Opera [2/?]

 

 Opera Cover

 

Nama : i-Leetha
Judul Cerita : Opera
Tag (tokoh/cast) : Park Jung Soo, Song Joong Ki, Shin Seung Ri, Kim Seu Hwa, Ji Sung

Other Cast : Super Junior Member yang mungkin muncul dalam setiap part

Genre : Romance, Comfort
Rating : PG-13
Length : Chapter

 ***

Part 2

 

Seung Ri hanya memandangi ponselnya saat nama Jong Ki berulang kali meneleponnya. Jam masih menunjukkan pukul 5 sore dan pria itu sudah sibuk menghubunginya. Tidak lama nomor yang Seung Ri tidak kenal mengiriminya pesan. Dan itu berasal dari Park Jung Soo yang menanyakan apakah mereka bisa bertemu.

Apa yang akan terjadi padanya setelah ini? Sudah hampir dua bulan dia berada di hotel ini. Dia diletakkan di restorant dimana para tamunya adalah para entertainer atau para pebisnis. Dan dalam waktu dua bulan itu, hal-hal aneh terjadi padanya. Tiba-tiba saja mereka mendatanginya untuk menariknya memasuki dunia mereka.

Pertama, Song Jong Ki yang entah mengapa mengajaknya makan malam. Lalu Ji Sung yang tiba-tiba mengajaknya untuk bergabung dengan proyeknya. Tidak tanggung-tanggung, dia akan menjadi pemeran utama wanita dalam film yang akan dia garap. Atau mungkin dia perankan juga. Dan lagi, Park Jung Soo. Pria itu tiba-tiba meminta bertemu dengannya. Saat ini dia merasa berada diatas angin. Tidak semua orang bisa mendapat seperti yang dialaminya sekarang. Bahkan saat dia menceritakan hal ini pada teman-temannya, mereka hanya bisa mengatakan kalau mereka sangat iri dengan semua keberuntungan yang didapatkan Seung Ri.

Tidak lama, ponselnya kembali berdering. Kali ini pesan masuk dari nomor yang dia tidak kenali juga. Tapi berbeda dari nomor yang digunakan Park Jung Soo. Dan itu adalah Ji Sung. Dia menanyakan keputusan Seung Ri terhadap tawarannya. Bahkan pria itu berusaha mendapatkan nomor telepon Seung Ri dari pihak hotel hanya untuk menanyakan keputusannya.

Dia bisa menolak tawaran Jong Ki dan Ji Sung. Tapi tidak dengan Jung Soo. Tapi saat mengetahui kalau Ji Sung akan mengajak Jung Soo menjadi pemeran utama pria, dia tidak akan bisa menolak tawaran Ji Sung. Terlebih jika Jung Soo akhirnya benar-benar menyetujui bergabung dengannya. Tapi Jong Ki, tidak ada hal yang membuatnya ingin menemui pria itu.

Seung Ri mengaktifkan ponsel yang lain miliknya. Menghubungi ibunya adalah jalan satu-satunya. Dia yakin ibunya akan memberikan pengarahan padanya.

Eomma,” ucap Seung Ri saat ibunya mengangkat teleponnya.

Waeyo Seung Ri-ya? Kenapa suaramu begitu? Apa kau ada masalah?” tanya ibunya. Nada suaranya terdengar sangat khawatir.

Gwencana eomma. Hanya saja, aku sedang bingung saat ini.,” jawab Seung Ri. Dia memasang headset pada ponselnya dan tidur diatas tempat tidurnya. Dia meletakkan ponsel disebelahnya.

Waeyo?” tanya ibunya lagi.

Seung Ri menarik napas panjang dan mulai bercerita pada ibunya apa yang dia hadapi saat ini. Ibunya hanya tertawa mendengar cerita putrinya itu yang membuat Seung Ri bertanya-tanya. Benar-benar masih sangat polos. Menurutnya, Seung Ri terlalu membawa semuanya dalam pikirannya.

“Bukankah kau sangat mengidolakan Park Jung Soo? Kenapa harus bingung? Dan Jong Ki, kau juga mulai mengidolakannya bukan? Jadi kau coba saja menjalaninya. Toh mereka bukan memintamu untuk menikah dengan merekakan? Mereka hanya meminta untuk berteman denganmu. Jadi apa salahnya?” jawab ibu Seung Ri yang berusaha meyakinkan putrinya kalau semuanya sah-sah saja.

Seung Ri memukul jidatnya yang membuatnya meringis sendiri. Kenapa dia bisa sebodoh itu? Mereka hanya ingin berteman. Bukankah itu hal baik? Kenapa juga dia harus bingung? Mungkin dia yang berharap berlebihan terhadap mereka. Bukankah semuanya yang menyangkut dirinya dia yang mengkontrolnya. Jika dia dapat mengontrol situasi dengan baik, maka semuanya akan baik-baik saja bukan?

Gomawo eomma. Saranghae,” ucap Seung Ri dan segera mematikan ponselnya. Dia mengaktifkan ponselnya yang tadi dia matikan. Dia akan menyetujui permintaan Jong Ki dan Jung Soo untuk bertemu. Dan untuk tawaran Ji Sung, dia akan segera menemui pria itu dan menyetujui permintaannya..

 

x-x-x

 

Jung Soo melemparkan ponselnya keatas tempat tidur miliknya. Gadis yang dia temui tadi siang menyetujui bertemu dengannya sejam lagi di restorant tempat dia bekerja. Dia menyetujuinya mengingat restorant tersebut tempat yang tidak mudah dimasuki oleh orang-orang yang tidak memiliki kartu tanda konsumen. Yang memilikinya hanyalah artis dan orang-orang yang memiliki banyak uang seperti para pengusaha dan direktur perusahaan. Jadi dia tidak perlu takut akan adanya para wartawan yang mungkin menyebarkan berita nantinya.

Ponselnya kembali berdering. Nomornya tidak dia kenal. Dia membaca pesan singkat tersebut.

 

‘Bagaimana kondisimu hari ini? Kuharap kau jangan mau berat seperti hari itu. Aku hanya mau kau baik-baik saja. Jangan sampai orang jahat membuatmu susah. Aku tidak akan menunjukkan diriku. Tapi aku akan tetap menjagamu dari jarak dekat maupun jauh tanpa kau sadari. Dan juga, tidak usah mencari tahu aku siapa. Karena kau tidak akan pernah mengetahuinya. Aku tidak menuntut apapun darimu. Hanya saja, jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai membuat kesalahan seperti waktu itu. –Istrimu yang tidak kau kenal-‘

 

Jung Soo mencoba menghubungi nomor tersebut. Tapi sudah tidak aktif. Tidak lama, ponselnya kembali berdering. Kali ini sebuah pesan multimedia dari nomor ponsel yang tadi mengiriminya pesan singkat. Sebuah gambar tangan dengan cincin yang melingkar di jari manisnya. Jung Soo mengenali cincin itu. Itu miliknya yang akan dia berikan pada Seu Hwa. Tapi sekarang melingkar di jari manis gadis itu. Dia ingin memberitahukan hal itu pada Jung Hoon. Tapi dia mengurungkan niatnya. Sejauh dia tidak melakukan hal dibatas wajar, dia akan mendiamkannya.

Jung Soo menyimpan ponselnya kedalam saku celana yang dikenakannya dan bersiap untuk bertemu dengan Seung Ri. Dia harus mencari keterangan dari gadis itu. Entah mengapa dia cukup yakin kalau gadis itu tahu siapa wanita yang dia nikahi kemarin. Tapi selain itu, dia harus menemuinya secara personal atas permintaan Ji Sung, sutradara yang dia temui tadi sore di restorant tempat gadis itu bekerja. Entah untuk apa dia sama sekali tidak tahu.

Jung Soo tiba di restorant tersebut sepuluh menit sebelum waktunya. Tapi gadis itu belum tiba. Dia memilih tempat yang sedikit tertutup. Tidak ingin teman-temannya yang mungkin datang melihatnya bersama gadis itu. Tidak lama, yang dia tunggu datang. Bukannya berdandan, dia datang dengan pakaian kaus dan celana jeans. Jung Soo hanya bisa menggeleng melihatnya. Gadis itu berdiri di hadapannya dan tanpa disuruh, dia sudah duduk di salah satu bangku kosong tepat di depan Jung Soo.

“Ada apa mengajakku bertemu?” tanya Seung Ri tanpa basa-basi. Kali ini dia tidak mengucapkan kata-kata formal seperti sebelumnya. Terdengar sangat kasar dan brutal.

“Ada apa dengan sopan santunmu waktu itu? Kemana perginya?”

“Apa tidak tahu? Saat itu aku sedang bekerja. Tapi saat ini aku sedang tidak bekerja. Jadi hal itu tidak berlaku lagi. Termasuk terhadapmu. Dan yang terakhir, itu karena aku menginginkan sesuatu. Tidak wajar kalau kau meminta sesuatu tapi dengan kata-kata kasar bukan?” jawab Seung Ri. Sejujurnya dia ingin tertawa saat ini. Dia sedang mencoba melakukan pembelajaran akting. Dan berhasil. Jung Soo bahkan tidak tahu kalau dia sedang berpura-pura.

“Apa kau benar-benar penggemarku? Kenapa kau seperti tidak tertarik sama sekali?” ucap Jung Soo.

“Benarkah? Eum, bisakah kita persingkat saja? Banyak yang harus aku kerjakan,” jawab Seung Ri ketus.

“Baiklah. Kita persingkat saja. Sewaktu pesta pernikahan Ahra noona, apa kau melihat aku mabuk dan pergi bersama seseorang?”

“Setelah memberi makanan pada kalian berdua, aku tidak melihatmu lagi. Pekerjaan ku sangat banyak waktu itu. Bagaimana mungkin aku memperhatikan kemana kau pergi,” jawab Seung Ri.

Jung Soo tampak berpikir. Sepertinya apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya. Bagaimana mungkin dia memperhatikannya saat dia sangat sibuk seperti itu? Tapi entah mengapa dia merasa kalau gadis itu benar-benar tahu sesuatu. Tapi dia tidak tahu bagaimana caranya untuk mengetahui kebenaran dari gadis itu.

“Apa kau hanya bertanya tentang hal itu?” tanya Seung Ri saat Jung Soo hanya diam.

“Tidak. Aku ingin bertanya hal lain. Apa hubunganmu dengan Ji Sung hyung? Kenapa dia memintaku untuk berbicara denganmu?”

“Ji Sung?”

Ne. Ji Sung. Tadi siang aku menemuinya disini. Kami akan membahas proyek film yang akan kami kerjakan bersama. Saat aku bertanya siapa pemeran utama wanitanya, dia menyuruhku berbicara denganmu. Apa kau yang akan menjadi pemeran utama dalam drama itu?”

“Apa? Dia mengatakan hal itu?”

“Tentu saja. Untuk apa aku berbohong. Apa kau berpikir aku menyarankanmu menjadi pemeran utama wanita? Hahaha, itu tidak mungkin.”

“Sepertinya kau tidak menginginkan hal itu. Tapi kenapa kau menyampaikannya padaku? Padahal bisa saja kau tidak mengutarakan hal itu padaku dan dengan demikian aku tidak tahu akan hal itu. Tapi kau mengatakannya. Apa kau berharap aku ikut serta Jung Soo-ssi?” selidik Seung Ri. Tidak. Lebih tepatnya dia ingin mengganggu pria itu.

“Apa? Buang jauh semua pikiranmu yang seperti itu. Aku bahkan tidak berharap bekerjasama dengan wanita yang bahakan tidak memiliki pengalaman berakting sebelumnya. Atau lebih sederhana, aku tidak ingin bekerjasama dengan orang bodoh.”

“Apa kau menyombongkan dirimu hanya karena personil dari boyband papan atas Super Fiction? Memang benar, aku sudah bertemu sebelumnya dengan Ji Sung oppa. Dan dia bertanya apa aku bersedia. Dan melihat kesombonganmu yang seperti ini, aku sepertinya tertarik menerima tawarannya. Aku juga merasa penasaran, seperti apa akting yang kau miliki hingga bisa sesombong ini,” sahut Seung Ri. Dia mengambil ponselnya dan mencari nomor yang tadi mengiriminya pesan. Dia mendekatkan ponselnya dan menunggu panggilan tersambung.

“Siapa yang kau hubungi?” tanya Jung Soo.

Oppa. Ini aku. Aku sudah bertemu dengan Jung Soo. Jika dia pemeran utama pria, sepertinya aku tertarik untuk mencoba pemeran wanita seperti yang kau katakan tadi siang,” ucap Seung Ri setelah panggilan tersambung.

“…”

Arraseo. Sampai jumpa besok.” Seung Ri memutus panggilannya dan menatap Jung Soo. Menunggu pria itu bicara.

“Apa kau yakin akan melakukannya? Itu akan membuatmu malu Seung Ri-ssi,” seru Jung Soo.

“Berani bertaruh?”

“Baiklah. Jangan menyalahkanku jika kau menjadi bahan ejekan. Aku sudah meperingatkanmu sebelumnya.”

“Tidak akan. Tapi jangan salahkan aku jika aku lebih terkenal nantinya dibandingkan dirimu. Sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan bukan? Aku pergi sekarang. Ah, salam buat semua personil Super Fiction katakan pada mereka kalau aku penggemar berat mereka.” Seung Ri meninggalkan tempat itu sebelum Jung Soo sempat berkata-kata.

Seung Ri tersenyum puas setelah berhasil membuat leader kesukaannya itu terdiam. Diantara semua personil Super Fiction, dia sangat menyukai Jung Soo. Dan inilah caranya agar pria itu tidak menolak tawaran Ji Sung. Jika dia menyetujui tanpa membuat Jung Soo tertantang, mungkin pria itu akan mempertimbangkannya lagi. Dan sekarang dia mengajukan tantangan. Jika dia benar-benar seorang pria, dia tidak akan menyerah jika ditantang seperti itu. Apalagi oleh seorang wanita yang sama sekali tidak tahu bagaimana itu berakting dengan baik.

Dan sekarang waktunya dia bertemu dengan Jong Ki. Pria itu meminta mereka bertemu di tempat dimana pesta Cho Ahra digelar waktu itu. Dia memasuki aula itu. Suasana disana sangat gelap. Seung Ri mencari saklar lampu

“Kau sudah tiba?” tanya Jong Ki. Dia menghidupkan lampu sebelum Seung Ri menemukan sakelarnya. Gadis itu hanya memandangnya cuek. Terkesan tidak perduli dengan pertanyaan Jong Ki barusan. Walau demikian, Jong Ki tetap tersenyum.

“Kau tahu, hal ini yang membuat aku ingin semakin tahu tentang dirimu. Kau tahu dan sering bertemu dengan para artis di sini. Tapi kau tetap bersikap dingin dan cuek seperti ini. Hal itu membuatku semakin ingin mengenalmu lagi. Jarang sekali bertemu dengan pribadi seperti kau ini. Jadi jangan pernah menyalahkanku kalau aku akan mencari tahu tentangmu. Dan saat aku tahu tentangmu semuanya, kurasa kita akan saling jatuh cinta. Kau tahu, siapapun tidak ada yang bisa menolak pesonaku,” ucap Jong Ki penuh percaya diri.

“Bagus kalau begitu. Tapi satu hal yang kau ketahui, aku tidak akan mudah jatuh cinta padamu. Seperti halnya, tidak akan mudah bagimu mendengarkan aku memanggilmu dengan sebutan oppa. Tapi jika aku sudah mengatakannya, maka itu berarti aku sudah menganggap kau ada dan mulai respek padamu. Jadi selamat berjuang Jong Ki-ssi,” sahut Seung Ri. Dia mengepalkan sebelah tangannya dan mengangkatnya keatas untuk memberi semangat pada Jong Ki. Dia kemudian meninggalkan pria tersebut tanpa memakan apapun yang sudah disiapkan oleh Jong Ki diruangan tersebut.

Jong Ki tertawa melihat gadis itu. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan gadis seperti Seung Ri. Benar-benar membuatnya penasaran. Dia melihat meja makanan yang sudah dia persiapkan. Sayang rasanya jika membiarkannya begitu saja. Tapi jika memakannya sendiri, akan tidak menyenangkan.

“Mungkin sebaiknya aku memanggil Seu Hwa kemari. Melakukan pendekatan padanya sepertinya ide yang baik. Bukankah kami akan segera bekerjasama?” gumam Jong Ki yang kemudian segera menghubungi gadis itu.

 

x-x-x

 

Jung Soo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Diperlakukan seperti itu pertama kali dialaminya. Terlebih oleh seorang gadis. Tidak pernah seorang gadis menolaknya. Dan ini dikarenakan Ji Sung. Pria itu benar-benar membuatnya kehilangan muka di depan gadis itu. Dia harus bertemu dengan Ji Sung untuk membicarakan hal itu lagi.

Hyung, eodiga?” tanya Jung Soo setelah panggilannya terhubung.

“Aku ingin bertemu sekarang. Aku menuju ke tempatmu,” ucapnya setelah Ji Sung memberitahu dimana posisinya.

Royal apartment adalah tempat dimana Ji Sung tinggal. Kamar 2501. Sekarang Jung Soo sudah berada di depan kamar itu. Dia menekan bel. Tidak berapa lama Ji Sung membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.

“Ada apa mencariku jam segini?” tanya Ji Sung. Dia mengambil dua botol bir kaleng dan menyerahkan salah satunya pada Jung Soo.

“Aku tidak mau dia menjadi pemeran utamanya,” ucap Jung Soo.

Wae?”

“Jika kau tetap memintanya, maka aku akan mundur menjadi pemeran utamanya.”

Ji Sung menatap Jung Soo dengan senyum kecil di bibirnya. Dia beranjak dari tempatnya dan melihat keluar jendela apartmentnya. Suasana malam hari terlihat sangat indah dari sana. Dia meminum birnya lagi.

“Kenapa kau begitu yakin kalau dia akan memerankan pemeran utama wanitanya” tanya Ji Sung.

“Benarkah? Kau hanya bermain-main mengatakan hal tadi padanyakan hyung? Aku tahu kau tidak akan serius dengan ucapanmu. Setelah ini dia akan merasa malu bertemu denganku,” sahut Jung Soo. Seperti mendapat kartu as, dia yakin dapat memperlakukan gadis itu.

“Dan juga, kenapa kau begitu yakin akan menjadi pemeran utama pria dalam proyek film ku kali ini?” ucap Ji Sung lagi.

“Apa maksudmu hyung?” tanya Jung Soo.

“Aku tidak mengatakan kalau kau akan menjadi pemeran utama prianya. Dan juga tidak mengatakan kalau Seung Ri akan menjadi pemeran utama wanita. Aku masih memilih siapa yang tepat dan belum tentu kalian berdua yang melakukannya.”

Hyung, kau bercandakan? Bukankah kau jelas-jelas mengatakan kalau aku yang akan menjadi pemeran utama? Dan juga kau menyetujui Seung Ri menjadi pemeran utama juga.” Jung Soo mulai bingung. Dia merasa sudah dipermainkan oleh Ji Sung. Rencananya agar tidak dipermaikan oleh Ji Sung hancur. Dan sekali lagi dia dipermalukan hari ini. Oleh Ji Sung.

“Apa aku terlihat bercanda? Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku. Jadi kau bisa keluar sekarang. Aku harus istirahat. Kelakuanmu hari ini bisa membuatmu keluar dari nominasi pilihan pemeran utama pria. Tapi aku akan menganggap kalau hal ini tidak terjadi. Jadi pulanglah dan beristirahat. Dan juga, cobalah untuk bergaul baik dengannya. Aku tidak ingin jika kalian berdua terpilih, proyekku gagal hanya karena masalah pribadi. Kau mengerti?”

Arraseo hyung. Maaf menganggu istirahatmu. Aku pergi.”

Jung Soo membanting stir mobilnya setelah dia berada di dalam mobil. Sebenarnya apa tujuan dari orang-orang itu? Pertama, Seu Hwa meninggalkannya. Lalu Ji Sung memintanya berperan dalam filmnya. Dan sekarang dia mengatakan kalau dia masih kandidat dan Ji Sung tidak memastikan kalau dia benar-benar pemeran utama. Dan kemudian Seung Ri. Gadis yang mengatakan kalau dia penggemar berat Super Fiction bertingkah sombong dan mempermalukan dirinya? Ini tidak bisa dibiarkan sama sekali. Ditengah kemarahan yang memuncak, ponselnya kembali berdering. Pesan singkat dari nomor yang tadi siang menghubunginya. Istri yang tidak dia kenal.

 

‘Apa kabarmu hari ini? Kau dalam masalah? Kudengar kau ditawari bermain film oleh sutradara Ji Sung. Yang aku tahu dia sutradara yang membuat film-film dengan rating tertinggi. Kau pasti senang bekerja sama dengannya. Aku akan menunggu film itu ditayangkan. Jangan lupa makan dan beristirahatlah. Aktifitasmu dengan Super Fiction akan membuatmu lelah. Jangan terlalu dipaksakan. –Istri yang tidak kau kenal-‘

 

                  Lagi dan lagi, saat Jung Soo mencoba menghubunginya, nomor tersebut sudah tidak aktif. Tapi dia tidak berniat membalas pesan tersebut. Dia memilih meninggalkan tempat itu dan kembali ke dorm.

Hyung!!!” teriak Ryeowook setibanya dia di dorm.

“Ada apa?” tanya Jung Soo saat Ryeowook menariknya menuju ruang tengah.

“Ini. Vitamin, suplemen, pakaian hangat dan beberapa makanan herbal. Semua ini dikirim oleh wanita yang kau nikahi itu,” ujar Heechul.

Mwo? Apa kalian yakin?” tanya Jung Soo. Jung Soo mulai memeriksa semua benda-benda tersebut. Semuanya makanan dan suplemen untuk kesehatan.

Heechul menyerahkan surat yang tertera didalamnya. Pengirimnya adalah Istri yang tidak kau kenal. Seperti isi pesan singkat yang beberapa kali dia terima.

“Apa ada wanita seperti in? Dia tahu kalau kau leader Super Fiction. Tapi dia tidak muncul dan membeberkan tentang pernikahan kalian. Dia memilih diam dan memperhatikanmu dari belakang. Wanita seperti apa dia?” tanya Kyuhyun.

“Aku juga tidak paham. Kenapa hidupku semakin rumit saja? Ah, bisa-bisa aku gila karena hal ini,” sahut Jung Soo.

Wae? Apa ada masalah lagi?” tanya Donghae.

“Sudah, lupakan. Ini semua kalian ambil saja. Aku tidak membutuhkannya,” ucap Jung Soo dan berlalu menuju kamarnya.

Hyung, kau tidak mau mengambil ini?” Ryeowook menyerahkan jaket yang juga berada dalam bungkusan itu. Walau sedikit ragu, Jung Soo mengambil jaket tersebut dan meninggalkan mereka. Dia melemparkan jaket tersebut keatas tempat tidur dan merebahkan diri diatas tempat tidur.

 

x-x-x

 

Seu Hwa terlihat menikmati makan malam bersama Jong Ki walau pria itu tampak sibuk dengan ponselnya. Bisa makan malam berdua dan menatap wajahnya lebih dekat dan lebih lama sudah cukup buat Seu Hwa. Dia bahkan tidak perduli kalau pria itu tidak memperhatikan dirinya. Tapi, lama kelamaan, dia merasa terusik karena Jong Ki sama sekali tidak berbicara dengannya.

“Apa yang sedang kau kerjakan dari tadi?” tanya Seu Hwa memulai pembicaraan. Jong Ki hanya menoleh sekilas dan kembali fokus dengan ponselnya.

“Bermain game,” jawabnya singkat.

Seu Hwa hanya bisa menghela napas panjang mendengar jawaban Jong Ki tersebut. Tapi setidaknya Jong Ki memberi respon terhadapnya.

“Bukankah tadi sore kau mengatakan tidak bisa bertemu? Tapi kenapa sekarang mengajakku makan malam?” tanya Seu Hwa lagi.

“Hanya karena dia tidak menyentuh makanan ini. Bahkan dia tidak duduk ditempatmu itu. Jadi aku berpikir sangat sayang jika aku harus pergi tanpa makan apapun. Jadi aku mengajakmu untuk makan malam disini. Ah, apa kau sudah selesai?” tanya Jong Ki saat melihat Seu Hwa tidak memakan apapun lagi.

“Sudah. Tapi bukankah tadi kau mengatakan kalau kau merasa sayang kalau tidak memakan makanan ini? Tapi kenapa kau tidak makan dari tadi?” tanya Seu Hwa. Dia berusaha tersenyum setelah mendapat jawaban menyakitkan dari Jong Ki tadi.

“Menunggumu selesai makan. Aku tidak suka makan bersamaan dengan orang yang baru aku kenal. Jadi, apa kau sudah selesai? Kalau begitu giliranku untuk makan.” Lagi dan lagi. Jawaban menyakitkan untuk Seu Hwa. Seorang Jung Seu Hwa mendapat perlakuan seperti itu? Bahkan saat dia mengejar Jung Soo dulu, dia tidak mendapat perlakuan seperti itu. Padahal saat itu dia bukanlah apa-apa. Tapi Jung Soo memperlakukannya dengan cukup baik.

Sekarang, dia seorang top model. Dia mendapat perlakuan menyakitkan seperti itu dari Song Jong Ki yang selama ini di idolakan olehnya? Terkadang, ada rasa menyesal dari dirinya karena meninggalkan Jung Soo. Tapi tidak. Dia akan berusaha membuat pria yang ada di depannya itu memandangnya. Walau dia merasa kalau itu akan memakan cukup waktu lama.

“Apa kau mencintai gadis yang akan kau temui itu?” tanya Seu Hwa memberanikan diri.

Jong Ki menghentikan makannya dan meletakkan sendok serta garpu yang dia pegang. Menatap gadis itu dengan intens. “Sejak kapan kita bisa sedekat itu sehingga kau bisa bertanya hal seperti itu?” tanya Jong Ki yang membuat gadis itu kembali terdiam.

“Jika ingin bekerja sama denganku, ada beberapa hal yang harus kau ketahui. Pertama, aku lebih tua daripadamu, jadi panggil aku dengan sebutan oppa. Kedua. Jangan pernah mencampuri kehidupan pribadiku termasuk aku berkencan dengan siapa. Jangan pernah bertanya aku mencintai siapa atau aku menyukainya. Dan ketiga, aku tidak suka seseorang yang merasa kenal dan dekat denganku. Jika kau melanggar yang ketiga itu, aku tidak akan mau bertemu denganmu. Masalah kontrak, aku akan membatalkannya jika kau melanggar. Kau paham?”

“Baiklah oppa,” jawab Seu Hwa. Dia terlihat ketakutan dengan kepalanya yang sedikit menunduk. Untuk mendapatkan pria yang ada didepannya saat ini hanyalah perlu bersabar dan menuruti apa yang dia inginkan. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh Seu Hwa. Dan sedikit kerja keras mungkin.

“Apa yang kau pikirkan sekarang? Apa aku ini pria dingin yang tidak berperasaan?” tanya Jong Ki.

Ania. Lanjutkan saja makanmu oppa,” sahut Seu Hwa.

“Ah. Jika kau bosan kau bisa pulang duluan. Aku mungkin akan sedikit lama disini.”

Gwencana. Aku akan menunggumu. Tidak baik duduk sendiri seperti itu.”

“Baiklah. Ku harap kau tidak merasa bosan nantinya.”

 

x-x-x

 

Jung Soo berulang kali membaca pesan yang dikirim oleh wanita itu. Apakah dia harus membalasnya atau membiarkannya saja? Dia mulai mengetik beberapa kata. Tapi kemudian menghapusnya. Dan melakukan hal itu berulang kali. Hingga akhirnya melempar ponselnya ke jok samping saat dia tidak tahu harus berbuat apa.

Ponselnya berdering. Kali ini panggilan masuk. Terdengar dari nada deringnya. Nama Seung Ri tertera di layarnya. Ada apa gadis itu menghubunginya tengah malam seperti ini?

Wae?” sahut Jung Soo.

“Tolong aku.” Suara Seung Ri terdengar begitu ketakutan.

“Kenapa kau meminta tolong padaku? Bukankah kau memiliki Ji Sung yang dapat kau mintai tolong? Jadi hubungi saja dia,” jawab Jung Soo ketus.

“Kumohon. Aku sangat takut Park Jung Soo-ssi. Seseorang mengikutiku. Aku baru saja pulang dari hotel. Kumohon.”

Shireo!!!”

“Kumohon Jung Soo-ssi. Lagipula bukankah kau yang menyuruhku menemuimu? Setidaknya bertanggung jawab mengantarkanku pulang. Dan sekarang seseorang mengikutiku. Apa kau tidak merasa bersalah?” ucap Seung Ri dengan nada setengah berbisik.

“Aku sudah dirumah. Sebaiknya kunjungi keamanan terdekat. Mereka akan menolongmu.”

Sambungan telepon terputus. Jung Soo memandangi layar ponselnya. Awalnya dia berniat mengabaikan permintaan tolong gadis itu. Tapi hatinya mengatakan lain. Bagaimanapun juga, dia seorang wanita yang meminta tolong padanya. Apa dia mampu menolak permintaan tolong itu?

Dengan tergesa-gesa dia keluar memutar balik mobilnya yang baru saja melewati hotel yang dimaksud oleh Seung Ri. Dia memperlambat laju mobilnya setibanya di area hotel tersebut. Benar saja, Seung Ri terlihat berlari tergesa-gesa menuju keramaian. Tidak lama terlihat beberapa orang pria dengan pakaian preman mengejarnya. Gadis itu terjatuh. Dengan cepat Jung Soo membawa mobilnya mendekati gadis itu dan membukakan pintu mobilnya.

“Cepat masuk. Kita harus pergi dari sini,” ucapnya setelah membukakan pintu belakang mobilnya..

Seung Ri memasuki mobil tersebut setelah menatap Jung Soo hanya sekilas. Dengan cepat Jung Soo memundurkan mobilnya dan berputar meninggalkan tempat tersebut.

“Kau datang?” ujar Seung Ri. Napasnya terdengar tidak beraturan. Dia memegangi lengan kanannya yang tanpa disadarinya mengeluarkan darah.

“Aku hanya kebetulan berada di sekitar sini. Jadi apa salahnya membantu. Lagipula, jika terjadi sesuatu padamu maka aku juga akan menjadi tersangka. Kau menghubungiku terakhir kalinya. Dan kau pikir bagaimana aku jika menjadi tersangka padahal aku bukan pelakunya?” sahut Jung Soo. Dia berulang kali menoleh kebelakang untuk memastikan kalau mereka tidak diikuti.

“Terserah apa yang kau katakan. Tapi terima kasih kau sudah menolongku.”

“Tidak perlu. Tapi kenapa kau pulang jam sekarang? Apa kau bodoh? Bagaimana jika aku tidak datang tepat waktu? Bukankah disana sangat sepi? Kau akan terluka pastinya.” Suara Jung Soo mulai meninggi.

Seung Ri hanya bisa diam. Tidak berniat menjawab pertanyaan itu. Toh dia tidak harus menjawabnya kan? Tapi sebuah senyuman kecil mengembang dari sudut bibirnya. Jung Soo mengkhawatirkannya. Ya mungkin sebagai idola yang mengkhawatirkan penggemarnya. Tapi setidaknya ini sangat spesial buat Seung Ri. Dia ditolong langsung oleh Jung Soo.

“Aku akan mengantarkanmu pulang. Kemana aku harus mengantarmu?” ucap Jung Soo kemudian.

“Kesa…aww!!!” Seung Ri meringis kesakitan saat dia mengangkat tangan kanannya. Baju kaos yang dikenakannya terdapat bercak darah. Dia akhirnya menyadari kalau tangannya terluka parah.

“Kau terluka?” tanya Jung Soo. Dia memarkirkan mobilnya ketepi dan membuka pintu belakang mobilnya. Jung Soo meraih tangan Seung Ri dan mendapati darah segar dari lengan kaos yang digunakannya.

Appo,” teriak Seung Ri.

Jika melihat dari lukanya, Jung Soo yakin kalau itu bukan karena dia jatuh tadi. Tapi karena seseorang melukainya. Jung Soo keluar dari dalam mobil dan menarik Seung Ri keluar. Dia mengoyakkan lengan baju Seung Ri untuk melihat seberapa parah luka tersebut. Luka sabetan yang cukup dalam. Jung Soo mencoba menghentikan pendarahan dengan membalut luka tersebut dengan koyakan baju tersebut. Dia melepaskan jaket yang dia kenakan dan memakaikannya pada Seung Ri.

“Apa kau dilukai oleh orang-orang itu?” tanya Jung Soo.

“Sepertinya. Aku bahkan tidak tahu kapan mereka melukaiku. Mereka menyerangku tiba-tiba. Aku hanya berlari menghindari mereka tanpa sadar kalau tanganku terluka.” Seung Ri memegangi tangannya dan sedikit menekan permukaan luka tersebut untuk menghentikan pendarahannya. Dia terlihat sedikit menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakitnya.

“Sepertinya mereka cari mati. Kita kembali. Akan kuberi mereka pelajaran.” Emosi Jung Soo benar-benar dipuncak. Dia paling tidak suka melihat pria menyakiti wanita. Terlebih menyerangnya secara tiba-tiba.

“Mereka membawa senjata. Kau bisa saja terbunuh bodoh!!!” jawab Seung Ri.

“Apakah mereka pantas dibiarkan setelah melakukan hal ini?”

“Sudahlah. Antarkan saja aku pulang. Hal ini bisa kuatasi.”

Andwae. Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit.” Jung Soo mendorong Seung Ri kembali ke dalam mobil dan dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat tersebut.

Mereka tiba di rumah sakit terdekat. Lengan Seung Ri mendapat tiga jahitan dari dokter. Lukanya cukup dalam. Menurut analis dokter, senjata yang digunakan kemungkinan adalah sebuah pisau yang biasa digunakan oleh para personil polisi. Bisa dipastikan kalau mereka mencuri senjata itu.

Jung Soo memasuki ruangan dimana Seung Ri dirawat setelah mendengar penjelasan dokter barusan. Seung Ri terlihat sudah membaik. Dia bahkan sudah bisa duduk dengan kondisi lengan diperban. Dokter membuka kaos yang dikenakannya saat akan menjahit luka tersebut dan sehingga dia hanya mengenakan kaus dalamnya saja yang dilapisi dengan selimut di bahunya.

Beberapa petugas dengan dinas kepoliasian terlihat berbincang-bincang dengan Seung Ri. Jung Soo hanya bisa melihat dari luar kamar. Dia menghubungi polisi setelah melihat kondisi tangan Seung Ri yang terluka parah. Tidak lama kedua polisi yang menginterogasi Seung Ri menghampirinya untuk meminta keterangan darinya. Jung Soo hanya menjelaskan apa yang dia lihat saja. Tidak memakan waktu yang lama memang. Dia meminta agar pihak kepolisian tidak membesarkan masalah ini terlebih harus melibatkan namanya. Dia bahkan tidak menghubungi manajernya dan memberitahu hal ini. Setelah mendapat informasi yang dibutuhkan, kedua polisi itu meninggalkan Jung Soo.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jung Soo setibanya dia di tempat Seung Ri.

Seung Ri hanya mengangguk sambil memegangi tangannya yang terluka.

“Kenakan ini dan aku akan mengantarmu pulang. Tidak mungkin kau pulang hanya mengenakan kaus dalam. Aku akan memanggil perawat untuk menolongmu mengenakannya,” ujar Jung Soo sambil menyerahkan sebuah paper bag pada Seung Ri.

Seung Ri melihat apa isi tas tersebut. Sebuah baju yang dibeli oleh Jung Soo. Dia hanya tersenyum pada Jung Soo. “Apa kau membelinya oppa? Kapan?” tanya Seung Ri kemudian.

“Tidak usah bertanya ataupun berfikir yang aneh-aneh sekarang. Sebaiknya kenakan. Aku akan memanggil seorang perawat untuk membantumu,” balas Jung Soo dan segera meninggalkan Seung Ri.

Tidak lama seorang perawat menghampirinya untuk membantunya mengenakan pakaian. Perawat itu menutup gorden mengelilingi tempat tidur Seung Ri. Dengan cepat Jung Soo membantu Seung Ri saat dia berusaha turun dari atas tempat tidur. Dia membantunya berjalan untuk meninggalkan tempat itu.

Gomawo,” ucap Seung Ri ditengah langkahnya.

“Lupakan. Aku akan mengantarkanmu pulang,” jawab Jung Soo.

“Baiklah.”

“Kau lihat? Kau bahkan tidak dapat menggerakkan tanganmu. Bagaimana mungkin kau dapat beradu akting denganku dalam kondisi seperti ini,” ucap Jung Soo setibanya mereka didalam mobil.

“Sudahlah. Kau membuat lukaku semakin sakit saja. Jika ingin terus memarahiku, silahkan pergi saja. Aku bisa mengurusnya sendiri.”

“Begitukah? Kalau begitu silahkan pulang sendiri dan keluar dari dalam mobilku. Terserah padamu kau mau menaiki apa untuk pulang.” Jung Soo meninggalkan Seung Ri yang masih memegangi tangannya. Sepertinya efek obat bius sudah mulai habis. Rasa sakit mulai menjalar di tangannya yang baru saja dijahit dan suara ringisan kecil terdengar saat Jung Soo baru akan meninggalkan tempat tersebut.

“Haish, baru saja ditinggal sebentar kau sudah meringis kesakitan seperti itu. Sekarang tidur. Aku akan disini hingga rasa sakitmu berkurang. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Ah, apa kau sudah makan? Kau tidak makan apapun saat bertemu denganku tadi,” ujar Jung Soo.

“Aku meringis bukan karena kau tinggalkan. Tapi efek obat bius sudah habis,” jawab Seung Ri yang merasa sangat kesal dengan Jung Soo. “Dan juga aku sudah makan,” jawab Seung Ri lagi. Tapi sepertinya, perutnya tidak dapat diajak berkompromi. Suara perutnya terdengar jelas. Dia memalingkan wajahnya dengan mata terpejam. Sungguh memalukan sekali. Dia memang belum memakan apapun sejak sore tadi. Bahkan saat bertemu dengan Jong Ki, dia tidak menyentuh makanan yang disediakan oleh Jong Ki disana.

“Aku akan membeli makanan. Jadi tunggu disini. Jangan pergi kemanapun. Apa kau paham?”

“Tidak usah. Aku bisa makan dirumah,” sahut Seung Ri berusaha terlihat tidak mudah untuk Jung Soo. Tapi suara dari perutnya semakin keras saja.

“Kau bahkan tidak bisa berbohong dengan baik. Tunggu disini, aku akan membelikan makanan untukmu,” ucap Jung Soo.

“Baiklah.”

Jung Soo tiba dengan beberapa bungkusan ditangannya. Dia membeli ayam goreng dan beberapa bungkus mie instan. Dia juga membawa beberapa botol air mineral dan dua gelas kopi hangat.

“Makanlah,” suruh Jung Soo setelah dia membuka makanan tersebut dan menghidangkan di depan Seung Ri. Gadis itu menatap Jung Soo dengan tatapan aneh. Kali ini tidak seperti sebelumnya. Lebih lembut dan penuh kasih sayang. “Hanya ini yang tersisa. Tidak ada toko makanan yang buka jam sekarang,” ucap Jung Soo lagi. Sekarang memang sudah jam 1 pagi.

“Ada apa? Apa kau merasa tersanjung dengan perlakuanku ini? Atau kau jatuh hati padaku?” tanya Jung Soo.

Ania. Hanya saja aku tidak mengira kau benar-benar memiliki sisi seperti ini. Awal bertemu denganmu, kau terlihat dingin dan begitu kasar. Tapi sekarang tidak. Sepertinya apa yang kutahu tentangmu selama ini itu benar.”

“Apa maksudmu?”

“Apa kau lupa? Bukankah sebelumnya kukatakan kalau aku penggemar berat Super Fiction? Terlebih lagi, aku penggemar beratmu. Jadi aku mengetahui banyak hal tentangmu. Mulai dari terbesar hingga terkecil sekalipun.” Seung Ri tertawa. Ini kali pertama dia mengaku kalau dia benar-benar menyukai seseorang. Menyukai idola tidak salahkan? Tapi kini idola itu ada didepan matanya dan sedang merawatnya.

“Tapi, kenapa kau berlaku seperti itu? Tidak berteriak atau meminta tanda tanganku? Atu berfoto bersama?” tanya Jung Soo. Ternyata dia merasa penasaran mengapa gadis itu seperti itu.

“Kau bukanlah orang pertama yang menanyakan hal ini. Beberapa temanku juga menanyakannya. Mereka mengatakan aku beruntung mendapat tempat magang di hotel ini. Bahkan hanya aku satu-satunya dari almamaterku. Jika ditanya mengapa, aku hanya ingin mencoba menjadi manusia normal saja. Jika setiap melihat para artis aku bertiak histeris, maka lama kelamaan aku akan menjadi gila,” jawab Seung Ri.

“Tapi bukankah itu wajar jika melihat idolamu. Kau bisa berteriak. Atu mungkin meminta tanda tangan dan berfoto bersama,” sahut Jung Soo. Dia sepertinya masih belum paham dengan pemikiran gadis itu.

“Kalian dengan kami sangat jauh berbeda. Kami tahu kalian dengan baik. Tapi apa kalian tahu kami dengan baik? Kalian para artis hanya tahu kalau kami itu penggemar kalian yang akan mendukung kalian dalam kondisi apapun. Tapi apa kalian tahu kapan sakit sakit, kapan kami menderita, atau kapan kami kehilangan. Bahkan mungkin kalian tidak tahu hari bahagia kami. Aku hanya memegang prinsip itu. Aku cukup mengemari kalian saja. Tidak perlu sampai melakukan hal gila seperti itu. Jika aku terlalu terobsesi untuk berfoto atau meminta tanda tangan kalian, mungkin aku sudah gila karena sampai saat ini belum mendapatkannya. Apa kau tahu sudah berapa lama aku mengidolakan kalian?”

Anio.”

“5 tahun. Saat itu usiaku baru 18 tahun. Masih sangat muda bukan? Dan setelah aku berusia 23 tahun, aku mulai memahami hal itu. Dan inilah aku sekarang. Seorang penggemar yang berlaku biasa saja saat bertemu dengan idola ataupun artis lainnya. Ya, mungkin hal itu yang membuatku bisa berada di tempat ini.”

“Benarkah? Sudah selama itu? Tapi apa kau hanya menyukaiku saja? Atau kau pernah menyukai personil yang lainnya?” tanya Jung Soo. Sepertinya dia semakin tertarik dengan cerita gadis itu.

“Ada. Lee Donghae oppa. Menurutku dia itu sangat imut. Jika melihatnya tersenyum, rasanya tidak ada yang bisa mengalahkannya,” jawab Seung Ri.

“Termasuk aku?” sahut Jung Soo.

“Mungkin saja. Tapi mungkin itulah kehebatanmu. Setiap kali Donghae oppa membuatku semakin tertarik, ada saja hal yang kau lakukan agar aku tidak berpaling. Hah, itu cerita penggemar yang aneh bukan? Sudahlah. Aku tidak akan menceritakan hal itu lagi, karena akan sangat memalukan,” ujar Seung Ri.

Wae? Lanjutkan saja. Aku sangat menyukai ceritamu. Tapi kenapa kau memanggil Donghae dengan sebutan ‘oppa’? Tapi tidak denganku? Tahukah kau kalau aku lebih tua dibandingkan dengan Donghae?”

Oppa? Aku malah berpikir akan memanggilmu dengan sebutan ahjussi. Apa kau setuju?”

“Yaa!!! Jika kau tahu banyak tentang aku, kau tidak akan mengatakan hal itu,” jawab Jung Soo tidak terima.

Arraseo. Kau tidak suka jika dipanggil dengan sebutan ahjussi. Baiklah. Aku akan memanggilmu dengan panggilan ‘oppa’?”

“Begitu baru bagus.” Jung Soo membelai kepala Seung Ri sambil tersenyum. Kedua dimple-nya terlihat jelas. Tanpa sadar Seung Ri sudah menghabiskan makanan yang ada didepannya. Dan juga, Jung Soo membantunya makan dengan menyuapi Seung Ri. Gadis itu tidak dapat menggerakkan tangannya hingga Jung Soo membantunya makan.

“Apa tanganmu sudah baik-baik saja?” tanya Jung Soo.

“Sepertinya jauh lebih baik. Apa kita bisa pulang sekarang oppa?”

“Baiklah. Aku akan mengantarkanmu. Kajja.”

 

x-x-x

 

Jong Ki terbangun saat mimpi buruk menghampirinya. Dalam mimpinya, Jung Soo akan menghabisinya karena dia menyembunyikan semua darinya. Tapi apakah dia harus mengatakan kebenarannya? Dia bahkan tidak berteman dekat dengan Jung Soo. Apa dia akan percaya pada ucapannya? Dan bagaimana dengan pihak lainnya? Tidak, dia tidak akan memberitahunya. Bagaimanapun juga akan sangat berbahaya jika dia mengatakan apa yang terjadi.

Satu-satunya yang dapat menenangkannya saat ini hanyalah Ji Sung. Dia menghubungi Ji Sung dan minta bertemu. Dia bersiap-siap menuju apartemen Ji Sung. Jong Ki dan Ji Sung adalah saudara sepupu dari ibu mereka.

“Apa yang membuatmu datang jam segini?” tanya Ji Sung setelah Jong Ki tiba dikediamannya. Dia mengambil dua botol minuman dari dalam lemari pendingin dan menyerahkan salah satunya pada Jong Ki. Mereka berdua duduk di ruang tamu.

Jong Ki meminum minuman yang diberikan Ji Sung sebelum dia memulai pembicaraannya. Terlihat sangat tidak sabaran. Dalam waktu singkat dia sudah menghabiskan minumannya. “Tiba-tiba saja aku merasa takut hyung. Aku tidak bisa mengatakan kejadian yang sebenarnya sekarang. Dan itu selalu menghantuiku,” ucap Jong Ki kemudian. Dia menyeka sisa minuman yang keluar dari sudut bibirnya.

Ji Sung menepuk bahu Jong Ki. “Sebaiknya kau tenangkan dirimu dahulu. Setelah itu kau dapat berpikir bagaimana jalan terbaiknya. Aku tahu itu akan berat. Aku akan membantumu memberitahunya secara perlahan. Itu akan mengurangi bebanmu. Istirahatlah,” ujar Ji Sung kemudian.

“Tapi hyung…” Jong Ki masih belum bisa melupakan bagaimana ekspresi Jung Soo dalam mimpinya.

“Istirahatlah. Kau hanya merasa lelah saja. Setelah ini semuanya akan baik-baik saja,” sahut Ji Sung sambil memberikan senyuman pada Jong Ki. Dia cukup tahu bagaimana rasa cemas yang dihadapi oleh Jong Ki.

Jong Ki berjalan menuju kamar, sementara Ji Sung menuju meja kerjanya. Dia tahu bagaimana membantu adiknya itu. Dia akan melakukannya. Rencana yang awalnya akan dia batalkan. Dengan demikian, dia akan melibatkan mereka semua dan mengungkapkan semua rahasia.

 

TO BE CONTINUED…

 

Notice : FF ini juga dipublish di blog author [http://special861015.wordpress.com]

Jadi kalau nemu FF ini di blog tersebut, jangan dibilang plagiat yaa…

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: