What If [8/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

 

******

Ada dua alasan kenapa malam ini Donghae menyuruh ibunya masak yang enak dan banyak. Satu, ia dapat pekerjaan. Dua, ia baru ingat bahwa beberapa jam lagi ibunya ulang tahun. Ia tak perlu memperjelas ini ulang tahun yang keberapa. Yang pasti, akan ada pesta sederhana malam ini.

Donghae juga mengundang Kyuhyun dan Amy. Donghae meminta Kyuhyun membawakan kue ulang tahun dengan lilin berjumlah enam belas saja. Katanya agar ibunya merasa awet muda.

Semua makanan sudah tersaji dimeja makan saat bel berbunyi. Donghae sempat terpaku beberapa detik melihat Amy datang bersama Kyuhyun. Bukan! Bukan itu. Yang membuatnya membeku sesaat adalah penampilan Amy. Amy menggerai rambutnya yang biasa dikuncir. Pakaiannya juga berbeda dengan tank top putih yang dibalut sweater pink. Dan yang paling aneh adalah ia memakai high heels.

“Sudah kubilang ini akan aneh. Jangan komentar apapun. Ini ulah Kyuhyun!” sambar Amy yang membuat Donghae sadar dari pikirannya. Baiklah, jika ia bukan Lee Donghae, ia akan bilang bahwa Amy sangat berbeda –dalam artian positif- malam ini. Tapi karena kalimat itu jarang keluar dari mulutnya, Ia hanya berkata sekedar saja.

“Tidak ada yang perlu kau buat terpesona disini. Apapun yang kau pakai, tak ada yang tertarik.”

Kyuhyun menjulurkan lidahnya lalu menarik Donghae masuk lebih dulu. Mereka biarkan Amy bersungut-sungut sendiri seperti gadis kecil.

Berbeda dengan makan malam mereka sebelumnya, kali ini Kyuhyun menemukan beragam menu. Bukan hanya masakan kesukaan Donghae, tapi juga masakan kesukaannya. Apa ibunya sudah tahu bahwa ia menyukai Japchae dan Miyeok Guk?

Ia tak bertanya. Ia letakkan kue ulang tahun ibunya ditengah meja makan lalu menyalakan lilinnya. Diam-diam ibunya menghitung.

“Enam belas? Kalian bercanda?”

Donghae, Kyuhyun dan Amy berpandangan sambil tersenyum. Donghae yang duduk disisi kanan ibunya mendekat. “Sebenarnya aku tak peduli berapapun usia ibu sekarang. Aku dan Kyuhyun hanya ingin yang terbaik dan selalu berdoa agar ibu bahagia.”

Meski diselingi tawa, tangis itu tak bisa dihindari. Wanita itu menarik kedua anaknya yang sama-sama mencium pipinya. Amy bertepuk tangan sendiri kemudian memotret momen tersebut dengan kamera handphonenya.

“Ayo tiup lilinnya!!” seru Amy. Donghae dan Kyuhyun mengajak ibunya menyanyikan lagu selamat ulang tahun lebih dulu. Dan dibagian akhir lagu, wanita itu menutup matanya cukup lama. Tak ada yang tahu apa yang menjadi permintaannya. Begitu matanya terbuka, bersama-sama semuanya ikut meniup lilin.

Berikutnya kue dipotong dengan ukuran kecil. Lee Jae Gum menatap ketiga orang yang ada disana dan tanpa berpikir panjang ia menyerahkan potongan kue pertama pada Donghae.

“Terima kasih karena sudah hadir dalam hidup ibu.”

Ia menyuapi Donghae lalu menerima kecupan didahi dari anak pertamanya itu. Kemudian ia beralih pada Kyuhyun. Ia suapi Kyuhyun sambil berkata, “Ibu bersyukur karena kau ada disini. Ibu senang melihat kau dan kakakmu berada di samping ibu. Tetaplah seperti ini. Jangan pernah bertengkar.”

Kyuhyun mengangguk. Ia baru akan meminta suapan lagi kalau tak sengaja melihat ke depan dan menemukan Amy sedang melahap sisa kuenya tidak kira-kira.

“Amy?”

Donghae, Kyuhyun dan ibunya menatap ke arah gadis itu. Amy mengangkat muka lalu tersenyum memperlihatkan sekitar bibirnya yang penuh coklat.

“Kalian terlalu sibuk berpuisi. Aku lapar dan lidahku tidak bisa menunggu lagi.”

Amy sudah akan makan lagi, tapi sesuatu tiba-tiba dilempar ke wajahnya.

“Apa-apaan ini?”

Ia menemukan butter cream melumuri wajahnya. Ia lihat ke depan dan Kyuhyun melakukan tos dengan Donghae. Mereka tertawa bahagia seakan ada lelucon menarik terjadi. Kesal, Amy serang balik. Ia ambil potongan kue dipiringnya lalu dilempar ke wajah Kyuhyun dan Donghae bergantian. Dan detik berikutnya, tak ada yang tak terkena lemparan kue, termasuk orang yang sedang berulang tahun.

Mereka saling lempar. Donghae dan Kyuhyun bekerjasama mengejar Amy, menangkapnya lalu menghiasi seluruh wajahnya dengan butter cream. Sekencang apapun Amy berteriak dan berusaha melawan, sayangnya kekuatannya takkan sebanding dengan dua orang lelaki disebelahnya. Ia pasrah, sementara sang pemilik kue hanya tertawa melihatnya. Ia melihat sebuah handphone di atas meja. Tak tahu milik siapa. Ia berusaha membuka menunya lalu mencari icon bergambar kamera. Begitu siap, ia mengabadikan momen itu.

Klik

Semoga tawa ini takkan berakhir.

****

“Aku sekarang mengerti dari mana asal muasal sifat jahil dan menyebalkan Kyuhyun. Jelas semua didapat dari kau!” tunjuk Amy kesal pada Donghae yang duduk di sebelahnya. Setelah berkutat dengan permainan konyol tadi, mereka membersihkan diri kemudian menikmati makan malam yang sempat terlupakan. Amy terpaksa memakai pakaian milik ibu Donghae dan Kyuhyun karena pakaiannya kotor terkena kue. Untungnya pakaian bermodel kuno itu pas ditubuhnya. Sedangkan Kyuhyun sudah terlelap di kamar ibunya. Setelah kenyang, ia yang paling malas bergerak dan memilih tidur. Mungkin ia juga kelelahan.

“Kau belum cukup baik mengenalku.”

“Aku tak perlu mengenalmu lebih jauh.”

Donghae masih tertawa pelan mengingat apa yang mereka lakukan beberapa jam lalu. Rasanya sudah lama sekali ia tidak tertawa lepas seperti tadi. Ia tertawa tanpa beban. Hanya tertawa dan tertawa. Sepertinya Amy benar-benar bagus untuk dijadikan objek hiburan.

Sebenarnya ia juga cukup lelah, tapi melihat Amy duduk sendirian di teras sambil mengomel, ia ikut duduk dan menikmati suasana malam dipekarangan rumahnya. Sejauh ingatannya, rasanya ia tak pernah melakukan hal sederhana ini sebelumnya, yakni duduk tengah malam di teras rumahnya. Rupanya udaranya sangat sejuk. Sebaiknya ia dan ibunya sering-sering bersantai disini.

“Kau sungguh aneh,” ujar Amy lagi setelah suasana sempat hening.

“Maksudmu?”

“Dulu kupikir kau adalah orang yang irit bicara dan dingin. Kau tentu tidak lupa bagaimana kau mengacuhkanku.”

Donghae jadi teringat saat-saat awal perkenalannya dengan Amy. Ia cuek, pura-pura tidur atau pura-pura ke ruang terapi demi menghindari Amy. Ia malas meladeni mulut Amy yang tak henti bicara, ia malas terlibat apapun dengannya. Tapi sekarang…ia mulai merasa bahwa ia justru ingin terus terlibat dengannya, apapun itu.

“Jadi sekarang kau pikir aku bagaimana?” tanya Donghae sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.

“Kau tak bedanya dengan Kyuhyun. Yah, ku akui mulutmu tak secerewet Kyuhyun, tapi tingkat menyebalkannya kalian sama!”

Donghae tak menanggapi. Matanya perlahan-lahan terpejam dan bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Damai sekali. Ia cukup menyesal karena baru menyadari bahwa banyak sekali hal-hal sederhana yang belakangan ia alami yang justru bisa membuatnya tentram. Bukan barang haram itu, bukan uang hasil curiannya, bukan juga belaian wanita-wanita yang dulu kerap dibawa Max padanya.

Ia pun tetap diam. Ia biarkan suasana menyepi dengan sendirinya hingga suara Amy pun tak terdengar lagi. Hanya suara binatang malam yang menemaninya, kecuali nyamuk. Dan ketika semuanya benar-benar hening, tiba-tiba ia ingin mengatakan sesuatu pada Amy. Ada hal yang membuatnya penasaran beberapa hari ini.

“Amy, ada yang menggangguku akhir-akhir ini.” Ia hembuskan nafasnya, kemudian melanjutkan,“Mungkin ini akan terdengar aneh keluar dari mulutku. Kuharap kau tidak tertawa mendengarnya.” Donghae masih memejamkan matanya. Apa yang ingin ia sampaikan ini rasanya tak perlu ditunda dan ia tak pernah suka berbasa basi.

“Amy…” panggilnya lagi dengan intonasi lebih pelan. Ia tunggu-tunggu sahutan dari gadis itu yang tak kunjung terdengar. Ia panggil sekali lagi. “Amy, kau mendengarku?”

Plung

Ada sesuatu yang menimpa kepalanya. Saat ia membuka mata, ia menemukan Amy jatuh tertidur dibahunya. Nafasnya bahkan terasa sampai ke wajahnya.

Untuk beberapa detik ia hanya diam. Semua kata yang akan dikatakannya meluncur lagi ke tenggorokan. Dan tak tahu perintah darimana, pelan-pelan ia menindih telapak tangan Amy. Ia genggam erat lalu kembali memejamkan mata.

“Apa kau tahu apa yang sedang kurasakan saat ini? Aku tak tahu dan aku ingin bertanya padamu. Kau punya jawaban?”

Beberapa menit setelahnya ia ikut tertidur tanpa tahu bahwa sejak tadi Ibunya melihat itu semua. Ibunya diam-diam mengintip dari pintu dan ikut tersenyum melihatnya. Donghae dan Amy mungkin tak mengatakan apa-apa. Tapi dari cara mereka saling melihat, saling bicara dan bersikap, rasanya ia takkan salah menebak.

Mereka sedang jatuh cinta!

****

Cho Min Sook menandatangai perjanjian yang ia buat dengan Max Changmin. Ia langsung menjauhkan kertas-kertas itu dari hadapannya lalu memutar kursi membelakangi Max. Kepalanya yang sudah pusing menjadi semakin pusing. Ia tak tahu apa yang sudah ia lakukan, tapi juga tak tahu harus berbuat apa untuk mencegahnya. Ia terlalu takut kehilangan karirnya dan juga anak kesayangannya, Kyuhyun. Ia terlalu kalut sampai tak bisa berpikir lagi. Yang ia lakukan hanya terus menuruti apapun yang diperintahkan Max.

“Bagus! Kau tidak perlu takut, kerjasama ini pasti akan menghasilkan keuntungan besar.”

“Sebenarnya apa tujuanmu melakukan ini? Kau ingin uang?” Cho Min Sook mengeluarkan ceknya lalu dilemparkannya pada Max. “Tulis berapapun yang kau mau.”

Cek tersebut berhenti tepat di depan wajah Max. Sayangnya Max tak tertarik sedetikpun untuk meliriknya.

“Maaf, tuan Cho yang terhormat. Tapi uang bukanlah tujuanku.”

“Lalu apa?” Cho Min Sook nyaris berteriak. Tapi ia lekas-lekas mengendalikan diri takut kemarahannya menimbulkan tanda tanya dari karyawannya di luar. Max pun berdiri, ia mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak sekian sentimeter dengan wajah Cho Min Sook.

“Aku hanya senang bermain. Dan kurasa kau dan keluargamu adalah objek yang menyenangkan.”

“Permainan macam apa yang kau maksud? Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga.”

“Jika itu terjadi, secara otomatis informasi tentang masa lalumu akan sampai ke tangan media dan anak kesayanganmu akan menyusulku dineraka. Kau pikir aku main-main? Aku sudah menyiapkan segalanya.”

Jari-jarinya mengeras, ia hampir saja menghantam wajah Max kalau saja pintu tak terbuka dan Kyuhyun melihatnya.

“Oh, kalian?”

Max dan Cho Min Sook sama-sama menjauhkan wajah mereka lantas tersenyum. Max bergegas mengambil map dari atas meja kemudian berpamitan.

“Maaf, aku masih ada urusan penting.”

Kyuhyun ikut tersenyum saat Max menepuk bahunya pelan. Sementara Cho Min Sook meminum air putih di atas meja dengan cepat. Ia naikkan AC hingga suhu yang paling dingin lalu melepaskan dasinya.

“Ayah baik-baik saja?”

“Ayah baik-baik saja. Hanya kepala ayah sedikit pusing.”

“Harusnya ayah pulang saja dan istirahat. Ayah tidak harus selalu disini, bukan?”

Cho Min Sook menggeleng. Rasanya segelas air putih tadi tak cukup untuk meredakan kegelisahannya. Hawa dingin dari AC sama sekali tak membantu. Ia semakin panas, malah nafasnya mulai sesak. Ia ingin berteriak. Sungguh ia ingin menghajar siapapun saat ini.

“Ayah, ayah mendengarku?” tanya Kyuhyun sekali lagi.

“Ayah…ayah tidak apa. Kau sendiri…kenapa kemari?”

“Hanya kebetulan lewat. Ah, bagaimana dengan Max? Ayah dan perusahaannya sudah menjalin kerjasama?” tanya Kyuhyun antusias. Berbanding terbalik dengan ayahnya yang belum juga tenang dan balik bertanya, “Bagaimana caranya kalian bisa saling kenal?”

Kyuhyun memilih duduk disofa. Ia melipat kedua tangannya lalu menaikkan kedua kakinya di atas meja.

“Aku sudah menceritakannya pada ayah. Dia klienku dan kami mulai akrab.”

Diam-diam Cho Min Sook mengepalkan kedua tangannya. Sekali lagi ia ingin meluapkan kemarahannya, berteriak sekencang-kencangnya, memukul meja lalu menghambur semua yang ada di depannya. Tapi ia tidak akan melakukannya sekarang, tidak di depan Kyuhyun. Dan setelah dipikir-pikir, ini semua jelas bermuara dari satu orang, yakni Donghae.

Benar! Ini semua memang karena Donghae. Sejak awal kehadirannya memang sudah merusak banyak hal. Merusak pertunangannya, merusak karirnya, dan hidupnya. Kalau Donghae tak pernah ada, ia pasti sedang hidup tentram. Kalau Donghae tidak ada, ia tidak akan punya rahasia apapun yang bisa menjatuhkan reputasinya. Kalau Donghae tidak ada, maka tidak akan pernah ada manusia seperti Max Changmin. Ini semua karena anak tak berguna itu!

“Ayah yakin baik-baik saja?”

Cho Min Sook masih mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik lantas menatap Kyuhyun tajam. Kyuhyun sudah siap berdiri dan mengajak ayahnya duduk saja, tapi pria itu tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membekukan kedua kakinya.

“Kau masih berhubungan dengan ibumu dan anak nakal itu?”

“Ayah…kenapa kau…tiba-tiba menanyakannya?”

“Ayah bertanya padamu apa kau masih berhubungan dengan mereka?” tanya Cho Min Sook lebih tegas. Kyuhyun tak menjawab maka ia melanjutkannya. “Sudah berkali-kali ayah katakan jangan bergaul lagi dengan mereka. Kau mengetahui keberadaan mereka, kau juga membantu mereka, itu sudah cukup! Kau tidak perlu dekat-dekat lagi dengan mereka, terutama anak terkutuk itu!”

“AYAH!!”

Teriakan Kyuhyun sukses membuat suasana menjadi hening. Cho Min Sook membalik badannya lalu duduk di kursinya. Sekarang kepalanya terasa siap meledak. Kenapa anak itu harus muncul dalam hidupnya? Kenapa ia harus punya masa lalu seperti itu?

“Anak itu punya nama. Anak yang ayah anggap terkutuk dan tak berguna itu adalah darah daging ayah. Seharusnya ayah berkaca dan sadar bahwa ayah yang melakukan kesalahan dan Donghae hyung hanyalah korban yang tak tahu apa-apa.”

“Kau tidak tahu apapun dan berhenti membelanya! Dia bahkan hanya menjadi parasit bagi ibumu selama ini.”

“Tapi dia anak ayah juga!”

“CUKUP!! Tinggalkan ayah sendiri. Cepat pergi!”

“Aku tidak akan pergi sebelum ayah mencabut apa yang ayah katakan terhadap Donghae hyung. Jika ayah masih menyesali kehadirannya, maka sama saja ayah menyesali kehadiranku. Bukankah aku juga lahir dari sebuah kesalahan?”

Cho Min Sook berdiri lagi. Ia berusaha menjelaskan namun tak ada satu patah katapun mampu keluar dari mulutnya.

“Kyuhyun, bukan itu. Maksud ayah adalah….”

“Maksud ayah sangat jelas bahwa ayah membenci Donghae hyung, ayah membenci ibu yang sama artinya ayah juga membenciku. Sepertinya aku punya alasan kuat untuk tidak melihat wajah ayah lagi.”

“Tidak, Kyuhyun. Dengarkan ayah dulu.”

Rayuannya tak berarti. Kyuhyun sudah membalik badannya kemudian pergi setelah membanting pintu keras sekali. Dan pada akhirnya, teriakan yang ia tahan itu ia keluarkan juga. Ia hantam dinding lalu berteriak keras.

Bagaimanapun juga, ia benci anak itu. Ia benci anak itu!!

***

Kyuhyun berjalan dengan tergesa dan perasaan kecewa. Selama ini ia bertahan hidup bersama ayahnya dengan harapan ayahnya akan berubah dan mau menerima ibu serta kakaknya lagi. Tapi ternyata tak ada yang berubah. Ayahnya masih sama. Ayahnya masihlah Cho Min Sook yang dulu ia lihat kerap memukul kakaknya.

Ia turun ke lantai paling bawah dan mengacuhkan semua sapaan para karyawan wanita yang mengaguminya. Ia akan terus berjalan kalau saja tak ada seorang cleaning service yang menubruknya. Ia siap marah. Namun, melihat orang itu justru membuatnya terdiam.

“Donghae hyung?”

“Kyuhyun?”

Otak Kyuhyun berputar cepat. Kemarin saat perayaan ulang tahun di rumah ibunya, Donghae memang tak menjelaskan di perusahaan mana ia bekerja. Semua juga terlalu bahagia sampai tak merasa penting untuk menanyakannya. Lalu sekarang….

“Jadi, kau bekerja disini?”

Donghae mengangguk. Dengan bangga ia tunjukan alat pel ditangannya. “Aku bekerja disini dan aku semakin terbiasa dengan kemarahan banyak orang.”

Dalam situasi berbeda, Kyuhyun akan tertawa. Tapi kali ini tidak. Ia jadi penasaran, apa Donghae tidak tahu dimana ia bekerja sekarang?

“Apa kau tahu…….siapa pemilik perusahaan ini?”

“Apa peduliku? Aku hanya office boy, cleaning service atau apapun namanya. Aku tidak perlu tahu siapa dia. Memangnya ada apa?”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya lega. Besar kemungkinan ayahnya juga tak tahu bahwa anaknya bekerja disini. Tapi jika terjadi sesuatu dan mereka bertemu, bagaimana? Haruskah ia mengatakannya? Kalau Donghae langsung mengundurkan diri, bukankah artinya Donghae tak punya pekerjaan lagi? Meski hanya pekerjaan kecil dengan upah sedikit, ia rasa inilah pekerjaan pertama yang ditekuni serius oleh Donghae. Ia tak yakin sanggup menghancurkan kebahagiaannya.

“Kyuhyun, sebenarnya ada apa? Kau sendiri kenapa ada disini?”

“Ah, tidak. Aku hanya mampir sebentar. Temanku salah satu karyawan disini.”

Donghae hanya mengangguk-angguk sampai akhirnya ia melihat penanggung jawabnya bekerja melotot diujung sana.

“Baiklah, aku harus kembali bekerja. Sampai jumpa.”

Kyuhyun memaksakan senyumnya. Dilihatnya Donghae mengekor di belakang seseorang yang tak begitu dikenalnya. Mereka berjalan lalu masuk ke dalam lift.

Nampaknya Donghae cukup menikmati pekerjaannya. Jika Donghae tahu pemilik perusahaan ini, apa ia akan sudi bekerja lagi? Atau jika ayahnya tahu, apa Donghae tidak akan langsung dipecat?

Kyuhyun merasa kepalanya akan pecah. Ia pergi. Sepertinya ia akan menghabiskan banyak minuman lagi malam ini.

***

Donghae meregangkan otot-ototnya dengan merentangkan kedua tangan lalu memutar pinggang kekiri dan kekanan. Ia ingin sekali berseru kesenangan karena besok adalah hari minggu dan ia libur. Sepertinya besok ia akan membantu ibunya saja di toko bunga.

Jarum jam sudah mengarah ke angka delapan saat ia keluar dari pintu gedung itu. Jarak antara tempatnya bekerja dan juga toko ibunya tidak jauh. Hanya perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menit, ia sudah sampai. Ia tahu ibunya pasti baru akan pulang. Mungkin ia masih sempat membantunya.

Dan perkiraannya hanya meleset sedikit. Ketika ia tiba, ibunya baru saja mengunci toko.

“Mulai besok sebaiknya ibu tutup disore hari saja. Lagipula siapa yang membeli bunga malam-malam?”

Ibunya tersenyum menemukan anaknya berdiri di sampingnya. “Justru dimalam hari banyak yang mencari, khususnya mereka yang ingin berkencan.”

Donghae tak tahu kenapa, tapi saat mengatakan kata terakhir, ibunya mengerling.

“Kita pulang sekarang?”

Ibunya mengangguk. Mereka berjalan santai. Tak banyak yang mereka bicarakan selain masalah kegiatan masing-masing. Sesekali Donghae merentangkan lagi kedua tangannya. Lelahnya masih terasa. Ia tak sabar ingin segera tidur.

Hari ini pekerjaannya memang menjadi berkali-kali lipat karena ada banyak orang yang entah bagaimana caranya mengambil ijin sakit. Terpaksa ia melakukan hal yang biasanya tak ia lakukan seperti membuatkan karyawan minuman. Sejak insiden kopi pahitnya itu, ia tak lagi dipercaya membuatnya. Tapi karena yang bertugas berhalangan, ia pun turun tangan. Hasilnya? Karyawan yang dulu marah-marah itu memberinya senyum.

“Sudah ingat memberi gula?” katanya dengan seulas senyum. Donghae belum paham. Tapi sedikit senyum dari orang yang terpuaskan atas pekerjaannya mampu membuat perasaannya semakin baik.

“Lelah sekali? Ibu akan memijitmu begitu kita tiba di rumah.”

“Tidak. Harusnya aku yang memijit ibu.”

Mereka tersenyum bersama. Saat ada sebuah mobil dari arah belakang mereka, Donghae tiba-tiba saja menarik ibunya untuk bertukar posisi. Ia tak mau ibunya terkena sapuan daun-daun yang rontok karena banyaknya kendaraan yang lewat.

“Bagaimana kabar Amy? Ibu merindukannya.”

Donghae menoleh pada ibunya dengan bingung. “Kenapa ibu menanyakan kabarnya padaku?”

“Karena mungkin kau yang paling tahu soal itu,” jawab ibunya yang membuatnya semakin tak mengerti.

“Aku tak paham.”

Donghae melirik ibunya dan ia yakin tak salah lihat. Ibunya tersenyum sendiri.

“Sebaiknya kau tidak menutupi apapun dari ibu. Tidak kau katakanpun, ibu pasti tahu.”

Sambil berjalan, Donghae berusaha mencerna perkataan ibunya. Tapi sepertinya ia belum juga paham.

“Ibu, sebenarnya apa yang ibu bicarakan?”

“Apa jika ibu bilang kau tertarik pada Amy, kau masih belum paham?”

Langkahnya tertunda. Segera ia menatap ibunya. “Ibu…aku…”

“Jangan coba menyanggahnya! Ibu bisa melihat itu dengan sangat jelas.”

“Tapi…”

Ibunya yang sempat berhenti memilih melanjutkan langkahnya. Dengan cepat Donghae menyusul dan kembali menjelaskan.

“Bagaimana mungkin ibu berpikir ke arah itu?”

“Karena itu adalah kenyataan.”

“Tapi aku tidak menyukainya!”

“Kapan ibu bilang kau menyukainya?”

Akh! Donghae kalah.

“Jadi benar kau menyukainya?”

Donghae memelankan langkahnya. Ia tak menjawab dan hanya memikirkan apa yang ibunya tanyakan. Ia tak tahu. Sungguh ia tak pernah menyimpulkan apapun. Yang ia tahu ia hanya senang bersama Amy. Amy menyebalkan tapi menyenangkan. Amy cerewet tapi bisa membuatnya rindu. Amy yang membuatnya berubah dan Amy belakangan membuatnya terus tertawa. Dan sebenarnya….ia kerap memimpikan gadis itu.

“Jangan membohongi dirimu sendiri.”

“Aku hanya…tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Ini adalah hal baru yang tak pernah ku alami.”

Senyum ibunya semakin lebar. Setiap langkah menjadi semakin ringan. Apalagi melihat wajah anaknya yang memerah malu. Rasanya ia sedang berjalan di atas awan.

“Kau tidak perlu menyimpulkannya. Dengan berjalannya waktu, kau akan tahu sendiri. Tapi sebaiknya kau bergerak cepat. Ibu rasa bukan hanya kau yang menyukainya.”

“Maksud ibu?”

“Besok adalah hari libur. Kau bisa mengajaknya bertemu untuk membicarakan soal ini.”

“Soal ini yang mana?”

Ibunya menghembuskan nafas kencang. “Tentu saja soal perasaanmu. Kau cukup mengatakan apa yang kau rasakan dan ibu yakin Amy cukup cerdas untuk memahami itu, kecuali kau tidak pandai mengatakannya. Kadang seorang penyair handalpun kehabisan kosakata jika berhadapan dengan gadis yang disukainya.”

Donghae tak mengiyakannya. Ia hanya diam dan diam sampai ibunya mengatakan bahwa mereka sudah sampai. Di dalam kamarpun ia terus memikirkannya sampai lupa bahwa tadinya ia rindu tempat tidur karena kelelahan. Sekarang yang muncul dalam kepalanya hanyalah satu. Amy.

Haruskah ia mengatakannya besok? Haruskah ia mengucapkan kembali apa yang nyaris ia katakan di teras malam itu? Apakah Amy akan menertawakannya? Bagaimana kalau Amy akan mengejeknya habis-habisan? Dan apakah benar……….jika ia menyukainya?

Nama Amy pun tahu-tahu sudah muncul dilayar handphonenya. Ia membuka pesan tersebut.

“Kyuhyun tak bisa kuhubungi. Mau temani aku jalan-jalan besok pagi?”

Donghae tak sadar. Tapi ia mengetik balasannya sangat cepat dan itu hanya dua huruf. Y dan A. YA!!!!!!!!!!!!!

****

Kyuhyun meletakkan kembali gelasnya yang masih terisi penuh. Ia tak jadi minum. Ia tak mau melanggar janjinya pada Amy.

“Kenapa?” tanya Max yang duduk di sebelahnya.

“Aku punya janji dengan seseorang untuk tidak minum lagi.”

“Maksudmu….gadis itu?”

Alis Kyuhyun mengerut. Ia merasa tak pernah menceritakan soal Amy atau gadis manapun pada Max. Meski mereka mulai dekat, tapi pembicaraan mereka selama ini masih tak jauh dari soal pekerjaan, bukan masalah pribadi.

“Ya, gadis yang waktu itu kau ceritakan disini. Kau lupa?”

“Kapan aku menceritakannya?”

“Oh, aku ingat. Saat itu kau mabuk dan…..”

“Aku mabuk? Apa saja yang kukatakan padamu?”

Kyuhyun panik. Ia sama sekali tak ingat bagian itu dimana ia menceritakan soal Amy pada Max.

“Kau tidak perlu takut. Yang kau ceritakan hanya masalah wajar seorang laki-laki. Kau dan kakakmu menyukai orang yang sama. Hanya itu.”

“Hanya itu?”

Max mengangguk sambil meneguk minumannya. Sama seperti Kyuhyun, malam ini ia tak berminat mabuk. Ia justru minum jus apel sejak tadi. Ia juga tak memanggil dua gadis untuk duduk disisi kanan serta kirinya.

“Tapi aku jadi penasaran, dimana kakakmu? Ayahmu tak pernah mengatakan bahwa ia punya dua anak.”

Pertanyaan itu membuat Kyuhyun meminta air putih dari Kangin. Inilah yang tidak ia inginkan jika sedang tak sadar. Ia takut tak bisa mengontrol mulutnya.

“Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Yang jelas, aku harap kau tidak mengatakannya kepada siapapun. Situasinya belum tepat.”

Max membuat gerakan dengan jarinya di depan mulut sebagai tanda bahwa ia takkan bocor. Tentu ia bisa dipercaya dan tentu ia takkan mengatakannya pada siapapun. Masih terlalu cepat untuk menyebarkan berita itu.

“Jadi apa kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?”

“Hampir tapi ku urungkan niat itu.”

“Karena?”

“Karena…..saat itu kurang tepat.” Jawaban Kyuhyun terdengar kurang meyakinkan. Max lekas tersenyum. “Jika kau terbangun besok pagi dengan kabar bahwa ia menjadi milik orang lain, maka kau akan menyesal dengan apa yang kau katakan barusan. Tidak akan ada waktu yang benar-benar tepat kecuali kaulah yang menciptakannya sendiri.”

Perkataan Max membuatnya teringat kembali akan ketakutannya terhadap Donghae. Jika benar Donghae juga menyukai Amy, apa ia akan terus maju? Melihat apa yang tak bisa didapatkan Donghae selama ini, rasanya ia tak tega mengambil satu lagi darinya.

“Jika kau ragu karena kakakmu, kurasa kau salah. Amy belum menjadi milik siapapun. Kau dan kakakmu bebas mendekatinya.”

Kyuhyun diam. “Tunggu. Kapan aku menyebut nama Amy?”

“Ah, kau….kau menyebutnya saat kau mabuk tempo hari.”

“Benarkah?”

Kyuhyun memijit kepalanya pelan. Ia benar-benar tak bisa memilih. Belum tuntas kebingungannya seputar Donghae dan ayahnya, sekarang masalah Amy.

“Besok hari minggu. Kenapa kau tidak ajak saja dia bertemu?”

“Besok?”

“Lebih cepat lebih baik.”

Entah kenapa kalimat terakhir menguatkan rasa percaya dirinya. Ia tak ingin mengalahkan Donghae atau lelaki manapun yang menyukai Amy. Ia hanya ingin menuntaskan perasaannya. Dan apapun jawaban Amy besok, ia akan terima.

***

“Bawa ini.”

Donghae memainkan alisnya menatap bunga mawar yang ibunya berikan. Lekas ia kembalikan bunga itu.

“Ini berlebihan. Aku hanya akan mengatakan sesuatu dan bunga ini bukan gayaku. Aku tidak mau.”

“Donghae, tapi bunga selalu ampuh untuk meluluhkan hati perempuan.”

“Berita buruknya, Amy bukan perempuan biasa.”

Ibunya mendesah pasrah lalu meletakkan kembali bunganya di atas meja. Ia pandangi anaknya dari atas hingga bawah dan ia merasa anaknya semakin tampan.

Donghae masih mengenakan pakaiannya sehari-hari, hanya saja tadi pagi pakaian itu disetrika berkali-kali lalu disemprot pewangi. Donghae juga menyisir rambutnya rapi, tak berantakan seperti biasa. Satu lagi, ia tadi bangun jam lima lalu mandi selama dua jam.

“Sudah siap?”

Donghae memeluk ibunya singkat. Dalam satu detik ia begitu bersemangat, tapi dalam detik yang lain ia juga merasa aneh. Rasanya seperti ia berpamitan pada ibunya untuk menjalankan tugas negara. Berat sekaligus ringan.

Tepat jam sembilan ia melangkahkan kakinya keluar rumah, ia dan Amy sudah membuat janji akan bertemu Yeouido Park. Letaknya lumayan jauh. Karena itu Donghae menggunakan bus untuk kesana. Amy bisa saja menjemputnya, tapi ia menolak. Ia ingin ialah yang mendatanginya, bukan didatangi lagi. Namun, saat segalanya nampak siap, ia justru merasa ada yang salah lagi.

Ia turun dari bus. Dipandangi wajahnya sendiri melalui pantulan badan bus dan ia merasa tak nyaman.

Sepatunya? Bersih. Celananya? Hanya bolong dibagian lutut. Kaos yang dilapis kemeja yang sedang dikenakannyapun nampak tak bermasalah sama sekali. Warnanya putih dan biru muda, tak ada yang berlebihan.

Selama beberapa detik ia terdiam disitu sampai akhirnya bunyi klakson bus itu menyadarkannya. Sesaat sebelum bus itu pergi, akhirnya ia tahu apa yang salah dari dirinya. Segera ia mengacak rambutnya yang rapi. Dan setelahnya, senyumnya mengembang. Inilah dirinya.

“Lama sekali!”

Ia berbalik. Amy sudah berdiri sambil mengetuk-ngetukkan kakinya. Semoga saja Amy tak melihatnya tadi.

“Bukankah janji kita jam sepuluh? Kurasa kau yang datang terlalu cepat.”

Amy diam. Ia segera berbalik dan berjalan lebih dulu. “Aku ingin mengelilingi taman. Besok aku ada ujian dan aku ingin bersenang-senang sebelum perang.”

Donghae tak bisa mengatakan apa-apa saat Amy menyeretnya kesana kemari. Sekilas ia melihat sekitarnya dan hampir yakin bahwa kebanyakan yang kemari adalah sepasang kekasih.

“Bagaimana pekerjaanmu? Betah?” Amy memulai pembicaraan saat mereka berjalan dipinggir danau.

“Lumayan. Aku sudah bisa membuat kopi yang enak.”

“Kau tidak membuat kekacauan?”

Donghae tersenyum bangga. Ia ingat dulu semua yang terjadi selama ia bekerja di perusahaan besar itu.

“Lumayan.”

“Donghae…”

“Baiklah. Aku memang sempat membuat beberapa kesalahan. Aku pernah tak sengaja mengotori sepatu presiden direktur perusahaan itu. Aku juga sempat menumpahkan the ke jas salah satu karyawan karena tersandung. Selebihnya hanya kesalahan kecil yang masih bisa ditolerir,” tutupnya dengan sanai. Ia tunggu-tunggu kemarahan Amy yang akan ia terima. Tapi setelah beberapa saat, Amy hanya diam dan mengangguk-anggukkan kepala. Nampak jelas Amy sedang dalam suasana hati yang baik. Setelahnya Amy membelikannya es krim. Amy heboh sendiri saat melihat dua angsa berpasangan di danau seakan ia sedang melihat hewan purbakala. Donghae sampai harus tersenyum memohon maklum dari beberapa orang yang menatap ke arah Amy. Ia pun menarik gadis itu ke bagian yang lebih sepi. Mereka menyewa sepeda dan berkeliling berdua. Mereka juga sempat balapan dan saling menjatuhkan sampai siku Amy sedikit lecet.

“Lihat apa yang kau lakukan! Ini aset mahal.”

Donghae menaikkan alisnya. Tak mau menanggapi, ia segera menempel plester ke bagian luka itu lalu ditiup-tiupnya.

“Selesai. Kuharap kau tidak mengharapkan permintaan maafku.”

“Lebih dari itu. Aku akan menuntutmu ke pengadilan.”

“Kalau begitu biarkan aku menyewa jasa pengacara lebih dulu.”

Mereka tak memperpanjangnya lagi. Donghae mengambil botol minum Amy lalu diminumnya hingga habis. Dan pada tegukan terakhir, ia baru menyadari tujuan awal ia menerima tawaran Amy kemari.

“Kau haus atau apa?” tanya Amy. Donghae tak menjawabnya. Amy juga tak bertanya lebih jauh karena ada panggilan dihandphonenya.

Donghae mulai menimbang-nimbang, apakah ia bisa mengatakannya sekarang atau tidak? Apakah ia perlu melakukannya? Tapi….kenapa ia harus bingung seperti ini? Ini bukan hal sulit. Ia hanya akan menyampaikan apa yang mengganjalnya belakangan ini yang semua disebabkan oleh Amy. Dan untuk itu, ia berusaha keras melenyapkan rasa gengsinya dulu.

Ia pun menatap Amy dengan serius lalu mulai menarik nafas.

“Amy…”

“Kyuhyun menelponku hanya untuk menanyakan keberaanku. Aku baru menjawabnya dan ia mengatakan ingin menyusulku lalu mematikannya begitu saja. Aku tak mengerti kena……….Donghae? ada apa denganmu? kau membuatku takut.”

“Jangan menyelaku.”

“Oke.”

Kali ini Amy diam. Donghae mengatur lagi nafasnya yang entah kenapa mendadak jadi tak karuan. Padahal sebelumnya ia begitu percaya diri. Dan setelah ia berhitung sampai sepuluh, akhirnya ia bicara lagi.

“Aku tak mau membuat ini sulit dan aku benci berbasa basi. Jadi kau harus tenang, dengarkan aku baik-baik. Dan sebaiknya kau tidak tertawa setelahnya.”

Donghae memberi jeda selama beberapa saat menunggu reaksi macam apa yang diperlihatkan Amy. Gadis itu ikut serius menatapnya. Gadis itu menuruti kemauannya. Maka ia pun menghembuskan nafasnya.

“Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku payah sekali soal wanita dan sebelumnya aku hanya bermain-main. Aku sering berhubungan dengan banyak wanita setiap malamnya. Mereka menemaniku menikmati barang-barang itu dan mereka juga yang menerbangkanku hingga aku merasa tak butuh apa-apa lagi. Tapi apa yang aku rasakan belakangan ini berbeda. Aku mulai memperhatikanmu. Kau membuatku ingin terus melihatmu. Kadang aku menatap handphoneku berharap namamu akan muncul. Aku tak ingin pura-pura tidur lagi untuk menghindarimu. Malah aku akan membukakan pintu untukmu. Ketika kau mengatakan tidak bisa menemuiku dihari berikutnya, aku seperti kehilangan semangat. Bisa kau jelaskan apa maksud semua itu?”

Amy diam. Ia belum mendengar apapun dari Donghae. Pria itu malah diam menatapnya.

“Jadi…apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Amy.

Donghae malah tersenyum. Semua kata sudah terangkai dikepalanya, juga tersusun dibibirnya. Ia bisa saja mengucapkannya dengan cepat ataupun perlahan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, itu terlalu panjang dan kurang masuk akal untuk diucapkannya. Ia juga merasa itu takkan menjawab apapun. Mendadak saja ia punya sebuah kesimpulan. Dan ia bisa mengatakannya tanpa ragu.

“Ibuku bilang aku menyukaimu. Dan kurasa………….ibuku benar. Menurutmu?”

****

Jae Gum senang melihat Kyuhyun tiba-tiba muncul di depan tokonya. Anaknya itu turun dari mobil lalu memeluknya sebentar. Nampaknya Kyuhyun sedang dalam mood yang baik. Anak itu tak henti tersenyum bahkan sempat mengajaknya berdansa sambil bersenandung.

“Oke, oke, kau membuat ibu bingung, ada apa sebenarnya? Apa kau baru saja mendapat kontrak baru? Atau lagu baru yang bagus?”

Kyuhyun melepas pelukannya, ia tuntun ibunya untuk duduk sedangkan ia bersimpuh di hadapannya.

“Ibu…aku sangat gembira. Semangatku benar-benar tinggi.”

“Ibu tahu. Ibu bisa merasakannya. Tapi….apa yang menyebabkannya?”

Jae Gum mengelus pipi anaknya. Apapun yang akan ia dengar, ia akan ikut senang. Tapi rasanya ia tak pernah melihat anaknya seperti ini. Kyuhyun menarik lalu menghembuskan nafasnya berkali-kali. Kedua tangannya digenggam erat.

“Kyuhyun?”

“Ibu…aku mencintai seseorang dan aku akan mengatakannya sekarang!” seru Kyuhyun dengan cepat. Ia sempat diam menunggu reaksi ibunya. Namun, Jae Gum lekas berdiri lantas memeluk anaknya. Mereka menari-nari sebentar dan Kyuhyun sempat saja memutar tubuh ibunya.

“Jadi itu yang membuatmu seperti ini? Kalau begitu kau harus memberinya bunga.”

Jae Gum mendekati deretan bunganya. Ia pilah pilih lebih dulu sampai pilihannya jatuh pada bunga lili.

“Berikan ini padanya. Ini melambangkan seputih apa dan seberapa dalam kau mencintainya.”

Kyuhyun menerima bunga itu. Ia nampak kegirangan dan siap meletup-letup kalau saja ibunya tak memegangi.

“Tapi…siapa gadis itu? Apakah ibu mengenalnya?”

“Tentu saja ibu mengenalnya.”

“Benarkah? Siapa?”

“Amy Lee!!! Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya dan aku harus mengatakannya sekarang juga.”

Lee Jae Gum terpaku di tempat. Pelukan Kyuhyun dan juga permohonan doa restu tak lagi ia dengar. Mendadak ia tak bisa bergerak dan membalas semua yang dilakukan Kyuhyun padanya. Ia hanya melihat Kyuhyun melambai padanya. Anak itu berjalan, masuk ke dalam mobil lalu hilang dalam sekejab.

Anak itu pergi…untuk menyatakan perasaannya pada Amy.

Lalu Donghae……

Ia tak sanggup membayangkannya. Ia terduduk lemas dikursinya dan tak bisa memikirkan apapun.

****

“Bagaimana? Apa kau setuju dengan ibuku?” tanya Donghae sekali lagi. Tapi Amy masih saja diam. Amy memandangnya tanpa ekspresi seakan ia baru saja mengatakan lelucon paling buruk sedunia. Padahal ia hanya mengucapkan beberapa kata yang menurutnya sangat jelas.

“Sebaiknya kau tidak membuatku menyesal sudah mengatakannya. Ini sangat memalukan dan aku merasa sedang ditelanjangi dengan reaksimu yang seperti ini.”

Donghae mulai kesal. Amy masih saja diam. Amy mendadak jadi orang bisu dan cacat fisik. Baiklah, kesabarannya mulai hilang.

Ia lalu berdiri, memandang Amy sekali lagi. “Lupakan saja. Anggap aku hanya bercanda dan silahkan tertawa setelah aku pergi.”

Ia berbalik. Batu-batu yang menghalangi jalannya ia tendang sembarang dan tak peduli jika mengenai kepala seseorang. Perkataan ibunya tak terbukti. Amy tak cukup cerdas untuk menjawab pertanyaanya.

“Bagaimana jika kukatakan bahwa aku merasakan hal yang sama?”

Sebelah kakinya melayang sebentar. Ia hentikan langkahnya dan ia mulai merasa tidak waras lagi. Tunggu! Apakah ia salah jika berharap itu adalah suara Amy?

“Bagaimana jika kukatakan bahwa ibumu benar?”

Ia tak bisa mempercayainya. Maka ia berbalik. Dan beberapa meter di depannya, Amy sedang tersenyum. Senyum yang membuat perkataan ibunya salah lagi. Amy bukannya cerdas dalam memahaminya, melainkan terlalu pandai mempermainkan perasaannya.

“Bagaimana jika kukatakan bahwa aku menunggu kau mengatakannya?”

Amy mendekatinya. Donghae masih menerka-nerka apa lagi kiranya yang akan ia terima sebentar lagi. Ia pikir…sebuah jawaban dari Amy hanya akan melegakannya. Tapi jauh dari itu, ia juga merasa benar-benar bahagia. Mendadak rasanya semua daun dan bunga yang rontok naik kembali ke dahannya lalu mekar. Ini sungguh luar biasa.

*****

Bunga lili ditangannya terjatuh. Ia tak sanggup lagi memegangnya. Ia tak bisa lagi menjaganya dan ia tak tahan melihat adegan di depannya.

Amy berjalan mendekati Donghae. Donghae meraih tangannya kemudian mereka berjalan berdua. Mereka berjalan seakan tak ada siapapun disekitar mereka, seakan tak ada seorang pria bertubuh besar yang menabrak mereka, seolah tak ada anak kecil yang menghalangi jalan mereka, seolah pertengkaran kecil mereka yang terus muncul sama halnya dengan saling melempar puisi, dan seolah ia tak pernah berdiri disini.

Ia terlalu cepat datang kemari. Ia terlalu cepat tiba hingga mendengar banyak hal. Jika ia datang lebih lambat, apakah itu lebih baik dengan tak mengetahui apapun? Atau jika ia datang lebih cepat dari kakaknya, siapa yang bisa jamin Amy akan mengatakan hal yang sama? Apa Amy akan memberinya senyum yang sama? Apa Amy akan menggenggam tangannya?

Dari toko bunga ibunya, ia melesat jauh kemari. Ia berlomba dengan waktu dan melakukan apapun supaya bisa segera sampai dengan harapan Amy masih ada disini menunggunya. Ia harus berurusan dengan polisi yang mengejarnya karena mengemudi sangat cepat. Ia harus berlari dari halaman parkir untuk mencari keberadaannya. Dan selama itu ia selalu menjaga bunganya agar tidak rusak. Bunganya ia jaga agar tetap seperti semula saat diserahkan pada Amy.

Namun, sekarang bunga itu sudah rusak. Bunga itu jatuh kemudian diinjaknya.

Dengan kondisi seperti ini, apa ia masih bisa mengasihani kakaknya?

Sementara disudut lain Max duduk sambil menjilati es krimnya. Lama sekali ia tak merasakan es krim senikmat ini. Kalau tak salah, terakhir kali ia makan eskrim dari ibunya yang dibeli dari sebuah kedai di depan rumah. Itupun dengan uang yang disisihkan selama dua hari. Waktu itu mungkin ia masih berumur delapan tahun.

Sekarang semuanya menjadi sempurna karena ia menikmatinya dengan ditemani sebuah tontonan menarik. Ada tiga orang di depan sana yang sukses membuatnya merasa mencium bau surga. Apakah ada hal yang lebih buruk dari ini? Ini terlalu mudah untuk mempermainkan perasaan keluarga itu. Ayahnya, kedua anaknya, mereka semua terlalu bodoh.

Lee Donghae, kau terlalu polos jika berpikir aku sudah melepaskanmu. Kau sebenarnya bukan target utama.

Cho Kyuhyun, kau malang sekali. Apa kau masih punya alasan untuk tersenyum dengan kakakmu?

Dan kau Amy Lee, kau mempermudah segalanya.

“Anak muda, maaf. Bisa kau berikan bola anakku?”

Max menatap seorang wanita dewasa yang berdiri di depannya. Ia menunduk dan menemukan sebuah bola dikakinya.

“Oh, ini bola anakmu?” Ia mengambilnya lantas diberikannya pada wanita itu.

“Terima kasih.”

Wanita itu pergi. Diperhatikannya sejenak wanita itu yang kemudian bermain dengan dua anak lelakinya yang masih kecil. Mereka nampak gembira.

Ah, ia jadi terpikirkan sesuatu.

Bagaimana jika ia juga menyerang Lee Jae Gum?

***TBC***

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: