What If [7/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

****

Max menggoyangkan lonceng kecil yang tergantung dijendela kamarnya. Ia goyangkan beberapa kali sampai suara gaungnya berhenti sendiri. Ia lalu duduk dipinggiran jendela melihat ke halaman rumahnya yang luas. Ada banyak tanaman yang dirawat oleh para pelayannya disana. Ketika ia punya waktu luang, maka ia akan menyiramnya atau memberinya pupuk.

Ia sengaja membuat jendela kamarnya tepat menghadap ke taman agar ia bisa selalu melihatnya sebelum tidur. Melihat bunga-bunga itu, bisa membuat perasaannya membaik.

Namun, sudah cukup lama ia tidak menengoknya. Ia terlalu sibuk dengan segala urusannya sampai tak tahu lagi apakah ada bunga yang baru tumbuh atau ada berapa buah kelopak yang rontok. Apalagi sudah masuk musim gugur. Sepertinya hari minggu nanti ia akan mengosongkan semua jadwal dan memantau tanamannya.

Andai ibunya bisa menemaninya. Ibunya pasti bangga karena anaknya yang dulu adalah anak nakal ini bisa merawat bunga-bunga itu sebagaimana yang dulu ibunya lakukan. Sekarang semuanya sudah berbeda. Ia tak bisa atau takkan pernah bisa melewati hal-hal semacam itu dengan ibunya. Ibunya sekarang lebih suka berada di kamar di depan televisi dengan channel yang itu-itu saja.

Tak cukup banyak hal yang bisa ia ingat dari ibunya dimasa lalu. Saat itu ia masih sangat kecil. Satu-satunya yang masih sangat jelas dalam ingatannya hanyalah sedikit tawa dan banyaknya tangis dari ibunya. Dan ia…adalah satu-satunya orang yang selalu mengusap air mata itu.

Kapan ia bisa membuat ibunya tertawa lagi?

Ia masih asyik dengan lamunannya saat handphonenya bergetar. Dengan malas ia mengambilnya.

“Hallo.”

“Aku ingin kita bertemu besok siang. Di kantorku.”

Max tersenyum senang. Suara Cho Min Sook terdengar pelan dan lemah. Ia bisa merasakan bahwa satu kakinya sudah menapak ke surga.

“Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku.”

Sambungan langsung diputus secara sepihak oleh Cho Min Sook. Max tak peduli. Senyumnya semakin mengembang kala ia melihat ada pesan masuk dari seseorang. Isinya singkat saja. Tapi itu mampu membuatnya merasa bahwa pintu surga benar-benar ada di depan mata. Ia pun membalasnya dengan singkat juga.

“Lanjutkan.”

****

Amy duduk bersila di sebelah Donghae sambil menyerahkan satu cup kopi susu yang ia beli dari sebuah kedai. Donghae menerimanya. Ia tak langsung meminumnya, melainkan diperhatikannya dengan teliti.

“Kau beli dimana?”

“Di kedai itu!”

“Bersih?”

“Tentu!”

“Bebas racun?”

Alis Amy naik. “Menaruh racun rasanya masih terlalu mudah. Aku tidak mau kau mati segampang itu.”

Tak ingin memperpanjang debat yang sebenarnya tak pernah usai sejak mereka memutuskan pergi, Donghae menghirup kopinya sedikit demi sedikit. Ia nikmati tiap tetesnya yang mengalir melalui tenggorokan. Dan rasanya nikmat sekali. Kapan terakhir kali ia bisa merasa begitu senang hanya dengan segelas kopi?

Kurang lebih satu jam mereka mengelilingi kota. Mulai dari sekedar jalan-jalan mengitari taman, sampai ikut bernyanyi dengan pemusik jalanan. Semuanya Amy yang menentukan. Amy yang mengajaknya melempar batu pada sepasang muda mudi yang nyaris berciuman. Amy yang menariknya ke tengah untuk bernyanyi dan membuat orang-orang mengerumuni mereka.

Dan setelahnya, mereka duduk di pinggir jalan seperti ini. Donghae masih menghirup kopinya sambil melihat-lihat ke seberang jalan. Ia diam. Ia tak sedang bersemangat beradu mulut dengan Amy. Ia ingin menikmati tiap detik yang ia lewati dalam hening meski situasi disekitarnya sama sekali tak bisa disebut lengang.

Ia memperhatikan kesibukan itu. Sudah jam dua belas tapi orang-orang masih ramai lalu lalang di jalan. Ada yang berboncengan sepeda dengan mesra, ada yang berjalan berpegangan tangan, ada pula yang sama-sama sibuk dengan gadgetnya. Tak ada hal serius yang ia temui. Tapi menyaksikan semuanya membuatnya semakin merasa sehat dan beruntung sebagai manusia yang punya banyak dosa.

“Apa rencanamu selanjutnya?” Amy bertanya pelan. Donghae mengetuk-ngetuk cup kopinya sambil berpikir. Jujur saja, ia sama sekali tidak tahu apa yang akan ia lakukan ke depannya. Satu-satunya yang terlintas hanyalah ia ingin membantu ibunya di toko. Tapi sepertinya itu tak sesuai.

“Aku tidak tahu. Dulu aku hanya terpaksa bekerja karena butuh uang untuk membeli barang itu. Aku tak pernah bertahan lama bekerja disuatu tempat. Terakhir aku mengangkut barang-barang di supermarket, hanya bertahan seminggu. Aku dipecat.”

“Karena?”

“Sederhana. Aku hanya tidur disaat orang-orang bekerja.”

Amy menepuk pelan kepalanya. Bukan hanya apa yang ia dengar yang membuatnya geleng-geleng kepala, melainkan dari cara Donghae menceritakannya yang tak terdengar seperti sebuah penyesalan sama sekali.

“Aku pernah berpura-pura menjadi polisi dan meminta uang dari seorang pengendara motor. Aku masih ingat wajah pria itu yang sangat polos. Ia percaya saja saat kukatakan ia melanggar rambu-rambu. Entah dia yang bodoh atau aku yang terlalu pintar, ia menyerahkan uangnya padaku agar aku tak memboyongnya ke kantor polisi.”

Donghae tersenyum sendiri membayangkan kembali kejadian konyol itu. Ia hanya iseng mencuri pakaian seorang polisi lalu memakainya. Tadinya ia ingin bermain-main saja, tapi aksinya berbuah hasil dan ia bisa makan dengan kenyang saat itu. Bahkan ia bisa menambah stok ‘barang’nya dari Max.

“Sebaiknya kau mulai mencari pekerjaan dengan serius. Ibumu pasti bangga jika kau bisa memegang sebuah tanggung jawab,” ujar Amy serius.

“Pekerjaan?”

Amy mengangkat bahunya. “Kau laki-laki, tidak mungkin kau hanya duduk di rumah menunggu ibumu pulang dari toko atau sekedar membantunya. Kau harus berbuat lebih.”

“Jika yang kau maksud adalah soal uang, aku bisa mendapatkannya dimanapun. Kau lihat pria yang memakai topi di sebelah sana?” tunjuk Donghae pada seorang laki-laki kisaran usia 30-an yang duduk di kursi di depan sebuah toko roti. Amy ikut memperhatikannya.

“Aku bisa mengambil dompetnya jika kau meminta.”

Amy lekas-lekas menoleh padanya lalu menjitak kepalanya. “Dasar bodoh! Aku pikir kau sudah mulai waras!”

Donghae mengusap-usap kepalanya yang terasa nyeri. Jitakan Amy tidak main-main.

“Aku hanya bercanda. Aku tahu aku harus bekerja. Tapi…apa yang bisa kulakukan?”

“Banyak hal yang bisa kau lakukan. Mau kutemani? Besok aku tidak ada kuliah. Kita bisa berkeliling mencari pekerjaan.”

Koreksi jika tebakannya salah, tapi Donghae hampir yakin bahwa Amy terdengar begitu bersemangat saat mengatakannya. Amy yang bertanya apa rencananya, Amy pula yang memberinya solusi, dan pada akhirnya Amy juga yang menawarkan diri untuk membantu. Ia tatap gadis itu dengan seduktif.

“Kenapa kau?”

“Sepertinya kau tidak bisa jauh-jauh lagi dariku. Apakah yang tadi itu adalah sebuah permohonan? Baiklah, aku setuju karena aku tidak mau mengecewakanmu.”

Amy menjauh. Lekas-lekas ia hirup kopinya sampai habis lalu membuangnya ke tong sampah. Ia tak mau menatap Donghae. Tidak mau.

“Aku..hanya memberikan salah satu solusi.”

Donghae tak menanggapi. Ia memilih melanjutkan kegiatan awalnya memperhatikan kesibukan di jalan. Dan tiba-tiba saja sebuah ide terlintas dikepalanya.

“Kau tahu? Semua kedai di sana sudah pernah merasakan tangan dinginku.”

“Maksudmu?”

“Aku sering mencuri makanan mereka.”

Amy tersenyum. Sama sekali tak terdengar seperti sebuah prestasi, tapi cara Donghae mengatakannya seperti ia bangga sudah melakukan itu.

“Tak pernah ketahuan?”

“Belum pernah sekalipun. Kalaupun ada yang melihatku, mereka memilih diam.”

“Kenapa begitu?”

“Karena mereka takut padaku.”

Amy tersedak dan itu membuat Donghae geram. “Kau meragukanku?”

“Aku hanya sedang berpikir apa yang mereka takutkan darimu. Kau marahpun aku tidak takut.”

“Sebaiknya kau tidak mengetesku jika tidak ingin kecewa.”

Amy diam. Ia berusaha mengendalikan tawanya yang sempat menyembur. Ia pandang kedai-kedai kecil di depan sana hingga akhirnya Donghae berseru.

“Mau ikut beraksi denganku?”

Amy sempat bingung tak memahami maksudnya. Tapi apa yang terjadi kemudian membuat matanya membulat. Mereka tahu-tahu sudah ada di depan kedai yang berada paling ujung. Donghae meliriknya lalu menyeringai. Dalam sepersekian detik, sebuah kotak makanan sudah berpindah tempat ke tangan Donghae.

“Hey, kau!”

Donghae menariknya lagi. “Kau sudah memperlihatkan banyak hal padaku. Sekarang biar kuperlihatkan padamu…bagaimana caraku.”

Sebelum Amy sempat melarangnya, Donghae sudah bergerak gesit mengambil satu persatu makanan dari atas meja. Dan lima detik berikutnya Donghae sudah memegang sekantong makanan siap saji dari semua kedai itu.

“Kau gila!” hardik Amy.

“Aku rasa aku baru saja melakukan hal paling normal. Kita tidak berlari-lari konyol atau mengganggu orang pacaran.”

Donghae duduk lagi di tempat semula. Ia buka kantongnya dan mengambil sebuah kotak. Begitu dibuka, ternyata isinya adalah hotbar yang masih hangat.

“Aku tidak menawarimu atau melarangmu. Tapi sepertinya aku baru saja mendengar suara aneh dari perutmu,” ujar Donghae disela-sela kunyahannya. Ia makan seperti orang kesetanan tak peduli dengan Amy yang menelan ludah berkali-kali. Donghae tahu Amy gengsi. Amy pasti anti dengan makanan yang didapat bukan dari cara yang benar seperti ini.

“Kau……” Amy menarik nafasnya. Setelah berdebat sendiri, akhirnya ia duduk dengan kesal lantas mengambil makanan yang lain dari kantong itu. Dan berita baiknya, ia mendapatkan salah satu makanan kesukaannya. Topokki.

“Lihat apa yang bisa kau dapatkan dengan duniaku?”

“Aku harap ini adalah hal bodoh pertama dan terakhir yang kulakukan.”

Donghae tersenyum diam-diam. Ia memang senang bersama Amy, tak peduli secerewet apapun gadis itu, tak peduli sekonyol apapun kelakuannya. Tapi sepertinya ia merasa lebih senang jika Amy berhasil dikalahkannya.

Seperti ini.

****

Cho Min Sook duduk dengan tegang dikursinya. Sejak Max datang dan menyapanya, ia harus mati-matian menahan diri agar tangannya tak menghantam wajah itu.

“Rilekslah sedikit, tuan Cho. Atau kau ingin buang air?”

Cho Min Sook menghembuskan nafasnya pelan lalu mulai meregangkan tangannya. Menghadapi orang licik sepertinya, rasanya otot bukanlah sebuah solusi.

“Bisakah kau jelaskan siapa kau sebenarnya?”

Max menghirup tehnya. Ia tersenyum dengan bangga seakan pertanyaan itu sangat ia nantikan.

“Apakah aku cukup membuatmu penasaran, tuan? Sebaiknya kau harus bisa lebih bersabar lagi karena aku tidak berencana mengatakannya sekarang. Yang bisa kukatakan sekarang hanyalah……”

Mereka bertatapan. Cho Min Sook tak sadar ia menahan nafasnya beberapa detik sebelumnya akhirnya Max melanjutkannya.

“Aku hanyalah sebagian kecil dari masa lalumu yang mungkin tak pernah kau sadari kehadirannya.”

Cho Min Sook berusaha tenang. Ia berlagak tak terkejut ataupun berpikir. Sekarang ia akan mengikuti kemauannya lebih dulu. Tapi setelah orang-orangnya berhasil membongkar identitasnya, ia pastikan Max yang akan bertekuk lutut nantinya.

“Aku rasa kau tidak perlu repot-repot menyuruh detektif ternama untuk mengetahui siapa aku. Karena aku yakin itu akan percuma. Sekarang…..aku lebih tertarik untuk membicarakan kerjasama kita. Sudah siap?”

Max menyeringai. Cho Min Sook kembali tersudut dan diam-diam mengambil pistolnya yang selalu ia simpan dilaci sebagai caranya menjaga diri. Ketika Max lengah dan sibuk menikmati tehnya, ia buka laci lantas mengambil pistol tersebut. Namun, dalam sepersekian detik Max merebutnya lantas balik mengarahkannya ke kepalanya.

“Kau pikir aku bodoh?”

Cho Min Sook terdiam dikursinya. Ia bisa merasakan dinginnya ujung pistol itu yang menempel didahinya.

“Sebaiknya kau tidak menganggapku seremeh ini. Karena aku…..bukan orang biasa seperti yang ada dikepalamu.”

Tak ada suara selama beberapa detik. Pistol mulai diturunkan dan dilemparkan kembali pada pemiliknya.

“Jika kau berani melaporkan ini pada polisi atau siapapun juga, maka rahasiamu akan diketahui semua orang dan peluru pistol itu akan kusarangkan ke kepala Kyuhyun.”

Setelah merapikan jas dan rambutnya, Max berjalan dengan tenang meninggalkan ruangan itu. Ia tebar senyum kepada semua karyawan yang berpapasan dengannya.

Tak lama lagi mereka semua akan menjadi pengikutnya.

******

Donghae tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia berharap perkataannya semalam tidak membuat Amy mundur dari niatnya. Melihat Amy belum juga datang, ia pikir Amy benar-benar batal menemaninya. Ia jadi gelisah sendiri di kamar. Ia bolak balik melongok ke jendela untuk memastikan. Sesekali ia juga melihat jam. Sebaiknya Amy tidak mengecewakannya hari ini yang menghabiskan nyaris satu jam di depan cermin untuk berganti pakaian. Padahal semua pakaiannya sama. Hanya jeans, kaos, jaket, tak ada yang istimewa.

Tapi itu tidak terjadi. Amy menepati janjinya dengan datang bersama mobilnya yang sepertinya baru dicuci. Warnanya nampak mengkilap dan menyilaukan. Bahkan nampak tak ada satu nodapun diban itu.

“Kupikir kau tidak akan datang,” sambut Donghae saat Amy baru turun dari mobilnya.

“Dan kupikir ada seseorang yang begitu menanti kehadiranku sampai-sampai ia harus lari dari lantai atas hanya untuk menyambutku.”

Donghae tersenyum menahan malu. Sepertinya percuma ia berusaha menjatuhkan gadis itu. Selalu ada penangkis yang bisa membuatnya nampak bodoh.

“Jadi kita akan pergi dengan mobilmu?” tanya Donghae berusaha mengalihkan pembicaraan. Namun, Amy justru menutup pintu mobilnya, menekan remote untuk menguncinya.

“Kita jalan kaki. Selain untuk olahraga, kau jelas harus terlihat seperti orang yang benar-benar butuh pekerjaan. Kalau kau datang dengan mobil, siapa yang mau menerimamu bekerja?”

Akhirnya mereka berjalan kaki. Amy mengeluarkan daftar kenalannya yang memiliki sebuah usaha yang mungkin bisa menjadi alternatif. Sepanjang jalan ia tak henti bicara sampai Donghae perlu mengasah telinganya yang mulai panas. Ia tak begitu mendengarkan apa yang dikatakan Amy. Sesekali ia hanya akan menoleh dan melihat kedua tangannya yang bergerak-gerak untuk memperjelas apa yang ia sampaikan.

Dua jam pertama, mereka masih bersemangat sekalipun semua tempat menolak Donghae. Tapi saat hari beranjak siang dan mereka sadar belum makan apapun, semangat itu mulai pudar dan tanda-tanda kegagalan nampak jelas di depan mata.

Mereka singgah ke berbagai tempat usaha dan merayu beberapa orang diantaranya supaya mau menerima Donghae bekerja. Nyaris tak ada tempat yang tak mereka singgahi. Sayangnya semua memilki jawaban yang sama. Maaf.

Ada banyak restoran yang ternyata tak butuh pelayan, office boy atau sekedar tukang lap kaca. Ada banyak perusahaan menolaknya bahkan untuk menjadi tukang fotokopi. Ada banyak pencucian mobil yang menolaknya sekalipun hanya untuk mengelap mobil. Ada banyak supermarket yang menolaknya bahkan sebelum ia mengutarakan niat. Awalnya Amy pikir mereka semua kejam. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Donghae, ia menelan kemarahannya.

“Aku sudah pernah bekerja disana dan hanya bertahan dua minggu.”

“Aku juga sudah pernah mencuri di supermarket itu.”

“Kalau yang itu aku pernah menjatuhkan barang-barang mereka lalu kabur tanpa tanggung jawab.”

“Kalau yang satu lagi aku pernah ketahuan mencuri uangnya. Beruntung aku tidak dilaporkan ke polisi.”

Amy menepuk dahinya. Tak adakah rekor baik yang bisa ia dengar dari seorang Lee Donghae?

Mereka juga sudah melamar ke tempat lain seperti toko boneka, pakaian, tempat laundry, rumah penitipan hewan, salon hewan sampai panti pijat. Dan semuanya tak berhasil. Hanya ada beberapa yang sempat memberi harapan dengan mengetesnya lebih dulu. Sayangnya, Donghae sama sekali tak punya bakat dalam hal apapun –setidaknya itu yang Amy saksikan. Donghae tak bisa mengepel lantai, Donghae tak bisa ramah pada pelanggan, Donghae tak punya pengetahuan apapun soal mesin, Donghae tidak pandai bicara dan Donghae tidak punya ijazah untuk melamar disebuah perusahaan.

“Apa tidak ada satupun yang bisa kau lakukan?” tanya Amy frustasi.

Donghae cuek. Ia menendang batu kecil di jalan.

“Minumlah untuk menyegarkan kepalamu. Aku yang ingin bekerja tapi kau yang pusing. Tenang saja. Aku pasti akan mendapatkannya.”

Amy menenggak minumannya hingga sisa setengah lalu membuangnya. Ia hembuskan nafas berkali-kali untuk meredakan emosinya.

“Sudah sore, kau yakin akan terus menemaniku? Bukankah kau bilang kau punya jadwal di café nanti malam?”

Donghae benar. Amy memang hanya berjanji untuk menemaninya hingga sore karena setelahnya ia harus bersiap-siap ke café, apalagi jaraknya tidak dekat. Maka Donghae menawarkan tangannya. Amy yang duduk di atas tong sampah langsung menerimanya.

“Kita pulang. Besok aku akan melanjutkannya sendirian.”

Amy diam saja. Ia hanya berjalan disisi kanan Donghae sambil berpikir apa kiranya pekerjaan yang cocok dengan Donghae. Kalaupun akhirnya tak ada yang bisa ia kerjakan, Amy sangsi kalau Donghae bisa membantu ibunya ditoko bunga. Bisa-bisa semua pelanggan lari karena perlakuannya yang tidak ramah.

Amy begitu penasaran. Rasanya ia tidak akan bisa fokus bermain dicafe sebelum masalah Donghae selesai. Maka sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobilnya, ia mencetuskan sebuah ide.

“Kau ikut denganku ke café, bagaimana?”

“Untuk apa?”

“Mungkin kau bisa menemukan hal yang bisa kau lakukan disana.”

Butuh waktu beberapa menit bagi Donghae untuk berpikir sampai akhirnya ia setuju untuk pergi. Lagipula kalau boleh jujur ia belum puas jalan-jalan bersama Amy hari ini. Ia pun penasaran sehebat apa kemampuan Amy dalam menabuh drum yang kerap dibangga-banggakannya itu.

“Baiklah. Aku masuk dulu untuk menelpon ibu.”

Setelah mengabari ibunya bahwa ia akan pergi lagi dengan Amy, mereka berangkat. Jam menunjukkan pukul delapan malam saat mereka tiba. Amy langsung bergabung bersama kawan-kawannya lalu membicarakan lagu apa saja yang akan mereka bawakan. Dan setelah bersiap-siap, Amy naik ke atas panggung.

Donghae sendiri memilih duduk di pojokan. Ia memesan segelas susu coklat hangat dan ia meminta agar pelayan menagihkannya pada Amy. Tadinya ia tak merasa ada hal menarik disitu. Semua terlihat seperti café pada umumnya. Menunya biasa, dekorasinya standar, dan sebuah band penghibur. Tak ada yang spesial. Dan sepertinya ia pun takkan mendapat pekerjaan apapun disini. Satu-satunya yang membuatnya tertarik adalah sosok Amy yang sedang bersiap-siap. Ia benar-benar penasaran, apa benar Amy bisa memainkannya?

Dan detik berikutnya ia terdiam. Alat musik itu digebuk keras. Musik mulai terdengar dan dalam sekejab Amy bersenang-senang dengan mainannya.

Donghae tersenyum. Amy menabuh drum dengan semangat. Amy nampak sangat menikmati apa yang ia lakukan dan Donghae suka melihatnya. Sesekali Amy akan menatapnya, memberikan senyum menantang seakan sedang memperlihatkan bahwa satu lagi hal yang bisa dibuktikan padanya.

Hingga Amy memainkan beberapa lagu, Donghae masih setia di tempat duduknya. Bahkan hingga café sudah tutup dan teman-teman Amy bersiap pulang, Donghae belum beranjak. Ia tak begitu suka jenis musik yang dimainkan Amy dan tak punya kemampuan apapun dibidang itu. Tapi melihat dan mendengar permainan Amy, ia mendadak jadi suka dan tidak bosan.

Amy sendiri tak langsung mengajak Donghae pulang. Donghae melihatnya ke suatu ruangan dan baru muncul beberapa menit setelahnya. Amy dan seorang wanita dewasa nampak terlibat suatu obrolan serius. Setelah selesai, barulah Amy mendekatinya.

“Maaf.”

“Untuk?”

“Aku tadinya berpikir kau akan mendapat pekerjaan disini. Tapi dia mengatakan bahwa kemarin mereka baru saja merekrut pelayan dan office boy.”

Donghae berdiri. Ia sama sekali tak menyesal, sedih atau perasaan semacam itu mendengarnya. Ia justru ingin berterima kasih sudah membawanya kemari dan menyenangkannya sepanjang hari.

“Kita pulang. Aku sudah mengantuk dan sebaiknya besok kau tidak mengajakku kemanapun. Aku ingin tidur sepuasnya.”

Tak ada yang meminta, Donghae sudah menarik tangan Amy lalu digiringnya ke mobil. Donghae tak tahu kenapa, tapi rasanya menggenggam tangan Amy seperti ini adalah hal normal. Satu-satunya yang menganggap hal tersebut tidak normal adalah Kyuhyun.

Ia duduk di dalam mobilnya sambil meremas stir mobil. Sejak beberapa jam lalu, tepatnya saat Amy juga tiba di café, ia sudah ada disana. Tadinya ia akan langsung turun lalu menonton pertunjukannya. Tapi siapa orang yang keluar dari mobil itu membuat kedua kakinya kaku.

Donghae keluar. Donghae dan Amy masuk bersama dan baru keluar beberapa jam setelahnya dengan Donghae yang menggandeng erat tangan Amy. Dimana bagian yang bisa ia sebut normal?

Belakangan karena kesibukannya, ia jadi tak punya cukup waktu untuk Amy. Mereka jarang bicara, mereka jarang bertemu dan hanya berkirim pesan. Itupun atas inisiatifnya, bukan Amy. Meski sebelumnya hubungan mereka memang seperti itu, tapi kali ini ia tak merasa sama dengan fakta bahwa ada orang lain yang kerap bersamanya.

Ia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Donghae ataupun Amy. Ia kenal Amy cukup baik dan ia tahu gadis itu akan terjun langsung secara utuh dalam sesuatu yang menurutnya penting. Amy yang memaksanya agar diperbolehkan mendekati Donghae. Sedang Donghae sendiri terlalu kesepian untuk menolak suatu hubungan pertemanan baru. Lalu..apakah ini salahnya karena membuka jalan bagi mereka?

Sebenarnya ada hal lain yang sampai saat ini masih berkelebat dikepalanya, yakni seputar perubahan besar Donghae. Ia memang senang mendengar berita itu dari ibunya pertama kali. Tapi ibunyapun tak bisa menjelaskan apa yang membuat Donghae berubah. Butuh suatu keajaiban luar biasa untuk mengubah orang yang sudah kecanduan obat-obatan dan melewati sebagian hidupnya dengan berfoya-foya. Apalagi Donghae adalah seorang pria dewasa, bukan anak kecil yang masih mencari-cari jati diri. Dari cerita ibunya saat mereka pertama bertemu, ia hampir yakin bahwa Donghae tidak akan pernah sembuh, sebesar apapun usahanya.

Apa ini semua ulah Amy? Apa yang sudah dilakukan gadis itu selama ia sibuk dengan kegiatannya?

Tak menemui jawaban, ia langsung tancap gas. Ia ingat sekitar satu jam lalu Max mengajaknya minum bersama tapi ditolaknya. Sekarang…sepertinya ia sangat membutuhkannya.

**

Max baru saja menerima pesan dari seseorang. Tebakannya benar, Kyuhyun sedang menuju kemari. Dan ia puas dengan kerja orang itu.

“Berikan aku satu gelas lagi.”

Ia meminta beer pada Kangin, bartender diklub ini yang juga merupakan kawan lamanya. Ia minum dengan banyak sejak tadi dan ia belum juga mabuk.

“Kau masih disini?”

Ia menoleh dan menemukan Kyuhyun sudah mengambil tempat di sebelahnya. Segera ia meminta Kangin menuangkan beer ke gelas Kyuhyun.

“Aku bisa sampai pagi disini jika memang membutuhkannya,” jawab Max tenang. Dilihatnya Kyuhyun yang mulai menelan beer meski dari rautnya nampak minuman itu bukanlah konsumsinya sehari-hari. Sepertinya ia harus lebih mengajarinya lagi.

“Apa yang akhirnya membawamu kemari? Kupikir kau sudah menolak.”

Kyuhyun tersenyum. “Sama sepertimu, mungkin. Aku membutuhkannya.”

“Apa kiranya yang membuat seorang Kyuhyun menghabiskan dua gelas beer dalam sekejab?”

Kyuhyun tak langsung menjawab. Max yang berada di sebelahnya menunggu dengan sabar cerita macam apa yang akan ia dengar. Orang mabuk bisa mengatakan apa saja, bukan?

“Aku benci diriku sendiri. Aku benci situasi ini. Kenapa sekarang mereka menjauhiku?”

Max menyeringai. Ia berikan kode pada Kangin agar menambah lagi beernya.

“Aku mempertemukan mereka karena aku menganggapnya special. Tapi kau tahu apa yang terjadi? Aku seperti menyerahkan berlianku kepada seorang pencuri.”

“Jadi…ini urusan cinta?” Max tertawa pelan. “Kyuhyun, aku tidak tahu kau sedang menyukai seseorang. Ada apa dengannya? Dia menyukai orang lain?”

Dengan mata yang semakin sayu dan nada bicara yang naik turun, Kyuhyun menjawab, “Aku tidak tahu. Tapi aku tidak suka melihatnya dekat dengan orang lain. Kenapa bukan denganku? Dan kenapa orang itu harus kakakku sendiri?”

“Aku mengerti sekarang. Jadi gadis yang kau sukai sedang dekat dengan kakakmu? Hm..kedengarannya menarik.”

Kyuhyun semakin mabuk. Ia tersenyum lalu tertawa seperti orang kurang waras lalu memukul-mukul meja. Kepalanya beberapa kali nyaris menghantup gelasnya sendiri.

“Apa yang bisa kulakukan? Dia adalah kakakku sendiri.”

Max memperbaiki posisi duduknya, ia merasa inilah saatnya. “Kyuhyun, aku rasa tak ada yang salah disini. Lagipula belum tentu kakakmu menyukainya. Cinta dan persaudaraan sama sekali tidak berhubungan. Jika kau menyukai seseorang, katakan saja. Dalam cinta, semua hal akan menjadi sah.”

Dengan kepala yang sudah menempel pada meja, Kyuhyun berusaha membuka matanya lalu membalas saran Max. “Dia memang menyukainya. Aku bisa melihat dari matanya.”

Max mendekat. Ia bisikkan dua kalimat secara pelan dan berulang ke telinganya.“Ambil sebelum orang lain merebutnya. Kalahkan kakakmu!!”

Kyuhyun tersenyum. Dalam hitungan detik ia sudah kehilangan kesadaran dan berlayar ke alam mimpi. Mungkin ia bermimpi sedang menyatakan cinta pada Amy. Mungkin juga ia sedang bermimpi berciuman dengan Amy. Apapun itu, Max tak peduli. Ia hanya peduli pada tujuannya. Dan ia suka jika memang hubungan Kyuhyun dan Donghae merenggang.

“Kangin, sepertinya aku akan sampai pagi disini.”

*****

Kyuhyun tidak menunda niatnya. Pagi-pagi sekali ia menelpon Amy dan mengajaknya bertemu sore nanti di Han-gang Park. Dengan seikat bunga dan sebuah cincin, ia bertekad untuk menyatakan perasaannya. Tak mau berbasa basi, ia langsung mengutarakannya begitu Amy datang.

“Amy, aku mencintaimu. Apa kau…..merasakan hal yang sama?”

Amy tak menjawab. Ia terdiam seperti habis melihat orang paling jelek sedunia. Tapi dua puluh detik kemudian gadis itu membuka mulutnya. Namun, yang keluar dari mulutnya bukanlah kata ya atau tidak, melainkan……

“Cho Kyuhyun……bangun!!!”

Byurrrr

“Huaaa…” Kyuhyun terduduk dikasurnya. Wajahnya basah kuyup.

“Apa-apaan ini?”

Ia mengucek matanya berkali-kali. Dilihatnya sekeliling dan ia tak menemukan tanda-tanda bahwa ia sedang berada di taman. Memang ada Amy di depannya, tapi bukan memegang seikat bunga darinya melainkan sebuah gayung.

“Setengah jam aku disini untuk membangunkanmu. Apa kau tahu?”

“Setengah jam?”

Kyuhyun menggaruk kepalanya. Ia usap wajahnya yang basah dengan selimutnya. Bukan itu yang ia sesalkan. Ia hanya benci jika yang ia alami sebelumnya hanyalah mimpi.

“Kenapa kau kemari?” tanya Kyuhyun sambil kembali merebahkan tubuhnya. Tapi Amy langsung menariknya.

“Apa yang kau lakukan semalam? Aku mencium bau alcohol. Kau minum? Sudah kubilang jangan coba-coba minum!! Lihat akibatnya! Manajermu terus menelponku untuk minta bantuan sementara ia pergi kesana kemari untuk minta maaf pada klien yang kau kecewakan hari ini.”

Kyuhyun menutup telinganya. Andai rentetan kalimat itu adalah ungkapan cinta. Kyuhyun dengan senang hati mendengarnya.

“Kyuhyun…kenapa kau tidak mendengarkanku?”

“Baiklah, aku minta maaf. Aku memang minum semalam tapi hanya sedikit,” ujarnya menyatukan telunjuk dan jempolnya. Tapi Amy nampak tak percaya.

“Kalau kau berani minum lagi, kuhabisi kau!”

Kyuhyun tersenyum tiga jari lalu mengangguk patuh. Ia pandangi Amy yang berbalik lalu mengembalikan gayung ke kamar mandi. Tapi ia bingung, sejak kapan ia membeli gayung?

“Kenapa kau belum juga mandi?”

Kyuhyun melesat ke kamar mandi dan mandi kilat. Begitu selesai, ia kegirangan menemukan roti panggang di atas meja makan.

“Wah, wah, berapa aku harus membayarmu?”

Amy tak menjawab. Ia menuangkan air putih untuk Kyuhyun yang membuat Kyuhyun mulai bertanya-tanya. Rasanya Amy tak pernah melakukan hal semacam ini padanya.

“Makanlah. Setelah itu kau harus menemui manajermu.”

Kyuhyun makan dengan lahap. Ia baru sadar semalam ia tak makan apapun, hanya minum beer. Berapa gelas yang ia minumpun rasanya ia tak ingat. Mungkin cukup banyak sampai ia tak ingat apapun yang ia lakukan semalam. Terakhir ia ingat pergi ke club untuk menemui Max. Setelahnya…ia tak ingat apa-apa lagi. Tapi….ada beberapa kalimat yang entah diucapkan oleh siapa yang bergaung dikepalanya. Seperti sebuah perintah tak terbantahkan, ia merasa harus melakukannya. Apalagi melihat Amy sekarang ada bersamanya. Mereka hanya berdua. Bukankah ini waktu yang sangat tepat?

“Amy.”

“Hm?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Katakan saja.”

Amy sibuk dengan banyak barang yang ada ditangannya. Kyuhyun baru sadar bahwa belakangan ia jadi jorok sekali dengan tidak menghiraukan kondisi apartemennya. Tapi yang jadi pertanyaan, bukankah apartemen Amy lebih parah dari ini? Sejak kapan Amy suka membereskan rumah?

“Apa yang mau kau katakan?”

Kyuhyun tersentak. Sebelum melahap rotinya, ia berusaha menenangkan diri. Ia tarik nafas berkali-kali dan mulai berhitung dalam hati. Pada hitungan ketiga ia berdiri dan dengan cepat menarik lengan Amy hingga semua pakaian dan yang ada ditangan Amy berjatuhan.

“Kyuhyun…apa yang kau lakukan?” Amy bertanya dengan gugup sementara kedua tangannya sudah ada dalam kuasa Kyuhyun.

“Aku akan mengatakannya satu kali dan jangan menyelaku.”

Amy menelan ludah. Kyuhyun tak tahu ia mendapat kekuatan dari mana. Yang jelas ketidakberaniannya selama ini tak tersisa lagi. Ia merasa semua hal yang ingin ia sampaikan sudah berada diujung lidah. Ia siap. Maka setelah menghembuskan nafasnya, ia berujar, “Aku, mencintaimu. Aku, sudah lama menyukaimu. Aku, menganggapmu sebagai orang yang spesial dan aku……ingin kau menjawabnya sekarang.”

Hening.

Amy tak berkutik. Kyuhyun masih memegang tangannya dan semakin lama semakin erat. Amy bisa merasakan ada suatu keposesifan dalam sentuhan Kyuhyun.

“Kyu…aku..”

“Aku hanya ingin mendengar ya atau tidak. Aku ingin tahu apakah kau merasakan hal yang sama?”

Kyuhyun bertanya dengan tegas. Matanya menatap lembut ke dalam mata Amy. Dan jika boleh sedikit berprasangkan, ia merasa akan mendengar kata ya. Ia merasa mata Amy tak bisa berbohong dan dari pandangannya ia yakin bahwa ia takkan dikecewakan.

Ia pun mendekat. Perlahan-lahan ia memiringkan wajahnya yang membuat Amy memejamkan matanya erat-erat. Kyuhyun mulai merasakan nafas Amy yang tertahan. Ia pun semakin mendekat dan berhenti sejenak tepat sebelum hidung mereka bersentuhan. Dipandangnya wajah Amy yang nampak gugup setengah mati. Ia tersenyum lalu mengubah arah wajahnya. Ia berbisik.

“Wajahmu jelek sekali. Haruskah aku memajangnya dimajalah kampusmu?”

Mata Amy terbuka. Ia dorong sekuat tenaga bahu Kyuhyun dan menemukan pria itu tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha…harusnya aku memotret wajahmu. Apa kau sungguh ingin kucium?”

Kyuhyun masih tertawa selama beberapa saat sampai ia tak sadar semerah apa wajah Amy saat ini.

“Kau….kau benar-benar menyebalkan!”

Seruan Amy tak ditanggapinya. Ia biarkan gadis itu pergi sementara ia berusaha menghentikan tawanya.

Sebenarnya ia memang akan benar-benar melakukannya. Ia bahkan sempat berpikir itu akan menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Tapi untuk sesaat ia berubah pikiran. Meski ia yakin Amy takkan menolak, ia rasa apa yang ia lakukan barusan terlalu mendadak. Mungkin Amy sangat terkejut. Bagaimanapun juga, Amy tetaplah seorang gadis normal yang bisa merasakan hal yang sama seperti gadis lain pada umumnya.

Kyuhyun tak mau buru-buru. Ia harus mencari waktu yang tepat dan mengatur segalanya menjadi lebih baik lagi. Dan semoga saja ia tidak akan terlambat.

***

Dihari ke tiga pencariannya, Donghae mulai menemukan tanda-tanda yang bagus. Sejak pagi ia berkeliling lagi untuk mencari pekerjaan. Amy tak lagi menemaninya, katanya sibuk kuliah dan ia pun memang tak pernah meminta kalau bukan karena gadis itu sendiri yang menawarkan diri. Sekarang, disinilah ia. Di depan sebuah gedung tinggi yang ia perkirakan terdapat hampir lima belas lantai. Di sebuah koran ia menemukan info bahwa perusahaan tersebut memerlukan tiga orang office boy. Ini sudah hampir sore, semoga ia masih punya kesempatan dan masih ada satu tempat untuknya.

Ia pun masuk, dengan tenang ia melihat-lihat ke dalam. Banyak ditemukannya orang mondar-mandir serta keluar masuk. Bahkan ada yang menubruknya lalu pergi tanpa minta maaf. Kemudian ia mendekati meja resepsionis.

“Maaf. Aku melihat iklan dikoran ini. Apa masih ada lowongan?”

Resepsionis wanita berwajah ramah itu tersenyum padanya. Dengan sopan ia membawa Donghae ke salah satu ruangan di lantai dua untuk menemui seseorang.

“Masuklah.”

Donghae menatap sebuah pintu di depannya. Ia ragu. Tapi dari cara gadis itu bersikap, ia rasa gadis itu bukan tipe penipu atau orang gila sepertinya.

“Baiklah, terima kasih.”

Ia masuk ke dalam. Sesuatu langsung dilempar ke arah wajahnya.

“Pakai dan cepat bekerja.”

Donghae bingung. Ditangannya sudah ada sepasang pakaian berwarna biru muda. Ketika ia melihat ke depan, ada dua orang pria sebayanya yang menunduk takzim. Sementara sekitar dua meter di depan mereka, berdiri seorang pria berstelan jas rapi. Ia perhatikan wajah orang itu dan ia yakin orang itu sebaya ibunya. Rambutnya tidak ada dibagian tengah. Wajahnya tegas dan berbanding terbalik dengan gadis resepsionis yang mengantarnya kemari.

“Maaf, tapi aku…”

“Kau kesini untuk melamar pekerjaan, bukan?”

Donghae mengangguk pelan.

“Kau kuterima. Cepat pakai seragammu lalu mulai melakukan pekerjaan.”

Donghae masih tak mengerti. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk memahami apa yang sedang terjadi. Ia memang kemari untuk melamar pekerjaan. Tapi ia tak pernah menyangka kalau ia akan langsung diterima bahkan sebelum menyebutkan nama.

“Kau mau bekerja atau tidak?”

Ia tersenyum kecil. Sepertinya keberadaan Amy bukan pertanda kebaikan untuknya. Buktinya sekarang ia sudah memakai seragam seperti office boy lain dan mulai mengepel lantai. Ia sendiri tak yakin pekerjaannya berjalan benar. Ia tak pernah bersentuhan dengan pekerjaan semacam itu sebelumnya. Tapi ia rasa semuanya nampak gampang. Hanya mengepel, hanya menyapu, hanya mengelap kaca, hanya membuatkan minuman untuk para karyawan dan hanya melakukan apapun yang diperintahkan orang.

Ia bukan orang yang suka diatur. Tapi dalam kasus ini, mau tak mau ia harus menahan egonya. Ia harus sabar dan menahan diri untuk tidak meninju muka orang yang marah padanya karena ia tidak bisa membuat kopi yang enak. Baru hari pertama dan tiga hari ini ia baru sadar bahwa mencari pekerjaan itu sulit. Ia tak mau dipecat sebelum ia menerima gaji.

Sekarang ia sibuk mengepel dilantai bawah. Suasananya sudah tak begitu ramai. Banyak yang pulang sehingga ia bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih mudah. Namun, tiba-tiba saja kain pelnya menyentuh sepatu seseorang. Orang itu berhenti dan seketika itu juga ia merasa karirnya disini akan langsung berakhir.

Ia menunduk seperti yang diajarkan oleh kepala office boy gempal yang tadi mengarahkannya. Ia berlagak tak berani menatap mata orang yang sepatunya sudah ia kotori.

“Maafkan aku,” katanya setelah menjauhkan kain pelnya. Sebelum ia sempat mengucapkan permintaan maaf yang kedua, orang yang tadi melempar seragam ke wajahnya sudah datang.

“Maafkan ulahnya, tuan. Dia pekerja baru disini. Saya akan mengajarinya lebih baik lagi.”

Donghae menarik nafasnya dan tersenyum malas. Rasanya ini sama sekali bukan dirinya dengan bersikap seperti orang rendahan. Ia masih menunduk lalu menerima kemarahan orang itu sementara orang yang ia kotori sepatunya sudah pergi. Ia ingin meliriknya barang sejenak, tapi pergerakannya tertahan.

“Kau ini bisa kerja tidak? Dia itu direktur utama disini. Kau bisa saja langsung dipecat.”

Donghae acuh. Ia angkat kepala lalu lekas-lekas melihat keluar dimana orang itu masuk ke dalam mobil bersama dua orang lagi. Sepintas ia seperti melihat Max, tapi lekas-lekas ia menepisnya.

Jadi….orang tadi adalah direktur disini?

“Hey, kau!”

Ia menoleh ke depan. “Ya?”

“Akh, kau benar-benar menyebalkan. Cepat selesaikan pekerjaanmu, aku lelah memarahimu.”

Donghae mengangkat bahunya. Ingin sekali ia mengatakan pada orang itu untuk tidak memiliki ekspetasi tinggi padanya. Ia pun melanjutkan pekerjaannya sambil bersiul. Ia tak sabar segera pulang lalu mengabarkan ibunya bahwa ia sudah punya pekerjaan.

***

Max terus melihat ke samping. Dan disaat bersamaan, Donghae melihat ke arahnya.

“Dia?”

Cho Min Sook yang duduk disampingnya acuh saja. Ia sibuk dengan pikirannya. Sementara Max terus mengamati pergerakan Donghae. Jadi…Donghae bekerja disini? Sebagai office boy?

Ia menyeringai lebar. Ini diluar skenarionya. Apakah Tuhan sedang membantunya memuluskan jalan?

Donghae ada disini, diperusahaan milik ayahnya sendiri. Dan dari pengamatannya tadi, mereka berdua sama sekali tak menyadari kehadiran masing-masing. Ia bahkan ragu kalau Cho Min Sook masih mengenal anaknya yang nakal itu. Bagaimana jadinya jika mereka bertatapan?

“Apalagi yang kau tunggu?” seruan Cho Min Sook yang sama sekali tidak ramah membuyarkan pikirannya. Ia lekas menyuruh supirnya membawa mobil sebelum akhirnya melihat lagi ke arah Donghae.

Kasihan sekali. Rasanya menyenangkan menjadi satu-satunya orang yang sadar bahwa seorang anak yang tak diharapkan dari seorang direktur kini sedang mengepel lantai.

Ia lalu menyandarkan punggungnya. Sepertinya permainan ini akan semakin menarik.

***TBC***

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: