What If [2/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

***

Jae Gum menahan nafas sebelum akhirnya mendorong pintu ruang rawat anaknya. Tangannya yang memegang sebuah rantang makan mengeras begitu saja. Sama seperti hari-hari sebelumnya ketika ia memutuskan kemari, ia berusaha untuk tersenyum dan terbiasa dengan penolakan yang akan ia terima. Semoga hari ini Tuhan berbaik hati memperbaiki suasana hati anaknya. Semoga hari ini anaknya tidak mengusirnya. Semoga hari ini anaknya mau menatapnya, semoga anaknya mau bicara dengannya, dan semoga harapannya bukan sekedar angan-angan yang setia menggantung di atas kepalanya.

Tapi…bukankah setiap kali ia kemari ia selalu menemukan sebuah kemajuan? Minggu lalu rantang makannya dilempar ke lantai, tapi anaknya mau bicara dengannya. Dua minggu lalu ia di dorong hingga kepalanya mengenai ujung meja, tapi anaknya nampak khawatir dan lekas-lekas meneriaki seorang suster untuk membawanya pergi. Ia tahu maksud anaknya itu adalah agar ia segera diobati. Lain lagi dengan kejadian beberapa hari lalu saat anaknya ‘kumat’. Meski anaknya meronta dan meneriaki semua orang, termasuk mengusirnya, pada akhirnya ia tetap disisinya dan menjadi sandarannya. Ia peluk anaknya dengan paksa hingga perlahan-lahan anaknya tak punya kuasa untuk melawan rasa sakit itu dan melupakan seburuk apa hubungan mereka. Mereka berpelukan. Untuk tahun-tahun yang sulit ini, sebuah pelukan adalah sesuatu yang begitu ia idamkan. Meski ia harus terluka, dicaci, dihina, pada akhirnya ia akan terus menemukan sebuah kebaikan.

Sebelum kemari, perawat Kim yang memang bertugas menangani anaknya sempat mengajaknya berbincang-bincang. Katanya anaknya hanya mengalami luka kecil dibagian kaki dan sudah dijahit semalam. Ia diminta untuk tidak khawatir dan tidak menjenguk anaknya dulu. Perawat itu takut kalau suasana hatinya sedang berada dalam level paling buruk sehingga hal-hal mengerikan akan ia alami. Tapi Jae Gum bersikeras bahwa ia harus menemui anaknya hari ini. Ia tidak tahu mendapat kekuatan darimana, yang jelas sejak bangun tadi pagi, ia merasa bahwa hari ini akan ada kabar baik dari anaknya. Apapun itu, meski hanya sesuatu yang kecil, ia yakin akan mendapatnya dan bisa pulang dengan sebuah senyuman.

“Cepat tekan tombolnya jika ia mengamuk lagi.” Begitu pesan perawat yang ia yakini usianya lebih muda dibanding dengan anaknya itu sebelum pergi. Maka setelah berada di dalam, ia menekan dadanya kuat-kuat. Dalam hati ia terus meyakinkan dirinya bahwa ia bahkan tidak akan membutuhkan tombol apapun untuk menyelamatkan dirinya. Anaknya tidak akan melukainya lagi.

Sekarang ia bisa melihat anaknya tertidur dengan posisi miring. Selimutnya nampak berantakan dan hanya menutupi setengah badannya. Ada bekas lebam dipipinya yang mungkin diakibatkan sikapnya semalam yang membangkang.

Ia lalu duduk disisinya selama beberapa menit tanpa maksud untuk membangunkannya. Bukan karena takut akan konsekuensinya jika ia berani melakukannya, melainkan karena ia ingin anaknya bisa menikmati tidurnya lebih lama. Anaknya pasti kelelahan. Anaknya pasti sedang mimpi indah. Dan lagi….setidaknya dalam tidur anaknya tidak merasakan sakit itu.

Diperhatikannya wajah polos itu. Untuk beberapa saat ia teringat ketika anaknya masih begitu kecil dan belajar berjalan. Saat itu ia sengaja melempar mainannya agak jauh supaya anaknya mau mengambilnya sendiri. Dengan tertatih-tatih anak itu melangkah sedangkan ia menunggu bersama mainannya. Ketika anak itu limbung pada langkah terakhir, ia menangkapnya sebelum menyentuh lantai. Anaknya tersenyum memperlihat satu giginya lalu mengusap-usap wajahnya dengan lembut. Saat itu anaknya sudah agak terlambat dibanding anak seusianya yang sudah bisa berjalan. Tapi anaknya sangat pandai bicara. Ketika anak lain baru belajar memanggil orang tuanya, anaknya sudah bisa mengucapkannya dengan cukup fasih. Pertama kali anaknya memanggilnya ibu, ia menangis cukup lama. Ia menangis karena setelahnya anaknya memanggil sang ayah dan tidak ada siapa-siapa yang menyahut.

Wajah itu benar-benar damai saat ini. Rambutnya berantakan. Matanya terpejam erat dengan bibir yang sedikit membentuk senyum. Entah apa yang sedang diimpikan olehnya. Ia harap ia termasuk didalamnya yang membuat anaknya tersenyum.

“Donghae, tidakkah kau tahu bahwa kau sangat tampan?”

Tangannya hampir menyentuh pipi itu kalau saja ia tidak lekas-lekas mengendalikan diri. Jika ia melakukannya, anaknya bisa bangun. Biarlah seperti ini. Biarlah begini.

Namun, setengah jam berikutnya anaknya benar-benar bangun. Ia yang sempat menyandarkan tubuhnya pada kursi langsung tegak. Ia rapikan bajunya, rambutnya lalu memasang senyum semanis mungkin. Hingga anaknya mengucek mata dan bangkit dari tidurnya, ia tetap pada kursi, menunggu kehadirannya disadari.

Detik-detik berikutnya ia masih mempertahankan posisi itu meski anaknya mulai bergerak-gerak melakukan peregangan tanpa sekalipun menoleh padanya. Jae Gum sempat menelan ludah, mencari-cari perhatiannya. Namun, akhirnya ia beranikan diri untuk menyapanya lebih dulu.

“Selamat pagi, sayang. Bagaimana tidurmu?”

Ia tidak dijawab. Ia bicara sekali lagi.

“Sepertinya nyenyak sekali. Ibu sudah tiba disini cukup lama tapi ibu tidak ingin mengganggu tidurmu. Ibu pikir kau-“

“Aku memang mimpi indah dimana aku bisa kabur dari sini dan tak mengenalmu lagi.”

Senyumnya masih ada, bahkan kali ini lebih lebar. Ia tak peduli apa yang dikatakannya. Ia lebih bersyukur karena ini adalah rekor tercepat dimana perkataannya direspon.

“Kau memang akan segera keluar dari sini begitu kau sudah sembuh.”

“Sudah kubilang aku tidak sakit!”

“Ibu tahu. Tapi………..” Jae Gum mencoba mengubah suasana dan membatalkan niatnya untuk menjelaskan lebih panjang. Ia pun beralih pada rantang makanan yang ia bawa.

“Ah, sayang, coba lihat apa yang ibu bawa. Ini adalah masakan kesukaanmu.”

Jae Gum memperlihatkan naengmyeon ditangannya yang merupakan salah satu makanan kesukaan anaknya. Ia bisa merasakan bahwa anaknya sedang mempertimbangkan untuk mengambil atau melemparnya seperti biasa. Dan setelah dipandang beberapa detik, akhirnya rantang itu berpindah tangan. Anaknya melahap makanan dengan cepat.

Jae Gum tersenyum. Andai ia sedang sendiri saat ini, ia mungkin akan melompat dengan gembira. Anaknya mau bicara dengannya, sudi menatapnya dan yang paling penting mau menerima makanannya. Jadi, apa tombol konyol itu masih dibutuhkan?

“Aku hanya sedang bosan dengan makanan disini. Jangan berpikiran macam-macam dan berhenti memanggilku seperti itu! Aku punya nama!” ujar anaknya dingin.

Senyum Jae Gum yang lebar ia tahan sekeras mungkin. Ia harus mengendalikan diri. Ia harus bertindak normal agar sikap baik anaknya tidak hilang begitu saja.

“Baiklah, maafkan ibu, Donghae. Ibu hanya…..ibu hanya berpikir ada baiknya ibu menghabiskan hari ini bersamamu. Mungkin kau-“

“Jangan pernah berpikir itu akan terjadi! Sebaiknya kau pergi!”

Rantang makannya yang kosong dibuang begitu saja. Sendoknya berbunyi keras dilantai membuat perawat Kim tahu-tahu menerbos pintu dan bertanya dengan panik.

“Ada apa?”

Jae Gum berdiri, tersenyum sambil mendekatinya. “Tak apa. Kami hanya sedang bicara. Dan aku memang sudah akan pergi.”

“Suruh ia cepat pergi dari sini!” bentak Donghae.

Jae Gum dan perawat Kim saling tersenyum pahit. Setelah memungut rantang dan sendoknya, Jae Gum berpamitan singkat pada Donghae.

“Ibu pulang dulu. Besok Ibu akan kemari lagi.”

Meski tak ditanggapi, Jae Gum mencuri kesempatan untuk mengelus bahu anaknya kemudian membungkuk sejenak pada perawat Kim.

“Aku pergi.”

Seperti sebelumnya ketika melangkahkan kaki dari sini, ia akan melempar senyum pada semua orang yang ia temui diluar. Beberapa akan memandangnya iba, sebagian akan ikut tersenyum membalasnya.

Baginya, ia harus memberitahu semua orang bahwa ia baik-baik saja. Anaknya luar biasa dan jangan kasihani dirinya. Lihat? Hari ini ia menemukan banyak kemajuan. Sekalipun orang lain tak dapat menalar kebaikan macam apa yang ia dapat dengan bunyi jatuhnya sesuatu yang orang dengar sebelumnya, ia tetap bisa menemukannya. Dan suatu saat nanti ketika ia kembali kemari, ia yakin orang-orang tidak akan lagi ragu dengan senyumannya.

***

Kyuhyun melempar tubuhnya yang pegal ke atas tempat tidur. Seharian ia bekerja, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan jarak yang tidak bisa dibilang dekat. Pagi-pagi sekali ia ke kantor manajemennya untuk urusan album. Siang harinya ia latihan musikal dan sorenya bernyanyi untuk acara amal yang diadakan perusahaan ayahnya. Dan sebelum pulang ke apartemen, ia sempat melakukan wawancara singkat dengan sebuah majalah. Ia senang melakukan semuanya. Ia bahkan tak pernah mengeluhkan kesibukannya itu. Masalahnya adalah ia tidak bisa menghubungi Amy sepanjang hari ini. Dan itu mempengaruhi moodnya.

Sebenarnya itu pun tidak bisa disebut masalah, Amy sering melakukannya. Amy sering menghilang dan tidak menyalakan handphonenya selama berhari-hari lalu tiba-tiba muncul dengan wajah tanpa dosa. Tapi kali ini Kyuhyun ingin menagih penjelasan soal pertemuan besok lusa yang dimaksud Amy dua hari lalu. Bukankah artinya harusnya hari ini mereka bertemu? Ini sudah jam tujuh malam dan Amy masih belum bisa dihubungi.

Amy Lee…….kau dimana?

Kyuhyun menggeram sendiri sambil mengacak rambutnya. Ia pikir akhir dari jadwal ketatnya hari ini adalah pertemuan dengan Amy. Nyatanya, sekarang ia sedang berbaring dan belum mandi.

Sekali lagi ia ambil handphonenya lalu berusaha menelpon. Tapi jawaban yang ia dapat masih sama. Nomornya tidak aktif.

Kau menyebalkan!

Kyuhyun melempar handphonenya sembarangan. Ia lalu ke kamar mandi. Mungkin jika setelah ini ia mencoba lagi dan hasilnya tidak berubah, ia akan langsung tidur. Jika besok gadis itu tiba-tiba muncul, maka ia akan memberinya pelajaran. Ia akan mogok bicara dengannya. Ia akan mengacuhkannya. Ia akan membuat Amy merasakan kekesalan yang sama.

Namun, ada sesuatu yang mencurigakan ketika ia selesai mandi. Ia mendengar suara seseorang yang sedang bersenandung. Ketika ia membuka pintu, suara itu semakin jelas dan nyaring. Dari posisinya ia melihat bayangan seseorang yang berdiri sambil mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Tak mau mengambil resiko, ia pun mengambil tongkat baseball yang selalu ia sembunyikan didekat pintu kamar mandi dan mendekati orang itu. Ia sedang kesal. Kebetulan sekali ia mendapat pelampiasan.

Ia lalu melangkah, bersiap memukulinya. Tapi orang itu tahu-tahu berbalik dan….

“Amy?”

Tongkatnya terjatuh. Kyuhyun menghela nafas lega lalu menarik topi yang dipakai oleh Amy.

“Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana bisa kau masuk tanpa ijinku? Aku pikir kau pencuri!”

Amy tertawa pelan. Bukannya menjawab, Amy justru mendekati cermin lalu menyisir rambutnya yang berantakan.

“Pintunya tidak dikunci dan aku sudah menekan bel berkali-kali. Bukan salahku kalau aku masuk saja. Ah, ngomong-ngomong, tubuhmu bagus juga.”

Sontak Kyuhyun menatap ke bawah dan ia baru sadar hanya mengenakan handuk sebatas pinggang dengan tubuh yang masih agak basah.

“YA!!! Kau!!”

Kyuhyun bergegas membuka lemari pakaiannya, mengambil sembarang piyama lalu masuk lagi ke kamar mandi. Lima menit kemudian ia keluar dengan pakaian lengkap serta handuk di kepala.

“Ini bukan pertama kalinya aku melihatmu tanpa baju, kenapa kau bersikap seperti itu? Aku tidak berminat ‘bermain-main’ denganmu,” ujar Amy sambil mengenakan lagi topinya. Kali ini ia gelung rambutnya ke dalam menyisakan beberapa helai tertinggal diluar.

“Lupakan apapun yang kau lihat. Sekarang, ada apa kau kemari? Aku menghubungimu sepanjang hari ini.”

“Aku sangat sibuk. Dan sekarang aku ingin mengajakmu ke Gongju.”

“Apa?”

Amy mengangguk sekenanya. Ia raih tasnya, handphone Kyuhyun, masker, lalu jaket dari dalam lemari. Ia lempar semua itu pada Kyuhyun. “Cepat pakai! Aku tidak mau wajahku masuk berita besok pagi.”

Tanpa penjelasan, Amy langsung menarik tangan Kyuhyun. Diseretnya pria itu keluar dan tak menjawab apapun pertanyaannya.

“Amy, sebenarnya untuk apa kita kesana? Hey, jangan menyeretku! Aku belum memakai maskerku.”

Seruan Kyuhyun hanya membuat telinga Amy gatal. Ia terus menariknya, lalu memaksanya masuk ke dalam mobil.

“Eh? Kau membawa mobil sendiri?”

“Berhentilah bertanya. Yang jelas malam ini aku ingin pamer sesuatu padamu.”

Mobil yang dikemudikan Amy melaju kencang. Sadar Amy takkan mengatakan apapun yang berkaitan dengan pertanyaan dalam kepalanya, Kyuhyun memilih diam dan menyalakan radio. Ia mencari-cari siaran yang bagus dan baru berhenti ketika mendengar lagunya diputar.

“Wah! Kau dengar? Itu laguku! Ini sudah berlalu hampir setahun dan laguku masih sering diputar diradio!” seru Kyuhyun bangga. Ia ikut bernyanyi mengikuti lagunya sendiri. Tak dihiraukannya Amy yang sebenarnya ingin sekali mengganti siaran radio tersebut.

“Ah, suaraku. Aku tahu suaraku memang seperti suara malaikat.”

“Apa kau sudah pernah bertemu dengan malaikat?”

Kyuhyun cemberut. Sulit sekali bagi Amy untuk menerima kehebatan serta ketenarannya. Musim gugur lalu saat lagunya memuncaki semua chart musik, Amy berpendapat bahwa fansnya lah yang kurang kerjaan sehingga terus mendownload dan mendengarkan lagunya. Amy bilang lagunya membosankan, membuatnya mengantuk dan ingin segera menghentikannya.

Tak ingin berdebat, Kyuhyun mengalihkan topik pembicaraan lalu mengganti siaran radio. Ia lirik diam-diam wajah Amy yang masih fokus menyetir. Ia bisa membaca ekspresi gadis itu, maka ketika ia menemukan sedikit senyum tertahan darinya, ia memilih siaran radio tersebut. Dan seperti tebakannya, Amy suka sekali mendengar lagu-lagu Jepang dari L’Arc En ciel.

“Hm, Amy, bisa kau jelaskan apa yang akan kita lakukan di Gongju? Aku punya jadwal yang sangat padat besok. Jika kau mengajakku bermain-main, aku rasa aku tidak bisa.”

“Aku hanya menyuruhmu duduk, diam dan dengarkan.”

Sekali lagi Kyuhyun menghela nafasnya. Ia pun menjahit mulutnya sepanjang perjalanan dan tersenyum diam-diam. Ia sudah berbohong. Tentu saja ia senang bisa bersama Amy. Ia bahkan tak peduli apa yang hendak ditunjukkan Amy padanya.

Beberapa menit kemudian ketika mobilnya berhenti, ia baru bersuara, “Tempat apa ini? Jauh-jauh ke Gongju hanya untuk mentraktirku minum kopi?”

Amy menggeleng. Ia turun, lalu membukakan Kyuhyun pintu.

“Ayo turun! Aku sudah terlambat.”

Sebelum Kyuhyun sempat bertanya, tangannya sudah ditarik paksa. Kyuhyun bisa melihat ada sebuah café di depannya. Dan kalau tidak salah, ia pernah satu kali kemari dengan managernya ketika istirahat syuting sebuah program variety show di sekitar sini.

Lekas-lekas Kyuhyun merapatkan jaket serta maskernya. Begitu masuk, ia mulai merasa bodoh karena ia baru sadar hanya mengenakan piyama. Meski jaketnya cukup menutupi tubuh atasnya. Tidak dengan kakinya. Dan yang lebih konyol lagi, ia pun hanya mengenakan sandal tidur berbulu. Jika disini ada yang menyadari kehadirannya lalu memotretnya, habislah riwayatnya. Besok, ia akan menemukan headline berita online yang memuat wajahnya.

“Duduklah dengan baik disini.”

“Hey, hey! Kau mau kemana?”

Kyuhyun berusaha mengendalikan suaranya lalu memperbaiki duduknya. Ia naikkan hodie jaketnya supaya wajahnya aman dari jepretan kamera. Tidak ada yang bisa ia percayai disini. Bahkan pada seorang pelayan bertubuh ceking disudut kiri sana yang terus menatapnya.

Ia pun masih kebingungan memikirkan semuanya ketika suara debukan drum terdengar. Matanya ke depan, dan ia terkejut menemukan Amy sedang duduk di sana, bersama empat orang pria lengkap dengan alat musik lainnya. Pada sepuluh detik pertama, Kyuhyun masih mengumpulkan kesadarannya dan belum memahami maksud semua ini. Hingga semua alat musik dimainkan dan sang vokalisnya bernyanyi, Kyuhyun tahu apa yang ingin ditunjukkan oleh Amy.

Kyuhyun mulai menikmatinya. Ia mulai nyaman dengan posisinya yang tepat berada di depan dan bisa dengan jelas menatap Amy. Amy menggebuk drum dengan bersemangat. Kepalanya terus bergoyang membuat topinya terjatuh hingga rambutnya yang panjang kecoklatan tergerai. Kyuhyun bisa mendengar suara beberapa pengunjung yang nampak terkejut. Mungkin tadinya mereka tidak berpikir bahwa pemain drum itu adalah seorang gadis cantik.

Lama kelamaan Kyuhyun tak mendengarkan lagunya. Ia hanya memperhatikan Amy yang nampak sangat menikmati permainannya. Sebelumnya ia sudah sering melihat Amy bermain drum. Namun, saat itu ia tak merasakan ada sesuatu yang istimewa. Amy hanya pandai memukulkan stick pada benda bulat yang bisa berbunyi itu. Hanya itu. Tapi sekarang…ia merasa begitu bodoh karena terlambat menyadarinya.

Dimatanya, Amy jauh lebih cantik saat sedang bermain seperti ini. Matanya sesekali terpejam, rambutnya yang panjang bergerak-gerak tidak karuan. Semua diperhatikannya sampai ia yakin bisa melihat ada setetes keringat mengalir disela-sela rambut itu. Begitu lagu selesai dan Amy berdiri sambil mengangkat sticknya, tak sadar Kyuhyun ikut berdiri lantas bersiul. Jika tidak terhalang masker, ia pasti akan berteriak dan mengatakan pada semua orang bahwa si pemain drum cantik itu adalah sahabatnya.

“Wow!! Jadi ini yang ingin kau tunjukkan padaku?” Kyuhyun bertanya setelah Amy mendekati kursinya.

“Dan kau baru saja berdiri untukku. Bisa kuartikan kau tidak meragukan kemampuanku lagi?”

Sambil mengelap keringatnya dengan tissue, Amy meraih lagi topinya, kemudian menggulung rambutnya. Tapi Kyuhyun lekas menahan tangannya. Ia menggeleng pelan.

“Biarkan saja seperti ini. Kau…nampak lebih cantik.”

Untuk sekejab suasana berubah kaku. Kyuhyun tak menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia bertopang dagu, menatap Amy dengan senyum lucu seperti bocah lima tahun yang sedang melihat mainan baru. Namun, Amy tak mau menanggapinya dan tetap menggulung rambutnya ke dalam topi.

“Baiklah, jika kau tidak keberatan, kau tetap disini karena aku masih akan memainkan beberapa lagu. Mungkin ini akan sampai larut malam.”

“Tak masalah. Aku akan disini sampai pagi. Aku rasa jadwal masih bisa menungguku besok.”

Amy tersenyum kemudian kembali naik ke podium. Dan beberapa menit kemudian, ia kembali membuat Kyuhyun terpesona.

***

Donghae menggigil. Sejak kemarin ia sudah merasa tak nyaman dengan tubuhnya. Kepalanya pusing, perutnya mual dan baru saja ia memuntahkan apapun yang seharian ini masuk ke dalam perutnya. Kepalanya sudah ia hantupkan ke dinding berkali-kali. Sayangnya, rasa sakit itu belum hilang.

Tak ada siapapun disini. Tak ada benda apapun disini yang bisa ia gunakan untuk menghentikan semua ini. Pisau buah yang biasanya ada di atas meja sudah diangkat. Silet yang ia sembunyikan di bawah bantal juga lenyap entah kemana. Yang lebih mengerikan adalah fakta bahwa barang yang paling ia inginkan tak bisa ia dapatkan lagi. Sudah berhari-hari ia menahannya. Ia mulai tak tahan.

Apa yang bisa ia lakukan? Dua kali percobaan kaburnya selalu berujung kekacauan dan luka baru dibagian tubuhnya. Dulu bahunya yang terluka, sekarang kakinya. Jika ia mencoba sekali lagi, mungkin lehernya yang akan jadi korban. Dan ia belum mau mati.

Berada disini sama sekali tak membuatnya merasa lebih baik. Menjalani banyak terapi dan hal-hal konyol lainnya termasuk dengan ikut bersama pasien sejenis lain untuk bertemu seorang pastor.

Pria bertubuh agak gempal dan berkacamata itu terus membahas soal meruginya bagi mereka yang ketergantungan dengan barang itu dan betapa beruntungnya bagi mereka yang masih diberi nafas untuk terus memperbaiki diri. Ia dan yang lain akan dibacakan ayat-ayat dari Injil yang sebenarnya sama sekali tak membuatnya tertarik, bahkan tak ada satu katapun yang ia ingat. Satu-satunya yang tersisa setelah pastor itu pergi adalah ekspresi wajahnya yang lugu.

Pria itu terus tersenyum sepanjang khotbahnya dan bagi Donghae itu sangat lucu. Apakah pria itu tidak tahu cara mengubah ekspresi?

Orang-orang yang ada disekitarnya juga semakin membuatnya muak. Para dokter, perawat, penjaga bertubuh besar yang selalu menangkap basahnya saat akan kabur, dan pasien-pasien lain yang mengalami hal serupa dengannya. Tak ada satu orangpun yang bisa ia andalkan disini, bahkan ibunya sekalipun.

Ia tak yakin sanggup berada lebih lama lagi disini. Andai saat itu tidak ada penjaga rumah sakit yang memergokinya. Andai saat itu tidak ada yang menyadarinya. Dan andai saat itu tidak ada wanita sok jagoan yang menahannya. Ia pasti sudah bebas sekarang dan berpesta dengan Max. Max pasti senang melihatnya kembali.

“Dengar! Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi sepertinya aku punya alasan kuat untuk tidak memberikan taksi ini padamu!”

Wanita itu….

Entah kenapa ia masih mengingat wajahnya hingga saat ini. Ia ingat mata coklatnya yang saat itu berani menatapnya dengan menantang. Ia ingat nada bicaranya yang nyaring dan tegas. Dan ia masih ingat rasa nyerinya ketika lengannya diputar ke belakang. Sepertinya akan mudah baginya nanti untuk memberinya pelajaran. Sekali mereka bertemu, ia pasti tidak akan membiarkannya lolos lagi.

“Apakah rasanya begitu sakit?”

Donghae mendongak ke atas dan menemukan Max berdiri di samping ranjangnya. Pria itu melepas kacamatanya, memperlihatkan kunci ruangan itu ditangannya.

“Max….”

Donghae berusaha bangkit. Ia tersenyum dan berusaha menggapai pria itu. Ia ingin menarik jasnya, membuka seluruh kantung jas serta celananya untuk menemukan barang yang ia butuhkan.

“Kau membawanya? Kau pasti membawanya untukku, kan?”

Max tersenyum. Ia duduk di ujung tempat tidur lalu menahan gerakan tangan Donghae.

“Maaf, kawan, tapi kupikir kau memang harus menahannya.”

“Apa? Max, kau tahu aku disini karena barang yang kau titipkan itu ditemukan oleh ibuku dan aku sama sekali tak pernah buka mulut. Aku tak pernah menyebut namamu.”

“Aku tahu. Aku tahu semuanya. Itulah kenapa aku kemari untuk berterima kasih padamu.”

“Max, kumohon, kau harus membawaku pergi dari sini,” pinta Donghae sambil menarik jas pria itu dengan keras. “Aku benar-benar ingin pergi!”

Namun, perlahan-lahan Max justru menggelengkan kepalanya lantas melepaskan cengkraman Donghae di kerah jasnya. Ia pakai lagi kacamatanya lalu mengelap keringat yang mengucur di wajah Donghae.

“Jika aku membawamu sekarang, ibu dan saudaramu itu pasti akan melakukan apapun untuk membawamu kembali. Jadi, kupikir kau harus tetap disini. Bersikap baik dan bersabar sebentar lagi. Begitu kau dinyatakan sembuh dan bisa keluar, aku pasti akan membawamu pergi.”

“Max, kenapa aku harus menunggu? Sekarang ataupun nanti tidak ada bedanya. Mereka akan tetap mencariku dan kau bisa membawaku kemanapun. Aku akan melakukan apapun untukmu.”

Gerakan tangan Max yang hendak merapikan jasnya terhenti. Ia mendekat pada Donghae lalu mengelus kepalanya dengan lembut.

“Kau yakin akan melakukan apapun?”

Donghae mengangguk dengan cepat. “Apapun, apapun itu asal kau membawaku pergi dari sini.”

Max menyeringai menang. Ia memandang Donghae dengan iba lantas diam-diam menyerahkan sebuah ponsel padanya.

“Sembunyikan dibawah tempat tidurmu. Jika waktunya tiba, aku akan menghubungimu dan kau harus menuruti semua perintahku.”

“Maksudmu kau tidak bisa membawaku sekarang?” tanya Donghae kecewa.

Max menggeleng dengan sangat menyesal. “Situasinya tidak aman. Kau harus bersabar dan bersikaplah baik pada semua orang agar mereka yakin untuk meninggalkanmu sendirian.”

“Tapi aku…” Perkataan Donghae tak bisa ia lanjutkan begitu Max keluar dari ruang rawatnya. Pria itu melambai dengan bahagia seakan hanya sedang meninggalkan kawannya yang ingin berlibur.

Donghae meremas sprainya dengan kasar. Ia lembar bantal dan nyaris berteriak kalau saja tak mengingat janji pria itu. Ditengah perasaan gelisah itu, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melalui ini. Ia percaya pada Max. Max pasti akan kembali dan membawanya pergi. Dan pada akhirnya, ia hanya bisa menekan semua rasa sakit itu seorang diri.

***

“Menurutmu aku harus memberikannya bunga?”

Amy mengangguk mendengar jawaban Eun Ji melalui telepon meski tadinya ia masih ragu. Ia tahu ibunya sangat menyukai bunga Lili, tapi menurutnya itu terlalu biasa sebagai sebuah hadiah ulang tahun. Ia sudah akan mengajak Eun Ji ke Myeongdong untuk mencari hadiah saat ia baru sadar bahwa ibunya tak suka diberi hadiah berupa barang apapun. Sejak dulu, ibunya tak pernah mau ulang tahunnya dirayakan, bahkan dengan sebuah kue sekalipun. Maka tahun-tahun sebelumnya, Amy hanya mengucapkan selamat sambil mendoakan yang terbaik untuk ibunya. Namun, kali ini ia ingin sekali memberikan sesuatu karena ibunya kini berusia setengah abad. Apa kiranya yang bisa ia berikan? Setelah bicara panjang lebar, akhirnya Eun Ji memberinya pilihan satu-satunya yang paling masuk akal dan sederhana. Yaitu sebuah bunga.

“Baiklah, aku akan membelinya. Tapi kau ada dimana sekarang? Suaranya berisik sekali.”

Amy mengendarai mobilnya. Matanya menelusuri pinggir jalan mencari toko bunga.

“Di perpustakaan? Baiklah, aku tidak ingin membuatmu ditegur nyonya Han lagi.”

Amy menghentikan mobilnya ketika ia menemukan sebuah toko bunga. Kebetulan sekali bunga yang ia cari dipajang paling depan. Tanpa peduli dengan Eun Ji disana, ia matikan sambungan telepon lalu turun.

“Selamat sore, nona, apa kau ingin membeli bunga?”

Amy tersenyum pada seorang wanita tua yang menyapanya. Ia pun mengambil bunga lili yang membuatnya tertarik sejak tadi. Ia cium baunya dan ia yakin ibunya pasti akan suka.

“Aku ingin memberikan ibuku bunga ini sebagai hadiah ulang tahunnya. Bagaimana menurutmu?” tanya Amy.

Wanita itu tersenyum lebar mendengar pertanyaan Amy. “Kurasa ibumu pasti akan sangat menyukainya.”

“Kalau begitu tolong hias bunga ini dengan baik lalu kirimkan ke alamat ini. Ah, selipkan juga kartu ini.” Amy menyodorkan sebuah kartu kecil yang sudah ia tuliskan ucapan dan harapannya untuk sang ibu.

“Ibumu adalah orang yang sangat beruntung,” ujar wanita itu.

Amy tak begitu menanggapinya karena handphonenya berbunyi. Dari nadanya yang berbeda, ia tahu Kyuhyunlah yang menghubunginya.

“Ada apa kau menelponku?”

“Kau dimana?”

“Aku ditoko bunga.”

“Apa kau sedang tidak sibuk?”

“Sejak kapan kau bertanya? Biasanya kau langsung memerintahku.”

Melihat wanita itu tersenyum mendengar ucapannya, Amy menjauh sedikit. “Apa yang kau inginkan kali ini?”

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat dan aku harap kau bersedia.”

Amy tidak menyahut. Ia merasa sedikit janggal dengan nada bicara Kyuhyun yang terkesan hati-hati dan penuh dengan harapan.

“Bisa kau sebutkan tempat macam apa itu?”

“Rumah Sakit Nasional Seoul.”

“Apa? Kau sakit? Atau paman yang jatuh sakit?”

“Bukan! Bukan aku atau ayahku. Kau jangan khawatir. Yang jelas sekarang kau harus ke sana dan kita akan bertemu.”

“Tapi-“

Sambungan dimatikan secara sepihak dan Amy penasaran apa yang hendak ditunjukan oleh Kyuhyun di tempat itu. Jika bukan karena anggota keluarga yang sakit, lantas untuk apa?

“Nona, apa kau jadi membelinya?”

Amy kembali ke meja kasir dan melakukan pembayaran. Begitu selesai, ia membungkukkan badannya lantas pergi menuju rumah sakit yang dimaksud.

Tak lama setelahnya, wanita penjual bunga itu mendapatkan pesan singkat dihandphonenya. Air mukanya seketika menjadi lebih ceria dan lekas-lekas ia mengambil sweaternya dari atas kursi.

“Sa Eun, aku harus menjenguk anakku. Tolong gantikan tugasku sebentar!”

***

Amy hanya berdiri di depan pintu dengan bingung. Kyuhyun belum muncul sementara ia sibuk menebak-nebak apa kiranya yang akan mereka lakukan disini. Dari nada bicaranya, ia rasa ini akan sedikit lebih serius. Sebelumnya Kyuhyun tak pernah meminta seperti tadi. Sama sepertinya, Kyuhyun akan menarik tangannya dan memaksa tanpa menerima penolakan.

“Amy!!”

Suara Kyuhyun terdengar di belakangnya. Ia berbalik dan menemukan Kyuhyun berjalan bergandengan dengan seorang wanita tua. Awalnya Amy tak yakin dengan penglihatannya. Namun, begitu posisi mereka semakin dekat, ia terkejut.

“Kau?”

Amy dan wanita itu saling menunjuk. Kyuhyun tersenyum melihat keduanya.

“Bisa ku artikan kalian sudah saling mengenal?”

Amy menurunkan tangannya yang dirasa kurang sopan. Ia lalu menunduk pelan-pelan.

“Kyuhyun, dia adalah gadis yang tadi membeli bunga pada ibu. Apa dia adalah Amy yang sering kau ceritakan?”

Yang sering kau ceritakan? Amy menggeleng. Bukan bagian itu yang mengganggunya. Ia lebih terkejut karena ia tak menyangka bisa bertemu dengan ibu dari Kyuhyun. Sejak mereka saling mengenal, Kyuhyun hanya mengatakan bahwa orang tuanya sudah bercerai dan ibunya tinggal di luar negeri. Dan ibu Kyuhyun adalah penjual bunga? Tidak salah?

“Ibu benar. Dia adalah gadis menyebalkan yang sering kuceritakan itu. Amy, cepat beri salam pada ibuku!”

Amy menjulurkan lidahnya pada Kyuhyun sebelum akhirnya membungkuk hormat pada wanita itu.

“Selamat sore, Bibi.”

“Ah, sejak melihatmu tadi, aku memang merasa bahwa aku pernah melihatmu. Rupanya kau adalah gadis itu.”

Entah kenapa, Amy sedikit kurang nyaman dengan ungkapan ‘gadis itu’. Memangnya apa yang sudah Kyuhyun ceritakan pada ibunya?

Tak ingin berpikir macam-macam, Amy akhirnya bertanya pada Kyuhyun. “Jadi, siapa yang akan kita jenguk?”

Kyuhyun tersenyum simpul. Ia tatap mata Amy dengan lembut. “Sebelumnya aku ingin minta maaf karena tak pernah menceritakan soal ini padamu. Kau mungkin terkejut menemukan ibuku ada disini. Aku akan jelaskan semuanya nanti dan sekarang aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang, ah, bukan! Tapi dua orang. Yang pertama adalah wanita paling cantik didunia yang sedang berdiri dihadapanmu, yang kedua adalah seseorang yang ada di dalam. Mereka adalah orang-orang yang paling berharga dalam hidupku dan kaulah orang pertama yang kubawa kemari.”

Amy membisu. Ia semakin kehilangan kata-kata. Ada banyak pertanyaan yang menggeliat dikepalanya. Siapa yang akan mereka temui di tempat semacam ini? Ia adalah orang pertama? Siapapun yang ada di dalam sana, Amy merasa tak pantas. Kyuhyun terlalu menyanjungnya. Namun, sebelum ia sempat menolak, Kyuhyun sudah menarik tangannya lantas berjalan bersama. Kyuhyun membawanya ke dalam, melewati meja resepsionis, masuk ke dalam lift, keluar lalu berjalan lagi menuju sebuah pintu diujung lorong. Sesekali Amy harus tersenyum malu pada ibu Kyuhyun yang memperhatikan tangan mereka. Namun, ia juga merasa cemas karena merasa bahwa wanita itu sedikit kurang sehat.

“Ibu sakit?” sambar Kyuhyun yang rupanya juga melihat hal itu sebelum mereka tiba. Ibunya tersenyum lalu mengelus bahu Kyuhyun.

“Bukan masalah. Ibu hanya merasa agak pusing.”

“Kalau begitu sekarang kita cari dokter.”

Kyuhyun sudah akan menarik tangan ibunya saat suara ribut terdengar diujung sana. Kontan mereka menoleh kesana, melihat beberapa orang berlari dengan panik.

Amy sendiri tak mengerti apa yang terjadi. Dalam hitungan detik Kyuhyun dan ibunya sudah berlari kesana dan dengan cepat juga kembali keluar. Ia pun berlari mendekati mereka. Bisa dilihatnya ada seseorang yang sedang meronta di atas pembaringannya. Lengannya berdarah. Amy juga melihat ada sebuah silet jatuh dilantai.

Ia baru akan bertanya pada Kyuhyun. Tapi sekali lagi ia dibuat terkejut dalam beberapa menit ini. Ketika pria itu berteriak kencang, kepalanya melesak ke bantal lantas mendudukkan dirinya. Saat itulah Amy dapat melihat wajahnya. Ia melihat dengan jelas siapa pria itu. Dan detik berikutnya, ia dan pria itu bertemu pandang.

Ya Tuhan…bukankah dia…..

“Sssstt…ibu tenanglah dulu.”

Amy menoleh lagi ke arah Kyuhyun dan ia semakin dibuat kebingungan dengan semua ini.

“Donghae hyung baik-baik saja. Ibu jangan khawatir.”

Kepalanya kembali berpaling ke arah pria itu. Jika tebakannya benar, maka pria itu adalah….

“Amy, dia adalah hyungku, Donghae.”

****

“Ayah dan ibuku sudah berkencan sejak mereka sekolah. Setelah lulus, mereka sempat berpisah dan tak bertemu selama beberapa tahun. Ketika ayah sudah menjadi seorang pemimpin perusahaan, mereka kembali bertemu dan sesuatu terjadi antara mereka.

“Ibuku hamil. Ibuku menuntut tanggung jawab ayahku namun saat itu karir ayahku sedang naik dan kakekku sudah menjodohkan ayahku dengan pilihannya. Tapi ibuku memaksa. Jika ayah tidak bertanggung jawab, maka ibu akan membocorkan masalah itu ke media. Maka untuk menghindarinya, ayah menikahi ibu.”

Amy duduk di kursinya dengan tenang. Telinganya fokus pada apa yang keluar dari mulut Kyuhyun, sedang matanya terpusat pada pemandangan indah di depannya.

Seorang ibu sedang mengelus kepala anaknya.

“Sejak saat itu, sikap ayah berubah pada ibu. Ayah membenci ibu karena ia harus menghadapi pertanyaan media seputar pernikahannya yang mendadak dengan orang sederhana dan juga karena ia harus memutuskan hubungannya dengan gadis yang sudah dijodohkan untuknya. Ayah menyesal karena bertemu ibu lagi dan ayah sangat membenci anak yang sedang dikandung oleh ibu. Ia merasa ini semua diakibatkan oleh anak itu.

“Beberapa bulan kemudian ketika perut ibu semakin membesar, Ayah menyembunyikan ibu. Ketika orang bertanya, ayah akan menjawab bahwa istrinya sedang pergi ke luar negeri. Saat itulah ibu menyesal sudah memaksa ayah untuk bertanggung jawab. Ia hanya ingin anaknya tidak terlantar. Namun, setelah anak itu lahir, semuanya justru semakin memburuk. Ayah tak mendampingi ibu saat melahirkan. Ayah hanya melihat sekilas wajah bayi itu dan itu membuat ibu berpikir untuk bercerai. Sayangnya, saat itu posisi perusahaan ayah sedang genting dan ayah tak mau media semakin menjadi-jadi jika tahu ia akan bercerai. Maka ayah membawa ibu kembali ke rumah, sedang bayi itu tak boleh keluar rumah. Tak ada satu orang luar pun yang tahu bahwa seorang Lee Min Sook sudah memiliki seorang anak laki-laki yang tampan. Dan anak itu adalah orang yang sedang kau lihat. Dia adalah Donghae hyung.”

Amy menunduk sejenak sambil berusaha meredakan keterkejutannya. Sekarang ia mengerti kenapa ia merasa tak asing saat melihat pria itu. Matanya, wajahnya, semua yang ada pada diri pria itu jelas mengingatkannya pada pria yang sedang duduk di sebelahnya ini.

“Donghae hyung tak pernah mendapatkan kasih sayang dan perlakuan ayah pada umumnya. Jika Donghae hyung berani memanggil ayah saat ada orang lain di rumah, maka sepulang orang-orang itu ayah akan menghukum Donghae hyung di dalam kamar mandi seteleh sebelumnya menamparnya dengan keras. Kalau ada yang tak sengaja melihatnya dan bertanya, siapa anak itu? Maka ayah akan menjawab bahwa anak itu adalah anak pelayannya yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Perlakuan buruk itu hanya sedikit melunak ketika ibu mengandung anak ke dua.”

Kyuhyun menelan ludahnya. Ia tersenyum kecut saat membayangkan saat-saat itu.

“Pada suatu malam ketika Donghae hyung sudah berusia 4 tahun, ayah pulang dalam keadaan mabuk. Ayah dan ibu bertengkar hebat hingga akhirnya ayah memaksa ibu untuk melayaninya. Dan beberapa bulan setelah itu, aku pun lahir.”

Kyuhyun kembali menghentikan sejenak ceritanya sambil menoleh pada Amy. “Sekarang kau tahu aku dan Donghae hyung hanyalah anak yang lahir dari sebuah kesalahan.”

Amy meraih tangan Kyuhyun. Digenggamnya dengan erat dan diletakkannya di atas pangkuannya.

“Kau dan dia bukanlah suatu kesalahan. Kalaupun menurutmu begitu, maka kalian adalah kesalahan terbaik yang pernah kulihat.”

Kyuhyun tersenyum pahit lalu melanjutkan ceritanya. “Setelah aku lahir, perlakuan ayah pada ibu tiba-tiba berubah. Ayah tidak pernah lagi memukuli ibu dan ayah sangat menyayangiku. Ayah mengatakan pada ibu, bahwa ia senang memiliki seorang putra yang kelak akan mewarisi semua hartanya. Saat itulah ibu sadar bahwa ayah masih tidak bisa menerima kehadiran Donghae hyung meski ayah sudah jarang memarahinya. Selebihnya, tak ada yang berubah. Donghae hyung hanya keluar rumah untuk sekolah. Setibanya di rumah, Donghae hyung hanya bermain dengan ibu dan seorang pelayan di kamarnya.

“Ditahun-tahun berikutnya, ibu terus bertahan dengan sikap ayah karena ibu berharap suatu saat ayah akan menerima Donghae hyung seperti ayah menerimaku. Sayangnya, semakin hari ayah justru semakin menjadi-jadi. Ayah tak segan-segan memukul Donghae hyung hingga terluka jika ia melakukan kesalahan. Ayah terus menyebutnya sebagai pembawa sial ketika suatu hari ayah ditipu oleh rekan kerjanya. Puncaknya, ibu sendiri yang meninggalkan ayah dan membawa Donghae hyung pergi. Ibu tidak bisa membawaku karena ayah menghalanginya.”

Remasan Amy ditangan Kyuhyun semakin menguat. Ia tak bisa bayangkan bagaimana perasaan Kyuhyun saat ini, tapi ia juga takkan berusaha menghentikannya. Mungkin dengan begini…beban Kyuhyun yang disimpannya selama ini akan berkurang.

“Saat itu usiaku masih sebelas tahun tapi aku mengingat semuanya. Aku ingat bagaimana Donghae hyung hanya ingin memperlihatkan pada ayah isi rapornya. Sayangnya ayah sama sekali tak peduli. Lalu Donghae hyung berusaha menarik perhatian ayah dengan melakukan apapun termasuk menumpahkan segelas kopi pada dokumen-dokumen ayah. Donghae hyung memang berhasil mendapatkan perhatian ayah. Tapi ayah langsung merobek rapornya lalu memukulinya. Aku sendiri berusaha menarik baju ayah agar berhenti memukuli Donghae hyung. Namun, pada akhirnya aku hanya bisa menangis dan menjadi penonton dipertunjukkan selanjutnya. Ayah dan ibu bertengkar hebat. Ayah menampar ibu hingga ibu memutuskan untuk membawa Donghae hyung pergi saat itu juga. Setelah hari itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan mereka. Baru setahun lalu setelah aku terus mencari tahu keberadaan mereka, aku bertemu dengan ibu.”

Amy menoleh sebentar ke dalam dan ia masih menemukan ibu Kyuhyun sedang menggenggam tangan anaknya. Dadanya sakit melihat pemandangan itu. Ia sungguh tak bisa bayangkan jika ia berada diposisi Kyuhyun ataupun saudaranya. Selama ini ia selalu berpikir bahwa semua orang di dunia memiliki masa kecil yang indah. Seperti dirinya yang hanya tahu bermain, yang bisa memakan apapun yang diinginkan dan hanya akan menangis jika terjatuh. Dan Kyuhyun sendiri……ia tak pernah menyangka jika ia akan mendengar cerita semacam ini dari mulut Kyuhyun. Ia juga tak menyangka jika arti tangis Kyuhyun setahun lalu adalah untuk masalah ini.

Saat itu Kyuhyun datang padanya jam dua malam sambil menangis. Kyuhyun memeluknya. Kyuhyun menangis sejadi-jadinya hingga ia tak tahu kapan harus bertanya.

“Aku baru mengetahui cerita ini setelah bertemu ibu. Aku pun mulai membantu kehidupan ibu dengan membelikannya rumah sederhana. Aku tak bisa berbuat lebih karena aku yakin ayahku pasti memantau pergerakanku. Aku juga pernah ingin tinggal bersama ibu tapi aku merasa bahwa ayah akan melakukan apapun untuk melukai ibu lagi jika itu kulakukan. Akhirnya, hanya ini yang bisa kulakukan. Diam-diam kemari atau diam-diam ke rumah ibu.”

Amy berusaha menguatkan Kyuhyun lalu kembali melihat ke dalam. Donghae masih tertidur dan Amy sungguh tak bisa menahan rasa penasarannya.

“Lalu……apa yang terjadi padanya?” tanya Amy dengan sangat hati-hati. Kyuhyun pun berdiri, menatap ibu dan saudaranya dari balik pintu.

“Menurut ibu, sikap Donghae hyung jadi berubah setelah pergi dari rumah. Donghae hyung selalu melakukan hal – hal yang tidak menyenangkan. Ia tidak mau melanjutkan sekolah, tidak juga bekerja. Dan dua tahun belakangan, sikap itu semakin buruk. Donghae hyung suka mabuk-mabukkan, mencuri uang, dan hal-hal lain yang membuat ibu dan aku harus bergantian menyelamatkannya. Bulan lalu, ibu menemukan sesuatu di kamarnya dan ibu akhirnya sadar bahwa Donghae hyung sudah terjerumus ke dalam narkoba. Dengan bantuanku, kami diam-diam membawanya kemari untuk dilepaskan dari ketergantungan.”

Amy akhirnya ikut berdiri. Matanya terpusat pada Donghae yang masih terlelap dengan nyaman dalam dekapan ibunya. Ia tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba saja ia merasa bahwa ia harus melindunginya, ia harus membantunya dan ia harus berada disisinya.

“Aku sungguh ingin membuat mereka berdua bahagia. Aku ingin Donghae hyung sadar akan kesalahannya dan membahagiakan ibu. Tapi setelah melihat semua ini…..aku justru merasa tak melakukan apa-apa. Aku merasa benar-benar jahat karena selama ini bisa hidup nyaman bersama ayah sedangkan ibu dan Donghae hyung………………….”

Amy mengelus bahu Kyuhyun pelan. Ia tak bisa menjanjikan apa-apa. Untuk saat ini, hanya ini yang bisa ia lakukan dan meyakinkan Kyuhyun bahwa ia tidak sendirian. Namun, ada sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya saat mengalihkan kembali pandangannya pada Donghae. Mata pria itu tiba-tiba terbuka dan dadanya seketika berdegub kencang.

Donghae……..sedang menatapnya.

***TBC***

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Sep 23, 2016 @ 21:36:43

    Kehidupan donghae sangat menyedihan. Kasihan

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: