Can’t Let You Go [1/4]

clyg cover

Can’t Let You Go [1/4]

Storyline by EMA (ElsKyu_)

Genre : AU, Married Life, Sad, Angst, & Romance

Cho Kyuhyun & Lee Eunhye (OC)

 

 

Takdirmu sendiri telah mengikatmu dari lahir dan sampai mati pun kau tidak akan pernah bisa lari darinya, meski itu hanya sejengkal untuk mengambil napas sejenak.

 

 

—Can’t Let You Go—

 

“Sayang, sampai kapan kau mau tidur begini? Cepat bangun sebelum aku mencubit perutmu!”

Kyuhyun merasakan adanya tepukkan ringan di atas perutnya, memaksanya terbangun dari mimpi yang telah memanjakan alam bawah sadarnya semalam. Dengan berat hati pria itu mencoba untuk membuka kedua matanya yang masih terasa amat sangat berat layaknya ditimpa oleh beban yang tak terkira atau lebih tepatnya seperti diberi lem perekat cap gajah yang lengketnya bukan main.

Tapi, sayangnya perjuangan pria itu terkalahkan oleh hembusan angin menyejukkan dari air conditioner yang mati-matian membujuknya untuk kembali terlelap, kembali untuk bermimpi tentang kehidupan normalnya sebelum hal itu terjadi. Di saat semua rasa bahagia yang timbul terasa akan abadi tanpa ditemani oleh kesakitan sama sekali, bukan seperti khayalan semu yang nyatanya sedang tersaji untuk babak kehidupannya kali ini.

“Oh, rupanya kau memilih poin kedua, yah… Baiklah!”

 

1…

2…

3…

 

“Eh, siapa bilang? Buktinya sekarang aku bangun,” ujar Kyuhyun yang masih setia memejamkan matanya, suaranya pun terdengar parau khas orang yang baru saja bangun dari tidur. Ia melakukan hal itu karena ia masih memikirkan tentang citranya sebagai seorang suami, tidak elit jika paginya harus diawali oleh cubitan super dari wanita yang telah ia nikahi dua tahun silam.

“Tapi, matamu tidak terbuka, Kyuhyun-ah. Padahal aku ingin sekali menjadi sesuatu yang pertama kali kau lihat di saat kau membuka mata,” lirih Eunhye yang sontak membuat kedua mata Kyuhyun sukses terbuka lebar. Dengan sigap pria itu menangkup wajah istrinya yang terlihat muram di pagi yang cerah ini, membuat dirinya merasa bersalah karena sudah jarang sekali mengupayakan adanya senyuman murni di wajah anggun itu.

“Kau ini bicara apa, hm? Jelas-jelas selama ini kaulah yang pertama kali aku lihat ketika aku membuka mata, bukan ponsel, jam, ataupun benda lain. Lagipula memangnya kau mau pergi kemana, Sayang?” Kyuhyun melontarkan perkataannya dengan sangat merdu dan intens, tak lupa tatapan hangat pun ia berikan untuk Eunhye.

“Niatnya sih aku mau memasak sesuatu untukmu, tapi aku baru ingat kalau aku hanya bisa membuat roti isi selai.” Wajah muram temaram yang berada di wajah Eunhye beberapa menit lalu seketika terganti dengan senyuman lebar penuh jenaka, berbeda dengan Kyuhyun yang malah terkejut dengan perkataan istrinya.

“Ah, aku… aku suka roti isi selai.”

Sebelum mendengar kicauan Eunhye lagi, Kyuhyun langsung memutuskan untuk bangkit dari posisi tidurnya dengan gerakan yang kaku, berjalan menuju lemari besar yang berada di sudut kamar mewah mereka untuk mengambil segala kebutuhan yang akan ia gunakan untuk pergi ke kantor pagi hari ini.

Eunhye yang melihat itu pun hanya dapat menghela napasnya dengan kasar, menahan bendungan cairan bening yang entah sejak kapan sudah terkumpul di pelupuk matanya. Ia tahu perkataannya salah, tapi akan lebih salah lagi jika ia menyembunyikan keinginan terbesarnya dari Kyuhyun.

“Bisa tolong bantu aku duduk? Tubuhku rasanya sakit semua,” pinta Eunhye dengan suara yang bergetar, berhasil membuat Kyuhyun menoleh dan berjalan dengan cepat ke arahnya. Dengan telaten Kyuhyun membantu Eunhye untuk duduk dan menyandarkan tubuh ringkih istrinya itu ke kepala ranjang mereka, dilanjutkan dengan memeriksa inchi demi inchi tubuh wanita itu dengan perasaan yang amat khawatir.

“Tidak usah memperiksa bagian kakiku, kau tahu sendiri mereka sudah tidak berguna.” Tubuh Kyuhyun menegang setelah mendengar penuturan lemah Eunhye, berharap wanita itu tidak akan mengatakan hal serupa untuk kesekian kalinya.

“Setidaknya kau masih memilikinya, Sayang.”

“Menurutmu untuk apa aku memiliki sesuatu yang tidak berguna? Bahkan aku sendiri—”

“Hentikan omong kosongmu itu, Lee Eunhye!” titah Kyunhyun yang tidak sadar sudah mencengkram dengan erat pergelangan tangan Eunhye untuk menghentikan pernyataan yang selalu ia anggap omong kosong belaka.

Eunhye menoleh pada Kyuhyun yang berada persis di sampingnya, melayangkan tatapan penuh kesakitan yang selalu menjadi santapan pembuka hari-hari Kyuhyun selama delapan bulan terakhir.

“Bahkan aku sendiri sudah tidak berguna lagi untukmu… Kau tahu, kan?”

 

Kyuhyun mengendurkan genggamannya pada pergelangan tangan Eunhye setelah mendengar kalimat laknat yang lagi-lagi terucap dari bibir pucat istrinya itu. Bukan untuk pertama kali, tapi selalu sukses membuatnya frustrasi.

Kenyataannya pria itu memang tidak pernah siap dengan kehadiran takdir yang tengah menjadikannya sebagai bahan untuk diperolok, mengikutsertakan istrinya seperti boneka yang tak memiliki nyawa. Memaksanya untuk selalu melangkah dengan mengutuk Tuhan yang menciptakan takdir, dengan anggapan bahwa Tuhan tidak akan memberikan hari yang indah untuk dirinya lagi.

 

—Can’t Let You Go—

 

Kecelakaan mobil tunggal yang menimpa Kyuhyun dan Eunhye delapan bulan silam sukses memberikan perubahan signifikan kepada hubungan rumah tangga mereka. Perubahan drastis tersebut disebabkan oleh kondisi Eunhye yang tak lagi memungkinkan untuk menjadi istri yang sempurna untuk Kyuhyun setelah kejadian tragis itu, yah, sungguh miris karena wanita yang sangat mengabdi kepada suami seperti dirinya harus kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Lain cerita dengan Kyuhyun yang hanya mengalami beberapa luka ringan meskipun dirinya berada di balik kemudi saat itu, ia tetap dapat menjalankan aktivitas normalnya hanya dalam kurun waktu satu minggu dari insiden kecelakaan tersebut. Berusaha bangkit dari masa keterpurukkan dengan kembali memimpin perusahaan binaannya, tanpa mengetahui bahwa istrinya tengah berharap ia menjadi cacat sama seperti dirinya.

Bukan hanya kondisi fisik, nyatanya psikis Eunhye juga banyak terganggu setelah mengetahui bahwa ia menjadi wanita yang cacat permanen. Ia menjadi sering melamun dan menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, menangis meraung-raung ketika Kyuhyun tidak di sampingnya, tertawa terbahak-bahak ketika ada orang yang menjenguknya, dan yang lebih parah adalah kecenderungan Eunhye untuk melukai fisiknya sendiri ketika ia berada di ambang rasa frustrasinya. Yah, semua menjadi jelas ketika akhirnya psikiater memberi diagnosa bahwa istri dari Cho Kyuhyun itu mengidap penyakit mental yang kronis, yaitu self injury.

Sayangnya, Kyuhyun terlalu naif dengan memilih untuk tidak mempercayai bahwa istrinya telah berubah total, sebisa mungkin ia meyakinkan orang-orang di sekelilingnya dengan mengatakan bahwa Eunhye tidak gila seperti apa yang selama delapan bulan terakhir mereka tudingkan. Tindakkan gegabah lain yang ia lakukan adalah memberhentikan psikiater yang awalnya bertugas memulihkan kesehatan mental Eunhye hanya karena sang psikiater mendiagnosis istrinya itu mengalami self injury yang benar adanya, tanpa berpikir panjang tentang kesehatan mental Eunhye yang makin memburuk tanpa adanya penanganan dari psikiater tersebut.

Yah, nyatanya Kyuhyun tidak melakukan apa pun untuk memulihkan kondisi Eunhye, ia hanya melakukan apa yang ia anggap benar karena penolakkan batinnya yang mengatakan bahwa Eunhye akan baik-baik saja asalkan bersamanya.

“Aku rasa perusahaan ini akan bangkrut jika CEO-nya terus saja melamun.” Sebuah suara bass yang familier mengusik lamunan tak berguna Kyuhyun, membuat bos besar itu kembali terduduk dengan tegak di singgasananya.

Pria pemilik suara bass itu hanya bisa tersenyum mencibir melihat gelagat Kyuhyun yang tampak seperti maling yang baru saja tertangkap basah sedang mencuri pakaian dalam seorang wanita. Dengan tidak terlalu peduli pria itu langsung saja merebahkan tubuh jangkungnya di sofa panjang nan mewah yang berada di ruangan Kyuhyun, mengabaikan tatapan jengah yang bosnya lemparkan kepada dirinya.

“Bisakah sehari saja kau tidak mengusikku, Tuan Oh Sehun?” tanya Kyuhyun kepada pria jangkung sekaligus pemilik suara bass yang bernama Oh Sehun tersebut.

“Tidak sebelum kau menaikkan gajiku,” jawab Sehun yang diselingi oleh kekehan kecil yang lolos dari bibir tipisnya.

“Tunggu sebentar… kau ingin aku menaikkan gajimu?”

“Ya, Tuan Cho Kyuhyun! Sekretaris pribadimu ini hampir mirip seperti seorang gelandangan karena hanya mendapatkan upah sebesar 7.500.000 won setiap bulannya.”

“Baiklah, akan aku pikirkan nanti.”

Sehun terlonjak kaget ketika mendengar tanggapan Kyuhyun yang cenderung serius, ia kembali memperhatikan pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri yang ternyata sudah mulai melamun lagi. Sehun mengacak rambutnya frustrasi, ia tahu pasti ada yang terjadi di kediaman Kyuhyun sebelum ia berangkat ke kantor pagi ini, pasti.

“Ada apa? Eunhye baik-baik saja?” tanya Sehun yang mulai mendekatkan dirinya kepada Kyuhyun dengan cara duduk di kursi yang berseberangan dengan bos sekaligus seniornya saat ia menjadi mahasiswa di Universitas Kyunghee dulu.

“Hah, dia ingin memasak sesuatu untukku, Hun. Aku—aku tidak pernah tega ketika melihat dia mengharapkan sesuatu yang mustahil dan hanya bisa menyakiti dirinya sendiri. Apa kau tahu? Rasanya seperti disuntik racun strychinie yang membuatku mati secara perlahan,” tutur Kyuhyun dengan sangat lirih, berbanding terbalik dengan Sehun yang mengepalkan tangannya dengan kuat setelah mendengarkan penuturan hyung-nya tersebut.

“Lalu apalagi? Pasti ada yang lain.”

“Ya, awalnya dia bilang bahwa dia iri kepadaku yang dapat berjalan dengan bebas tanpa bantuan apa pun. Jujur saja, mendengar penuturannya itu aku merasa senang karena setidaknya dia bisa mempertimbangkan kembali tawaranku untuk menggunakan kursi roda. Tapi realita tidak pernah semulus ekspetasi, nyatanya ia kembali meludah kepadaku dan lebih-lebih menyuruhku membawanya ke dokter bedah untuk mengamputasi kakinya,” sambung Kyuhyun yang mulai memijat kepalanya yang terasa amat pening dengan hanya mengingat ucapan istrinya ketika ia akan berangkat ke kantor pagi tadi.

“Baguslah kalau begitu,” tanggap Sehun yang tersenyum puas, membuat Kyuhyun melotot tidak percaya saat itu juga.

“A—apa? Kaubilang apa tadi, hah?!”

“Bukankah itu yang selama ini kau idam-idamkan, Hyung? Jelas-jelas kau tidak ingin Eunhye sembuh dan membiarkannya hidup sebagai orang lain dengan mengambil keputusan untuk memberhentikan Dokter Kim sejak enam bulan yang lalu. Jadi katakan saja padaku, kau ingin kado istimewa yang seperti apa? Hm, istri barukah?”

 

BRAK!!!

 

“Persetan dengan ucapanmu, Oh Sehun! Istriku sama sekali tidak gila sampai harus dirawat oleh seorang psikiater sialan itu!” murka Kyuhyun setelah menggebrak meja kerjanya sendiri, “seharusnya kau malu dengan sikapmu yang satu ini, tidak tahu apa-apa tapi berani ikut campur!”

Sehun hanya bisa tersenyum samar melihat Kyuhyun yang terpancing emosinya, jari-jari Sehun sendiri sudah mulai memutih karena ia mengepalkan tangannya dengan terlalu kuat dan tak berjeda. Rasanya ingin sekali ia meninju Kyuhyun habis-habisan karena pria itu masih saja teguh pada pendiriannya yang konyol dan membuatnya muak, tapi semaksimal mungkin Sehun berusaha menjadi pihak yang waras tanpa harus mengikuti jejak Eunhye dan Kyuhyun yang sudah sama-sama sakit di matanya. Dan yah, mencoba sedikit untuk mengerti tentang perasaan Kyuhyun.

“Siapa yang bilang istrimu gila?” tanya Sehun sambil mengalihkan pandangannya ke arah chandelier mewah bertahtakan berlian yang menggantung dengan indahnya di tengah ruangan pribadi Cho Kyuhyun, “ia sakit dan butuh pengobatan, itu saja menurutku. Self injury yang ia alami membuat dirinya terpaksa menyiksa dirinya sendiri yang tidak dapat mengendalikan emosi. Mulai dari pergelangan tangan, betis, perut, hingga kepala nyatanya tidak lolos dari sayatan-sayatan pisau yang ia torehkan.

Tapi, kau sendiri yang membuat Eunhye lebih tersiksa dengan terus-terusan menghukum dirimu sendiri atas apa yang terjadi dan mencoba untuk lari dari takdir. Tidakkah kau tahu? Takdirmu sendiri telah mengikatmu dari lahir dan sampai mati pun kau tidak akan pernah bisa lari darinya, meski itu hanya sejengkal untuk mengambil napas sejenak. Janganlah membuat dirimu lelah dengan semua ini, Hyung. Berhentilah berlari dan mulailah memperbaiki hal-hal yang rusak bersama Eunhye, bina semuanya sebelum terlambat dan rengkuh Eunhye kembali ke pelukanmu. Pelukan hangat yang sesungguhnya dan dapat mengembalikan jiwa dan raga Jiseul dari masa penolakkan atas dirinya sendiri.”

Kyuhyun terpaku mendengar perkataan Sehun yang tidak bercelah sama sekali, menarik arwahnya dengan paksa untuk menghadapi kenyataan yang ada tanpa harus berlari lagi. Bukan hanya Tuhan yang tahu, tapi nyatanya Sehun juga tahu bahwa ia sudah kelelahan karena selalu lari dari takdir dan melupakan kenyataan bahwa takdir tersebut berada di genggamannya sendiri. Terlalu dekat dan hanya bisa lepas melalui sebuah kematian.

“Sebenarnya aku juga enggan terus-terusan berlari dari garis takdirku sendiri, tapi entah mengapa Tuhan sama sekali tidak pernah mau berdamai denganku. Aku tahu dulu aku sering bermain panas dengan wanita, menghambur-hamburkan uang hasil kerja keras ayahku, dan mabuk-mabukan hampir setiap malam, tapi itu dulu sebelum aku bertemu Eunhye, Sehun-ah. Dia seperti air mujarab yang menyembuhkan segala penyakit hatiku hanya dengan melalui pancaran matanya yang ceria, dia membuatku bertobat dan memutar balikan kehidupanku menjadi lebih baik. Tapi, kenapa Tuhan tetap saja menghukumku dengan bengisnya meskipun aku telah bertobat? Ah, tidak—dia boleh saja menghukumku sesuka hatinya sampai dia puas sekali pun, tapi kenapa Eunhye juga ia libatkan dalam hukumanku yang sukar ini? Apa salahnya? Kenapa dia malah membuat Eunhye cacat dan bukan aku saja? Keadilan seperti apa yang sekarang Eunhye dapatkan?” Pertahanan Kyuhyun tumbang seketika, kedua tangan besarnya ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang saat ini telah diliputi oleh aliran air mata frustrasi yang selama ini ia tahan mati-matian. Ia menyerah atas keputusan Tuhan yang terlampau kejam, ia bahkan rela menebus segala dosanya dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Asalkan… Istrinya tidak lagi terluka seperti saat ini.

“Bagaimana kalau ini bukan hukuman melainkan sebuah ujian?”

“Apa maksudmu, Sehun-ah?”

Sehun tersenyum amat manis mendengar pertanyaan Kyuhyun, dengan gerakan pasti pria itu mengeluarkan sapu tangan branded dari kantung celana kerjanya. “Hapus dulu air matamu, kau harus lebih kuat mulai saat ini.”

 

—Can’t Let You Go—

To Be Continued…

 

8 Comments (+add yours?)

  1. Nikyu
    Aug 24, 2016 @ 17:39:40

    Benar apa yang dikatakan sehun bahwa yang membuat keadaan istrinya semakin buruk ya kyuhyun sendiri,yang seakan lari dari takdir.

    Reply

  2. lieyabunda
    Aug 25, 2016 @ 15:54:41

    kyu kok kaya nya stress juga yaa,,,,
    lanjut

    Reply

  3. yesyahae
    Sep 02, 2016 @ 06:20:10

    Next art..
    kyu kasian dia frustasi krn istrinya dan aku lebih kasian lg sm istrinya kyu yg kehilangan kakinya…
    Semoga merka selau diberi ketabahan aminnnn

    Reply

  4. josephine azalia
    Oct 03, 2016 @ 19:39:17

    lanjut pliss

    Reply

  5. Trackback: Can’t Let You Go [2/4] | Superjunior Fanfiction 2010
  6. ddianshi
    Nov 24, 2016 @ 22:51:21

    Kasian sungguh sama eunhye 😦 semoga kyu tetap berada disamping istrinya entah dikeadaan baik or buruk 😥 kenapa kyu memberhentikkan pengobatan eunhye? munhkin dengan eunhye beroba bisa sembuh 😥

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: