bisa bekerja di perusahaannya. Ayahku memiliki perusahaan di sana. Aku diminta untuk latihan dulu, sebelum benar-benar menggantikan posisi beliau. Aku berkata pada ayah, masih ingin menunda untuk bekerja selama beberapa bulan ke depan, dan ayah mengabulkannya.”

“Kenapa kau tidak ingin langsung bekerja? Menurutku, kalau kau sudah dapat link seperti itu dari ayahmu sendiri, peluangmu untuk menjadi seorang pemimpin sangatlah besar,” komentar Ri-Rin.

“Aku tahu. Hanya tidak ingin. Aku masih harus membenahi diri, karena di Jerman pun aku masih terus teringat gadis bernama Shin Ri-Rin.”

Ri-Rin tersedak udara. Pipinya memanas karena apa yang sudah dikatakan Kyuhyun tadi. Sial! Jangan sampai pipinya terlihat merona di hadapan pria itu.

“Lanjutkan.”

Kyuhyun menggeleng. “Malam ini, aku berhenti di situ. Aku malas melanjutkannya.”

Ri-Rin terbelalak. “Malas? Yak, apa maksudnya malas itu? Kau belum melanjutkan ceritanya, Bodoh! Kenapa kau senang sekali membuatku penasaran, hah?”

“Hahaha! Aku membuatmu penasaran ya? Maaf kalau begitu. Silakan dinikmati rasa penasaranmu itu,” tawa pria itu.

“Dasar Cho Kyuhyun setan menyebalkan! Kuhabisi kau!” ancam Ri-Rin.

“Ancamanmu sama sekali tidak bermutu, Rinnie~ya.”

Kyuhyun bangkit dan turun dari sofa. Berdiri membelakangi Ri-Rin yang sesaat setelah itu ia malah berjongkok, membuat wanita itu mengernyit bingung.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku lelah, ingin tidur. Cepat naik ke punggungku.”

Tawa Ri-Rin menyembur keluar. “Kau ingin aku apa barusan? Naik ke punggungmu? Hei, kau tidak sadar umurmu berapa? Yakin masih mampu menggendongku, huh?” cemoohnya.

Pria itu mendecak sebal. “Kau kira aku selemah apa? Umurku memang sudah 50 tahun, tapi jangan kira aku tidak bisa melakukan apa-apa. Lagi pula, aku sangat yakin menggendongmu itu sama saja dengan mengangkat sekarung beras, tidak akan terasa bobotnya.”

Ri-Rin menggeplak punggung Kyuhyun. Ia ragu sejenak, namun tetap melakukan apa yang diperintahkan Kyuhyun. Wanita itu melingkarkan tangannya di sekeliling bahu Kyuhyun, sementara pria itu sendiri meletakkan kedua tangannya di belakang dengkul Ri-Rin, sebelum akhirnya berdiri, mengangkat wanita itu yang sudah diprediksikannya sejak awal. Tidak terasa beratnya sama sekali.

Kyuhyun membawa Ri-Rin masuk ke kamar. Ia membuka pintu yang sudah sedikit terbuka itu dengan hentakkan kakinya. Berjalan mendekati ranjang, lalu mendudukkan wanita itu di pinggir ranjang.

“Benar dugaanku,” ucap pria itu setelahnya. “Apa yang kau makan setiap hari? Kenapa beratmu itu, tidak ada perubahannya sejak SMA?”

Ri-Rin mendelik. Ingin rasanya menyumpal mulut pria di depannya ini dengan tabung gas agar berhenti mengomentari segala kekurangannya.

“Beruntungnya di kamarku tidak ada tabung gas,” akunya terang-terangan. “Kalau tidak, kupastikan benda itu sudah berada di dalam mulutmu, Cho!”

Kyuhyun mengedikkan bahunya tak peduli. Ia memutari ranjang untuk merebahkan tubuhnya di sisi yang lain.

“Kau tidak ingin tidur? Aku bahkan nyaris mati kelelahan seharian ini,” katanya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh.

Ri-Rin melakukan hal yang sama. Ia mengangkat benda penghangat tubuh itu di atas tubuhnya, hingga batas dada.

“Ini tidak bermoral, Kyu,” gumamnya.

“Apanya yang tidak bermoral?”

Ri-Rin mengedikkan dagunya, menunjuk posisinya yang terbaring di samping Kyuhyun. “Ini, tidur di sini denganmu, sedangkan kita belum resmi menikah.”

Kyuhyun berbaring menyamping, tangan kanannya terulur, meraih tubuh Ri-Rin agar mendekat. “Siapa yang peduli? Di sini hanya ada kita berdua. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan sesuatu yang belum sepantasnya aku lakukan. Kau tahu aku tipe pria seperti apa.”

“Aku tahu,” balas Ri-Rin menenggelamkan wajahnya di dada pria itu, menghirup aroma kesukaannya yang menguar dari tubuh Kyuhyun.

Kyuhyun mendaratkan bibirnya di kening wanita itu. Lembut. Lama. Mungkin sebagai ucapan selamat malam yang tertahankan.

“Untuk kali ini, aku akan mempertahankanmu agar tidak pernah lepas lagi dari jangkauanku. Aku tidak akan melonggarkan genggamanku padamu. Sedikit pun.”

 

***

10.15 AM

Ri-Rin mematikan kran air yang sudah tersambung dengan selang itu, baru saja menyelesaikan pekerjaannya yaitu menyiram tanaman.

Ada sebuah petak bunga di samping bangunan yang menjadi tempat tinggal sementaranya di Firenze, dan beberapa tanaman hijau lainnya seperti semak yang tidak terlalu tumbuh dengan lebat, menambah kesan asri dan sejuk ketika berada di dekatnya.

Di situ juga ada dua buah bangku kecil dan meja kotak berwarna putih di tengahnya, yang memang sengaja diletakkan agar—mungkin bisa menikmati udara bersih sambil bercengkrama dengan orang tersayang ditemani secangkir teh hangat atau semacamnya.

Ri-Rin masuk ke dalam, melirik jam dinding terpajang di tembok beberapa senti di atas televisi, membulatkan matanya ketika jarum pendek yang menunjukkan di angka 10 dan jarum panjangnya di angka 3.

Ia mengernyit, heran sendiri sudah siang seperti ini namun Kyuhyun belum juga bangun dari tidurnya. Apa pria itu kelelahan hingga bisa tidur senyenyak itu? Padahal Ri-Rin tahu dengan pasti kalau pria itu akan bangun maksimal pukul 7.10.

Ia masuk ke dalam kamar, tersenyum sendiri melihat Kyuhyun yang masih tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga batas dagu.

Ri-Rin berjalan mendekati ranjang, duduk di tepiannya, sedikit memiringkan kepala mendapati wajah pria itu yang terlihat tidak biasa. Kulitnya yang putih terlihat semakin memutih dengan bibir yang pucat dan kering.

Tangan Ri-Rin terulur, menyentuh pipi pria tersebut dengan telapak tangan—berniat membangunkan—tapi tubuhnya langsung tersentak saat merasakan suhu tubuh pria itu yang sangat tinggi.

Ri-Rin memajukan posisi duduknya sejajar dengan dada pria itu, mulai memegangi wajah pria itu dengan tangannya, yang ternyata tubuh Kyuhyun benar-benar panas!

“Ya Tuhan!” serunya. “Tubuhmu panas sekali.”

Kyuhyun membuka matanya perlahan saat merasa ada sesuatu yang menyentuh pipinya. Tenggorokannya butuh air untuk menghilangkan rasa hausnya yang tidak tertahan lagi. Sebenarnya ia bisa saja turun dari tempat tidur untuk mengambil air putih, tapi tubuhnya terlalu lemas untuk digerakan dan badannya pun sedikit menggigil karena kedinginan.

Rinnie~ya, bisa kau ambilkan aku air putih? Aku haus sekali, tenggorokanku pun rasanya kering,” kata Kyuhyun lemah, suaranya terdengar serak.

“Kenapa kau diam saja kalau demam, huh?” protesnya cemas. “Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan air putih dan keperluan untuk mengompresmu.”

Kyuhyun hanya mengangguk pelan, merasa tidak bisa melakukan apa-apa lagi dengan kondisi yang seperti ini. Sedangkan Ri-Rin, wanita itu sedikit berlari keluar kamar untuk mengambil sesuai dengan apa yang sudah dikatakannya tadi.

Tidak lama kemudian, Ri-Rin sudah kembali dengan segelas air putih di tangan kanannya dan sebuah baskom dengan kain di dalamnya di tangannya yang lain.

“Ini, ayo diminum,” ujarnya setelah sebelumnya meletakkan baskom di atas nakas kecil di samping tempat tidur.

Wanita itu membantu Kyuhyun untuk minum. Menahan tubuh pria itu dengan melingkarkan tangan kanannya di bagian punggung bagian atas Kyuhyun, ketika pria tersebut mengangkat tubuhnya sedikit, meminumkan pria itu dengan tangan kirinya.

Setelah itu, Kyuhyun kembali berbaring dan Ri-Rin mulai sibuk memeras kain di dalam baskom. Ia meletakkan kain tersebut di dahi Kyuhyun, berharap dengan itu suhu tubuh Kyuhyun akan segera turun.

“Kau kedinginan?” tanya Ri-Rin dengan raut wajah khawatir yang kentara sekali.

Kyuhyun menggerakkan kepalanya agar bisa menatap wanita tersebut dengan jelas. “Begitulah, aku tidak akan menyelimuti tubuhku sendiri hingga sebatas dagu kalau tidak merasa dingin,” jawabnya dengan pandangan yang sayu.

Ri-Rin menghela napas. “Kau pasti kelelahan ya karena menemaniku jalan-jalan? Maafkan aku.”

Kyuhyun meraup jemari Ri-Rin, menggenggamnya erat. “Jangan meminta maaf seperti itu. Kau tidak salah apa pun. Aku seperti ini karena memang faktor usia,” ujarnya tersenyum.

“Tapi tidak seharusnya kau menemaniku jalan-jalan hingga malam seperti semalam, Kyu. Kalau aku tahu ini yang akan terjadi, lebih baik kita tidak usah saja.”

“Tutup saja mulutmu itu. Telingaku panas mendengar permintaan maafmu yang tidak bermutu itu.”

“Ck! Kau sedang sakit saja tetap menyebalkan ya,” gerutu wanita tersebut. “Ya sudah, akan aku buatkan sarapan dulu untukmu. Kau istirahat sebentar, nanti aku kembali untuk memberimu sarapan. Bubur tidak apa-apa kan?”

 

***

“Setelah ini, lebih baik kau tidur. Istirahatlah yang banyak,” kata Ri-Rin memperingatkan Kyuhyun setelah membantu pria itu untuk menghabiskan sarapannya, dan memaksanya agar mau menelan obat penurun demam yang dijejalkannya secara paksa karena pria tersebut yang menolak habis-habisan meminum obat.

“Kau pikir enak seharian harus berbaring di atas tempat tidur tanpa melakukan apa pun?” balas Kyuhyun yang tengah duduk dengan punggung yang bersandar di kepala tempat tidur.

Wanita itu mendesah kasar. “Umurmu 50 tahun Cho, bukan 15. Jangan bertingkah seperti anak kecil atau aku akan mematahkan lehermu, jika tidak menuruti perintahku!” ancamnya.

“Kau tahu tidak, Rinnie~ya?” ucap pria itu memasang tampang polosnya. “Setiap ancaman yang keluar dari mulutmu, sama sekali tidak berpengaruh untukku. Lain kali, putar otakmu terlebih dahulu sebelum mengatakannya. Carilah ancaman yang sekiranya bermutu agar aku menuruti apa yang kau perintahkan.”

“Percuma saja bicara denganmu, yang ada emosi meningkat dalam kurun waktu beberapa detik saja!” sungut Ri-Rin bangkit berdiri berniat menaruh mangkuk dan gelas di tempat pencucian piring.

Dengan cepat, Kyuhyun mencekal pergelangan wanita itu, menahan pergerakannya.

“Aku minta maaf. Maaf sudah merepotkanmu. Maaf karena aku, kau tidak bisa pergi ke mana-mana hari ini,” pria itu menatap tangannya yang masih betah berada di sekeliling pergelangan tangan Ri-Rin.

Ri-Rin tidak jadi pergi. Ia duduk kembali seperti sebelumnya, tersenyum tulus pada pria di hadapannya.

“Bukan masalah untukku. Lagi pula, waktu 3 mingguku di sini tidak harus diisi dengan jalan-jalan terus kan? Ada saat di mana aku hanya berdiam di rumah, mengerjakan sesuatu yang mungkin bisa bermanfaat untukku. Kalau dalam 3 minggu itu aku gunakan untuk rekreasi terus-menerus, kau pikir dompetku bisa beranak pinang mengeluarkan uang? Biaya yang kubawa kemari juga terbatas, jadi, jangan mengucapkan maaf lagi.”

“Padahal tadinya hari ini aku ingin mengajakmu ke Rabbit Beach.”

“Rabbit Beach?” ulang Ri-Rin menaikkan kedua alisnya. “Pantai apa itu? Kenapa aku baru mendengarnya dan baru mengetahuinya darimu?”

“Pantai Rabbit itu merupakan pantai terindah di dunia yang memiliki suasana pantai Mediterania yang banyak dikunjungi wisatawan. Memang bukan di Firenze sebenarnya. Pantai Rabbit terletak di Provinsi Agrigento, Sisilia. Hanya ada dua akses yang bisa digunakan jika ingin ke sana. Jalur udara dan air saja. Tapi itu semua akan terbayar ketika kau sudah bisa melihat keindahan alamnya.”

“Benarkah?” tanya Ri-Rin dengan mata yang berbinar. “Baiklah, nanti, setelah kau sembuh, kau harus mengajakku ke sana, eo?”

“Dengan senang hati,” jawab Kyuhyun. “Dan, kau juga harus tahu, Pantai Rabbit memiliki keunikan yang khas dibandingkan dengan pantai yang lainnya. Di sana, kau bisa menemukan puluhan bahkan ratusan kelinci yang hidup berkeliaran bebas, karena nama pantai itu sendiri diambil dari habitat kelinci-kelinci itu. Juga, akan ada banyak kura-kura jika sedang musim bertelur.”

“Kau tahu banyak ya? Kenapa tidak bilang padaku saja kalau ada pantai seindah itu?” rajuk wanita itu dengan bibir yang mengerucut, membuat Kyuhyun tidak tahan untuk tidak tersenyum.

“Aku sudah bilang padamu tadi, niat awalku, hari ini mengajakmu ke sana. Tapi yah, kau tahu sendiri keadaanku malah seperti ini. Nanti di lain waktu, aku akan membawamu ke sana.”

“Janji?”

“Hmmm,” angguk Kyuhyun.

“Ya sudah, sekarang kau tidur saja. Jangan memikirkan apa pun dulu. Fokus pada kesehatanmu. Aku tidak ingin kau sakit, Kyu.”

Bukannya menuruti apa yang dikatakan Ri-Rin, Kyuhyun malah menarik tangan wanita itu, sehingga membuat Ri-Rin kehilangan keseimbangan dan berakhir dengan tubuhnya yang terjatuh tepat di atas tubuh Kyuhyun.

Wanita itu mendongak, membuat mata mereka bertemu pandang, dan yang bisa Ri-Rin lakukan hanyalah menahan napas karena jarak wajahnya dan wajah Kyuhyun yang sangat dekat. Ia bahkan bisa merasakan embusan napas Kyuhyun yang menari-nari di permukaan wajahnya.

Rinnie~ya, nanti, di masa yang akan datang, seandainya Tuhan memang berniat menjadikan kita satu, secara otomatis aku akan merepotkanmu kembali seperti ini. Bila hal itu terjadi, apa kau keberatan jika harus mengurus pria sepertiku?”

 

***

11.40 PM

Ri-Rin menutup pintu secara perlahan, berusaha tidak menimbulkan bunyi sedikit pun yang bisa membuat Kyuhyun terjaga dari tidurnya.

Pria itu sudah tidur sejak pukul 9 tadi, terlalu patuh dengan apa yang diperintahkan Ri-Rin, sedangkan wanita itu sendiri baru saja menyelesaikan novel karya penulisa favoritnya—kebiasaannya sejak dulu yang belum pernah hilang. Ia berkelana dalam dunia fantasinya sendiri di ruang tengah, bertujuan memberikan kebebasan untuk Kyuhyun agar pria tersebut bisa tidur dengan leluasa.

Wanita itu memilih duduk bersila di lantai dengan kepala yang disandarkan pada kasur, berkeinginan untuk menjaga Kyuhyun karena ia takut ada sesuatu yang terjadi pada pria itu nanti. Meskipun suhu tubuh Kyuhyun sudah lebih baik, namun tetap saja ia merasa khawatir akan kondiri pria tersebut.

Ia mengamati wajah Kyuhyun yang terlelap. Dada pria itu yang naik-turun beraturan seiring masuk dan keluar udara yang dihirupnya.

Ri-Rin memiringkan kepalanya, tanpa sadar tersenyum memandangi wajah polos pria itu saat tidur. Begitu damai, begitu menenangkan, dan yang pasti pria itu tidak akan banyak bicara—terutama mengucapkan kata-kata pedasnya—yang membuat dirinya sendiri merasa nyaman.

Seperti apa yang dipikirkannya beberapa hari yang lalu, di mana ia, untuk pertama kalinya bertemu dengan Kyuhyun setelah 30 tahun tidak melihat wajah itu lagi tanpa alasan yang jelas. Wajah pria itu masih sama memesonanya seperti dulu. Masih sama bisa membuat wanita mana pun berpikiran yang tidak-tidak ketika ditatap secara intens oleh pria tersebut. Hidung Kyuhyun pun masih sama, terlihat begitu lancip dan akan terasa menyenangkan apabila hidungnya dan hidung milik pria itu saling bergesekan. Bibir Kyuhyun juga masih terlihat sama. Berlekuk penuh dengan warna yang sangat pas untuk warna kulitnya yang seperti susu. Semua yang ada di diri Kyuhyun merupakan pahatan karya Tuhan yang begitu sempurna, dan sama sekali tidak ada perubahan hingga detik ini. Mungkin ada, dan itu hanya di bagian wajah dan rambutnya saja. Ada tanda-tanda penuaan yang mulai terlihat di bagian tertentu di wajahnya, khususnya di dekat lingkaran matanya. Juga, beberapa helai rambutnya ada yang mulai memutih, ciri khas seseorang yang sudah melewati usia lanjut.

Ia tidak pernah tahu kenapa begitu menikmati momen-momen mereka berdua saat ini. Ia tidak pernah tahu, kenapa bisa jatuh cinta mati-matian pada pria itu, sementara waktu itu, mereka pertama kalinya berkencan ketika duduk di bangku SMA.

Ada orang yang mengatakan, jika menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis di masa SMA, itu adalah tanda kedewasaan yang membuat diri seseorang akan dengan seriusnya berusaha sebisa mungkin bertahan. Agar tidak terlepaskan. Lalu, pada saat mereka sudah berpisah, rasanya akan hilang, walaupun mereka masih saling mengingat satu sama lain. Karena, dunia perkuliahan jauh lebih luas daripada masa-masa sekolah sebelumnya.

Ri-Rin tidak pernah tahu kenapa ia bisa begitu yakin, bahwa ada alasan lain di balik keinginan Kyuhyun untuk berpisah, dan ia memercayainya sampai pada di detik ia bertemu kembali dengan pria itu. Mereka baru berkencan selama 6 bulan, tapi perasaan masing-masing sudah seperti mengenal yang lainnya dengan lama bahkan lebih lama dari 30 tahun.

Itu memang terdengar konyol, karena jelas-jelas mereka masih di SMA, namun sudah berkomitmen layaknya pasangan dewasa yang akan menikah.

Lamunan Ri-Rin buyar tatkla Kyuhyun yang tidur terlihat seperti orang gelisah. Mulut pria itu dengan mata yang tetap dalam keadaan terpejam.

Ri-Rin bisa mendengar kalau pria itu mengingau, memanggil-manggil namanya. Peluh sedikit membasahi kening Kyuhyun, yang berkemungkinan pria tersebut sedang mengalami mimpi buruk.

Rinnie~yaRinnie~ya…” panggil Kyuhyun menggerakkan kepalanya gelisah.

Ri-Rin bangkit, mengambil posisi di tepian ranjang, dan tepat saat itu terjadi, tangannya dicekal kuat oleh Kyuhyun, seakan pria itu tahu akan kehadirannya.

Ri-Rin kembali tersenyum, menautkan jemari mereka, menggenggamnya erat yang kemudian mendapat respons serupa dari Kyuhyun.

Ia menepuk-nepuk pelan pundak Kyuhyun sambil sesekali mengusapnya dengan gerakan menenangkan. Ri-Rin mencoba memajukan tubuhnya, mendekatkan mulutnya di telinga pria itu, membisikkan sesuatu di sana.

“Tenanglah. Aku ada di sini.”

Ucapannya manjur, karena selang beberapa detik berikutnya, Kyuhyun mulai kembali tenang, dan kembali nyenyak dalam tidurnya.

Ri-Rin membersihkan peluh di kening Kyuhyun menggunakan tissue yang tersedia di atas nakas. Setelah itu, ia merapikan rambut pria itu yang acak-acakan.

Gerakan selanjutnya tidak bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri, yang malah mendaratkan bibirnya di kening pria itu dengan lembut.

Saranghae, Kyu.”

 

***

07.20 AM

Ri-Rin membuka matanya perlahan, merasa ada sesuatu yang mengusik indra penglihatannya tanpa permisi. Ia menyipit, ketika merasa sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela itu menelusuk hingga membuat dirinya silau.

Ri-Rin mengamati sekelilingnya. Aneh. Kenapa tempatnya berbaring sekarang rasanya empuk sekali? Seingatnya, semalam ia tidur di lantai dengan kepala yang terkulai pada kasur, lalu kenapa ini tidak keras seperti lantai? Dan… ia terbangun dalam posisi berbaring, bukannya seharusnya duduk?

Ia membelalak ketika sudah tersadar sepenuhnya. Maka, ia bangkit dan kebingungan sendiri dengan posisinya saat ini. Berbaring di tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.

Otaknya terus berputar-putar mencari jawaban yang sekiranya masuk akal untuk menjawab pertanyaannya sendiri. Lalu ia baru mengetahui kalau Kyuhyun sudah tidak ada lagi di kamar itu. Apa pria itu sudah bangun? Kemungkinannya yaitu, pria itu memang sudah bangun dan yang memindahakannya ke kasur seperti ini adalah dia. Ya, sepertinya itu jawaban yang masuk akal karena di rumah ini tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua, jadi, pasti Kyuhyun yang sudah melakukan hal tersebut.

Ri-Rin memegang kedua pipinya yang tiba-tiba terasa memanas. Oh astaga, kenapa akhir-akhir ini ia sering terpesona sendiri pada apa yang dilakukan maupun yang dikatakan oleh Kyuhyun? Sialnya, ia tidak bisa menolak itu sedikit pun. Bahkan kabar tergilanya, ia mengharapkan yang lebih daripada itu! Ya Tuhan Shin Ri-Rin, jaga pikiranmu baik-baik!

Pintu kamar terbuka, dan Kyuhyun muncul dari baliknya lengkap dengan pakaian yang membalut tubuhnya dengan sempurna, membuat Ri-Rin kehilangan fokusnya sesaat.

“Kau sudah bangun?” tanya Kyuhyun berjalan menghampiri wanita itu dengan tangan yang tenggelam dalam saku celana.

Ri-Rin bisa mencium aroma menyegarkan dari pria itu. Pinus. Seperti dulu. “Mmm. Kau yang memindahkanku ke kasur ya?”

Kyuhyun mengambil posisi di hadapan Ri-Rin yang tanpa permisi menyentil kening wanita itu . “Aku ingin sekali mencekik lehermu saat terbangun dan mendapatimu tidur dalam posisi yang sama sekali tidak mengenakkan, kau tahu? Sekarang aku tanya, kenapa kau tidak tidur di ranjang, di sampingku, seperti malam-malam kemarin? Kau pikir, kau bisa mendapat kehangatan dengan tidur di lantai? Bagaimana kalau kau jatuh sakit, huh?”

“Aku hanya ingin menjagamu,” jawab Ri-Rin santai, mengukir senyum di wajahnya. “Aku takut terjadi sesuatu denganmu, makanya aku tidur di lantai. Lagi pula, aku menikmatinya. Jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja.”

Kyuhyun memegangi kedua bahu Ri-Rin, menghela napas. “Seharusnya aku tidak sakit saja, kalau pada akhirnya membuatmu tidur seperti itu. Aku benar-benar merepotkanmu, Rinnie~ya. Mianhae.”

“Tidak apa-apa. Kau seperti baru mengenalku kemarin saja,” balas wanita itu bercanda, menjulurkan tangan kanannya untuk menangkup pipi Kyuhyun. “Sudah merasa lebih baik?”

Kyuhyun mengangguk. “Jauh lebih baik. Mungkin karena kau yang mengurusku, makanya aku cepat sembuh.”

“Istilah dari mana itu? Kau cepat sembuh karena banyak istirahat, bukan karena aku yang mengurusimu. Kau pikir aku ibumu, hah?” gurau Ri-Rin.

“Sekarang, lebih baik kau mandi lalu buatkan aku sarapan. Aku lapar sekali dan rela menunggumu terbangun hanya untuk mendapatkan sepiring menu sarapan,” ujar pria itu memasang wajah melasnya.

Ri-Rin turun dari tempat tidur, menoyor kepala Kyuhyun dengan jarinya. “Dasar manja!”

Pria itu menatap Ri-Rin tajam, sedangkan wanita itu sendiri justru malah terbahak. “Rinnie~ya, kau cari mati ya?”

 

***

The Boboli Gardens, Piazza Pitti, Firenze, Italy

10.19 AM

Kyuhyun berhenti di salah satu anak tangga saat merasa Ri-Rin tidak lagi berada di sisinya. Ia membalikkan badan dan mendapati wanita itu yang sedang berusaha menaiki undakan anak tangga satu per satu. Mungkin ia yang terlalu cepat menaiki anakan tangga tersebut sehingga baru menyadari Ri-Rin yang masih berada di beberapa anak tangga di bawahnya.

Kyuhyun kembali turun, menyusul Ri-Rin. Ia tersenyum dengan tangan kanan yang terulur, menawarkan bantuan pada wanita itu.

“Kau lelah?” tanyanya kalem.

“Sedikit. Tapi tidak apa-apa, aku masih kuat untuk menaiki beberapa anak tangga lagi.”

“Perlu bantuan? Ingin aku gendong?”

Ri-Rin mengerucutkan bibirnya. “Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, Kyu.”

Tangannya yang terulur itu bergerak ke atas, menyentuh helaian rambut Ri-Rin yang jatuh menutupi kening, menyelipkannya ke belakang telinga.

Wanita itu terkekeh melihat perlakuan Kyuhyun padanya. Pria itu memperlakukannya seolah dirinya adalah benda berharga yang harus dijaga, tidak ingin rusak meski hanya terdapat bagian kecil saja. Terdengar berlebihan memang, namun ia menyukai cara pria itu melindunginya, cara pria itu mempertahankannya.

Ri-Rin melingkarkan tangannya di lengan Kyuhyun, memberi tanda dengan kepalanya agar mereka berdua naik dengan langkah berdampingan, secepat mungkin bisa melihat pemandangan yang lain di atas sana.

The Boboli Gardens yaitu taman yang membentang dari bukit di belakang Istana Pitti sejauh Porta Romana yang mencapai eksistensi penampilannya saat ini, menjadikannya salah satu kebun terbesar bergaya elegan di Italia.

Di taman ini, terdapat macam-macam danau buatan yang sengaja dibuat untuk menambah kesan pedesaan yang menyenangkan. Ada danau buatan yang di pinggir-pinggirnya diberi beberapa semacam bangku dari semen yang dicat dominan warna oranye dan putih, dan sekat antara bangku-bangku itu diletakkan pot berisi tanaman yang disangga oleh sesuatu yang terbuat dari bahan yang sama. Dan ketika kau duduk di bangku tersebut, suasana sejuk akan langsung menyergap karena selain itu, di sekelilingnya juga banyak tumbuh-tumbuhan hijau yang membentukkan sesemakkan rindang ditambah beberapa pepohonannya.

Selain danau yang dikelilingi semak-semak tersebut, ada danau lainnya yang terletak sebelum tangga yang dinaiki Kyuhyun dan Ri-Rin, yang kemungkinan besar danau itu merupakan danau yang ada di pusat taman. Danau itu dikelilingi oleh pagar pembatas pendek yang terbuat dari besi, dan ada sebuah patung berbahan dasar batu membentuk air mancur, yang dikenal dengan Air Mancur Neptune’s.

Di dalam taman ini juga dibangun sebuah museum sederhana dengan taman bunga mawar pink yang sangat indah berada di luarnya, membentuk petak-petak kecil menyerupai bangun 2 dimensi.

Setelah melewati beberapa hal yang seharusnya patut untuk dinikmati ketika bekunjung ke Boboli Garden, Kyuhyun memutuskan mengajak Ri-Rin ke bagian ragnaie atau spiders lane. Ranting-ranting pohon di sisi kanan dan kiri yang menyatu menjadi satu, membentuk tempat seperti gua yang di ranting tersebut memiliki sulur-sulut tanaman yang saling melilit dan juga dedaunannya.

Mereka duduk di salah satu bangku berwarna coklat tua yang tersedia, sama seperti keadaan yang ada di sekitarnya.

Tempat itu cukup sepi, bahkan hanya ada mereka berdua di dalam spiders lane. Kyuhyun dan Ri-Rin mencoba untuk beristirahat sejenak setelah berpetualang menjelajah taman yang super besar ini.

“Apa yang kau rasakan?” tanya Kyuhyun menoleh ke samping kiri, tepat di mana Ri-Rin berada.

Ri-Rin memandangi batang-batang pohon serta ranting yang menjulur itu di depan matanya, berpikir apa yang sekiranya pantas untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Bahagia. Menggelitik. Sesuatu yang tidak terdefinisikan secara pas. Atau mungkin, aku saja yang tidak bisa mengungkapkannya,” jawabnya, menggerakkan kepalanya ke kanan. “Waeyo?”

“Bahagia?” ulang Kyuhyun. “Apa yang membuatmu bahagia?”

“Hal yang selama ini belum pernah aku rasakan dan hal yang aku inginkan keberadaannya.”

“Kau bahagia bisa datang ke Firenze, mengunjungi tempat-tempat wisatanya yang indah?”

Ri-Rin tersenyum. “Tentu saja,” jawabnya dengan kepala yang terangguk. “Menurutmu, apa yang aku cari selama aku menghabiskan beberapa minggu di sini?”

“Pengalaman baru?” ceplos Kyuhyun.

“Itu salah satunya.”

“Pernah menduga akan bertemu aku di sini?”

“Aku pernah menyetujui ucapanmu, ketika kita bertemu di Uffizi waktu itu. Kau berkata tidak menduga jika kita bertemu di sini, aku menganggukkan kepala. Apa yang kau simpulkan dari jawabanku ini?”

“Kau tidak menduganya juga. Yang berarti, kita satu pikiran,” respons Kyuhyun. “Lalu, bagaimana otakmu bekerja setelah kita bertemu kala itu?”

“Satu hal yang aku rasakan. Kebahagiaan tak terbatas.”

“Kau bahagia bertemu denganku?” tanya pria itu memastikan. “Pernahkah terlintas di benakmu untuk menamparku atau mencaciku saat kita bertemu lagi? Mengungkapkan perasaanmu dengan mengatakan kata-kata kasar di depan wajahku?”

“Aku berani bersumpah tidak pernah mempunyai pikiran seperti itu sama sekali. Bukannya sudah kukatakan padamu kalau aku percaya kau memiliki alasan lain, dibalik kepergianmu, huh?”

“Kau sudah mengatakannya padaku, aku hanya ingin memastikannya saja, karena, jika kau ingin, kau bisa melakukannya sekarang.”

“Melakukan apa?” tanya Ri-Rin mengernyit. Sedetik kemudian ia menyadari apa maksud perkataan Kyuhyun. “Kau ingin aku menamparmu, mencacimu, mengatakan kata-kata kasar di depan wajahmu, begitu?”

Kyuhyun mengedikkan bahunya. “Lakukanlah.”

Wanita itu menghela napas berat. “Kau gila?! Kenapa kau berharap aku sudi melakukan hal itu, hah?” gusarnya.

Kyuhyun terdiam, tetap memandang Ri-Rin dengan tatapan memujanya.

Ri-Rin mendesah, mengerang frustasi di dalam hati dengan sikap Kyuhyun yang seakan siap menerima kekerasan apa pun yang diberikan olehnya.

“Baik kalau itu yang kau inginkan. Kau memaksaku melakukannya, Cho.”

PLAK!!

Ri-Rin menampar Kyuhyun dengan keras, membuat wajah pria itu terlempar ke samping kiri.

PLAK!!

Kali ini wanita itu melakukan hal serupa di pipi Kyuhyun yang lainnya.

“Kau memang pria munafik yang pernah aku temui di dunia!” teriaknya. “Kau benar-benar pengecut, sesuka hati pergi meninggalkanku tanpa memberikan yang jelas, tanpa menunggu jawaban dariku, apakah aku setuju atau tidak!”

“Kau berengsek Cho Kyuhyun! Aku tidak tahu kenapa bisa jatuh cinta pada pria berengsek sepertimu!” pekik wanita itu murka. “Sial kau Cho Kyuhyun, benar-benar sialan! Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku hingga kau ingin berpisah dariku seperti itu. Walaupun aku yakin kau memiliki alasan yang lain, tapi tetap saja kau meminta berpisah secara sepihak denganku!”

Napas Ri-Rin tersenggal-senggal setelah melakukan itu. Perlahan kedua tangannya terkepal, gemetar di atas pangkuannya sendiri, badannya pun menggigil tak nyaman. Ia tidak tahu kenapa emosi tiba-tiba saja muncul, mengakibatkan seperti ia yang menginginkan hal tersebut terjadi.

“Hanya sampai di situ?” tanya Kyuhyun pelan.

Ri-Rin mengangkat wajahnya, menyipitkan mata. “Apa lagi yang kau inginkan dariku?” balasnya tenang, namun terdengar tajam.

“Ada satu hal lagi, yang aku inginkan darimu.”

“Kau ingin sesuatu lagi dariku? Kau ingin aku mengabulkannya, hah? Kau kira, apa yang aku inginkan darimu, sudah kau kabulkan? Keinginanku untuk mengetahui kelanjutan ceritamu, bahkan sampai sekarang kau masih enggan melakukannya, Kyu. Kau pikir itu adil?”

“Aku akan melakukannya, setelah memberi syarat terakhir padamu.”

Ri-Rin mendengus. “Syarat, syarat dan syarat! Aku tidak meminta syarat apa-apa darimu! Aku hanya ingin kau menceritakan lanjutannya. Sesulit itukah untuk menjelaskan semuanya hingga akhir padaku, Kyu?”

Kyuhyun pasrah, akhirnya mulai menuruti keinginan Ri-Rin, melanjutkan kisah hidupnya beberapa tahun yang lalu. Sebenarnya ia ingin menceritakan itu semua nanti, namun wanita itu memaksanya, dan ia tidak bisa berbuat apa pun.

Kyuhyun mulai menjelaskan, setelah 5 bulan, akhirnya ia setuju bekerja di perusahaan milik sang ayah, menggantikan posisi beliau sebagai atasan. 4 tahun berikutnya, kakak perempuannya memutuskan untuk menikah dan memilih Paris sebagai tempat untuk melangsungkan proses pernikahannya tersebut. Kyuhyun menyerahkan perusahaan sementara pada tangan kanannya, karena ia harus pergi selama seminggu. Namun, setelah seminggu berlalu, kakak perempuannya itu malah menginginkan Kyuhyun agar menetap di Paris beberapa waktu lagi. Anggap saja, pria itu sedang mencari hiburan di tengah urusan kantor yang nyaris membunuh waktunya secara perlahan.

Kembalinya Kyuhyun dari Paris, keadaan kantor tidak sebaik yang ia kira. Tangan kanannya yang bernama Alexander itu malah mengkhianatinya, berencana untuk mengambil perusahaan yang sudah dibangun ayahnya mati-matian dengan cara mengagalkan seluruh kerjasama yang sudah Kyuhyun sepakati dengan para klien, tanpa memberi tahu pria itu dulu sebelumnya. Dan sebagai dalih, Alexander mengatakan kepada klien-klien tersebut, kalau penggagalan kerjasama itu merupakan perintah Kyuhyun langsung, padahal jelas-jelas Kyuhyun tidak pernah melakukan hal tersebut.

Apa yang telah dilakukan Alexander memancing emosi Kyuhyun, yang berakibat pria pengkhianat itu harus dipecat secara kasar oleh Kyuhyun, dipertontonkan oleh banyak karyawan. Ia tidak peduli orang lain akan menganggapnya apa, karena menurutnya, Alexander pantas mendapatkan sesuatu sesuai dengan perbuatannya.

Butuh waktu 2 tahun bagi Kyuhyun untuk mengembalikan keadaan perusahaan seperti semula. Meminta maaf dan meyakinkan para klien kalau pembatalan tersebut hanyalah kesalahpahaman belaka. Dan setelah semuanya kembali normal, Kyuhyun harus dihadapi masalah baru, di mana orang tuanya meninggal karena mengalami kecelakaan.

Semarah-marahnya ia pada saat perusahaan ayahnya nyaris bangkrut, ia lebih marah dan hampir membunuh ketika tahu siapa penyebab kematian orang tuanya. Alexander. Ya, pria itu rupanya merencanakan aksi balas dendam karena tidak terima sudah dipermalukan di depan banyak orang oleh Kyuhyun, dan orang tua pria bermarga Cho itulah yang menjadi sasaran empuknya.

Keadaan Kyuhyun sempat kacau selama 1 bulan penuh. Ia tidak bisa konsentrasi bekerja, memikirkan hidupnya yang akhirnya menjadi yatim-piatu di saat ia belum mengenalkan menantu pada orang tuanya. Ah-Ra, kakak perempuan Kyuhyun, meminta pria itu agar ikut bersama tinggal di Paris, tetapi Kyuhyun menolak dan lebih memilih tinggal di New York, menyibukkan diri agar melupakan sejenak masalah yang menimpanya.

“Bagaimana keadaan perusahaan ayahmu sekarang?” sela Ri-Rin.

“Aku menyerahkannya pada Hye-Mi. Dia dan suaminya yang memegang kendali atas perusahaan itu sekarang. Kadang-kadang aku menanyakan kabar perusahaan dan mereka bilang baik-baik saja. Kebetulan sekali perusahaan Donghae sendiri yang ada di Seoul dipegang oleh adik laki-laki Hye-Mi. Anggap saja, ini sebuah permainan dalam keluarga di mana aku dan Hye-Mi saling memberikan perusahaan satu sama lain,” jelasnya. “Ceritanya sudah selesai. Kau sudah puas kan? Tidak ada kelanjutannya lagi karena setelah itu, hidupku mulai seperti ini, menjelajah beberapa negara untuk aku tinggali. Padahal, Ah-Ra Nuna sering menceramahiku agar berhenti berpetualang. Namun aku menolak, terlalu menikmati apa yang aku lakukan.”

“Kau sudah tidak bekerja, perusahaanmu dikendalikan oleh sepupumu dan suaminya, lantas, kau dapatkan uang dari mana untuk berkeliling dunia seperti ini, huh?”

“Itu rahasia. Kau tidak perlu repot-repot mengorek segala hal tentang kehidupanku. Yang jelas, aku sudah menuruti keinginanmu. Puas?”

“Baiklah, kuanggap hutangmu padaku sudah lunas,” tandas Ri-Rin. “Sekarang apa yang kau inginkan dariku?”

“Hanya satu. Kuharap, kau bersedia mengabulkannya.”

“Katakan saja.”

Kyuhyun bangkit berdiri, mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, yang disambut Ri-Rin dengan mata membulat tidak percaya, yang ternyata sebuah kotak berwarna merah.

Pria itu membuka kotak tersebut, memperlihatkan kilauan murni dari benda yang ada di dalamnya.

“Kau bisa menebak apa yang aku inginkan, hanya melihat cincin ini saja,” ucapnya. Kyuhyun menekuk salah satu kakinya di hadapan Ri-Rin, melakukan hal yang sama pada kakinya yang lain, lalu setelah ia berlutut sepenuhnya, segera ia raup tangan wanita itu, melemparkan senyuman hangat yang dimilikinya.

“Aku bukan pria baik-baik yang kau harapkan kehadirannya. Aku hanya pria munafik, pria pengecut, pria berengsek, pria sialan yang tidak tahu malunya muncul lagi di hidupmu. Aku tidak yakin bisa memberimu banyak harta atau materi lainnya, mengingat umurku yang berkepala 5 seperti sekarang. Namun, aku bisa meyakinkanmu kebahagiaan tiada tara, kalau kau bersedia menikah denganku,” tutur Kyuhyun. “Rinnie~ya, maukah kau menghabiskan sisa hidupmu, dengan menjadi istriku? Kau bersedia menikah denganku? Dengan pria munafik, pria pengecut, pria berengsek dan sialan sepertiku? Aku mohon, pilihlah jawaban yang terbaik untukku dan untukmu. Aku tidak akan memaksamu untuk mengiyakan. Satu jawaban yang terlontar dari bibirmu, menentukan masa depan kita berdua.”

Tanpa berpikir apa-apa, Ri-Rin mengambil cincin tersebut dari kotak, menyodorkannya pada Kyuhyun. “Pakaikan cincin ini di jariku. Aku ingin mencobanya, siapa tahu tidak cocok di jariku,” katanya, ada senyum bermain di wajahnya yang masih terlihat cantik itu.

“Kau bersedia menikah denganku?”

“Cepat pakaikan saja, Cho Kyuhyun. Kau ini cerewet sekali!” Wanita itu memberikan jari tangan kanannya.

Senyum Kyuhyun semakin lebar, dan segera ia pasangkan cincin itu yang langsung pas di jari manis Ri-Rin.

“Syukurlah pas. Aku menerka-nerka, apakah pas atau tidak ketika dipasangkan di jarimu.”

“Kau gemar sekali membuat kejutan ya,” kekeh Ri-Rin. Ia menghambur ke pelukan Kyuhyun, mendekap pria itu erat, sangat erat. “Tidak perlu bertanya masalah bersedia atau tidak aku menikah denganmu, karena, jawabannya sudah sangat pasti. Ya, aku bersedia menikah dengan pria bernama Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun membalas pelukan Ri-Rin, melepaskannya di 3 detik berikutnya. Mata mereka bertemu pandang, satu sama lain saling memandang tidak berkedip sama sekali.

“Bulan depan kita menikah. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Kebetulan, Ah-Ra Nuna dan keluarganya sedang berada di Seoul, jadi aku meminta bantuannya untuk mengurusi segala hal yang menjadi keperluan kita nanti. Kau tidak keberatan kan?”

“Ah-Ra Eonni sudah tahu kau bertemu denganku?” timpal Ri-Rin. “Padahal aku belum memberitahu Myung-Jae mengenai pertemuan kita ini.”

“Myung-Jae sudah tahu. Kakak perempuanku dan adik laki-lakimu itu saat ini sedang mengurus semuanya. Kau tenang saja.”

“Benarkah?” tanya wanita itu tak percaya. “Bagaimana bisa kau melakukannya tanpa sepengetahuanku?”

“Mudah. Kau tidak perlu pusing-pusing memikirkan bagaimana caraku melakukan semuanya. Yang terpenting, sebentar lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya. Senang rasanya bisa melamarmu seperti ini.”

Kyuhyun memiringkan kepala dan memajukan wajahnya. Ia mengecup pipi Ri-Rin lama, menyalurkan perasaan bahagia tak terdefinisikan yang tengah dirasakannya detik ini pada wanita itu.

Kyuhyun menjauhkan wajahnya, memegangi pundak Ri-Rin, sedikit meremasnya karena mendadak saja kegugupan melanda dirinya.

“Aku mencintaimu… Rinnie~ya..”

***

2 months later…

KyuRin’s Home, Seoul, South Korea

12.00 PM

Ri-Rin membuka pintu kamar, berjalan dengan langkah gontai saat menuju tempat tidur. Mungkin jika ia tidak sesegara duduk di pinggiran tempat tidur tersebut, tubuhnya akan ambruk seketika karena merasa tidak ada lagi energi yang tersisa di dalam dirinya.

Pandangannya kosong, pun pikirannya yang tak tentu arah. Ia sedikit menunduk, mengamati pakaian serba hitam yang membalut tubuhnya sejak beberapa jam yang lalu. Hatinya terasa sangat sakit dan ia ingin menangis, tapi terlalu sulit untuk mengeluarkan air matanya. Mungkin belum, mungkin saat ini ia belum bisa menangis, atau mungkin juga sebentar lagi pertahanan yang sudah dibangun susah payah sedari tadi akan runtuh dengan sendirinya.

Ia terlalu terkejut, terlalu cepat untuk dihadapkan masalah seperti ini sampai-sampai ia tidak memiliki waktu untuk menerimanya. Terlalu besar badai yang menerpa dirinya, hingga ia tidak sempat mencari pegangan untuk bertahan melewati semuanya. Terlalu mengerikan gempa yang mengguncang dirinya, hingga ia tidak lagi memiliki akal sehat agar bisa menemukan tempat untuk berlindung.

Semuanya sudah terlanjur terjadi. Semuanya sudah tidak bisa dicegahnya lagi. Semuanya sudah membuat perasaannya terkoyak menyebabkan ia sendiri tidak tahu kapan luka itu akan menutup seperti semula.

Ia mendengar derap langkah seseorang yang mendekat, namun untuk sekadar mendongakkan kepalanya saja ia sudah tidak sanggup. Seperti ada beban yang menindih seluruh bagian tubuhnya, membuat ia tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sendiri dengan benar.

“Ah-Ra Nuna memberikan ini padaku. Dia memberi pesan agar kau membaca isinya. Kau perlu tahu apa isinya, Nuna, karena ini memang untukmu,” ujar Myung-Jae. Ia tidak bisa berkomentar apa-apa melihat keadaan kakaknya yang tampak mengerikan itu. Biasanya, ketika Ri-Rin sedang sakit sekalipun, ia masih berani untuk meledek atau sekadar mengajak kakaknya itu bercanda. Tapi tidak dengan sekarang. Ia tahu, dan mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Ri-Rin, maka, ia akan memberi waktu pada wanita itu untuk menenangkan diri, walaupun ia tidak yakin berapa lama waktu yang dibutuhkan agar Ri-Rin bisa mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.

Ri-Rin tidak bereaksi, membuat Myung-Jae menghela napas berat yang pada akhirnya mengeluarkan secarik kertas dari amplop berwarna putih itu, membuka lipatannya dan meletakkan di atas pangkuan Ri-Rin.

“Bacalah Nuna. Kau akan mengerti kenapa Hyung melakukan ini semua.” Myung-Jae pun melangkah keluar, menutup pintu perlahan.

Ri-Rin tidak langsung menyentuh kertas itu. Mungkin isinya akan menyeramkan. Ia tahu surat itu dari siapa, tidak perlu menebak, mengingat Myung-Jae yang mengucapkan kata hyung tadi.

Orang lain yang tidak mengerti perasaannya pasti akan menganggapnya wanita sakit jiwa yang terlihat sangat sangat menyedihkan. Ia tidak membutuhkan cermin untuk tahu seperti apa rupa wajahnya sekarang, karena pasti akan terlihat seperti mayat hidup.

10 menit ia betah dalam posisi seperti itu, tidak menggubris kertas di pangkuannya. Tetapi, ada sesuatu yang berbisik di telinganya, mendorong agar ia membaca apa yang tertulis di sana. Maka dengan tangan gemetar, ia mengambil kertas tersebut, membacanya yang sudah dapat dipastikan akan membuat napasnya semakin terasa terhimpit.

Several seasons have already passed since I let you go

My heart that hurt like death is slowly getting better

I tried placing someone other than you in my heart but whoever I meet, I could not find the old me, who was passionate about love

The days we laughed and cried a lot, my friends try helpong me bury it with alcohol

As I uncomfortably smile with my head down, I wonder if we forgot about those days

I was so foolish, I was too young

I pushed you away, I thought that was best for you

If only I met you a little later, would we have not broken up?

I know I won’t be able to erase you but I can’t hold onto you

My heart aches as I see you turning away after you told me goodbye

I’ll probably fall asleep, exhausted from crying about the faded memories

How many more cold nighs do I have to spend to forget you?

I was so foolish, I was too young

But you smiled for me, you were my dream and my everything

Even if it hurt, if only I knew you would be happy by my side, would we have not broken up?

Would we still be in love?

**

Surat ini sudah sampai di tanganmu? Kalau ya, berarti aku sudah tidak lagi berada di sisimu, karena aku meminta Ah-Ra Nuna agar memberikan surat ini ketika aku telah pergi.

Apa yang kau pikirkan saat ini? Apa yang kau rasakan saat ini? Aku tebak, kau tidak mampu memikirkan apa pun lagi, dan kau tidak lagi bisa merasakan apa-apa, meskipun sebenarnya kau ingin menangis. Aku benar kan?

Ketahuilah, aku merasa sangat bahagia bisa menikah denganmu. Aku bahagia bisa menjadikanmu istriku karena, itu mimpi terbesar yang aku miliki selama aku hidup.

Tapi ternyata, waktu yang kita habiskan setelah kita menjadi suami-istri sangatlah singkat. Aku sudah memprediksikannya dari awal. Namun aku tetap bersikukuh untuk menikahimu. Alasannya, aku tidak ingin menikah, jika wanita itu bukan kau.

Apa kau menganggap aku pria munafik, pria pengecut, pria berengsek dan pria sialan untuk yang kedua kalinya, Rinnie~ya? Aku meninggalkanmu. Lagi. Dan aku memastikan kalau kepergianku yang satu ini tidak akan bisa mempertemukan kita, kecuali jika kau menyusul apa yang aku lakukan.

Tapi aku mohon, jangan, jangan kau lakukan seperti apa yang telah aku lakukan. Kau baik-baik saja dan keadaanmu pun sangat sehat, jadi tolong, pertahankan itu semua, jangan coba-coba melakukan hal bodoh yang kau anggap bisa menyusulku secara instan.

Tidak banyak yang tahu mengenai kondisi kesehatanku, sebenarnya. Bukan hanya kau saja, tapi keluarga pun begitu. Bahkan, saat orang tuaku masih ada, aku sudah divonis memiliki penyakit ini, namun aku menyembunyikannya dengan baik, hingga akhirnya kakak perempuanku mengetahuinya. Hanya dia, aku, dan Tuhan yang tahu. Untungnya, nuna mau bekerjasama denganku untuk merahasiakannya.

Sekarang, apa kau menyesal karena telah menikah dengan pria penyakitan sepertiku? Pria yang selalu merepotkanmu sepanjang kau hidup? Kalau kau menyesal, maafkan aku yang selalu saja membuatmu susah, maafkan aku karena membiarkanmu merawat pria seperti aku ini. Serta, maafkan aku karena pria seperti akulah yang menjadi suamimu.

Aku menulis surat ini sambil memandangi wajahmu yang terlelap, kalau kau ingin tahu. Wajahmu ketika tidur benar-benar membuat perasaanku tenang, damai, dan perasaan-perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.

Kau lihat ada bekas tetesan air di kertas ini? Aku beritahu kau satu rahasia dan jangan beritahu orang lain, bahwa, bekas air yang ada di kertas ini adalah air mataku sendiri. Ya, aku menangis saat menulis surat ini, Rinnie~ya. Aku laki-laki yang cengeng, bukan?

Tidak terasa, 30 tahun ternyata sudah kita lewati demi menjalani kehidupan masing-masing, dan pada akhirnya kita dipertemukan lalu dipersatukan kembali. Kita memutuskan untuk menikah, meskipun hanya bertahan sebentar saja. Aku tetap senang dengan waktu yang sebentar itu, kau tahu? Waktu yang menurutku sangat berharga dan akan sangat disayangkan jika aku tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan wanita yang aku cintai.

Aku mencintaimu. Sangat. Aku tidak pernah bisa meletakkan wanita lain di hatiku selain kau. Sekeras apa pun aku mencoba, aku selalu gagal. Makanya, aku tidak memberitahukanmu masalah penyakitku ini, karena aku tidak ingin kau terluka. Akan tetapi, secara tidak langsung, sekarang aku membuatmu terluka, ya?

Terimakasih karena kau bersedia menikah denganku. Pria yang sudah berumur 50 tahun, yang masih saja mengharapkan wanita sebaik dirimu agar bisa bersanding denganku. Bukankah aku tidak tahu diri?

Jangan menangis. Aku tidak sanggup melihatmu menangis sendirian. Tidak ada yang mendekapmu seperti yang biasa aku lakukan, tidak ada yang memelukmu seperti apa yang aku lakukan, dan tidak ada yang bisa mencintaimu seperti aku mencintaimu dengan gilanya.

Aku pamit pergi. Jangan berharap banyak aku akan kembali karena itu akan semakin menyakitimu.

Satu hal yang jangan pernah kau lupakan tentangku yaitu, aku masih mencintaimu hingga di detik aku akan menutup mata.

Cho Kyuhyun

Ri-Rin mulai terisak. Isakan pelan yang lambat laun berubah menjadi isak tangis histeris yang tak tertahankan. Tubuhnya luruh ke lantai, hingga kertas itu pun terlepas dari pegangannya. Sama seperti pria itu, yang sudah tak dapat ia pertahankan lagi.

Ia menjerit, meluapkan perasaan yang sudah ia pertahankan sejak tadi. Biarlah tangisannya ini terdengar hingga luar rumah, ia tidak peduli. Ia hanya ingin menangis, meluapkan semuanya dengan menangis.

Ri-Rin memukul-mukul dadanya, rasanya sakit sekaligus hampa dalam waktu bersamaan. Aneh, ia pun tidak mengerti kenapa perasaan itu bisa menyelimuti hatinya.

Ia berteriak, tidak memikirkan suaranya yang akan habis setelah melakukan hal semacam ini. Gadis itu menekuk kedua lututnya hingga menyentuh dada, menenggelamkan wajahnya di sana, lalu menjerit lagi. Biarkan, biarkan kali ini ia bertingkah layaknya orang gila. Biarkan ini ia menangis sehebat ini, ia berjanji ini yang akan menjadi terakhir kalinya.

Nuna~ya,” seru Myung-Jae panik, menjeblakkan pintu setelah mendengar jeritan Ri-Rin dari luar kamar.

Pria itu tercengang melihat Ri-Rin yang duduk tertelungkup dengan bahu bergetar hebat. Ia berjalan perlahan mendekati kakak satu-satunya itu, duduk di hadapan Ri-Rin, menyentuh pundak wanita tersebut.

Ri-Rin mengangkat kepalanya perlahan, seluruh permukaan wajahnya sudah basah oleh air mata. Dan Myung-Jae hanya menggigit bibir bawahnya mengetahui bagaimana hancurnya kakak perempuannya itu.

Nuna~ya,” panggil Myung-Jae lirih. Ia tidak pernah melihat Ri-Rin sehancur ini, bahkan saat kematian orang tuanya pun wanita itu tidak menangis sehisteris ini. Saat Kyuhyun meninggalkannya dulu, Ri-Rin tidak bereaksi separah ini.

Merasa tidak tahan, Myung-Jae menarik Ri-Rin ke dalam dekapannya, memeluk wanita itu erat. Kemudian, tangisan Ri-Rin pun kembali pecah, wanita tersebut kembali terisak hebat.

“Tenanglah, Nuna~ya. Ini semua yang terbaik untuk Kyuhyun Hyung juga,” ujar pria itu mengusap-usap pundak Ri-Rin.

“Kenapa dia meninggalkanku lagi Myung-Jae~ya? Kenapa?” pekik Ri-Rin dengan suara yang teredam di dada adiknya.

Hyung tidak pernah meninggalkanmu karena keinginannya sendiri,” jelas Myung-Jae, mencoba menenangkan Ri-Rin. “Dulu, ia pergi karena terpaksa. Lalu sekarang, ia pergi karena tidak sanggup lagi menahan sakitnya. Apa kau tega melihat suamimu sendiri menderita lebih lama lagi, hah?”

“Kenapa aku baru tahu kalau dia memiliki penyakit itu seminggu sebelum kepergiannya? Apa aku setolol itu hingga tidak mengetahui kondisi suamiku sendiri, huh? Apa salahku Myung-Jae~ya? Kenapa takdir senang sekali melihat aku berpisah dengan Kyuhyun? Kenapa?!”

Myung-Jae menggeleng cepat. “Tidak, kau tidak setolol yang kau pikirkan. Takdir pun tidak akan senang melihat kau berpisah dengannya. Hanya saja, ini sudah menjadi yang terbaik untuk semuanya, terutama untuk Kyuhyun Hyung sendiri. Hyung sengaja tidak memberitahumu karena dia mencintaimu, seharusnya kau paham itu, Nuna~ya.”

“Kalau dia mencintaiku, seharusnya dia memberitahuku sejak awal agar aku bisa bersiap kalau-kalau dia pergi seperti ini!” sergah Ri-Rin. “Sekarang kau lihat, aku tidak siap menerimanya karena semuanya terlalu mendadak! Semuanya terlalu cepat!”

Myung-Jae mengeratkan dekapannya. Tidak ada yang bisa dijelaskan pada Ri-Rin sedangkan wanita itu sendiri kondisinya sangat berantakan. Ri-Rin masih menangis dalam pelukan Myung-Jae, dan pria itu sama sekali tidak keberatan jika baju yang sedang dipakainya basah karena air mata kakaknya itu. Ia tidak keberatan kalau Ri-Rin akan seperti ini beberapa waktu ke depan. Ia bersedia menjadi sandaran bagi Ri-Rin, bersedia meminjamkan bahunya untuk wanita itu.

“Kenapa dia menyakiti tubuhnya sendiri dengan minuman alkohol hanya untuk sebuah keterpaksaan hingga dia terserang liver?” tanya Ri-Rin lemah. “Kenapa dia harus merusak dirinya sendiri Myung-Jae~ya?” isaknya.

Myung-Jae mengusap-usap punggung kakaknya dengan gerakan menenangkan, meski dia tahu itu tidak akan berhasil dalam waktu cepat.

Hyung terlalu frustasi karena meninggalkanmu, nuna~ya,” jawabnya sebisa mungkin. “Dia terlalu mencintaimu sampai-sampai merasa hampir gila karena meninggalkanmu. Yang pada akhirnya, membawa dia pada minuman-minuman keras. Padahal, dia sendiri tahu tubuhnya sangat ringkih. Tapi dia tetap memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya, ditemani minuman laknat itu demi menghilangkan rasa sakitnya karena keputusan yang dia ambil sendiri.”

“Kau tahu Myung-Jae~ya?” ujar Ri-Rin lemah. “Aku dua kali ditinggalkan olehnya, tapi aku masih bisa mencintainya hingga detik ini. Apa aku sudah gila sekarang?”

“Kau tidak gila. Karena seharusnya itulah yang kau lakukan… Nuna~ya.”

 

-THE END-

Ahaha, nggak tau ini gimana hasilnya. Maaf kalau terlalu lebay atau gimana2 gitu. Saya sendiri sadar kalau cerita ini mungkin masih banyak kekurangannya. Maka dari itu, mohon bantuannya ya teman-teman semua. Terimakasih😀

 

5 Comments (+add yours?)

  1. lee salsa
    Jun 15, 2016 @ 20:47:53

    Kereeeen whaaaa bikin mewek hiks kyu mati,kasian ri-rin😥

    Reply

  2. Zulfa Miftahziah
    Jun 16, 2016 @ 10:35:18

    aku ga nyangka kyu udh 50th d sni. hadeeeuh ga kebayaang
    ri rin kasiaan baru nikah d tinggal, mereka saling mencintai walaupun udh lama

    Reply

  3. Jung Haerin
    Jun 17, 2016 @ 02:15:12

    Oke, bacanya bikin hati senut2…..
    Eonni jjang!!!

    Reply

  4. sophie
    Jun 17, 2016 @ 13:52:32

    Ff ini bikin mewek dg suksesnya,,,knp hrus sad ending saat kakek dan nenek itu udah bersatu,,,kasiann,,,

    Reply

  5. Monika sbr
    Jun 18, 2016 @ 03:57:52

    Gak nyangka, 30 thn berpisah dan akhirnya bertemu kembali dgn perasaan cinta yg masih sama.
    Akhirnya mereka menikah, walaupun pada akhirnya kyuhyun harus meninggal karena penyakit yg dideritanya.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: