Destiny [5/7]

PicsArt_1461970463296

Nama penulis : Eunhaecutiepie

Judul : Destiny

Tag : Lee Donghae, Cho Kyuhyun

Genre: Romance

Rating : PG-13

Length : Chapter

My wp : eunhaecutiepie.wordpress.com

 

Part 5

 

“Jangan lari terlalu cepat Yong, kakimu masih luka.” Kata Hae oppa setelah aku berada di hadapannya yang kini menatapku cemas, tapi aku tidak mempedulikan ucapan itu dan buru-buru masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada Jinhae eoni di kursi penumpang.

“Yongie anyeong!” sapanya ramah sambil melambaikan tangannya.

“Ah ne, anyeong.” Jawabku sambil tersenyum kikuk.

Bersamaan dengan ucapanku itu, Donghae oppa masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. aku rasa ikan tampan itu akan menyetir kali ini.

Dan yang akan mengisi kursi bagian belakang adalah…

“Yongie sayang, kenapa kau meninggalkanku?”

Aku melongo parah melihat setan sial itu membuka pintu mobil dan memanggilku ‘Yongie Sayang’ tanpa rasa malu dan membuatku menatap matanya tajam.

“Yak! Jangan memanggil adikku dengan panggilan seperti itu!” Teriak oppaku dari kursinya.

Aish, dua laki-laki ini benar-benar membuat kepalaku pusing.

Kyuhyun oppa tersenyum tiga jari. Dia benar-benar terlihat seperti orang bodoh jika sedang tersenyum seperti itu.

“Mianhae, hyung. Hehe.” Jawabnya sambil memasukkan sebuah tas hitam besar dan menaruhnya di jok yang kosong lalu duduk tepat di sampingku.

Setelah memastikan tak ada barang-barang yang tertinggal, Donghae oppa langsung menjalankan mobil ini dengan kecepatan sedang dan sibuk berbincang dengan Jinhae eoni tentang kisah mereka dari awal bertemu hingga sekarang.

“Aku tidak mengerti kenapa kita bisa jadi sedekat ini gara-gara kau mencopet dompetku waktu itu.” Ucap jinhae eoni.

Aku memalingkan wajahku ke arah jendela, menikmati pemandangan kota seoul yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit dan mobil-mobil mewah.

“Sssst…Yongie! ….sssttt!” Bisik Kyuhyun oppa di sampingku, tapi aku tak menghiraukannya. aku sibuk memandang keluar jendela, menghindari Kyuhyun opa yang pasti akan membuatku malu setengah mati karena ucapanku tadi.

“Yong!” Panggilnya lagi.

“Yongie, kenapa kau tidak menjawab? Bukankah tadi kau bilang ‘baguslah kalau dia ikut?” Ejeknya sambil menirukan gayaku berbicara.

Aku memalingkan wajahku ke arahnya dan menatap matanya tajam. Tapi sialanya si bodoh itu malah tersenyum menjijikan.

“Kau sangat menyebakan Cho Kyuhyun…” gumamku sebal.

“Aku kan hanya bertanya,” jawab Kyuhyun oppa.

“Jadi jawabannya apa, hmm? Kau benar-benar senang, ya?” tanyanya lanjut sambil menaik-turunkan alisnya.

Aku memijat keningku pusing.

Orang ini benar-benar…

“Baiklah, jawabanku adalah ‘YA’. Puas kau?” jawabku sambil menatapnya galak.

Setan setengah jadi itu menutup mulutnya dengan telapak tangan, mencoba menahan tawanya kurasa.

“Kalau mau tertawa, ya tertawa saja, dasar setan abnormal!” teriakku keras, membuat Donghae oppa melirikku dari kaca spion yang ada di depan.

“Hahahahahaha!” Si Kyuhyun itu tertawa dengan kersanya di hadapan mukaku membuatku ingin mencelupkan wajah brengseknya itu ke kuah ramen di pinggir jalan.

“Kenapa ribut sekali?” tanya Hae oppa penasaran, laki-laki itu menolehkan wajahnya ke arah kami, begitu juga dengan Jinhae eoni. Kebetulan ini sedang lampu merah, jadi tidak masalah jika dia mengalihkan fokusnya dari jalanan.

“Hahahahaha!”

Aish, setan sial itu malah semakin keras tertawa sambil memegangi perut, membuat Jinhae eoni membuka mulutnya tidak percaya melihat kekaluan asli Cho Kyuhyun yang berbanding terbalik 180 derajat dengan sikap yang biasa di tunjukan ke hadapan publik.

“Tidak apa-apa oppa, kembalilah menyetir, lampu sudah hijau.” Ucapku memperingatkan sambil menunjuk lampu lalu lintas.

“Kau benar-benar abnormal Cho kyuhyun,” ujar Donghae oppa sebelum kembali berbalik dan menjalankan mobil ini sambil berbincang dengan Jinhae eoni.

“Aku tau pesonaku memang terlalu kuat untukmu Lee Yonghee, sampai-sampai kau sebegitu senangnya saat mendengar bahwa aku akan ikut.” Kata Kyuhyun oppa sambil masih tertawa pelan.

Aku menatapnya tajam.

“Percaya diri sekali kau Cho Kyuhyun!”

“Aish, kan kau yang bilang sendiri tadi. Senang karena aku ikut? Akuilah bahwa kau memang mengagumi ketampananku Lee Yonghee.” Ucapnya kepedean, lalu guru matematika itu menerawang menatap langit dari jendela yang ada di sampingnya

“Aku juga kadang berfikir, kenapa Tuhan menciptakan makhluk setampan diriku ya?”

Astaga, aku benar-benar ingin muntah.

“Cho Kyuhyun. maaf ya, setap hari aku melihat wajah sejenis Donghae oppa di rumah. Levelku mengenai lelaki tampan itu jauh berbeda dengan gadis-gadis di luar sana yang mengagumi ketampananmu yang sebenarnya biasa-biasa saja. Laki-laki itu akan terlihat tampan jika wajahnya sudah melebihi oppaku!” Bisikku pelan, takut Donghae oppa mendengar ucapanku dan ikan nemo jadi-jadian itu akan semakin besar kepala dan menambah panjang masalah ini.

“Benarkah? Tapi nyatanya aku lebih mempesona di matamu Lee Yonghee…” balasnya tak mau kalah. Aku menghela napasku berat.

“Terserah lah. Aku capek berdebat dengan pernakan Lucifer dan Demon sepertimu.” Ucapku sambil melihat keluar jendela dengan menopang dagu.

Lama kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Yang terdengar hanyalah suara Hae oppa dan Jinhae eoni yang masih asik mengobrol di bagian depan mobil.

“Hoaamm aku ngantuk sekali…”

Tiba-tiba kurasakan kepala seseorang bersandar di bahuku. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun.

“Aish, berat Cho!” keluhku sambil berusaha menjauhkan kepalanya dari bahuku.

“Masa segitu saja berat, kepalaku tidak sapai lima kilogram Yongie!”

“Tapi pundakku sedang sakit!” Balasku mencari alasan.

“Kalau pundakmu sakit, tidak apa-apa kok. aku bisa berbaring disini…” Jawabnya sambil memindahkan kepalanya ke pahaku dan memejamkan mata disana. Aku mencubit pinggangnya pelan, mengeluarkan protes melihat kelakuannya yang seenak jidat itu.

Kyuhyun oppa merenggut.

“Sebentar saja Yongie, aku benar benar mengantuk!” Gumamnya pelan dengan mata tertutup, membuatku tak tega untuk menyingkirkan kepalanya lagi dan mulai mengelusi rambut hitamnya.

 

 

Author’s pov

Kami berada di sebuah villa sekarang, pemandangan lautnya benar-benar menakjubkan. Jinhae eonni bilang, dia tak punya keluarga dekat di mokpo. Walaupun mereka terlahir di sini, tapi semua anggota keluarganya pindah dan menetap di seoul, bahkan ada yang di luar negeri, maka dari itu kami tinggal di villa milik Jinhae eoni, bukan di rumah keluarganya.

“Ini adalah kamarku dengan Yonghee, sedangkan kamar dengan pintu hijau di sebelah sana adalah kamar untuk kalian.” Jelas Jinhae eoni sambil mengarahkan telunjuknya ke ujung ruangan.

Kami akan tidur terpisah tentu saja, Donghae oppa akan tidur bersama Kyuhyun seonsaengnim, sedangkan aku akan tidur dengan Jinhae eonni.

Dua lelaki tampan itu segera memasukkan barang-barang kami yang dengan baik hatinya di bawakan mereka ke dalam kamarku dan Jinhae eoni. Setelah itu, mereka kembali ke mobil untuk membawa barangnya masing-masing lalu menghilang di balik pintu kamar itu. Aku hanya berdoa semoga saja tak terjadi keributan apapun selama dua makhluk berbeda spesies itu tidur di ruangan yang sama.

Aku melangkahkan kakiku ke dalam kamar yang akan kutempati bersama Jinhae eoni selama kami tinggal di villa ini dan mulai membereskan barang-barang yang kubawa ke dalam lemari kosong yang ada di sudut ruangan.

“Oppamu… makanan kesukaannya apa?” tanya wanita itu setelah beberapa saat kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing tanpa berbicara.

Jinhae eonni berjalan mendekatiku dan mulai memasukkan baju-baju yang dibawanya ke dalam lemari cokelat yang ada di sampingku. Aku menghentikan aktifitas sejenak, lalu kembali menggantung-gantungkan pakaianku di sana.

“Kenapa memangnya? Kau ingin memasakkannya sesuatu?” tanyaku balik.

Kulihat Jinhae eonni tersenyum.

“Hmm… iya, tapi aku tak tau makanan kesukaannya apa.” Jawabnya malu-malu.

Sepertinya gadis ini memang menaruh perhatian pada Donghae oppaku, mereka sepertinya saling suka tapi belum berani mengungkapkan.

“Dia suka chiken doritang, rebusan tahu sutera, poka-poka chip, dan segala hal yang berbau Seafood, khususnya ikan. tapi ingat, jangan memberinya makanan yang terlalu pedas, Hae oppa akan menangis jika mulutnya terbakar.” Jawabku panjang lebar.

“Benarkah? Lucu sekali…” Komentarnya sambil terkekeh geli.

Aku terdiam memperhatikan gerak-geriknya. wanita ini sangat anggun dan… entahlah aku merasa kalah dalam segala hal dibandingkan dengannya, belum lagi hartanya yang berlimpah ruah itu.

Dia benar-benar cocok dengan Hae oppa, ya walaupun aku tidak menyukainya karena wanita ini selalu merebut perhatian laki-laki itu dariku.

“Yongie, Jinhae, ayo keluar!” Teriakan Hae oppa menggema di dalam villa ini, aku segera memasukkan barang-barangku ke dalam lemari dan menguncinya. Begitu juga dengan Jinhae eonni, setelah itu kami berjalan keluar kamar. Kulihat hae oppa sudah memakai celana jeans selutut dan kaos oblongnya.

“Oppa, kau mau kemana?” tanyaku heran.

“Pantai.” Jawabnya singkat sambil tersenyum senang.

“Boleh kan, Jinhae-ssi? Kau juga bisa mengajak Kyuhyun kalau kau mau.” Lanjutnya sambil menatapku penuh arti.

“Oppaaa!!!” Rajukku ketika mendengar Hae oppa kembali menggodaku dengan topik yang sama.

Beberapa saat kemudian Kyuhyun tiba-tiba muncul dari pintu kamarnya dengan jaket abu dan celana pendek selutut, sepertinya setan sial itu merasa tepanggil.

“Kalian mau kemana?” tanyanya bingung sambil menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya perlahan.

“Pantai, kau mau ikut, Kyuhyun-ssi?” tanya Jinhae eoni.

Kyuhyun oppa menaikkan salah satu alisnya.

“Kurasa, itu bukan ide yang buruk.” Jawabnya.

“Baikalah, ayo kita pergi sebelum ombaknya semakin tinggi!” Ajak Hae oppa lalu turun melewati tangga yang menghubungkan bagian atas dan bawah villa ini.

Sepanjang perjalanan menuju pantai, kami tidak menemukan keramaian berebihan yang biasanya ada di daerah wisata. pantai di sini cukup sepi, sedikit sekali orang yang berkunjung sehingga pedagang yang ada pun hanya beberapa saja. Membuatku semakin melebarkan senyuman.

Entahlah, nyaman sekali ketika kau berlibur ke suatu tempat yang tidak terlalu banyak orang di dalamnya, seperti tempat eksklusif yang khusus disediakan untukmu.

“Huaaaahhh indah sekali!” Ucapku takjub saat melihat pemandangan pantai dengan airnya yang tenang dan berwarna biru. Ombak yang tidak terlalu besar justru manjadi nilai plus bagi keindahan pantai ini.

Aku langsung berlari-lari kecil mendekati bibir pantai dan bermain-main bersama pasir dan ombak, namun tiba-tiba saja Donghae oppa mengejarku dari belakang kemudian menggenggam tanganku.

“Jangan berlari dan melompat seperti itu Yong, kau masih sakit!” Ucap hae oppa sambil menatapku cemas, tapi aku tidak mempedulikan ucapannya, malah menunduk ke bawah dan mencipratkan air ke wajah bodohnya itu.

“Yak! Lee Yonghee!” teriaknya kesal.

Tapi bukannya menjauh, Donghae oppa malah semakin mengeratkan genggaman tangannya padaku.

Iseng, kuambil segenggam pasir dan melemparkannya ke wajah Hae oppa.

“Kau cari mati hah?”

“Hahahahaha…”

Aku tertawa puas saat melihat wajah oppaku yang penuh dengan pasir pantai. Donghae oppa melepaskan genggamannya dariku lalu menunduk mengambil pasir, sepertinya dia akan memabalas perbuatanku. Tidak! Aku yakin Hae oppa akan menghajarku habis-habisan sampai aku menjadi manusia pasir yag mengenaskan.

Dengan panik aku segera berlari menghindar dari Hae oppa dan bersembunyi di balik punggung Cho Kyuhyun yang sedang berbincang dengan Jinhae eonni di pinggir pantai.

 

Hahhh benar benar hari yang indah…

 

 

Keesokan paginya kulihat Jinhae eonni, Kyu oppa, dan Hae oppa sudah memakai pakaian serba hitam di tengah ruangan. Aku mengerutkan keningku heran melihat penampilan mereka yang seperti orang mau debus.

“Yong, kenapa kau belum bersiap-siap? Cepat ganti pakaian mu, kita sudah mau berangkat!”

Aku hanya mengangguk saja saat Hae oppa memerintahku seperti itu, masuk kembali ke dalam kamar dan keluar dengan baju hitam dan pita putih yang bertengger dengan manisnya di rambut panjangku. Tapi yang kutemui di sana hanya Kyuhyun oppa yang sedang sibuk dengan ponselnya.

“Oppa, mereka berdua kemana?” tanyaku bermaksud menanyakan keberadaan Jinhae eonni dan Donghae oppa.

Laki-laki itu menghentikan kegiatannya lalu berdiri dan menuntunku keluar dari villa ini.

“Ikan dan Jahe itu sudah pergi duluan.” Jawabnya. Aku mengangguk mengerti.`

“Keundae, memangnya kita mau kemana Kyu?” tanyaku tak sopan, memanggilnya tanpa embel-embel ‘oppa’ ataupun ‘seonsaengnim’

“Makam oppanya Jinhae.”

Pria itu membawaku masuk ke dalam sebuah lingkungan pemakaman yang dijaga oleh petugas.

Sepertinya ini makam orang-orang kaya, terlihat dari penataan dan tempatnya yang dijaga beberapa orang seperti ini. Kulihat Donghae oppa dan Jinhae eonni yang sedang berdoa di pinggir sebuah makan di sana. Mata mereka terpejam erat.

Kyuhyun oppa menggenggam tanganku lalu menuntunku kesana dan kami pun melakukan hal yang sama seperti Jinhae eonni dan Donghae oppa. Walaupun aku tak kenal siapa mereka, tapi tidak ada salahnya kan aku mendoakan orang yang sudah meninggal?

“Oppaku… sebenarnya aku tak yakin dia sudah meninggal.” Ucap Jinhae eonni memecahkan keheningan di makam ini.

Aku mengerutkan alisku bingung mendengar penuturannya, begitupun dengan Donghae oppa yang menatap Jihae eonni shock. Jadi selama ini wanita itu mencari-cari keberadaan oppanya yang sudah meninggal? Apa dia masih waras? Jelas-jelas ini makam oppanya.

“Maksudmu?” tanyaku tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku, Jinhae eonni menatapku dengan senyum mirisnya.

“18 tahun yang lalu… kami mengalami kecelakaan yang sangat hebat, mobil yang dikendarai appaku masuk jurang yang landai, kami terjatuh ke dasar dengan keadaan masih di dalam mobil, membuatku dan orang tuaku kritis selama beberapa hari, bahkan eommaku koma sampai tiga bulan saat itu, kami semua langsung dibawa ke rumah sakit oleh warga setempat, kecuali satu orang, yaitu oppaku yang tidak ditemukan di lokasi kejadian. Melihat keadaan kami dan mobil yang sudah hancur tak berbentuk itu, polisi menyimpulkan bahwa harapan hidup oppaku sangat kecil, bahkan mereka meragukan jika oppaku masih bisa bertahan hidup. Kami melakukan pencarian terus-menerus dengan harapan setidaknya bisa menemukan mayatnya. Namun setelah satu bulan pencarian tanpa henti, oppaku tak kunjung di temukan, membuat polisi dan tim sar menyimpulkan bahwa oppaku sudah tiada dan mereka tidak bisa menemukan tubuhnya.” Jelasnya panjang lebar dengan tatapan menerawang.

“Lalu yang di kuburkan di sini siapa?” tanya Kyuhyun oppa mewakili pertanyaan kami.

“Itu adalah baju terakhir yang sempat di pakai oppaku sebelum kecelakaan itu terjadi, walaupun kami tidak menemukan tubuhnya, setidaknya ada barang yang mewakili oppaku untuk dikuburkan.” Jawab jinhae eonni sambil tersenyum tipis.

“Jadi selama ini kau mencari orang yang sudah dinyatakan meninggal?” tanyaku spontan tanpa berpikir terlebih dahulu, membuat Donghae oppa menatapku tajam.

“Ya. mungkin ini terdengar gila. Selama ini aku hanya diam saja saat oppaku dinyatakan meninggal, tapi hati kecilku berkata lain, Aku masih bisa merasalkan kehadirannya di sekitarku, selama mayatnya belum ditemukan, aku yakin oppaku masih hidup. maka dari itu sudah dua tahun ini aku menyewa orang-orang yang bisa melacak keberadaan oppaku. Aku hanya memiliki fotonya waktu berumur 7 tahun saja, jadi orang-orang itu cukup kesusahan menemukan oppaku, berbeda dengan Donghae oppa yang dengan mudah mereka temukan saat itu.”

Hari itu kami lewati dengan mengunjungi makam oppanya Jinhae eonni dan berkeliling Kota Mokpo, makan bersama, belanja baju, dan melakukan hal menyenangkan lainnya.

Sebenarnya aku sangsi jika Hae oppa memiliki uang yang cukup. Gajinya di restoran tidak terlalu besar, hanya cukup untuk kebutuhan hidup kami berdua. Bahkan terkadang dia suka meminjam uang pada Shin ahjumma untuk memenuhi kebutuhan sekolahku, maka dari itu saat Jinhae eonni mengajak kami untuk berbelanja aku sempat menolaknya, begitu juga dengan Donghae oppa. Tapi wanita itu tetap memaksa dan membelikanku dress yang sangat cantik, sebagai tanda termia kasih karena kami mau meluangkan waktu untuk menemaninya di sini. Sedangkan Donghae dan Kyuhyun oppa dibelikan jaket musim dingin yang sangat cocok di badan mereka, kyuhyun oppa dengan jaket merah menyala yang membuat kulit putihnya makin bersinar, dan Hae oppa dengan jaket berbentuk jas panjang berwarna hitam yang juga sangat cocok dengan kepribadiannya yang ‘manly’

“Memikirkanku, eoh?” aku tersentak kaget saat Kyuhyun oppa tiba-tiba menghampiriku yang sedang duduk di balkon, dia menghempaskan tubuhnya di sampingku dan dengan seenak jidatnya berbaring di pahaku seperti saat di mobil.

Hubungan kami benar-benar tak wajar. Maksudku… dia adalah guru matematikaku di sekolah, dan aku adalah seorang murid yang dia ajar, tidak seharusnya hubungan kami seperti ini. Aku baru mengenalnya beberapa bulan yang lalu, itupun tak sengaja, tapi sejak saat itu kami benar-benar akrab, seperti orang yang sudah bersama bertahun-tahun.

“Hei kenapa melamun?” pertanyaan Kyuhyun oppa menarikku kembali ke alam sadar.

Aku menunduk, menatap wajahnya yang berada di pangkuanku.

“Tidak apa-apa, hanya saja… aku bingung dengan hubungan kita.” Jawabku terus terang.

Kyuhyun oppa menaikkan salah satu alisnya bingung.

“Maksudmu?”

“Hubungan kita hanyalah guru dan murid oppa, tidak seharusnya kau memperlakukanku seperti ini, kau membuatku pusing.”

“Apa ada yang salah dengan caraku memperlakukanmu?”

“Oppa, jangan berpura-pura bodoh!” Teriakku kesal menanggapi kelakuannya yang sangat menyebalkan.

“Sudahlah, kau jangan memikirkan hal yang aneh-aneh, hmm?”

“Oppaaa…” rengekku

“Berisik yongie, aku mengantuk.” Balasnya sambil memeperbaiki posisi tidurnya menjadi menyamping dan membenamkan wajahnya pada perutku.

Lama kami terdiam dalam posisi seperti ini, Kyuhyun oppa sudah tertidur kurasa, terdengar dari helaan napasnya yang teratur dan menghangatkan perutku.

“Yak! Cho Kyuhyun!”

lagi-lagi aku tersentak kaget karena teriakan seseorang. Kulihat Donghae oppa berjalan ke arah kami dengan tergesa-gesa. Matanya menatapku dan Kyuhyun oppa yang masih asyik tertidur di pangkuanku bergantian.

“Yak, kau!” Bentaknya sambil menendang-nendang pantat Kyuhyun oppa.

“Oppa, hentikan, dia sedang tidur!” Protesku saat melihatnya semakin brutal menendangi pantat Cho Kyuhyun yang memang kelewat kenyal itu.

“Aish, berisik Hyung!” Gumam Kyuhyun oppa yang malah semakin membenamkan wajahnya di perutku, membuat Hae oppa membulatkan matanya lalu menjambaknya kasar.

“Yak! Sakit, bodoh!”

“Suruh Siapa kau tidur di pangkuan adikku huh? Dasar kau setan mesum!”

“Aku tidak mesum hyung! Kami tidak melakukan apa-apa. Diamlah, aku mengantuk.” ucapnya lagi sambil kembali terpejam.

Donghae oppa menggertakan gigi, matanya memandangi tubuh kyuhyun oppa penuh emosi.

“Bangun, atau kutendangi pantat seksimu ini sampai tepos.” Geram Hae oppa, membuat orang yang tertidur di pangkuanku ini langsung menegakkan tubuhnya dan menggerutu tak jelas.

Donghae oppa masih menatap kyuhyun oppa tajam, mengisyaratkannya agar pergi dari sini. Kyuhyun oppa mendecakkan lidahnya.

“Baiklah, aku mengerti.” Ucapnya sambil berdiri dan berlalu dari hadapan kami.

Donghae oppa menghela napas beratnya dan menatap wajahku lama, membuatku salah tingkah diperhatikan seperti itu oleh oppaku sendiri.

“Wa-waeyeo[1]?” tanyaku gugup. Donghae oppa memalingkan wajahnya lalu masuk ke dalam villa dan kembali dengan nampan berisi air putih dan obat-obatan yang harus kutelan selama masa penyembuhan.

Tanpa berkata apapun, laki-laki itu berlutut di hadapanku yang duduk di atas kursi dan menyentuh keningku lama, mengecek suhu tubuhku yang terkadang meningkat. Aku tak nyaman dengan keadaan seperti ini, Hae oppa tidak berbicara sama sekali denganku, tangannya sibuk membuka bungkus obat-obatan itu tanpa menatap wajahku sama sekali.

“Oppa, waeyeo?” tanyaku khawatir.

Ada apa ini? Dia masih bisa memarahi kyuhyun seonsaeng tadi, kenapa tiba-tiba diam saat bersamaku? Donghae oppa tak pernah seperti ini kecuali kalau dia sedang marah, dan aku yakin hari ini aku belum melakukan suatu kesalahan yang berpotensi membuatnya kesal.

Donghae oppa tak menjawab pertanyaannku, dia malah menyodorkan berbagai macam pil yang sudah siap untuk kutelan ke hadapan wajahku.

“Minumlah.”

Akhirnya pria di hadapanku ini mengeluarkan suaranya, tapi tetap saja ucapannya itu tidak menjawab kekhawatiranku, membuatku kesal dengan sikapanya yang tidak menghiraukan pertanyaanku sama sekali.

Aku menutup mulutku rapat saat Donghae oppa mengambil sebutir tablet berwarna putih dan mendekatkannya ke mulutku.

“Kau harus minum obatmu Yong…” Desahnya saat tak bisa memasukkan berbagai macam pil itu ke dalam mulutku.

“Kau kenapa? apa kau marah padaku? jangan membuatku takut Oppa…” Tanyaku bingung, Donghae oppa menghembuskan napas beratnya lagi, lalu menatap wajahku serius.

“Jangan terlalu dekat dengan guru matematikamu itu Yong, apalagi sampai membiarkannya tertidur di pangkuanmu dan melakukan skinship berlebihan. Dia itu laki laki dewasa, kau pasti mengerti apa maksudku.” Ujar Donghae oppa sambil merapikan anak rambutku yang keluar dari ikatannya.

“Tapi aku juga sering melakukannya denganmu.” Balasku polos.

“Dia adalah orang asing Yong, mungkin saja dia menyukaimu dan berniat melakukan hal-hal aneh padamu.”

 

 

Hari terakhir di Mokpo

Minggu-07.00 a.m

Author’s pov

Seorang gadis dengan legging hitam dan sweater putih yang meneggelamkan tubuhnya terduduk di sebuah kursi putih panjang yang menghadap langsung ke pantai. Kakinya ditekuk sampai ke dada sedangkan tangannya yang kecil melingkar di sepanjang lututnya, memeluk tubuhnya sendiri sambil menatap lautan tenang di pagi hari. Pikirannya bercabang, banyak hal yang d pikirkannya sampai-sampai ia tak menyadari seorang lelaki yang ikut duduk di sampingnya setelah sekian lama mengelilingi pantai ini untuk mencari keberadaan gadis itu.

“Sweater itu tidak cukup untuk menghangatkan tubuhmu.”

Laki-laki tadi menyempirkan selimut kecil, membungkus gadis yang ada di hadapannya dengan kain hangat yang ia bawa dari villa.

“Kyuhyun oppa?” Gumamnya serak.

Kyuhyun tersenyum lembut lalu mengelus pipi gadis itu yang memerah karena kedinginan.

“Kembalilah ke villa Yong, angin pantai tak baik untukmu.” Ucapnya khawatir.

Kyuhyun menggenggam tangan Yonghee yang mencengkram erat selimutnya dan mengajaknya pergi dari sana, tapi Yonghee menggeleng, ia menatap Kyuhyun penuh harap, yang membuat laki-laki itu terduduk pasrah dan meraih Yonghee ke dalam pelukannya, mencoba memberi kehangatan tambahan untuk murid yang sangat disayanginya itu.

Yonghee terdiam, gadis itu semakin menenggelamkan wajahnya di antara leher dan pundak Kyuhyun.

“Kau kenapa, hmm?” tanya Kyuhyun khawatir melihat keadaan Yonghee yang seperti ini. Tangannya bergerak lembut mengelus pungung gadis itu yang terlihat sangat rapuh di pelukannya.

“Tidak apa-apa.”

“Kau memikirkan besok?” tanya Kyuhyun tak yakin.

“Ya, salah satunya.”

“Tenanglah, anak-anak itu tak akan berani menyakitimu lagi, aku telah memberi mereka pelajaran.”

“Apa itu?”

Yonghee menumpangkan dagunya di bahu Kyuhyun, melihat wajah itu lebih dekat.

“Aku melarang mereka memakai bedak selama seminggu penuh.”

“Benarkah? Pasti mereka sudah menjerit kesetanan saat mendengar perintahmu.”

“Ya, mereka sangat frustasi selama masa hukumannya.” Ucap Kyuhyun sambil terkekeh pelan membayangkan wajah si pirang dan antek-anteknya yang menutupi wajah mereka dengan masker ke sekolah.

“Dan mereka akan lebih frustasi lagi jika melihat kita dalam keadaan seperti ini. Bahkan mungkin si pirang itu akan langsung membunuhku.”

Tiba-tiba suasana menjadi hening, yang terdengar hanya suara deburan ombak yang menabrak karang dan pasir yang tersapu. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Maaf…” ucap Kyuhyun tiba-tiba sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Yonghee.

“Untuk?”

“Untuk luka yang ada di sekujur tubuhmu, untuk kata-kata kasar mereka yang menghinamu, dan untuk sakit yang kau rasakan di fisik dan mentalmu. Jika aku tak mendekatimu, mungkin semuanya tak akan seperti ini.” Jawab Kyuhyun lemah.

Yonghee mendongakkan kepalanya, menatap laki-laki itu yang memejamkan mata dengan kening berkerut.

“Kau ini kenapa? ini semua bukan salahmu oppa, aku yang memancing mereka. Aku berbohong pada gadis-gadis itu. Aku mengatakan bahwa kau menyukaiku.” Ucap Yonghee jujur.

Kyuhyun membuka matanya lalu menunduk, menatap Yonghee yang kini juga sedang menatap matanya fokus.

“Benarkah?”

“Hmmm.” jawab Yonghee seadanya.

“Kau tahu Yong?” kyuhyun menggigit bibir bawahnya gugup.

“Itu bukan sebuah kebohongan.”

“Maksudmu?” tanya Yonghee tidak mengerti.

“Kata-kata yang kau ucapkan pada mereka, itu bukan sebuah kebohongan, aku menyukaimu. Kata-kata yang kuucapkan saat di kamarmu itu benar adanya, aku jujur saat itu, tapi aku terlalu takut mendengar jawabanmu sehingga aku pura-pura tertawa dan berakting seolah-olah aku menyampaikan sebuah lelucon.” Ucap kyuhyun panjang lebar, bibirnya menyunggingkan senyum miris yang terlihat sangat menyedihkan mengingat kebodohannya saat itu.

Yonghee menatap Kyuhyun dengan perasaan yang campur aduk.

“Oppa… aku juga… memiliki perasaan yang sama.” ucap Yonghee gugup.

“Benarkah?” balas Kyuhyun, bibirnya tak bisa berhenti tersenyum mendengar pengakuan yang sudah lama ditunggu-tunggunya.

-TBC-

 

Makasih buat admin yang sudah mempublish ff saya, dan juga readers yang hanya sekedar baca atau ninggalin komen di sini, kalian bisa main ke wp pribadi saya di eunhaecutiepie.wordpress.com

ini ff udah lama banget, saya tulis pas masih jaman SMA, dan bisa dibilang ff pertama, jadi maaf kalo tulisannya masih abal-abal J

 

 

[1] . Kenapa

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 04, 2016 @ 22:53:34

    Wah…. Jangan2 jinhe dan donghae adalah saudara kandung?
    Dan ternyata kyuhyun dan yonghee mempunyai perasaan yg sama.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: