What If [10/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

******

Donghae memukul meja makan sampai Amy terlonjak dari duduknya. Beberapa gelas di atas meja itu nyaris jatuh kalau saja Amy tak menahannya.

“Donghae, tenangkan dirimu.”

“Kau menyuruhku tenang?”

Amy menarik nafasnya pasrah. Tak ada yang bisa ia lakukan. Donghae sudah dikuasai oleh emosi. Meski awalnya ia pikir ia bisa menjinakkannya dengan membawanya pulang, dengan membuatkannya segelas teh, itu tak berlangsung lama. Donghae kalap. Donghae sama sekali tak pandai mengendalikan diri. Ia bahkan tak memberi kesempatan pada polisi yang ingin menyelidiki.

Donghae mengamuk di depan toko ibunya lalu menyuruh semua orang menjauh. Ia juga sempat berteriak dan mengancam bahwa ia akan membalas perbuatan orang itu lebih dari apa yang sudah dilakukan. Semua hanya sedikit membaik setelah Amy datang. Amy memaksa Donghae dan ibunya pulang.

“Argh! Sial!”

Amy mendekatinya, mengelus bahunya. Tapi Donghae tak bisa memikirkan apapun. Dadanya panas. Ia tahu ini ulah siapa. Ia bisa mencium siapa dalang dibalik semua ini.

“Harusnya kau bisa bersikap lebih dewasa. Lihat ibumu! Dia masih shock!”

Donghae mengatur nafasnya sejenak. Dipandangnya ibunya yang sudah tertidur di sofa setelah ditenangkan oleh Amy sejak siang. Tapi ia sudah tak bisa menahannya. Ia bergegas ke kamarnya, mengambil sebuah tongkat baseball besar yang disimpannya di bawah kolong ranjang lalu keluar dari rumahnya dengan tergesa.

“Donghae! Apa yang mau kau lakukan? Donghae!!”

Panggilan Amy tak dihiraukannya. Ia rebut kunci mobil Amy lalu mengendarainya dengan gila. Ia tahu kemana ia harus pergi dan ia juga tahu resiko apa yang akan ia terima jika ia melakukan apa yang ia inginkan saat ini.

Ia masih ingat tempatnya. Ia masih hapal betul letaknya yang cukup strategis dan tak nampak seperti gudang narkoba itu. Ia hanya perlu menambah kecepatan hingga 100 km/jam, menerobos pagar depan yang bertuliskan nama sebuah pabrik garam dan memberikan mereka pelajaran gratis. Hobinya dulu yang kerap mengikuti balap liar sambil menghindari polisi benar-benar berguna disaat seperti ini.

BRAKKKK

Pagar besar di depannya hancur. Beberapa orang dibalik pagar itu berdiri menatapnya keheranan. Bahkan ada yang sigap mengambil senjata. Tapi ia hanya tersenyum menatap mereka. Dengan tongkat ditangannya, ia turun lalu mendekati mereka.

“Donghae? Kau kah itu?”

Donghae melangkah pelan. Tempat ini masih dihuni oleh wajah-wajah yang sama. Ia harap bisa menemukan orang lain disini yang mungkin bisa membuat permainan yang akan ia mainkan sedikit menarik. Sayangnya…yang ada di hadapannya hanyalah sekumpulan kecoa yang dulu jadi mainannya.

“Apa-apaan ini?”

Donghae diam. Ia berhenti satu meter di depan mereka lalu menarik nafas. Kedua tangannya mengeras. Dipandangnya wajah itu satu persatu hingga beberapa diantaranya paham bahwa ia bukan akan menjawab dengan mulut. Ini adalah ucapan rindunya pada mantan rekan-rekannya itu sekaligus jawabannya.

BUG

“Donghae!”

Donghae melayangkan tongkatnya tanpa aba-aba. Perkelahian tak terelakkan. Donghae memukuli semua orang disitu dengan membabi buta. Tak ia hitung jumlahnya, tak ia tahu juga jika jumlahnya tiba-tiba bertambah. Yang ia tahu, tongkat ditangannya sudah terlalu lama terdiam di kamarnya dan sekarang mencari mangsa untuk memuaskan dahaga.

Sesekali ia akan mendapat perlawanan dengan pukulan telak dikepala, diperut, juga goresan pisau di kakinya. Tapi ia tak merasakan apapun. Pukulan demi pukulan tetap ia berikan pada mereka hingga satu persatu dari mereka tumbang dan tak bisa melawan.

“Aku tidak tahu alasannya tapi aku tahu kalian diperintahkan oleh Max untuk merusak toko ibuku.”

Dengan terengah-engah Donghae mendekati salah satu dari mereka yang terduduk di tanah sambil memegangi dada. Ditariknya dagu pria itu dan menatapnya tajam.

“Kau mengenalku. Kau tahu aku bisa membunuhmu sekarang juga atau kau kulaporkan ke polisi. Tapi aku tahu kau punya dua anak yang menunggumu di rumah dan menginginkanmu pulang dengan selamat. Setidaknya akan kubiarkan kedua tanganmu masih ada.”

Donghae merogoh saku pria itu hingga menemukan sebuah pemantik. Ia pergi kesalah satu sudut ruangan dimana biasanya tersimpan setumpuk minuman keras. Ia ambil beberapa, memecahkan botolnya lalu menyiramkannya pada setumpuk barang yang menurut orang-orang adalah garam. Dan setelah semua bagian tak ada yang tertinggal, ia hidupkan pemantik tersebut.

“Donghae! Jangan!”

Terlambat. Api sudah menyebar. Donghae berjalan ke mobil Amy dan ia sama sekali tak peduli jika bagian depan mobil Amy sudah sama berantakan seperti dirinya. Sebelum pergi, ia menatap orang-orang itu.

“Pergilah sebelum api itu mendahului tugasku menghabisi kalian. Dan katakan pada Max bahwa aku bisa melakukan lebih dari apa yang ia lakukan pada keluargaku.”

Ia pergi. Sesampainya di rumah ia hanya melempar kunci mobil pada Amy dan berkata bahwa ia akan memperbaikinya jika ia sudah mendapatkan gaji bulan depan. Dan setelahnya ia masuk ke dalam kamar tanpa berpikir untuk mengobati lukanya.

***

“Apa-apaan ini?”

Ketujuh orang di depannya menunduk takut. Nyaris semuanya mengenakan perban. Mulai dari wajah, lengan, bahu, hingga kaki. Mereka tak berani menjawab lagi setelah melihat reaksi Max.

“Dia sendirian dan kalian tidak bisa melawannya?”

Max menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ia tak habis pikir bahwa paginya yang sempurna ini harus rusak karena laporan anak buahnya. Salah satu gudangnya terbakar. Orang-orangnya terluka bahkan dua diantaranya melarikan diri. Dan semua itu hanya dilakukan oleh satu orang macam Donghae? Ia tahu kemampuan Donghae. Ia belum lupa bahwa Donghae adalah anak buah terbaiknya beberapa bulan lalu sebelum masuk rehabilitasi. Tapi melakukan semua ini sendirian? Ia hampir tak percaya.

“Kalian semua kupecat! Jangan berani katakan apapun hal yang kalian ketahui tentangku pada orang lain atau leher keluarga kalian akan berjejer di atas mejaku ini.”

Semuanya membubarkan diri tanpa ada perlawanan. Mereka semua sudah tahu bahwa ini akan terjadi. Max bukan orang yang perlu berpikir dua kali untuk sekedar membongkar pasang pengikutnya. Mereka semua tidak becus, maka itulah resikonya.

Sekarang ia sudah kehilangan mood-nya. Telepon dari Cho Min Sook pagi tadi jadi terasa hambar karena masalah ini. Padahal ia sudah begitu gembira ketika Cho Min Sook berkata setuju dengan ide yang ia berikan untuk memeriahkan acara minggu depan. Tapi kegembiraan itu seketika berubah karena ulah satu orang saja. Donghae!

Rupanya anak itu sudah semakin berani melawannya. Anak itu sepertinya lupa bagaimana dulu ia mengemis-ngemis dikakinya untuk menikmati sepuntung ganja. Anak itu lupa siapa yang dulu memberinya makan dan juga uang. Anak itu lupa siapa yang kerap membantunya ketika tak ada siapa-siapa disisinya.

Tapi tidak akan ia membiarkan Donghae lupa siapa dirinya. Jika Donghae pikir ia akan melemah karena masalah ini, Donghae sepertinya terlalu bodoh. Ia mungkin akan berdiam diri sejenak hingga Donghae berpikir bahwa ia sudah angkat tangan. Tapi enam hari dari sekarang, ia akan pastikan bahwa Donghae akan mendapat balasan yang lebih menyakitkan. Ia…sudah menyiapkan peluru yang akan menembus hatinya.

***

Setumpuk koran dan hasil print out berita online dihempaskan di depan wajahnya. Kyuhyun hanya menatapnya sejenak lalu menutup wajahnya dengan salah satu koran itu.

“Kyuhyun, sebenarnya ada apa denganmu? Kau benar-benar berbeda belakangan ini.”

Sang manager menghembuskan nafasnya. Setelah seharian menghabiskan waktu dengan marah dan sibuk menerima telepon dari beberapa pihak yang memilki kerja sama dengan Kyuhyun, sekarang ia kelelahan. Semua terasa percuma karena Kyuhyun tak menanggapinya.

“Aku tersentuh dengan perhatianmu, hyung,” sahut Kyuhyun dari balik korannya. Managernya menjauhkan koran itu lalu duduk di depan Kyuhyun dengan lebih tenang. Ia tak bisa lagi pakai emosi untuk menjinakkan Kyuhyun yang mendadak seperti anak kecil ini.

“Aku tahu kau ada masalah dan kau tidak mau membaginya pada siapapun. Tapi yang harus kau lakukan sekarang adalah menyiapkan mental dan alasan untuk menghadapi bos besar. Dia memintamu menghadap sebentar lagi.”

“Benarkah? Kedengarannya ia merindukanku.”

“Kyuhyun…………………..”

Pria itu habis akal. Ia pejamkan matanya sambil memijit kepalanya. Berita yang dimuat mengenai Kyuhyun dan pria tak dikenal itu semakin menjadi-jadi. Ada yang berpersepsi bahwa Kyuhyun sedang mabuk hingga tak sadar apa yang dilakukannya. Ada yang mengatakan Kyuhyun dan pria itu memperebutkan wanita yang sama. Ada juga yang tak membahas alasan dibalik pemukulan itu melainkan membahas perilaku menyimpang Kyuhyun. Banyak berita yang beredar tapi ada satu komentar yang baginya sangat tak bisa ia terima.

“Kyuhyun tidak tahu cara bersikap di depan umum. Selama ini kita sudah dibodohi olehnya. Ia berpura-pura sebagai pria baik-baik yang sopan. Padahal ia tak lebih baik dari seorang aktor yang bulan lalu melakukan tabrak lari.”

Ia bersama Kyuhyun nyaris sepanjang hari. Ia rasa jika ada yang bertanya siapa orang yang paling mengenal Kyuhyun melebihi keluarganya, maka ia berani tunjuk tangan. Ia tahu Kyuhyun tak seperti itu. Kyuhyun adalah pria yang memang benar-benar baik meski sedikit menyebalkan. Kyuhyun adalah seorang pekerja keras meski kadang ia harus menyiramnya dengan air agar Kyuhyun bangun dipagi hari.

“Aku tidak ingin bertemu bos besar. Kau atur saja sendiri semuanya. Tapi jika kau mengharapkan aku untuk minta maaf dimuka umum, itu tidak akan terjadi.”

“Kyuhyun, kau mau kemana? Jika kau tidak minta maaf, akan semakin banyak kontrak kerja yang dibatalkan. Kau bahkan terancam tidak bisa ikut konser bulan depan!”

Kyuhyun tampak tak peduli. Ia sudah berdiri, meraih tasnya lalu berhenti sejenak di depan pintu.

“Batalkan saja semuanya sebelum mereka yang membatalkan. Aku juga persilahkan kau mengarang cerita apapun pada media jika kau ingin memperbaiki image-ku. Tapi aku mungkin akan menghilang selama beberapa hari.”

“Ya! Kyuhyun! Hey! Jangan limpahkan semuanya padaku!”

Ia sudah melenggang pergi. Seruan manajernya sudah tak terdengar lagi saat ia akan masuk ke dalam lift. Namun, seseorang yang berada di dalam lift membuat langkahnya tertunda.

“Ayah?”

“Bisa kita bicara?”

Beberapa menit selanjutnya ia sudah duduk di samping kemudi mobil ayahnya. Jika ada hal penting yang ingin dibicarakan, ayahnya biasa menyuruh orang suruhannya untuk menjemputnya dimanapun. Tapi kali ini ayahnya datang seorang diri. Ia pikir…ini lebih dari penting.

“Jadi apa yang ingin ayah bicarakan?” tanya Kyuhyun memulai percakapan. Tapi ia belum sudi menatap ayahnya. Ia belum lupa bahwa beberapa waktu lalu mereka terlibat sebuah percekcokan. Meski belakangan ia sadar bahwa apa yang dikatakan ayahnya adalah sebuah kebenaran, ia belum menemukan alasan dan situasi yang tepat untuk berbaikan.

“Ayah sudah membaca beritanya. Kau baik-baik saja?”

“Jika itu yang ingin ayah tanyakan, sebaiknya aku pergi.”

“Bukan! Bukan itu yang ingin ayah katakan.”

“Lalu katakanlah dengan cepat sebelum aku berubah pikiran.”

Cho Min Sook menghela nafas. Ia ketuk-ketuk stir mobilnya kemudian menatap Kyuhyun.

“Sabtu malam nanti ayah akan mengumumkan kerjasama perusahaan ayah dengan perusahaan Max. Ayah harap kau datang.”

Kyuhyun tersenyum mendengarnya. Ia sudah dengar soal itu dari Max. Acaranya akan diadakan di sebuah hotel pukul delapan.

Hanya itu? Jika ayah takut aku tidak datang dan membuat orang berpikir bahwa hubungan kita sedang tidak baik, ayah tenang saja. Aku masih punya otak.”

“Ayah bukan takut akan hal itu. Ayah hanya ingin mengumumkan hal lain. Dan saat itu….kau dan Amy harus ada disana.”

Perhatian Kyuhyun mendadak tertuju pada ayahnya. Ia memiringkan tubuhnya. “Amy? Apa hubungannya?”

Ayahnya diam sejenak. Kyuhyun sudah akan bertanya lagi tapi tangan ayahnya tiba-tiba hinggap dibahunya. Dan mendadak tak ada yang bisa ia ucapkan setelahnya.

“Karena itu datanglah. Ayah akan pastikan bahwa dia juga akan datang dan kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.”

Kyuhyun tak menyela lagi. Ia tahu ayahnya takkan memberikan lebih jika ayahnya sudah menentukan porsi ceritanya. Maka tanpa pertanyaan lagi ia turun dari mobil ayahnya, membiarkan ayahnya pergi. Tapi…..apa hubungan semua ini dengan Amy?

*****

Jam 9 pagi. Donghae baru saja berganti pakaian seragamnya saat salah satu penanggung jawabnya mendekat. Ia adalah pria yang menerimanya bekerja. Ia yang mengarahkannya dan ia juga yang paling sering memarahinya. Dan sepertinya pagi ini ia juga akan mendapatkan ceramah itu karena datang terlambat. Namun, yang dilakukan pria itu hanyalah memperlihatkan sebuah koran padanya yang menampakkan wajahnya dan juga Kyuhyun sebagai halaman utama.

“Sepertinya kau adalah pembuat onar,”ujarnya. Donghae tersenyum. “Aku sudah terbiasa mendengar pujian itu.”

“Hey, aku tidak memujimu. Ini jelas bukan hal yang harusnya aku baca tentangmu. Kau tahu semua pekerja disini harus punya reputasi yang baik meski yang kau kerjakan hanyalah mengepel lantai.”

Donghae mengetukkan kedua kakinya. Ia malas sekali mendengar ocehannya. Lebih baik bosnya itu marah karena keterlambatannya dibanding hal lain.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Kau harus menjaga sikapmu. Dan kau harus tahu bahwa kau tidak boleh bermasalah dengan pria ini.”

“Kenapa? Karena dia adalah orang terpandang?”

“Apa kau tidak tahu kalau dia adalah an-“

“Yong Shan! Cepat kemari!”

“Ah, iya, tuan!”

Donghae membekap mulutnya. Ia nyaris tertawa melihat atasannya itu mendadak berubah seperti tikus kecil begitu ada yang mencarinya. Pria itu menunduk lalu mendekati orang yang memanggilnya.

“Menjijikkan.”

Ia baru akan memulai pekerjaan, tapi telepon dari Amy kembali menunda langkahnya.

“Ada apa?”

“Kapan kau gajian?”

Donghae menyandarkan tubuhnya ke dinding. Sepertinya ia tahu arah pertanyaan itu.

“Tiga minggu lagi. Kenapa?”

“Tentu saja untuk perbaikan mobilku. Kau sudah menghancurkannya, Donghae!”

Donghae tertawa pelan, ia masuk kembali ke ruang ganti supaya ia tak dimarahi atasannya.

“Kau tahu berapa gajiku. Mungkin kau harus lebih banyak bersabar.”

“Aku rasa aku akan menuntutmu.”

“Lakukan saja. Polisi mungkin akan tersenyum melihatku lalu berkata, hallo Donghae, apa kabarmu? Kau rindu dengan penjara kami?”

Terdengar Amy mendengus sebal disana dan rasanya Donghae ingin sekali mencubit hidungnya jika saja Amy ada di hadapannya. Ia akui ia memang sudah menghancurkan bagian depan mobil Amy. Mobil itu bahkan tak bisa dipakai Amy pulang. Amy terpaksa naik taksi sementara mobilnya dibawa ke bengkel. Tapi Donghae tahu Amy tak perlu mengkhawatirkan hal semacam itu. Ia yakin Amy bisa membelinya semudah ia yang ingin memukul wajah seseorang.

“Lupakan saja. Mungkin aku akan membeli yang baru siang nanti.”

“Ide bagus!”

“Kau sendiri bagaimana? Apa lukamu sudah sembuh?”

Donghae menghadap cermin, lebamnya sudah tak berbekas. Kalaupun ada yang masih terasa nyeri, hanyalah luka kecil dikakinya.

“Aku baik-baik saja. Sudah kubilang berhenti menanyakan itu. Aku bukan bayi.”

“Kau bahkan lebih kekanakan dari seorang bayi saat kau pergi dengan emosi semalam.”

“Ah, jangan membahasnya lagi.”

Amy membisu diujung sana. Mau tak mau Donghae ikut diam lalu kembali memikirkan apa yang ia lakukan semalam. Ia akui semalam ia sedang dikuasi oleh nafsu. Ia marah. Ia murka dan rasanya ia ingin terus mengamuk. Tapi tak ada yang ia sesali. Ia puas bisa melakukannya. Ia bisa bayangkan bagaimana reaksi Max saat melihat salah satu gudang penyokong hidupnya habis dilalap api. Max pasti kebingungan.

“Amy,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Bisa kau ke rumah sore nanti? Kurasa ibu membutuhkan seseorang untuk menghiburnya.”

“Tentu saja aku bisa! Nanti setelah aku mendapatkan mobil baru, aku akan ke rumahmu.”

“Baiklah. Sampai jumpa nanti malam.”

Donghae mematikan sambungan lalu bersiap untuk melakukan pekerjaannya hari ini. Ia tahu ia harus bekerja dua kali lipat dari biasa sebagai ganti absennya kemarin. Saat mendapat telepon dari ibunya, kemarin ia lekas minta ijin pada atasannya. Awalnya ditolak, tapi ia memohon berkali-kali sampai akhirnya ia boleh pergi.

Ia meluncur ke toko ibunya dengan berlari. Disana ia sudah menemukan ibunya terduduk diaspal dengan kondisi toko ibunya yang tak bisa lagi dikenali. Polisi sudah memberi batas di sekitar tokonya. Tapi sebelum mereka bertindak, Donghae mengatakan pada mereka bahwa mereka tak perlu repot-repot mencari tahu dalangnya. Ia tak mengatakan bahwa ia tahu. Ia hanya tak mau polisi ikut campur.

Tapi polisi tetap melakukan tugasnya. Mereka menyelidiki lokasi, mencari barang tersangka yang mungkin saja ada yang tertinggal, lalu menanyakan beberapa hal pada saksi, mengecek rekaman cctv jalan yang mungkin menangkap peristiwa itu sampai meminta keterangan Donghae serta ibunya. Namun, alih-alih mendapatkan info, mereka justru sibuk menenangkan Donghae yang mengamuk.

“Selamat pagi, Tuan.”

Donghae menoleh ke samping saat ia mengelap kaca. Dilihatnya seseorang sedang berjalan ke arahnya dengan kepala menunduk. Pria itu sibuk dengan handphonenya sementara semua orang yang ia lewati sibuk menyapa dan membungkuk hormat. Sepertinya direktur perusahaan itu juga akan melewatinya.

Donghae sudah berencana acuh saja. Tapi ia menangkap mata atasannya yang melotot dan mau tak mau ia membungkuk saat sang direktur berjalan di depannya. Ah, sampai kapan orang sepertinya harus terus menunduk? Jika ia menjadi orang besar nanti, ia pastikan bahwa ia hanya akan mengenakan celana pendek ke kantor dan menepuk bahu cleaning servicenya dipagi hari seperti seorang teman.

“Apa yang kau pikirkan? Lanjutkan pekerjaanmu?”

Yong Shan, atasannya yang menyebalkan itu tak pernah membiarkannya punya waktu bersantai. Sekalipun semua pekerjaan sudah dilakukan, pria itu tetap tak suka jika melihat anak buahnya duduk-duduk sambil mengobrol di ruang ganti. Maka hanya saat jam makan sianglah Donghae dan rekannya punya kesempatan untuk mengobrol. Dan topik utama yang selalu diperbincangkan adalah kejelekan pria itu sendiri. Mulai dari mengomentari kepalanya, matanya yang terlalu sipit, tubuhnya yang tak perfeksionis, sampai bau kaos kakinya. Ditengah setumpuk pekerjaan yang melelahkan, menertawakan kejelekannya seperti angin segar dan membuat mereka lebih bersemangat lagi setelahnya. Tentu yang dimaksud bersemangat adalah mencari keburukan lain pria itu.

Dan khusus hari ini bahan obrolan mereka bertambah dari biasa. Pria itu mengalami kesialan beruntun yang membuat Donghae dan kawan-kawannya terpingkal-pingkal.

Jadi saat salah satu rekan Donghae yang membawa nampan berisi dua cangkir teh dan semangkuk mie instan untuk para karyawan, Yong Shan keluar dari ruangannya hingga tubrukan tak bisa terhindarkan. Yong Shan terduduk di lantai. Mie instan beserta teh panas itu tumpah di atas jasnya yang katanya mahal itu. Dan setelah ia berdiri hingga selesai marah-marah, ia terpeleset karena licinnya lantai yang baru saja dipel.

Donghae benar-benar bahagia melihat itu. Dua kali jatuh, mendapat siraman teh panas yang dihiasi mie instan dan disaksikan banyak karyawan. Ia tak bisa bayangkan betapa malunya pria itu.

Cerita itu pun masih bisa menggelitiknya hingga ia keluar dari kantor dan bertemu Amy.

Tunggu! Amy? Kapan ia memberitahu Amy tempat kerjanya? Sejak kapan Amy ada disini?

“Terkejut?”

Donghae memang terkejut. Sesaat setelah ia keluar bersama teman-temannya, ia melihat Amy melambai padanya. Ia biarkan teman-temannya pulang lebih dulu sementara ia hanya diam menatap gadis itu.

“Apa ini begitu mengejutkanmu?”

Donghae melihat Amy menyandar pada mobilnya. Perhatiannyapun kini tertuju pada mobil itu yang sepertinya baru saja menginjak aspal.

“Kupikir kau ada di rumahku,” ujarnya tapi dengan mata mengarah pada mobil baru itu. Donghae mendekatinya, mengelus bagian depannya dan ia sempat berkaca pada spionnya.

“Justru ibumu menyuruhku kemari. Katanya kaulah yang butuh ditemani.”

“Aku?” Donghae menunjuk dirinya sendiri.

“Ya. Dan sekarang…….sepertinya aku tahu apa yang bisa membuatmu merasa lebih baik.”

Amy tersenyum. Ia keluarkan kunci mobilnya dan detik berikutnya kunci itu berpindah ke tangan Donghae.

Mereka melaju di jalan yang sudah lumayan sepi dengan kecepatan tinggi. Donghae yang mengemudi dengan janji bahwa ia belum berniat untuk menabrak apapun, setidaknya malam ini. Amy sendiri tak masalah. Ia justru membuka atas mobilnya, lalu berdiri dan berteriak seperti orang gila.

“LEE DONGHAE!!!! AKU MEMBENCIMU!!!!”

Donghae ingin sekali melepas stirnya lalu ikut meneriakkan nama Amy. Tapi ia belum mau mengajak Amy mati. Maka ia terus membawa mobil dengan kencang, membiarkan Amy puas berteriak-teriak. Rasanya ia tak punya alasan untuk menghentikan mobil ataupun menghentikan Amy. Gadis itu nampak begitu menikmati apa yang dilakukannya. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya dan menerbangkan rambutnya, menikmati hawa dingin yang menembus pakaiannya, juga menikmati tatapan aneh dari orang yang melihatnya. Tapi Donghae tak bisa menikmati tiap kata yang keluar dari bibirnya.

“Lee Donghae!! Kau menyebalkan! Kau harus mengurangi sifat pemarahmu! Belajarlah mengontrol emosi! Hilangkan jerawat di dahimu! Seringlah menggosok gigimu! Belilah kaos kaki yang banyak!!! Belajarlah untuk bersikap manis pada seorang wanita! Kau sangat payah!!!”

“Ya! Amy! Kapan kau berhenti memujiku?”

Amy tertawa, ia duduk kembali dikursinya. “Sampai kau menghentikan mobil ini.”

Donghae menghembuskan nafas. Ia lihat di depan sana dan ia terkejut karena menyadari bahwa merekan sudah tiba di dekat jembatan Wonhyo. Sepertinya mereka berjalan terlalu jauh. Ia pun menghentikan mobilnya di halaman parkir taman Ichon.

“Puas?” tanya Donghae.

“Belum.”

Amy melompat dari mobilnya. Ia tarik paksa tangan Donghae kemudian dibawanya ke tengah-tengah taman. Biasanya banyak orang yang kemari dimalam hari, khususnya mereka yang berpasangan. Sedang dipagi hari banyak orang berolahraga dan bersepeda disini. Tapi hari sudah sangat larut dan Donghae menyukai fakta bahwa hanya ada mereka berdua saat ini.

“LEE DONGHAE!!!!!!”

Amy masih berteriak bahkan kali ini lebih kencang.

“Kalau kau terus berteriak seperti itu, orang-orang akan berpikir aku ini penculikmu!”

“Sayangnya tidak ada siapapun yang mendengarku selain kau!”

Donghae menyerah. Ia hanya diam memandang Amy dari sudut matanya. Amy menapakkan kedua kakinya pada bagian pagar pembatas taman. Amy merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata. Jika saja orang melihat ini dari sudut pandang berbeda, Amy akan dikira ingin bunuh diri dan ingin melompat ke sungai Han. Sedang dari sudut pandangnya saat ini….Amy sedang membuatnya lumpuh.

Diam-diam Donghae memperhatikannya. Ia ikut tersenyum saat bibir Amy membentuk sebuah senyuman.

“Lee Donghae!!!! Aku mencintaimu!!!!!!!!!”

Amy membuka matanya. Ia turun dari pijakannya kemudian melirik sebentar pada Donghae yang nampak tak berpengaruh sama sekali dengan teriakannya barusan.

“Jadi kau menjelek-jelekkanku sejak tadi hanya untuk mengatakan bahwa kau mencintaiku? Koreksi jika aku salah. Tapi….rasanya ini adalah pertama kali kau mengucapkannya.”

“Dan rasanya kau belum pernah sekalipun mengatakannya.”

“Oh, kau ingin mendengarnya sekarang?”

Amy menggeleng, “Tidak. Aku tidak ingin meminta. Aku ingin kau mengucapkannya ketika kau memang ingin mengucapkannya.”

Amy kembali menghadap ke depan. Ia menikmati pemandangan kota dari posisinya yang baginya nampak sangat berbeda malam ini. Entahlah. Ia sering kemari hanya untuk sekedar berdiam diri dan melihat-lihat, tapi rasanya kali ini berbeda. Mungkin berbeda karena ada seseorang di sampingnya. Mungkin berbeda karena sekarang ia bisa meneriakkan apa yang ingin ia sampaikan. Atau mungkin ini menjadi berbeda karena…………….Donghae berada tepat di depan matanya?

Donghae tahu-tahu sudah nyaris tak berjarak dengan wajahnya saat ia menoleh ke samping. Ia hampir jatuh. Tapi Donghae menangkap pinggangnya. Donghae mengambil alih kedua tangannya dan Donghae meniupkan udara disekitar wajahnya.

“Terima kasih,” bisik Donghae yang terdengar seperti sapuan angin ditelinganya.

“Untuk?”

Donghae semakin dekat hingga hidung mereka bersentuhan. Amy bisa merasakan kedua tangan Donghae semakin erat memegangnya sementara ia sudah tak bisa merasakan hal lain disekitarnya. Nafasnya tertahan.

“Terima kasih karena kau memberikanku waktu untuk menyampaikan ini.”

Semuanya semakin dekat. Donghae menarik ujung bibirnya hingga meluncurlah kalimat tersebut.

“Aku mencintaimu.”

Dan satu detik kemudian Donghae memiringkan wajahnya. Amy memejamkan mata, merasakan bahwa jarak itu sudah tak ada antara mereka. Awalnya ia bisa tersenyum, tapi kemudian ia sadar ada setitik air mata yang tak bisa ia tahan.

***

“Kau sangat tampan.”

Kyuhyun tak bereaksi. Ia hanya menatap pantulan tubuh ayahnya pada cermin. Ia terdiam selama beberapa saat lalu menurunkan tangannya setelah kancing jasnya terpasang sempura.

“Terima kasih,” jawabnya pelan. Ia kembali sibuk di depan cermin, memasang dasi lalu merapikan rambut. Tak begitu ia hiraukan ayahnya yang sudah berdiri di sampingnya.

“Kau masih marah?”

“Aku harap begitu. Tapi….” Kyuhyun menunda perkataannya. Kemudian ia menyamping dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari ini, ia sudi menatap ayahnya.

“Tapi mungkin aku tidak bisa.”

Cho Min Sook tersenyum sambil menepuk bahunya. Ia pandang anaknya dari ujung rambut hingga sepatunya. Anaknya memang sangat tampan.

“Sebaiknya kau turun. Acaranya sudah dimulai sejak tadi dan ayah dan Max akan segera mengumumkan kerjasama kami.”

Kyuhyun mengangguk meski sebenarnya ia bukan dalam mood yang bagus malam ini. Kesehatannya juga sedang menurun. Kepalanya masih pusing. Ia lebih sering begadang di klub bersama Max akhir-akhir ini. Pulang sambil mabuk, sepanjang hari tidur kemudian pergi lagi. Bahkan pagi tadi ia muntah-muntah sampai managernya harus rela membersihkan muntahan itu.

Ada satu hal lagi yang membuatnya ragu untuk datang. Yakni kehadiran Amy. Ia sungguh tak mengerti apa kepentingan Amy dalam acara para pengusaha ini. Jika yang datang adalah orang tuanya, itu wajar. Tapi Amy? Untuk apa? Ayahnya tak mau membeberkannya. Ayahnya hanya terus meminta supaya ia merapikan diri dan bisa tampil mempesona di depan semua tamu. Meski acara ini bukan di adakan di rumahnya melainkan di sebuah hotel, ia lebih merasa bahwa ini seperti perayaan pertunangan dibanding sebuah acara bisnis.

Saat ia berada di bawah, ia sudah melihat ayahnya dan juga Max berdiri bersama di atas podium. Kyuhyun tak begitu tertarik untuk mendengarkan apa yang mereka ucapkan. Ia lebih tertarik melihat ke arah pintu depan.

Mungkin ia masih kecewa dan enggan berurusan lagi dengan Amy. Tapi setelah beberapa hari tak melihat batang hidungnya, ia tak bisa munafik bahwa sekarang orang yang paling ingin dilihatnya adalah gadis itu.

“Hallo, kawan.”

Henry menyapanya. Kyuhyun hanya tersenyum, tapi kemudian ia memandang Henry dengan bingung.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Tentu saja memenuhi undangan ayahmu.”

“Tapi ini bukan pesta ulang tahun.”

“Aku tahu. Tapi ayahmu sendiri yang memintaku datang. Katanya akan ada kejutan.”

Kyuhyun semakin penasaran apa yang direncanakan ayahnya. Sejak ayahnya meminta datang dan terus membawa nama Amy, ia sudah lelah bermain tebak-tebakan dan ia tak juga mendapat jawabannya.

“Kau tahu kejutan apa yang dimaksud?”

“Kenapa kau menanyakannya padaku? Satu-satunya hal yang kuketahui adalah Amy akan datang malam ini.”

Kepala Kyuhyun sontak langsung menghadap Henry. “Amy?”

Henry mengangguk dengan amat yakin. “Ya! Aku tak sengaja bertemu dengannya siang tadi di salon langgananku. Kau tahu? Dia sengaja pergi kesana demi acara malam ini. Bisa kau bayangkan? Amy Lee pergi ke salon! Ini jelas bukan acara biasa.”

Henry benar. Ini memang bukan acara biasa. Kyuhyun semakin yakin ada yang tak beres. Apalagi kalau benar Amy sampai bersedia menyiapkan diri sebaik mungkin, rasanya butuh alasan yang sangat kuat untuk membuat Amy sudi merelakan kakinya menginjak sebuah tempat bertuliskan salon. Tapi bukankah itu artinya Amy sudah mengetahui hal aneh macam apa yang dimaksud?

Ia sudah sering mengajak Amy ke salon untuk pergi ke sebuah pesta tapi tak pernah berhasil. Sekalipun ia menggunakan seribu alasan menarik seperti bahwa dalam pesta tersebut Jackie Chan akan datang dan memberikan sambutan, Amy tak mau. Amy tahu Kyuhyun berbohong. Dan kalaupun Kyuhyun benar, itu bukan alasan bagi Amy untuk tampil cantik jika hanya untuk bertemu sang idola. Jadi…siapa dan apa yang berhasil membuat Amy melanggar semua kebiasaannya? Orang tuanya? Nampaknya kemampuan orang tuanya lebih buruk dibanding dirinya untuk urusan ini.

“Hey, itu orang tuanya! Kau tanyakan saja pada mereka!”

Kyuhyun melihat ke arah yang ditunjukkan Henry dan ia tak ragu untuk langsung menemui mereka. Rasa penasarannya sudah sampai ke ubun-ubun.

“Selamat malam, paman, bibi.”

“Ah, Kyuhyun!!”

Kedua orang tua itu memeluk Kyuhyun bergantian. Ibu Amy sampai mengelus-elus bahunya sambil memperhatikan penampilannya.

“Kau sangat berbeda malam ini.”

“Ak-“

“Sepertinya kau begitu mempersiapkan diri.”

“Ak-“

“Tapi kau juga nampak bingung dan gugup. Aku mengerti yang kau rasakan. Kau pasti sudah tidak sabar, kan?”

“Tapi-“

“Kyuhyun, aku sudah mengenal ayahmu sejak lama dan aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan menjadi keluarga.”

“Tunggu, tunggu! Paman, Bibi, sebenarnya aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Aku kemari justru ingin menanyakannya pada kalian,” sela Kyuhyun yang akhirnya punya kesempatan bicara. Dan semuanya sama sekali tak membaik saat kedua orang di depannya justru saling pandang lalu tersenyum.

“Apa ayahmu belum mengatakannya?” tanya ibu Amy pelan. Kyuhyun menggeleng.

“Kalau begitu kau harus bersabar. Mungkin ayahmu ingin membuat kejutan.”

Tidak! Khusus kali ini Kyuhyun sama sekali tak mengharapkan kejutan. Ini terlalu membingungkan untuk ia cerna dan terlalu tidak biasa untuk membuatnya tenang.

“Bersabarlah. Sebaiknya kau bicara dulu dengan Amy. Kau pasti kaget melihatnya.”

Amy? Dimana dia?

Sebelum ia sempat bertanya, ibu Amy mendekatinya kemudian berbisik, “Dia sudah menyiapkan ini sejak pagi.”

***

Donghae memandang handphonenya sekali lagi. Ini adalah kesekian kalinya teleponnya tak diangkat oleh Amy. Padahal ia berencana mengajaknya bertemu karena hari ini ia dan seluruh karyawan dipulangkan lebih awal. Dan lagi memang sudah beberapa hari mereka tak sempat bertemu karena kesibukan gadis itu. Ia pikir ini adalah saat yang paling tepat. Tapi sejak sore teleponnya tak mendapat respon. Puluhan smsnya pun tak dibalas.

“Kau kenapa?”

Ia diam. Ia hanya mengambil kembali gelas minumnya yang sejak tadi tak ia cicipi. Dua temannya yang mengajaknya jalan-jalan hanya mengangkat bahu melihat sikapnya.

Setelah minum, Donghae melihat-lihat keluar café. Di seberang jalan, tepatnya disebuah hotel berbintang, katanya ada sebuah acara besar yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat ia bekerja. Itu sebabnya ia dan kawan-kawannya dipulangkan lebih awal hari ini. Donghae pikir ia punya kesempatan kesana. Ia hanya penasaran dan ingin tahu bagaimana pesta para pengusaha dan bagaimana mereka menyebut acara yang dipenuhi orang berdasi itu. Sayangnya orang-orang sepertinya bahkan tak punya celah untuk mencium bau pintu depan hotel tersebut.

Namun, keinginan itu menjadi bertambah besar saat ia melihat penampakan Amy disana. Ia mengucek matanya, berdiri, lalu keluar dari café. Dan setelah diperhatikan baik-baik, wanita yang tadi turun dari mobil mewah itu memang Amy.

Tanpa buang waktu Donghae berlari kesana. Ia sempat membuat beberapa mobil berhenti mendadak serta membunyikan klaksonnya. Ia juga membuat dua kawannya kebingungan. Tapi itu tak ia hiraukan. Ia terus berlari setelah berhasil menyebrangi jalan dan sampai ke halaman depan hotel. Beruntung Amy tidak langsung masuk karena masih mengobrol dengan seseorang. Dan begitu ia semakin dekat, ia langsung menyerukan namanya.

“Amy!”

Amy dan seseorang yang bersamanya menoleh. Donghae terperangah melihatnya. Amy nampak luar biasa dengan gaun hitam yang dikenakannya. Rambut gadis itu terurai tak seperti biasa. Dan yang pasti, Amy mengenakan make up.

“Apa aku sedang bermimpi?”

Amy tak menjawab. Malah ekspresinya jauh lebih terkejut dibanding Donghae. Ia lalu menyuruh temannya untuk masuk lebih dulu kemudian mendekati Donghae.

“Maaf, kau pasti tidak bisa menghubungiku seharian ini. Handphoneku tertinggal di apartemen dan sejak pagi aku bersama ibuku.”

“Tak masalah. Yang menjadi masalah disini adalah…………kau. Lihat dirimu! Apa seharian ini kau belajar menggunakan high heels?”

Donghae memandang Amy dari atas hingga bawah dan sesungguhnya bukan kalimat itu yang ingin ia katakan. Kecantikan Amy pantas mendapatkan lebih dari apa yang sudah keluar dari bibirnya. Tapi ia tak bisa memberikan kejujuran.

Sementara Amy hanya diam. Ia menunduk, sesekali melihat ke belakang dan mulai gelisah.

“Oke, sepertinya kau sudah tak sabar untuk masuk. Tapi..apa aku boleh tahu kapasitasmu disini? Maksudku, kau kemari untuk menghadiri acara yang di adakan perusahaan tempatku bekerja atau…”

“Aku kemari karena orang tuaku diundang. Mereka ingin aku ikut jadi…………..aku tak bisa menolak.”

Donghae mengangkat bahu. Ia mencoba percaya. Tapi…

“Baiklah. Cepatlah masuk dan jangan rusak penampilanmu ini dengan mulut tajammu.”

Amy tersenyum. Ia berbalik cepat kemudian masuk ke gedung tersebut. Donghae masih bisa melihat Amy berjalan dengan seorang gadis lagi hingga tak terlihat setelah masuk ke dalam lift. Harusnya ia ikut berbalik lalu kembali ke café. Tapi yang ia lakukan beberapa detik selanjutnya adalah menyelinap masuk.

Diam-diam ia melangkah ke dalam saat beberapa petugas pintu masuk sibuk membantu seorang tamu yang tua renta dan menggunakan kursi roda. Sungguh ia harus mencium tangan kakek-kakek itu suatu saat nanti.

Ia pun masuk ke dalam lift dengan mulus. Awalnya ia tak tahu harus menekan angka berapa. Tapi ada seorang pria berpakaian rapi yang juga masuk lalu menekan angka dua. Ia tak ingin bertanya, tapi instingnya mengatakan bahwa pria itu memiliki tujuan yang sama dengannya. Dan tebakannya sepertinya benar. Begitu pintu terbuka, ia melihat ada banyak orang lalu lalang. Semuanya mengenakan pakaian formal. Para pria mengenakan jas dan para wanita mengenakan gaun. Mereka berjalan ke sebelah kiri lalu masuk ke sebuah ruangan besar. Begitu ia melihat penampakan Yong Shan di dalam sana, ia pun yakin tidak salah tempat.

Namun, bukan perkara mudah untuk masuk ke dalam. Ada dua penjaga yang bertugas memeriksa tubuh tamu dan juga surat undangannya. Donghae melirik pakaiannya sendiri dan sepertinya ia akan langsung di tendang dari sana. Ia juga tak punya kertas apapun yang nampak seperti sebuah undangan. Tapi ia tak mundur. Saat sudah tak ada lagi tamu yang masuk, ia mendekati mereka dengan berlagak panik.

“Tuan, kalian harus menolong temanku! Dia terluka!”

“Siapa kau?”

“Itu tidak penting! Sekarang bantu aku! Aku tidak menemukan petugas hotel sejak tadi.”

Dua pria itu saling pandang kemudian menatapnya. “Dimana dia? Apa yang terjadi?”

“Itu! Disana! Di sebelah kanan di kamar 367!”

Keduanya berlari lebih cepat dari Donghae. Sedangkan Donghae lekas berbalik dan ambil langkah seribu. Dan dua detik kemudian ia sudah berada di tengah pesta.

Donghae bersorak dalam hati. Ia sukses mengelabui banyak orang hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya pada sikap Amy. Mungkin alasannya sedikit tak masuk akal. Tapi ia merasa bahwa ada yang harus ia ketahui disini. Sikap Amy tadi sama sekali tak biasa.

Maka orang pertama yang ia cari begitu berada di dalam adalah Amy. Ia panjang-panjangkan lehernya untuk mencari keberadaan gadis itu. Ia tak peduli meski beberapa ada yang memandangnya heran dan ada juga yang refleks melangkah mundur. Ia acuh saja. Ia fokus mencari Amy. Namun, yang ia temukan bukan Amy atau gadis manapun, melainkan Kyuhyun.

Ia melihat Kyuhyun berdiri bersama seorang pria yang kalau tidak salah bernama Henry. Ya! Itu Henry! Dia adalah orang yang kerap memberi informasi pada Amy perihal keberadaan Kyuhyun.

Tanpa basa basi ia mendekati mereka. Ini di tempat umum, ia yakin Kyuhyun takkan jatuh di lubang yang sama dengan memukulnya lagi. Kecuali Kyuhyun benar-benar ingin karirnya hancur.

“Kyuhyun!”

“Kau?”

Donghae menariknya sedikit menjauh. Ia tempelkan tubuh Kyuhyun ke dinding.

“Hyung, apa-apaan kau?”

“Oh, jadi kau masih menganggapku sebagai hyung-mu?”

Kyuhyun buang muka. Ia hendak pergi tapi Donghae sigap menahan lengannya.

“Aku belum selesai bicara.”

“Apa yang kau ingin bicarakan? Dan…apa yang kau lakukan disini?”

“Itu bukan pertanyaan yang harus kujawab. Satu-satunya yang harus menjawab disini adalah kau! Dan kau harus jelaskan padaku apa kesalahanku, Amy dan juga ibu.”

“Aku tak ingin menjawabnya.”

Donghae geram lalu menarik kerah jas Kyuhyun.“Kau harus menjawabnya atau aku akan-“

“Selamat malam, semuanya.”

Donghae menghentikan ucapannya. Ia diam selama beberapa detik setelah mendengar suara itu.

“Maaf kalau aku banyak sekali bicara malam ini. Tapi sebenarnya ada hal lain yang ingin kusampaikan pada kalian selain kerja sama perusahaanku dan perusahaan Max.”

Belum sempat ia meyakinkan diri bahwa ia salah menebak pemilik suara itu, ia dibuat bingung dengan sebuah nama. Max? Apakah Max yang dimaksud adalah Max yang ia kenal?

“Aku ingin membuat malam ini menjadi lebih sempurna. Untuk itu, ijinkan aku mengumumkan satu hal penting lagi.”

Tanpa sadar Donghae menahan nafasnya. Kedua tangannya sudah jatuh melepaskan Kyuhyun. Perlahan-lahan ia memiringkan wajahnya dan ia menemukan seorang pria yang sudah lama tak dilihatnya sedang bicara.

Pria itu adalah….

“Hal penting itu adalah…..bahwa aku dan tuan Robert sudah sepakat untuk menjodohkan anak kami.”

Apa?

Tepuk tangan seketika terdengar begitu nyaring. Donghae tak tahu apa hubungan antara apa yang disampaikan pria itu dengan kinerja tubuhnya, tapi mendadak ia tak bisa bernafas. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mulai merasa takut. Ia takut mendengar apa yang akan keluar dari mulut pria itu.

“Pertunangannya akan dilaksanakan minggu depan.”

Tepuk tangan yang lebih meriah terdengar. Donghae tak tahu apakah ia sanggup mendengarnya lagi atau tidak. Tapi ia tak sempat memilih karena selanjutnya ia sudah dibawa pada sebuah kenyataan.

“Kyuhyun, Amy, kemarilah.”

Ia meluruskan pandangannya ke depan dan ia menemukan Kyuhyun menunduk diam. Ia tak sadar sudah berapa tetes air mata meluncur dari ujung matanya. Ia hanya tahu bahwa pria yang berdiri di depannya ini sedang disebut namanya. Pria ini sedang ditunggu kehadirannya.

“Kyuhyun, anakku, jangan malu. Kemarilah!”

Donghae merasa sedang diinjak-injak. Dadanya sesak. Ia ingin berpegangan pada dinding, tapi bahkan nampak dinding pun menjauh darinya. Semuanya semakin menjauh saat Kyuhyun mengangkat wajahnya, menatapnya sejenak kemudian berjalan meninggalkannya.

Donghae tak yakin ia mampu menatap kepergian Kyuhyun lebih lama. Tapi ia berhasil melakukannya dan ia menemukan fakta lain setelahnya. Ternyata..bukan hanya Kyuhyun yang berjalan ke sana, melainkan juga Amy.

Amy dan Kyuhyun tiba bersamaan. Cho Min Sook tertawa lebar pada keduanya lalu memeluk mereka. Sementara ia…ia sudah tak tahu harus berpegangan pada apa. Ia tak tahu orang-orang mengatakan apa. Ia tak mengerti kenapa semua orang masih bertepuk tangan sementara ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia seperti robot yang kehabisan baterai. Ia seperti manusia tanpa nyawa. Bahkan semakin lama suara tawa dan tepuk tangan itu seperti tertuju padanya.

Mereka seakan sedang mengejeknya. Mereka mengolok-oloknya. Mereka menertawakannya seolah ia hanyalah pecundang disini. Ketika dua orang petugas menariknya, ia tak melawan. Ketika mereka mengunci kedua tangannya, ia pasrah. Hanya sesaat sebelum ia diseret pergi, ia beranikan diri melihat ke depan dan menemukan banyak orang sedang berbahagia, tak terkecuali Amy.

“Pergi dari sini!”

Ia dilempar keluar sampai wajahnya hampir mencium aspal. Sejenak ia melihat ke pintu dimana ia masuk sebelumnya. Tak ada yang perlu ia harapkan dari tempat itu. Sejak dulu ia memang tak cocok dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Dan pada akhirnya ia memang harus kembali ke asalnya.

Jalanan.

*****TBC*****

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: