[Adventure Awaits] Day By Day

jknjk

Day by Day.                                                                                                                                                                                                                               Written by : Kyuwon Lee.                                                                                                                                                                                                                  

 

Suwon, 4 April 2006

“Maaf oppa, tapi aku tidak bisa bersamamu.” Hami menahan air matanya, ia tak sanggup memandang wajah Eunhyuk. Ia membalikan badannya kemudian pergi. “wae? Wae? Hami, wae?” Eunhyuk berteriak dari tempatnya berdiri sambil memandangi Hami yang terus berjalan menjauh. Air mata Hami mulai menetes tapi dia tetap tidak menghiraukan Eunhyuk.

***

New York, 7 Juli 2011

Hami berdiri memandangi padatnya lalu lintas kota New York dari tempatnya bekerja, wajahnya terlihat sedih matanya menerawang. Secangkir kopi yang ada ditangannya mulai dingin, entah berapa lama dia melamun seperti itu. Sudah 5 tahun Hami meninggalkan Korea dan pindah ke New York. Bekerja di salah satu majalah fashion terkemuka di New York hanya untuk menghindari seseorang.

Berkutat dengan pekerjaan dan kesibukan kota New York berharap bisa mengalihkan perhatiannya dari seorang lelaki yang sangat dicintainya. Namun, sekuat dan sejauh apapun Hami menghindar, sosok lelaki tersebut tidak pernah hilang dari ingatannya sedetikpun, karena pada kenyataannya ia sama sekali tidak bisa melepaskannya. Hami memandangi ruangan kerjanya yang sudah kosong, ada sedikit perasaan lega mengingat tidak lebih dari 2 jam lagi dia akan meninggalkan ruangannya itu.

Hami sengaja tidak memperpanjang masa kerjanya dengan perusahaan tersebut meskipun banyak yang memintanya tetap bekerja disana. Kedudukan yang tinggi di perusahaan tersebut tidak membuatnya enggan meninggalkan posisinya itu. Hami lebih memilih memulai pekerjaan nya lagi sebagai fashion stylist di Korea. Korea? Ya, Hami akan kembali ke Korea. Ke tempat semua kenangannya bermula.

Suara ponsel menyadarkan lamunannya, Hami melihat nama yang muncul di layar ponsel kemudian mengangkatnya. “Yoboseyo? Ne, Hyun oppa. Aku akan kembali ke Korea nanti malam. Ne, ne. Masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan disini. Ah, jinjja? Baiklah aku akan mengabari mu setibanya aku disana. Aniyo oppa, aku tidak mau merepotkan mu. Lagipula aku sudah mengurus semuanya, kau tidak perlu mengkhawatirkan ku lagi, aku sudah dewasa sekarang. Ne, oppa, ne. Sampai bertemu.”

Hami menutup telfonnya kemudian menghela nafas. Dilihatnya foto di ponselnya, setelah 5 tahun pun ternyata Hami tidak bisa benar-benar melupakannya. Tiba-tiba seseorang masuk. “Ah, maaf. Aku pikir tidak ada orang di ruangan ini. Karena aku diminta membersihkan ruangan ini.” Hami tersenyum. “

Tidak apa-apa, aku baru saja akan meninggalkan ruangan ini. Aku hanya mengecek apa barangku tidak ada yang tertinggal. Baiklah kalau begitu aku pergi.” Hami mengambil tas nya dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut.

“Hami!” seseorang memanggil Hami dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. “Nat?” Hami memandanginya heran. “Bagaimana bisa kau sampai kemari?” Perempuan yang dipanggil ‘Nat’ itu tersenyum. “Tom mengantarku kesini, tapi dia akan pergi lagi bersama temannya.” Dia menunjuk lelaki yang melambaikan tangan kepadanya dan tersenyum. “Aku pasti akan merindukan kalian. Aku kembali ke Korea nanti malam.” Nat tidak percaya.

“Apa? Kau tidak memberitahuku kau akan kembali nanti malam.” “Aku sudah memberi tahumu, Nat. Kau lupa?” Hami berusaha mengingatkan. “Aku ingat akan mengantarmu ke bandara nanti malam. Nanti malam?” Nat menepuk keningnya sendiri. “Aku tidak menyadari nanti malam itu kurang dari 24 jam lagi.” Hami tersenyum. “Kau mau ikut denganku? Ada beberapa barang yang belum selesai aku kemas.” Nat mengangguk.

“Tentu saja. Kajja!”

“Hey, sejak kapan kau bisa bahasa Korea?” Hami bertanya keheranan. “Sejak aku sering mendengarkan percakapanmu lewat telfon dengan bahasa Korea.” Nat tertawa. “Kau ini.”

“Aku rasa semuanya sudah selesai di kemas, barang-barang ini akan dikirim ke Korea nanti kan?” Nat melihat seisi ruangan yang sekarang penuh dengan kardus berbagai ukuran. “Hami? Kau mendengarku tidak? Hami? Halooooo?” Nat memanggil Hami tapi tidak ada jawaban, dihampirinya Hami yang berdiri memandangi TV dihadapannya.

“Kau pasti merindukannya.” Nat memandangi Hami, dia tau betul siapa yang dilihat Hami dilayar TV tersebut. “Haruskah kita pergi sekarang?” Tanya Hami berusaha mengalihkan perhatiannya. “Aku tidak mau ketinggalan pesawat karena setibanya aku di Korea aku harus langsung bekerja lagi. Apa Tom jadi menjemput kita?” Nat menghela nafasnya. “Ya, Tom sudah menunggu dibawah. Barang-barang ini biar aku yang urus pengirimannya nanti.” Hami melihat rumah yang menjadi tempat tinggalnya selama 5 tahun ini. “Aku pasti akan merindukan tempat ini.”

“Ne, oppa. Aku di bandara. Penerbangannya sebentar lagi. Ne, oppa, Nat dan Tom yang mengantarku. Gwenchana yo Hyun oppa. Aku sudah bilang kau tidak perlu mencemaskanku. Ne, ne, ne. Araso yo, araso. Oppa, bisakah kau tidak memberi tau dia aku kembali ke Korea? Ne, gomawo oppa. Ah, aku harus segera bersiap. Aku akan menelfonmu lagi sesampainya di Korea. Bye, oppa.” Hami segera menutup telfonnya begitu terdengar panggilan bahwa pesawat yang di tumpanginya akan segera berangkat.

“Nat, Tom, aku harus pergi sekarang. Terimakasih untuk semuanya. Aku pasti akan kembali kesini. Atau jika kalian ada waktu datanglah ke Korea, aku pasti dengan senang hati menerima kalian.” Nat memeluk Hami sambil menangis, kemudian berganti Tom memeluk Hami. “Aku pasti merindukanmu, jaga diri baik-baik.” Kata Nat, Hami tersenyum. “Baiklah, sampai bertemu lagi.” Hami berbalik meninggalkan dua temannya itu. Berbalik meninggalkan hidup barunya untuk kembali ke masa lalu.

Hami duduk memandangi landasan pesawat dari balik jendela. Perlahan pesawat yang di tumpanginya lepas landas, naik perlahan lahan. Terlihat kelap kelip lampu kota New York perlahan menjauh dan terus menjauh. Hami menutup matanya, berusaha untuk tidur. Tapi yang terjadi, pikirannya dipenuhi kenangannya bersama Eunhyuk.

“Hami, mau sampai kapan kau terus tidur?” Eunhyuk mengelus pipi Hami lembut. “Oppa, bisakah kau tidak mengangguku tidur? Aku lelah sekali.” Hami masih memejamkan matanya. Dipeluknya Hami yang tidur disampingnya. “Kalau begitu aku akan tidur sambil memelukmu.” Katanya.

Hami tersentak bangun dari tidurnya. Kenangannya bersama Eunhyuk bahkan terlihat jelas dalam mimpinya. Pesawat yang membawanya terbang dari New York ke Korea perlahan turun. Terasa guncangan halus tanda pesawat telah mendarat. 14 jam 35 menit perjalan yang ditempuhnya untuk kembali ke Seoul, Hami tidak menghiraukan badannya yang terasa lelah karena seharian berada dalam pesawat. Setelah mengurus barang bawaanya, Hami bergegas menuju kantor untuk mulai bekerja.

***

Seoul, Juli 2011

“Yoboseyo. Hyun oppa, apakah kau sedang sibuk? Aniyo. Aku hanya mau bilang aku sudah tiba di Seoul. Ne, aku sekarang sedang menuju kantor. Oppa jangan terus menganggapku anak kecil, aku sudah terbiasa seperti ini. Kau tau kan bagaimana orang hidup di New York? Ah, aku sudah sampai di kantor. Aku akan menghubungi mu lagi nanti.” Hami berjalan menyusuri gedung yang nanti akan menjadi tempatnya bekerja. Suasananya tidak asing karena Hami pernah bekerja disini sebelumnya. Terlihat beberapa orang yang terus memandanginya seolah tidak percaya Park Ha Mi kembali lagi ke kantor ini.

“Terimakasih.” Hami masuk sebuah ruangan besar. Orang yang tadi mengantarnya keluar meninggalkan ruangan. Di hadapannya terdapat sebuah meja besar dengan papan nama, Soo Man Lee – CEO. Tak lama seseorang memasuki ruangan tersebut. Hami melihat orang tersebut kemudian memberi salam, “Ah, selamat pagi Pak Presdir.” Orang yang disebut Presdir itu tersenyum kemudian duduk menempati kursinya. Tangannya mengisyaratkan Hami untuk duduk. “Kudengar kau baru saja tiba dari New York.” Hami tersenyum. “Ya, betul. Saya langsung kemari karena saya diminta untuk langsung bekerja.”

“Siapa yang menyuruh orang yang baru melakukan perjalanan jauh untuk langsung bekerja tanpa istirahat.”

“Tidak apa-apa Presdir, saya sudah terbiasa. Tapi kalau boleh saya tau, untuk apa Pak Presdir memanggil saya kesini?”

“Oh itu, masalah pekerjaanmu. Kudengar kau diminta untuk menjadi fashion stylist. Tapi aku rasa pekerjaanmu itu tidak cocok denganmu yang sekarang, untuk orang yang pernah bekerja di New York apakah kau tidak merasa itu terlalu biasa? Jadi aku memutuskan untuk memberikanmu pekerjaan lain.”

“Pekerjaan lain?” Hami terlihat kebingungan dengan pernyataan yang diberikan oleh Presdir. “Ya, kau akan menjadi direktur fashion stylist. Aku sudah menyiapkan ruangan untukmu, sekretaris Yoong yang akan mengantarkanmu.” Presdir menunjuk sekretarisnya yang ada di dekat pintu, sekretaris itu tersenyum sembari menganggukan kepalanya. “Terimakasih Pak Presdir. Kalau begitu saya akan mulai bekerja sekarang.” Hami memberikan salam kemudian mengikuti sekretaris Yoong menunju ruangan kerjanya yang baru.

“Silahkan masuk.” Sekretaris Yoong membukakan pintu dan mempersilahkan Hami masuk. Dilihatnya ruangan dihadapannya. “Ini bahkan lebih besar dari ruangan kerjaku di New York. Apa ini benar-benar ruangan untukku?” Sekretaris Yoong tersenyum. “Dan mereka ini adalah assisten anda, mereka yang akan membantu anda bekerja.” Sekretaris Yoong menunjuk 5 orang yang berdiri di ruangan itu. “Ini Byung Seon, Hwayoung, Suhyun , Chan Sook dan Chan Sun.” Kelima orang itu membungkukan badannya saat diperkenalkan.

“Namaku Park Ha Mi. Aku harap kita bisa bekerja dengan baik.” Hami tersenyum. “Sekretaris Yoong, apakah ada yang harus aku kerjakan hari ini?” Tanya Hami. “Maaf aku terlambat.” Belum sempat sekretaris Yoong menjawab, seseorang masuk ruangan dengan terburu-buru. “Nona direktur maafkan saya.” “Ini Jiyeon, dia ini sekretarismu.” Sekretaris Yoong memperkenalkan perempuan tersebut. “Jiyeon yang akan mengatur semua jadwal untukmu.” Jiyeon membungkukan badannya.

“Apa ada yang bisa saya bantu lagi nona direktur?” “Aku rasa tidak, terimakasih sekretaris Yoong.” Sekretaris Yoong membungkuk kemudian pergi meninggalkan ruangan. “Jiyeon, apakah ada yang harus aku kerjakan hari ini?” “Hari ini ada jadwal pemotretan majalah, tapi semua wardrobe sudah dikerjakan oleh Chan Sook dan Chan Sun. Selain itu nona hanya harus mempersiapkan wardrobe untuk penampilan artis nanti malam. Untuk comeback stage Super Junior di KBS.” Hami tercengang mendengar nama itu disebut. Haruskah secepat ini dia bertemu dengan kenangannya. “Baiklah kalian semua boleh meninggalkan ruangan ini, aku akan memangil kalian lagi nanti. Jiyeon, kau bisa membantuku?”

***

Terdengar suara ketukan pintu. “Hyun oppa!” Hami bangkit dari tempat duduknya kemudian memeluk Hyun Bin. “Bagaimana kau bisa tau aku disini? Kau tidak bekerja? Kau, kau bagaimana bisa masuk kesini?” Hyun Bin tersenyum. “Apa karena sekarang kau sudah menjadi direktur aku jadi tidak bisa menemuimu?” “Bukan begitu maksudku.” “Oh, kau sedang banyak kerjaan ya?” Hyun melihat tumpukan file dan baju yang berantakan di ruangan itu. “Aku harus menyiapkan wardrobe untuk nanti malam. Tapi aku sudah menyelesaikannya.” Jawabnya. “Cepat sekali kau sudah mulai bekerja. Apa kau punya waktu?”

“Jadi oppa kenal dengan Soo Man-ssi?” Hami melahap sepotong besar cake yang dipesannya. Mereka memutuskan pergi ke coffee shop untuk menghabiskan sore. “Dia itu teman ayahku. Jelas saja aku mengenalnya. Hei, bagaimana? Kau suka ruangan kantormu yang baru?” Hami mengangguk. “Aku tidak menyangka akan memiliki ruangan sebesar dan sebagus itu. Kira-kira siapa ya yang menata ruanganku itu.”

“Aku.”

“Ah, jinjja?” Hyun Bin tersenyum lagi. “Karena kau kenal dengan Soo Man-ssi kau jadi bisa melakukan apa saja?” Ha Mi mencibir.

“Tapi, terimakasih oppa.” Katanya lagi seraya tersenyum.

“Kau tidak akan terlambat untuk pergi ke KBS?”

“Omo! Omo! Omo! Aku hampir lupa! Kalau begitu aku pergi dulu oppa. Sampai bertemu lagi.”

***

“Nona direktur!” Jiyeon berlari menghampiri Hami. “Jiyeon, berhenti memanggilku dengan panggilan nona direktur. Oh, ya. Apakah semua wardrobe sudah datang?” Jiyeong mengangguk. “Byung Seon dan Hwayoung sudah menyiapkannya di ruang ganti.” “Baiklah antar aku kesana.”

“Suhyun tolong simpan ini disebelah sana, ini yang dipakai untuk sesi pertama. Byung Seon, tolong rapihkan ini, baju yang dipakai dipanggung tidak boleh berantakan sedikitpun. Hwayoung, aku mau kau menata aksesoris dan sepatu sesuai dengan pakaian yang sudah disiapkan. Aku tidak mau artis kebingungan saat bersiap-siap. Suhyun,” Hami terdiam, badannya mendadak kaku. Pandangannya tertuju pada orang-orang yang baru saja memasuki ruangan. “Anneyong haseyo.” Ruangan itu mendadak penuh sesak. Hami buru-buru mengalihkan perhatiannya, berharap tidak ada seorangpun dari mereka yang mengenalnya. “Ya! Hami!” Dengan enggan Hami menoleh ke sumber suara.

“Heechul oppa!” Hami mencoba terlihat gembira.

“Hami-ah! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sudah kembali dari New York?”

“Ne, maafkan aku Shindong oppa.”

“Bagaimana New York?”

“Hami!”

“Ah! Donghae oppa.”

“Apakah kau sekarang bekerja disini? Kapan kau kembali dari New York?” “Oppa, kalian harus segera bersiap. Nanti aku akan cerita. Tapi sekarang ganti dulu baju kalian. Sudah aku siapkan semuanya.” Hami tidak bisa menghindari mereka semua di ruangan sekecil ini. Ingin rasanya Hami pergi sebelum,

“Hami.” Terlambat. Eunhyuk menghampiri Hami. Susah payah Hami menahan agar air matanya tidak menetes. Hami terus menghindari tatapan Eunhyuk.

“Eunhyuk oppa, kau terlihat pantas sekali memakai baju ini. Aku tidak salah memilihkannya untukmu kan.” Hami merapihkan baju yang dipakai Eunhyuk. Eunhyuk terus memperhatikannya.

“Kenapa baru kembali sekarang?” Pertanyaan Eunhyuk membuat hati Hami sakit. Eunhyuk mengenggam tangan Hami yang sedang merapihkan bajunya.

“Sekarang sudah rapih. Aku harus membantu yang lain.” Hami melepaskan tangannya dari tangan Eunhyuk, mencoba masuk kembali kedalam keramaian dalam ruangan itu untuk menghilangkan kesedihannya.

“Oppadeul, hwaiting!” Kata Hami sesaat sebelum Super Junior meninggalkan ruangan ganti. “Kau harus ikut denganku seperti biasa.” Eunhyuk menarik tangan Hami, namun Hami melepaskannya perlahan.

***

Hami terbaring di atas tempat tidurnya. Pekerjaannya memang tidak seberat saat dia bekerja di New York, tapi bertemu dengan orang yang dihindarinya selama 5 tahun membuat pekerjaannya terasa jauh lebih melelahkan. “Kenapa aku harus bertemu dengannya di hari pertama aku kembali kesini.” Batinnya.

***

“Jiyeon, apa semua wardrobe sudah kau urus?” Tanya Hami. “Sudah selesai semuanya. Tapi, Hami eonnie, hari ini kau juga menjadi MC di Inkigayo.” “MC?” “Ne, MC. Apakah kau memang terbiasa dengan mengerjakan berbagai macam pekerjaan seperti ini eonnie?” Hami tersenyum. “Ya. Aku tidak akan menyia-nyiakan apa yang Tuhan berikan untukku. Selama aku sanggup mengerjakannya akan aku lakukan.” “Hami eonnie, kalau begitu kau harus bersiap sekarang. Urusan wardrobe biar aku dan yang lainnya yang siapkan.”

“SBS Inkigayo. Yorobeun, annyeong.” Hami menutup acara dengan baik kemudian meninggalkan panggung. “Hami noona, Eunhyuk hyung. Eunhyuk hyung, dia, dia kolaps.” Kata Chan Sun begitu bertemu Hami. “Tadi dia jatuh dan pingsan, sekarang dibawa ke rumah sakit.” Chan Sun berusaha mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal habis berlarian. “Chan Sun, tolong antar aku kesana.”

Hami mengenggam tangan Eunhyuk yang masih tertidur. Dipandanginya wajah Eunhyuk, ada perasaan rindu yang akan wajah yang dipandangnya sekarang. Tak terasa air matanya menetes, membasahi tangan Eunhyuk. Perlahan Eunhyuk membuka matanya, dilihatnya Hami yang sedang menangis. “Kenapa kau menangis?” Eunhyuk mengusap air mata di pipi Hami. “Kenapa kau bodoh sekali sampai bisa seperti ini? Kenapa kau jadi lemah?” Eunhyuk tersenyum. “Kau mencemaskanku?” “Aku tidak mungkin mencemaskan orang bodoh sepertimu.”

“Ya, tolong bantu aku duduk.” “Badanmu masih lemas. Jangan banyak bergerak.” “Sudahlah ikuti saja apa kataku.” Hami membantunya duduk, tapi Eunhyuk malah memeluknya. “Aku sudah ingin melakukannya sejak aku melihatmu pulang. Tapi kau terus menghindar dariku.” “Oppa mianhae.” Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari balik kaca pintu.

“Oppa, bagaimana kabarmu hari ini? Syukurlah. Aku masih banyak yang harus dikerjakan, aku akan menjengukmu setelah semua pekerjaan ku selesai. Bukan begitu… Istirahatlah dulu selagi menungguku ya? Sampai bertemu nanti.”Hami menutup dan mulai melanjutkan pekerjaannya.

“Hami eonnie,” Hami menoleh melihat Jiyeon yang baru saja memasuki ruangannya, di tangannya terdapat beberapa cetak tabloid. “Jiyeon? Kau kenapa?” Jiyeon melangkah mendekati meja Hami dengan ragu, kemudian memberikan tabloid yang dibawanya. Hami melihat halaman pertama tabloid itu, wajahnya menegang. “B-b-bagaimana bisa?” Di halaman depan tabloid itu terpampang foto Hami yang sedang memeluk Eunhyuk di rumah sakit. “Eonnie, apakah kau berpacaran dengannya?” Tanya Jiyeon.

“Apa kau ini becanda? Heol, Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bisa kehilangan pekerjaanku kalau begini. Apa mereka sudah tau aku bekerja di SM juga?” Jiyeon mengangguk. “Haaa, apa yang sudah aku lakukan. Kenapa jadi seperti ini?” Tiba-tiba ponsel Hami berdering, dilayar terlihat nomor yang tidak dikenal menghubunginya. “Yoboseyo?” Hami memulai pembicaraan.

“Ini aku.” Jawab orang di sebrang telfon. “Eunhyuk oppa!” Jiyeon tampak terkejut mendengar Hami menyebutkan nama Eunhyuk. Hami mengisyaratkan Jiyeon untuk meninggalkan ruangannya. Jiyeon membungkuk kemudian pergi meninggalkan ruangan Hami. “Apa kau sudah melihat berita di tabloid hari ini? Bagaimana mereka bisa mendapatkan foto itu ya?” Ucap Eunhyuk. “Ya! Kenapa kau terdengar senang sekali? Apa kau yang membuat semua ini? Kau tau aku bisa kehilangan pekerjaanku kalau begini.” Terdengar Eunhyuk tertawa. “Kenapa kau malah tertawa?” Kata Hami kesal.

“Tidak masalah kalau kau tidak bekerja. Menikahlah denganku dan jadilah istri yang baik. Dengan begitu kau tidak usah bekerja pun tidak masalah kan?” Eunhyuk menjelaskan. “Kau ini, apa kau sudah gila?” Terlihat Jiyeon memasuki ruangan dan membisikan sesuatu ditelingan Hami. “Oppa, nanti aku telfon lagi.” Hami menutup telfonnya segera dan bergegas meninggalkan ruangannya.

“Apa yang harus aku katakan pada Presdir, kenapa jadi seperti ini.” Hami mempercepat langkahnya, tidak menghiraukan pandangan orang-orang yang melihatnya. “Kenapa mereka memperhatikanku seperti itu? Apa yang mereka pikirkan tentangku? Ah! Semua ini gara-gara pemberitaan di tabloid!” Hami memasuki lift, tapi sebelum pintu lift tertutup, seseorang masuk ke dalam lift. “Apa pemberitaan di tabloid itu benar?” Tanya lelaki yang baru saja masuk ke dalam lift. “Ah, tidak bukan seperti itu. Itu,” Belum selesai dengan jawabannya, pintu lift terbuka. “Aku duluan, permisi.” Hami meninggalkan lift dan masuk ke ruangan Presdir.

“Pak Presdir, anda memanggil saya?” Presdir mengisyaratkan Hami untuk duduk. “Apa berita itu benar?” Hami tertunduk. “Jadi berita itu benar?” Saat Hami akan menjawab, seseorang memasuki ruangan Presdir.

“Joon!” Terlihat pria yang dipanggil Joon memasuki ruangan di ikuti Sekretaris Yoong. “Ma-maaf Pak Presdir, tapi saya sudah melarangnya untuk masuk.” Jelas sekretaris Yoong. Presdir hanya bisa menghela nafas kemudian meminta Sekretaris Yoong meninggalkan ruangan. “Untuk apa kau kemari? Aku sedang ada urusan.” Presdir bicara dengan nada sedikit kesal.

“Masalah tabloid itu, sudah aku selesaikan. Mereka akan langsung mengklarifikasi beritanya. Fotografer yang mengambil gambar pun sudah dipecat dari tempatnya bekerja.” Hami tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“Baguslah kalau begitu. Hami, aku minta kau tidak melakukan kesalahan seperti ini lagi. Kau tau apa akibatnya kalau kau melakukannya lagi. Kau boleh keluar sekarang.” Hami berjalan meninggalkan ruangan. “Kalau begitu aku jg permisi, ayah.” Mata Hami membelalak, terdengar suara Joon bicara dengan Presdir, dia berharap pendengarannya bermasalah.

“Ayah? Apa dia itu anak lelaki Presdir yang selalu dibicarakan orang-orang? Dingin sekali. Apa yang membuat orang menyukainya.” Hami baru saja akan menekan tombol lift saat pria yang sama dengan yang ditemuinya di lift tadi masuk. Kontan Hami memberi salam.

“Maaf, aku tidak tau kalau anak dari Presdir.” Ucap Hami dibuat sesopan mungkin. “Jangan anggap masalahmu selesai begitu saja.” Joon berbicara tanpa melihat Hami. “Mulai sekarang aku akan terus mengawasimu.” Pintu lift terbuka, Joon keluar lift, meninggalkan Hami yang terdiam tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“Mengawasiku katanya? Apa karena dia anak Presdir dia bisa seenaknya mengawasiku? Hah, kenapa ini terjadi padaku.” Hami berjalan kembali menuju ruangannya. “Eonni, apakah benar Tuan Lee Joon yang membantu eonni? Aku dengar dia yang mengklarifikasi mengenai berita mu itu.” Jiyeon langsung menyerang Hami dengan pertanyaan-pertanyaan saat Hami memasuki ruangan. “Heh! Apa yang kau lakukan disini Jiyeon?” Jiyeon menunduk.

“Maafkan aku eonnie, aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku dan mengantarkannya ke ruanganmu. Tapi tadi aku dengar karyawan lain membicarakanmu, katanya Tuan Lee Joon yang membantu mu.” Hami menghela nafas.

“Apa? Membantuku? Dia akan mengawasiku karena aku membuat kesalahan. Apa yang harus aku lakukan Jiyeon… Belum genap 1 minggu aku kembali ke Korea tapi sudah mendapatkan masalah.” Jiyeon hanya memandangi Hami. “Jiyeon, apakah dia bekerja disini jg?” Tanya Hami. “Maksud eonni, Tuan Lee Joon?” Hami mengangguk.

“Setauku dia tidak bekerja disini, dia memegang perusahaan lain milik Presdir. Tapi yang kudengar dia akan menggantikan Soo Man-ssi menjadi Presdir SM. Mungkin itu kenapa akhir-akhir ini dia sering kemari.” Hami menyandarkan kepalanya ke kursi. “Jangan-jangan dia akan memecatku setelah dia menjadi Presdir. Jiyeon, kalau aku di pecat, apa kau mau menemaniku?” Mata Jiyeon terbelalak.

***

“Terimakasih.” Hami mengambil kopi pesanannya lalu keluar dari coffee shop. “Hei berhenti anak-anak, ibu tidak bisa mengejar kalian dengan bawaan sebanyak ini.” Hami menoleh, dilihatnya seorang ibu yang kerepotan dengan barang bawaanya berusaha menghentikan anak-anaknya yang sedang berlarian. Salah satu dari anak itu jatuh menabrak Hami, Hami kehilangan keseimbangannya hampir saja dia ikut terjatuh tapi seorang pria menopang badannya. Hami menatap wajah pria yang menolongnya.

“Haaa, apa ibu bilang. Kalian hampir saja membuat nona ini terjatuh.” Ibu itu segera menghampiri anaknya yang tadi terjatuh. “Maafkan saya nona, tuan.” Ibu itu membungkuk meminta maaf dan cepat-cepat pergi dengan anak-anaknya. “Terimakasih.” Ucap Hami singkat. “Lain kali hati-hati.” Pria itu kemudian pergi meninggalkan Hami. “Cih, apa-apaan orang itu. Apa karena dia anak dari Presdir jadi dia bersikap sedingin itu?”

***

“Oppa, sepertinya aku tidak bisa menemuimu lagi sekarang. Aku hampir kehilangan pekerjaanku karena berita itu.” Hami meneguk kopi dari cangkir yang ada di tangannya sambil terus berbicara. “Bertemu diam-diam? Apa maksudmu? Itu terlalu beresiko. Oppa, nanti kuhubungi lagi ya.” Hami cepat-capet menutup telfonnya begitu melihat Jiyeon masuk ke ruangannya di ikuti Lee Joon.

“Untuk apa dia kemari?” Tanya Hami begitu Jiyeon menghampirinya. Joon terus memperhatikan Hami dengan tatapannya yang dingin. “Dia mau eonni memilihkan pakaian untuknya dan menemani dia menghadiri acara nanti malam.” Mata Hami membelalak. “Apa maksudmu dia memintaku menemaninya nanti malam?”

“Haa, eonni! Apa yang kau pikirkan? Kau tidak ingat kalau nanti malam adalah pesta penyambutan tuan Joon sebagai Presdir disini? Presdir sendiri yang memintamu untuk menjadi pendampingnya nanti malam.”

“Ya! Tidak bisakah kalian tidak bicara sambil berbisik-bisik seperti itu?” Joon berjalan menghampiri Hami dan Jiyeon. Joon menoleh melihat Jiyeon dan mengisyaratkannya untuk keluar. “Heh! Apa karena kau akan menjadi Presdir disini jadi kau bisa seenaknya meminta sekretarisku untuk keluar?” Joon menatap Hami dan mendekatkan wajahnya, sangat dekat sampai ujung hidung mereka hampir bersentuhan. “Kau harus mulai memanggilku Presdir Joon mulai sekarang kalau kau tidak mau kehilangan pekerjaanmu disini.” Hami melengos.

***

“Kenapa harus aku yang menemaninya? Apa dia tidak punya teman wanita sampai Presdir memintaku untuk menemani dia?” Hami merapihkan gaun yang dipakainya. Gaun hitam panjang dengan model blackless, Hami mengeriting rambutnya kemudian mengikatkannya ke satu sisi sehingga terlihat lehernya yang jenjang.

Aku sudah sampai, cepatlah turun.” Hami berdecak membaca sms yang masuk di ponselnya. Diambilnya tas pesta pemberian ibunya lalu bergegas turun.

“Aku pikir bukan kau yang akan mejemputku.” Hami memulai pembicaraan. Joon tidak menghiraukannya dan terus menyetir. “Kenapa Presdir memintaku untuk menemanimu? Apa kau tidak punya teman wanita?” Hami bertanya kepada Joon, setidaknya dia akan menjawab kalau aku bertanya pikirnya. Tapi Hami salah, Joon sama sekali tidak mendengarkan pertanyaannya. Hami mulai kesal, ia memutuskan untuk menyalakan tape mobil Joon.

“O! Ini lagu kesukaanku.” Hami membesarkan volume tape nya dan mulai bernyanyi. “You walk into my life and change the balance of my days with your eyes you say I am yours and you are mine…”

Mobil Joon masuk ke dalam sebuah hotel berbintang lima tempat pesta diadakan. Dia memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk lobby. Seorang pegawai disana baru saja akan membukakan pintu mobil untuk Hami tapi Joon melarangnya. Joon membukakan pintu untuk Hami kemudian mengulurkan tangannya.

“Kau?” Hami memandangi uluran tangan Joon, tidak tau apa dia harus menggandeng Joon atau tidak, bagaimanapun juga Joon akan dinobatkan menjadi Presdir pada pesta kali ini, siapapun wanita yang digandengnya pasti akan menjadi perhatian para tamu undangan. Joon mengulurkan tangannya lagi, kali ini dia tersenyum memandang Hami.

Orang ini tersenyum? Bagaimana bisa?” Pikir Hami. Hami memutuskan untuk menyambut uluran tangan Joon, dengan segera Joon pun menggandengnya. “Kenapa kau terlihat tegang sekali?” Tanya Joon begitu mereka memasuki ballroom hotel tempat pesta diadakan. “Kau tidak pernah datang ke pesta sebesar ini?” Joon menatap Hami yang sedang menggandeng lengannya. “Kau ini! Bagaimana mungkin aku bisa tenang kalau semua orang memandangiku seperti ini?” Joon tersenyum sinis.

“Tentu saja semua orang memandangimu, kau sedang menggandeng Presdir salah satu perusahaan terbesar di Korea.” Hami menatap Joon kesal, mencoba melepas gandengan tangannya di lengan Joon tapi Joon menahannya. “Kalau kau melepaskan tanganmu dari lenganku, kau akan mendapat masalah. Mengerti?” Ucap Joon tanpa menoleh sedikitpun.

“Apa yang orang ini lakukan? Mana boleh aku terus menggandengnya seperti ini? Bagaimana kalau Oppa melihatku?” Batin Hami. Sementara Joon berbicara dengan para tamu undangan, Hami melihat sekeliling ballroom mencoba mencari Eunhyuk. “Tidak mungkin kalau dia tidak datang, dia bilang kalau dia juga akan kemari.” Tiba-tiba Joon melepaskan tangan Hami dari lengannya dan berjalan menuju panggung.

“Akhirnya… Ini kesempatanku mencari Eunhyuk Oppa.” Hami cepat-cepat meninggalkan tempatnya berdiri tadi, tidak menghiraukan tamu-tamu undangan yang terus memperhatikannya, bahkan diapun tidak mendengarkan apa yang sedang Joon sampaikan dari atas panggung.

“Dan malam ini aku akan memperkenalkan seorang wanita yang akan menjadi pendampingku nanti, Park Ha Mi.” Semua tamu undangan melihat ke arah yang Joon maksud, Hami yang sama sekali tidak mendengarkan ucapan Joon menjadi panik saat menyadari semua orang sedang memandanginya, bertepuk tangan sambil tersenyum. “Hami, bisakah kau naik kesini?” Joon tersenyum meminta Hami untuk naik ke panggung bersamanya. Hami yang tidak tau harus berbuat apa hanya mengikuti ucapan Joon dan segera naik ke atas panggung. Joon menghampiri Hami dan mengulurkan tangannya, menuntun Hami menuju ke tengah panggung. “Kami akan melangsungkan pesta pertunangan,” Hami menoleh melihat Joon.

“Apa dia bilang? Pesta pertunangan? Apa yang sedang dia bicarakan?” Tapi Hami tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak mungkin mempermalukan Joon yang baru saja diangkat menjadi Presdir dengan mengatakan bahwa yang Joon kata kan tidak benar. Joon terus berbicara, Hami mengalihkan pandangannya dari Joon, dilihatnya para tamu undangan yang sedang menatapnya, diantara tamu undangan itu, pandangan Hami berhenti pada sosok seorang pria. Eunhyuk. Terlihat Eunhyuk menyembunyikan kesedihannya setelah mendengar apa yang Joon ucapkan. Haruskah kali ini dia melepaskan Hami lagi seperti 5 tahun yang lalu? Begitu banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Hami terus menatapnya dari atas panggung bahkan saat Joon menggandengnya untuk turun dari panggung, Hami terus menatap Eunhyuk.

Hami menggandeng Joon keluar dari ballroom dan membawanya ketempat yang dia rasa tidak akan diketahui para tamu undangan. “Apa yang kau katakan tadi? Bertunangan? Kau pikir, bagaimana bisa kau mengatakan itu tanpa bertanya padaku! Kau tau aku menyukai Eunhyuk. Aku tidak mungkin menyukaimu! Kenapa kau katakan bahwa kita akan bertunangan! Kenapa kau katakan itu dihadapan semua orang!” Hami memukul-mukul tubuh Joon sekuat yang dia bisa. Air matanya mulai menetes. Joon membelai kepala Hami lembut dan mendekatkannya ke tubuhnya. Joon memeluk Hami. “Aku mencintai Hyuk, apa yang harus aku katakan padanya.” Hami terus menangis dipelukan Joon. “Aku mencintaimu. Meskipun kau mencintai Hyuk, aku akan tetap mencintaimu.” Ucapan Joon membuat Hami tersentak. Dilepasnya pelukan Joon, Hami menatap Joon tidak percaya. Hami berbalik untuk meninggalkan Joon saat dilihatnya Eunhyuk memperhatikan mereka dari jauh. Hami berjalan meninggalkan Joon, air matanya kembali mengalir, Hami berjalan secepat mungkin, tidak memperdulikan Joon yang terus memandanginya, Hami berjalan melewati Eunhyuk tanpa menoleh sedikitpun untuk melihatnya. Joon menatap Eunhyuk dari jauh, begitu pula sebaliknya. Sampai Eunhyuk memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

***

Hami menyandarkan kepalanya di kaca ruang kantornya. Setelah kejadian kemarin malam, Hami bahkan tidak tau harus berbuat apalagi kepada orang-orang yang terus bertanya tentang pertunangannya dengan Lee Joon atau pegawai-pegawai yang memberinya selamat. “Eonnie…” Ragu-ragu Jiyeon memasuki ruangan Hami. “Eonni, apa kau baik-baik saja?” Hami tersenyum. “Ada apa Jiyeon?” Jiyeon memberikan beberapa tabloid yang dibawanya kepada Hami. Dilihatnya berita yang tertulis di tabloid-tabloid itu. Hami menghela nafas. “Biar si keras kepala itu yang urus semua ini, ini karena ulahnya.” Joon tiba-tiba masuk ke ruangan Hami dan mengenggam tangan Hami. “Ikut aku.”

“Kenapa kau membawaku kesini?” Hami memasang wajah keheranan melihat Joon membawanya ke sebuah tempat makan yang berada di pinggir jalan. “Memangnya kenapa? Tidak boleh?” jawab Joon, tangannya masih terus memegang tangan Hami. “Aku pikir seorang Presdir tidak mungkin makan di tempat seperti ini.” Joon menarik tangan Hami. “Sudah jangan banyak bicara.”

“Wah, tak kusangka kau bisa minum sebanyak ini.” Kata Joon sambil menunjuk botol minuman yang sudah dihabiskan Hami. “Aku pusing karena ulahmu. Makanya aku terus minum.” Jawab Hami sambil meneguk soju langsung dari botolnya. “Jangan minum lagi.” Joon mengambil botol soju yang baru saja akan diminum oleh Hami. Hami memandangi Joon kesal. “Katakan, kenapa kau membawaku kesini? Kau sengaja mengajakku minum untuk membuatku mabuk?” Joon meneguk soju nya. “Kalau aku mau membuatmu mabuk aku tidak akan melarangmu minum lagi.” Hami menggelengkan kepalanya. “Aku pikir setelah kejadian kemarin kau akan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi kau mengajakku kesini.” Joon tersenyum. “Kenapa orang ini sering sekali tersenyum sekarang.” Joon menepuk-nepuk kepala Hami pelan. “Maafkan aku Hami.” Hami memperhatikan Joon. “Kau mabuk? Ha, kau ini kenapa terus-terusan menyusahkanku. Berikan kunci mobilmu, kita pulang.”

***

“Oppa?” Hami melihat Eunhyuk bersadar di depan pintu apartmentnya. Hami baru saja mengantarkan Lee Joon pulang ke apartmentnya. Eunhyuk menoleh dan menghampiri Hami kemudian memeluknya. Hami membalas pelukan Eunhyuk, air matanya mulai mengalir. “Oppa,” ucapnya lirih. “Oppa mianhae,” Eunhyuk mempererat pelukannya. “Mianhae,” Hami terus menangis dipelukan Eunhyuk. “Apa kau mencintainya?” Tanya Eunhyuk sambil mengelus-elus rambut Hami yang dibiarkan terurai. Hami mendorong tubuh Eunhyuk pelan dan memukulnya. “Oppa! Apa yang kau katakan? Bagaimana mungkin aku mencintainya?” Hami menghapus air matanya sendiri, Eunhyuk tersenyum melihatnya lalu kembali memeluk Hami. “Saranghae,” ucapnya pelan. “Kenapa badanmu jadi kurus seperti ini? Apa kau tidak pernah makan?” Hami tidak menjawab. “Oppa, bisakah kau memelukku seperti ini terus?” Eunhyuk menyandarkan kepalanya di kepala Hami. “Kalau besok foto kita ada di halaman depan tabloid lagi, kau harus menikah denganku.”

***

“Undangan pesta, undangan pesta, rapat bersama direktur-direktur, undangan pesta,” kenapa sekarang Eonni menerima banyak sekali undangan pesta. Jiyeon menghela nafas melihat jadwal yang harus diaturnya untuk Hami. “Jiyeon!” Jiyeon terkejut karena Hami tiba-tiba berdiri di hadapannya. “Apa hari ini tidak ada berita yang penting? Apa tabloid tidak memuat berita yang penting?” Hami bertanya pada Jiyeon dengan wajah berseri-seri, berharap fotonya bersama Eunhyuk kemarin kembali menjadi headline tabloid-tabloid. “Berita? Ah, apa tentang pertunangan Eonni dengan Presdir Lee Joon?” Hami menggeleng. “Berita tentang Eonni dengan Presdir Lee Joon masih dibicarakan semua media sekarang.” Terlihat kekecewaan di wajah Hami. “Begitu ya.” Jiyeon menatap Hami. “Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya. “Tidak ada apa-apa.” Hami masuk ke ruangannya, dari jauh Joon memandangi Hami.

***

“Kenapa kau senang sekali membawaku keluar dari kantor?” Hami berusaha melepas genggaman tangan Joon. “Haaaa, kenapa kau harus jadi Presdir? Bagaimana bisa orang yang setiap hari membawa karyawannya keluar dari kantor menjadi Presdir?” Joon menatap Hami sinis. “Membawa karyawan keluar dari kantor katamu? Kau pikir aku akan membayarmu jika kau tidak bekerja?”

“K-koreografer??? Kau bercanda! Kau meminta seorang fashion stylist menjadi koreografer? Kau,” Joon menutup mulut Hami dengan tangannya. “Bisakah kau bersikap lebih sopan sedikit kepada atasanmu?” Hami menyingkirkan tangan Joon dari mulutnya. “Ck,” “Aku tau kau pernah menjadi seorang koreografer sewaktu kau masih di New York. Makanya aku memintamu.” “Tidak bisakah kau mencari orang lain untuk menjadi koreografer? Kenapa harus aku?” Tanya Hami. “Tidak bisa. Mereka mau kau yang jadi koreografernya.” Hami mengernyitkan dahinya.

“Mereka?”

“Annyeong haseyo!” Pandangan Hami mengarah kepada sekumpulan orang yang baru saja memasuki ruangan latihan. “Oppadeul!” Senyumnya mengembang.

“Bagaimana bisa kalian memintaku menjadi koreografer kalian?” Hami sibuk berbicara dengan semua member Super Junior. Joon yang sedari tadi memperhatikan Hami tertawa, ikut tersenyum. “Jadi kau tidak mau menjadi koreografer mereka?” Tanya Joon. Hami menoleh melihat Joon yang berdiri disampingnya. “Siapa bilang aku tidak mau? Tentu saja aku mau.” Jawabnya sambil tersenyum. “Annyeong,” Tiba-tiba pintu ruang latihan terbuka, Eunhyuk masuk. Tangannya merangkul pundak Victoria sementara tangan Victoria memeluk pinggang Eunhyuk. Senyum Hami hilang seketika, Hami berusaha mengalihkan pandangannya, menahan air matanya yang sudah mulai menggenang.

***

“Kenapa badanku terasa lemas sekali.” Hami mencari-cari obat yang harus diminumnya. “Habis? Ck,” Hami menghela nafas. Hami berusaha bangun dari tempat tidur dia harus segera bertemu dokter dan meminta obatnya lagi, dia rasa ada sesuatu hal yang tidak beres dengan tubuhnya belakangan ini.

“Tidak bisakah kau meninggalkan pekerjaanmu? Kau harus mulai mendapatkan perawatan intensif. Aku khawatir obat saja tidak cukup untuk mencegah penyakit ini.” Hami menggeleng. “Aku tidak mau ada yang mengetahui bahwa aku sakit. Lagipula masih banyak hal yang harus aku lakukan. Jika obat saja masih bisa membantu, bisakah?” Dokter Kim menyerah. Dia menuliskan resep dan memberikannya kepada Hami. Dia tau anak dari temannya ini tidak akan mendengarkan apa yang dia katakan. Hami terlalu keras kepala. “Aku akan menjaga diri.” Hami tersenyum untuk meyakinkan dokter Kim, Hami pun membungkukan badannya berterimakasih kemudian meninggalkan ruangan.

***

“Kau terlihat pucat sekali. Apa kau kelelahan? Apa aku memintamu bekerja terlalu keras?” Joon menangkupkan kedua tangannya di wajah Hami. Hami tersenyum. “Aku tidak apa-apa. Kau ini kenapa selalu mencemaskanku?” Hami menyandarkan kepalanya di pundak Joon, tangannya merangkul lengan Joon. Hami menutup matanya. Sudah hampir 1 tahun Hami benar-benar menjadi kekasih Joon. Tidak lain dan tidak bukan karena Eunhyuk mencampakannya dan berpaling pada Victoria. Hami sendiri sebenarnya tidak yakin apakah dia mencintai Joon atau tidak. Tapi selama ini hanya Joon lah yang selalu ada disampingnya. “Joonie-ah. Kau harus berjanji kalau kau tidak akan meninggalkanku.” Joon tersenyum, kepalanya ia sandarkan di kepala Hami, matanya menatap lurus ke depan. “Kau yang harus berjanji tidak akan meninggalkanku.”

***

“Hyung! Sebenarnya apa yang kau lakukan?” Kyuhyun memandangi Hyung nya dengan kesal. “Kyuhyun-ah. Kau tidak sepantasnya berteriak seperti itu kepada Hyung-mu.” Ucap Leeteuk berusaha menenangkan. Eunhyuk hanya diam memandangi foto-fotonya bersama Hami. “Apa yang sebenarnya kau pikirkan Hyuk? Kenapa kau lakukan ini pada Hami kalau kau masih sangat mencintainya?” Donghae menepuk pundak Eunhyuk dan duduk disampingnya.

“Aku tau Joon juga mencintai Hami dan tidak mungkin mencampakannya. Aku dan Joon sudah bersahabat sejak lama. Aku tidak mungkin merusak persahabatanku, makanya aku putuskan untuk menyerah. Lagipula Hami sudah pernah meninggalkanku dulu.” Jawab Eunhyuk.

“Tapi itu beda hyung! Hami nuna meninggalkanmu ke New York bukan meninggalkanmu untuk seorang pria!” Kyuhyun yang mendengar jawaban Hyuk menjadi emosi.

“Sudahlah,” Sungmin menenangkan Kyu. “Kau tau, dengan caramu ini kau menyakiti Hami dan dirimu sendiri. Kau berpura-pura mencampakannya dan berpaling pada Victoria. Kau menyakiti Hami dan memaksanya menyukai Joon, dan sekarang kau lihat? Kau juga menyakiti dirimu sendiri.” Kata Leeteuk. Eunhyuk menyandarkan kepalanya ke sofa dan memejamkan matanya, berharap itu dapat mengurangi kesedihannya.

“Oppa, apa kau ada waktu? Apa kau bisa menemuiku? Ada yang harus aku bicarakan.” Eunhyuk tidak menjawab pesan Hami dan melemparkan ponselnya.

***

“Kenapa oppa tidak menjawab pesanku?” Hami memandangi ponselnya terus menerus, berharap Hyuk menjawab pesannya. “Aku harus bertemu dengan oppa sekarang.” Baru saja Hami bangun dari tempat tidurnya tiba-tiba saja dia terjatuh, badannya limbung, kepalanya pusing dan pandangannya kabur. “Aku tidak bisa seperti ini, aku harus bertemu dengannya sekarang.” Hami meminum obatnya, dengan langkah lunglai Hami berjalan menuju apartment Hyuk.

“Hyuk, dia mencintaimu. Dia hanya berpura-pura meninggalkanmu dan berpaling padaku karena Joon. Joon dan Hyuk sudah berteman sejak kecil. Dia tidak mau merusak persahabatan mereka makanya dia putuskan untuk mengalah dan menyerahkanmu pada Joon. Dia memintaku berpura-pura menjadi kekasihnya di depanmu agar kau meninggalkannya dan berpaling pada Joon. Dia tau Joon akan menjagamu dengan baik. Sebenarnya Hyuk tidak mau menyakiti perasaanmu, orang yang dicintainya, tapi dia jg tidak mau menyakiti perasaan Joon sahabatnya. Maafkan aku karena telah membantu Hyuk membohongimu Hami.Hyuk mencintaimu, dia melakukan ini untukmu.” Ucapan Victoria terus terngiang-ngiang di ingatannya. Hami menangis, dia tidak percaya bahwa Hyuk melakukan ini semua. Hami terus berjalan menuju apartment Hyuk.

***

“Biar aku yang membukakan pintu.” Ucap Kyuhyun. “Oh? Hami nuna?” Eunhyuk tersentak mendengar Kyuhyun menyebut nama Hami. Eunhyuk bangun dari duduknya dan berdiri melihat Hami yang ada di depan pintu. Mata Eunhyuk dan Hami saling berpandangan. “Nuna, silahkan masuk.” Kyuhyun mempersilahkan Hami masuk. “Ne,” Hami berjalan menghampiri Eunhyuk, semakin lama semakin dekat, Eunhyuk dapat melihat mata Hami yang berkaca-kaca. Hami berdiri di hadapan Eunhyuk. Dipandanginya lelaki yang ada di depannnya tanpa berkedip sedikitpun, seolah tidak mau kehilangan sedetikpun sosok Eunhyuk dari hadapannya.

“Kau, kenapa kau lakukan ini padaku oppa!” Hami yang sedari tadi menahan tangis tidak dapat menahannya lagi. Air mata mengalir membasahi pipinya. Tangannya memukul-mukul tubuh Eunhyuk.

“Kenapa! Oppa, kenapa kau melakukan ini?” Hami menyandarkan keningnya di dada Eunhyuk. Eunhyuk terpaku, tidak dapat melakukan apa-apa selain membiarkan Hami menangis. Eunhyuk menengadahkan kepalanya berusaha menahan tangis. “Aku tau semuanya oppa. Kenapa kau lakukan ini padaku! Kenapa!” Hami terus menangis. Ryeowook yang sedari tadi diam mulai menangis, Yesung berusaha menenangkannya. Sementara Kyuhyun, Sungmin, Donghae dan Leeteuk hanya bisa diam melihat Eunhyuk dan Hami.

“Kenapa kau memaksaku mencintai orang lain oppa? Kenapa kau memaksaku meninggalkanmu lagi? Kenapa?” Perlahan-lahan Eunhyuk membelai lembut punggung Hami kemudian memeluknya.

“Mianhae,” Tangis Hami mengisi ruangan yang hening itu. “Mianhae Hami Mianhae,” Hami memeluk Eunhyuk erat. “Jeongmal mianhae.” Eunhyuk mengelus kepala Hami dan mencium keningnya.

“Oppa, kau harus berjanji kalau kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini lagi padaku atau aku akan meninggalkanmu.” Eunhyuk mengelus wajah Hami yang sembab karena terus menerus menangis. “Kau tidak apa-apa? Kenapa wajahmu pucat sekali?” Hami panik, khawatir Eunhyuk akan mengetahui penyakitnya. Hami berusaha tersenyum. “Aku tidak apa-apa oppa, ini pasti karena aku terus menangis. Kau tidak usah khawatir.” Tapi pelan-pelan pandangannya menjadi kabur, badannya lemas, kemudian terjatuh.

***

“Hami, Hami bangun!” Samar-samar dilihatnya Eunhyuk dan Lee Joon yang berada disampingnya. Hami dapat merasakan Eunhyuk mengelus kepalanya sementara Joon mengenggam tangannya. Terdengar suara Eunhyuk dan Joon bergantian memanggil namanya. Bahkan Eunhyuk sudah mulai menangis. “Hami aku mohon, maafkan aku. Aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi. Aku mohon Hami bangunlah.”

***

“Oppa, kau harus berjanji kalau kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini lagi padaku atau aku akan meninggalkanmu.”

“Hami, aku tidak melakukan hal bodoh lagi tapi kenapa kau meninggalkanku?” Eunhyuk terus menangis. Sudah satu minggu berlalu sejak kepergian Hami, Eunhyuk terus menangis setiap teringat Hami.

Hari ini Joon dan Eunhyuk mendatangi makam Hami. “Terimakasih kau pernah melepaskannya untukku, Hyuk.” Ucap Joon. Pandangan keduanya terpaku pada pada makam yang ada di hadapan mereka. Disanalah tubuh Hami sekarang terbaring.

“Dia pasti tidak senang berada disana. Disana begitu gelap.” Eunhyuk tersenyum.

“Kalau dia tidak senang berada disana dia pasti akan mendatangi kita Joon. Kau tau, sekarang dia pasti sedang memperhatikan kita.” katanya lagi sembari melihat ke sekeliling. Lee Joon ikut memperhatikan sekelilingnya.

“Baiklah aku pulang duluan Hyuk.” Joon melambaikan tangannya dari dalam mobil. Tak lama kemudian mobil Joon melaju meninggalkan pemakaman.

“I can see why people write love songs, and if God allowed I could see how, I could love you for so long…” Eunhyuk menyanyikan lagu yang disukai Hami sambil terus menyetir. Eunhyuk memandang kursi disamping kursi kemudinya, kursi yang biasanya ditempati Hami. Eunhyuk tersenyum mengingat kenangan manisnya bersama Hami sampai dia tidak memperhatikan jalan. Eunhyuk tidak sadar bahwa dia baru saja melewati lampu merah, terlihat sebuah truk datang dari arah berlawanan. Eunhyuk tidak sempat menghindari truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi di depannya.

***

“Oppa, apa kau sudah bangun?” Eunhyuk melihat Hami berada disampingnya, tersenyum manis sambil mengelus lembut kepala Eunhyuk. “Kau terlihat cantik sekali.” Hami mencubit pipi Eunhyuk.

“Oppaaa, apa kau sedang kau pikirkan! Aku mencemaskanmu. Kenapa kau bisa melakukan hal yang bodoh lagi?” Eunhyuk baru menyadari bahwa dia berada di tempat yang tidak dia ketahui.

“Ini, rumah sakit?” Hami mengangguk dan merangkul tangan Eunhyuk. Eunhyuk bangun dan melihat tubuhnya yang penuh luka berada di sebuah ruangan rumah sakit, ada seorang dokter dan beberapa suster mengelilinginya. Tak lama kemudian dokter itu keluar dari ruangan tersebut sementara seorang suster menutupi tubuh Eunhyuk dengan kain putih. Eunhyuk berjalan mengikuti dokter keluar dari ruangan dengan Hami yang sekarang mengenggam tangannya. Dilihatnya Donghae yang sedang menangis memeluk Leeteuk sementara yang lain tertunduk lemas, Ryeowook, Yesung, Kyuhyun, Heechul, Siwon, Shindong, Sungmin. Dilihatnya Joon yang menghampiri tubuhnya yang sudah tertutup oleh kain putih.

“Hyuk, apa kau sedang bersama Hami sekarang? Aku harap kau bahagia bersamanya disana.” Hami memandangi Eunhyuk. Eunhyuk yang sadar bahwa Hami sedang memperhatikannya, tersenyum. “Kenapa kau meninggalkanku? Apa kau tau bahwa aku akan segera menyusulmu?” Hami tersenyum kemudian memeluk Eunhyuk. “Kau tau Hami, kali ini kau tidak akan bisa meninggalkanku lagi.”

 

-THE END-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: