[Adventure Awaits] A Letters From Zurich

Leter fr Zurich

Author : nhaadeth

Tittle : A Letters From Zurich

Cast : Lee Donghae, Park Yuri (OC), Kim Jong Woon

Genre : Romance, Adventure

Rating : PG-15

Length : Oneshoot

*Sorry for typo

 ***

Good morning! Are you Mr. Lee Donghae, right?”

“Yes, I’m Donghae!”

“Ok, this is ‘Letters From Zurich’ service. My name is Park Yuri, and i’ll be your guide for today!”

“Park Yuri? Are you Korean?”

“Yes, iam.”

“Ok. Wait a minute!”

.

.

Lee Donghae menarik nafasnya panjang, menghirup udara dingin kota Zurich yang tengah di selimuti salju tebal. Beberapa kali berlibur ke Switzerland, sepertinya kali inilah liburan yang paling menarik. Itu menurut Donghae. Terlebih lagi, ia sudah disuguhi pemandangan yang begitu indah begitu bangun tadi. Paras cantik Park Yuri yang dominan, membuat bibirnya mengembang membentuk seulas senyum sejak ia keluar dari kamar hotelnya.

“Aku harap kita bisa menjadi lebih akrab karena kita berasal dari negara yang sama.” Seru Donghae memecah keheningan. Pria ini sungguh tak seperti biasanya. Lidahnya seakan ikut membeku bersamaan dengan tumpukan salju di kota Zurich. Berdekatan dengan gadis itu lebih lama membuatnya salah tingkah.

“Kuharap juga begitu.” Yuri melemparkan senyuman manisnya, kali ini membuat jantung Donghae semakin berdebar.

Bukan kali pertama Donghae bertemu dengan gadis seindah Park Yuri. Tapi entah kenapa, hatinya jadi tak tenang sejak awal mereka bertemu.

You’ll be mine!” mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan benak Donghae saat ini.

“Lalu, kenapa kau memutuskan untuk menjadi tourguide di negara orang?” bukan rasa penasaran atau apapun. Donghae bahkan tak peduli darimana datangnya gadis itu. Entah dari Korea atau dari Nirwana sekalipun. Donghae hanya tak punya topik lain saat ini.

“Negara orang? Hey, this is my country. Hanya karena namaku? Aku lahir disini dan aku juga di besarkan disini. Nama belakangku berasal dari ayahku yang memang berkewarganegaraan asli Korea. Aku banyak belajar Korea darinya. Sekarang, apa kau masih meragukan kemampuanku sebagai seorang tourguide?”

Ironis memang. Donghae sudah dengan begitu percaya dirinya mengorek sedikit kehidupan gadis itu yang ternyata semua tebakannya salah total.

Menutupi rasa malu, Donghae menjawab sekenanya. “Aku tak pernah meragukan kemampuanmu. Aku hanya memastikan. Jadi, mau kemana kita?”

Yuri mengernyitkan dahinya saat Donghae balik bertanya tujuan mereka sekarang. Lalu siapa sebenarnya yang berperan sebagai turis disini. Menggeleng-gelengkan kepala. Yuri mengurungkan niatnya untuk berkomrntar aneh pada pria berhidung mancung itu.

Sebagai gantinya, Yuri menanyakan tempat seperti apa yang terbesit di benak Donghae saat ini. “Apa yang kau inginkan?”

Jika bisa berkata jujur, sebenarnya Donghae ingin mengucapkan kata terserah selama kau masih bersamaku.

Paragliding?” celetuk Donghae. Entah apa yang merasuki pikirannya, hanya satu kata itu yang terbesit di benaknya.

And then— Mt. Matterhorn will answer. Kita harus naik kereta untuk pergi kesana.”

.

.

Setelah mengakhiri perbincangan singkat itu, keduanya berjalan menuju stasiun kereta yang tak jauh dari tempat Donghae menginap.

Perjalanan yang cukup panjang, sekitar satu jam mereka sampai di kota Zermatt. Kenapa Zermatt dan bukannya Interlaken yang lebih terkenal dengan panorama eksotis serta paraglidingnya? Satu, karena lebih hemat waktu -ya, jarak kota Zermatt lebih dekat daripada Interlaken. Dua, karena pegunungan Matterhorn –tak ada, Yuri hanya lebih suka melakukan paragliding disana.

Tak sampai disitu. Setelah sampai di kota Zermatt, tepatnya di dataran pegunungan Matterhorn, mereka masih harus menaiki cabble car -sejenis gondola- untuk menuju tempat dimana ia bisa bermain paragliding sepuasnya. Bukan di puncak gunung, melainkan tempat yang lebih tinggi dan memiliki kapasitas udara lebih berangin dadi tempatnya saat ini.

“Yeah! And this is place you want it.” Kata Yuri sedikit berteriak karena hembusan angin yang cukup kencang, juga serpihan salju yang berjatuhan membuat suasana menjadi bising.

Donghae menelan salivanya berat. Ia bahkan masih berdiam diri di tempatnya menatap kosong.

“Kau serius?” pandangannya tak lepas dari seonggok manusia yang bisa terbang hanya dengan menggunakan selembar parasut di tengah angin kencang seperti ini.

Jika tidak mati, kemungkinan terburuk adalah patah tulang rusuk. Donghae tak mungkin mengorbankan dirinya sendiri dengan sukarela hanya untuk permainan sial yang digilai banyak orang seperti itu.

“Kau sendiri yang menginginkannya Mr. Lee.”

“Ok. Tak perlu seformal itu hanya untuk mengejekku!” desis Donghae acuh.

And then, go up now Lee Donghae!

“Shit! Aku belum pernah menurunkan harga diriku serendah ini di depan wanita. I never go if you not go too.”

“No! I’m still here.”

“What? You cheating.” Kata-kata sarkasme khas Donghae mulai nampak. Tak lagi peduli dengan gengsi pada dirinya melekat lima menit yang lalu.

Ah, ok! We can go home now!” lanjut Donghae melihat respon Yuri yang justru tak mengindahkan perkataannya.

Ok! I’ll go first, and you must go after!”

Berhasil. Keduanya saling bersalaman untuk menyimbolkan kata sepakat. Seulas senyum mengembang di bibir tipis Donghae. Setidaknya ia tahu, gadis itu ingin sedikit berlama-lama di tempat penuh kesialan ini -sial untuk Donghae.

Para pemandu sudah selesai memasangkan beberapa peralatan di tubuh mereka. Sekarang, keduanya benar-benar siap untuk terbang bebas di udara. Seperti kesepakatan awal, Yuri yang turun lebih dulu.

“Aaaaaaa…” ini adalah teriakan kebanggaan dari seorang gadis kokoh dan bernyali bernama Park Yuli. Tak terselip keraguan ataupun ketakutan sama sekali di teriakan itu.

“Aaaaaa!!!”

Sungguh miris. Donghae berteriak sekuat ia bisa, dan lagi ia masih belum berani membuka matanya meski sang tutor beberapa mengatakan padanya jika semua ini aman.

Lee! Open your eyes now! You’ll regret if you don’t see this beautiful view!” teriak Yuri dari kejauhan. Samar-samar ia bisa melihat Donghae yang masih enggan membuka mata dan memilih untuk fokus berpegang erat pada parasutnya.

Just open your eyes, sir! Look that. Your beauty girlfriend is so courageous.”

Beauty girlfriend? Girlfriend? Bahkan tutor itu mengira jika Yuri kekasihku?”

Teruslah beepikir seperti itu sampai semua ini selesai Lee Donghae. Tapi bersyukurlah, berkat ucapan sampah tutor itu kini Donghae berani membuka mata. Bahkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang ia kumpulkan di dalam otaknya sepersekian detik yang lalu ikut sirna bersamanya.

“Woah!” mulutnya tak berhenti menganga mengangumi keindahan salah satu puncak pegunungan Alphen itu.

Tak puas hanya dengan keindahan kota Zermatt, matanya beralih menelisik keberadaan gadis yang belum lama ini bersama dengannya. Dilihatnya gadis berambut hitam lebat itu tengah membentangkan kedua tangannya meski sedikit ragu dan berteriak -lagi.

Ouh! You’re a crazy woman who i meet in my life.” Deru nafas Donghae masih tersengal saat ia meneriaki perempuan gila sekelas Yuri.

Yuri tertawa. Ia masih jelas mengingat wajah pucat Donghae dan bualan-bualan sampah yang keluar dari mulut pria itu sebelum mereka terbang.

.

.

“Lee Donghae yang malang. Apa saja yang keluar di mimpimu hingga membuatmu bergumam bahkan di dalam tidurmu.” Jongwoon tersenyum puas setelah menendang Donghae dari kasur dengan kakinya. Sudah beberapa kali ia mencoba membangunkan sepupunya itu, namun pria itu masih tetap terlelap dalam tidurnya.

“Oh, shit! Kim Jong Woon bre**sek! Apa yang kau lakukan padaku!” umpat Donghae saat merasakan sakit di bagian punggungnya. Sepupu yang baru saja dikatainya itu telah menghancurkan mimpi indahnya.

“Kau pikir apa yang bisa kulakukan untuk membangunkan pemalas sepertimu, selain menendangmu keluar dari tempat tidur? Ingat! kau sedang menumpang di apartement ku bukannya menginap di hotel mewah milik keluargamu. Jadi bersikaplah sedikit realistis!”

Donghae memang selalu berkehidupan mewah sejak dilahirkan. Usaha keluarganya di bidang perhotelan membuatnya tak perlu bersusah payah mencari pekerjaan tetap seperti orang di luaran sana. Tak sependapat dengan kedua orantuanya, Donghae lebih memilih jalur lain dan meninggalkan warisan nenek moyang yang sudah turun temurun berjasa memberinya makan tiap hari itu. Donghae memberikan semua kewajiban kepada kakaknya, lalu ia sendiri memilih jalur kedokteran bedah untuk masa depannya.

Kebetulan Donghae mengambil cuti untuk satu minggu ke depan, karenanya ia berkunjung ke Zurich –salah satu kota di Switzerland yang belum pernah dikunjunginya. Donghae memang sengaja tak memilih hotel milik keluarganya sebagai tempat menginap, melainkan pergi ke tempat sepupunya Jongwoon yang sudah cukup lama tinggal di kota Zurich –sekitar tiga bulan untuk urusan bisnis. Donghae lebih suka merecoki kehidupan rumah tangga sepupunya itu ketimbang tinggal sendirian di kamar hotel seperti sebelum-sebelumnya.

“Kalau saja kau bukan sepupuku—“

“Kalau bukan— kau mau apa? Berhenti mengomel dan segeralah mandi. Aku sudah mempersiapkan seorang tourguide yang akan menemanimu seharian ini.” Seru Jongwoon seraya melemparkan handuk dan tepat mengenai muka Donghae.

“Tourguide? Why? Aku tidak membutuhkannya. Bukankah kau bilang kau sendiri yang akan menemaniku jalan-jalan selama aku disini?”

“Jessy memintaku untuk menemaninya hari ini, dan aku tidak mungkin menolaknya.”

Jessy -ya, Dia istri dari Jongwoon. Wanita blasteran Jerman-Korea itu selalu bisa membuat suaminya tunduk. Sekali Jongwoon mengatakan iya -meski tanpa pikir panjang- wanita itu akan terus menagihnya. Dan lagi, Jongwoon tak punya kesempatan untuk menolak permintaan sang istri.

“Yak! Dasar sepupu sial!” sumpah serapah keluar dari mulut Donghae kepada sepupu sialnya itu, yang sudah membuat paginya sial, dan lagi mimpinya juga berakhir sial.

.

.

“Good morning! Are you Mr. Lee—“ Gadis itu memandang wajah Donghae untuk sepersekian detik sebelum melanjutkan kalimatnya.

“—Are we meet before?”

“I also feel that. My letters from Zurich.” Sambut Donghae seraya mengedipkan sebelah matanya.

“What? Letter—what? I’m Park Yuri!”

“I know!”

Sekali lagi, gadis yang bernama Park Yuri itu hanya bisa mengangkat sebelah alisnya. Tak tahu jalan pikir pria yang ada dihahadapannya saat ini.

Memutar bola mata bosan, Yuri membuka mulutnya lagi. “Ah, whatever. Then, where we a—“

I wouldn’t playing paragliding for my first day in Switzerland, maybe tomorrow or after.” Otaknya terpaksa memutar kembali kenangan pahit yang tergambar jelas di mimpinya semalam. Paragliding? Ouh, untuk saat ini, tidak.

“How about Geneve?” tawar Donghae sambil memamerkan senyum nakalnya.

“That’s good idea, Lee!”

-FIN-

 

 

“I also feel that. My letter from Zurich.” Yeah!! Tuhan memang sengaja mengirimkan Park Yuri kepada Lee Donghae dan mempertemukan mereka di Zurich, kota terbesar di Switzerland. Donghae is my bias and Park Yuri is people who i love pairing her with Donghae in my fict. Hope you like it. Enjoy reading and left comment bellow.

Visit my personal blog https://naila1106.wordpress.com

 

👐

nhaadeth

 

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. blueangel1015
    Sep 01, 2016 @ 12:55:06

    Yaaah ternyata cm mimpi XD entah kenapa aku mlh ngebayangin One Fine Day-nya D&E teuk lol 😂 btw bahasanya bagus~ keep writing! :3

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: