Peter Pan

donghae

TITTLE : Peter Pan

– GENRE : Romance

– LENGTH : Oneshot

– RATED : 15

– MAIN CAST : Han Sun Ae, Lee Donghae

– AUTHOR : Aryn

– TWITTER : Aryn_Cathrine

– FACEBOOK :  Aryn Cathrine/ Han Sun Ae

Blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

All children, except one, grow up.

***

Sun-Ae memegang gagang pintu dengan berdebar-debar, apakah dia sudah tidur? Atau mungkin masih duduk bersandar dan memberengut sembari memencet remote control? Atau mungkin dia sibuk memainkan gitarnya?

Sun-Ae membuka pintu dan berusaha untuk tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu, dia sudah tidur.

“Aku bawa bubur, tapi karena kau tidur, maka aku yang akan menghabiskannya sendiri.”

Sun-Ae duduk di kursi dekat ranjang dengan hati-hati, lalu ia memenuhi kata-katanya dan menikmati semangkuk bubur daging yang lezat di satu malam di musim dingin itu. Sun-Ae menyuapkan bubur terakhirnya dan terkekeh, ia sendiri baru sadar bahwa ia kelaparan. Ibunya sendirisudah memberinya banyak sekali makanan, tapi rasanya satu minggu belakangan sejak ia tahu laki-laki ini sakit, ia menjadi tidak berselera. Semuanya menjadi kurang baik ketika Lee Dong-Hae yang menyebalkan jatuh sakit.

“Aku benci musim dingin,” gerutu Sun-Ae ketika ia telah meletakkan mangkuk buburnya. Kemudian ia beralih memperbaiki selimut Dong-Hae. “Tapi Kyu-Hyun suka. Padahal musim dingin itu merepotkan sekali.”

Sun-Ae yakin dirinya bukanlah orang yang senang berkeliaran di atas pukul sepuluh malam, apalagi ketika titik terdingin bulan Desember berada di ujung hidungnya. Ia tidak suka itu. Sama sekali. Ia masih heran mengapa orang-orang begitu senang berkeliaran ketika udara di sekeliling mereka bahkan berbahaya bagi keselamatan mereka sendiri. Kalau bukan perasaan aneh yang menyelusup di dadanya, ia tidak akan rela keluar dari selimutnya yang hangat.

“Cacar saat musim dingin,” Sun-Ae menarik ingusnya. “Penyakitmu sangat tidak elit.”

Sun-Ae tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melihat Dong-Hae. Nyatanya ia sangat ingin tahu keadaan laki-laki itu. Ia ingin melihatnya secara langsung. Lee Dong-Hae yang Sun-Ae kenal adalah laki-laki yang terlampau manis, ia bisa sangat galak kalau Sun-Ae lupa makan, tapi bisa sangat manja ketika sakit. Dulu kalau ia sakit, ia akan tidur di rumah Sun-Ae—dan merampas kekuasaan Sun-Ae dari kasurnya sendiri—sampai ia sembuh total. Lee Dong-Hae ketika sakit memiliki hak penuh atas Sun-Ae—hak untuk menyuruh gadis itu menyuapinya, hak untuk bermanja-manja ria, hak untuk ditemani bercerita hingga larut, hak untuk di dengarkan, hak untuk disayangi melebihi hari-hari sebelumnya, dan tentu saja hak untuk menjadi anak kecil—dan terhadap semua hak-hak tidak masuk akal itu, Sun-Ae tidak boleh protes, apalagi menolak.

Sun-Ae, terhadap hak-hak yang dimiliki Lee Dong-Hae ketika sakit juga tidak berniat menolak, karena Sun-Ae selalu ingin merawat laki-laki itu. Sun-Ae senang Dong-Hae menjadikannya tempat berkeluh kesah tentang masalahnya. Sun-Ae senang menjadi satu-satunya orang yang dipercaya Dong-Hae ketika ia merasa kurang baik.Sun-Ae senang ketika Dong-Hae memercayainya dengan penuh.

“Hujan lagi,” Sun-Ae mengatur pemanas ruangan di ruang rawat Dong-Hae, ia menutup tirai jendela lalu akhirnya meredupkan lampu. Setelah ini ia harus pulang. Laki-laki itu tidak boleh tau kalau dia datang. “Aish, hujan deras sialan. Aku benci hujan.”

“Karena kau hanya mencintai gerimis.”

Bahu Sun-Ae merosot bersamaan dengan helaan napas berat. Ia menoleh dan melihat Lee Dong-Hae mengerjapkan matanya.

“Kenapa hanya berdiri saja di sana? Sini, peluk aku.”

Sun-Ae merasa dirinya melayang saat menuju ke pelukan Dong-Hae. Ada perasaan nyaman yang sulit di jelaskan ketika ia tidur di samping Dong-Hae dan memeluk laki-laki itu.

“Kenapa kau mau saja kupeluk? Kau bisa tertular.”

Sun-Ae mendengus. “Memangnya apalagi yang bisa kulakukan? Lagipula aku sudah pernah mengalaminya, jadi kemungkinannya kecil bisa terjangkit lagi.”

“Hmm, baiklah.” Dong-Hae tersenyum kecil, ia menutup kedua matanya lalu menepuk-nepuk lengan Sun-Ae. “Apa yang membawamu datang padaku?”

Bodoh. Tentu aku khawatir. Tapi sepertinya kau tidak perlu tahu, bisa-bisa kau mengejekku sebelum kau melayang-layang. “Untuk menagih janjimu tentu saja.”

“Aku punya janji yang belum kutepati?”

“Banyak sekali.”

“Lalu… yang bisa kutepati saat ini?”

“Terbang ke Neverland. Bersamaku.”

“Hmmm… kau mau kita berangkat sekarang?”

“Tentu.”

Sun-Ae mengangkat wajahnya, ia melihat lekuk wajah Dong-Hae yang tetap menawan walau pencahayaan di sekitar mereka tidak begitu memadai. Tapi laki-laki itu rupawan, Sun-Ae selalu percaya bahwa tidak ada laki-laki lain seperti Lee Dong-Hae miliknya. Laki-laki ini bisa berdosa karena ketampanannya.

Sun-Ae tersenyum kecil, Dong-Hae bisa menggodanya setiap saat kalau sampai ia tahu Sun-Ae sedang menikmati keindahan wajahnya, jadi Sun-Ae kembali meletakkan pipinya di dada hangat milik laki-laki itu, juga ikut memejamkan matanya.

            “Aku adalah Peter! Dan aku tidak akan tumbuh dewasa.”

            “Kau adalah Dong-Hae! Dan kau tidak akan tumbuh tinggi.”

            Dong-Hae tujuh tahun berlari-lari kecil mengitari kamarnya yang biru, sementara Sun-Ae sedang duduk di atas ranjang sembari sibuk dengan crayon miliknya dan berusaha merampungkan gambar Tink lengkap dengan panci, palu dan ceret besi miliknya.

            “Hey, itu Tink!” Dong-Hae, yang memegang benda plastik panjang yang menyerupai pedang serta mengaitkan selembar kain merah-biru di lehernya ikut duduk di samping Sun-Ae dan mulai berceloteh. “Ingat tidak bagaimana Tink lahir?”

            Sun-Ae tidak langsung memberikan jawaban, ia mengerucutkan bibir ketika terlalu fokus mewarna sepatu hijau Tink. Detik-detik berikutnya juga masih sepi, hingga Lee Dong-Hae menarik-narik ujung lengan bajunya.

            “Ingat tidak? Aku baru memberitahumu tahun lalu, sudah lupa lagi?”

            “Hmm… aku ingat,” Sun-Ae menyimpan crayon hijau dan mengambil yang berwarna putih, lalu kembali mewarnai sepatu Tink dengan gerakan melingkar. Dan ketika itu pula suaranya yang lembut khas anak kecil terdengar samar di telinga Dong-Hae. “Para peri –termasuk Tink—lahir dari tawa pertama bayi yang lahir ke dunia, kemudian menjadi biji dandelion yang terlepas dan terbang bersama angin hingga sampai ke Pixie Hollow. Tink adalah peri pekerja yang tinggal di sebuah pohon maple besar yang tumbuh di tengah-tengah Pixie Hollow bersama peri lainnya.” Sun-Ae berhenti, ia menatap Dong-Hae yang berkedip-kedip di sampingnya.

            “Born in laughter, clothed in cheer, happiness has brought you here. Welcome to Pixie Hollow!”

            Baik Dong-Hae maupun Sun-Ae tertawa setelah mereka secara bersamaan mengucapkan kalimat ‘magis’ khas mereka itu. Kalimat itu sederhana, tapi ketika mendengarnya untuk pertama kali, baik Dong-Hae maupun Sun-Ae langsung berbinar-binar, langsung bisa membayangkan indahnya negeri dongeng. Ketika itu malam natal, Sun-Ae dan Dong-Hae merayakannya di Busan, di kediaman kakek dan nenek Dong-Hae. Di sanalah mereka mendengar kisah tentang Neverland, Peter Pan, Wendy dan Tink berserta segala keajaibannya. Di dalam selimut hangat yang dibagi berdua dan di dekat perapian sambil menikmati coklat panas serta biskuit vanila, mereka mendengar kisah dongeng yang menyenangkan, Sun-Ae maupun Dong-Hae tidak akan bisa melupakannya dengan mudah.

            “Aku ingin merasakan ciuman tersembunyi milik Wendy.”

            Sun-Ae terkekeh. “Wendy tidak akan mau mencium Peter sepertimu. Mungkin dia akan memilih untuk menikahi kapten Hook atau berjalan di papan tipis lalu jatuh ke laut.”

            Dong-Hae tertawa, suaranya menyenangkan sekali. Lalu ia tidur terlentang di atas ranjang. Di samping Sun-Ae.

            “Kalau kau… ingin menjadi siapa?”

            “Hmm?”

            “Kalau kita berkunjung ke Neverland, kau ingin menjadi siapa?”

            Sun-Ae menggaruk pipi, lalu kembali mewarnai. “Aku akan menjadi Tink tentu saja.”

            Dong-Hae menyipitkan matanya. “Err… kenapa harus menjadi Tink? Kenapa tidak Wendy saja? Aku kan harusnya dapat ciuman cuma-cuma.”

            “Aku menyukai Tink, aku ingin menjadi Tink.”

            “Kenapa ingin menjadi Tink?” Dong-Hae bertanya, Sun-Ae belum menjawab dan akhirnya Dong-Hae membuka suara lagi. “Tapi benar juga. Tink itu sama sepertimu; mudah penasaran, galak, berbakat dalam perbaikan panci—kalau kau berbakat dalam melenyapkan panci—dan setia kawan. Hmm… kau bisa-bisa saja menjadi Tink… tapi… eumh, kenapa bukan Wendy saja?”

            “Kenapa kau memaksa begitu?” wajah Sun-Ae mengkerut. “Walau pun wendy memiliki ciuman rahasia yang bisa menyelamatkan Peter, tapi tetap saja pada akhirnya Wendy dan Peter tetap tidak bisa bersama. Wendy memilih kembali ke bumi dan tumbuh, menikah, dan menjadi dewasa. Sementara Peter? Tahu tidak? Peter tetap di Neverland. Dia tidak tumbuh dan menolak menjadi dewasa. Dan dia tetap bersama Tink. Tink selalu bersama Peter apa pun yang terjadi. Dan aku ingin bersamamu seperti itu.”

            “Kalau begitu, tidak apa-apa kau menjadi Tink saja. Agar bisa terus bersamaku.”

            “Tentu.”

            “Lagipula Peter tidak akan bisa hidup tanpa Tink. Kau ingat tidak saat Tink meminum racun untuk Peter? Tink hampir mati dan air mata Peter membuatnya kembali bercahaya. Ingat tidak?”

            “Iya, aku ingat. Lalu kau tahu apa maksudnya itu?”

            “Hmm, air mata Peter adalah air mata ajaib!”

            “Air mata Peter melambangkan ketulusan. Peter berteriak “Aku percaya pada peri!” sembari menangis di hadapan Tink yang mulai beku, sebenarnya dari sana kau bisa belajar bahwa perasaan yang dimiliki Peter pada Tink jauh lebih besar dari perasaannya untuk Wendy. Peter tidak ikut dan menolak menjadi dewasa seperti yang Wendy inginkan, Peter memilih tinggal di Neverland bersama Tink… yah, walau pun awalnya Peter tergila-gila pada Wendy dan mengabaikan Tink, tapi pada saat Tink sekarat… kau tahu kan, apa yang Peter lakukan?”

            “Peter Pan menangis.”

            “Dia menangis dan air matanya menjadi penawar untuk racun paling mematikan sekalipun.”

            “Itu karena Peter menyayangi Tink.”

            “Sangat. Karena perasaannya jauh lebih tulus, jauh lebih murni pada Tink. Mereka lebih dari sekedar sahabat. Mereka lebih dari sekedar kekasih. Hubungan mereka terlalu dekat melebihi segala-galanya. Jadi Peter tidak akan meninggalkan Tink sendirian, begitu pula dengan Tink. Jauh di dalam diri mereka masing-masing, mereka saling membutuhkan lebih dari apa yang bisa kau bayangkan. Nah, itulah mengapa aku ingin menjadi Tink saja. Karena Tink menjamin dirinya hanya akan setia pada satu orang.”

            “Tink hanya setia pada Peter.”

            “Ya, kau benar.”

            “Andai saja Tink bisa mengatakannya pada Peter.”

            “Mengatakan apa?”

            “Mengatakan bahwa ia sangat menyayangi Peter dan tidak ingin Peter meninggalkannya.”

            “Tink bisa, Dong-Hae-ya. Tink sungguh bisa melakukannya kalau dia ingin. Masalahnya saat itu adalah apakah ia tega menghapus kebahagiaan Peter saat bersama Wendy? Tidak. Tink memang pemarah dan jahil sekali, tapi ia meletakkan kebahagiaan Peter Pan di atas kebahagiaannya sendiri. Tink yang cerewet itu, dia akan meletakkan kepentingan Peter di atas kepentingannya sendiri. Aku juga… suatu hari nanti aku ingin melakukan hal yang sama untuk sahabatku dan untuk orang-orang yang kusayangi, aku ingin meletakkan kepentingan mereka di atas kepentinganku sendiri. Aku ingin mereka tahu bahwa aku, walau pun aku terlihat menyebalkan, tapi aku tetap menyayangi mereka semua.”

            “Aku tahu.”

            “Apanya?”

            “Aku tahu kalau kau menyayangiku.”

            “Terima kasih karena sudah tahu. Kalau begitu bantu aku untuk terus menyayangimu.”

            “Kau tidak akan meninggalkanku.”

            “Oh, jangan terlalu percaya diri. Mungkin nanti sudah tidak lagi.”

            “Kau itu Tink milikku, kau harus bersamaku apapun yang terjadi.”

            “Walau kau bertemu dengan Wendy-mu di masa depan?”

            “Ya.”

            “Walau Wendy-mu menyuruhmu meninggalkanku?”

            “Akan kupikirkan lagi,”

            “Dasar kau!”

            “Haha! Sun-Ae-ya, kau memerah. Aduh, pipimu panas. Kau akan meledak. Sebaiknya aku pergi. Sun-Ae mengamuk!”

            Sore itu, mereka tertawa berdua di bawah selimut hangat milik Dong-Hae. Lalu mewarnai gambar Tink dan Peter dengan sangat hati-hati dan di letakkan di meja belajar masing-masing. Sun-Ae bahkan masih ingat dengan jelas, sejak hari itu hingga hari ini, Peter Pan menjadi kisah yang abadi dalam benak mereka berdua. Ketika natal tiba, mereka akan menunggu di depan televisi dan menonton kisah itu bersama-sama, setelah itu akan dibahas lagi sebelum tidur, mereka akan berandai-andai untuk bisa pergi ke bintang kedua sebelum fajar, berandai-andai bertemu putri duyung, bertemu dengan Kapten Hook dan mengelilingi Neverland. Kemudian mereka berdua tertidur, dan melanjutkan cerita dalam mimpi masing-masing.

Dia juga benar-benar tertidur sekarang.

Sun-Ae tersenyum samar ketika menyusuri lekuk wajah Dong-Hae dengan telunjuknya yang kurus. Kulitnya yang agak pucat dan beberapa bekas jerawat menyebalkan yang timbul ketika Dong-Hae frustasi. Sun-Ae menyentuhnya, ia suka membayangkan Dong-Hae yang menggerutu karena jerawat kecil yang menyakitkan itu. Dia ingin Dong-Hae-nya menggerutu lagi, cerewet lagi dan ceria lagi. Sun-Ae tidak suka Dong-Hae yang tidur dengan wajah lemah di atas ranjang rawat. Sun-Ae tidak suka melihat Dong-Hae-nya sakit.

“Ini bukan kau sekali, tahu? Kau kan pecicilan. Biasanya kaki pendekmu tidak bisa diam.”

Sun-Ae berbisik lirih ketika ia merapikan selimut Dong-Hae, ia melirik jam dan ternyata hampir dua jam ia tertidur dalam pelukan laki-laki itu.

“Aku harus pulang sekarang, Dong-Hae-ya.”

Sun-Ae sudah menaikkan sedikit nada bicaranya, tapi Dong-Hae tidak kunjung memberikan jawaban. Sun-Ae menyentuh punggung tangannya dan memintanya bangun, tapi Dong-Hae tidak bangun. Sun-Ae meletakkan telinganya di atas dada laki-laki itu, jantungnya masih berdetak. Syukurlah. Sun-Ae menggeleng-geleng, tidak mungkin orang mati hanya karena cacar, bukan? Lee Dong-Hae hanya sedang tidur. Dan dia tidur seperti orang mati.

“Kau tahu? Sebenarnya Tink juga punya ciuman rahasia.” Sun-Ae menyipitkan mata dan tidak melihat pergerakan sedikit pun pada kelopak mata Dong-Hae. Laki-laki itu sudah berada di dunia lain. “Ciuman Tink lebih hebat dari ciuman Wendy sekali pun. Ini hanya menjadi rahasia kita berdua ya, Lee Dong-Hae, kalau sampai bocor mati kau.” Sun-Ae menyentuh bibir Dong-Hae dengan bibirnya, hangat. Walau hanya beberapa detik, rasanya tetaplah hangat. Wajah Sun-Ae merona sebelum ia sempat menyadarinya. “Nah, itu dia. Kau sudah merasakan ciuman Tink. Itu adalah ciuman pertama dan terakhirnya, tidak ada yang bisa mendapatkannya lagi.”

“Ciuman milik Tink benar-benar menakjubkan.”

Sun-Ae menahan napas, ia tercengang dan matanya melotot seakan ingin melompat keluar. Ketika ia menoleh pada Dong-Hae, laki-laki itu masih memejamkan matanya tapi senyumnya mengembang dengan begitu sempurna. Sialan.

“Kau tidak tidur!”

Dong-Hae tertawa, tapi tetap memejamkan mata. “Aku mau lagi.”

Sun-Ae hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mau ditaruh di mana harga dirinya yang selangit itu? “Kau—aku membencimu!”

“Tidak, kau tidak membenciku. Kau sangat, sangat, amat sangat mencintaiku.”

Sun-Ae belum sempat melontarkan sumpah serapahnya karena dengan gerakan cepat Dong-Hae memeluk tubuhnya dan membalik tubuh mereka. sekarang Dong-Hae tidur dengan nyaman di dada Sun-Ae seperti anak koala yang menggantung pada induknya.

“Kau tidak boleh pulang.”

“Aku harus pulang.”

“Tidak, di sini saja. Peluk aku. Aku harus mengisi ulang energiku.”

“Dan besok kau harus sudah sembuh.”

“Hmm?”

“Kau harus sembuh besok kalau kau mau aku menemanimu malam ini.”

“Kepalaku pusing.”

Mulai lagi si anak koala ini. Sun-Ae menghela napas, terkekeh, lalu menyusupkan tangannya ke dalam seragam pasien yang Dong-Hae kenakan. Sun-Ae mengusap punggung Dong-Hae dengan gerakan pelan, kebiasaan laki-laki itu kalau ia tidak bisa tidur, Sun-Ae hanya tinggal mengusap punggungnya dan ia akan langsung jatuh tertidur. Dong-Hae sakit, jadi sifat kekanakannya keluar semua. Kalau Dong-Hae tidak sakit, sifat kekanakannya membuat Sun-Ae murka, membuat Sun-Ae ingin menendangnya jauh-jauh… tapi saat ini, sifat kekanakan Dong-Hae justru membuatnya terlihat jauh lebih manis. Dia manja, menyebalkan memang, tapi Sun-Ae menyukainya.

“Kau mau kuberitahu sebuah rahasia?”

“Kau sudah harus tidur sekarang, Bayi.”

“Kau janji tidak akan memberitahunya pada orang lain?”

Sun-Ae tersenyum ketika mendengar suara Dong-Hae berbisik lirih di telinganya. Laki-laki itu meletakkan wajahnya di ceruk leher Sun-Ae lalu sesekali ia memainkan rambut hitam milik Sun-Ae dan tertawa-tertawa kecil. Sepertinya perasaan Lee Dong-Hae mulai membaik, makanya ia usil semalaman.

“Ayo janji!”

Oh astaga, Lee Dong-Hae belum selesai rupanya.

“Oke, aku janji. Ayo cepat tidur.”

“Kau bahkan belum dengar apa rahasianya.”

Sun-Ae memberengut, sejujurnya ia mulai diserang rasa kantuk tak tertahankan, tapi bayi besarnya ini tidak mau diam. Sun-Ae menoleh dan menemukan wajah polos milik Dong-Hae. Bibirnya tipis dan sedikit memerah, matanya juga memerah dan Sun-Ae tahu ia mulai mengantuk, tetapi ia masih tersenyum-senyum seperti orang gila.

“Aku mencintaimu.”

Sun-Ae mengangguk. Rahasia Lee Dong-Hae sangatlah mudah ditebak.

Sun-Ae mengusap rambutnya lalu mengecup kelopak matanya dengan lembut. Kapan ia bisa berhenti mencintai laki-laki ini? Semoga saja tidak pernah. Ia berniat mencintai laki-laki ini sepanjang hidupnya.

“Senang mendengarnya,” Sun-Ae melihat Lee Dong-Hae tersenyum, lalu laki-laki itu kembali berlindung di sela-sela rambutnya yang harum. “Aku tidak percaya pada segala bentuk keberuntungan, tapi kau adalah satu-satunya keberuntungan yang aku syukuri. Memiliki Lee Dong-Hae dalam hidupku adalah sebuah keberuntungan yang berbahaya.”

Dong-Hae mendengar semuanya. Ia tahu itu, karena itulah ia mengeratkan pelukan di sekeliling tubuh gadis itu. “Lalu kau berniat melepaskan keberuntunganmu itu?”

Sun-Ae tersenyum. “Tentu saja tidak,” katanya pelan. Ia lalu menutup mata dan menepuk punggung Dong-Hae lagi. “Aku akan terus bergantung pada keberuntunganku yang satu ini dan tidak akan melepaskannya. Aku akan menunggumu kembali padaku. Dan ketika saat itu tiba aku akan bersikap egois untuk menyimpan keberuntungan ini hanya untukku saja. Tidak ingin kubagi-bagi. Saat kau kembali padaku nanti, aku ingin menjadi serakah.”

“Kalau begitu teruskanlah.”

“Apa?”

“Mencintaiku hingga kau tidak bisa lagi mencintaiku.”

“Sudah kulakukan.”

“Kalau begitu sekarang giliranku untuk mencintaimu hingga aku tidak bisa lagi mencintaimu.”

“Sampai kapan itu?”

“Sampai aku tidak bisa lagi mencintaimu, itu berarti selamanya. Sepanjang waktu.”

***

“You know that place between sleep and awake? The place where you can still remember dreaming? That’s where I’ll always love you, that’s where I’ll be waiting.”

-FIN-

 

3 Comments (+add yours?)

  1. ayumeilina
    Jul 20, 2016 @ 15:22:59

    Fix!!! Diabetes habis baca FF ini. Ya ampun manisnya kelakuan Hae 😂😂😂 baper 😢

    Reply

  2. chocogrill
    Jul 20, 2016 @ 19:07:04

    tadi baru makan yg pedes. skarang dapet yg manis” 😄 manisnya itu bikin ngefly kaya cerita ini 😁😊 good job thor 👍

    Reply

  3. Elpeunya_SJ
    Jul 26, 2016 @ 08:13:54

    Donghaekk… manisnya sampe tumpeh2
    ceritanya ringan but sooooo fluffy. Keep fighting authornim ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: