Destiny [2/?]

PicsArt_1461970463296

Nama penulis : Eunhaecutiepie

Judul : Destiny

Tag : Lee Donghae, Cho Kyuhyun

Genre: Romance

Rating : PG-13

Length : Chapter

My wp : eunhaecutiepie.wordpress.com

 

 

Part 2

 

 

TOK TOK TOK

“Masuk.” Ucap seorang wanita tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang menumpuk di meja dan siap untuk di tanda tangani.

Beberapa saat kemudian seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam berjalan tegas menghampiri meja wanita itu dan menyerahkan sebuah map yang sepertinya terdapat banyak dokumen penting.

“Penyelidikan kita selama dua tahun ini menemukan sebuah titik terang presdir Lee.”

Wanita itu sontak menghentikan aktifitas tangannya.

“Benarkah?” ia menatap laki-laki yang ada di depannya dengan mata yang berbinar, seolah-olah dia baru saja mendapat tropi untuk lari marathon 10 kilometer.

“Mobil itu jatuh ke jurang yang tidak terlalu dalam, dan hanya terbalik beberapa kali, tidak sampai meledak. Saya yakin orang yang berada di dalam sana masih bisa bertahan hidup walaupun memiliki beberapa luka yang cukup berat. Dan itu terjadi pada tuan Lee, nyonya Lee, dan anda. Sedangkan tuan muda lee, terpental lewat jendela dan jatuh di hutan yang berada di pinggir jurang itu.”

“Maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Dia tidak jatuh ke dasar jurang seperti yang polisi perkirakan selama ini, kemungkinan besar tuan muda terpental lewat jendela dan jatuh di hutan yang ada di sepanjang jurang itu. Karena jurang itu landai, dan berbentuk seperti jalanan yang menanjak, aku yakin dia masih selamat karena kemungkinan hanya jatuh beberapa meter saja dari udara, kami menemukan ini di hutan yang ada di sepanjang jurang itu, apakah ini milik tuan muda?”

Laki-laki itu menyerahkan sebuah jaket biru yang sudah sangat lusuh, masih ada bekas tanah menempel di permukaannya.

Dan air mata itupun menetes dari kedua mata indahnya saat ia melihat kembali jaket yang digunakan kakaknya saat kecelakaan itu terjadi.

“Oppa…”

Yonghee menggambar pola tak beraturan menggunakan jari tangannya di atas meja, sudah satu jam lebih ia berada di sini semenjak pulang sekolah.

‘Daripada sendirian di rumah, lebih baik disini’ pikirnya.

Sejak satu jam yang lalu ia hanya duduk di kursi pengunjung dan menyenderkan kepalanya di atas meja. Sebenarnya gadis itu lebih memilih membantu pekerjaan kakanya daripada hanya duduk diam begini, namun salahkanlah Donghae yang terlalu berlebihan sampai-sampai tidak memperbolehkannya melakukan pekerjaan yang ‘menurut laki-laki itu’ berat.

“Sudah kubilang menunggu itu membosankan. Lebih baik kau di rumah saja Yong…”

Donghae duduk di hadapan Yonghee sambil menyodorkan segelas mochacino dingin, gadis itu sontak mengangkat kepalanya lalu menatap Donghae sebal.

“Oppa hari ini kerja sampai malam, pulanglah!” Lanjut Donghae

Yonghee menggelangkan kepalanya sambil mengaduk-ngaduk mochacino itu dengan sedotan.

“Aku bosan sendirian di rumah.”

Donghae terdiam, mereka memang tidak memiliki teman, tetangga, apalagi keluarga yang bisa menemani Yonghee di rumah jika Donghae sedang bekerja. Tetangga yang ada di sekitar rumah mereka seolah menutup mata dan tak mau tau tentang keberadaan dua orang anak yang kabur dari panti asuhan ini, ditambah keadaan mereka yang tergolong miskin, membuat orang-orang didaerah tempat tinggal itu tak mau berurusan dengan Yonghee dan Donghae, kecuali Shin ahjuma yang berbaik hati memberikan pekerjaan untuk Donghae bahkan terkadang memberi mereka makanan. Miris memang, tapi itulah kenyataannya.

Yonghee meminum mochacinonya.

“Oppa, bukankah lebih baik jika aku mengambil kerja part-time agar dapat membantu keuangan kita? Lagi pula aku tak punya pekerjaan kalau di rumah.” usulnya sambil menatap Donghae penuh harap. namun yang di tatap malah memelototinya sadis, menandakan bahwa berapa kali pun adiknya meminta, ia tak akan mengabulkan permintaannya yang satu ini.

“Aish… kenapa kau berlebihan sekali sih?”

Yonghee meraih gelasnya kasar lalu meminum mochacino itu sampai habis.

“Donghae!” panggil seorang wanita sambil mengarahkan tangannya pada sebuah nampan cokelat berisi makanan.

Donghae mengalihkan pandangannya ke Shin ahjuma beberapa saat, lalu kembali menatap Yonghee.

“Jika kau ingin pulang, cari aku di dapur. Oppa akan mengantarkanmu sampai rumah, jangan pulang sendiri, arra[1]?”

“Ne, araseo.”

Donghae mengacak rambut yonghee pelan sebelum pergi ke arah dapur dan memulai pekerjaannya lagi.

Yonghee mengedarkan pandangannya ke seluruh restoran yang mulai ramai, matanya menyipit tajam saat melihat seorang wanita dengan mini dress putih yang dibalut dengan jaket kulit hitam, wedges putih dan kaca mata hitam yang membingkai wajahnya, rambutnya yang panjang dan kecoklatan itu dibiarkan tergerai meutupi punggungnya.

Sepertinya dia adalah calon Miss Indonesia yang ter-eliminasi dan nyasar ke restoran ini pikir Yonghee.

Yonghee’s pov

“Dia pikir ini acara peragaan busana apa?”

Kulihat beberapa orang menatap takjub padanya. Baiklah kuakui dia memang cantik, kulitnya putih dan mulus sekali, kakinya jenjang, hidungnya juga lumayan, dan bibirnya…

tersenyum padaku…

Hah?

Kenapa dia tersenyum padaku?

Apa aku pernah mengenalnya?

Kulihat wanita itu berjalan semakin dekat ke arahku sambil terus tersenyum sok cantik. Tapi… memang cantik sih.

“Yonghee anyeong[2]!”

Aku mengerutkan keningku saat wanita itu duduk di hadapanku sambil membuka kaca mata hitamnya.

“Oppamu… dia di mana?”

Apa-apaan dia ini? Kenal saja tidak, tiba-tiba menanyakan keberadaan oppaku, sok kenal sekali.

Memangnya sejak kapan oppaku punya teman wanita? Setauku teman teman oppaku laki-laki semua, satu-satunya teman wanita Donghae oppa adalah orang yang dia copet waktu itu.

Tunggu-tunggu, apakah dia si wanita kaki itu?

Yang dompetnya dicopet donghae oppa?

Haruskah dia mencopet wanita secantik ini?

Hah dasar genit…

“Apakah dia sedang bekerja?” tanyanya lagi.

“Ya, dan dia tidak-bisa-diganggu.” Jawabku ketus, Membuat wanita yang kalau tidak salah namanya Jinhae itu mengerucutkan bibirnya lalu mencari sesuatu di tas nya.

Astaga, apa dia akan memberiku uang? Dia pasti ingin mencoba menyogokku dengan uangnya yang-pasti-banyak-sekali itu. Maaf nona, tapi meminta restu dariku itu sangat sulit, apalagi jika dia menggodaku dengan uang!

Memang sih aku lapar dan ingin membeli sesuatu untuk kumakan, tapi bukan seperti ini caranya. Kecuali kalau uang yang akan dia berikan padaku cukup banyak ya… boleh juga sih, lumayan.

Namun beberapa saat kemudian, Aku membulatkan mataku tidak percaya saat wanita kaki itu mengeluarkan benda yang sepertinya bedak padat dan menyapukan spons bedak itu ke wajahnya yang mulus.

Aku memukul kepalaku sendiri dengan sumpit yang tersedia di hadapanku, Aish,apa yang kupikirkan tadi? ‘Memalukan sekali’ rutukku dalam hati.

Aku menormalkan posisi dudukku, lalu berdehem pelan.

“Ngomong-ngomong, kau ada urusan apa dengan oppaku?”

Dia menghentikan aktifitasnya lalu menatapku sambil tersenyum.

“Aku hanya ingin mengambil KTPku yang ada di dalam dompet itu.” Jawabnya santai.

Hah? Lalu kenapa tidak langsung diambil saja semua isinya? Aku tau ini hanya akal akalannya saja yang ingin bertemu dengan oppaku setiap hari. Dasar perempuan genit!

“Jinhae-ssi!”

Suara lembut itu membuatku mendongakkan kepalaku ke atas, kulihat Donghae oppa menatap wanita itu kaget, matanya menatapku dan wanita itu bergantian. Sedangkan tangannya menyodorkan sepiring bibimbap[3] ke arahku, Mataku berbinar senang melihat sepiring bibimbap yang menggugah selera di hadapanku.

“Oppa apa ini untukku?” tanyaku memastikan.

“Apa yang kau lakukan disini?” Donghae oppa duduk di kursi yang ada di sebelah si Jahe itu, tidak menatapku sama sekali.

“Aku ingin mengambil KTPku yang ada di dompet, bolehkah?”

“Tentu saja, itukan dompetmu. Kenapa tidak diambil semuanya saja sekalian?”

“Oppa, apa bibimbap ini untukku?”

Aku mencoba bertanya sekali lagi sambil menggoyangkan lengan Donghae oppa, namun yang ditanya malah asik berbincang dengan si wanita kaki sok cantik bernama Jahe itu, mereka kira aku ini apa? Lilin pengusir lalat?

“Oppa….” Panggilku setengah merajuk, sejak kapan Donghae oppa tidak mempedulikan aku?

“Oppa…”

“Diamlah Yongie, oppa sedang berbicara dengan orang lain,”

Donghae oppa menatapku sekilas lalau mengalihkan perhatiannya lagi ke arah wanita itu. Dengan penuh emosi, Kujejalkan sesendok bibimbap ke dalam mulutku sampai menggembung penuh dan menyodok tenggorokanku.

Author’s pov

Donghae mengambil baju santai dari dalam loker miliknya dan membuka baju seragamnya, restoran sudah tutup sekarang, pegawai lain dan Shin ahjuma pun sudah pulang sejak 2 jam yang lalu, sedangkan Donghae harus membersihkan seisi restoran terlebih dahulu sebelum pulang, jadi pekerjaannya ada dua yaitu melayani pelanggan, dan membersihkan Restoran saat tempat itu sudah tutup. Cukup berat bukan? Setelah lelah bekerja melayani pengunjung yang terkadang permintaannya aneh-aneh, ia harus bekerja lagi membersihkan restoran di saat pegawai lain mungkin sudah tidur dengan nyaman di kasur mereka.

Donghae mengunci kembali lokernya lalu berjalan ke arah ruang istirahat, Kedua sudut bibirnya tertarik kebelakang saat melihat Yonghee sudah tertidur pulas di atas sofa usang ruangan itu.

Donghae menghampiri adiknya lalu menepuk pipi Yonghee lembut.

“Yongie,”

“Yongie ireona[4]!” Panggilnya lagi, membuat Yonghee mengerjapkan matanya pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk dengan matanya yang sempat beristirahat beberapa jam yang lalu.

“Ngghh, oppa” Yonghee mendudukan tubuhnya dengan mata yang kembali terpejam, sepertinya uri[5] Yongie masih mengantuk.

Donghae tersenyum geli lalu berjongkok di hadapan gadis itu, ia menarik tangan Yonghee agar melingkar di lehernya supaya Yonghee tidak terjatuh saat ia gendong nanti.

“Kau masih mengantuk huh? Dasar beruang kecil.” Ejeknya sambil mengangkat tubuh Yonghee dengan mudah lalu berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu tersebut dari luar.

Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Donghae sibuk dengan pikirannya, sedangkan Yonghee sibuk dengan tidur cantiknya yang tadi sempat terganggu.

“…”

“…”

“Oppa.” Yonghee menggumam, sepertinya sudah bangun.

“Hmm?” jawab Donghae sambil menatap lurus kedepan, menatap sebuah Toko elektronik yang menjual sebuah mp3 mungil berwarna pink dan saphire blue.

“Kau sudah mengembalikan KTPnya?” tanya Yonghee setengah hati, sebenarnya ia masih kesal dengan kejadian tadi sore.

“Belum, tadi aku tak bisa meninggalkan restoran. Dia akan datang lagi lusa, kebetulan aku pulang siang.” Jawab Donghae sambil tersenyum kecil, membuat Yonghee mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di pundak lebar Donghae.

“Waeyeo[6]?”

“Ani[7].”

Yonghee kembali memejamkan matanya. Tidak menyadari bahwa Donghae sudah membawanya masuk kedalam sebuah toko, toko yang menjual mp3 tadi tepatnya.

“Yongie, kau mau yang mana?” tanya Donghae sambil memperhatikan dua benda pemutar musik yang berbeda bentuk tapi sama warna di hadapannya.

“Yong…”

Donghae menolehkan kepalanya kebelakang.

“Aish, dia tidur lagi.”

Ucapnya sambil tersenyum saat melihat Yonghee tertidur pulas di atas pundaknya.

 

Yonghee’s pov

‘Ssst si miskin datang.’

Aku memutar bola mataku malas saat mendengar ocehan itu lagi. Apa mereka tak bosan menggosipkanku tiap hari? Mereka pikir aku ini selebriti yang setiap tindak-tanduknya dijadikan bahan omongan orang lain?

Aku melangkahkan kakiku ke sebuah meja yang terletak di barisan paling belakang tanpa menghiraukan mereka yang kembali menilai penampilanku hari ini.

‘Anggap saja kau sedang catwalk di peragaan busana texsaverio lee yonghee.’ Ucapku dalam hati.

Aku mendudukkan diriku di atas kursi dan menyampirkan tas gendongku, beberapa saat kemudian seseorang dengan tubuh tinggi, kulit putih, dan wajah yang, ehmm… tampan, memasuki kelas kami dengan gaya angkuhnya, sepertinya dia seorang guru.

“Good morning class!” Sapanya dengan suara bass yang sangat-cowok-banget .

“Morning Kyu seonsaengnim[8]!” Jawab anak-anak lain serempak.

Kyu? Kyuhyun? Cho kyuhyun?

Apakah dia kyuhyun seonsaengnim yang sering dibicarakan murid-murid centil itu? Yang guru matematika itu?

Oh…Pantas saja, wajahnya tampan begitu. Tapi lebih tampan oppaku sih sebenarnya. Oppaku itu terlalu tampan untuk ukuran pelayan restoran, iya kan?

“Kumpulkan pekerjaan rumah kalian!” Perintahnya tegas sambil menuliskan sesuatu di papan tulis.

Tiba-tiba saja semua anak disini membuka tas-nya terburu-buru dan mengumpulkan buku tugas mereka dengan cepat di meja paling depan, aku mengerutkan keningku heran.

‘Segalak itukah Kyuhyun Seonsaengnim?’ pikirku dalam hati sambil mengacak ngacak isi tas-ku.

Aku semakim mengerutkan keningku bingung saat tak menemukan buku tugas sialan itu di dalam tas usang ini.

Oh My God, jangan bilang kalau… Buku tugasku ketinggalan di rumah!

Apa yang harus ku lakukan?

Aku sibuk mengacak ngacak tasku, Memastikan sekali lagi tentang keberadaan buku tugas sialan itu, tapi tetap saja, hasilnya NIHIL

Huaaaa apa yang harus kulakukan?

Dari tatapan matanya saja aku yakin bahwa dia adalah guru killer peranakan Demon[9] dan Lucifer[10]! aku tak siap dikirim ke neraka! aku kan baru sekolah empat hari disini…

Baru…empat…hari…

Hah?

Iya benar! Aku kan baru sekolah empat hari di sini, dan ini pertama kalinya aku mengikuti pelajaran matematika, Mana mungkin aku sudah mengerjakan tugas? Dikasih saja belum!

Aish bodoh sekali kau Lee Yonghee! Jelas saja buku tugasmu tak ada!

“Siapa yang belum mengumpulkan tugas? Angkat tanganmu dan keluar dari kelas ini.” Ucap guru tampan itu dingin.

Aku mengangkat tanganku takut-takut, membuat semua perhatian tertuju padaku, termasuk guru tampan itu yang sontak menghentikan aktifitasnya dan menatapku datar.

“Keluar!” perintahnya tegas, membuatku yang ingin menjelaskan perihal statusku sebagai murid baru jadi menciut.

Suaranya itu dingin dan datar, tidak membentak, tapi justru hal itu membuatnya semakin terlihat menakutkan, ditambah lagi keadaan kelas yang tiba-tiba menjadi sepi sejak kedatangannya, membuat suasana semakin mencekam.

Kuhela napasku pelan lalu menatap wajahnya yang datar itu takut-takut.

“Maaf seonsaengnim, tapi aku baru empat hari berada disini,”

Kyu seonsaengnim menaikan salah satu alisnya.

“Kau murid baru?” tanyanya tak yakin, aku mengangguk pasti.

“Kenapa tidak bertanya pada temanmu yang lain tentang tugas ini?”

Apa katanya? Bertanya? Jangankan bertanya tentang tugas pada mereka, mengajak mereka berkenalan pun belum.

Aku tak mau menjatuhkan harga diri dengan mengulurkan tanganku untuk berkenalan pada orang yang jelas-jelas membenciku setengah mati.

“Hmm… Aku,” gumamku kehilangan kata kata, bingung harus mengatakan apa pada guru tampan itu.

“Baiklah, untuk kali ini kau ku maafkan,” potongnya, membuat murid-murid di kelas ini mendesah kecewa.

Apa-apaan mereka ini? senang sekali jika melihatku menderita sepertinya.

“Tapi jika kejadian ini terulang lagi, kau tidak boleh mengikuti jam pelajaranku selama sebulan penuh, mengerti?” lanjutnya tegas.

“Ne, seonsaengnim.”

Yonghee’s pov

“Aish, kenapa harus hujan sih!” Umpatku kesal sambil berlari ke arah halte terdekat sambil menutupi kepalaku dengan tangan, aku baru berjalan beberapa meter dari sekolah, tapi tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya.

Aku tak bawa payung ataupun jas hujan, restoran Donghae oppa juga masih jauh, apa yang harus kulakukan? Aku ingin pulaaaaaanggggg.

Apa aku naik taksi saja? Tapi jika aku naik taksi sekarang, bisa-bisa kami tak makan tiga hari tiga malam. ahhh… aku pusing. Donghae oppa pasti akan marah jika aku pulang malam.

“Hei, murid miskin!”

Aku mendongakkan kepalaku saat melihat gadis dengan rambut pirang memberhentikan mobil mewahnya di hadapanku,dia membuka jendela mobilnya lebar, kulihat di dalam sana banyak teman-temannya yang lain, aish ada apa lagi sih? Mereka belum puas menghinaku di sekolah? Kutatap wajahnya malas.

“Apa?”

“Kemana mobilmu?” tanya si pirang dengan nada mengejek, membuatku ingin menyiramkan kotoran kuda ke wajahnya yang penuh make up itu. Aku hanya terdiam, tak menjawab pertanyaannya.

“Kenapa kau diam saja, hmm?”

Dia tersenyum sambil memainkan rambutnya sok cantik.

“Mungkinkah…. kau tak punya mobil? Omo!” Si pirang sialan itu pura-pura kaget sambil menutup mulutnya menggunakan tangan. Kupelototi matanya sadis.

“Kau tak punya kerjaan ya? Dasar PS!” umpatku kasar, membuat gadis itu mengerutkan keningnya tak mengerti.

“PS? Apa maksudmu?” tanya si pirang dengan wajah bodohnya.

“PS itu singkatan untukmu, PIRANG SIALAN!” Ucapku dengan penuh penekanan, membuat gadis itu memelototiku dengan matanya yang besar.

“YAK!” Teriaknya tak terima.

“Dasar orang miskin tak tau diri!” Bentaknya kasar, kutatap matanya tajam.

“Lalu kenapa kalau aku miskin? Kau mau membanggakan kekayaan orang tuamu di hadapanku? hei ingat, Itu harta orang tuamu, bukan milikmu.”

Gadis itu terdiam cukup lama, mungkin dia tersinggung dengan perkataanku, tapi aku tak peduli, suruh siapa dia menghinaku duluan.

Namun beberapa saat kemudian dia malah tersenyum setan ke arahku. Aku menatapnya ngeri, Dia ini kenapa? apa otaknya rusak karena terlalu tebal memakai make up? Hah… aku prihatin dengan keadaannya.

Si pirang itu menutup kaca mobilnya lalu memundurkan mobil merah itu, membuatku bingung dengan tingkanya yang aneh, dan bodohnya aku tetap diam di tempat, menunggu aksi si pirang itu selanjutnya. dan sedetik kemudian…

BYURRRR

“YAK! PIRANG SIALAN! TAI AYAM! AAAAARGGHHHHH!”

Aku teriak-teriak tidak jelas setelah si PS itu melindas kubangan air dengan mobilnya dan membuat bajuku basah dengan cipratan air menjijikan itu.

Aish, kenapa hari ini aku sangat sial?

Pasrah melihat keadaan, kusimpan tas ranselku di bangku halte dan keluar dari sana. Berdiri di pinggir halte, membiarkan badanku terguyur air hujan agar air kubangan itu hilang.

Kalau tau akan seperti ini jadinya, lebih baik tadi aku pulang hujan-hujanan saja.

TINNN TINNN

Aish apa lagi sih? Kubiarkan saja orang yang mengklaksonku dengan Audi hitamnya itu, aku sedang sibuk membersihkan seragamku! Dasar pengganggu.

TINNN TINNN

Tekan saja klaksonmu sampai borok pengganggu bodoh!

“Hei! Lee yonghee!”

Sontak aku langsung menolehkan kepalaku ke jalan, dan kulihat Kyu seonsaengnim[11] berjalan ke arahku sambil membawa payung. Mampus! Untung tadi aku belum sempat mengusir setan tampan ini.

Kubungkukkan badanku dalam.

“Anyeonghaseo[12] seonsaengnim.”

Setan tampan itu tidak menghiraukan sapaanku, dia malah berjalan semakin dekat denganku dan membagi payungnya.

“Apa yang kau lakukan? Kau putus dari pacarmu?” tanyanya sok tau.

“Mmm…aku tadi__”

Aku tak tau harus menjawab apa.

“Sudahlah, tak perlu diceritakan, aku mengerti perasaanmu.” potongnya sambil menepuk-nepuk kepalaku.

Dia ini sok kenal sekali…

“Putus cinta itu memang menyakitkan, tapi kau tidak seharusnya bunuh diri dengan menunggu petir seperti ini.” Lanjutnya sambil menggelengkan kepala prihatin.

Aku melongo parah melihat kelakuannya yang berbeda 180 derajat dengan yang di kelas tadi. Jika di kelas dia terlihat dingin, cuek, dan menakutkan. Sekarang dia seperti orang bodoh, sok kenal, dan sok tau.

“Kyu seonsaeng, aku tidak putus dari pacarku!” Teriakku kesal, Kyu sonsaeng mengerutkan keningnya, lalu kembali menatapku bingung-cenderung bodoh.

“Lalu kenapa kau ingin bunuh diri?”

Aku menghela napasku berat dan menundukkan kepalaku yang mendadak pusing.

Apa katanya? Bunuh diri? Kurasa otaknya sudah rusak karena terlalu sering belajar matematika.

“Aku tidak putus dari pacarku, ataupun berniat bunuh diri, aku basah kuyup begini karena kecipratan mobil orang. Lagi pula aku tidak punya pacar.”Jelasku panjang lebar sambil masuk kedalam halte untuk mengambil ransel, lalu menjinjingnya agar tidak ikut basah karena bajuku, aku mau pulang saja, lagi pula hujannya sudah reda, jadi tasku tak akan kebasahan.

“Kau mau kemana?” tanyanya saat melihatku sudah siap dengan ransel di tangan.

“Pulang.” Jawabku datar.

“Dengan baju basah seperti itu?”

Kyuhyun seonsaeng menunjuk seragamku yang basah. Aku menaikkan bahuku cuek.

“Mau bagaimana lagi?”

Kyuhyun seonsaengnim terdiam beberapa saat, lalu membuka pintu mobilnya dan menuntunku masuk, aku mengerutkan keningku bingung.

“Masuklah, di jok belakang ada kaus dan celana santai milikku, kau boleh meminjamnya, mungkin sedikit kebesaran sih, tapi itu lebih baik. Daripada basah begini…”

Aku menatap wajahnya tak yakin. Kenapa dia baik sekali? Padahal saat di kelas dia seperti peranakan lucifer dan demon.

Apakah dia adalah orang yang menyamar jadi kyu seonsaeng agar bisa menculikku?

Apa dia memakai topeng?

Berani-beraninya dia menyamar jadi kyu seonsaeng agar bisa menculikku!

“Ck, tenang saja. Aku belum memakai__ arghhhh! Apa yang kau lakukan!”

Kyuhyun seonsaengnim berteriak sambil menepis tanganku yang berusaha membuka topeng di wajahnya, tapi wajahnya itu tetap sama rupa dan bentuknya, sepertinya asli, kulit di bagian rahangnya memerah karena aku menariknya tadi.

“Wajahmu asli ya? Mian, aku kira kau memakai topeng.” Ucapku polos sambil nyengir tiga jari.

Kyuhyun seonsaengnim membuka mulutnya tak percaya sambil melotot.

Aish dia seperti hantu ‘Scream’ jika sedang seperti itu.

“TENTU SAJA WAJAHKU INI ASLI! KAU KIRA AKU ROBERT PATINSON YANG SEDANG MENYAMAR!” Bentak Kyu seonsaengnim sambil memegangi bagian wajahnya yang sakit, sedangkan aku sudah menutup kedua telingaku karena teriakannya yang sangat kencang tepat di depan telingaku.

“Habis, Kyu seonsaengnim yang sekarang berbeda sekali dengan yang kujumpai di kelas tadi.” jawabku jujur membuat pria itu memutar bola matanya malas lalu mendorongku masuk kedalam mobilnya.

“Aku memang begini, berhenti memanggilku seonsaengnim saat berada di luar sekolah dan cepat ganti bajumu!” Perintahnya sambil menutup pintu mobilnya.

“Kyuhyun oppa, gomawo.” Ucapku sambil membuka seatbelt yang melingkari tubuhku.

Kyuhyun oppa tersenyum lalu menepuk puncak kepalaku lembut.

“Aish, kau mengerikan!” kataku sambil menatapnya dengan mata yang di sipit-sipitkan.

Dia menjauhkan tangannya dari kepalaku dan menatapku bingung

“Apanya yang mengerikan?”

“Sikapmu yang sekarang itu jauh berbeda dengan yang kau tunjukkan pada saat mengajar tadi, kau seperti setan jika sedang di kelas, tapi jika sedang di luar seperti ini kau sangat lucu dan konyol.” Ucapku jujur.

kyuhyun oppa menyenderkan kepalanya ke jok mobil, sedangkan matanya sudah menerawang menatap langit-langit mobil.

“Entahlah, aku juga tak tahu. Jika sedang mengajar, aku ingin terlihat keren, jadi aku mencoba bersikap setegas mungkin agar memberi kesan berwibawa, dan tak ada murid yang berani melecehkanku. Semua orang menganggapku begitu. Dingin, tegas namun mempesona.” Ucapnya percaya diri, membuatku ingin mencelupkan wajah sok gantengnya itu ke drum minyak tanah.

“Kau mulai lagi…”

Aku memutar bola mataku.

“Mempesona? Cih… PD sekali kau!” Lanjutku sambil terkekeh pelan.

Kyuhyun oppa membalikan badannya ke arahku lalu menatapku serius dengan mata bulatnya itu,

“Kau tau? Hampir semua orang yang ada di sekolah kita menganggapku seperti itu, tak ada yang tau sifat asliku, karena aku memang tak pernah menunjukannya,”

Aku mengerutkan keningku heran.

“Lalu kenapa kau menunjukannya padaku? Kau bahkan menyuruhku untuk bicara informal padamu saat di luar sekolah, padahal kita baru bertemu hari ini.” Tanyaku bingung.

kyuhyun oppa terdiam beberapa saat lalu menatapku dalam.

“Entahlah, aku juga tidak mengerti,” jawabnya sambil mendesah pelan.

“Pulanglah, oppamu sudah menunggu.” Lanjut kyuhyun oppa sambil mengedikan bahunya ke arah oppaku yang mondar mandir di depan rumah, dia pasti mengkhawatirkanku.

“Aish, karena keasikan ngobrol denganmu, aku jadi lupa waktu.” Ucapku sambil membuka pintu mobil dan turun dari sana.

Kyuhyun oppa menurunkan kaca mobilnya lalu menatapku sambil melambaikan tangannya.

“Yongie, anyeong!”

“Anyeong!” Balasku sambil membalas lambaian tangannya.

“ Gomawo[13] Kyuhyun oppa, hati-hati di jalan”

Kyuhyun oppa kembali tersenyum lalu menutup kaca mobilnya.

“Bajunya aku kembalikan besok!” Teriakku saat mobil Kyuhyun oppa sudah menjauh dari pekarangan rumah.

 

 

Aku membalikan tubuhku dan mendapati Donghae oppa yang sedang menatapku datar dari teras rumah. Walaupun takut, aku mencoba mengumpulkan nyaliku lalu berjalan mendekati laki-laki itu. Tangannya ia masukan ke dalam saku celana, sepertinya oppaku sedang marah.

“Dari mana saja?” tanya Donghae oppa dingin.

“Kau tau ini jam berapa?” lanjutnya sambil menatapku tajam.

Aku menundukkan kepalaku dalam, tak berani menatap wajahnya.

“Aku tadi kehujanan oppa,”

“Lalu?”

“Aku bertemu dengan guru matematikaku di halte dekat sekolah, dia meminjamkanku baju dan mengantarkanku pulang,”

Kudengar Donghae oppa menghela napasnya berat.

“Laki-laki atau Perempuan?” Tanyanya dingin.

“Dia hanya meminjamkanku baju dan mengantarku pulang oppa!” Ucapku memberi penjelasan.

“Laki-laki atau perempuan?” Donghae oppa menaikan nada bicaranya yang kini lebih terdengar seperti membentak. Aku menundukan kepalaku lagi.

“Laki-laki,” jawabku lemah.

“Bagus!”

Donghae oppa melangkahkan kakinya kasar ke dalam rumah, dia pasti marah, aish.

“Oppa, dia guru di sekolahku!” Teriakku sambil menyusulnya ke dalam rumah.

Donghae oppa membalikan badannya lalu kembali menatap wajahku penuh amarah.

“Lalu? kalau dia gurumu, kau mempercayainya, begitu? Statusnya sebagai gurumu tidak menjamin kalau dia tak akan melakukan hal macam-macam padamu lee yonghee!” Bentaknya kasar.

“tapi oppa…” Aku menatapnya dengan mataku yang berkaca-kaca, aku tidak suka saat dia mebentakku seperti itu, dia seperti bukan oppaku jika sedang marah, aku takut melihatnya yang seperti ini.

Tak terasa air mata itu mengalir di pipiku, kutundukkan kepalaku dalam sambil menghapus air mata yang mengalir semakin banyak menuruni pipi.

Donghae oppa mengusap wajahnya kasar setelah melihatku menangis, dia menghela napas berat untuk kesekian kalinya lalu menarikku ke dalam pelukan hangatnya.

“Maafkan oppa sudah membentakmu tadi, oppa hanya khawatir mendengar pengakuanmu bahwa kau diantar pulang malam-malam begini oleh laki-laki dewasa.”

Donghae oppa melepas pelukan kami lalu menatapku lembut, membuatku menemukan sosoknya sebagai oppaku lagi.

“Sekarang tidurlah, ne[14]?”

 

 

 

Sabtu, 06.30 a.m

 

“Oppa ini mp3 siapa?” tanyaku sambil menunjukan sebuah mp3 persegi berwarna pink dan saphireblue yang ku temukan di meja nakas kamar pada Donghae oppa yang sedang sibuk memasak di dapur.

Donghae oppa menolehkan kepalanya padaku, menatap mp3 itu sekilas lalu tersenyum.

“Milikmu.” Jawabnya santai.

Aku menaikkan salah satu alisku mendengar ucapannya.

“Maksudmu?” tanyaku bingung.

“Itu untukmu Yongie, pakailah saat orang-orang disekolah mengejekmu tentang status sosial kita.” Ucap Donghae oppa sambil menaruh sepiring nasi goreng di hadapanku lalu kembali memasak makanan yang aku tak tau apa.

Aku mengelus mp3 itu, memperhatikan setiap detailnya dengan baik. Dengan mp3 ini, aku tak perlu mendengarkan ocehan-ocehan mereka yang hanya akan menyakiti hatiku, aku hanya perlu memasangnya di telingaku dan berjalan lurus kedepan seolah tak ada sesuatu yang salah.

Kuhampiri Donghae oppa yang sedang memasak di dapur lalu memeluknya dari belakang.

“Oppa, gomawo.” Ucapku tulus.

Donghae oppa mengelus tanganku yang melingkar di perutnya.

“Aigoo, adikku manis sekali… Sama-sama Yongie.” jawabnya sambil menoleh ke arahku dan tersenyum, membuatku semakin mengeratkan pelukanku di pinggangnya, tapi acara pagi kami terhenti saat seseorang mengetuk pintu rumah kecil ini. aish…Siapa orang yang bertamu pagi-pagi begini?

“Biar aku lihat.”

Aku melepaskan pelukanku lalu berjalan ke depan, kutarik handle pintu itu dan membukanya dengan sekali gerakan.

“Yongie anyeong!”

 

-TBC-

 

Makasih buat admin yang sudah mempublish ff saya, dan juga readers yang hanya sekedar baca atau ninggalin komen di sini, kalian bisa main ke wp pribadi saya di eunhaecutiepie.wordpress.com

ini ff udah lama banget, saya tulis pas masih jaman SMA, dan bisa dibilang ff pertama, jadi maaf kalo tulisannya masih abal-abal J

 

[1] . Mengerti
[2] . Hai / Apa kabar
[3] . Sejenis nasi campur
[4] . Bangun
[5] . kata yang menunjukan kepemilikan (our yongie, yongie kita)
[6] . Kenapa
[7] . Tidak
[8] . Guru
[9] . Setan
[10] . Iblis
[11] . Guru
[12] . Sejenis kalimat sapaan saat hendak pergi atau baru bertemu
[13] . Terimakasih
[14] . ya

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 04, 2016 @ 21:33:22

    Pasti kyuhyun yg datang dirumahnya yonghee dan donghae.
    Dan ternyata donghae benar2 anak org kaya, cuma hilang saat kecelakaan yg terjadi bersama keluarga.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: