What If [12/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

*******

PRANGGGG

Hening.

Donghae mendongak. Ia langsung bertatapan dengan ibunya beberapa meter di depan sana. Ibunya menangis, memandangnya dengan tatapan memohon. Sayangnya ia tak bisa mengabulkannya. Ia menggeleng.

Ia segera membalik badan. Menatap semua orang yang terheran-heran akan kelakuannya. Ia arahkan pandangannya pada pria yang berdiri di samping Kyuhyun itu yang sepertinya lebih terkejut dibanding yang lain. Bukankah ini adalah kali pertama mereka saling bertatapan setelah bertahun-tahun?

“Selamat malam, Tuan Cho yang terhormat. Nampaknya kau sangat terkejut melihatku,” ujar Donghae sinis sambil membungkukkan badannya. Wajah pria itu benar-benar tak nyaman dipandang mata. Pria itu seperti seekor tikus yang sedang ketakutan akan ditangkap karena kedapatan mencuri keju.

“Apa kau benar-benar terkejut? Atau kau berpikir…bahwa aku sudah lama mati?” tanya Donghae lagi dengan entengnya. Ia berputar-putar tak karuan di depan pria itu dan berhenti selama beberapa detik. Kemudian ia berbalik, mengedarkan pandangannya pada semua orang yang sedang menatapnya.

“Kalian pasti berharap bahwa aku punya alasan masuk akal untuk berbuat seperti ini. Berita baiknya, aku punya satu cerita yang sangat menarik untuk didengar.”

“Hyung..”

Tangan Cho Min Sook menahan laju Kyuhyun yang sepertinya hendak menghentikan Donghae. Mereka berpandangan dan Kyuhyun tak percaya melihat ayahnya justru menggelengkan kepala.

“Apa kalian ingat dengan Ny. Lee Jae Gum?” Donghae menunjuk ibunya hingga semua kepala mengikuti arah telunjuknya. Dan tak butuh waktu lama, orang-orang mulai berbisik pada siapapun yang ada di samping mereka.

“Kalian sudah ingat? Ya! Dia adalah mantan istri dari pria yang ada di depanku ini. Dia adalah wanita yang kalian pikir sudah bercerai dengan pria ini lalu pindah keluar negeri. Kalian mau tahu kebenarannya?”

Donghae tersenyum sambil sesenggukan. Pandangannya mulai berbayang tapi ia sama sekali tak ingin mundur atau mengubah apa yang sudah ia sampaikan. Ia ingin segera menyelesaikannya.

“Yang benar adalah…mereka tidak pernah bercerai dan wanita itu lari dari rumah! Kenapa dia pergi? Karena dia ingin menyelematkan nyawa anaknya. Dia ingin membebaskan anaknya!”

Suara kasak kusuk semakin terdengar, bahkan kali ini lebih nyaring lagi. Semua mulai bertanya-tanya dan itu adalah hal yang membuat senyum Donghae semakin lebar. Inilah yang ia tunggu.

“Ah, kalian pasti bingung, anak mana yang dimaksud? Bukankah mereka hanya punya satu anak?” tanya Donghae sambil tertawa pelan. Tawanya lebih kencang lagi kala memandang wajah Cho Min Sook yang sepertinya sedang dilanda ketakutan. Perlahan-lahan ia kendalikan dirinya lalu menatap pria itu dengan tajam. Dalam satu tarikan nafas panjang, ia ungkapkan segalanya.

“Anak itu adalah aku! Anak yang tak diinginkan kehadirannya! Anak yang sangat dibenci olehnya! Anak yang tak pernah disayanginya! Anak yang tak pernah mendapatkan perhatiannya! Dan aku…adalah anak dari hasil perbuatan bejatnya!”

Kalimat terakhir seakan menggema ke seluruh ruangan. Semua orang menahan nafas selama beberapa detik sebelum akhirnya sadar bahwa mereka tidak salah mendengar. Donghae pun melanjutkan, “Kau terkejut? Atau kau merasa sedang berkaca? Jangan tanya kenapa aku bisa seliar ini karena jelas semuanya berawal dari perbuatanmu sendiri! Aku benci mengakuinya tapi aku adalah anakmu!”

“Kau memperlakukanku seperti sampah. Kau tidak pernah mau menatapku. Kau tidak pernah mau mendengarku. Kau selalu menganggapku anak sial dan aku sangat menyesal harus terlahir sebagai anak dari pria sepertimu!”

PLAKKKKK

Semuanya diam.

Donghae meraba pipinya yang terasa panas. Tamparannya sangat keras. Ia pun melihat ke sekelilingnya dan bukan Cho Min Sook ataupun Kyuhyun yang melakukannya, melainkan….

“Ibu….”

Ia dan ibunya berpandangan. Kenapa…ibunya melakukan itu? Bukankah ia sudah melakukan hal yang benar? Ia yakin bahwa diantara semua hal yang ia lakukan selama hidupnya, inilah tindakannya yang paling tepat. Lantas…..kenapa ibunya justru berbelok menentangnya?

“Kau sudah puas? Kau sudah puas mempermalukan ibu?” tanya ibunya pelan namun tegas. Donghae menggeleng. Bukan itu maksudnya.

“Kau bukan hanya mempermalukan ibu tapi juga dirimu sendiri. Kau berhasil menunjukkan pada semua orang bahwa kau memang tak seharusnya ada disini. Kau menyesal sudah terlahir dari orang-orang seperti ibu dan ayahmu? Maka kukatakan bahwa ibu juga menyesal sudah melahirkanmu!”

Ibunya berbalik. Wanita itu menatap Cho Min Sook dan Kyuhyun bergantian lalu membungkuk sejenak. Dan setelah membungkuk juga pada semua tamu, ia berlari keluar.

“Ibu!!” Kyuhyun mencoba mengejar ibunya. Namun, tiba-tiba tubuh ayahnya menegang dan nyaris jatuh. Pria itu menekan dadanya. Dalam hitungan detik ia pun pingsan dan menarik perhatian semua orang.

Sementara tak ada yang memperhatikan Donghae. Tak ada yang mendekatinya untuk sekedar bertanya apakah ia baik-baik saja. Semua kini sibuk membopong pria itu sementara ia terdiam masih dengan menyentuh pipinya.

Amy sempat ingin mendekatinya. Namun, seseorang langsung menahannya.

“Dampingi Kyuhyun. Jangan pernah berpikir untuk menemani Donghae.”

Amy menatap Donghae sejenak. Sama seperti sebelumnya, ia tak punya pilihan lain.

***

Kyuhyun berlari bersama para perawat. Tangannya sedari tadi tak lepas menggenggam tangan ayahnya yang mulai dingin. Ia tak tahu bagaimana rasanya bercengkrama dengan seseorang yang tak bernyawa. Tapi ketika ia mempererat pegangannya, pikiran – pikiran buruk itu tak bisa ia cegah.

Ayahnya pingsan dalam hitungan detik di depan matanya. Malamnya yang nyaris sempurna hancur berantakan dalam sekejab mata. Meski terdengar suara-suara penenang di dekatnya, sangat sulit baginya melenyapkan ketakutan itu. Andai ia bisa bicara dengan ayahnya, sungguh ia akan minta maaf karena punya pikiran buruk itu. Ia hanya takut. Ia justru tak mau terjadi sesuatu. Dan ketika tangan itu terlepas darinya, rasanya seperti ia yang tak bisa bangun dari mimpi buruk.

“Maaf, anda tidak boleh masuk.”

Pintu ditutup dari dalam. Ia hanya bisa berdiri memandang tubuh ayahnya yang sudah tak terlihat. Tapi ia berdoa. Tuhan, jangan ambil ayahku sekarang. Aku belum siap. Aku tidak mau kehilangan satu-satunya keluargaku.

“Kyuhyun…”

Sebuah panggilan pelan tak diresponnya. Ia berbalik lalu melangkah tidak karuan di depan ruang tersebut. Ia marah. Ia benci. Ia kecewa dan ia ingin meluapkannya. Tapi ia tak bisa. Ingin sekali ia menghantam dinding, meninju siapapun yang mengajaknya bicara atau merusak semua properti rumah sakit yang ada di sekitarnya. Namun, sekali lagi ia hanya bisa menggeram. Duduk diam di salah satu kursi lantas meremas rambutnya dengan kasar. Ia bukan Donghae yang akan melakukan hal-hal diluar kendali hanya untuk mencari pelampiasan. Dan sampai kapanpun ia tak mau disamakan dengan pria itu.

Lamat-lamat mulai dirasakannya ada seseorang yang duduk disisi kanannya. Seseorang itu mendekat, lalu meraih kedua tangannya. Ia menoleh ke kanan. Amy tersenyum menenangkan.

“Ayahmu baik-baik saja. Yakinlah.”

Ia hampir menangis. Ia harap kata-kata Amy bukan sekedar hiburan atau harapan semata. Semoga memang tak ada hal serius yang terjadi pada ayahnya.

“Jika kau ingin marah, sebaiknya tidak kau tahan.”

Ia menoleh ke kiri. Max sudah duduk disana dengan kedua tangan melipat didada.

“Kau harus realistis. Kau tahu pasti ayahmu terkena serangan jantung dan kau tidak bisa hanya mengandalkan sebuah doa. Dibanding menahan diri, kenapa tidak kau lampiaskan saja?” lanjut Max dengan enteng. Kyuhyun mulai memikirkan perkataannya. Ia sampai tak sadar bahwa Max diam-diam mendekatinya lantas berbisik, “Kau tahu persis apa yang harusnya kau lakukan. Kau tahu siapa penyebab masalah ini. Lantas, kenapa kau masih disini?”

Kyuhyun meremas celananya sendiri. Ia tahu. Ia sadar. Ia tidak lupa. Tapi…..

“Ada satu orang yang harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini. Ada seseorang yang harusnya mendapat ganjaran dari perbuatannya. Jangan buang tenaga dan darahmu sia-sia,” bisik Max sekali lagi. Dan, Kyuhyun tiba-tiba saja menatapnya. Tatapan yang membuat siapapun akan merasa berhadapan dengan dewa kematian.

“Aku akan memberinya pelajaran!”

Kyuhyun berdiri, berjalan cepat meninggalkan Max dan Amy. Ia akan menemui pria itu. Ia akan memutus lidahnya agar tak lagi mengatakan hal-hal yang akan menyakiti ayahnya.

“Kyuhyun!!!” seru Amy. Tapi sekali lagi langkahnya tertahan. Max menguasi lengannya dengan kuat.

“Max! Aku harus menghentikannya!”

“Biarkan saja dia pergi. Kali ini kau harus diam dan jadilah penonton.”

Sial! Permintaan Max tak bisa ditolaknya. Ia hanya bisa melihat Kyuhyun menjauh hingga tubuhnya tertelan lift. Ia berdoa semoga apa yang ia takutkan tidak terjadi. Sayangnya, tak ada tanda-tanda bahwa doanya akan terkabul saat ini.

Kyuhyun sudah menginjak gas mobilnya dengan kuat hingga keluar dari halaman rumah sakit. Ia bunyikan klakson pada kendaraan manapun yang mengganggu lajunya. Ia benar-benar ingin segera sampai ke rumah pria itu lalu menghabisinya. Pria itu harus mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang sudah diperbuat. Pria itu bukan hanya sudah menghancurkan hari bahagianya tapi juga berusaha mengirimkan ayahnya ke alam baka.

Dan, keberuntungan bersamanya. Sekitar 100 meter sebelum tiba, ia melihat pria itu sedang berjalan hendak memasuki pekarangan rumahnya. Ia tambah kecepatannya lalu berhenti tepat sebelum bagian depan mobilnya menghantam tubuh pria itu. Ia turun. Tanpa basa basi ia tarik bahunya lalu memukul wajahnya.

BUG

“Bagaimana mungkin kau ada disini setelah apa yang sudah kau lakukan pada ayahku?”

Kyuhyun menarik kerah baju Donghae lalu dipukulnya sekali lagi. Ia lempar tubuh Donghae ke aspal.

“Kau pikir kau bisa tidur nyenyak?”

Kyuhyun memukulnya lagi. Sebelum Donghae bersuara, apalagi melakukan perlawanan, ia sudah mengangkatnya, kembali memukulnya lalu menghimpitnya ke mobil.

“Biar kuberi tahu, malam ini…..kupastikan kau tidak akan bisa menutup matamu.”

BUG

Ia bukan orang yang pandai menggunakan tangannya dalam hal seperti ini. Tapi kalau hanya untuk urusan memberinya pelajaran, ia yakin ia tak butuh cara atau ilmu apapun. Yang perlu ia lakukan hanyalah terus menghajarnya.

BUG

“Kau harus bertanggung jawab!”

BUG

“Kau sudah merebut ibu dariku dan tidak akan kubiarkan kau menjauhkan ayah dariku juga.”

BUG

Donghae tak melawan. Ia pasrah menerima pukulan demi pukulan dari Kyuhyun yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Meski wajahnya sudah mendapat lebam dimana-mana, ia tetap diam.

“Kenapa kau diam saja? Kau ingin mengejekku? Kau pernah bilang bahwa pukulanku sangat buruk. Sekarang, terimalah ini!”

BUGGGG

Donghae hampir tak bisa berdiri lagi. Tapi Kyuhyun masih memegang kerahnya. Tangannya melayang di udara dan siap memberikan kado penutupan sampai akhirnya ia sadar bahwa ibunya melihat semua itu diujung sana.

Ia berhenti.

“Kenapa berhenti?” tanya ibunya dengan tegas.

Donghae pun menoleh ke arah yang sama. Meski penglihatannya memburuk karena matanya yang bengkak, ia masih bisa mengenali siapa yang sedang berjalan mendekatinya.

“Kenapa kau berhenti memukulnya? Pukul saja sampai kau puas! Kau juga boleh membunuhnya.”

Donghae dan Kyuhyun tak yakin dengan pendengaran mereka. Tapi, dari cara ibu mereka mengatakannya, tak ada kebohongan disana. Wanita itu terus berjalan mendekat hingga berhenti tepat di depan mobil.

“Kau boleh lakukan apapun untuk menuntaskan kemarahanmu, tapi setelahnya kau harus membunuh ibu!” tegas Lee Jae Gum. Seketika kedua tangan Kyuhyun melepaskan Donghae.

“Ibu…”

“Kalau kau ingin membunuh kakakmu, maka bunuh juga ibu karena ibu yang sudah melahirkannya. Karena ibu tak bisa mendidiknya, maka bunuh saja ibu!”

Kyuhyun terdiam. Ia tak mengerti apa yang dikatakan ibunya. Apa sekali lagi ini adalah bentuk pembelaan ibunya terhadap kakaknya?

“Jika kau masih ragu, lebih baik langsung kau bunuh ibu sekarang! Itu lebih baik dibanding dengan ibu yang harus melihat kedua anak ibu saling bunuh.”

Kyuhyun tak bisa mengucapkan apa-apa. Sekujur tubuhnya berbalik melemah dan dengan cepat amarahnya berganti rasa kecewa yang lebih besar dari sebelumnya. Pilihan ibunya semakin jelas. Ini bahkan terlalu jelas. Ia menjauh dari Donghae. Segera ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.

“Ibu!” seru Donghae pada ibunya yang hendak pergi juga. Ia berlari lantas menahan jalan ibunya.

“Ibu, bisakah ibu menarik semua yang sudah ibu ucapkan?” tanya Donghae lirih. Dengan darah yang mulai menetes dari pelipisnya, ia bersimpuh di belakang ibunya lantas mengatupkan kedua tangan.

“Aku sadar aku sudah melakukan kesalahan. Aku sudah menyakiti hati banyak orang dan aku tak masalah jika Kyuhyun ingin membunuhku. Tapi aku tak mau ibu membenciku.”

Ia bisa mendengar suara tangis ibunya yang tertahan. Ia juga ikut menangis. Mungkin inilah kali pertama ia menangis sebanyak ini. Ia menyesal. Dengan segenanp hati ia minta maaf atas tindakannya malam ini yang sukses mengacaukan banyak hal. Sebelum sampai ke rumah itu, ia hanya mampu mengingat segala rasa sakitnya, ia beri jalan bagi emosinya untuk menguasai dirinya. Ia pikir ia akan mendapatkan kepuasan setelahnya. Ia kira ia akan merasa bahagia dan menjadi pemenang. Namun, kenyataannya ia justru merasa sudah menambah daftar dosanya. Rasa dendam itu tak punya guna.

“Maafkan aku.”

Suara tangis ibunya mengencang. Ia pun ingin sekali menghapusnya. Namun, kedua tangan ibunya lebih dulu meraih bahunya lantas menuntunnya untuk berdiri.

Untuk sesaat ibunya tak mengatakan apa-apa. Tangis wanita itu semakin tumpah kala memperhatikan wajah anaknya yang penuh dengan darah.

“Maafkan aku,” pinta Donghae sekali lagi nyaris tanpa suara. Detik berikutnya ia sudah berada dalam pelukan ibunya dan ia pun membalasnya. Tak peduli bagaimana bentuk wajahnya serta rasa sakit yang ia rasakan, yang ia pikirkan hanyalah mendapat maaf dari ibunya. Hanya itu.

“Ibu memaafkanmu, tapi dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

Ia dan ibunya saling tatap. Ia sempat meringis kala jari ibunya menyentuh luka diwajahnya. Dan selanjutnya, ia mendengar syarat macam apa yang ibunya ucapkan.

“Kau harus ikut ibu. Kita pergi dari sini.”

****

Henry menyodorkan segelas teh dan sepotong roti isi pada Kyuhyun. Ia tahu temannya itu belum makan apapun sejak pagi. Dan ini sudah masuk jam dua siang.

“Kyuhyun, makanlah. Kau bisa sakit kalau tidak makan.”

Sayangnya Kyuhyun tak menggubris. Ia masih saja diam sambil memainkan sumpit ditangannya. Henry dan Amy pun menyerah. Percuma saja. Apapun yang mereka lakukan dan katakan, tak berefek sama sekali buat Kyuhyun.

Amy sendiri sudah mencoba bertanya, apa yang sudah dilakukannya semalam pada Donghae? Tapi, jangankan mendapatkan jawaban memuaskan, kepala Kyuhyun bahkan tak bergerak untuk menoleh padanya.

Sejak kembali dari menemui Donghae, Kyuhyun tak bicara apa-apa. Ia diam. Tak ganti baju, apalagi mandi. Kyuhyun tak mencuci muka, apalagi gosok gigi. Sekalipun Amy dan Henry bergantian membujuknya untuk pulang sejenak ataupun mandi di rumah sakit, pria itu tetap tak merespon. Kalaupun sekarang Kyuhyun ada di café rumah sakit, itu bukan karena ia ingin makan. Ia hanya duduk sejak tadi. Selain memainkan sumpit, ia juga sibuk mengetuk-ngetuk gelas minumnya. Satu kalimat yang keluar dari mulutnya, “Jangan pedulikan aku.”

Dari gelagatnya, nampaknya Kyuhyun akan terus seperti itu sampai ayahnya sadar. Berita buruknya, ayahnya belum juga sadar sampai detik ini.

“Amy, aku menyerah. Aku rasa dia sudah gila,” keluh Henry dengan asal sambil merapikan jaketnya. Ia sudah hampir satu jam disini. Dan rasanya percuma ia berlama-lama kalau akhirnya akan diacuhkan Kyuhyun juga. Ia berpamitan pada Amy, lalu pergi. Sebelum benar-benar pergi, ia menyempatkan diri melewati ruang rawat ayah Kyuhyun. Ia hanya ingin melihat sepintas saja karena sebelumnya ia sudah menghabiskan setengah jam untuk duduk disana sambil mengobrol dengan Amy serta orang tua Amy. Namun, langkahnya tertunda begitu melihat kedatangan Max. Dari posisinya, ia melihat Max berdiri di depan pintu. Pria itu hanya diam. Tidak mendorong pintu ataupun pergi. Diam-diam ia memperhatikan gerak geriknya. Ada yang aneh.

Sejujurnya sejak awal Kyuhyun mengenalkannya pada pria itu, ia sudah merasakan hal yang tidak nyaman. Mungkin Kyuhyun lupa bahwa ia selalu pandai membaca situasi dan feelingnya nyaris tak pernah meleset. Kali ini pun sama. Ia tak punya feeling yang bagus pada pria itu.

Ia sudah hendak mendekatinya. Tapi Amy tahu-tahu memanggilnya dan memperlihatkan handphonenya.

“Handphoneku?”

“Kau meninggalkannya di atas meja. Kenapa kau masih disini?”

Henry teringat dengan niatnya. Ia ambil handphonenya lalu menunjuk Max yang masih berdiri di depan pintu.

“Coba kau lihat dia! Bukankah sangat aneh?”

Amy memandang Max. Hanya punggungnya yang bisa ia lihat.

“Kau harus hati-hati dengannya. Aku rasa…dia bukan orang baik-baik.”

Amy tersenyum. Ia putar pundak Henry lalu didorongnya.

“Sudahlah, jangan berpikir yang macam-macam. Bukankah kau punya jadwal yang padat sampai malam? Cepat pergi!”

Sangat mudah bagi Amy mengalihkan perhatian Henry dan mengusirnya. Pria itu pergi tepat sebelum Max menyentuh handle pintu lalu masuk ke dalam. Amy hanya diam. Dipandangnya pintu itu yang sudah tertutup rapat.

Ia merasa benar-benar berdosa karena hanya bisa berdiri. Meski ia ingin ikut masuk dan mencegah apapun yang hendak dilakukan Max, pada akhirnya ia hanya bisa menunduk, kemudian pergi.

***

Max tersenyum menatap Cho Min Sook yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Kasihan sekali, batinnya. Cho Min Sook yang biasanya berdiri tegap sambil memamerkan kekuasaannya, kini hanya tertidur dan mengharapkan keajaiban Tuhan.

Ia lalu duduk pada sebuah bangku kecil dekat tempat tidur. Ia perhatikan pria itu dari mulai wajah hingga kaki. Ia pun menggelengkan kepala. Rasanya ini masih terlalu mudah untuk dilalui. Pria itu belum tahu siapa dirinya. Belum melihat perusahaannya yang akan ia kuasai. Belum melihat kedua anaknya saling bunuh. Ia tak rela kalau pria itu mati saat ini.

Dan, sepertinya Tuhan tak mau lama-lama mengabulkan harapannya. Beberapa detik kemudian tiba-tiba saja jari-jari pria itu bergerak. Awalnya Max tak menyadari itu sampai terdengar suara pelan dari bibirnya. Gerakan kecil pada jari-jari itu pun menjalar ke seluruh tubuh dengan cepat. Kakinya bergerak pelan. Matanya mulai terbuka dan sekali lagi ia bersuara.

Max mendekat. Ia ingin tahu apa yang diucapkan pria itu. Begitu pria itu meracau sekali lagi, Max terkejut mendengarnya.

“Dong…..hae.”

Max menjauh. Kedengarannya ada yang baru menyadari kesalahannya. Ia pun hanya diam, menunggu dengan sabar pria itu membuka matanya dengan sempurna. Ia tak sabar melihat reaksi pria itu.

“Dong….hae?”

“Sayangnya aku bukan Donghae, aku adalah kakaknya.”

Seketika suasana berubah tenang. Cho Min Sook tak lagi berusaha menyebut nama Donghae sementara Max diam sambil mengepalkan kedua tangannya. Untuk pertama kalinya selama ia hidup, ia harus mengakui hal tersebut, bahwa ia adalah…..

“Kau?” Cho Min Sook akhirnya sadar siapa yang duduk disisi kanannya. Bukan Kyuhyun, bukan orang kepercayaannya apalagi pemilik nama yang tadi ia sebut. Ia juga baru sadar kalimat apa yang ia dengar.

“Tadi…..kau….apa maksudmu?” tanya Cho Min Sook terbata-bata dan sangat pelan. Max masih diam. Ia berdiri, lalu berjalan mengelili ruangan itu. Beberapa saat kemudian ia baru berhenti dan kembali duduk dengan tenang. Tapi Cho Min Sook tak tenang melihatnya. Ia penasaran dengan apa yang sebelumnya ia dengar.

“Max, apa maksudmu…berkata kalau…”

“Itu kenyataan. Tapi aku tidak akan mengulangnya. Aku hanya akan memperjelasnya.”

Max mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah foto berukuran kecil yang sepertinya tak pernah keluar dari dompetnya. Ia pun memperlihatkannya pada Cho Min Sook.

“Kau masih mengenalnya?”

Cho Min Sook menatap foto itu lekat-lekat. Semula ia sempat ragu. Tapi setelah ia perhatikan sekali lagi dan mencoba menggali ingatannya, akhirnya ia ingat siapa wanita yang ada dalam foto itu.

“Min Sae?”

Max mengembalikan fotonya ke tempat semula. “Terima kasih kau masih mengingatnya,” ujarnya pelan. Ia lalu kembali menatap Cho Min Sook.

“Tapi apa kau ingat siapa dia? Maksudku, bagaimana kalian saling kenal dan………..bagaimana akhirnya kalian melakukan hubungan itu?”

Cho Min Sook kembali tegang. Max bisa melihat itu. Kali ini ia pun tak ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. “Kenapa? Kau terkejut aku mengetahuinya? Atau kau ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya?”

Max tersenyum pahit. Mau tak mau kenangan itu datang lagi. Saat pertama kali ibunya menceritakan masa lalunya, saat ibunya menangis diam – diam ditengah malam, juga saat ibunya memilih untuk mengakhiri hidupnya.

“Min Sae adalah wanita malam yang selalu menjadi pelarianmu ketika kau sedang butuh teman. Min Sae adalah gadis yang kau janjikan indahnya pernikahan. Min Sae adalah gadis yang berdiri di depan gerbang rumahmu untuk menunggu berita yang kau janjikan itu. Kau bilang kau mencintainya, kau bilang kau akan membatalkan pertunanganmu demi dirinya. Tapi berita yang ia dengar sangat berbeda. Kau memang membatalkan pertunanganmu, tapi bukan Min Sae yang kemudian kau nikahi, melainkan…….Lee Jae Gum.”

Max menunduk sejenak. Ia merasa sedang melakukan percobaan bunuh diri dengan menceritakan kisah itu dihadapan orang yang sangat ia benci. Dadanya sungguh sakit. Matanya mulai basah. Tapi kemudian ia kembali mendongak, menatap Cho Min Sook yang nampak baru saja mendapat serangan halilintar paling dahsyat.

“Hampir setiap malam sebelum kau mengumumkan pernikahan itu, Min Sae berdiri di gerbang rumahmu demi menjajaki kemungkinan untuk bertemu denganmu. Tapi jangankan menemuimu, baru beberapa menit berada disana saja ia sudah diusir. Ia bukan ingin mengganggu kehidupanmu. Ia sadar bahwa pernikahan itu selamanya hanya akan jadi sebuah mimpi. Ia kesana hanya untuk memberi tahumu bahwa ia………..sedang mengandung anakmu.”

Max mengambil jeda sebentar untuk menarik nafas. Ia yakin masih punya kekuatan untuk meneruskannya, tapi ia tak bisa menghalangi air matanya yang jatuh satu persatu.

“Min Sae mungkin hanyalah gadis malam yang setiap hari berganti-ganti pasangan. Tapi sebenarnya…dia hanya menyerahkan hartanya yang paling berharga kepadamu. Dia rela melakukan apapun untukmu karena dia sangat mencintaimu. Dia juga rela pergi dari kehidupanmu dan membesarkan anaknya sendirian. Sayangnya, berita tentang kelahiran anakmu membuatnya kembali lemah. Kau muncul ditelevisi dan mengabarkan pada semua orang bahwa kau sudah memiliki anak laki-laki yang kelak akan mewarisi semua kekayaanmu. Pernahkah kau berpikir bahwa saat kau mengatakan itu, ada seseorang diluar sana yang menangis karena tak bisa memberi anaknya makan?”

Ia berhenti lagi. Serasa ada segerombolan tikus tanah yang menggali dadanya sampai berlubang. Ia bahkan tak yakin sanggup melanjutkannya. Tapi ketika matanya melirik sebentar pada pria itu, kekuatannya datang dengan cepat.

“Min Sae mulai menyerah dengan kehidupannya. Ia keliru dengan kadar kesabarannya sendiri. Ia pikir ia kuat, tapi nyatanya ia bukan dewa ataupun malaikat. Ia berpikir bahwa ia bukanlah ibu yang baik yang bahkan tak bisa memberikan sepotong daging pada anaknya. Maka akhirnya….ia memutuskan untuk pergi. Ia pergi dari dunia ini,” tutupnya dengan setetes air matanya yang terakhir. Ia lekas-lekas mengusap pipinya. Kemudian ia menyiapkan diri untuk bertatapan dengan pria itu. Sekarang, ia akan memberikan satu berita lagi.

“Min Sae mungkin sudah menyerah. Tapi rasa sakitnya masih tertinggal sampai saat ini. Dan semua itu ada dalam diriku. Anak yang telah dilahirkannya.”

Seperti mendapat sambaran petir tanpa henti, Cho Min Sook terhenyak di tempatnya. Ia menggeleng. Tak mau mempercayai apapun yang dikatakan oleh Max.

“Aku adalah Max Changmin, anak yang tak pernah kau sadari kehadirannya. Kau ingin memelukku? Sayangnya aku tidak sudi. Aku hanya ingin memberitahumu, aku bukan mengharap belas kasihmu. Dan mulai sekarang…..kau akan melihat bagaimana caraku membalaskan dendam ibuku.”

Max berdiri, dengan cepat ia berbalik lantas berjalan cepat menuju pintu. Sebelum ia keluar, ia sempat berhenti. Dilihatnya dulu pria itu yang nampak akan mati.

“Aku punya dua saran untukmu. Pertama, sebaiknya kau tidak menceritakan masalah ini pada Kyuhyun. Aku tidak yakin bahwa dia tidak akan kecewa padamu. Kedua, kusarankan agar kau menunda waktu kematianmu. Kau harus melihat permainanku dulu. Kau harus menyaksikannya dengan mata kepalamu.”

Ia pergi. Tugasnya yang terpenting sudah selesai. Sekarang, ia harus menjalankan kembali permainan ini. Ia mengambil handphonenya lantas menghubungi Amy.

“Kau masih bersama Kyuhyun?”

“Tidak, aku sudah meninggalkannya. Dia sendiri yang meminta untuk dibiarkan sendiri dulu.”

Ia tersenyum. “Bagus. Sekarang kau ke rumahku. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan.”

Tanpa mendengar persetujuan Amy, ia sudah mematikan sambungan. Kemudian ia menghubungi satu orang lagi. Sebenarnya ia tak yakin apakah orang yang ia hubungi ini akan sudi menerima panggilannya. Tapi nyatanya ia sudah mendengar suaranya diujung sana.

“Apa lagi yang kau inginkan?”

“Hm…jangan bersikap begitu. Aku hanya ingin memberitahumu satu hal.”

“Apapun itu, aku sudah tidak peduli lagi. Perlu kau tahu, aku dan ibuku akan segera pergi. Aku tak peduli apapun yang akan kau lakukan pada pria itu, ataupun Kyuhyun.”

“Bagaimana jika ini soal Amy Lee?”

“Apa yang kau lakukan padanya?”

Max tersenyum gembira. “Dia baik-baik saja. Hanya saja….rasanya aku perlu memperlihatkan padamu wanita macam apa yang sangat kau cintai itu.”

“Sebaiknya kau tidak main-main denganku.”

“Terserah padamu. Jika kau penasaran, datanglah ke rumahku sekarang. Kau belum lupa alamatnya, bukan?”

Tut

Sekali lagi ia matikan sambungan secara sepihak. Langkahnya pun terasa lebih ringan setelahnya. Begitu berada dalam mobil, ia memakai kacamata lantas mulai bersiul. Sungguh hari yang menyenangkan.

***

“Siapa yang menelepon?”

Donghae menatap pantulan dirinya pada cermin. Ibunya nampak berdiri di ambang pintu dengan setumpuk pakaian ditangannya. Ia lalu kembali menatap wajahnya di cermin. Ia sudah berjanji untuk melupakan segalanya, termasuk soal kejadian semalam yang membuat wajahnya seperti ini. Tapi ini……

“Donghae, ibu bertanya padamu,” tegas ibunya. Ia pun berbalik. “Ibu, aku harus pergi sebentar.”

“Tapi siapa yang meneleponmu?”

“Max! Dan aku harus menemuinya sekarang.”

Ibunya mendesah dengan lemah. “Donghae, kau sudah berjanji. Sore ini juga kita harus pergi.”

“Aku berjanji tidak akan lama. Ibu tenang saja. Aku akan segera kembali.”

“Tapi…”

“Aku pergi.”

Donghae sudah berlari keluar, menuruni tangga kemudian menarik asal bajunya di atas sofa. Tak ia hiraukan panggilan ibunya dan terus berjalan cepat. Ia tak tahu hal macam apa yang hendak ditunjukkan oleh Max. Namun, jika ini menyangkut soal Amy, rasanya ia tak bisa berlagak tak peduli. Dan jika ini adalah hal terakhir yang bisa ia lakukan untuk gadis itu, ia akan melakukannya.

Butuh waktu hampir satu jam baginya sampai kesana. Awalnya ia ingin mencari taksi, tapi tak ada jumlah uang yang cukup dalam dompetnya. Ia hanya bisa naik bus dua kali lalu berjalan kaki. Begitu tiba, pagar langsung dibukakan untuknya. Langkahnya pun semakin cepat begitu melihat mobil Amy yang sudah terparkir. Tidak salah lagi. Amy pasti dalam bahaya.

Maka ia tambah laju jalannya. Ia acuhkan para pelayan yang membungkuk padanya. Ia terus berjalan, menaiki anak tangga menuju kamar pribadi Max. Ia masih hafal tata letak rumah ini, termasuk kamar Max sendiri yang berada pada bagian paling ujung. Namun, langkahnya mulai melemah ketika melihat sesuatu di hadapannya.

Beberapa meter di depan sana, dua buah pintu berukuran besar itu sedikit terbuka. Tadinya ia berpikir bahwa Amy berada dalam bahaya dengan tangan dan kaki terikat atau keadaan lain yang tak ia inginkan. Tapi yang dilihatnya justru berbeda. Amy dan Max sedang berhadapan. Mereka terlibat suatu pembicaraan serius yang tak ia ketahui.

Sejak kapan mereka saling mengenal? Apa kiranya yang bisa membuat mereka berada dalam jarak sedekat itu?

Ia pun mendekat. Menempelkan telinganya pada pintu lalu mencuri dengar. Dan kalimat pertama yang didengarnya mampu membuatnya merasa didorong ke dasar jurang.

“Bersulam untuk keberhasilan kita.”

Apa?

***

Amy buang muka. Beberapa saat lalu Max menawarkannya segelas wine yang langsung ditolaknya. Maka sekarang Max bersulam seorang diri. Max meminum winenya kemudian meletakkan gelasnya di atas meja.

“Aku pikir ada hal penting yang ingin kau bicarakan. Tapi sepertinya kedatanganku sangat tidak beralasan kali ini,” ujar Amy dengan nada sedikit kesal. Max tersenyum sambil mendekatinya. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak wajah yang tak biasa.

“Sebenarnya aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena kau sudah banyak sekali membantuku. Kau sangat luar biasa, Amy Lee. Kau adalah aktris yang hebat.”

“Terima kasih atas pujianmu, tapi aku tak membutuhkannya. Yang aku butuhkan adalah rekaman dan foto-foto itu. Kemarikan!”

“Eits, kenapa terburu-buru? Tidak ada dalam perjanjian bahwa aku harus menyerahkannya secepat ini. Tugasmu belum selesai.”

Amy geram. “Tugas apalagi? Aku sudah menuruti semuanya. Aku mendekati Donghae, aku membuatnya percaya padaku. Dia jatuh cinta padaku. Aku juga membuat Kyuhyun semakin menyukaiku. Aku bahkan membuat dua saudara itu saling benci dan aku sudah membantu banyak hal yang membuatmu berada pada titik ini. Kurasa aku pantas mendapatkan apa yang kau janjikan.”

Max bersorak sorai dalam hati. Matanya melirik sebentar pada pintu lalu sekali lagi mendekati Amy yang sempat menjauhinya.

“Kau akan mendapatkannya, tapi……….dengan satu syarat.” Ia berbisik ditelinga Amy. Ia tiupkan nafasnya ke bagian leher Amy lalu berucap, “jadilah milikku malam ini.”

Amy langsung mendorong bahu Max dengan kuat lantas menamparnya. “Brengsek kau! Jangan berani-berani menyentuhku!”

“Kenapa? Apa karena kau sudah pernah melakukannya dengan Donghae? Atau dengan Kyuhyun? Ah, atau jangan-jangan kau jatuh cinta sungguhan pada keduanya? Astaga Amy Lee, aku hanya menyuruhmu mempermainkan mereka berdua, bukan benar-benar jatuh cinta.”

“MAX!!!”

BRAKKKK

Mereka menoleh bersamaan ke arah pintu yang dibuka dengan kasar. Max tersenyum melihat siapa pelakunya. Sedangkan Amy terpaku ditempatnya.

“Donghae….”

“Kalian………..”

Donghae sudah ada dihadapan mereka. Ia tersenyum dan juga menangis.

“Jadi, selama ini…..”

Kata-katanya tersendat. Ia tak bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya merasa cukup mendengar dan itu adalah bukti yang sangat kuat. Ditatapnya Amy dan Max bergantian.

Rasanya belum genap sebulan lalu Amy mengatakan cinta padanya, mereka bahkan melalui malam yang luar biasa. Rasanya juga belum genap seminggu yang lalu Amy datang padanya sambil menangis dan minta maaf atas ketidakmampuannya melawan permintaan orang tua. Lantas, apa yang baru saja ia dengar? Yang mana yang merupakan sebuah lelucon?

Jika ia bisa, ia akan bertepuk tangan sekeras mungkin. Amy Lee memang aktris yang hebat. Ia pikir Amy adalah penyelamatnya, satu-satunya orang yang mampu mengubahnya, orang yang selalu dipikirkannya dan orang kedua yang menjadi alasannya untuk tersenyum saat membuka mata.

“Donghae, aku….”

Donghae melangkah mundur ketika Amy berusaha mendekatinya. Ia sungguh tak percaya. Ia tak habis pikir bahwa selama perjalanan kemari ia membayangkan hal yang salah. Ia takut Amy terluka, ia takut Max melukainya. Yang ternyata benar adalah bahwa Amy yang melukainya. Bahwa selama ini ia hanyalah orang bodoh yang dengan gampangnya diperdaya. Ia jatuh cinta, ia menyanjungnya, ia juga yang berusaha mempertahankannya. Tapi Amy sama sekali tak seperti yang ia bayangkan. Amy sama seperti ayahnya. Yang pada akhirnya akan membuangnya seperti sampah.

“Donghae, kumohon…”

“Amy, sepertinya rahasia kita sudah terbongkar. Maafkan aku Donghae, tapi Amy bukanlah bidadari seperti yang ada dikepalamu.”

Donghae terus berjalan mundur. Sekali lagi ia menatap Amy lalu berbalik pergi. Sekarang semuanya sudah jelas. Ia sudah tak punya alasan lagi untuk berada disini. Ia dan ibunya harus angkat kaki.

****

Kyuhyun berjalan lunglai disepanjang koridor rumah sakit. Setelah berjam-jam menghabiskan waktu sendirian, akhirnya ia menyerah dan hendak kembali ke ruang rawat ayahnya. Ia harus berada disana ketika ayahnya sadar.

Tapi lama kelamaan cara jalannya makin tak karuan. Ia berjalan seperti orang mabuk dan sesekali harus menabrak para perawat. Ia bahkan sempat akan dipapah oleh seorang pria kalau saja ia tak menolaknya dengan kasar. Ia masih sehat. Ia tidak sakit. Ia hanya kecewa. Hanya kecewa.

“Bunuh saja ibu!”

Ia kalah lagi. Untuk kesekian kalinya ia kalah.

Ketika ibunya menampar Donghae di depan semua orang, ia pikir ibunya sudah sadar bahwa Donghae memang hanya bisa membuat kekecauan. Namun, ketika ia nyaris mencabut nyawanya, ibunya justru membela. Ibunya malah rela kehilangan nyawa juga. Ironi. Tapi ini kenyataan.

Sejak kembali dari rumah ibunya, ia juga belum makan apapun. Ia tak merasa lapar. Ia juga tak merasa aneh meski beberapa orang yang melihatnya memandangnya dengan heran. Mungkin karena ia belum mengganti pakaiannya dengan kemeja putih, dasi kupu-kupu serta jas hitam. Mungkin karena noda darah yang ada di serah kemejanya. Atau mungkin karena bau badannya. Sebelum ia mendengar berita baik dari ayahnya, ia takkan menyentuh air sedikitpun.

Dan, sepertinya memang akan ada kabar baik. Dari kejauhan ia melihat dokter yang merawat ayahnya baru saja keluar dari ruangan ayahnya. Langsung saja ia mencegatnya.

“Dokter!! Apa yang terjadi?”

Dokter itu menatapnya dengan wajah sumringah. “Ayah anda sudah sadar dan melewati masa kritisnya. Tapi anda jangan mengajaknya banyak bicara dulu.”

Kyuhyun tersenyum lebar lalu mengangguk. Ia juga membungkuk sambil mengucapkan terima kasih, kemudian tancap gas masuk ke dalam. Dapat dilihatnya ayahnya tersenyum. Meski masih nampak lemah dan hanya bisa terbaring, ia merasa sangat bersyukur.

“Ayah!!” serunya. Ia menghambur ke pelukan ayahnya, tapi cepat-cepat ia melepaskannya takut nafas ayahnya terganggu.

“Aku senang ayah sudah siuman. Aku benar-benar takut.”

Tangan ayahnya ia genggam, ia cium dua kali dan akhirnya ia tak kuasa menahan tangis. Ia sendiri tak tahu kenapa mendadak ia jadi anak cengen begini. Saat tangan ayahnya mengusap air matanya, tangisnya malah makin menjadi.

“Kyuhyun, kenapa kau menangis? Ayah baik-baik saja.”

Kyuhyun menggeleng. Ia tak tahu harus menjawab apa. Mungkin ini adalah luapan bahagianya setelah satu malam yang menguras tenaga serta pikirannya. Sejak semalam ia menahan semuanya. Maka ia peluk lagi ayahnya, kali ini lebih lama.

Ayahnya pun mengusap punggungnya. Ia bisa merasakan kehangatan berbeda setelahnya. Sudah lama sekali mereka tak saling berbagi kehangatan seperti ini. Ia jadi sadar bahwa ia sangat membutuhkannya saat ini. Ia butuh pegangan. Ia butuh sandaran.

“Kyuhyun….” panggil ayahnya pelan. Kyuhyun yang belum mau melepaskan pelukan ayahnya hanya bergumam pelan.

“Ayah punya satu permohonan, maukah kau mengabulkannya?”

Ia tersenyum lantas melepaskan diri dari pelukan itu. Tumben sekali ayahnya memohon seperti ini.

“Sejak kapan aku menolak permintaan ayah? Katakan! Apa itu?”

Ayahnya menghela nafas sejenak seolah akan menyampaikan hal yang akan membuat Kyuhyun terkejut. Tapi Kyuhyun menunggu dengan perasaan tenang dan antusias. Ia sudah merasa lebih baik. Maka ia tak sabar untuk melakukan sesuatu demi ayahnya. Ia pun mendekat, agar ayahnya bisa memelankan suaranya.

“Ayah ingin…………..kau membawa Donghae dan ibumu kemari.”

Tidak!

Kyuhyun tersenyum tak mengerti. Ia pasti salah dengar. Tapi tiba-tiba saja ayahnya meremas tangannya, seolah meyakinkan dirinya bahwa semua yang ia dengar adalah sebuah kebenaran. Dan ketika ia meluruskan pandangannya tepat ke mata ayahnya, tak ada keraguan dari mata itu.

“Ayah harap…kau mau membawa mereka berdua kemari. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan bersama.”

“Tapi….”

“Kau sudah berjanji.”

Kyuhyun bimbang. Ia memang sudan berjanji, tapi…kenapa harus permintaan seperti itu? Ia sudah memasukkan nama Donghae dalam daftar teratas orang-orang yang tak ingin ia lihat lagi wajahnya. Lantas, bagaimana mungkin ia harus membawanya kemari?

“Kyuhyun, ayah mohon……..” pinta ayahnya sekali lagi. Kyuhyun pun menyerah. Ia segera pergi. Tapi diam-diam ia berdoa, semoga saja mereka tak ia temukan di rumah itu.

***

Donghae berlari sekencang mungkin dari rumah sialan itu. Tak sudi ia menoleh ke belakang, memelankan larinya apalagi berhenti. Ia terus menambah kecepatannya agar bisa sampai ke rumah lebih cepat. Ia ingin lekas-lekas menarik tangan ibunya untuk pergi dari kota ini. Kemanapun itu, asal tak berdekatan dengan mereka.

Sudah tak ada yang bisa ia percaya disini. Ayahnya, adiknya, Max dan sekarang Amy. Mereka semua sama. Mereka senang membuatnya seperti boneka jelek yang gampang dimainkan. Dan..oh, kenapa ia masih saja bodoh? Harusnya ia tahu sejak awal bahwa ia hanya bisa mengandalkan diri sendiri.

Begitu sampai di rumah, ia mendorong pintu dengan keras. Ibunya sampai terkaget-kaget melihatnya masuk. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, ia langsung naik ke atas, ia buka pintu kamarnya lalu mengambil dua tas besar miliknya yang sudah ia siapkan. Kemudian ia keluar, menuruni anak tangga tak kalah cepat.

“Donghae! Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya ibunya terus menerus. Tapi ia terus mondar mandir. Ia kesana kemari untuk mengumpulkan barang-barang yang ia perlu dibawa. Semua peralatan mandi, semua makanan dari kulkas dan sebuah selimut. Terakhir, ia masuk ke kamar ibunya. Ia tarik koper ibunya serta sebuah tas tangan. Dan begitu semuanya ada dalam genggamannya, ia mengajak ibunya pergi.

“Ibu, kita harus pergi sekarang!”

“Iya, tapi…kenapa? Kereta kita berangkat satu jam lagi. Masih ada waktu.”

“Aku tidak peduli. Yang jelas kita harus segera pergi. Kita harus pergi!”

Tanpa mendengarkan ibunya, ia sudah meraih tangan ibunya lalu digenggamnya erat-erat. Sebelum ia tiba di depan pintu. Ia sempat menatap sekeliling ruang tamunya. Ia kuatkan pegangannya. Semoga inilah yang terbaik.

Ia kembali berjalan. Ia buka pintu kemudian-

“Kyuhyun?”

Langkah mereka seketika terhenti. Kyuhyun tahu – tahu sudah berdiri di depan mereka. Tak ada tanda-tanda keramahan dalam mata itu. Malah nampaknya Kyuhyun begitu berharap bahwa tubuhnya terhisap tanah saat ini juga. Ia hanya diam, lalu keluarlah kalimat itu.

“Ayah ingin bertemu kalian.”

***TBC***

1 Comment (+add yours?)

  1. Hyuk27
    Sep 25, 2016 @ 18:24:57

    Wahh ceritanya makin baper aja >.< bingung mau percaya kalo amy itu sebenarnya baik apa enggak. tauk ah gelap -_- btw, keep writing thor.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: