What If [5/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

***

Ia pikir ia sudah siap menerima konsekuensinya. Bahkan ketika ia mengatakan bahwa lehernya akan menjadi taruhannya, ia tidak main-main. Namun, setelah Donghae tak terjangkau penglihatannya, ia rasa ujung senapan sedang menempel di dahinya dan itu tidak terasa menyenangkan.

Ini bukan soal rasa sakitnya. Ia hanya tak siap jika harus berhadapan dengan Kyuhyun dan ibunya lalu memberikan kabar buruk ini. Ia tak mau mengecewakan siapapun selama ini dan ia selalu memegang apapun yang ia katakan. Sekarang…..dengan kenyataan bahwa ia sudah gagal, apa ia masih punya muka berhadapan dengan mereka? Ia tak bisa bayangkan wajah kecewa Kyuhyun yang akan ia terima.

Ia sadar sudah terlalu percaya diri belakangan ini. Ia sadar terlalu merasa berkuasa dan bisa melakukan apapun termasuk menaklukan Donghae. Ia selalu terbiasa dengan keberhasilan dan ia tak begitu sering merasakan kegagalan semacam ini.

Ketika ia tiba di apartemen, ia menyalakan handphonenya dan ia menemukan banyak pesan dari Kyuhyun. Belum sempat ia menenangkan diri, Kyuhyun lebih dulu menelpon.

Ia panik. Ia belum cukup berani untuk mengatakan kebenaran. Apa yang harus ia ucapkan? Apa kenyataan bahwa ia berani membawa Donghae keluar dan sekarang Donghae benar-benar kabur?

Ia tak mengangkatnya hingga esok hari. Hingga ia berada di kampus dan hingga ia selesai dengan seluruh kegiatannya. Setelah ditotal, ada 47 misscall dari Kyuhyun.

Amy menenggelamkan kepalanya pada stir mobil. Sudah banyak hal-hal yang berkelebat dikepalanya sepanjang hari ini. Ia tak konsentrasi. Bahkan saat dosennya menegur, ia langsung tunjuk tangan dan menyerukan permohonan maaf karena membiarkan Donghae pergi. Setelah ia sadar semua mata sedang menatapnya keheranan, ia lekas-lekas keluar dari kelas.

Harinya benar-benar kacau. Apa jangan-jangan Kyuhyun menghubunginya untuk menuntut tanggung jawab? Apa pihak rumah sakit sudah menghubungi Kyuhyun dan Kyuhyun sedang mencarinya?

Amy menatap handphonenya yang untuk ke empat puluh delapan kalinya menunjukkan nama Kyuhyun. Ia pasrah. Ia putuskan untuk mengangkatnya.

“Hallo.”

“AMYYYYY!!!! Ya Tuhan, aku sudah berpikir untuk melapor pada polisi karena kau tak juga mengangkatnya.”

Dahi Amy mengerut. Polisi? Apa Kyuhyun sangat kecewa sampai tega melaporkannya kepolisi? Sekali lagi Amy menarik nafasnya dan yakin seratus persen bahwa Kyuhyun sudah tahu semuanya.

“Maafkan aku,” ucap Amy lemah.

“Kau memang harus minta maaf dan kita harus bertemu. Sekarang kau dimana?”

“Aku masih di kampus, tapi aku sudah akan pulang. Sebaiknya kita bertemu di rumah sakit saja.”

“Rumah sakit? Untuk apa?” tanya Kyuhyun lagi yang membuat Amy semakin merasa tidak karuan. Amy menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Aku rasa aku juga harus minta maaf dengan dokter yang menjaga Donghae. Dua puluh menit lagi kita bertemu disana.”

Sebelum Kyuhyun menyela lagi, ia buru-buru menutupnya. Ia sudah siap. Ia sangat siap menerima apapun yang akan Kyuhyun lakukan termasuk dikirim ke penjara. Ah, tapi apa benar Kyuhyun senekat itu? Apa ia akan dituduh karena membawa kabur seorang pasien rehabilitasi?

Amy menggeleng keras. Tanpa pikir-pikir lagi ia langsung tancap gas ke rumah sakit. Sampainya ia disana, dilihatnya Kyuhyun sudah menunggu di depan meja resepsionis. Ia pun mendekatinya dengan lesu.

“Maaf.”

Kyuhyun tak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan wajah Amy yang menunduk.

“Apa kau merasa sangat menyesal sampai tak berani menatapku seperti itu?”

Amy mengangguk. Ia sama sekali tak melihat senyum kecil yang tertahan dari wajah Kyuhyun.

“Aku rasa tidak ada yang gratis di dunia ini. Aku akan memikirkan hukuman apa yang pantas kau terima. Sekarang kau harus jelaskan kenapa kau harus menemui dokter yang merawat Donghae hyung?”

Amy memberanikan diri menatap mata Kyuhyun. Ia jadi bingung. Bukankah harusnya Kyuhyun tahu jawabannya? Apa Kyuhyun memancingnya supaya ia menjelaskan kesalahannya?

“Donghae hyung?”

Benar! Ini adalah masalah Donghae! Ia benar-benar minta maaf atas kelancangannya! Namun, Kyuhyun bukan sedang bicara dengannya. Mata Kyuhyun justru terarah ke sisi kirinya atau mungkin di belakangnya. Dan ketika ia ikut menoleh ke belakang, ia pun melihat apa yang membuat Kyuhyun seterkejut itu.

Seketika kedua kakinya lemas dan ia berpegangan pada tiang di dekatnya. Tak lama bahunya terasa disenggol pelan oleh Kyuhyun yang berjalan seperti orang linglung.

Apakah ia perlu memeriksakan matanya ke dokter? Tapi kenapa Kyuhyun juga melihatnya?

Amy yakin semalam Donghae benar-benar pergi. Lalu sekarang……..Donghae ada disana. Beberapa meter di depannya tepat di depan sebuah kursi taman. Donghae nampak sedang bicara santai dengan sesama pasien. Tak tahu apa yang mereka bicarakan, Amy hanya fokus pada penglihatannya. Ia kucek matanya berkali-kali, ia tepuk pipinya sendiri lalu mencubit lengannya kuat-kuat. Dan hasilnya, ia tidak sedang bermimpi!

“Donghae hyung?”

Sekali lagi ia mendengar Kyuhyun berseru dan tak berapa lama sudah tiba di hadapan Donghae. Amy tak mendengar apapun lagi setelahnya. Ia hanya melihat Kyuhyun berusaha menanyakan beberapa hal yang tak digubris oleh Donghae. Lalu menit berikutnya Donghae pergi meninggalkan Kyuhyun dan sempat tersenyum simpul saat berpapasan dengannya. Amy sendiri nyaris tak berkedip melihatnya. Ketika punggungnya semakin mengecil, ia langsung berseru dan berlari kearah Kyuhyun.

“Hey, hey, kau kenapa? Aku sudah cukup terkejut melihat Donghae hyung ada di taman dan bicara dengan orang lain. Kau jangan membuatku lebih bingung lagi,” seru Kyuhyun yang bingung melihat reaksi Amy.

“Ah, aku senang sekali. Kau sudah tidak punya alasan untuk melaporkanku ke kantor polisi.”

Kyuhyun menaikkan alisnya sebelah.“Memangnya untuk apa aku melaporkanmu ke polisi kalau kau sudah ada disini? Aku memang hampir melakukannya tapi polisi tidak akan menerima laporanku jika kau belum hilang dalam waktu 24 jam.”

Giliran Amy yang dilanda kebingungan.“Apa? Aku hilang?”

“Ya! Kau menghilang sejak kemarin. Tepatnya setelah aku melihatmu pergi dengan seorang pria. Kau tidak bisa kuhubungi. Kalaupun tersambung, kau tidak mengangkatnya. Wajar saja kalau aku berpikir kau sudah diculik oleh pria itu.”

Amy membekap mulutnya menahan tawa. Ia tak percaya apa yang didengarnya dan ia tak percaya kebodohan apa yang ia pikirkan sejak semalam. Dan akhirnya Ia tak sanggup menahan tawa hingga Kyuhyun perlu menariknya menjauh.

“Dan kau tertawa setelah membuatku ketakutan? Sudah kubilang jangan pernah mematikan handphonemu dan kau harus mengangkat teleponku.”

Amy kesulitan mengontrol tawanya. Ia hanya tak habis pikir membayangkan kembali kebodohannya sejak semalam yang berpikir bahwa Kyuhyun akan membencinya karena Donghae.

“Kyu….kau benar-benar lucu. Apa kau tidak tahu kalau aku pergi dengan D….” Amy menghentikan ucapannya dan seketika berhenti pula tertawa. Jika benar Kyuhyun sudah salah paham, maka artinya Kyuhyun tidak tahu apapun soal kejadian kemarin dan semalam. Ia rasa Kyuhyun tidak perlu tahu. Sayangnya Kyuhyun sangat mudah penasaran.

“Dengan siapa? Kenapa kau tidak melanjutkannya?”

“Bukan siapa-siapa. Kau tidak mengenalnya.”

“Memangnya siapa dia? Kau………kau nampak senang sekali dengannya. Kau sepertinya tidak mau diganggu.”

Amy cukup menikmati wajah dan intonasi Kyuhyun yang sepertinya sedang mengatakan bahwa ia benci dikalahkan oleh siapapun.

“Kau tidak perlu tahu. Ayo kita pergi dari sini!! Biarkan Donghae istirahat hari ini.”

“Hey, hey!!! Amy!! Bukankah kau juga ingin minta maaf pada dokter itu? Kau juga belum menjelaskan kenapa kau harus melakukannya!!”

Kyuhyun terus mengoceh bahkan hingga Amy melemparnya paksa ke dalam mobil. Ia tak biarkan Kyuhyun bertanya lebih jauh dan langsung melambai dengan bahagia.

“Sampai jumpa!!”

Ia pun pergi dengan mobilnya. Sebelum itu, ia sempatkan melihat ke atas dan ia tak bisa menutupi kegembiraannya bahwa ia sama sekali tidak gagal. Donghae kembali. Donghae tidak pergi.

***

Donghae tersenyum sambil menatap ke bawah. Ia tak tahu alasannya kenapa ia harus tersenyum, tapi ia memang tak henti tersenyum sejak tadi, tepatnya setelah melihat ekspresi Amy yang seperti melihat hantu. Ia jadi penasaran…apa kira-kira yang Amy pikirkan sejak semalam ia pergi? Apakah Amy ketakutan?

Ia menjauh dari jendela lalu duduk di ujung tempat tidur. Kemarin adalah satu hari yang luar biasa. Sampai pada panti sosial itu, ia pikir tak ada yang salah padanya selain fakta bahwa ia menjadi anak penurut di depan Amy. Setelah Amy mengajaknya melihat ibunya dan setelah apa yang Amy katakan padanya, semuanyapun berubah.

Ketika berlari, ia menangis seperti orang gila. Ia tendang apapun benda yang berpapasan dengannya saat kenangan akan perlakuan ayahnya muncul. Saat ayahnya tak sudi menatapnya. Saat ayahnya menyebutnya sebagai anak seorang pelayan. Saat ayahnya menyiram wajahnya dengan air. Saat ia dihukum dan tidak boleh keluar kamar mandi. Dan saat-saat menyakitkan lain termasuk saat ia ditampar hingga kepalanya menghantam ujung meja. Tak ada bagian yang ia lupakan. Semuanya seperti sekumpulan lebah yang mengejarnya.

Dalam larinya yang tak tentu arah, ia akhirnya ingat bahwa selalu ada orang-orang yang melindunginya kala itu. Akhirnya ia ingat bahwa selama ini ia hanya mencatat perlakuan buruk yang ia terima, bukan mencatat keberuntungan dan kebaikan yang ia dapatkan.

Ada Kyuhyun yang sering membelanya. Ada Kyuhyun yang berani menarik celana ayahnya agar berhenti memukulinya. Ada Kyuhyun yang diam-diam menyisihkan makanannya supaya mereka bisa makan bersama tengah malam dipojokan garasi. Ada Kyuhyun yang pernah meniup luka didahinya. Ada Kyuhyun juga yang sempat merajuk pada ayahnya dan mogok makan kalau kakaknya yang sedang dihukum belum boleh ikut makan malam. Dan selalu ada Kyuhyun yang melenyapkan kesedihannya ketika bocah itu tersenyum memperlihatkan giginya yang tanggal.

Lalu ibunya….bukankah ibunya yang selalu melindunginya? Bukankah ibunya yang rela meminjamkan punggungnya untuk menerima benda-benda tumpul itu? Bukankah ibunya pula yang sudah membawanya pergi dan membebaskannya dari semua itu?

Sampai saat ia berhenti berlari, ia masih tak tahu marah kepada siapa. Mungkin ia marah pada ayahnya yang membuatnya merasa seperti sampah yang dibuang di selokan. Mungkin ia marah pada ibunya yang sudah membuatnya terjebak dalam rumah neraka itu. Mungkin ia marah pada Kyuhyun karena Kyuhyun mendapatkan segalanya yang tidak ia punya. Atau mungkin ia marah pada dirinya sendiri yang membiarkannya hidup bertahun-tahun dalam kenangan itu.

Ia tak boleh terus begini. Ia harus berhenti. Ia harus melepaskan semuanya.

Ketika ia meluruskan pandangannya, akhirnya ia tahu apa yang harus dan memang ingin ia lakukan. Ia berdiri di depan gerbang rumah sakit dan setelahnya ia melangkah masuk tanpa ragu. Setelah detik itu, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memutuskan hubungan dengan barang-barang yang ia konsumsi selama ini.

Saat Kyuhyun menghampirinya tadi, sebenarnya ia hampir saja memeluknya. Tapi kecanggungan dan rasa gengsi itu masih lebih besar hingga mulutnya ikut terkunci dan enggan menanggapi apapun yang ditanyakan Kyuhyun.

Ia lalu bercermin. Dilihatnya wajahnya yang semakin tirus itu dan ia merasa bodoh sekali. Ia biarkan dirinya dikeroyok oleh barang-barang itu. Ia biarkan tubuhnya ketergantungan dan membuatnya mengagung-agungkan benda sialan itu. Ia mendewakannya, ia mencintainya lebih dari dirinya sendiri dan ia hidup hanya untuknya.

Matanya sayu, kulitnya tak terawat, ada kerutan disekitar wajahnya yang membuatnya nampak sepuluh tahun lebih tua. Ia benar-benar kacau dan ia tak pernah menyadari itu.

Sekarang….meski tubuhnya masih membutuhkannya, ia bersumpah tidak akan lagi menyentuhnya. Meski belakangan tubuhnya berteriak dan merengek lagi, ia takkan mengiyakan. Dan meski ia harus merasakan sakit itu lagi, ia akan menahannya.

“Donghae…..”

Ada seseorang. Cermin kecil yang ia pegang lekas-lekas ia kembalikan ke tempat semula. Ibunya masuk dan berjalan mendekatinya.

“Kau baik-baik saja?” tanya ibunya seperti biasa lalu menarik kursi untuk duduk di dekatnya. Biasanya, Donghae tidak akan menanggapi dan akan membalik badan untuk pura-pura tidur. Tapi sekarang ia bingung. Apa yang harus ia lakukan? Ia sama sekali belum menyiapkan diri untuk bertemu ibunya.

“Ibu tidak akan lama. Ibu kemari untuk membawakanmu makan malam. Jadi nanti malam kau tidak perlu makan makanan disini lagi. Kau pernah bilang tidak menyukainya, bukan?”

Donghae hampir menangis mendengar dan melihat ibunya sibuk sendiri dengan rantang makanannya. Ia ingat bahwa beberapa hari lalu rantang itu ia lempar setelah isinya ia habiskan.

“Kau tahu? Hari ini toko bunga ibu sangat ramai. Ibu sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba saja orang-orang datang dan membeli bunga-bunga ibu. Bahkan ada yang memberikan uang dalam jumlah berlebih. Ibu ingin mengembalikannya tapi orang itu sudah pergi. Ah, tapi dia sempat menyebutkan namanya. Kalau tidak salah….namanya Max.”

Sontak Donghae menatap ibunya. Apakah Max mengenal ibunya?

“Lupakan saja. Yang jelas ibu senang sekali hari ini.”

Donghae membuang muka. Ia tak sanggup menatap matanya lagi. Ia seperti sedang diperlihatkan hal-hal yang sudah ia lakukan selama ini. Kenapa ibunya masih bisa bersikap seakan tak ada yang terjadi setelah banyak luka yang ia berikan? Ia pernah membuat ibunya jatuh. Ia pernah mengatakan hal-hal yang tak seharusnya ia katakan pada seorang ibu. Bahkan mungkin ia adalah anak paling buruk didunia.

“Donghae….apa kau merasa tidak sehat?”

Ia tahu ibunya adalah orang yang sangat gigih. Sebanyak apapun ia menolaknya, sebanyak itu pula ibunya akan maju lagi. Ia pun memberanikan dirinya menatap ibunya lagi. Tapi bibirnya masih belum bisa mengucakan apapun.

“Hey, kau sakit? Kau berkeringat banyak sekali. Apa kau merasakannya lagi? Ibu akan panggilkan dokter, sebentar!”

“Ibu!!”

Donghae tak tahu apa yang ia lakukan. Ia tak bisa mengontrolnya. Ia hanya sadar sedang memegang erat tangan ibunya dan itu berhasil menghentikan langkah ibunya.

Perlahan-lahan ibunya menoleh dan ia bisa melihat ada setitik air mata yang langsung diusap ibunya.

“Aku baik-baik saja,” ujar Donghae pelan.

Ibunya tersenyum simpul dan detik berikutnya sudah duduk kembali di kursinya. Donghae sendiri perlu berkali-kali menenangkan dadanya yang berdegup dengan kacau. Ia merasakan canggung, malu, berdosa dan terhina dalam waktu bersamaan. Rasanya seperti sedang dikuliti hidup-hidup dan ia dilarang menutup mata untuk sekedar mengurangi sakitnya.

“Kau yakin kau baik-baik saja?”

Tak tahu kenapa Donghae langsung melepaskan tangan ibunya. Ia beralih pada rantang makanan di atas meja.

“Aku rasa………aku ingin mencicipinya.”

Kalimat kedua yang ia ucapkan terasa lebih meyakinkan dan tak seberat sebelumnya. Ia pun hanya diam menunggu-nunggu apa yang kiranya akan dilakukan ibunya. Biasanya ibunya ingin menyuapi, tapi ia selalu menolaknya. Dan sekarang….ia ingin sekali mengatakan bahwa ia ingin tahu rasanya bagaimana disuapi oleh seorang ibu.

Seakan paham apa yang ada dalam benaknya, tangan ibunya sudah bergerak lincah. Rantang makan sudah ada dipangkuannya. Ia ambil sendok kemudian mulai mengarahkannya pada Donghae. Awalnya Donghae hanya menatapnya. Ia pernah melempar sendok itu. Ia pernah melemparnya hingga terkena bahu ibunya. Tapi sekarang….ia justru membuka mulutnya. Ia terima suapan pertama dan ia mulai tak bisa mengontrol tangisnya sendiri.

Pada suapan-suapan berikutnya ia dan ibunya menangis dan tersenyum bersamaan. Ia bisa merasakan makanannya sedikit asin karena air matanya. Namun, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Sesekali Donghae akan mengusap air matanya hingga jatuh lagi dan begitupun seterusnya. Air mata itu semakin sulit dibendung kala ia melihat ibunya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibunya saat ini. Dan setelah suapan terakhir selesai, tangis mereka berhenti.

“Baiklah, ibu tidak ingin mengganggu istirahatmu lagi. Ibu akan pergi.”

Setelah mengemasi rantangnya, wanita itu bergegas keluar. Donghae dapat melihat ibunya berusaha keras menahan tangis dan itu membuatnya refleks berseru, “Ibu!!!”

Langkah ibunyapun terhenti. Sebelum ibunya menoleh, Donghae lekas-lekas berkata, “Datanglah lagi besok.”

Tanpa kata-kata, ibunya sudah berlari keluar. Donghae sendiri hanya bisa diam di tempat tidurnya. Ia sungguh ingin memeluknya. Ia sungguh ingin mencium keningnya. Kapan ia bisa melakukan itu semua?

****

Amy sedang berkumpul dengan teman-teman bandnya di café saat handphonenya berbunyi pelan. Ada pesan masuk dari Kyuhyun yang berisi sebuah link. Ia lalu membuka link tersebut dan muncullah sebuah situs musik.

“Oh…lagunya sudah keluar? Jam berapa ini?”

Amy bertanya entah kepada siapa dan ia baru sadar bahwa hari sudah sangat larut. Jam dua belas lewat sepuluh menit.

“Sepertinya aku harus pulang. Sampai jumpa besok!!”

Amy bergegas keluar dari café dan masuk ke dalam mobilnya. Sebelum ia menyalakan, ia memasang earphone lalu mendengarkan lagu yang ada disitus tersebut.

“Baiklah….aku harus akui bahwa kau punya lagu yang sangat bagus kali ini,” ujarnya pada Kyuhyun yang ada di layar handphonenya. Kyuhyun tersenyum tiga jari difoto itu. Dan sepertinya ia tak perlu menahan pujian itu lagi karena Kyuhyun langsung menghubunginya.

“Ha..”

“Kutebak kau sedang mendengarkannya. Bagaimana? Kau punya kritik?”

Amy berlagak mengelus dagunya.“Hmm…kau mau aku berkata jujur atau tidak?”

“Tentu saja kau harus jujur. Tapi kalau kau ingin menghinaku, sebaiknya kau sedikit berbohong untuk menyenangkanku.”

Amy tertawa pelan. Ia suka sekali mendengar nada bicara Kyuhyun yang seperti anak kecil.

“Baiklah, aku akan berkata jujur dan aku harus akui bahwa lagumu sangat bagus. Apa hasilnya juga bagus?”

“Tentu saja belum terlihat. Ini masih lima belas menit sejak rilis. Tapi aku sedikit cemas. Apa semua orang akan mengatakan apa yang kau katakan?”

Jika terus mendengarkan Kyuhyun, Amy yakin ia tidak akan pulang ke apartemennya, maka ia mulai menyalakan mobil dan mulai menjawab pertanyaan itu.

“Kenapa semua orang harus menyukainya? Selera orang berbeda-beda. Aku rasa lagumu kali ini akan sangat disukai oleh para lansia yang sedang duduk-duduk diteras sambil minum kopi.”

“Amy!! Seriuslah!!!”

“Aku serius. Lagumu bagus. Aku suka. Lagipula apa salahnya kalau para lansia menyukainya? Intinya jangan cemas, apapun hasilnya, aku bangga karena kau sudah bekerja keras untuk album ini. Aku tahu kau jarang tidur belakangan karena persiapannya. Jadi sekarang kau harus tidur dan lihatlah besok aku dan Henry akan datang dishow casemu.”

“Kalian datang?”

“Tentu saja! Aku tidak ada kuliah besok. Kalau Henry…ada ataupun tidak dia pasti akan menurut kalau aku yang meminta.”

“Baiklah, aku akan tidur sekarang. Kau juga harus segera pulang dan tidur. Jangan mengebut!”

“Tunggu! Darimana kau tahu?”

Terdengar tawa pelan diujung sana. Sebelum Amy mendengar penjelasan Kyuhyun, sambungan sudah diputus.

“Apa dia punya cctv dimana-mana?”

Dan sesuai janjinya, Amy benar-benar datang ke show case peluncuran album baru Kyuhyun di Kyunghee University bersama Henry. Amy membawa banner besar bertuliskan ‘pujian’ yang membuat semua mata sempat mengarah padanya. Bahkan ada fans yang menatapnya tajam. Ia sendiri tak ambil pusing. Saat Kyuhyun menyadari kehadirannya dan melihat banner yang ia bawa, ia langsung berseru nyaring, “KYUHYUN!!! SUARAMU SEMAKIN PAYAH!!!”

Wajah Kyuhyun nampak merah setelah membacanya. Amy sendiri tak peduli sekalipun ada seorang gadis remaja yang mendorongnya. Beruntung Henry menyela. Kalau tidak, akan ada aksi saling jambak dan itu bukan hal yang diinginkan oleh Amy.

Suasana yang sempat riuh kembali pecah saat sesi wawancara. Si pembawa acara memberikan banyak pertanyaan dan salah satunya mengarah pada hal pribadi.

“Kudengar kali ini kau lebih banyak menciptakan lagumu sendiri. Dari liriknya, kurasa ini bukan berita bagus. Apa kau ditolak oleh seorang wanita?”

Para gadis langsung heboh. Kyuhyun tersenyum manis lalu melirik Amy.

“Aku belum ditolak, hanya saja….gadis ini terlalu bodoh untuk mengerti apa yang ingin kusampaikan.”

Henry menyenggol bahu Amy keras, “Kau tahu siapa yang dimaksud?”

Amy mendengus, “Jangan menggodaku. Aku tahu apa maksudnya dan aku ini peka.”

“Berarti kau akan menerimanya?”

Amy tak menjawab. Semangatnya untuk mengerjai Kyuhyun lagi langsung musnah. Ia benci jika harus kembali mengingat persoalan yang belum ia temui jawabannya itu. Ia benci jika menyadari bahwa hubungan baik yang mereka jalin selama ini mendapat harapan lebih dari Kyuhyun. Dan ia jadi benci pada dirinya sendiri.

Sisa waktu pada acara itu akhirnya dilewati Amy dalam diam. Sifat cerewetnya mendadak hilang dan ia bergegas pergi setelah acara selesai. Ia tak pedulikan panggilan Kyuhyun. Ia hanya sempat menoleh dan melihat security sudah mengamankannya karena fans siap ‘menyerbu’. Namun ketika ia berbalik, sesuatu mengenai wajahnya.

“Aw..”

“Maaf, nona.”

“Tidak apa-apa.”

Tanpa menghiraukan orang yang ditabraknya itu, ia ambil langkah seribu. Hanya sesaat sebelum ia keluar dari pintu, ia berhenti sejenak untuk melihat orang tersebut. Secara tak sengaja pria itu juga menatapnya dan tersenyum.

“Apa aku pernah bertemu dengannya?”

****

Sudah empat hari berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Donghae. Dengan segala urusan yang tak bisa ia tinggalkan, ia baru bisa menjenguk Donghae lagi sore ini. Dan sekarang ia menemukan hal yang berbeda.

Tidak ada siapapun yang berjaga di depan pintu!

Ini agak aneh. Ada empat orang penjaga yang biasa bergantian berdiri disini. Dua orang bertugas dari pagi hingga sore, sedang dua lainnya bertugas dari malam sampai pagi lagi. Setahu Amy, pihak rumah sakit tak mau membiarkan pintu dalam keadaan tak terjaga bahkan satu detik pun. Jika mereka lapar atau kebetulan ingin sama-sama buang air, salah satunya harus mengalah dulu. Lalu…kemana mereka saat ini?

Ketika ia melihat ke dalam melalui kaca yang ada pada pintu itu, ia justru lebih terkejut lagi. Nyonya Jae Gum nampak duduk dikursi dekat tempat tidur Donghae. Wanita itu sedang menyiapkan makanan dan Donghae hanya diam menatapnya.

Amy tersenyum. Sepertinya ia harus sedikit turun tangan.

“Selamat sore!!!” serunya dengan riang. Disapanya dua orang itu bergantian dan ia hampir memeluk Donghae kalau saja pria itu tak mendadak cuek lagi dengannya.

“Amy, kebetulan kau datang. Kau bisa makan bersama kami. Aku membawa banyak sup ayam hari ini.”

“Tidak perlu, aku sudah makan dan aku masih kenyang. Tapi…aku ingin mencicipinya sedikit, boleh?”

Amy mendekat saat wanita itu mengarahkan sesendok sup lengkap dengan sayurannya ke mulutnya. Dan setelah ia menelannya, mendadak ia merasa lapar.

“Wah…enak sekali. Aku boleh makan?”

“Cihh”

Terdengar decak kesal dari Donghae dan Amy tak menghiraukannya. Ia dan Nyonya Jae Gum sibuk berdua dan makan dengan lahapnya. Sementara Donghae perlu berdehem untuk menarik perhatian mereka.

“Ehem..kurasa aku belum mendapatkan apapun sejak tadi.”

Sontak ibunya sadar kemudian menyodorkan semangkuk sup pada Donghae. Donghae menerimanya dan makan dengan tenang. Adegan itu jelas tak luput dari pengamatan Amy. Ia jadi penasaran apa kiranya yang sudah mereka bicarakan selama ia belum datang dan selama empat hari ke belakang. Apa Donghae benar-benar sudah berubah?

“Selama aku tidak kemari, apa aku melewatkan sesuatu?” tanya Amy setelah menyelesaikan makannya. Nyonya Jae Gum tersenyum. “Semua berjalan dengan normal dan kondisi Donghae semakin baik.”

Dari caranya bicara, Amy semakin yakin bahwa Donghae sudah memperlakukan ibunya dengan baik. Kalau tidak, sekarang Donghae pasti sudah mengacuhkan mereka, menolak makanannya lalu mereka diusir keluar.

“Aku tak melihat bodyguard lagi di depan. Kemana mereka? Maksudku….bukankah ada seekor singa menyebalkan yang harus mereka jaga?”

Terdengar bunyi sendok yang dipukul pelan ke mangkuk. Amy menahan tawanya lalu mengabaikan itu.

“Mereka berdua meminta ijin untuk pergi sebentar. Ada hal penting yang menurut mereka tidak bisa ditinggalkan,” jawab Ibu Donghae tenang.

“Kenapa nyonya mengijinkannya?”

“Apa kau tidak bisa berhenti bertanya?” sambar Donghae kesal.

Amy diam. Ia menjulurkan lidahnya pada Donghae lalu melanjutkan obrolan serunya dengan Nyonya Jae Gum. Semua berlangsung normal sampai akhirnya Amy menemukan ide biasa yang cemerlang.

Ia ragu kalau hubungan ibu dan anak ini sudah benar-benar membaik. Atau jangan-jangan….Donghae hanya memiliki sedikit kemajuan dengan tidak melempar makanan ibunya. Ia rasa itu sangat payah.

Maka ia berdiri, berlagak menginginkan semanguk sup lagi. Tanpa sempat Nyonya Jae Gum bergerak, ia lebih dulu mengambilnya sendiri lalu dengan tingkah ‘tak sengaja’ menumpahkannya ke pakaian wanita itu.

“Ibu!!”

“Ah, maafkan aku. Maafkan ak…”

Permohonan maaf Amy tersendat ketika Donghae melompat dari tempat tidur lalu memeriksa keadaan ibunya. Ia bertanya dengan panik. Apakah ada yang terluka? Apakah panas? Apakah perlu memanggil dokter? Dan tentu saja ia juga marah-marah pada Amy.

Amy sendiri hanya tersenyum tiga jari. Ia yakin seratus persen supnya sudah tak terlalu panas dan ia hanya menumpahkan sedikit saja. Kalaupun ada hal perlu disayangkan, itu adalah supnya yang enak dan juga pakaian yang dikenakan Nyonya Jae Gum.

“Kenapa kau malah tersenyum? Kau hampir melukai ibuku!”

Amy masih saja tersenyum. Ia diam saja hingga perlahan Donghae menyadarinya sendiri. Donghae terdiam saat tangan ibunya hinggap dipipinya.

“Kau…..mengkhawatirkanku?”

Donghae menelan ludahnya. Perlahan-lahan tangan ibunya membimbing wajahnya agar berhadapan dengannya.

“Apa Donghaeku sudah kembali?”

Donghae masih tak menjawab. Ia biarkan air matanya jatuh dan ia tak melakukan apa-apa saat ibunya menangis.

Amy pun geram. Dengan sengaja ia menyenggol bahu Donghae hingga terdorong ke depan dan nyaris tak berjarak dengan ibunya sendiri. Dan menit berikutnya….jarak itu terhapuskan. Donghae menarik ibunya dalam dekapan yang sangat erat lalu menumpahkan segalanya.

Donghae dan ibunya menangis bersama. Sesekali Donghae akan melepasnya dan menghujani wajah ibunya dengan kecupan yang diselingi dengan permintaan maaf.

Maafkan aku. Maafkan sikapku. Maaf atas perlakuanku. Maaf atas kata-kataku. Maaf atas semua dosaku dan maaf jika ini terlalu terlambat.

Perkataan Donghae jadi tak begitu jelas setelahnya. Ia mengatakan hal-hal aneh hingga ibunya harus menghentikannya.

“Tak ada yang perlu kau ucapkan dan tak ada yang perlu ibu maafkan. Ibu hanya ingin mengatakan terima kasih. Terima kasih karena sudah mau kembali.”

Sekali lagi mereka berpelukan dan Amy pun mundur perlahan. Tugas kecilnya sudah selesai dan ia tak punya kapasitas apa-apa lagi disini. Namun, sesuatu menahan kelingkingnya. Ia berbalik dan menemukan Donghae sedang memegang jarinya tanpa melepaskan pelukan ibunya.

Awalnya Amy akan melepaskannya. Tapi kemudian Donghae tersenyum padanya. Senyum yang membuatnya tak bisa kemana-mana.

****

Kyuhyun menutup ponselnya dengan seutas senyum. Ibunya menelpon dan tak ada kalimat yang jelas yang ia dengar selain tangisan. Satu-satunya yang ia mengerti adalah….Donghae sudah kembali.

Apakah itu berarti hyungnya berubah? Ia tahu tangis itu adalah tangis yang berbeda dengan tangis yang kerap ia dengar beberapa bulan ke belakang. Yang ia dengar dan rasakan adalah luapan bahagia dari seorang ibu yang baru menemukan anaknya.

“Sedang memikirkanku?”

Ia menoleh. Amy duduk disebelahnya lalu meluruskan kedua kakinya. Mereka sedang duduk di bawah pohon yang ada di belakang rumah Kyuhyun. Ini bukan tempat favorit mereka jika ingin bertemu. Tapi Amy lah yang pertama kali berkata bahwa duduk disini sangatlah menenangkan.

“Darimana kau tahu aku disini?”

“Aku menelponmu tapi selalu sibuk. Kutelepon ke apartemen tidak diangkat. Kutelepon managermu dan dia bilang kau sudah pulang. Jadi kutelepon kemari. Pelayanmu bilang kau sedang melamun disini.”

“Aku tidak melamun. Aku hanya sedang ingin menghirup udara luar.”

“Apapun itu. Kebetulan aku juga ingin kesini.”

“Ada yang ingin kau sampaikan? Kau nampak senang sekali.”

Amy diam. Ia pandang rumah Kyuhyun yang besarnya luar biasa. Sayang sekali Kyuhyun tidak menempatinya.

“Kamarmu lantai berapa? Aku lupa.”

Kyuhyun mendengus kesal. “Aku rasa bukan itu yang ingin kau katakan.”

“Baiklah. Sebenarnya aku juga tidak tahu harus mengatakan apa. Aku hanya….sedang gembira. Dan aku ingin membaginya denganmu. Kau pasti kehilangan senyummu karena posisi nomor satumu hanya bertahan satu hari.”

Wajah Kyuhyun semakin memerah. “Kau hanya memperburuk suasana hatiku jika membahasnya.”

“Hahaha, makanya aku kemari. Kau harus tersenyum sepertiku.”

“Apa aku punya alasan untuk itu? Kau sendiri? Apa alasanmu?”

Amy memandang jauh ke depan. Ia jadi bingung.

“Entahlah. Ada hal bagus yang terjadi tapi aku rasa bukan itu yang membuatku bahagia. Ada sesuatu yang……tidak kumengerti.”

“Dan aku tak mengerti apapun yang kau katakan.”

Amy semakin melebarkan senyumnya lalu menyandarkan kepalanya ke batang pohon di belakang. Tak lama Kyuhyun mengikuti dan diam-diam memperhatikan lekukan wajah Amy. Cahayanya tak cukup terang. Tapi Kyuhyun hampir yakin bahwa ia melihat cahaya disekitar wajah Amy.

Beberapa menit berikutnya mereka hanya diam. Amy memejamkan matanya dan merasa sangat tentram. Hingga Kyuhyun menyebut namanya, matanya terbuka.

“Hm?”

“Apa kita akan bisa melalui saat-saat seperti ini ketika tua nanti?”

“Tentu. Kau dengan tongkat dan cucumu. Aku dengan selendang dan cucuku. Kita duduk disini dan melihat bintang. Kurasa itu sangat menyenangkan,” ungkap Amy dengan seulas senyum diwajahnya.

Kyuhyun tak langsung menjawab. Amy baru akan kembali memejamkan matanya saat telapak tangannya tiba-tiba beralih ke genggaman Kyuhyun. Ia beranikan untuk menoleh ke samping dan menemukan Kyuhyun sedang tersenyum padanya.

“Aku harap begitu. Aku harap kita akan bisa melalui saat-saat seperti itu.”

Perlahan Amy kembali memejamkan matanya dan berusaha melenyapkan kegelisahannya akibat perkataan Kyuhyun. Namun, ada seseorang yang memaksa masuk dalam pikirannya. Bukan Kyuhyun atau siapapun yang dekat dengannya. Melainkan seseorang yang baru saja dikenalnya.

***

Max berjalan tenang disepanjang koridor. Senyumnya mengembang kala tak menemukan siapapun berjaga di depan pintu ruang rawat Donghae.

Suasana hatinya sedang baik sejak pagi. Ia berbincang banyak dengan ibunya. Ia lalu mendapat laporan bahwa pendapatan perusahaan menanjak setelah Kyuhyun menjadi model produknya. Dan sekarang….ia siap menjemput ‘adik’ kesayangannya.

Begitu tiba, dilihatnya pria itu sedang duduk dipinggiran jendela.

“Langitnya memang sangat indah malam ini,” ujarnya sambil melonggarkan dasi. Donghae menoleh cepat padanya dan nampak kurang bersahabat.

“Hm..apa kau marah padaku? Baiklah, maaf atas kejadian waktu itu. Salahkan saja wanita itu. Helikopterku tidak mungkin menunggu lebih lama.”

Max duduk di sofa. Ia agak bingung melihat Donghae yang tak menanggapinya. Ia pikir Donghae akan langsung mengemis padanya saat ia membuka pintu. Maka ia berdiri, mengurungkan niatnya untuk berbaring sejenak. Ia dekati Donghae lalu kembali bicara.

“Aku tidak tahu kau bisa semarah ini. Tapi aku kemari membawa kabar baik. Aku akan membawamu pergi sekarang.”

Max tersenyum lebar dan yakin Donghae akan kegirangan mendengarnya. Namun, setelah dua puluh detik berlalu, Donghae masih saja diam. Hilang kesabaran, ia tarik kerah baju Donghae.

“Apa kau tuli? Aku sedang bicara denganmu dan aku kesini untuk membebaskanmu.”

Donghae menatap tangan Max yang berada dilehernya. Dengan tenang ia melepaskannya lalu kembali berbalik.

“Aku mundur.”

“Apa maksudmu?”

“Perkataanku cukup jelas. Aku mundur. Aku mundur dari duniamu.”

Max tersenyum, tertawa pelan lalu tertawa sangat keras.

“Kau berhasil membuatku tertawa. Tapi aku sedang tidak punya waktu unttuk bergurau. Selagi tak ada siapapun diluar dan situasi aman, ikutlah denganku. Pesta sudah menunggumu.”

Donghaer berbalik. Ia pandang Max dengan dingin dan itu berhasil membuat Max kehilangan senyumnya.

“Aku…mundur. Aku….berhenti. Dan aku…keluar.”

Donghae buang muka. Ia bergegas menutup jendela, tirainya dan akan naik ke tempat tidur. Tapi Max langsung menarik lengannya.

“Jangan mengatakan hal bodoh seperti itu dan kau tahu kau dilarang keras mengatakannya didepanku.”

“Lalu aku harus mengatakannya di belakangmu? Atau aku harus memperjelasnya lagi? Kurasa kau cukup pintar untuk memahami apa yang keluar dari mulutku.”

“Donghae!!!!”

“Jangan paksa aku lagi dan silahkan kau pergi dari sini.”

“Kau berani mengusirku?”

“Aku mempersilahkanmu dengan hormat. Dan kau masih harus berterima kasih padamu karena sampai saat ini aku belum mengatakan apapun pada polisi.”

Max menahan emosinya. Ia lepaskan tangan Donghae lalu merapikan pakaiannya. Tangannya masuk ke dalam saku hingga keluarlah sebuah bungkusan kecil berwarna putih yang berhasil membuat Donghae gelisah.

“Kenapa? Tergoda?”

“Max! Jangan mendekat!!”

“Bukankah kau sangat merindukannya? Aku kemari juga ingin membawakanmu barang ini. Aku sangat tahu dan paham bahwa tubuhmu sangat menginginkannya. Apa kau masih mau menolak?”

Max semakin dekat. Donghae pun kehabisan langkah setelah tertahan dengan tempat tidurnya.

“Jangan munafik dan jangan menyakiti dirimu sendiri. Ambillah.”

Donghae mengepalkan kedua tangannya dan sudah akan menonjok wajah Max. Namun, pria itu lebih sigap mendekatkan bungkusan tersebut tepat ke wajahnya lantas mulai membisikkan rayuan.

“Aku yakin kau belum melupakan aromanya. Kau pasti masih mengingatnya. Coba kau bayangkan jika kau menghisapnya. Bayangkan jika aku menyuntikkannya ke tubuhmu. Bayangkan sensasinya. Kenikmatannya. Setelah itu…..kau akan aman bersamaku.”

Donghae memejamkan matanya erat-erat. Ia sulit menolaknya. Ia tak bisa berbohong bahwa ia ingin sekali merampas benda itu lalu menyatukannya dengan tubuhnya. Ia membutuhkannya!

Tapi kemudian ia teringat dengan tangis ibunya. Ia teringat pelukan mereka yang jelas jauh lebih dibutuhkannya dibanding apapun. Maka dengan satu tarikan nafas panjang, ia dorong Max dengan kuat.

“Singkirkan benda itu dan cepat pergi dari sini! Pergi sebelum aku berpikir untuk melaporkanmu ke polisi!!”

Max murka. Ia ambil barangnya yang sempat terjatuh lalu merapikan jasnya.

“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi kupastikan, saat aku kembali nanti…kau pasti akan mengemis padaku.”

“Dan aku berani pastikan itu tidak akan terjadi!!!”

Max pergi sambil membanting pintu. Sementara Donghae merasa kedua lututnya lemas dan ia merosot ke lantai.

Nyaris saja! Hampir saja ia terperdaya dan kembali pada barang sialan itu. Bagaimana mungkin ia begitu lemah dan bodoh di depannya?

Ia mulai meremas rambutnya sendiri saat mendengar derap langkah kaki yang dilanjutkan dengan seruan seseorang.

“Donghae!!!”

Ia mendongak. Amy dan Kyuhyun datang bersama.

“Hyung, kau baik-baik saja?”

“Donghae, apa yang terjadi?”

Donghae tak bisa menjawab. Ia masih berusaha mengatur nafasnya.

“Biar kupanggilkan dokter!!”

Ia lekas-lekas menahan Amy yang hendak berdiri. Ia pegang erat tangannya kemudian menggeleng.

“Aku tidak apa-apa.”

Amy dan Kyuhyun berpandangan. Mereka sepakat membantu Donghae berdiri lalu membaringkannya. Keringat mengucur deras dari wajah Donghae meski nafasnya sudah mulai membaik.

“Aku akan menghubungi orang-orangku diluar,” ujar Kyuhyun.

Amy mengangguk. Kyuhyun keluar sambil meletakkan handphonenya ditelinga. Namun, setelah ia berada di luar, ia menurunkan handphonenya yang kemudian masuk ke dalam saku celananya. Ia bersandar sesaat kedinding sebelum akhirnya diam-diam melihat ke dalam.

Ia mungkin belum mendengar apa-apa sejauh ini. Tapi perasaan dan matanya belum buta. Ia bisa melihat dan merasakan ada perbedaan pada Amy jika sedang bersama Donghae. Amy yang sedang memegang tangan Donghae. Amy yang sedang mengusap keringat Donghae. Dan Amy yang sedang menatap khawatir pada Donghae.

Ingin ia menepis pikiran konyolnya. Tapi dibanding mengkhawatirkan keadaan Donghae yang seperti itu, ia justru lebih khawatir dengan mereka.

Apa ia sudah salah mengambil keputusan dengan mengenalkan Amy pada Donghae? Dan apa ia salah jika ia takut kehilangan Amy?

***TBC***

1 Comment (+add yours?)

  1. silver
    Sep 17, 2016 @ 21:38:49

    kyaaa!!! ya ampun, dikirain donghae nya kabur beneran, ternyata kembali ke rumahsakit dan sudah merubah sifat nya kepada ibunya..
    ditunggu kelanjutannya ya..
    semoga donghae am amy bisa bersama,tp kyuhyun nya kemanain??
    KEREN..
    *sorry kepanjangan ^^v*

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: