[Adventure Awaits] Lost In Mexico

Processed with VSCOcam with c1 preset

Nama : Nandakyu (nandakyu.wordpress.com)
Judul Cerita : Lost in Mexico
Tag (tokoh/cast) : Kim Hye Mi (OC), Kim Heechul, Lee Han Ri (OC), Cho Kyuhyun
Genre : Family, Romance
Rating : T
Length : Oneshot

 

 

 

 

 

Kim Hye Mi POV

 

Matahari bersinar terik dan angin laut bertiup sepoi-sepoi membelai rambut pendekku. Aku tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pantai yang ada di sepanjang jalan. Pasir berwana putih, laut berwarna biru, dan pohon kelapa menghiasi jalanan menuju villa kami. Ya. Liburan kali ini Heechul oppa mengajakku berlibur ke Quintana Roo, Mexico. Jarang sekali oppa-ku yang evil ini berbaik hati mengajakku berlibur. Aku sangat senang, yah… walaupun harus menjadi obat nyamuk di antara Heechul oppa dan Han Ri eonniㅡistri Heechul oppa.

 

“Waaah… Cantiknya pantai di sini…” kata Han Ri eonnie tiba-tiba.

Ne. Tak salah eonnie pilih pantai ini buat berlibur,” kataku mengiyakan. Kubiarkan kaca jendela terbuka lebar-lebar agar angin laut bisa dengan leluasa masuk ke dalam mobil.

 

“Ey, bukankah ini pilihan oppa keren-mu?” kata Heechul oppa.

 

Aku mencibir. “Tapi yang usul Han Ri eonnie.”

 

Oh iya, Han Ri eonnie adalah yeoja yang sangat cantik. Rambutnya berwarna cokelat panjang tergerai indah di punggungnya. Kulitya berwarna putih susu tak kalah dengan kulit Heechul oppa. Wajahnya oval dengan mata bulat, hidung mancung, dan bibir berwarna peach. Ia sangat cantik dan semakin cantik dalam balutan dress simpel berwarna putih yang ia kenakan sekarang. Menurutku, Heechul oppa tak salah memilih Han Ri eonnie sebagai istrinya.

 

Dan yang duduk di samping Han Ri eonnie adalah oppa-kuㅡKim Heechulㅡoppa kandungku yang menyebalkan, rese, dan sebenarnya baik. Lidahnya tajam, lebih suka mengejek dari pada memuji, walau begitu ia sebenarnya perhatian juga. Nyatanya ia dengan baik hati mau mengajakku liburan ke sini.

 

“Huffft… Ternyata di sini lebih panas dari yang kukira,” keluh Heechul oppa sambil memakai kaca mata hitamnya yang sedari tadi menggantung di kerah kemeja bunga-bunganya. Seperti biasa ia selalu nyentrik. Syukurlah Han Ri eonnie mau menerima kenyentrikan oppa-ku. “Aku harus rajin pakai sunblock.”

 

Oppa…! Sekali-kali kau harus menikmati panas matahari biar kulitmu jadi cokelat,” ucapku.

 

Ia hanya memasang wajah cuek.

 

Oh, kalian pasti mengira Heechul oppa dan Han Ri eonnie mau berbulan madu? Yeah… Ada benarnya juga… Soalnya waktu awal menikah 2 tahun yang lalu, mereka tak sempat melakukan hal itu karena kesibukan pekerjaan keduanya. Awalnya aku juga menolak ikut mereka berlibur ke sini karena aku khawatir aku akan diabaikan selama liburan, namun pada akhirnya aku setuju karena mereka sudah berjanji tidak akan mengabaikanku. Heechul oppa agak memaksa karena ia tidak mau meninggalkanku sendirian di Seoul. Lagi pula aku juga tak mau sendirian di Seoul untuk menjaga rumah. Mending kalau ada sahabatku, tapi sahabatkuㅡPark Young Giㅡjuga sedang liburan ke Tokyo bersama keluarganya. Aku juga tak mau berlibur di rumah halmeoni, karena sudah 2 liburan semester berturut-turut aku liburan ke sana. Bisa-bisa halmeoni bosan melihat wajahku terus tiap liburan. Sedangkan appa dan eomma… mereka sudah tiada dan hanya Heechul oppa yang bersikeras merawatku semenjak mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu.

 

Heechul oppa baik, kan? Makanya jangan tertipu wajah cueknya. Sebenarnya dia sangat baik dan perhatian❤

 

“Nah… Itu villa kita… Kita sudah sampai,” kata Heechul oppa tiba-tiba.

 

Villa ini berada tak jauh dari Mexico City. Aku melihat villa yang sudah oppa dan Han Ri eonnie sewa untuk 2 minggu ke depan. Villa ini dikelilingi pohon kelapa dan menghadap ke laut langsung serta bernuansa tropis. Catnya berwarna cokelat muda, atapnya dihiasi daun kelapa yang sudah kering, kulihat ada banyak jendela di dalamnya. Begitu mobil sewaan kami sudah terparkir di halamannya, aku langsung berlari turun dan masuk ke dalam villa.

 

Ya! Bantu oppa-mu menurunkan barang!” panggil Heechul oppa.

 

Aku menghentikan langkahku dan berbalik dengan wajah cemberut.

 

“Heechul-ah… Biarkan saja dia melihat-lihat,” kata Han Ri eonnie pada Heechul oppa.

 

Aku langsung tersenyum lebar mendengar Han Ri eonnie membelaku. Tanpa mendengar persetujuan oppa, aku langsung saja ngacir ke dalam villa. Anyway, kunci villa ini sudah ada di tanganku tanpa sepengetahuan oppa. Tadi, aku ambil saja dari tasnya karena aku sudah tak sabar mau melihat-lihat villanya.

 

Pintu villa terbuka dan terlihatlah 3 sofa panjang berwarna krem disusun berbentuk U dengan bantal-bantal di atasnya. Di tengahnya terdapat meja. Terdapat lilin aromatik dan lampu yang ditata di dekat sofa itu. Ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga ini luas sekali. Aku berjalan ke ruang makan lalu ke dapur. Waaah… Bahan makanannya cukup lengkap. Aku mengintip kamar mandi juga. Kemudian baru mengintip kamar. Ah, kurasa yang besar dengan bed berukuran king-size ini untuk Heechul oppa dan Han Ri eonnie. Aku mencari ke sisi villa yang lain dan menemukan kamar tidur lain yang cukup luas dengan tempat tidur empuk di tengahnya. Ada jendela lebar yang menghadap langsung ke laut. Aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Ah… Empuknya…

 

Setelah bermager sebentar di atas kasur, aku bangun lagi dan berjalan ke belakang villa. Ada sofa berwarna cokelat kelabu di teras belakang rumah. Di atasnya terdapat daun-daun pohon kelapa sehingga tak terlalu panas duduk di situ.

 

“Hye Mi? Kau di mana?” panggil Han Ri eonnie.

 

“Aku di belakang villa,” sahutku. Ugh, aku jadi seperti anak kecil saja dipanggil seperti ini. Umurku sudah 19 tahun you know!

 

“Waktunya makan!” panggil Han Ri eonnie lagi.

 

Ah betul juga, sudah jam 1 siang. Lapar juga. Aku pun berjalan ke ruang makan dan melihat makanan sudah dihidangkan di atas meja makan. Selain itu, aku juga melihat Heechul oppa merangkul Han Ri eonnie. Tidak… Aku masih di bawah umur…

 

Hey, mereka tidak melakukan apa-apa ._.

 

“Woah… Ternyata aku tak salah memilih tempat ini,” kata Heechul oppa.

 

Ne… Di sini juga lebih tenang,” imbuh Han Ri eonnie.

 

“Aku juga sangat suka tempat ini,” ucapku bersemangat.

 

“Kau boleh berjalan-jalan selama di sini,” kata Heechul oppa sambil tersenyum penuh arti.

 

“Memang. Aku memang sudah menulis banyak daftar kegiatan yang akan kulakukan di sini,” jawabku. Padahal kegiatan yang kutulis kebanyakan adalah tidur, bersantai, makan -_-‘

 

“Baguslah. Tapi kau tidak boleh ke Mexico City sendirian,” kata Heechul oppa.

 

Wae?”

 

“Tingkat kejahatan di sini sepertiga dari Washington DC.”

 

“Hah?”

 

“Itu berarti kau tak boleh ke sana sendirian, ppabo!”

 

Aku mengangguk. “Ya! Jangan panggil aku ppabo!”

 

Oppa-ku hanya mengangkat bahu cuek. Menyebalkan!

 

“Di sini saja juga boleh, kok… Kita bisa melakukan kegiatan cewek di sini,” kata Han Ri eonnie padaku sambil tersenyum.

 

“Kegiatan cewek?” tanya oppa.

 

Body spa, creambath, pedicure, shopping,” sebut Han Ri eonnie.

 

“Boleh juga,” ucapku setuju. Aku juga baru tahu kegiatan cewek seperti itu ._. *eh* Aku memang tak seperti cewek kebanyakan.

 

Oppa-ku ber-oh sekilas. Sepertinya tidak tertarik. “Nah, sekarang kita makan dulu oke?”

 

Aku memang sedari tadi sudah mengambil makanan di piring.

 

Holidays start!

 

**

 

Day-6

 

Pagi ini jarang-jarang aku bangun pagi. Udara masih terasa sejuk ketika aku bangun dan langit masih berwarna biru tua. Aku pun berjalan keluar kamar menuju balkon di belakang villa. Aku langsung mendudukan diriku di sofa lalu iseng memotret pemandangan di depanku untuk dikirimkan ke Young Giㅡsahabatku. Kemarin ia sudah mengirimiku fotonya di Disneyland Tokyo. Now, it’s my turn.

 

Setelah mengambil 3 foto, aku langsung mengirimkan foto-fotonya lewat chat KakaoTalk.

 

‘Young Gi-ya! Lihat pantai dekat villa-ku! Bagus kan?^^’

 

Di sana pasti masih malam. Karena perbedaan waktu Mexico dengan Tokyo adalah 10 jam. Di sini baru jam 6 pagi, berarti di sana masih jam 8 malam.

 

Tak lama kemudian ada balasan.

 

‘Di sini malam. Aku baru saja pulang dari Tokyo Tower.’

 

Pesannya disusul dengan sebuah foto dirinya bersama dongsaeng-nya berfoto di atas Tokyo Tower dengan latar pemandangan Kota Tokyo di malam hari.

 

‘Asiknya~’

 

Balasku.

 

Ne~ Sudah ya, aku mau siap-siap tidur. Bye!’

 

Aku tidak membalas lagi.

 

Ah… Enak sekali bermalas-malasan di sofa ini. Terkadang beberapa bule lewat di depan pantai untuk berjalan-jalan atau lari pagi. Mereka pasti heran melihat cewek Asia mager yang teronggok di sini.

 

Aku jadi ingin melakukan selca… Mungkin aku terlihat cantik kalau baru bangun tidur. Aku pun membuka kamera depan dan melihat wajah baby face-kuㅡbegitu kata Han Ri eonnie dan aku sangat yakin hal ituㅡyang kumal. Oh lihat rambut pendek sebahuku yang acak-acakan.

 

Tidak jadi selca, ah…

 

Saat aku bangun dan melihat ke pantai lagi, tiba-tiba aku melihat namja yang tidak asing di mataku. Namja itu memakai hoodie berwarna hitam dengan celana training. Ia sedang jogging menyusuri pinggir pantai.

 

Wait.

 

“Kyuhyun sunbae?” gumamku tak percaya.

 

Sedang apa dia di sini? Saat aku melihatnya, ia balas melihatku.

 

Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Satu pesan KakaoTalk masuk. Dan itu dari Kyuhyun sunbae.

 

‘Kau sedang di Mexico?’

 

Ne…

 

‘Apa itu kau yang sedang duduk di balkon?’

 

‘Uhm… Ne…’

 

Namja itu masih melihatku. Ternyata itu memang benar sunbae… Baik akan kujelaskan kenapa aku bisa kenal dengan namja itu. Dulu waktu aku masih kelas 1 SMA dan dia 3 SMA, kami adalah teman akrabㅡhanya teman oke? Heechul oppa mengenalkan namja itu padaku secara tak sengaja. Awalnya Heechul oppa senang mendengar aku sangat akrab dengan Kyuhyun, dan berharap aku bisa berpacaran dengan Kyuhyun -_-‘ (Itu hanya imajinasi Heechul oppa). Namun kenyataannya, aku dan dia malah menjadi teman yang akrab. Mungkin karena kesamaan hobi kami yaitu game, anime, komik, NBA, dan Barcelona. Dia bahkan mengenalkan beberapa temannya kepadaku, tapi aku sangat selectively social. Jadi aku hanya akrab dengan dia dan Ryeowook (salah satu temannya). Kami berteman selama 2 tahun sebelum akhirnya ia mendapat beasiswa kuliah ke luar negeri. Awal ia kuliah, ia masih sering mengobrol denganku lewat internet, tapi semakin lama waktu berlalu, ia makin jarang mengobrol denganku karena sibuk dengan kuliahnya.

 

Dan semenjak itu aku belum pernah bertemu lagi dengannya.

 

Dan ia sepertinya tak pernah menganggapku ‘yeoja’, tapi hanya teman yang bisa diajak ngobrol seputar dunia cowok yang kusebutkan tadi. (Tidak, aku tidak baper)

 

Aduh, aku harus gimana ya? Kan aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Menyapanya? Aku yakin pasti canggung. Karena aku orangnya begitu. Hyaaah…

 

Tiba-tiba ada balasan.

 

‘Kau Kim Hye Mi, kan?’

 

‘Iya…’

 

‘Adik Kim Heechul?’

 

‘Oo…’

 

‘Kupikir aku salah orang.’

 

-_____-‘

 

Ah, sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Padahal dulu kami sangat dekat. Satu pesan masuk lagi.

 

‘Kenapa tidak ke sini?’

 

‘Aku akan ke situ…’

 

Aku pun turun dari sofa dan memakai sandalku. Dengan canggung, aku berjalan ke arah namja itu yang dulu selalu kupanggil sunbae. Ia yang memintanya untuk memanggilnya dengan embel-embel sunbae -_-‘ Ia sepertinya suka sekali menjadi senior -_-‘ (Apa istimewanya coba?)

 

A-annyeong, sunbae,” sapaku sambil tersenyum awkwardly. Ah… Perbedaan tinggiku dengannya masih jauh. Sepertinya tinggiku dari dulu sama saja sebawah bahunya sedikit. Aku canggung karena sudah 2 tahun tak bertemu.

 

Dia tersenyum. “Ah, kau masih seperti dulu ya?” komentarnya.

 

“Oh ya?” balasku.

 

“Masih pendek,” jawabnya sambil terkekeh.

 

“Mau bagaimana lagi,” ucapku terlalu jujur.

 

Ia melihat villa-ku. “Kau ke sini bersama siapa?” tanyanya.

 

“Bersama Heechul oppa dan Han Ri eonnie.” Ia tahu siapa Han Ri eonnie.

 

“Berarti kau jadi obat nyamuk?” godanya.

 

Ya! Tidak gitu juga,” elakku. “Kau sendiri ke sini bersama siapa?” tanyakuㅡdiam-diam penasaran.

 

“Sendirian.”

 

“Liburan?”

 

“Iya.”

 

“Tumben tidak bersama teman-temanmu?”

 

“Mereka punya kesibukan sendiri.”

 

“Oooh…”

 

Matahari terbit. Ternyata selama kami mengobrol, matahari sedang terbit. Untuk beberapa saat kami disinari cahaya matahari berwarna oranye. Kami memandang sang dewi siang dan menikmati keindahannya bersama. Diam-diam aku memandang namja itu lagi. Tunggu. Sejak kapan aku jadi suka memandangnya seperti ini? Sial. Entah kenapa ada yang berbeda dari dirinya dan aku penasaran… Hyaaah… Mungkin aura kedewasaannya? Atau kegantengannya? (Apa ini?)

 

“Sudah berapa lama kau berlibur di sini?” tanyanyaㅡkembali menoleh ke arahku. Ia menatapku dan rasanya agak berbeda dari terakhir ia menatapku 2 tahun yang lalu.

 

“6 hari. Kau?”

 

“2 hari.”

 

“Oooh…” Aku hanya ber-oh karena bingung mau bilang apa lagi.

 

Untuk beberapa saat kami hanya diam menikmati suara deburan ombak yang menyentuh pantai Quintana Roo. Air laut berombak menyapu pantai hingga ke kaki kami. Aku membiarkan kakiku tersentuh oleh air laut pagi yang terasa dingin. Sedangkan ia menyingkir karena memakai sepatu. “Waaah kerang!” gumamku kagum ketika melihat cangkang kerang berwarna putih di dekat kakiku. Aku pun memungut kerang itu.

 

“Cuma kerang, kemarin aku lihat ubur-ubur,” pamernya. Ah, sepertinya ada yang tidak berubah dari dirinya.

 

Ia melepas sepatunya kemudian ikut berdiri di sampingku.

 

“Aku kan jarang melihat kerang,” ucapku. “Lihat. Sepertinya kerang ini masih hidup!”

 

“Kau seperti tidak pernah melihat kerang saja,” ejeknya. Sifat hobi mengejeknya masih ada.

 

“Aku pernah lihat di rumah makan seafood,” jawabku polos.

 

“Itu beda lagi. Di belakangmu ada bintang laut, tuh,” katanya sambil menunjuk sesuatu di belakangku.

 

Aku menoleh ke belakang dan melihat bintang laut berwarna merah. “Waaah…” gumamku kagum sambil berjongkok.

 

“Kau masih tetap norak ya?” ejeknya. Ia ikut berjongkok di hadapanku.

 

“Kau juga masih hobi mengejek,” balasku sambil memeletkan lidahku. Ah… Sepertinya kami kembali seperti dulu. “Apa bintang laut bisa bergerak?”

 

Ya. Kau tidak pernah belajar Biologi ya?”

 

“Tentu saja pernah!” ucapku sambil mengambil bintang laut itu dan menaruhnya di antara kami. “Aku hanya sedang malas mengingat pelajaran. Sekarang kan liburan.”

 

“Dasar. Yang jelas bintang laut bergerak dengan kaki ambulakralnya. Bintang laut termasuk kelas Asteroidea, filum Echinodermata.”

 

Entah kenapa dia mulai seperti guru Biologi-ku. Itu pelajaran kelas 1 SMA, bagaimana caranya dia masih ingat? “Aish… Kenapa kita jadi membicarakan pelajaran Biologi?”

 

Ia tertawa. “Hahaha… Aku hanya menjelaskan supaya kau tahu.”

 

Aku menatapnya dengan sorot badmood. Dia menjelaskan pelajaran saat liburan. Itu menyebalkan.

 

Tiba-tiba ia beranjak berdiri. “Lama-lama di sini bisa-bisa bajuku basah,” ucapnya sambil menggulung lengan hoodie-nya yang basah terkena air laut. Ia memakai kembali sepatu larinya di tempat yang lebih kering.

 

Yah… Aku juga merasa bajuku agak basah terkena air. Aku ikut berdiri. “Kau sudah mau kembali?” tanyaku spontan.

 

Ia mengangguk. “Aku yakin kita pasti akan sering bertemu. Bye,” ucapnya singkat sebelum pergi. Ia berlari lagi menyusuri pantai ke arah yang berlawanan denganku.

 

Untuk beberapa saat aku hanya memandang punggungnya. Dan entah kenapa aku merasa seperti ada angin yang berdesir.

 

**

 

Day-7

 

Keesokan paginya aku sengaja untuk bangun pagi dan Heechul oppa heran melihatku duduk di sofa balkon belakang sambil mendengarkan musik. Namun aku tidak melihatnya berlari. Atau jangan-jangan aku bangun kesiangan ya? Kemarin ia berlari sejak sebelum matahari terbit kan? Sedangkan sekarang matahari sudah terbit.

 

Ah… Padahal aku masih ingin mengobrol dengannya. Tak apa walaupun itu harus mengobrol tentang pelajaran Biologi.

 

“Kau seperti menunggu seseorang,” kata Heechul oppa tiba-tiba membuatku kaget.

 

A-anni.”

 

“Bohong. Siapa yang kau tunggu eoh?”

 

Annieyo! Aku hanya sedang menikmati pagi di Mexico,” kataku sambil meluruskan kakiku di atas sofa dan menyenderkan punggungku di bantal sofa. Hanya untuk meyakinkan diriku aku sedang asyik bersantai.

 

Heechul oppa masih tidak percaya tapi ia sudah berganti topik. “Nanti aku akan ke Mexico City bersama Han Ri eonnie. Mau ikut?”

 

“Tentu saja mau!” jawabku bersemangat.

 

“Harus sudah siap jam 9 oke?”

 

Okay.” Waaah… Akhirnya aku diajak jalan-jalan juga.

 

**

 

Pertama-tama kami ke Zócaloㅡpusat kota Mexico City. Tempat ini seperti taman kota. Tempat ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang Mexico semenjak zaman Aztek. Di tempat ini telah berlangsung upacara-upacara Mexica, sumpah jabatan viceroy, proklamasi kerajaan, parade militer, upacara kemerdekaan, dan peristiwa religius modern seperti festival Pekan Suci dan Corpus Christi. Tempat ini juga menjadi tempat penerimaan kepala negara asing serta perayaan dan demonstrasi nasional. (Begitulah menurut Wikipedia)

 

Kami menuju ke tempat ini dengan menaiki mobil oppa. Ada banyak bangunan dan ada banyak orang di sini.

 

“Kau boleh jalan sendirian. Yang penting mobilku ada di tempat parkir itu,” kata Heechul oppa sebelum membiarkan aku explore sendirian seperti anak hilang. Sementara oppa dan istrinya asyik jalan berpegangan tangan.

 

Hhhh… Aku berhenti berjalan dan berteduh sejenak di bawah pohon. Menyedihkan sekali berjalan sendirian di sini. Sedari tadi ada banyak fotografer dan pelukis wajah yang menawarkan jasa mereka kepadaku. Tapi aku tidak tertarik.

 

Saat sedang memperhatikan sekeliling, aku melihat Kyuhyun sunbae lagi. Ia sama sepertiku, berjalan sendirian, bedanya ia tak seperti anak hilang. Tanpa pikir panjang aku langsung menghampirinya.

 

Sunbae!” panggilku dengan wajah cerah. Finally, there’s another Korean here!

 

“Hye Mi?”

 

“Ahhh… Untung aku menemukanmu,” ucapku jujur dengan penuh kelegaan.

 

“Kau jalan sendirian?”

 

Oppa-ku sedang jalan-jalan bersama istrinya.”

 

“Jadi kau ditinggal di sini?”

 

Anni. Aku disuruh berjalan sendirian.”

 

“Sama saja dengan ditinggal.”

 

“Huhhh…” Aku memasang wajah badmood-ku lagi. “Nah itu mereka!”

 

Kyuhyun sunbae menoleh ke arah yang kutunjuk.

 

“Kyuhyun-ah?” sapa Heechul oppa. Ia menepuk pundak Kyuhyun dan tersenyum cerah. “Sudah lama sekali tidak bertemu, eoh? Apa kabarmu? Di mana kau tinggal sekarang? Bagaimana orang tuamu?”

 

Aigo, oppa… Bertanyanya satu-satu!” ucapku. Dasar oppa-ku ini -_-‘

 

“Kabarku baikㅡ”

 

“Oh, jadi diakah yang kau tunggu tadi pagi?” kata Heechul oppa lagi sebelum Kyuhyun sunbae sempat menjawab.

 

Pipiku sontak memerah. “Shireo!” elakku.

 

“Kau sedang berlibur di sini?” tanya Heechul oppa tanpa mempedulikan diriku.

 

“Iya. Tapi aku hanya sebentar di sini. Karena minggu depan aku sudah harus kembali ke Korea,” jawab Kyuhyun sunbae.

 

“Kami juga akan pulang minggu depan. Mungkin kita akan bertemu lagi di bandara.”

 

“Ah tidak, karena masih ada yang harus kulakukan di New York sebelum kembali ke Seoul.”

 

“Oooh… Sepertinya kau berubah jadi anak yang sibuk eoh?” Heechul oppa menepuk pundak Kyuhyun sunbae lagi. “Hye Mi-ya, kau berjalan-jalan dengan Kyuhyun ne? Kalian pulang sendiri, karena habis ini aku akan pergi lagi bersama Han Ri. Kyuhyun-ah, aku titip dongsaeng-ku padamu oke? Tolong jaga dia. Bye!”

 

Kemudian Heechul oppa berjalan lagi. Han Ri eonnie tersenyum dengan maksud ‘mengertilah’ kepadaku sebelum ia digandeng pergi.

 

Kini tinggalah aku di sini bersama namja bernama Cho Kyuhyun itu.

 

Mian, oppa-ku memang sangat cerewet,” ucapku.

 

“Haha… Tak apa. Dari dulu dia memang begitu kan?” jawabnya.

 

Aku mengangguk dan menghela napas. Apa tidak apa-apa aku bersama Kyuhyun sunbae? Apakah dia benar akan menjagaku? Aku melihatnya diam-diam. Ia memakai T-Shirt putih dengan celana jeans. Ia juga membawa tas ransel berwarna hitam. Di tangannya terdapat handphone dan buku panduan mini tentang Mexico City. Simple. Namun entah kenapa aku menyukainya.

 

EEEH?

 

Apa kubilang?

 

Bisa kurasakan pipiku terasa memanas.

 

Sial.

 

“Sekarang kita mau ke mana?”

 

“A-aku tak tahu apa-apa soal Mexico City,” jawabku.

 

“Ya sudah, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu sebentar di sini?” tawarnya.

 

Aku mengangguk saja. Sebab aku bingung mau menjawab apa lagi. Aku berjalan di sampingnya sambil memperhatikan ke sekelilingku. Ternyata memang lebih asyik berjalan bersama seseorang. Terkadang Kyuhyun juga menjelaskanku tentang tempat ini berdasarkan informasi yang sudah ia baca. Aku hanya manggut-manggut. Entah kenapa ia selalu tahu tentang banyak hal. Aku mengingat-ingat masa lalu dan ingat kalau Kyuhyun memang begitu.

 

“Mau es krim?” tawarnya tiba-tiba.

 

Aku mengangguk. Kami pun membeli es krim cone dan memakannya di salah satu bangku taman di dekat pohon rindang. Sambil memakan es krim, iseng aku membuka kamera handphone-ku untuk take a selca. Ternyata aku cukup bagus. Aku hanya mengambil selca sendirian tanpa mengajak Kyuhyun.

 

“Es krimmu meleleh,” katanya tiba-tiba.

 

“Ah… Iya… Hampir saja kena bajuku.”

 

Aku pun menyingkirkan handphone-ku dan menjilati es krim yang meleleh.

 

“Habis ini kita mau kemana?” tanyaku setelah menghabisi es krim cokelatku.

 

“Ikut saja.”

 

“Hm… Arra.”

 

Entah kenapa aku percaya saja padanya.

 

**

 

Malam.

 

Akhirnya malam tiba. Sepertinya kami sudah mengelilingi seluruh bagian Mexico City. Mulai dari pantai, mall, tempat makan, sampai tempat-tempat bersejarah. Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Tapi… tiba-tiba namja di sampingku berhenti berjalan.

 

Wae?” tanyaku. Agak cemas.

 

“Kita tadi tidak salah belok kan?”

 

Aku menatapnya panik. “Mwo? Kita tersesat?!”

 

Molla… Sepertinya kita tersesat…”

 

Ya! Kenapa sangat santai? Sekarang bagaimana? Eothheoke?” tanyaku panik. Tempat kami berada sangat sepi. Sepertinya kami salah belok. Tadinya kami hendak menuju tempat makan yang enak yang dekat dengan Acapulcoㅡnama salah satu pantai yang dekat dengan posisi kami. Setelah itu kami akan pulang dengan taxi. Ya, begitu rencana yang sudah ia jelaskan tadi.

 

Tapi, di sini sama sekal tak ada taxi lewat. Orang-orang pun jarang kelihatan. Kendaraan juga jarang yang lewat. Aku memandang ke sekeliling, hanya ada deretan bangunan yang terlihat mati dan lampu jalan berwarna kuning temaram.

 

Aku langsung memegang tangannya ketika melihat sesuatu terbang di depan kami. “A-apa itu?” tanyaku.

 

“Cuma burung hantu,” jawabnya santai.

 

Heishhh… Kenapa dia masih bisa terlihat sangat santai dalam situasi seperti ini?

 

“Tidak ada yang orang yang bisa ditanyai. Handphone-ku sudah mati. Handphone-mu masih menyala?” tanyanya.

 

Handphone-ku juga sudah lowbat,” jawabku.

 

“Kita betul-betul tersesat.”

 

“Jadi bagaimana?”

 

“Kita berbalik, mencari jalan besar,” jawabnya sambil berbalik.

 

Aku berjalan di sampingnya dengan langkah agak diseret. Kakiku sudah capek setelah berjalan seharian. Tanpa kusadari, ia sudah berjalan jauh di depanku.

 

“Kapan sampainya kalau kau jalan seperti itu?” omelnya.

 

Mianhae… Aku tidak bisa jalan cepat lagi,” jawabku.

 

Ia menghela napas. “Oke. Aku akan mengikutimu jalan lambat.”

 

Kupikir ia akan mengajakku duduk dulu -_-‘ Ternyata ia malah mengikutiku jalan dengan lambat. Aku menghela napas panjang. Sudah pukul setengah 9 malam dan kami belum makan malam karena tersesat di kota asing. Aku tak tahu ini di daerah mana.

 

“Kau mau duduk dulu?” tanyanya tiba-tiba.

 

Aku mengangguk.

 

Berhubung tak ada kursi di sekitar sini, jadi kami duduk di trotoar jalan. Aku meluruskan kedua kakiku di jalan. Sepertinya tak akan ada mobil lewat, so, it’s ok. “Hahhh… Kira-kira kapan kita akan bertemu jalan besar lagi?”

“Entahlah.”

 

“Bagaimana kalau tidak ketemu sampai tengah malam?” tanyaku khawatir. “Bagaimana kalau sampai besok kita tersesat? Bagaimanaㅡ”

 

“Ssssh…” Ia menutup mulutku secara paksa dengan tangannya. Kupikir ia merasa terganggu dengan kata-kataku. Tapi melihat ekspresi waspadanya, kupikir bukan karena itu.

 

Wae?” tanyaku dengan suara pelan.

 

“Ada orang yang mengikuti kita,” jawabnya persis di samping telingaku.

 

Aku merinding mendengarnya. “K-kita diikuti? Diikuti siapa?” tanyaku mulai ketakutan.

 

Ia tidak menjawab pertanyaanku. “Ayo jalan lagi,” ucapnya sambil mengajakku berdiri.

 

Aku hampir berteriak ketika secara tiba-tiba seseorang berpakaian serba hitam berdiri di hadapan kami. Ia memakai jaket hitam, masker, dan topi yang berwarna senada sehingga hanya terlihat kedua matanya yang menatap kami dengan tatapan mengancam. Orang itu cukup tinggi dan sepertinya bisa menghabisi kami dalam sekejap.

 

Don’t move before you give your money!” ucap perampok itu.

 

Kyuhyun mendorongku pelan ke balik tubuhnya. Mendengar suara dingin perampok itu sudah membuatku mati kutu. Eotheoke? Ini mengerikan sekali…

 

Perampok itu maju lebih dekat ke hadapan Kyuhyun. “Look at this knife,” ucap perampok itu sambil menunjukan pisau kecilnya yang diarahkan ke wajah Kyuhyun.

 

Kyuhyun mundur selangkah. Rasanya aku ingin menghilang saja ketika melihat pisau itu. Bagaimana kalau pisau itu akan membunuh kami berdua? “Kita akan kabur sehabis ini,” bisiknya pelan tanpa kusangka. “1… 2…”

 

Namun tiba-tiba saja perampok itu berteriak dan bukan lagi mengancam dengan pisau. “Take their bag and check their pocket!” Ternyata perampok itu memberi aba-aba. Dan ternyata mereka tidak sendirian. Belum sempat kami berlari kabur. Dua sosok lain yang juga berpakaian serba hitam mengambil tas kami dan mulai merogoh saku celana pendekku.

 

Aku memekik ketika salah satu dari mereka menarik paksa tas ransel miniku dan menyentuh saku celanaku… “Shit. There’s no money in my pocket!” teriakku. Namun mereka menendangku hingga terjatuh ke atas jalanan beraspal.

 

Kyuhyun menendang salah satu perampok yang mau mengambil tasnya. Ia berhasil mempertahankan tasnya. Ia menghampiriku kemudian menarik tanganku agar bangun. “CEPAT! LARI!” teriaknya padaku.

 

Ia sepertinya tidak melihat sikuku yang berdarah. Ia masih memegang tanganku dan berlari. Aku kesulitan mengikutinya.

 

“CEPAT, BODOH! MEREKA DI BELAKANG KITA!” teriaknya lagi dan kali ini ia menarik tanganku terlalu keras hingga akhirnya aku jatuh.

 

BRUUUKH!!!

 

“Ouuuh…” Aku mengerang ketika melihat darah di lututku. Tadi siku, sekarang lutut.

 

Ia menatapku dengan sorot ‘bagaimana-ini-bisa-terjadi-bodoh’. Aku balas menatapnya dengan maksud ‘ini-karenamu-bodoh’. Tanpa pikir panjang, ia menggendongku di punggungnya. “Ya! Turunkan aku!”

 

“KAU MAU SELAMAT TIDAK?!” balasnya berteriak.

 

Aku tak tahu kemana dia akan membawaku. Yang jelas kami sangat sering berbelok agar bisa mengecoh ketiga perampok tadi. Kini kami berada di belakang salah satu bangunan mati tadi. Sangat gelap dan pengap di sini… Tak ada pencahayaan sama sekali. Ia menurunkanku dari punggungnya.

 

“Apa-apaan taㅡ”

 

Ia menutup paksa mulutku lagi. “Ssshhhh…”

 

Aku terdiam. Benar, kalau aku bicara dengan volume seperti tadi, mungkin salah satu perampok tadi bisa mendengar dan menangkap kami berdua. Sekarang aku hanya bisa mendengar napasnya yang terengah. Pasti melelahkan belari sambil membawaku yang tidak ringan. Entah kenapa aku jadi merasa bersalah. “Ah, mian,” bisikku sangat pelan. Sayang sekali di sini sangat gelap. Aku tak bisa melihat wajahnya.

 

“Bagaimana lukamu?” tanyanya pelan.

 

Aku menyentuh lututku dan bisa merasakan banyak darah di situ. Kemudian sikuku. Sikuku tak begitu terluka, mungkin hanya lecet.

 

Handphone-mu masih bisa menyala?” tanyanya tiba-tiba.

 

Aku mengambil handphone-ku dari tas ranselku. Masih ada 3% baterai. “Ah, masih bisa menyala,” ucapku lega.

 

Ia mengambil handphone-ku dan mengarahkan cahayanya ke lututku. Aku bisa melihat darah mengalir di kakiku…

 

“Bagaimana bisa? Kau membentur apa?” tanyanya heran melihat lukaku yang ternyata tidak kecil. “Ada tissue?”

 

Aku mengambil tissue dari tasku dan mulai mengelap darah yang mengalir itu.

 

“Lebih baik kau duduk,” sarannya masih dengan suara yang pelan.

 

Aku mengaduh pelan ketika lututku tertekuk. “Ouuuh… Sakit,” keluhku pelan. Aku menggigit bibirku, berharap rasa sakitnya hilang. Sepertinya tadi lututku membentur batu yang tajam hingga seperti ini. Aku tak sanggup melihat luka di kedua lututku. Ya. Kedua lututku terluka namun yang paling parah adalah lutut kiri.

 

Ia berjongkok dan mengambil tissue-ku lalu menghapus darah yang mengalir di lutut kiriku.

 

Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti kami berdua. Sepertinya perampok tadi sudah pergi. Karena sedari tadi tak terdengar suara apa pun.

 

Mian,” ucapnya memecah keheningan. “Tadi aku menarikmu terlalu keras hingga kau terjatuh.”

 

“Ah, mau bagaimana lagi,” ucapku sambil tersenyum pasrah. Kini aku bisa melihat wajahnya. Sebagian rambutnya terlihat basah oleh keringat dan ia terlihat capek. Aku juga bersalah karena membuatnya berlari sambil menggendongku di punggungnya.

 

Setelah membersihkan lukaku dengan tissue seadanya, ia ikut duduk di sampingku. Selama beberapa saat kami hanya bersender pada tembok kasar di belakang kami dan duduk di atas tanah berbatu sambil menatap langit. Aku jadi teringat sesuatu. Dulu kami juga pernah duduk seperti ini di atas atap bangunan apartementku, sewaktu aku dan dia masih berada di sekolah yang sama. Waktu itu malam musim gugur dan dulu kami memang sering bersama. Ia juga sering ke apartementku untuk bermain game atau menonton TV bersamaku. Yah, tak hanya dia. Sejak Heechul oppa masih sekolah, teman-temannya sering berkunjung ke apartementku. Dan aku satu-satunya yeoja di situ. Walau begitu aku tetap tidak bisa bersosialisasi dengan baik dan hanya memiliki sedikit teman. Oh iya, sebelum oppa menikah, aku dan oppa memang tinggal di sebuah apartement sederhana.

 

“Sudah lama sekali ya,” ucapku dengan volume rendah. “Sejak kita bisa begini.”

 

Sepertinya Kyuhyun menangkap maksudku. “Jadi ingat atap apartement-mu dulu.”

 

“Haha… Kau masih ingat juga.”

 

“Tentu saja. Ingatanku bagus.”

-____-‘ Kupikir ia akan mengatakan hal yang lebih manis dari itu.

 

“Apa Heechul hyung tak khawatir kau belum pulang?” tanyanya.

 

“Mungkin dia malah senang karena bisa full berduaan dengan Han Ri eonnnie.”

 

Ia tertawa. “Bagaimana sekolahmu?” tanyanya tiba-tiba.

 

“Baik. Aku bahkan diterima di universitas yang bagus di Seoul,” jawabku dengan bangga.

 

“Baguslah. Ternyata kau bukan lagi anak bodoh ya, yang kerjanya hanya main game?” ledeknya.

 

Ya!” Aku memukul lengannya. Dulu aku memang begitu. Kerjaanku hanya bermain game ketika sedang sedih, badmood, ataupun marah. Aku memainkan semua jenis game online. Atau kalau tidak bermain game, aku akan menonton anime. Kalau ada pertandingan sepak bola di TV, aku juga selalu menontonnya. Aku mulai bertingkah seperti yeoja ketika mulai berteman dengan Park Young Gi. Heechul oppa sangat senang waktu melihatku berteman dengan Young Gi, bukan hanya berteman dengan komputer. Akibat semua hobiku itu pula, dulu aku sangat jarang belajar.

 

Ia terkekeh.

 

“Oh iya, bagaimana caramu bisa menghadapi perampok dengan tenang seperti tadi?” tanyaku tiba-tiba.

 

“Aku pernah mengalami hal yang sama waktu berlibur di Spanyol,” jawabnya enteng.

 

“Kau tidak takut?” tanyaku lagiㅡpenasaran.

 

“Tidak,” jawabnya. “Sepertinya sudah jam 9 lewat, kau tak mau pulang?”

 

“Oo… Tentu saja mau!” jawabku sambil berdiri mengikutinya.

 

“Sepertinya mereka sudah pergi. Tapi kita tetap harus hati-hati,” kata Kyuhyun sambil berjalan keluar dari gang sempit yang pengap ini. Aku mencoba berjalan, berhasil, namun terpincang-pincang. Jalanku jadi lebih lambat dari yang tadi. Aku mengikuti langkahnya dengan susah payah.

 

“A-aku bisa jalan sendiri,” ucapku.

 

Ia menatapku dengan sorot tak yakin. “Kita tak akan sampai kalau mengikutimu jalan selambat itu,” ucapnya sambil berjongkok di depanku. “Cepat naik.”

 

“Tidak apa-apa?” tanyaku.

 

“Kau mau pulang kan?”

 

Akhirnya aku menurut saja. Aku membiarkannya menggendongku di punggungnya. It’s so warm here…

 

**

 

Kyuhyun POV

 

Sepertinya sudah lama sekali aku berjalan. Akhirnya aku sampai di jalan besar yang ramai. Ini lebih aman daripada jalan yang sepi tadi. Paling tidak di sini ada orang yang bisa kutanyai.

 

“Hye Mi, kita sudah di jalan besar,” ucapku pada yeoja itu yang sedang berada di punggungku.

 

 

Ia tak menjawab. Aku pun menoleh ke wajahnya yang terkulai di pundakku. Ternyata dia tertidur. Aku ingin membangunkannya, tapi aku tak tega. Jadi sekarang aku menunggu taxi yang lewat. Tadinya aku mau mengajaknya makan malam dulu, tapi berhubung ia sudah terlelap, lebih baik aku langsung mengantarnya pulang.

 

Sambil menunggu taxi, aku memperhatikan wajahnya yang sangat damai ketika tidur. Aigo… Sepertinya tidurnya nyaman sekali. Entah kenapa, melihatnya tidur membuatku merasa tenang.

 

**

 

Aku terheran ketika tiba-tiba sopir taxi itu menghentikan mobilnya hanya sampai depan hotel tempatku menginap selama berlibur.

 

Excuse me, sir. Would you mind to walk 3 kilometres longer? ” tanyaku pada sopir taxi itu.

 

I’m sorry. But our taxi will stop after the closing hour,” jawab sopir taxi tersebut.

 

What? I have already paid,” elakku.

 

We do apoligize, sir.

 

Sial. Apa-apaan ini? Namun aku tak bisa mengelak lagi. Akhirnya aku turun dari taxi itu dan berdiri di depan hotel tempatku menginap bersama gadis itu di punggungku. Aku tak menyangka taxi itu akan menurunkanku sembarangan di sini. Kalau tidak ada gadis itu, aku beruntung, tapi gadis itu kini ada bersamaku. Dan aku harus mengantarnya ke villa-nya yang letaknya sekitar 3 kilometer dari sini.

 

Aku menghela napas. Apa yang harus kulakukan?

 

Tidak mungkin aku mengajaknya ke hotel. Ia bisa berpikir yang macam-macam ketika bangun walau aku tidak melakukan hal yang macam-macam. Aishhh… Tapi villa-nya masih jauh. Sial. Benar-benar sial.

 

Aku memandang langit yang cerah berbintang malam ini. Serta pantai berpasir putih yang tersapu ombak laut. Lantas bergantian memandang yeoja ini. Beberapa helai poni menutupi wajahnya yang tertidur. Aigo… Sepertinya aku harus mengantarnya eoh?

 

**

 

Author POV

 

Malam ini langit terlihat bertabur bintang-bintang. Tak ada awan yang menggantung di langit sana. Hanya ada bintang-bintang dan bulan sabit. Suara ombak kecil yang menyapu garis pantai menambah keindahan malam itu. Namja itu masih dengan sabar berjalan menyusuri garis pantai menuju villa tempat gadis itu tinggal. Sesekali ia berhenti sebentar untuk membenarkan posisi gadis itu di punggungnya. Tak jarang ia menghela napas dan berpikir berapa berat gadis ini?

 

Hanya lampu dari deretan villa-villa yang ada di pinggir pantai itu yang menerangi jalannya. Sepertinya penghuni villa itu sudah tidur karena seluruh pintunya sudah tertutup. Ya. Ini memang sudah hampir pukul 11 malam. Pantas saja suasananya sangat hening.

 

Karena bosan, namja itu mulai menggumamkan sebuah lagu sambil sesekali berjalan di pasir yang basah terkena ombak.

 

“Kyu… sunbae…?” gumam Hye Mi tiba-tiba.

 

Kyuhyun menoleh dan melihat gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. “Sudah bangun?”

 

“D-dimana kita?” tanya gadis itu bingung.

 

“Menurutmu dimana?” jawabnya balas bertanya.

 

“Pantai dekat villa-ku…” jawab Hye Mi. “Wait! Apa kita sudah tak tersesat? Mwo? Sejak kapan?”

 

“Tidurmu benar-benar nyenyak ya.” Diam-diam namja itu tersenyum geli melihat muka yeoja itu yang baru bangun tidur. Sial. Kenapa ia terlihat imut?

 

“A-apa aku tertidur selama di gendonganmu?” tanya Hye Mi ketika sudah benar-benar tersadar. “Turunkan aku!”

 

Gwaenchana. Ini sebagai permintaan maafku karena sudah membuatmu terluka,” jawab Kyuhyun enteng.

 

Di bawah cahaya temaram, Hye Mi bisa melihat senyum tulus namja itu. Meski namja itu tetap tersenyum, ia tidak bisa menyembunyikan wajah capeknya. Hye Mi terdiam sesaat dan membiarkan Kyuhyun berjalan lagi. Ia menyenderkan kepalanya di pundak namja itu. Entah kenapa ia merasa sangat nyaman saat bersama namja itu…

 

“Bagaimana kalau kita duduk di atas pasir itu,” usul Hye Mi tiba-tiba sambil menunjuk pinggir pantai.

 

“Kau serius Heechul hyung tak akan memarahimu?”

 

Hye Mi menggeleng. “Percayalah. Dia pasti malah senang.”

 

Kyuhyun pun berjalan ke tempat yang sudah ditunjuk Hye Mi barusan. Ia menurunkan Hye Mi dengan hati-hati dari punggungnya. Kemudian mereka mendudukan diri di atas pasir putih yang sangat lembut.

 

“Waaah… Baru kali ini aku duduk di pinggir pantai malam-malam seperti ini,” ucap Hye Mi senang. Sepertinya ia segar kembali setelah tidur selama 2 jam. Ia tersenyum lebar dan merentangkan tangannya ke atas. “Omo… Lihat langitnya! Sepertinya itu galaksi.”

 

Berbanding terbalik dengan Hye Mi. Kyuhyun menunduk selama beberapa saat. Ia menyeka keringat yang meleleh di wajahnya setelah berjam-jam berjalan. Ia mengatur napasnya yang terengah. Ternyata cukup melelahkan juga hari ini dan ia masih memaksakan dirinya.

 

“Kyuhyun?” panggil Hye Mi. Ia menyentuh punggung namja itu. “Kau baik-baik saja?”

 

Gwaenchana,” jawabnya sambil mengangkat wajahnya. Ia tersenyum ketika menoleh menghadap Hye Mi.

 

“A-ah mianhae… Aku membuatmu susah,” ucap Hye Mi pelan.

 

“Aku tak mungkin meninggalkanmu di tempat seperti tadi. Jadi tidak usah minta maaf.”

 

Kim Hye Mi mendongak menatap galaksi Milky-way (nama lain galaksi Bima Sakti) yang tampak malam ini. Ia percaya kumpulan bintang-bintang di atas adalah bagian dari galaksi Milky-wayㅡgalaksi tempat matahari beserta 8 planet yang mengorbitnya berada.

 

Untuk beberapa saat mereka hanya memandang langit dan laut yang terlihat bersatu. Tak ada yang bersuara selain suara gemuruh ombak. Mereka menikmati pemandangan di depan mereka.

 

“Apa suatu saat kita bisa merasakan hal seperti ini lagi?” tanya Hye Mi tiba-tiba.

 

“Entahlah…”

 

“Apa kau tak akan kembali ke Seoul lagi?” tanya Hye Mi. Namun setelah itu ia merasa malu karena sudah menanyakan hal itu. Sangat kentara kalau terkadang ia merindukan dan membutuhkan namja di sampingnya.

 

Kyuhyun menoleh ke arah gadis itu. Gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya. Ia menyadarinya, gadis itu sudah banyak berubah semenjak 2 tahun yang lalu. Walau begitu, sudut pandangnya mengenai gadis itu belum berubah. Ia sangat menyayangi gadis itu dan sering merindukan segala hal mengenai gadis itu. Karena baginya tak ada yang seperti Kim Hye Mi. Kim Hye Mi sangat unik dan berbeda dari gadis lainnya yang pernah ia temui, dan itu yang membuatnya sangat sayang. Menurutnya, Hye Mi adalah tipe gadis yang jika ia tenggelam di tengah laut, gadis itu akan melakukan berbagai cara untuk menolongnyaㅡmeski cara itu akan membuat orang lain menatapnya heran. Kadang gadis itu memang seperti puppy yang selalu ingin ditemani dan mudah kesepian, dan itu yang membuatnya ingin selalu berada di samping gadis itu.

 

“Tentu saja aku akan kembali ke Seoul, menjalankan perusahaan appa-ku,” jawab Kyuhyun. “Dan di saat itu, aku akan ada di sampingmu.”

 

Hye Mi terkejut mendengar ucapan Kyuhyun barusan. A-apa dia bilang? Jantungnya berdegup lebih kencang. Pipinya terasa memanas ketika Kyuhyun mulai bersender pada dirinya dan menggenggam tangannya dengan erat. Tangan itu terasa sangat hangat. Ia tak sanggup membalas genggaman tangan itu dengan lebih erat.

 

Kyuhyun memejamkan matanya sejenak, membiarkan laut dan langit menonton mereka malam ini.

 

“Kau belajarlah yang rajin agar aku semakin jatuh padamu.”

 

Hye Mi tak bisa membalas tiap perkataan itu. Ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang lagi. Ia menyentuh pipinya yang terasa panas. Apakah perasaanku terbalas? Oh Ya Tuhan… Apa maksudnya ia akan menungguku? Tapi aku tak yakin apakah aku bisa mengejarnya atau tidak… Karena aku selalu merasa ia selalu berada jauh dari levelku.

 

“Tapi, apakah aku bisa mengejarmu?” tanya Hye Mi sangat lirih lebih kepada dirinya sendiri.

 

“Kau tak perlu mengejarku. Aku selalu ada di sini…” jawab namja itu tak diduga dengan nada setengah tertidur.

 

Hye Mi memandang wajah namja itu. Ternyata namja itu sudah memejamkan matanya. Wajahnya terlihat sangat tenang. “Apa kau tidur?”

 

“Tidak. Aku hanya ingin bersender sebentar. Sehabis ini aku akan mengantarmu pulang, arra?”

 

Hye Mi mengangguk. Ia tersenyum. Baru kali ini ia merasa bahagia karena perasaannya terbalas. Ia memandang wajah namja itu lagi dan ia merasa sangat ingin menyentuh wajahnya. Di kota yang asing, mereka tak sengaja bertemu. Ia tak ingin melupakan kejadian hari ini. Ia merasa berada di tempat ini bersama Kyuhyun seperti mimpi, namun merasakan tangan namja itu yang mengenggamnya hangat seperti ini membuatnya yakin kalau ini adalah kenyataan. Ia tersenyum lagi. Namja itu selalu saja melindunginya sejak dulu dan selalu ada ketika dibutuhkan. Ia ingin selalu berada di genggamannya seperti ini.

 

Arraseo, Kyuhyun sunbae… Aku akan mengejarmu sampai aku pantas berada di sisimu.

 

END

 

SIDE STORY:

 

Sementara itu di villa…

 

Aigo… Sudah jam 12, dia belum pulang! Apa yang dia lakukan bersama Kyuhyun?” omel Heechul begitu sampai.

 

“Tenanglah… Mereka mungkin sedang dalam perjalanan ke sini,” jawab Han Ri. “Kita juga baru sampai kan?”

 

“Tapi ini sudah lebih dari tengah malam!” Heechul mulai menelfon dongsaeng satu-satunya.

 

TOK TOK TOK…

 

Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu belakang villa. Berdirilah Kyuhyun dan Hye Mi. Gadis itu memaksa untuk berjalan sendiri selama sisa perjalanan.

 

Aigo… Apa yang telah kalian lakukan baru pulang jam segini?!” omel Heechul oppa.

 

“Heechul-ah… Santailah. Mereka pasti capek,” kata Han Ri pada suaminya dengan nada menenangkan. Ia sudah biasa menghadapi Heechul yang suka marah-marah.

 

Oppa! Kami tidak melakukan apa pun! Kami bahkan baru saja tersesat dan hampir dirampok! Lihat! Aku sampai terluka!” jawab Hye Mi sambil menunjuk luka-lukanya.

 

Omo…” ucap Heechul oppa. “Fiuuuh… Untung kau tidak sendirian.”

 

“Aku di sini hanya mengantar Hye Mi,” kata Kyuhyun. “Aku akan pulang.”

 

“Hey, sudah terlalu malam! Kau menginap saja di sini,” kata Han Ri.

 

“Tidak apa-apa,” jawab Kyuhyun sopan.

 

“Tenang saja. Di sini masih ada satu kamar kosong karena ini villa tipe keluarga,” jelas Han Ri sambil tersenyum. “Ya kan Heechul-ah?”

 

“Heechul hyung, aku tidak apa-apa kalau harus pulang sekarang,” kata Kyuhyun.

 

“Kau seperti tidak mengenal aku sebagai hyung-mu. Kau harus menginap di sini dan baru boleh pulang besok. Selain itu ini karena kau sudah menjaga dongsaeng-ku,” kata Heechul.

 

Hye Mi diam-diam tersenyum melihat kebaikan oppa-nya. Ia juga tersenyum ketika bisa melihat Kyuhyun besok pagi di villa mereka. Ia tak sabar ingin bangun pagi besok.

 

“Kalian belum makan kan? Ayo masuk,” kata Han Ri.

 

Benar. Mereka bedua memang belum makan malam. Pas sekali timing-nya. Hye Mi diam-diam merasa sangat bahagia karena banyak hal. Meskipun segalanya tidak berjalan sempurna hari ini, tapi hari ini tak akan ia lupakan.

 

END SIDE STORY

 

3 Comments (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Jul 27, 2016 @ 03:48:56

    keren ceritanya…..

    Reply

  2. Monika sbr
    Jul 28, 2016 @ 20:10:16

    Hyemi ternyata menyukai kyuhyun, apa kyuhyun juga akan membalas perasaannya hyemi yaa??

    Reply

  3. josephine azalia
    Sep 27, 2016 @ 12:59:12

    tambah tambah tambahhh

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: