Sede Vacante [1/?]

 

sedevacante

.

IJaggys

 

We talked about forever as if we would ever have more than a moment.

.

.

Today

Han Cheonsa terjaga dari tidurnya, saat suara langkah beberapa orang memenuhi ruang tidurnya. Perlahan dia bisa mendengar suara seseorang bergemuruh, mereka tidak lagi mementingkan dinding privasi. Di dalam pejaman matanya, dia akan membuat catatan panjang tentang bagaimana batasan pribadi berada.

Dia membuka matanya untuk yang pertama kali dan menemukan suaminya berdiri di ujung perapian dengan wajah yang menunduk. Beberapa pejabat tinggi dari badan pertahanan nasional berada disana, di kamar mereka.

“Goodmorning Miss Han, we’re sorry for the inconvenience—but we’re afraid you need to follow us.” Suara menteri pertahanan menghentikan langkahnya, seorang pelayan memberikannya robe untuk menutupi gaun tidurnya yang tipis.

Ketika menemukan menteri pertahanan disana, dia tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Cheonsa membiarkan beberapa pelayan membersihkan serpihan beling dari cangkir kopi yang selalu suaminya gunakan di pagi hari. Menteri Pertahanan masih menatapnya dengan dalam, tidak jauh darinya dia bisa melihat tetesan darah dari tangan suaminya.

“Apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan?” begitu banyak pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya. Dia memikirkan perjanjian pemberdayaan nuklir yang tidak berjalan dengan lancar, dia memikirkan titik kordinat misil yang telah diketahui oleh North Korea—dan dia memikirkan peristiwa terburuk, peristiwa yang selalu memenuhi kepalanya sejak pertama kali dia mendengar negaranya mengibarkan bendera perang.

Mereka telah membunuh sang Presiden.”

***

Yesterday

Lee Donghae membuka pintu Aston Martin-nya dengan gelisah. Beberapa pelayan membungkukan tubuh mereka dengan hormat ketika Donghae memasuki rumah mewah bergaya renaissance.

“Nona Han telah menunggu anda sejak semalam, dia berada di ruang kerja Tuan.” Begitu mendengar ucapan dari ketua pelayan, Donghae menatap jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Memikirkan pembicaraan apa yang akan dia lalui dengan istrinya, dan dia tahu bahwa pembicaraan ini bukanlah pembicaraan ringan dimana istrinya membahas bawa dia tidak bisa menemukan koleksi parfum Chanel nya dari dalam ruangan walk-in-closet nya. Lebih dari itu.

Dia membuka pintu ruang kerjanya hanya untuk menemukan wanita berambut coklat nilon, dengan kelopak mata berwarna samudra menatapnya dengan tenang. Dia bisa melihat empat lembar kertas dan satu tabloid kacangan berada di atas meja kerjanya.

Han Cheonsa begitu sempurna, bahkan hanya dengan menggunakan gaun tidurnya. Wajah indahnya terkena paparan sinar matahari pagi.

“Aku bisa menjelaskannya.” Donghae memulai kata-katanya dengan fondasi yang lemah, dia tahu seberapa pintar istrinya untuk menemukan satu tiitk kelemahan dalam ceritanya. Cheonsa bisa mengetahui apapun tentang dirinya dan kebohongannya.

“Menjelaskan tentang bagaimana kau bermain dengan sekertarismu, dan membuat skandal ini berada di halaman utama tabloid sampah seperti ini?” Cheonsa melemparkan tabloid yang memuat wajah dirinya dengan seorang wanita, namun intensitas suara wanita itu masih sangat tenang.

Ini bukanlah hal yang baru dalam pernikahan mereka. Lee Donghae seakan selalu mencari cara untuk melepaskan Cheonsa dari kehidupannya. Hubungan ini terjalin karena pernikahan politik yang disetujui oleh keluarga Lee dan keluarga Han. Mereka bahkan tidak mencintai satu sama lain.

Cheonsa berjalan ke arahnya, aroma parfum wanita lain melingkar di tubuh pria itu. Satu tanganya membenarkan posisi dasi Donghae, mata samudranya menatap suaminya.

“Aku tidak perduli dengan wanita mana yang kau tiduri di belakangku, tapi aku tidak akan membiarkan skandalmu merusak nama baik keluargaku. Kau adalah putra sang presiden, semua yang kau lakukan akan selalu mereka bicarakan. Mereka tidak akan terkejut jika kau berperilaku seperti sampah, tapi mereka akan terkejut jika aku menendangmu seperti sampah, dan aku tidak ingin itu terjadi, Lee.”

Donghae tidak berbicara, dia hanya menatap Cheonsa untuk waktu yang sangat lama—membiarkan jemarinya yang indah menyentuh rahang wajahnya dengan lembut.

“Tapi kau tentu tahu apa yang bisa aku lakukan, bukan? Aku bisa menyingkirkanmu dalam hitungan detik, dan aku bisa memastikan bahwa kehidupanmu akan sangat menyakitkan setelah itu.”

Deru nafasnya masih berhembus di lapisan kulitnya, wangi bunga Corporel menyambut penciumannya. Siapapun akan menebak bahwa pernikahan mereka berjalan dengan sempurna, Han Cheonsa—wanita itu memaikan lakonnya dengan hebat, dia membuat semua orang percaya bahwa pernikahan mereka hidup dalam mimpi yang indah.

“Dimataku kau tak lebih dari seonggok sampah yang bisa aku singkirkan kapapun, dan sebelum waktu itu tiba—bertahanlah.” Cheonsa menyapukan ciuman lembut di bibir Donghae, bibirnya terasa sangat dingin, tidak ada cinta disana, yang tersisa hanyalah sebuah kekosongan yang berada diantara mereka.

Cheonsa melepaskan bibirnya dari Donghae, dia menatap suaminya untuk beberapa saat kemudian tersenyum indah seperti tidak ada yang terjadi diantara mereka.

“Aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan air hangat untukmu, setelah itu kita bisa menikmati sarapan bersama.”

Lalu sosok sempurna itu menghilang dibalik pintu besar, meninggalkan Lee Donghae dengan satu hembusan nafas yang sangat panjang.

Han Cheonsa tidak akan pernah tinggal diam.

***

Today

“You seem a little defensive, Han.” 

Han Cheonsa mengangkat wajahnya dari cangkir tehnya, dan dia memulaskan senyumannya saat menyadari siapa pemilik suara itu. Cho Kyuhyun berdiri dengan tuxedo berwarna biru tua dari Hamilton, rambutnya terpotong dengan rapih menampilkan garis wajahnya yang dingin.

“It’s been a long day, Cho.” Cheonsa menyambut pelukan Kyuhyun, satu tangannya menyentuh pinggang Cheonsa dengan protektif. Matanya menatap iris samudra itu dengan dalam, sebelum dia melepaskan pelukannya dan memutuskan untuk ikut bergabung dengan Cheonsa di perpustakaan pribadi yang terdapat didalam Istana Presiden.

“Aku tidak melihatmu saat upacara pemakaman tadi?” Kyuhyun mengeluarkan satu kotak rokok berlabel Davidoff dari saku celananya, dia lalu menyulutnya dengan pemantik berlambang Rampante Cavallino—seakan tidak memperdulikan larangan merokok disetiap sudut Istana Presiden.

“Sebut saja, upacara pemakamannya terlalu pagi.” Cheonsa menjawab dengan acuh. Hanya dari nada bicaranya, Kyuhyun tahu bahwa wanita itu berada disini hanya karena dia harus berada disini, bukan karena dia benar-benar berduka untuk kepergian sang Presiden—Ayah dari suaminya.

“Kau tidak menemui suamimu? Dia terlihat sangat terpukul. Ayahnya mati karena dibunuh oleh sniper dari North Korea. Aku pikir dia pasti sangat membutuhkanmu.” Kyuhyun menghembuskan asap rokok dari bibirnya, dan dia terkejut karena Cheonsa merasa tidak terganggu atau menyuruhnya untuk mematikan rokoknya.

“Itu adalah kata-kata yang sangat bagus, dari seseorang yang benar-benar membenci Lee Donghae.” Cheonsa mengulaskan senyuman kecilnya, tanda bahwa dia tertarik dengan arah pembicaraan Kyuhyun.

Di luar sana, ratusan petinggi negara masih memenuhi ruang utama Istana Presiden. Mereka semua terlihat sangat terkejut, dengan tragedi politik yang menimpa salah satu pemimpin negara yang paling dihormati.

“Aku membencinya. Tapi kau adalah istrinya, setidaknya kau harus berada disana hanya untuk kosumsi publik. Kau tahu, semua mata tertuju kepadamu. Jadi ketika kau menghilang dari mata publik, mereka akan memulai membuat sebuah cerita fiksi dimana kau memutuskan untuk meninggalkan si brengsek itu.”

Oh, dia sungguh berharap bahwa apa yang dia katakan menjadi kenyataan. Han Cheonsa meninggalkan Lee Donghae. Tapi dia tahu bahwa semua itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, tidak ketika Lee Donghae masih menjadi putra sang presiden. Namun kini sang presiden telah pergi, dan Han Cheonsa tidak perlu menunggu apa-apa lagi.

“Jadi, kapan kau akan mengirimkan surat gugatan cerai kepadanya?” Kyuhyun bertanya dengan suara yang rendah, namun tidak mengurangi intensitasnya bahwa dia mengharapkan Cheonsa berpisah dari Donghae secepatnya.

“Secepatnya.” Cheonsa menjawab dengan tenang, dia telah memikirkan hal ini sejak pertama kali dia mendengar kabar kematian sang presiden. Kini Ayahnya tidak memiliki tameng apapun lagi utuk menahannya agar tetap bertahan dalam pernikahan yang tidak pernah diinginkannya.

“Setelah semua ini berakhir, aku akan keluar dari rumahnya. Lalu aku akan mengirimkan surat gugatan cerai, aku tidak akan menunggu keputusannya. Aku bisa menyingkirkannya kapanpun, ini hanya masalah waktu.”

Kyuhyun tersenyum dengan puas setelah mendengar jawaban Cheonsa. Itu adalah jawaban yang telah dia tunggu sejak pertama kali Cheonsa menikah dengan Donghae. Kyuhyun mematikan batang rokoknya dengan ujung sepatunya, lalu dia mengenggam tangan Cheonsa yang duduk disebelahnya.

“Lalu setelah ini kemana kita akan pergi?” pertanyaan itu terdengar menjanjikan. Bayangan dirinya dan Cheonsa berada disebuah kota eksotis dimana tidak ada satupun yang mengenal mereka, akan selalu beraada didalam pikirannya.

“Mungkin tetap berada di Istana Presiden.” Cheonsa menyentuh wajah Kyuhyun dengan satu tangannya, membuat kening Kyuhyun berkerut dengan bingung.

“Ayahmu adalah wakil Presiden, dan aku yakin setelah semua ini Ayahmu akan menggantikan posisi Ayah Donghae. Tapi aku tahu, bahwa Ayahmu akan menyerahkan kekuasaan itu kepadamu—lalu kau tahu bagaimana semua ini akan berjalan.”

Kyuhyun mengecup kening Cheonsa dengan singkat, menjadi seorang presiden atau tidak, selama dia memiliki samudra itu dia merasa lebih dari cukup. Mereka tidak memiliki hubungan gelap, Kyuhyun adalah pria terhormat yang menolak hal-hal seperti itu—tidak seperti Donghae yang bermain dengan ratusan wanita dibelakang Cheonsa.

Mereka pernah memiliki hubungan, jauh sebelum pernikahan politik itu ada. Hubungan mereka begitu menjanjikan, dengan masa depan yang telah teratur secara statis oleh garis hidup mereka. Tapi Ayah Cheonsa datang dengan seribu pemikirannya, memiliki putra presiden jauh lebih baik dibandingkan memiliki wakil putra presiden—sehingga hubungan mereka harus berakhir.

Dia bisa saja terus merajut hubungan itu dengan Cheonsa, tapi dia tahu bahwa itu semua akan menghancurkan mereka berdua. Jadi ketika menemukan situasi tak terduga seperti ini, sedikit harapan yang hilang kembali muncul dan dia tidak sabar menyaksikan kemungkinan-kemungkinan yang telah menunggu mereka di depan sana.

“I want to keep you forever, Han.” 

Langit sudah semakin gelap, satu per satu dari mereka mulai meninggalkan istana presiden itu. Genggamannya masih terasa hangat di tangannya. Mereka bisa membicarakan kemana mereka akan pergi, kemana mereka akan memulai semuanya, dan meninggalkan apa yang mereka miliki disini.

Tapi mereka berdua tahu, bahwa semuanya tidak sesederhana itu. Jadi, yang Han Cheonsa lakukan adalah, memutar tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Kyuhyun sebelum mengecup sudut bibir pria itu dengan lembut.

“We talked about forever as if we would ever have more than a moment. We both knew, but it was nice to pretend, even if for but a moment.”

Ya, semuanya tidak semudah itu.

***

“The loving you have shown during this tremendously difficult time is so greatly appreciated. The white lilies you sent were exquisite. I know that President Lee would have truly adored them. On behalf of my family, I thank you.” Han Cheonsa menjabat tangan menteri pertahanan dengan senyuman sistematisnya, orang pertama yang menyampaikan kabar buruk itu.

Menteri pertahanan adalah orang terakhir yang meninggalkan Istana Presiden. Ruangan itu kini hanya berisi Lee Donghae dengan dirinya, seluruh keluarga Donghae berada di lantai atas, berdiskusi bersama sekertaris negara tentang tahta kosong kedudukan presiden di negara ini.

“Where were you?” Pertanyaan Donghae memecah keheningan disana, Cheonsa menaruh bunga lili putih disebuah vas Kristal yang berada diujung ruangan sebelum menatap suaminya dengan tenang. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Cheonsa sejak tadi pagi. Wanita itu bahkan tidak muncul di upacara pemakaman Ayahnya.

“It doesn’t matter where am I. But the eulogy you delivered for your father, was beautiful.” Cheonsa memulaskan senyuman singkatnya, sekali lagi dia berada disana hanya karena dia harus berada disana.

“You supposed to be there, even if you hate me. But maybe this was it. Maybe there’s nothing left.” Donghae tahu bahwa ini adalah yang diinginkan Cheonsa sejak lama, berpisah dengannya. Meninggalkannya.

“How long before we realize that the sky is not falling but that it is just us that came crashing to the ground, Lee?” 

Cheonsa berdiri disana, terlihat begitu indah—hingga bunga lili putih disampingnya terlihat seperti barisan rumput liar yang mengering. Dia tidak pernah mengerti mengapa seseorang bisa begitu sempurna dan tidak sempurna di waktu yang sama. Dan dia tidak pernah mengerti mengapa dia terus menyakiti wanita itu.

“I’ll find my way out. Just not tonight.” Cheonsa berjalan mendekat ke arah Donghae, dia mengecup wajah Donghae sebelum meninggalkan ruangan itu.

“So tell me, what now?” ini semua hanya masalah waktu hingga Cheone memberikannya surat gugatan cerai itu, dan dia sudah siap bahkan jauh sebelum kepergian Ayahnya.

Cheonsa menghentikan langkahnya, samudra itu menatapnya dengan dalam.

“Everything will always feel wrong. Waking up and wrapped in arms that don’t know how to love you.” Cheonsa menghentikan kata-katanya diudara, seakan menimbang haruskah dia menyelesaikan semua ini atau menunggu hingga hari berduka Lee Donghae berakhir.

Tapi sebelum dia berhasil mengeluarkan kata-kata itu, derit suara pintu menggema mengisi ruangan itu, dan Cho Kyuhyun berdiri disana dengan tatapan dinginnya.

“Maaf, tapi sepertinya aku harus menganggu pembicaraan kalian.”

Dan detik itu Lee Donghae tahu bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

.

.

.

-TOBECONTINUE-

.

.

.

Hi, this is just my experiment with new genre. Sure it’s a lil bit related to political party, and Sede Vacante is a form of expression when the chair of authority has been vacant due to death of the President/King. Comments and reviews are greatly appreciated!

xo

IJaggys

Personal Blog:  https://beckhamlovesbadda.wordpress.com

 

7 Comments (+add yours?)

  1. missrumii
    Aug 17, 2016 @ 14:10:51

    Udah nasib buruk buat Lee Donghae, wakil presiden bakal naik jadi presiden dan dia bakal ditendang

    Reply

  2. Gaemotional Cho
    Aug 17, 2016 @ 15:48:02

    keren, penasaran donghae sebenernya cinta apa nggak sama istrinya?

    Reply

  3. Yuki
    Aug 17, 2016 @ 16:14:53

    hubungan yang compilcated… aarrgghhh,,, nggak sabar nunggu kelnjutannyaaa

    Reply

  4. ayumeilina
    Aug 17, 2016 @ 20:50:15

    Cho Kyuhyun yang terhormat. Gentle banget lu Cho. Biasanya suka aja kalo Cheonsa sama Hae. Tapi dalam kasus ini, berharap banget Cheonsa bisa sama Kyu. kekekeke
    Lanjutan di tungguin
    Her.nya juga di tungguin banget loh.. 😎

    Reply

  5. Hana
    Sep 01, 2016 @ 21:42:31

    donghae menderita wkwkwk duh senyum evil merekah pas baca this continued ff good job kak sonia :v

    Reply

  6. Afwi
    Sep 05, 2016 @ 07:33:03

    Waah, ceritanya keren, complicated.
    Skarang Jarang ada ff yg begini temanya, TT

    Reply

  7. josephine azalia
    Sep 28, 2016 @ 14:11:58

    LANJUT PLEASE THOOORRRRRRRRRRRRRRR

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: