[Adventure Awaits] Pianist in The Café

 

njkn

Title                 : Pianist in the Café

Author             : Lee Je-sun

Main Cast       : Henry Lau/ Liu Xian Hua (Super Junior-M’s Henry); Choi Mira/ Liu Mira Hi (Original Cast)

Genre               : Friendship, Friendzone, Love, Hug, Teenager-life, Happy Ending, Hurt

Rating              : PG-13

Length             : One-shot

***

Seoul

Aku menaiki tangga di salah satu hotel yang ada di kota Seoul dengan terburu-buru. Secarik kertas penting ada di genggaman tangan kananku. Jadi, aku tak perlu repot membongkar tas jika panitia meminta tiket masukku. Aku menyesal karena tadi ketiduran dan menyebabkanku harus terburu-buru seperti ini. Coba lift di gedung ini tidak terlalu lama, kan aku jadi tidak harus berlari menaiki tangga seperti ini.

“Akhirnya,” gumamku pelan saat sampai di lantai 3 hotel ini. Aku membuka pintu yang bertuliskan ‘3rd floor’ dengan perasaan lega. Tepat setelah menutup pintu, aku merapikan rambut dan pakaianku yang sedikit berantakan karena tadi berlari.

Kini aku berjalan menyusuri lorong hotel untuk mencari ruang pertemuan yang menjadi tujuanku. Sebenarnya ini bukanlah acara penting yang mengharuskanku untuk datang, tapi aku tidak mau melewatkan acara ini.

Sampailah aku di sebuah ruangan yang pintunya terbuka lebar dan memperlihatkan dengan jelas aktivitas di dalamnya. Dua orang wanita sudah berdiri di depan ruangan dan tersenyum ramah padaku. Aku pun membalas senyuman mereka dan memberikan tiketku pada salah satu wanita yang rambutnya pendek.

“Terima kasih. Silahkan masuk!” ujar wanita itu setelah mengembalikan tiketku. Setelah membungkuk, aku masuk ke dalam ruangan. Sepertinya acara utama belum dimulai. Saat ini aku mendengar pembawa acara membacakan susunan acara. Itu artinya, acara belum mulai kan?

Aku tidak berjalan menuju salah satu kursi yang ada untuk duduk dan menikmati acara, tapi aku malah berjalan mendekati toilet yang ada di sudut ruangan. Selesai dengan ‘urusan’-ku, aku mencuci tangan dan bercermin. Tidak terlalu berantakan.

Tiba-tiba aku mendengar denting piano yang mengalun lembut di ruang acara. Segera saja aku mengeringkan tanganku dan berlari-lari kecil keluar toilet. Aku terdiam sejenak dan melihat ke arah panggung kecil yang menjadi sorotan. Karena jarak antara tempatku berdiri dengan panggung tidaklah jauh, aku dapat melihat jelas siapa saja yang berdiri di atas panggung.

Tatapanku bertemu dengan tatapan seorang laki-laki yang sedang memainkan piano di depannya secara solis. Tanpa bisa menahan, senyum pun aku berikan padanya. Takut aku akan semakin salah tingkah, segera saja aku berjalan kembali menuju bangku kosong di sudut depan ruangan yang tidak terlalu dekat dengan panggung.

Henry Lau adalah nama laki-laki yang tadi bertatapan denganku. Dari lima orang yang ada di panggung, hanya dia yang aku ketahui namanya. Mereka adalah band yang hampir selalu mengisi acara di café langgananku. Contohnya seperti sekarang ini. Ya, ini adalah acara pesta sederhana yang diadakan pemilik café langgananku untuk para pelanggan setia café mereka. Dan aku adalah pelanggan setia mereka selama satu setengah tahun.

Kalau tidak salah, Henry Lau bergabung dengan band café sekitar 1 tahun yang lalu. Walaupun aku sering ke café dan melihatnya memainkan alat musik, aku tak pernah punya kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat. Sejauh yang kutahu, dia bisa memainkan piano, biola, drum, dan beryanyi. Dia juga tampan dan terlihat ramah.

Acara saat ini adalah makan malam. Aku sudah mengambil hidangan yang disediakan dan membawanya ke meja yang tadi aku tempati. Suara obrolan para tamu pun terdengar jelas di ruangan ini. Sayang, aku tidak mempunyai teman untuk mengobrol. Sebenarnya ada banyak pelayan café yang akrab denganku, tapi mereka terlihat sangat sibuk untuk membantu para tamu. Jadi, sendirilah aku di meja ini.

Sillyehamnida[1], boleh aku duduk bersamamu?” Aku mengalihkan tatapan dari hidangan yang ada di hadapanku menuju seseorang yang sepertinya bertanya padaku. Oh my God! Aku mendapati Henry sedang tersenyum dan menunggu responku. Astaga! Aku baru sadar kalau senyum yang ia miliki sangatlah manis.

Beberapa detik aku terdiam. Tapi akhirnya aku berhasil mengendalikan diriku dan membalas senyumnya. “Silahkan!”

Gamsahamnida[2]. Namamu siapa?” tanyanya setelah meletakkan piring yang tadi ia bawa yang disusul dengan uluran tangan kanannya padaku. Dengan sedikit ragu aku membalas uluran tangannya.

“Aku Mira,” jawabku sambil tersenyum simpul.

“Aku Henry,” ujarnya memperkenalkan diri. Kemudian kami saling melepaskan jabat tangan dan mulai menyantap makanan masing-masing. Atmosfer di antara kami terasa tenang, walaupun ruangan ini cukup berisik. Aku dan Henry seperti sibuk dengan makanan kami.

“Mira-ssi[3], kau belum mengambil minum?” tanya Henry memecah keheningan. Aku mendongak ke arahnya dan menganggukan kepalaku. Kenapa aku bisa lupa? Ah, takdir. Berarti aku harus menahan hausku sampai dia pergi. “Aku ambilkan saja. Kebetulan aku juga belum ambil minum. Kau mau minum apa?”

Aku menatap Henry dengan tatapan bingung. Baik sekali dia? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang mau dia lakukan? Seperti kata orang-orang, jangan langsung percaya pada orang yang baru saja dikenal!

“Tenang saja! Aku tidak akan melakukan apapun. Jadi, kau tidak perlu curiga padaku. Mau soda?”

“Tidak, air putih saja.” Henry mengangguk kemudian berdiri dan menjauh dari mejaku. Aku masih tidak menyangka hal ini akan terjadi padaku. Seorang Henry datang dan minta berkenalan denganku? Apa tidak terlihat seperti cerita di novel atau film remaja? Tapi ini sungguh terjadi padaku! Aigo[4], mimpi apa aku semalam?

Membayangkan kelanjutan dari hubunganku, aku jadi tersenyum sendiri. Untung orang-orang di sekitarku terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan tidak memperhatikanku yang tersenyum-senyum seperti ini. Kalau mereka lihat, aku pasti dikira orang aneh.

Apa yang aku pikirkan? Berharap sekali aku akan lebih dekat dengan Henry? Cukup! Cukup sebatas ini saja khayalanku. Ya, Mira? Sadarlah! Ini bukan cerpen yang akhirnya happy ending. Sadar!

“Mira-ssi?”

Aku terlonjak kaget dan lamunanku buyar seketika. Kulihat Henry sudah duduk di seberangku –seperti tadi, dan segelas air putih sudah ada di depan piring makanku yang sudah habis. “Ah, gamsahamnida.”

Cheonmaneyo[5]. Kau tidak apa-apa? Maaf mengagetkanmu,” ujar Henry dengan wajah menyesal. Melihat itu, aku jadi tidak enak sendiri. Aku yang melamun tapi kenapa dia yang minta maaf? Ini kan salahku.

“Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu minta maaf, Henry-ya[6],” ujarku. Tapi respon yang Henry berikan saat ini tidak seperti dugaanku. Ku pikir dia akan tersenyum atau apalah, tapi dia malah menatapku dengan tatapan bingung. Memang ada yang salah denganku? “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Apa tadi kau mengatakan ‘Henry-ya’ padaku?”

Ne[7]?” ucapku kebingungan. Aku mencoba mengingat ucapanku tadi. Astaga! Aku memang mengucapkannya. Kita baru berkenalan kurang dari 1 jam yang lalu tapi aku sudah memanggilnya dengan banmal[8]. “Aigo, mianhaeyo[9]. Maaf aku tidak sopan.”

Aku sedikit membungkukkan badanku sambil meminta maaf. Aku merasa sangat tidak enak padanya. Semoga saja dia tidak tersinggung. Tadi aku tidak bermaksud apapun. Oh Tuhan, rasanya aku ingin melenyapkan diriku dari hadapannya saat ini juga.

Gwaenchanayo[10]. Aku senang kau menganggapku sedekat itu.” Aku mendongakkan kepala dan mendapatinya tersenyum padaku. Dia benar-benar ramah dan suka tersenyum. “Mira-ya, sejak kapan kau menjadi pelanggan di café ini?”

“Sejak satu setengah tahun yang lalu sepertinya,” jawabku ragu-ragu.

Pembicaraan mengalir lancar di antara kami berdua. Suara tawaku karena candaannya, membaur jadi satu dengan suara orang-orang di ruangan ini. Ternyata Henry adalah tipe orang yang easy going atau mudah akrab dan mempunyai topik pembicaraan yang sepertinya tidak pernah habis.

“Henry-ya, apa aku boleh minta tolong kau ajari aku untuk bermain piano? Satu lagu saja, bagaimana?” tanyaku. Henry mengiyakan permintaanku dengan anggukan kepalanya. Senyum yang lebar tak kuasa aku tahan. “Lagu ‘Storm’ dari Super Junior. Kau bisa?”

“Sebenarnya aku tidak terlalu tahu mengenai lagu itu. Nanti aku coba carikan di…”

“Henry, ayo kita ke panggung! Untuk penutupan,” ujar seseorang memotong kalimat Henry. Aku menoleh ke samping dan mendapati seorang laki-laki yang tadi bermain gitar saat di panggung.

“Baiklah! Mira-ya, kalau aku sudah menguasai lagunya, kau bisa belajar dariku. Aku duluan, ya? Annyeong[11]!” ujar Henry sembari melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum tipis dan membalas lambaian tangannya. Tak lupa aku tersenyum juga pada temannya.

Mataku tak bisa lepas dari sosok Henry yang bejalan menjauhiku. Sempat aku melihat Henry menepuk tangan temannya itu dengan senyum yang mengembang lebar, seolah berhasil mendapatkan sesuatu. Apa yang dimaksudnya adalah aku? Atau aku yang terlalu percaya diri?

Aku tersenyum ketika membayangkan alasannya memang karena aku. Aish, khayalanku semakin tinggi saja. Berhenti memikirkan namja[12] itu, Mira!

Minggu berikutnya aku pergi ke café seperti biasanya. Tapi ada hal yang membuat tidak biasa, yaitu tujuannya. Kini tujuanku adalah menemui Henry. Berharap semakin mengenalnya, dekat dengannya, dan bisa akrab bersamanya.

Sayang, saat itu Henry tidak ikut bermain bersama bandnya di café. Permainan pianonya digantikan oleh orang lain. Jadi aku hanya melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan di café. Pesan makanan, bermain laptop, atau membaca novel.

Minggu kedua setelah pertemuan di gedung pun datang. Aku kembali ke café di hari dan jam yang sama seperti biasanya. Lagi-lagi, Henry tidak ada. Kecewa? Aku tidak tahu apa aku merasa kecewa atau tidak. Hanya saja, aku merasa aneh ketika tak mendapati Henry ada di café. Moodku seperti hancur lebur dan membuatku lebih sensitif.

Satu bulan aku tak bisa menemui Henry di café. Bertanya pada pelayan? Mereka selalu bilang ‘Mungkin minggu depan dia datang’ atau ‘Sepertinya dia sibuk’. Ayolah! Aku membutuhkan satu jawaban yang pasti.

Kalau dipikir ulang, sebenarnya aku ini kenapa? Hanya mengobrol kurang dari satu jam saja sudah membuatku tergila-gila padanya. Argh! Kalau seperti ini terus, aku merasa tersiksa. Selalu diikuti bayangannya tapi dia tak pernah nyata di hadapanku.

Aku suka? Ya, aku menyukainya. Aku tertarik? Sangat! Aku mencintainya? Hm… aku tak bisa menjawab pertayaan ini dengan pasti. Aku tidak tahu cinta itu seperti apa. Apa cinta membuat seseorang menjadi berubah? Jika jawabannya iya, berarti aku memang jatuh cinta. Mencintai seorang namja bernama Henry Lau.

Hari ini aku akan ke café lagi. Sudah dua bulan aku masih tak menemukan jejak seorang Henry. Aku menyerah. Mungkin kisahku hanya seperti ini saja. Khayalanku benar-benar hanya khayalan, tak mampu diwujudkan. Aish, sudahlah! Move on!

Aku membuka pintu café dan berjalan menuju meja yang biasa aku tempati. Alunan musik dari band, terdengar seperti biasanya. Aku membuka novelku dan mulai membacanya.

Sillyehamnida, Mira-ssi. Kau mau pesan seperti yang biasanya?” tanya seorang pelayan yang membuatku mendongakkan kepala ke arahnya. Dengan senyum tipis, aku menganggukkan kepalaku. “Baiklah. Caramel waffle with cookies akan datang dalam 15 menit.”

Aku kembali memfokuskan pikiranku pada novel yang ada di tanganku setelah pelayan itu pergi.

“Henry, cepat kembali ke panggung! Masih ada beberapa lagu yang harus diselesaikan. Lagi pula kenapa tidak kau ucapkan langsung saja?”

Aku berhenti membaca. Apa ada yang bilang Henry? Ah, mungkin hanya perasaanku saja.

“Tunggulah, sebentar lagi aku selesai! Aku tidak siap untuk menghadapinya.”

Kali ini aku yakin kalau aku tidak salah dengar. Tadi itu memang suara Henry. Tapi aku tidak mau mengedarkan pandanganku untuk mencari sosoknya. Ini tidak wajar! Otakku mengendalikan kepala dan mataku agar tidak berkelana untuk melihat sosok Henry, tapi hatiku sudah bergejolak dan membuatku ingin melihatnya.

“Ini pesananmu, Mira-ssi. Selamat menikmati!”

Jamkkan[13]!” cegahku sebelum pelayan yang mengantar pesananku pergi. Dia menoleh dan menatapku penuh tanya. Sebelum ada pertanyaan yang meluncur dari bibirnya, aku mengambil sesuatu yang ada di tasku.

“Aku bayar sekarang saja ya?” ujarku sembari menyerahkan uang pas untuk membayar pesananku. Pelayan itu mengerutkan keningnya. Sepertinya dia bingung dengan tingkahku yang tidak biasa ini.

“Baiklah. Tidak biasanya kau membayar tanpa melalui kasir. Aku akan kembali untuk bill[14]nya,” kata pelayan itu setelah menerima uangku. Aku tidak menjawab pertanyaan pelayan itu sampai ia pergi. Sambil menunggu, aku melahap makanan yang tersaji di hadapanku.

Aku ingin segera pergi dari tempat ini. Aku terlalu takut untuk melihat seorang Henry Lau. Sungguh! Aku takut aku akan semakin tergila-gila padanya dan tak bisa melepaskan bayangannya dari hidupku. Astaga! Dia itu tak pernah terlihat menyukaiku!

Apa yang terjadi padaku? Logikaku tidak jalan dan hatiku tidak jelas apa maunya. Semua yang kulakukan seperti di luar kendaliku.

“Ini billnya. Gamsahamnida,” ujar pelayan itu sambil membungkukkan badannya setelah memberiku bill. Setelah pelayan itu pergi, aku segera memasukkan novelku ke dalam tas dan beranjak dari café.

Aku menghentikan langkahku di depan halte yang cukup jauh dari café tadi. Napasku cukup memburu karena langkahku yang cepat. Sejujurnya aku ingin dia menyapaku. Tapi karena aku sudah terlalu malas untuk menunggu sesuatu yang tak pasti dan takkan mungkin terjadi, aku memilih untuk pergi. “Aish!”

Aku mendudukkan diriku di bangku yang tersedia. Sambil menunggu bus, aku membaca bill yang masih kugenggam. Tapi ada yang aneh dengan bill ini. Sesuatu dituliskan di balik kertas ini dan membuatku kesulitan untuk membaca harga yang tertera. Jadi, aku pun membalik kertas bill dan melihat beberapa kata yang ditulis dengan spidol.

Kembali jam 8 ^^

Itulah yang tertulis di balik bill ini. Aku mengerutkan kening karena bingung dengan maksud dan siapa yang menulis. Kuambil ponselku untuk melihat jam saat ini. 06:32 PM. Apa yang bisa aku lakukan untuk menghabiskan waktu? Ah! Keliling Seoul dengan bus saja! Sepertinya menyenangkan, toh jalur busnya akan kembali ke halte ini lagi.

Setelah 5 menit aku menunggu, akhirnya bus pun datang. Aku membayar dan duduk di kursi dekat jendela. Di sepanjang perjalanan, aku hanya mendengarkan musik melalui earphoneku dan mengamati suasana Seoul di malam hari. Terangnya lampu-lampu memenuhi pandanganku, entah itu dari kendaraan atau gedung-gedung yang berdiri kokoh di pinggir jalan.

Jam delapan lebih sembilan menit, aku sampai di halte yang sama seperti ketika berangkat. Kulangkahkan kakiku menuju café langgananku. Hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang di jalan meramaikan suasana malam kota ini.

Langkahku terhenti ketika melihat café langgananku sudah gelap dan ada tulisan ‘Close’ di pintu kacanya. Aku mengecek jam melalui ponselku. Tidak biasanya café ini sudah tutup sebelum jam 10 malam.

“Mira-ssi?” Aku menoleh ke arah suara yang berasal dari belakangku.

Ne. Haeyun-ssi, kenapa café sudah tutup?” tanyaku pada Haeyun yang merupakan salah satu pelayan. Saat ini dia menggunakan baju santai dan terlihat akan pergi.

“Aku tidak tahu pasti karena apa. Tapi kenapa kau kembali lagi? Ada yang tertinggal?” tanya Haeyun. Aku menggelengkan kepala dan melihat ke arah café. “Masuklah kalau kau ingin masuk! Di dalam masih ada beberapa pegawai. Aku pergi dulu. Annyeong!

Aku dan Haeyun saling melambaikan tangan. Dia berjalan menjauhi café dan aku sebaliknya. Ada sedikit keraguan yang menyelimuti ketika aku berdiri di depan pintu masuk. Di dalam cukup gelap dan sepertinya sudah tidak ada aktivitas apapun. Sebelum membuka pintu, aku mengecek tulisan yang ada di belakang billku. Jam 8 hari ini bukan maksudnya? Orang ini siapa sih? Tidak jelas sekali apa maksudnya.

Aku menghembuskan napas dengan kesal. Sempat terlintas di pikiranku kalau orang yang menulis ini adalah salah satu pelanggan baru café yang menyebalkan dan genit padaku. Aigo! Jangan sampai kalau orang itu adalah dirinya!

Meskipun aku penuh dengan keraguan, tapi akhirnya aku masuk juga ke dalam café. Sepi dan gelap. Aku memilih untuk tetap berdiri dan menunggu sebentar saja. Kuedarkan pandanganku menuju benda-benda gelap yang ada di sekitarku untuk menghabiskan waktu menunggu ini.

Lama sekali! Aku pun membalikkan badan dan berniat meninggalkan café. Sudah menunggu dari tadi, tapi sepertinya tak ada yang menyadari keberadaanku. Atau café ini memang sudah kosong dan ditinggalkan tanpa mengunci pintu? Itu aneh tapi… sudahlah!

Ting!

Otakku berhenti memikirkan hal-hal aneh ketika mendengar suara tuts piano. Ya Tuhan, apakah itu…dia?

Dadaku sedikit sesak dan aku menggigit bibir bawahku karena takut kalau suara tadi hanyalah khayalanku. Kubalikkan badanku dan seketika itu juga lampu café menyala.

Suara piano mulai terdengar lembut. Mataku pun berusaha menyesuaikan irisnya dengan cahaya yang mendadak menyeruak. Setelah berhasil, aku langsung melihat ke arah panggung untuk melihat seseorang yang memainkan piano. Henry? Ini adalah intro dari lagu ‘Storm’ Super Junior!

Aku terpaku menatapnya yang mulai menyanyikan bait-bait lagu ini. Suaranya mempesona! Dan Henry tak kalah mempesona dengan baju motif kotak-kotak kecil berlengan panjang dan celana berwarna krem.

Air mataku mendesak keluar kerena aku kagum sekaligus sedih. Lagu ini benar-benar lagu kesukaanku dan juga lagu yang selalu mengingatkanku akan masa lalu. Dan aku tidak mau membahasnya lebih lanjut! Terlalu menyesakkan dada.

Aku berjalan mendekati panggung dan duduk di salah kursi terdekat. Tatapanku tak lepas dari Henry. Sesekali ia menatapku dan tersenyum, kemudian kembali menghayati lagu yang dimainkannya. Sangat berbakat!

Nae nunmurui uimireul neon moreugetji[15]

Intro terakhir telah selesai dinyanyikan Henry dan aku langsung berdiri sambil bertepuk tangan.

“Kau menyukainya Choi Mira? Atau aku harus memanggilmu ‘Mira Liu meili[16]’?” Aku terkejut dengan ucapannya dan membuatku menghentikan tepuk tanganku. Itu adalah panggilan kecilku ketika di Cina. Mataku membulat ke arah Henry karena bingung dan kaget.

“Liu Xian Hua?” tanyaku pada Henry. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aku naik ke panggung saat dia berdiri. “Kemana saja kau?”

“Aku di sini, Seoul,” ucapnya dengan penuh senyuman. Tapi aku tak bisa tersenyum untuk membalasnya.

“Untuk apa?” tanyaku padanya. Dua pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sejak dulu ingin aku tanyakan. Kemana dan untuk apa dia pergi? Bahkan meninggalkanku yang katanya sahabat terbaiknya, walaupun aku menginginkan yang lebih.

Kenangan itu menyeruak lagi. Setelah lagu tadi, kini aku berhadapan langsung dengan tokoh yang ada di masa laluku. Cerita pahit itu berputar jelas di pikiranku. Aku benci saat dia berbohong dengan mengatakan kalau dia hanya pergi selama 3 bulan. Tapi ternyata dia menghilang bagaikan angin lalu dan saat ini aku bertemu dengannya kembali. Aku harus senang atau marah?

Dan lagi, setelah dia pergi, aku baru tahu kalau dia sudah punya pacar. Yang memberitahuku adalah teman sekolahku yang memiliki relasi di sekolah yang sama dengan Henry. Salahku juga karena tak menanyakan kehidupannya di sekolah dan hanya memperhatikan sikapnya selama di tempat kursus. Tapi kenapa dia tak memberitahukannya padaku? Henry bilang aku sahabatnya, tapi apa kenyataannya?

Aku susah payah menyusun hatiku yang pecah karena kekecewaan. Berminggu-minggu aku tampil berantakan seperti dilanda badai setelah kepergiannya. Ku pikir nasibku lebih buruk daripada pecahan kaca ketika kudengar dia sudah memiliki pacar dan membuatku mengubur jauh-jauh perasaanku ini. Astaga, menyesakkan sekali!

Tapi sekarang apa yang terjadi? Dia membuat perasaanku menyeruak lagi. Aku takut kejadian itu terulang lagi. Aku rapuh dan tidak bisa memungkiri kenyataan itu.

Uljimarayo[17],” ujar Henry sambil mengangkat kepalaku yang menunduk. Kemudian ia menghapus sungai kecil yang mengalir di pipiku dengan ibu jarinya. Kutatap matanya dengan nanar. Aku benar-benar bingung dengan jalan pikirannya. Tolonglah, jangan seperti ini jika kau tidak benar-benar menginginkanku Henry! Kebaikanmu membuatku terus mengharapkanmu.

“Untuk apa kau kembali ke hadapanku?” ujarku dengan suara parau. Dia tampak sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Tangan-tangannya beralih menuju pundakku. Hembusan napas terdengar jelas di telingaku.

“Aku tahu kau marah padaku. Jeongmal mianhaeyo[18]. Dulu aku tidak bermaksud membohongimu,” ujar Henry sambil menundukkan kepala. Lalu apa? Mengerjaiku? Agar aku selalu mengharapkanmu padahal kau sudah memiliki pacar?

Aku menurunkan kedua tangannya dari pundakku dengan perlahan. Kugenggam kedua tangannya sebentar sambil menarik napas. Hembusan napas kulakukan bersamaan dengan melepaskan genggamanku. Aku masih menatapnya yang terlihat gelisah. “Seharusnya kau tidak perlu kembali kehadapanku setelah semua yang kau lakukan dulu.”

“Mira!” panggilnya sambil menahan tanganku ketika aku mundur beberapa langkah sebelum pergi. Kepalaku terus menunduk karena aku tak mau dia melihatku menangis. Dia pasti senang karena melihatku menangisinya. “Jangan pergi!”

“Lepaskan!” ujarku dengan suara serak.

“Dengarkan aku sebentar! Aku minta maaf karena dulu aku tidak memberitahumu kalau aku sudah berpacaran. Jika aku memberitahumu, aku takut kau akan menjauhiku karena aku merasa kau menaruh harapan lebih padaku.”

Henry menghentikan ceritanya. Aku tidak mau mendongak karena aku malu dia mengetahui perasaanku padanya dulu. Bahkan saat aku mengenalinya sebagai Henry Lau pun perasaanku masih sama seperti dulu. Sepertinya hatiku tidak bisa ditipu.

“Jujur saja, saat aku pacaran jarak jauh dengan dirimu yang ada di dekatku, perasaanku menjadi aneh. Aku lebih suka dekat denganmu. Tapi aku memutuskan untuk pergi ke Seoul menyusul pacarku karena aku juga tidak ingin mengkhianatinya. Sayang, di Seoul pun aku tak dapat melupakanmu. Dan akhirnya pacarku memutuskan hubungan kami karena perubahan sikap yang terjadi padaku. Dia pun tahu kalau aku telah jatuh hati pada orang lain. Akhirnya kami berpisah dan aku kehilangan kalian berdua.”

Aku terdiam karena tidak tahu mau merespon seperti apa. Jadi cintaku tidak bertepuk sebelah tangan?

“Alasanku muncul di hadapanmu lagi adalah untuk memilikimu. Aku tak ingin kehilanganmu seperti dulu. Aku sangat bersyukur karena takdir mempertemukan kita kembali. Dan aku berharap kau mau memberiku kesempatan untuk memilikimu,” katanya sambil mengangkat kedua tanganku. Aku mendongak dan menatapnya dalam.

Babo[19]!” ucapku. Dia terlihat kecewa dan sedih dengan perkataanku. Tapi aku memilih untuk tersenyum padanya. “Kau tahu? Bahkan ketika aku mengenalmu sebagai sosok Henry, perasaanku tak berubah sama sekali.”

Geuraeyo[20]?” tanyanya tak percaya. Aku pun menganggukkan kepalaku. Ternyata takdir tidak seburuk yang kukira. Di balik suramnya masa laluku, masih ada masa depan emas yang menanti. Aku bersyukur karena bisa melalui masa laluku dan mulai menghadapi masa depanku yang lebih baik.

Thinking positive! Sepertinya aku mengabaikan kata-kata itu dan membuatku berpikiran buruk tentang perjalanan cintaku. Ah, cinta… cinta! Ada saja hal bisa aku pelajari dari cinta. Dan Henry, aku berterima kasih padamu yang telah membuatku memiliki cinta. Dan aku belajar kalau ternyata sikap terbuka tidaklah buruk.

“Jadi tidak ada pelukan rindu untukku?” tanya Henry membuyarkan pikiranku. Aku menatapnya dengan tatapan aneh.

“Tidak.”

“Ucapan terima kasih?”

“Untuk?” tanyaku tak mengerti. Dia menatapku dengan tatapan gemas. Ya[21]! Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.

“Lagunya.”

Oh!” jawabku singkat.

“Apa? Hanya ‘oh’ yang aku dapatkan? Ish… berminggu-minggu aku menghindarimu untuk mempelajari lagu ini, tapi apa yang aku dapat? Hanya kata ‘oh’ saja? Tahu begini, aku tidak perlu susah payah memberi kejutan,” ujar Henry mengomel-omel. Aku terkekeh mendengarnya.

“Kau masih cerewet ya?”

“Maksudmu aku dari dulu cerewet?” tanya Henry dengan nada tak menyangka. Aku menganggukan kepalaku dan segera memeluknya. Aku sangat merindukan sosok Liu Xian Hua sahabatku. Sangat merindukannya.

Gamsahago saranghaeyo[22],” ujarku.

Cheonmane geurigo tto saranghaeyo[23].”

~The End~

[1] Permisi
[2] Terima kasih (formal)
[3] Panggilan formal untuk orang yang tidak terlalu akrab yang mengikuti nama orang
[4] Astaga
[5] Sama-sama
[6] Banmal : untuk panggilan akrab atau informal yang mengikuti nama orang
[7] Ya?
[8] Terkadang dianggap tidak sopan
[9] Maaf
[10] Tidak apa-apa
[11] Salam (bisa untuk halo dan sampai jumpa)
[12] Laki-laki
[13] Tunggu
[14] Nota
[15] Kamu tidak akan mengerti arti tetes air mataku
[16] Bahasa mandarin, artinya cantik
[17] Jangan menangis
[18] Sungguh aku minta maaf
[19] Bodoh
[20] Benarkah?
[21] Di Korea berarti, “Hei!”
[22] Terima kasih dan aku mencintaimu
[23] Sama-sama dan aku juga mencintaimu

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: