What If [9/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

******

Sejak kecil Donghae dan Kyuhyun memang kerap bertengkar untuk memperebutkan beberapa benda. Apapun mainan baru yang dimiliki Kyuhyun, Donghae akan datang merebutnya hingga Kyuhyun menangis keras. Jika tak ada siapa-siapa di rumah, ibunya bisa menenangkan tangis Kyuhyun, tapi tidak berusaha mengembalikan mainan itu. Namun, jika saat itu kebetulan ayah mereka ada di rumah, maka mainan itu akan kembali ke tangan Kyuhyun dengan utuh. Dan setelahnya Donghae akan mendapatkan ‘hadiah’ dari ayahnya yang takkan terlupakan.

Setelah kejadian itu, Kyuhyun tak lagi mempermasalahkan soal mainannya. Diam-diam ia bahkan memberikan mainannya pada kakaknya atau kadang mereka main bersama di gudang. Kyuhyun rela mengalah demi Donghae. Asalkan kakaknya tidak menangis lagi, ia tak masalah. Untuk mendapatkan mainan baru, ia tinggal minta pada ayahnya.

Jae Gum tahu betul bagaimana watak kedua anaknya. Ia bisa saja duduk berleha-leha di rumah dan melakukan kegiatan seperti biasa. Tapi sekarang masalahnya berbeda. Mereka bukan lagi dua anak kecil yang hanya memperebutkan sebuah robot atau mobil-mobilan. Mereka jatuh cinta pada wanita yang sama dan mereka sudah dewasa. Dan lagi…wanita itu bukan mainan.

Masih tercetak jelas dalam kepalanya bagaimana raut wajah ceria Donghae sesaat sebelum pergi menemui Amy. Donghae mandi selama dua jam. Donghae bercermin dan sibuk gonta ganti gaya rambut. Sulit ia percaya bahwa anaknya yang beberapa bulan lalu masih bisa melempar wajahnya dengan sendok kini datang padanya untuk meminta doa. Donghae berubah karena Amy dan anak itu jatuh cinta pada Amy. Tak ada alasan baginya untuk tak mendukung. Tapi semua berubah ketika Kyuhyun datang padanya dengan lebih ceria lalu menyebut nama Amy dengan lantang.

Sejak kembali dari toko, Jae Gum tak bisa duduk tenang. Ia mondar mandir di teras rumahnya sambil terus melihat kearah jalan kalau-kalau satu dari dua anaknya datang. Perasaannya tak nyaman. Tak ada sesuap makanan yang ia telan dari pagi, tepatnya setelah Kyuhyun datang padanya.

Jam pun sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia baru akan menghubungi Donghae. Tapi sebuah mobil tiba-tiba masuk kehalaman rumahnya dan Donghae turun lebih dulu. Amy mengekor di belakang.

“Ibu, apa yang ibu lakukan disini?”

Jae Gum menatap Donghae dan Amy bergantian. Dari ekspresi mereka, nampak tak ada hal buruk terjadi.

“Apa kalian bertemu Kyuhyun?”

“Kyuhyun?”

Donghae menoleh pada Amy dan gadis itu langsung menepuk dahinya.

“Aku baru ingat. Tadi Kyuhyun memang menelpon, katanya ingin menyusul. Tapi…sampai beberapa jam kami di taman, ia tidak juga datang.”

“Memangnya ada apa? Kenapa ibu mencarinya?”

Jae Gum tak mendengarnya. Ia sibuk berpikir dan menimbang-nimbang apakah ia harus menelpon anak itu atau tidak. Apa Kyuhyun batal menyusul mereka? Kalau Kyuhyun kesana dan mengetahui niat Donghae, ia harus meyakinkan bahwa anak itu baik-baik saja.

“Ibu, apa yang terjadi? Kenapa ibu mencari Kyuhyun?”

“Aku disini.”

Sontak semua kepala mengarah kebelakang. Kyuhyun berdiri di dekat mobil Amy. Jae Gum tersenyum padanya dan ia bersyukur anaknya baik-baik saja.

“Kalian mencariku?” Kyuhyun mendekati mereka sambil menguap lebar. Lehernya digerakkan kekiri dan kanan.

“Kyuhyun, apa kau….”

“Kenapa kau tidak jadi menyusulku?”

“Mobilku mogok di tengah jalan. Aku kemari dengan taksi. Ah, aku lapar sekali. Ibu bisa masak sesuatu untukku?”

Jae Gum mengangguk pelan. Dari cara Kyuhyun menatapnya, ia merasa takkan sanggup bilang tidak. Lagipula ia memang tak punya alasan untuk menolak permintaan anaknya. Maka mereka semua masuk ke dalam. Kyuhyun tak bergabung dengan Amy ataupun Donghae. Ia masuk ke dalam kamar ibunya dan meminta dibangunkan kalau masakannya sudah siap. Dan menilik sikap Kyuhyun yang tak biasa seperti itu, Jae Gum pun hampir seratus persen yakin bahwa Kyuhyun sudah mengetahuinya.

Ia masak dalam perasaan tak tentu. Sesekali ia tersenyum melihat kelakuan Donghae dan Amy yang saling ejek di meja makan. Tapi sesekali ia juga harus menunduk setelah melihat ke arah pintu kamarnya yang tertutup. Pikirannya tak karuan sampai tak sadar bahwa ia melukai jarinya sendiri.

“Aw..”

“Ibu!!”

“Bibi!!!”

Jae Gum meringis melihat darah keluar dari ujung telunjuknya. Donghae sigap meraihnya lalu menghisap darahnya.

“Maafkan ibu.”

“Kenapa ibu harus minta maaf? Dimana kotak obatnya?”

“Ada di kamar ibu.”

Jae Gum sigap menahan lengan Donghae yang akan kekamarnya mengambil kotak obat.

“Biar ibu saja yang mengambilnya.” Ia menoleh pada Amy, “Amy, kau bisa melanjutkan masakan ini?”

“Ha? Aku?”

Tanpa mendengar jawaban Amy, Jae Gum sudah berjalan menuju kamarnya. Ia perlu mengatur nafasnya lebih dulu sebelum akhirnya masuk. Dan tebakannya benar sekali. Kyuhyun tidak istirahat. Anak itu justru duduk dipinggiran jendela sambil menatap keluar.

Diam-diam ia melangkah mendekatinya. Ia redam langkahnya sepelan mungkin lalu duduk di depannya. Saat itulah ia menemukan setetes air mata anaknya jatuh.

Dulu Kyuhyun juga seperti ini. Ketika ia mengambek pada kakaknya, ia akan masuk ke kamar lalu menangis diam-diam.

“Mobilmu tidak mogok. Kau pergi kesana dan kau melihat mereka,” ujar Jae Gum sambil mengelus pipi Kyuhyun. Jempolnya bergerak mengusap air matanya.

“Kenapa ibu tak mengatakannya?”

Pertanyaannya memaksa ia menurunkan tangannya. Ia diam. Ikut memandang ke luar.

“Ibu tidak tahu apa yang harus ibu lakukan. Saat kau menyebut nama Amy, saat itu juga ibu tak bisa bergerak.”

“Aku pun tak mampu bergerak saat tiba di sana dan melihat mereka.” Kyuhyun memaksakan senyumnya.”Aku baru sadar mereka memang serasi.”

Jae Gum tak bisa mengatakan apa-apa. Sayup-sayup ia mendengar suara keributan yang dibuat oleh Donghae dan Amy. Dan setelahnya, ia merasakan Kyuhyun memegang tangannya.

“Boleh aku memeluk ibu?”

Jae Gum membuka tangannya. “Kapanpun kau mau.”

Dan Kyuhyun langsung memeluknya. Ia usap kepalanya yang bersandar dibahunya.

“Terima kasih karena sudah merelakan Amy untuk kakakmu. Dia sangat membutuhkannya.”

Kyuhyun tersenyum pahit. Tentu saja ia harus mengalah. Ia akan terus dan selamanya mengalah. Kakaknya butuh banyak hal. Kakaknya butuh ini dan itu sementara ia harus merelakan apapun yang ia inginkan. Bahkan perlu situasi semacam ini untuk bisa mendapatkan pelukan hangat ibunya. Tapi ia tak mengatakan apa-apa. Lagipula….siapa yang butuh persetujuannya?

***

“Kau tidak membawa mobil, kan? Biar aku yang mengantarmu.”

Kyuhyun menatap Amy yang sibuk mencari kunci mobilnya dari dalam tas. Biasanya Amy tak perlu mengatakan itu ataupun menawarkannya jika ia tak membawa kendaraan. Secara otomatis harusnya ia memang duduk di depan atau mengambil alih kemudi. Sepertinya memang sudah banyak hal yang tak lagi sama.

“Ibu, aku pulang dulu.”

Setelah memeluk ibunya singkat, Kyuhyun berbalik. Ia keluarkan sebuah kunci mobil dari saku kemejanya lalu menekan tombol untuk membuka kunci.

“Hey, jadi kau yang mengambil kunci mobilku?”

Ia tak menyahut. Dengan cuek ia masuk ke dalam mobil dan menunggu Amy tiba. Namun, sepertinya ia harus menunggu lebih lama. Donghae tiba-tiba menahan Amy dan mereka terlibat pembicaraan. Ia tak mau tahu apa yang sedang mereka perbincangkan. Yang ia tahu, ia ada disini dan mereka belum mengatakan apapun padanya soal hubungan mereka. Kakaknya tak pernah mengatakan perasaannya. Dan Amy sama mengejutkannya. Mereka bertingkah seolah ia sama sekali tak berguna.

Ia pun menyalakan mesin mobil bermaksud agar mereka sadar bahwa ia bukan seorang supir di sini. Amy menoleh padanya sambil cemberut. Dan sebelum Amy berbalik kearahnya, Donghae memanggilnya lagi lantas memberikan seulas senyum yang sangat berbeda.

Ia lekas buang muka, berlagak tak melihat apa-apa. Ia terus melakukannya sampai Amy duduk di sampingnya.

“Aku bukan sopirmu,” katanya ketus. Amy menoleh padanya dengan bingung.

“Ada apa denganmu?”

Kyuhyun malas menjawabnya. Ia putar mobil lalu melaju dengan kencang. Tak ada topik apapun yang ingin ia bicarakan dengan Amy. Kalaupun Amy akan menceritakan apa yang terjadi padanya dan Donghae selama berada di taman, ia tak cukup tertarik mendengarnya. Rasa sakitnya masih ada. Dan Amy tak perlu menambahnya dengan mengulang kejadian itu. Kecuali Amy masih menganggapnya sebagai sahabat, mungkin ia akan memaksa telinganya untuk mendengar.

“Kapan album kompilasi manajemenmu keluar? Ini sudah musim gugur.”

“Minggu depan. Besok aku akan syuting video klip dengan semua artis dimanajemen.”

Amy hanya membulatkan mulutnya lalu tak ada percakapan lagi setelahnya. Amy sibuk dengan handphonenya, tersenyum sendiri seperti remaja yang sedang kasmaran. Bahkan hingga Kyuhyun tiba di rumahnya, tak ada yang berubah. Nampaknya semua sudah berbeda. Ia tak pernah merasa sesunyi ini jika hanya berdua dengan Amy. Biasanya akan ada sebuah pembicaraan mengenai kesibukan masing-masing. Kyuhyun akan mengeluhkan banyak hal dan Amy sebagai pendengar. Kebersamaan mereka adalah bagian yang begitu ia nantikan dan selalu mampu mengembalikan moodnya ke level yang lebih baik. Tapi sekarang ia justru mereka ingin cepat-cepat pulang, membanting pintu, menghancurkan cermin di kamar lalu berteriak.

“Amy..” Ia menahan gerakan tangan Amy yang hendak melepas seatbelt. Selama berada di rumah ibunya, ia sudah memikirkan hal ini. Dan ia sudah mengambil keputusan.

“Sebaiknya kita tidak berhubungan dulu sementara ini.”

Amy melepas seat belt-nya dengan perlahan. “Maksudmu?”

“Kita tidak usah bertemu dulu sampai waktu yang aku sendiri tidak tahu. Kau lakukan semua kegiatanmu dan aku akan melakukan hal yang sama. Kau tidak usah mengunjungi apartemenku, atau studio latihan. Kau juga tak perlu menelponku.”

“Kyuhyun, aku sedang tidak ingin bercanda.”

“Aku juga tidak bercanda.”

“Tapi kenapa?”

Kyuhyun menghela nafasnya. Sesungguhnya ia masih tak bisa bayangkan akan jadi apa hari-harinya tanpa melihat atau mendengar suara Amy. Semuanya sudah menjadi kegiatan rutinnya seperti ia yang harus minum segelas susu dipagi hari. Tapi ia sudah memutuskan. Segudang jadwal yang menunggunya mulai besok mungkin bisa membantunya mengalihkan pikiran.

Ia pun tak bisa menjawab pertanyaan Amy. Ia lekas turun dari mobil dan bermaksud langsung masuk ke gedung apartemennya. Namun, langkahnya tertunda. Ia berbalik pelan, menatap Amy yang masih terpaku di kursinya. Ia lalu menunduk di depan kaca samping kemudi.

“Aku hanya ingin mengucapkan selamat untukmu. Semoga kau bahagia.”

Dan setelahnya ia bergegas masuk. Tak ia dengar suara Amy. Tak ada tindakan pencegahan atau usaha untuk meminta penjelasan dari Amy. Semuanya semakin jelas. Amy tak membutuhkannya lagi.

***

“Jadi, sejak malam itu dia tak menghubungimu lagi? Kenapa kau tak mengatakannya lebih awal?”

Donghae memutus sambungan teleponnya dengan Amy begitu saja. Ia kesal karena Amy baru menceritakan apa yang Kyuhyun katakan malam itu. Sekarang ia tahu, bukan cuma ia dan ibunya yang tak bisa bertemu Kyuhyun lagi, melainkan juga Amy. Amy yang bahkan tahu betul letak apartemen dan tempat-tempat dimana Kyuhyun biasa bepergian tak pernah berhasil menemuinya. Ditanya pada manajernya, ia selalu menjawab Kyuhyun sangat sibuk. Ditanya pada pelayan di rumahnya, tak ada yang melihat Kyuhyun pulang. Amy bahkan pernah menunggu di depan pintu apartemen semalaman suntuk. Tapi esoknya ia justru sudah berada di dalam mobilnya tanpa tahu bagaimana caranya ia ada disana.

Donghae tak mengerti. Apakah ia sudah melakukan kesalahan sampai Kyuhyun tak mau berhubungan lagi? Jika Kyuhyun punya masalah dengannya dan Amy, ia tak masalah jika Kyuhyun tak mau bicara. Tapi harusnya Kyuhyun tak membawa ibunya. Ibunya juga kebingungan karena sudah hampir tiga minggu Kyuhyun tak pernah datang lagi. Ibunya bahkan menangis semalam.

Ia bisa melihat jika alasan sibuk yang dibawa manajernya tidak bohong. Ia lihat beritanya dikoran dan juga di tv. Kabarnya Kyuhyun sibuk mempromosikan lagu barunya bersama semua artis dimanajemennya. Kyuhyun juga berduet dengan salah satu senior dan mereka tampil dimana-mana. Belum lagi jadwal lain yang tak diketahuinya. Tapi…apakah segudang kegiatan itu membuatnya tak bisa lagi sekedar memberi kabar lewat telepon?

“Hey, aku pulang duluan.”

Donghae tersenyum sekedarnya pada dua temannya yang pulang lebih dulu. Sejak semua pekerjaannya selesai, ia duduk diujung tangga lantai dua. Ia terus mencoba menelpon Kyuhyun yang sayangnya tak pernah tersambung. Mungkin ia akan sampai besok pagi disitu kalau saja pesan dari ibunya tak masuk. Ibunya bertanya kenapa ia belum pulang.

Sejenak ia menghela nafasnya berat. Sejak Kyuhyun tak menemui mereka, ibunya selalu bersikap seperti ini, seakan jam segini adalah waktu yang tak wajar baginya untuk belum tiba di rumah. Padahal jelas ini belum genap waktu pulang yang seharusnya. Ia pun berdiri, ke lantai bawah untuk mengganti pakaian lalu mengambil tasnya.

Dalam perjalanan ia sempat singgah disebuah kedai untuk membeli dua porsi rappokki. Uang gajinya minggu lalu masih tersisa banyak. Mungkin dengan membelikan ibunya makanan dan mengajaknya makan bersama, suasana hati ibunya akan membaik. Dan tepat setelah ia membayar pesanannya, tak sengaja ia melihat Kyuhyun keluar dari sebuah supermarket. Nampak ditangannya ada sebuah kotak rokok. Sejak kapan Kyuhyun merokok?

Ia sudah melangkah mendekatinya. Namun, seseorang yang keluar dari supermarket yang sama membuat langkahnya tertunda.

“Max?”

Ia kucek matanya. Ia perhatikan keduanya dan ia yakin ia tak salah melihat orang. Itu benar-benar Max yang menepuk bahu Kyuhyun lalu mendahuluinya untuk mengunci mobil. Sesaat kemudian mereka berjalan berdua lalu masuk ke sebuah tempat. Dan setelah ia mendekat lagi, ia tahu itu adalah sebuah klub malam.

Tak mau buang-buang waktu, ia masuk ke dalam klub itu. Ia harus menjauhkan adiknya dari orang seperti Max. Rokok dan klub? Mungkin ia tak melewati banyak waktu dengan Kyuhyun. Mungkin ia tak cukup tahu kebiasaan Kyuhyun. Tapi ia berani bertaruh bahwa Kyuhyun bukan perokok ataupun pengunjung setia tempat seperti ini.

Saat berada di dalam, ia langsung disambut oleh dua orang gadis yang menawarinya minum. Ia kenal betul bau macam apa yang ia cium saat ini. Bau minuman dan juga bau barang-barang itu. Tak sulit untuk menemukan kumpulan orang yang sedang memakainya. Bahkan beberapa orang menyapanya serta mengajaknya bergabung.

Ia belum amnesia. Beberapa diantaranya memang cukup ia kenal. Mereka sama sepertinya dimasa lalu, membeli barang dari anak buah Max lalu berpesta bersama. Tapi ia jarang kemari, kecuali sedang butuh belaian wanita.

Setelah berjalan kesana kemari, akhirnya ia menemukan Kyuhyun dan Max di depan meja. Max menyodorkan Kyuhyun segelas beer dan Kyuhyun meneguknya dengan cepat. Maka ia langsung kesana, ia hentikan gerakan tangan Kyuhyun yang hendak minum lagi.

“Cukup!”

Kyuhyun menatapnya tajam. Tapi kemudian dalam sekejab tatapan itu berubah. Tatapan yang mengatakan bahwa mereka tidak saling mengenal.

“Kyuhyun, apa yang kau lakukan disini? Kupikir kau sangat sibuk sampai tak sempat mengunjungi ibu lagi.”

“Menyingkir dari sini!” Kyuhyun menjauhkan tangannya. Donghae sampai ragu kalau orang yang duduk di depannya ini adalah adiknya.

“Maaf, kawan. Semuanya nampak menyenangkan kalau saja kau tak datang dan mengganggu kami.”

Donghae menatap tajam ke arah Max. Sekarang ia tahu ini ulah siapa.

“Apa yang kau lakukan pada adikku?”

“Kyuhyun, kau yakin dia adalah kakakmu?”

Kyuhyun yang nampak mulai mabuk memandang Donghae sejenak lalu tertawa sendiri. “Aku bahkan tak pernah melihatnya.”

Tangan Donghae yang sempat berada dikerah Max seketika melemah. Ia tarik lagi lengan Kyuhyun lalu memaksanya untuk menatapnya.

“Apa yang baru saja kau katakan, huh? Katakan sekali lagi! Ucapkan lagi dan tatap mataku!”

Dengan mata yang mulai sayu, Kyuhyun menyingkirkan lagi tangan Donghae seakan ia tak mau kemejanya kotor.

“Aku…tidak…mengenalmu, puas?”

Donghae terdiam. Kyuhyun sudah berdiri dengan gontai lalu menjauhinya.

“Antar aku pulang saja, Max.”

Max tersenyum. “Kau duluan saja ke mobil.”

Setelah Kyuhyun tak terlihat lagi, dengan cepat Donghae menghantam wajah Max.

BUG

“Apa yang kau lakukan padanya? Kau ingin merusaknya seperti kau merusakku?”

Max meludah kesal. Ia rapikan pakaiannya lalu menarik jasnya dari atas meja. Ia masih bisa tersenyum seolah pukulan Donghae tak ada efeknya.

“Kau mengaku saudaranya tapi kau tak cukup mengenalnya. Aku tak melakukan apa-apa. Dia yang datang padaku dan kurasa kaulah yang paling tahu apa yang membuatnya seperti itu.”

Donghae menarik lagi kerah kemejanya. Ia dorong Max ke dinding hingga beberapa orang memperhatikan mereka.

“Jangan dekati adikku lagi! Jangan berhubungan dengannya lagi atau aku akan melaporkanmu ke polisi. Ingat, aku tahu segalanya!”

“Hey, hey, ada apa ini? Kalian jangan bertengkar disini!”

Seruan dua orang bodyguard berusaha melepaskan tangan Donghae. Tapi Donghae tak bergeming. Cengkramannya mampu membuat Max sedikit kesulitan bernafas.

“Silahkan…uhuk…kau lakukan itu. Tapi begitu polisi menangkapku, maka saat itu juga Kyuhyun akan tertangkap. Mudah bagiku untuk memainkan segalanya dan kau akan melihat adikmu berada dipenjara! Bukankah kau sangat familiar dengan penjara?”

Kesal, Donghae tinju sekali lagi wajahnya lalu melempar tubuhnya. Ia bergegas keluar untuk menyusul Kyuhyun. Tepat sebelum Kyuhyun masuk ke mobil, ia tarik lengannya.

“Kyu, apapun alasannya, kau tidak boleh berhubungan dengannya. Dia bukan pria baik-baik. Dia..”

“Apa kau merasa cukup baik untuk menasehatiku seperti itu?”

Donghae terdiam.

“Berkacalah dulu sebelum bicara denganku. Dia bahkan jauh lebih baik dibanding denganmu.”

Donghae tak menyerah. Ia yakin Kyuhyun hanya sedang berada dibawah pengaruh alcohol hingga bicaranya tak karuan.

“Kalau begitu jelaskan padaku apa kesalahanku. Ibu sangat mengkhawatirkanmu.”

Kyuhyun mendorong Donghae. Ia tak menjawab lantas masuk ke dalam mobil. Tak lama, Max muncul lalu mengambil alih kemudi. Usahanya menggedor-gedor kaca mobil sia-sia. Kyuhyun tak menjawab lalu pergi bersama mobil itu.

Argh!!

Donghae ingin sekali menendang sesuatu atau memukul apapun. Ia tak peduli nasib makanannya tadi. Sekarang, yang membuatnya penasaran adalah…bagaimana caranya Kyuhyun mengenal Max? Dan apa kesalahannya sampai Kyuhyun tak mau mendengarnya lagi?

***

Kyuhyun terbangun dengan kepala yang pusing luar biasa. Perlu beberapa menit baginya untuk mengumpulkan nyawa lalu duduk di tepi tempat tidur. Dengan cepat ia mencium aroma makanan yang sangat menggoda. Dan setelah diperhatikan, ada sepiring nasi goreng dan segelas susu di atas meja.

Dimana ia?

Ia melihat sekeliling dan merasa tak mengenal kamar dimana ia tidur. Kamarnya sangat luas, hampir menyamai kamar pribadinya di rumah. Semuanya bernuansa putih bahkan sampai pada televisi dan remotenya disalah satu sudut.

“Kau sudah bangun?”

“Max?

Max masuk sambil mengelap rambutnya dengan handuk kecil. Kyuhyun sempat terpaku beberapa detiik karena sebelumnya ia tak pernah melihat Max dalam balutan sederhana seperti ini. Max mengenakan kaos lalu celana olahraga.

“Ini…rumahmu?”

Max mengangguk. Ia nyalakan televisi dan mencari channel berita pagi.

“Kau mabuk dan kupikir lebih baik kau kubawa kemari saja. Ada yang salah? Apa ACnya tidak menyala?”

“Bukan! Bukan itu! Aku bahkan merasa sangat nyaman disini. Aku justru ingin mengucapkan terima kasih.”

“Santai saja, kawan. Anggap ini rumahmu sendiri.”

Kyuhyun menunduk, baru sadar bahwa ia tak mengenakan atasan apapun. Ia merasa tak perlu bertanya hingga matanya menemukan sendiri pakaiannya di sofa. Setelah memakainya, ia mengambil nampan dari atas meja lalu mulai menyantap sarapannya. Ia dan Max tak terlibat pembicaraan apapun sampai makannya selesai dan Max mematikan tv.

“Enak? Aku memasaknya sendiri.”

“Benarkah?”

Max mengangguk. “Sebenarnya aku suka memasak, tapi aku sangat sibuk dan hanya sesekali masak untuk ibuku.”

“Ini enak sekali. Aku tak menyangka kau punya kemampuan memasak. Mungkin kau akan cocok dengan ayahku karena dia sangat suka memasak.”

Max diam. Ia hanya menatap Kyuhyun yang menelan habis susunya lalu menyandarkan tubuhnya disofa. Jika bisa dijawab, ia ingin sekali mengatakan bahwa ia tak sudi disamakan dengan pria itu. Tapi sekarang ia harus kesampingkan hal itu.

“Ah, untuk kejadian semalam…apa benar dia adalah kakakmu?” Max bertanya sambil membuka tirai jendela. Sejenak Kyuhyun menutup matanya karena silau. Tapi kemudian pertanyaan Max membuatnya tak merasakan apa-apa.

“Tak masalah kalau kau tak menjawab.”

“Dia bukan kakakmu,” sergah Kyuhyun cepat dengan tegas. Pandangannya kosong dan kedua tangannya tak sadar meremas sofa.

“Dia bukan siapa-siapa. Seperti yang ayahku katakan, dia tak lebih dari sekedar parasit. Dia hanya pengganggu.”

Max menyeringai. Perlahan-lahan ia duduk juga disofa sambil menikmati ekspresi kekecewaan Kyuhyun.

“Hm…semalam dia juga memukulku. Aku mungkin takkan ada disini kalau pihak klub tidak menyelamatkanku.”

Kyuhyun menoleh dengan cepat. Ia baru sadar bahwa ada lebam dipipi Max.

“Apa yang dilakukannya padamu?”

“Bukan apa-apa. Aku baik-baik saja.”

“Ck..watak aslinya keluar juga. Sebaiknya kau hati-hati jika berdekatan dengannya. Dia adalah mantan penghuni penjara dan pemakai narkoba.”

Kyuhyun masih sibuk membeberkan kejelekan Donghae sementara Max bertepuk tangan dalam hati. Ini adalah pagi terbaik yang pernah ada. Setiap kejelekan Donghae yang sampai ketelinganya akan terdengar seperti sebuah puisi yang dulu kerap ia baca di depan gurunya.

“Dimana toiletmu?” tanya Kyuhyun. Max tak langsung menjawab. Konsentrasinya terbagi karena ada sebuah panggilan dihandphonenya.

“Max?”

“Ah, toiletnya ada disebelah sana!” Max menunjukkan toiletnya lalu menerima telepon tersebut setelah Kyuhyun pergi.

“Hallo.”

“Dia bersamamu?”

Max melihat keluar sedikit dan dilihatnya Kyuhyun masuk ke dalam toilet.

“Dia bersamaku dan dia nampak sangat baik.”

“Baiklah. Aku hanya ingin menanyakan itu.”

Max tak mengatakan apa-apa lagi. Ia lempar handphonenya lalu merebahkan tubuhnya. Semalam ia tidur nyenyak. Ia mimpi indah dengan duduk di pinggir pantai bersama ibunya sedang Cho Min Sook sekeluarga tertunduk sambil menyediakan minuman untuknya. Lalu pagi tadi ia bangun dengan tubuh yang segar bugar. Ia sempatkan berlari disekliling rumah, menyiram tanaman kemudian mendengar ‘pujian’ Kyuhyun buat Donghae.

“Max, apa kau tidak mencium bau tak sedap diluar?”

Kyuhyun datang sambil menutup mulut serta hidungnya.

“Bau tak sedap?”

“Iya, baunya sangat tidak enak sekali di luar.”

Max lekas berdiri. Dilihatnya sesaat keadaan luar dan sepertinya ia lupa untuk menyelesaikan yang satu ini.

“Ini adalah ulah pelayan-pelayanku. Sejak tadi aku sudah marah pada mereka karena membiarkan sampah-sampah menumpuk di dapur selama berhari-hari. Kau tahu aku jarang pulang jadi aku tidak mengawasi kerja mereka dengan baik. Maaf atas ketidaknyamananmu. Akan kubereskan.”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu membiarkan Max pergi. Sementara Max melotot pada seorang pelayannya yang baru keluar dari kamar ibunya. Ia mendekatinya, lantas berbisik, “Kau kupecat!”

****

“Aish..apa-apaan kau? Apa kau beralih jadi herbivora?” Kyuhyun bersungut kesal di bangkunya. Ia tiup-tiup lengannya yang baru saja mendapat serangan dari Henry.

“Salah sendiri kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Kurasa kau tidak menanyakan apapun.”

“Aku bertanya soal Amy.”

Mendengar nama itu, semangat Kyuhyun untuk marah-marah langsung pudar. Ia sibuk merapikan rambutnya di depan cermin yang baru saja ditata oleh penata rias.

“See? Kau tidak menjawabku lagi. Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Amy terus menemuiku di kampus dan bertanya dimana kau tidur. Ia ke apartemenmu tapi kau tidak ada.”

“Aku tidak ingin menemuinya, puas?”

Henry mundur satu langkah saat Kyuhyun menjawabnya dengan nada yang tak biasa. Ia tahu itu bukan Kyuhyun. Seorang Cho Kyuhyun tidak akan mengatakan itu jika menyangkut soal Amy Lee, sebesar apapun kesalahannya. Henry masih ingat benar bagaimana dulu Kyuhyun dan Amy pernah bertengkar. Mereka tak saling bicara dan buang muka jika kebetulan bertemu. Tapi dua hari kemudian Kyuhyun datang pada Amy dengan muka menyesal. Bagi Amy, itu adalah bukti kehebatannya. Sementara dimata Henry, Kyuhyun seolah sudah tak bisa hidup jika harus berhadapan dengan sikap dingin Amy.

“Boleh aku tahu alasannya?”

“Sayangnya aku tidak berminat memberitahumu.”

“Ya! Apa-apaan itu? Sejak kapan kau tidak mau membagi masalahmu?”

Seruan Henry tak berguna sama sekali. Kyuhyun sudah disibukkan dengan skrip ditangannya. Henry tahu itu cuma akal-akalannya. Pentas akan dimulai 5 menit lagi dan konyol sekali kalau Kyuhyun masih menghapal dialog. Saat latihan, Kyuhyun sangat luar biasa. Tak ada kesalahan yang dibuatnya. Dan semua kru drama musikal disini juga sudah mengakui kemampuan Kyuhyun yang cepat dan tanggap.

Henry kesal. Ia selalu dan akan terus ikut campur dengan urusan orang-orang disekitarnya. Maka segera ia keluarkan handphone lalu diam-diam menghubungi seseorang.

“Amy?”

***

Donghae menendang kerikil dikakinya. Ia sedang tak bersemangat melakukan apapun hari ini. Ia juga tak konsentrasi saat bekerja hingga ia salah meengelap kaca. Karena terlalu sibuk dengan lamunannya, ia sampai tak sadar sedang mengelap apa. Bukan kaca melainkan wajah atasannya. Dan bukannya minta maaf, ia justru refleks menyemprotkan pembersih kaca ke wajah pria itu. Akibatnya ia dihukum untuk pulang paling akhir setelah membersihkan seluruh toilet dilantai satu sampai tiga.

Ia baru pulang jam sembilan. Dan karna jalannya yang lamban, ia baru sampai di rumah hampir jam sepuluh. Ia juga tak sadar siapa yang berdiri di depannya sampai orang itu bersuara.

“Donghae.”

Ia meluruskan pandangannya. Rupanya Amy berdiri di dekat mobilnya. Belum juga ia membalas sapaannya, ia menyadari sikap Amy yang nampak sedikit gelisah.

“Apa yang terjadi?”

“Aku baru mendepat telepon dari temanku dan dia memberitahuku dimana aku bisa menemui Kyuhyun. Kurasa….aku harus kesana.”

Donghae menahan lengan Amy yang hendak kembali ke mobilnya. “Aku ikut.”

Dan akhirnya mereka berangkat bersama ke gedung teater dimana Kyuhyun sedang melakukan pentas terakhirnya dalam sebuah drama musikal. Donghae sendiri masih ingat kalau minggu lalu Amy sudah mencoba untuk menyusul Kyuhyun kesana. Tapi setelah drama berakhir, Kyuhyun sudah tak ditemui dimanapun meski Amy sudah berlari ke belakang panggung. Henry pun tak berhasil menahannya.

Donghae tak tahu siapa itu Henry. Yang ia tahu dari Henrylah Amy mendapat informasi soal keberadaan Kyuhyun yang belakangan seperti punya kekuatan super untuk menghilang sesuka hati. Dan begitu mereka tiba, mereka bergegas masuk. Di pintu belakang Henry sudah menunggu sambil melambaikan tangan.

“Dia masih di dalam?”

Henry mengangguk. “Dia tak bisa pulang karena kami mengadakan pesta kecil-kecilan di backstage untuk merayakan kesuksesan drama ini.”

Tanpa buang-buang waktu Donghae dan Amy mengekor di belakang Henry. Sekilas Donghae bisa melihat tubuh adiknya diantara beberapa aktor dan aktris yang sejujurnya tak pernah ia lihat ditv.

Tak mau kehilangan kesempatan, Donghae mendekat lalu menyentuh bahu Kyuhyun hingga Kyuhyun menoleh. Seketika ekspresi bahagia yang sebelumnya terpancar dari wajah Kyuhyun langsung mereda. Ia tak tersenyum, justru menyingkirkan tangan Donghae.

“Kyuhyun, kita perlu bicara. “Amy buka suara dengan pelan. Ia ingin menarik Kyuhyun menjauh agar pembicaraan mereka tak didenngar siapapun yang ada di ruangan ini. Disini terlalu ramai. Terlalu banyak orang yang sedang bergurau, berfoto bersama sampai minum-minum.

“Kyuhyun, berhenti mengabaikan kami!” ujar Amy lebih tegas meski tetap memelankan suaranya. Kyuhyun pun menoleh, matanya tertuju ke bawah dimana Donghae sedang dan atau mungkin terus memegang tangan Amy.

“Bicaralah. Aku mendengarnya.”

“Tidak, kita harus bicara bertiga, hanya bertiga,” tegas Donghae. Tapi Kyuhyun acuh saja. Ia sempat kembali pada teman-temannya sampai tiba-tiba ia menghadap Donghae lagi lalu menghantam wajahnya.

BUG

“KYUHYUN!!!”

Donghae terjatuh. Hampir semua wanita yang ada di ruangan itu menjerit lalu menatap Kyuhyun dengan bingung.

“Apa yang kau lakukan?” teriak Amy. Kyuhyun memandang Donghae dan Amy bergantian lalu merapikan pakaian serta rambutnya. Ia nampak sudah tak peduli lagi berada dimana dan di depan siapa saja. Sebelum pergi, ia sempat berkata, “Aku melakukan apa yang harusnya aku lakukan sejak dulu.”

Detik berikutnya ia sudah angkat kaki tanpa menghiraukan panggilan Henry dan teman-temannya. Sebagian mengejarnya, termasuk sang manajer, sedangkan Amy dan beberapa orang lagi mendekati Donghae.

“Kau baik-baik saja?”

Donghae tak mengangguk ataupun menggeleng. Ia masih tak mengerti kenapa Kyuhyun tega melakukan itu di depan banyak orang. Kyuhyun nampak tak mau tahu lagi akan reputasinya yang bisa saja hancur setelah kejadian ini. Ia pun segera berdiri lalu menarik Amy pergi.

“Tunggu!”

Donghae mengerem langkahnya. Henry merentangkan kedua tangannya sebelum ia dan Amy sampai ke parkiran mobil. Tapi Donghae malas menanggapinya. Ia tarik lagi tangan Amy dan mereka pergi dengan cepat. Henry pun hanya bisa membatin kesal.

“Amy, kau bodoh atau bagaimana? Kau sadar Kyuhyun memiliki perasaan khusus dan sekarang kau menggandeng pria lain. Apa semuanya belum cukup jelas?”

****

Amy keluar dari sebuah mini market sambil membawa dua kaleng minuman dingin. Donghae mengambilnya satu dan ia meremukkan kaleng itu hingga tutupnya terlempar. Dengan cepat ia meminumnya lalu menendang kalengnya sembarangan.

“Kau yakin kau baik-baik saja?”

Donghae tak menyahut. Ia juga menepis tangan Amy yang hendak memeriksa lebam diwajahnya.

“Donghae, pipimu sudah membiru. Aku harus mengobatinya.”

“Ini sama sekali tidak penting. Sebuah pisau pernah menancap di lenganku dan saat itu aku masih bisa memukul orang sampai hampir mati.”

Donghae kesal. Ia mencari-cari objek apalagi yang kiranya bisa ia tendang atau remukkan. Tapi Amy lekas menyembunyikan kaleng minumnya sebelum Donghae berhasil merebutnya.

“Kau bisa memukulku jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” seru Amy. Donghae seketika memandangnya bingung.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Bukankah sejak tadi kau hanya mencari sebuah pelampiasan?”

Tak bisa menyela, Donghae menyandarkan pinggangnya ke kap mobil Amy. Ia berusaha tenang meski kenyataannya ia ingin sekali berteriak. Sikap Kyuhyun benar-benar membuatnya kelimpungan. Dengan apa Max meracuni otak adiknya? Hal apa yang dijadikan bahan oleh Max hingga Kyuhyun sebenci itu padanya?

“Aku tak mengerti. Aku sungguh tak mengerti apa yang sedang terjadi.”

Donghae meremas rambutnya. Kepalanya berdenyut-denyut jika terus mengingat sikap Kyuhyun. Andai ibunya melihat kejadian tadi, ibunya pasti akan sangat kecewa.

“Mungkin sebaiknya kita berhenti bertanya atau mencari tahu,” ujar Amy pelan setelah menelan habis minumannya. Donghae menatapnya.

“Sekarang tak penting apa alasan Kyuhyun menjauhi kita. Yang harus kita lakukan adalah mengembalikan Kyuhyun seperti semula dan menjauhkan Max darinya.”

Donghae menghela nafasnya. Sebenarnya ia sudah berpikir untuk melaporkan Max ke polisi. Mungkin itu satu-satunya cara untuk menghentikannya. Tapi ia tak bisa gegabah. Ia tak pernah tahu apa alasan Max mendekati adiknya. Jika ancamannya saat itu benar, ia tak mau ambil resiko. Ia harus meyakinkan Kyuhyun lebih dulu bahwa Max bukan orang yang patut dijadikan teman dan setelahnya barulah ia bisa melaporkannya ke polisi.

“Sudah merasa lebih baik? Sebaiknya kita pulang. Ibumu mungkin sudah menunggu di rumah.”

Amy lebih dulu masuk ke dalam mobil. Donghae melihat ke langit sebentar sebelum akhirnya mengikuti gadis itu.

*****

Cho Min Sook menurunkan koran dari depan wajahnya. Pagi ini ia dikejutkan oleh sekretarisnya yang datang terpogoh-pogoh sambil meneteng sebuah koran pagi. Biasanya koran itu sudah ada di atas mejanya sebelum ia menginjakkan kaki ke ruang kerja. Tapi tidak pagi ini.

“Maaf, tuan. Saya lupa meletakkannya disini karena….”

Wajah gadis itu menjadi muram dan nampak gugup. Berbeda sekali dengan biasanya yang akan tersenyum menyambut kedatangannya dengan segelas teh.

“Ada apa denganmu?”

Gadis itu tak bisa menjawab. Cho Min Sook pun tak lagi penasaran karena matanya tertarik pada halaman depan koran itu yang menampakkan wajah kedua anaknya. Tidak! Anaknya hanya satu. Dan di depan anaknya ada anak sialan itu.

“Tuan, ini….”

Ia rampas koran itu dengan kasar lalu menyuruh sekretarisnya keluar. Gambar itu membuatnya sangat penasaran. Kyuhyun berdiri sementara di depannya nampak Donghae terduduk sambil memegang pipi. Amy pun ada disana memegang bahu Donghae. Dan setelah ia membaca isi beritanya, ia tak tahu harus senang atau marah.

Ini adalah berita paling baik jika benar Kyuhyun memiliki masalah dengan Donghae. ia tak perlu buang tenaga untuk menasehatinya. Tapi…bagaimana mungkin ini bisa terekspos? Bagaimana kalau media sampai tahu siapa pria yang dipukul Kyuhyun itu? Bagaimana jika karir anaknya berantakan karena foto ini?

“Butuh teman bicara?”

Ia menoleh ke pintu dan menemukan Max sudah berjalan ke arahnya. Sial! Ia lupa menyuruh sekretarisnya mengunci pintu. Lekas-lekas ia melipat korannya lalu berpura-pura sibuk dengan dokumennya. Tapi sepertinya apapun yang ia lakukan tak berpengaruh. Max justru sudah duduk di depannya, mengambil alih koran yang sudah ia singkirkan itu dan membacanya.

“Oh, ini? Kyuhyun belum menceritakannya padamu?”

Cho Min Sook memaksakan diri tak menghiraukan omongan Max. Ia buka tiap lembar beberapa dokumennya meski sebenarnya ia sama sekali tak tahu tulisan macam apa yang sedang ia baca.

“Ah, aku baru ingat. Bukankah kau dan Kyuhyun….sedang bertengkar?”

Max tertawa pelan. Cho Min sook hilang sabar lalu menutup mapnya. “Jika kau hanya ingin tertawa, silahkan keluar.”

“Maaf, tuan Cho yang terhormat. Aku hanya tak habis pikir kenapa Kyuhyun menceritakan segalanya padaku sementara kau tak tahu apa-apa.”

“Apapun yang kau ketahui, sepertinya aku tidak tertarik.”

“Termasuk jika aku menawarkan sebuah cara agar hubunganmu dengan Kyuhyun membaik?”

Cho Min Sook menunda gerakannya yang hendak berdiri. Ia kembali duduk, menatap Max dengan tenang. “Apa maksudmu?”

Max memainkan jari-jarinya di atas meja, ia baca kembali koran itu dan menatap Amy cukup lama.

“Kau pasti sudah mengenal siapa wanita itu.”

“Amy? Tentu aku mengenalnya. Dia teman baik Kyuhyun.”

“Lebih dari itu.”

Cho Min Sook menaikkan alisnya bingung.

“Jangan bilang kau tidak tahu kalau Kyuhyun menyukainya. Dan yang kudengar Donghae sudah merebutnya. Donghae mendekatinya sampai Amy tak lagi mau menemui Kyuhyun. Itulah sebabnya berita ini muncul ke media.”

Duduknya mulai gelisah. Ia tak bisa lagi berlagak tak mau mendengar apapun sementara Max menyampaikan berita sepenting ini. Apalagi jika ini benar, ia tak punya alasan untuk mengacuhkannya.

“Sepertinya kau benar. Donghae memang parasit. Kyuhyun marah sekali saat menceritakannya.”

Cho Min Sook membenarkan dalam hati. Ya! Kali ini Max tidak asal bicara! Donghae memang anak tidak berguna yang hanya tahu merusak beberapa hal.

“Minggu depan adalah pengumuman kerjasama kita. Aku tak keberatan jika kau membuatnya sedikit lebih meriah dengan memberikan kejutan pada Kyuhyun.”

Max berdiri setelah melipat korannya dengan rapi. Sebelum pergi, ia memandang Cho Min Sook yang nampak tak tenang dikursinya. Ia tersenyum.

“Kyuhyun akan sangat senang dan hubungan kalian akan membaik. Kau tidak cukup bodoh untuk memikirkan ide ini dua kali, bukan?”

Yakin ucapannya sudah meresap jauh ke dalam pikiran Cho Min Sook, Max bergegas pergi sambil meletakkan handphonenya ditelinga.

“Kalian sudah melakukannya semalam?” Ia bertanya pada seseorang di ujung sana. Kebetulan matanya menangkap kehadiran Donghae dan ia lekas-lekas menyembunyikan diri. Ia tak mau kemunculannya disini diketahui terlalu cepat.

“Jadi?”

Ia tersenyum. Ditatapnya Donghae yang sedang berjalan membawa kain pel.

“Bagus! Bayaran kalian akan sampai ke rekening kalian dua menit lagi. Jumlahnya akan kutambahkan jika aku sudah mengecek sendiri hasil kerja kalian.”

Ia mematikan handphonenya lalu mencari jalan lain untuk pergi dari sini. Lain kali saja ia menampakkan diri di depan Donghae dan saat itu pastilah akan sangat mengejutkan bagi Donghae.

*****

Jae Gum terduduk lemas di aspal. Ia begitu bersemangat pagi ini. Ia berusaha melupakan sejenak masalah Kyuhyun dan ingin mengurus tokonya dengan lebih baik. Pagi tadi Donghae juga sudah meyakinkannya bahwa Kyuhyun baik-baik saja dan hanya sedang memiliki masalah pribadi yang tak bisa diabaikan. Ia percaya apapun yang dikatakan Donghae. Dan sebuah pelukan pagi tadi dari anak itu mampu membuat semangatnya muncul.

Namun, segala hal baik yang ia bayangkan sebelumnya langsung buyar begitu menjejakkan kaki di depan toko bunganya. Dari kejauhan ia sudah curiga karena ada banyak orang yang berkerumun di depan tokonya. Ia pun menerobos dan dalam sekejab ia terduduk tanpa tenaga.

Ia membekap mulutnya. Seorang wanita mengelus bahunya. Seseorang yang lain lagi sibuk bertanya padanya. Tapi tak bisa ia hiraukan mereka. Perhatiannya tertuju pada satu hal. Toko bunganya yang sudah hancur.

Papan namanya jatuh. Kaca depan pecah. Pintunya berlubang seperti bekas benda tajam. Bunga-bunga di dalamnya pun berantakan dan hancur seperti bekas terinjak-injak.

Ia tak bisa berpikir apapun saat ini. Ia hanya menangis sampai akhirnya sadar bahwa ia harus menghubungi seseorang.

“Donghae?”

-TBC-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: