15 ‘X’ Agent: Murder Case of Business Rivalry [7-END]

15 'X' AGENT; MURDER CASE OF BUSINESS RIVALRY

Nama: gyuyomi88

Judul Cerita: 15 ‘X’ Agent: Murder Case of Business Rivalry (Chapter 7-END)

Tag: Leeteuk, Heechul, Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Zhoumi, Donghae, Siwon, Ryeowook, Kibum, Kyuhyun, Henry.

Genre: Brothership, Sci-fi, Action

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Catatan Author: DISARANKAN UNTUK MENGINGAT SETIAP TANGGAL, WAKTU DAN TEMPAT KEJADIAN YANG TERCATAT DI AWAL SCENE, Typos, EYD mungkin kurang tepat, sedikit OOC. THIS IS NOT YAOI! JUST BROTHERSHIP. If You Like It, Go Read It😉

.

.

.

Tubuhnya tiba – tiba berontak dan menggelepar di atas ranjang. Detak jantungnya semakin melemah dengan tubuh yang masih memaksa untuk bertahan itu. Kembali tubuhnya menggelepar dengan mata yang masih terpejam dan selang oksigen di hidungnya. Sontak saja sang suster menekan bel darurat sehingga beberapa dokter dan perawat masuk untuk menanganinya.

 

‘Aku sudah berusaha, hyung.’

 

Next Chapter

.

.

.

 

August 11th 2002, Central Seoul International Police Office, Shin Sajangnim’s Room 14:47 p.m. KST.

 

Seusai mengintrogasi Ahn Geum Ra, Leeteuk cs. Menyempatkan diri untuk masuk ke ruangan Jaksa Shin. Dengan langkah tergesa, Leeteuk cs. Berjalan mendekat ke ruangan Jaksa Shin. Ketika sudah sampai di depannya, Leeteuk mengetuk pintu terlebih dahulu supaya terkesan lebih sopan.

 

‘TOK TOK TOK’

 

“Sajangnim, saya Leeteuk. Bolehkah saya masuk?” Ucap Leeteuk sebelum membuka pintu.

 

“Masuklah.” Sahut seseorang di dalam.

 

‘KRIEETT’

 

Pintu terbuka pelan. Leeteuk, Heechul, Sungmin, Eunhyuk, Zhoumi, Donghae, dan Kibum pun akhirnya masuk. Mereka sedikit membungkukkan badan tanda hormat pada Jaksa Shin yang sedang duduk membelakangi mereka dengan kursi putarnya.

 

“Sajangnim, ada yang ingin kami bicarakan pada anda.” Ucap Kibum memulai pembicaraan dengan nada formal.

 

“Katakan saja.” Jaksa Shin menyahut sambil melirik ke arah mereka semua tanpa memutar kursinya.

 

“Mengenai bayaran kami.” Lanjut Eunhyuk ragu.

 

Jaksa Shin tertawa mendengar itu. “Hahaha, 150 juta won masih kurangkah untuk kalian? Hmm, baiklah akan kutambah 2 kali lipat.” Kekeh Jaksa Shin santai.

 

“Bukankah tidak sopan jika tidak melihat lawan bicara ketika sedang mengobrol?” Celoteh Heechul kesal.

 

Jaksa Shin hanya menjawabnya dengan tawa, membuat Heechul kembali mendengus sebal.

 

“Bukan begitu, untuk bayaran kali ini kami gratis. Hanya saja-“ Leeteuk menggantungkan ucapannya ketika dilihatnya kursi Jaksa Shin memutar ke arah mereka.

~~~

 

Hari menjelang fajar. Terdengar deru langkah lebar seorang pria di setiap jalan yang ia lewati. Tubuh tegapnya sudah mati rasa, menangisi sesuatu yang mungkin masih bisa untuk diubah rupanya membuat pikirannya berontak. Bahkan ia merasa lelah hanya karena berdoa. Bukan sekedar hitungan menit ia melakukan itu, bahkan belasan jam telah ia lewati dengan gumaman – gumaman kecil di bibirnya.

 

‘TAP TAP TAP’

 

‘Bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah.’

 

Setidaknya gumaman seirama langkahnya itulah yang sekarang ini ia pilih di tengah kegelisahannya untuk sampai ke tempat yang ia tuju.

 

‘TAP TAP TAP’

 

Langkahnya semakin cepat ketika ia telah masuk ke kawasan Seoul Hospital. Hatinya gelisah bukan main. Ya, sebelum kesini dia memang sempat diberi kabar oleh hyung – nya. Tentu saja kabar yang membuatnya semakin mengutuk dirinya sendiri.

 

‘Aku akan mempertahankanmu.’

~~~

 

Tepat di depan ruangan dengan aroma obat – obatan khas berdinding putih tanpa corak, dua orang ini—Hankyung dan Henry— masih menanti kabar selanjutnya dari pihak rumah sakit atas kondisi ‘saudara’ mereka. Cemas. Satu kata yang setidaknya menggambarkan perasaan mereka saat ini.

 

Keduanya duduk bersandar pada dinding rumah sakit. Berulang kali membuang napas berat untuk membuang beban mereka, namun tetap saja hal itu tidak berlaku saat ini. Sampai datanglah seorang suster dengan pakaian steril khusus membuat mereka berdiri dan sedikit menyambut kedatangannya.

 

“Suster, anda akan mengecek pasien di dalam kamar ini?” Tanya Hankyung sopan kepada suster yang sudah meraih knop pintu kamar.

 

“Ya, kalian berdua anggota keluarganya?” Tanya balik suster itu.

 

“Hm, kami saudaranya.” Jawab Henry dengan aksen Kanada khasnya.

 

Suster itu memandang Hankyung dan Henry bergantian kemudian mengeratkan genggamannya pada knop pintu. “Baiklah. Seusai mengecek keadaan pasien, saya akan memberitahukan hasilnya kepada kalian.”

 

“Terima kasih, suster.” Ucap Hankyung sambil sedikit menundukkan kepalanya.

 

Suster itu juga ikut menundukkan kepalanya sembari tersenyum, disusul dengan suara decitan pintu menandakan bahwa suster itu telah masuk ke dalam kamar pasien.

 

5 menit, rasanya bagai 1 hari bagi Hankyung dan juga Henry. Mereka masih menunggu hasilnya. Kembali mereka berdua merapatkan kedua telapak tangan mereka di depan dada, dengan mulut terkatup rapat dan mata terpejam sempurna. Kalimat – kalimat permohonan kembali mereka lontarkan. Jantung mereka rasanya berdegup 3 kali lipat seperti memompa dengan kecepatan maksimal.

 

Terus seperti itu, hingga suatu objek bunyi memekakkan telinga terdengar dari dalam kamar di belakang mereka.

 

‘NGIIINGGG’ ‘TEET TEET TEET TEET’

 

Baik Hankyung maupun Henry harus memaksa mata mereka terbuka. 1, tidak, 2, ada lagi, 5. 5 orang dengan pakaian steril masuk ke dalam kamar di belakang mereka.

 

Sepertinya, memang hasil ini yang mereka dapatkan. Refleks, Hankyung merangkul Henry dengan tangan kirinya dan tangan kanannya sibuk mengambil ponsel. Sesaat kemudian, ponselnya telah tersambung dengan seseorang di seberang sana. Tanpa menunggu sahutan, Hankyung langsung saja menyampaikan pesannya.

 

“Siwon, ke Rumah Sakit Seoul, sepertinya kita akan kehilangan satu saudara.”

~~~

 

“- kami ingin membebaskan Nyonya Ahn dengan uang itu. Bisakah Sajangnim?” Lanjut Leeteuk saat kedua bola matanya bertemu dengan Jaksa Shin.

 

Jaksa Shin tersenyum ketika melihat satu – persatu wajah pemuda di hadapannya, ia kemudian mengangguk dan menjawab pertanyaan Leeteuk. “Terima kasih karena sudah membantu kepolisian atas kerja sama kalian semua. Untuk pembebasan, aku sudah mengetahui itu sejak mengawasi kalian tadi dari ruanganku.”

 

“Jadi, anda mengizinkan kami?” Tanya Sungmin tidak percaya.

 

Jaksa Shin kembali mengangguk. “Hm, seperti yang kau lihat?-“ Ucap Jaksa Shin sembari mengulurkan tangannya. “-satu lagi. Bayaran kalian kunaikkan 2 kali lipat. Itu semua bonus dari pemerintah karena kalian bekerja lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan dan yang pasti itu bukan hakku.” Lanjutnya.

 

Leeteuk tidak membalas uluran tangan itu, ia hanya memperhatikannya tidak percaya. Leeteuk memandang uluran tangan itu beserta wajah Jaksa Shin bergantian. Lama – kelamaan, sorot tak percayanya berubah menjadi sorot terima kasih. Melihat itu, akhirnya Donghae yang maju dan menyambar uluran tangan Jaksa Shin dengan perasaan campur aduk.

 

‘GRAB’

 

“Ya. Kami menerimanya! Jeongmal gamsahamnida.” Seru Donghae sembari menjabat tangan Jaksa Shin kencang saking gembiranya, kemudian membungkukkan kepalanya berkali – kali dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.

 

Singkat waktu. Leeteuk, Heechul, Sungmin, Eunhyuk, Zhoumi, Donghae, dan Kibum sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke dorm dengan sebuah amplop coklat tebal yang nanti akan mereka gunakan sebagai alat penyambung kehidupan. Tapi sepertinya, amplop ini tidak akan mereka hamburkan terlebih dahulu karena ada hal yang lebih penting lainnya.

 

Amplop coklat ada di tangan Donghae yang duduk tepat di samping Leeteuk—sang pengemudi mobil—. Semuanya diam dan sibuk dengan pikiran masing – masing. Atau mungkin saja mereka sedang berpikiran hal yang sama? Ya, memang itu jawabannya. Mata mereka memang memandang ke arah luar, tapi tak satu pun objek yang mereka perhatikan.

 

Pikiran mereka semua melayang entah kemana. Bahkan Leeteuk berulang kali ingin menghantam mobil di depannya, beruntung dia cepat tanggap sehingga spontan ia mengerem mobilnya. Entah sudah rem yang keberapa kali, namun mereka semua tidak ada yang merasa kaget ataupun sekedar menegur Leeteuk agar lebih hati – hati lagi. Donghae sampai tidak merasakan kalau amplop di tangannya telah jatuh di dekat kakinya.

 

Suasana suram di dalam mobil langsung berubah ketika terdengar suara getar dari ponsel Leeteuk.

 

‘Drrrt Drrrt’

 

‘CKIIITT’

 

Leeteuk meminggirkan mobilnya ke dekat toko, kemudian memasang earphone di telinganya dan menjawab telepon itu sembari menjalankan mobil kembali. Tak ada yang merasa terganggu dengan aktifitas Leeteuk, mereka masih sibuk melamunkan hal yang sama.

 

“Yeob- baiklah.” Belum sempat Leeteuk menyapa, ia sudah dikejutkan dengan suara telepon di seberang sana yang terdengar panik. Mobil yang ia setir kembali melaju secepat kilat.

 

‘WWUUSSHHHH’

 

Dia beralih ke arah Fly Over dan menyalip setiap mobil yang berada di depannya dengan gesit.

 

‘TIN TIN’ ‘TIN TIN’ ‘CKIIITT’ ‘WWUUSSHHHH’

 

Banyak mobil yang merasa terganggu akibat aksinya, tapi Leeteuk tidak peduli. Yang penting sampai, pikirnya.

 

“Hyung, kau ingin bunuh diri hanya karena dia? Kalau begitu, jangan mengajak kami.” Akhirnya Heechul bersuara ketika ia tahu apa yang telah terjadi. Setelah sebelumnya ia membuka ponselnya yang disilent dan mendapati sebuah sms di sana.

 

Leeteuk mengacuhkan Heechul dan memilih untuk kembali fokus pada stirnya.

 

“Memang ada apa?” Tanya Donghae setengah menoleh. Sedari tadi ia memang sudah mulai merasa risih dengan kelakuan Leeteuk.

 

“Apa ini firasatku? Kita akan ke rumah sakit, benar?” Sungmin ikut sadar dari lamunannya dan menatap Leeteuk dengan mata berakaca – kaca.

 

“Kita naik ke fly over, berarti kita memang akan ke rumah sakit.” Akhirnya Kibum yang menjawab pertanyaan itu dengan pemikiran yang sebenarnya sejak tadi ia lakukan. Ia juga tahu itu, karena ia sempat melirik ke arah ponsel Heechul yang duduk di sebelahnya.

 

“Terjadi hal buruk.” Gumam Eunhyuk dengan raut muka yang semakin suram sambil menatap kedua kakinya.

 

“Kita harus bersiap.” Ujar Zhoumi sembari merangkul pundak Eunhyuk dan mengelusnya perlahan bermaskud menenangkannya.

 

Akhirnya, mereka semua pun kembali larut ke dalam pemikiran mereka sendiri dan membiarkan Leeteuk yang sedang menyetir mobil dengan semakin brutal.

~~~

 

August 11th 2002, Seoul Hospital, Kang Uisa’s Room 15:25 p.m. KST.

 

Hankyung dan Henry sudah menghubungi semuanya dan menyuruh mereka semua untuk datang ke Seoul Hospital. Selang beberapa menit menunggu, akhirnya mereka ber – 14 telah berkumpul di depan pintu sebuah ruangan bertuliskan ‘Kang Uisa’s Room’ tinggal menunggu sedikit waktu lagi untuk memantapkan diri dan masuk ke dalam ruangan.

 

Ada yang duduk di kursi, berdiri, ataupun sekedar duduk di lantai rumah sakit sambil menekuk lutut dan membenamkan kepalanya. Berbagai pose dilakukan dengan tujuan sama—memantapkan diri—.

 

5 menit berlalu dan inilah saatnya bagi mereka untuk masuk dan mengetahui keadaan seseorang di antara mereka yang sebenarnya.

 

Leeteuk maju lebih dulu dan meraih knop pintu cepat. Tak ada yang mengikutinya, semuanya masih diam membeku di tempat masing – masing. Leeteuk akhirnya menoleh ke arah mereka.

 

“Apa yang kalian lakukan?-“ Seru Leeteuk membuat semuanya menoleh dan mendongak ke arahnya. “-Ayo ikut aku, percaya padaku bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi.” Ucap Leeteuk sambil memaksakan senyum di depan para dongsaeng – nya.

 

Yah, ucapan Leeteuk ada benarnya juga. Mereka harus optimis dengan segala hal apapun yang akan mereka hadapi. Dengan langkah gontai, mereka semua masuk ke dalam ruangan Dokter Kang.

 

‘TOK TOK TOK’

 

“Permisi Dok, saya kakak dari Kyuhyun, pasien dengan nomor kamar 302. Adik saya sudah membuat janji dengan anda.” Ucap Leeteuk ketika kakinya telah melangkah maju ke dalam ruangan Dokter Kang.

 

“Ya, duduklah.” Sahut Dokter Kang.

 

Leeteuk kembali melangkah dan duduk di kursi tepat di depan Dokter Kang, diikuti yang lainnya yang hanya berdiri di belakang Leeteuk.

 

“Dok, kami semua kesini untuk menanyakan keadaan Kyuhyun.” Ucap Leeteuk hati – hati.

 

Dokter Kang hanya memandangnya dan tersenyum menatap semua yang ada di situ dengan tulus.

 

“Ya, aku sudah mengetahuinya. Kita harus mulai dari mana ya? Atau langsung saja?” Tanya Dokter Kang ramah.

 

“Langsung saja, Dok.” Titah Heechul.

 

“Baiklah. Pertama, ketika aku mengoperasi Kyuhyun – ssi untuk mengeluarkan peluru di badannya, peluru itu memang sedikit mengenai paru – parunya-“

 

“Lalu dia tidak apa – apa ‘kan, Dok?” Tanya Donghae memotong ucapan Dokter Kang dengan gelisah.

 

Dokter Kang tersenyum menatap Donghae. Baru saja ia ingin melanjutkan ucapannya, tapi Henry kembali memotong.

 

“Apa maksud bunyi nyaring yang kemarin aku dengar? Itu berarti Kyu hyung..” Henry tidak jadi melanjutkan bicaranya. Semua menatap ke arah Dokter Kang penuh pertanyaan.

 

“Ya. Jantungnya memang berhenti kemarin, karena paru – parunya sulit memisahkan oksigen yang masuk-“ Perkataan Doker Kang sungguh membuat semua yang ada di situ kehilangan tenaga.

 

Dokter Kang kembali tersenyum tulus. “-tapi sekarang, dia sudah tidak apa – apa.”

 

“JINJJA?” Seru semuanya bersamaan. Dokter Kang hanya menjawabnya dengan senyum dan anggukan pelan.

 

Sontak saja jawaban itu sukses membuat mereka bagaikan menerima asupan vitamin ke dalam tubuh. Perasaan senang meletup – letup seperti kembang apilah yang kini bersarang di hati mereka semua. Optimis dan doa. Ternyata 2 kata itu mampu mengubah semuanya. Tuhan. Tuhan ada di mana – mana, Dialah yang telah memberikan mukjizat – Nya.

 

“Wuhu!” “Yippi!” “Yeah!” “Hore!”

 

Berbagai teriakan dan lompatan – lompatan girang kini telah mengubah suasana di dalam ruangan Dokter Kang yang suram menjadi menggembirakan. Mereka semua membuat lingkarang, dan saling berpelukan. Tak lupa melompat – lompat sebagaimana ekspresi seorang anak yang terlanjur bahagia karena sebuah hadiah yang sangat diinginkanya.

 

“Tapi, kalian jangan senang dulu. Karena dia masih dalam keadaan koma sekarang.” Dokter Kang kembali sukses mempermainkan perasaan mereka. Suasana kembali tenang, sama seperti sebelumnya.

 

“Jadi, kapan kami boleh menjenguk dongsaeng kami?” Tanya Leeteuk yang sedari tadi hanya duduk diam mengamati dongsaengdeul – nya.

 

“Kalian sudah boleh menjenguknya, hanya saja harus sesuai dengan jam jenguk karena pasien harus istirahat lebih banyak.” Terang Dokter Kang.

 

“Baiklah, Dok. Terima kasih karena sudah melakukan yang terbaik untuk dongsaeng kami.” Ucap Leeteuk sembari bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat diikuti yang lainnya menghadap Dokter Kang.

 

Dokter Kang membalasnya dan kembali duduk untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Leeteuk dan yang lainnya berangsur – angsur keluar dari dalam ruangan Dokter Kang.

~~~

 

5 hari setelahnya.

 

Pagi yang cerah, matahari memperlihatkan sedikit sinar keemasannya dari balik gumpalan kapas putih yang melayang – layang indah di langit biru muda. Kicauan – kicauan makhluk Tuhan bernyanyi beriringan melengkapi suara gemercik air mancur dari taman rumah sakit.

 

Di dalam sebuah kamar yang bisa terbilang kamar VIP, tidurlah 15 orang namja. 1 diantaranya masih mengenakan pakaian rumah sakit lengkap alat – alat kedokteran lainnya yang setia melekat pada tubuhnya. Kelopak matanya masih belum ingin memperlihatkan bola mata karamelnya yang indah berbinar.

 

Sudah 5 hari berlalu dengan keadaan yang sama seperti ini, namun tubuhnya masih belum mengizinkannya untuk bangun. Dia masih betah tertidur di atas ranjangnya dengan selang di hidungnya, tiang infus, 2 tabung oksigen, dan satu alat di sampingnya yang terus berbunyi seirama detak jantungnya.

 

Sementara yang lainnya hanya sekedar terlelap di sofa. Bahkan tanpa bantal juga selimut, demi menjaga seseorang di antara mereka.

 

Siwon terbangun dari tidurnya. “Hoaamm~” ia mengucek matanya yang terasa lengket kemudian melenturkan otot – ototnya ke kanan dan ke kiri. Setelah ritualnya selesai, ia bangkit dan membangunkan yang lainnya.

 

“Hyung, saeng, bangun, sudah pagi.” Ucapnya sambil menepuk – nepuk tangan hyung serta dongsaeng – nya pelan.

 

“Heung, sudah pagi? Tapi aku masih mengantuk.” Keluh Sungmin dan kembali tertidur.

 

“Aaah, aku juga masih ingin tidur, tapi aku ingin main dengan Kyunie.” Gumam Donghae sembari bangun dari tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi dengan mata yang setengah terpejam.

 

“Aish, aku malas bangun~” Gumam Kangin.

 

“Badanku rasanya remuk semua.” Timpal Shindong dengan suara yang ia buat – buat.

 

“Ayo, bangun! Firasatku sedang baik hari ini!” Seru Yesung ikut membangunkan dongsaengdeul – nya yang masih merengek – rengek minta tidur.

 

“Ya hyung, baiklah-” Eunhyuk akhirnya menurut dan berjalan ke arah kamar mandi dengan mata tertutup. ‘JDUG’ “-Aww! Siapa sih yang ada di kamar mandi?!” Teriak Eunhyuk setelah tadi kepalanya membentur pintu kamar mandi yang tertutup rapat.

 

“Ada Donghae hyung.” Jawab Kibum singkat.

 

Eunhyuk akhirnya hanya bisa merengut ketika hyungdeul dan dongsaeng – nya tersenyum geli melihat kekacauan yang ia buat di pagi hari.

 

Sementara, satu di antara mereka terlihat bangun dari tidurnya dan perlahan membuka mulutnya untuk membisikkan seusatu pada seseorang.

 

“Kyu, lihatlah, hyungdeul – mu sudah membuat kekacauan di pagi hari.” Ucap Sungmin sambil berbisik di telinga Kyuhyun, seolah Kyuhyun dapat mendengarnya. Karena kebetulan, Sungmin – lah yang berada dekat dengan Kyuhyun. Ia mengusap rambut Kyuhyun pelan, kemudian tersenyum miris melihat wajah Kyuhyun yang semakin tirus.

 

“Hyung, aku ingin membeli makanan untuk kita semua dulu ya.” Ucap Ryeowook pada Leeteuk.

 

“Baiklah.” Leeteuk menjawab Ryeowook sambil melirik ke arah lain. Tak sengaja, pemandangan yang didapatnya adalah Sungmin. Ia ikut tersenyum miris ketika matanya berhasil membaca bahasa bibir Sungmin kepada Kyuhyun dari kejauhan.

 

August 16th 2002, Seoul Hospital, Bedroom no. 302 08:08 a.m. KST.

 

Selesai sarapan, 14 orang pemuda di ruangan ini kembali membentuk lingkaran. Mengepung satu – satunya tempat tidur yang tersedia di dalam kamar dengan senyum yang dipaksakan. Mereka bermain, bercanda, dan bersenang – senang. Ya, bersenang – senang.

 

“Hey, magnae! Aku sudah bisa bermain game Starcraft kesukaanmu! Cepatlah bangun dan bermain bersamaku.” Ucap Kibum riang walau jauh di lubuk hatinya perasaannya hancur berkeping – keping.

 

“Aku juga masih berhutang ke game center denganmu. Mangkanya, ayo bangun dan berangkat!-“ Donghae ikut berteriak senang dengan mata yang sudah berlinangan air mata. “-ahh Kyu lihatlah, aku menangis saking semangatnya.” ucap Donghae berbohong.

 

“Jangan dengarkan Donghae. Dia bohong, dia tidak bersemangat. Donghae menangis karenamu Kyu, dan aku juga-“ Sergah Sungmin cepat sambil duduk memandangi satu objek hidup di hadapannya. “-aku sudah membelikanmu game console limited edition, Kyu! Lihat ini, dan mainkan bersamaku.” Sambung Sungmin sambil memperlihatkan goodie bag berisi kaset game di dalamnya.

 

Leeteuk maju selangkah, berjalan mendekati dongsaeng – nya yang masih tertidur pulas dengan lesu. Ketika tubuhnya sudah berhasil duduk di kursi sebelah ranjang, tangannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Kyuhyun yang terbebas dari selang infus.

 

“Kyu, ireona.” Tangisnya pecah saat tangannya berhasil menggenggam telapak tangan dingin Kyuhyun, bersamaan dengan terlontarnya kalimat sederhana dari bibirnya.

 

“Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.” Suaranya pelan, semakin lama semakin hilang. Ia menundukkan kepalanya menyesal dan semakin mengeratkan genggamannya tak ingin kehilangan. Dongsaeng – nya yang lain ikut menunduk. Ikut larut dalam suasana.

 

Semuanya betah berlama – lama dalam posisi seperti itu. Menundukkan kepala dan menangis bersama.

 

“Hyung.” Salah seorang dongsaeng memanggilnya dengan suara amat kecil, nyaris tak terdengar.

 

Leeteuk menoleh ke belakang. Hening. Yang didapatinya hanya sorot – sorot bingung dan tidak mengerti apa yang Leeteuk maksud. Ketika kepalanya dipaksa untuk kembali pada posisi semula, seseorang yang selama ini ia tunggu sedang tersenyum tipis ke arahnya.

 

“Kyu, kaukah itu?” Tanya Leeteuk penuh tanda tanya. Yang ditanya hanya menjawabnya dengan senyum yang semakin dilebarkan. Memang terlalu sulit baginya untuk bicara saat ini. Kini bola mata indahnya sudah terlihat walau masih sesekali berkedip untuk menyesuaikan cahaya yang menusuk retinanya.

 

Siwon, Eunhyuk, Donghae, Ryeowook, dan Henry hanya bisa menganga dan saling bertatapan melihat itu. Kangin dan Heechul saling melirik dan tersenyum. Sisanya hanya menatap pemandangan di depannya dengan perasaan lega, seolah semua beban yang mereka pikul kini hilang tak berbekas. Tenang dan sepi, namun sejurus kemudian..

 

“YEAY!!”

 

“YUHUU!!”

 

“KYUHYUN SUDAH BANGUN! KYUHYUN SUDAH BANGUN!”

 

“BERSIAPLAH ATAS SEMUA KEJAHILAN YANG SEBENTAR LAGI DATANG!”

 

“EVIL SUDAH MENJADI DUA!”

 

“SENANGNYA SI SETAN KEMBALI!”

 

Sorak sorai histeris bagai supporter bola kini memenuhi ruangan VIP yang sebenarnya telah tertulis jelas di dalamnya ‘Dilarang Membuat Keributan’. Sampai seorang perawat masuk dan menceramahi mereka, barulah mereka semua kembali duduk diam menuruti perkataan Leeteuk.

 

“Cengeng.” Sebuah suara yang memang mereka rindukan selama ini terdengar walaupun sedikit tidak jelas.

 

“Masih sakit saja sudah berulah. Dasar bocah!-” Kesal Heechul. “-ini hadiah dariku.” ‘Cup’ Heechul mengecup kening Kyuhyun kemudian berlari ke arah sofa dan duduk membelakangi mereka semua—pipi namja itu merah merona akibat malu—.

 

“Yak! Heechul hyung malu, lihat dia~” Goda Kibum dengan raut datar sambil memaksa tubuh Heechul berbalik untuk memandang mereka semua.

 

“Oh, Jesus.” Siwon bergumam dengan hati lega, ia kembali tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.

 

“Hyun – ah.”

 

Kyuhyun beralih menatap Kangin yang memanggilnya, menunggu kalimat apa yang akan Kangin sampaikan padanya.

 

“Mungkin baru sekali ini aku melakukannya pada orang lain. Tapi-“ ‘CUP’ “-aku menyayangimu.” Ucap Kangin sembari mengecup pipi Kyuhyun dan ikut duduk di samping Heechul.

 

“Wah, wah, 2 orang sudah. Sekarang giliran kita!” Seru Ryeowook diikuti yang lainnya. Mereka berebut untuk mengecup Kyuhyun dan memutuskan untuk bermain batu gunting kertas sebagai penentu giliran.

 

Setelah selesai mengadakan game ‘Siapa Pertama Mengecup Kyuhyun’ buatan mereka sendiri, semuanya kembali ke tempat masing – masing dan tersenyum memandangi Kyuhyun.

 

“Hyung, aku lelah. Aku ingin tidur.” Ucap Kyuhyun hati – hati sambil menahan rasa sakit yang semakin terasa di tubuhnya, mungkin efek bekas operasi.

 

“Tidurlah.” Suruh Leeteuk sambil terus mengelus rambut Kyuhyun hingga Kyuhyun benar – benar memejamkan mata.

~~~

 

August 21th 2002, At Dorm 10:00 a.m. KST.

 

Di ruang makan dorm, 15 pria ini akhirnya kembali berkumpul. Lengkap tanpa kecuali. Mereka memang sedang merayakan hasil jerih payah mereka setelah bertugas kemarin. Dengan hati gembira, semuanya kembali bergurau. Teriakan dan tawa di mana – mana. Akhirnya ciri khas dorm mereka pun kembali.

 

“Sungguh hidup yang melelahkan.” Keluh Eunhyuk sambil menunggu makanan yang sedang disiapkan oleh Ryeowook, Hankyung, Sungmin, dan Henry.

 

“Kau harus makan yang banyak, supaya pipimu kembali.” Shindong tiba – tiba mengoceh pada Kyuhyun.

 

“Ya, ya, DAPAT! DAPAT!” Kyuhyun menjawab sekenanya dengan tangan yang masih sibuk memainkan game console terbaru dari Sungmin.

 

“Anak ini, benar – benar.” Gumam Yesung, secepat kilat ia merebut PSP dari tangan Kyuhyun.

 

“Hyung!” Teriak Kyuhyun.

 

“Makanan datang~” Sungmin datang sambil membawa makanan yang lumayan banyak, disusul Hankyung, Ryeowook, dan Henry di belakangnya yang juga membawa berbagai nampan dengan makanan porsi besar.

 

Yang lain ikut membantu untuk merapikan makanan di atas meja. Selesai ditata sedemikian rupa, mereka pun mulai menyantapnya.

 

“Selamat makan!” Seru semuanya kompak—Kecuali Kyuhyun—.

 

Kyuhyun masih cemberut sambil memicingkan matanya ke arah Yesung. Tak sedikit pun ia menyentuh makanan di hadapannya.

 

Yesung tidak ambil pusing, dia terus melahap makanannya tanpa mempedulikan Kyuhyun.

 

“Jangan cemberut begitu, aku kehilangan nafsu makanku. Cepat makan, jika ingin istrimu kukembalikan.” Ujar Yesung tanpa menatap Kyuhyun dan terus fokus pada makanan yang sedang disantapnya.

 

“Huh, kepala besar.” Cibir Kyuhyun sambil mulai mengambil sumpitnya dan menjumput jajangmyeon kesukaannya.

 

“Kau bilang kepalaku besar?” Tebak Yesung, ia menghentikan aktifitasnya dan menatap Kyuhyun dengan pandangan mengintimidasi.

 

“Bukan hyung, tapi ikan ini. Ahh~ kepalanya besar sekali hyung, melihatnya aku jadi lapar. Selamat makan!-“ Sahut Kyuhyun berbohong. Yesung masih belum percaya, sehingga ia terus melirik ke arah Kyuhyun sampai disaat tangannya telah memegang sumpit kembali. “-lagipula, apa hyung merasa kalau kepala hyung besar?-“ ‘UHUK’

 

Kyuhyun tersedak makanannya. ‘UHUK UHUK’

 

“Jangan membohongi Yesung hyung kalau tidak mau diganggu pengikutnya, Kyu. Astaga..” Kibum menasihati Kyuhyun sambil menepuk – nepuk punggung Kyuhyun pelan supaya batuknya reda.

 

‘UHUK’ “B-baiklah, aku menyerah.” Jawab Kyuhyun ketika batuknya sudah hilang.

 

Yang melihat kejadian itu hanya senyam – senyum, tak ingin tertawa di depan Kyuhyun. Karena mereka tahu Kyuhyun akan marah nanti. Akhirnya mereka semua pun melanjutkan makan mereka dengan hati gembira. Satu hal yang benar – benar membuat mereka bahagia saat ini.

 

“Mari kita rayakan keberhasilan kita dan kembalinya Kyuhyun!”

 

“CHEERS!” Mereka saling menyatukan gelas wine sehingga semua gelas saling berdentingan, kemudian serentak meminum isinya hingga tandas.

 

“Setelah ini, ayo ke game center!” Seru Donghae tiba – tiba.

 

“Besok saja Hae. Kyu, kamu belum pulih benar, ayo makan lagi.” Ucap Siwon yang dari tadi sibuk dan paling tanggap dengan semua kelakuan – kelakuan Kyuhyun. Siwon memang over protective jika sudah menyangkut Kyuhyun. Padahal Kyuhyun sendiri risih dengan perlakuan Siwon.

 

‘KRINGG KRINGG’

 

“Mengganggu saja.” Gumam Heechul.

 

Suara dering telepon rumah mengusik acara mereka. Dengan berat hati, Leeteuk mengangkat dan menyalakan loud speaker.

 

/ ‘Tut’ / “Terjadi penculikan salah satu putra dari seorang politikus Korea. Kuberi waktu 1 bulan untuk pelacakan.” / ‘Tut’ /

 

‘CTEK’

 

Serentak mereka semua telah berganti kostum layaknya mata – mata dengan masing – masing pistol di tangan mereka.

 

‘I Got You Little Run Away’

.

.

.

-END-

 

HORRAAAYYY!!! Udah END readers^^ gimana endingnya? Ngegantungkah? Emang sengaja, karena mau dibuat sequel hehe😀 yuk~ commentnya ^-^)b

1 Comment (+add yours?)

  1. farhatsmr
    Oct 21, 2016 @ 11:08:07

    KEREEEEENNN!1!1 SEQUEL JUSEYOOO!1!1!1 #CapsJebol

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: