Destiny [4/7]

PicsArt_1461970463296

Nama penulis : Eunhaecutiepie

Judul : Destiny

Tag : Lee Donghae, Cho Kyuhyun

Genre: Romance

Rating : PG-13

Length : Chapter

My wp : eunhaecutiepie.wordpress.com

 

 

Part 4

 

Author’s POV

“Yak, ada apa denganmu? Kau menumpahkan sup di meja pelanggan, memecahkan piring di dapur, dan sekarang, kau melamun saat bekerja. Aku akan kehilangan pelanggan jika kau seperti ini terus Donghae-ya”

Shin ahjumma duduk di depan Donghae yang sedang termenung di salah satu kursi pengunjung, menyampaikan protesnya akan cara kerja Donghae hari ini yang jauh dari kata ‘memuaskan’.

“Apa kau sakit?” tanyanya sambil menempelkan tangan di kening pegawai yang sudah ia anggap anak sendiri itu.

Laki-laki itu tersenyum lalu menurunkan tangan Shin ahjuma dari keningnya.

“Mianhae[1], aku tidak bekerja dengan baik hari ini dan malah merugikanmu ahjuma.” Sesalnya.

“Kau kenapa hmm? Tidak biasanya kau seperti ini.”

Donghae tersenyum, Shin ahjuma adalah satu-satunya orang yang masih peduli dan memperhatikan keadaannya bersama Yonghee sejak awal mereka tinggal di sini, wanita itu juga sangat menyayangi mereka dan memperlakukannya bagaikan keluarga sendiri walaupun sebenarnya mereka tidak memiliki hubungan apapun.

“Gwenchana, aku hanya sedang banyak pikiran.” Jawab Donghae sambil mengelus tangan Shin ahjuma yang ada di genggaman tangannya.

KRINGGG

Donghae melepaskan tangan Shin ahjuma saat handphone di sakunya berbunyi, ia merogoh saku celananya dan menarik kedua sudut bibirnya saat melihat ID caller yang terpampang di layar ponsel.

‘Aku tau kau tak akan bisa berlama-lama marah padaku Yongie sayang.’ Pikirnya dalam hati sambil tersenyum setan. Tanpa menunggu lama, laki-laki itu menggeser tombol hijau yang terpampang di ponselnya ke pinggir.

“Wae? Kau merindukanku huh?” tanyanya jahil.

Shin ahjumma tersenyum maklum lalu pergi meninggalkan Donhae yang masih sibuk dengan alat komunikasinya itu, menunggu jawaban Yonghee. namun orang yang berada di ujung telepon tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Yong?” tanya Donghae heran saat orang yang ada di seberang telfon tak kunjung memeberi tanggapan.

“Maaf, aku menelponmu menggunakan hanphone adikmu, Lee Yonghee.”

Donghae mengepalkan tangannya saat ia mendengar suara seorang pria di ujung telepon, kenapa dia bisa memekai handphone milik adiknya? Apa yang sedang mereka lakukan?

“Ada apa?” tanyanya dingin.

“Aku yakin kau adalah kakak laki-lakinya, mengingat kontakmu yang dinamai ‘Donghae oppa’ disini, dan maaf aku telah lancang membaca obrolan pesan singkatmu bersamanya, sehingga aku mengetahui seseuatu bahwa kau adalah salah satu anggota keluarga Yonghee.” Ujar seseorang di seberang sana panjang lebar.

Donghae mengerutkan keningnya, merasakan hal yang aneh dengan orang ini yang cenderung bertele-tele dalam menyampaikan informasi, seperti takut dan ragu menyampaikan hal inti yang ingin ia sampaikan.

“Langsung saja pada initinya.” Balas Donghae tegas.

“Itu…hmmm. Adikmu sekarang berada di Seoul International Hospital karena___”

Brakkk

Donghae membanting handphonenya kasar tanpa menunggu penjelasan orang itu terlebih dahulu lalu berlari keluar setelah sebelumnya membuka celemek dan menyambar jaketnya cepat. ‘Tidak ada pilihan lain, Aku harus naik taksi’ monolognya saat sudah tiba di jalan raya, Donghae meraba-raba celanya panik lalu mengacak ngacak dompetnya dan berteriak frustasi saat ia tak menemukan uang sepeserpun untuk membayar taksi.

Sial!

Ia benar-benar harus pergi dan memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja. Laki-laki itu tak bisa menunggu lebih lama lagi dengan perasaan khawatir yang berlebihan seperti ini. Donghae mengusap wajahnya kasar lalu berlari ke arah barat, menuju Seoul International Hospital yang jaraknya 2 kilometer dari tempatnya bekerja.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan Yongie-ya?” monolognya sambil terus berlari dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Tak dipedulikannya umpatan kasar dan teriakan orang-orang yang ia tabrak sepenjang perjalanan, yang ada di pikirannya sekarang adalah Yonghee, adiknya, keluarga satu-satunya yang ia punya di dunia ini sedang berada disana. Ia yakin adiknya itu sedang dalam keadaan yang cukup serius sampai-sampai harus di bawa ke Rumah Sakit, mengingat sekolah tempatnya belajar merupakan sekolah elit yang memiliki dokter andal di UKS nya yang tergolong mewah, jadi jika bukan karena sakit parah, murid di sana tak mungkin di bawa ke Rumah Sakit.

“Nomor ruangan pasien yang bernama Lee Yonghee, murid Seoul International High School.” Tanyanya to the point pada receptionis rumah sakit dengan napas yang memburu.

 

 

“Dia mengalami beberapa luka di bagian pinggang, lebam di sekujur tubuh, dan cedera serius di kepala, anda tidak perlu khawatir, keadaannya sudah stabil. Hanya saja, pasien akan membutuhkan waktu beberapa hari sampai ia bisa sadar kembali. Trauma yang dialaminya menyebabkan tubuhnya menolak untuk bangun.”

Kata-kata dokter tadi siang terus terngiang di telinga Donghae.

Donghae menggenggam tangan Yonghee dan menempelkan bagian yang bebas dari selang infus itu di pipinya, pandangannya tak fokus saat melihat tubuh adik yang disayanginya itu terbujur kaku di ranjang rumah sakit dengan luka di sekujur tubuhnya.

“Yong…” Panggilnya serak, air mata itu turun begitu saja mengingat hal-hal yang terakhir kali mereka lakukan.

“Mianhae… maafkan oppa yang telah membentakmu malam itu, jika kau marah padaku bukan seperti ini caranya, ini tidak lucu Yongie-ya.”

Suaranya yang serak dan wajahnya yang basah oleh air mata itu terlihat sangat menyedihkan.

Donghae mengelus kepala yonghee lembut.

“Bangunlah hmm? Kalau kau marah padaku, pukullah aku sampai kau puas yong, jangan seperti ini.”

Donghae mengusap air matanya kasar, lalu mengecup kening adiknya sayang.

“Tidak bisakah kau bangun? Apa sangat sulit membuka matamu saat ini, hmm? Kau bisa mengejekku di depan semua pasien Rumah Sakit kalau kau mau, aku tidak akan marah.” Pintanya sambil tersenyum miris, membuat siapa saja yang melihatnya akan lebih mengkhawatirkan keadaan Donghae dari pada adiknya yang jelas-jelas tertidur di ranjang rumah sakit.

TOK TOK TOK

Donghae menghapus air matanya kasar mendengar ketukan pintu itu lalu duduk di kursi yang berada di samping ranjang

“Masuk!” Ucapnya sambil masih menggenggam tangan adiknya, ia menghembuskan napas kesal saat melihat siapa orang yang masuk ke dalam ruagan ini, Cho Kyuhyun.

“Kau sudah datang?” tanya Kyuhyun basa-basi saat melihat Donghae terduduk di samping adiknya, laki laki itu tersenyum lalu mendekati ranjang dan dengan santainya mengelus rambut Yonghee yang langsung ditepis kasar oleh Donghae.

“Jangan-sentuh-adikku.” Perintahnya mutlak, Kyuhyun terkekeh pelan melihat sikap overprotective Donghae yang sangat berlebihan menurutnya.

“Aku Cho Kyuhyun, guru matematika Yonghee.” Ucapnya memperkenalkan diri.

“Aku tidak akan mengulurkan tanganku untuk mengajakmu bersalaman, karena aku tau kau tak akan sudi bersalaman denganku.”

Kyuhyun membenarkan letak kacamatanya, sedangkan Donghae hanya terdiam sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Yonghee .

“Aku tau kau melihat wajahku setiap aku mengantar adikmu pulang, mengingat sikapmu yang sangat over protective itu aku yakin kau pasti membenciku karena aku sudah dua kali membuatnya pulang malam.”

Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di sana lalu menyilangkan kakinya, gayanya terlihat sangat berwibawa dan elegan, berbanding terbalik dengan sikap aslinya yang selalu ia tunjukkan di depan Yonghee ataupun orang-orang terdekatnya.

“Siapa yang membuat adikku sampai seperti ini?” tanya Donghae setelah beberapa saat mereka hanya terdiam.

“Anak dari pemegang saham terbesar sekolah kami, saya sebagai guru di SIHS meminta maaf yang sedalam-dalamnya, dan kami mohon jangan bawa kasus ini ke jalur hukum. tenang saja, murid itu sudah kami beri hukuman yang setimpal, dan untuk biaya rumah sakit…sekolah yang akan membayarnya, Anda tak perlu khawatir.”

“Adikku dianiaya oleh anak pemegang saham? Cih…lucu sekali.”

Donghae tersenyum meremehkan.

“Gadis brengsek mana yang melakukannya? Siapa namanya?” tanya Donghae kasar, tangannya terkepal di samping tubuhnya.

“Hara, Park Hara.” Jawab Kyuhyun tenang.

Mendengar nama itu, Donghae langsung menyambar jaketnya dan melangkah kasar menuju pintu keluar, ia akan membuat perhitungan dengan orang yang berani menyakiti adiknya sampai masuk Rumah Sakit sepeti ini, siapapun orangnya. ia tak peduli walaupun harus menghadapi pemegang saham terbesar sekalipun.

Tapi saat laki-laki itu sudah berada di ambang pintu, kyuhyun menghentikan pergerakannya dengan mencengkram lengan donghae kuat.

“Kuingatkan sekali lagi, dia adalah anak dari pemegang saham terbesar, beasiswa adikmu bisa dicabut jika kau melakukan tindakan di luar batas.” Ucapnya memperingati.

Donghae menolehkan kepalanya ke arah Kyuhyun, lalu menatapnya tajam.

“Aku tidak peduli cho kyuhyun-ssi, siapapun orangnya, selama dia berusaha menyakiti adikku, tak akan kumaafkan.” Jawab Donghae tegas sambil menghempaskan tangan Kyuhyun lalu menarik handle pintu.

“Kau akan lebih menyakiti adikmu dengan membuatnya keluar dari sekolah, belum lagi dengan tindakkan kasar yang pasti akan kau lakukan pada Park Hara bisa membuatmu masuk penjara, kau tak akan mungkin bisa melawan, orang tuanya bisa membayar pengacara terbaik Korea sekalipun, kupastikan kau yang akan masuk penjara jika nekad membalaskan dendammu pada gadis itu.”

Kyuhyun menghela napasnya pelan.

“Dan jika kau masuk penjara, adikmu akan lebih menderita karena harus membiayai hidupnya sendiri, pikirkan itu lee Donghae.”

 

 

Donghae mengepel lantai restoran itu dengan pandangan yang tidak fokus, kantung matanya sudah benar-benar mengerikan dan wajah lelah itu sangat memprihatinkan. Sudah tiga hari Yonghee berada di rumah sakit, dan sampai saat ini adik kesayangannya itu belum sadar juga. Keadaan itu membuat Donghae frustasi dan sering melamun, pekerjaannya benar-benar berantakan tiga hari ini, tak jarang ia mendapat teguran dari Shin ahjuma ataupun pelanggan yang tidak puas dengan hasil kerjanya. Entahlah, ia hanya merasa tidak benar jika tidak melihat wajah itu tersenyum, merasa sepi saat tak ada lagi ejekan yang terlontar dari bibir sadis adiknya, dan merasa kehilangan energinya saat tak merasakan pelukan hangat yang selalu Yonghee berikan setiap hari, belum lagi peristiwa menyakitkan malam itu benar benar membuatnya merasa bersalah.

Kenapa malam itu ia harus membentaknya?

Kenapa tangan itu harus menyeret Yonghee kasar sampai gadis itu kesakitan karena lebam di tangannya?

Dan kenapa bibir itu harus mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati adiknya sendiri sampai-sampai ia menangis semalaman?

Ya, Donghae tau semua itu, laki-laki itu melihat lebam kebiruan di pergelangan tangan Yonghee karena ia menariknya terlalu kasar dan mengobatinya diam-diam saat gadis itu sedang terlelap.

Dia mendengar jerit tangis adiknya sepanjang malam yang mati-matian disembunyikan Yonghee dengan mengurung dirinya di kamar dan ikut menangis karenanya, bahkan hatinya lebih hancur saat mendengar tangisan pilu itu, dia menyakiti adiknya sendiri sebelum peristiwa itu terjadi.

‘Yonghee pasti membenciku setengah mati.’ Pikirnya.

“Donghae-ah!” Panggilan Shin ahjuma membuyarkan lamunan Donghae tentang adiknya yang sampai saat ini masih tertidur di ranjang rumah sakit.

“Pergilah, Kau boleh libur bekerja hari ini jika kau mau, aku tau kau terus memikirkan adikmu tiga hari ini, jagalah dia di rumah sakit, dan urus dirimu sendiri Hae, kau benar-benar terlihat seperti mayat hidup.”

Donghae mendongakkan kepalanya lalu tersenyum miris.

“Tak apa, aku baik-baik saja, aku tak mau makan gaji buta ahjumma.” jawabnya sambil terkekeh pelan, yang malah terdengar seperti ringisan menyedihkan.

“Pergilah, tak ada gunanya kau berada disini jika hanya melamun sepenjang hari. Lagi pula masih banyak pegawai lain yang dapat membantuku.” Jawab Shin ahjumma sambil merebut alat pel dari tangan Donghae.

“Sampaikan salamku untuk Yonghee, maaf aku tak bisa menjenguknya.”

Shin ahjuma tersenyum sekilas lalu melanjutkan mengepel lantai.

“Oh, iya. satu lagi, di meja nomor 9 ada seorang gadis cantik yang ingin menemuimu, kalau tidak salah namanya Jinhae, Lee Jinhae.”

“Sudah berapa lama dia seperti ini?” tanya Jinhae memecah keheningan.

Sedari tadi mereka hanya terdiam di pinggir ranjang Yonghee, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Tiga hari.” Jawab Donghae seadanya sambil mengelap wajah Yonghee dengan handuk kecil yang dibasahi air hangat.

“Selama itu kah? Dia tidak dalam keadaan koma, kan?” tanya Jinhae hati-hati.

Donghae menghela napasnya berat lalu kembali mencelupkan handuk itu ke dalam air hangat.

“Ya, seharusnya memang tak selama ini, namun tubuh Yonghee seolah menolak untuk bangun, ini disebabkan oleh trauma psikis yang ia terima sebelum dibawa ke Rumah Sakit, setidaknya itu yang dijelaskan dokter kepadaku.”

“Trauma psikis? Memangnya dia kenapa bisa sampai berada disini?” tanya Jinhae penasaran sambil mengikuti pergerakan tangan Donghae yang memeras handuk kemudian membersihkan tangan Yonghee lagi.

“Dia dibully teman-teman Sekolahnya sampai tak sadarkan diri, dan …”

Donghae menggantungkan kalimatnya lalu mengehela napas berat.

“Kami bertengkar hebat malam itu, pertengkaran bodoh yang sangat kusesali hingga sekarang.” Jawab Donghae dengan suara seraknya.

Jinhae menatap laki-laki itu miris lalu memegang tangannya, menghentikan aktifitas Donghae yang sedang membersihkan tubuh adiknya.

“Apa kalian bertengakar karena aku?” tanya Jinhae sambil meremas tangan Donghae yang ada di genggamannya.

Donghae tersenyum menenangkan, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya bukan? itu tak akan menyelesaikan masalah, malah membuat semuanya menjadi semakin rumit jika ia melibatkan Jinhae disini.

“Bukan, bukan karena kau, ini masalah pribadi antara aku dan Yonghee.”

 

 

Yonghee’s pov

Putih.

Ruangan ini penuh dengan perabotan berwarna putih. Wangi khas obat-obatan menusuk indra penciumanku.

Ini di mana? Kukerjap-kerjapkan mataku pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk dengan mataku yang masih belum bisa beradaptasi.

“Bukan, bukan karena kau, ini masalah pribadi antara aku dan Yonghee.”

Suara itu…. Donghae oppa, aku yakin itu suara Donghae oppa.

Kupaksa mataku untuk terbuka dan langsung merasakan sakit di kepalaku saat mata ini kubuka dengan sempurna.

“Ahhh!”

“Yongie-ya”

Kulihat wajah panik Donghae oppa tepat berada di hadapanku saat aku nasih memegangi kepala.

“Oppa” ucapku serak.

Entahlah, tenggorokanku terasa sangat kering, seperti sudah tidak dipakai dalam waktu yang cukup lama.

“Gwenchana?” tanyanya sambil mengelus pipiku lembut, membuat wajah penuh kekhawatiran itu memenuhi penglihatanku.

Aku mengenggukan kepalaku pelan, Donghae oppa tersenyum lalu mencium keningku lembut.

“Oppa aku dimana?” tanyaku penasaran.

Aku tak tau apa yang terjadi sampai-sampai aku bisa berada di sini, aku seperti melupakan sesuatu tapi aku tak tau itu apa.

“Kau di rumah sakit Yong, sudah tiga hari.” Jawab Hae oppa, tangannya sibuk mengelusi rambutku yang mulai panjang dan memperhatikan wajahku lekat-lekat. Aish, dia ini kenapa sih? Seperti yang sudah lama tidak bertemu denganku saja.

Tapi tunggu tunggu….

Tiga hari?

Rumah Sakit?

Apa yang terjadi?

“Oppa, bolehkan aku ke rumahmu setiap minggu?”

“Hei, murid miskin!”

“Kau menyusahkan orang lain sampai Jinhae saja harus mencarimu hingga pulang malam!”

“Hahahaha, makannya jangan sok jagoan”

“Jadi, kau memarahiku karena itu? Karena kau takut Jinhae eonni kerepotan mencariku dan kelelahan?”

“Dan kau semakin memperparah keadaan dengan menggoda Kyuhyun seonsaengnim yang telah lama aku incar!”

“Maaf karena sudah menjadi beban untukmu dan membuat kekasihmu pulang malam oppa.”

Kuhempaskan tangan Donghae oppa kasar saat kilasan itu kembali memenuhi memoriku, paru-paruku seolah berhenti memasok oksigen ke seluruh tubuh saat aku menolehkan kepalaku ke samping dan melihat wanita itu berada tepat di samping Donghae oppa dengan wajah bingungnya.

Kenapa aku tak menyadari kehadirannya dari tadi?

“Yong, oppa…”

“Keluar!” Usirku kasar, aku tak bisa melihat wajahnya untuk sementara waktu. Jika saja pada saat aku bangun aku tak menemukan wanita itu lagi di samping Donghae oppa, mungkin aku sudah memaafkannya dan menghambur ke pelukan oppaku yang sangat aku rindukan belakangan ini. Tapi apa kenyataannya? Wanita itu berdiri tepat di sampingnya. Apa selama aku berada di sini mereka selalu bersama? Merasa bebas karena aku yang selalu mengganggu acara mereka sedang terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit? Miris sekali.

“Yongie, oppa mohon!” Pinta Donghae oppa lembut sambil menggenggam tanganku.

Kulepaskan tangan Donghae oppa dengan tenagaku yang tersisa

“Aku butuh waktu sendiri oppa.” ucapku sambil memalingkan wajahku ke arah lain.

kudengar laki-laki itu menghela napasnya berat lalu berjalan meninggalkan ranjangku bersama Jinhae eonni.

Dan setelah mereka menghilang di balik pintu, aku tak dapat menahan air mataku untuk tidak keluar.

 

 

“Hahahaha!”

Aku tertawa keras saat Kyuhyun oppa terus menceritakan hal konyol di hadapanku, laki-laki ini benar benar berbakat menjadi komedian.

“Aku tidak tau kalau itu adalah toilet wanita, sungguh!” ucapnya dengan wajah kelewat bodoh itu, membuatku kembali tertawa sambil memegangi perutku yang sakit.

“Aish, tidak ada yang lucu Yongie!” Teriaknya kesal, kuusap mataku yang basah karena menertawakan guru matematika bodoh ini.

“Itu tadi benar-benar lucu Kyuhyunie!” Balasku sambil masih tertawa.

“Apa? Kau memanggilku apa barusan? Kyuhyunie? Panggil aku Kyuhyun oppa! Dasar murid kurang ajar!”

Kyuhyun oppa menyentil keningku yang tidak terluka, membuatku merenggut kesal.

“Tapi kan kita hanya berbeda 6 tahun.” Jawabku santai sambil memakan apel yang sudah dikupasnya tadi.

“Hanya kau bilang? Umur kita terlampau jauh Yongie bodoh!” balasnya sambil mencubit pipiku gemas.

“Awww, sakit Kyunie!” Teriakku sambil menggetok kepalanya dengan pulpen Rumah Sakit yang ada di meja nakas.

“Yak!”

“Hahahaha”

KREKKK

Tawaku tiba-tiba saja berhenti saat pintu kamarku terbuka, kulihat Donghae oppa masuk, kutatap tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, aku baru sadar bahwa kantung matanya sudah tebal sekali dan wajah kusutnya itu menunjukkan dengan jelas bahwa ia sudah sangat kelelahan.

“Maaf, Kyuhyun-ssi. Bisakah kau keluar sebentar? Aku ingin bicara dengan adikku.” Pintanya sambil memandang lurus ke arahku.

“Hmmm, oke.”

Kyuhyun oppa bangkit dari kursinya lalu keluar dari kamar inapku, meninggalkan kami berdua di ruangan ini. Donghae oppa memejamkan matanya beberapa saat, lalu kembali menatapku dengan mata teduhnya itu. Dan seperti biasa… aku selalu luluh melihat mata teduhnya. Perasaan simpati perlahan-lahan mengalir di dalam diriku melihat keadaannya yang seperti ini, dia pasti sangat mengkhawatirkanku dan tak sempat mengurus dirinya sendiri.

“Yong, oppa minta maaf, malam itu… oppa…”

Dia tak bisa melanjutkan kata-katanya, kepalanya tertunduk dalam. Aku meringis melihat keadaannya yang seperti itu. Dia pasti merasa sangat bersalah selama tiga hari ini, bahkan aku sangsi apakah dia sudah makan atau belum mengingat pucatnya wajah itu, ditambah lagi penampilannya yang benar-benar berantakan. Aku jadi ingat kata-kata Kyuhyun oppa tadi.

‘Oppamu tidak sepenuhnya salah Yong, kau tidak boleh memperlakukannya seperti itu. Dia sangat menyayangimu, bahkan Laki-laki itu nekad berlari dari Restoran sampai kesini setelah mendengar bahwa kau di bawa ke Rumah Sakit.”

“Malam itu oppa…”

“Sudahlah, aku tak apa-apa.”

Potongku cepat saat melihatnya kesusahan merangkai kata-kata di hadapanku.

Donghae oppa menghela napasnya berat.

“Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu Yong.” Ucapnya lemah sambil menundukkan kepalanya.

“Ya, aku mengerti. Siapapun yang kau khawatirkan saat itu, aku sudah tidak peduli lagi.” Jawabku asal sambil menaikkan selimut sampai sebatas dada, Donghae oppa mendongakkan kepalanya lalu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjangku.

“Maaf.” Kuputar bola mataku malas saat kata-kata itu kembali keluar dari bibir tipisnya.

“Berhenti minta maaf padaku, ikan tampan! Dan… apa ini?, aigoo… kau tidak mandi berapa minggu huh? Dekil sekali!”

Ejekku sambil mengelap wajahnya dengan tissue basah yang ada di samping ranjangku, namun si bodoh itu malah menghentikan pergerakan tanganku dan menaruh tanganku di pipinya.

“Jangan tinggalkan oppa lagi.”

Aku terdiam melihatnya menutup kedua mata sambil mengelus tanganku yang masih berada di pipinya, sebegitu pentingkah diriku baginya? Benarkah? Terkadang aku sangsi dengan kenyataan itu saat Jinhae berada di sampingnya. Entahlah, aku merasa dinomor duakan. kalian boleh menganggap aku egois atau apapun itu, tapi aku benar-benar tak rela jika melihat oppaku bersama orang lain, lebih memerhatikan orang lain dari pada aku, dan melupakan kehadiranku yang biasanya selalu menjadi prioritas utama.

“Oppa, kapan aku bisa pulang dari sini? Aku bosan di Rumah Sakit terus!” Rajukku setelah beberapa saat kami hanya terdiam di dalam suasana yang terlampau romantis ini.

Hah… ikan tampan itu benar-benar memperlakukanku dengan baik, oppa terbaik yang pernah kumiliki.

Donghae oppa membuka matanya dan menurunkan tanganku dari pipi lembutnya.

“Aku tak tahu Yong, tapi aku tak akan mengijinkanmu keluar dari sini sebelum kau benar-benar pulih.” Jawabnya tegas, aku merenggut mendengar ucapannya.

“Tapi aku bosaaaaaan aku ingin pulang oppaaa!” Rengekku sambil menggoyang-goyangkan tangannya, Donghae oppa menatapku kesal lalu mendorong keningku menggunakan telunjuknya.

“Kau ini baru sadar tadi pagi Yongie bodoh!”

“Memangnya kenapa? aku sudah kuat oppa, aku ingin makan deokbokie[2] di pinggir jalan.” Pintaku extreme, tapi aku tidak bohong, aku benar-benar ingin deokbeoki sekarang.

Donghae oppa membulatkan matanya lalu mencubit pipiku pelan

“Kau harus sembuh dulu, baru bisa makan makanan pedas Yongieku sayang!”

krekkk

Suara decitan pintu itu membuat kami menoleh ke arah sumber suara, seorang gadis cantik dengan dress putih dan wedges pinknya menyembul dari pintu lalu tersenyum ke arah kami berdua.

“Bolehkah, aku masuk?” tanyanya sopan.

“Hmm… Masuklah eonni.” Jawabku mencoba bersopan-santun.

Wanita itu masuk ke dalam kamarku dengan sekeranjang buah di tangannya. melihat Jinhae eoni yang kesusahan, Donghae oppa ikut berdiri dan mengambil alih keranjang itu dari tangan Jinhae eoni lalu menaruhnya di atas meja nakas.

“Yongie, anyeong.” Sapanya ramah sambil duduk di kursi sebelah ranjang, tepat di samping Donghae oppa.

“Ah, ye, anyeong.” Jawabku kaku.

5hari setelah bangun dari ‘koma’

10 a.m

Author’s pov

“Oppa, apa semunya sudah dibawa? Apa tidak ada yang tertinggal?” tanya Yonghee saat Donghae menelusupkan tangannya ke bawah kaki dan pundak gadis itu.

“Tidak ada, aku sudah membawa semuanya.” Jawab Donghae.

Tangan kekarnya menggendong tubuh Yonghee tanpa kesulitan dan keluar dari kamar inap itu, beberapa wanita ataupun perawat yang ada di sepanjang koridor menatap mereka iri, mungkin orang-orang itu menganggap Yonghee dan Donghae adalah sepasang kekasih yang sedang memamerkan kemesraannya di hadapan umum, namun kenyataannya mereka hanyalah sepasang adik kakak yang saling menyayangi, tidak lebih.

Yonghee mengabaikan tatapan iri orang-orang itu dan lebih memilih mendongak, menatap garis wajah tegas kakanya yang selalu dikagumi gadis-gadis di luar sana. Bibirnya yang tipis, Matanya yang sendu, alisnya yang tebal, dan bagian yang paling ia sukai adalah hidung Donghae yang lancip dan sangat sempurna jika dilihat dari pinggir,

“Yong, tekan tombol lift nya.” Instruksi Donghae saat mereka sudah berada di depan lift, Yonghee mengalihkan arah pandangnya dan menekan tombol itu sampai menyala.

“Oppa”

“Hmm?” jawab Donghae tanpa mengalihkan pandangannya dari layar yang ada di bagian atas lift.

“Kapan aku bisa sekolah lagi?” tanya Yonghee hati-hati, ia tahu kakaknya ini sangat sensitif jika ditanya tentang sekolahnya.

“Secepatnya, setelah kau sembuh.” Jawab Donghae pelan. Ia menghela napasnya berat lalu menundukkan wajahnya menatap Yonghee

“Dan kupastikan kau tidak akan bersekolah disana lagi.” Ucapnya tegas. Yonghee membulatkan matanya kaget.

“Tapi oppa, apakah ada sekolah lain yang masih mau menampung murid beasiswa sepertiku? Ini sudah hampir tengah semester satu.”

Yonghee menatap wajah kakaknya sangsi. Donghae tersenyum tipis.

“Aku akan membayar biaya sekolahmu, jadi kau bisa masuk ke sekolah manapun tanpa beasiswa.” Balasnya. Yonghee menatapnya tak suka.

“Aku tak mau, oppa pasti akan mencopet lagi.” Jawabnya terlalu negative thinking. Membuat Donghae menatapnya tajam.

“Yak! Aku tak akan melakukan hal itu lagi!” Ujarnya setengah berteriak.

TING

Donghae melangkahkan kakinya memasuki lift yang kosong sambil memperbaiki pangkuannya.

“Lalu?” tanya Yonghee sambil menekan angka ‘1’.

“Aku akan bekerja lembur di kedai Shin ahjumma, jam kerjaku juga kemungkinan ditambah, dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam karena aku harus menyiapkan Restoran sebelum buka dan beres-beres sesudah tutup. Selain itu aku juga harus menjaga Restoran semalaman dan menginap di sana, mungkin akan sangat jarang pulang kerumah, dia berjanji akan membayar 3 kali lipat jika aku bersedia melakukannya.” Balasnya santai, sedangkan Yonghee sudah menatap kakaknya tak suka. Donghae yang menyadari perubahan wajah adiknya itu mengerutkan keningnya bingung.

“Apa? Kenapa menatapku seperti itu?”

“Aku akan tetap sekolah di sana, aku tak mau oppa bekerja sekeras itu hanya untuk membiayaiku sekolah.” Jawabnya tegas

“Tapi aku juga belum siap melihatmu tertidur di ranjang rumah sakit lagi seperti kemarin Yongie…” Ucapnya khawatir.

“Aku berjanji akan lebih menjaga diriku oppa, kau tak perlu seperti itu.”

“Aku hanya ingin memastikan adikku mendapatkan sekolah terbaik, aku tak mau kau di sakiti lagi baik itu fisik ataupun mental.” Ucap Donghae berusaha membujuk Yonghee agar mau pindah sekolah.

“Kau akan lebih sering berada di Restoran daripada di rumah oppa, aku tak mau!”

Yonghee mengeratkan pelukannya di leher Donghae dan menyembunyikan wajahnya di dada kakanya itu.

“Akan kuusahakan tidur di rumah 3hari sekali, ok?” bujuk Donghae memberi pengertian, tapi Yonghee malah menggelengkan kepalanya dengan wajah yang semakin tenggelam di dada kakaknya.

“Aish, dasar anak nakal!”

TING

Donghae melangkahkan kakinya keluar dari lift, berjalan lurus dengan Yonghee yang tersenyum senang dan semakin mengeratkan pelukannya di leher oppanya itu. Donghae berjalan ke arah audi hitam yang terpakir tepat di depan Rumah Sakit dengan Kyuhyun yang menyenderkan badannya di pintu mobil.

“Cih… Romantis sekali.” Komentar Kyuhyun sambil membukakan pintu bagian belakang, mempersilahkan Donghae dan Yonghee untuk duduk disana.

Donghae mendudukkan gadis itu di kursi bagian kiri lalu memutar arah dan ikut masuk ke dalam mobil dari pintu sebelah kanan. Setelah kakaknya masuk dan duduk di sebelahnya, Yonghee langsung menyenderkan kepala di pundak oppa kesayangannya itu. Membuat Kyuhyun yang baru masuk mendecakan lidahnya kesal.

“YAK! Kalian kira aku ini supir? Seenaknya saja bermesraan di dalam mobilku!” Teriak Kyuhyun tak terima.

“Aish, kau ini! Jika kau tidak ikhlas ya sudah, kami bisa pulang naik taksi kok, tak usah so-soan mengantarku pulang, lagipula aku dan Donghae oppa ini kakak beradik, bukan pacaran!” Yonghee balas berteriak sambil menendang-nendangkan kakinya ke jok mobil Kyuhyun tak sopan.

“Jangan menendang jok mobilku! YAK! LEE YONGHEE!”

 

 

“Oppa, memangnya kau tak ada kerjaan ya di rumah?” tanya Yonghee penasaran melihat Kyuhyun sudah datang ke kamarnya lagi dengan nampan yang berisi semangkuk bubur hangat dan air putih di tangannya.

“Tidak ada, lagipula aku tidak tega meninggalkanmu sendirian di rumah ini, oppamu sedang bekerja kan?” jawab Kyuhyun sambil menaruh gelas di meja nakas dan mengaduk bubur polos itu. Yonghee mendengus, merasa diremehkan oleh guru matematikanya sendiri.

“Kau tak perlu mengkhawatirkanku sampai seperti itu Kyuhyun seonsaengnim, aku ini sudah besar!” Ucapnya lalu menerima suapan dari Kyuhyun saat laki-laki itu mendekatkan sendok ke mulutnya.

“Kau masih lemah Yongie!” Balasnya sambil mengaduk bubur dan menyendoknya kembali, Kyuhyun meniup makanan itu terlebih dahulu sebelum menyodorkan makanan sehat itu ke depan mulut Yonghee. Gadis itu melahap buburnya dan mengunyah pelan-pelan, luka lebam di pipinya masih terasa jika dia melakukan gerakan berlebihan.

“Keundae, oppa, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Yonghee mengalihkan pembicaraan.

Kyuhyun mengerutkan keningnya beberapa detik lalu mengaduk bubur itu lagi.

“Tentang apa?”

“Tentang kita, maksudku, kau baru mengenalku beberapa hari, itupun tak sengaja. Iya kan?” tanya yonghee, kyuhyun mengangguk.

“Aku tidak mengerti, kenapa kau begitu baik padaku? mengapa kau selalu ada di saat aku mebutuhkanmu? Kau menghiburku di saat sedih, menjemputku ke rumah sakit, bahkan kau ada di rumah ini seharian hanya untuk menjagaku. kau bukan keluargaku oppa, bahkan Kita tak memiliki hubungan apapun.”

Yonghee menatap Kyuhyun bingung. Sebenarnya apa alasan Kyuhyun melakukan semua ini kepadanya?

Kyuhyun terdiam cukup lama, membuat gadis itu semakin kebingungan dengan sikapnya, tapi beberapa saat kemudian laki-laki itu mendongakkan kepalanya dan mengatakan sesuatu yang membuat Yonghee bingung dan berdebar secara bersamaan.

“Jika kita memang tidak memiliki hubungan apapun untuk bisa sedekat ini, akan kubuat kita memilikinya.” Jawabnya yakin sambil menatap Yonghee dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Maksudmu?” tanya Yonghee tidak mengerti.

“Aku menyukaimu Lee Yonghee, dari awal kita bertemu. Sejak aku melihatmu ditampar oleh Hara di kantin, sejak aku melihatmu kebingungan mencari buku tugas di dalam tas ranselmu, sejak kita pertama kali berkenalan di depan halte, aku sudah menyukaimu Yongie-ya.” Jawab Kyuhyun.

Matanya menatap Yonghee dalam, membuat si gadis terdiam dengan debaran jantung yang sudah menggila, Yonghee memejamkan matanya, mencoba menormalkan kerja jantungnya yang benar-benar tidak normal.

Kyuhyun?

Menyukainya?

Benarkah?

“Yong…” gumam Kyuhyun sambil menggenggam tangan Yonghee, menuntut tanggapan atas pengakuannya.

Yonghee menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah Kyuhyun secara langsung.

“Mmm…Kyuhyun oppa, aku…”

Yonghee meremas selimut yang membungkus tubuhnya di sekitar paha, melampiaskan kegugupan yang membuat badannya menegang.

“Aku….”

“BUAHAHAHAHAHA!”

Tiba-tiba saja Kyuhyun tertawa keras tepat sebelum Yonghee berbicara lebih lanjut.

“Wajahmu tadi sangat lucu Yong! Hahaha!”

Gadis itu mengerutkan keningnya heran melihat Kyuhyun yang sudah memegangi perut sambil berguling-guling di lantai.

Apa-apaan ini? Laki laki itu mengerjainya?

“Apa maksudumu? Kau bercanda?” tanya Yonghee tak percaya. Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di atas ranjang sambil menghapus sudut matanya yang berair.

Tentu saja Yongie bodoh! Kau kira aku benar-benar menyukaimu? Hahaha!” Jawab Kyuhyun sambil tertawa puas yang terdengar sangat tidak lucu di telinga Yonghee. Gadis itu mendengus kesal lalu manaikkan selimutnya hingga kepala dan berbaring membelakangi Kyuhyun yang masih tertawa puas.

“Ini tidak lucu Cho Kyuhyun.” Ucapnya dingin, membuat laki-laki itu menghentikan tawanya dan menatap punggung Yonghee yang ada di hadapannya, sadar bahwa leluconnya membuat gadis itu marah sekarang.

“Aku kan hanya bercanda Yong,” balasnya tak mau kalah, namun Yonghee malah terdiam, gadis itu sibuk menenangkan dirinya di balik selimut, tindakan kyuhyun benar-benar membuatnya emosi.

“Yongie, kau marah padaku?” tanya Kyuhyun sambil menggoyang-goyangkan badan Yonghee pelan, tapi gadis itu masih diam, tak menanggapi pertanyaan Kyuhyun sedikitpun.

Sepertinya dia marah, atau mungkin… kecewa?

“Yongieee, maafkan oppa, eoh?” rengek Kyuhyun sambil naik ke atas ranjang dan kembali menggoyang-goyangkan badan Yonghee yang tertutupi selimut.

“YAK! SETAN MESUM! APA YANG KAU LAKUKAN DI RANJANG ADIKKU?”

“Aish, hyung[3] appo[4]!” Protes Kyuhyun saat Donghae dengan seenak jidat menjitak kepalanya sadis.

“Apa yang kau lakukan, hah? Jawab aku!” Tuntut Donghae sambil berkacak pinggang meminta pejelasan. Laki-laki itu bersumpah akan mengikat Kyuhyun di rel kereta api jika ia berbuat macam-macam pada adiknya yang kini masih berdiam diri di bawah selimut.

“aku tidak melakukan apa-apa!” balas kyuhyun sewot

“lalu?” tanyanya lagi

“Aku ingin meminta maaf pada Yonghee, dia marah padaku!” Jawab Kyuhyun, laki-laki itu turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Donghae dan Yonghee berdua.

Gadis itu langsung berbalik saat mendengar suara kyuhyun menjauh.

“Yong, kau kenapa?” tanya Donghae bingung melihat wajah Yonghee yang masih memerah seperti tomat.

Yonghee duduk di atas ranjangnya lalu memeluk Donghae yang masih berdiri tepat di samping tempat tidur.

“Oppaaa!” Rengeknya manja, Donghae mengerutkan kening heran melihat adiknya yang tiba-tiba memeluk pinggangnya seperti ini.

“Wae? Kyuhyun tidak berbuat macam-macam padamu kan?” tanya Donghae khawatir sambil menatap wajah Yonghee lekat

“Dia menyakitimu?” lanjutnya.

Tapi yang ditanya malah menggelengkan kepalanya lalu membenamkan wajahnya ke dalam perut laki-laki itu.

“Aish, kau membuatku khawatir Yong.” Ucap Donghae sambil mengelus kepala Yonghee sayang.

 

 

Yonghee keluar dari kamar dengan penampilan yang sangat berantakan. Dilihatnya Kyuhyun sedang menonton film Transformer di televisi sambil memakan popcorn.

Dia kira ini Bioskop apa?

Gadis itu berjalan ke arah dapur, meneguk beberapa gelas air lalu menghampiri Kyuhyun dan menghempaskan tubuhnya di samping guru matematika itu. Kyuhyun menengokkan kepalanya ke arah Yonghee yang duduk di sampingnya. Memar itu masih tercetak jelas di tangan dan kakinya, begitu pula dengan perban yang setia menghiasi kepalanya.

“Kau sudah tidak marah lagi padaku?” tanyanya hati-hati.

“Tidak.” Jawab Yonghee datar.

“Lagi pula, siapa yang marah padamu?”

“Benarkah? Aku kira kau marah padaku tadi.” Balas Kyuhyun dengan senyum tiga jari.

“Donghae oppa kemana? Aku tak menemukannya saat bangun.” Tanya gadis itu, mencoba mengalihkan topik yang sedang mereka bicarakan. Sekarang sudah malam, Donghae tak mungkin masih di restoran.

‘lagi pula ini bukan jadwalnya pulang sore’ pikir Yonghee.

“Entahlah, dia pergi bersama seorang wanita cantik dan menyuruhku tetap di sini menjagamu.” Jawab Kyuhyun santai.

Yonghee mengerutkan keningnya bingung mendengar penuturan laki-laki itu. bukan karena Donghae yang menyuruh Kyuhyun menjaganya, tapi…

Dengan siapa laki-laki itu pergi?

Malam-malam begini?

“Siapa namanya?” tanya Yonghee penasaran.

Kyuhyun menghentikan aktifitas memakan popcornnya lalu menatap Yonghee bingung.

“Apa?”

“Namanya, gadis itu… siapa namanya?” tanyanya lagi.

kyuhyun menaruh jarinya di dagu, memikirkan nama yang sempat ia dengar tadi.

“Mmm… kalau tidak salah namanya… Jinri? Eh, bukan. Yulhae, minhae?”

Yonghee mengerutkan keningnya bingung.

“Jinhae?” tanyanya tak yakin.

“Ah, iya, Jinhae!” jawab Kyuhyun membenarkan, Yonghee mengerucutkan bibirnya sebal. Jinhae lagi, Jinhae lagi.

“Dia kekasih Donghae hyung, ya? Mereka cocok sekali.” Kata Kyuhyun antusias.

“Benarkah?”

“Ya, Donghae hyung itu tipe pria pelindung, manly tapi kadang seperti anak kecil, sedangkan jinhae cenderung manja, feminim tapi terlihat dewasa.” Ucap Kyuhyun sambil meminum coke-nya, sedangkan Yonghee hanya terdiam sambil memainkan tangannya.

Hening beberapa saat, sebelum akhirnya Yonghee membuka suaranya lagi.

“Oppa, apa kau sudah mempunyai yeojachingu[5]?”

UHUKKK

Pertanyaan yang Yonghee ucapkan secara tiba-tiba membuat Kyuhyun terkejut, laki-laki itu memukul dadanya yang sakit karena tersedak minuman bersoda.

Yonghee mengusap-usap punggungnya pelan, mencoba membantu kyuhyun.

“Aish, oppa! Kalau minum itu pelan-pelan, tenang saja aku tak akan merebutnya darimu, dasar pelit!” Tuduh Yonghee sok tau, membuat Kyuhyun membulatkan matanya dan menatap gadis itu tajam.

“YAK! Siapa yang pelit bodoh! Suruh siapa kau mengeluarkan pertanyaan itu di saat aku sedang minum!” Ujar Kyuhyun setengah berteriak, membuat Yonghee mengerucutkan bibirnya dan menggerutu tak suka.

“Memangnya apa salahku?”

“Kesalahanmu adalah menanyakan pertanyaan itu padaku!” jawab kyuhyun lalu mengambil segelas air putih di depan meja dan meneguknya perlahan.

“Itukan pertanyaan yang wajar.” Balas Yonghee tak mau kalah.

“Tapi ini berbeda jika yang bertanya itu kau.” Gumam Kyuhyun, tapi sepertinya suara yang ia keluarkan terlalu besar hingga Yonghee dapat mendengarnya walaupun samar-samar.

“Apa? Kau bilang apa?” tanya Yonghee sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Kyuhyun. laki-laki itu berjengit kaget, sadar jika tadi ia bergumam di depan Yonghee.

‘untung gadis itu terlalu bodoh sampai-sampai telinganya tak dapat mendengar dengan baik’ pikir Kyuhyun.

“Tidak ada, aku tak bilang apa-apa.” Jawab Kyuhyun berbohong, Yonghee mengerutkan keningnya lalu tertawa sinis.

“Jelas-jelas aku melihatmu menggerakan bibir, Cho Kyuhyun. Kau yang hanya seorang cicak, Jangan coba coba mengelabuhi buaya, itu tidak baik, tahu?”

Yonghee mengucapkan kata-kata itu dengan nada yang sangat menyebalkan, belum lagi tangan kecilnya yang memainkan rambut Kyuhyun. Membuat pemuda itu ingin melempar Yonghee ke tempat pembuangan sampah organik di depan rumahnya.

“Kau sudah sangat pintar mengajari gurumu sendiri rupanya gadis kecil… Cihh!” Ujar Kyuhyun sambil memalingkan wajahnya.

“Terimakasih atas pujiannya, Tuan Cho.”

Yonghee malah tersenyum manis sambil memainkan rambutnya.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan tadi?”

“Aish, lupakan saja, itu tidak penting. Lagipula kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu? Atau jangan-jangan…kau ingin mendaftar jadi pacarku ya?” Tanya Kyuhyun sambil menusuk-nusukkan jarinya di lengan Yonghee.

“apa? bermimpi saja kau cho kyuhyun!”

 

Yonghee’s pov

“Oppa, aku mohon… eoh?”

“Tidak,Yong. kau jangan keras kepala!”

“Tapi, aku bisa ketinggalan banyak pelajaran jika begini terus!”

“Setidaknya tunggu sampai kau benar-benar bisa berjalan dengan baik.”

“Oppa…”

“Masuk ke dalam kamar dan ganti bajumu lee yonghee!” Perintah Donghae oppa sambil berbalik memunggungiku.

Aku memajukan bibirku kesal lalu berjalan ke dalam kamar dengan kaki yang dihentak-hentakkan.

Oppaku itu kenapa sih? Asal dia tau saja, Keadaan tubuhku tidak selemah itu! Tapi dia memperlakukanku seperti seorang balita yang baru bisa berjalan!

Aku membuka lemari coklat yang ada di kamarku setengah hati dan mengganti baju seragam yang sedang kugunakan dengan pakaian yang biasa aku pakai sehari hari.

“Kau menyebalkan oppa.” Gumamku sambil naik ke atas kasur dan menggulung tubuhku dengan selimut.

Tapi beberapa saat kemudian…

“Aaaaaaarrrrggghhhh aku bosaaaan!” Teriakku sambil menendang-nendang selimut, membuat kain tebal itu berpindah tempat dan menggulung di ujung kakiku.

Sudah beberapa hari ini aku hanya berdiam diri di rumah, tidak diperbolehkan keluar oleh siluman ikan itu. Aku hanya tertidur di kasur sehari penuh menunggu Donghae oppa pulang dari restoran sendirian, sedangkan Kyuhyun oppa hanya datang kesini saat sore hari karena ia ada jadwal mengajar.

“Yongie, jangan bergerak terlalu banyak, nanti kakimu sakit lagi!”

Aku mendengus sebal melihatnya sudah ada di ambang pintu sambil menatapku khawatir, kuambil selimut yang ada di ujung ranjang dan kembali menggulung diriku dengan benda hangat itu, aku malas mendengar nasihat Donghae oppa, dia itu benar-benar berlebihan.

Kudengar laki-laki itu menghembuskan napas beratnya dan berjalan semakin dekat ke arah kasurku.

“Aku hanya mengkhawatirkanmu Yong,” ucapnya pelan, sedangkan aku hanya diam saja di balik selimut ini, menunggu kata-kata apa lagi yang akan di ucapkan ikan nemo jadi-jadian itu.

“Aku tau kau bosan, sudah beberapa hari ini kau hanya berdiam diri di rumah sendiri.”

Donghae oppa mendudukkan dirinya di samping ranjangku.

“Shin ahjuma sedang pulang kampung, restoran itu tutup dan otomatis aku tidak bekerja hari ini.” Lanjutnya.

Aku mengernyitkan keningku mendengar peuturannya, merasa tertarik dengan kata ‘tidak bekerja’ yang Donghae oppa ucapkan.

“Kita bisa pergi keluar kalau kau mau.” Lanjutnya lagi yang membuatku langsung menyingkap selimut yang membungkus tubuhku dan menatapnya antusias.

“Benarkah? Benarkah oppa?” tanyaku kelewat semangat.

Donghae oppa tersenyum lalu menganggukan kepalanya.

“Kita kemana hari ini?”

“Mokpo”

“Huh?” Aku mengerutkan keningku saat Hae oppa menyebutkan kota kecil itu.

“Kita kan pergi ke Mokpo? Tapi untuk apa? Apa kita akan menginap disana?”

“Ya, tentu saja kita akan menginap. sabtu, minggu kan libur, jadi kita bisa berada disana selama tiga hari. Kita akan keluar dari wilayah ibu kota yang ramai dan banyak polusi lalu menikmati libur kita selama 3 hari di daerah yang masih asri dan sejuk.”

“huaaaaa! Pasti menyenangkan sekali! ayo kita berangkat!”

 

 

“Oppa, apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku saat keluar dari rumah dan mendapati Donghae oppa sedang memasukan koper-koper yang sudah aku siapkan ke dalam mobil seseorang.

Aku tak tau apa yang terjadi, laki-laki itu menyuruhku untuk tidur siang tadi. Aku sudah siap sekarang, semua barang dan obat-obatan yang pasti akan kubutuhkan sudah kumasukkan ke dalam tas besar pink yang kini sedang dijinjing Donghae oppa untuk selajutnya dimasukkan ke dalam mobil.

Donghae oppa menghampiriku yang terdiam di ambang pintu sambil tersenyum senang.

“Kita akan pergi ke kampung halaman Jinhae di Mokpo.” Ucap Donghae oppa senang, berbanding terbalik denganku yang langsung mendecakkan lidahku malas.

“Dia mengajak kita berlibur kesana kemarin, kebetulan aku sedang bingung memikirkan acara liburan kita, jadi kuterima saja tawarannya, bukan ide yang buruk, kan?”

Ya. memang ini bukan ide yang buruk, tapi ini adalah ide yang sangat-sangat buruk. Aku tidak mau menjadi obat nyamuk elektrik nanti, mereka pasti akan sibuk berduaan dan mengabaikanku di sana.

“Lalu, Jinhae eoni sekarang ada di mana?” tanyaku setengah hati.

“Mobil. dia sudah menunggu kita dari tadi, ayo cepat!” Perintahnya sambil berjalan menjauhiku. Tapi aku tetap terdiam di tempatku berdiri, tak berniat melangkah sedikitpun dari sini, membuat siluman ikan itu merasakan sesuatu yang janggal dan kembali menghampiriku.

“Aish, kenapa masih diam di sini? Cepat ambil tasmu!”

Donghae oppa menatapku kesal, sedangkan aku sudah menekuk wajahku tak suka. Dia mendecakkan lidahnya kesal.

“Kau tidak usah cemberut seperti itu, guru matematika kesayanganmu juga akan ikut.”

Apa dia bilang? Guru matematika?

“Kau akan mengundang semua guru matematikaku dari TK sampai SMA? Aigoo, itu banyak sekali oppa, aku tau kau sangat menyayangiku dan ingin menyenangkan hatiku, tapi tidak perlu serepot ini. kalau mereka nanti kelaparan bagaimana? Aku yakin kau tak akan sanggup membayar makanan yang nanti akan mereka minta, apalagi guru matematikaku waktu SD benar benar doyan makan.”

PLETAKK

“Yak, oppa! Sakit!” Protesku saat Donghae oppa memukul kepalaku yang tidak luka dengan tangan ajaibnya itu.

Aish, kalau pukulannya membuat kepalaku pecah bagaimana? Aku akan matiiiii!

“Apa yang kau bicarakan Yongie bodoh! Kau kira aku ibu kepala panti yang akan mengundang orang sebanyak itu untuk liburan, hah?”

“Tapi kau bilang guru matematikaku akan ikut, sedangkan aku punya banyak guru matematika dari lahir hingga sekarang oppa!”

“Aku memang bilang seperti itu tadi, ya tapi tidak semuanya akan ikut Lee Yonghee bodoh!” Teriaknya penuh emosi, aku terdiam beberapa saat kemudian tersenyum tiga jari, sedangkan Donghae oppa sudah menjambak-jambak rambutnya frustasi.

Mungkin dia kutuan. Entahlah, aku kadang tidak mengerti.

“Lalu siapa yang akan ikut?” tanyaku mengalihkan topik.

Dipikir-pikir bosan juga menonton Donghae oppa yang menjabaki rambutnya seperti itu.

Laki-laki itu berhenti melakukan aktifitas gilanya lalu membereskan penampilannya lagi.

a“Cho Kyuhyun.” Jawabnya sambil masih tetap menyisiri rambutnya yang tadi sudah diacak-acak.

“Kyuhyun? Kyuhyun yang itu? Yang mirip setan? Kenapa dia bisa ikut?” tanyaku penasaran. tidak mungkin Hae oppa yang mengajaknya, mengingat hubungan mereka yang kurang harmonis.

“Setan nyasar itu datang ke sini saat kau sedang tidur, dia melihatku sedang memasukkan barang-barang ke dalam koper dan bertanya macam-macam”

Donghae oppa tersenyum masam, jelas sekali kalau dia benar-benar tidak menyukai guru matematikaku.

“Entah apa yang ada di pikirannya itu sampai-sampai dia memaksa untuk ikut padahal tidak ada orang yang mengajaknya. Aish, dia benar-benar bermuka tebal.” Kata Donghae oppa sambil mengerucutkan bibirnya, membuatku terkekeh melihat ekspresinya.

Aku tidak mengerti kenapa mereka berdua tak pernah akur, padahal sepertinya mereka tak pernah punya masalah serius.

Tanpa sadar, aku tersenyum senang mengetahui fakta bahwa Kyuhyun oppa akan ikut bersama kami. Aku tak tau kenapa, bibirku seolah terangkat kebelakang dengan sendirinya.

“Baguslah kalau dia ikut.” Ucapku spontan lalu berbalik hendak mengambil tas.

“Oh…kau senang karena aku ikut?”

DEG

Tunggu…..

Aku tidak salah dengar, kan? Itu bukan suara Hae oppa, aku tau persis bagaimana suaranya.

Tapi itu juga bukan suara Cho Kyuhyun, kan?

Bukan suara setan sialan itu kan?

Mau ditaruh mana mukaku kalau suara seseorang yang sepertinya sedang berdiri di belakangku itu benar-benar Kyuhyun oppa?!

“Kau senang kenapa Yongie sayang?” tanyanya lagi yang membuatku semakin yakin jika itu benar-benar suara cho kyuhyun!

Aish, kenapa aku tidak menyadari kalau Kyuhyun oppa sudah sampai dari tadi?

Kuambil tas yang ada di kursi itu cepat dan mengunci pintu rumah, tak kuhiraukan pertanyaan setan sialan itu yang membuatku ingin bunuh diri di samudra pasifik saking malunya.

“Hmm?” tanyanya lagi tepat di belakangku, membuatku bergidik pelan.

“AISH, CEPAT MASUK MOBIL! ATAU KUTINGGALKAN KALIAN.” Teriak Donghae oppa yang entah sejak kapan sudah berada di depan mobil Jinhae eoni, sontak aku langsung membalikkan tubuhku dan berjalan terburu-buru melewati guru matematika sialan itu tanpa berani melihat wajahnya.

Yang pasti ia akan menggodaku habis-habisan sepenjang perjalanan.

Ya Tuhan, tolong aku!

-TBC- 

 

Makasih buat admin yang sudah mempublish ff saya, dan juga readers yang hanya sekedar baca atau ninggalin komen di sini, kalian bisa main ke wp pribadi saya di eunhaecutiepie.wordpress.com

ini ff udah lama banget, saya tulis pas masih jaman SMA, dan bisa dibilang ff pertama, jadi maaf kalo tulisannya masih abal-abal J

 

 

[1] . Maaf
[2] . Kue beras pedas
[3] . Panggilan untuk kakak laki-laki dari adik laki-lakinya/ orang lain yang lebih muda
[4] . Sakit
[5] . Teman perempuan (pacar)

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 04, 2016 @ 22:37:59

    Wow… Mereka liburan berempat nih, penasaran dgn siapa yg akan berkencan duluan nih??
    Dan kapan ya donghae bisa ditemukan oleh adik kandungnya yg sedang mencari keberadaanya yaa?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: