What If [11/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

********

“Kau nampak sudah tahu ini akan terjadi.”

Suara datar Kyuhyun memecah hening. Kyuhyun menatap Amy yang berdiri di dekat jendela. Begitu acara selesai, Kyuhyun menariknya lalu mengunci pintu kamar hotelnya. Selama hampir satu jam mereka tak melakukan apa-apa dan tak membicarakan apapun. Baru sedetik lalu Kyuhyun bersuara. Dan baru sedetik lalu juga Amy menoleh sebentar padanya.

“Ibuku sudah menceritakannya sejak seminggu yang lalu,” sahut Amy sama datarnya dengan suara Kyuhyun. Kyuhyun pun berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke depan meja dimana wine favoritnya sudah ia tuang sebelumnya. Ia telan habis segelas wine itu kemudian bertanya lagi.

“Kau juga nampak menikmatinya. Kenapa kau tidak menolak?” tanya Kyuhyuh.

“Aku tidak punya alasan untuk itu.”

Kyuhyun tersenyum tak percaya. “Untuk seorang Amy Lee yang kukenal lebih dari dua tahun ini, jawabanmu terdengar sangat meragukan. Kau sudah menolak banyak hal dari orang tuamu dan sekarang kau menerima perjodohan ini?”

“Bagaimana jika aku mengajukan pertanyaan yang sama denganmu?”

Pertanyaan balik Amy tak menggetarkan Kyuhyun. Kyuhyun tinggalkan minumannya untuk mendekati gadis itu. Ia ikut bersandar pada dinding lalu melihat sebentar keluar jendela.

“Aku punya jawaban yang jelas. Karena aku menginginkanmu.”

Ia bisa melihat kedua tangan Amy yang melipat di depan dadanya seketika mengeras. Amy masih membuang muka, berlagak melihat pemandangan kota.

“Aku rasa aku tidak perlu lagi menyembunyikannya,” tambah Kyuhyun.

Kyuhyun memang merasa jauh lebih lega setelah apa yang terjadi sebelumnya. Siapapun yang memiliki ide atas perjodohan ini, ia akan sangat berterima kasih. Tapi untuk gadis di depannya saat ini…ia masih menyimpan beberapa pertanyaan.

“Jika kau menerima perjodohan ini, lantas…bagaimana dengan Donghae hyung?” tanya Kyuhyun dengan nada setengah mengejek.

Amy tak menjawab. Kedua tangannya semakin mengeras.

“Kau akan meninggalkannya atau…..selama ini kau hanya mempermainkannya?”

“Kyuhyun!!!”

Kyuhyun tersenyum, “Akhirnya kau mau menatapku. Kau tahu kau sangat cantik hari ini dan kau jarang sekali menatapku sejak tadi.”

Amy menatapnya tajam. Pandangan yang tak pernah diberikannya pada seorang Cho Kyuhyun. Bibirnya terbuka sedikit dan nampak menyimpan banyak kata yang bisa merobek-robek pria itu. Tapi pada akhirnya ia menjauh. Ia berjalan cepat setelah melepas sepatunya lalu menarik pintu dengan kasar.

“Kau harus tahu bahwa aku tidak akan mundur!” sergap Kyuhyun yang berhasil menahan langkah Amy. Kyuhyun menatap punggung Amy yang dimatanya nampak sangat indah malam ini. Ia perhatikan gerak gerik gadis itu lalu berhenti pada sebelah tangannya yang menggantung pada handle pintu.

“Aku tidak mengerti kenapa kau menerima semua ini. Tapi jika itu sudah menjadi pilihanmu, maka akan kupastikan bahwa akupun tidak akan pernah melepaskanmu.”

Ia berbalik. Dua detik kemudian didengarnya suara pintu yang ditutup dengan keras. Mungkin inilah percakapan terburuk dalam masa hubungan pertemanan mereka. Tapi Kyuhyun tak peduli. Yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah mendatangi ayahnya lalu mengucapkan terima kasih. Ia rasa…..ayahnya sudah melakukan kebenaran kali ini.

***

“Kyuhyun, Amy, kemarilah.”

Donghae tersenyum pahit. Kebanyakan orang akan melihat mereka berdua sebagai pasangan serasi. Kyuhyun memiliki postur tubuh yang tinggi serta wajah yang tampan. Sedang Amy mewarisi wajah eropa dari ayahnya yang membuat kecantikannya berbeda dari gadis korea pada umumnya. Kyuhyun merupakan penyanyi solo terkenal sementara Amy merupakan calon seniman ternama. Mereka juga berasal dari keluarga konglomerat. Donghae bahkan tak menemukan satu cela antara keduanya. Ia juga tak mungkin mengatakan bahwa mereka tak pantas bersanding bersama. Satu-satunya hal yang menjadi tak pantas adalah ketika terbesit dipikirannya untuk berdiri di antara keduanya.

Kejadian di malam itu masih terekam jelas dalam benaknya. Bagaimana ia mendengar suara pria itu yang tak ingin ia sebut namanya. Bagaimana ia mendengar perjodohan itu. Bagaimana ia melihat Kyuhyun dan Amy berjalan bersama lalu saling melempar senyum pada para undangan serta bagaimana akhirnya ia harus jadi satu-satunya orang tak diundang yang harus dilempar keluar.

Terlalu banyak yang terjadi malam itu. Terlalu banyak rasa sakit yang ia dapat kala itu. Mungkin tak sampai 10 menit. Hanya dalam rentang waktu itu, kejutan datang bertubi-tubi. Dan setelah melihat semuanya, akhirnya ia menyadari satu hal lain. Bahwa selama hampir dua bulan ini ia makan dari kantong pria itu. Pria yang sudah menolak kehadirannya di dunia meski jelas ialah penyebabnya.

Sekarang ia mengerti kenapa Kyuhyun terkejut melihatnya di perusahaan itu. Semuanya sangat jelas. Ia pun tak perlu berpikir dua kali untuk angkat kaki dari sana. Dua hari setelah kejadian itu ia tak lagi kembali kesana. Tak ia angkat telepon dari rekannya. Tak ia jawab pertanyaan ibunya. Yang ia lakukan selama dua hari ini hanya tidur sepanjang hari. Sekitar jam dua belas siang ia baru akan bangun lalu sibuk mencari apapun makanan yang ada di atas meja atau di dalam kulkas. Jika tak ada, ia akan keluar lalu diam-diam mencuri roti dari toko pinggir jalan. Ia juga beberapa kali mencuri rokok dari sebuah minimarket yang sayangnya selalu berhasil. Setelahnya ia akan duduk-duduk di halte, menghabiskan tiga puntung rokok lalu berjalan dengan bus tanpa tujuan jelas. Jika sudah larut malam dan lelah, barulah ia pulang tanpa peduli bahwa ibunya menunggu di rumah. Ia memang menyapa ibunya ketika dibukakan pintu. Tapi ia tak menjawab apapun yang ditanyakan padanya. Ia hanya melepas jaket dan sepatunya, melemparnya lalu masuk ke kamar.

Pikirannya kosong. Ia tak tahu dan tak ingin melakukan apapun. Tidur dan keluar hanya untuk merokok menjadi hal-hal yang terasa paling normal diantara yang lain meski ia tahu bahwa segalanya justru menjadi tak normal lagi dimata ibunya.

Ia menghindar. Ia lari ketika pertanyaan itu menjurus kepada peristiwa yang ia alami sebelumnya. Ia tak mau mengingatnya apalagi menceritakannya dari awal hingga akhir. Ceritanya memang tidak panjang. Tapi tiap huruf yang mewakili cerita itu akan sangat menyakitkan jika keluar dari mulutnya. Seperti memaksa keluar kumpulan duri yang terlanjur ia telan, ia tahu itu sangat sakit.

Tapi dimalam ke empat, ia tak bisa bersembunyi lagi. Kenyataan menunggunya saat ibunya memohon dengan amat sangat agar ia bersedia membaginya. Dan akhirnya, ia takkan sanggup melihat ibunya menangis. Akhirnya ia ingat bahwa ia pernah bersumpah untuk tak membuat ibunya menangis lagi.

“Kau bisa memulainya dari manapun. Ibu tidak kemana-mana.”

Saat ini, sekitar pukul satu malam setelah ia pulang dari acara jalan-jalannya yang tidak jelas, ibunya duduk di hadapannya dengan tenang. Dan setelah mengatur nafasnya, cerita itu pun mengalir apa adanya.

Ibunya menangis lagi mendengar itu. Donghae pun yang mulanya yakin takkan menangis justru bisa melihat bahwa ada banyak bekas tetesan air di celananya. Mereka akhirnya menangis bersama. Donghae memeluk ibunya lalu tak mengatakan apa-apa lagi. Cerita berhenti pada bagian dimana Donghae melihat Kyuhyun dan Amy bersama. Hanya sampai bagian itu, ia tak sanggup mengatakan hal lain.

Namun, keesokkan harinya ibunya meminta agar Donghae mau kembali ke perusahaan itu. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk mengundurkan diri secara baik-baik.

“Ibu, untuk apa aku melakukannya? Mungkin mereka juga sudah menemukan penggantiku.”

“Kau sudah berjanji untuk memperbaiki sikapmu. Dan apa yang kau lakukan pada pekerjaanmu bukanlah sikap yang baik.”

“Tapi-“

“Donghae…”

Sangat sulit baginya untuk menjelaskan betapa ia merasa sangat jijik menginjak tempat itu. Betapa ia tak sudi sekedar melihat bagian depan gedung itu. Betapa ia tak ingin jika terlanjur bertemu pria itu dan dipaksa membungkuk lagi. Tapi ibunya memaksa dan ia tak punya pilihan lain.

“Pergilah.”

Setelah bersiap-siap, Donghae langsung pergi ke tempat itu. Ia sudah membayangkannya dan ia sudah berencana untuk hanya mencari keberadaan atasannya yang bernama Yong Shan. Begitu ia mengutarakan niatnya serta memohon maaf atas sikapnya yang tidak bertanggung jawab selama beberapa hari ini, ia berjanji tidak akan menoleh kemanapun dan langsung angkat kaki.

Namun, lagi-lagi ada hal lain yang terjadi diluar skenarionya.

“Kebakaran!!!”

Setelah ia keluar dari ruangan Yong Shan, ia mendengar seruan dari banyak orang. Dan dalam sekejab alarm tanda bahaya berbunyi. Para karyawan berhamburan keluar. mereka menubruknya, memaksanya berhenti sejenak dan kehilangan kesempatan pergi lebih dulu. Beberapa detik kemudian ia sadar bahwa mungkin ia juga dalam bahaya.

Saat asap mulai mengepul, ia mendengar ada yang berteriak paling kencang, “Tuan Presdir terjebak di dalam!”

Langkahnya seketika tertunda. Ia sungguh tak tahu apa-apa. Ia tak tahu dimana letak apinya, darimana asal muasal asapnya. Tapi teriakan itu…

“Cepat panggil pemadam!!”

“Tuan! Apa kau masih ada di dalam?”

Donghae mengepalkan kedua tangannya. Kedua kakinya sudah akan pergi. Bahkan ia ingin berlari sekencang mungkin. Tapi jika benar pria itu terjebak, apakah….apakah…ia akan diam saja dan menjadi penontonnya?

“Donghae! Cepat pergi dari sini!”

Ia tak tahu siapa yang meneriakinya. Ia pasrah saja meski sebenarnya ia belum menemui kata sepakat dengan hatinya. Meski sekarang ia sudah berlari dengan yang lain, jauh di dalam dirinya ia merasa ada kesalahan disini. Dan sebelum ia bersama para karyawan masuk ke dalam lift, ia melepaskan diri.

Hatinya masih bimbang. Tapi rasanya kali ini bukan kesalahan besar. Maka ia kembali pada tempatnya semula, bertanya pada siapapun yang ada.

“Dimana apinya?” Ia bertanya pada salah seorang karyawan. Pria itu menunjuk sebuah ruangan di ujung lorong yang diketahuinya sebagai ruangan pria itu.

Sial!

Ia pun bergegas kesana. Sempat ia dengar larangan dari beberapa orang tapi ia tak menghiraukan. Ia tetap berlari dan mendobrak pintu.

BRAKKKK

Api dan asap sudah menyebar kemana-mana. Ia nyaris tak bisa melihat apa-apa. Hawa panas juga membuat kulitnya terasa ikut terbakar.

“Apa kau ada di dalam?”

Ia berteriak pada siapapun yang mungkin ada disana. Tapi ia tak mendengar jawaban. Dengan hati-hati dan sesekali menahan batuk, ia berjalan mencari keberadaan pria itu.

Sialnya api semakin menyebar. Bagian dinding nyaris penuh dengan api. Penglihatannya semakin buruk dan samar-samar ia mendengar seruan dari luar. Lalu ketika suara Yong Shan terdengar, sebuah lemari di samping kirinya jatuh.

Brakkkk

“SHIT!!!”

Ia berhasil menghindar tepat sebelum lemari itu menindihnya. Namun, percikan api mengenai lengan kanannya.

“Donghae!!! Cepat keluar dari situ!!”

Ia mendengar lagi suara seseorang. Dan bersamaan dengan itu, ia menemukan seseorang tergeletak tak sadarkan diri di dekat jendela. Langsung saja ia melompati lemari lalu membalik tubuh pria itu.

“Hey, kau! Bangunlah!!”

Pipi pria itu ia tepuk-tepuk hingga perlahan pria itu membuka matanya. Donghae tak tahu harus mengucap syukur atau sebaliknya. Tapi kesadaran pria itu diam-diam membuatnya merasa sedikit lega.

“Bertahanlah!”

Donghae menariknya bangun. Meski cukup berat, ia berusaha keras membopongnya lalu mengajaknya melangkah. Tapi pria itu sangat lemah, ia bahkan tak sanggup berjalan lagi.

“Tolong, jangan buat aku menyerah dan akhirnya kita mati disini.”

Habis akal, akhirnya ia berjongkok lalu mengarahkan pria itu agar berpegangan pada bahunya. Dan dalam hitungan ketiga, ia berdiri sambil menggendong pria itu. Ia berjalan mencari celah yang bisa ia lewati. Berita buruknya, pintu depan dimana sebelumnya ia masuk sudah penuh dengan api.

Ia dan pria itu terjebak sementara ia mulai ragu dengan kekuatannya. Tubuhnya mulai lemah, hawa panas dan juga asap yang sudah menutupi hampir seluruh ruangan membuatnya sempat berpikir untuk menyerah. Ia juga bisa mendengar pria dipunggungnya itu terbatuk dengan keras. Tapi ia dan pria itu harus selamat. Mereka harus bisa keluar.

Ia melihat ke belakang. Kondisi jendela justru lebih buruk dari pintu di depannya. Dilihatnya lagi keadaan sekelilingnya dan rasanya ia tak bisa menunggu lebih lama atau berpikir lagi. Satu menit ia berdiam disini, maka mereka akan mati terpanggang.

Ia pun fokus pada pintu. Ia atur nafasnya beberapa kali lalu memperbaiki letak pria itu dipunggungnya. Ia memejamkan mata, lalu bergumam pelan.

“Jika akhirnya kita tak selamat, maka kau harus membayarnya dineraka!”

Dan detik berikutnya ia sudah berlari kencang menembus api. Kemudian ia merasa ada yang menyambut mereka, ada yang hilang dipunggungnya dan ada banyak suara berisik disekitarnya. Ia tak tahu apakah ia selamat atau justru sudah berada dalam kondisi antara hidup dan mati. Yang jelas ia merasa wajahnya menghantam sesuatu yang keras dan dalam sekejab ia kehilangan kesadaran.

***

“Ayah!!!!!!”

Kyuhyun mendorong pintu dengan sangat kuat. Ia menemukan ayahnya duduk di tempat tidur sambil menerima penanganan dari dokter.

“Ayah baik-baik saja?”

Cho Min Sook melihat ke arah dokter. Kyuhyun lalu beralih padanya. “Ayahku baik-baik saja?”

“Tenang saja. Tuan Cho hanya mengalami sedikit gangguan pernapasan dan juga luka bakar kecil di kakinya. Tapi semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya lega. Begitu mendapat telepon bahwa terjadi kebakaran di salah satu lantai gedung perusahaan ayahnya dan ayahnya menjadi salah satu korban, ia bergegas meninggalkan managernya lalu memacu mobil ke rumah sakit. Beruntung kondisi ayahnya jauh lebih baik dari apa yang ia bayangkan.

Ia pun duduk di sisi tempat tidur sepeninggal dokter.

“Ayah membuatku takut.”

“Ayah senang kalau kau mengkhawatirkan ayah.”

Kyuhyun diam saja. Rasanya sudah lama sekali sejak mereka bisa bicara dengan hangat seperti ini. Kemarin-kemarin hubungan mereka memburuk dan akhir-akhir ini ia baru memulai kembali hubungan baik mereka.

“Sebenarnya…apa yang terjadi disana? Kenapa bisa terjadi kebakaran?”

“Ayah tidak tahu. Ayah sedang istirahat setelah minum obat saat tiba-tiba api sudah menyebar dan orang-orang berlari diluar.”

“Kedengarannya buruk sekali.”

Cho Min Sook mengangguk pelan. Ia mulai mengingat-ingat kejadian pagi tadi dan sepertinya….ada yang mengganjal.

“Kudengar ayah sempat terjebak dan tak bisa keluar.”

“Ya! Ayah tak bisa bernafas lalu pingsan. Setelah itu……”

Ia mencoba menggali ingatannya. Rasanya ia tak sendiri. Ada seseorang bersamanya dan berhasil menyelematkannya. Ia yakin sekali ada seseorang yang rela membantunya meski ia yakin kondisi saat itu sama sekali bukan kondisi yang baik.

“Setelah itu?” tanya Kyuhyun yang penasaran. Tapi ayahnya nampak butuh waktu berpikir lebih lama.

“Ayah tidak ingat. Yang jelas ada yang menyelamatkan ayah.”

“Kalau begitu kita harus mencari tahu siapa dia. Kita harus memberinya hadiah.”

Cho Min Sook mengangguk saja meski sebenarnya ada satu wajah yang terpikirkan olehnya ketika mengingat kejadian pagi tadi. Ia begitu ingin menolak bayangan wajah itu. Namun, semakin kuat ia menolaknya, justru semakin jelas wajah itu terbayang olehnya. Apakah anak itu yang menolongnya? Ah, bagaimana mungkin ia berpikir kesana. Kepalanya mungkin terbentur lantai sampai harus memikirkan anak itu. Ya! Ia harus menyuruh dokter memeriksa kepalanya.

“Kenapa? Kepala ayah sakit?”

“Tidak! Tidak apa! Ayah hanya sedikit pusing.”

“Kalau begitu ayah istirahat saja. Aku akan disini.”

Cho Min Sook menurutinya. Kyuhyun menuntunnya untuk berbaring lalu menarik selimut sebatas dada. Dan setelah ayahnya benar-benar terlelap, Kyuhyun keluar sebentar untuk mencari minum. Ia juga perlu menelpon managernya untuk memberi tahu bahwa ayahnya baik-baik saja sekaligus untuk minta maaf karena meninggalkan pekerjaan seenaknya.

Semenjak kabar pertunangannya, berita buruk soal dirinya mendadak sunyi. Berita perjodohannya dengan Amy menutup berita itu dan media justru lebih tertarik untuk membahas siapa gadis beruntung yang akan menjadi pendamping seorang Cho Kyuhyun. Dari kalangan fanspun sudah melupakan insiden pemukulan itu dan sibuk mencari tahu soal Amy. Siapa Amy? Apakah cantik? Apakah masih kuliah atau sudah bekerja? Dan berasal dari keluarga mana?

Kyuhyun senang semuanya berjalan baik-baik saja. Meski setelah acara itu ia dan Amy tak pernah berkomunikasi lagi, ia tak peduli. Kenyataannya di atas kertas mereka adalah calon suami istri.

“Baiklah, terima kasih.”

Langkahnya yang hendak masuk ke café rumah sakit terhenti. Ia menoleh ke samping kiri dan melihat salah satu orang kepercayaan ayahnya bicara pada seseorang yang baru saja pergi.

“Ah, tuan Chen!”

Kyuhyun menghampirinya. Pria itu menunduk hormat kemudian tersenyum.

“Bagaimana keadaan tuan Presdir? Maafkan saya. Saya belum sempat menjenguknya karena harus mengurus pria itu,” ujarnya sambil menunjuk pada seorang pria yang sudah menjauh dan nyaris tak terlihat.

“Tidak masalah. Tapi…siapa dia?”

“Dia adalah orang yang menyelamatkan tuan Presdir. Kalau tidak ada dia, kami tidak tahu apa yang akan terjadi.”

“Benarkah?” Kyuhyun kembali mencari keberadaan pria itu tapi sudah tak ada.

“Apa dia salah satu karyawan ayahku juga?”

“Tadinya dia hanya seorang cleaning servis, tapi dia sudah mengundurkan diri.”

“Begitu?”

“Ya! Kudengar dia ke kantor hari ini untuk mengundurkan diri. Tapi kebakaran terjadi dan dia yang berhasil menyelamatkan Tuan Presdir.”

“Apa dia baik-baik saja? Kenapa tuan tidak mengantarnya pulang?”

“Itu…karena…”

“Ah, dia sudah pergi. Tuan Chen, antarkan aku padanya! Aku harus mengucapkan terima kasih!”

Kyuhyun sudah menarik lengan pria itu. Mereka berlari keluar hingga berhenti di pintu depan.

“Dimana dia?”

Kyuhyun mencari-cari meski jelas ia tak tahu siapa yang ia cari. Ia tak tahu wajahnya, ia juga tak tahu namanya.

“Ah, itu dia!”

“Yang mana?”

“Lee Donghae!!!!”

Apa?

Kyuhyun kehilangan senyumnya. Ia hentikan langkahnya dan disaat bersamaan pria yang dipanggil namanya itu menoleh padanya. Dilihatnya tuan Chen mendekati pria itu lalu mengajaknya untuk mendekat.

Tidak! Jangan bilang kalau…

“Tuan muda, dia adalah Lee Donghae, orang yang sudah menyelamatkan nyawa Tuan Presdir.”

Kyuhyun dan Donghae berpandangan. Kyuhyun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harap ia sedang bermimpi. Tapi Donghae sudah membungkuk sedikit padanya.

“Senang bertemu anda, Tuan muda.”

Kyuhyun juga tak tahu apa yang ada dikepala Donghae. Tapi jika Donghae bisa bersikap seperti ini, maka ia pun bisa.

“Aku sudah mendengar semuanya dan aku sangat berterima kasih atas apa yang kau lakukan pada ayahku. Kau harus bertemu dengannya. Dia pasti akan sangat senang,” ujarnya panjang lebar dengan penekanan pada kata terakhir. Ia bisa bayangkan kata senang bagaimana yang ia maksud sebenarnya.

“Maaf, Tuan muda. Tapi saya harus segera pulang. Sampaikan salam saya pada Tuan Presdir dan saya berdoa semoga ia lekas sembuh.”

Kyuhyun tersenyum. Memang lebih baik seperti itu. Bahkan rasanya lebih baik ayahnya tak tahu saja siapa sipenolong itu. Maka ia biarkan Donghae menunduk sekali lagi. Donghae kemudian pergi menggunakan taksi.

Ia lalu beralih pada pria di sebelahnya. “Tuan Chen, sebaiknya kau tidak perlu membahas soal pria itu pada ayahku. Biar aku yang mengatakannya.”

“Baik, tuan muda.”

Kyuhyun rasa…ia tak perlu repot-repot menyebut nama Donghae pada ayahnya. Ayahnya cukup tahu bahwa orang yang menyelamatkannya adalah salah satu cleaning servis yang namanya mudah dilupakan dan sudah mengundurkan diri. Hanya itu. Ia tak mau ayahnya tahu lebih.

***

Changmin berlari dari gerbang sekolahnya. Ditangannya sudah ada piala serta piagam yang ditanda tangani oleh bapak walikota. Ibunya harus melihat ini. Ibunya harus segera tahu bahwa anaknya yang tampan ini baru saja memenangkan olimpiade fisika untuk yang kesekian kali!

Dengan kencang ia berlari. Meski jarak antara sekolah dan rumahnya sama sekali tidak dekat, ia tetap berlari. Tidak ada yang aneh disini. Ia hanya perlu mengulang kebiasaannya dipagi hari ketika harus berlari dari rumah ke sekolah agar tak terlambat.

Namun, kali ini perjalanannya tak berjalan mulus. Segerombolan orang yang datang dari belakangnya membuat ia jatuh. Piala dan piagamnya terlempar. Kakinya bergesekkan dengan aspal hingga celananya sobek dan lututnya berdarah.

“Hey, pencuri! Berhenti!”

Changmin ketakutan. Bukan karena teriakan itu tapi karena melihat piagam dan pialanya terinjak-injak bahkan tak sengaja ditendang oleh salah satu orang itu.

“Kalian! Hey! Kalian harus bertanggung jawab!” Ia berteriak kencang pada orang-orang itu yang sudah menjauh darinya. Tapi tak ada satupun yang menoleh, sekedar minta maaf apalagi sudi memperbaiki barang-barangnya.

Sialan!

“Pialamu rusak?” Seorang pria tua asing mendekatinya. Changmin mengabaikannya lalu melanjutkan larinya setelah mengamankan piala serta piagamnya. Tapi kali ini dua benda itu dipeluknya erat-erat. Sedikit lagi ia akan sampai. Ya! Sedikit lagi! Tinggal satu kilometer lagi! 500 meter lagi! 100 meter lagi! Ia tinggal berbelok kemudian…

“IBU!!! Lihat apa yang kubawa!!!”

Hening.

Suara ibunya yang lemah dan lembut itu tak terdengar seperti biasa. Bunyi langkah kaki ibunya yang sudah ia hapal itu juga tak terasa. Dimana ibunya?

“Ibu? Aku sudah pulang!” serunya sekali lagi tapi dengan intonasi lebih pelan. Ia pun melangkah lagi. Ia melewati ruang tamunya dan akhirnya ia mulai sadar ada yang tak beres disini.

Perabotan rumahnya berhamburan. Ada banyak pecahan kaca, vas bunga, juga gelas dan piring di lantai. Semua makanan dari dalam kulkas berhamburan di dapur. Panci-panci bertebaran seperti hiasan.

“Ibu! Ibu dimana?”

Ia melihat ke kamar ibunya tapi tak ada siapapun disana. Hanya sebuah tempat tidur yang berantakan dengan kapuk bertebaran. Kemudian ia berbalik. Mungkin ibunya ada di atas. Tapi ketika ia baru akan melangkah, ia menemukan banyak noda merah dikakinya.

Ia maju beberapa langkah lagi. Menunduk sedikit lalu mendekatkan jarinya pada apa yang dilihatnya. Dan setelah ia mencium baunya, perasaan takut mulai melingkupinya.

“IBU!!!”

Ia berlari ke atas. Pintu kamarnya tertutup rapat dan ia menemukan noda yang sama pada pintu itu. Untuk sesaat ia merasa tak sanggup mendorongnya. Tapi kemudian ia berhasil mengumpulkan kekuatan lalu mendorong pintu itu dengan cepat. Dan apa yang dilihatnya seketika melumpuhkan kedua kakinya.

“IBU!!!!”

Max terduduk di tempat tidur. Wajahnya sudah basah oleh keringat dan nafasnya berjalan cepat.

Sejenak dipandangnya sekeliling kamarnya. Dan sedetik kemudian ia sudah berlari ke kamar ibunya. Ia dorong pintu itu lalu bersimpuh di depan ibunya yang masih setia duduk di kursi favoritnya.

“IBU!!!”

Max meraih tangan ringkih ibunya. Dikecupnya berkali-kali lalu ia menangis sejadi-jadinya. Ia tak tahu kenapa mimpi itu harus datang lagi. Ia benci jika harus mengingatnya. Ia tak suka harus kembali kemasa yang paling ingin ia lupakan itu. Jangan ingatkan ia soal darah itu. Jangan ingatkan ia soal apapun yang berhubungan dengan kejadian di siang itu. Karena baginya…..selamanya ibunya akan tetap hidup.

***

Donghae menendang kerikil-kerikil di jalanan. Ia baru saja pergi ke klub untuk minum bersama kawan-kawannya. Ia juga kembali mencicipi sepuntung ganja yang sudah lama ia tinggalkan. Rasanya benar-benar luar biasa. Ia merasa begitu gembira meski tak ada sebabnya. Ia merasa sedang melayang-layang meski nyatanya ia tak bisa terbang. Dan meski setelahnya ia dilempar keluar karena tak bisa membayar minumannya, ia tetap bisa tersenyum seakan tak ada hal yang bisa ia tangisi lagi di dunia ini.

Ia masih bisa berjalan pulang setelahnya. Ia masih sadar kondisi sekelilingnya dan ia sama sekali tidak mabuk. Ia merasa benar-benar hebat. Tapi….sepertinya ada yang salah dengan penglihatannya. Kenapa ia melihat Amy ada di depan rumahnya?

Ia belum mabuk. Ia yakin masih bisa bedakan mana hantu dan mana manusia sungguhan. Tapi Amy….

Ah, mungkin kali ini ia harus mengakui bahwa ia memang mabuk.

“Donghae.”

Ia berhenti. Gadis yang kelihatan seperti Amy itu nampak berdiri kemudian mendekat. Ia sempat mundur dua langkah lalu menggeleng beberapa kali. Dan saat gadis itu tepat berada di depannya, ia tahu kesadarannya masih bagus.

“Aku menunggumu sejak tadi.”

“Apa aku harus tersanjung mendengarnya?” sahut Donghae ketus. Ia sudah akan berjalan mendahuluinya saat Amy menahan tangannya sangat erat.

“Kita perlu bicara.”

Donghae memejamkan matanya. Ia sungguh ingin berbalik lalu meraihnya, ia akan memeluknya tanpa ingin melepasnya lagi. Tapi ia tak bisa melakukannya. Ia lepaskan tangan Amy dan melanjutkan langkahnya.

“Ijinkan aku menjelaskannya. Kau harus mendengarnya dari sudut pandangku!”

Donghae tak tahan. Ia berbalik lagi kemudian berjalan cepat mendekati Amy. diraihnya bahu gadis itu dan diremasnya kuat-kuat.

“Sudut pandang mana yang mau kau jelaskan? Sudut pandang dimana kau sangat menikmati apa yang terjadi malam itu?”

“Akh, Donghae, lepaskan aku!”

“Cepat jelaskan padaku! Sudut pandang mana yang kau maksud?”

“Donghae, lepaskan!”

Amy berhasil melepaskan diri. Sebelum Donghae pergi lagi, ia mendekat dan mulai bicara.

“Aku terpaksa. Aku tak tahu harus melakukan apa malam itu. Aku tidak mungkin lari lalu mempermalukan orang tuaku.”

“Tapi kau sudah menghancurkanku malam itu.”

“Karena itu aku ingin menemuimu. Aku-“

“Kau ingin membatalkan perjodohan itu?”

Amy diam. Donghae menipiskan jarak antara mereka lalu menatapnya lekat-lekat. Tatapan yang membuatnya merasa bisa saja mati saat ini juga. Donghae kemudian meraih kedua tangannya. Awalnya ia pikir Donghae akan memperlakukannya dengan kasar lagi. Tapi yang terjadi Donghae justru mengecup kedua tangannya. Donghae berubah lemah. Donghae berubah menjadi apa yang tak ingin dilihatnya.

“Apa kau tidak bisa membatalkan perjodohan itu?” pinta Donghae dengan lirih. Amy menangis. Ia tak sanggup mendengar lebih banyak dari Donghae.

“Donghae, aku-“

“Kau menemuiku untuk mengatakan bahwa kau akan membatalkannya, bukan?”

Amy membiarkan air matanya jatuh lebih deras. Ia tak sanggup menjawabnya. Ia tak sanggup mengatakan kebenaran.

“Setelah kau membatalkannya, aku akan membawamu pergi. Kita akan pergi kemanapun. Kita akan pergi ke tempat dimana tidak ada orang yang bisa menemukan kita.”

“Donghae, jangan lanjutkan lagi.”

“Tapi kau akan membatalkannya, kan?”

Amy menangis lebih keras. Ia menunduk dan masih merasakan kecupan-kecupan Donghae pada kedua tangannya. Tapi kemudian ia kembali mendongak, ditatapnya mata Donghae lalu menggelengkan kepalanya.

“Maafkan aku.”

Donghae tersenyum pahit. “Kau bercanda?”

Amy menggeleng lagi. “Aku kemari untuk minta maaf.”

“Amy…”

“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa.”

Amy berlari meninggalkannya. Ia terpaku. Hanya jejak-jejak Amy yang tertinggal padanya saat ini. Dan hanya kata maaf yang bisa ia ingat sekarang yang mana sama artinya dengan fakta bahwa ia sudah kalah.

Ia memang kalah.

****

Dadanya sesak. Jae Gum menutup tirai jendelanya lalu perlahan duduk di sofa. Ia melihat semuanya sejak tadi. Dan ia bisa merasakan kesakitan anaknya.

Ia tak mengerti kenapa semuanya semakin memburuk. Ketika Donghae tersenyum pertama kali beberapa bulan lalu, ia sempat berpikir bahwa ia akan terus mendapatkan senyum itu. Anaknya akan tertawa setiap hari. Mereka hanya akan punya waktu menyenangkan. Tak ada celah bagi orang lain untuk merusak kebahagiaan mereka. Tapi sekarang…kenapa anaknya justru harus mengalami ini?

Belakangan ia semakin takut anaknya akan kembali pada dunia kelam yang sudah ditinggalkannya. Tak pernah ada yang menjamin bahwa seseorang bisa dengan mudah lepas dari jerat barang-barang itu. Dengan segala yang sudah terjadi akhir-akhir ini, ia benar-benar takut.

Donghae semakin sering menyendiri. Donghae kembali pada kebiasaannya dulu yang hanya tidur di siang hari lalu bangaun dimalam hari. Donghae akan berjalan-jalan hingga tengah malam dan Jae Gum tak pernah tahu apa yang dilakukannya diluar sana. Apa anaknya bergaul lagi dengan mantan kawan-kawannya? Apa Donghae tergoda lagi?

Ia harap ketakutannya tak terbukti. Ia tak mau anaknya kembali. Ia ingin Donghae yang ia lihat beberapa bulan ini. Donghae yang lembut dan memperhatikannya. Donghae yang kadang manja dan menjahilinya. Donghae yang selalu menunggu masakannya dimeja makan setelah pulang kerja. Ia rindu Donghae-nya. Dan artinya…ia harus melakukan sesuatu.

Ya! Ia harus bergerak. Ia takkan mendapatkan apa-apa jika ia hanya menangis dan berdoa. Pasti ada yang bisa ia lakukan. Pasti ada celah baginya untuk memperbaiki situasi ini.

Ia kemudian berjalan cepat ke kamarnya. Dibukanya kontak dihandphonenya dan ia menemukan nomor Kyuhyun.

Mungkin….ini adalah satu-satunya cara.

***

Besok malam adalah malam yang paling dinantikannya. Ia sudah tak sabar untuk menyematkan cincin ini dijari manis Amy. Apakah Amy akan suka dengan modelnya?

Kyuhyun sedang berada di pusat perbelanjaan untuk mencari cincin berlian yang bagus. Ia sempat bingung harus menentukan pilihan, tapi akhirnya ia menemukan dua buah cincin yang menarik perhatiannya. Ia mengangkat cincin itu dan mulai membayangkan bagaimana Amy akan terikat dengannya.

“Aku pilih yang ini,” ujarnya pada sipenjual. Saat pria berkacamata itu hendak membawanya, Kyuhyun menahannya sebentar. “Tolong hati-hati. Aku tidak ingin benda itu sampai lecet sebelum sampai ke jari calon istriku.”

Pria itu tersenyum. “Saya akan menjaganya dengan segenap hati.”

Kyuhyun tak sabar ingin menelpon Amy dan mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan cincin yang bagus. Tapi mengingat bagaimana percakapan terakhir mereka, rasanya bukan saat yang tepat untuk bicara lagi. Untunglah sampai saat ini semua berjalan lancar. Amy nampak menerimanya dan tak ada penolakan. Untungnya lagi hari ini ayahnya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Ia sungguh tidak mau acara pertunangannya ditunda apalagi batal. Pasti akan ada seseorang diluar sana yang bertepuk tangan jika itu sampai terjadi.

Setelah cincinnya dibungkus rapi, ia bergegas meninggalkan tempat itu. Ia masih punya satu jadwal hari ini yaitu menjadi juri tamu di sebuah ajang kontes menyanyi. Rekaman acaranya jam tujuh malam, masih ada waktu sekitar enam jam lagi. Ia lalu terpikir untuk mengajak Max makan siang. Tapi sebelum ia menemukan nama Max dihandphonenya, benda itu berbunyi lebih dulu.

“Ibu?”

Ia terdiam menatap handphonenya, bergelut dengan pikirannya sendiri untuk mengangkat atau mematikannya. Biasanya ia tak perlu berpikir dua kali untuk mengabaikannya. Tapi kali ini…..mungkin ia harus mengangkatnya.

“Hallo?”

Ia menjauh dari keramaian. Dapat didengarnya hembusan nafas lega dari ibunya.

“Kyuhyun? Ibu senang kau mengangkat telepon ibu lagi.”

Ia tak menjawab. Ia biarkan tak ada suara diantara mereka sampai akhirnya ia mendengar sebuah permintaan yang sepertinya tak kuasa ia tolak.

“Bisa kita bertemu? Ibu ingin bicara.”

Setengah jam berikutnya ia sudah duduk dibangku taman sekitar Olympic park dimana ia dan ibunya membuat janji. Ibunya datang lima menit lebih lama. Kyuhyun sempat memeluk ibunya sebelum akhirnya mereka dikalahkan oleh suasana kaku karena tak ada bahan percakapan.

Kyuhyun diam, menunggu apa yang hendak dibicarakan ibunya. Sedang Jae Gum juga diam, mencari cara agar bisa segera memulainya.

“Ibu pasti sudah mendengar soal pertunanganku dengan Amy.”

Akhirnya Kyuhyun buka suara. Ia pikir itu adalah awal yang baik.

“Ibu sudah mendengarnya dari Donghae,” jawab ibunya pelan. Tanpa sadar Kyuhyun menahan nafasnya selama beberapa detik. Mendengar nama kakaknya, mau tak mau ia diingatkan lagi atas apa yang terjadi malam itu. Ia tahu rasanya sama sekali tidak menyenangkan. Seperti kala ia yang melihat dan mendengar percakapan kakaknya dengan Amy saat itu, kali inipun ia yakin kakaknya merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih. Tapi ia menjauhkan pikiran itu. Kakaknya adalah pria yang kuat. Kakaknya tidak selemah dirinya. Dan ini terasa adil bagi pihak manapun.

“Ibu tahu apa yang kau pikirkan. Kau mencintainya dan takdir membuat kalian harus bersama. Tapi…bisakah ibu memohon kali ini?”

Kyuhyun menunduk, merasa bahwa suara ibunya yang lirih sangat mengancam. Ia tahu permohonan macam apa yang akan didengarnya. Bisakah ia lari saja? Ia akan menjawabnya dengan tegas dan penuh keyakinan, tapi ia tak sanggup jika harus melihat ibunya memohon-mohon apalagi sampai menangis di depannya. Ia tak bisa menyaksikan wajah kecewa dari ibunya dan itu disebabkan olehnya.

“Ibu mohon……mengalahlah pada kakakmu. Untuk kali ini saja, biarkan Donghae mendapatkan apa yang ia inginkan. Kau tahu ia sudah mengalami banyak hal buruk. Setidaknya untuk masalah ini, ibu bisa melihatnya tersenyum.”

Jae Gum hampir menangis. Tenggorokannya sudah tercekat dan Kyuhyun nyaris saja berdiri untuk pergi. Tapi ia berpegangan pada kursinya kuat-kuat. Ia tak boleh menangis. Ia tak harus menangis.

“Ibu mohon….”

Ia belum bisa menjawabnya meski ia tahu benar kalimat macam apa yang akan ia berikan. Namun, tiba-tiba saja ia sudah melihat ibunya bersimpuh di hadapannya, menundukkan kepala seakan ia adalah seorang raja yang tak bisa ditatap matanya.

“Ibu….”

“Kau sudah mendapatkan lebih dari apapun dibandingkan dengan Donghae. Jangan biarkan dia menangis lebih lama. Ibu mohon……”

Kyuhyun tak percaya apa yang dilihatnya. Ibunya rela memohon seperti ini hanya demi seorang Lee Donghae. Kenapa?

“Ibu harap kau-“

“Aku justru semakin yakin dengan apa yang sedang kulakukan saat ini. Ibu sudah mempertegas segalanya.”

Jae Gum mengangkat wajahnya. Kyuhyun pun juga membalas tatapannya. Sejenak ia ragu bahwa itu adalah anaknya. Namun, sejurus kemudian Kyuhyun kembali buka suara dan ia merasa ditampar.

“Kenapa hanya Donghae hyung? Kenapa ibu bisa melakukan hal serendah ini demi Donghae hyung? Jika ini demi aku, apa ibu bisa melakukan hal yang sama?”

Kyuhyun nyaris saja meninggikan suaranya. Tapi ia berusaha keras mengendalikan diri meski rasanya ia ingin meledak saat ini juga.

“Saat ibu meninggalkan rumah dan membawa Donghae hyung, aku merasa hancur. Apa ibu tahu itu? Apa ibu tahu selama bertahun-tahun aku mencari keberadaan ibu dan bertanya-tanya kenapa ibu tidak memperjuangkanku dan hanya membawa Donghae hyung? Donghae hyung sudah merampas ibu sejak awal, maka sekarang….aku merasa berhak untuk mendapatkan apa yang akan aku dapatkan.”

Semua perkataan Kyuhyun berhasil menusuk-nusuk dada Jae Gum. Ia tak menjawab apapun dan hanya diam menatap nanar pada anaknya. Ia benar-benar malu.

“Tadinya aku berpikir untuk meminta ibu datang dihari pertunanganku. Aku ingin ibu merestui hubungan kami. Tapi sepertinya aku sudah tahu bahwa itu hanya permohonan yang sia-sia.”

Setelah mengatakannya, Kyuhyun pergi begitu saja. Diam-diam ia menghapus air matanya dan berdoa semoga Tuhan mau mengampuninya. Ia sadar bahwa apa yang ia lakukan sangat tidak pantas. Namun, ia hanya mengungkapkan kebenaran. Bahwa ia….memang selalu kalah dari Donghae dimata ibunya.

****

Dua buah botol minuman keras sudah ia habiskan sejak tadi. Masih ada dua botol lagi ditangan kiri dan kanannya yang sisa separuh. Ia meminumnya bergantian dan sesekali meracau seperti orang tidak waras. Ia juga baru saja menghisap ganja. Jangan tanya ia mendapatkannya darimana. Jangan tanya pula kenapa ibunya membiarkannya karena ibunya tidak tahu apapun.

Ia berpesta sendirian sejak pulang dari rumah kawannya. Ia merayakan kehancurannya dan ia bertepuk tangan atas kekalahannya.

Ia merasa Tuhan terlalu ‘baik hati’ kepadanya. Tuhan nampaknya tak mau ia jemawa. Maka dari itu ia diserang masalah tanpa habisnya supaya ia menjadi orang yang hebat. Ia memang hebat sekali. Buktinya sekarang ia belum juga pingsan meski apa yang masuk ke tubuhnya bukanlah sesuatu yang baik. Ia tertawa. Ia memang hebat.

Tapi kehebatannya tak berlangsung lama. Pada saat botol ke empatnya habis, ia jatuh disisi tempat tidurnya. Ia menatap sebuah foto yang dibingkai ibunya bulan lalu yang menampakkan senyumnya dan juga senyum Amy bersama Kyuhyun. Semua nampak baik-baik saja saat itu. Ia, Kyuhyun dan Amy masih bisa bercanda bahkan saling menjahili. Tapi dengan cepat semuanya berubah dan ia adalah pihak yang kalah.

Ia sesenggukan akibat minumannya. Ia lalu menyandarkan tubuhnya, melihat langit-langit kamarnya yang mulai berputar. Sejenak ia berpikir, kenapa Tuhan tidak mencabut nyawanya saja?

Bagaimana jika ia tak pernah lahir ke dunia?

Percuma saja ia ada tapi kehadirannya selalu dianggap sebagai pembawa sial. Ia tak diinginkan, ia dilupakan, ia dikecewakan.

Mungkin mati akan membuat semuanya membaik. Ibunya tidak perlu repot mengurusnya. Kyuhyun dan Amy bisa bersama dan pria yang tak mau ia sebut namanya itu akan merasa tenang. Namun….ada satu hal yang harus ia lakukan sebelum ia mati. Ya! Ia harus melakukannya.

“Donghae! Apa kau sudah tidur?”

Ia bangkit. Samar-samar ia mendengar suara ibunya dari luar.

“Donghae?”

Ia menggelengkan kepala, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Begitu merasa siap, ia berjalan keluar dan melewati ibunya begitu saja.

“Donghae? Kau mau kemana?”

Ia tak menyahut. Lekas-lekas ia turun dari tangga, berjalan cepat ke arah pintu lalu membukanya.

“Donghae!! Apa yang mau kau lakukan?”

Ia berhenti. Ia tarik nafasnya dalam-dalam kemudian menjawab, “Aku harus melakukannya. Aku harus memberitahu kepada semua orang siapa pria itu sebenarnya.”

Ia lanjutkan langkahnya bahkan kali ini lebih cepat. Tak peduli bahwa ibunya mengejar, tak peduli bahwa ibunya terpogoh-pogoh menggapai tubuhnya. Ia hentikan taksi lalu menyuruh supir pergi membawanya ke rumah megah itu. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu, ia terpaksa harus menginjak rumah itu lagi. Ia kembali. Ia kembali.

****

“Sepertinya kau terlalu bahagia. Tapi ini tidak akan selesai kalau kau terus menangis.”

Sang penata rias tersenyum untuk kesekian kalinya pada Amy, berharap bahwa kali ini Amy sudi mempermudah tugasnya dengan menghentikan tangisnya. Ia pun setuju. Setelah menarik nafas dalam-dalam, akhirnya tugas wanita itu bisa selesai meski ini sudah agak terlambat.

Amy tak bisa berpikir jernih. Setelah kepergian penata rias itu, ia masih menunduk lalu diam-diam memandang wajah Donghae yang tersimpan di handphonenya. Kala itu ia yang memotret diam-diam. Saat Donghae sedang menguap ketika ia membacakan dongeng pada anak-anak panti, saat Donghae tidur di ruang rawatnya di rumah sakit, juga pada saat malam ulang tahun ibunya.

Melihat semuanya memang hanya memperburuk segalanya, tapi ia hanya tak habis pikir akan apa yang sudah ia perbuat pada lelaki itu. Ia merasa sebagai wanita paling jahat sedunia. Ia yang mendekatinya. Ia yang keras kepala menjalin hubungan lebih dekat dengannya. Ia yang mati-matian mengubahnya tapi ia juga yang menghancurkannya.

Jika Donghae tahu alasan ia melakukan semua ini, apakah Donghae mau memaafkannya? Tapi rasanya semua sudah percuma. Tak ada yang bisa diubah. Ia sudah melangkah. Ia sudah memilih dan itu semua dikarenakan satu orang.

“Sedang memikirkanku?”

Ia meluruskan kepalanya. Ia menemukan pria yang baru saja dipikirkannya itu pada pantulan cermin. Apakah ini menandakan bahwa pria itu memiliki umur panjang? Sayangnya ia berharap bahwa pria itu enyah saja.

“Jangan bilang tebakanku benar!”

Ia buang muka, tak sudi menatapnya. Ia berlagak sibuk merapikan diri dan memperbaiki tatanan rambutnya.

“Aku tahu kau hanya gengsi untuk memujiku.”

Pria itu terus bicara. Pria itu juga berjalan mendekatinya. Maka sebelum ia sampai, Amy lekas-lekas menyelesaikan dandanannya lalu berbalik pergi.

“Eits!! Buru-buru sekali. Kau tidak mau mengucapkan terima kasih padaku?”

Amy menatap tangan pria itu yang kini berada pada tangannya. Segera ia melepaskannya dan menatap pria itu tajam.

“Kau salah. Aku justru ingin mengucapkan selamat padamu. Impianmu tercapai! Kau berhasil menghancurkan banyak hal.”

Pria itu tersenyum. Nampak bahagia sekali mendengar kata-kata itu.

“Ah, rasanya memang sangat menyenangkan. Kau harus terbiasa dengan ini hingga nanti kau akan menikmatinya dan bisa ikut tertawa bersamaku.” Pria itu mendekati wajahnya. Ia berbisik, “Jika kau sudah bosan dengan Kyuhyun, aku bisa menggantikannya.”

“MAX!!!”

“Kalian?”

Amy dan Max menoleh ke arah pintu. Kyuhyun sudah berdiri memandang mereka berdua dengan heran.

“Kalian sudah saling mengenal? Dan….Max? Kupikir kau…”

“Aku hanya berkeliling di rumahmu dan tak sengaja melihat pintu kamar ini terbuka. Jadi aku masuk dan berkenalan dengannya. Rupanya pilihanmu tidak salah. Dia memang gadis yang luar biasa.”

Kyuhyun tersenyum. Ia mendekati Amy lalu menawarkan tangannya.

“Semua orang sudah menunggu kita.”

Amy memandang tangan Kyuhyun. Dibanding berlama-lama dengan manusia seperti Max Changmin, ia memilih langsung menerima uluran tangan itu. Mereka pun melangkah bersama keluar. Sebelum berbelok, Amy sempat menoleh ke belakang dan menatap tajam pada Max.

****

“Donghae! Berhenti! Jangan lakukan itu!”

Panggilan Jae Gum tak berguna. Donghae sudah turun dari taksi dan berjalan cepat melewati pagar depan rumah itu. Donghae berjalan menyusuri pekarangan rumah itu dengan tegas meski sebenarnya kenangan-kenangan masa kecilnya datang tanpa bisa ia tahan.

“Donghae!!”

Ia masih berjalan. Sesekali ia harus menekan dadanya jika mimpi buruk itu menyergapnya. Kenapa ia harus teringat bagian-bagian itu?

Saat ia dipukul hanya karena tak sengaja menyenggol vas bunga, saat ia ditampar karena lupa menaruh tasnya ditempat yang benar. Saat ia dicaci, dihina, disebut sebagai anak tak berguna, hingga saat ibunya membawanya pergi dari sini. Ia merasa semua kenangan itu berputat di sekelilingnya.

Tapi ini tidak akan berlangsung lama. Ia akan mengungkapkan semuanya hingga tak ada bagian yang tertinggal dan ia bisa merasa lega.

“Tuan, anda tidak boleh masuk. Hanya tamu yang mengenakan pakaian yang pantas yang boleh masuk.”

Persetan!

BUG

Donghae memukul penerima tamu itu dua kali hingga ia jatuh. Ia berjalan lebih cepat dan sebuah pemandangan indah langsung menyambutnya.

Di sana, di depannya, Kyuhyun dan Amy berjalan menuruni anak tangga. Bak raja dan ratu, mereka menebar senyum pada semua orang sementara orang-orang bertepuk tangan menyambut kehadiran mereka.

Mereka lalu berdiri di tengah-tengah, tepat di antara orang tua mereka. Donghae bisa melihat mereka semua nampak bahagia. Bahkan ia ragu jika yang sedang tertawa itu adalah Amy yang tempo hari menangis sambil meminta maaf padanya.

Ia lalu beralih pada pria itu. Pria yang sampai kapanpun takkan ia sebut namanya. Pria yang sayangnya beberapa waktu lalu sudah ia selamatkan. Mungkin itu adalah kesalahan terbesarnya. Tapi kehadirannya disini bukanlah suatu kesalahan. Begitu pria itu bicara pada semua tamu, ia menatap Amy sekali lagi. Saat itulah Amy menyadari kehadirannya.

Ia tak tahu tatapan macam apa itu. Tapi semua hanya berlangsung sesaat karena sepertinya acara pertukaran cincin akan segera dimulai. Donghae memantapkan hatinya untuk bisa berdiri lebih lama. Ia menahan diri sebisa mungkin hingga Kyuhyun dan Amy menyematkan cincin ke jari-jari masing-masing.

Tepuk tangan pun berderu keseluruh ruangan. Donghae berbalik. Ia tak bisa lagi menahannya. Maka ia ambil gelas minuman dari pelayan yang melintas di depannya. Ia meminumnya sampai habis lalu memecahkan gelasnya ke lantai.

PRANGGGGG

Semua mata tertuju padanya.

*TBC*

1 Comment (+add yours?)

  1. sani
    Sep 23, 2016 @ 19:56:58

    Next onni

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: