[Adventure Awaits] Autumn

tumblr_static_filename_640_v2

Nama : Missrumi

Judul Cerita : Autumn

Tag(tokoh/cast) : Cho Kyuhyun, Han Sera

Genre : Sad romance

Length : Oneshot

 ***

 

“Dan kau memilih menyanyi? Setidaknya lembaran kertas yang membuatmu sakit kepala itu bernilai ribuan dolar.”

“Aku tidak memilihnya. Itu hobiku.”

“Berhenti kekanakan Cho Kyuhyun!”

“Appa!”

“Hobi seperti itu tidak berguna. Sama sekali tidak berguna untuk bersaing dengan perusahaan lain!”

Kyuhyun menatap ayahnya lama. Kepalanya mulai panas. Daripada kepalanya pecah Kyuhyun pergi dari ruangan ayahnya. Berkendara menuju Busan.

 

**

 

Kulihat jam dinding yang menempel di pilar peron. Pukul 9 pagi tepat. Aku menoleh ke belakang.

 

Dia sudah datang.

 

Bibirku bergerak sendiri membentuk lengkungan. Aku tersenyum memandangnya yang berbalut baju hangat berwarna merah ceri. Rambutnya yang kecoklatan dibiarkan tergerai. Punggungnya bersandar di kursi tunggu.

Suara pemberitahuan kedatangan kereta sudah terdengar. Dia berdiri bersiap naik kereta yang berhenti didepannya.

 

Kemudian dia pergi.

 

*

 

Aku kembali duduk di kursi tunggu stasiun ini. Mataku menatap sebuah kartu pemberian paman penjaga stasiun beberapa menit yang lalu.

 

“Kau pakailah ini, nak. Kau bisa naik kendaraan umum manapun tanpa membayar asalkan kau membawa ini. Jadi naiklah kereta itu dan berteman lah dengannya.”

 

Kulihat jam dinding, pukul 9.05 pagi. Aku menoleh kebelakang.

 

Dia sudah datang.

 

Aku terlambat 5 menit melihatnya. Jantungku berdegup kencang. 10 menit lagi keretanya datang dan dia akan pergi. Ku tatap lagi kartu ini. Tanganku bergetar memegangnya.

Suara pemberitahuan kereta datang terdengar. Aku ingin berdiri tapi kakiku gemetar. Aku menoleh ke belakang.

 

Dia sudah pergi.

 

*

 

Kali ini aku tidak duduk di kursi tunggu yang biasa aku duduki. Aku duduk di kursi tunggu yang lain. Kursi tunggu yang selalu dia duduki. Aku melihat jam dinding. Hampir pukul 9 pagi. Aku menoleh ke samping kiri.

 

Dia datang.

 

Tanganku terasa dingin. Dia duduk disampingku. Ujung mataku melihatnya sedang bersenandung kecil. Telinganya memakai alat mendengarkan musik.

Matanya menyorot padaku tiba tiba. Jantungku berdegup tak beraturan.

 

Aku tertangkap basah sedang melihatnya.

 

“Apa suaraku mengganggumu? Maafkan aku.” Dia tersenyum manis. Lagi lagi jantungku terganggu kerjanya.

 

Dia tersenyum padaku.

 

Kepalaku bergerak menjawab tidak untuk pertanyaannya barusan. Aku beralih dari menatap wajahnya. Pandanganku lurus ke depan.

Kurasakan pergerakan disampingku.

 

Dia pergi.

 

Bahkan aku tidak mendengar suara kedatangan kereta. Hanya karena dia tersenyum.

 

*

 

Aku melihat ke samping kiri.

 

Dia datang.

 

Rambutnya sedikit melambai terbawa angin musim gugur. Hari ini dia memakai coat coklat yang terlihat nyaman. Dia duduk disampingku lagi.

 

Apa dia akan menyapaku?

 

Waktu berlalu begitu saja. Getaran kereta sudah terasa. Gadis disampingku sudah bersiap akan pergi. Aku ikut berdiri.

Dia sudah masuk lebih dulu. Aku menggesek kartu pemberian paman penjaga stasiun di mesin kecil sebelum masuk pintu kereta.

 

Kakiku melangkah masuk. Pintu kereta langsung tertutup setelah aku masuk. Tanganku menggapai pegangan tangan, menyeimbangkan tubuhku karena kereta mulai melaju.

Hanya ada satu kursi yang kosong, dan itu berada diujung gerbong. Untuk sesaat aku melupakan tujuanku. Tanganku memegang tiang besi, bersiap untuk berjalan ke arah kursi kosong.

 

“Maaf tuan, kartu anda jatuh.”

 

Suara itu.

 

Aku menoleh. Dia berdiri didepanku. Tubuhku seperti membeku.

 

“Tuan?”

 

Aku tersadar. Tanganku mengambil kartu yang dipegangnya. Aku membungkuk sebentar lalu menatapnya sekilas. Dahinya sedikit berkerut. Aku berbalik kembali berjalan menuju kursi kosong.

 

*

 

Aku duduk kembali ditempat biasa aku duduki. Ini masih sangat pagi jadi aku tidak menoleh ke belakang untuk melihatnya.

 

“Apa kau sudah berteman dengannya?”

 

Aku menoleh ke samping, rupanya Paman penjaga stasiun. Aku menggeleng.

 

“Kulihat kemarin kau naik kereta dengannya?”

 

Aku menunduk. Tangan paman penjaga stasiun mengusap punggungku. “Tidak apa apa. Kau sudah sejauh ini, lanjutkan saja.”

 

Aku mengangguk, tersenyum pada paman penjaga stasiun. Aku beranjak menuju kursi tunggu miliknya. Waktunya dia datang.

Sebentar lagi kereta akan datang dan dia masih belum datang. Sesekali aku berdiri memeriksa apakah dia sedang berjalan ke sini. Aku kembali duduk.

 

“Permisi permisi..”

 

Suara itu.

 

Aku mengangkat kepalaku. Dia berlari ke arahku. Tangannya cekatan menggesek kartu pada mesin kecil. Kakinya langsung melangkah masuk ke dalam pintu kereta yang memang hanya tersedia mulai dari depanku duduk.

 

Puk. Dia menjatuhkan bukunya. Ku ambil secepat mungkin lalu berniat memanggilnya.

 

Kosong.

 

Aku tercekat. Aku tidak bisa memanggilnya. Mulutku memang terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Pintu kereta menutup lalu mulai melaju pergi.

 

**

 

Dengan berurai air mata Nyonya Cho memeluk dan mencium anaknya yang sedang bermain piano. Kyuhyun hanya mengangguk mendengar nasihat ibunya tentang keinginannya untuk tinggal di Busan sendiri.

“Kau yakin tidak ingin eomma temani?” Kyuhyun menggeleng. Pasrah, kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa apa. Keesokan harinya kedua orang tua Kyuhyun baru pergi.

 

Setiap pagi Kyuhyun berjalan disekitar villa yang hanya beberapa kali keluarganya datangi saat musim panas tiba, khusus untuk menikmati fasilitas villa yang tenang menentramkan. Perlahan setiap hari jaraknya menjauh. Kyuhyun mulai menemukan sungai, menikmati arus jernih yang menghasilkan alunan suara alam yang indah.

 

Beberapa kali datang dan ingatannya sudah menyimpan jalan untuk kembali, Kyuhyun berjalan lebih jauh lagi. Selalu seperti itu hingga beberapa minggu lamanya. Hingga suatu hari dia berjalan, telinganya mendengar suara keramaian dimana terdapat stasiun kereta disana.

 

**

 

Aku mendekap buku gadis itu didadaku. Namanya Han Sera. Tertera jelas dihalaman pertama buku harian ini.

 

“Kembalikan padanya nak. Ini merupakan jalan yang bagus untukmu.” Aku tersenyum pada paman penjaga stasiun. Mengangguk mantap lalu beranjak dari kursi ku menuju kursi tunggu miliknya.

 

Kereta yang biasa gadis itu tumpangi sudah lewat. Bahkan ini sudah pukul 10 pagi tapi dia masih belum datang. Aku masih duduk dikursi miliknya.

 

Apa terjadi sesuatu padanya?

 

Pukul 11 siang. Mataku menangkap siluetnya didalam kereta didepanku. Kemudian dia ikut keluar dari kereta bersama penumpang yang lain.

 

Ada apa dengannya?

 

Gadis itu masih memakai pakaiannya yang kemarin. Aku sangat ingat. Wajahnya dia tekuk. Tubuhku bergerak sendiri menghampirinya. Tanganku memegang bahunya yang mulai berjalan pelan, dia menoleh.

 

Apa dia habis menangis?

 

Kuberikan buku miliknya. Dia menatap bukunya dan wajahku bergantian. Dia mengambilnya lalu tersenyum.

 

“Kamsahamnida.”

 

Aku mengangguk, membalas senyumnya.

 

“Kau pria yang selalu duduk dikursi tunggu itu kan?”

 

Aku mengangguk lagi.

 

“Terima kasih sudah menyimpan bukuku. Aku Sera, namamu siapa?”

 

Tiba tiba seseorang menarik tangan Sera yang akan menjabat tanganku. Seorang pria yang terlihat rapih dan tampan.

 

“Ikut aku!”

 

Sera terlihat terkejut melihatnya. Gestur tubuhnya menolak ajakan pria itu. Tiba tiba wajahnya menatapku. Matanya seakan memintaku untuk menolongnya. Pria itu menarik tubuh Sera pergi, sampai buku harian Sera jatuh dari tangannya, lagi.

 

Aku melangkah maju. Tanganku mengambil buku harian Sera, kemudian kembali berjalan ke arahnya. Aku terkejut melihat Sera sekarang diseret pria itu. Aku berlari mengejarnya tapi terhalang orang orang yang baru saja turun dari kereta lalu terdiam melihat kejadian yang sedang berlangsung. Aku mengumpat dalam hati. Tidakkah mereka ingin melakukan sesuatu selain hanya menonton saja seperti itu?

 

Sekuat tenaga menerobos mereka. Aku harus memanggilnya. Aku sudah bisa melihat Sera. Dia sedang menolak dorongan pria yang ingin memasukannya ke dalam mobil. Ku buka mulutku untuk berteriak memanggil gadis itu.

 

Kosong.

 

Sera telah pergi.

 

Aku mematung. Tanganku memegang buku Sera erat. Kubuka lagi mulutku untuk bersuara.

 

Tetap kosong.

 

Aku menangis.

 

**

 

Saat dia bertanya apakah suaranya menggangguku sebenarnya aku ingin menjawab tidak.

Saat dia memberikan kartuku yang jatuh sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih.

Saat bukunya terjatuh sebenarnya aku ingin memberitahunya.

Saat dia datang dengan wajah sedih sebenarnya aku ingin bertanya padanya.

Saat dia bertanya siapa namaku sebenarnya aku ingin mengenalkan diriku.

Saat dia dibawa paksa oleh pria asing itu sebenarnya aku ingin memanggilnya dan menyelamatkannya.

 

 

Aku berlari keluar stasiun. Terus berlari menuju sungai yang biasa ku singgahi. Sampai disana aku mengambil napas kuat kuat. Aku ingin berteriak melampiaskan kekesalanku. Aku ingin berteriak melampiaskan kebodohanku yang tidak bisa menolongnya.

 

Hening.

 

Sekuat apapun aku berteriak, hasilnya tetap keheningan. Aku menangis lagi.

 

*

 

Aku duduk di kursi tunggu stasiun seperti biasa. Kulihat jam dinding. Hampir jam 9 pagi. Aku beranjak menuju kursi miliknya yang tidak berubah.

Musim gugur tahun lalu. Semua berawal dari musim gugur tahun lalu. Dan sekarang musim gugur tahun ini aku kembali menunggunya disini. Aku berharap dia akan datang lagi.

Sejak saat itu dia tidak pernah kembali. Aku selalu berharap dia akan datang dan duduk dikursi miliknya saat aku menoleh ke belakang. Aku akan mengembalikan buku hariannya yang jatuh dan berkenalan dengannya.

 

Ya, aku akan berkenalan dengannya. Kini teriakanku tidak menghasilkan keheningan lagi. Aku berdiri, kutempelkan buku hariannya didadaku. Aku menoleh ke samping kiri. Selalu berharap dia sedang berlari ke arahku karena terlambat seperti saat itu.

Aku tersenyum. Saat itu dia tidak berlari ke arahku tapi berlari menuju pintu kereta yang berada didepanku.

 

Apa gadis cantik itu baik baik saja?

Apa dia merasa hangat?

Lalu, apakah dia mengingatku?

Kenapa dia meninggalkanku, bahkan aku belum memberi tau namaku.

Andai saja saat itu teriakan ku menghasilkan suara, mungkin akan berbeda cerita.

°°°

-FIN-

 

 

*i wrote this when i was in the train and playing At Gwanghwamun. Mungkin agak bingung ya kalo ini di posting di event yang bertema adventure. For me this is a story about Kyuhyun’s short adventure who walking in the new place and also about his love story.

 

.

.

.

IJaggys Note: dengan terpostnya ff ini, maka series [Adventure Awaits] telah berakhir. Pengunguman siapa pemenang yang akan menjadi Author tetap di sujuff, akan di umumkan dalam beberapa hari mendatang. Pastikan kalian terus memantau sujuff. Dan terimakasih untuk semua Author Freelance yang telah berpartisipasi dalam event ini🙂

2 Comments (+add yours?)

  1. keunin
    Aug 09, 2016 @ 04:00:00

    disini ceritanya kyuhyun bisu?

    Reply

  2. Jung Haerin
    Aug 10, 2016 @ 01:33:39

    Keren yaa, feel’y dpt banget….

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: