[Prologue] What If

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership, action

Rate : PG-15

****

Setelah “Silent” dan “Memories”, saya coba kirim FF saya yang lain ke sini. Judulnya “What If”. Ini prolognya.

Hope u like it!!!

****

Klek! Ia berhasil membuka gemboknya. Kepalanya disembulkan keluar lalu melihat ia ke sekeliling. Begitu yakin situasi aman, ia berjinjit pelan untuk menghindari perhatian orang-orang yang mungkin saja tak dilihatnya. Hingga semuanya benar-benar terkendali, ia berlari dari sana.

“Kau???”

Langkahnya terhenti. Seseorang menghadangnya dan ia mengenalnya dengan sangat baik. Untuk sesaat ia sempat takut kalau yang lain akan terpancing dan muncul secara keroyokan. Tapi setelah beberapa detik, sepertinya hanya ada mereka berdua saat ini. Ia pun tak gentar. Diam-diam ia mengambil tongkat kayu dari balik bajunya dan langsung dipukulkannya pada pria itu.

BUG

“Jangan halangi aku lagi!!”

Ia memukulinya dengan membabi buta. Tanpa jeda, ia arahkan tongkat itu ke tubuhnya hingga ia yakin semua tulang-tulangnya sudah patah. Ia pun sudah akan membunuhnya kalau saja tak terdengar teriakan yang sangat nyaring di belakangnya. Maka ia lempar tongkatnya, lalu berlari lagi. Tersisa pagar besi yang berdiri di depannya. Setelah berhitung sampai tiga, ia melompat ke atas dan berusaha keras melewatinya.

“Akh…”

Ia menjerit. Kawat-kawat itu berhasil menusuk telapak kaki kirinya. Ia hampir berteriak saat harus mengangkat kakinya lalu melompati pagar. Meski darahnya mulai mengalir, ia berusaha keras melanjutkan larinya. Ia harus cepat! Harus segera keluar dari sini!

Suara peringatan terdengar dimana-mana. Ia bahkan merasa mereka semua semakin dekat dan berada tepat di belakangnya. Tapi ia tak mau menoleh ke belakang. Ia terus berlari, menyeret kakinya yang sakit luar biasa itu.

Ketika ia sampai di luar, ia berlari sekencang mungkin memasuki keramaian. Ia melepaskan seragamnya lalu mengambil sembarangan jas seseorang yang diletakkan di atas mobil. Dengan cepat ia memakainya dan berusaha berjalan dengan normal. Ia juga memakai topi yang ia dapat dari kepala seseorang. Sepertinya orang itu tak menyadarinya.

Maka ia terus berjalan, berlagak kedinginan dengan merapatkan jasnya. Sesekali ia akan menunduk atau membuang muka saat segerombolan orang-orang yang mengejarnya terlihat.

Situasi semakin menyebalkan ketika tak ada satu taksipun yang berhenti untuknya sedangkan ia mulai merasa ada seseorang yang mencurigai kehadirannya. Ia turunkan topi lebih rendah, berlagak biasa-biasa saja lalu berjalan lebih cepat dan semakin mendekati kerumunan pejalan kaki. Ia bisa merasakan ada seseorang yang memang mengikutinya, menguntitnya seakan ia adalah santapan paling lezat malam ini. Berita buruknya, ia tak berminat menyerahkan diri. Maka begitu melihat ada satu taksi dari kejauhan, ia melambaikan tangan.

Taksi itu berhenti. Ia langsung meraih pintu lalu menariknya. Namun, ada tangan lain yang juga sedang menarik pintu itu.

“Maaf, tuan, aku terburu-buru,” ujar orang tersebut dengan cueknya.

Ia menatap tajam padanya yang merupakan seorang wanita. Dengan tegas ia memberinya kode untuk mundur dan bersiap membuka pintu. Tapi wanita itu menahan lengannya.

“Hey, aku yang lebih dulu melihat dan menghentikan taksinya!!”

“Apa peduliku? Menjauh atau kau..”

“Nona!! Tahan dia!!”

Sial! Orang-orang menyebalkan itu berlari ke arahnya. Dan tiba-tiba saja jumlahnya menjadi dua kali lipat lebih banyak dibanding dengan yang sebelumnya. Ia pun melepaskan dengan paksa tangan wanita itu lalu segera menarik pintu. Namun, wanita itu menarik lengannya sekali lagi. Tangannya di putar ke belakang lalu dikunci hingga pipinya mencium belakang mobil.

Brakkk

“Argh!!”

“Dengar! Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi sepertinya aku punya alasan kuat untuk tidak memberikan taksi ini padamu!”

Wanita itu mendorongnya. Tubuhnya ditangkap oleh orang-orang berpakaian putih itu yang langsung memborgolnya.

“Nona, kau baik-baik saja?”

Ia diseret menjauh dari sana. Mereka memaksanya berjalan tanpa berpikir bagaimana sakitnya kakinya saat ini. Sesaat sebelum ia dilempar ke dalam mobil, ia menoleh ke belakang. Dilihatnya sekali lagi wanita itu dan ia pun akan mengingat wajahnya seumur hidup. Jika suatu saat mereka bertemu lagi, ia bersumpah akan mematahkan lehernya!!

***

 

2 Comments (+add yours?)

  1. rizzzkiii
    Sep 12, 2016 @ 12:16:47

    Eitttsss. . .udah dipost nih. Tengkiu admin!

    Reply

  2. christiejaena480
    Sep 18, 2016 @ 22:33:45

    Wah berawal dari dendam..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: