Spring at Night

tokyo-night-spring-wallpapers-t

Spring at Night

Yesung | Ji Sun

Romance | Oneshot

By: BimilChingu

 

Yesung Super Junior akhirnya merilis debut solonya!

Pada 19 April dini hari (KST), Yesung merilis mini album pertamanya dengan judul “Here I Am.” Album pertamanya ini terdiri dari tujuh lagu, Yesung bersama Brother-Su berkolaborasi dalam penulisan dan aransemen lagu utama “Open the Door”. Yesung juga berpartisipasi dalam menulis lirik untuk track “Confession” dan “My Dear”.

Music Video untuk lagu utama “Open the Door” juga akan dirilis diwaktu yang sama, akan menunjukkan kemampuan acting Yesung dalam MV yang sesuai dengan kemampuan bernyanyinya.

Lagu “Here I Am” mengisahkan tentang seorang pria, yang merindukan mantan kekasih, berkeliaran di sekitar rumahnya dan ingin dia kembali.

Penasaran dengan album solo pertama lead vocal Super Junior ini?

Segera tonton di Oficial youtube SMtown!

Dan berikan cinta serta dukunganmu.

 

Ji Sun meng-close tab browsing-nya. Menggeser pada dial-up teratas kemudian membuat panggilan. Panggilan pertamanya tak terjawab, ia menaruh handphonenya pada nakas kemudian bergegas ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Ji Sun kembali, meraih benda pipih itu dan mengulang panggilan terakhir. Panggilnnya tersambung, gadis itu bersenandung meniru alunan “Open the Door” nada sambung di line seberang sambil menunggu.

“Yeboseyo Ji Sun-ie,” sapa orang di line seberang.

“Oh, Jong Jin-ah. Kenapa kau yang mengangkat panggilannya, dimana pemiliknya?”

“Kau itu bertanya atau apa, Hyung sedang selingkuh perlu kau tahu. Dia sengaja meninggalkan handphonenya di kamarku agar kau tidak mengganggunya,” Jong Jin, adik Yesung itu sangat suka jika disuruh menggoda kekasih kakaknya. Karena biasanya ia akan melihat kakaknya merengek karena kekasihnya merajuk setelah termakan bualannya. Itu sangat menghibur.

“Ya sudah nanti sampaikan salamku, selamat bersenang-senang dengan kekasih barunya.”

“Ei, kau tidak seru Song Ji Sun-ssi. Sebentar, kuberikan dulu padanya.” Jong Jin bergegas ke kamar kakaknya. Tanpa perlu repot-repot mengetuk pintu lelaki muda itu menerobos masuk, melempar begitu saja benda persegi itu kearah pria yang tengah bermalas-malasan dengan laptop di pangkuannya.

“Kau akan menyesal sudah melot padaku setelah melihat orang yang meneleponmu tengah malam seperti ini,” kata Jong Jin saat mendapati kakaknya menatap nyalang setelah sebelumnya melempar handphone kesayangannya. Andai benda itu tadi salah pendaratan mungkin kepala Jong Jin akan botak malam ini juga.

Yesung segera meraih handphonenya, memeriksa siapakah gerangan yang dimaksud Jong Jin. “My Dear” contak khusus yang sengaja ia rubah setelah albumnya rilis, itu milik kekasih rahasianya.

“Oh Dear,” sapa Yesung.

“Oh jadi kekasih barumu bernama Dear-a, Kim Yesung,” suara Ji Sun terdengar mengejak.

“Ania. Siapa yang punya kekasih baru? Jangan mudah termakan bualan Jong Jin. Itu panggilan special hanya untukmu,” belanya. Jong Jin yang sudah menyamakan diri di samping Yesung terkikik mendengar dalih kakak satu-satunya sebelum sebuah bantal menghantam kepalanya.

“Terserahlah, tapi jangan memanggilku seperti itu. Menggelikan.” Yesung tahu kalau kekasihnya tidak terlalu menyukai hal-hal yang berbau romantis. Pernah dulu ia membelikan gadis itu sepasang cincin couple dan berakhir dengan Yesung yang memakai berpasangan dengan adik Ji Sun.

“Emm, maaf tadi siang aku tidak sempat mengangkat panggilanmu,” Yesung memecah keheningan.

“Tidak apa-apa.”

“Emm, kau belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam.”

“Kau juga belum tidur, kenapa?”

“Oh, tadi sore aku tidur lama jadi sekarang belum mengantuk.”

“Aku memikirkanmu sepanjang hari..” kata Ji Sun menggantung.

“Oh, benarkah. Aku senang mendengarnya. Jarang-jarang kau mau mengakui perasaanmu terang-terangan. Sangat merindukanku ya?” goda Yesung.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” Ji Sun mencoba memancing. Respon kekasihnya tidak sesuai yang ia harapkan.

“Emm, aku juga memikirkanmu. Sudah melihat penampilanku? Bagaimana menurutmu?” Pria tiga puluhan tahun itu menghindar. Sebenarnya Yesung tau apa yang dimaksud kekasihnya itu.

“Oppa,” suara Ji Sun sedikit menekan. Jika Ji Sun sudah menggunakan panggilan itu, Yesung rasa memang kekasihnya sedang ingin serius.

Yesung menghela napas sebelum menjawab, “Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir,” konfirmasinya dengan suara yang dibuat setenang mungkin, sebenarnya sangat berlawanan dengan hati dan pikirannya.

“Bagaimana tenggorokanmu? Sudah pergi ke dokter atau minum obat? Kau masih membaca komentar negative tentang debut solomu? Tidak bisakah kau mengabaikannya?”

“”Aku..” suara Yesung memberat dan menggantung. Pria yang baru saja debut solo itu menimang alasan seperti apa yang akan ia berikan pada kekasihnya. Yesung bukan tipikal orang yang mudah menyampaikan kegundahannya, meskipun itu pada keluarganya sendiri. Bukan maksud tidak mempercayai mereka, hanya saja ia selalu merasa membebani orang lain setelah bercerita. Tapi dilain sisi ia juga ingin mencoba terbuka kepada Ji Sun. Yesung bersungguh-sungguh dengan hubungan mereka, dan ia tak ingin gadis itu ragu dengannya. Dan di line seberang Ji Sun masih setia dalam keheningan menunggu kekasihnya bercerita. Ji Sun bukan tipikal gadis yang suka memaksa seseorang untuk bercerita, ia akan menunggu dan mendengarkan tanpa harus memaksa. Bukan berarti ia tidak peka dan perhatian.

“Oppa,” Ji Sun melembutkan suaranya. Jika sudah seperti ini Ji Sun harus memutar cara untuk menghibur kekasihnya. Ingin sekali gadis pecinta Fashion itu pulang ke Seoul dan menemui Yesung, memeluk dan membuatnya merasa nyaman. Semuanya akan baik-baik saja setelah beberapa saat itu maksud Ji Sun, sayangnya pria yang dikenal sebagai pemilik suara berseni itu terlalu perasa dan tak bisa mengabaikan hal kecil semacam komentar buruk dari netter.

“Oppa dengarkan aku untuk kali ini, eoh? Untuk saat ini abaikan komentar buruk tentangmu, coba lihatlah ada begitu banyak orang yang mendukungmu. Mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Kalau kau kecewa dengan hasilnya mereka akan lebih kecewa karenamu. Mungkin memang kau tidak berhasil mendapat posisi satu di cart music, tapi kau selalu mendapat posisi nomor satu di hati penggemarmu. Oppa kau mendengarku?” Ji Sun mengakhiri kalimatnya saat dirasa tak mendengar sahutan dari line kekasihnya. Gadis itu melihat layar handphonenya untuk memastikan jika panggilannya masih tersambung.

Yesung baru sadar bahwa ia terlalu terpuruk dan mengabaikan banyak cinta dari penggemarnya. Mungkin benar kata Ji Sun jika ia bersedih secara tidak langsung itu membuat penggemar dan orang-orang yang sudah bekerja keras bersamanya akan kecewa. Bukankah selama ini ia ahli dalam mengkamuflase perasaannya di social media? Seharusnya ia juga melakukannya untuk saat ini. Senyum penggemarnya lebih berharga dari sebuah posisi.

Yesung terkekeh kemudian menjawab Ji Sun “Aku mendengarkan mu nona cerewet. Cepatlah pulang, aku ingin memelukmu.”

“Huh, aku baru akan pulang dua hari lagi, besok adalah acara inti. Aku janji akan langsung pulang dan segera menemuimu setibanya di Seoul.”

“Yaya kau memang sibuk melebihi kesibukanku, bahkan kau tak sempat menghadiri comeback-ku,” Yesung memberengut saat mengingat jika kekasihnya tak bisa hadir langsung untuk mendukung debut solonya. Bahkan saat hari perilisan albumnya Ji Sun sudah berada di Jeju untuk acara peragaan busana Internasional.

“Ei, aku akan datang ke konser solomu sebagai gantinya, jadi berhenti mengulang kalimat itu terus menerus.”

“Dan membawakanku busana untuk tampil?”

“Tidak.”

“Ahh wae?.. kau ini bekerja di bidang style tapi tak pernah sekali saja mau membuatkanku atau bahkan sekedar memilihkan busana untukku, wae?.. wae?.. wae? Song Ji Sun wae?”

“Ei, Kim Yesung seharusnya kau malu dengan usiamu saat merajuk seperti ini. Minta saja sana pada Stylistmu yang professional itu, dia tahu yang terbaik untuk artisnya. Bukankah begitu?”

“Ei, untuk apa aku meminta pada orang lain jika kekasihku saja bisa mengurusnya. Kenapa? Kau biasanya mengkritik penampilan seseorang, apa kau takut dikritik balik eoh?” goda Yesung.

“Jinjja Kim Yesung ingin sekali ku jahit bibir manismu itu, eughhh..”

“Kau akan menyesal jika melakukannya. Kau akan kehilangan satu hal yang sangat kau sukai dariku, hm..”

“Aigo, sepertinya suasana hatimu sudah membaik setelah membuliku, eoh. Sudah pergi tidur sana dan jangan lupa minum obatmu.”

“Aku sudah mendapat suntikan dua kali dan tidak minum obat.”

“Ah, aku lupa jika seorang penyanyi pantang minum obat sebagai jaminan suara mereka. Yasudah sana tidur, besok tidak usah memaksakan diri. Kalau masih sakit lipsing saja, mereka juga akan memahaminya.”

“Tidak akan.” Yesung menolak dengan tegas.

Apapun yang terjadi lipsing bukanlah pilihan yang terbaik. Haters akan semakin senang jika ia benar-benar melakukannya. Pria bersuara berat itu paling tidak suka jika harus membohongi publik. Kecuali jika dalam situasi yang benar-benar mendesak, seperti menyembunyikan hubungannya seperti sekarang.

Beberapa saat suasana menjadi hening. Mereka sama-sama terlarut dalam piikaran masing-masing.

“Sayang” Yesung mencoba menarik perhatian kekasihnya yang tak terdengar di line telepon. “Ji Sun-ie kau masih mendengarku?” Yesung mengulang memanggil Ji Sun sebelum gumaman pelan membalasnya.

“Hmm.”

“Kau mengantuk ya?” Tanyanya pada Ji Sun. Pasalnya Yesung terlanjur hapal kebiasaan kekasihnya jika mereka tengah berteleponan tengah malam dan tiba-tiba suara gadis yang dicintainya menghilang atau hanya mendapat gumaman sebagai jawaban, itu pertanda jika Ji Sun telah membagi jiwanya dalam dua dunia berbeda.

“Ne.”

Yesung terkikik mendengar jawaban terang-terangan dari kekasihnya. “Yasudah tidurlah… Gomawo, Saranghae.”

“Ei, kau juga tidurlah Kim Yesung. Jangan sakit lagi.”

“Ne, aku akan baik-baik sampai kau pulang.. ”

“Eum, tutup teleponnya. Jjaljayo oppa-ya.”

“Neodo jalja. KKeunhgo.” Yesung mengakhiri telepon mereka setelah memastikan gadis yang sedang berada di bawah langit Jeju sana tak membalas.

“Dia manis saat sedang khawatir. Op-pa..” Yesung meniru suara Ji Sun saat memanggilnya tadi sambil tersenyum geli.

Yesung bangkit dari tidurannya dan mengunci pintu kamar. Jong Jin telah enyah dari kamarnya setelah mendapat hantaman bantal empuk karena mengejeknya tadi. Pria itu juga menutup tirai jendela kaca kamarnya, langit terang di luar membuatnya tersenyum sebelum melangkah kembali ke pembaringan. Meraih handphone pintarnya dan membuka salah satu media social yang membuatnya dekat dengan para penggemar. Perasaannya semakin membaik setelah membaca beberapa komentar dari penggemarnya. Haters tetaplah Haters yang akan selalu meninggalkan komentar buruk seberapa baikpun ia berusaha melakukan sesuatu. Jika harus menyerah, itu akan ia lakukan sepuluh tahun yang lalu saat masa-masa sulitnya sebagai traini yang tak kunjung didebutkan. Toh dulu Yesung juga hampir melakukkannya tapi dengan mendapatkan tekatnya kembali ia mampu berhasil melewati sepuluh tahun hingga menjadi bagian dari Hallyu.

“Tetaplah di sisiku,” gumam Yesung sembari mengusap foto Ji Sun di layar handphonenya.

“Aku juga menyayangi kalian,” sambungnya beralih menatap poto keluarga yang bertengger manis di dalam pigora yang sengaja di letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Kemudian menyimpan handphonenya, mematikan lampu utama dan mengganti dengan lampu tidur sebelum benar-benar mengistirahatkan fisik dan pikirannya.

Ji Sun memandangi layar handphonenya yang baru saja menampilkan sambungan telepon yang berakhir. Menarik selimut hingga menenggelamkan badan dan sebagian kepalanya. Gadis itu masih belum paham mengapa mereka yang bekerja di dunia hiburan begitu betah padahal sering mendapatkan celaan yang bahkan tak seharusnya mereka dapatkan. Komentar negative, rumor, scandal, haters menurutnya itu lebih menyakitkan jika dibanding dengan mendapat seribu tusukan jarum. Kekasihnya bilang, “Jika sudah jatuh cinta pada pekerjaanmu, apapun akan mudah dan menyenangkan. Meskipun sering terluka.” Lalu kenapa pria tadi bersedih? Karena dia juga manusia yang memiliki batas pertahanan, seperti itu?

“Pabo-ya, kau pikir hatimu terbuat dari apa?” Tanya gadis itu pada figure kekasihnya.

Ji Sun memutar sebuah lagu sebagai penghantar tidurnya. “My Dear” satu dari track album solo Yesung yang disukainya. Lagu ini sedikit berbeda dari yang kebanyakan. Gadis penikmat Ballad itu mendapat salinan rekaman latihan Yesung tanpa iringan music, tentu saja suaranya sangat jelas. Sejak saat itu Ji Sun selalu memutarnya sebelum pergi tidur. Sering kali gadis itu membayangkan jika saja suara dari mp3 itu bisa diganti dengan yang asli setiap malamnya, Ji Sun sangat mengharapkan saat itu datang. Andai saja kekasihnya bukan public figure mungkin akan dengan mudah Ji Sun mengiyakan ajakan serius Yesung untuk menghabiskan hidup bersama.

 

 

 

***

 

 

Apa kau melalui hari yang sulit?
Kau bisa mengeluh kepadaku
Apa sesuatu hampir membuatmu menangis?
Tidak apa-apa, lihat aku

Mulai sekarang, pikirkan 3 hal yang benar-benar menyenangkan
Air hangat, cuaca yang bersinar, dan aku di luar jendelamu

Sudah kubilang, kau dapat melihat kecerahan hanya saat kau berada dalam kegelapan

Di tempat di mana cahaya bintang berkumpul, aku akan menunggu
Tutup matamu dan terbang, aku akan memelukmu

Menuju cahaya bulan yang mewarnai jendelamu
Apa kau akan datang kepadaku?

Di tempat di mana cahaya bintang berkumpul, aku akan menunggu
Tutup matamu dan terbang, aku akan memelukmu

Saat laguku berakhir, sinar matahari akan bersinar terang

(.My Dear – Yesung wrote this song while thinking about ELF.)

 

 

^^

“Tak peduli dimana kau berada asal bisa mendengar suaramu itu sudah membuatku lebih baik”

^^

 

PS.

Selamat untuk album pertama mu “Here I Am”

Meskipun respon dari album pertamamu tak sebaik milik KyuHyun, tetaplah tersenyum

Abaikan suara yang menyakitimu, karena ada begitu banyak cinta yang lebih layak untuk di terima

Aku akan selalu di sini, menunggu dan menemanimu

 

 

 -THE END-

1 Comment (+add yours?)

  1. jinheeya
    Jul 03, 2016 @ 21:45:59

    Aaaahhhhhh… Lucu banget >.< pengen deh gantiin posisinya Jisun -baper parah-

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: