Reborn [1/?]

hh

TITTLE : Reborn 1

– GENRE : Romance, Suspance

– LENGTH : Series

– RATED : 15

– MAIN CAST : Cho Kyu-Hyun, Cho Sun Ae, Lee Donghae

– AUTHOR : Aryn

– TWITTER : Aryn_Cathrine

– FACEBOOK :  Aryn Cathrine/ Han Sun Ae

Blog : haeverlastingfriends.wordpress.com

Jangan menjadi polisi sepertiku. Jadilah polisi yang baik.”

***

            Sun-Ae terbangun dari tidurnya dan duduk di atas ranjang empuk yang luas. Ia menekuk lutut, memeluknya dan terdiam. Ada suara-suara di sekelilingnya, suara angin malam, suara orang bercakap-cakap, suara hujan, petir, suara mengerikan yang berbisik di telinganya. Memanggil namanya.

Ketika Sun-Ae membuka kedua matanya, yang ia lihat hanyalah gelap. Setelah hampir delapan tahun, Cho Sun-Ae masih saja bermimpi.

Saat itu malam natal, semaraknya sudah terasa bahkan sejak awal Desember datang. Jalanan ramai, tidak ada yang terlalu istimewa malam itu kecuali kenyataan bahwa ia berada di depan Blue House dengan hati berdebar-debar. Sun-Ae membawa sekotak  coklat kesukaannya—walau setelah ini ia tahu orang itu akan semakin berulah—tapi tidak apa-apa, dia menyukainya. Sun-Ae menyukai segalanya tentang orang itu.

“Sedang keluar, baru saja. Terjadi perampokan di apartemen sekitar Gangnam, dua korban dan salah satunya meninggal dunia, itu yang kudengar. Kau ingin menitip pesan?”

“Tidak. Terima kasih.”

Sun-Ae boleh kecewa, tapi ia tahu ini bukan kali pertama hal itu terjadi. Ketika pekerjaan merenggut hampir seluruh waktu dan perhatiannya, Cho Sun-Ae tidak boleh marah. Dia sudah memutuskannya dulu. Menerima orang itu beserta segala risikonya.

Sun-Ae menarik napas, ada sedikit rasa ngilu mencuat di dadanya. Sialan.

Sun-Ae tidak pernah tahu kalau malam itu akan terjadi badai salju. Ia sudah berusaha sampai di rumah secepat mungkin dengan aman, tapi apa yang direncanakannya tidak berjalan dengan mulus. Sun-Ae mengemudikan mobilnya dengan tenang walau kecepatannya masih tetap di atas rata-rata, antara ia kesal tidak berhasil—lagi—mencuri kesempatan bertemu dengannya, atau, dia yang memang sedikit mabuk malam itu. Setelahnya ada banyak sekali kendaraan saling hantam di hadapannya, Sun-Ae ingin menghentikan laju mobil tapi terlambat, mobilnya terpental, menabrak pembatas jalan disertai dengan suara berisik yang memekakkan telinga. Sun-Ae masih sadar ketika sesuatu menghantam perutnya, ia terlempar jauh, kepalanya serasa akan pecah, bau anyir darah, dan ia terlelap.

Yang Sun-Ae lihat ketika ia terbangun lagi adalah kakaknya.

Cho Kyu-Hyun mengangkat Sun-Ae, ia menjadi duduk bersandar di kepala ranjang dan memakai selimut. Sun-Ae melihat Kyu-Hyun menutup jendela kaca, mematikan AC dan menyalakan penghangat ruangan. Kyu-Hyun kembali pada Sun-Ae dan mengusap keningnya.

“Kau akan baik-baik saja. Kau sudah bersamaku sekarang.”

Sun-Ae mengalihkan pandangan. Ia pikir dengan pulang dan tinggal di dekat Kyu-Hyun, perasaan itu akan sirna. Tapi belum. Ia masih bisa merasakan kematian di depan batang hidungnya. Menciuminya.

“Kau gemetaran. Ingin mandi? Atau makan?”

Sun-Ae memerhatikan kakaknya. Cho Kyu-Hyun tinggi menjulang, kulit putih pucat seperti miliknya, hambut hitam kelam yang dipotong rapi dan dibiarkan berantakan, rahang kokoh, otot yang kencang dan tubuh yang bugar. Bayangkan apa yang ada dibalik pakaian hitamnya itu. Sun-Ae yakin Kyu-Hyun sering menyentuh wanita, tapi tidak akan membiarkan wanita menyentuhnya. Kyu-Hyun memiliki mata yang tajam dan awas, hidung runcing dan bibir padat menggoda. Sosoknya yang kejam dan dominan menjadi daya tarik terbesar selain kekayaannya yang bukan lelucon. Harusnya Sun-Ae sudah merasa cukup aman ketika pria seperti Kyu-Hyun di tempatkan di sisinya. Harusnya begitu. Tapi sayangnya Sun-Ae belum merasa seperti itu.

“Mandilah, kuambilkan makanan.”

Kyu-Hyun keluar dari kamar. Sun-Ae menuju kamar mandi dan menutup pintu. Ketika ia bertumpu pada sisi-sisi kaca di dalam kamar mandi yang luas, ia melihat seorang wanita. Rambutnya marun, tergerai jatuh melewati bahu, kulitnya putih pucat, lebih pucat dari Kyu-Hyun, nyaris transparan ketika berada tepat di bawah sorot lampu, matanya hitam kelam, siap menenggelamkan siapapun yang menatapnya. Bibirnya segaris, tipis atas dan bawah, berwarna merah alami namun saat ini kering dan pecah-pecah. Wajahnya, suram di mata Sun-Ae. Suram dan menyedihkan. Wanita yang dilihat Sun-Ae seolah tak bernapas. Tak hidup. Dia sekarat.

Ketika sadar, Sun-Ae sudah melayangkan tinjunya ke permukaan kaca. Kaca itu pecah lalu berhamburan di lantai bersamaan dengan hilangnya sosok wanita yang Sun-Ae lihat. Sun-Ae membenci wanita itu. Wanita yang merenggut hidupnya. Dirinya.

“Itu lebih baik daripada diam dan gemetaran di atas ranjang.”

Kyu-Hyun melirik tangan Sun-Ae yang berdarah, lalu beralih mengikat rambut marun Sun-Ae yang acak-acakan.

Much better, rite?”

Bibir kering Sun-Ae terangkat naik. “Yeah.”

Sun-Ae pergi mandi, bayangan dirinya sendiri adalah musuh. Monster. Dan ia takut monster itu akan membunuhnya nanti.

Ketika ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Kyu-Hyun di area duduk di dalam kamarnya. Sudah delapan tahun, tapi Cho Kyu-Hyun belum juga berubah.

Sun-Ae sudah bersama Kyu-Hyun sejak ia lahir, selain para perawat panti di Clovelly tentu saja. Sun-Ae tidak pernah dan tidak ingin mengenal sosok ibu atau ayah, tidak berguna. Dan kalau pun mereka masih hidup, Sun-Ae tidak berniat mencari apalagi bertemu dengan mereka. Baginya, begini saja sudah cukup.

“Kenapa tiba-tiba?” Kyu-Hyun melempar sebuah apel hijau pada Sun-Ae. “Kau bahkan tidak memberitahuku kalau akan pulang.”

Sun-Ae memandang berkeliling. Ia dan Kyu-Hyun meninggalkan Inggris saat umur mereka masih sangat muda. Kyu-Hyun tujuh belas dan Sun-Ae empat belas. Mereka hidup luntang-lantung, miskin, menderita, kelaparan, melarat. Kyu-Hyun bekerja di dari satu toko ke toko lain hingga tidak tidur, dan Sun-Ae disuruh menunggu belakang toko. Bayarannya, dua bungkus roti yang tidak habis terjual. Mereka membaginya untuk malam itu dan keesokan harinya.

Hari-hari ketika mereka kembali ke Seoul tidak langsung membaik. Hingga akhirnya Kyu-Hyun bekerja pada seorang profesor yang tergila-gila dengan teknik mesin. Kyu-Hyun itu cerdas. Bersama profesor tidak waras itu mereka membuat pesawat terbang dan beberapa kendaraan segala medan, termasuk tank untuk perang. Bermula ketika itu, hidup mereka membaik. Kyu-Hyun bekerja dan Sun-Ae melanjutkan sekolah, hingga akhirnya ia memilih masuk dan bergabung dengan Kepolisian.

“Aku hanya memastikan kalau kau masih waras. Aku takut kau berakhir seperti Profesor Kim. Aku tidak mau punya saudara gila.”

“Senjata api keluaran tahun ini ditolak pemerintah, kami memasarkannya ke Eropa dan kau pasti tidak mau tahu apa saja, dan berapa banyak yang kudapatkan.”

“Ya, aku memang tidak mau tahu.” Sun-Ae duduk dan memerhatikan layar komputer di atas meja. “Mulai sekarang aku tidak akan pergi lagi. Elliot menugaskanku di Kepolisian Seoul ketika Dubes Korea memintanya langsung. Bedebah mereka itu.”

“Kau tidak menolak?”

“Menurutmu aku harus menariknya ke atas ranjang dan memintanya membatalkan semuanya?”

Kyu-Hyun bisa melihat pemberontakan Sun-Ae yang terkunci dari matanya yang nyalang. “Malang sekali kau.”

Sun-Ae tertawa kecil. “Lebih malang lagi anak ini.”

Sun-Ae menekan satu tombol di antara berbagai tombol canggih yang ditanam Kyu-Hyun di meja besar di area duduk. Bahkan setelah Sun-Ae meninggalkan Seoul dan melarikan diri ke Paris, Kyu-Hyun masih saja memfasilitasi kamar wanita itu dengan barang-barang tercanggih dari berbagai belahan dunia, beberapa di antaranya khusus Kyu-Hyun ciptakan sendiri sesuai kebutuhan wanita itu. Untuk memudahkan pekerjaannya.

Ada dua layar besar di ruang duduk, melekat di dinding sebelah barat dan timur, saling berhadapan satu sama lain, dan ketika berfungsi, percayalah kau bisa melihat dunia bahkan sampai ke lubang semut. Kyu-Hyun itu sinting, dan Sun-Ae menyukainya. Ada satu LCD yang menampilkan apartemen Sun-Ae saat di Paris, tentu Kyu-Hyun juga memantaunya. CCTV Blue House, Kejaksaan, Rumah Tahanan dan beberapa rumah para petinggi. Sun-Ae bisa memenjarakan Kyu-Hyun atas pengintaian ilegal ini, tapi buat apa? Ini kan seru.

Yang tampil di layar bagian timur adalah grafik, berwarna hijau dan merah, hologram dan tabel-tabel dengan angka-angka menyebalkan. Kemudian muncul sebuah gambar diri.

“Korbanmu?”

“Korban pertama dalam kasusku.”

Sun-Ae memerintahkan komputernya untuk menguraikan data, menjelaskan segalanya tentang korban pertama.

Jung Mi-Ran, 4 tahun, tewas tenggelam di pantai Busan. Jasadnya ditemukan tiga hari kemudian, di depan rumah kedua orang tuanya.

“Kasus si bocah Busan.”

Sun-Ae melirik Kyu-Hyun sekilas, ada sekelebat rasa iba dan kemarahan melintas di matanya.

“Karena kedua orang tuanya miskin dan buta hukum, tidak ditindak lanjuti. Kasus ini mencuat ke permukaan ketika dalam tahun yang sama terjadi dua pembunuhan berturut-turut.”

“Stella, dan Yoon Eun-Jin.”

Ketika Sun-Ae benar-benar menatap Kyu-Hyun, kemarahan di wajah pria itu semakin nyata.

“Ya, Stella masih terdaftar di sekolah dasar swasta di Daegu ketika ditemukan di dasar jurang curam di balik gunung. Sementara Yoon Eun-Jin, siswi sekolah menengah pertama di Incheon, jasadnya ditemukan di ruang seni, masih menggunakan tutu skirt, dengan tali sepatu balet melilit leher. Jasadnya hampir busuk ketika ditemukan, saat itu libur sekolah.”

Kyu-Hyun menatap gambar-gambar yang muncul di layar.

Gambar diri pertama adalah gambar bocah perempuan berkulit putih, bermata hitam dan berambut gelap. Tinggi badannya mungkin hanya selutut, atau paling tinggi sepaha Kyu-Hyun. Dalam gambar itu dia tersenyum ke arah kamera, ke arah Kyu-Hyun. Menohok, dan menembus Kyu-Hyun.

“Dia hanya seonggok daging, daging yang bahkan belum matang. Bajingan mana yang mampu menghabisinya?”

Dari suaranya, Sun-Ae bukan hanya menangkap kemarahan, tapi juga dendam. “Jika aku menjadi Jung Mi-Ran—mati diumur empat—bagaimana reaksimu?”

Walau tidak menatap kakaknya, Sun-Ae merasakan dengusan Kyu-Hyun. “Akan kupastikan orang yang membunuhmu menderita sebelum mati ditanganku, kemudian aku akan jatuh terperosok dalam jurang kesedihan, penyesalan dan kesakitan berkepanjangan.”

Sun-Ae terbahak. Lalu suaranya kembali terkontrol. “Hanya begitu saja? Tidak berniat menyusulku?”

“Jatuh terperosok itu artinya aku akan datang padamu setelah menghabisi orang yang mengakhiri hidupmu. Memangnya untuk apa lama-lama aku hidup?”

Bibir Sun-Ae terkatup. “Benar. Untuk apa lama-lama hidup?” Sun-Ae melihat layar lagi ketika gambar kedua muncul. “Stella Park.”

Yang mereka lihat adalah seorang anak perempuan berumur sekitar 10 tahun, manis, jakung, kulit putih pucat, rambutnya hitam.

“Ayah dan ibunya menetap di Jerman dan dia diasuh kakek neneknya. Kedua orang tua renta itu memercayai Budha dan beranggapan bahwa kematian cucunya adalah kehendak Tuhan, hukum alam. Masih sangat tradisional. Tidak ada laporan, dari data yang kutemukan jasad Stella bahkan dimakamkan di gunung yang menjadi tempat kematiannya.”

Kyu-Hyun belum berkomentar, kepalanya masih berkabut dengan pertanyaan Sun-Ae. Walau tahu wanita itu iseng, tapi pertanyaannya cukup membuat rahang Kyu-Hyun berkedut.

“Awal tahun ini, aku yakin kau tidak melupakannya.”

Kyu-Hyun sempat terkesiap sebelum menjawab. “Lee Jung-Ha.”

“Tewas di Oakwood Premier Coex Center, kamar nomor 1804, di dalam bath up berisi balok es. Diduga Jung-Ha mati beberapa hari sebelum ditemukan, penghuni kamar 1804 tidak mengenalnya, tidak tahu bahwa di kamar mereka ada mayat. Kulitnya terkelupas ketika masuk ruang autopsi. Tidak ada orang tua, hidup di panti asuhan sejak berumur dua dan bersekolah di Anyang Art High School, Gyepnggi-do. Kau diperiksa dalam kasus ini sebagai saksi.”

Kyu-Hyun menghela napas. “Hari-hari yang panjang. Walau tidak berpengaruh banyak terhadap pengunjung hotel, tetap saja, sibuk.”

Yeah, sibuk. Kyu-Hyun paling anti dengan kantor polisi, dan kenyataan bahwa mayat Lee Jung-Ha ditemukan disalah satu dari ratusan hotel bintang limanya membuat Kyu-Hyun terusik.

Sun-Ae memerintahkan komputer untuk menyatukan data dari penyelidik terdahulu. Lalu layar komputer terbagi atas empat bagian untuk masing-masing korban.

“Tidak banyak data yang ditemukan hingga awal tahun ini. Pembunuh berdarah dingin, kejam, dan tak segan-segan mengungkap pola pembunuhan. Dia sengaja memperkenalkan diri.” Sun-Ae memulai, ia menyadarkan punggung ke sandaran sofa empuk berwarna hitam. “Jung Mi-Ran, orang tuanya mendapatkan telepon dari pemasok di pasar ikan, meminta kedua orang tuanya datang, dan, karena berbagai alasan, Mi-Ran ditinggalkan seorang diri di rumah mereka. Orang tua Mi-Ran baru melihat anaknya beberapa hari setelah itu, dalam wujud mayat.” Sun-Ae terdiam, lalu mengernyit samar. “Aku punya sumber yang mengatakan bahwa orang tua Mi-Ran sempat menuntut keadilan, tapi mereka diusik. Ibu Mi-Ran pernah mengaku mendengar ancaman dari radio miliknya. Setelah itu Ayah Mi-Ran menjadi korban tabrak lari, meninggal, dan Ibu Mi-Ran lenyap ditelan bumi.”

Kyu-Hyun menatap wajah Mi-Ran di layar. Dan sesuatu meninju dadanya. “Sangat jelas kalau ini pembunuhan.”

“Jelas sekali,” imbuh Sun-Ae santai. “Tapi penyelidik awal kasus ini tidak menemukan apapun. Buntu segala arah.”

“Lalu kau ditugaskan membuka pintu jalan buntu.”

“Iya, sial kan?”

Sun-Ae melirik ponselnya yang bergetar di atas meja rendah. Ada panggilan dari Kepolisian, dan ia tidak bisa berharap untuk kabar baik.

“Sun-Ae.”

Kyu-Hyun melihat adiknya terdiam, wajahnya datar, keras, tegas, dan kadang sulit terbaca—seperti saat ini—ia mengangkat sebelah alis. Dan Kyu-Hyun tahu bahwa Sun-Ae tidak menyukai gagasan apapun yang disampaikan kepadanya.

“Brengsek.”

Satu poin untuk Kyu-Hyun.

Sun-Ae mematikan komputer, lalu berderap melangkahi Kyu-Hyun menuju almari pakaian. Wanita itu mengganti pakaian, menyiapkan segala berkas, alat komunikasi canggih miliknya, yang baru dari Kyu-Hyun dan laptop tipis yang muat dalam tas kecilnya. Ia melintasi Kyu-Hyun dan membanting pintu.

“Perlu tumpangan?” Kyu-Hyun berteriak sambil terkekeh. Tapi Sun-Ae tidak muncul. Dia mungkin di dapur, mengutil cokelat mede. Sesaat kemudian Kyu-Hyun melihat wajah adiknya di antara dinding dan pintu. Kesal, dan murka. Jadi Kyu-Hyun cepat-cepat bersiap mengantar wanita itu ke tempat yang paling dihindarinya. Kepolisian.

***

Sun-Ae berhasil berada di Kepolisian tepat pukul tujuh kurang lima belas. Ketika ia sampai belum banyak orang yang datang, ia langsung menemui Komandannya yang, menurut Sun-Ae, antara wajah dan usianya tidaklah sebanding. Jung Il-Woo menyambutnya dengan baik, sangat baik malah. Karena sudah tahu kasus yang kepalai Sun-Ae, Il-Woo memberikan wanita itu akses penuh setiap data yang diperlukan, setiap prasarana dan setiap jasa yang bisa mempermudah jalannya penyelidikan, akan diberikan secara cuma-cuma bagi wanita itu.

Karena kali ini kasus pembunuhan berantai yang dihadapi Sun-Ae lumayan berat, maka wanita itu bertanggung jawab langsung pada Il-Woo dan kepala polisi. Dan untuk kasus ini, Sun-Ae memiliki tim yang anggotanya sudah ditentukan. Dan untuk itu Sun-Ae tidak bisa menolak.

Sun-Ae ditempatkan di ruangan yang semestinya. Walau tidak secanggih dan seelegan kantornya di Paris, tapi tempat itu lumayan. Il-Woo tahu Sun-Ae benci kebisingan, maka ruangannya dibuatkan khusus di lantai dua Divisi Kejahan Cyber.

Kira-kira pukul sembilan, timnya berkumpul di ruang rapat A1 di gedung yang sama. Sun-Ae menyapukan pandangan pada tiga orang yang mengisi kursi di balik meja kaca hitam berbentuk U.

Detektif Henry, yang paling muda berdasarkan file data diri yang Sun-Ae baca sekilas dalam perjalanan menuju ruang rapat barusan, rambut kuning, wajah bayi dan kulit seputih susu. Dia fasih bermain komputer sejak sekolah menengah atas, pernah bekerja di perusahaan game online di Kanada dan tiga tahun lalu direkrut oleh Kepolisian.

Yang bertubuh agak gempal berambut hijau gelap itu Kangin, Detektif dari Divisi Kriminal dan Kekerasan, walau tidak terlalu sabar menghadapi komputer, dia memiliki insting yang hebat di TKP.

Yang paling kanan, wanita jakung berkaca mata dengan rambut hitam berponi. Dr. Keiko Naira, ahli dalam memperbaiki bukti digital yang rusak, video maupun audio. Tidak heran kacamatanya tebal.

“Cho Sun-Ae. Dan mulai saat ini menjadi Ketua tim Unit 1 Kejahatan Cyber.”

Sun-Ae menyentuh layar yang memenuhi dinding di hadapan mereka semua, semalam ia sudah memilah dan mengurai data, ia menjelaskan apa yang terjadi dua tahun belakangan ini. Tentang pembunuhan berantai di mana korbannya adalah 4 perempuan mulai usia balita hingga remaja.

Penjelasannya persis seperti yang ia jelaskan pada Kyu-Hyun di rumah. Ketika Sun-Ae baru akan menjelaskan tentang Stella Park, pintu kaca yang harusnya tidak bisa terbuka untuk petugas biasa menghasilkan seorang pria dengan setelan abu-abu yang melekat sempurna di tubuhnya. Sun-Ae bisa mengendus aroma mint, tidak terlalu keras, tidak terlalu ringan. Takaran yang pas.

Lalu Sun-Ae berubah pikiran, ia mencium aroma karamel, bukan, perapian, dia menghirup hawa sebuah rumah yang nyaman. Sun-Ae menelisik jauh dalam bawah sadarnya. Di mana ia pernah menghirup aroma ini? Wangi udara dingin di musim gugur. Itu dia. Dan ketika Sun-Ae mengangkat wajah, matanya dan mata pria itu berserobok. Matanya berwarna cokelat madu, bening, indah, mengagumkan. Jenis mata yang sudah terbiasa Sun-Ae masuki. Mata yang mampu membuat Sun-Ae menggigil.

“Maaf, aku mendapat panggilan mendadak.”

Suaranya selembut sutra, seringan kapas. Ketika Sun-Ae menghela napas, dadanya berat entah bagaimana.

“Lee Dong-Hae. Ketua Divisi Pembunuhan. Kepala Polisi memintaku untuk bergabung untuk kasus ini.”

Lee Dong-Hae mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ia mengangguk sejenak, sopan dan bersahaja pada Henry, Kangin dan Keiko secara bergantian. Lalu berhenti pada Sun-Ae yang berdiri di depan layar. Matanya menatap Sun-Ae. Tidak ada perasaan pribadi. Murni profesionalitas.

Dari sudut matanya, Sun-Ae bisa melihat Keiko tersenyum. Mudah saja. Lee Dong-Hae bisa sangat memesona bahkan hanya karena tatapan matanya dalam durasi nol koma sepersekian detik. Dulu sekali, Sun-Ae juga sempat terpesona oleh mata berkilau itu, namun setelah malam di mana Dong-Hae menemuinya, bagi Sun-Ae, mata itu telah kehilangan pesonanya.

“Stella Park ditemukan tewas di dasar jurang. Bersebelahan dengan gunung yang sudah lama tutup untuk pendaki baru.” Sudah cukup basa-basinya, pikir Sun-Ae. Mereka sudah tertinggal banyak. Harus melangkah maju.

“Stella mendaki gunung untuk mendapatkan hadiah.” Henry, dengan aksen Kanada yang membuatnya terkesan imut angkat suara. Pria itu memandang Sun-Ae dan anggota lain secara bergantian. “Ada sebuah e-mail yang datang padanya stau minggu sebelum Stella naik gunung. Di sana tertera beragam hadiah-perlengkapan mendaki-yang bisa diraihnya kalau bisa mendaki hingga ketinggian yang ditentukan.”

“Ya, kami sudah mendapatkan data ini. Tapi benar-benar buntu ketika menentukan motif.”

Sun-Ae mengangguk pada Keiko. Lalu mengangkat dagu dengan cepat ke arah Henry.

“Saat itu Stella mengikuti perintah e-mail, dia mendaki gunung dan pulang sebagai mayat.”

Sampai di situ, pikir Sun-Ae. Masih samar. Entah Stella sengaja di dorong dari atas gunung dan dibiarkan mati mengendap di dasar jurang, atau… pelaku memiliki cara lain.

“Terkait Lee Jung-Ha, ketika peristiwa terjadi penghuni kamar 1804 sedang berlibur menyambut thanksgiving, mereka mengaku tidak di kamar hotel selama tiga hari.”

“Mereka?” Sun-Ae bertanya ragu.

“Mereka—Pasangan Charolette—Warga Negara Rusia yang berlibur di Seoul. Sudah dimintai keterangan ketika itu juga sebagai saksi, tidak menimbulkan keyakinan apapun, bisa disimpulkan mereka bersih. Mereka meninggalkan kontak pengacara kalau memang dibutuhkan.”

“Yoon Eun-Jin, dia juga menerima e-mail. Kontes untuk seleksi penari balet—Mengejar peran Odette—sudah menjadi impiannya sejak kecil, dia terobsesi, dan mengikuti perintah e-mail untuk berlatih di ruang seni setiap kamis malam untuk tiga minggu. Anak-anak yang begitu polos, bukan? Kasihan.”

Sun-Ae membalik tubuh, terlampau polos, atau bodoh? Sun-Ae memerhatikan gambar empat perempuan yang berbeda tempat, dan cara kematian. Rentan waktu tidak terlalu jauh. Sun-Ae menyimpulkan bahwa pelaku tidak masalah jika tertangkap, cepat atau lambat, dia siap, bahkan, ketika ia telah mencapai misinya, Sun-Ae pikir, pelaku tidak akan keberatan untuk menyerahkan dirinya sendiri. Sun-Ae memerhatikan gambar para korban, berulang kali. Sesekali mendengar bisik-bisik anggota yang lain.

“Mayat mereka baru teridentifikasi tiga hari setelah hari kematian.” Sun-Ae menoleh dan setuju dengan analisis Kangin. “Kuku keras dan biru, kulit terkelupas, daging yang rusak dan bau busuk. Keadaan mereka memprihatinkan ketika diketahui petugas atau keluarga. Semuanya begitu.”

Kalau semuanya begitu, renung Sun-Ae, bolehkah ia menyimpulkan kalau pelaku adalah orang yang sama? Dengan tujuan yang sama?

“Tidak ada kekerasan seksual,” imbuh Dong-Hae pelan. Wajahnya tenang setenang nada bicaranya. “Tidak ada kekesaran apapun, kecuali di pori-pori korban terdapat gumpalan air yang mengendap, juga sebuah cincin, berbandulkan matahari.”

Yang satu itu, Sun-Ae baru mengetahuinya beberapa detik yang lalu. “Gumpalan air seperti apa yang kau maksud?”

“Air, dan berbagai campuran wewangian.” Dong-Hae memandangi Sun-Ae. “Aku berada di ruang autopsi tahun lalu, aku mengikuti kasus ini. Mereka bertiga dalam keadaan tidak layak ketika ditemukan, tapi hasil autopsi menemukan rongga di bawah pori-pori tempat mengendapnya air. Dan aku cukup yakin dengan penciumanku, wewangian.”

“Kalau itu Lee Jung-Ha, aku bisa terima. Dia ditemukan dalam bath up dengan balok es. Air meresap dan membekukannya.”

“Tidak,” mata lembut Dong-Hae berubah awas. “Lee Jung-Ha sudah mati sebelum ia berada dalam bath up.”

Sun-Ae, entah mengapa, merasa sedikit sinis. “Bagaimana kau tahu?”

“Aku juga berada di Oakwood Premier Coex Center, ikut menginterogasi Kyu-Hyun. Aku masih ingat.”

Dan itu juga, entah mengapa, membuat kekesalan Sun-Ae memuncak.

“Ada cincin, ya, itu ada. Pada masing-masing korban ditemukan cincin perak dengan ukiran khas Bali, berbandulkan sesuatu berbentuk matahari, yang anehnya, sangat sesuai dengan jari manis para korban. Aku yakin Divisi Pembunuhan masih menyimpannya.”

Sun-Ae mengangguk pada Kangin sekilas, ia melipat tangan di depan dada lalu memandangi Dong-Hae. Walau matanya tertuju pada pria itu, Sun-Ae tidak bnar-benar menatapnya. “Kuharap kau bisa memberiku seluruh data, dokumen, alat bukti termasuk tapi tidak terbatas pada keterangan saksi, ahli, atau petunjuk sekecil apapun. Aku menginginkannya malam ini.”

Dong-Hae mengangguk sopan. Bersedia melakukan apapun untuk membantu wanita itu.

“Aku akan memperlajari setiap jenis data dari Divisi Pembunuhan, kita perlu banyak gambaran tentang motif pembunuhan ini sebelum terjun langsung. Begitu aku selesai, Dr. Keiko, aku ingin kau dan Henry memeriksa ulang e-mail yang diterima para korban, aku ingin tahu ada manipulasi atau tidak. Dan kita akan melakukan penyesuaian IP.”

“Baik.”

“Detektif Kangin, kita akan menelusuri ulang TKP begitu aku selesai dengan alat bukti terdahulu. Aku sudah lama tidak berselancar di Seoul, aku berharap banyak padamu.”

Kangin mengangguk setelah tersenyum sopan. “Aku rasa kita akan membutuhkan Dong-Hae ketika berada di TKP, bagaimana pun dia pernah terjun langsung pada kasus ini beberapa waktu yang lalu, dari segi pengalaman dan praktik langsung, Dong-Hae lebih dulu tahu.”

Sun-Ae memikirkannya dua detik, lalu mengangkat bahu kurusnya sekilas. “Tidak masalah. Terima kasih. Aku ada di ruanganku kalau terjadi sesuatu.”

***

Seharian itu menjadi waktu yang sibuk, Sun-Ae tidak mengikuti kasus ini sejak awal, tapi informasi yang didapatkannya melalui akses pribadi lebih dari kata baik. Sun-Ae bisa mendapatkan segala bentuk informasi melalui sistemnya walau sesekali harus melakukan hacking ilegal, tidak mengapa, ia sudah sangat lihai. Banyak cara untuk melakukannya tanpa ketahuan.

Sudah hampir sore ketika Kyu-Hyun menghubunginya untuk menyelipkan jadwal makan, tapi Sun-Ae tidak peduli. Datanya hampir lengkap. Banyak informasi baru yang satu-persatu ditemuinya seraya dengan alat bukti yang diberikan Dong-Hae padanya.

Memerlukan akses yang sifatnya sangat pribadi untuk membobol e-mail yang disinyalir menjadi awal melapetaka itu, tapi bukan di sini. Sun-Ae butuh ruang yang sifatnya amat sangat pribadi, jauh dari mata tak terlihat.

Sun-Ae memutuskan untuk pulang ketika hampir gelap. Dia berjalan seorang diri menyusuri lorong dalam balutan blazer dan celana bahan hitam di tubuh kurusnya. Ada sedikit kegaduhan, dan Sun-Ae melihat Henry tergesa menujunya.

“Sebaiknya itu cukup penting hingga membuatmu nyaris terjungkal, Henry.”

Wanita yang tegas, angkuh, dan sexy, pikir Henry senang. Tapi tidak, pria itu kembali mendapatkan kesadarannya. “Shin Hyun-Ra, mahasiswi tingkat akhir ditemukan tewas dalam ruang sidang di kampusnya sore tadi. Sekarang diperiksa di ruang autopsi. Kangin dan Dong-Hae menuju ke sana.”

Sekitar empat menit kemudian Sun-Ae ikut terburu-buru, ia menyetir dengan gelisah, Henry duduk di sampingnya dan memijat kening. “Teman adikku, Joy. Katanya Hyun-Ra menerima e-mail empat hari yang lalu. Mereka—Joy dan Hyun-Ra—adalah gadis-gadis penggila opera, hanya saja ketika itu Joy sakit, dan membatalkan janji mereka untuk menonton opera di Seoul Arts Center.”

Sun-Ae melirik Henry dari sudut matanya. “Tenangkan dirimu. Perlahan, katakan semuanya.”

“Di Seoul Arts Center—pada Opera House—diselenggarakan pagelaran opera yang tiket undangannya dilakukan secara on-line, mereka yang beruntung akan mendapatkan Gold Ticket.”

“Gold Ticket?”

“Ya, para pengunjung lebih dulu mendaftarkan diri melalui website resmi SAC sesuai jadwal pagelaran, kemudian Gold Ticket datang pada mereka secara acak. Penerima Gold Ticket selalu perempuan setiap tahunnya, yang terpilih untuk bisa bertemu para pemain setelah acara usai. Hari itu Hyun-Ra mendapatkannya dan Joy cemburu bukan main, aku ingat bagaimana dia memintaku untuk mendapatkan Gold Ticket untuknya.”

Sun-Ae mengumpat ketika mereka terjebak kemacetan para pekerja kantoran yang rusuh dan gelisah dengan makan malam mereka. “Kau mengenal Hyun-Ra?”

Henry terlihat ragu. “Ya. Maksudku—ya. Dia sesekali datang ke apartemen dan menemui Joy. Gadis pendiam, mata dan rambut hitam, dia selalu bangga dengan tempatnya berada. Dia sedang mengejar gelar sarjana dan bercita-cita menjadi Jaksa. Itu yang kudengar dari Joy. Selebihnya tidak tahu lagi.”

Meskipun waktunya kurang tepat, Sun-Ae merasa, sebagai seorang wanita, ada nada kagum dalam suara Henry yang ditujukan pada gadis bernama Hyun-Ra itu. Dan rasa terkejut luar biasa mengetahui kematiannya. Henry yang malang.

“Kerja bagus, Henry. Aku tidak akan lupa menyelipkannya dalam laporan. Ayo.”

Jaraknya lumayan dekat dan mereka harusnya lebih cepat dari ini kalau jalanan tidak macet karena orang-orang yang kelaparan dan takut kehabisan jatah makan malam mereka.

“Ini dia.”

Ketika sampai, Sun-Ae bisa mengendus aroma kematian yang menyeramkan. Ia membuka pintu ruang autopsi dan menemukan Kangin, serta Dong-Hae berdiri bersama seorang Dokter bermasker mengelilingi tubuh pucat yang terbujur kaku.

Dong-Hae menyodorkan kantung bening berlabelkan Kepolisian beserta nomor barang bukti. Sebuah cincin. Sun-Ae meraihnya dan menatapnya dalam diam. Persis seperti apa yang Dong-Hae deskripsikan siang tadi. Ukiran khas Bali, berbandulkan matahari, samar, tapi bernilai seni tinggi.

Dokter di ruang autopsi itu sama sekali tidak keberatan ketika Sun-Ae, Dong-Hae dan Kangin mendekat untuk melihat kondisi korban.

Yang Sun-Ae rasakan pertama kali saat melihat mayat itu itu adalah kecemasan, ia mendapati dirinya terkejut melihat tubuh tak bernyawa itu. Awalnya Sun-Ae enggan mendekat, melihat mayat itu ia merasa seakan kematian menciumi sekujur tubuhnya. Mendekapnya dan mencekiknya. Dan Sun-Ae bernapas dengan susah payah.

Gadis belia yang manis, rambutnya hitam tergerai, wajahnya… walau lumayan sulit dikenali, Sun-Ae yakin dia memiliki kecantikan yang luar biasa. Tipe gadis yang disenangi sekalipun tidak banyak bicara. Kulitnya terkelupas, kukunya biru dan badannya bengkak. Sun-Ae melihat Kangin menusuk telunjuknya, ada air yang merembes dari pori-pori kulit. Air, cincin, dan e-mail. Pelaku yang sama. Pelaku yang mungkin saja bodoh karena membiarkan Sun-Ae dapat menerkanya, atau malah pelaku luar biasa cerdik yang sedang mempermainkan mereka.

“Ibunya pingsan. Belum bisa ditemui malam ini.” Kangin memandangi Sun-Ae. “Bagaimana menurutmu?”

Sun-Ae mengangguk pelan. “Dia mati. Dengan sangat keji.”

“Tidak ada kekerasan seksual, maupun fisik.” Dong-Hae melipat tangannya ketika  jasad Hyun-Ra di bawa pergi ke ruangan mayat untuk di bekukan. “Dugaanku dia orang yang sama. Orang sinting yang sama.”

Sun-Ae juga beranggapan seperti itu, tapi ia tidak berkomentar dan memilih mengakhiri percakapan mereka dan pulang.

Sun-Ae tidak langsung menuju rumah, ia terdiam di dalam mobilnya yang diparkir di sekitar sungai Han. Apa itu tadi? Sun-Ae bukan melihat Hyun-Ra. Ia melihat dirinya terbujur kaku di atas nampan besi dingin khusus mayat. Perut Sun-Ae mual dan sesuatu mendesak kerongkongannya. Ia muntah. Lambungnya belum terisi apapun seharian ini. Sun-Ae mengumpulkan kesadarannya, lalu lupa bagaimana caranya ia sampai di rumah.

Kyu-Hyun belum pulang, lampu kamarnya belum menyala. Sun-Ae merasa sangat buruk ketika mobilnya sudah parkir di halaman rumah yang luas. Rumah itu begitu kokoh dengan rerumputan yang dipotong rapi dan tanaman hias khas pekarangan. Lampu-lampu taman menyala redup. Bebatuan hitam yang Sun-Ae jejaki menuju tangga utama rumah masih basah karena sisa hujan. Ada aroma lilac, dan hydrangea biru berhamburan di udara. Sun-Ae terus melangkah hingga sesuatu berkilauan menarik perhatiannya.

Sebuah paket di depan pintu utama. Ada nama Sun-Ae, dan tanpa ragu Sun-Ae menginginkan rasa penasarannya terselesaikan.

Sebuah album foto dengan sampul beludru dan lima helai bulu merak.

Jung Mi-Ran, Stella Park,Yoon Eun-Jin, Lee Jung-Ha, Shin Hyun-Ra.

Sun-Ae sadar dadanya berdentum keras ketika melihat empat lembar gambar diri korban yang mengusiknya akhir-akhir ini. Ditambah gambar diri Hyun-Ra. Mereka semua terlihat pucat pasi, bibirnya biru, dan sudah tak bernyawa. Mereka di letakkan dalam tabung berisi air berwarna tosca, tubuh para korban dibalut gaun sutra berwarna putih, terlebih Mi-Ran, bocah empat tahun itu terlihat seperti malaikat tanpa dosa. Mereka semua tidak berdosa, pikir Sun-Ae. Dan bedebah itu membunuh orang-orang yang tak berdosa. Sun-Ae berjanji akan menangkapnya, hidup atau mati.

Sun-Ae membawa album foto itu dan berharap Kyu-Hyun tidak ikut campur dalam kasusnya. Ia tidak pernah suka ketika Kyu-Hyun terlibat lebih jauh. Sun-Ae terhenti ketika sesuatu terjatuh, ada selembar daun kering dan tulisan tangan di atasnya.

Nyaris sempurna.

Sun-Ae tercenung, apa maksudnya? Pelaku memiliki dendam khusus pada para korban? Tidak, terlalu kecil kemungkinannya. Dari data yang Sun-Ae peroleh tidak terdapat kemungkinan bahwa para korban saling berhubungan satu sama lain.

Sun-Ae membereskan paket itu ketika mendengar ketukan di lantai marmer. Langkah yang tegas, seorang pria. Tidak, bukan Kyu-Hyun. Wanginya, ini Lee Dong-Hae.

“Apa yang kaulakukan?”

Lee Dong-Hae masih terlihat seperti ketika mereka berada di ruang autopsi. Lelah, namun tetap tampan.

“Apa yang kulakukan?” Suaranya tidak seformal sepanjang hari ini. Suaranya bersahabat, hangat. “Menemuimu.”

“Aku capek. Kau boleh pulang.”

Lee Dong-Hae hanya tersenyum samar, ia maju beberapa langkah, lalu menangkup pipi Sun-Ae dengan sebelah tangannya. Wanita itu banyak berubah, kenang Dong-Hae. Dulu rambutnya sehitam arang, selalu dibiarkan tergerai dan membuat Dong-Hae terpesona setiap kali melambai-lambai diterbangkan angin. Sekarang berwarna marun, tetap dibiarkan berantakan dan Dong-Hae yakin wanita itu tidak pernah repot-repot untuk menyisirnya. Riasan wajah simple selalu dipilihnya dulu, bahkan sekarang juga. Terkadang dia bahkan memikat walau tanpa riasan di pagi buta. Dibanding dulu, kini wanita itu terlihat lebih dewasa. Lebih berkuasa, kokoh, dan hebat. Dong-Hae tidak bisa melupakan sinar matanya yang berkilat-kilat. Sekarang datar, dingin, dan menusuk relungnya. Dong-Hae tidak perlu bertanya mengapa, karena dia mungkin menjadi salah satu alasan gadis itu berubah. Terlahir kembali.

Ibu jari Dong-Hae mengusap sepanjang bayangan hitam di bawah mata Sun-Ae yang tersamarkan riasan tipis. Ada sesuatu yang mendesak Dong-Hae untuk berlaku lebih jauh, menyesap bibir gadis itu atau memeluknya erat-erat hingga tulang-tulangnya remuk.

Tapi kebencian yang terpancar dari mata hitamnya membuat Dong-Hae terpaku; begitu banyak kesedihan, penderitaan, serta luka. Dulu mata itu bersinar layaknya bulan biru, kini seakan kehidupan diam-diam menyelinap pergi dari sana. Dan Dong-Hae menyesal karena telah menjadi salah satu penyebabnya.

“Kenapa kau kembali?”

Pertanyaan Dong-Hae dilontarkan dengan amat pelan, menusuk Sun-Ae. Merobek jantungnya.

“Kau harusnya tidak kembali.”

Dan Dong-Hae tidak berniat untuk menahan diri lebih lama lagi. Ia maju selangkah, mendekap wanitanya dengan posesif dan menciuminya tanpa ampun. Sangat hangat untuk cuaca jauh di bawah angka nol seperti malam ini. Dong-Hae berniat membuat wanita itu lupa bagaimana caranya bernapas, seperti yang dirasakan Dong-Hae delapan tahun belakangan tanpa kehadirannya. Dong-Hae tidak suka Sun-Ae kembali, ia tidak boleh kembali ke tempat ini. Ia tidak ingin dirinya menjadi gegabah dan membunuh wanita itu. Dong-Hae tidak ingin wanita itu mati di tangannya sendiri.

“Bibir yang lembut.” Sun-Ae mendengus tanpa senyum. Bibir mereka sudah terpisah, tapi tubuh Sun-Ae masih dalam dekapan pria itu. Sun-Ae mengusap ibu jarinya di atas permukaan bibir Dong-Hae yang lembab. Setelah delapan tahun ia sekarat. “Dan kau paling tahu bahwa aku memuja bibir ini.”

Sun-Ae tahu Dong-Hae mendengarnya dengan sangat baik, karena itulah dekapannya semakin erat, membuat Sun-Ae harus berjinjit karena ia hampir tidak menapak lantai.

Sun-Ae mengecup bibir itu sekilas, ringan dan cepat. Hangat dan lembut. Cinta dan dendam.

“Aku memujamu,” bisik Sun-Ae lirih, matanya masih bersinar tegas. Lalu ia tersenyum. “Dulu.”

Dong-Hae tidak ingin kehilangan wanita ini. Bahkan alam bawah sadarnya menyatakan demikian, walau monster dalam dirinya meronta menginginkan wanitanya lenyap. Dong-Hae kembali menyesap bibir Sun-Ae. Lama dan semakin hangat. Mereka bertemu lagi, dan Dong-Hae maupun Sun-Ae memutuskan untuk melupakan segalanya. Biarkan mereka menjadi egois malam ini saja. Sebentar saja.

 -TBC-

2 Comments (+add yours?)

  1. Widiaul
    Jul 23, 2016 @ 22:50:46

    Part satunya udah seru gini apalagi ntar, tapi jujur aja aku rada ga mudeng kurang paham aduh 😵

    Reply

  2. yazlee
    Jul 24, 2016 @ 12:36:22

    Kenapa malah jd curiga sama donghae yaakk

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: