Blue Moon

05

TITTLE : Blue Moon

– GENRE : Romance

– LENGTH : Oneshot

– RATED : 16

– MAIN CAST : Cho Kyu-Hyun, Cho Sun Ae

– AUTHOR : Aryn

– TWITTER : Aryn_Cathrine

– FACEBOOK :  Aryn Cathrine/ Han Sun Ae

Blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

 

I’ll waiting for you in a blue moon

***

Pagi-pagi sekali  ia sudah duduk di kursi tinggi di dapur. Matanya awas mengamati pria itu. Pria itu berbalik, melangkah pelan mengitari mini bar, lalu duduk di kursi tinggi di hadapannya.

Pria itu menyodorkan semangkuk bubur daging hangat, telur orak-arik, dan segelas jus jeruk.

“Pingsan saat pemotretan,” bibir pria itu bergerak pelan. Dan ia yakin ia menyukai suara pria itu. “Bukan kau sekali.”

“Aku—“

“Kau dehidrasi, stress berat, kejang lambung.” Suara pria itu sebeku es, dan berhasil membuat sekujur tubuhnya menggigil. “Sudah berapa kali kuperingatkan kau, Cho Sun-Ae? Selipkan makan di antara jadwalmu.”

Namaku Cho Sun-Ae, pikir wanita itu. Dan pria ini…

“Jadwalmu sendiri?”

“Melimpah. Tapi karena adikku sekarat, aku tidak akan ke mana-mana.”

Sun-Ae ingat nama pria ini. Cho Kyu-Hyun. Kakak lelakinya. “Cho Kyu-Hyun.”

Alis hitam tebal Kyu-Hyun terangkat naik. Sun-Ae memang aneh sejak kemarin. Ia sudah seperti mayat ketika Kyu-Hyun membawanya ke rumah sakit setelah managernya menelpon. Cho Sun-Ae pingsan ketika melakukan pemotretan Vogue edisi terbaru. Padahal pagi harinya ia masih sempat mencium Kyu-Hyun setelah menendang bokongnya.

“Kau menggunakan kontak lensa? Kapan?” Aneh karena Kyu-Hyun tahu sejak lahir Sun-Ae memiliki mata hitam sekelam malam, bukan seperti saat ini. Kyu-Hyun memandangi Sun-Ae yang mematung. Kulitnya seputih salju, bibirnya sewarna anggur, dan matanya biru, sedalam lautan, berkilauan bak safir.

“Aku tidak menggunakannya.”

Kyu-Hyun sadar suara wanita itu terdengar lebih dingin, lebih kaku dan lebih tidak bersahabat dari biasanya. Mungkin keadaan Sun-Ae belum pulih benar, mungkin mood-nya rusak akibat ketidaksempurnaan pemotretan kemarin, atau mungkin juga karena Lee Dong-Hae belum menelepon.

“Sebaiknya kau tinggal di rumah. Aku akan menemanimu.”

Bibir itu merekah. Perlahan-lahan matanya mulai memancarkan kehidupan. “Kyu-Hyun?”

Yang dipanggil mengangkat wajah. “Aku di sini.”

Sun-Ae menatap mata itu. Hitam, nyalang, tegas, dan memesona. “Hanya ingin memanggil namamu saja.”

Kyu-Hyun tidak berkata lebih banyak, bahkan satu pun tidak. Apa itu tadi? Ia yakin merasakan getaran asing ketika adiknya berkata demikian. “Kau gila, ya?”

Sun-Ae menatap Kyu-Hyun tanpa ekspresi, baru ia ingin mengatakan sesuatu, ponselnya di ruang duduk berdering.

“Pergilah. Selain aku, ada pria sinting lain yang mencemaskanmu setengah mati.”

Sun-Ae tidak mengatakan apa-apa, ia turun dari kursi tinggi lalu menyesap jus jeruk milik Kyu-Hyun, bibirnya merekah di pinggiran gelas kaca. “Asam.”

“Itu jeruk Florida.”

Sun-Ae meletakkan gelas kaca, matanya masih datar ketika mendekati Kyu-Hyun dan menangkup pipinya. Bibirnya merekah lagi ketika menyesap bibir pria itu. “Aku lebih suka rasa yang ini.”

Kemudian wanita itu berlalu, Kyu-Hyun melihatnya melangkah ringan seolah melayang melewati ruang makan menuju ruang duduk. Ada yang tidak beres, Kyu-Hyun yakin merasakan sesuatu yang lain ketika Sun-Ae menyesapnya tadi.

Ini bukan kali pertama mereka berciuman. Bukan seperti itu. Hanya saja yang tadi berbeda. Cho Kyu-Hyun takut dugaannya benar.

Ia takut ia tidak lagi menganggap wanita itu sebagai Cho Sun-Ae.

***

Sun-Ae baru saja menutup panggilan dari Lee Dong-Hae.  Ia yakin pria tampan itu juga sama sintingnya seperti Kyu-Hyun. Walau sedang berada di Jepang, sejak pagi tadi sudah sebelas kali ia menelepon menanyakan kabar, menyuruhnya tidur, dan minum obat. Sementara Kyu-Hyun hampir puluhan kali berusaha menjejalkan makanan sehat ke dalam mulutnya seharian ini. Harusnya Sun-Ae bahagia. Tapi ia tidak bisa.

Sun-Ae sudah berada di dalam kamar. Sendirian. Sementara bulan mulai keluar dari balik gumpalan awan. Ia berdiri menghadap sebuah gambar dengan bingkai emas yang di pajang di salah satu sisi dinding.

Lee Dong-Hae mengenakan setelah kelabu, dia adalah pria gagah, dengan rambut cokelat gelap yang halus dan mata sebening madu. Bibirnya tipis, merah alami dan memikat. Pria itu tersenyum ke arah Sun-Ae. Baik rupa dan sikapnya sangatlah manis.

Di gambar itu ada Kyu-Hyun, dengan setelan hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Bibirnya penuh dan mengundang untuk dicecap, rambutnya hitam, dan matanya setajam pedang. Siapapun bisa berdarah karena tatapannya. Dia adalah sosok yang dominan, dalam segala hal. Dalam bentuk apapun. Sun-Ae menyukai kenyataan yang satu itu.

Dan di antara pria-pria rupawan itu, terselip dirinya. Matanya hitam, menatap ke arah kamera, menatap dirinya sendiri. Tatapan datar yang menyedihkan walau bibirnya mengukir senyum samar. Sun-Ae tersenyum kecil, wanita di gambar itu sudah mati kemarin. Cho Sun-Ae telah tiada sejak kemarin.

“Belum tidur?”

Sun-Ae menoleh dan menemukan Kyu-Hyun masuk ke dalam kamarnya. Pria itu mengunci pintu, menutup jendela namun membiarkan tirainya terbuka hingga bulan biru tetap bisa menyinari mereka.

“Kau terasa dingin.”

Sun-Ae tidak terkejut ketika Kyu-Hyun melingkarkan lengan kekarnya di sekitar perutnya, wanita itu malah menyambutnya.

“Bulan biru,” bisik  Sun-Ae parau. Ia lalu menatap gambar lagi. Menatap Kyu-Hyun. “Bulan biru sedang bersinar. Hanya malam ini.”

Kyu-Hyun mencium leher wanita itu. “Aku tahu. Aku sudah menantikannya.”

Sun-Ae berbalik, dan yakin dirinya bahagia mendapati mata Kyu-Hyun sebiru matanya. Kulitnya lebih pucat, dan lebih dingin. Sun-Ae menyusuri rahang Kyu-Hyun dengan pipinya, dan pria itu menggendongnya pergi.

“Sudah lama sekali sekarang, bagaimana kabarmu?”

Bulan sudah tinggi, tepat di ubun-ubun ketika Kyu-Hyun dan Sun-Ae berada di dalam selimut dengan tubuh sama polosnya. Mereka menempel satu sama lain bagai sendok dempet.

“Kau masih bertanya?” Sun-Ae mencengkram Kyu-Hyun ketika pria itu berbisik di telinganya. “Sekarat, mungkin lenyap sebentar lagi.”

Kyu-Hyun tertawa, masih sambil mengendus wangi wanita itu di ceruk lehernya. “Aku merindukanmu.”

Sun-Ae menangkup wajah Kyu-Hyun, mengecup bibirnya singkat. “Aku juga,” katanya. “Aku juga, Alex.”

Kyu-Hyun tersenyum, dan kegelapan menyeruak dari kedua matanya. “Kau selalu indah, Nyx.”

“Masih sakit?” tanya Sun-Ae ketika jemari lentiknya menyusuri garis melintang bekas robek di bagian perut hingga dada Kyu-Hyun. “Bajingan itu melukaimu.”

“Zeus pasti sangat murka jika tahu kau di sini.” Kyu-Hyun bermain-main dengan clavicula wanita itu, menikmati wanginya. “Aku senang kau di sini.”

“Kau tidak menjawabku,” kata Sun-Ae dingin. “Masih sakit?”

Kyu-Hyun mengangkat wajahnya lalu menciumi wanita itu dengan kuat. “Sakit sekali.”

Sun-Ae tersenyum. Kyu-Hyun melihatnya. Setelah hampir ribuan tahun, ia bisa melihat senyuman wanitanya. “Aku akan mengakhirinya.”

Kyu-Hyun melumat bibirnya kasar, sedetik setelah wanita itu menikamnya dengan belati emas milik Ares, sang Dewa Perang yang sudah pasti akan merenggut nyawa Kyu-Hyun tak sampai hitungan menit.

“Kau melemah, Sayang.”

“Hmm, ya. Aku tahu. Aku tahu.”

Tangan Kyu-Hyun mencari-cari, ia meraih belati perak yang telah ia simpan sekian lama, lalu menancapkannya ke perut datar Sun-Ae beberapa kali dengan buas, ganas, dan penuh cinta.

Baik Sun-Ae maupun Kyu-Hyun kesakitan. Belati itu langsung merobek kulit, daging, hingga menembus tulang-tulang serta mengoyak tubuh keduanya begitu ditancapkan. Darah segar menetes, mengalir, lalu menggenang di sekitar mereka. Sun-Ae dan Kyu-Hyun memucat, memutih, bercahaya. Mata keduanya biru indah, menyilaukan dan maha sempurna.

“Aku mencintaimu.”

Kyu-Hyun dan Sun-Ae saling menatap satu sama lain. Saling tersenyum satu sama lain bersamaan dengan pandangan yang menggelap. Keduanya tidak pernah menyesal atas pilihan mereka untuk sekarat, bahkan mati bersama di bawah bulan biru. Setelah sekian lama menunggu, setelah ribuan tahun.

***

3000 Tahun SM

Nyx duduk di atas bebatuan perak di tepi danau, malam ini bulan biru. Satu di antara dua waktu di mana ia bisa menemui cintanya, Alex, yang pasti akan datang tujuh detik dari sekarang.

Rambut Alex hitam, selembut sutra dan memiliki wangi layaknya emas. Athena sudah pernah mengatakan padanya agar jangan pernah bertemu dengan Alex, kalau tidak mau jatuh cinta. Namun bulan biru mempertemukan mereka di tepi danau bertahun-tahun yang lalu, hingga beberapa detik lagi.

Nyx bercermin pada permukaan air danau, matanya yang biru terpapar cahaya bulan yang membuatnya semakin bersinar. Ketika ia mengangkat wajah, ia bukannya melihat Alex, tapi Athena.

Berbeda dengan ayahnya, Athena ada di pihak Nyx dan Alex.

“Ayahku membunuhnya.” Athena muncul dengan jubah baja dan kecantikan yang melambangkan wanita kokoh. “Alex sudah mati. Tidak perlu menunggu lagi.”

Nyx tidak percaya hingga Athena membawanya ke gunung Olympus, di lapangan luas dengan hamparan alang-alang, tempat jasad Alex berada.

Nyx melihat luka akibat petir milik Zeus di perut hingga dada Alex, menyebabkan darah berwarna perak miliknya mengucur tanpa henti.

Nyx menunduk, tanpa air mata ia menciumi Alex, lalu berbisik di telinganya. Dan seketika, jasadnya menjadi debu yang diterbangkan angin.

Malam itu gunung Olimpus menjadi gelap, awan hitam bergulung-gulung dan menghasilkan petir menakutkan, hujan turun dengan derasnya. Nyx tidak menangisi kepergian Alex, tapi bumi mewakilkannya.

“Apa yang kaulakukan?”

Nyx menatap langit, mengirim Alex mendahuluinya. “Aku akan menemui Hades.”

“Hades tidak bisa membuat Alex hidup kembali.”

“Aku meminta kematian.”

“Zeus tidak akan setuju.”

“Aku akan meminta kematian yang abadi, bersama Alex. Dia menungguku.”

Nyx berbalik, matanya biru pekat. Penuh kebencian. Juga lambang berduka.

“Itu berarti kau harus mati, dan menunggu ribuan tahun.”

“Bahkan jika aku harus mati, dan menunggu ribuan tahun.”

-FIN-

 

(footnotes)
Nyx : Dewi bulan; malam; kegelapan
Alex : Dewa Kesempurnaan; kekuatan, gairah, kerinduan
Athena : Dewi Perang
Zeus : Dewa langit; petir; hukum, dan takdir
Hades : Dewa Kematian; alam bawah; perut bumi

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Mrs. C
    Jul 07, 2016 @ 17:28:10

    OMG OMG OMG
    Setelah ribuan taun gak baca ff kayak gini.. akhirnya ketemu lagi.. berharapnya ssih ini bakal jadi seratus persen romance tanpa fantasy.. tapi jadinya ternyata keren bgini mah saya bisa apa T_T

    Reply

  2. chocogrill
    Jul 08, 2016 @ 07:27:04

    romance-fantasynya kerasa😁 feelnya dapet sampr kebawa pas adegan kyu-sun ae dikamar hihi

    Reply

  3. esakodok
    Jul 11, 2016 @ 14:24:31

    kejer bacanya….suka banget lah..romance yang berat dan penuh konflik…alurnya juga oke banget…jd inget cerita yunnai waktu SMA

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: