Destiny [3/7]

PicsArt_1461970463296

Nama penulis : Eunhaecutiepie

Judul : Destiny

Tag : Lee Donghae, Cho Kyuhyun

Genre: Romance

Rating : PG-13

Length : Chapter

My wp : eunhaecutiepie.wordpress.com

 

Part 3

Aku menaikan salah satu alisku menatap seorang gadis dengan mini dress selutut dan high heelsnya di depan rumahku, rambutnya ia gulung ke atas, menunjukan anting-anting mahal yang ia kenakan.

“Ne, anyeong,” jawabku setengah hati.

“Siapa yang datang Yong?” tanya Donghae oppa dari dalam rumah, membuat gadis itu tersenyum exited lalu menyerobot masuk ke dalam rumah tanpa permisi.

Aish, orang itu…

“Jinhae?”

Kudengar suara Donghae oppa yang tak kalah antusias dari si jahe itu, sebegitu senangnya kah mereka?

Kutiup poniku malas, lalu kembali masuk ke dalam rumah, kulihat di sana si Jahe sudah bergabung di meja makan, dia duduk berhadapan dengan Donghae oppa yang kini sedang menyendokkan nasi ke piring gadis itu.

“Oppa, gomawo.” Ucapnya sok manis.

Tunggu…

Tadi dia bilang apa?

Oppa?

Sepertinya ada banyak hal yang terlewatkan olehku. Sejak kapan hubungan mereka sebegitu dekatnya sampai sampai si Jahe itu memanggil Donghae oppaku dengan sebutan ‘oppa’?.

Enak saja… dia pikir dia ini siapa?

Kupindahkan makananku sedekat mungkin dengan Donghae oppa dan mendudukkan tubuhku dengan kasar disana, Donghae oppa menatapku kaget, tapi aku tidak peduli, aku malah sibuk menyendokkan makanan ke mulutku sampai penuh.

“Yong, kenapa pindah?” tanya pria itu sambil menaikkan salah satu alisnya.

“Tidak apa-apa, hanya saja kursi di sebelah Jahe eonie[1] tiba-tiba reyot.” Jawabku asal, membuat kedua orang itu menatapku bingung dan menghentikan aktifitas mereka.

“Jahe?” tanya wanita itu sambil menatapku tidak percaya.

“Ya, namamu Jahe kan?” balasku cuek sambil kembali memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutku.

“Namanya Jinhae Yongie-ya…” ucap Donghae oppa sambil terkekeh pelan, mungkin dia menyangka aku salah menyebut nama wanita itu dan menganggap hal tadi adalah sesuatu yang lucu, padahal aku kan sengaja melakukannya, aku tahu namanya itu Jinhae, bukan Jahe.

“Maafkan adikku ya, Jinhae-ssi”

Donghae oppa tersenyum geli sambil mengelus kepalaku.

“Bukankah kau kesini hanya untuk mengambil KTP-mu?” Sindirku saat melihat si Jahe itu duduk santai di ruang tengah sambil menonton tv seenaknya, sedangkan Donghae oppa sedang keluar, membeli makanan untuk kami.

Aku menghempaskan tubuhku di samping gadis itu dan merebut remot yang ada di genggaman si Jahe, wanita itu membalikan badannya dan menatapku kesal.

“Kau… apakah aku pernah melakukan kesalahan padamu?” tanya gadis itu sambil menatapku serius.

“Kenapa memangnya?” tanyaku kembali sambil memindah-mindah chanel TV.

“Sepertinya kau tidak menyukaiku Yonghee-ssi. Dari awal pertemuan kita, kau selalu menunjukkan penolakan atas kehadiranku.” Jawab gadis itu sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Aku memang tidak menyukaimu.” Ucapku datar sambil melempar remote yang ada di genggaman tanganku ke atas meja.

“Wae?” tanyanya bingung.

Kutegakkan tubuhku, dan menatap dalam matanya. Sedangkan Jinhae ikut menatapku tajam, menuggu jawaban apa yang akan ku keluarkan.

“Karena kau__”

“Aku pulang!”

Teriakan itu sontak menghentikan aktifitas kami, kulihat Donghae oppa datang dari arah pintu masuk sambil membawa beberapa makanan ringan.

“Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya Serius sekali…” tanya Donghae oppa sambil tersenyum lalu meletakkan makanan-makanan itu di atas meja.

“Tidak apa-apa, ini urusan wanita.” Jawabku sambil mengambil susu kotak coklat yang ada di hadapanku.

Donghae oppa mengerucutkan bibirnya sambil memakan kue ikan yang aku yakin dibelinya dari Supermarket depan rumah.

“Bukankah kau mau mengambil KTP?” tanyaku (lagi) pada si Jahe yang sedari tadi diam saja menatap kami berdua.

“Oh, mmm. Ya… Maaf aku malah berlama-lama disini.” Balasnya, membuat Hae oppa mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu.

“Tak apa-apa, lagipula aku banyak berhutang padamu jinhae-ssi.”

Si Jahe itu tersenyum salah tingkah saat ditatap Donghae oppa dengan mata sendunya. Cih… memuakkan.

Laki-laki itu bangkit dari duduknya lalu meninggalkan kami berdua untuk mengambil Dompet si Jahe, selama oppaku tak ada, kami hanya diam, tak berniat membuka atau melanjutkan pembicaraan sedikitpun.

Beberapa saat kemudian, Donghae oppa kembali dengan sebuah dompet emas di tangannya.

“Ini, ambil saja semuanya.” Ujar oppaku sambil menyerahkan dompet emas bling-bling itu ke depan si Jahe.

Oh… sepertinya siluman ikan polosku ini tidak mengerti jalan pikiran si jahe yang menginginkan dompet itu tetap dipegang Hae oppa. Ini semua agar dia mempunyai alasan untuk bertemu ikan amis ini tiap hari!

“Iya, ambil saja supaya kau tak usah capek kesini tiap ada hal penting yang harus kau ambil!” Sindirku tajam lalu mengambil kentang goreng dan menjejalkannya ke dalam mulutku sampai penuh.

“Aigoo… pelan-pelan Yongie!” Ucap Hae oppa sambil mencubit pipiku, aku menepis tangannya kasar.

“Sakit bodoh!” Umpatku kasar dan menjejalkan kentang kentang tak berdosa itu lagi ke dalam mulutku.

“Oppa, tumben sekali kau beli makanan sebanyak ini.” Tanyaku baru menyadari kalau Donghae oppa membeli makanan sangat banyak, hampir memenuhi meja .

“Kau tidak mencopet lagi kan?” tanyaku sangsi.

“YAK!” Donghae oppa memukul kepalaku seenaknya.

“Aish, sakit oppa! Aku kan hanya bertanya!” kataku memberi pembelaan.

“Aku kan sudah bilang padamu waktu itu, dompet Jinhae adalah yang terakhir kalinya. Dan soal makanan ini… aku mendapat bonus dari Shin ahjuma karena kerja gandaku, aku juga sudah membayar hutangku pada semua orang yang belum kukembalikan uang dan dompetnya, termasuk Jinhae.” Jawab Donghae oppa bangga, sedangkan si Jahe itu hanya diam saja dari tadi.

“Sebanyak itukah bonusnya?” tanyaku penasaran.

“Well, aku mendapat 2 kali lipat. Sangat menguntungkan bukan?” pamernya bangga.

aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil mengacungkan jempol.

“Kau hebat oppa!”

Donghae oppa semakin melebarkan senyumnya lalu mengacak rambutku, membuat si Jahe itu kesal dan membenarkan posisi duduknya canggung.

“Ekhem…maaf Donghae oppa, Yonghee-ssi, sepertinya aku ada urusan lain di kantor, aku harus pergi dulu.” Ucap si Jahe sambil bangkit dari duduknya.

Sepertinya dia tidak tahan menjadi obat nyamuk elektrik diantara aku dan donghae oppa. Hahaha rasakan kau Jahe merah galian!

“Loh, bukannya ini hari sabtu ya?” tanya Donghae oppa sambil mengerutkan jidatnya.

Gadis itu membulatkan matanya yang sudah bulat itu, kelihatan sekali kalau itu hanya alasannya yang sudah tidak tahan lagi berada di sini.

“Oh… hmm ada urusan mendadak di kantor.” Jawabnya salah tingkah sambil melangkah menuju pintu keluar yang di ikuti oleh Donghae oppa.

“Kalau begitu aku pamit dulu, Donghae oppa, Yonghee-ssi,”

“Ne. Hati hati di jalan.” Ucap Donghae oppa sambil melambaikan tangannya.

Aish, mereka pikir mereka itu siapa sampai harus melambai-lambaikan tangan seperti itu, seperti ibu panti yang akan melepas anak asuhnya saja.

“Yongie bangun!!!”

Kututup kedua telingaku dengan bantal saat mendengar suara Donghae oppa yang sudah beerteriak pagi-pagi begini.

hell, Ini adalah jam 6 pagi di hari mingggu! Berani sekali siluman itu mengganggu bobo cantikku.

“Yongie!!!”

Kali ini kurasakan tangan berototnya itu mengguncang tubuhku pelan, sedangkan aku semakin mengeratkan selimut yang kupakai dan menepis tangannya yang semakin brutal menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Aish dasar kebo!” Umpatnya pelan, lalu beberapa saat kemudian suara dan kehadirannya tak terasa lagi.

Hah…. akhirnya oppa ikanku pergi juga.

BYURRRRR

“Aaaarrrrghhhhh!!!”

Sontak aku langsung mendudukkan tubuhku di atas ranjang saat dengan sesenak jidatnya Donghae oppa menyembur wajahku dengan air dingin menggunakan mulutnya.

kuusap wajahku kasar lalu menatap siluman ikan itu tajam.

“YAK! Ikan gila! Kau tak punya kerjaan hah? Pastikan dulu mulut amis mu itu bersih sebelum menyembur wajahku!” Teriakku sambil melemparkan bantal dan barang-barang yang ada di sekitarku pada Donghae oppa. Sedangkan laki-laki itu sudah tertawa puas.

“Kalau kau tak susah di bangunkan, Aku juga tak akan menyembur wajahmu bodoh!” Jawabnya sambil tertawa seperti orang idiot.

“Kita harus olahraga Yongie, maka dari itu aku membangunkanmu.” Kata Hae oppa sambil mengelap wajahku menggunakan handuk kecil, Aku mendelik menatapnya.

“Olahraga kemana?” tanyaku masih kesal.

“Pasar minggu.” Jawabnya santai.

“Yak! Kita mau olahraga atau menghancurkan perut sixpack mu!” Tanyaku emosi.

Mana ada orang yang berolahraga ke pasar minggu? Dasar aneh!

“Aish, dengarkan dulu Yong!”

Donghae oppa menyentil keningku.

“Kita memang akan ke pasar minggu, tapi bukan olahraga disana, kita akan melakukannya saat dalam perjalanan.”

Aku mengerutkan keningku bingung mendengar penjelasannya.

“Maksudmu? Kita akan pergi ke Gym dulu sebelum ke pasar minggu, begitu?”

“Tidak ada Gym, bus, atau apapun. Kita jogging ke pasar minggu. Ja-lan-ka-ki!”

“APA?”

“Oppa, aku capek!”

“Oppa, kita pulang saja!”

“Oppa, aku tak kuat lagi”

“Oppa, oppa, oppa, oppaaaaaaaaaaaaa!”

“YAK! Berisik sekali sih!” Bentak Hae oppa sambil membalikkan tubuhnya ke arahku yang ada di belakangnya.

“Aku capek…” Rengekku sambil duduk di pinggir jalan.

Donghae oppa menatapku sebal.

“Baiklah, istirahat dulu, satu menit!” Ujarnya sambil menyerahkan sebotol minuman kepadaku. Aku meminumnya perlahan.

“Kau harus membiasaknan tubuhmu berolah raga Yongie, agar tidak mudah capek seperti ini.”

Donghae oppa berjongkok di hadapanku sambil mengelap keringat yang ada di wajahku dengan sapu tangannya.

“Aku malas , oppaku yang tampan!”

“Kau tidak boleh malas, adikku yang manis!”

Hae oppa kembali berdiri sambil memegang tanganku.

“Waktu istirahat sudah habis!”

“Sebentar lagi, ya? Pleaaaseee. Ini bahkan belum satu menit!” Rengekku lagi saat melihat pria itu sudah bangkit dari duduknya.

“Aish, ini sudah satu menit Yongie!”

Hae oppa menarik pergelangan tanganku, memaksaku berdiri.

“Oppa, aku masih ca___”

“Donghae oppa!”

Aku dan Hae oppa sontak menolehkan kepala kami ke belakang mendengar panggilan itu, kulihat seorang gadis dengan hotpants dan jaket hijaunya berlari ke arah kami.

Aish, wanita jahe itu kenapa bisa ada di sini?

“Jinhae-ya… kau sedang apa disini?” tanya Donghae oppa saat si Jahe itu sudah ada di hadapan kami. Gadis itu tersenyum senang.

“Aku sedang olahraga pagi, bagaimana dengan kalian?” tanya gadis itu balik.

“Jogging, kami mau ke pasar minggu. Disana adalah tempat orang-orang biasa seperti kami. tempatnya tidak menyenangkan, becek, bau, dan jauuuuuuuh sekali.” Paparku menakut-nakutinya agar dia tidak ikut bergabung dengan kami, padahal kan pasar minggu tidak seperti itu.

Tapi di luar dugaanku gadis itu malah melebarkan senyumannya dan melompat-lompat girang di depan Donghae oppa.

“Aku sudah lama sekali tidak ke pasar minggu, aku ingin ikut… Boleh kan? Eoh?”

 

Aish, bunuh saja aku! bunuh!!!

 

….

 

Gadis itu melingkarkan tangannya manja di lengan Donghae oppa, sedangkan lelaki yang mukanya mirip ikan badut itu ikut tersenyum sambil mengacak rambut si Jahe. Aku membulatkan mataku tak percaya melihat adegan di depanku.

Donghae oppa tak pernah bersikap seperti itu pada orang lain selain diriku!

“Oppa, jika setiap hari minggu aku datang ke rumahmu untuk olahraga bersama, bolehkah?”

“Oppa, aku mau itu”

“Oppa, lain kali kita harus jalan-jalan ke tempat lain”

“Oppa, kenapa badanmu sangat bagus?”

“Oppa aku__”

“Oppa ayo__”

“Oppa___”

Kulipat tanganku di depan dada melihat mereka yang sibuk jalan-jalan berdua di hadapanku. Donghae oppa seolah melupakanku sejak kedatangan wanita itu. Sebegitu menariknya kah si Jahe itu Sampai kau tak mau melihatku walau sedikitpun? Memastikan aku tetap ada di sini mengikuti kalian berdua? Kuhentikan langkah kakiku tiba-tiba, menatap punggung Donghae oppa yang semakin menjauh. Ia tak menoleh lagi bahkan untuk sekedar mengecek keberadaanku, ia tak melakukannya. Donghae oppa tak pernah seperti ini padaku, tidak sebelum wanita itu datang.

“Hei!” Sapa seseorang sambil melingkarkan tangannya di pundakku, dari suaranya saja aku sudah Tau dia siapa, aku tak tau bagaimana caranya dia ada di sini, aku tidak peduli.

Aku tetap memandang lurus punggung Donghae oppa yang semakin tidak terlihat oleh mataku. Tak terasa air mata itu mengalir dengan tidak tahu malunya di pipiku.

kenapa aku jadi cengeng begini?

“Yong, kau menangis?” tanya Kyuhyun oppa khawatir sambil menatapku dengan kening yang berkerut.

Kuhapus air mataku kasar dan pergi meninggalkan Kyu oppa, tapi dia malah mengikutiku dari belakang.

“Kau kenapa?” tanya Kyuhyun oppa sambil terus mengikutiku, tapi aku tak menjawab rasa penasarannya, aku hanya terus berjalan ke depan dengan air mata yang terus mengalir.

Aku tak pernah diperlakukan seperti ini oleh oppaku sebelumnya, dia selalu menggenggam tanganku, memastikan bahwa aku tetap berada di sampingnya, dia selalu menuruti keinginanku, membelikan semua makanan yang aku mau di sini walaupun uangnya akan habis. Dia selalu pergi dan pulang bersamaku. Bukan dengan wanita sialan itu!!!

“Kau menangis karena oppamu?” tanya Kyuhyun oppa lagi.

Sekarang kami sedang duduk di sebuah taman di pinggir sungai han. Dia selalu mengikutiku, Aku tak mengerti apa yang ada di pikiran guru matematikaku ini. kudongakkan kepalaku menatap langit lalu menghembuskan napas berat.

“Entahlah, aku tak mengerti kenapa aku begini, rasanya begitu sesak. Donghae oppa tak pernah mengabaikanku. Dia selalu menggenggam tanganku di keramaian seperti ini, memastikan aku ada di sampingnya.”

“Jadi, kau ditinggalkan oleh oppamu?”

“Hmm…ya. untuk wanita Jahe sialan itu!” Umpatku kesal sambil menendang kerikil kecil di dekat kakiku.

“Kau cemburu?”

Pertanyaan itu sontak membuatku menolehkan kepala ke arahnya.

“Cemburu? Hahaha… dia itu oppaku Kyuhyun seonsaengnim…” jawabku sambil tertawa geli.

“Hmm…iya juga ya…” Jawabnya sambil tersenyum malu.

Aku menatap Kyu oppa kagum, dia benar-benar terlihat mempesona saat sedang tersenyum sepeti itu. Jika senyum Hae oppa terlihat manis dan menenangkan, maka senyum Kyuhyun seonsaeng terlihat polos dan menggemaskan, membuat siapapun akan ikut tersenyum ketika melihatnya.

“Yong, kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.

“Kau baru sadar wajahku lebih tampan dari Choi Siwon?” lanjutnya sambil tersenyum geli. Aku memutar bola mataku malas.

“Choi Siwon? Cih…Bahkan wajah Choi Siwon saat sedang menahan kentut pun tak ada apa-apanya dibanding wajah berlubangmu itu setan narsis!” Ucapku sadis.

“YAK!”

Kyuhyun oppa memukul kepalaku agak keras.

“Aish, sakit!!! Kenapa semua orang selalu memukul kepalaku sih?” gerutuku sebal sambil mengusap-usap kepalaku yang di pukul Kyuhyun oppa barusan.

“Karena mulutmu itu tidak pernah dijaga bodoh!” Jawabnya penuh penekanan.

“Lalu? aku harus menyewa Security untuk menjaga mulutku, begitu?”

“Aish!!!” Teriaknya kesal.

Setelah itu, yang kami lakukan hanya terdiam, aku sibuk dengan pikiranku tentang Hae oppa, sedangkan dia mendongakkan kepalanya menatap langit, tak tau sedang memikirkan apa.

“Mmm… daripada kau terus bersedih karena oppamu itu, lebih baik kita ke taman hiburan.” Usulnya, membuatku menatapnya dengan mata yang berbinar.

“Kau akan membawaku kesana? Gratis kan?” tanyaku tak bisa menyembunyikan keantusiasanku.

Kyuhyun oppa terkekeh pelan lalu menggenggam tanganku.

“Kajja!”

 

 

“Aaaaa oppa aku takut!” teriakku saat Kyuhyun oppa menarikku kesebuah Roller Coaster besar yang menjadi permainan utama tempat wisata ini. Beberapa orang menatapku aneh karena dari tadi aku berteriak di depan telinga mereka.

“Oppaaaa!”

Aku semakin histeris saat si Cho bodoh itu terus menyeretku semakin dekat ke roller coaster yang melihat rel-nya saja sudah membuat kakiku lemas.

“Ayolah Yongie, kau harus mencoba permainan keren ini!” Mohonnya saat melihatku yang sudah mencengkram tiang penyangga di dekat roller coaster.

“Aku sudah membeli tiketnya, ini sangat mahal, kau tak kasihan padaku?”

Kyuhyun oppa menatap kedua tiket roller coaster itu nanar, taman hiburan ini memang mengharuskan pengunjungnya membeli tiket saat akan menaiki wahana, sedangkan masuk ke sini dihitung gratis.

Jika dipikir-pikir kasihan juga sih Kyuhyun oppa. Dia sudah membelikan tiket roller coaster untuk kami yang harganya saja bahkan tak sebanding dengan uang jajanku.

“Yongie….”

“Yasudah, aku mau.” Jawabku dengan terpaksa.

Kyuhyun oppa tersenyum senang lalu menyeretku masuk ke dalam sana dengan antusias.

Aku mendudukkan diriku di kereta luncur itu yang ternyata kebagian di barisan pertama! Sial sekali…

Aku mengumpat pelan, lalu dengan terpaksa duduk dan memakai pengamannya setengah hati. Jujur saja, ini pengalaman pertamaku naik roller coaster, dan aku sangat gugup sekarang.

“Kau takut ya? Hahaha tenang saja Yong, permainan ini tidak akan membunuhmu.” Ejek Kyuhyun oppa sambil tersenyum menyebalkan. Aku memelototinya sadis, membuat Kyuhyun oppa mengubah ekspresinya dan menatapku serius.

“Kau tidak boleh membesarkan matamu seperti itu, aku ini gurumu! Sopanlah sedikit!”

Aku menatap Kyuhyun oppa malas

“Apa peduliku?”

“YAK! Neo___ aaaaaaarrrrgghhhhh”

Tiba-tiba roller coaster ini melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Kyuhyun oppa berteriak histeris di sampingku, sedangkan aku memper-erat peganganku pada pengaman roller coaster, waaaaahhh ini sangat mengasikan! Ternyata Tidak seburuk yang kukira!

“Yuhuuuuuuuuu”

“Aaaargggghhhhh, berhenti jebal!… Aarggghhhh Yongie! Yongie”

“Hahahahahaha…,yuhuuuu!”

Roller Coaster itu terus berputar dan melaju dengan kecepatan yang menggila membuat adrenalinku tertantang dan teriakan dari pengunjung lain semakin kencang.

“Eomaaaaa…. tolong aku, tolong!”

Aku tidak mempedulikan teriakan guru matematika bodoh itu. Mengganggu orang bersenang-senang saja.

“Huahahahahaha… Aaaaarghhh, yuhu!” teriakku saat mencapai puncak rel terakhir,.

“Aku tak kuat lagi jebal… Arrrrghhhhhh!”

“Yah…,”

Aku menundukan kepalaku saat roller coaster ini berhenti

“One more time, one more time!” Teriakku semangat sambil menendang-nendangkan kakiku di udara. Aku ingin lagi!

“One more time, one more time! Yuhuuuuu”

“Yong…”

“Aku ingin lagiii!”

“Yong…”

Aku langsung menolehkan kepalaku ke samping saat Kyuhyun oppa memanggilku untuk yang kedua kalinya, kuperhatikan wajahnya dengan kening berkerut.

“Buahahahaha!”

Tawaku meledak begitu saja saat melihat wajah Kyuhyun oppa yang pucat pasi, mata setengah terbuka, dan tangan yang super dingin.

Dia lebih mirip zombie nyasar daripada seorang guru matematika sekarang.

“Hahahaha wajahmu kyu! Wajahmu!” Ejekku terbata-bata sambil memegengi perutku yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Kyuhyun oppa menatapku tajam dengan matanya yang sudah sayu itu.

“Kurang ajar kau Yong! Cepat bawa aku keluar sebelum kita diusir satpam. Kereta ini mau dipakai lagi!” Perintah kyuhyun oppa sambil mengulurkan tangannya. Aku menaikkan salah satu alisku.

“apa?”

“bantu aku bodoh! Kakiku lemas.”

Kuputar bola mataku malas lalu menyambut uluran tangannya.

“Makannya jangan sok jagoan!” Ledekku sambil menahan berat tubuhnya yang jika kulepaskan sebentar saja pasti akan jatuh tersungkur. Sepertinya dia benar-benar pusing.

Kami keluar dari arena roller coaster itu dengan Kyuhyun oppa yang dipapah olehku, kududukkan dirinya sebuah kursi panjang di bawah pohon buatan berwarna pink yang berada di tengah-tengah permainan lain. Beberapa orang terlihat mengelilingi pohon itu untuk duduk, atau sekedar berteduh.

“Oppa, kau mau kopi?” tawarku, Kyuhyun oppa menganggukan kepalanya lalu meraba-raba saku depan celana, mungkin dia mencari dompetnya.

“Aku saja yang bayar, kau kan sudah mentraktir banyak wahana disini. Kalau Cuma segelas kopi saja aku juga bisa kok.” Ucapku lalu berjalan menuju kedai kopi di seberang pohon buatan itu dan memesan 2cup capucino hangat agar Kyuhyun oppa tidak pusing lagi.

“Gomawo[2]

Kyuhyun oppa tersenyum lembut saat aku menyodorkan segelas capucino hangat ke arahnya, aku ikut tersenyum lalu mendudukkan diriku di samping Kyuhyun oppa.

Lama kami terdiam sampai akhirnya aku kembali mengeluarkan suaraku.

“Kyuhyun oppa, gomawo” ucapku tulus.

Kyuhyun oppa menolehkan kepalanya ke arahku.

“Untuk apa?”

“Semuanya. Untuk menghiburku saat di taman, untuk mengajakku ke sini, dan untuk membuatku tersenyum.”

 

 

“Aku pulang!” Teriakku semangat sambil membuka pintu rumah.

“Gelap sekali…” gumamku saat sudah sampai di dalam rumah dan mengunci pintunya kembali. Hae oppa pasti sudah tidur.

Aku meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu.

KLIK

Saat lampu itu menyala, kulihat Hae oppa duduk di kursi dengan kaki yang di silangkan dan tangan di depan dada, Matanya menatapku tajam.

“oppa” cicitku pelan.

Laki-laki itu berdiri dengan cepat, menarik tanganku kasar lalu menghempaskan tubuhku di kursi yang tadi didudukinya, kupegang pergelangan tanganku yang memerah karena dicengkram terlalu kuat olehnya.

“Kau kemana saja, hah? Kenapa tiba-tiba menghilang di pasar minggu? Kau seharusnya mengikutiku dari belakang!”

‘Dan menjadi orang bodoh di antara kemesraan kalian? Tidak terimakasih’ ucapku dalam hati.

“Kenapa? kau marah karena oppa memotong waktu tidurmu di hari minggu? Karena harus berjalan jauh sampai berkeringat? Atau karena acara kencan dengan guru matematika brengsekmu itu terganggu olehku?” teriaknya kasar tepat di depan wajahku, aku membulatkan mataku kaget.

“Mwo?” Gumamku tak percaya mendengar semua tuduhannya.

Kencan katanya? Kupalingkan wajahku ke arah lain, berhenti menatap wajah favoritku itu saat ini.

“Bagus sekali Lee Donghae-ssi, kau memutar balikkan fakta seolah-olah aku yang meninggalkanmu.” Ucapku sambil terkekeh pelan.

“Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti. Kutatap matanya tajam.

“Yang seharusnya marah itu aku! Kau meninggalkanku di pasar minggu karena wanita itu! Kau menganggapku tak ada saat kau bersamanya, sebegitu menarikkah perempuan itu sampai-sampai kau melupakan adikmu sendiri oppa?” tanyaku sinis.

“Tapi kau tidak seharusnya pergi dari sana selama berjam-jam dan membuatku khawatir! Kau menyusahkan orang lain! Jinhae saja ikut mencarimu sampai malam!” Bentaknya kasar.

Aku terdiam setelah mendengar ucapan itu, mataku menatapnya tidak percaya. Kalimat singkat yang baru saja ia ucapkan itu seolah menohok dadaku sampai aku kesulitan bernapas, kutundukkan kepalaku dalam dan tertawa mengenaskan.

“Jadi… hanya karena itu?” ucapku miris, mataku sudah buram oleh air mata sedangkan tanganku mencengkram jaketku kasar, kucoba untuk berdiri walaupun kakiku rasanya sangat lemas.

“Maaf karena sudah menjadi beban untukmu dan membuat kekasihmu pulang malam oppa.”

Kubungkukan badanku berkali-kali ke arahnya, sedangkan mataku sudah tak fokus lagi.

 

Author’s POV

Yonghee mengerjap-ngerjapkan matanya pelan saat sinar matahari itu masuk secara berlebihan ke dalam kamarnya, gadis itu mendudukkan badannya dan menolehkan wajahnya ke arah kaca yang ada di samping tempat tidur. Matanya bengkak karena menangis semalaman, dan kulitnya pucat pasi. Mungkin efek dari perutnya yang tak diisi sejak kemarin. Salahkanlah dirinya yang selalu menolak tawaran Kyuhyun untuk makan.

Gadis itu melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan menyiapkan semua keperluan sekolahnya walaupun hari ini ia benar benar ingin istirahat. Setelah semuanya siap, Yonghee melangkahkan kakinya keluar kamar. Kosong. Itulah yang ia lihat. Mungkin Donghae sengaja pergi lebih cepat untuk menghindari yonghee semenjak kejadian kemarin.

 

Yonghee’s POV

‘Lihat gadis itu!’

‘Kudengar dia diciprati air kubangan jum’at sore.’

‘Gadis itu benar-benar bermuka tebal…’

Kupejamkan mataku beberapa saat untuk menghilangkan rasa pening di kepalaku, ditambah ocehan-ocehan mereka yang semakin memperburuk keadaan. Biasanya aku sangat cuek menghadapi ini, tapi sekarang, entahlah, aku merasa cukup terganggu dengan kata-kata mereka.

Aku merogoh saku bajuku, mengeluarkan mp3 pemberian Donghae oppa lalu memasang headsetnya. Sekarang aku tak peduli, terserah kalian mau bilang apa. I can’t hear u all…

Kududukkan tubuhku lemah di atas kursi yang ada di meja paling belakang. Aku sangat lemas, sungguh. Mungkin ini efek langsung karena aku belum makan dari kemarin, tapi melihat makanan pun aku tak berselera. Kata-kata Donghae oppa malam itu terus terngiang di telingaku. Kalian boleh bilang aku berlebihan atau apapun, tapi inilah kenyataannya, aku belum pernah bertengkar dengan oppaku sampai separah ini, wajar saja bukan jika aku merasa sangat shock dan tidak bersemangat melakukan pekerjaaan apapun? Apalagi mengetahui kenyataan bahwa mungkin posisiku sudah diambil oleh orang lain.

Dia lebih mementingkan wanita asing itu dibanding aku, adiknya sendiri…

Dia lebih mengkhawatirkan wanita itu…

Dia memarahiku hanya karena wanita itu…

Aaaarggghhhhh!

Kuusap wajahku kasar.

Apakah posisiku sebagai adik kesayangannya mulai tergantikan seiring dengan masuknya gadis itu ke dalam hidup kami? jika itu memang benar, maka mungkin neraka hidup itu akan segera menghampiriku.

Aku memang egois, aku tak akan pernah bisa hidup tanpa perhatian oppaku, walaupun aku sudah menikah dengan orang lain nanti, aku akan tetap mengemis-ngemis kasih sayang padanya sebagai kakak.

“Hei, gadis kampung!” Panggil seorang wanita sambil mendorong bahuku kasar, membuatku mendongakkan kepalaku yang sedari tadi menatap lantai. Aku memutar bola mataku saat melihat gadis pirang itu berdiri di depanku.

“Wae? Apa kau tak bosan menggangguku setiap hari?” tanyaku sambil tetap menjaga nada suaraku agar tak terdengar lemah di depannya.

Gadis itu memainkan rambutnya sambil tersenyum sok manis.

“Tidak, aku tak akan bosan mengganggu murid miskin tidak tau malu sepertimu.” Jawabnya sadis.

Kupalingkan pandanganku ke arah lain beberapa saat lalu menatapnya lagi.

“Sebenarnya apa salahku padamu, huh?” tanyaku emosi.

“Salahmu? Baiklah, aku akan menjabarkan kesalahanmu satu persatu.” Gadis itu tersenyum setan di hadapanku.

“Pertama, kau orang miskin, dan kau berani-beraninya masuk ke sekolah ini, dengan modal beasiswa.”

Si pirang sialan itu menyusuri wajahku dengan kuku berwarnanya.

“Kedua, kau mempermalukanku di kantin dengan mengataiku muka make up,” lanjutnya yang membuat semua perhatian di kelas tertuju pada kami.

“Yang ketiga, kau kembali menghinaku di depan halte. Itu sudah cukup untuk membuatku membencimu.”

Gadis itu mendekatkan wajahnya ke arahku lalu mengelus rambutku.

“DAN KAU SEMAKIN MEMPERPARAH KEADAAN DENGAN MENGGODA KYUHYUN SEONSAENGNIM YANG TELAH LAMA AKU INCAR, MURID MISKIN!” Jeritnya sambil mendamprat wajahku.

Aku memejamkan mata, mencoba mengontrol emosiku yang semakin memuncak setelah merasakan tangannya yang mendarat mulus di pipiku, rasa panas dan nyeri mulai menjalar di pipi kananku yang terkena tamparannya.

Jika badanku tak lemas, ingin sekali ku balas tamparannya itu berkali-kali lipat, namun apa daya, untuk berdiri saja kini aku sudah tak sanggup. Tapi aku tak mau kalah, kusunggingkan senyum sinisku dan menatap matanya dengan pandangan meremehkan.

“Kau tahu dari mana, tentang aku dan Kyuhyun seonsaengnim?”

“Kau tak perlu tahu! Yang jelas kau sudah menggoda laki-laki incaranku, dasar gadis rendahan!” Makinya kasar membuat emosiku semakin tersulut, ku pejamkan mataku sejenak sambil mengepalkan tanganku erat, kutatap wajah gadis pirang itu serius.

“Jika Kyuhyun seonsaengnim menyukaiku, bagaimana?” tanyaku dengan nada merendahkan, kulihat wajah gadis pirang itu mengeras, dia mengatupkan rahangnya sambil menatapku penuh kebencian.

Oh, sepertinya aku menimbulkan masalah baru.

Dia menarik tanganku kasar dan membawaku keluar kelas, gadis itu menyeretku sepenjang koridor Sekolah, membuat beberapa pasang mata menjadikan kami tontonan gratis mereka. Dengan tenaga yang tersisa, kucoba melepaskan tanganku yang ada di genggaman si pirang ini, namun untuk menggerakkan tanganku saja rasanya susah sekali, luka memar bekas cengkraman Donghae oppa kemarin malam semakin memperparah keadaan tanganku.

“Lepas, kau mau membawaku kemana pirang sialan!” Makiku kasar.

“Kau masih berani memanggilku pirang sialan di saat saat seperti ini huh?” tanyanya sambil mengeratkan cengkramannya di pergelangan tanganku, membuatku meringis pelan menahan rasa sakitnya.

Dia membawaku ke arah Toilet, bersama teman-temannya yang lain yang sedari tadi mengikuti kami dari belakang.

“Lepaskan tanganku, gadis bodoh!”

BRUKKK

“Aaaakkhhh”

Dan akhirnya si pirang itu mengabulkan permintaanku, tapi kenyatannya dia bukan melepaskanku, wanita itu dengan seenaknya menghempaskan tubuhku ke sudut Toilet.

Kucoba berdiri sambil memegangi pinggangku yang sakit karena menabrak ujung wastafel, mencoba menhindar darinya yang aku yakin sebentar lagi akan menghajarku habis-habisan jika tak bisa keluar dari toilet ini.

“Kau membuang-buang waktuku gadis pirang!” Umpatku kasar, berusaha berjalan walaupun tertatih-tatih menuju pintu keluar, namun saat aku berjalan melewatinya, gadis itu mencengkram bahuku dan mendorongku kasar ke tembok yang ada di sampingku.

“Kau pikir bisa lolos begitu saja dariku?” ucap gadis itu sambil mencengkram wajahku dengan tangannya kasar, aku yakin kuku-kuku panjangnya itu sudah menembus kulit wajahku.

“Apa maumu, hah?” tanyaku tak mau kalah, aku tak boleh terlihat lemah di depan lawanku walaupun sebenarnya kaki ini sudah tak sanggup menopang badanku sendiri.

“Jauhi Kyuhyun seonsaengnim.” Jawabnya dingin.

“Maaf ya nona pirang, tapi yang selalu berjalan mendekat itu Kyuhyun oppa, bukan aku!” balasku sombong tanpa menggunakan embel-embel ‘Seonsaengnim’ dan dengan beraninya memanggil guru matematika itu dengan sebutan ‘kyuhyun oppa’ menunjukan hubungan kami yang sudah sangat dekat.

‘Bagus Lee Yonghee, kau membuat gadis ini semakin murka di saat tubuhmu tidak memungkinkan untuk melawannya’ rutukku dalam hati.

“Apa kau bilang? Dasar gadis sialan!” Makinya penuh amarah lalu menampar wajaku sangat keras sampai-sampai tubuhku terhempas kembali ke lantai kamar mandi.

Kurasakan darah merembes dari kedua sudut bibirku yang robek. Ini kedua kalinya dia menamparku sampai seperti ini. Kulihat teman-temannya yang berada di belakang gadis pirang itu tertawa puas melihatku yang terduduk di lantai dengan luka di sudut bibir.

Dia menundukkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya denganku, lalu tersenyum miring.

“Sadarlah, kau itu hanya seorang gadis miskin yang beruntung dapat bersekolah disini!” Ejeknya tepat di depan wajahku, sedangkan tangnnya menjambak rambutku kasar sampai aku harus mendongak.

“Lalu kenapa kalau aku gadis miskin? Aku lebih menarik dibandingkan gadis-gadis kaya seperti kalian, buktinya yang dikejar Kyuhyun seonsaengnim itu aku, bukan kau!!!”

Gadis itu membulatkan matanya tidak percaya, menatapku penuh amarah lalu dengan sekali gerakan, kakinya menendang tubuhku sampai tersungkur, membuat kepalaku membentur lantai kamar mandi yang dingin. aku memejamkan mataku erat saat rasa sakit di pinggangku semakin parah setelah gadis itu menendangnya, ditambah lagi punggungku yang ikut terluka setelah kejadian tadi. Aku yakin akan ada lebam baru di sana, badanku seakan remuk dan pandanganku mulai kabur.

“Gadis miskin tak tau diri!”

Seakan belum puas, gadis itu kembali menghampiriku lalu mencengkram kerah kemejaku, memaksaku untuk berdiri. Aku tak bisa berbuat apa-apa, badanku sudah sangat lemas untuk melawan perbuatannya. gadis itu menyunggingkan senyum setan saat melihat tubuhku sudah tak berdaya di dalam cengkramannya.

“Makannya… jangan sok jagoan!” Ejeknya sinis lalu membenturkan kepalaku ke ujung wastafel.

Dan setelah itu…

Semuanya gelap.

 

-TBC- 

Makasih buat admin yang sudah mempublish ff saya, dan juga readers yang hanya sekedar baca atau ninggalin komen di sini, kalian bisa main ke wp pribadi saya di eunhaecutiepie.wordpress.com

ini ff udah lama banget, saya tulis pas masih jaman SMA, dan bisa dibilang ff pertama, jadi maaf kalo tulisannya masih abal-abal J

 

 

[1] . Panggilan untuk kakak perempuan dari adik perempuannya/ Orang yang lebih muda
[2] . Terimakasih

1 Comment (+add yours?)

  1. Monikaa sbr
    Sep 04, 2016 @ 22:06:48

    Waduh… Semoga aja yonghee gak kenapa2.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: