15 ‘X’ Agent: Murder Case of Business Rivalry [6/7]

15 'X' AGENT; MURDER CASE OF BUSINESS RIVALRY

Nama: gyuyomi88

Judul Cerita: 15 ‘X’ Agent: Murder Case of Business Rivalry (Chapter 6)

Tag: Leeteuk, Heechul, Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Zhoumi, Donghae, Siwon, Ryeowook, Kibum, Kyuhyun, Henry.

Genre: Brothership, Sci-fi, Action

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Catatan Author: DISARANKAN UNTUK MENGINGAT SETIAP TANGGAL, WAKTU DAN TEMPAT KEJADIAN YANG TERCATAT DI AWAL SCENE, Typos, EYD mungkin kurang tepat, sedikit OOC. THIS IS NOT YAOI! JUST BROTHERSHIP. If You Like It, Go Read It😉

.

.

.

‘Tuhan, aku mohon semoga hyungdeul maupun Henry tidak membenciku dan semoga kasus ini cepat selesai-’

 

‘CTEK’

 

Jung Il menarik pelatuknya ke arah You Ra yang sudah menangis. Jung Il tersenyum penuh arti. Sampai ia melepas pelatuknya dan.. ‘DDORR’

 

‘-tanpa adanya aku.’

 

‘GDEBUKK’

 

You Ra memejamkan matanya kemudian pasrah dengan apa yang terjadi. Ia merasakan kehangatan setelah itu, ia juga merasakan hembusan napas berat milik seseorang. Ketika ia membuka matanya, seseorang memeluk tubuhnya erat sembari tersenyum.

 

“Aku, akh.. tshhh.. aku.. titip hyungdeul, ukhhh ts.. padamu..” Ucapnya sambil meringis mengeluarkan air mata sebelum ambruk bersamaan dengan tewasnya Jung Il di tempat.

 

“KYUHYUN!” Teriak keempat belas pria yang baru sampai di tempat kejadian sambil berlari.

 

Next Chapter

.

.

.

 

August 11th 2002, Central Seoul International Police Office 08:00 a.m. KST.

 

Di ruang isolasi. Eunhyuk, Zhoumi, Leeteuk, dan Kibum berkumpul di dalamnya bersama seorang wanita. Di ruangan yang hanya dilengkapi oleh satu lampu di bagian tengah, satu kursi, satu meja, satu kamera, dan satu sisi dinding kaca tembus pandang inilah mereka semua mengintrogasi Ahn Geum Ra.

 

Mereka berempat belum mengeluarkan suara sejak tadi. Dan memang sengaja mereka ingin mengetahui reaksi Ahn Geum Ra lebih dulu untuk diteliti oleh ahli mimik wajah Kepolisian Seoul yang sudah berdiri sedari tadi di balik sisi dinding kaca.

 

Kaki Nyonya Ahn terlihat bergetar, bahkan dia tidak henti – hentinya menatap kesana kemari. Sama seperti ekspresinya ketika Heechul dan Sungmin menanyakan kematian suaminya. Dan di sinilah mereka tahu, bahwa Ahn Geum Ra sedang memikirkan kebohongan yang akan ia jawab ketika akan diintrogasi nanti.

 

“Jawab pertanyaan kami dengan Ya atau Tidak.” Ucap Zhoumi datar memulai introgasi, membuat wanita di depannya semakin bergidik dalam hati dengan perlakuan yang didapatnya di ruangan ini.

 

/ “Sangat rumit-” “-perusahaan suamiku bangkrut, suamiku meninggal.” / “Meninggal karena apa ahjumma?” / “Serangan jantung.” /

 

Eunhyuk memutar recorder di tangannya kemudian meletakkan recorder itu tepat di meja yang berada di depan Nyonya Ahn. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, raut muka Nyonya Ahn berubah seketika menjadi tegang. Ahli mimik wajah Kepolisisan Seoul menyadari itu, karena Nyonya Ahn sempat menahan napasnya sekejap kemudian menelan ludahnya paksa.

 

“Tanggal 3 Agustus 2002 suamimu meninggal?” Ucap Leeteuk dengan pandangan yang tidak lepas dari Ahn Geum Ra.

 

“Ya.” Jawab Ahn Geum Ra setelah ia berhasil menenangkan diri.

 

“Karena serangan jantung-“ Lanjut Kibum tak kalah menakutkan, namun Ahn Geum Ra belum menjawabnya membuat Kibum melanjutkan kalimatnya dengan nada yang semakin ditekan. “-tapi, aku tidak menemukan rumah sakit manapun yang mencantumkan nama Jang Young Guk.”

 

“Baik rumah sakit Korea maupun luar negeri.” Sambung Zhoumi dengan nada yang semakin menyeramkan saja.

 

“Tanggal 7 Agustus 2002 kudengar ada perampokan bank?” Timpal Eunhyuk sarkastik disertai senyum miring yang ia arahkan ke Nyonya Ahn.

 

“Anakmu diculik tanggal 5 Agustus 2002 ?” Sambung Zhoumi sambil berjalan mendekati Ahn Geum Ra.

 

“I-iya.” Nyonya Ahn menjawabnya gugup dan semakin menunduk.

 

/ “Entahlah. Tapi, 2 hari setelah kematian suamiku ada yang menerorku dan dia bilang bahwa anakku ada padanya.” /

 

Eunhyuk kembali memutar rekaman lainnya dan menggeser recorder agar semakin dekat dengan Ahn Geum Ra. Kini Ahn Geum Ra menyadari satu hal, bahwa orang yang waktu itu mengobrol dengannya adalah bagian dari komplotan orang – orang yang sedang mengintrogasinya saat ini. Tapi Ahn Geum Ra bukannya sebal, ia malah semakin ketakutan.

 

“Siapa yang menerormu? Kwan Jung Il?” Tanya Kibum hanya memastikan karena dia juga sudah tahu jawabannya.

 

Nyonya Ahn hanya mengangguk sebagai jawaban sambil terus menunduk. Keempat pria itu saling melemparkan smirk sebelum melanjutkan.

 

“Ia pasti menerormu untuk melakukan sesuatu.” Desak Leeteuk.

 

Ahn Geum Ra bungkam. Ia berpikir bahwa yang tadi bukanlah suatu pertanyaan. Karena jawabannya mungkin bisa saja membuatnya dihukum mati nantinya. Maka dari itu ia mencoba menunggu pertanyaan lainnya dengan perasaan kalut yang semakin menguar dari hatinya.

 

/ ‘Tut’ / “Yeoboseyo.” / “Kerjamu bagus sekali.” / “…” / “Anakmu ada di tanganku.” / “Kwan.. Kwan Jung Il? Apa maumu?” / “Ya. Bobol Bank di Seberang perusahaanku, kalau ingin anakmu.. aishh anak kita selamat.” / ‘Tut’ /

 

Ketika Kibum mengambil recorder lain dan memutar bagian itu, badan Ahn Geum Ra berguncang membuat kursi yang ia duduki berdecit. Apa yang Ahn Geum Ra takutkan benar – benar terjadi saat ini.

 

Zhoumi tersenyum melihat itu kemudian melirik Eunhyuk untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya.

 

“Kau membobol bank untuk menuruti terornya?” Tanya Eunhyuk ikut mendekat ke arah Nyonya Ahn sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja sebagai pembatas dirinya antara Nyonya Ahn.

 

“Ya.” Nyonya Ahn kembali menjawab singkat. Sudah 3 kali ia mengucapkan kata yang sebenarnya sangat tidak ditunggu oleh keempat pria itu. Mereka ternyata salah jika menganggap bahwa Nyonya Ahn akan berbohong. Mungkin tadi ia bertingkah seperti itu karena sedang memikirkan, apakah ia harus bohong atau jujur. Tapi nyatanya ia jujur.

 

“Aku menyadari sesuatu lagi-“ Ucap Kibum seraya mendekati nyonya Ahn dan bersimpuh di sampingnya sambil merangkul pundak Nyonya Ahn. Ia menoleh ke arah Nyonya Ahn kemudian tersenyum. Membuat Nyonya Ahn sedikit berani untuk mendongakkan kepala menatap Kibum.

 

“-sebelum melakukan pembobolan bank, Kwan Jung Il sempat memuji dirimu-“ Kibum menggantungkan kalimatnya kemudian mengambil recorder. Nyonya Ahn menjadi bingung dengan perkataan Kibum. Namun Kibum sepertinya terlihat cuek saja dengan memutar recorder di tangannya lalu mengecilkan volumenya.

 

Kibum mendekatkan recorder itu ke telinga Nyonya Ahn. ‘Click’. / ‘Tut’ / “Yeoboseyo.” / “Kerjamu bagus sekali.” / ‘Click’. Kibum mematikan recordernya kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Nyonya Ahn dan membisikkan sesuatu.

 

“-apa yang kau lakukan sebelum membobol bank?” Napas Kibum seolah menusuk gendang telinga Ahn Geum Ra. Setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Kibum, Nyonya Ahn membuang pandangannya ke arah lain tidak berani menatap Kibum yang sudah beranjak berdiri menjauhkan recorder dari telinganya.

 

Gigi Nyonya Ahn bergetar hebat, bahkan matanya semakin cepat menatap kesana – kemari. Namun ia urung mengatakan Ya. Sehingga ia menunggu lagi apa yang akan ditanyakan oleh empat pemuda di depannya.

 

“Tanggal 2 Agustus 2002 perusahaan KJ Corporation bangkrut-” Ucap Leeteuk megalihkan perhatian Ahn Geum Ra sehingga Ahn Geum Ra menatapnya. “-3 Agustus 2002 Jang Young Guk suamimu selaku petinggi JYG Company tewas-“ Ucapnya lagi sembari melipat kedua tangannya di depan dada. “-5 Agustus 2002 anakmu diculik. Benar?” Tanya Leeteuk menatap Nyonya Ahn sambil memicingkan matanya.

 

“Ya.” Jawab Nyonya Ahn.

 

“Kau diteror olehnya dan menuruti terornya demi menyelamatkan anakmu?” Tanya Zhoumi yang sejak tadi hanya diam untuk mencerna perkataan Leeteuk. Ia mencoba memastikan lagi kalau Ahn Geum Ra tidak akan berbohong.

 

“Ya.” Jawabnya lagi.

 

Eunhyuk menautkan alisnya hendak memberi kesimpulan namun Kibum mencegahnya dengan cepat.

 

“Ah ya-“ Kibum kembali bersuara membuat Nyonya Ahn menjadi takut dengan hal tak terduga yang akan Kibum lakukan lagi padanya. “-kau gunakan sebagai apa uang yang telah kau rampok sendirian itu?” Tanya Kibum dengan nada yang ia buat santai supaya Ahn Geum Ra tidak takut mendengarnya.

 

“Ketika kau merampok bank. Perusahaan JYG Company mengganti bidang bisnis mereka. Tidak tanggung – tanggung, mereka juga mengubah nama perusahaan menjadi IJ Group sekaligus petingginya-” Ucap Eunhyuk kembali berpikir. “-kaukah petingginya?” Tanyanya kemudian.

 

“Tidak.” Akhirnya satu kata ‘Tidak’ keluar dari bibir Ahn Geum Ra.

 

Leeteuk tersenyum sinis, kemudian kembali mengeluarkan opininya yang sempat ia tahan beberapa saat. “Sudah kuduga, kau hanya seorang distributor. Dan bukan distributor property, melainkan-“ Leeteuk maju beberapa langkah sambil menggebrak meja. “-narkotika.” Lanjutnya sambil tersenyum tipis.

 

“Engh.. ya.” Jawab Nyonya Ahn sambil menjatuhkan air mata dari sudut matanya. Ahli mimik wajah Kepolisian Seoul menangkap ketidak – beresan. Biasanya mereka menemukan air mata buaya, tapi kali ini air mata yang keluar dari ‘buronan’ mereka merupakan tangisan penyesalan.

 

“Uang itu kau berikan pada Kwan Jung Il untuk membangun perusahaan baru bersama?” Kibum kembali menyudutkan Nyonya Ahn.

 

“Emm.” Nyonya Ahn mengangguk di sela – sela tangisannya. Ia menangis tanpa suara dengan kepala yang terus tertunduk. Membuat setiap air matanya mengalir ke ujung hidungnya dan berakhir jatuh di lantai ruang isolasi.

 

Leetuk, Eunhyuk, Zhoumi, dan Kibum yang melihat itu, serentak membuang senyum sinis yang menghiasi wajah mereka tadi. Mereka akhirnya tidak tega ketika melihat nyonya Ahn menangis. Kini sosok lain yang keluar dari nyonya Ahn bukan lagi penjahat, perampok, atau pengedar narkoba. Melainkan sosok seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.

~~~

 

August 11th 2002, Haeundae Beach, Busan 08:18 a.m. KST.

 

Pantai Haeundae kelihatannya sangat cerah hari ini. Banyak galmaegi—burung camar khas Busan— yang beterbangan memenuhi langit pantai di pagi hari kala cerah itu. Bahkan tak henti – hentinya angin menghempaskan rambut 4 orang yeoja dengan Dress Body sebetis yang tengah memandang lautan dengan senyum menghiasi bibir mereka—terkecuali satu orang yeoja dengan pandangan kosong—.

 

“You Ra, Min eonni akan mengajakmu jalan – jalan setelah ini. Kau mau ikut?” Tanya salah seorang yeoja berambut pendek yang dikuncir dua ke belakang.

 

You Ra hanya diam. Ia bahkan masih terbayang – bayang oleh kejadian kemarin yang sempat ia saksikan sendiri. Bahkan bukan adegan dalam film, melainkan ia saksikan di depan matanya sendiri bagaimana seseorang mati dengan darah berlumuran di mana – mana.

 

Ia masih membayangkannya hingga saat ini. Ketika tidur semalam, ia juga memimpikannya. Membuatnya menjadi phobia terhadap tidurnya sendiri. Heechul, Sungmin, dan Donghae sampai rela menjadi yeoja demi menemani You Ra. Tentu saja You Ra tidak menyadari penyamaran itu.

 

“Kalau begitu dengan Hae eonni saja. Nanti akan eonni belikan es krim yang banyak, deh.” Ucap Donghae sambil memandang You Ra yang memang duduk di sebelahnya. Donghae sontak cemberut saat tak ada reaksi apa – apa dari You Ra.

 

Akhirnya daripada diacuhkan oleh You Ra, mereka bertiga memilih untuk diam sampai You Ra bergerak dari tempatnya dan berbicara pada mereka barang satu kata saja. Heechul dari tadi mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil memasang raut kesal. Dia bolak – balik membuang napas sembari mengelus dadanya dan berucap dalam hati. ‘Sabar Heechul, sabar. Dia masih anak – anak, jika kau memarahinya tidak ada penjual balon di sini.’ Batinnya menahan emosi bahkan secara tidak langsung mengejek You Ra.

 

“Maaf.” Setelah sekian lama menunggu, You Ra pun membuka mulutnya kemudian beralih menatap eonnideul – nya bergantian.

 

Kompak Heechul, Donghae, dan Sungmin membuka mata mereka lebar – lebar dengan mulut membentuk huruf ‘O’. Mereka memandang You Ra tidak percaya, sehingga lama – kelamaan senyumlah yang keluar dari bibir ketiganya.

 

“Aku-“ Ucapan You Ra terputus bersamaan dengan air mata yang meluncur setelah beberapa lama ia tahan. Ia tidak terisak sama sekali, ia memang menahan isakan itu dengan menelan ludahnya beberapa kali. Membuat Heechul yang dari tadi membatin tak karuan, terketuk hatinya.

 

“Apa yang kau pikirkan saat ini, heum?-“ Ucap Heechul beranjak dari duduknya dan beralih duduk di hadapan You Ra sambil mengusap air mata You Ra lembut. “-kau masih memikirkan Kyuhyun?”

 

You Ra hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Heechul. Ia semakin memikirkan kejadian yang kemarin sempat ia saksikan. Ia semakin terbayang wajah ayahnya. Dan semakin terbayang wajah Kyuhyun.

 

“Dia, Kyu-Kyuhyun, berpesan padaku, untuk, untuk, hiks-“ You Ra semakin tidak tahan dengan tangisan yang ia paksakan untuk dipendam. Satu isakan lolos keluar bersamaan dengan berkelebatnya kalimat yang Kyuhyun lontarkan padanya kemarin. “Aku, akh.. tshhh.. aku.. titip hyungdeul, ukhhh ts.. padamu..”

 

You Ra kembali terngiang perkataan itu. Akhirnya dengan cepat ia mengusap air matanya kasar, kemudian beralih menatap ketiga eonni – nya.

 

Dengan mata sayu, ia melanjutkan ucapannya. “Kyuhyun oppa kemarin berpesan padaku. Dia bilang, dia titip hyungdeul – nya.” Ucapnya perlahan setelah menyesuaikan suaranya yang sempat serak.

 

Mendengar itu, Sungmin hanya bisa tersenyum pasrah sambil terus menatap galmaegi yang sedang beterbangan memenuhi langit pantai. Berbeda dengan Donghae, ia ternyata sudah menangis sejak Heechul menyebut nama Kyuhyun tadi. Namun ia dengan cepat mengusap air matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas beberapa kali sehingga air matanya tidak jatuh lagi.

 

“Kau dititipi hyungdeul – nya?” Tanya Sungmin sembari tersenyum tulus menatap You Ra.

 

You Ra menolehkan kepalanya pada Sungmin kemudian mengangguk cepat dengan wajah anak – anaknya yang masih suram.

 

Sungmin tidak ingin larut dalam suasana ini dan memilih untuk tidak bertanya soal ‘dongsaeng kesayangannya’ lagi. Ia kembali menatap lurus ke depan sembari melindungi matanya yang terkena silauan matahari. Ia kembali tersenyum. ‘Kyu, aku menunggumu.’ Batinnya.

 

Beberapa saat mereka terdiam dengan pikiran masing – masing, satu di antara mereka dengan rambut ikal berponi dan Dress Body selutut berwarna peach bangkit dari duduknya—Donghae—. Dengan langkah lambat, ia maju selangkah. 3 yeoja lainnya hanya menatapnya bingung, namun mereka tidak menghiraukannya. Mereka semua tahu bahwa Donghae sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. ‘Kembalilah. Aku masih berhutang padamu.’ Batin Donghae ketika satu bulir air mata keluar dari sudut matanya yang tentu saja ditujukan kepada dongsaengnya.

 

“Tadi kau bilang kau dititipi hyungdeul – nya?” Tanya Heechul lembut tanpa menyebut nama dongsaeng yang dia maksud. Entah sejak kapan ia sudah duduk di tempat yang Donghae duduki sebelumnya.

 

“Ya.” Jawab You Ra masih dengan ekspresi muram.

 

“Kenapa menangis?” Tanya Sungmin sambil tersenyum manis.

 

“Tidak apa – apa.” Jawab You Ra sembari menekuk lututnya dan menaruh dagunya di sana.

 

“Kau sudah mengetahui hyungdeul – nya?” Heechul kembali bertanya dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.

 

You Ra sedikit menarik bibirnya ke kanan kemudian menggeleng pelan. Setelah tahu jawaban You Ra, Heechul tersenyum kemudian beralih duduk di hadapan You Ra lagi. “Sekarang lihat mataku.” Ucap Heechul sambil memegang kedua pipi You Ra dengan telapak tangannya.

 

You Ra bingung, tapi ia menurut dengan apa yang Heechul katakan.

 

‘GRABBB’

 

Heechul menarik wig rambutnya kasar dan membantingnya ke pasir pantai. You Ra tersentak dengan yeoja di depannya yang sudah berubah wujud menjadi namja tulen.

 

“Sekarang kau sudah bertemu dengan hyung – nya.” Sambung Heechul dengan senyum yang terus terpatri di bibirnya.

 

‘GRABBB’

 

Satu wig lagi terbanting keras di pasir pantai. You Ra menolehkan kepalanya ke arah samping. Ia melihat Sungmin yang juga sudah bertransformasi menjadi namja tulen. Bahkan ia masih terlihat tampan sekaligus cantik dengan baju wanita yang masih ia kenakan. You Ra buru – buru menghilangkan halusinasinya dan kembali berpikir lurus.

 

“Kau, hyung – nya juga?” Tanya You Ra dengan tatapan polosnya ke arah Sungmin.

 

Sungmin hanya tersenyum kemudian mengangguk. Beberapa saat kemudian, Sungmin mengambil wig – nya dan melemparkannya ke arah Donghae yang masih betah dengan posisinya berdiri menghadap pantai.

 

‘PLUK’

 

“Yak! Hae! Cepat tunjukkan identitas aslimu. Jangan terus menangis. Malu dilihat orang.” Ucap Sungmin sambil melirik You Ra ketika Donghae sudah berbalik dan menatapnya dengan air mata berlinang.

 

Donghae mengusap air matanya cepat kemudian ikut membuka wig – nya.

 

‘GRABBB’

 

“Aku juga hyung – nya.” Ucap Donghae yang sepertinya sudah tahu dengan apa yang akan You Ra tanyakan padanya. Donghae memang sudah mendengar percakapan mereka bertiga tadi ketika ia berdiri menghadap pantai—tepatnya menangis—.

 

You Ra menatap pria di depannya dengan sorot tidak percaya. Ia malah membenamkan kepalanya di kedua lututnya. Mungkin saja, dia menangis lagi.

 

“Sudah kukatakan, kami adalah hyungdeul yang Kyuhyun maksud-“ Seru Heechul sembari mengelus punggung You Ra.

 

“-Bukankah Kyuhyun bilang, dia menitipkan kami padamu?” Sungmin melanjutkan kalimat Heechul hati – hati agar You Ra mendengarnya.

 

“Jadi, jangan menangis lagi-” Ucap Donghae yang kini sudah kembali mendekat ke tempat di mana duduklah 2 hyung – nya dan satu klien mereka. Ia mengacak rambut You Ra, membuat You Ra mendongak dan tanpa sengaja menangkap wajah Donghae yang sudah berubah ceria di hadapannya.

 

“-Karena kau harus menjaga kami!” Seru ketiganya bersamaan sembari memeluk You Ra.

 

Akhirnya You Ra pun tersenyum atas perlakuan yang didapatnya bersama eonnideul yang kini telah berubah status menjadi oppadeul – nya. Dengan cepat, ia mengusap wajahnya dan mendongak menatap oppadeul – nya. “Gomawo, oppa.. deul.” Ucapnya nyaris tak terdengar.

 

“Kalau begitu, ayo kita jalan – jalan!” Teriak Heechul sambil melepas high heels – nya dan bangkit dari duduknya untuk berlari menjauhi pantai diikuti Sungmin dan Donghae yang sedang menggandeng You Ra di belakangnya.

~~~

 

August 11th 2002, At Dorm 09:17 a.m. KST.

 

Senyap. Dorm yang biasanya seperti kapal pecah kini sunyi. Tak ada yang beranjak keluar dari kamar masing – masing atas apa yang telah menimpa mereka kemarin. Mereka semua rindu. Rindu akan suasana dorm yang riuh, ribut di sana – sini, candaan, serta kejahilan – kejahilan yang biasa dibuat oleh ‘setan kecil’ mereka. Bahkan jika boleh meminta, mereka semua ingin hari kemarin tidak pernah ada.

 

Namun, apa boleh buat? Mereka bukan Tuhan, mereka bukan Sang Kuasa, bukan si Besar yang mampu melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya. Jadi, yang bisa mereka lakukan saat ini hanya berdoa, berdoa, dan berdoa. Di waktu yang sama serta tempat yang berbeda, mereka serempak memejamkan mata. Berdoa untuk ‘setan kecil’ mereka, ‘otak jahil’ mereka, ‘magnae evil’ mereka, sekaligus ‘dongsaeng kesayangan’ mereka.

 

Same Time, Difference Place..

 

Ruang isolasi di Kantor Kepolisian Seoul, dipilih Leeteuk sebagai tempatnya berdoa. Sembari bekerja, ia menyempatkan diri untuk mendoakan dongsaeng – nya. Leeteuk memejamkan mata sejenak sebelum memulai doanya.

 

‘Magnae – ku, aku yang tidak menginginkanmu terluka. Tapi, kenapa kau yang terluka. Benarkah ini semua salahku? Jika iya, Tuhan, kumohon, berilah kesempatan untukku, meminta maaf padanya.’ Doa Leeteuk dalam hati di waktu senggang ketika ia mengintrogasi nyonya Ahn.

 

Hyung tertua kedua, Heechul. Ia pun menyempatkan diri berdoa ketika berlari menjauhi pantai. Dia tak menghiraukan tatapan pengunjung pantai. Yang di pikirannya kini hanya satu. ‘Anak itu’ dan ‘anak itu’.

 

‘Aku yang membencimu, aku yang selalu memarahimu. Kau memang nakal, tapi, aku menyayangimu. Apakah aku terlambat, untuk mengucapkan rasa sayangku padamu secara langsung? Entahlah, tapi, kali ini, jika Tuhan benar – benar ada, maka aku, Kim Heechul, si orang jahat atheis, memohon pada – Mu, untuk mengembalikan dongsaeng kami, dongsaeng yang paling kami sayangi, aku mohon, Tuhan.’ Heechul berdoa sambil berlari menjauh dari arah pantai, bahkan tak bisa ia pungkiri ketika air matanya jatuh dan terbang bersamaan dengan angin pantai.

 

‘Aku tak percaya Tuhan, maafkan aku karena selama ini jarang menegurmu, dengarkah kau kata maafku tadi? Baiklah, sekarang aku akan mempercayai – Mu. Kaukah Tuhan yang selalu dibanggakan setiap kaum manusia? Dengarkah Kau atas doaku ini? Aku memohon pada – Mu untuk mengembalikan dongsaeng kami. Sekalipun Kau menukarnya denganku, aku tak masalah, asalkan, dongsaeng – ku bahagia bersama hyungdeul – nya, di dunia ini, bukan di tempat – Mu saat ini, kumohon.’ Hankyung berdoa di lorong rumah sakit, dengan mata terpejam sempurna. Sedikit demi sedikit air mata jatuh, namun tak membuatnya untuk berhenti berdoa demi dongsaeng – nya.

 

‘Kenapa ada hari kemarin? Kenapa kau yang harus mengalami itu semua? Tuhan – ku, berhargakah dia untuk – Mu? Kukirimkan doa untuknya, buatlah dia merasakan kebahagiaan yang lebih lama lagi, di dunia ini, dunia di mana dia dilahirkan, bersamaku, bersama hyungdeul – nya. Tapi, jika jalan terbaiknya adalah ini, kumohon jagalah dia, bersama – Mu, di samping – Mu.’ Di ruang aula asrama, Yesung membenamkan kepalanya pada kedua telapak tangannya. Dia terus menggumamkan kalimat – kalimat permohonan dengan mata merah yang telah basah.

 

“Hei, magnae, jangan cengeng.-“ Kangin berbicara sendiri pada foto bergambar dirinya bersama 14 keluarganya yang lain. Ia menatap gambar salah satu dongsaengnya yang sedang tersenyum sambil mengusap air matanya pelan. ‘-Jangan pergi sebelum aku mengucapkan kalimat ini-‘ Kangin memulai doanya dengan memejamkan matanya yang semakin tergenang oleh air mata. ‘-Oh Tuhan, lindungilah dia, kutitipkan kalimat ini untuknya, Saranghae.’

 

Shindong tidak beranjak dari dalam kamarnya. Ia mengurung dirinya di dalam kamar dengan terus menangis. Mungkin air matanya kini telah kering, tapi dia masih menangis. Akhirnya, ia mencoba untuk menenangkan dirinya. Perlahan namun pasti, ia memulai doanya.

 

‘Saeng, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Kau melihatku? Tega sekali membuatku menangis seharian. Tapi, tidak apa – apa. Aku kehilangan air mata ini, bukan tanpa sebab. Tuhan, buatlah dia mendengar ini. Tidurlah yang nyenyak, dan bangunlah setelah kau ingin kembali, bersama kami. Kalau kau tak kembali, baiklah, aku hanya bisa berdoa untuk keselamatanmu, saeng.’ Shindong memohon sambil menggenggam gantungan kunci berbentuk psp pemberian seorang dongsaengnya. Buku – buku jarinya terlihat memutih karena ia menggenggam gantungan kunci itu erat sekali.

 

‘Kyu, apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu, padahal, belum genap satu hari kita tak bertemu. Apa kau merindukanku juga? Tuhan Yang Maha Agung, Yang Maha Mengasihi Siapapun, aku ingin meminta 2 permintaan, bolehkah? Aku ingin Kyuhyun berada di sampingku lagi, di sini, bersandar di bahuku, hingga akulah yang menyerah untuk menjadi sandarannya. Dan, jika kau tak ingin membuatnya kembali pada kami, aku mengikhlaskannya, Kyu, aku menyayangimu.’ Doa Sungmin dalam hati sambil tersenyum tulus. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan senyum palsu yang terus terpancar di wajahnya, ia berlari mengejar Heechul yang berada tak jauh di depannya.

 

‘Tuhan, aku tak tahu lagi, ucapan apa lagi yang harus kuberikan padanya. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Terima kasih karena telah menjadi adikku, terima kasih karena pernah menjadi bagian dari kami, terima kasih karena telah mempertaruhkan hal berharga yang hanya kau miliki satu di dunia ini, dan terima kasih jika kau masih ingin kembali bersama kami. Tuhan, kaulah yang tahu, apa yang terbaik untuknya.’ Di dalam ruang isolasi, Eunhyuk terus berdoa dalam hati dengan mata yang ia paksakan untuk terpejam. Bermaksud mencegah air matanya keluar, tapi air mata itu tak bisa membohonginya. Air mata itu terus keluar bersamaan dengan kalimat yang keluar dari hati Eunhyuk.

 

‘Aku percaya, bahwa kau akan kembali. Tapi, aku bukan Tuhan yang bisa dengan seenaknya menyuruhmu kembali. Jadi, jika kau memilih meninggalkan hyung – mu, aku menerimanya. Dan jika kau memilih untuk tetap bersama kami, aku mensyukurinya. Tuhan, buatlah pilihan kedua, menjadi pilihannya.’ Batin Zhoumi sambil memandang kosong ruangan isolasi dengan air mata yang terus ia tahan agar tak keluar dengan susah payah.

 

‘Tuhan, kumohon, kali ini, kabulkanlah permohonanku-‘ Donghae mencoba menelan ludahnya. Dengan tenggorokan yang tercekik akibat tangisannya sendiri, ia melanjutkan doanya. ‘-Kembalikanlah, tolong kembalikan hidup dongsaengku. Aku telah berjanji padanya. Kumohon, kapan lagi waktuku untuk menepati janjiku padanya. Kyu, kembalilah, hyung selalu di sini menantimu, kapan saja.’ Donghae berdoa sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Ia menatap jari kelingkingnya, kemudian tersenyum bersamaan dengan satu butir air mata meleleh dari bola mata indahnya.

 

Di sebuah gereja kawasan Gwanjin-gu, Siwon menyempatkan diri untuk berdoa. Dia sampai membawa Bible kesayangannya untuk dibaca. Baginya, pilihan paling tepat sekarang ini hanyalah berdoa di gereja, berharap sang Tuhan mau mengabulkan permohonannya. Ketika Siwon sudah selesai membaca Bible – nya, ia pun berdiri dengan sorot mata teduh menghadap tanda salib di depannya.

 

‘Jesus, berbagai kalimat pujian kuucapkan padamu. Sekarang, dongsaeng terkasihku sedang diuji olehmu. Bolehkah aku memintamu untuk menghentikannya? Kaulah terbaik, kaulah terhebat, kaulah berkuasa atas segala – galanya. Jagalah dia, sebagaimana kau menjaga orang yang kau sayangi. Berkatilah dia. Kyuhyun, Tuhan memberkatimu.’ Seorang namja perawakan tinggi sedang menangis sambil mengatupkan mulutnya rapat, Siwon memejamkan matanya. Di kursi kosong sebelahnya, terpapar Bible yang baru saja dibacanya. Ia menautkan jari – jarinya di depan dada, berdoa demi dongsaeng terkasihnya.

 

‘Kyu, senangkah kau di sana? Bahagiakah kau di sana? Jika jawabanmu adalah ya, maka aku tak bisa berbuat apa – apa lagi. Tuhan, tempatkanlah dia, bersama para malaikat kecilmu.’ Ryeowook memohon sambil menatap pemandangan hijau luas di hadapannya, ia mengehembuskan napasnya berat. Dan kembali menatap satu objek nyata di depannya dengan sorot mata sayunya.

 

‘Tak ada kalimat lain yang bisa kupilih untuk menggambarkan perasaanku. Hanya satu. Tuhan, semoga dia memilih untuk hidup lebih lama bersama kami, bersama hyungdeul – nya. Kyu, jeongmal gomawoyo, saranghae.’ Doa Kibum dalam hati.

 

‘Godness, Aku berdoa untuk hyung – ku. Satu harapanku bila hyung – ku tidak pernah kembali bersama kami ialah Mukjizat – Mu.’ Di sebelah Hankyung, Henry duduk sambil menaruh kedua telapak tangan di depan wajahnya. Sembari berdoa ia menenggelamkan wajahnya, berharap tak ada seorang pun yang bisa melihat satu air mata lolos dari bola matanya.

~~~

 

Masih di daerah Busan. Sungmin, Heechul, Donghae, dan You Ra memutuskan untuk berjalan – jalan mengitari pemukiman penduduk. Dengan riang, mereka semua berjalan kaki menyusuri setiap jalan demi jalan dengan sepatu high heels yang sudah diganti oleh sneakers. Sungmin, Heechul, dan Donghae juga sudah berganti baju semenjak di Pantai Haeundae tadi.

 

“Ayo beli es krim!” Seru Donghae sembari menunjuk stan es krim di ujung jalan.

 

“Kajja!” Ucap Sungmin memulai berlari diikuti Donghae dan You Ra.

 

“Dasar anak – anak.” Umpat Heechul ketika Sungmin, Donghae, dan You Ra sudah meninggalkannya jauh di depan.

 

Heechul yang sedang tidak mood, akhirnya hanya menyusul ketiganya tanpa berlari. Dia berjalan santai, memperhatikan setiap benda di jalanan yang ia lewati. Sejak tadi memang dia ingin ke tempat ini. Bukan untuk bersantai seperti sekarang, tapi untuk tugasnya—ya, sebagai Agent—.

 

Sungmin, Donghae, dan You Ra sedang asyik memesan es krim tanpa menghiraukan Heechul. Mereka bertiga dengan semangatnya memesan es krim sambil berebut, membuat sang penjual kewalahan.

 

“Aku rasa coklat! Pakai chocochip dan taburan kacang, ya!” Teriak You Ra saat ia sudah sampai di depan stan es krim lebih dulu.

 

“Strawberry pakai coklat leleh!” Susul Sungmin setelahnya.

 

“Aku dulu! Aku dulu! Vanilla tiga tumpukan! Pakai susu kental manis, oke!” Timpal Donghae ketika ia sampai paling akhir.

 

Berbeda dengan ketiga anak itu yang menyebrangi jalan saat sudah di perempatan untuk sampai ke stan es krim, Heechul berbelok sedikit ke arah kiri saat sudah berada di perempatan jalan. Sebelum melanjutkan ‘acaranya’, ia menyempatkan diri untuk mengabarkan kedua dongsaeng – nya terlebih dahulu.

 

“Yak! Aku ingin jalan – jalan sendiri dulu ya! Kalian di situ saja, jangan kemana – mana! Es krimnya biar aku nanti yang bayar, aku akan kembali!” Seru Heechul dari kejauhan ke arah Sungmin, Donghae, dan You Ra yang hanya dibalas anggukan oleh ketiganya karena mereka bertiga memang sedang melahap es krim masing – masing.

 

Heechul memulai perjalanannya dan berbelok lagi ketika mendapati tikungan di depannya. Ternyata dia memang ingin menuju ke hotel tempatnya kemarin melakukan misinya. Dengan langkah yang semakin dipercepat, Heechul kembali berjalan sambil menajamkan indra penglihatannya.

 

Beberapa menit ia berjalan, sampailah Heechul ke tempat di mana masih terdapat bercak darah yang belum hilang. Ia mendekat ke tempat di mana ada bercak darah itu kemudian berjungkuk dan kembali mengamati.

 

“Kalau bukan salah satu dari kami yang menembak, berarti…” Ucapan Heechul terputus ketika matanya mencari – cari ke segala arah dan terhenti pada seonggok benda dengan letak yang cukup jauh dari tempatnya berjungkuk—tempat di mana Jung Il tewas—.

 

“Sial.” Umpatnya sambil berdiri dan berlari ke tempat di mana ia menemukan suatu jawaban.

~~~

 

Central Seoul International Police Office

 

Setelah Leeteuk, Kibum, Eunhyuk, dan Zhoumi mengulur waktu untuk Nyonya Ahn menyelesaikan tangisannya, mereka bertiga kembali melanjutkan sesi introgasi. Hanya tinggal beberapa jawaban lagi yang harus mereka dapatkan, sehingga setelah itu mereka bisa langsung pulang dari sana.

 

“Nyonya Ahn.” Panggil Leeteuk pada Nyonya Ahn yang masih sibuk mengusap air matanya.

 

Nyonya Ahn menoleh kemudian membalas. “Ya?” Sahutnya.

 

“Sekarang aku ingin kau menjawab sejujur mungkin.” Ucap Leeteuk dengan nada serius membuat Nyonya Ahn kembali merasa tersudut.

 

“Tidak perlu dengan kata Ya atau Tidak lagi.” Tambah Eunhyuk.

 

“Baiklah.” Jawab Nyonya Ahn pasrah dan kembali duduk tegap di kursinya.

 

Kibum terlihat menyusun kalimatnya untuk ditanyakan kepada Nyonya Ahn. Ketika dirasa sudah tepat, ia membalik tubuhnya menghadap Nyonya Ahn dan berjalan mendekati Nyonya Ahn dengan pandangan menusuk serta senyum samar.

 

“Nyonya Ahn, kau belum menjawab pertanyaan kami sepertinya-“ Ucap Kibum ketika tubuhnya sudah berada tepat di hadapan Nyonya Ahn. “-sebenarnya suamimu meninggal karena apa? Aku tahu itu bukan serangan jantung-“ Ucap Kibum lagi dengan pandangan mengejek.

 

“-dibunuh?” Lanjutnya dengan senyum mengerikan yang semakin lebar.

 

Nyonya Ahn menahan mulutnya untuk menjawab, tapi jauh di lubuk hatinya ia ingin terlepas dari ini semua tanpa kebohongan pastinya. Nyonya Ahn membuang napasnya lesu dan kembali menjawab. “Ya.” Jawabnya dengan suara yang semakin hilang.

 

“Sebelum merampok bank, di mana posisimu?” Tanya Zhoumi pada Nyonya Ahn sambil terus berdiri di tempatnya.

 

“Aku ada di rumah, bersama suamiku. Anakku sedang tidak di rumah. Jadi di rumah hanya ada aku berdua-“ Terang Nyonya Ahn dengan kepala yang kembali tertunduk.

 

“-sebelumnya aku memang mencintai Kwan Jung Il, You Ra adalah anakku bersamanya. Aku hanya mementingkan materi ketika menikah dengan Young Guk. Entah apa yang menghasut diriku sehingga hari itu aku begitu ingin menikah dengan Jung Il dan membuat keputusan tidak berguna itu.“ Lanjut Nyonya Ahn panjang lebar.

 

Leeteuk, Eunhyuk, Kibum, dan Zhoumi sontak tidak percaya dengan pernyataan Ahn Geum Ra. Sebegitu mudahnyakah dia mengaku?

 

“Tidak mungkin, kau ingin melindungi Jung Il yang bahkan kini sudah menyusul suamimu?-” Sanggah Eunhyuk.

 

Karena merasa Eunhyuk salah bicara, Leeteuk dengan sigap menepuk punggung Eunhyuk pelan bermaksud untuk menyuruh Eunhyuk agar diam dan tidak melanjutkan kalimatnya. Eunhyuk pun tidak melanjutkan kalimatnya dan memilih untuk diam.

 

“Kaukah pelakunya?” Tanya Kibum singkat namun pasti.

 

“Ya.” Jawab Nyonya Ahn dengan suara parau dan air mata yang semakin banyak meluncur keluar dari mata indahnya. Nyonya Ahn akhirnya pasrah dan mencoba untuk mempersiapkan dirinya di sesi hukum nanti.

 

“Kalau begitu kau dinyatakan bersalah dan sudah terbukti bahwa kau pelakunya dengan semua bukti rekaman percakapan dirimu dan Kwan Jung Il beserta rekaman ucapanmu selama introgasi. Hukuman paling berat adalah hukuman mati. Hukuman ringan paling tidak kau dikenakan denda sebesar-“

 

‘BRAKK’ ‘BLAM’

 

“Hyung! Aku yang akan melunasi dendanya! Bebaskan wanita ini hyung!” Teriak Heechul memotong ucapan Leeteuk ketika ia sudah sampai ke dalam ruang isolasi bersama dengan Sungmin, Donghae, dan You Ra yang menunggu di luar.

 

Leeteuk memandangnya bingung. Namun sebelum Leeteuk bertanya, Heechul sudah memberikan sebuah tas Hermes pada Leeteuk kemudian memberi kode dengan gerakan kepalanya agar Leeteuk segera membuka isi dari tas itu. Nyonya Ahn yang melihatnya tak sadar bahwa jantungnya kini sudah berdegub tak karuan dan ia hanya bisa kembali berdoa dalam hati.

 

“Apa maksud ucapanmu tadi, heum?-“ Tanya Leeteuk sembari membuka resleting tas di tangannya, tapi Heechul tidak menjawab pertanyaannya.

 

Ketika tas itu sudah terbuka sempurna, Leeteuk mengeluarkan isinya. “-Pistol?” Ucapnya tak mengerti. Ia kemudian melirik ke arah Nyonya Ahn yang sudah kembali memasang ekspresi ketakutannya.

 

“Kau juga yang melakukannya?” Tanya Eunhyuk yang juga tak mengerti.

 

Nyonya Ahn hanya menjawabnya dengan anggukan kemudian menundukkan kepalanya dalam – dalam sampai suara Heechul terdengar.

 

“Wanita ini yang menembak Kwan Jung Il di tempat. Aku tahu ini adalah tasnya karena ini tas yang sama ketika aku bertemu dengannya di Lotte-” Jelas Heechul pada semua yang ada di ruang isolasi.

 

“-hyung, aku tidak berbasa – basi jadi kumohon bebaskan dia. Anaknya sudah menangis meminta bertemu dengannya di luar-“ Ucap Heechul lagi sambil memohon kepada Leeteuk dan menoleh ke arah luar, di mana You Ra sedang menangis membelakangi ruang isolasi tak ingin melihat ibunya sendiri.

 

“-aku yang akan membayar dendanya. Lagipula jika tidak ada wanita ini, kita tidak akan pernah membalas perbuatan Jung Il pada Kyu-“

 

“Baiklah, kau bebas Nyonya Ahn.” Sergah Leeteuk cepat sebelum Heechul meneruskan kembali ucapannya.

 

Nyonya Ahn menatap para pemuda di depannya tidak percaya. “Benarkah? Tapi, aku sudah bersedia untuk hukumanku. Tidak apa – apa.” Ucap Nyonya Ahn tulus.

 

“Kau sudah bebas Nyonya-” Balas Heechul sambil tersenyum pada Nyonya Ahn. “-ayo ikut aku.” Heechul kemudian mengajak Nyonya Ahn untuk berdiri dan keluar dari ruang isolasi untuk bertemu dengan You Ra.

 

Nyonya Ahn menyambut uluran tangan Heechul dan mengikuti langkah Heechul untuk keluar dari ruang isolasi dan menemui anaknya. Ketika dia sudah sampai di luar ruang isolasi, Heechul segera mendorongnya untuk mendekat ke arah You Ra yang masih membelakangi Nyonya Ahn.

 

“Itu anakmu.” Bisik Heechul pada Nyonya Ahn sambil tersenyum menatapnya.

 

Nyonya Ahn segera mengangguk dan berjalan mendekati You Ra. Ia menepuk pundak You Ra pelan membuat You Ra berbalik menatap ke arahnya.

 

“You Ra, eomma menyayangimu.” Tangis Ahn Geum Ra ketika ia berhasil memeluk tubuh You Ra sayang.

 

You Ra membalas pelukan itu perlahan. Tak lama, ia menjawab kalimat eomma – nya. “Ne eomma. Nado, saranghae.” Ucapnya.

 

Leeteuk, Heechul, Sungmin, Eunhyuk, Zhoumi, Donghae, dan Kibum yang melihat itu hanya bisa tersenyum dengan pemandangan mengharukan yang selama ini memang belum pernah mereka rasakan dari seorang ibu. Dengan melihat ini, mereka paling tidak bisa membayangkan betapa sayangnya seorang ibu kepada anaknya.

~~~

 

Kucoba membuka mataku. Berat. Aku tak mampu membuka mataku apalagi sekedar menggerakkan jari – jari tanganku. Sulit. Seluruh tubuhku berat dan sulit untuk digerakkan. Bukankah aku sedang tidur? Sebenarnya ada apa?

 

Sayup – sayup kudengar suara hyungdeul dan seorang dongsaengku. Mereka memanggilku dengan suara tidak senang. Apa mereka menangis?

 

‘Kyu, apa kau merindukanku?’

 

Min hyung! Itu suara Sungmin hyung. Ya hyung, aku merindukanmu tapi bukankah besok pagi kita akan kembali bertemu hyung?

 

Aku takut. Aku bingung. Aku ada di sini, di ruangan gelap dan hampa hyung. Aku juga ingin melihat wajah kalian, tapi ada apa sebenarnya denganku? Apa terjadi hal buruk padaku, hyung?

 

Yang kuingat, aku kembali melakukan misi itu sampai akhirnya aku bertemu gadis yang selama ini kalian cari dan aku ingin membawanya kembali kepada ibunya. Aku melindunginya dan…

 

‘Aku percaya, bahwa kau akan kembali. Tapi, aku bukan Tuhan yang bisa dengan seenaknya menyuruhmu kembali. Jadi, jika kau memilih meninggalkan hyung – mu, aku menerimanya. Dan jika kau memilih untuk tetap bersama kami, aku mensyukurinya. Tuhan, buatlah pilihan kedua, menjadi pilihannya.’

 

Aku kembali mendengar suara. Zhoumi hyung! Itu suara Zhoumi hyung. Baiklah, aku sudah tahu bahwa memang sudah terjadi hal buruk padaku. Ya, aku akan berusaha memilih pilihan kedua. Gomawoyo hyungdeul. Saranghae.

~~~

 

‘PIP PIP’ ‘PIP’ ‘PIP’ ‘PIP PIP’

 

Bunyi alat deteksi jantung terdengar di penjuru salah satu kamar dengan seorang yang sedang ‘tertidur’ di dalamnya. Dengan balutan baju pasien serta berbagai selang kedokteran yang sukses menempel pada tubuhnya, ia mencoba untuk bangun.

 

Seorang suster masuk dan menghampirinya. Bahkan suster itu sempat kaget dengan pergerakan kelopak mata pasiennya yang tiba – tiba itu. Terlalu keras mencoba bangun, hingga membahayakan dirinya sendiri.

 

‘PIP PIP PIP’ ‘NGIIIINGGGG’

 

Tubuhnya tiba – tiba berontak dan menggelepar di atas ranjang. Detak jantungnya semakin melemah dengan tubuh yang masih memaksa untuk bertahan itu. Kembali tubuhnya menggelepar dengan mata yang masih terpejam dan selang oksigen di hidungnya. Sontak saja sang suster menekan bel darurat sehingga beberapa dokter dan perawat masuk untuk menanganinya.

 

‘Aku sudah berusaha, hyung.’

.

.

.

.

.

TBC

 

Sepertinya satu part lagi abis deh readers^^ kalau masih banyak yang minat, akan kubuat sequel dengan kasus beda😉 Mianhae update lama, karena lagi mampet ide dan jarang buka facebook gara2 tugas padat. Sekali lagi mianhae #bow Yo~ monggo dicomment plus RCL viewers ^-^)b

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: