What If [4/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

*****

Tiga kali?

Kapan?

Kyuhyun terus mengingat perkataan Amy dua malam lalu. Ia yakin tidak salah mendengar. Amy memang mengatakan bahwa pertemuannya dengan Donghae berjumlah tiga kali. Apa Amy pernah menemui Donghae tanpa sepengetahuannya?

Harusnya ini bukan hal yang perlu ia pikirkan terlalu jauh. Ia bisa saja langsung mengklarifikasinya dengan menelpon Amy. Tapi ketika ia meletakkan handphonenya ditelinga, Amy tidak bisa dihubungi sehingga seleranya untuk bertanya langsung musnah.

Ia harap Amy hanya salah sebut. Amy hanya asal ucap dan lidahnya keseleo. Tapi ini adalah kesalahan sederhana yang berhasil membuatnya kelimpungan seperti anak kucing yang ditinggal di tengah hutan. Setiap ia punya jeda istirahat pada jadwalnya, ia akan menggaruk kepala lalu berpikir lagi. Tiga? Tiga kali? Kapan? Bagaimana mereka bertemu sebelumnya?

“Kenapa kau belum membacanya?”

Ia tersadar. Matanya berkedip dua kali lalu menemukan sebuah map di depannya.

“Apa ini?”

“Ini adalah kontrak baru yang kuceritakan kemarin.”

“Kontrak apa?”

Sang manager berdecak kesal. Seakan ia sudah mendengar pertanyaan yang sama dan sudah menjawabnya berkali-kali. Sebelum berlalu dari studio rekaman itu, ia hanya berujar singkat, “Satu jam lagi dia akan datang dan temui dia di ruang rapat lantai enam.”

“Bertemu siapa? Sendirian? Ya! Hyung! Kau mau kemana?”

Tak ada jawaban. Kyuhyun pun nyaris kembali pada pikiran konyolnya sebelum akhirnya sadar apa yang harus ia lakukan. Map di atas meja itu terus memanggilnya dan minta dibuka. Ia pun mengambilnya, membuka lembaran pertama kertas di dalamnya hingga ia ingat kontrak macam apa yang sedang ia baca.

Ia ingat. Kemarin manajemennya mengatakan bahwa sebuah perusahaan yang memproduksi sebuah jam tangan menginginkannya sebagai brand ambassador. Dan ia juga ingat bahwa kemarin ia sudah bertanya kenapa harus dirinya yang dipilih? Imagenya sebagai penyanyi ballad belakangan lebih banyak menarik minat perusahaan fashion untuk mempromosikan pakaian musim seminya. Untuk sebuah jam tangan kelas atas, rasanya lebih cocok memakai seorang aktor macam Lee Min Ho atau grup idola seperti Beast. Jawaban yang ia temukanpun membuatnya penasaran.

“Dia hanya menginginkanmu.”

Ia merinding. Perkataan manajernya kemarin itu membuat otaknya yang tadi hanya diisi soal tiga kali itu berputar-putar tidak karuan. Kedengarannya seakan ia akan dikirim ke seorang wanita kaya yang lebih dari sekedar menginginkannya. Namun, ketika ia membaca nama pemilik perusahaan tersebut, ia lebih merinding lagi.

“Max Changmin? Laki-laki?”

“Apa yang kau pikirkan, huh?”

Kepalanya dipukul pelan. Ia menoleh ke samping dan menemukan managernya kembali.

“Ah, hyung, kau menyebalkan.”

“Dia sudah datang. jadwalnya berubah karena dia ada urusan mendadak. Jadi cepat temui dia!”

“Temui siapa?”

“Tentu saja orang yang namanya ada di dalam kontrak itu!”

“Aku akan bertemu dengan pemiliknya langsung? Kenapa bukan manager atau utusannya saja? Dan kenapa hanya aku? Kau?”

Kyuhyun meringsek mundur ke sandaran sofa kala managernya berdiri dengan kesal. Hidungnya kembang kempis dengan sangat lucu dan Kyuhyun ingin sekali tertawa. Tapi ia menahannya sebisa mungkin.

“Sejak kapan kau begitu cerewet? Dia menyukaimu dan kontrak sudah disetujui perusahaan. Jadi, cepat temui dia!”

“Apa? Menyukaiku?”

“Ya Tuhan, Kyuhyun. Apa aku perlu memukul kepalamu lagi supaya kau tidak berpikir yang aneh-aneh?”

Sebelum tangan itu benar-benar melayang ke kepalanya, Kyuhyun sudah melompat sambil membawa handphonenya. Ia bergegas masuk ke dalam lift, dan menemui Max Changmin yang katanya menyukainya itu.

Bulu kuduknya kembali berdiri. Sebelum ia mendorong pintu, ia berdoa semoga ia bukan akan berhadapan dengan seorang pria yang memiliki penyimpangan seksual.

“Masuk.”

Langkahnya tertunda. Dari mana ia tau kalau ada seseorang diluar? Kyuhyun pun semakin penasaran. Ia dorong pintu lalu masuk begitu saja. Ada seorang pria berdiri membelakanginya sambil menatap keluar jendela. Posturnya tinggi tegap, sama sepertinya. Rambutnya pendek dan agak kecoklatan. Dari setelan pakaiannya, Kyuhyun tidak salah menebak bahwa pria ini memang si pemilik perusahaan itu.

“Selamat…siang.”

Pria itu berbalik, tersenyum dengan ramah lalu melepas kacamata hitamnya.

“Kyuhyun?”

Kyuhyun mengangguk lantas menjabat tangannya. Tubuhnya kembali merinding ketika telapak tangan mereka bersentuhan. Namun, kali ini bukan karena otaknya yang berpikir macam-macam. Ada hal lain yang tidak bisa ia jelaskan yang membuatnya merasa perlu menahan nafas saat kulit mereka bertemu.

“Max Changmin. Kurasa kita hanya terpaut beberapa tahun. Panggil saja aku Max.”

“Tidak mungkin. Kau adalah klien besar dan aku-“

“Jangan sungkan. Aku selalu menganggap semua klienku sebagai teman.”

Dengan canggung Kyuhyun pun mengangguk lalu mereka sama-sama duduk. Kedua kakinya bergerak gelisah dan jari-jarinya bermain di atas pahanya. Ini aneh. Ia tak pernah segugup ini berhadapan dengan seseorang selain Amy. Apalagi ini makhluk yang satu spesies dengannya.

“Jadi, kau sudah membaca isi kontraknya?”

Kyuhyun mengangguk dalam diam.

“Ada point yang membuatmu keberatan?”

Kyuhyun menggeleng tanpa suara.

“Tapi kelihatannya ada yang ingin kau katakan.”

Mulutnya terbuka sedikit. Tapi detik berikutnya ia kembali diam dan menelan semuanya.

“Katakan saja. Aku tidak ingin jika harus memulai kerja sama dengan orang yang terpaksa.”

“Ah, bukan begitu. Aku hanya ingin tahu kenapa…….kenapa kau memilihku. Kau bahkan meluangkan waktu untuk menemuiku. Itu membuatku merasa………..”

“Karena kau adalah orang yang kucari.”

Alisnya mengerut. “Aku?”

“Ya, setelah melihatmu, aku rasa hanya kau yang cocok untuk mempromosikan barang-barangku. Aku yakin kau bisa menarik minat banyak orang.”

“Tapi aku belum puas.”

“Baiklah.” Max Changmin menghela nafas lalu menurunkan satu kakinya yang tadi bertumpu di atas paha.

“Kau…..adalah orang yang kuinginkan. Hanya kau.”

“Itu bukan alasan.”

Max tersenyum sinis. “Aku lupa kalau managermu sudah mengingatkanku bahwa kau adalah orang yang sangat mudah penasaran dan tak pernah puas dengan satu jawaban. Tapi sayangnya aku tidak bisa memuaskanmu. Yang jelas, aku menginginkanmu dan aku harap kau bisa bekerja sama dengan baik.”

Sebelum Kyuhyun sempat bertanya lagi, Max sudah berdiri lalu menjabat tangannya lagi.

“Aku harus pergi. Senang berkenalan denganmu.”

Ketika tangan mereka terlepas dan Max melintas di sampingnya, ia kembali merasakan sesuatu yang aneh.

Siapa dia?

****

Sudah seminggu sejak kejadian menegangkan itu dan Amy belum menyerah untuk menemui Donghae. Hampir setiap hari ditengah kesibukannya, ia akan menyempatkan diri menjenguk Donghae di rumah sakit. Bahkan kemarin ia datang tengah malam diam-diam. Ia menyelinap ke ruangannya lalu memandangnya yang sudah tidur. Ia pun sudah akan tertidur disana kalau saja seorang penjaga kamar tak terbangun dan ia diminta pulang.

Ia tidak tahu kenapa ia ingin terus melakukannya. Sekalipun Donghae tidak bersikap ramah padanya, meski Donghae sekarang menatapnya seperti seorang macan, ia tidak gentar. Setiap kali ia kesana, Donghae akan mengacuhkannya. Kadang pura-pura tidur, kadang pura-pura tidak mendengar dan membiarkannya bicara sendiri seperti pasien rumah sakit jiwa. Kedatangan dokter dan susterlah yang akhirnya kerap menyelamatkan Donghae dari ocehan Amy. Tapi bagaimanapun usaha Donghae menyingkirkannya, Amy tak akan mundur.

Hari ini pun ia berencana kembali kesana. Langit mulai gelap dan semua kegiatannya sudah selesai, maka ia pikir tak ada salahnya kalau ia menemuinya. Mungkin akan ada keajaiban? Mungkin Donghae akan menyambutnya dengan sebuah senyuman? Ah, meski kedengarannya mustahil, Amy yakin suatu saat itu akan terjadi. Batu paling keras saja bisa terkikis karena air, kenapa tidak dengan kepala Donghae yang hanya dilapisi kulit dan tengkorak itu?

“Amy? Kau melamun?”

Ia tersadar. Entah sejak kapan Henry sudah duduk di sampingnya.

“Kau belum pulang?” tanya Henry sekali lagi sambil melepaskan earphonenya.

“Aku ingin ke rumah sakit.”

“Oh? Kau sakit? Atau ayah dan ibumu yang sakit?”

“Bukan aku atau keluargaku. Aku ingin menjenguk Dong….” Amy buru-buru menghentikan ucapannya kala menyadari bahwa ia tidak tahu apakah Henry mengetahui soal Donghae apa belum. Dengan fakta bahwa Henry sangat akrab dengan Kyuhyun, rasanya bukan jaminan bahwa Henry tahu segalanya. Lagipula, kalau tidak salah Kyuhyun mengatakan bahwa ia adalah orang pertama yang diberi tahu soal ibu dan kakaknya.

“Menjenguk siapa?”

Amy menggeleng. “Bukan siapa-siapa. Kau tidak mengenalnya.”

“Siapa yang tidak kukenal? Aku bahkan sudah dua kali bertemu dan berbincang dengan presiden. Kau lihat gadis di bawah pohon itu? Dia mahasiswa baru dan aku sudah mendapatkan nomor handphonenya. Lihat juga dosen gendut itu! Aku dan dia sering bicara dan aku memberinya resep diet yang mujarab.”

Baiklah, Amy tahu seluas apa pergaulan Henry, tapi ia tetap tidak yakin bahwa menceritakan soal Donghae adalah keputusan tepat. Kyuhyun mempercayainya sebagai orang yang akan menjaga rahasia itu, ia takkan mengecewakannya.

“Aku harus pergi. Jika kau bertemu Kyuhyun, suruh ia hubungi aku. Sudah seminggu ia menghilang dan tidak menemuiku.”

“Ya! Kau mau pergi sekarang? Kau tidak mau mengajakku?”

Seruan Henry percuma karena Amy lekas-lekas membuka pintu mobilnya lalu pergi. Henry adalah orang yang pandai bicara dan tahu betul cara membuat orang membongkar rahasianya. Jika berlama-lama dengannya sementara otaknya terus dipenuhi oleh Donghae, bisa-bisa ia akan kelepasan dan Kyuhyun akan menyembelihnya.

Ia pun melaju kencang meninggalkan kawasan kampus. Sekitar setengah jam berikutnya, ia sudah tiba di rumah sakit dan dengan gampang melangkah ke ruang rawat Donghae. Berbeda dengan seminggu lalu ketika ia perlu mengatur nafasnya sebelum masuk, belakangan ini ia merasa semuanya menjadi lebih mudah seakan kegiatan ini sudah menjadi agenda rutinnya.

Di depan pintu, ia harus berhadapan dengan empat orang bodyguard. Mereka memeriksa tubuhnya lalu membukakan pintu. Memang setelah kejadian itu penjagaan terhadap Donghae diperketat. Bukan hanya dari pihak rumah sakit, tapi juga dari orang suruhan Kyuhyun.

Begitu berada di dalam, ia menemukan Donghae terlelap dengan posisi menyamping. Tadinya ia pikir Donghae hanya sedang melakukan aksi pura-puranya. Tapi setelah ia mendekati lalu menaruh telunjuknya di depan hidung Donghae, ia yakin Donghae memang sedang tidur. Tapi ini masih jam tujuh, kenapa cepat sekali tidurnya?

Amy mendengus. Diperhatikannya ruangan yang cukup luas itu dan hanya bisa pasrah karena nampaknya tak ada yang bisa ia lakukan disini. Apakah ia harus menunggui Donghae hingga bangun? Atau membangunkannya lalu mengajaknya berdebat? Jujur, ia rindu beradu mulut dengannya. Sejak peristiwa kabur yang gagal itu, Donghae tidak mau bicara dengannya, Donghae mengabaikannya. Jarang menatapnya. Bagaimana ia bisa mengubah pria itu kalau untuk bicara pun ia tak dapat kesempatan?

Beberapa menit berikutnya Amy hanya diam sambil duduk di sofa. Ia sempat ingin menelpon Kyuhyun tapi ia urungkan niat tersebut. Ia juga sempat ingin menelpon Eunji tapi lagi-lagi ia membatalkannya. Hingga tak lama, tak sengaja ia menatap wajah Donghae dan itu membuat lampu di atas kepalanya menyala terang.

Ia bongkar isi tasnya di atas meja dan ia menemukan buku gambar beserta alat lukisnya. Dengan cepat ia tarik kursi mendekat lalu mencari-cari posisi yang tepat. Butuh beberapa menit baginya untuk merasa nyaman dengan posisinya lalu duduk tenang di depan Donghae dan mulai menggerakan pensilnya di atas kertas. Dan menit-menit selanjutnya…ia tenggelam dalam dunianya.

Jarinya bergerak cepat. Pensilnya menari-nari lincah di atas kertas membentuk banyak goresan seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Matanya bolak balik menatap kertas dan sang objek. Jika si objek bergerak, ia ikut bergerak lalu pensil dan seperangkat lainnya bekerja lagi. Seperti orang kerasukan, ia hanyut dalam dunianya. Tak ada suara lain meski diluar sempat terdengar kegaduhan yang entah disebabkan oleh apa. Tak ada gangguan apapun meski angin malam dari jendela sempat menerbangkan helaian rambutnya. Ia sibuk. Ia gila. Dan ia sedang gembira karena bertemu dengan permainan yang luar biasa. Hingga langit sudah benar-benar gelap dan kegaduhan diluar berganti lengang, ia mengangkat tangan tanda selesai.

“Wow!!”

Ia memuji karyanya sendiri dalam hati. Dibandingkannya sang objek dengan kertas dihadapannya dan untuk pertama kalinya sejak ia menemukan hobi tersebut, ia benar-benar puas dengan karyanya. Ada nyawa yang merasuk ke dalam goresan pensil itu. Ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa itu adalah benda berharga. Sayang, si objek sendiri masih terlalu asyik dengan tidurnya yang terlalu lama. Hari sudah semakin malam. Ia harus segera pulang dan mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.

“Baiklah, kau berhasil lagi hari ini. Tapi lain kali, saat aku kembali, kupastikan kau akan menatapku dan bicara denganku. Seorang Amy Lee tidak pernah melupakan ucapannya.”

Amy berdiri, di sobeknya kertas itu dari buku lalu meletakkannya di atas meja tepat di samping gelas air putih. Di bagian bawahnya, ia menuliskan sesuatu dan ia benar-benar akan memukul kepala pria itu kalau besok-besok masih mengabaikannya.

Setelah semuanya selesai, ia pun pergi sambil melambai pada si orang tidur itu.

“Jangan rindukan aku! Sampai jumpa!!!”

Dan bunyi pintu memaksa orang itu untuk membuka mata.

*****

Klek

Donghae membuka matanya, ia mendesah berat setelah tak melihat siapapun dalam ruangannya. Ia berhasil lagi hari ini. Ia tak melihatnya. Ia tak melihatnya.

Beberapa jam ke belakang benar-benar menguras emosi dan tenaganya meski ia hanya berbaring di atas tempat tidur. Ia terpaksa menahan diri sebisa mungkin untuk tidak membuka mata sampai terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Bahkan ketika pintu tertutup, ia masih sangsi apakah ia tidak dikerjai lagi.

Masih segar dalam ingatannya bagaimana ia ditertawakan oleh si kutu kecil menyebalkan itu. Maka setelah berjam-jam yang menyakitkan, akhirnya ia bebas. Ia bebas buka mata, ia bebas berdiri dan ia bebas melakukan apapun disini termasuk memikirkan cara apa yang tepat untuk kabur lagi. Handphone pemberian Max tak ia temukan di bawah tempat tidur. Dan Max tak pernah lagi mengunjunginya. Yang paling parah, penjagaan di depan pintu diperketat. Ia benar-benar merasa berada dalam penjara. Bahkan penjara jauh lebih baik karena ia masih bisa bercengkrama dengan sesama tahanan dan dalam sel ia tidak sendirian.

Apakah begini cara mereka yang katanya bisa mengobatinya? Dibanding menahannya dari gangguan orang luar, ia lebih setuju ini disebut pembunuhan secara perlahan. Belum lagi dengan gadis itu yang nyaris tiap hari datang. Ia sudah cukup gerah menghadapi ibunya yang selalu menjenguk dan bersikap bak seorang malaikat tanpa dosa. Ia sudah cukup gila untuk menerima tamu baru yang sayangnya lebih menyebalkan dari ibunya.

Siapa namanya? Ah, Amy! Ya! Ia adalah Amy yang sudah menggagalkan upaya kaburnya selama dua kali.

Great! Ia masuk ke sini karena ulah ibu dan saudaranya, sedang ia tak bisa lari karena ulah Amy-Amy menyebalkan itu. Apakah mati itu lebih menyenangkan?

Sebelum pikiran soal mati itu berlanjut, matanya menemukan secarik kertas di atas meja. Diambilnya pelan-pelan kertas itu dan ia terdiam beberapa saat.

Ada goresan pensil yang sangat indah disana. Ada sebuah wajah yang tercetak di atas kertas itu. Ada seseorang yang sedang terlelap disitu dan ia tak pernah tahu bahwa ia memilki wajah seperti itu.

Tidak! Itu bukan dirinya. Semua nampak berbeda. Wajah itu nampak damai, tenang tanpa beban. Mata itu tertutup namun ada seulas senyum samar terpatri dibibirnya.

Ia nyaris menyobeknya menjadi sampah kalau saja ia tak menemukan sebuah pesan di bagian bawahnya. Sebelum ia baca, ia ingin katakan bahwa siapapun yang menulis ini, ia yakin orangnya tidak lulus sekolah. Tulisannya jelek sekali. Dan begitu ia membacanya, ia juga yakin orang itu sama jeleknya.

“Hai orang bodoh! Jika kau pikir kau menang, maka kau salah besar. Aku akan terus datang dan datang sampai kau sendiri yang meminta. Aku akan menghantuimu sampai kau sendiri yang ingin aku berada disini. Coba kau lihat lukisanku, bukankah kau sangat tampan? Tapi aku benci diabaikan. Jika saat aku kembali kau masih saja tidur, lihat apa yang akan aku lakukan!”

-Amy Lee (orang yang akan kau rindukan)-

Donghae tak sadar ia sedang tersenyum saat ini. Dan sepertinya ia juga tak sadar bahwa akhirnya kertas itu tak jadi ia sobek. Ia justru melipatnya dengan hati-hati lantas menyimpannya di bawah tempat tidur. Meski ia ingin menolak, tapi sepertinya……….ia ingin bertemu gadis itu lagi esok hari.

****

Max menghentikan mobil di depan rumahnya. Ia turun dan masuk dengan sambutan dua orang pelayan yang membungkuk padanya. Jas serta kunci mobilnya ia lempar begitu saja dan langsung ditangkap oleh pelayan-pelayan lain yang berada di sekitarnya. Sementara ia terus berjalan menuju tangga, menaikinya sambil melepaskan dasi serta beberapa kancing kemejanya.

“Selamat sore…Tuan.”

Seorang pelayan wanita membungkuk takut padanya. Ia berdiri di depan sebuah pintu besar yang baru ditutupnya.

“Kau baru?” Max memandang pelayan itu dari atas hingga bawah dan ia bisa simpulkan bahwa wanita itu memang pelayan baru yang ia minta kemarin. Pelayan sebelumnya yang bertugas berjaga di pintu ini sudah ia pecat karena kerjanya hanya mengeluh, berteriak lalu muntah setelah mengantar makanan ke dalam.

“Kau sudah memberikan ibuku makan? Kau sudah membantunya mandi?”

Wanita muda kisaran pertengahan dua puluhan itu mengangguk lagi tanpa berani menatap matanya. “Sudah, tuan.”

Max tersenyum. “Bagus. Sekarang aku mau masuk.”

Sepeninggal pelayan itu, Max mendorong pintu. Senyumnya semakin lebar setelah melihat kepala beserta punggung ibunya. Ibunya nampak tenang di kursi roda yang menghadap langsung pada televisi.

“Selamat sore, ibu,” sapanya riang. Ia mendekat lalu bersimpuh di depannya. Ia elus kedua tangannya yang dingin kemudian mengecupnya.

“Bagaimana kabar ibu hari ini? Apa pelayan tadi membuat masakan yang enak?”

Max beralih pada tayangan televisi di belakangnya lalu mengambil remote. Ia pilih channel yang sesuai dengan ibunya lalu meletakkan remote tersebut dipangkuan ibunya.

“Ibu senang?”

Ia tersenyum bahagia. Dielusnya pelan-pelan rambut ibunya hingga turun ke pipi. Air matanya sempat menetes yang lekas-lekas ia singkirkan.

“Ibu tahu? Hari ini aku sudah bertemu dengannya. Ibu hanya perlu menunggu sedikit lagi hingga aku bisa menghancurkan keduanya. Aku akan menghancurkan keluarga mereka dan membawa mereka ke hadapan ibu. Ibu tenang saja. Ibu jangan khawatir lagi.”

Sebelum ia tak bisa menahan tangisnya, ia kecup dahi ibunya kemudian pergi secepat mungkin.

***

Amy tidak datang lagi! Amy menyerah!

Donghae kebingungan sejak seminggu ini. Ia pikir akan melihat wajah gadis itu lagi. Namun, Amy justru tak datang lagi bahkan hingga beberapa hari kemudian. Ketika pintu terbuka dan Donghae lekas pura-pura tidur, yang masuk adalah ibunya. Selain itu, hanyalah dokter dan perawat yang mengajaknya terapi atau ke aula untuk mendengarkan ocehan seorang pastor. Sejak pagi dan bertemu pagi lagi dihari-hari berikutnya, Amy tetap tidak datang.

Ia pikir itu adalah berita bagus. Hidupnya sudah cukup memekakkan tanpa harus ditambah lagi satu masalah. Tapi jauh dalam dirinya ia juga merasa kecewa. Ternyata gadis itu tak setangguh yang ia bayangkan dan tak sekeras yang Kyuhyun katakan. Baru satu minggu diacuhkan, gadis itu sudah menyerah.

Berita buruknya, ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak memikirkan beberapa kemungkinan yang membuat gadis itu mengundurkan diri dari misi mustahil mendekatinya. Apakah Kyuhyun yang melarangnya? Apakah mendadak Amy sadar bahwa apa yang ia lakukan akan percuma? Atau memang ada hal-hal yang tak bisa ia tinggalkan sehingga tak sempat kemari? Tapi bukankah saat itu Amy pernah datang nyaris tengah malam ke kamarnya?

Donghae mengacak rambutnya dan merasa aneh dengan dirinya. Harusnya ia gembira dan merayakan kemerdakaannya. Sudah lewat satu minggu dan sekarang masih tidak ada tanda-tanda akan kehadirannya. Bukankah itu bagus sekali? Kenapa sekarang ia merasa gelisah?

Anehnya lagi, ketika ia baru keluar dari ruang terapi dan akan masuk ke dalam ruang rawatnya, ia sempatkan menoleh ke belakang untuk meyakinkan dirinya bahwa gadis itu akan datang. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya. Tak mungkin ia mengharapkannya. Tak mungkin ia menginginkan kehadirannya. Ini jauh lebih bagus dan ia bisa punya banyak ruang untuk kabur lagi.

Seorang bodyguard lalu membukakan pintu untuknya. Dan begitu ia masuk, ia hampir terkena serangan jantung.

“Surprise!!!!!!!!!!!”

“Amy?”

Ia terdiam selama beberapa detik. Begitupun Amy. Lalu Amy tiba-tiba saja melonjak kesenangan.

“Kau menyebut namaku!”

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Ah, dan sekarang kau bertanya padaku. Bukankah biasanya kau mengacuhkanku?”

“Jangan berharap!”

“Kau juga terus menjawabku!” sambar Amy cepat yang membuat Donghae kehilangan kata-kata. Ia memilih diam lalu duduk di sofa.

“Bisa kuartikan kau merindukanku? Ah, sudah kubilang jangan meremehkanku. Bagaimana rasanya tidak mendengar suaraku selama beberapa hari?”

Donghae kembali acuh. Ia ambil sembarang bacaan yang ada di atas meja lalu mulai membukanya.

“Sebaiknya kau pulang. Aku lelah.”

Amy mendekat, ia duduk tepat di samping Donghae hingga Donghae kesempitan di ujung sofa.

“Aku memang akan segera pergi, tapi bersamamu.”

“Apa maksudmu?”

Seakan ia membawa kabar paling bahagia, Amy mengusap kedua tangannya lantas tersenyum lebar. “Aku akan membawamu pergi. Bagaimana?”

Donghae mengerutkan dahinya. Amy akan membawanya pergi? Apakah ini untuk penebusan dosanya beberapa waktu lalu?

“Kau tunggu disini. Aku akan bicara dengan dokter.”

Sebelum Donghae sempat menyela , Amy sudah lebih dulu pergi. Gadis itu nampak antuasias sekali. Donghae sendiri tak bisa memahami apapun yang sedang dipikirkan gadis itu. Ia datang sesuka hati dan pergi seenaknya. Ia bicara sangat tidak sopan pada yang lebih tua dan suka menghilang. Dan belum selesai Donghae menebak-nebak, gadis itu sudah kembali dengan kegirangan.

“Hey! Kita sudah mendapatkan ijin dokter. Kita bisa pergi jalan-jalan.”

“Jalan-jalan?”

“Tentu. Kau bisa gila jika terus berada disini. Tapi jangan sekali-kali berpikir untuk kabur. Aku akan menjagamu!”

Lagi-lagi Donghae tak punya kesempatan bicara. Amy sudah melempar sepasang pakaian ke wajahnya. “Aku mengambilnya dari lemari Kyuhyun! Cepat ganti pakaianmu!”

Amy pun keluar lalu bicara serius dengan empat orang bodyguard sementara Donghae lekas-lekas membuka baju pasiennya. Ini semakin aneh. Kenapa ia menurut saja? Ia bukan orang yang suka diperintah.

“Sudah siap? Ayo pergi!”

Amy buru-buru menarik tangan Donghae hingga melewati pintu. Seorang bodyguard menahan mereka.

“Apalagi?”

“Nona, kalau tuan Kyuhyun tahu, dia pasti akan marah.”

“Sudah kubilang Kyuhyun tidak akan marah. Dan dia tidak akan tahu kalau otak kalian yang pintar itu digunakan dengan baik. Jangan katakan apapun katanya dan kita semua akan selamat.”

“Tapi, nona…bagaimana kalau Tuan Donghae…”

“Aku berani jamin dia tidak akan kabur. Leherku taruhannya!”

Donghae memandang Amy dengan bingung. Apa katanya? Leher? Berani sekali ia menggunakan nyawanya sebagai taruhan?

Amy dan seorang bodyguard itupun terus berdebat sampai akhirnya Amy memenangkannya. Setelah itu, Amy kembali menarik tangan Donghae lalu mereka segera lenyap dari sana. Dan setelah berada diluar, Donghae bisa merasakan udara luar di pagi hari. Inilah pagi pertamanya berada di tempat terbuka sejak hampir dua bulan belakangan dikurung di dalam rumah sakit. Donghae merentangkan kedua tangannya lalu menarik nafas panjang.

“Bagaimana? Menyenangkan?” tanya Amy yang berdiri di sampingnya. Donghae pun kembali acuh. Ia masukkan tangannya ke dalam saku celana lalu melihat-lihat keramaian di depan rumah sakit.

“Jangan khawatir. Hari ini kita akan berkeliling kota. Kau harus melihat banyak hal dan kau harus menurut denganku hari ini!”

Donghae sudah akan buka mulut untuk melawan, tapi Amy lagi-lagi menariknya, mendorongnya ke dalam mobil.

“Kita pergi!!!!!!!!!!!!”

Donghae melengos. Inilah yang ia inginkan sejak kemarin-kemarin. Yakni keluar dari rumah sakit dan bisa melihat matahari bukan dari balik jendela. Anehnya, ia bisa merasakan semua itu karena ulah orang yang sangat ia benci.

********

Kyuhyun menyelesaikan satu jadwalnya hari ini dengan baik dan ia masih punya sederet jadwal lain yang siap menyita seluruh waktunya. Semakin dekat peluncuran album terbarunya, semakin ia sibuk dan tak punya kesempatan untuk menjenguk ibunya, kakaknya bahkan ayahnya. Begitupun dengan Amy. Terakhir kali mereka bertemu saat Amy mengeluhkan sikap Donghae yang selalu tidur saat ia datang menjenguk. Kyuhyun sudah memintanya untuk menyerah saja. Tapi mendengarnya Amy malah semakin berapi-api melanjutkan niatnya.

Setelah hari itu, mereka tak lagi bertemu. Dan sejujurnya ia sangat rindu. Ia ingin sekali bisa kembali ke malam itu ketika Amy mengajaknya ke café untuk menonton permainannya. Sayangnya, untuk beberapa hari ke depan akan sangat sulit mewujudkan hal itu. Ia harus melakukan pemotretan. Wawancara, persiapan promosi dan masih banyak lagi.

Jika sudah begini, ia harap sifat Amy yang tak terduga muncul lagi. Gadis itu pernah tahu-tahu muncul di sesi wawancaranya serta ditengah kerumunan fans. Dengan cueknya Amy menarik lengannya kemudian membawanya pergi. Saat ditanya, Amy hanya berkata bahwa ia lapar dan tidak mau makan siang sendirian. Amy juga pernah tiba-tiba muncul saat ia sedang tampil disalah satu acara musik. Amy membawa banner besar bertuliskan ‘KYUHYUN! AKU MEMBENCIMU!’. Jika ia sedang rindu seperti ini, tak jarang Amy akan hadir di depannya sambil berkata, ‘Amy yang cantik ada disini. Perlu bantuan?’

Ia pun jadi berpikir untuk menelpon gadis itu. Ia sedang berada di sebuah restoran bersama managernya untuk makan siang sebelum melanjutkan kegiatan. Ia sudah meletakkan handphonenya ditelinga saat matanya tak sengaja terarah ke jalan dan menemukan Amy melintas pelan dengan mobilnya. Tapi bukan itu yang membuatnya terkejut. Melainkan dengan siapa Amy di dalam mobil itu. Ada seorang laki-laki yang ………… yang jika penglihatannya masih waras adalah kakaknya sendiri. Bersamaan dengan tak terlihatnya mobil itu, suara operator terdengar. Handphone Amy tidak aktif.

“Kau kenapa? Kau melihat badut di jalan?”

Kyuhyun menggeleng. Ia acuhkan pertanyaan managernya lantas buru-buru menghubungi salah satu orang suruhannya di rumah sakit.

“Hallo, apa kau berada di rumah sakit?” sambarnya cepat. Tak terdengar jawaban langsung dari sana.

“Ya! Jawab pertanyaanku!”

“Maaf, tuan. Semua baik-baik saja. Kami semua terus berjaga disini dan tuan Donghae ada di dalam ruangannya.”

Kyuhyun memelankan nada bicara. “Kau yakin? Kau tidak membohongiku?”

“Tentu saja tuan. Aku tidak akan membohongi anda.”

Kyuhyun sangsi. Tapi rasanya juga mustahil orang-orang suruhannya berani membohonginya. Lagipula untuk apa?

Akhirnya Kyuhyun menyerah. Ia matikan sambungan telepon lalu menyeruput jus melonnya. Mungkin memang benar ia melihat Amy, tapi pria yang bersamanya bukanlah Donghae. Mana mungkin dokter dan penjaganya mengijinkan. Sekarang yang jadi masalah adalah……………siapa pria itu? Kenapa Amy tak mengaktifkan handphonenya?

*****

“Woaaa…..itu luar biasa!!!!!!!!!!!!!” seru Amy setelah melompat dari kursinya. Dari rumah sakit, Amy mengajak Donghae pergi ke salon. Disana Donghae dipermak sesuai selera Amy. Rambutnya yang agak memanjang dipotong, wajah dan tubuhnya dilulur, dan kuku-kukunya dibersihkan. Setelah itu, mereka makan siang sebentar kemudian Amy mengajak Donghae ke Lotte World. Ia menarik paksa pria itu untuk mencoba hampir semua permainan yang ada di bagian outdoor. Dan yang baru saja membuat jantung Amy hampir jatuh adalah Bungee Drop. Rambutnya berantakan, nafasnya naik turun dan lututnya lemas.

“Bagaimana denganmu?”

Amy melongo sebentar setelah menoleh pada lelaki di sebelahnya. Setelah ia mengajak Donghae menaiki Gyro Swing, ia sudah cukup terkejut karena pria itu sama sekali tak menunjukan ekspresi yang seharusnya. Donghae tetap tenang, tidak teriak, dan tidak bicara. Ia justru hanya menguap. Dan sekarang, setelah Amy yakin Donghae akan merasakan apa yang ia rasakan, pria itu bergeming. Kali ini Donghae menguap lebih lebar lalu berjalan mendahuluinya.

“Ada lagi yang lebih menggelikan? Aku semakin mengantuk.”

Amy menggerutu. Ia harus mengalahkan pria itu! Ia pun mengejarnya lalu mengajaknya untuk mencoba wahana yang lebih ekstrem lagi, yakni roller coaster. Tapi kenyataannya, ketika Amy mengangkat tangan tanda lelah, Donghae hanya menggerakan anggota tubuhnya seakan hanya sedang melakukan peregangan.

Amy pun melupakan rencananya itu. Ia beralih pada permainan lain dan meminta Donghae menembak sebuah boneka untuknya. Hasilnya? Hanya dengan sekali percobaan, Amy sudah mendapatkan sebuah boneka beruang besar berwarna biru muda. Amy pun penasaran, ia meminta Donghae menembak lagi. Dan Donghae kembali berhasil.

“Sudah puas?” Donghae mendorong pelan dahi Amy lalu pergi lagi. Amy yang kerepotan dengan beberapa bonekanya memutuskan untuk menitipkannya dulu lalu mengejar Donghae.

“Hey! Tunggu aku!”

Amy menarik lengan Donghae paksa –lagi- lalu mendekati sebuah mesin capit.

“Aku ingin boneka yang itu!” tunjuk Amy pada sebuah boneka kelinci kecil putih. Donghae berdecak kesal. “Cih, seleramu sejak tadi payah sekali.”

Donghae pun mulai menggerakkan penjepit pada mesin itu lalu menjepit boneka yang diinginkan Amy. Amy sendiri bukan kesenangan karena Donghae nampak akan berhasil, ia senang karena sejak tadi Donghae benar-benar bersikap baik padanya. Meski mereka tak terlibat obrolan panjang. Ia sudah merasa menang. Donghae menuruti semua kemauannya. Donghae tidak melawannya. Dan meski mengeluh, Donghae tetap melakukan apapun yang ia minta, termasuk bermain mesin capit ini.

Amy pun sudah akan bersorak, tapi boneka itu jatuh didetik-detik akhir. “Ahh, sayang sekali. Sudahlah! Kita cari permainan lain saja.”

Amy sudah akan pergi saat Donghae tiba-tiba menahannya. “Tidak. Aku akan mengambilnya.”

Amy terdiam selama beberapa detik. Donghae sudah asyik kembali dengan usahanya menjepit boneka itu. Meski bonekanya terus saja jatuh, Donghae terus mencoba dan mencobanya.

Terlintas ide nakal, Amy menggodanya. “Donghae, sebaiknya kau mengaku saja bahwa kau tidak akan mampu mendapatkannya.” Amy cekikikan sendiri. Akhirnya ia menemukan juga kelemahan pria itu. Tahu begini, ia tidak usah repot-repot mengorbankan jantungnya untuk mencoba wahana ekstrem.

“Apa kau belum menyerah?”

“Tidak ada kata menyerah dalam kamusku!”

Amy tersenyum senang. Dilihatnya Donghae mulai gusar dan bermain kasar. Hingga akhirnya, tanpa disangka-sangka Donghae menendang mesin tersebut dengan sangat kuat.

BUGGG

“Hey! Apa yang kau lakukan?”

Seorang petugas meneriakinya. Donghae tak gentar dan ingin menghadapinya. Tapi Amy lebih dulu menarik lengannya lantas membawanya lari sekencang mungkin.

“Amy, aku hampir mendapatkannya!”

“Kau sudah gila? Kau sudah merusak mesin itu!”

“Hey! Kalian berdua!!!”

Amy tak mau menoleh ke belakang. Ia hanya terus memegang tangan Donghae dan baru berhenti berlari setelah mereka berada di halaman parkir. Dan belum sempat Amy mendorongnya ke dalam mobil, Donghae tahu-tahu tumbang lalu bersandar pada mobilnya.

“Kau baik-baik saja?”

Donghae tak menjawab. Donghae hanya berusaha mengatur nafasnya dan buru-buru meminta air. Setelah Amy memberikannya, air mineral itu tandas dalam sekali teguk.

“Kau yakin kau baik-baik saja? Kita hanya berlari sebentar dan kau seperti akan pingsan.”

Sadar takkan mendapat respon, Amy memilih ikut menyandarkan tubuhnya. Ia luruskan kedua kakinya lalu memijitnya. Ia memang lelah, tapi ia rasa ini hal biasa. Sedangkan Donghae….

Ah…

Ia ingat sekarang. Adik dari teman temannya itu juga seperti Donghae. Katanya pengaruh obat itu salah satunya adalah membuat pemakainya menjadi malas melakukan apapun termasuk berolahraga. Pantas saja tenaga Donghae sangat minim. Dan pantas juga ia lebih sering melihat Donghae tidur.

“Sudah merasa lebih baik?” tanya Amy setelah mereka diam selama beberapa menit. Amy biarkan Donghae diam lagi sejenak hingga sebuah pertanyaan terlontar.

“Kenapa kau melakukan ini?”

“Hm?” Amy menatapnya, lalu tak lama Donghae ikut menatapnya. Meski ini bukan yang pertama, Amy merasa kali ini Donghae menatapnya dengan cara yang berbeda. Bukan tatapan marah yang dulu pertama ia temukan. Bukan tatapan membunuh seperti beberapa waktu lalu. Dan bukan tatapan benci seperti yang kerap ia temui. Kali ini….Donghae benar-benar menatapnya, hanya menatapnya.

“Kenapa kau melakukan ini padaku?” ulang Donghae dengan penekanan. Amy terkesiap lalu tersenyum simpul.

“Kenapa aku melakukannya? Aku sering melakukan apapun yang ingin kulakukan meski kadang aku tak tahu alasannya.”

“Kau tahu aku bisa saja melukaimu.”

“Tapi aku tahu kau tidak akan melakukannya lagi.”

“Kau belum mengenalku.”

“Seseorang tak harus mengenalnya lebih dulu untuk membaca isi hatinya. Aku memang tidak mengenalmu dan aku ingin mengenalmu. Aku juga ingin membantumu.”

Donghae membuang pandangannya kesal. “Aku benci orang sok tahu dan aku benci mendengar kalimat itu. Aku tak perlu dibantu siapapun.”

“Baiklah, kau mungkin tidak butuh bantuan siapapun saat ini. Tapi jika kau sadar, sejak kecil kau sudah, akan dan selalu butuh bantuan orang lain.”

Amy berdiri, ia menawarkan tangannya pada Donghae.

“Apalagi?”

“Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”

********

Hari sudah hampir malam saat mereka tiba di kawasan Dobong-gu. Donghae sempat membaca tulisan besar di depan sebuah bangunan dari balik kaca mobil dengan wajah bingung.

“Sepertinya aku tidak akan bisa menebak apa yang kau pikirkan. Aku tidak mau turun!” Donghae enggan melepas seat beltnya. Namun, Amy dengan acuh mendekatinya, melepas seat belt tersebut lalu membukakan pintu.

“Ayo keluar! Ingat kau harus menurut denganku hari ini.”

Amy sendiri tak pernah menyangka semuanya akan bertahan sejauh ini. Donghae sama sekali tak menolak permintaannya. Padahal ia tak cukup serius memintanya untuk jadi anak penurut hari ini. Ia pikir itu sama mustahilnya dengan menjinakkan seekor harimau ganas. Tapi nyatanya, sekarang Donghae sedang berjalan tepat di belakangnya.

Kali ini Amy membawa Donghae ke sebuah panti sosial khusus anak penyandang cacat. Orang tuanya adalah donatur tetap disini dan ia pun rutin kemari hampir dua kali dalam sebulan. Sayang, hari ini ia datang dengan tangan kosong.

“Amy noona!!!”

Amy menoleh cepat ke arah kanannya dan menemukan dua orang anak bertongkat berjalan mendekatinya. Amy langsung merentangkan kedua tangannya, menerima pelukan hangat anak-anak itu.

“Hmm…kapan terakhir kali aku kemari? Kenapa tinggi kalian bertambah cepat sekali?”

Salah satunya tersenyum lebar memamerkan giginya yang tanggal. “Kami selalu makan sayur seperti yang noona minta. Jadi, tak lama lagi kami pasti akan menyaingi tinggi noona.”

“Uuhh..seharusnya aku tak katakan rahasia itu.” Amy mengacak rambutnya lalu berpindah pada anak satunya lagi. Rambutnya hitam lebat. Pipinya menggembung membuat Amy gemas dan mencubitnya.

“Apa kabarmu, Myung San?”

Anak itu tersenyum lebih lebar dari kawannya. Ia mengangkat kedua tangannya lalu menggerakkan jari-jarinya.

“Oh, benarkah? Jadi kau sudah menyelesaikan lukisanmu? Coba aku lihat!”

Dengan sabar Amy menggiring kedua anak itu. Ia terus berjalan tanpa mengurangi intensitas pekerjaan mulutnya. Ia terus mengoceh sementara Donghae yang masih ada di belakangnya hanya terdiam.

Donghae menatap punggung Amy dan dua anak itu yang kian mengecil hingga hilang dibalik pintu salah satu ruangan. Ini akan terdengar sangat aneh. Tapi dibanding kembali ke dalam mobil, ia justru memilih ikut melangkah dan menjelajahi tempat tersebut.

Awalnya semua nampak cukup sepi. Tapi kemudian satu persatu anak-anak keluar dari banyak pintu dan mereka bergerombol berlari seperti anak-anak pada umumnya. Yang membedakan dari anak yang biasa ia lihat adalah….bahwa anak-anak itu tak sempurna.

Ada seorang anak perempuan yang menabrak kakinya. Ia hampir saja marah, tapi anak itu lekas meraih tongkatnya lalu menghentak-hentaknya ke lantai. Setelah anak itu pergi dengan pelan, ia tahu bahwa anak itu buta. Ada lagi anak yang masih sangat kecil yang menangis dalam gendongan seorang wanita. Ia perkirakan usianya belum genap dua tahun. Sepintas tak ada yang salah dengan anak itu. Namun, begitu ia berada lebih dekat, ia lekas membalik badan dan tak sanggup melihatnya.

Perlahan-lahan ia merasa kepanasan berada di antara mereka semua. Ada yang sedang berjalan dengan mendorong kursi roda, ada yang duduk di lantai dan tak punya dua kaki, ada pula yang tak punya tangan. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing dan entah kenapa kepalanya mulai pusing melihat itu semua. Ia pun hampir saja pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika menemukan Amy yang sedang memangku seorang anak di salah satu ruangan.

Ia berdiri di depan pintu, menatap kesibukan Amy yang nampak sangat gembira. Seorang anak perempuan yang lucu memainkan bonekanya. Amy memegang boneka lain berbentuk pangeran dan ia mulai memainkan perannya. Sejenak Donghae tak mau melihat apapun lagi. Tapi lagi-lagi ada sesuatu yang menahannya untuk tetap berada pada titik yang sama. Hingga pelan-pelan, ia tak melihat apapun lagi selain gadis itu.

Amy memiliki banyak ekspresi. Kadang ia bisa tertawa lebar sekali, tapi dalam sekejab ia bisa berubah sangat jelek dengan bibir yang maju. Kadang matanya melotot, kadang juga menghilang tersembunyi dibalik kelopak. Donghae tak bisa menahan senyumnya. Ia tenggelam dalam pikirannya hingga sorakan anak-anak lain membuyarkannya.

“Noona!! Eonnie!!”

Tubuhnya terdorong oleh segerombolan anak-anak yang meringsek masuk dari belakangnya. Ia hampir saja jatuh. Tapi ia lebih sigap menangkap tubuh seorang anak laki-laki yang juga hampir mencium lantai.

“Eonnie!! Kenapa tidak bilang kalau mau kesini? Aku belum menyelesaikan tugasku yang waktu itu,” adu salah seorang anak. Amy menerima semua aduan mereka dengan sabar lantas mulai menjawabnya satu persatu. Dan Donghae sendiri….ia masih tak bisa beranjak dari sana. Ia masih berdiri diposisi semula. Ia juga mendengar semua yang dikatakan oleh Amy.

“Anak-anak, maafkan aku. Hari ini aku tidak membawa apapun. Aku tadi terburu-buru dan tidak sempat berbelanja,” ungkap Amy dengan wajah menyesal. Salah seorang anak menimpalinya dengan cepat, “Kami tidak mengharapkan itu. Asal Amy eonnie masih mau kesini, kami sudah senang.”

Amy memeluknya dan tak sadar Donghae tersenyum lebih lebar.

“Ah, tapi aku membawa teman baru untuk kalian. Sebentar.”

Amy sibuk melihat kesana kemari hingga ia menemukan Donghae berdiri di depan pintu. Awalnya Donghae tak sadar, baru saat Amy menariknya, ia terkesiap.

“Anak-anak, perkenalkan, dia adalah teman baru kalian. Namanya Donghae. Kalian bisa memanggilnya Donghae hyung atau Donghae oppa.”

Donghae menggaruk kepalanya dengan kikuk. Ia tak begitu suka dengan anak kecil. Ia sama sekali tak pandai dalam bersikap di depan sekumpulan anak kecil sebanyak ini. Maka ia hanya diam, berusaha menjaga imagenya. Namun, Amy lekas-lekas menyenggol lengannya lalu menginjak kakinya hingga beberapa anak cekikikan.

“Aw..”

“Silahkan mengacuhkanku, tapi bersikap baiklah di depan mereka,” bisik Amy sangat pelan. Donghae pun menghela nafasnya lalu memperkenalkan diri. Ia hanya menyebutkan namanya. Tak kurang. Tak lebih. Bahkan ia tak berminat bicara lagi kalau saja salah seorang anak tak mengeluarkan celetukan.

“Kalian berpacaran?”

Amy tertawa. Ia memandang Donghae dari atas hingga bawah. “Hahaha…perlu kalian ketahui dia adalah musuhku. Tapi sekarang kami sudah menjadi teman. Kalian ingat ceritaku minggu lalu? Tak boleh ada musuh. Kita harus menjadikan semua orang sebagai teman. Meski dia sangat menjengkelkan, tapi aku tidak marah padanya.”

Donghae memainkan alisnya heran mendengar penuturan Amy soal dirinya. Rasanya ia tak pernah menemukan gadis sejenis Amy dimanapun. Ia punya banyak teman wanita. Tapi hanya sebagai pemuas hawa nafsunya, atau sebagai teman saat berpesta narkoba. Dan tak ada yang seperti Amy.

“Oke, sekarang…apa yang akan kita lakukan? Aku kehabisan akal.”

Seorang anak yang duduk dikursi roda mengacungkan jarinya. “Kemarin ada yang menyumbangkan buku dongeng yang baru tapi kami belum sempat membacanya. Maukah eonnie membacakannya untuk kami?”

Amy menunduk, menghambur sedikit poni anak itu lalu menatap Donghae.

“Oke! Kita akan dipisah menjadi dua bagian. Sebagian bersamaku, dan sebagian lagi dengan Donghae. Bagaimana?”

“Apa?” Donghae ingin protes. Ia ingin angkat tangan persis anak-anak itu. Tapi Amy sudah sibuk dengan anak-anaknya. Amy mengumpulkan separuh anak ke sudut kanan ruangan sedang sebagian ia pisah ke sudut kiri. Ia juga mengatur kursi dan meja ke pinggir agar semua bisa leluasa duduk di lantai.

“Amy, hey, hey!!! Aku tak pernah menyetujui apapun.”

Amy acuh saja. Setelah pekerjaannya selesai dan ia kembali dengan membawa beberapa buku, ia berikan separuhnya pada Donghae.

“Duduklah dengan tenang dan bacakan dongeng-dongeng ini.”

“Tapi..”

Amy sudah pergi. Ia mengambil posisi di tengah lingkaran yang dibentuk anak-anak itu lalu mulai bercerita. Sementara Donghae perlu ditarik oleh dua orang anak tuna wicara. Donghae di dudukkan di bawah dan salah satu anak membukakan sebuah buku padanya. Anak itu menunjuk buku tersebut dan menggerakkan jari-jarinya dengan cepat. Donghae bingung. Ia sama sekali tak tahu bahasa isyarat, tapi kemudian ia paham bahwa anak-anak itu hanya ingin ia segera menyusul Amy, yakni membacakan cerita. Maka setelah melalui perdebatan dengan dirinya sendiri, akhirnya melihat tulisan-tulisan itu lalu membuka mulutnya.

“Pada suatu hari……………………” Ah, bukankah mereka yang tak bisa bicara juga sulit mendengar? Bagaimana mereka bisa mendengar cerita yang akan ia bacakan?

Ah, lupakan. Donghae acuh dan tetap melanjutkan ceritanya.

******

Kyuhyun melempar handphonenya sembarangan yang untungnya ditangkap langsung oleh managernya. Sejak siang, atau tepatnya setelah makan siang tadi, managernya sudah pusing dengan sikap Kyuhyun yang berubah-ubah. Pemotretan sore tadi bahkan berlangsung kacau karena Kyuhyun seakan lupa cara tersenyum. Ia terus saja cemberut.

“Kyuhyun, please, jangan buat kepalaku cepat botak. Rambutku sudah rontok menghadapi sikapmu seharian ini. Sebenarnya ada apa?”

Kyuhyun sudah sering begini, tapi tak pernah separah ini. Paling-paling aksi moodynya hanya berlangsung satu atau dua jam. Tapi kali ini managernya sudah tak tahan. Apalagi ia tahu Kyuhyun sangat sulit berbagi apapun yang ia rasakan. Seperti saat ini, Kyuhyun hanya menyalakan televisi, mengganti channelnya lalu kembali membuang remotenya, untung saja managernya masih tanggap.

“Baiklah, jika kau tak mau bicara, aku rasa jadwal hari ini harus kita hentikan. Tak ada wawancara, tak ada diskusi dengan manajemen. Kau bisa pulang.”

Sebelum mendapat lemparan bantalan sofa, managernya sudah pergi. Dan Kyuhyun pun langsung menumpahkan kekesalannya. Ia pukul sofanya dengan kuat. Ia keluarkan jurus tinjunya yang tak pernah tersalurkan itu pada apapun yang ada di dekatnya.

Ia kesal. Ia benci situasi ini. Ia benci Amy Lee!!!

Kemana perginya gadis itu? Ditelepon masih tidak aktif. Dihubungi keluarganya, katanya tak bertemu Amy sejak dua hari lalu. Ditanya pada Eun Ji dan Henry, katanya juga tak melihat Amy sejak pagi. Lalu…kemana ia harus bertanya?

Perkara ‘menghilangnya’ Amy jelas bukan yang pertama, yang membuat Kyuhyun merasa panas adalah soal dengan siapa ia pergi. Ia masih ingat dan ia yakin kedua matanya masih sehat untuk melihat siapa yang sedang duduk di samping Amy siang tadi. Ada seorang pria….ada seorang pria dan Amy tersenyum lebar padanya.

Bagaimana kalau pria itu adalah orang jahat? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Amy hingga Amy tak bisa menghubunginya

BUGG

Kyuhyun melempar bantalan sofa ke dinding. Ia melempar tubuhnya lalu memejamkan mata. Jika sampai tengah malam nanti Amy masih tak bisa dihubungi, ia akan nekat melapor ke kantor polisi.

****

Donghae masih tak bisa memahami segala hal yang ia alami sepanjang hari ini. Amy membawanya pergi dari rumah sakit. Ia mengikuti dan menjalankan semua yang diminta Amy termasuk bermain seperti anak kecil di Lotte World. Dan sekarang…setelah membacakan dongeng pada anak-anak panti, ia sedang duduk di lantai di depan dua orang anak yang belum tidur. Yang lain sudah berada di kamar masing-masing dengan diantar oleh para pengasuh disini. Sementara dua anak ini….masih mau mengobrol dengannya meski nyatanya sejak tadi Donghae tak bicara apa-apa.

“Kenapa Donghae hyung irit bicara?”

“Apa Donghae hyung suka film superhero? Siapa yang hyung suka? Aku suka spiderman!”

“Kalau aku suka iron man. Wusss…kostumnya keren!”

Donghae menunduk dengan pasrah. Ia benar-benar terjebak disini. Ia sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan anak-anak itu. Ia hanya ingin Amy menghentikan acara jalan-jalannya hari ini.

“Apa hyung punya pahlawan yang hyung suka?”

“Aku punya pahlawan dan itu adalah ibuku. Bagaimana dengan hyung?”

Seketika telinga Donghae yang semula enggan mendengar langsung terfokus pada anak itu. Matanya tertuju padanya yang sedang tersenyum lebar.

“Aku….”

“Hm?”

“Aku…….”

Donghae merasa akan sangat mudah baginya menjawab pertanyaan itu. Tapi kemudian ia mengingat apa yang sudah dialaminya selama ini. Ia pun tak bisa melanjutkannya.

“Bagaimana sifat ibu Donghae hyung?”

“Apakah dia sangat lembut? Apakah dia sangat cantik?”

“Aku tidak punya ibu!!”

Kedua anak itu nampak terkejut mendengar jawabannya. Donghae pun berusaha tak memperpanjang obrolan dan berharap kedua anak ini segera pergi tidur.

“Maafkan kami. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya memiliki ibu.”

Donghae membuang muka. Dilihatnya Amy berdiri di depan pintu sambil menatapnya.

“Aku tidak tahu dimana ibuku. Aku tak pernah bertemu dengannya. Tapi…aku tetap menyayanginya dan menganggapnya sebagai pahlawanku.”

“Untuk apa kau memikirkan orang yang tak memikirkanmu?”

“Donghae!!!”

Seruan Amy menghentikan pembicaraan itu. Dengan lembut Amy mengajak kedua anak itu untuk ke kamarnya masing-masing. Meski sempat menolak, anak-anak itu bersedia tidur dengan diantar oleh Amy. Setelah mengantar mereka, Amy kembali dan langsung menarik dagu Donghae dengan paksa.

“Kau sadar apa yang hampir kau katakan?”

“Aku hanya mengatakan kebenaran. Anak-anak itu harus dijelaskan bahwa ibu mereka…yang tidak pernah ada untuk mereka tidak pantas mereka puji!”

“Jangan menghakimi apapun yang belum kau pahami. Harusnya kau berkaca pada mereka dan kau malu dengan dirimu sendiri!”

“Apa maksudmu?”

Amy diam. Ia ambil tasnya kemudian menarik lengan Donghae. Ia tak bicara. Ia tak merespon apapun yang dikatakan Donghae. Cengkramannya semakin menguat dan membuktikan bahwa ia benar-benar marah saat ini.

“Amy, berhenti memperlakukanku seperti peliharaanmu!”

Amy tak menggubris. Begitu berada di dalam mobil, ia pasang seat belt lalu menjalankan mobilnya dengan kencang. Seperti kesetanan, ia menginjak gas dengan kuat, ia berbelok dengan cepat dan tak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan Donghae. Emosi Amy baru mereda setelah mobil berhenti di pinggir jalan.

“Amy, cepat nyalakan kembali mobilmu!” pinta Donghae tegas begitu sadar dimana mereka berhenti.

Amy masih diam. Ia turun dari mobilnya lantas memaksa Donghae ikut turun.

“Kenapa? Kau takut melihat kenyataan?”

Amy memaksa Donghae melihat ke seberang jalan. Ada seorang wanita disana yang sedang menutup toko bunganya dan bersiap-siap pulang.

“Kau lihat wanita yang ada disana? Kau mau mengatakan kau tidak mengenalnya?”

“Amy…”

“Lihat dengan mata hatimu! Lihat apa yang sudah kau lakukan pada orang yang rela melakukan apapun hanya demi dirimu!”

“Amy!!”

“Anak-anak panti yang bahkan tak pernah punya kesempatan melihat orang tuanya masih bisa membanggakan mereka. Sedangkan kau?” Amy tersenyum kecut. “Aku sungguh malu berdiri di samping seorang pria yang matanya lebih buta dari anak-anak disana.”

Donghae tak lagi menyela. Dadanya terasa berat dan kepalanya kembali pusing. Tanpa bisa dicegah, apa yang sudah ia lakukan selama ini pada ibunya berputar dalam kepalanya bersamaan dengan pertemuannya dengan anak-anak panti. Ia ingin menghentikannya. Ia ingin meminta semuanya pergi dari pikirannya. Namun, semakin ia meminta, semuanya justru semakin kencang berteriak.

“Sadarlah, Donghae…”

Suara Amy terdengar sangat pelan. Ia berusaha mengendalikan semuanya hingga kemudian hanya suara Amy yang ia dengar.

“Kau benci situasi tapi kau melampiaskannya pada orang-orang disekitarmu. Dari apa yang aku lihat, apa yang kau lakukan bukanlah hal yang kau inginkan.”

Pelan-pelan Donghae mengangkat wajahnya hingga melihat bahwa ibunya yang berdiri di seberang sana sedang mengunci pintu kemudian pergi berjalan kaki untuk pulang.

“Sekarang…katakan padaku.”

Ia menoleh ke samping, Amy sudah berdiri tegak menghadapnya.

“Apa selama bersamaku satu hari ini, kau tidak punya pikiran untuk pergi?”

Donghae merasa ada yang menghantam kepalanya dengan godam raksasa. Ia diam.

“Apa kau tidak memikirkannya?”

Donghae menunduk, melihat ke kiri ke kanan dan ke arah manapun untuk menghindari tatapan Amy.

“Kau punya banyak kesempatan untuk lari. Kau bisa mendorongku, memukulku seperti waktu itu, atau kau kabur saat aku lengah. Aku bahkan membukakan pintu lebar-lebar. Tapi kau tetap bersamaku.”

Donghae berbalik. Ia bahkan baru menyadari itu semua. Selama beberapa jam yang penuh ini, ia sama sekali tak berpikir untuk lari.

“Artinya…kau tidak menginginkannya.”

Sebelum Donghae sempat menghindar lagi, Amy sudah lebih dulu ada di hadapannya. Tangan Amy terjulur ke arahnya dan itu memaksanya untuk menatap mata gadis itu.

“Sekarang kau kubebaskan memilih. Kau bisa memegang tanganku dan kita kembali ke rumah sakit. Atau kau bisa berbalik dan pergi dari sini.”

Donghae nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya. Amy nampak serius dengan perkataannya dan Amy memang tak sedang main-main. Tapi..kenapa?

“Jika kau memang benar-benar ingin pergi. Maka pergilah sekarang juga.”

Donghae tak tahu pilihannya jatuh pada yang mana. Ia harusnya bisa langsung lari karena memang itulah yang ia cari sejak dulu. Namun, ia juga tidak bisa munafik bahwa ia ragu dengan pilihan tersebut.

“Kembali………atau pergi……..”

Ia pejamkan matanya dengan erat. Ia tak bisa menentukan. Ia tak bisa melakukannya. Tapi ketika ia membuka mata, ia justru mendapati dirinya sedang berbalik dan berlari sekencang-kencangnya.

**TBC**

2 Comments (+add yours?)

  1. silver
    Sep 17, 2016 @ 11:08:18

    kyaa.. donghar nya kabur..
    seru thorr. daebak d^^b

    Reply

  2. silver
    Sep 17, 2016 @ 11:11:31

    kyaa.. donghae nya kabur..
    seru thorr. daebak d^^b lanjutkan ye.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: