What If [3/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

***

Ini bukan kali pertama bagi Kyuhyun dan ibunya melihat Donghae dalam keadaan sakau. Ibunya bahkan sudah mengalami itu berkali-kali dan hanya bisa menangis saat Donghae menghantamkan kepalanya ke dinding hingga berdarah lalu menyilet lengannya sendiri. Tak ada yang bisa menebak bagaimana perasaan ibunya saat ini. Yang jelas, sebelumnya mereka selalu berharap bahwa apa yang pernah mereka saksikan itu adalah yang terakhir kali. Tak ada lagi yang ke dua, ketiga dan seterusnya. Sayangnya, beberapa jam lalu mereka kembali mengalaminya, melihatnya, dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Ketika Donghae bangun dari tidurnya, seperti yang mereka perkirakan Donghae masih menolak kehadiran mereka. Bahkan Donghae tak mau menatap Amy sedikitpun. Dan demi kebaikan semuanya, dokter menyarankan agar mereka kembali lagi lain hari ketika suasana hatinya sudah membaik.

Kyuhyun menghela nafas berat begitu mobilnya berhenti di depan rumah ibunya. Tak ada yang bersuara selama beberapa saat sampai akhirnya ibunya sendiri yang langsung turun dari mobil. Kyuhyun pun mengikuti.

“Ibu yakin baik-baik saja?”

Ibunya tersenyum dengan lembut lalu mengusap air matanya. Kyuhyun tahu pertanyaannya terdengar bodoh dan tidak perlu, tapi ia sangat berharap ibunya mampu menenangkan dan meyakinkannya seperti hari-hari kemarin. Namun, sekarang mereka sama-sama tak bisa melakukannya, bahkan untuk meyakinkan diri mereka sendiri.

Kyuhyun lalu memeluk ibunya erat, mengusap bahunya kemudian mengecup dahinya.

“Aku sangat ingin menemani ibu malam ini, tapi-“

“Kau tidak perlu melakukannya. Sebaiknya kau pulang dan istirahat.”

Setelah menghembuskan nafasnya berkali-kali, Kyuhyun melepaskan tangan ibunya lalu melambai-lambai sebelum akhirnya ibunya masuk ke dalam rumah. Tepat sebelum ia menyalakan mobil, handphonenya berdering.

“Amy?” Ia masuk, menyalakan mobil lalu menjalankannya. “Kau sudah tiba di rumah?”

“Aku baru tiba.”

Ia memperbaiki letak handphonenya ditelinga lalu menyetir dengan sebelah tangan. Namun, setelah beberapa saat ia sadar tak mendengar suara Amy lagi.

“Amy? Kau masih disitu?”

“Ah, maaf.”

“Apa kau masih memikirkan masalah tadi?”

Sekali lagi ada jeda beberapa detik yang membuat Kyuhyun mulai khawatir. Sebelumnya Amy tak pernah bersikap seperti ini ditelepon. Biasanya Amy tak bisa berhenti bicara sampai Kyuhyun kesulitan mencari celah membalasnya.

“Aku…….aku hanya ingin meminta ijinmu.”

Kyuhyun menghentikan mobilnya. Ia semakin bingung dengan perkataan Amy. Ia pun turun, menyandarkan punggungnya pada mobil.

“Aku tidak mengerti.”

“Aku tahu kau akan sangat sibuk untuk hari-hari ke depan. Kau mungkin tidak akan punya cukup waktu untuk menjenguk Donghae dan menemani ibumu. Jadi…kupikir….”

Amy tak pernah segugup ini. Amy tak pernah menahan apapun yang ingin ia katakan. Dan Kyuhyun merasa akan mendengar sesuatu yang cukup janggal.

“Kupikir aku bisa sesekali menemani ibumu menjenguk Donghae. Dan jika kau ijinkan….aku juga ingin membantunya. Mungkin aku bisa mengajaknya bicara dan…….”

“Kau belum mengenalnya, Amy. Kau tidak tahu bagaimana sikapnya pada orang asing. Lagipula, aku hanya ingin mengenalkanmu pada ibu dan Donghae hyung, aku tidak mau melibatkanmu terlalu jauh. Aku tidak mau Donghae hyung melukaimu.”

“Aku tidak apa-apa dan aku ingin melakukannya. Kau tidak perlu khawatir. Jika ibumu ingin menemuinya dan kau sedang sibuk, aku pasti akan membantu.”

Dari nada bicaranya, Kyuhyun merasa Amy terlalu menggebu-gebu dan agak memaksa. Padahal sebelumnya Amy terdengar kebingungan menyampaikan maksudnya. Apakah ia harus mengiyakan permintaan Amy? Tapi…ia ragu. Ia tak mau terjadi sesuatu pada Amy jika Donghae menolaknya.

“Kau yakin dengan apa yang kau katakan?” tanya Kyuhyun sekali lagi dan berharap Amy menarik permintaannya. Namun, Amy justru terdengar semakin yakin dengan jawabannya. “Aku yakin. Aku hanya ingin membantu.”

Pada akhirnya Kyuhyun takkan sanggup menolak apapun permohonan gadis itu, bahkan untuk hal paling konyol sekalipun. Ia jadi teringat kejadian beberapa hari lalu saat Amy menariknya paksa dengan hanya mengenakan piyama dan sandal tidur. Jika bukan Amy, ia jelas akan menolaknya.

“Baiklah, aku harap kau cukup beruntung. Tapi segera kabari aku jika Donghae hyung menyakitimu.”

“Kurasa Donghae tidak seperti itu.”

“Kenapa kau begitu yakin?”

“Kita memang harus selalu berpikir positif padanya. Ah, aku sudah mengantuk. Kau juga sebaiknya cepat pulang, wajahmu kelihatannya jelek sekali.”

Sebelum Kyuhyun sempat bertanya, sambungan sudah terputus. Ia pun menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan Amy hingga akhirnya ia sadar sedang memarkir mobilnya dimana.

“Iss…pantas saja.”

Entah bagaimana caranya hal ini bisa terjadi. Mungkin ia memang sebenarnya masih ingin bertemu dengannya atau ini hanya kebetulan. Tapi ia senang menatap gadis itu yang nampak sangat kecil di atas sana. Amy melambai padanya dan ia membalasnya. Ia sempat memangku wajahnya di atas mobilnya sambil tersenyum sendiri. Meski mustahil, ia berusaha membayangkan wajah Amy di atas sana yang juga tersenyum untuknya.

Setelah Amy tak terlihat lagi, barulah ia masuk ke dalam mobil. Ia harus segera pulang. Besok…jadwal padat sudah menunggunya.

******

Amy mungkin sudah gila atau mungkin ia hanya sedang memuaskan hasratnya untuk mengatasi hal baru yang tak pernah ditemuinya. Tapi ia sudah memutuskan dan ia bukan orang yang suka melangkah setengah-setengah.

Ketika melihat Donghae berteriak, ia merasa ada sesuatu yang memerintahkan dirinya untuk tidak menghindar. Ketika mendengar cerita Kyuhyun, ia merasa harus melakukan sesuatu. Dan ketika Donghae menatapnya, keinginannya untuk maju semakin bulat. Melalui mata itu, ia sama sekali tak menemukan hal-hal yang disebutkan oleh Kyuhyun padanya. Justru ia merasa bahwa sebenarnya pria itu sedang kesepian. Pria itu membutuhkan seseorang disisinya.

Ia sadar diri akan posisinya. Ia hanya sahabat dari Kyuhyun. Mungkin akan terkesan lancang jika ia mendekati Donghae seakan keluarganya tak bisa berbuat sesuatu lagi. Tapi, ia sungguh hanya ingin membantu.

Ia sudah menceritakan semuanya pada Eun Ji dan gadis itu memberikan reaksi yang cukup mengerikan. Eun Ji menutup buku yang selalu ada dihadapannya dan terdiam dengan mulut menganga selama nyaris semenit. Meski begitu, ia yakin Eun Ji adalah orang yang bisa dipercaya dan takkan mengatakan apapun pada media. Eun Ji adalah orang yang paling bisa ia percaya di dunia ini selain ibunya. Eun Ji bahkan mendukung rencananya yang ingin menemui Donghae sore ini.

Ya, ia memang sudah ada di sini, di depan pintu utama rumah sakit nasional Seoul. Ia sendiri sempat merasa gemetar ketika akan masuk. Namun, setelah mulai melangkah ke dalam dan bertemu dengan semua orang, keyakinan itu perlahan-lahan tumbuh seperti tanaman rambat yang hampir mencapai puncaknya. Peregangan-perengan yang ia lakukan selama berada di dalam lift terasa sangat berguna setelah ia tiba di depan pintu ruang rawat Donghae.

Baiklah, ia sendiri tak tahu apa yang akan ia lakukan nantinya. Dan dari cerita Kyuhyun serta ibunya, mereka sudah sering terkena lemparan sendok, bantal, atau rantang jika menemuinya dalam keadaan kurang baik. Ia juga sama sekali tak punya rencana tentang kata atau kalimat apa yang akan ia ucapkan pertama kali. Ia hanya mengikuti insting. Maka setelah memejamkan mata dan menghembuskan nafas dengan kencang, ia membungkuk sedikit pada dua orang penjaga bertubuh kekar yang ada di sisi kanan dan kirinya kemudian meraih pintu lantas mendorongnya.

****

Donghae menatap handphone di tangannya dengan gelisah. Sudah berlalu tiga hari sejak Max mengunjunginya dan ia semakin ingin keluar dari sini. Ia pikir ia tak perlu menunggu lebih lama lagi. Harusnya Max sudah menghubunginya dan memberi tahunya cara kabur yang paling aman.

Seperti yang Max katakan padanya, ia berusaha bersikap baik agar tak terlalu banyak orang yang bolak balik ke kamarnya. Kecuali ketika ia sakau dua hari lalu, itu diluar kuasanya. Setelahnya, ia berusaha berdamai dengan semua perawat dan dokter yang mengurusnya. Dan hasilnya, ia hanya sendirian saat ini dan sepertinya suasana diluar tidak begitu ramai. Jika Max mau membantunya, ini adalah saat yang sangat tepat.

“Ayolah Max….cepat telepon aku!”

Bolak balik ia menatap handphone itu. Kadang membuka daftar kontaknya dan ia tak menemukan nomor siapapun di dalamnya yang bisa ia mintai tolong. Jika lewat dari hari ini, ia tak yakin bisa menahan diri lagi. Ia bisa saja kembali mengamuk atau menyerang semua orang. Tak peduli apapun yang akan terjadi, ia hanya ingin melarikan diri.

Klek

Mendengar suara pintu terbuka, lekas-lekas ia menyembunyikan handphonenya di bawah tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Ia sudah akan berpura-pura tidur kalau saja si pembuka pintu itu tak bersuara.

“Aku tahu kau tidak tidur.”

Ia menoleh ke samping dan menemukan gadis asing menyebalkan yang tempo hari menggagalkan upaya kaburnya sedang berjalan ke arahnya. Gadis itu juga terlihat bersama Kyuhyun dan ibunya dua hari lalu.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Donghae dingin.

“Well…aku juga tidak tahu. Aku kebetulan lewat dan tiba-tiba saja ingin mampir,” jawab Amy enteng.

Donghae tersenyum kecut. “Jika Kyuhyun yang menyuruhmu kemari, sebaiknya jangan dengarkan dia.”

“Kyuhyun sama sekali tidak menyuruhku. Dia bahkan melarangku untuk kemari lagi. Tapi-“

“Tapi kau kasihan padaku dan kau tidak takut padaku.”

Donghae menyibak selimutnya lalu mendudukkan dirinya di ujung tempat tidur. Ia ambil segelas air putih diatas meja lantas tanpa ragu menyiramkannya ke arah gadis itu. Namun, gadis itu berhasil menghindar kemudian tersenyum tiga jari padanya.

“Tidak kena! Siramanmu payah sekali!”

Donghae terdiam selama lima detik karena reaksi gadis itu yang sangat aneh. Bukankah harusnya gadis itu berteriak, kesal, atau marah-marah padanya kemudian pergi?

“Jika itu adalah caramu mengusir seorang tamu, maka kukatakan itu tidak akan berhasil.”

“Apapun yang sedang kau pikirkan, lupakan saja dan cepat keluar dari sini.”

“Aku tidak mau!”

“Aku mengantuk. Aku ingin tidur.”

“Tapi kau tidak terlihat mengantuk.”

“Aku bisa tidur kapan saja aku mau.“

“Menyedihkan sekali. Apa kau tidak bosan?”

“Kau-“ Donghae menahan kalimat yang akan dikeluarkannya begitu menyadari keanehan pada dirinya. Sejak kapan ia mau meladeni ucapan orang lain? Pertanyaan dokter hanya dijawabnya dengan anggukan. Pertanyaan Kyuhyun dan ibunya hanya dijawab sekedarnya bahkan ia lebih sering mengacuhkan mereka hingga mereka lelah sendiri. Lalu…kenapa ia merasa seperti ingin terus bicara dengan gadis ini?

“Aku akan tidur!” ujarnya acuh lalu merebahkan kembali tubuhnya. Ia biarkan gadis itu mengoceh sesuka hati dan ia tidak menjawabnya. Ia tahu bagaimanapun sabarnya gadis itu, akhirnya pasti akan lelah juga lalu pulang tanpa diminta.

“Ruanganmu luas juga.”

“Bagaimana rasanya tinggal disini?”

“Ah, apa kau tidak menjalani terapi? Kudengar dari Kyuhyun, hari ini harusnya kau menjalani salah satu terapi.”

“Hm…aku tahu kau tidak tidur. Sebaiknya bangun dan mengobrol lah denganku. Kau bisa bisu kalau terlalu sering diam.”

“Hey, bagaimana kalau kita keluar? Di halaman belakang udaranya sangat bagus!”

“Ah, kau menyebalkan!”

“Baiklah, sepertinya aku tidak berguna disini. Aku pulang saja!”

Donghae tersenyum dalam tidur pura-puranya. Sudah ia duga, ia hanya perlu diam dan kutu kecil itu akan lenyap dari hadapannya. Begitu terdengar derap langkah serta suara pintu tertutup, ia pun membuka mata. Dan……

“Hay….”

Donghae terlonjak dari tidurnya begitu menemukan wajah gadis itu tepat berada di depannya sambil tersenyum lebar. Sial! Ia dikerjai. Ia dipermainkan oleh kutu menyebalkan itu.

“Hahaha….kau benar-benar salah jika berpikir aku akan menyerah semudah itu.”

Gadis itu masih sibuk meredakan tawanya ketika Donghae bersungut-sungut kesal di atas pembaringannya. Ia sibak selimutnya lalu duduk kembali.

“Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan dariku. Tapi kupastikan kau tidak akan mendapatkan apapun disini.”

“Sudahlah, jangan buang tenagamu untuk mengusirku.” Gadis itu berjalan mendekatinya kemudian duduk di sebelahnya. Ia ayunkan kedua kakinya yang menggantung di bawah sementara Donghae dibuat tak paham dengan kelakuannya. Apa yang diinginkan gadis ini? Rasanya ia ingin Max segera muncul dibalik pintu lalu membawanya. Kalau tidak, ia bisa tertular gila dari gadis ini.

“Kita belum berkenalan. Namaku Amy Lee, kau bisa memanggilku Amy. Dan kau?”

Donghae menatap tangan gadis itu yang terjulur ke arahnya. Ia sama sekali tak berniat menjabatnya. Ia tak mau bersentuhan dengan gadis yang sudah membuang waktunya. Tapi gadis itu meraih tangannya lalu disatukan dengan tangannya selama dua detik.

“Aku sudah tahu namamu. Jadi, mulai sekarang kita adalah teman. Aku tidak peduli kalau kau jauh lebih tua dariku. Aku tidak akan memanggilmu oppa. Eh, tapi….kenapa tanganmu dingin sekali? Padahal cuacanya sedang panas.”

Andai ia punya kantung ajaib yang bisa mengeluarkan banyak benda, ia akan mengambil alat yang bisa menjahit mulut gadis ini lalu mengeluarkan pintu kemana saja. Ia akan langsung melemparnya ke neraka.

Ia pun melepaskan tangannya lalu diam. Percuma saja kalau ia mengusirnya. Ia hanya bisa berharap seorang perawat atau dokter masuk untuk mengecek keadaannya sehingga ia terbebas dari ocehan gadis ini.

“Kau tahu? Aku punya seorang teman sepertimu. Ah, bukan! Maksudku…aku punya teman di kampus, teman dari temanku itu punya adik yang juga seorang pecandu. Aku tak pernah bertemu dengannya. Tapi dari yang kudengar, ia sudah sembuh sekarang.”

“Lantas, apa peduliku?” tanya Donghae tanpa menatapnya.

“Ia tadinya adalah pecandu berat. Tapi berkat kemauannya untuk berubah dan juga karena dukungan keluarga, ia bisa sembuh dengan cepat. Apa kau tidak ingin sepertinya? Kau itu sangat tampan. Aku rasa kau bisa menjadi seorang aktor kalau kau sudah sembuh.”

Donghae membuang nafasnya. Lebih baik ia mati saja.

“Apa kau tidak kasihan dengan ibumu? Dia sangat menyayangimu. Dia bekerja demi menghidupimu. Apa kau tidak ingin membahagiakannya?”

“Nona Amy Lee yang terhormat, sebelum aku kehilangan kesabaran dan melakukan hal buruk, sebaiknya kau keluar!”

Amy cemberut. Ia turun dari tempat tidur lantas memandangnya dengan menantang. “Aku tidak akan pergi.”

Donghae melengos. “Kalau begitu lakukan apapun yang ingin kau lakukan disini. Aku akan istirahat.”

Kali ini Donghae tak main-main. Ia memang ingin istirahat karena kepalanya pusing terus dijejali ocehan Amy. Amy sungguh cerewet. Lebih baik ia memaksakan dirinya untuk tidur daripada mendengarnya.

“Hm, dimana toiletnya?”

“Apa kau tidak melihat pintunya?” jawab Donghae sekedarnya. Ia masih berusaha memejamkan mata saat terdengar suara pintu yang ditutup. Ia pun lekas-lekas bangun lalu memeriksa handphonenya. Dan ia hampir meloncat begitu membaca ada sebuah pesan masuk dari Max.

“Hari hampir malam. Sebentar lagi orang suruhanku akan menjemputmu dan kau hanya perlu bersikap normal. Ia akan membawamu ke atas dan helikopterku sudah menunggumu.”

Donghae tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dilihatnya sekilas diluar dimana dua penjaga itu masih ada. Apapun yang sedang direncanakan oleh Max, ia percaya Max takkan mengecewakannya.

“Airnya mati! Payah sekali!”

Lekas-lekas ia menyembunyikan lagi handphonenya begitu Amy keluar dari toilet. Selain cerewet, rupanya gadis itu juga suka muncul secara tiba-tiba. Berlama-lama dengannya, ia bisa terkena serangan jantung dan langsung mati sebelum Max menjemput.

“Apa yang kau sembunyikan?” tanya Amy curiga. Donghae berpindah duduk lalu meluruskan kakinya.

“Tidak ada.”

“Tapi aku melihatmu menyembunyikan sesuatu. Apa itu?”

“Sudah kubilang tidak ada apa-apa yang-“

Klek

Pintu terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi masuk sambil menyapa mereka. Dari pakaiannya, Amy bisa simpulkan ia adalah seorang dokter. Tapi dokter yang ini berbeda dengan dokter yang ia lihat dua hari lalu saat menangani Donghae. Perlu dicatat ia punya ingatan yang sangat kuat.

“Waktunya terapi. Silahkan ikut denganku.”

Donghae sudah turun dari tempat tidur lalu mendekati dokter tersebut. Seperti biasa jika ingin menjalani terapi, ia akan menolak dan memilih tidur. Ia pun sempat menolak ajakan tersebut dan beradu mulut dengan dokter itu. Namun, pada akhirnya ia tetap kalah dan harus mengikutinya.

“Apa aku boleh ikut? Aku penasaran!” tahan Amy sebelum dokter itu membawa Donghae. Ia sendiri sebenarnya merasa agak janggal. Meski berusaha menolak, Donghae tidak nampak kokoh dengan keinginannya dan terlalu mudah kalah. Ini juga sedikit janggal karena yang menjemputnya adalah seorang dokter, bukan perawat. Apakah memang biasanya seperti itu?

“Jika kau masih ingin mengoceh padaku, sebaiknya kau duduk saja disini!” perintah Donghae cukup tegas. Amy pun pasrah lalu mendudukkan dirinya di tempat tidur Donghae. Ia perhatikan keduanya pergi yang kemudian menghilang dibalik pintu. Tepat saat itulah ia merasa curiga dengan sepatu yang dikenakan dokter tersebut.

Otaknya berputar cepat. Ingatannya terhenti pada tingkah Donghae yang nampak menyembunyikan sesuatu saat ia keluar dari toilet. Maka ia angkat tempat tidur itu dan menemukan sebuah handphone. Dilihatnya satu pesan yang sudah dibaca dan handphone itu langsung jatuh begitu ia menyadari kebodohan apa yang sudah ia lakukan. Ia keluar, mendekati dua orang penjaga pintu yang sialnya sudah tak sadarkan diri dengan posisi duduk di kursi tunggu. Dilihatnya ke samping dimana Donghae dan dokter palsu itu memasuki sebuah lift. Ia berteriak, lantas berlari ke sana.

“Donghae!!!!!!!!!!!!!”

“Nona, ada apa?”

“Pasien bernama Lee Donghae diculik!!”

Amy tak peduli apapun yang ia katakan. Ia berlari memasuki lift di sebelahnya. Ketika ia keluar, Donghae dan pria itu sudah berjalan menuju pintu.

“Donghae!!!!!!”

Mereka menoleh bersamaan. Donghae berlari sedangkan pria yang membawanya menghadang Amy.

“Donghae! Kau harus berhenti!!”

Teriakan Amy menjadi percuma. Donghae terus berlari dan Amy bisa mendengar suara sebuah helicopter mendekat. Ia pun beradu kekuatan dengan pria di depannya sehingga ia harus mendapat luka di pipi serta hidungnya. Untungnya, beberapa orang security muncul di belakangnya dan dengan cepat meringkus pria itu. Amy pun bergegas mengejar Donghae yang sialnya sudah akan masuk ke dalam helicopter.

Tak hilang akal, ia ambil sebuah vas bunga bekas lalu dilemparkannya tepat ke kepala Donghae.

BUGGG

Tangan seseorang yang tadi sudah menggenggam tangan Donghae terlepas. Amy berlari mendekatinya dan harus menarik Donghae sekuat tenaga.

“Lepaskan aku!”

Amy tak gentar. Sekali lagi ia harus terlibat perkelahian dengan Donghae. Ia sadar kemampuannya tidak istimewa. Donghae akan mengalahkannya sebentar lagi. Namun, ia terus melawan dan mengulur waktu supaya orang-orang di belakangnya segera datang. Dan ketika Donghae memukul bahunya hingga ia tersungkur, beberapa orang datang tepat waktu dan mengamankan Donghae. Sementara helikopter yang tadi menunggunya sudah terbang menjauh.

“Lepaskan aku! Lepaskan!”

Dua orang security sudah menahan tangan Donghae dan mengabaikan permintaannya. Ia digiring kembali ke kamarnya. Mungkin setelah ini ia akan mendapatkan penjagaan ekstra ketat.

Sedang Amy masih terduduk dilantai dengan nafas memburu. Diperhatikannya wajah Donghae. Dan ketika Donghae menatapnya, ia merasa seperti kembali pada pertemuan pertama mereka beberapa hari lalu. Untuk alasan yang belum ia ketahui, ia merasa kecewa jika Donghae menatapnya seperti itu.

***

Kyuhyun berlari disepanjang lorong setelah keluar dari lift. Begitu mendapat kabar dari orang suruhannya yang berjaga di rumah sakit, ia langsung meninggalkan ruang latihan di kantor manajemennya dan meluncur kemari, ke apartemen Amy.

“Amy!!!”

Ia masuk begitu saja lalu mencari keberadaan Amy. Dilihatnya Amy sedang duduk di meja makan.

“Kyuhyun?”

Kyuhyun memelankan langkahnya. Nafasnya tersengal-sengal dan ia perlu menenangkan dirinya sebelum akhirnya memeluk Amy erat. Selama perjalanan, ia tak bisa membohongi dirinya bahwa ia tak mau sesuatu terjadi pada gadis ini. Ia benar-benar khawatir dan takut.

“Kyu? Apa yang….”

“Aku mencemaskanmu. Aku benar-benar takut.”

Amy tersenyum lantas melepaskan pelukan Kyuhyun. “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, hanya luka kecil disini dan disini,” ujarnya sambil menunjuk pipi serta hidungnya yang memerah. Ada bekas noda darah di dekat hidungnya dan Kyuhyun justru semakin merasa bersalah.

“Duduklah, biar ku obati. Aku tahu kau tidak bisa mengobatinya sendiri dan kudengar kau menolak ditangani oleh dokter.”

Kyuhyun kembali mendudukkan Amy lantas mengambil kotak obat yang sudah ia hapal letaknya. Ia tarik kursi terdekat lalu mulai mengompres lebam dipipi Amy.

“Ssstt…aw..”

Sesekali Kyuhyun harus menghentikan gerakannya karena tak tega mendengar rintihan Amy. Begitu Amy agak tenang, ia pun melanjutkannya. Ia mengobatinya dengan hati-hati agar Amy tak merasakan sakit sedikitpun. Ia tahu Amy bukan orang yang suka mengeluh, maka kalau Amy merintih sedikit saja, ia akan langsung berhenti.

“Apakah begitu sakit?” tanya Kyuhyun pelan. Amy menggelengkan kepalanya. “Ini hanya luka kecil. Aku rasa kau yang perlu diobati.”

Kyuhyun tak menanggapi. Ia sedang dalam mood yang tidak begitu bagus untuk membalas candaan Amy yang kebetulan tidak lucu.

“Kau berlebihan. Aku baik-baik saja,” kata Amy dengan malas.

“Jangan banyak bicara! Ini semua salahku, jadi aku harus bertanggung jawab,” tegas Kyuhyun.

“Apa yang sudah kau lakukan? Kau bahkan tidak ada disana saat dia…” Amy menghentikan ucapannya begitu mengingat kejadian macam apa yang baru ia alami. Ia sudah sering memberi pelajaran pada lelaki nakal dipinggir jalan yang pernah mengganggu Eun Ji tengah malam. Tapi kali ini…..semuanya berbeda.

“Kalau saja aku menemanimu, atau harusnya aku memang tidak membiarkanmu menemuinya sendirian, ini pasti tidak akan terjadi. Aku benar-benar merasa bersalah.”

“Kyuhyun, demi Tuhan aku baik-baik saja. Aku masih bisa memarahimu, aku masih bisa melompat dan aku sedang duduk di depanmu sekarang. Berhenti mengkhawatirkanku.”

“Tapi kau terluka dan itu karena aku membiarkanmu menemuinya sendirian.”

Amy menghembuskan nafasnya. “Inilah yang membuatnya sulit untuk berubah.”

Kyuhyun menurunkan tangannya.”Maksudmu?”

“Kalian selalu menganggapnya berbahaya. Kalian bersikap seakan-akan ia adalah pemangsa daging manusia. Itu sama saja kalian memuaskannya.”

“Amy, tapi dia…”

“Aku rasa sebenarnya dia sangat kesepian.”

Kyuhyun berhenti mengobati Amy setelah menempelkan plester kesil di hidungnya. Dipandangnya Amy yang mendadak berubah serius.

“Mungkin sangat aneh jika aku mengatakannya sedangkan kami baru bertemu tiga kali. Tapi….aku rasa kalian sudah salah menyikapinya selama ini. Jangan puaskan dia. Jangan buat dia meyakini dirinya sendiri bahwa dia cukup berbahaya untuk orang lain.”

“Amy, aku tidak mengerti.”

Amy tersenyum, ia meraih tangan Kyuhyun di atas meja. “Aku tahu kau sangat sibuk. Tapi jika kau punya waktu, kau harus menghabiskan satu hari dengannya dan jangan cepat menyerah.”

“Aku pasti akan melakukannya. Tapi kau harus berjanji untuk tidak menemuinya sendirian lagi.”

Amy melepaskan tangan Kyuhyun dengan kesal. “Sudah kubilang berhenti bersikap seperti itu. Aku tidak akan menjanjikan apapun dan aku akan tetap sering menjenguknya karena aku……..” Amy terdiam beberapa saat. Ia kebingungan untuk menemukan kalimat yang tepat.

“Karena?” Kyuhyun mencoba bertanya. Ia pandang Amy yang sibuk membuang muka ke arah manapun seperti sedang menghindari pertanyaannya. Hingga akhirnya Amy mengambil sebuah cermin kecil di dekatnya lalu memandang wajahnya dengan sebal.

“Wajahku jadi jelek,” celetuknya. Kyuhyun tertawa. Ia elus puncak kepala Amy dan tanpa sadar mengecupnya.

“Kau masih cantik,” ujarnya yang masih tanpa ia sadari. Ia pun mengembalikan kotak obat ke tempat semula lalu membuatkan dua gelas teh untuknya dan Amy.

“Kau terlalu sering menyepelekan sesuatu. Bagaimana jika besok dosen dan teman-temanmu bertanya soal wajahmu?”

Amy yang sempat terdiam selama beberapa detik berusaha bersikap normal. “Gampang. Aku tinggal bilang ada laki-laki nakal yang menggangguku, jadi aku berkelahi dengannya.”

“Ya, ya, dan pada akhirnya kau akan terdengar cukup hebat.”

Kyuhyun sudah mengenal tabiat Amy. Amy pasti senang karena menemukan bahan baru yang bisa membuatnya memuji diri sendiri di depan orang.

“Kenyataannya aku memang hebat. Kau harus melihat bagaimana aku melumpuhkan pria yang sempat membawa Donghae pergi itu.”

“Tapi dari yang kudengar kau hampir kalah kalau saja security tidak datang,” sambar Kyuhyun yang seketika membuat Amy kalah telak. Kyuhyun tertawa puas melihatnya.

“Intinya, aku sudah menggagalkan rencana Donghae. Kau harus berterima kasih padaku.”

“Ya, untuk itu aku memang harus berterima kasih padamu. Terima kasih banyak nona Amy Lee yang pemberani.”

Amy berusaha tersenyum. Tapi ada sesuatu yang mengganjalnya sejak tadi dan Kyuhyun bisa membaca itu.

“Apalagi yang mengganggumu?”

Amy menggeleng. “Aku hanya…”

“Hanya?”

“Apa kau sudah mencari tahu tentang orang-orang itu? Maksudku, jelas Donghae tidak sendirian. Ada banyak orang yang membuatnya terjerumus ke dalam narkoba dan mereka berusaha membawa Donghae kabur. Jika kau bisa menemukan mereka, mungkin kau bisa mencegah Donghae kembali pada mereka.”

Kyuhyun hanya mampu menghela nafas mendengar itu semua. Sebenarnya jauh-jauh hari ia sudah berpikiran ke arah sana. Sayangnya keadaan sama sekali tak mendukung baginya untuk melakukan kegiatan diluar jadwal yang sudah tersusun. Lagipula Donghae tak pernah buka suara soal asal muasal barang yang ia konsumsi. Tak ada petunjuk apapun yang bisa membawanya pada orang-orang itu.

“Ah, andai helicopter itu punya nomor kendaraan seperti mobil, aku pasti akan mengingatnya.”

Kyuhyun nyaris tersedak tehnya sendiri mendengar celetukan Amy. Pikiran gadis itu benar-benar aneh. Ia sudah akan membalasnya saat Amy tiba-tiba menegakkan tubuhnya dari kursi lalu menjetikkan jarinya.

“Aha!! Bukankah dokter palsu itu sekarang ada di kantor polisi? Aku bisa ke sana dan-“

“Aku tahu apa yang kau pikirkan!!”

Amy cemberut. Kyuhyun sudah bisa membaca pikirannya.

“Amy, aku tahu kau tidak pernah mau berhenti pada apa yang sudah kau mulai. Aku hargai semua niat baikmu pada Donghae hyung. Tapi kumohon kau juga harus mengerti ini bukan masalah kecil. Ini bukan lagi soal bagaimana kita menemukan kucing yang terjepit di selokan bulan lalu. Ini masalah kriminal dan kau tidak perlu ikut campur.”

“Tapi besok polisi pasti akan memanggilku karena aku adalah saksinya. Kau tidak bisa menghentikanku.”

“Amy…”

“Tidak mau! Kau menyebalkan dan aku tidak suka diremehkan.”

“Amy, dengarkan aku.” Kyuhyun memelankan tempo bicaranya lalu menarik kedua bahu Amy menghadapnya. Diangkatnya dagu gadis itu lantas menatap matanya.

“Ini bukan berarti aku meremehkanmu atau apapun alasan yang kau pikirkan. Ini tentang dirimu dan aku. Aku tidak mau sesuatu terjadi dan aku ingin kita berjalan mengikuti alur yang sudah ada. Biarkan polisi bekerja dan kau dengan usahamu membantu Donghae hyung.”

Seketika senyum Amy melebar. “Jadi kau mengijinkanku menemuinya lagi?”

Kyuhyun menyentil hidungnya yang dibalut plester. “Apa lagi yang bisa kulakukan?”

Amy tersenyum penuh kemenangan kemudian memeluk Kyuhyun erat. Kyuhyun pun membalasnya meski perasaannya mengatakan bahwa ia sudah salah memberikannya ijin. Ia tahu niat Amy hanya ingin membantunya. Tapi entah kenapa…ia merasa ada sesuatu yang perlu ia khawatirkan dari semua ini dan itu bukan soal luka baru yang akan diperoleh Amy nantinya.

Namun, ia tetap tak bisa mengecewakan Amy. Setelah mengobrol lagi beberapa menit, ia putuskan untuk menarik Amy ke dalam kamarnya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sebelum pergi, Kyuhyun mengelus bahu Amy pelan lantas berpesan, “Jangan menyembunyikan apapun dariku. Besok kau harus periksakan bahumu ke dokter.”

Ia pun segera pergi dan melangkah dengan lebih tenang. Ia sama sekali tak sadar bahwa sekali lagi ia membuat Amy merasa bersalah. Namun, ada hal lain yang baru ia sadari setelah ia berada di dalam lift.

“Mungkin sangat aneh jika aku mengatakannya sedangkan kami baru bertemu tiga kali.”

Tiga kali? Bukankah mereka baru bertemu dua kali?

***

Sepeninggal Kyuhyun, Amy mengunci pintu lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia hembuskan nafasnya lalu melempar tubuhnya ke ranjang. Semuanya semakin rumit. Belakangan Kyuhyun semakin sering memperlihatkan perhatiannya yang berbeda tanpa disadari. Kyuhyun terus melakukan sesuatu yang hanya membuatnya merasa sangat kejam.

Ia tahu Kyuhyun mungkin tak bisa mengontrol segala sesuatu dalam dirinya. Kyuhyun sama sekali tidak salah. Ialah yang salah disini karena membiarkan semuanya berjalan terlalu jauh. Apakah ia harus menghentikan Kyuhyun? Rasanya itupun tak lebih baik.

Berpikirlah Amy Lee!! Lihat dirimu! Kau benar-benar jahat padanya!!

Amy menggerutu sendiri di atas pembaringannya sambil berguling beberapa kali. Ketika hal-hal yang berkaitan dengan Kyuhyun terus berputar dalam benaknya, ia melempar guling kesayangannya ke cermin hingga bedak dan parfumnya berjatuhan ke lantai.

Ia tak mau memikirkannya sekarang. Ia harus menepikannya sementara karena belum ada solusi untuk menyelesaikannya. Sekarang, yang lebih mendominasi dalam kepalanya adalah orang lain, yaitu orang yang sudah melukainya hari ini.

Donghae benar-benar menggila. Ia pikir hari ini ia dan pria itu hanya akan terlibat sebuah debat soal pergi atau tidak dirinya dari ruangan itu. Nyatanya, ia bahkan harus mengalami hal yang tak pernah dibayangkannya. Ia mengejarnya, bergelut dengan seseorang yang jauh lebih besar darinya, lalu melempar kepala Donghae dengan sebuah vas bunga hingga mereka terlibat perkelahian.

Sejujurnya, bahunya memang masih terasa nyeri dan kekhawatiran Kyuhyun sangat beralasan. Pukulan Donghae bukan main-main. Nampaknya Donghae sama sekali tidak membedakan lawannya. Ia hampir yakin ia akan kalah kalau saja security tidak datang tepat waktu.

Setelah apa yang terjadi hari ini, apakah Donghae masih mau menerimanya? Ia ragu. Sudah dua kali ia menggagalkan percobaan kabur pria itu. Donghae pasti sudah menuliskan namanya diurutan pertama dalam daftar orang yang ingin dipatahkan lehernya.

Tapi………….kenapa ia sama sekali tak berpikir untuk berhenti? Ia mendudukkan dirinya menghadap cermin, menatap lebam dipipinya dan juga plester dihidungnya. Ia punya alasan kuat untuk mundur. Namun, ia sendiri tak mengerti kenapa ia belum merasa takut. Apa ini hanya karena ia bukan tipe orang yang suka berhenti ditengah jalan seperti yang dikatakan Kyuhyun? Atau sekedar rasa iba seperti yang dikatakan Donghae?

Sebelum ia mendapatkan jawabannya, ia sudah jatuh tertidur dengan posisi telungkup.

******

BUGG

Donghae memukulkan kepalan tangannya ke dinding. Lagi-lagi upayanya untuk kabur harus terhalang oleh gadis itu. Jika gadis itu tidak ada, ia pasti sudah pergi bersama helikopter itu lalu berkumpul dengan Max. Bagaimana caranya menolak kehadiran gadis itu? Perintahnya tak pernah berlaku bagi para penjaga pintu. Yang didengar mereka hanyalah apa yang keluar dari mulut dokter dan keluarganya. Ah, memangnya ia masih punya keluarga?

Kedua tangannya kembali mengeras dan sekali lagi ia hantam dinding dengan sekuat tenaga. Tak ia pedulikan darahnya sedikit menodai dinding itu. Ia butuh pelampiasan.

Tangannyapun sudah terangkat lagi dan siap mengayun kalau saja pintu di belakangnya tidak terbuka. Ia berbalik dan menemukan orang kedua yang juga sama menyebalkannya dengan gadis itu.

“Hyung…”

Donghae menatap Kyuhyun dengan malas. Ia berbalik lagi lalu memilih melihat-lihat keluar jendela.

“Mungkin ini bukan saat yang tepat, tapi…aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,” ujar Kyuhyun hati-hati.

“Apakah aku nampak memprihatinkan dimatamu? Sejak kapan kau begitu perhatian padaku?”

Kyuhyun menunduk sejenak, menenangkan dirinya sendiri. Ia harus tenang. Ia harus bisa mengendalikan emosinya. Dan ia tak boleh kalah dengan Donghae.

“Aku dan ibu selalu memperhatikanmu dan kami ingin yang terbaik. Untuk itu kami membawamu kemari.”

“Jika kau hanya ingin berkhotbah, keluarlah. Ah, atau kau kemari ingin memperingatiku agar tidak melukai kekasihmu itu?” Donghae berbalik sambil tersenyum meremehkan. Ia rasa ia bisa menyimpulkannya sekarang. Amy sipengacau itu adalah kekasih Kyuhyun.

“Beritahu padanya, jangan coba-coba bermain denganku. Masih untung aku tidak membunuhnya.”

“Hyung…”

“Kenapa? Sebaiknya kau pulang dan sampaikan salamku padanya.”

Donghae kembali mendekati jendela dengan memiringkan tubuhnya. Ia sandarkan kepalanya ke kaca jendela. Tak lama, ia justru mendengar desis tawa dari Kyuhyun.

“Kedengarannya kau meremehkan ancamanku.”

“Maaf, hyung. Tapi sama seperti aku yang tidak bisa mengendalikanmu, aku pun tidak bisa mengendalikannya. Kau dan dia sama-sama keras kepala dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Donghae tersenyum kecut mendengarnya lantas mengucek-ucek telinganya. Ia lupa menambahkan bahwa ia pun malas mendengarkan curahan Kyuhyun.

“Hyung, aku sadar kedatanganku kemari takkan bisa mengubah apa-apa. Tapi setidaknya aku ingin kau tahu bahwa aku dan ibu tidak pernah meninggalkanmu. Kapanpun kau membutuhkan kami, kami akan-“

“Kalian akan menasehatiku sampai aku muak, begitu? Aku tidak membutuhkannya. Yang aku butuhkan adalah keluar dari sini secepatnya.”

“Kau akan keluar jika kau sudah sembuh.”

“Sudah berapa kali kubilang aku tidak sakit!!!” gertak Donghae yang sudah kehilangan kendali. Ia berpegangan pada pinggiran jendela dan berusaha agar kedua tangannya tidak melayang ke wajah Kyuhyun.

“Kalian semua tidak ada yang mengerti. Kau dan ibu hanya bisa bicara. Kalian tidak berguna.”

“Kalau begitu buat kami berguna. Kau benar-benar berbeda. Ceritakan semuanya, katakan apapun yang bisa membuatmu merasa lebih baik!”

“Apa yang kau harapkan dari ceritaku?” Donghae kehabisan stok kesabarannya. Ia berbalik cepat lantas menarik kerah baju Kyuhyun.

“Kau ingin aku menangis seperti pengemis di depanmu? Kau ingin aku ceritakan kehidupan macam apa yang aku jalani lalu kau akan mengasihaniku? Atau kau hanya ingin bertepuk tangan untukku?”

Mereka diam. Kyuhyun pun sama sekali tak melawan dan pasrah saat Donghae menguatkan pegangannya. Begitu ke empat penjaga pintu meringsek masuk, Donghae segera melepaskan pegangannya dari kerah baju Kyuhyun lalu mengabaikannya.

“Pergilah dari sini. Kau hanya menambah sakit kepalaku.”

Tak ada suara setelahnya. Ia bisa merasakan orang-orang bertubuh besar itu keluar tertib dari ruangannya dan Kyuhyun masih ada di belakangnya. Ia tak mau menatapnya. Ia membencinya.

“Andai aku bisa melakukan sesuatu………….”

Kalimat Kyuhyun menggantung begitu saja. Donghae menahan letupan emosinya dan nyaris kembali memukuli dinding.

“Aku hanya ingin mengembalikan hyungku. Donghae hyung yang dulu suka merebut mainanku. Donghae hyung yang dulu menenangkanku saat aku menangis. Donghae hyung yang menertawakanku saat aku dimarahi ibu.”

Mati-matian ia meremas dadanya yang terasa nyeri. Ia menengadah, tak mau ada satu tetes air matapun keluar dari matanya. Namun, begitu Kyuhyun benar-benar sudah pergi, air mata itu akhirnya jatuh juga.

Ia menangis sendirian.

***TBC***

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: