The Story of Young CEOs [4/?]

photostudio_1460514114420

Author:

Ilana Hawa

Title:

The Story of Young CEOs part 4

Cast:

Lauren Hanna Lunde | Cho Kyuhyun

Choi Siwon | Lee Donghae | Lee Hyukjae

Genre:

Romance

Lenght:

Chapter

Disclaimer:

Halooo…ff gajeku kembali. Smoga msih suka dan tetap nunggu ff ini. Sorry jika ff sbelumnya terlalu pendek. Soalnya idenya mentok sampai situ aja hehe. Tapi di part-part slanjutnya aku usahain lebih panjang dan lebih menarik. Di ff ini ada satu kalimat yang aku kutip dari salah satu ff favoritku, judulnya Kyurin Story: God’s away tapi aku lupa siapa nama Authornya hehehe. Okeh deh..slamat membaca sorry for typo🙂

# # #

 

BLAM. Hanna menutup pelan pintu dibelakangnya kemudian menyandarkan tubuhnya disana. Gadis itu mencengkram erat ujung bajunya ketika ucapan Siwon terngiang lagi.

“Kau berada di Swiss sekarang.”

Swiss. Swiss. Swiss. Hanya kata itu yang terus saja berdengung di telinganya. Entah apa yang dia rasakan sesaat setelah Siwon mengucapkan itu. Yang dia tahu, Siwon memapahnya ke sebuah kamar, kamar pria itu. Hanna mengedarkan pandangnnya keseluruh isi kamar tersebut. Dengan langkah gontai, gadis itu berjalan ke arah jendela yang langsung menghubungkannya pada pemandangan kota yang di sukainya. Swiss. Malam ini dia berada di Swiss, negara yang berada di bagian benua eropa. Tempat yang memisahkannya dengan sang ibu.

“Eomma…” Dengan bibir yang bergetar menahan tangis, Hanna menggumamkan nama itu lagi. Tak pernah menyangka dia bisa berada sangat jauh dari ibunya. Saat ini entah bagaimana perasaan orang yang paling di sayanginya itu ketika mengetahui dirinya menghilang. Lampu kota yang terlihata indah dan cahaya bintang yang berkelip, saat ini tak bisa membuat hatinya tenang. Namun tiba-tiba kedua alisnya mengernyit, mengingat sesuatu yang dia lupakan.

“Hello who are you?”

   “Sudahlah. Kita tidak perlu mengurusinya. Kalian hubungi kantor polisi terdekat dan katakan ada wanita gila di villaku.”

   “Aku tidak akan menyakitimu.”

Semua ucapan tersebut terlintas di pikirannya. Hanna melupakan satu hal, jika bukan mereka yang membawanya kesini dan mereka juga tidak melakukan hal yang macam-macam padanya.

“Benar! Mereka tidak menculikku dan mereka juga ramah padaku. Aku tahu apa yang harus kulakukan.” Hanna menyapu sisa airmatanya. Tersenyum senang kemudian beranjak kearah pintu. Apapun hal aneh yang terjadi padanya, buatnya itu sudah tidak penting lagi. Dengan setengah berlari, gadis itu menuruni tangga lalu berbelok ke arah ruang tamu. Namun tiba-tiba langkah terhenti, mendengar kalimat yang di ucapkan Kyuhyun

“Entahlah. Di lihat dari sudut mana pun, gadis itu terlihat berbohong. Tinggal di Kanada, tiba-tiba berada di Swiss dengan cara yang dia sendiri pun tidak tahu. Kalian pikir itu masuk akal? Sejak kedatangannya, aku tahu gadis itu aneh.”

Hanna menarik nafas panjang. Selalu. Pria itu selalu membuatnya kesal. Tidak cukupkah dia sudah membuatnya menangis? Dirinya juga mendengar ucapan dua pria lainnya. Eunhyuk mengiyakan perkataan Kyuhyun dan Donghae yang menganggapnya Stalker. Tak dapat di pungkiri, ucapan mereka juga membuatnya kecewa. Tapi setidaknya, mereka tidak mengucapkannya setajam dan sefrontal Kyuhyun.

“Chogi…”

* *

Jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Kyuhyun, Siwon, Donghae juga Eunhyuk masih berada di ruang tamu. Tak ada suara apapun dari mereka, hanya dentingan jarum jam yang menggema di ruang tamu tersebut. Kenyataan Hanna berasal dan tinggal di Kanada, membuat mereka bingung. Semakin rumit memikirkan bagaimana caranya gadis itu bisa ada disini, di Swiss bersama mereka. Siwon melipat kedua tangannya di depan dada. Donghae yang tengah memainkan ponselnya dan Eunhyuk yang berdiri di depan jendela. Sementara Kyuhyun, pria itu sejak tadi memainkan pspnya, namun wajahnya juga terlihat serius berpikir. Bukan hanya aneh, tapi bagi Kyuhyun Hanna juga membingungkan. Sejak tahu dirinya selama ini berada di Swiss, gadis itu tidur di kamar Siwon. Pria tampan itu memapahnya untuk istirahat karena wajah Hanna terlihat pucat. Tentu saja. Siapa yang tak akan terkejut, saat tahu kau berada di tempat yang jauh bahkan berada di beda benua.

“Ini aneh! Ini benar-benar aneh! Dengan jelas Hanna mengatakan dirinya tinggal di Kanada dan dia tidak mengerti bagaimana bisa dia ada di sini. Kalian mempercayai itu?” Eunhyuk membalikan badannya sambil berkacak pinggang.

“Jika di lihat dari reaksi Hanna yang wajahnya pucat pasi, kurasa gadis itu tidak mengada-ada. Benarkan Siwon? Kyuhyun?” Sahut Donghae.

“Memang tidak masuk akal. Tapi saat Hanna menangis, meluapkan emosinya, aku merasa yakin gadis itu tidak berbohong.” Siwon menoleh ke arah Kyuhyun “Menurutmu?”

Kyuhyun mempause gamenya, memandang mereka satu persatu kemudian mengendikan bahu. “Entahlah. Dari sudut mana pun gadis itu terlihat berbohong. Tinggal di Kanada, tiba-tiba berada di Swiss dengan cara yang dia sendiripun tidak tahu. Kau pikir itu masuk akal? Sejak kedatangannya aku tahu gadis itu aneh.”

“Benar juga yang kau katakan. Tapi apa alasan gadis itu berbohong pada kita?” Eunhyuk beranjak duduk di samping Donghae, menyadarkan penuh pada sandaran sofa.

“Mungkinkah Hanna diam-diam mencari tahu kita berlibur disini?” Donghae menatap mereka satu persatu “Mungkin saja kan dia stalker?”

Seruan Donghae membuat semua terdiam. Benarkah itu? Hanna mempunyai maksud tertentu berada disini? Gadis itu penguntit?

“Chogi…”

Semua menoleh ke arah sumber suara. Disana, Hanna berdiri dengan wajah sembab namun tak lagi pucat.

“Hanna? Gwenchana?” Donghae bangkit menghampiri gadis itu. Sedikit banyak dirinya merasa tak enak menduga Hanna stalker atau lebih kasarnya penguntit.

“Aku tidak apa-apa.” Hanna tersenyum ke arah Donghae lalu menghadap kearah Eunhyuk dan Siwon yang duduk di sofa. Sebisa mungkin matanya menghindari Kyuhyun.

“Aku tahu ini memang tidak masuk akal, buatku juga buat kalian. Kenyataan aku berada di Swiss pun benar-benar membuatku gila. Tapi aku tidak berbohong. Aku tidak mengenal kalian, aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku disini dan aku bukan stalker. Karena itu, aku tidak peduli lagi dengan semua hal aneh yang terjadi padaku. Aku tidak ingin memikirkanku itu. Yang terpenting buatku saat ini, bisakah…kalian membantuku?”

“Duduklah.” Siwon menepukan tempat di sampingnya, memberi isyarat pada Hanna untuk duduk di sana. Dengan langkah pelan gadis itu beranjak ke arah sofa.

“Apa yang kau inginkan?” Kyuhyun mematikan pspnya. Dia merasa apa yang akan di ucapkan Hanna sepertinya jauh lebih menarik. Gadis itu menghela nafas seraya telinganya mendengar suara bass yang selalu tersirat nada ketus.

“Bisakah…kalian membantuku pulang?” Hanna kembali memandang Eunhyuk, Donghae juga Siwon. Sedangkan Kyuhyun berdesis kesal saat gadis itu mengacuhkannya.

“Pulang?” Eunhyuk menegakkan tubuhnya.

Hanna mengangguk. “Ne. Pulang ke negaraku.”

Ruang tamu itu kembali hening. Hanna menunduk sedih saat tak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaannya. Mereka hanya sesekali melirik Kyuhyun yang kembali asyik dengan gamenya.

“Hanna, tempat ini villa pribadinya Kyuhyun. Kau pun datang tiba-tiba di kamar Kyuhyun. Jadi kurasa, hanya dia yang bisa memutuskan kepulanganmu.” Siwon berujar Lembut. Hanna kini menatap Kyuhyun yang asyik memencet tombol-tombol psp dengan lincahnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Haruskah dia berbicara dengan pria menyebalkan itu lagi?

“Kau…bisa membantuku?”

Kyuhyun menyunggingkan senyum miringnya. Ada dua hal yang membuat dia mengeluarkan smirknya itu. Pertama, Dia berhasil memenangkan game yang sejak tadi begitu sulit baginya. Kedua, gadis itu akhirnya bicara dengannya juga. Kyuhyun menyimpan pspnya di atas pangkuan. Kedua mata hitamnya, menatap Hanna yang juga tengah menatapnya. Mata itu sedikit masih sembab. Walau pun begitu, Kyuhyun tak dapat mengelak jika mata berhazel coklat tersebut tetap terlihat indah.

“Baiklah. Aku akan mengatur kepulanganmu besok. Kau akan pulang dengan penerbangan paling pagi.”

Senyum bahagia Hanna merekah. Gadis itu memejamkan matanya, bersyukur karena akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan sang ibu. Hanna berdiri menatap Kyuhyun.

“Thank you very much.” Hanna membungkukan tubuhnya “Gomawo.”

Kyuhyun hanya mengangguk seadanya. Memainkan kembali pspnya sambil tersenyum tipis. Benar. Tersenyum dan bukan smirk.

“Aku…akan kembali ke kamar.” Hanna setengah berlari ke arah tangga. Dirinya yakin, malam ini ia akan tidur dengan sangat nyenyak. Atau mungkin, dia tidak bisa tidur karena tidak sabar menunggu pagi dan bertemu kembali dengan ibunya? Apapun itu, Hanna sangat bahagia malam ini. Eomma, tunggu aku.

* * *

Kyuhyun mengeluarkan seluruh pandangan tajamnya untuk ketiga sahabatnya yang pagi ini begitu menyebalkan. Bagaimana tidak, mereka seenaknya saja mengatakan jika dirinya yang harus mengantar Hanna kembali ke negaranya.

   “Pertama, Kau pemilik tempat ini. Kedua, Hanna muncul tiba-tiba di dalam kamarmu. Ketiga, kau membuat gadis itu menangis. Anggap saja ini tanggung jawabmu.”

Begitulah yang di katakan pria setengah mesum dengan senyum aneh, Lee Hyukjae. Dan lebih mengesalkan lagi di tambah dengan anggukan bodoh Siwon dan Donghae.

“Jadi apa sebenarnya alasan kalian memintaku mengantarnya?!”

“Ibuku akan menelepon sebentar lagi. Kau tahu kan bagaimana ibuku? Dia tidak akan suka jika aku memutuskan pembicaraannya di tengah jalan.” Terang Siwon sambil menggoyang-goyangkan ponselnya.

“Kau pria mesum?” Kyuhyun memandang Eunhyuk.

“Park Ahjussi mengirim Email tentang projek membuka pabrik cabang di China. Aku harus mempelajarinya, karena setibanya di Korea aku akan langsung terbang ke China.” Eunhyuk mengendikan dagunya ke arah laptop di pegangnya.

Kyuhyun berdecak lalu giliran memandang Donghae yang berdiri santai di samping Eunhyuk. “Dan kau?”

“Aku menemaninya.” Donghae tersenyum polos sambil merangkul bahu Eunhyuk. Senyum polosnya membuat pria itu sama menyebalkannya dengan pria mesum di sampingnya.

“Aku lupa kalian tidak bisa di pisahkan! Katakan padanya aku menunggu di mobil.” Kyuhyun melenggang pergi dengan menenteng satu buku di tangan kirinya. Ketiga pria itu menggelengkan kepala sambil tertawa pelan. Mereka kini tengah berada di depan pintu utama menunggu Hanna yang tak kunjung keluar dari kamar Siwon. Setelah semalam gadis itu mengatakan ingin kembali ke negaranya, Kyuhyun langsung memesan tiket ke Kanada dengan penerbangan paling pagi. Terdengar derap langkah yang mengarah ke arah tempat mereka berdiri. Tanpa menoleh pun Siwon, Donghae juga Eunhyuk tahu itu adalah Hana.

“Selamat pagi.” Hanna berjalan gontai menghampiri tiga pria tersebut. Gadis itu sudah rapi mengenakan baju yang pertama kali dia pakai. Namun wajahnya tampak suram, berbanding terbalik dengan raut sumringahnya semalam. Bukan tanpa alasan Hanna berwajah seperti itu. Tak sengaja dia mendengar percakapan mereka tadi, dimana pria bernama Kyuhyun itu di minta mengantarnya pulang dengan alasan tanggung jawab.

“Waeyo Hanna?” Siwon memandang gadis itu penuh khawatir.

“Benarkah pria itu akan mengantarku?” Hanna menatap malas Kyuhyun yang sedang membaca buku di dalam mobil lalu menghela nafas panjang “Kurasa perjalanan ke Kanada jadi tidak menyenangkan. Aku tidak suka pria berwajah dingin dengan mata tajam dan ucapannya yang kasar itu.”

“Kyuhyun tidak seburuk yang terlihat. Saat kau mengenalnya lebih dekat, kau akan tahu Kyuhyun itu pria yang baik.” Siwon memasukan kedua tangannya pada saku celana dengan mata yang tak lepas dari gadis itu.

Hanna berdecak. “Aku tidak berniat mengenalnya lebih dekat.”

Siwon dan Donghae tertawa pelan, bahkan Eunhyuk yang tanpa sadar mengacak pelan puncak kepala Hanna. Pria gummy smile itu entah mengapa merasa senang berdekatan dengan gadis itu. Mereka merasa Hanna benar-benar polos.

“Aku akan beritahu kau sesuatu.” Donghae beranjak berdiri disamping Hanna “Saat di dalam pesawat, Kyuhyun akan lebih suka membaca buku dan kau jangan pernah sekali-kali mengganggunya.”

“Waeyo?”

“Kau mungkin akan di lemparnya dari dalam pesawat.”

Mereka bertiga tertawa keras saat Donghae mengatakan itu dengan gerakan tangannya yang seolah-olah tengah melempar sesuatu. Mereka juga membayangkan Kyuhyun benar-benar marah dan melempar Hanna keluar dari dalam pesawat. Sedangkan Gadis itu hanya berdesis lalu kembali menatap Kyuhyun di dalam mobil. Dia mendengus dalam hati. Rasanya dia tak terkejut jika Kyuhyun benar-benar melakukan itu. Hanna sesekali ikut tertawa melihat tiga pria itu terus saja memperagakan kelakuan-kelakuan aneh yang menggambarkan Kyuhyun.

Di dalam mobil, konsentrasi membacanya terganggu saat mendengar orang-orang yang berada di depan pintu itu tertawa cukup keras. Kedua alisnya mengernyit, saat samar-samar dia mendengar Donghae menyebut namanya.

“Saat di dalam pesawat, Kyuhyun lebih suka membaca buku dan kau jangan sekali-kali menganggunya.”

“Waeyo?”

“Kau mungkin akan di lemparnya dari dalam pesawat.”

Kyuhyun menutup kasar buku bacaannya dan berdesis kencang. Memfokuskan kedua mata tajamnya pada kelakuan aneh ketiga sahabatnya yang tampak konyol, dengan bergaya seolah-olah tengah melempar sesuatu. Dan dirinyalah yang menjadi bahan tertawaan mereka. Kyuhyun merasa konyol menunggu di dalam mobil, sedangkan gadis aneh itu asyik tetawa ria disana. Kyuhyun tak pernah menunggu dalam hidupnya. Tapi hari ini, dengan setengah relanya dia menunggu gadis itu yang justru senang-senang tertawa bersama tiga pria bodoh dan menyebalkan.

“Mau sampai kapan kau tertawa?! Kau menyuruhku menunggumu?! CEPATLAH!!” Kyuhyun berteriak, menatap semua orang menyebalkan itu dengan death glare yang dia punya. Namun pandangan membunuhnya hanya dia tujukan pada gadis itu. Tawa mereka terhenti seketika. Siwon, Donghae juga Eunhyuk hanya terkekeh melihatnya. Sedangkan Hanna yang merasa menjadi objek tatapan itu hanya bisa berdecak malas lalu kembali menoleh pada pria-pria baik di sampingnya.

“Terima kasih karena kalian sudah menjagaku.” Hanna membungkukan badannya “Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi.”

“Ne. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Siwon mengulurkan tangannya dan tanpa ragu Hanna membalas uluran tangan itu. Gadis itu tersenyum samar merasakan jika tangan Siwon begitu hangat.

“Mungkin kami akan mengunjungimu nanti.” Eunhyuk ikut menjabat tangan Hanna.

“Ingat yang ku katakan!” Donghae mengendikan dagunya ke arah mobil. Mengerti maksud pria tampan itu, Hanna hanya tertawa pelan.

“Aku akan ingat. Sebisa mungkin, selama 8 jam perjalanan aku tidak akan bicara dengannya.”

Donghae mengangguk sambil tersenyum kemudian menjabat tangan Hanna. Dia hanya bercanda mengatakan itu. Namun tanpa pria itu tahu, Hanna benar-benar mempercayai perkataannya.

“Sampai jumpa.” Gadis itu kembali membungkuk lalu beranjak ke arah mobil. Dia menarik nafas panjang melihat Kyuhyun. Entah bagaimana perjalanannya nanti.

* * *

Kyuhyun menutup buku bacaannya. Memijit pelan keningnya yang terasa pusing lalu mengucek matanya yang terasa perih karena terlalu lama membaca. Bagaimana tidak, membaca buku selama kurang lebih 8 jam di dalam pesawat membuat matanya lelah. Kyuhyun selalu melakukan itu ketika dia dalam perjalan bisnis ke luar negri. Buatnya, tak ada yang bisa dia lakukan untuk membunuh waktu ketika berada di atas di pesawat selain membaca atau bermain game. Pria itu mencuri pandang pada gadis di sampingnya yang tak bersuara sedikitpun, sejak mereka meninggalkan Swiss. Kyuhyun berdecak, ketika ingat alasan gadis itu tak berbicara padanya. Dia pasti termakan ucapan laknat Donghae yang mengatakan dirinya akan melempar gadis itu dari dalam pesawat jika dia mengganggunya membaca.

“Dasar bodoh!” Desisnya pelan.

Mereka kini tengah berada di dalam sebuah taksi yang akan membawanya ke desa tempat tinggal gadis itu. Desa Niagara on the Lake. Desa yang berada di tepi danau Ontario, terkenal dengan taman, galeri seni, lapangan golf dan toko-toko antik. Diperlukan waktu 90 menit untuk sampai di desa itu. Kyuhyun kembali berdecak kesal saat dirinya mulai merasa bosan. Dia menyesal tidak membawa ponsel juga psp kesayangannya. Pria itu melihat ke arah luar, memperhatikan pemandangan jalan yang tampak indah di musim semi ini. Seingatnya, dia belum pernah datang ke Kanada. Mungkin nanti, negara itu akan menjadi salah satu negara favoritnya. Hanya butuh 15 menit untuk Kyuhyun menikmati pemandangan itu dan dirinya kembali merasa bosan. Duduk berdampingan dengan seorang manusia namun dia merasa seperti sedang bersama sebuah manekin. Lagi, Kyuhyun membuka bukunya lagi. Dia mungkin akan membaca bukunya satu. Kali. Lagi. Itu lebih baik di bandingkan harus bicara dengan Hanna. Dia takut mulutnya akan berubah tajam dan mungkin akan membuat gadis itu menangis seperti saat di villa.

“Hei! Kau tidak pusing membaca terus menerus? Matamu bisa memerah dan perih nanti.”

Kyuhyun mengangkat wajahnya saat Hanna akhirnya bersuara juga. Pria itu menoleh, menatap gadis di sampingnya dengan datar.

“Kenapa kau bicara padaku? Kau bisa bicara juga?”

“Mwo?”

“Kau tidak takut padaku?”

“Mwo?”

“Kau lupa yang di katakan Donghae? Kau tidak takut aku melemparmu keluar?”

Hanna tersenyum remeh, “Ah…jadi aku tadi mengganggumu? Kau mau melemparku keluar sekarang? Lakukanlah! Atau haruslah aku membuka sendiri pintu di sampingku?!”

Kyuhyun memandang Hanna yang melihatnya dengan kesal. Gadis itu tak tahu, jika Kyuhyun juga kesal saat gadis itu termakan ucapan Donghae dan mengacuhkannya selama perjalanan. Bukankah dirinya yang mengantar gadis itu pulang?

“Sudahlah!” Kyuhyun kembali berkutat dengan bukunya. Semakin dilanjutkan pembicaraan tak penting itu, dia yakin mulutnya akan mengeluarkan kata-kata tajam lagi. Hanna mendengus, pria di sampingnya ini selalu saja menyulut emosinya.

“Kenapa kau diam saja? Kau tidak jadi melemparku keluar dari taksi ini? Aku tidak terkejut jika kau benar-benar melakukannya. Pria berwajah dingin dengan tatapan tajam, ucapannya yang selalu membuat kesal dan juga kasar!”

Kyuhyun menoleh. “Mwo?”

“Wae? Kau tidak tahu kau seburuk itu di mataku?! Jika ku urutkan kalian, dari sifat, sikap dan ketampanan, kau itu berada di peringkat terakhir! Kau…” Hanna menunjuk Kyuhyun dengan jarinya “Jauh di bawah Siwon, Donghae dan juga Eunhyuk. Kau tahu?!”

Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang lurus ke depan. Dadanya naik turun menahan kesal. Namun dari sudut matanya, dia bisa melihat jika Kyuhyun tak sedikitpun mengalihkan pandangannya. Entah apa yang akan pria itu lakukan nanti. Mungkin, Kyuhyun akan meneriakinya dengan semua koleksi kata-kata tajamnya. Hanna mengutuk dirinya sendiri, merasakan wajahnya memanas saat pria terus saja memperhatikannya. Dan Kyuhyun sendiri pun memang tak mengerti kenapa dia tak bisa mengalihkan matanya. Menatap gadis itu dari jarak seperti ini, memperhatikan semua ekspresi wajah kesalnya, membuat dia begitu menikmatinya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Mata berhazel hitam pekat itu mengerjap beberapa kali, terkejut dengan reaksi Hanna yang tiba-tiba menoleh.

“Apa yang kau pikirkan? ah! Aku tahu, kau pasti sedang memikirkan sebutan apa yang akan kau berikan padaku. Wanita gila? Menyelinap? Apa kali ini?! Kau_” Ucapan Hanna terhenti seraya Kyuhyun menempelkan bukunya tepat di atas bibir gadis itu.

“Diamlah! Kau ini cerewet sekali.”

Kali ini Hanna yang mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Kyuhyun barusan. Gadis itu memandang Kyuhyun kesal lalu memilih menatap ke arah luar. Mobil-mobil dan banyaknya pepohonan jauh lebih menyenangkan di bandingan dengan pria di sampingnya ini.

* * *

 

Deretan toko-toko antik, kedai es krim, gallery seni dan kereta kuda yang berlalu lalang di sepanjang jalan Queen Street membuat hatinya berdebar kencang. Hanna tahu, dia sudah tiba di desa tempat tinggalnya. Gadis itu melonjak girang, memandang keluar dengan senyum yang terus saja mengembang di sudut bibirnya. Satu yang terpikirkan olehnya adalah bertemu dengan sang ibu sebentar lagi. Rasanya dia ingin turun dari dalam taksi dan berlari sendiri kerumahnya. Dirinya begitu tidak sabar. Semua tingkahnya, tanpa dia tahu tak luput dari ekor mata Kyuhyun. Konsentrasi membacanya terusik dengan tingkah gadis itu yang terus saja tersenyum sambil menatap keluar. Taksi mereka tengah berhenti karena banyaknya pejalan kaki yang tengah menyebrang. Kyuhyun ikut memalingkan wajahnya, sedikit penasaran apa yang sejak tadi membuat Hanna terlihat begitu bahagia dan dia terkejut melihat ada banyak kereta kuda di sekitaran mobil yang berlalu lalang.

“Kereta kuda?”

Suara Kyuhyun membuat Hanna akhirnya berpaling. Dia terkekeh melihat Kyuhyun terkejut dengan banyaknya kereta kuda di jalan.

“Kita sudah sampai di desa niagara on the lake. Tempat tinggalku.”

Kyuhyun menoleh. “Benarkah? Dengan banyaknya kereta kuda?”

“Walaupun kendaraan bermotor diperbolehkan di desa ini, tapi penduduk lebih suka menggunakan kereta kuda.” Hanna kembali memandang ke arah luar namun tiba-tiba dia menunjuk sesuatu “Kau lihat itu?”

Kyuhyun mengikuti arah jari Hanna namun tak tahu apa yang di tunjuknya. Pria itu menggeserkan tubuhnya sedikit lebih dekat dengan Hanna dan mencondongkan tubuhnya kearah jendela. Tanpa mereka sadari jarak mereka begitu dekat

“Taylor’s Bakery and Ice Cream. Kedai es krim?” Gumam Kyuhyun

Hanna mengangguk. “Itu kedai es krim favoritku dengan ibuku. Mocha Almond disana enak sekali. Ibuku sangat menyukainya.”

“Benarkah?”

Hanna berdecak kesal jika mendengar Kyuhyun mengucapkan kata itu. Terdengar seperti pria itu menyangkanya berbohong. Hanna memalingkan wajahnya pada Kyuhyun dan betapa terkejutnya dia, melihat pria itu begitu dekat dengannya. Wajahnya memanas manakala kedua matanya, menatap setiap inci wajah Kyuhyun. Mata hitam pekat itu masih melihat ke arah luar. Hidung mancungnya, bahkan dengan lancangnya, matanya Hanna jatuh pada bibir pria itu. Sejak kapan pria itu berada di belakangku?

“Baiklah. Jika kau membawa nama ibumu, aku yakin es krim itu enak. Mungkin lain kali aku akan mencoba…nya.” Kyuhyun memelankan ucapannya di akhir, menyadari jarak mereka begitu dekat. Mata coklat Hanna menatapnya tanpa berkedip namun kedua tangannya mencengkram erat ujung bajunya. Tak butuh waktu lama untuk mereka pada posisi seperti itu. Kyuhyun segera menjauhkan dirinya dan memalingkan wajahnya ke sisi lain.

Sementara itu, Hanna juga memalingkan wajahnya. Gadis itu berdehem pelan dan entah kenapa tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering. Untuk sesaat tak ada pembicaraan apa pun di antara keduanya. Mereka fokus memandang keluar, melihat jejeran beberapa toko yang terlewat dari dalam taksi yang kini sudah melaju kencang. Hanna terus memainkan jarinya di atas pangkuan. Gadis itu bingung apa yang harus dia lakukan untuk membunuh suasana yang tiba-tiba berubah aneh. Tak jauh berbeda, Kyuhyun sejak tadi terus berhitung dalam hati, memikirkan apa yang akan dia lakukan. Tidak mungkin mereka akan terus diam seperti ini. Lagi pula, kenapa dirinya harus bingung? Tidak terjadi apa pun di antara mereka.

“Aku begitu merindukannya.”

Kyuhyun sontak menoleh ke arah Hanna. Dia melihat gadis itu memandang sesuatu yang sudah mereka lewati. Kyuhyun menengok ke belakang, melihat apa yang baru saja membuat Hanna mengucapkan kalimat itu. Disana, Kyuhyun hanya melihat bangunan tinggi bergaya classic dan terdapat bendera negara Kanada di depannya.

“Terlihat seperti sekolah.” Gumam Kyuhyun yang membuat Hanna menatapnya. Lagi. Mereka saling bertatapan lagi. Walau tetap terasa canggung namun mereka mencoba bersikap biasa.

“Tentu saja sekolah. Itu sekolahku.”

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. “Kau seorang siswa?”

Hanna mengangguk. “Sekolah Menengah Atas tahun ketiga. Hanya menunggu beberapa bulan lagi aku akan jadi seorang mahasiswa. Wae?”

“Aniyo.” Kyuhyun mengendikan bahunya, sedikit peduli tidak peduli mengetahui gadis itu masih bersekolah. Dia hanya cukup tahu, Hanna seumuran dengan Choi Jiwon, adiknya Siwon. Setelah perjalanan 90 menit yang penuh dengan kecanggungan, akhirnya taksi mereka berhenti di depan sebuah rumah berwana putih berhalaman rumput dengan pohon maple di depannya.

“Kita sudah sampai di rumahku.” Hanna membuka jendela di sampingnya. Menatap Kyuhyun dengan wajahnya yang benar-benar tergambar jelas kegembiraan.

Kyuhyun mengangguk menatap rumah itu. Lalu menatap Hanna yang tak henti tersenyum. Dia terlihat bahagia sekali.

“Turunlah!” Hanna mengendikan kepalanya keluar sambil membuka pintu di sampingnya.

Kyuhyun menggeleng. “Tidak usah. Aku akan langsung kembali ke bandara.”

Hanna berdesis kesal. “Hey! Jika seorang pria mengantar seorang wanita pulang ke rumahnya, dia harus bertemu orang tuanya dulu.”

Kyuhyun menatap Hanna lekat, “Kau mau memperkenalkanku dengan ibumu?”

“Mwo?” Hanna mengibaskan kedua tangannya “Tidak! B…bukan seperti itu! Ibuku pasti menanyakan banyak hal, salah satunya tentang dimana aku selama ini. Jadi…aku ingin menjelaskan pada ibuku, kalau selama ini aku tinggal di tempatmu. Ya! Begitu.” Hanna memalingkan wajahnya. gadis itu memejamkan kedua matanya saat dia menyadari betapa bodohnya mengatakan kalimat tadi. Dengan cepat dia keluar dari dalam taksi dan setengah berlari menuju rumahnya.

“Dasar bodoh!” Hanna memukul pelan kepalanya “Kenapa aku mengatakan itu?! Aku pasti terlihat seperti ingin memperkenalkannya dengan ibuku.”

Hanna menghentakan kakinya kesal lalu melangkah pelan ke rumahnya. Namun tiba-tiba saja wajahnya menegang dengan kedua mata berhazel coklat miliknya yang melebar sempurna. Pandangannya matanya mulai kabur, tertutup dengan air mata yang siap tumpah kapan saja. Tanpa kata-kata, Hanna berlari kencang dan mengetuk pintu rumahnya dengan kencang.

Kyuhyun hanya bisa menghela nafas melihat Hanna berjalan cepat ke arah rumahnya. Sudut bibirnya terangkat manakala gadis itu tampak bodoh dengan memukul pelan kepalanya dan menghentakan kakinya. Raut wajahnya berubah, saat matanya melihat ada yang aneh dengan sikap Hanna. Gadis itu masih berdiri di depan rumahnya tanpa sedikit pun beranjak untuk masuk. Lalu tiba-tiba dia berlari kencang dan terlihat menggedor pintu bercat putih di depannya. Kyuhyun memberikan beberapa lembar uang pada sopir taksi itu lalu bergegas mengahampiri Hanna. Kyuhyun pun tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, melihat gadis itu terus saja mengetuk pintu sambil menangis dan memanggil ibunya.

“Apa yang terjadi?”

Hanna menoleh ketika Kyuhuyun di sampingnya. Dengan wajah yang basah oleh air mata, gadis itu menunjuk sesuatu yang tertempel di pintu rumahnya.

“This house han been a sold. Rumahmu sudah di jual?”

Hanna mengangguk, “Jika rumah ini di jual lalu dimana ibuku?” mencengkram baju Kyuhyun “Tolong aku…aku mohon kau tolong aku.”

Kyuhyun mengheĺa nafas pelan dan memandang Hanna dalam diam. Dirinya tak pernah menyangka jika masalahnya jadi seperti ini. Seharusnya semua sudah berakhir saat dia mengantar gadis itu pulang ke negaranya. Mata yang kembali mengeluarkan airmata itu memandangnya penuh harap juga wajahnya yang tampak kacau terlihat jelas menunggu jawabannya. Kyuhyun merasa tak ada pilihan lain. Pria tampan itu menarik nafas lalu mengangguk. Hanna tersenyum namun matanya kembali basah.

“Eomma…kau dimana?” Hanna menutup mulutnya dengan punggung tangan. Ini benar-benar mengguncang hati dan perasaanya. Semua angan-angan bahagianya di jalan tadi, semua runtuh begitu saja. Kebahagiaan bertemu sang ibu hilang begitu saja. Kyuhyun yang mendengar dan melihat kesedihan itu, hanya bisa diam. Dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Memeluk gadis itu? Tidak! Mengusap bahunya? Mungkin dia bisa melakukan itu. Dengan pelan dan sangat hati-hati, Kyuhyun mengangkat tangannya kearah bahu yang berguncang itu dan mengusapnya pelan.

“Semua akan baik-baik saja.” Kyuhyun tersenyum saat Hanna menoleh kearahnya. Walau samar, Kyuhyun bisa melihat jika sudut bibir gadis itu juga tersenyum.

“Excuse Me. Can I Help you?”

Mereka berdua menoleh ke arah suara seorang wanita di belakang. Disana, berdiri seorang wanita setengah baya dengan rambut pirang pendek dan matanya yang agak sipit. Hanna melebarkan matanya dan langsung menghampiri wanita yang juga terlihat terkejut. Bahkan kakinya melangkah mundur saat Hanna semakin mendekatinya.

“Marry Ahjumma?”

Wanita tersebut menggeleng kencang dengan wajah pucat pasi.

“Marry Ahjumma!” Hanna menggenggam tangan wanita yang terus saja memundurkan langkahnya, terlihat seperti takut dan menghindarinya. Mereka saling menatap satu sama lain. Wanita yang di panggil Marry Ahjumma itu memperhatikan Hanna lekat, mencoba melihat jelas gadis muda di depannya. Tangisnya pecah, seraya benar jika Hanna kini ada di hadapannya.

“Hanna?” Wanita itu menangkup kedua pipi Hanna dan mengusapnya lembut. Walau matanya memerah karena menangis namun wajahnya terlihat gembira.

Hanna mengangguk, “Ini aku Ahjumma.”

“Benarkah? Syukurlah kau masih hidup.” Wanita itu memeluk Hanna erat. Sangat erat. Menangis di bahu Hanna yang juga menitikan air matanya. Marry Ahjumma adalah sahabat ibunya sejak sekolah menengah atas. Mereka bertetangga sangat lama dan dia juga berdarah campuran, Korea-Amerika.

“Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Kemana kau selama ini? Dan…” Ucapan Marry Ahjumma terhenti ketika matanya mengarah pada pria yang berada di belakang anak sahabatnya itu. Pria tampan khas orang asia.

“Siapa dia?”

Hanna menengok kebelakang, melihat Kyuhyun yang berdiri sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana. Gadis itu melambaikan tangannya, meminta Kyuhyun mendekat.

“Dia temanku. Namanya Cho Kyuhyun. Selama ini aku tinggal di tempatnya.” Hanna mengisyaratkan pria itu dengan matanya, meminta Kyuhyun menyapa Marry Ahjumma.

“Annyeong..” Kyuhyun menundukan sedikit kepalanya.

“Kau orang Korea?”

Kyuhyun mengangguk, “Ne. Aku orang Korea.”

Marry Ahjumma tersenyum sambil terus memandang Kyuhyun. Dia senang Hanna selama ini tinggal dengan orang yang terlihat baik di matanya. Dirinya kembali memandang wajah gadis cantik di depannya yang terlihat sembab.

“Ahjumma. Apa yang terjadi? Kenapa rumah kami di jual? Lalu dimana Eomma?”

Jantung Hanna berdebar kencang, melihat raut kesedihan di wajah Marry Ahjumma. Dia menggeleng pelan, mencoba menghilangkan pikiran buruk tentang ibunya.

* * *

Hanna terus saja menundukan wajahnya. Sejak dia menginjakan kakinya di rumah Marry Ahjumma, dirinya terus saja merasa gelisah. Sahabat ibunya itu mengatakan akan menceritakan semua yang terjadi selama dia menghilang. Namun rasa gelisah dan pikiran buruk di kepalanya membuatnya tak tenang. Gadis itu memainkan jari-jarinya, berharap kebiasaannya itu bisa menghilangkan semua perasaan takutnya. Tapi justru perasaan takut tentang berita ibunya semakin menghantuinya. Hanna menggoyang-goyangkan kedua kakinya, meraba kedua lengannya yang tiba-tiba saja terasa dingin. Terus merabanya hingga tak terasa telapak tangannya sampai di bahu sebelah kanan. Gadis itu terkesiap merasakan bahunya sendiri. Bukan tanpa alasan Hanna merasakan hal aneh saat dia menyentuh bahunya. Seseorang pernah mengusap bahunya dengan lembut, dengan senyum yang terukir di wajahnya dan kalimat yang mampu membuatnya tenang.

“Semua akan baik-baik saja.”

Cho Kyuhyun. Ya. Pria yang selalu membuatnya kesal itu yang melakukannya. Hanna mengangkat wajahnya, melihat Kyuhyun yang duduk di depannya. Hatinya berdesir melihat Kyuhyun yang juga memandangnya. Mungkin hanya perasaannya saja, tapi Hanna merasa kali ini, pria itu tak menatapnya dengan tajam. Walau tak kentara, gadis itu bisa merasakan tatapan itu terlihat nanar. Kontak mata mereka terputus, mendengar derap langkah dari arah dapur. Disana, Marry Ahjumma membawa dua buah cangkir yang cukup besar dengan asap yang masih mengepul.

“Minumlah.” Wanita itu menaruhnya di hadapan mereka berdua lalu beranjak duduk di samping Hanna. Menggenggam sebelah tangan gadis itu dan mengusapnya lembut. Dirinya merasa takut menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Wajah gadis muda di depannya ini terlihat begitu tegang. Dirinya yakin, ini akan jadi hari terburuk untuknya.

“Uri Hanna…apapun yang ku katakan, kau harus percaya jika ibumu begitu menyayangimu.”

Hanna melirik sebentar ke arah Kyuhyun yang tak bersuara sedikit pun sejak tadi. Dia benar-benar takut mendengar apa yang akan di katakan sahabat ibunya ini. Andai pria itu tahu, Hanna mencoba mencari kekuatan darinya. Entah Kyuhyun merasakannya atau tidak, pria itu hanya memberikan senyum tipisnya.

Hanna menoleh kembali ke arah Marry Ahjumma lalu tersenyum, “Aku tahu. Eomma selalu menyayangiku.”

Marry Ahjumma menarik nafas panjang, melihat senyum yang justru membuatnya menangis dalam hati.

“Ibumu…ibumu pergi meninggalkan tempat ini.”

Hanna mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna kalimat Marry Ahjumma, “A…apa maksudmu Ahjumma?”

“Ibumu pergi meninggalkan kota ini dan aku tidak tahu kemana ibumu pergi.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya kencang, “Tidak! Itu tidak benar! Kenapa Eomma pergi meninggalkan kota ini? Eomma tidak menungguku kembali? Eomma tidak berusaha untuk mencariku?!”

“Kau salah. Sehari setelah kau di kabarkan menghilang, ibumu langsung melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi. Kau tahu apa yang di lakukannya setiap hari? Ibumu berdiri di luar menunggumu pulang. Dia yakin kau akan kembali. Dia selalu berpikir, kau hanya tersesat atau kau menginap di rumah temanmu. Hanya dengan berpikir seperti itu dirinya yakin kau baik-baik saja.”

Hanna memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Menggigit bibir bawahnya saat airmatanya kembali tumpah. Tidak pernah dirinya berpikir suatu hari nanti, dia akan mengalami saat dimana kehilangan ibunya. Cukup sudah hal paling menyakitkan saat sang ayah meninggal karena kecelakaan.

“Berhari-hari, berminggu-minggu ibumu terus percaya kau akan pulang. Hingga tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat dan ternyata kau sudah menghilang selama 2 tahun.”

Hanna sontak melebarkan matanya saat kalimat Marry Ahjumma terasa ganjil di telinganya. 2 tahun? Dia menghilang selama 2 tahun? Gadis itu juga menoleh cepat ke arah Kyuhyun. Sama sepertinya, Kyuhyun yang sejak tadi diam mendengarkan penjelasan Marry Ahjumma itu pun juga ikut membelakakan matanya. Dia tak percaya gadis yang muncul tiba-tiba di dalam kamarnya kemarin pagi itu ternyata sudah menghilang selama 2 tahun?

“Aku…menghilang selama itu?”

“Musim semi 2012 dekat danau Ontatio. Itu tempatmu menghilang. Dan tepat tahun 2014, pihak polisi menutup kasusmu dan menyatakan kau meninggal di suatu tempat. Dan itu menjadi pukulan terberat untuk ibumu. Dia menangis histeris dan tak sadarkan diri. Hingga sampai akhirnya, ibumu memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat ini. Dia tidak memberitahuku kemana ia akan pergi. Hanya mengatakan, tempat ini penuh dengan kenangan tentangmu dan ia tidak bisa hidup hanya dengan itu.”

Hanna kembali menangis. Membayangkan betapa tersiksanya sang ibu yang menunggunya kembali dan melewati hari-hari terberatnya seorang diri. Gadis itu menyembunyikan wajahnya ke atas lutut dan menangis dengan bahu bergetar hebat. Dua orang lainnya yang berada di ruang tamu itu hanya mampu diam dengan pandangan menyiratkan kesedihan. Bagi Marry Ahjumma, Hanna bukan hanya sekedar anak dari sahabat baiknya. Wanita setengah baya itu menyaksikan bagaimana Hanna tumbuh dan menjadi gadis cantik seperti sekarang. Dengan lembut, Marry Ahjumma membawa gadis itu dalam rengkuhannya. Membiarkan Hanna mengangis di dadanya, meluapkan semua rasa sedih, marah dan kecewa. Mengusap pelan punggung yang tak berhenti-hentinya bergetar. Sementara bagi Kyuhyun, Hanna hanya gadis aneh yang tiba-tiba muncul tak terduga dari dalam kamarnya. Mengusik harinya juga kesenangannya bersama sahabat-sahabatnya. Seorang gadis yang selalu membuatnya kesal dan selalu ia buat kesal. Seorang gadis yang pernah di buatnya menangis karena mulut tajamnya itu. Seorang gadis yang menjadi orang pertama yang menginjakan kakinya di wilayah paling pribadinya, yang tak pernah ia izinkan seseorang pun untuk memasukinya. Seorang gadis yang untuk pertama kalinya membuatnya merasakan perasaan khawatir yang begitu besar. Kyuhyun tak menyangka niatnya untuk mengantar gadis itu pulang ke negaranya menjadi rumit seperti ini serta membuatnya tertahan disini. Menyaksikan bagaimana Hanna mengalami hal buruk satu persatu. Mulai dari rumah yang di tinggalinya dengan sang ibu telah di jual dan keberadaan ibunya pun menjadi sebuah teka teki. Sampai datang Marry Ahjumma yang mengatakan akan menceritakan semua yang terjadi dengan ibunya. Saat itu pun Kyuhyun merasa hal buruk akan menimpa gadis itu lagi. Dan benar saja, sang ibu telah meninggalkan tempat ini dan tidak ada satu pun yang mengetahui dimana keberadaanya. Tepat di hadapannya saat ini, dengan kedua matanya, Kyuhyun hanya mampu diam melihat Hanna menangis di pelukan Marry Ahjumma. Menangis dengan bahunya yang bergetar hebat dan suara isakannya yang memilukan. Pria itu memalingkan wajahnya dengan satu tangan yang mengepal kencang. Entah mengapa hatinya marah melihat gadis itu begitu menyedihkan dan dia tidak tahu harus melakukan apa.

* * *

Pria tampan itu memandang kembali jam dinding di hadapannya. Tanpa melihatnya pun, sebenarnya Kyuhyun tahu hari sudah mulai petang. Dirinya kini berada sendirian di ruang tamu rumah Marry Ahjumma. Wanita itu tengah keluar entah untuk melakukan apa. Kyuhyun tersadar, ada gadis itu juga di rumah ini. Hanya saja sejak beberapa jam yang lalu, Hanna duduk termangu di halaman belakang. Tak melakukan apapun, hanya sesekali jarinya mengusap air matanya. Pria tampan itu mengerti, Hanna membutuhkan waktu untuk sendiri. Kyuhyun bangkit dan beranjak ke arah pintu utama. Dirinya ingin pergi keluar, memikirkan cara untuk kembali ke Swiss. Bagaimana pun, ia sudah terlalu lama disini dan tak ada juga yang bisa dia lakukan. Dirinya yakin Marry Ahjumma akan menjaga gadis itu dengan sangat baik. Kaki panjangnya yang akan melewati pintu tiba-tiba terhenti, saat suara Marry Ahjumma yang sedang menelepon terdengar.

“Apa? Pindah ke California?…Suamiku, bisakah kita tunda kepindahanku? Hanna sudah kembali dan dia ada di rumah kita sekarang. Kau tahu Yoonhee tak lagi disini, hanya aku yang bisa menjaganya. Sejak Jason meninggal, Hanna hanya memiliki ibunya. Dan saat ini gadis itu sendirian. Aku tidak tega meninggalkannya seorang diri disini…Baiklah. Aku akan memikirkannya…”

Kyuhyun menutup pelan pintu di depannya. Menghela nafas dan memandang Hanna di kejauhan. Tenyata tuhan kembai membuatnya tertahan disini. Walau sebenarnya Hanna bukan tanggung jawabnya, namun mengetahui Marry Ahjumma tidak bisa membuat gadis itu tinggal disini, sedikit membuatnya bimbang. Bagaimana gadis itu jika dia kembali ke Swiss? Bukan melanjutkan niatnya untuk pergi keluar, Kyuhyun justru melangkah ke halaman belakang. Pria itu berdiri mentap Hanna yang tampak sangat kacau. Tak menyangkan jika saat ini gadis itu tak memiliki siapa pun lagi. Hanna tetap pada posisinya, tak mengetahui kedatangannya dan bisa di pastikan dia tengah melamun. Matanya yang sembab terus saja meneteskan air mata.

* *

Hanna berjengit saat kursi yang di dudukinya terasa bergerak dan dirinya juga terkejut melihat Kyuhyun sudah duduk di sampingnya. Pasalnya dia tak mendengar langkah kaki pria itu sejak tadi. Sejak kapan dia disini?

“Kau tidak lelah? air matamu tidak habis? Kau menangis terus-menerus sejak tadi.”

Kyuhyun memandangnya tajam. Seperti sebuah perintah, Hanna mengusap cepat sisa air mata di kedua matanya. Memandang Kyuhyun sebentar lalu kembali mengalihkan matanya pada pemandangan langit sore dari halaman belakang.

“Sisakan air matamu untuk hal-hal bahagia yang akan kau dapatkan nanti.”

Hanna mengerjapkan matanya dan menoleh cepat ke arah si pemilik kalimat barusan. Kyuhyun sudah menengadahkan kepalanya, ikut melihat langit yang hampir gelap. Ekspresinya tidak terbaca, malah cenderung dingin sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. Tapi ekspresi itu, entah mengapa membuat Hanna terkekeh. Tawa pertama yang keluar dari bibirnya, setelah beberapa jam lalu dirinya mendapat kejutan tak menyenangkan.

“Kalimatmu terdengar manis, tapi kenapa terasa ketus?”

Kyuhyun tersenyum kemudian memutar kepalanya ke arah Hanna. Dirinya menghela nafas lega melihat senyuman tergambar di wajah itu.

“Jika yang mengatakan Siwon, Donghae atau Eunhyuk, pasti terdengar jauh, jauh, jauh lebih manis. Kau pria dingin dengan tatapan tajam dan ucapannya yang kasar, tidak cocok mengucapkan kalimat semanis tadi.”

Pria itu berdecak, “Jika kau sudah mendebatku seperti ini, kau sudah kembali menjadi Hanna yang ku temui di kamarku kemarin pagi. Perasaanmu sudah baikan?”

Hanna tersenyum, “Sampai kapan pun perasaanku tidak akan membaik. Tapi aku akan mencoba melupakannya. Aku yakin dimana pun ibuku berada, dia pasti mengingatku.”

“Satu hal yang bisa kau yakini, dimana pun ibumu berada, saat ini dia sedang melangkah di bumi yang sama sepertimu, menghirup udara yang sama sepertimu, dan berada di bawah langit yang sama sepertimu.”

Seperti sebuah beban yang terangkat di pundaknya, Hanna merasa semua rasa sedih dan kecewanya menghilang dalam sekejap. Kyuhyun. Orang yang selalu membuatnya kesal, membuatnya menangis, saat ini justru mampu membuatnya tersenyum. Benar-benar tersenyum dari dalam hatinya. Senyum bahagia. Hanna terus menatap Kyuhyun yang kembali memandang langit. Walau tak mengerti, tapi entah mengapa dia ingin sekali memeluk pria itu. Mengucapkan kata terima kasih karena membuatnya menyadari, jika ada hal-hal sederhana yang membuatnya dekat dengan sang ibu.

“Cho Kyuhyun…”

Pria itu menoleh.

“Walau kadang kau berwajah dingin, menatapku dengan tajam dan kata-katamu selalu membuatku kesal. Tapi aku selalu yakin kau orang yang baik.”

Kyuhyun mengendikan bahunya. Walau terkesan tak peduli dengan kalimat Hanna barusan, namun tak dapat di tutupi jika wajahnya menyunggingkan senyum tipis. Hanna yang mendapatkan respon datar itu hanya bisa tersenyum. Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Kyuhyun. Untuk beberapa saat tak ada suara apapun dari keduanya. Mereka asyik menikmati proses dimana matahari sedikit demi sedikit mulai tak terlihat lagi. Hingga wajah Kyuhyun berubah serius, seraya teringat dengan percakapan Marry Ahjumma di luar tadi. Pria itu sedikit merubah posisi duduknya.

“Apa rencanamu setelah ini?”

Hanna menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Mungkin aku akan memulai semuanya lagi di sini. Membiarkan bagaimana nasib membawaku nanti.”

Kyuhyun memalingkan wajahnya saat kalimat terakhir Hanna sedikit membuatnya tersentil. Hatinya merasa tak terima jika hidup gadis itu jadi tidak jelas dan hanya mengandalkan bagaimana nasib mengatur hidupnya nanti.

“Saat kau menghilang, ibumu mengatakan tempat ini menyimpan banyak kenangan tentangmu dan beliau tidak bisa hidup hanya dengan itu. Lalu sekarang, saat kau kehilangan ibumu, tempat ini juga menyimpan banyak kenangannya.” Kyuhyun menoleh ke arah Hanna “Kau bisa hidup hanya dengan itu?”

Hanna membeku di tempatnya. Sejak awal dia mencoba tak peduli dengan semua yang di ucapkan pria itu barusan. Hidup di tempat, di mana semua kenanganmu dengan seseorang yang kau rindukan tapi tak bisa lagi kau temui, apakah akan mudah menjalaninya? Gadis itu menghela nafas kemudian tersenyum lirih ke arah Kyuhyun. Hanya itu jawaban yang bisa dia berikan. Kyuhyun yang melihat itu hanya bisa diam. Namun hatinya terus berhitung, meyakinkan satu keputusan yang akan ia ambil.

“Ikutlah denganku kembali ke Swiss lalu pulang ke Korea. Hiduplah dengan baik disana.”

Hanna sontak menengok cepat ke arah Kyuhyun. Gadis itu mengerutkan alisnya dalam-dalam, menatap Kyuhyun yang duduk di sampinya dengan pandangan yang menyiratkan ketidak mengertiannya.

“K…Korea?”

 

Tbc

 

 

 

4 Comments (+add yours?)

  1. sophie
    Jun 26, 2016 @ 11:59:44

    Kasian hanna,,,

    Reply

  2. rereazhari
    Jun 26, 2016 @ 19:47:51

    Walaupun aku belum baca cgapter sebelum” nya ntah kenapa aku suka cerita ini. Hanna nya kasian ditinggal ibu nya tapi ibu nya juga kasian sampe sekarang dia gatau kalau anaknya masih hidup dan nyariin dia sedih bangettt 😭

    Reply

  3. Monika sbr
    Jun 27, 2016 @ 19:56:12

    Makin kasihan sama hanna.
    Sebenarnya apa sih sampai membuat hanna seperti itu? Padahalkan dia hanya pergi sehari tapi kenapa marry ahjuma mengatakan kalau hanna sudah pergi selama 2 tahun??
    Benar2 bikin penasaran.

    Reply

  4. lieyabunda
    Jul 12, 2016 @ 04:39:58

    kasian amat hanna,,, ada apa sebenernya yg terjadi….

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: