Protect Our Baby [2-END]

Protect Our Baby

Author : DoongDoongNemo ^^

Tittle : Protect Our Baby PART 2 END

Category : PG-16,Sad,KEKERASAN, marriage life,Chapter

Cast : Cho Kyuhyun

Oh Nara

Cho Sungjin

Jang Hyori

Hwang Jiho

ALERT!: VERY LONG CHAPTER!

*

*

*

Cukup…

Aku mohon Cukuplah…

Jangan menambah derita lagi…

Terlalu banyak jahitan luka di hati ini…

Luka yang terukir kemarin masih basah dalam kenangan…

Tak sanggup aku menahan sakit ini….

*

*

*

 

‘’Distrik Dongdaemun-gu. Tepat pukul sepuluh kau sudah harus berada di sana.’’

 

Dengan terengah dan terseok-seok Nara berlari memasuki Stasiun Gwangjin-gu. Mereka menyuruhnya untuk pergi ke distrik Dongdaemun-gu tepat waktu. Beberapa kali tubuh mungilnya saling bebenturan dengan para pengunjung stasiun lain yang sedang di buru waktu, sama sepertinya. Stasiun Nampak ramai, Nara di buat resah. Ia tak memiliki banyak waktu, jam di tangannya menunjukan pukul Sembilan lebih tigapuluh tujuh menit.

 

Dengan tangan begetar Nara menempelkan T-money miliknya pada mesin penghadang, saat pintu mesin itu terbuka Nara dengan terburu-buru berlari kearah pintu Subway. Penampilannya masih sangat kacau, tapi gadis itu sama sekali tak peduli. Saat ini nyawa putranya sedang terancam.

 

Nara kebingungan saat melihat hampir seluruh pintu subway di penuhi oleh para penumpang yang hendak masuk dan keluar. Bahkan Nara ikut berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Saat antrian mulai lengang dengan lincah Nara memasuki subway. Di dalam Nara kembali berdesak-desakan. Bahkan ia harus berdiri karna sama sekali tak ada bangku kosong yang tersisa.

 

Nara berjalan dengan terseok dan meringis kearah pilar besi di dekat pintu subway. Nara menyandarkan dahinya di tiang besi, mengatur nafasnya yang terengah. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya hingga membuat rambut yang menutupi dahinya ikut basah karnanya. Flatshoes yang rusak di bagian alasnya membuat kaki Nara terlihat terlebih stocking yang gadis itu kenakan sobek dibagian itu. lutunya terluka hingga berdarah Dan wajahnya, wajah gadis itu di penuhi luka lebam kebiruan dan darah segar di ujung bibir dan pelipisnya. Tapi gadis itu seolah tak peduli.

 

Bahkan saat para penumpang lain menatap dirinya dengan mengerutkan dahi, banyak juga yang melihat keadaanya dengan wajah simpati. Nara memejamkan matanya, dan buliran bening itu kembali mengalir dari cela matanya yang terpejam. Tubuhnya bergetar hebat, gadis itu benar-benar ketakutan dan amat terguncang. Pikirannya terus terbayang-bayang wajah histeris bayinya tadi. Dan di telinganya masih terngiang jeritan bayinya tadi. Nara terisak, sontak para penumpang kembali memusatkan perhatiannya pada gadis itu.

 

DRRTT DRRRTT DRRTT

 

Nara menghapus air matanya dengan kasar. Ia langsung merogoh ponsel yang di simpan di saku cardigan tebalnya. Tangannya bergetar saat melihat nama yang tertera di ponsel pemberian orang-orang yang menculik putranya itu. BIG BOS, dengan tak sabaran Nara mengeser tombol.

 

‘’Yeobseo…’’ ucapnya parau.

’Waktumu hanya sepuluh menit lagi, nona.’’ Nara membelalakan matanya. Jantungnya semakin terpompa dengan cepat dan tak terkendali. Kakinya lemas bahkan tubuh gadis itu hampir tumbang. Dengan gelisah ia melirik kearah jam di tangannya. Jarum panjang mengarah keangka sepuluh.

‘’Tunggu aku…tunggu aku..’’ jerit Nara seketika. Tangisnya pecah bahkan para penumpang semakin berbisik ramai sambil membicarakannya.

 

TUTT TUTT TUTT

 

‘’Yeob..Yeobseo!!.’’

‘’Yeobseo!!!!.’’

‘’Yeobseo!!!!.’’ Nara terus berteriak dengan ponsel yang masih di telinganya. Dengan perlahan ia berjongkok sambil menangis histeris. Ia menangisi kebodohannya yang terlalu banyak membuang waktu. Hatinya semakin gelisah mengingat bayinya yang masih dalam bahaya.

 

PING

 

Dengan cepat Nara menatap layar ponsel yang menyala dan menampilkan notifikasi pesan. Matanya membelalak kaget dan dengan seketika ia bangkit lalu mata sembabnya membidik keseluruh penjuru subway.

 

Pesan itu berisi gambar dirinya yang sedang menangis menyedihkan. Dan satu gambar lagi yang menampilkan pria yang menggunakan jaket kulit berwarna hitam serta topi berwarna senada, pria itu juga menggunakan celana PDL hijau army. Nara mengartikan bahwa salah satu dari komplotan penculik bayinya ada di dalam subway yang sama dengan dirinya. Dengan langkahnya yang bergetar Nara berjalan untuk mencari sosok pria yang ada di dalam pesan gambar tersebut.

 

DRRTT DRRRTTT

 

‘’Yeobseo!.’’ Dengan tak sabaran Nara mengangkat telepon dan menghentikan langkahnya.

‘’Sangat disayangkan, nona. Pria itu yang seharusnya membawamu pada putramu. Tapi sayang kau terlambat. Hahahahahahaha.’’

 

TUT TUT TUT

 

Langkah kaki Nara terhenti seketika, dengan nafas memburu ia kembali membidik seluruh penjuru subway. Lalu retina matanya menangkap sosok itu. pria yang ada di dalam pesan bergambar itu sedang berdiri di pintu subway sebelah utara. Pria itu menyeringai kearahnya. Nara mebelalakan matanya dengan kaki bergetar ia mulai melangkah.

 

Pendengaranya terusik oleh suara pemberitahuan bahwa subway yang ia tumpangi sudah tiba di stasiun Dongdaemun-gu. Saat itu pula para penumpang mulai bersiap untuk menuruni subway. Pandangan Nara tak pernah putus pada sosok pria misterius di ujung sana. Tubuh mungilnya tenggelam di dalam desakan penumpang, tapi ia terus mencoba melangkah untuk menghampri pria itu.

 

‘’TUAN!!!!.’’ Nara berteriak saat melihat pria itu melangkah menuju pintu subway bersiap untuk turun. Nara terus mencoba melawan desakan para penumpang tapi usahanya gagal. Bahkan desakan semakin bertambah saat para penumpang yang hendak menaiki subway semakin membuat desakan membuludak.

‘’TUAN!!!!.’’

‘’TUAN!!! BERHENTI TUAN!!!!.’’

Para penumpang menatap Nara sinis, mereka merasa terganggu oleh gadis itu. Nara semakin kelabakan saat ia melihat pria itu hendak menuruni subway. Dengan penuh tekad Nara mencoba melawan desakan para penumpang. Tentu saja perbuatannya semakin membuat para penumpang lain terganggu. Tapi Nara tak peduli, waktunya tak banyak. Putranya sedang menunggu dan membutuhkannya.

 

Saat tubuhnya berhasil melewati kerumunan penumpang ia langsung melangkahkan kakinya keluar subway. Ia mengedarkan pandangannya kekanan dan kekiri. Lalu gerakan kepala berhenti saat ia melihat pria tadi berada tak jauh darinya. Pria itu melihat Nara lalu tersenyum meremehkan. Pria itu menutupi kepalanya dengan hoodie jaket kulitnya lalu berbalik untuk meninggalkan tempat itu.

 

‘’BERHENTI!!!!!!’’

‘’TUAN!!! BERHENTI!!!!.’’

Nara seketika berteriak dan berlari mengejar pria itu. sesekali ia bertuburukan dengan para pengunjung stasiun. Lagi-lagi ia dihadiahi makian oleh para pengunjung yang merasa terganggu. Pria itu terus berjalan tanpa mengihraukan teriakan Nara.

 

‘’TUAN!! BERHENTI AKU MOHON!!!.’’

‘’TUAN!!!.’’

 

Nara terus berlari sekuat tenaga mengejar pria itu. Saat jarak mereka semakin dekat Nara semakin mempercepat gerakan kakinya. Tanpa membuang-buang waktu Nara meloncat menarik Hoodie yang menutupi kepala pria itu. seketika langkah pria itu terhenti.

 

‘’TUAN!! KATAKAN DI MANA BAYIKU!!’’ Nara membalikan tubuh pria itu. lalu ia menarik kerah jaket kulit yang pria itu kenakan. Pria itu tetap bergeming sambil mencoba melepaskan jeratan Nara. Tapi Nara tak mau menyerah begitu saja.

 

‘’KATAKAN DI MANA KALIAN MENYEMBUNYIKAN BAYIKU???!!.’’ Nara menjerit histeris sambil terus menguncang tubuh pria itu. bahkan adegan itu menjadi tontonan para pengunjung stasiun. Pria itu mulai jengah dengan kasar ia melepaskan jeratan Nara hingga tubuh gadis itu terjerembab di atas lantai. Pria itu kembali melangkah. Tapi langkahnya terhenti saat Nara mencekal kakinya. Ia terus berjalan tanpa mempedulikannya hingga tubuh mungil Nara ikut terseret oleh langkahnya.

 

‘’KAU TAK AKAN BISA LARI DARIKU TUAN!!!.’’ Pria itu mulai jengah, dengan sekuat tenaga ia menendang kakinya keudara hingga cengkaram Nara terelepas, tapi Nara buru-buru mencekal kakinya kembali. Kesabaran pria itu mulai habis. Dengan hitungan detik ia kembali berhasil melepaskan jeratan Nara dan saat Nara hendak meraih kakinya pria itu langsung menendang dengan membabi buta tubuh dan wajah Nara menggunkan sepatu boot dengan alas tebal yang ia kenakan.

 

BUGHHH

BUGHHH

BUGHHH

 

Seketia suara jeritan histeris para pengunjung yang melihat adegan itu terdengar. Tapi diantara mereka tak ada yang berani memisahkannya. Lalu pria itu berbalik dan hendak melangkah, Tapi kembali Nara segera mencekal kaki pria itu, hingga tubuh pria itu ikut terjatuh kelantai. Dengan sekuat tenaga Nara mencoba bangkit dan mensejajarkan wajahnya dengan pria itu.

 

‘’KATAKAN DIMANA PUTRAKU????!!!.’’

‘’DIMANA KALIAN MENEYEMBUNYIKANNYA???!!!’’

Nara berteriak histeris tepat di depan wajah pria itu. pria itu mengertakan giginya geram. Lalu dengan secepat kilat pria itu membalikan posisi mereka. Hingga saat ini tubuh yang dua kali lipat lebih besar dari tubuh Nara itu menindihnya. Pria itu mencekik perpotongan leher Nara. Nara membelalakan matanya sambil sekuat tenaga melepaskan tikaman pria itu.

 

Suara riuh jeritan para pengunjung stasiun kembali terdengar, bahkan kali ini beberapa pria mulai mencoba memisahkan adegan kekerasan itu. para pria menarik tubuh kekar pria misterius itu hingga akhirnya tubuh pria itu terlepas. Nara terbatuk sambil memegangi lehernya yang mati rasa.

 

Dengan sekuat tenaga pria melepaskan cengkaram para pria yang menahan tubuhnya dengan sekuat tenaga. Lalu dengan cepat ia berbalik dan hendak berlari. Tapi lagi-lagi gerakan kakinya kembali tertahan. Dengan mendesis ia melirik kearah kakinya. Benar saja jemari mungil Nara sudah mencekaram dengan kuat di sana. Walaupun tubuhnya penuh luka tapi gadis itu masih memiliki sisa tenaga untuk melawannya. Pria itu mendesis lalu meludahi Nara yang terkulai lemas di bawahnya.

 

‘’SIALAN!!!!.’’ Pria itu sekuat tenaga kembali menghempas cengkaram Nara dengan sekali tendangan. Lalu ia memberikan tendangan bertubi-tubi pada Nara, sebelum gadis itu kembali melawannya.

 

BUGGHH

BUUGHHH

BUGGHHH

 

Nara terus bertahan di tengah rasa sakit yang luar biasa ia rasakan. Dengan lemah tangan mungilnya hendak kembali meraih kaki pria itu…..

 

BUGHHHH

 

Secepat kilat pria itu menendang tubuh Nara hingga gadis itu terhempas ke lantai.

 

PRITTT PRITTT PRITTT

 

Pria itu mengalihkan pandangan saat melihat petugas stasiun hendak menuju di tempat ia berada. Tanpa membuang-buang waktu pria itu segera menutupi kepalanya dengan hoodie jaketnya, lalu berlari meninggalkan tempat itu. saat jaraknya cukup jauh ia kembali berbalik dan menyeringai saat melihat orang-orang mulai menggerubuni Nara yang tergeletak tak berdaya dan penuh luka di atas lantai. ia kembali menyeringai dan berbalik kemudian melanjutkan langkahnya dengan santai.

 

*

*

*

Tokyo, Jepang

 

Suara alunan musik tradisional dan tarian berirama yang di tampilkan oleh para Geisha membuat suasana di Ryeoutei atau restoran tradisonal Jepang semakin membuat suasana terasa damai dan nyaman. Ryeoutei adalah restoran Jepang yang tergolong mewah dan Ryoutei merupakan tempat khas dimana pertemuan bisnis level tinggi atau pertemuan politik bertempat rahasia.

 

Kyuhyun sangat menikmati jamuan makan malam yang di suguhkan oleh calon mitra bisnisnya. Ia merasa tersanjung dengan respon positif yang di tunjukan oleh Akira Mori, salah satu pengusaha terkaya di Jepang. Pria tujuhpuluh delapan tahun memiliki bisnis real estate Mori Trust dan pemilik Shangri-La Hotel di Tokyo dan pria paru baya itu pun memiliki delapan puluh delapan bangunan yang di sewakan dan tiga puluh hotel di Jepang.

 

Sedari dulu Kyuhyun sangat tergiur untuk menjalin kerjasama dengan pria hebat dan terkenal ramah itu, tapi niatnya selalu gagal karna ayahnya selalu menghalang-halangi rencananya. Ayahnya selalu berkata bahwa mitra dari Jepang selalu mempersulit untuk melakukan negosiasi lebih baik mencari mitra dalam negri atau Negara lain.

 

Tapi Kyuhyun tetap teguh dalam ambisinya, ia bahkan sudah membayangkan kiprah Blue Bird Group kedepannya jika berkerja sama dengan perusahan Akira Mori. Blue Bird Group sendiri adalah perusahaan yang bergerak di bidang Batu bara dan kontruksi, Kyuhyun ingin sekali merambah di bidang Real estate dan ini adalah saat yang tepat menurutnya. Dan maksud kedatang Kyuhyun ke Tokyo tentu saja untuk menjalankan ambisinya untuk berkerja sama dengan Akira Miro.

 

Dan hatinya senang bukan kepalang saat pria tua nan ramah itu menerima dan bersedia melakukan kerja sama dengan perusahaannya. Tak peduli dengan reaksi ayahnya nanti, Kyuhyun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Yah.. Kyuhyun sama sekali tak memberitahu rencana bensarnya ini pada ayahnya. Karna jika ayahnya tau pasti ia akan mencegah rencananya ini. Kyuhyun dan orang-orang kepercayaanya sudah menyusun rencana dengan masak untuk melakukan kerjasama ini.

 

‘’Terimakasih atas kerjasama dan jamuan yang tuan berikan.’’ Ucap Kyuhyun fasih dalam bahasa Jepang, Akira hanya tertawa renyah. Pria itu sangat ramah hingga Kyuhyun tidak terlalu gugup berhadapan dengannya. Kyuhyun meraih cangkir berisi Mugicha minuman berupa teh namun uniknya Mugicha terbuat dari gandum bakar.

‘’Aku suka dengan kegigihanmu, anak muda.’’ Akira kembali tertawa, Kyuhyun hanya tersenyum sambil membungkukan kepalanya hormat.

 

SREEKKK

 

Pintu terbuka dan menampilkan para Nakai atau pelayan wanita dengan pakaian tradisional Jepang yang membungkuk hormat. Lalu Ki Joon masuk kedalam ruangan di mana Kyuhyun dan Akira sedang bercengkrama. Ki Joon membungkuk hormat pada Akira dan Kyuhyun. Kyuhyun mengerutkan dahinya, sebelumnya Ki Joon tak pernah mengganggu pertemuan bisnisnya tapi saat ini apa yang dilakukan Kijoon sedikit membuat Kyuhyun emosi, sangat tidak sopan menurutnya.

 

Ki Joon menghampiri Kyuhyun lalu berbisik. Kyuhyun mendengarkan dengan seksama kalimat-kalimat yang di ucapkan Ki Joon di telinganya. Lalu tubuh Kyuhyun seketika menegang, wajahnya merah padam kedua tangannya mengepal di atas pahanya. Akira sedikit bingung dengan perubahan rekan bisnisnya itu.

 

‘’Sebelumnya aku mohon maaf sebesar-besarnya, tuan Akira Miro.’’ Kyuhyun berdiri lalu membungkuk berkali-kali pada Akira yang masih bingung di tempatnya. Akira menyuruh Kyuhyun untuk menghentikan aksinya.

‘’Apa ada masalah?.’’

‘’Ya, dan aku harus berada di Korea saat ini juga, tuan.’’

‘’Ahh~ kalau begitu cepat kau pergi dan segara urus masalah itu.’’

‘’Sekali lagi aku minta maaf tuan.’’

‘’Sudah-sudah, lebih baik kau segera pergi.’’

‘’Baik, terimakasih tuan atas kebijaksanaan anda.’’ Kyuhyun dan Ki Joon membungkuk memberi hormat pada Akira Mori. Dan dengan tergesa-gesa mereka meninggalkan ruangan itu. tak lama kemudian sekertaris pribadi Akira masuk kedalam.

‘’Putra tuan Cho menjadi korban penculikan, tuan.’’ Akira kaget lalu mengangguk dengan raut bingung lalu menghela nafsnya dengan simptai, bagaimanapun ia seorang ayah dan ia sangat mengerti perasaan Kyuhyun saat ini.

 

*

*

*

*

 

Kyuhyun mencengkarm Tab di tangannya dengan amarah, di dalam Tab itu sedang di putar adegan kekerasan yang dilakukan seorang pria pada seorang gadis di sebuah stasiun. Ya.. video kekerasan yang dialami oleh Nara sudah menjadi viral di Korea. Entah siapa yang menyebarkan video itu ke Internet, Kyuhyun tak peduli. Yang ia pikirkan saat ini keadaan putranya yang saat ini masih belum di temukan.

 

BRAKKKK

 

‘’BAJINGAN!!!.’’ Kyuhyun melempar Tab mahalnya keatas lantai jet pribadi miliknya. Ia mencengkaram pinggiran sofa dengan emosi yang mulai mengepul.

‘’Aku akan menghabisi kalian dengan tanganku sendiri, jika kalian berani melukai putraku seujung kukupun.’’

‘’Apa orangtuaku sudah mengetahui ini?.’’

‘’Nde. Presdir Cho sudah mengerahkan aparat kepolisian untuk menyelidiki kasus ini.’’ Kyuhyun mengusap wajahnya kasar dan menjambak rambutnya prustasi.

‘’Aku tak menyangka mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku.’’ Kyuhyun membidik kearah luar jendela. Ia menatap dengan kilatan amarah saat telintas dalam benaknya dalang utama dari penculikan bayinya.

‘’Lalu bagaimana dengan gadis itu?.’’ raut wajah Kyuhyun berubah menjadi kalut dan khawatir saat mengingat Nara. Di dalam video yang ia lihat tadi sunguh ia benar-benar ingin mencabik pria yang sudah menghajar ibu dari anaknya itu.

‘’Nona Oh sudah ditangani oleh dokter dirumah sakit. Dan ia masih belum sadarkan diri.’’ Kyuhyun memejamkan matanya sambil memukuli dahinya dengan kepalan tangannya. Sungguh rasanya ia ingin segera mendarat di Korea.

*

*

*

Wooridul Spine Hospital, Seoul

 

Tubuhnya masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Ditangannya terpasang infus, keadaan Nara sangat memprihatinkan. Tubuhnya di penuhi luka memar yang membiru. Bahkan dibagian bahu dan pungungnya terdapat luka yang sudah menghijau. Wajahnya pun dipenuhi oleh luka, bahkan dokter harus menjahit luka yang berada di lutut Nara.

 

Hanna dengan lembut membenarkan letak selimut menantunya. Saat ia menatap wajah menantunya ia kembali terisak dan tubuhnya kembali tumbang di atas kursi. Dengan bergetar ia mengelus rambut hitam lebat Nara.

‘’Maafkan kami.’’

‘’Maafkan kami.’’ Hanna terisak sambil membelai dengan penuh kasih luka-luka di tubuh Nara. Hanna tak bisa membayangkan betapa tersiksanya Nara. Membayangkannya saja ia tak kuasa. Ia merasa amat bersalah, bagaimanapun Nara seperti ini karna putranya.

 

CKLEK

 

Hanna tak bergeming ia terus saja menangis sambil mengusap rambut Nara. Seunghwan menghela nafas beratnya, lalu berjalan menggunkan tongkat miliknya dengan perlahan. Saat ia sampai di kaki ranjang menantunya ia mengusap kaki Nara dengan lembut.

 

‘’Suamiku, apa yang telah kita lakukan pada gadis ini?.’’

‘’Kita telah menghancurkan hidupnya…’’

‘’Tuhan ampuni aku Tuhan…’’ Hanna terus terisak sambil menyalahkan dirinya. Sedangkan Seunghwan hanya bisa menunduk sedih. Ia ikut merasakan perasaan istrinya. Harusnya dulu ia tak memkasa Kyuhyun untuk menikahi gadis berhati lembut itu.

‘’Bukan….’’

‘’Bukan putra kita pelakunya…’’ Tangis Hanna seketika terhenti, lalu ia memandang suaminya dengan sendu. Ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Seunghwan mengangguk lemah dengan mata berkaca-kaca.

‘’Kyuhyun berada di Jepang.’’ Ucap Seunghwan parau karna menahan linangan air mata. Hanna membelalakan matanya dengan air mata yang kembali berlinang. Tubuhnya mengigil, entah mengapa ini lebih menakutkan. Jika bukan Kyuhyun yang melakukanya lalu siapa yang melakukan semua ini? Yang menyiksa Nara? Dan menculik Sungjin?

‘’La..Lalu siapa?.’’ Hanna semakin bergetar sedangkan Seunghwan berjalan lemah kearah sofa, ia pun ketakutan luar biasa.

‘’LALU SIAPA YANG MENCULIK CUCUKU???.’’ Hanna menjerit histeris dengan tubuh mengigil hebat.

*

*

*

Nara meringis dalam tidurnya. Hanna mencoba menenangkan Nara dengan mengelus wajahnya dengan sayang. Air mata Hanna sudah mengering, ia sudah lelah untuk menangis. Ia berharap semoga kejadian ini tidak akan mempengaruhi kesehatannya juga. Ia ingin melindungi Nara dan cucunya hingga akhir.

 

Hati Hanna masih gundah mengingat cucunya masih dalam bahaya. Ia sangat ketakutan luar biasa. Bagaimana jika para penculik itu melukai cucunya atau para penculik itu menghabisi nyawa cucunya. Seketika buliran air mata Hanna kembali berlinang. Di tahan sekuat tenaga pun ia tak bisa memendam kesedihan luar biasa ini.

 

Suaminya sedang berunding dengan aparat kepolisan di luar. Mereka harus menindak lanjuti kasus ini. Hanna bersumpah akan menuntut keadilan untuk Nara dan cucunya. Ia ingin para pelaku di jatuhkan hukuman yang setimpal ata perbuatan keji yang telah mereka perbuat.

 

‘’Sungjin…’’ Hanna menoleh saat mendengar suara lirih Nara.

‘’Nara.. kau sudah sadar sayang?.’’ Hanna bangkit dari kursi langsung menekan tombol. Dengan perlahan Nara membuka mata, samar-samar ia melihat sosok ibu mertuanya sedang menatap kearahnya dengan raut khawatir dan linangan air mata.

 

Rasanya berat sekali untuk ia membuka matanya hingga ia kembali memejamkan mata. Tubuhnya sakit luar biasa, Kepalanya terasa berat. Tak lama dokter dan suster datang bergegas memeriksa keadaan Nara. Dokter menyorotkan senter kearah mata Nara, lalu ia memeriksa denyut nadi di dada Nara menggunakan stetoskop. Sedangkan suster memeriksa tekanan darah Nara. Hanna menunggu dengan cemas.

‘’Bersyukur pasien memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat, ia bisa menjalani perawatan dan tanpa ada yang harus di operasi.’’ Hanna menghembuskan nafas lega. Diliriknya Nara yang masih memejamkan mata dengan mulut yang masih berucap lirih nama bayinya.

‘’Pasien hanya memerlukan istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak bergerak karna luka-luka di tubuhnya masih sangat basah dan membengkak.’’ Hanna hanya menganggukan kepala mengerti.

‘’Kalau begitu saya permisi, semoga pasien lekas sembuh.’’

 

***

‘’Nak..setidaknya kau harus makan.’’ Hanna terus membujuk Nara yang sedaritadi hanya duduk memeluk kakinya sambil bersandar pada kepala ranjang. Linangan air matanya tak pernah berhenti mengalir. Tatapannya kosong hingga membuat Hanna ikut tersiksa hanya dengan melihatnya saja.

‘’Kau harus makan. Sayang..’’ Nara mengeleng lemah, dengan perlahan ia menatap ibu mertuanya lalu air mata semakin deras membanjiri wajahnya yang pucat.

‘’Ada apa sayang? Katakan dimana yang sakit?.’’ Hanna khawatir dengan cepat ia menyimpan rantang makanan untuk Nara di atas nakas. Ia ikut duduk di atas ranjang mengusap air mata menantunya.

‘’Eommoni…’’ lirih Nara bergetar.

‘’Ia sayang?.’’ Hanna cemas melihat tatapan ketakutan yang terpancar dari mata menantunya. Hanna mencoba untuk mengusap airmata kesedihan mendalam itu.

‘’Eommoni…..’’ tangis Nara pecah tubuhnya bergetar hebat tengorokannya seperti tertahan sesuatu hingga rasanya sulit untuk dia mengungkapkan betapa hancurnya ia saat ini betapa rindunya ia pada sang bayi. Hanna ikut menangis dia membawa Nara dalam pelukannya di elusnya rambut hitam lebat Nara yang tergerai. Tubuh Nara bergetar hebat dalam pelukannya dan tangisan Nara semakin menjadi.

 

‘’Eommoni… putraku… Sungjin… bayiku.’’ Nara histeris di dalam pelukan Hanna.

‘’Dimana dia?.’’

‘’Bayiku…. Apa dia kelaparan?.’’

‘’Bayiku…pasti menangis saat aku tak ada di dekatnya..’’

‘’Bayiku…pasti mencariku..’’

‘’Eommoni… bayiku baik-baik saja bukan? Mereka tidak akan melukai bayiku?.’’ Nara bertanya pada Hanna, sedangkan Hanna hanya bisa menangis tak bisa menjawab pertanyaan Nara.

‘’Aku jahat…Aku membiarkan mereka membawa bayiku.. aku jahat..’’

‘’Sungjin…Sungjin..’’ Nara terus memukuli dadanya yang terasa sesak sedangkan Hanna mencoba untuk menghalangnya.

‘’Hentikan sayang..’’ Hanna langsung menarik tubuh tak berdaya Nara dalam pelukannya. Nara semakin terisak dan bergetar. Air matanya membasahi bahu Hanna.

‘’Sungjin…Sungjin..Sungjin…’’ lirihnya dengan air mata. Nara menutup matanya ia berharap agar saat ia membuka mata ini hanya mimpi buruknya.

 

CKLEK

 

Dengan lemah Nara membuka matanya. Dengan perlahan ia memandang kearah pintu yang terbuka. Seketika tubuhnya menegang. Jatungnya seolah terpompa dengan cepat dan sistem pernafasnya seolah tak berfungsi dengan benar. seseorang diambang pintu menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan.

*

*

*

 

Kyuhyun POV

 

Mobil milikiku berhenti tepat di pintu masuk rumah sakit. Ki Joon dengan segera membukakan pintu mobil untukku. Aku langsung bergegas memasuki pintu rumah sakit. Aku berjalan dengan tergesa-gesa.

 

‘’Tuan Cho..’’ aku menghentikan langkahku saat seseorang memanggilku. Lalu aku menoleh dan mengerutkan dahiku karna aku tak mengenali seseorang itu.

‘’Aku asisten detektif Lee.’’ Aku mengangguk mengerti. Jadi pria muda ini adalah asisten Hyukjae Hyung. Ya pada akhirnya aku harus meminta bantuan detektif profesional seperti Hyukje Hyung untuk mengikis kasus bayiku.

‘’Lalu dimana Hyukjae Hyung?.’’

‘’Dia sedang meninjau lokasi penyiksaan korban tuan, dan saya diminta untuk menemui anda dan korban di rumah sakit ini.’’

‘’Baiklah kalau begitu.. Ki Joon dimana kamar gadis itu?.’’

‘’Mari ikut saya tuan..’’ Ki Joon berjalan di depan dengan tak banyak bicara aku mengekorinya. Cukup jauh kami melangkah akhirnya kami berhenti tepat di sebuah pintu kamar.

‘’Ini kamarnya, Tuan.’’ Ku dekati pintu dan membukanya. Tapi gerakan tanganku terhenti saat mendengar isak tangis di dalam. Aku menyurutkan niatku untuk membuka pintu lebih lebar.

 

‘’Eommoni… putraku… Sungjin… bayiku.’’

‘’Dimana dia?.’’

‘’Bayiku…. Apa dia kelaparan?.’’

‘’Bayiku…pasti menangis saat aku tak ada di dekatnya..’’

‘’Bayiku…pasti mencariku..’’

‘’Eommoni… bayiku baik-baik saja bukan? Mereka tidak akan melukai bayiku?.’’

‘’Aku jahat…Aku membiarkan mereka membawa bayiku.. aku jahat..’’

‘’Sungjin…Sungjin..’’

‘’Hentikan sayang..’

 

Dari celah pintu yang sedikit terbuka aku bisa melihat semuanya. Kekacauan gadis itu…. dia menangis histeris didalam pelukan eomma. Dari sini aku bisa melihat tubuh penuh luka lebamnya. Terlebih wajahnya, dari video yang aku lihat tadi tak heran ia mengalami luka seperti itu.

Aku mengertakan pegangan tanganku pada handel pintu. Entah mengapa dadaku terasa sesak mendengar isakannya. Hatiku marah melihat kondisinya. Aku menelan ludahku yang terasa mencekat tengorokanku. Nafasku semakin memburu saat aku mendengar ia menyalahkan dirinya. Cukup… aku rasa ini sudah cukup. Dengan tersulut emosi yang entah ku mengerti aku membuka pintu.

 

CEKLEK

 

Seketika matanya yang terpejam terbuka. Ia menegang saat melihatku.. di sorot matanya yang sayu aku melihat kehancuran..kesakitan..kerinduan..dan permohonan di sana. Lalu eomma melepaskan pelukannya dengan perlahan dan eomma mengikuti arah pandangan gadis itu.

 

‘’Kyuhyun-na…’’ lirih eomma serak. Aku tak bergeming, aku dan gadis itu masih saling melemparkan pandangan satu sama lain. Semakin aku melihatnya semakin dada ini sesak terasa. Aku tak tau mengapa demikian? Gadis itu terluka.. dan itu akulah penyebabnya, hanya itu yang aku tau.

 

‘’Ki Joon kau disini?.’’ Aku mendegar suara abojie dari luar. Lalu gadis itu memutuskan kontak mata kami. Ia menunduk sambil mengusap air matanya dengan kasar. Ia bergerak hendak menuruni ranjang.

 

‘’Kau.. kapan kau kembali?.’’ Tanya abojie dengan nada terkejut saat memasuki kamar. Aku menoleh sekilas tanpa sanggup menjawab pertanyaannya. Entah mengapa seluruh sistem kerja tubuhku tak berfungsi dengan benar saat ini.

 

‘’Nara apa yang kau lakukan?.’’ Aku kembali menoleh kearah gadis itu. mataku membelalak saat ia sedang mencoba melaps paksa infus yang terpasang di lengannya. Eomma menahan tindakan gadis itu. tapi usaha eomma sia-sia saat gadis itu sudah melepasakan infus tadi.

 

Lalu tatapan penuh luka gadis itu seolah menghunus diriku. Dengan langkah lemah dan bergetar hebat ia bejalan kearah ku. Aku masih diam terpaku menunggu apa yang akan ia lakukan padaku. Air matanya berderai bahunya bergetar seiring isakannya yang semakin menjadi. Dan saat ini ia tepat berada di hadapanku.

 

Ia mendongkakan kepalanya menatapku dengan penuh kehancuran dan permohonan. Aku membalas tatapannya dengan enggan.. aku merasa berdosa hanya untuk memandang tatapan itu. tengorokanku tercekat aku mengepalkan tanganku.

‘’Dimana..’’

‘’Dimana….’’

‘’DIMANA KAU MENYEMBUNYIKAN BAYIKU!!!!.’’ Jeritnya histeris seketika sambil memukul dadaku bertubi-tubi. Aku diam saat ia menyerangku. Aku mendongkakan wajahku kearah lain.

‘’Dimana dia….katakan dimana dia….’’

‘’KATAKAN!!!!.’’

Dia terus memukul dadaku dengan lemah. Bahkan tubuhnya sesekali kehilangan keseimbangan. Dengan perlahan tubuhnya tumbang dan ia masih terisak sambil bersimpuh dilututku.

 

‘’Katakan dimana putraku?.’’ Ia meraih telapak tanganku dengan lemah. Dingin.. ia sangat dingin, aku dapat merasakannya. Bukan hanya tangannya yang dingin tapi tubuhnyapun ikut mengigil.

‘’Aku mohon…’’ nafasku semakin memburu saat ia bersujud di kakiku. Ia tak pantas besujud pada pria biadab sepertiku. Dengan kasar aku meraih bahu lemahnya lalu membuatnya bangkit dan mensejajarkan tubuhnya denganku.

 

‘’Dengar…’’

‘’Bukan aku yang melakukannya…’’

‘’Bukan aku….’’

Susah payah aku berucap karna seperti ada sesuatu yang mencekal di tenggorokanku. Hati ini sesak saat memandangnya dari dekat seperti ini. Terlebih tubuhnya yang aku sanggah begitu lemah tak berdaya.

‘’BOHONG!!.’’

‘’Yaa!! Aku tau kau tak akan percaya padaku!!!.’’

‘’KAU BOHONG TUAN!!!.’’

‘’TERSERAH APA KATAMU.’’

‘’TAPI YANG JELAS BUKAN AKU PELAKUNYA.’’

‘’Jika bukan kau siapa lagi yang tega melakukan ini semua padaku dan bayiku??.’’

 

DEG

DEG

DEG

 

Tubuhku bergetar saat mendengar ucapanya. Dada ini semakin terasa terhimpit kepalaku terasa berputar-putar kaki ini seolah tak berpijak. Sekejam apa aku selama ini? Hingga ia berkata demikian. Cho Kyuhyun kau benar-benar naif… kau sudah menghancurkan hidupnya dan kau masih menanyakan sekejam apa kau selama ini?. Aku tertawa getir. Aku kembali menatapnya dengan tajam dan bergetar.

 

Gadis itu kembali roboh, ia menangis tersedu-sedu diatas lantai. ia memukuli dadanya berteriak histeris memanggil bayi kami. Tangis eomma pun ikut pecah saat ini. Gadis itu merangkak kearah abojie yang mematung di belakangku. aku memutar tubuhku untuk terus memantau apa yang akan dilakukan gadis itu.

 

‘’Abojie…’’ ia mendongkakan kepalanya dengan perlahan tangan mungil gemetarnya mengapai kaki abojie.

‘’Tolong hentikan…’’ ia bersimpuh pada lutut abojie . Aku membelalakan mataku sedangkan abojie hanya terdiam dan bergetar.

‘’Cabut…. Cabut syarat itu…’’

‘’Jangan jadikan Sungjinku… bayiku…putraku.. syarat untuk dia mendapatkan hartamu.’’ Tubuhku seketika terhunyung kebelakang. Aku masih menatap tubuh ringkih itu dengan tatapan kosongku. Telingaku berdenging hebat saat mendengar ucapanya.

‘’Agar aku dan bayiku bisa hidup dengan damai…’’

‘’Tolong kami…Tolong kami…’’ ia semakin histeris dan bahkan ia dengan perlahan menundukan kepalanya hendak bersujud di kaki Abojie.

‘’Nara~..’’ suara abojie parau dan bergetar. Sedangkan eomma berjalan dengan tergesa kearah gadis itu. dengan secepat kilat eomma menarik tubuh gadis itu yang hendak bersujud pada abojie.

‘’Jangan nak… jangan lakukan itu. kau membuat hati kami sakit sayang.’’ Eomma mencegah aksi gadis itu dan langsung membawa tubuh mungil gadis itu dalam pelukan hangatnya. Eomma menangis sambil terus mengelus wajah rambut dan tubuh gadis itu.

‘’Eommoni..’’

‘’Baiklah… aku akan mencabut syarat itu.’’ aku seketika menoleh saat abojie kembali membuka suara. Tatapan mata senjanya kosong menatap satu sudut tak berarti di kamar ini. aku terkejut dengan ucapannya. Bagaimana mungkin ia mencabut syarat itu saat ini? disaat aku sudah melakukan semuanya… disaat aku sudah mengorbankan semuanya…disaat aku sudah mempertaruhkan semuanya…dan di saat aku sudah menghancurkan gadis itu dan menyakiti bayi kami.

’A__aa_bojie..’’ aku tergagap saat memanggilnya rasanya aku ingin mencekik leher ini saat suaraku kembali tertahan di ujung tenggorokan.

‘’Kyuhyun aku akan menyerahkan seluruh hartaku..seluruh asset milik Blue Bird Group padamu tanpa syarat.’’ Aku menghembuskan nafasku kasar. Aku mendongkakan kepalaku ke langit-langit kamar untuk menahan laju air mata yang dengan berengsek mulai mengenang di ujung mataku. Dan setelah mengucapkan semua itu abojie berbalik dan meninggalkan ruangan ini.

‘’Kau dengar sayang.. kau dengar.. tak perlu ada lagi yang kau takutkan.. semuanya sudah selesai. Kau dan bayimu, cucuku akan hidup dengan damai setelah ini.’’ kalimat yang eomma ucapkan seperti air cuka yang menyirami luka yang baru tergores dalam hatiku.

’Ghamshamida abojie… ghamsahamida eommoni…’’

‘’Tapi…’’

‘’Dimana bayiku… diamana dia…aku merindukannya eommonie.. aku merindukannya.’’

‘’Aku..aku harus mencarinya…kalau tidak mereka akan melukai bayiku..’’ ia bangkit dengan tergesa dari rengkuhan eomma Berjalan kearah pintu dengan langkah besar yang bergetar.

‘’Nara~ kau masih sakit..’’

‘’Tidak eommonie aku kuat… dan bayiku membutuhkanku saat ini.. ia pasti kelaparan.’’

‘’Nara..’’

‘’Eommonie salju turun dengan lebat apa Sungjin berselimut tebal…’’

‘’Nara..’’

‘’Aku harus segera menemuinya eommonie…’’

 

Gadis itu berbicara seperti orang yang sudah kehilangan kesadarannya. Ia terlihat seperti orang frustasi. Dengan langkah pelan aku berjalan kearah eomma dan gadis itu. eomma terus menahan tubuh gadis itu yang hendak keluar.

 

TAP

 

Aku mencengkram pergelangan tangan gadis itu. seketika ia menoleh padaku, derai air mata yang sedari tadi menghias wajahnya membuat wajah piasnya membengkak ditambah dengan luka-luka lebam di wajahnya. Ia menatapku dengan pandangan kosong. Lalu tak lama tubuhnya kembali mengigil saat aku menatap tepat kemanik matanya. Kepalanya mengeleng lemah. Bibirnya bergetar hendak mengutarakan sesuatu.

‘’Tu__an..’’ ia mengesosokan kedua telapak tangannya tepat di wajahku. Ia memohon dalam linangan air mata.

‘’Aku ingin bertemu bayiku…’’

‘’Tuan… katakan pada mereka untuk tak menyakiti bayiku..’’

‘’Dan.. dan katakan pada mereka tuan bahwa aku akan datang tepat waktu.. jadi jangan sakiti bayiku.’’

 

GREPP

 

Aku langsung menariknya dalam dekapanku. Ia masih terus bersuara. Dan aku semakin mengeratkan pelukanku. Aku tak sanggup lagi melihatnya seperti ini. Aku dulu begitu membencinya.. bahkan aku menyakitinya. Tapi setelah kejadian ini aku menyesal dan sangat menyesal atas dosa yang telah ku perbuat.

 

‘’BAYIKU TUAN!!!.’’

‘’BAYIKU!!!!.’’

‘’JANGAN AMBIL BAYIKU…’’

‘’SUNGJIN…’’

 

Tubuhnya semakin memberontak dalam dekapanku. Ia terus menjerit dan menjerit. Lalu seketika aku tak merasakan pergerakan lagi dari tubuhnya. Gadis itu kehilangan kesadarnya tumbang di dalam dekapanku.

‘’NARA~.’’

‘’Tenang eomma.. lebih baik eomma segera memanggil dokter.’’

Eomma mengangguk dengan resah lalu segera keluar ruangan itu. ku lirik lagi tubuh lunglainya, aku menggendong tubuhnya dan berjalan kearah ranjang. Kubaringkan dengan penuh kehati-hatian tubuh tak berdaya itu di atas ranjang. Lalu tak lama dokter tiba dan segera memeriksa keadaanya. Aku berjalan kearah eomma merangkul bahu ringkihnya yang bergetar karna tangisan dan membawa eomma dalam pelukanku. Aku tau eomma ikut tersiksa dengan kejadian ini. kami menunggu dengan cemas kondisi gadis itu.

*

*

*

 

Bangunan megah yang di pagari alami oleh pohon-pohon rindang. Gaya bangunan tempo dulu membuat banguan itu terlihat sedikit mencengkam. Di tambah dengan rumput liar yang tumbuh di halaman bangunan itu. Para pria berbaju hitam dan berbadan kekar siap siaga berjaga-jaga di sekeliling bangunan.

 

Tangisan bayi sedari tadi terdengar mengelegar dari dalam bangunan. Beruntung disekitar sana tak ada bangunan lain. Ya bangunan ini berada di dalam hutan di pinggiran Seoul.

 

’YAKK!! Kau bisa diam tidak bayi sialan!!!’’ wanita itu berkacak pingang sambil memarahi bayi yang menjerit menangis sambil mengemut ibu jarinya di atas sofa. Wajah bayi itu sudah memerah bahkan suara tangisan bayi itu semakin serak.

‘’Kau membuatku pusing!!.’’

‘’Ck kemana perginya pria itu????. aku bisa gila mendengar tangisan bayi sialan ini!!.’’ wanita itu dengan tidak sabaran menyumpal earplug pada kedua telinganya dan kembali melanjutkan kegiatannya membaca majalah fasion. Wanita itu membuka-buka halaman majalah dengan serampangan dan akhirnya melemparkan majalah itu ke lantai. ia semakin geram karna tangisan bayi itu masih mengganggu pendengarannya.

 

‘’Ada apa ini?.’’ suara tenang pria seketika membuat wanita itu menoleh dengan cepat.

‘’Dari mana saja kau ini? kau tau rasanya aku ingin membekap mulut bayi itu yang sedari tadi menangis.’’ Pria itu tak menghiraukan lalu berjalan kearah bayi mungil di atas sofa. Pria itu memandang dengan diam bayi itu. jemarinya mencoba melepaskan ibu jari bayi itu di dalam mulut mungilnya. Lalu dengan perlahan ia mengangkat bayi itu dalam gendongannya. Dan seketika bayi itu berhenti menangis walaupun masih tersedu-sedu.

‘’Dia lapar.. bisa kau buatkan bubur untuknya?.’’

‘’ APA? Aku tidak mau.’’

‘’Kalau begitu suruh yang lain membuatnya.’’

‘’Ck. Kau perhatian sekali padanya. Sepertinya kau sudah terbawa suasana Peran dirimu sebagai ayah bayi itu.’’ Wanita itu berbalik sambil menghentakan kakinya sebal. Sedangkan pria tadi tak memperdulikan ia masih tetap mengelus pungung bayi itu.

*

*

*

 

CKLEK

 

Kyuhyun keluar dari kamar mandi di kamar inap Nara. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan handuk. Hanya kemeja biru tua dengan tiga kancing atas terbuka dan celana kain yang ia kenakan. Jas silver miliknya sudah tergeletak di atas sofa.

Kyuhyun berjalan kearah sofa lalu mendudukan dirinya dengan posisi senyaman mungkin. Disisir rambutnya jengan jemarinya. Ia menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. Lalu saat matanya terbuka tatapannya tertuju pada tubuh mungil yang masih belum sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit.

Dengan perlahan Kyuhyun menghampiri tubuh mungil itu. di tatapnya dengan intens Nara yang masih terbaring dengan lemah. Tatapan Kyuhyun terus menelisik seluruh tubuh Nara setiap titik luka di tubuh putih pucat itu tak lepas dari tatapanya. Dengan perlahan dan bergetar Kyuhyun mencoba menyentuh goresan luka di pipi kiri Nara.

 

‘’Kyuhyun-na…’’ secepat kilat Kyuhyun kembali menarik tangannya yang hendak menyentuh Nara saat seseorang memanggil namanya.

‘’Nara belum sadar?.’’ Kyuhyun menggeleng kaku. Hanna meletakan teko beling di atas lemari dekat sofa lalu berjalan kearah ranjang membenarkan letak selimut menantunya. Kyuhyun masih terdiam di tempat sesekali Hanna melirik kearah putranya.

‘’Hyukjae ada di kantin rumah sakit. Ia sedang berbincang dengan appamu. Mereka menunggumu.’’ Kyuhyun menganggukan kepalanya lalu berbalik melangkah kearah sofa mengambil jas, Tab dan ponselnya. Dengan lemah Kyuhyun melangkah kearah pintu. Hanna yang melihat kepergian Kyuhyun sambil menglemaskan bahunya.

*

*

*

 

‘’Menurut para saksi, saat menaiki subway keadaan Nara sudah sangat memprihatinkan. Tubuh dan wajahnya penuh luka. Sepertinya Nara sudah mendapatkan kekarasan sebelum kejadian di stasiun subway.’’ Kyuhyun mendengarkan dengan seksama penjelasan Hyukjae di hadapannya. Sedangan Seunghwan tak bisa menyembunyikan emosinya saat mendengar penuturan detektif muda itu.

‘’Lalu mereka mengatakan bahwa Nara terlibat adu mulut dengan seseorang di telepon. Sehun berikan benda itu.’’ asisten Hyukjae yang beberapa saat lalu menemui Kyuhyun meletakan sebuah ponsel yang terbungkus kantung pelastik di atas meja.

‘’Sepertinya para penculik bayimu mengkomando Nara dari ponsel itu. dan ini adalah langkah awal kita untuk menyelidiki dimana keberadaan bayimu.’’

‘’Aku sudah memeriksa keadaan ponsel itu sebelumnya. Walaupun layarnya rusak parah tapi kami masih dapat menggunakannya.’’

‘’Jangan kau sentuh dulu Cho.’’ Hyukjae mencegah Kyuhyun yang hendak meraih ponsel yang terbungkus pelastik bening tersebut.

‘’Biarkan Nara saja yang memulai semuanya.’’

‘’Tapi bagaimana bisa kita mengetahui keberadaan cucuku hanya dengan menggunakan ponsel itu?.’’

‘’Kita akan menyadap setiap panggilan dan pesan yang masuk dalam ponsel itu. Aku yakin para penculik itu akan terus mencoba menghubungi Nara. Tujuannya bukan untuk menyerahkan bayi itu, tentu saja semua ini hanya untuk mempermainkan Nara. Kita sebut saja Nara tak ubahnya seperti batu loncatan disini. Karna tujuan mereka sebenarnya adalah Kyuhyun.’’

‘’Tak perlu menebak apa motif dibalik semua ini.. harta warisan. Mungkin pelaku mengetahui bahwa Sungjin adalah jembatan penghubungmu untuk mendapatkan seluruh asset kekayaan itu.’’ Kyuhyun mengeraskan rahangnya menahan amarah. Ia seperti di sadarkan bahwa ambisinya selama ini untuk mendapatkan harta warisan keluarganya menjadi bom waktu yang dapat menghancurkan dirinya. Terlebih ia sangat menyesal mengikut sertakan Sungjin nya dalam masalah ini.

Mungkin dulu saat Nara mengandung Sungjin ia menganggap bahwa itu adalah hartanya. Harta yang akan membawa ia pada harta sesungguhnya, harta warisannya. Tapi saat dua bulan yang ia lalui bersama bayinya perasaan mendebarkan itu tumbuh dengan tak terkendali dalam dirinya.

Perasaan merindu pada putranya, perasaan membucah saat mendengar tawa riang bayinya, perasaan kalut luar biasa saat terdengar jerit tangis putranya, debaran jantungnya saat melihat tumbuh kembang bayinya dari hari kehari bahkan ia lupa tujuan awalnya menginginkan Sungjin saat melihat bayi itu tertidur dengan pulas dan damai. Karna ia sadar bahwa Sungjin..bayinya..putranya.. adalah harta yang tak ternilai harganya.

‘’Para pelaku ingin membuat Kyuhyun keluar dan ikut bermain bersama mereka dalam permainan ini. sedangkan Nara hanya di jadikan bumbu pemanis di sini. dan Kyuhyun apa kau punya bayangan siapa pelaku di balik semua ini?.’’

‘’Bukan hanya bayangan. Tapi aku sangat yakin mereka pelakunya.’’ Kyuhyun mengertakan giginya dengan pandangan mengelap yang mampu membakar apapun yang ada di hadapannya.

*

*

*

Nara sudah tersadar semenjak satu jam yang lalu. Ia hanya duduk bersandar di atas ranjang sambil memandang salju yang turun ke bumi di balik jendela. Tatapannya kosong, tentu saja batinnya masih tersiksa atas rindu pada sang putra. Nara menghela nafas panjang sambil memeluk tubuhnya sendiri saat udara dingin mulai menayapa tubuh lemahnya.

 

CKLEK

 

Nara menoleh saat pintu kamar rawatnya terbuka. Masuklah ibu mertuanya di susul dengan ayah mertuanya dan dua pria yang tak ia kenali. Tapi salah satu dari pria itu tak asing baginya. Nara hendak kembali memalingkan wajahnya tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat siapa orang terakhir yang memasuki kamar rawatnya.

‘’Bagaimana keadaanmu sayang?.’’

‘’Aku merasa lebih baik.’’ Nara mengulas senyum dibibir pucatnya. ia tak ingin lebih membebani ibu mertuanya. Padahal Nara tidak baik-baik saja… hatinya hancur bahkan jantungnya seolah tak berkerja dengan baik saat ini. bagaimana tidak putranya masih dalam bahaya.

‘’Perkenalkan ini detektif Lee Hyukjae dan asistennya Oh Sehun.’’ Nara memberikan senyuman ramah pada dua pria itu. Pantas saja Nara merasa tak asing dengan pria bernama Lee Hyukjae, pria itu sahabat baik Kyuhyu. Mereka pernah bertemu satu kali.

‘’Mereka akan membantu kita untuk menemukan Sungjin.’’

‘’Benarkah?.’’ Senyum lembut Nara berubah menjadi raut tegang dan tatapan penuh harap.

‘’Kami akan berkerja dengan keras untuk kasus ini.’’

‘’Syukurlah Tuhan… aku sangat berterimakasih Tuan Lee kau sudah mau membantuku.’’

‘’Ini sudah tugasku. Dan anggap saja ini bantuan dari kerabat saat melihat keluarganya kesusahan. Kau tak perlu sungkan.’’ Nara menganggukan kepalanya dengan haru dan tak bisa di bendung lagi air matanya kembali berlinang membasahi pipi. Hanna ikut tersenyum haru melihat sebuah harapan besar di hadapannya

‘’Baiklah kita mulai melakukan penyelidikan darimu Nyonya Cho.’’ Sehun membuka suara sambil membuka note penyelidikannya tadi. Tanpa mereka sadari Nara merasa tak nyaman dengan panggilan Cho yang Sehun berikan.

*

*

*

‘’Saat itu aku dan Sungjin hendak pergi berbelanja, tapi aku lupa membawa dompetku. Lalu…lalu….’’ Nara tergagap dengan tubuh yang kembali mengigil. Seketika perasaan menyesal teramat dalam menghinggapi hatinya, seharusnya ia tak meninggalkan Sungjin di atas kereta bayi saat itu. Nara terisak sambil mencengkram selimut. Hanna hendak menenangkan Nara tapi di hadang oleh Hyukjae dengan isyarat melalui matanya. Kyuhyun ikut berdebar menanti kelanjutan cerita Nara.

‘’Lalu?.’’

‘’Lalu.. lalu aku meninggalkan Sungjin di atas kereta bayi dan mengambil dompetku di dalam rumah.’’ Pecah sudah tangisan Nara. Penyesalan dirinya semakin menggunung. Andai saja ia tak melupakan dompetnya.. andai saja ia tak meninggalkan bayinya… mungkin ia dan bayinya sedang menikmati suasana hangat rumahnya di musim dingin bersama bayinya. Kyuhyun memejamkan mata mendengar penuturan Nara tadi. Jadi bayinya di culik di atap rumah itu.

‘’Apa kau masih mengingat pukul berapa saat itu?.’’

‘’Aku rasa pukul Sembilan pagi.’’ Sehun terus menulis hasil investigasinya dengan Nara di atas sebuah Note.

‘’Setelah itu apa yang terjadi?.’’ Nara menengang dengan pertanyaan yang di lontarkan Sehun padanya. Pupil matanya membesar saat kilasan mengerikan itu melintas di bayangannya. Ia terus menekan jemarinya saat ketakutan mulai melanda dirinya.

‘’Aku melihat wanita itu… tangisan bayiku aku masih mengingatnya. Bayiku menjerit histeris di dalam gendongan pria bertubuh kekar.’’ Nara berbicara dengan tatapan kosong.

‘’Aku menjerit meminta mereka melepaskan bayiku… aku hendak melangkah tapi salah satu diantara mereka menghadangku lalu menghempas tubuhku. Tubuhku tak merasakan sakit karna hatiku yang jauh lebih sakit melihat bayiku tersiksa di dalam rengkuhan pria mengerikan itu.’’

Hanna membekap mulutnya karna tak kuasa menahan tangis mendengar cerita mengerikan Nara. Seunghwam mencengkram dengan penuh amarah tongkat kayu miliknya. Kyuhyun… pria itu bak patung yang terpaku di tempatnya mendengar kronologi kejadian penculikan itu.

‘’Wanita itu melangkah kearahku.. lalu ia membalikan tubuhkunmenggunakan kakinya. Aku tak memperdulikannya karna pandanganku tak putus pada bayiku yang terus menjerit. Rasa sakit baru menyadarkanku saat wanita itu menerjangku… memukuli wajah dan tubuhku.’’ Hanna histeris tubuhnya tumbang diatas sofa dengan lemah. Seunghwan langsung menenagkan istrinya. Kyuhyun mengepalkan kedua tanganya. Hatinya bergemuruh menahan amarah yang kian memuncak. Hatinya seperti terores oleh sebilah pedang saat menatap Nara yang berbicara dengan tatapan kosong, memancarkan bahwa betapa mengerikannya kejadian itu dalam hidupnya.

‘’Lalu tangisan bayiku tak terdengar lagi. Aku melihatnya meronta dan histeris tapi aku sama sekali tak mendengar semuanya. Seperti ada yang berdenging di telingaku. Hampa.. aku tak mendengar apapun saat itu.’’

‘’Lalu pandanganku mengabur. Dan yang terakhir aku lihat wanita itu melangkah pergi membawa bayiku…’’

‘’Kau terus menyebut wanita itu? apa kau tau siapa dia?.’’ Nara memandang Sehun dengan tatapan kosongnya. Lalu kemudian Nara menundukan wajahnya sambil menghela nafasnya dengan gusar. Nara membidikan tatapanya kearah Kyuhyun yang sedang menanti jawaban Nara. Kyuhyun memandang Nara dengan tatapan tajamnya sedangkan Nara menatap Kyuhyun dengan tatapan lelahnya.

‘’Kekasih pria itu. Jang Hyori.’’ Nara menunjuk Kyuhyun dengan menyungingkan senyum getir. Kyuhyun tersentak tubuhnya limbung. Kyuhyun menatap Nara semakin tajam.

‘’Aku tak tau mengapa pria itu berada di sini?. Seharusnya ia berada bersama kekasihnya, menikmati kemenangan mereka karna telah berhasil merengut Sungjin dari tanganku.’’ Kyuhyun mengeraskan rahangnya mendengar kalimat yang terlontar dari bibir mungil Nara yang seolah menuduhnya. Sungguh ia saja masih terkejut luar biasa mengetahui Hyori ada di balik semua kejadian ini. karna hanya ada satu orang yang ia curigai.. tapi bukan Hyori.

‘’Apa kau yakin? Dia orangnya.’’

‘’Aku sangat mengingat wajahnya.’’

‘’Selain memukulimu apa ada sesuatu yang ia katakan padamu?.’’

‘’Ada… Dia mengatakan bahwa aku terus menghalangi jalan mereka.. dan kesabarannya sudah habis.’’

‘’Lalu setelah itu apa yang kau lakukan?.’’

‘’Aku mencoba bangkit dan mengejar mereka. Aku berhasil.. aku berhasil menemukan mereka. Aku bahkan berhasil meraih Sungjin yang menangis di atas pangkuan seorang pria di dalam mobil itu. tapi Hyori menutup kaca mobil hingga aku gagal meraih bayiku?.’’

‘’Tunggu? Seorang pria? Apa kau mengenali pria itu?.’’

‘’Aku sangat mengenali pria itu..’’

‘’Benarkah? Lalu siapa dia?.’’

‘’Dia. Cho Kyuhyun.’’ Nara kembali menunjuk Kyuhyun. Kyuhyun membelalakan matanya saat Nara kembali menunduhnya.

‘’Dia hanya berpura-pura berada disini.. berpura-pura mencemaskan bayiku. Tapi di dalam hatinya pria itu bersorak karna melihatku hancur dan terluka seperti ini.’’ Hati Kyuhyun seperti terhempit batu besar saat tuduhan Nara padanya semakin menjadi. Hanna dan Seunghwan mengerutkan dahinya, terlebih Seunghwan sangat tau benar bahwa saat kejadian putranya sedang berada di Jepang. Orang kepercayaannya sendiri yang mengatakanya.

‘’Tutup mulutmu.’’ Kyuhyun berdesis dengan tatapan yang mengelap.

‘’Ia tak ingin orang tuanya mengetahui kebusukannya. Maka dari itu ia berperan sebagai ayah yang baik di sini.’’

‘’Aku bilang tutup mulutmu sialan!!.’’ Kyuhyun melangkah dengan tersulut emosi. Dengan kasar ia meraih pergelangan tangan Nara dan mencengkarmnya. Nara meringis dan meronta saat ia merasakan sakit karna Kyuhyun mencengkram luka yang ada di pergelangan tangannya.

‘’Sudahku katakan bukan aku pelakunya?.’’

‘’Kyuhyuh tolong tenangkan dirimu.’’ Hyukjae mencoba menarik tubuh tegang Kyuhyun tapi Kyuhyun menghempas cengkramnya dengan kasar.

‘’Aku tak percaya.’’

‘’Terserah apa katamu.’’

‘’Sebaiknya kita tak perlu membicarakan startegi kita ini di hadapanya Tuan Lee. Karna ia akan menyuruh orang-orang itu pindah ke persembunyian lain saat kita sudah mengetahui keberadaan mereka. Dia ini mata-mata.’’

‘’AKU BILANG TUTUP MULUTMU!!.’’ Kyuhyun hendak melayangkan tamparan pada Nara tapi tangannya berhenti di udara saat melihat Nara yang langsung meringsut ketakutan. Dengan bergetar Kyuhyun menurunkan tangannya kembali. Kemudian ia mencengkram bahu ringkih Nara.

‘’Dengar.. hari ini aku melakukan pertemuan bisnis di Jepang.’’

‘’Aku tak ada sangkut pautnya dalam penculikan ini.’’

‘’Lalu bagaimana dengan kekasihmu? Aku masih mengingat dengan jelas ia yang membawa Sungjin.’’

‘’Itu..Itu..’’ Bola mata Kyuhyun bergerak dengan gusar saat nama Hyori di sebut-sebut oleh Nara. Ia pun masih sangat bingung mengapa Hyori melakukan semua itu. tanpa perintah darinya atau persetujuan darinya. Lagipula Kyuhyun sudah tak ingin melakukan cara kotor untuk mendapatkan Sungjin. Karna ia benar-benar menyayangi bayinya. Bahkan rasanya Kyuhyun rela menukarkan nyawanya hanya untuk kebahagian Sungjin. Jika di tanya bagaimana perasaanya saat ini? tentu saja ia hancur.. bahkan rasanya ia ingin meledak. Hanya saja ia terlalu pandai menyembunyikan kekalutan dan kesedihannya di hadapan semua orang.

‘’Kau tak bisa menjawabnya Tuan. Karna kau benar-benar dalang dari semua ini.’’

‘’Terserah apa katamu sialan!!!.’’

*

*

*

Nara POV

 

Aku duduk di atas ranjang sambil mengenggam ponsel di tanganku dengan gemetar. Di depanku orang-orang sedang sibuk memasangkan sebuah alat yang tak aku ketahui. Mereka bilang mereka akan menyadap ponsel di tanganku ini. sehingga jika para penculik itu kembali menelepon ku mereka dapat melacak keberadan para penculik itu.

 

Ku lirik pada ibu dan ayah mertuaku mereka ikut mengamati para detektif yang sedang berkerja itu. sedang pria itu, ia berdiri dengan tegap sambil melipat tangannya di depan dada bersandar pada dinding. Sebenarnya aku percaya pada kata-katanya tapi entah mengapa bayangan pria yang berada di dalam mobil itu terlihat lebih nyata dalam ingatanku. Pria itu benar-benar dirinya, aku mengingatnya karna pria di dalam mobil mengenakan jas yang pernah ia pakai saat mengunjungi Sungjin. Walaupun sebenarnya aku tak melihat jelas sosok pria di dalam mobil itu.

 

Aku memalingkan wajahku saat ia menangkap basah diriku yang sedang menatap kearahnya. Jantungku berdegub kencang aku menelan ludahku dengan tercekat. Lalu dengan kaku aku kembali mengalihkan pandanganku kearahnya. Debaran jantungku semakin tak menentu saat ternyata ia masih memandangku dengan tatapan tajamnya yang dalam. Aku kembali memutuskan kontak mata yang terjadi di antara kami.

 

‘’Nyonya Cho kami sudah menyadap ponsel itu. saat mereka meneleponmu nanti kau bersikap seperti biasa. Kau harus bersikap seolah kau hanya sendirian disini. Kau mengerti?.’’ Aku menganggukan kepalaku dengan lemah.

 

‘’Tuan.. namaku Oh Nara. Jadi panggil saja aku Nara atau Nona Oh .’’ panas tubuhku terasa panas dan terbakar. Terbakar karna tatapan tajam pria yang sedari tadi sepertinya masih melayangkan tatapan tajamnya padaku.

‘’Wah hahahaha. Kita memiliki marga yang sama jika begitu. Oh Nara Oh Sehun. Kebutulan yang sangat manis.’’ Aku tersenyum melihat pria yang sepertinya lebih muda dariku berceloteh dengan riang.

‘’Dan kau jangan memanggilku Tuan. Karna aku tidak setua itu. dan sepertinya aku lebih muda darimu jadi kau bisa memanggilku Sehunie atau Sehun-na.. tapi jika kau ingin memanggilku oppa bukan masalah bagiku. Aku cukup dewasa untuk kau panggil oppa.’’ Aku dan pria bernama Sehun itu kembali tertawa geli. Sejenak aku melupakan kesedihanku. Setidaknya tertawa dapat memberiku kekuatan untuk menyelamatkan Sungjin.

‘’Bisa kau kembali berkerja.’’ Suara dingin membuat senyum ceria kami pudar seketika. Pria itu menatap kami dengan tajam. Dengan perlahan Sehun berjalan menjauhi ranjangku. Sehun membungkukan badannya di hadapan pria itu dan saat Sehun kembali di depan sebuah monitor Tuan Lee memukul kepalanya dengan gulungan kertas sambil mengerutu. Pandangan kami kembali bertemu tapi kali ini dia yang terlebih dahulu memutuskan kontak antara kami.

*

*

*

Sudah berjam-jam kami menunggu panggilan masuk pada ponsel dalam gengamanku. Bahkan ibu mertuaku sudah tertidur di atas sofa. Tadi aku sudah menyuruhnya pulang tapi ia bersikeras menolaknya. Ia ingin berada di sampingku. Aku tentu tersentuh dan sedih mendengar ucapanya. Bukankah aku wanita beruntung? Memiliki mertua yang luar biasa baik dan berhati lembut seperti mereka. Aku menyayangi mereka seperti aku menyayangi orang tuaku. Walapun putra mereka sudah menghancurkan hidupku tapi tak sedikitpun aku menorehkan benci pada mereka. Mereka terlalu baik untuk aku benci.

 

DRRT DDRRTT DRRTT

 

Aku tersentak dalam lamunanku saat ponsel dalam gengamanku bergetar. Seketika orang-orang yang berada di dalam kamar rawatku terlonjak dan segera mengambil posisi kerja mereka.

‘’Ini Video Call..’’ aku menatap bingun pada Tuan Lee yang duduk di depan monitor.

‘’Tutup tirainya.’’ Perintahnya pada Sehun. Dengan segera Sehun menutu tirai. Sebelum tirai tertutup tatapan kami kembali bertemu. Aku dapat melihat sorot kekhawatiran dari tatapan yang selalu tajam itu. aku merasakanya ia pun sama khawatirnya dengan diriku.

‘’Nona Oh bersikap lah seperti tak ada siapa-siapa di ruangan ini. jangan membuat mereka curiga apalagi ini video call.’’ Tuan Lee berbicara di balik tirai. Dengan gugup aku menatap ponsel yang terus bergetar di tanganku. Lalu aku mengeser tombol.

 

Di dalam layar seorang pria menggunakan kaca mata dan topi hitam menyeringai menyapaku. Seketika aku menegang ketakutan.

’Mengapa lama sekali Nona? Apa kau sudah tak peduli pada bayimu?.’’

‘’TIDAK!! Aku…aku tadi sedang tertidur.’’ Ucapku gugup. Pria itu tertawa terbahak seolah mengejekku.

‘’Kalau begitu aku mengganggu tidur mu?.’’

‘’Tidak.. Tuan katakan di mana putraku?.’’

‘’Kau sudah tak sabar rupanya untuk menemui putramu?.’’

‘’Katakan di mana dia? Aku… aku ingin melihatnya.’’

‘’Maafkan kami nona. Disini kami masih menikmati kebersamaan bersama putramu. Putramu sangat mengemaskan, apalagi saat ia terus menjerit menangis.’’

‘’JANGAN LUKAI PUTRAKU!!!!.’’ Seketika aku sulit mengambil nafas saat mendengar ucapannya. mereka pasti melukai putraku.

’Kami hanya bermain-main nona kau tenang saja.’’

‘’AKU MOHON JANGAN SAKITI BAYIKU!!!.’’

’Baiklah baiklah..’’

 

BRAKK

 

Seketika bola mataku membulat saat melihat sebuah miniatur kuda dari kayu di atas meja dekat sofa terjatuh dan itu karna ulah Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa seperti sedang menahan amarahnya lalu tak lama tubuhnya di Tarik oleh Sehun dan Sehun kembali menarik cela tirai yang tadi sedikit terbuka.

‘’Apa ada orang lain bersamamu nona?.’’ Suara mengerikan itu membuat aku dengan gelagapan kembali mengalihkan tatapanku ke layar ponsel. Ia menatapku dengan aura membunuh yang membuat bulu kuduku berdiri dibuatnya. Aku menggeleng dengan lemah.

’Arahkan ponselmu pada sekelilingmu.’’ Perintahnya, dengan gemetar aku membalikan layar ponsel dan mengarahkannya pada setiap titik dan sudut di kamar rawat ini. saat hendak membidik tirai tanganku semakin gemetar. Karna di balik tirai itu semuanya sedang berkerja dan menolongku.

‘’Baiklah aku percaya padamu.’’ Aku membalikan kembali layar ponsel.

‘’Tuan di luar salju turun dengan lebat. Apa kau bisa memberikan selimut yang tebal untuk putraku?. Tuan jika putraku menangis tolong gendong dia yang elus kepalanya dengan itu ia akan berhenti menangis. Tua__.’’

‘’Aku penculik Nona bukan pengasuh bayi.’’

‘’Tapi Tuan…’’

‘’Sebaiknya kau banyak berdoa nona. Aku memberikanmu istirahat yang tenang malam ini , karna esok kita akan kembali bermain nona.’’

Seketika layar ponsel di tanganku menggelap tanda pria itu sudah mengakhiri video call dianatara kami.

‘’Kami menemukannya!!.’’ Aku seketika menoleh kearah tirai yang masih tertutup. Kemudian eommonie membuka tirai lalu menghampiriku.

‘’Kau baik-baik saja?.’’ Aku menganggukan kepalaku dengan enggan. Aku masih menghawatirkan Sungjin. Aku takut pera penculik itu benar-benar menyakiti Sungjin.

 

‘’Mereka berada di kawasan Nowon-gu.’’ Tuan Lee menatap layar monitor dengan tajam. Sedangkan Sehun yang bearada di sebelahnya sedang sibuk menyambukan suatu alat pada sebuah mesin. Mereka berkerja dengan sangat serius.

‘’Tunggu bukankah itu daerah rumah kami?.’’ Abojie bertanya dengan dahi mengkerut.

‘’Benar.’’

‘’Tapi hyung target terus bergerak meninggalkan daerah Nowon-gu.’’

‘’Terus amati tanda merah.’’

‘’Ne Hyung.’’

 

Aku ikut tegang di atas ranjang. Aku berharap keberadaan mereka segera ditemukan. Aku benar-benar ingin bertemu Sungjin. Eommonie mengelus bahuku dengan lembut, menyalurkan kekuatan untukku.

‘’Aku sudah menghubungi pihak kepolisian untuk bergerak. Mereka sudah aku kirimkan lokasi pelaku.’’

‘’Kyuhyun kau jaga keluargamu. Jangan ada yang keluar dari ruangan ini. kau mengerti.’’ Dia menganggukan kepalanya mengerti tapi raut wajahnya menyiratkan kelakutan luar biasa. Sama dengan diriku.

*

*

*

Waktu menunjukan pukul lima pagi tapi aku sama sekali belum memejamkan mataku semenjak semalam. Hatiku terus dilanda gundah yang membuatku gelisah. Pikiranku terus melayang apakah mereka berhasil menemukan Sungjin?. Apa Sungjinku baik-baik saja?.

Sesekali aku meringis saat membalikan badannku diatas ranjang dengan gusar, aku selalu merasakan sakit karna luka-luka di tubuhku saat mengerakan badan walaupun hanya pergerakan kecil. Kepalaku menatap kesekeliling. Ayah dan ibu mertuaku tertidur diatas ranjang yang dipesankan tak jauh dari ranjangku. Ruangan rawatku sangat besar, aku yakin kekuasaan mertuaku yang membuat aku berada di sini.

Aku menghembuskan nafas gusar lalu kembali membalikan badannku dengan meringis kearah kiri. aku terkesiap saat melihat tubuh besarnya sedang tertidur di atas sofa. Kakinya yang panjang menggantung di ujung sofa. Kedua tangannya terlipat di atas dada bidangnya. Nafasnya teratur, rambutnya berantakan dan kusut. Kemeja biru tua yang ia kenakan pun kusut dimana-mana.

 

DRRRTT DRRTT DRRT

 

Aku tersentak lalu dengan secepat kilat aku bangkit dari posisi tidurku, mataku beredar mencari ponsel yang bergetar itu. lalu aku melihat cahaya ponsel di atas nakas samping ranjangku. Dengan tergesa aku meraih ponsel itu dan mengeser tombol.

‘’Yeob__.’’

‘’Kau sudah berani bermacam-macam denganku.’’

 

DEG

 

Jantungku berhenti berdetak. Tidak mungkin…..Tidak mungkin mereka mengetahui strategi kami. aku menggelengkan kepalaku denga lemah. Tubuhku mengigil membayangkan jika mereka murka atas tindakan kami dan berdampak pada Sungjinku.

‘’Tu__ Tuan._ak____akuu..’’

’Dengar Nona. Ini kesempatan terakhirmu. Bukit belakang Universitas Sungkyunghwan sebelum matahari terbit. Jika kau berani membawa orang lain. Siapkan airmata perpisahan untuk putramu.’’

 

TUT TUTT TUTT

 

Ponsel di tanganku terjatuh. Jantungku semakin bertalu, dengan cepat aku membidikan tatapanku pada pria yang masih tertidur pulas diatas sofa. Kecurigaanku benar, ia memang ada dibalik semua permainan mengerikan ini. air mataku kembali menetes membasahi pipi. Dengan kasar aku menyekanya.

Aku menyibak selimutku dengan cepat. Menuruni ranjang dengan tergesa tak memperdulikan rasa sakit yang aku rasakan, aku memasukan ponsel pemberian para penculik itu kedalam saku baju pasienku dengan serampangan. Kuambil cardigan biru tua miliku lalu memakainya dengan cepat. Aku tak punya banyak waktu sebelum matahari terbit. Tak lupa aku memakai sandal rumah sakit lalu berlari dengan tergesa kearah pintu.

Keadaan sepi saat aku membuka pintu kamar. Lalu dengan langkah besar dan menahan sakit aku meninggalkan kamar itu. aku terus berjalan bertaruh dengan waktu. Nafasku tersengal bukan karna langkahku yang membuat lelah, tapi hatiku yang menjerit memanjatkan do’a untuk putraku tercinta.

Tanpa terasa aku sudah mencapai pintu keluar rumah sakit ini. tapi langkahku terhenti saat udara dingin seolah menantang diriku. Aku tak boleh ceroboh, kondisiku belum pulih benar aku harus menjaga kondisiku ini. aku berbalik dan berjalan kearah meja resepsionis.

‘’Bisa kau berikan mantel tebal untukku.’’

‘’Maaf Nyonya. Apa yang anda lakukan sepagi ini?.’’

‘’Aku…aku. Aku kedinginan dan aku membutuhakan sesuatu yang hangat dan tebal.’’

‘’Baiklah akan aku ambilkan.’’

Aku menunggu dengan tak sabaran. Karna waktu terus berjalan, aku tak mau kejadian di busway kembali terulang. Aku membuang-buang waktuku hingga kesempatan bertemu Sungjinku hilang di depan mata.

‘’Ini Nyonya. Dan kembali kekamarmu, udara dingin tak baik untuk kesehatanmu.’’ Aku tak memperdulikannya aku memakai mantel tebal dengan logo rumah sakit di belakangnya dengan cepat. Lalu saat resepsionis itu kembali duduk dan berkutat dengan sesuatu di atas mejanya aku dengan terburu-buru berlari kearah pintu rumah sakit.

‘’Nyonya.. Nyonya kau mau kemana?.’’ Ia berteriak memanggil namaku. Aku tak peduli aku terus berlari. Udara dingin dan salju yang turun seolah menusuk kulitku. Walaupun aku sudah memakai mantel tebal ini tetap saja udara pagi ditambah salju yang turun membasahi bumi membuat ini tak berarti.

‘’NARA!!!.’’ Aku menghentikan lariku. Kepalaku menoleh kearah belakang. Pria itu berdiri di depan pintu rumah sakit. Lalu ia mulai berlari mengejarku. Aku mebelalakan mataku dan kembali berlari.

‘’Tidak.. dia tidak boleh menahanku. Ia pasti akan mencegah aku bertemu dengan putraku.’’

‘’NARA!!! NARA!!!.’’

Aku sudah sampai di ujung gerbang kokoh rumah sakit. Aku menoleh kekanan dan kekiri mencari kendaraan yang bisa membawaku. Aku melambaikan tanganku saat melihat sebuah taxi melaju kearahku. Taxi itu berhenti tepat di depanku. Dengan tergesa aku membuka pintu Taxi dan menutupnya dengan cepat. Di balik jendela aku masih melihat pria itu masih mengejarku.

*

*

*

Kyuhyun POV

 

BRAK

 

Aku membuka mataku yang tadi terpejam sebenarnya aku tak tidur sejak tadi malam. Aku berpura memejamkan mataku saat gadis itu memiringkan badannya kearahku. Aku mendengarnya, saat seseorang meneleponnya.

Dengan tergesa aku meraih jas miliku. Aku berlari mengejar gadis itu. kuedarkan kepalaku menelisik setiap lorong rumah sakit. Aku berlari saat melihat tubuh mungilnya berbelok arah menuju lobi rumah sakit ini.

‘’Nyonya.. Nyonya kau mau kemana?.’’ Aku melihat resepsionis yang sedang berteriak memanggil seseorang. Aku langsung menghampirinya. Resepsionis itu mengedarkan pandangannya seperti mencari bantuan.

‘’Kemana gadis itu pergi?.’’

‘’Eoh Tuan.. apa Nyonya itu keluargamu?.’’

‘’Kemana dia?.’’

‘’Sebelumnya ia meminta mantel padaku lalu saat aku kembali berkerja ia berlari keluar.’’

‘’Terimakasih Nona atas mantel yang kau berikan.’’ Aku langsung berlari karah pintu. Mataku langsung mengarah pada jalanan beraspal. Dan aku melihat ia sedang berlari dengan terseok-seok. Jarak kami cucup jauh.

‘’NARA!!!.’’ Ia menghentikan langkahnya dan menoleh. Benar itu dia, aku berlari untuk mencegahnya. Tapi gadis itu kembali berlari dengan lebih cepat. Aku semakin mengacu lajuku tapi ia sudah melewati gerbang rumah sakit dan tak lama Taxi berhenti tepat di hadapanya. Dengan terburu-buru ia menaiki Taxi.

‘’SIALAN!!!!!.’’

Aku meninju udara dengan kesal lalu menjambak rambutku dengan frustasi. Aku mengatur nafasku sambil berkacak pingang. Jika aku berlari ke parkiran untuk mengambil mobil pasti aku akan kehilangan jejak gadis itu.

 

TINN TINN TINN

 

‘’Hey!! Apa kau akan diam saja? Cepat masuk. Permaian busuk mereka akan segera dimulai.’’ Hyukjae Hyung mengeluarkan kepalanya dari dalam jendela. Tak butuh penjelasan aku langsung berlari kecil dan membuka pintu mobil. Sesaat aku duduk Sehun kembali menacapkan gas.

‘’Seseorang menelepon Nara. Kau tau saat kami melakukan penyelidikan, Ternyata di lapangan tak ada jejak mereka.’’

‘’Apa mereka tau pergerakan kita?.’’ Tanyaku gusar.

‘’Aku rasa ya. Tadi di dalam telepon mereka mengancam Nara.’’

‘’BERENGSEK!!.’’ Aku meninju langit-langit mobil Hyukjae hyung dengan penuh amarah.

‘’Tuan Cho kendalikan dirimu.’’ Sehun meliriku dari kaca sepion dalam. Aku tak mendengarkanya nafasku semakin memburu.

‘’Sehun benar Kyu, kau harus tenang. Lebih baik kau telepon Ki Joon untuk menjaga orangtuamu.’’ Aku seketika teringat pada abojie dan eomma yang masih terlelap di kamar rawat rumah sakit. Dengan tergesa aku meraih ponselku di saku bagian dalam jas yang belum aku kenakan.

‘’Ki Joon jaga abojie dan eomma. Katakan pada mereka semuanya akan baik-baik saja.’’

‘’Tuan dan Nyonya sudah bangun, Tuan. Dan mereka menayakan keberadaanmu dan Nara.’’

‘’SIALAN!!!.’’ Aku mendesis, eomma dan abojie terlalu rentan jika terus mengikuti kasus ini. aku ingin mereka menunggu semuanya di rumah saja.

‘’Ki Joon bagaimanapun kau harus menahan mereka jika mereka bersikeras ingin menyusul dan ikut dalam pencarian ini. kau mengerti?.’’

‘’Mengerti Tuan.’’ Aku langsung memutuskan sambungan telepon dan melempar ponselku ke kursi penumpang yang kosong di sebelahku. Aku mengusap wajahku gusar.

‘’Apa yang terjadi?.’’

‘’Mereka mencariku dan gadis itu.’’

‘’Mereka sudah tua, aku khawatir pada kesehatan mereka.’’

‘’Itulah yang aku pikirkan. Oh astaga!!! Putraku.. orangtuaku… gadis itu..selamatkan mereka dan lindungi mereka, Tuhan.’’ Aku berdoa dengan lirih tapi aku tau Hyukjae hyung dan Sehun dapat mendengarkanya.

‘’Itu Taxinya.’’

‘’Benar terus ikuti Taxi itu Sehun.’’

Aku mencondongkan tubuhku pada celah kuri di depan. Mataku terus menatap kesatu arah, Taxi itu berjarak tak terlalu jauh dari kami.

‘’Tunggu, kode Taxi itu sepertinya bukan kode daerah ini?.’’

‘’OH SIALAN!!!!.’’

‘’Ada apa?.’’ Tanya ku tak sabaran saat melihat Hyukjae hyung mengerang frustasi.

‘’Aku yakin supir Taxi itu salah satu dari mereka.’’

‘’APA?????.’’

*

*

*

Nara POV

 

Tidak…tidak… aku seketika menangis saat melihat langit mulai cerah menandakan datangnya pagi. Tubuhku semakin bergetar. Taxi yang aku naiki mulai memasuki sebuah jalanan yang berkelok yang di apit oleh tebing yang tinggi di atas dan jurang yang curam di bawahnya.

‘’Tuan, dimana kita?.’’ Aku bertanya pada supir Taxi, tapi ia tak menjabawku. Lalu Taxi yang aku tumpangi berhenti di pinggiran jalan yang sedikit luas. Aku terdiam sambil melihat kesekelilingku. Dengan perlahan aku membuka pintu Taxi. Saat aku hendak membayar supir Taxi itu hanya terdiam sambil menatap lurus kearah depan.

‘’Waktu anda habis nona. Dan Tugasku selesai.’’ Supir Taxi itu menyeringai kearaku. Tubuhku membatu seketika. Ia menancapkan pedal gas lalu berjalan meninggalkanku yang masih diam membeku. Jadi.. supir Taxi itu…… salah satu dari mereka.

‘’BERHENTI!!!!.’’ Aku berlari mengejar Taxi yang semakin menjauh itu. Tuhan mengapa aku begitu bodoh… jika tadi aku menegetahui semuanya pasti aku akan menanyakan langsung dimana putraku pada supir Taxi itu.

 

DRRRTTTT DRRTTT

 

‘’Berjalan sampai tikungan pertama di depanmu.’’

 

TUTT TUTT

 

Tanpa membuang waktu aku berlari kearah depan. Aku melihatnya tikungan tajam yang tak jauh di depanku. Dengan sekuat tenaga aku berlari. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Aku menghentikan seluruh gerakan tubuhku bahkan jantungku ikut berhenti berdetak.

‘’SUNGJIN!!!!!.’’ Aku menjerit histeris saat melihat kereta bayi milik Sungjin di tepi jurang. Nafasku terputus-putus. Akhirnya..akhirnya aku bisa bertemu dengan putraku. Air mataku semakin deras saat melihat Sepatu Sungjin. Aku berlari semakin mendekat.

KREKK KREKK

Aku membulatkan mataku saat kereta bayi Sungjin bergoyang dan maju kearah depan semakin mendekati tepi jurang. Aku kembali berlari dengan langkah besar. Aku harus segera menyelamatkan bayiku.

‘’TIDAK!!.’’

Langkahku semakin dekat. Tapi aku semakin kelabakan karna semakin aku mendekat semakin dekat pula kereta bayi Sungjin pada tepian jurang.

‘’Ohh Tuhan!! Sungjin.’’

KREEKK KREEEKK

‘’Tidak..’’

KREEKK KREEKK KREEKK

‘’Sungjin..’’

‘’Sungjin eomma datang sayang!!!!.’’

KREEKK KREEKKK KREEKK

BRUKKKKKK

‘’SUNGJINNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!’’

*

*

*

Waktu seolah berhenti tubuh Nara seperti tak berpijak bahkan rasanya jantungnya seperti tak berdetak lagi. Nyawanya seperti tersengut dengan paksa dari tubuhnya saat melihat kereta bayi Sungjin jatuh kedalam jurang. Jantungnya seperti merosot di bawah kakinya.

Dengan tubuh yang luar biasa mengigil Nara merangkak mendekati tepian jurang. Hatinya hancur berkeping-keping, ini akhir dunia baginya. Melihat darah dagingmu meregang nyawa di hadapanmu. Katakan ibu mana yang masih sanggup melanjutkan hidupnya jika seperti ini?.

‘’SUNGJIN!!!!!’’

‘’SUNGJIN!!!!!.’’

 

CKITTTTT

 

BRAKKK

 

‘’NARA!!!!.’’

Kyuhyun langsung menarik tubuh ringkih Nara saat gadis itu hampir saja sampai di tepian jurang yang curam dan bisa menjatuhkan dirinya dengan sekejap mata.

‘’Lepaskan aku!!!.’’ Nara meronta dalam rengkuhan Kyuhyun. Ia terus berusaha mendekati jurang yang curam. Kyuhyun semakin mengeratkan rengkuhannya dan menyeret tubuh Nara menjauhi jurang.

‘’Sungjin..Sungjin..Sungjin..’’ tatapan Nara kosong saat memanggil nama putranya. Kyuhyun membawa Nara dalam pelukannya. Kyuhyun terluka, melihat Nara dirundung duka. Nara mengangkat tangannya keudara seolah menggapai angan di sana.

‘’Tidak..’’ Kyuhyun menghapus airmata kepedihan yang berlinang mengiringi kehancuran Nara. Di usapnya dengan lembut dan hati-hati rambut hitam lebat Nara. Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya.

‘’Bukan..bukan bayi kita.’’ Kyuhyun mengusap lembut pungung bergetar hebat Nara.

‘’Itu hanya boneka…’’ Nara seketika mendongkakan kepalanya. Menyelam dalam manik mata Kyuhyun yang terdalam. Menyalurkan perasaan hancur yang teramat dalam yang ia rasakan. Tapi seketika tatapan kosong Nara berubah menjadi sebuah harapan baru saat melihat kebenaran di mata hitam tajam itu.

‘’Kau bisa mendengarku??.’’

‘’Benarkah?’’ ucap Nara dengan suara hampa. Kyuhyun mengangguk dengan pasti Dan kembali membawa Nara kedalam pelukannya.

‘’Lalu dimana putraku?.’’ Suara jerit Nara tengelam di dada bidang Kyuhyun.

‘’Dimana dia???.’’

‘’Kau harus kuat! Kita akan mencari bayi kita.’’

‘’Kau bohong!!’’ seketika Nara mendorong tubuh kekar yang merengkuh tubuh mungilnya itu. ia menatap Kyuhyun dengan nyalang.

‘’Kau memang pelakunya.’’

‘’Katakan dimana putraku??.’’’ Nara memukul dada bidang Kyuhyun dengan bertubi-tubi. Kyuhyun terdiam, lagi-lagi Nara menyudutkannya.

‘’Katakan dimana kau menyuruh mereka menyembunyikan bayiku?.’’ Nara mencengkram kerah kemeja Kyuhyun dengan bergetar. Tatapan yang ia layangkan pada Kyuhyun penuh dengan kehancuran. Dengan perlahan dan hati-hati Kyuhyun melepasakan cengkram Nara. Lalu menahan tangan kurus itu dengan erat.

 

DRRRTT DRRRTTT

 

Nara dengan cepat melepaskan cengkraman Kyuhyun lalu dengan tak sabaran meraih ponsel di dalam cardigannya. Sebelum Nara menempelkan ponsel itu di telinganya Kyuhyun lebih cepat menyambar ponsel itu.

‘’KATAKAN DIMANA PUTRAKU BERENGSEK???!!!.’’ Kyuhyun mencengkaram pergelangan tangan Nara yang hendak merebut ponsel itu darinya.

‘’Wow!! Tuan Cho Kyuhyun yang terhormat. Suatu kebanggaan tersendiri untukku mendapat sambutan pagi dari orang terpandang sepertimu.’’

‘’BAJINGAN!!! JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN DIRIKU.’’

‘’Tapi bermain-main denganmu sangat menyenangkan Tuan Cho.’’

‘’Keparat!!!!.’’

‘’Baiklah sepertinya kalian sudah tak sabar untuk bertemu dengan bayi mengemaskan kalian, eoh??.’’

‘’Bagaimana jika aku sedikit mengobati rasa rindu kalian.’’ Tak lama Kyuhyun mendengar tangisan bayi yang sangat histeris. Nafas Kyuhyun semakin memburu urat-urat di punggung tangannya mencuat. Itu suara bayinya. Rahang Kyuhyun mengeras menahan amarah yang semakin mengepul dan siap meledak.

‘’APA YANG KAU LAKUKAN PADA BAYIKU!!!!!!.’’ Nara mengigit bibirnya yang bergetar hebat saat ia mendengar tangisan bayinya. Nara ingin merebut ponsel ditangan Kyuhyun tapi apa daya cengkaram Kyuhyun begitu kuat. Yang bisa ia hanya menangis sambil memanggil bayinya.

‘’Selamat bergabung bersama kami dalam permainan ini.’’

‘’Baiklah kita mulai saja. danau belakang bukit Universitas Sungkyunghwan, tepat pukul delapan. Dan Bawa dokumen asset perusahaanmu, maka kau akan mendapatkan putramu. Itu pilihan sulit untuk pria tamak gila harta sepertimu, bukan?.’’

 

TUUTT TUTT TUUT

 

‘’Kau jahat!!! Kau jahat!! Aku ingin mendengar suara putraku!!!.’’ Nara langsung menghempas tubuh Kyuhyun. Lalu ia kembali memukul dada Kyuhyun dengan lemah.

‘’Ini kan yang kau mau? Memisahkan aku dan putraku. Kau keterlaluan, kau menumbalkan kami untuk mendapatkan hartamu. Sandiwara apalagi yang kau lakukan kali ini??? tak usah mengelak aku tau kau pelakunya!!!!.’’

‘’Dengarkan aku. Untuk yang terakhir kali.’’ Nara menangis dengan tersedu-sedu. Nafasnya terputus-putus. Kyuhyun mencengkram bahu Nara yang terus meronta. Tatapanya menghunus tepat pada bola mata Nara. Nara seketika terdiam dengan segukan saat ditatap seperti itu oleh Kyuhyun.

‘’Bukan aku yang melakukannya..’’

‘’Bukan aku… dan kau akan semakin terluka jika menegtahui pelaku sebenarnya…’

*

*

*

Flashback

 

Tatapan Kyuhyun masih mengelap, api amarah pria itu masih berkobar dengan hebat. Tanganya mencengkram ujung lemari kaca dengan kuat hingga urat-urat di punggung tangannya mencuat. Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya dan bercermin pada kaca besar di hadapanya.

‘’Hwang Jiho… ‘’

‘’Siapa kau sebenarnya?.’’ Kyuhyun mendesis dengan suara yang sangat menyeramkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Lalu dengan langkah besar ia berjalan kearah pintu ruangan pakaian miliknya. Menuruni tangga dengan tak sabaran.

*

*

*

‘’Abojie??.’’ Tanya Kyuhyun tak sabaran pada pelayan di kediaman orngtuanya.

‘’Tuan besar berada di ruangan kerjanya, Tuan.’’ Kyuhyun mengangguk sekilas lalu berjalan kearah sebuah lorong yang bernuansa tradisional Korea.

SREEKK

‘’Eohh Kyuhyun-na… kau datang kemari nak?.’’ Hanna kaget bukan main saat ia membuka pintu ruangan kerja milik suaminya mendapati putranya berdiri dengan penampilan yang kalut di depan pintu.

‘’Eomma aku merindukanmu. Tapi aku harus bertemu abojie sekarang juga.’’ Dengan tak sopan Kyuhyun melewati Hanna yang masih terdiam dengan raut bingung melihat ada yang aneh dari putranya.

*

*

‘’Tak biasanya kau datang.’’

‘’Abojie katakan padaku….’’

‘’Duduklah… kau sangat tidak sopan.’’ Dengan tak sabaran Kyuhyun menuruti perintah ayahnya. Ia duduk bersila dihadapan ayahnya. Seunghwan menyeruput tonik yang istrinya berikan tadi dengan khidmat.

‘’Apa kau tau siapa itu Hwang Jiho?.’’ Seunghwan tidak memberikan reaksi apapun. Ia meletakan cangkir toniknya dengan perlahan di atas meja. Lalu kepalanya mengangguk dengan santai.

‘’Siapa dia??.’’ Tanya Kyuhyun tak sabaran. Seunghwan terdiam sambil memandangi putranya dengan pandangan yang sulit diartikan. Lalu tatapanya seketika menerawang mengingat kejadian dimasa lampau. Lalu pria tua itu menghembuskan nafasnya dengan berat.

‘’Kau ingat, sahabat karibku Hwang TaeJoo?.’’ Kyuhyun mencoba mengingat nama seseorang yang di sebutkan oleh ayahnya itu. lalu sekelebat bayangan masalalu silih berganti terlintas pikirannya.

‘’Ya aku mengingatnya.’’

‘’Hwang Jiho adalah putra TaeJoo. Jika kau bertanya apa aku tau siapa itu Jiho jawabannya tentu saja tau. Bahkan aku pernah menggendong ia saat bayi.’’

‘’Abojie apa kau tau apa yang terjadi???.’’

‘’Yaa aku tau.’’

‘’Kau tau tapi kau diam saja??.’’ Kyuhyun naik pitam dengan penuturan kelwat santai yang ayahnya tanggapi. Seunghwan kembali meraih cangkir tonik miliknya.

‘’Delapanbelas tahun yang lalu, saat krisis melanda Korea perusahaan TaeJoo terdaftar sebagai perusahaan yang dipastikan gulung tikar. Sebagai teman tentu saja aku membantunya untuk bangkit kembali. Aku meminjamkan modal yang sangat besar untuk perusahaanya itu. bahkan aku ikut menanamkan sahamku di perusahaanya. Tapi TaeJoo yang terpuruk sulit merangkak kembali.’’

‘’Aku ingin mengulurkan bantuanku kembali tapi ia menolak dan berkata bahwa ia terlalu malu padaku. Ia sangat menyayangi keluarganya istrinya dan kedua anaknya . Seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula, putri bungsu TaeJoo yang baru berusia lima tahun saat itu harus dibawa kerumah sakit karna demam yang sangat tinggi…’’

‘’Aku marah pada TaeJoo yang mementingkan rasa malunya untuk meminta bantuan dan aku marah pada diriku sendiri karna terlambat mengulurkan bantuan pada mereka. Gadis kecil itu akhirnya meninggal karna terlambat di tangani. Keluarga mereka semakin terpuruk…’’

‘’Dan tepat dihari kematian putrinya TaeJoo memilih mengakhiri hidupnya dengan cara menggantungkan diri di kebun belakang. Jasadnya yang tergantung di temukan oleh Jiho yang masih remaja…’’ Seunghwan menahan nafasnya saat kembali menceritakan kenangan kelam masa lalu dimana ia harus ditinggalkan oleh teman sejatinya dengan cara yang tragis.

‘’Istri TaeJoo tumbang saat itu.. dan ketika ia terbangun Jiho yang masih belia harus kembali dihadapi oleh pahitnya hidup karna sang ibu dinyatkan terkena serangan Stroke yang membuat hampir seluruh tubuhnya lumpuh.’’

‘’Abojie apa dulu aku dan Jiho pernah bertemu?.’’

‘’Kau selalu mengatakan Jiho adalah Hyung terbaikmu..’’

‘’Benarkah.. tapi mengapa ia kembali dengan seperti ini?? ia tak mengenalku… bahkan ia hendak mengancurkanku.. abojie kau tau dia… Sungjin….’’

‘’Malam itu hujan turun dengan sangat deras.. pintu rumahku yang kokoh di ketuk dengan tak sabaran. Dan saat aku membuka pintu Jiho berdiri dihadapanku dengan kilatan penuh kebencian di dalam matanya. Kau tau betapa hancurnya aku melihat remaja sepertinya harus memupuk kebencian yang teramat dalam..’’

‘’Aku tak mengerti maksudmu abojie??’’

‘’Jiho menganggap aku adalah penyebab kehancuran hidupnya. Aku yang membuat adiknya meninggal dan aku yang membuat ayahnya meregang nyawa. Ia berkata padaku bahwa seharusnya aku mengulurkan bantuanku. Jiho yang tidak tau kebenarannya akhirnya menarik kesimpulan dengan pandangan yang salah. Bertahun-tahun ia dan ibunya menghilang…’’

‘’Dan ia kembali.. Untuk membalas dendam. Melalui putra dan cucuku.’’

 

*

*

*

 

Pria itu berdiri dengan tatapan datarnya, tapi di balik tatapan itu tersimpan sebuah arti kehancuran yang di penuhi dengan api kebencian yang berkobar-kobar. Bertahun-tahun ia menunggu hari ini, hari dimana ia akan membalaskan semuanya.. harapan hidup adiknya yang terengut.. malu yang dibawa ayahnya hingga diakhir hayat, derita dan tangis ibunya selama belasan tahun…

Tatapan mengerikannya seketika berubah menjadi senyuman tipis. Lalu ia mulai bangkit dari atas kursi. Membenarkan simpul dasinya. Seringai mengerikan kembali tersunging di bibirnya saat wajahnya terpantul dari cermin.

‘’Appa..Sojin..Eomma… akan ku berikan hadiah terindah untuk kalian hari ini.’’ Kaki panjangnya melangkah dengan angkuh dan penuh perhitungan. Ini hari bersejarah di hidupnya setiap langkah yang ia tapaki sangat berarti baginya.

 

*

 

Uap udara dingin keluar disetiap helaan nafasnya. Pria itu menatap air danau yang tenang di hadapanya dengan tatapan sulit di artikan. Tangan pria terkepal.. hatinya kecilnya seketika berbisik meragu. Tapi hati yang terkabuti oleh kebencian kembali berkobar dalam hatinya. Ini adalah impiannya.. ini penantiannya.

’Oppa…’’ suara manja seorang wanita mengusik indra pendengarannya. Tak perlu membalikan badannya toh wanita itu sudah bergelayut manja di lengan kokohnya. Tapi akhirnya ia menolehkan kepalanya saat mendengar tangisan bayi mengusik indra pendengarannya.

Sungjin meronta-ronta dalam gendongan anak buahnya. Tangan Sungjin terangkat keudara mengarah padanya seolah meminta untuk dibawa dalam pelukannya. Tanpa orang lain sadari, Manik mata pria itu seketika gelisah.

‘’Cihh lihat. Tidak ibu tidak anak selalu ingin menempel padamu.’’ Gerutu wanita kelewat cantik itu semakin bergelayut manja pada pria itu. pria itu memalingkan wajahnya kembali menatap kosong air danau yang tenang. Dengan perlahan ia melirik jam yang melingkar ditangan kirinya.

‘’Lakukan sekarang…’’ perintahnya dingin lalu membalikan tubuhnya dan mulai melangkah menyusuri jembatan kayu yang sebagian besar tertutupi salju. Saat tubuhnya melewati bayi itu ia seketika berhenti. Dengan berat pria itu melirik kearah bayi yang semakin meronta ingin berada dipelukannya.

‘’Jiho oppa…’’ wanita yang masih bergelayut manja dilengannya menyadarkanya. Dengan cepat ia memutuskan kontak mata dengan bayi –kesayangannya- itu. mereka terus berjalan hingga sampai didepan mobil yang akan mengantarkan mereka pergi dari tempat itu. lagi-lagi langkah pria itu terhenti dan kembali membalikan badannya.

’Oppa…’’

‘’Hyori.. yakinkan aku bahwa ini memang benar.’’ pria itu menatap wanita terkasihnya dengan dalam. Mencari bantuan untuk memantapkan hatinya. Hyori tercengang dengan mata yang membulat sempurna.

‘’Oppa jika kau ragu, kita hentikan.’’ Wanita itu berujar panik saat melihat kekalutan di wajah prianya.

‘’Tidak.. aku sudah lama menanti untuk hari ini.’’

‘’Oppa..’’

‘’Hyori maafkan aku karna membawamu pada lembah hitam masalaluku.’’ Jiho mengecup dahi Hyori dengan penuh cinta. Lalu mereka melanjutkan langkah mereka untuk memasuki mobil.

Pria bertubuh kekar itu mendudukan tubuh mungil Sungjin di atas jembatan tanpa lapisan kain tebal yang menutupi tubuh mungil bayi itu. lalu para pria itu meninggalkan Sungjin yang terus menjerit di atas jembatan Kayu. Di hadapan Sungjin diletakan mobil mainan berkarakter Roy Robocal Poli berukuran besar dengan boneka berkarakter Nemo diatas mainan itu. mainan kesukaan Sungjin.

 

Yonggamhan gujudae roboka polli

Uriga bureumyeon eodideun dallyeogayo

Uriui chingu roboka polli

Doumi piryohalddaen eonjedeun dallyeogayo

 

Sungjin seketika berhenti menangis. Dada bayi mungil itu naik turun karna tersedu-sedu. Dengan posisi duduk bersila di atas jembatan kayu tangan Sungjin langsung bertepuk riang saat mendengar suara nyanyian soundtrack serial kartun yang Kyuhyun sering perlihatkan padanya. Walaupun masih terlalu kecil untuk mengingat sebuah lagu, tapi Sungjin sudah sangat hafal pada lagu itu. tubuh Sungjin langsung bergoyang mengikuti irama lagu kesukaanya itu, ia menjerit-jerit kegirangan.

Sungjin mengganti posisinya menjadi tengkurap dan kemudian merangkak dengan cepat diatas jembatan saat mobil mainan di depannya bergerak dengan sendirinya. Mobil mainan itu terus melaju semakin mendekati tepi jembatan. Lalu mobil mainan itu berhenti Sungjin semakin cepat merangkak hendak meraih mobil mainan itu. saat tangan mungilnya hendak meraih mobil mainan itu kembali melaju. Sungjin tetawa girang karna merasa mobil mainan itu sangat mengemaskan.

 

Polli yonggamhago ppareujyo

Roi nuguboda kanghaeyo

Amber sangnyanghago ddokddokkhae

Helli haneulwironarayo

 

CKITTTTT

 

BRAKKKK

 

‘’SUNGJIN!!!!!!!!!!.’’ Jeritan Nara mengelegar dan mengema di sekitar danau yang setengah permukaanya mulai membeku. Tubuh Nara pun ikut membeku saat melihat tubuh mungil bayinya sedang merangkak di atas jembatan kayu yang jaraknya cukup jauh dari mereka.

‘’SUNGJIN…SUNGJIN…SUNGJIN..’’ Nara berlari seperti orang kerasukan. Kyuhyun ikut mengejar Nara. Jantung pria itu seperti jatuh ke bawah kakinya saat melihat putranya di atas jembatan. Apalagi saat melihat putranya semakin merangkak mendekati ujung jembatan.

 

DRRRTTT DRRTTTT DRRRTT

 

Kyuhyun menghentikan larinya lalu tanpa perlu melihat siapa yang menelepon ia langsung menggeser tombol dan langsung menempelkan pada telinganya. Mata tajamnya tak pernah memutuskan pandangan pada putranya di atas jembatan.

‘’Semakin kalian mendekat… Putramu akan jatuh kedalam air danau yang mulai membeku.’’

‘’BERENGSEK!!!!! DIAMANA KAU BAJINGAN??!!!.’’ Kyuhyun mengedarkan pandanganya membidik seluruh penjuru hutan yang mengelilingi danau beku itu. salju tebal hampir menyelimuti seluruh kawasan danau. Kyuhyun berlari dengan kencang hendak mencegah Nara yang terus berlari di depan sana.

‘’NARA BEREHENTI!!!!.’’Nara tak mendengarnya ia semakin mempercepat larinya. Dengan langkah besar Kyuhyun kembali mengejar Nara. Lalu dengan sedikit meloncat Kyuhyun langsung menarik lengan Nara dengan kasar. Tubuh Nara hampir terjatuh jika Kyuhyun tidak menahannya.

‘’APA YANG KAU LAKUKAN???.’’ Jerit Nara dengan air mata. Ia berontak dalam kukungan Kyuhyun.

‘’SEMAKIN KITA MENDEKAT MAKA SUNGJIN AKAN TERJATUH KEDALAM DANAU!!.’’ Kyuhyun berteriak frustasi dengan mata bekaca-kaca di hadapan Nara. Nara kembali berontak tapi Kyuhyun tak memberikan celah sama sekali.

‘’Kau lihat…kau lihat.. didepan Sungjin ada Roy dan Nemo yang terus bergerak mendekati tepi jembatan.’’ Nara dan Kyuhyun menatap dengan penuh ketakutan kearah Sungjin yang sedang mengoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik.

‘’Mereka mengendalikan semuanya.’’

 

BRUG

 

Tubuh lelah Nara tumbang diatas hamparan salju. Nara menangis meraung-raung sambil mencengkarm salju di tangannya. Ia memukuli dadanya yang terhimpit beban besar. Pandanganya tertutup air mata yang mulai mengenang di pelupuk mata. Hatinya seperti di serang ribuan anak panah.

‘’Sungjin….Sungjin…SUNGJIN!!!!.’’

‘’Pemandangan yang sangat mengharukan Tuan Cho.’’

‘’BAJINGAN!!!! KELUAR KAU KEPARAT!!!!.’’

‘’Tuan Cho aku tuan rumah disini. Kau tau etika bertamu yang baik bukan?. Jangan mengumpat, jika putramu mendengar kau tak takut ia akan meniru nanti.’’

‘’KAU AKAN MATI DITANGANKU JIKA KAU BERANI MENYAKITI BAYIKU!!.’’

‘’Aku tak percaya dengan kata-katamu Tuan Cho. Bukankah aku sudah memberitahumu bawa dokumen asset perusahanmu. Tapi kau mengingkari janjimu.’’

‘’Apa maumu?.’’ Suara Kyuhyun mulai melemah. Tapi tubuhnya terus berputar dan mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kawasan danau itu. Nara terus meraung sambil terduduk tak berdaya memanggil putra mereka.

Seketika suara sirine mobil polisi dan ambulan terdengar di indra pendengarannya. Tak lama ia melihat rombongan mobil polisi dan dua ambulan di susul dengan satu mobil hitam mewah dan beberapa van di belakangnya melaju kearah tempatnya berada.

Mobil-mobil itu berhenti tak jauh dari mereka. Keluarlah Hyukjae dan Sehun, beberapa polisi dan tim penyelidik mulai menyusuri seluruh kawasan danau, mereka mulai berpencar kesegala arah. Kyuhyun tercekat saat melihat kedua orang tuanya keluar dari dalam mobil. Mata Kyuhyun semakin berkaca-kaca saat melihat raut penuh kehancuran di wajah kedua orang tuanya yang saling berpelukan menghantarkan kekuatan satu sama lain. Disana banyak sekali awak media yang sudah siap dengan kamera di tangannya. Kyuhyun murka.. tapi bukan saatnya ia meledakan emosinya pada para wartawan itu.

‘’Sialan kau membawa bala bantuan Tuan Cho. Sepertinya kau benar-benar ingin melihat putramu menyelam dalam air danau yang membeku.’’

 

TUTT TUTT TUTT

 

‘’SUNGJIN!!!!.’’ Seketika Nara bangkit dan kembali berlari mengejar Sungjin yang semakin merangkak mendekati ujung jembatan. Kyuhyun meleparkan ponsel di tanganya. Kyuhyun berlari kencang bahkan melwati Nara yang lebih dulu berlari.

 

Geu eoddeon eoryeoumdo eonjena

Igyeonaejyo

Uriui chingu roboka polli

Himchage burreobwayo….

 

Sungjin merangkak sambil merengek kesal karna mainan di depannya terus melaju. Lalu mobil itu kembali berhenti tepat di ujung jembatan. Sungjin merangkak dengan cepat lalu tangannya kembali hendak mengambil mobil itu. tapi dengan sekali gerakan…

 

Roboka polli……..

 

PLUK

 

BYURRRRRRRRR

 

‘’SUNGJINNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!’’

 

BYURRRRRRRRRRRRRRRRRR

 

*

*

*

 

Tuhan…jangan sakiti dia..

Hukum aku saja…

Aku terlalu banyak berdosa…

Tuhan jangan kau ambil nyawanya…

 

Kyuhyun terus berenang di dalam air danau yang luar biasa dingin. Susah payah ia terus mengerakan kakinya. Karna terlalu kalut melihat tubuh bayinya yang terjatuh kedalam danau Kyuhyun langsung menceburkan tubuhnya tanpa memikirkan apapun lagi. Bahkan ia lupa melepaskan sepatunya hingga ia kesulitan mengerakan kakinya di dalam air.

 

Tuhan…. aku mohon lindungi buah hatiku…

Malaikat hidupku…

 

Kyuhyun bisa melihat tubuh mungil bayinya yang dengan perlahan semakin tengelam mendekati dasar danau yang dalamnya iapun tak tau. Kyuhyun semakin cepat mengerakan kakinya dengan susah payah. Lalu tangan panjangnya langsung meraih tubuh mungil bayinya. Mata Sungjin tepejam Kyuhyun mengelengkan kepalanya denga gusar dan penuh ketakutan.

 

‘’DIMANA KAU MENYEMBUNYIKAN BAYIKU!!!!.’’

‘’Cabut…. Cabut syarat itu…’’

‘’Jangan jadikan Sungjinku… bayiku…putraku.. syarat untuk dia mendapatkan hartamu.’’

‘’KAU BOHONG TUAN!!!.’’

‘’Jika bukan kau siapa lagi yang tega melakukan ini semua padaku dan bayiku??.’’

 

Tuhan begitu banyak luka yang aku torehkan padanya…

Aku begitu hina..

Aku tak ingin melihatnya semakin menderita karna ketamakanku…

Selamatkan putraku..

Hanya putraku sumber kekuatannya…

 

‘’Aku tak tau mengapa pria itu berada di sini?. Seharusnya ia berada bersama kekasihnya, menikmati kemenangan mereka karna telah berhasil merengut Sungjin dari tanganku.’’

‘’Dia. Cho Kyuhyun.’’

‘’Dia hanya berpura-pura berada disini.. berpura-pura mencemaskan bayiku. Tapi di dalam hatinya pria itu bersorak karna melihatku hancur dan terluka seperti ini.’’

 

Mungkin tak akan ada yang percaya padaku selain dirimu Tuhan betapa hatiku hancur saat putraku jauh dariku…putraku tak ada dalam jarak pandangku…putraku terluka karna aku..

 

Tubuh Kyuhyun semakin lemah didalam air. Gerakannya semakin melambat bahkan tubuh Sungjin dalam dekapanya hampir terlepas karna tubuh Kyuhyun yang kaku seolah membeku.

 

‘’….. Tepat pukul delapan. Dan Bawa dokumen asset perusahaanmu, maka kau akan mendapatkan putramu. Itu pilihan sulit untuk pria tamak gila harta sepertimu bukan?.’’

 

Mereka benar… aku memang tamak dan kejam..

Tapi aku rela jika Kau mengambil nyawaku dan menukarnya dengan nayawa putraku..

Satu pintaku…

Bahagiakan gadis itu dan putraku setelah ini…

 

Kyuhyun mendongkakan kepala terus berenang membawa tubuhnya dan Sungjin kedaratan segera mungkin. Dengan mata yang mulai samar-samar ia masih bisa melihat setitik cahaya di atas sana. Demi putranya, Kyuhyun yang lemah semkain mempercepat gerakan kakinya.

 

Sungjin.. maafkan appamu yang tamak ini…

Maafkan appamu yang kejam dan jahat ini..

Aku sumber derita untukmu…

Aku sumber petaka untuk ibumu..

Maafkan aku yang membawa kalian dalam permainan mengerikan ini…

Berjanji padaku.. kau harus bertahan… kau harus kembali pada ibumu…

Ia menunggumu…

Ia merindukanmu…

Ia menyayangimu..

Ia mencintaimu…

Sungjin…

Putraku….

Jagoanku…

Malaikatku…

Akupun menyayangimu…

Aku merindukanmu…

Aku mencintaimu…

Kau harta yang tak ternilai yang aku miliki…

Aku bangga menjadi ayahmu…

Maafkan aku…

Dan sampaikan maafku pada ibumu….

*

*

*

 

BYURRRR

 

‘’CEPAT AMBIL PELAMPUNG!!!!.’’

‘’SUNGJIN!!!!!.’’ Nara histeris saat melihat tubuh bayinya yang membiru. Dengan gemetar hebat Nara mengambil tubuh mungil Sungjin yang membeku dari pelukan Kyuhyun di atas air. Nara langsung memeluk tubuh Sungjin denga haru. Ia meraung-raung sambil menciumi bibir bayinya yang semakin membiru. Dalam hatinya terus merintih berdoa untuk keselamatan bayinya. Lalu bala bantuan datang segera meraih tubuh kaku bayinya.

‘’Selamatkan bayiku….’’ Lirih Kyuhyun dengan tubuh dan bibir yang mengigil hebat. Tubuh pria itu membiru dan luar biasa pucat membeku. Nara yang hendak bangkit untuk menyusul Sungjin yang sedang ditangani terhenti seketika. Jantungnya berhenti derdetak saat melihat tubuh Kyuhyun masih berada di dalam air danau yang dingin. Hanya kepala dan tangan kiri pria itu yang muncul di permukaan, tangannya menompang tubuhnya pada jembatan Kayu.

‘’Tuan Cho.’’ Nara merangkak kearah Kyuhyun dengan penuh ketakutan terlebih Kyuhyun mulai memejamkan matanya. Nara menggeleng takut sambil menangkup kedua pipi beku Kyuhyun.

‘’TOLONG!!!!.’’ Jerit Nara panic pada tim medis.

‘’Bertahan… aku mohon bertahan..’’ Nara mencoba mengangkat tubuh beku membiru Kyuhyun kedaratan dengan sisa tenanganya.

‘’Bertahan!!! Aku bilang bertahan!! Demi Sungjin!!!! Demi putramu!!!!.’’ Nara menangis histeris sambil terus mengangkat tubuh Kyuhyun. Dengan perlahan tubuh Kyuhyun berhasil menaiki daratan sedikit demi sedikit. Nara semakin berusaha menarik tubuh besar Kyuhyun hingga dengan sekeuat tenaga akhirnya tubuh beku Kyuhyun berhasil berada didaratan seutuhnya. Nara meletakan kepala kaku Kyuhyun diatas pahanya.

‘’Tuan aku mohon bertahan…’’

‘’Tuan….Sungjin masih membutuhkanmu!!!.’’

Nara terus membelai seluruh permukaan wajah Kyuhyun dengan telapak tangannya untuk menyalurkan setidaknya sedikit rasa hangat pada tubuh Kyuhyun yang membeku. Nara terus menangis.

‘’Oppa… Kyuhyun oppa… sadarlah..’’ tangis Nara semakin menjadi saat Kyuhyun tak kunjung membuka matanya. Lalu tim medis datang membawa tandu, selimut dan tabung oksigen. Lalu tubuh Kyuhyun diangkat oleh tim medis keatas tandu. Mereka menyelimuti tubuh dingin Kyuhyun dan melepas sepatu Kyuhyun. Lalu mereka memberikan tabung oksigen pada Kyuhyun dan akhirnya tubuh Kyuhyun di bawa menggunakan tandu menuju ambulan.

Nara bangkit dengan tergesa mengikuti para tim medis. Ambulan yang membawa Sungjin sudah meninggalkan lokasi. Saat Nara berada di tengah jembatan seketika telinganya kembali berdenging seperti kemarin disaat Hyori menyiksanya. Lalu sekeliling Nara seolah berputar-putar.

 

TES

 

Darah keluar dari kedua lubang hidungnya. Telinganya semakin berdenging. Tubuhnya semakin lemah, kakinya seolah tak berpijak pada permukaan bumi.

BRUGGGGG

 

‘’NONA!!!.’’

Seketika semuanya menjadi gelap.

 

*

*

*

 

Kyuhyun POV

 

Aku mengerjapkan mataku dengan perlahan, tapi aku kembali menutup mataku saat menerima cahaya yang menyilaukan di hadapanku. Aku kembali mencoba membuka mataku dengan perlahan. Setelah aku mulai terbiasa dengan cahaya yang masuk dalam indra penglihatanku aku langsung mengedarkan pandanganku.

‘’Kyuhyun-na…’’

‘’Kau sudah sadar, nak?.’’

Sayup-sayup aku dapat mendengar suara khawatir eomma. Dengan perlahan aku memalingkan kepalaku kearah samping. Eomma berdiri disebelah tempatku berbaring menatapku dengan sorot mata cemasnya. Aku bisa melihat abojie yang berada di belakang eomma dengan tatapan yang tak kalah khawatir.

‘’Eomma.. bagaimana putraku?.’’

‘’Tenanglah nak.. dokter harus memeriksamu dulu.’’ Akhirnya aku mengalah dan kembali memejamkan mataku dengan lemah.

*

*

Disinilah aku, di balik pintu kamar rawat putraku. Hati ini bergemuruh ingin melihat keadaan putraku. Tapi diri ini tak memiliki nyali untuk kembali melihat gadis itu. Aku malu bertemu dengannya… aku malu pada keluargaku. Aku pun malu pada diri ini. perbuatanku kejiku tak pantas untuk mereka maafkan. Apa lagi dosaku pada gadis itu…

Aku menghelanafasku gusar dengan ragu aku mencoba mengapai handel pintu kamar rawat putraku. Aku kembali meyakinkan dalam diri untuk masuk kedalam.

 

CKLEK

 

Aku berhasil membuka daun pintu. Dengan gerakan perlahan aku semakin membuka pintu lebih lebar, lalu dengan perlahan aku memasuki kamar rawat itu. aku menghentikan langkahku diambang pintu saat melihat gadis itu duduk di sebelah ranjang putraku. Tangannya menjadi penompang kepalanya, gadis itu sedang tertidur.

Aku mengarahkan tatapanku pada tubuh mungil bayiku. Sesak dada ini seketika, bibirku kelu. Rasanya aku ingin berlari menghampiri putraku. Memeluknya..menciumnya..aku merindukannya. Tak sanggup aku menjabarkan perasaan ini saat melihat bayiku selamat dan sedang tertidur pulas diatas ranjang. Tuhan masih mengizinkan aku melihatnya…

Tak pernah aku putus memanjatkan do’a untuk keselamatan putraku. Aku merasa malu..Sang Pencipta tetap mengabulkan do’aku, seperti tidak peduli dengan seribu dosa yang menyelimutiku. Selama ini aku begitu jauh dariNya. Selama ini aku begitu angkuh dan tidak mengingat bahwa apa yang selama ini aku miliki adalah titipanNya. Ketamakan diriku atas harta dunia membawa petaka dalam asa… membawa derita yang akan selalu meninggalkan bekas luka…

Tapi aku amat bersyukur… Tuhan menyadarkanku sebelum semuanya terlambat. Aku masih diberi kesempatan untuk menyesali beribu dosaku… menelaah letak salahku.. aku memang tak bisa memperbaiku masa lalu, tapi aku yakin ini kesempatanku untuk menapaki diri menyusun masa depan yang lebih baik. Dan aku masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan putraku..bayiku.. malaikatku….

Aku semakin mendekat menghampiri putraku. Mataku berkaca-kaca… aku tersenyum haru. Tengorokanku tercekat saat hendak memanggil namanya. dengan tangan bergetar aku mencoba mengelus kepalanya. Ia tertidur sangat pulas, aku merendahkan tubuhku menumpukan kedua lututku pada lantai, mensejajarkan tatapanku pada malaikatku. Aku menciumi pipi gempal bayiku dengan ciuman selmbut kapas.. telapak tanganku terus mengusap kepalanya. Air mataku mengalir dengan deras… bairkan aku merontokan tameng kuatku hanya untuk hari ini.

‘’Terimakasih Tuhan… kau telah melindungi malaikat hidupku.’’ Aku kembali menciumi pipi gempal bayiku. Menghirup aroma bayi yang selalu menghantarkan rasa merindu padaku ini. rasanya lama sekali aku tak menghirup wangi bayiku, Tuhan betapa aku merindukannya….

‘’Tuan..’’ secepat kilat aku menghapus air mata yang berlinang di pipi ini. Tidak.. aku tidak boleh terlihat hancur di depan gadis itu. Biarlah gadis itu mengenal perangi kejam yang dingin dan tak tersentu. Biarlah seperti ini…

‘’Apa yang kau lakukan disini?’’ Nada suara begitu dingin di pendengaranku. Aku membalikan badanku. Diri ini seolah sedang dikuliti saat berhadapan dengannya. Tetap memasang tatapan tajam dan dinginku di hadapannya. Hatiku meronta ingin meminta maaf dan bersujud di hadapannya… tapi aku begitu malu dan merasa perbuatanku tidak akan pernah pantas mendapatkan maaf darinya.

‘’Apa kau ingin menyakiti kami lagi???’’. Matanya berkaca-kaca bibirnya bergetar. Melihat tubuhnya yang mengigil ketakutan saat melihatku membuat sekujur tubuhku nyeri seperti seluruh tulang ditarik paksa dari tubuhku. Aku kembali membalikan badanku menghadap bayiku.

‘’Apa setelah ini kau akan kembali menumbalkan kami?.’’ aku tetap diam bertahan menuruti rasa malu dan penyesalanku. Aku mengelus pipi bayiku dengan jari manisku.

‘’Aku mohon… jangan sakiti kami lagi.’’

‘’Aku harus pergi.’’ Aku membalikan badanku dengan cepat. Berjalan kearah pintu tanpa menoleh kearah gadis itu. aku tak sanggup… aku tak sanggup melihatnya memohon padaku. Karna aku sangat tak pantas mendapatkanya.

*

*

*

Nara POV

Aku terus menggendong tubuh Sungjin yang rewel saat hendak diberi obat oleh suster. Semenjak Sungjin sadar ia jadi semakin rewel, bahkan ia selalu ingin berada digendonganku. Tapi aku sama sekali tak keberatan. Bahkan jika diizinkan aku ingin mengikat tubuh putraku dengan diriku agar ia tak pernah pergi lagi dariku.

‘’Sayang…’’ aku mengayun-ayunkan tubuhnya dalam gendonganku. Ia semakin menengelamkan kepalanya di dadaku. Tiga hari ini aku bersedih karna ASI milikku tidak keluar, dokter bilang aku terlalu stress hingga berdampak pada kualitas ASI milikku. Aku bersedih karena Sungjin terus merengek meminta ASI. Seperti saat ini.. ia pasti menginginkan ASI ku. Kami sudah mencoba memberinya susu formula pengganti ASI. Tapi Sungjin menolak tapi kami terus memaksa karna tidak ada cara lain. Tapi akhirnya kami berhenti melakukannya saat Sungjin mengalami diare karna tak cocok dengan susu formula.

Dokter menyarankanku untuk tidak stress karna ini demi bayiku. Aku menurut dengan perintah dokter. aku semakin kalut saat Sungjin semakin menangis. Baiklah hari ini akan aku coba. Aku menaikan tubuhku diatas ranjang rawat Sungjin. Dengan terus mengusap kepalanya aku mencari posisi duduk senyaman mungkin. Aku meluruskan kakiku diatas ranjang agar nanti aku tidak kesemutan.

‘’Sabar sayang..’’ aku membuka tiga kancing teratas dress selutut yang aku gunakan. Menompang tubuh mungil Sungjin di lengan kiriku. Aku membuka braku dan menyodorkan puttingku kemulut Sungjin. Sungjin langsung melahap dan menghisap puttingku dengan tak sabaran.

‘’Syukurlah…’’ akhirnya ASI ku kembali keluar. Dengan haru aku menciumi dahi Sungjin.

‘’Makan yang banyak sayang… kau pasti sangat merindukannya.’’ Aku menepuk-nepuk bokong Sungjin hingga akhirnya Sungjin kembali terlelap.

*

*

*

aku berjalan di lorong rumah sakit. Aku membeli beberapa makanan untuk mengisi perutku. Aku berjalan dengan lelah. Sebenarnya tubuhku meronta ingin beristirahat tapi tidak waktuku terlalu sempit hingga untuk beristirahat saja rasanya tak bisa. Aku menghentikan langkahku saat melihat pria itu berdiri di depan kamar rawat Sungjin.

‘’Untuk apa kau kemari lagi?.’’ Ia membalikan badannya. Ia menatap kantung pelastik di tanganku.

‘’Kau kurang ajar sekali bertanya seperti itu!.’’ aku tertawa getir melihat perangi buruknya yang tak pernah berubah atau mungkin tidak akan pernah berubah.

‘’Pergilah dan jangan menemui kami lagi…’’

‘’Hati-hati dengan ucapanmu. Dengan uang dan kekuasaan yang aku miliki, aku bisa mengambil Sungjin dari tanganmu..’’ jantungku seketika berdetak dengan kencang. Aku mencengkarm tanganku pada kantung pelastik saat mendengar ancamannya.

‘’Aku tak takut Tuan. Karna aku ibunya.’’

‘’Aku ayahnya.’’

‘’Tidak ada seorang ayah yang melukai putranya… tidak ada ayah yang menumbalkan nyawa putranya hanya demi sebuah harta…’’’ ia tersentak lalu ia menghunusku dengan tatapan yang sangat mengerikan. Matanya mengelap rahangnya mengeras bahkan urat-urat di lehernya mencuat.

BRAKKK

Aku meringis kesakitan saat ia mendorong tubuhku ke dinding lalu menekan bahuku dengan kuat disana. Tubuhku mengigil hebat, pria ini begitu menakutkan. Sungguh sebenarnya aku begitu takut pada pria ini. tapi demi Sungjin aku harus menyampingkan rasa takutku.

‘’Dengarkan aku berengsek!.’’

‘’Bukan aku pelakunya… semuanya sudah terbukti jelas.’’

‘’Jika kau sekali lagi berani mengatakan hal tadi, kali ini aku benar-benar tak segan menghabisi nyawamu. Mengerti?.’’

‘’MENGERTI!!.’’ Aku menganggukan kepalaku dengan cepat. Aku begitu ketakutan melihat ia begitu mengerikan. Ingin rasanya aku menjerit dihadapanya. Tapi mengapa diri ini begitu lemah di hadapannya. Aku ingin melawan tapi bayang-bayang mengerikan saat ia menyiksaku membuat aku menyurutkan niatku. Mengingatnya saja seolah membasahi luka-luka yang ia berikan padaku.

*

*

*

aku masih bergetar, walaupun ia sudah lama pergi tapi aku masih didera rasa takut yang amat luar biasa. Aku memeluk tubuhku mencoba melindungi tubuhku. Aku terisak.. harus bagaimana lagi aku menghadapi semua ini? ia begitu kuat dan aku teramat lemah. Aku hanya ingin membawa pergi Sungjin darinya saja. hanya itu…

‘’Nara..’’ karna terlalu larut atas kesedihanku hingga aku tak menyadari seseorang masuk kedalam kamar inap Sungjin. Aku menghapus air mataku lalu membalikan tubuhku. Hatiku menghangat saat melihat sosok itu di ambang pintu. Bahuku melemas seketika tangisku pecah dihadapanya.

‘’Nara..’’

‘’Seukhye….’’ Seukhye langsung berlari menghambur dalam pelukanku. Aku memeluk tubuh rampingnya dengan erat. Iapun semakin mengeratkan pelukannya padaku. Aku menangis dalam pelukannya. Tubuhku bergetar hebat.. aku menumpahkan segala emosiku dalam pelukan hangatnya. Aku dapat mendengar isakan tangisnya.

‘’Maafkan aku… maafkan aku Nara…’’.

‘’Seukhye-Ya…. Seukhye-ya….’’ aku terus menangis dalam pelukannya. Akhirnya Tuhan… kau mengirimkan seseorang yang dapat aku jadikan tempat mencurahkan hatiku selain padaMu. Setidaknya saat ini aku memiliki seseorang yang akan berada di sampingku. Aku tak sendiri lagi… aku memiliki Sungjin dan Sahabatku.

*

PENGADILAN TINGGI KOREA

 

Nara dan Kyuhyun duduk berdampingan, hari ini adalah sidang pertama dari kasus penculikan putra mereka. Nara sedari tadi hanya menundukan kepalanya. Hatinya perih dan sakit saat melihat seorang pria yang sangat ia kenali ternyata dalang dari penculikan putranya.

Isakan Nara terdengar oleh Kyuhyun, Kyuhyun menoleh pada Nara. Pria itu mencengkarm ujung kursi menahan emosi dan keinginannya untuk menghapus air mata ibu dari anaknya itu. ia tau Nara begitu sedih saat mengetahui pria yang selama ini ia anggap kakaknya sendiri adalah otak dari penculikan ini.

Sama halnya dengan Kyuhyun yang begitu kecewa dan teramat marah pada wanita yang selama ini ia cintai.. wanita yang selalu menjadi prioritas utamanya.. wanita yang ia puja.. wanita yang selama ini hanya berpura mencintainya. Jang Hyori, Kyuhyun selalu kalap jika mendengar atau mengingat nama itu.

Ia sudah dibodohi habis-habisan selama ini. cintanya dihianati… ia seperti kerbau yang dicokcok hidungnya selalu menuruti apa kata Hyori. Bahkan Kyuhyun tega menghancurkan hidup Nara karna Hyori. Kyuhyun rela melakukan apa saja demi Hyori bahkan ia rela menyelamkan dirinya hanya untuk membahagiakan Hyori.

Tapi apa yang Hyori lakukan? Kemarin saat ia menemui Hyori wanita itu dengan tak tau malunya mengakui semuanya pada Kyuhyun. Ia mengatakan semuanya pada Kyuhyun. Ternyata selama ini ia hanya berpura-pura mencintai Kyuhyun.. wanita itu juga mengatakan ia muak harus tersenyum padanya.. menciumnya.. memeluknya..bahkan bercinta dengannya. Tidakkah ini sama seperti apa yang ia lakukan pada Nara?

Tuhan sangat mencintai Nara, hingga Nara tak di izinkan mengotori tangannya untuk membalas perbuatan tak berhati Kyuhyun. Tuhan punya cara sendiri untuk membalas Kyuhyun. Berbeda dengan Jiho, Hyori melakukan ini semua bukan karna balas dendam tapi karna ia memang benar-benar tergiur oleh harta keluarga Cho. Terlebih Kyuhyun yang begitu memujanya membuat ia semakin bernafsu untuk menguasai harta keluarga Cho.

‘’Dengan ini saudara Jang Hyori terbukti bersalah atas pasal kekerasan pada wanita dan penculikan anak. Maka dari itu Saudara Jang Hyori akan menjalankan masa hukuman lima belas tahun penjara…’’

‘’Dan Saudara Hwang Jiho terbukti bersalah atas pasal perencanaan penculikan dan penculikan pada anak. Maka dari itu saudara Hwang Jiho akan menjalankan masa hukuman lima belas tahun penjara..’’

 

TOK TOK TOK

 

Palu hakim sudah diketuk dan artinya sidang hukuman pada Jiho dan Hyori sudah selesai. Mereka berdua mengakui kesalahan mereka. Mereka tak mengelak atau meminta banding atas kasus ini.

Nara memejamkan matanya linangan air mata terus mengalir dari celah yang terpejam itu. Kyuhyun terdiam dengan tatapan kosong walau tetap dengan mimik wajah yang angkuh. Kyuhyun bangkit dari atas kursi.

‘’Berhentilah semua sudah selesai.’’ Ucap Kyuhyun pada Nara. Nara membuka kelopak matanya yang sembab dan memerah. Dengan perlahan ia bangkit, kilatan kamera dari awak media terus membidik dirinya dan Kyuhyun. Ya selama satu bulan penuh kasus penculikan Sungjin menjadi topic terhangat di Negri Gingseng itu. bahkan Koran bisnis London dan kawasan Asia ikut memuat berita ini. tentu saja ini berita besar mengingat kiprah Blue Bird Group di Korea dan Asia. Cho Seunghwan dan Cho Kyuhyun adalah pengusaha bertangan dingin yang mendulang sukses besar selama ini.

banyak pula yang penasaran dengan sosok Nara dan Sungjin. Pasalnya masayarakat Korea tidak ada yang tau bahwa selama ini Kyuhyun sudah memiliki keluarga. Banyak pula remaja putri yang kecewa dengan fakta ini. selama ini Kyuhyun memang bak bintang idol di Korea, ia memiliki banyak pengemar.

Kyuhyun melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruang sidang. Nara mengekori Kyuhyun dari belakang. Langkah Nara terasa berat, Nara menghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya kearah belakang. Tatapan mereka bertemu, Jiho sedang menatapnya dalam. Nara pun membalas tatapan itu dengan tatapan sendunya.

‘’Oppa…’’ lirih Nara dengan bergetar, Jiho dapat membaca kalimat Nara dari gerakan bibir gadis itu. Kyuhyun menghentikan langkahnya yang hampir mencapai pintu ruang sidang. Kemudian ia membalikan badannya dengan perlahan. Kyuhyun mematung saat melihat tubuh mungil Nara yang berjalan dengan perlahan dan bahu yang bergetar kearah Jiho yang berdiri dipegangi oleh beberapa polisi.

‘’Oppa…’’ Nara mendongkakan kepalanya manatap tepat kemanik mata Jiho yang berkabut. Jiho tercekat menatap kedua bola mata Nara yang menatapnya dengan berjuta arti.

 

PLAKKK

PLAKKK

 

Nara melayangkan tamparannya pada kedua pipi Jiho. Jiho terdiam tak melawan ataupun berteriak, ia merasa pantas mendapatkannya bahkan harusnya ia mendapatkan lebih dari ini. Nara menangis meraung dihadapan Jiho dengan tubuh yang bergetar hebat.

‘’Kenapa kau tega melakukan ini???.’’ Nara memukul dada Jiho dengan penuh kehancuran. Jiho terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

‘’Oppa… kau jahat.. kau jahat…’’

‘’Nara…’’ panggil Jiho dengan susah payah. Nara terus memukul dada Jiho. Jiho menatap kedua polisi yang sedang menahan kedua tangannya. Ia memohon lewat tatapan matanya untuk mereka melepaskan cengkaramnya. Dengan perlahan kedua polisi itu melepaskan cengkaram mereka tapi tetap memberikan pengawasan ekstra pada terdakwa.

‘’Maafkan aku…’’ Jiho langsung menarik tubuh mungil Nara kedalam pelukannya. Jiho menangis sambil mengecup helaian rambut hitam lebat milik Nara. Nara semakin menjadi dalam pelukan Jiho. Tapi gadis itu membalas pelukan Jiho.

‘’Maafkan aku.. aku tau aku tak pantas mengatakan ini padamu…’’

‘’Oppa…’’

‘’Jaga Sungjin… kau ibu yang hebat untuknya.. kau ibu yang kuat..’’

‘’Oppa..’’

‘’Aku menyesal Nara… sungguh aku menyesal…’’

‘’Oppaaa..’’

‘’Aku sangat menyayangi kalian.. sungguh aku tak berpura..’’

‘’Aku tau oppa.. aku dapat merasakannya…’’

‘’ Hiduplah dengan baik setelah ini..’’

‘’Terimakasih oppa kau telah menjadi Daddy untuk Sungjinku…’’

‘’Aku jahat Nara.. aku Jahat..’

‘’Kau sangat Jahat oppa! Tapi entah mengapa aku tak sampai hati untuk membencimu..’’

‘’Maafkan aku..’’ Nara menganggukan kepalanya dengan mantap. Jiho melepaskan pelukan mereka. Dengan perlahan ia mengecup dahi Nara lembut dengan mata yang terpejam Nara pun ikut memejamkan matanya. Jiho menyudahi kecupanya lalu dengan lembut ia mengusap air mata yang membashi pipi Nara.

‘’Jadilah wanita dan ibu yang kuat setelah ini.’’ Nara menganggukan kepalanya sambil tersenyum lembut. Dengan perlahan Jiho memundurkan langkahnya para polisi langsung menghampirinya dan kali ini memborgol kedua pergelangan Jiho. Nara masih berdiri di tempat dengan tatapan terus mengarah pada Jiho.

 

Tak jauh dari tempat Nara berdiri, Kyuhyun terpaku ditempat. Hatinya terbakar api cemburu. Ia benci mengakui betapa ia hancur tak tersisa saat ini. melihat Nara memaafkan Jiho semudah itu meninggalkan lubang besar dihatinya. Apa Nara pun akan memaafkan Kyuhyun semudah itu? Kyuhyun tersenyum miris mengingat begitu banyak dosa dan kesalahanya pada Nara. Kyuhyun melangkah dengan gontai. Kyuhyun memejamkan matanya lalu linangan air mata terjatuh dengan perlahan mengaliri pipinya.

*

*

*

Suara kapal dan gemuruh air laut membuat suasana pagi itu semakin hangat. Musim dingin telah berlalu dan hari ini matahari kembali menyapa dengan malu-malu. Nara berjalan diatas dermaga dengan tergesa, tanggannya menjinjing sebuah tas besar. Sungjin terus merengek diatas gendongannya. Nara hanya bisa mengelus kepala Sungjin dengan sayang untuk menenagkan.

Keputusannya sudah bulat, ia akan pergi meninggalkan Seoul dengan berjuta kenangan indah dan menyakitkan di dalamnya. Yeodong-ri tempat tujuannya kali ini, kampung halaman ibunya. Walaupun disana ia tak memiliki sanak saudara tapi ia bertekad akan memulai hidup barunya dengan Sungjin di desa kecil itu.

Mungkin ia egois memisahkan Sungjin dan Kyuhyun untuk kedua kalinya. Tapi ini adalah pilihannya, ia tak sanggup bahkan hanya sekedar melihat Kyuhyun. Ia sudah memaafkan segala perbuatan Kyuhyun, walaupun hingga detik ini kata maaf belum terucap dari bibir pria itu.

‘’Nara!!!.’’ Nara tersentak tapi ia tetap melangkah bahkan ia semakin mempercepat langkahnya. Tanpa ia membalikan tubuhnya ia tau siapa yang memanggil namanya. Kapal yang ia tumpangi sebentar lagi akan berangkat ia tak memiliki banyak waktu. Sungjin semakin meronta dalam gendongannya, kepala bayi itu menoleh kearah belakang.

‘’Sungjin!!!.’’ Sungjin semakin menjerit saat Nara terus melangkah. Tangan bayi itu sudah terangkat keudara seolah memberitahu pada seseorang yang memanggilnya bahwa ia ingin berada di peluknya.

‘’Mamamama.’’ Seketika Nara menghentikan langkahnya saat mendengar suara bayinya. Dengan cepat Nara memfokuskan pandanganya pada Sungjin.

‘’Mamamamama.’’ Sungjin terus merengek sambil berceloteh memanggil namanya tangan mungilnya terus menunjuk mengarah kebelakang. Nara tersenyum dengan air mata penuh haru saat mendengar kalimat pertama yang di ucapkan bayinya. Tas besar di tangannya terjatuh diatas dermaga. Dengan perlahan Nara membalikan badannya. Diujung sana Kyuhyun sedang berlari dengan terengah kearah mereka. Nara memejamkan matanya menyerah, ia menurunkan tubuh Sungjin dengan posisi berdiri.

Sungjin seketika berhenti merengek. Bayi itu mencoba menjaga keseimbanganya. Lalu dengan langkah kecil perlahan kaki mungilnya mulai menapaki selangkah demi selangkah. Jantung Nara berdebar kencang saat melihat kembali tumbuh kembang putranya.

‘’Sungjin!!! Boy!!!.’’ Kyuhyun semakin cepat berlari. Dan Sungjin dengan girang semakin melangkah kearah Kyuhyun.

‘’Papapapapa.’’ Kebahagiaan semakin membucah di hati Nara dan Kyuhyun. Bahkan Nara menutup mulutnya yang terisak penuh haru kebahagian saat mendengar Sungjin memanggil Kyuhyun. Sungjin melangkah dengan tak sabaran. Tapi seketika tubuh bayi itu sedikit limbung. Nara dan Kyuhyun yang melihat itu kompak langsung berlari menghampiri putra mereka.

 

HAP

 

Mereka berhasil meraih tubuh mungil Sungjin sebelum bokong berisi putra mereka mencium aspal dermaga. Dengan posisi berlutut pada permukaan aspal mereka memeluk tubuh bayi mereka. Tawa Sungjin seketika mengelegar. Bahkan bayi itu berteriak dengan gemas hingga air liurnya membasahi bibir dan dagu. Kyuhyun dan Nara tersenyum lembut melihat kelakuan mengemaskan bayi mereka.

Tangan kekar Kyuhyun meraih tubuh mungil Sungjin dan membawanya dalam pelukan hangatnya. Kyuhyun langsung menyalurkan rindunya dengan menciumi seluruh wajah bayinya dengan gemas hingga menimbulkan bunyi. Sungjin kembali terkekeh kegirangan sambil meronta energik di pelukan Kyuhyun.

Nara menundukan kepalanya. Seketika hatinya diselimuti perasaan malu dan bersalah karena hampir membuat ayah dan anak itu berpisah. Kyuhyun yang melihat itu dengan perlahan mencoba meraih tubuh mungil Nara yang sedang bergetar karna tangis dengan tangan kanannya yang menggangur. Kyuhyun mencoba menghapus jarak yang tercipta antara mereka, tanpa penolakan Nara dengan perlahan mendekatkan tubuhnya. Kyuhyun langsung mengurung Nara dalam dekapannya. Seketika Nara menangis di dada bidang Kyuhyun sambil mencengkram kemeja dibagian pingang pria itu.

‘’Jangan tinggalkan appa..’’ ucap Kyuhyun pada Sungjin. Tapi dalam hati Kyuhyun berteriak pula pada Nara untuk tidak meninggalkannya. Kyuhyun akan hancur jika benar Nara dan Sungjin akan pergi darinya. Bahkan tadi ia sudah bertekad jika ia terlambat mencegah Nara dan Sungjin maka detik itu juga ia akan menengelamkan dirinya kedalam laut di pelabuhan itu.

‘’Appa menyayangimu… appa membutuhkanmu… appa mencintaimu…’’ dan dalam hati Kyuhyun kembali menjerit bahwa ia pun sangat menyayangi Nara.. sangat membutuhkannya dan sangat mencintainya. Tapi ia hanya dapat menjertitkan perasaanya dalam hati. Ia merasa tak pantas untuk mengatakannya secara langsung pada Nara. Dengan perlahan dan tanpa di sadari oleh Nara, Kyuhyun terus mengecup kepala Nara, menyalurkan rasa cinta dan kasihnya yang tak terungkap pada gadis itu. biarlah seperti ini….

‘’Mamamama’’

’Papapapapa.’’

Nara dan Kyuhyun kembali tertawa melihat tingkah mengemaskan putra mereka. Lalu dengan perlahan tatapan mereka saling bertemu. Kyuhyun menatap Nara dengan dalam melalui tatapan tajamnya dan Nara membalas tatapan itu dengan lembut melalui tatapan sendunya. Perlahan Kyuhyun memejamkan matanya dan mengecup dahi Nara seketika Nara memejamkan matanya menerima kecupan lembut Kyuhyun.

Suara kapal yang mulai mengarungi lautan hembusan angin yang membelai tubuh mereka serta matahari yang di awal musim yang bersinar dengan cerah menjadi saksi semua awal dari kehidupan baru mereka.

 

Ketika duka menumpuk di hati..

Yang ada hanyalah sesak dan perasaan ingin pergi

Ketika pilu mendekap sunyi..

Yang terdengar adalah isak dalam sepi

Namun saat duka itu memudar seolah pergi

Begitu ringan terasa dihati..

Tak ada lagi ketakutan yang membayangi..

Tak ada lagi perasaan ingin berlari

Bagai kelopak bunga yang terlepas dari mahkota

Lalu terbang tertiup angin..

Begitu ringan hingga tak lagi kurasa sesak di hati

Mungkin inilah jalan panjang…

Yang harus dilalui sebagai proses mendewasakan sang hati.

Memaafkan tidaklah mudah..

Tetapi bukan berarti kita tidak mampu

Aku tak memiliki satu abad untuk mendendam..

Tapi aku selalu mempunyai satu detik

Untuk melupakan dan memaafkan’

 

-Oh Nara-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuh tahun kemudian…

 

‘’Oppa… ayo bangun.’’ Kyuhyun terus memejamkan matanya. Ia hanya berpura-pura tertidur untuk mengoda gadisnya. Kyuhyun menunggu gadisnya membangunkannya dengan cara lain. Kyuhyun dapat merasakan tangan halus yang menepuk-nepuk pipinya dengan lembut.

‘’Oppa…bukankah kita akan berlibur…’’ Kyuhyun kembali merasakan saat tubuh mungil itu mulai menindih tubuhnya yang masih terbaring. Kyuhyun semakin bersorak kegirangan tak menyangka gadisnya bertindak agresif sepagi ini.

‘’Baiklah sepertinya aku harus menciumu untuk terbangun.’’

Ayo sayang.. aku sudah sangat menunggu itu dari tadi.’ Kyuhyun mulai memajukan bibirnya menanti dengan tak sabaran material lembut yang menjadi candu baginya itu menyapa bibirnya. Kyuhyun terus memajukan bibirnya. Hingga ia mengaduh kesakitan karna seseorang sedang menindihnya sambil berloncat-loncat.

‘’APPA!!! APPA!!! AYO BANGUN!!!.

‘’Arrggghhhhhh.’’ Kyuhyun meringis saat rambutnya ditarik dengan paksa oleh tangan kecil itu. Lalu ia kembali mengaduh kesakitan saat seseorang yang sedang menindihnya semakin meloncat-loncat dengan posisi duduk diatas perutnya. Dengan kasar ia langsung membuka matanya. Matanya mengerjab seperti orang bodoh. Ia menatap Sungjin yang masih menggunakan baju tidurnya sambil terus meloncat-loncat diatas perutnya. Kyuhyun mengedarkan pandanganya keseluruh penjuru kamar yang berantakan oleh bungkus makanan dan kaset game sisa permainannya dan Sungjin tadi malam. Tapi ia tak menemukan sosok gadisnya.

‘’Mana eomma-mu?.’’ Tanya Kyuhyun tak sabaran pada putranya. Sungjin memanyunkan bibirnya sambil melipat tangannya di dada menatap Kyuhyun dengan ekspresi marah yang mengemaskan.

‘’Tentu saja eomma di rumah.’’

‘’Dirumah?.’’

‘’Ia dirumah. Gwangjin-gu, tentu saja eomma disana.’’

‘’Apa?.’’ Kyuhyun membeo karna jawaban putranya. Tak lama Kyuhyun tersenyum miris sambil menjambak rambutnya saat kesadarannya sudah terkumpul.

‘’Lagi-lagi hanya mimpi. Tapi mengapa begitu indah Tuhan.’’ Kyuhyun menengelamkan wajahnya dengan bantal. Tanganya berkali-kali memukul permukaan kasurnya dengan miris. Tujuh tahun lamanya ia menunggu Nara. Gadis itu tidak mau kembali padanya.. katakan Kyuhyun bodoh karena memang ia tak pernah meminta Nara untuk kembali kesisinya. Bahkan Kyuhyun selalu bersikap dingin, kasar dan angkuh di depan Nara. Selama ini Kyuhyun hanya memendam semua rasa di dalam hatinya.

 

‘’Appa jangan tertidur lagi..’’

‘’APPA!!.’’ Kyuhyun langsung menarik tubuh mungil Sungjin untuk tertidur di sebelahnya. Ia sama sekali tak mendengarkan protes putranya. Tubuh besarnya langsung memeluk tubuh mungil putranya. Sungjin meronta dalam pelukan Kyuhyun.

‘’Appa sangat merindukan eomma-mu.’’ Lirih Kyuhyun tak terdengar Sungjin karna bocah it uterus berteriak meronta dalam pelukan ayahnya. Tapi Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya seolah menyalurkan rindu pada putranya seletah satu bulan tak bertemu. Kyuhyun juga sangat merindukan Nara. Saat ini hubungan mereka baik, sangat baik bahkan jauh lebih baik saat mereka masih bersama. Secara hukum Nara masih sah menjadi istrinya. Tapi Kyuhyun terlalu malu dan tak pantas untuk meminta Nara kembali padanya. Kyuhyun hanya menunggu jalan Tuhan yang akan membawa Nara padanya. Kyuhyun sangat Yakin dengan itu.

‘’Appa kau berat!!.’’

‘’Tubuhmu juga semakin berat saat kau menindih appa tadi.’’ Kyuhyun sedikit merengangkan pelukannya. Ia mengusap rambut hitam lebat milik putranya yang sama percis seperti miliknya. Sungjin akan menginap di rumahnya selama satu minggu setiap bulannya.

‘’Eomma juga selalu mengatakan itu jika aku menindihnya.’’

‘’Jadi kau melakukan itu juga pada eomma-mu?.’’ Tanya Kyuhyun dengan mata yang membulat besar dan di balas oleh anggukan polos putranya. Kyuhyun mencebikan bibirnya menahan kesal pada putranya.

‘’Dengar jangan lakukan itu lagi pada eomma-mu.’’

‘’Mengapa?.’’

‘’Kau itu berat. Kau tak lihat tubuh eomma-mu begitu kecil seperti itu.’’

‘’Tapi eomma tak pernah marah padaku..’’

‘’Ya tapi appa yang marah padamu.’’

‘’Mengapa appa marah padaku?.’’

‘’Karna hanya appa yang boleh menindih eomma-mu.’’

‘’Jadi appa menindih eomma juga? Aku tak pernah melihatnya.’’

‘’Itu dulu, saat kami membuatmu.’’

‘’Tubuh appa jauh lebih besar dari tubuhku dan eomma. Tapi mengapa appa boleh menindih eomma sedangkan aku tak boleh?.’’

‘’Itu karena.. karena.. aishh sudahlah otakmu bisa kotor jika appa memberitahumu. Baiklah kita lakukan ikrar pagimu Boy!!.’’ Dengan perlahan Kyuhyun melepaskan pelukanya pada Sungjin. Sungjin bangkit dari posisi tidurnya lalu berdiri diatas kasur sambil menyimpan telapak tangannya di dada. Kyuhyun duduk sambil bersender pada kepala ranjang megah miliknya.

‘’Satu…’’

‘’Jangan membuat eomma bersedih.’’

‘’Dua…’’

‘’Jangan membuat eomma menangis.’’

‘’Tiga…’’

‘’Menurut apapun yang dikatakan eomma.’’

‘’Empat..’’

‘’Lima..’’

‘’Hormati sayangi dan cintai eomma dan appa’

‘’Hormati, Sayangi dan cintai harabojie dan halemmonie.’’

‘’Enam..’’

‘’Halangi semua pria yang mendekati eomma.’’

‘’Bagus! Tujuh…’’

‘’Katakan pada mereka bahwa aku memiliki appa.’’

‘’Pintar!! Delapan…’’

‘’Katakan pada mereka bahwa eomma memilik appa.’’

‘’Sepuluh kaset game terbaru untukmu Boy!! Sembilan…’’

‘’Jika mereka melawan laporkan pada appa.’’

‘’Sepuluh…’’

‘’Lindungi eomma dan selalu berada di sisi eomma dan appa.’’

‘’WOW!!’’ Kyuhyun langsung menarik Sungjin keatas pangkuannya. Sungjin terkekeh bangga pada Kyuhyun. Kyuhyun langsung mengacak-acak rambut Sungjin dengan sayang. Lalu mereka saling mengadukan kepalan tangan mereka dengan tawa riang.

‘’Kau semakin pintar Boy!!!.’’

‘’Tentu.’’

 

 

Aku tau kesalahanku begitu besar padamu..

Aku tau kau pantas menghukumku..

Tapi jujur saja aku tak sanggup jika kelak kau membenciku

Sayang aku masih menunggu…

Aku akan selalu menunggu..

Aku akan tetap menunggu..

Kasihku..

Aku tau kau masih ragu pada cintaku..

Tapi aku akan bersabar dengan waktu

Aku akan bershabat dengan waktu

Untuk menunggumu…

Sayang kembalilah padaku…

Aku merindukanmu..

Sayang apa kau mendengarkan aku…

Aku mencintaimu…..

 

-Cho Kyuhyun-

 

END

 

 

 

 

Pasti pada pegel tuh mata baca ff panjang ini??? 58 lembar 17046 kata loh. Hihihihi. Maaf ya kalau ff nya kepanjanganan. Oh ia maf ya kalau ada yang gak puas dari ending ff ini. makasih ya buat para readers yang ngedukung mulai dari Protect My Baby, Meet Again, sampe Protect Our Baby part A sampe B ini. komentar yang membangun itu berarti penting bagi aku untuk melanjutin ff ini.

Makasih juga buat admin sjff2010 yang udah memberi kesempatan aku untuk menitipkan karya aku di blognya. Sekali lagi aku berterimakasih *BOW

28 Comments (+add yours?)

  1. dilan16
    Jul 22, 2016 @ 13:38:44

    koq ga bersatu sih..hikz..
    sequel donk thor…
    buat kyuhyun balik sma nara..biar sungjin punya dede…kkk

    Reply

  2. divya
    Jul 22, 2016 @ 13:47:18

    Ahh cerita yg di tunggu nihh, suka bgt sama crta nyaa, berharap ada sequel ttg couple ini 😂 semangat terus thor buat ff nya

    Reply

  3. missrumii
    Jul 22, 2016 @ 16:01:07

    Yah kirain bakal barengan.
    Tapi ending nya ngga gagal kok, bagus, ngga semua ending sesuai keinginan readers. Akhir yang susah ditebak bikin FF nya lebih mantap!
    Sepanjang apapun kalau ceritanya kayak gini ga penasaran deh.
    Aaahh sequel yaaa.
    Seneng sih Nara jaga harga dirinya, tapi kasian Sungjin kalo harus bulak balik kayak gitu, halah ngerayu author 😝

    Reply

  4. emypc
    Jul 22, 2016 @ 16:22:40

    Akhirnya ff yang di tunggu update juga ^^
    Serius ini ceritanya gak di duga banget keren lah pokoknya sampai buat gue kebawa suasana jadinya ^^
    Di tunggu Sequel nya Author^^
    Please kasih sequel nya yah siapa tau ntar kyuhyun sama naranya baikan ^^

    Reply

  5. Amaya
    Jul 22, 2016 @ 19:40:06

    ;_____; suka sama endingnya tapi berharap ada sequel.. ugh Kyu setidaknya minta maaf lah sama Nara! ya ampunnn masih kesal dan gak suka sama sifat Kyu yang satu ini.

    Reply

  6. christin
    Jul 22, 2016 @ 19:48:12

    gak mau tau… harus lanjut nih ff… bikin mereka bersatu thor… tapi bikin aku nangis lho td liat perjuangan nara… sampai ia dipukuli kyk td…

    Reply

  7. lulu
    Jul 22, 2016 @ 22:55:11

    Akhirrnyaaaa.. Endingnya bikin gregetan thor. Sequel wajibb. Semangat author 😃😃. Kalo sering baca ff kyuhyun punya sifat kasar kek gitu lama-lama bisa jadi haters nya kyuhyun
    #diseretkyukekamar 😈😈😈

    Reply

  8. karlina lee
    Jul 23, 2016 @ 05:40:26

    Akhirnya ff yg di tunggu2 update juga..
    ending nya bagus susah di tebakk .. kirain kyu sama nara bakalan bersatu tpi ternyata tidakk , tpi menurut ku segini jga udh bagus ko .. Semoga ada kelanjutan nya dan semoga nara dan kyu bisa bersatu biar sung jin gk usah bolak balik lagi ..
    Smoga ff ini ada kelanjutan nya aminn

    sekian
    dan terima kasih 🙂 😉

    Reply

  9. ElvaZavier
    Jul 23, 2016 @ 07:42:19

    akhirnyaaaa update juga …
    ceritanya bagus banget. ekstrim juga pas sungjin nyebur kali … aq sampai mau nangis … 😦
    tp untunglah semuanya selamat.
    aku rasa ini ending yg tepat buat mereka berdua. biar kyu gak dengan mudah mendapatkan apa yg dulu disia2kannya. dan nara gak terkesan murahan yg dengan gampangnya memaafkan kyuhyun. karena semua ini terjadi karena ulahnya juga. kyu dpt balasan sesuai dgn yg diperbuatnya pada Nara tanpa campur tangan nara sendiri. hahha .. Tuhan maha adil. 😀

    Reply

  10. rereazhari
    Jul 23, 2016 @ 14:51:44

    Ugh kyuhyun terlalu pengecut untuk jujur hmm

    Reply

  11. sarivanny
    Jul 23, 2016 @ 21:50:07

    yaahhhh gak happy ending ternyata yahhh …tapi gapapa deh yg penting mereka ber2 udh berhasil nyelametin sungjin dari bahaya
    aku dari awal juga udh ngeh sih kalo dalang dari penculikan sungjin itu sijiho dari ciri*nya udh bener banget

    Reply

  12. lieyabunda
    Jul 24, 2016 @ 04:41:45

    sedih banget sih,,,
    kenapa mereka gak bisa bersatu….
    berharap ada sequelnya….
    hehehe

    Reply

  13. fadhilah
    Jul 24, 2016 @ 04:42:41

    daaaaeeeebakkkkk…
    gatau lagi deh harus bilang apa..
    ceritanya ngaduk-ngaduk emosi banget,
    tapi agak sedih endingnya karna kyuhyun ngga bersatu lagi sama nara 😦

    nice ff author 🙂

    Reply

  14. esakodok
    Jul 24, 2016 @ 13:50:59

    endingnya puasss bangettt….
    hahaha…memang butuh waktu buat nara mau balikan sama kyuhyun…hzzz..tp kyuhyunnya juga masih gengsi g mau mjnta balikan lagi

    Reply

  15. MinMi
    Jul 24, 2016 @ 14:24:35

    Ya Ampun akhirnya yg di tunggu2 di post juga

    Akhirnya kyuhyun sadar juga
    Ga ada series lainnya gitu yg nyeritain kyuhyun berjuang dapetin nara lagi hahaha

    Suka bgt sama ceritanya
    Nah kan bener si jiho dalangnya, udah curiga dari part yg A

    Tapi untung akhirnya happy juga ga ada yg mati meski ada ngeganjel dikit di hati
    Sequel iyaa hehe
    Semangat!! 😁

    Reply

  16. ama@0224
    Jul 26, 2016 @ 14:52:26

    Klo inget sikap kyu sh wajar klo nara gk balik sama kyu…..tp masa gk happy ending sh huhuhuhu…..

    Reply

  17. JuliaShin
    Jul 26, 2016 @ 20:50:17

    Ya allah meweq mulu dari awal sampe akhir 😭 kenapa nara sama kyuhyun gak bersatu endingnya? :’) ditunggu ah sequel nya, masih kurang/? wkwk Nice Story! 👍

    Reply

  18. Widyaa
    Jul 26, 2016 @ 21:55:54

    Aduuuhhh… knapaaa mreka gak tinggal bareng??? Need sequel lagii authornim >< sumpahhh ni ffnya kereeen bgtt… sequel juseyo^^

    Reply

  19. ammy5217
    Jul 27, 2016 @ 05:17:44

    Akhirnya kyu sadar juga setelah bnyk hal yg terjadi, terutama saat penculikan sungjin. Btw kpn sih kyu jujur buat mempertahankan nara???pgn bgt mereka bersatu lg……after story dooong hehe

    Reply

  20. andradnf
    Jul 27, 2016 @ 10:19:26

    Akhirnyaaa update;___; Good ending thorr!!walau sedih mereka masih gak tinggal bareng…tapi suka banget sm bagian ikrar setiap paginya sungjin:)

    Reply

  21. inggarkichulsung
    Jul 29, 2016 @ 22:01:26

    Finally happy ending u mrk berdua Nara dan Kyu oppa krn mgk mrk sebaiknya tdk bersama2 dulu tp tetap bersama2 membesarkan Sungjin dgn kasih sayang yg sama besarnya, kasihan Nara penderitaannya sgt banyak dan tdk menyangka jika tersangka utamanya adl Jiho pria yg slm ini dekat dgn Nara, daebak ff chingu

    Reply

  22. viinaa
    Jul 30, 2016 @ 22:04:57

    Wow happy ending

    Reply

  23. choaie91
    Aug 05, 2016 @ 21:28:45

    Kayanya butuh sequel lgi..dengan sifat baru kyu yg seperti malaikat pada nara

    Reply

  24. abangdian
    Aug 05, 2016 @ 23:23:24

    Yahh kyu sm nara kok gak balikan sih?? Sdikit kcewa sih, tp puas lah,, gak sia sia nantiin ni ff..
    Good job thor,, tp kalo bisa ada edisi tmbahan dong,, bikin kyu sm nara balikan pliss thor?? :*

    Reply

  25. ElsaaCho
    Aug 06, 2016 @ 01:53:47

    yaaahhh.. kirain bareng lagi kyu dan nara. need sequel thor!!! 😊😊

    Reply

  26. Shin cira
    Dec 26, 2016 @ 13:52:37

    Ayooo nara kembalilah….
    7 th bukan waktu yg sebentar
    Dan cho kyuhyun masih menuggumu

    Reply

  27. Athalia endry
    Feb 16, 2017 @ 01:42:30

    Ya Tuhan I’m crying nowww… Ceritanya bagussss banget dan aku nangis 😭. Yaa…. Ini ending yang logis juga sih mengingat ginana perlakuan kyuhyun ke nara yang selalu jahat bertahun tahun. Aku juga klo diposisi nara gak bakal gampang bgt lah balik ke kyuhyun, paling ya mentok di memaafkan. Hehe. Cuma yaa.. Namanya reader sih sebenarnya juga pengen “happy ending” bukan cuma dirasain hubungan keluarga tapi juga hubungan kyuhyun nara hehehe. Ada rencana buat sequel lagikah thor? Hehehehe

    Reply

  28. femkim
    Jul 19, 2017 @ 01:36:49

    aduh kyu oppa gak berubah sih, suka lihat kebahagian mereka

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: