What If [13/14]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae (SJ)

Cho Kyuhyun (SJ)

Amy Lee (OC)

Genre : Romance, family, brothership

Rate : PG-15

****

Beberapa saat lalu ia masih berharap bahwa kedua orang yang ia cari tidak akan ia temukan. Namun, begitu ban mobilnya berhenti di depan rumah itu, ia sadar bahwa itu bukanlah yang ia inginkan. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka berempat berada dalam satu ruangan yang sama sambil bercengkrama. Jika ingatannya tepat, maka rasa-rasanya mereka hanya melakukan itu satu kali, yakni saat makan malam di ulang tahun ibunya entah yang keberapa. Dan mereka bisa berkumpul bukan karena keinginan masing-masing. Saat itu mungkin ia masih kecil. Tapi dari kebiasaan dan situasi yang tak pernah begitu menyenangkan di rumahnya, ia bisa memahami bahwa ayahnya terpaksa duduk di kursi utama meja makan. Ibunya dengan berani membawa Donghae duduk di sampingnya. Mereka makan kue tart bersama dan setengah jam setelahnya mereka membubarkan diri tanpa suara.

Sepertinya ia tak bisa memasukkan situasi semacam itu ke dalam daftar kebersamaan mereka, termasuk kejadian malam kemarin. Dan setelah ia memaksa ingatannya bekerja lebih keras lagi, ia tahu tak pernah ada momen kebersamaan lagi. Tak ada sama sekali.

Donghae tak pernah diijinkan makan bersama. Sesekali ibunya akan berontak lalu meninggalkan meja makan sehingga akhirnya hanya akan ada dua orang disana. Kadang ibunya tetap di tempat karena ancaman ayahnya yang takkan memberi anak itu makan sama sekali jika berani pergi. Kadang juga ayahnya yang memilih pergi dengan alasan kehilangan nafsu makan.

Ketika ia memilki hubungan baik dengan ibu dan kakaknya, diam-diam ia berharap bahwa suatu hari keluarganya akan utuh kembali. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, pemikiran-pemikiran indah itu berubah menjadi khayalan konyol yang hanya butuh keajaiban untuk mewujudkannya. Menghadirkan mereka semua dalam ruangan yang sama dengan diiringi tawa mungkin sama mustahilnya dengan mempertemukan api dan air tanpa harus adanya kerusakan. Dan beberapa menit lalu, ia sudah lupa kapan pernah berharap seperti itu. Ia ingin lupa bahwa ia punya seorang kakak serta seorang ibu.

Tapi sekarang ia berdiri disini, di depan pintu rumah itu. Dan tanpa bisa ia mengerti kebencian-kebencian itu mulai menguap dari dirinya. Keinginannya untuk melupakan orang-orang yang ada dibalik pintu itu perlahan melemah. Dan ia tak bisa mengelak bahwa ini terlihat seperti satu-satunya kesempatan untuk menyatukan semuanya. Haruskah ia mengetuknya? Lantas…untuk apa? Apa gunanya berharap dua orang itu kembali sedang sudah banyak hal yang berantakan karena ulah mereka?

Ia harus mundur. Ia harus tetap pada pendiriannya.

Tapi…ayahnya…

Ia sudah berjanji padanya.

Ia sudah berjanji untuk membawa mereka ke hadapannya.

“Kyuhyun?”

Ia mendongak. Yang ada di depannya bukan lagi sebuah pintu kayu yang hampir ia ketuk, melainkan dua orang yang ia cari-cari. Ia pun memandang keduanya sejenak. Saat fokus pada Donghae, mau tak mau ia teringat akan tindakannya semalam. Ia pikir ia sudah cukup memberinya pelajaran. Tapi nampaknya pukulannya semalam tidak punya efek luar biasa. Wajahnya memang babak belur, tapi pria itu nampak baik-baik saja. Tapi….kenapa dengan koper dan tas-tas besar ditangan mereka?

“Apa yang kau lakukan?”

Ia tersadar. Ia ingat apa yang harus ia lakukan. Maka tanpa basa basi lagi ia menjawab, “Ayah ingin bertemu kalian.”

Donghae tersenyum simpul. Ia meraih tangan ibunya. “Katakan pada ayahmu permintaan maafku. Aku menyesal atas apa yang kulakukan semalam. Tapi kau dan ayahmu tenang saja, aku dan ibuku akan membayar semuanya dengan pergi dari sini. Mulai detik ini, kalian tidak akan pernah melihat wajah kami lagi dan aku harap hidup kalian akan menjadi lebih bahagia.”

Donghae menarik ibunya lantas menyenggol bahu Kyuhyun. Kyuhyun pun tidak tinggal diam. Matanya sempat memperhatikan kembali barang-barang itu dan sepertinya mereka tidak main-main.

“Tunggu!” Ia tahan lengan ibunya.

“Apapun rencana kalian, aku tidak peduli. Aku hanya ingin kalian ikut denganku sekarang!”

“Sayangnya aku tidak akan ikut denganmu!” tegas Donghae lalu kembali menarik ibunya.

Mereka berjalan kaki dengan cepat sampai akhirnya sebuah taksi terlihat dan berhasil Donghae hentikan.

“Tunggu! Jangan pergi! Hey!!! Setidaknya kau harus bertanggung jawab! Bukan lari begitu saja!!””

Teriakan Kyuhyun tak berguna. Donghae dan ibunya sudah masuk ke dalam taksi lalu pergi. Tubuh Kyuhyun terus mengecil dan tak terlihat setelah laju mobil yang membawa mereka bertambah.

“Ini yang terbaik.”

Donghae menindih telapak tangan ibunya dan membuat ibunya tak lagi menoleh ke belakang memperhatikan Kyuhyun. Sejak ia dan ibunya sepakat untuk pergi, sejak saat itu pula ia berjanji untuk tegar berdiri bersama ibunya, hanya berdua.

“Sekarang kita ke stasiun.” Donghae memegang erat tangan ibunya. Ia lalu memperhatikan jalan kemudian sedikit memajukan tubuhnya untuk memberitahukan alamat tujuan pada supir.

“Antar kami ke stasiun ke….” Ia terdiam. Ia melihat pada kaca mobil dan menyadari siapa yang sedang mengemudikan taksi ini.

“Kau…” Donghae menelan ludah. Diam-diam sebelah tangannya berusaha membuka pintu. Namun, ia lebih dulu mendengar suara yang menandakan bahwa pintu itu sudah terkunci.

“Mau lari?” tanya supir itu dengan tawa renyahnya. Ia menoleh ke belakang dan menyapa Donghae. “Apa kabar, Donghae?”

“Mau apa kau?” tanya Donghae gusar. Ini sungguh diluar perkiraannya. Kenapa salah satu orang terbaik milik Max harus ada disini? Apakah……

“Aku tidak punya wewenang untuk menjawab pertanyaanmu. Yang jelas, aku akan membawamu serta ibumu ke tempat yang lebih baik dibandingkan stasiun kereta.”

“Apa?”

BUG

***

“Siapa kau?”

“Aku? Aku hanya orang yang sedang butuh bantuanmu.”

“Bantuan macam apa?”

“Kau akan segera tahu. Tapi, kau harus melihat ini lebih dulu.”

Amy menyalakan shower. Masih dengan pakaian yang lengkap, ia berdiri di bawahnya lalu menerima guyuran air. Ia teringat kembali tentang pertemuan pertamanya dengan Max yang sangat ia sesali sampai saat ini.

“Aku tidak percaya. Kau pasti membohongiku.”

“Ini kenyataan, Amy Lee. Ayahmu bukan seorang ayah ataupun suami yang kau pikirkan selama ini. Ayahmu sama seperti pria hidung belang diluar sana yang akan memanggil wanita manapun yang ia inginkan untuk memuaskannya semalam. Aku rasa kau tak perlu terkejut. Bukankah kau sudah mengetahuinya?”

“DIAM KAU!!”

“Jangan membentakku untuk setiap kebenaran yang kukatakan. Kau sudah melihat videonya. Kau sudah lihat fotonya. Kau sudah lihat bagaimana kelakuan ayahmu yang sebenarnya dan aku bisa saja memperlihatkan ini pada media. Tapi….aku ingin ibumu lebih dulu melihatnya. Ibumu harus jadi orang kedua yang melihatnya setelah kau.”

“Tidak! Jangan lakukan itu! Jangan perlihatkan pada ibuku!”

“Kenapa? Kau takut ibumu akan mencoba bunuh diri lagi? Ah, kudengar ibumu pernah hampir mati setelah mengetahui perselingkuhan ayahmu beberapa tahun lalu, benar kah?”

Amy meremas rambutnya yang basah. Ia benar-benar terjebak saat itu. Ia salah melangkah.

“Siapa kau sebenarnya?”

“Amy, untuk saat ini bukan itu yang terpenting. Sekarang kau cukup pikirkan apa yang akan terjadi bila ibumu melihat ini. Aku rasa kau belum mau melihat ibumu mati. Dan bayangkan juga jika semua orang mengetahuinya. Bisa kau bayangkan?”

“Sebelum itu terjadi, aku akan menghabisimu.”

Saat itu ia mencoba mengeluarkan kemampuan bela dirinya yang menurutnya sudah maksimal. Sayangnya, Max tidak bergeming sementara ia tersungkur di lantai dengan beberapa luka. Ia benar-benar salah memilih lawan.

Sekarang kau punya dua pilihan, melihat ibumu bunuh diri atau………………..mengikuti perintahku!”

Ia hempaskan tubuhnya yang belum kering ke tempat tidur. Saat itu ia merasa dihimpit dinding dan hanya punya sepersekian detik untuk keluar. Ia tak tahu mana lagi yang benar. Yang ia ingat saat itu hanyalah wajah ibunya. Yang ia ingat adalah kesakitan ibunya jika mengetahui semua ini. Ibunya terlalu mencintai ayahnya. Ibunya bukan akan menampar wajah ayahnya ataupun melakukan tindakan lain seperti wanita diluar sana. Jika foto dan video itu sampai ke tangan ibunya, ia tak berani bayangkan apa yang akan terjadi. Maka setelahnya ia mengangguk pada Max. Ia setuju.

“Bagus! Tugas pertamamu adalah ke rumah sakit, temui Donghae. Aku tahu akhir-akhir ini kau dekat dengannya dan harus ku akui kau cukup tangguh saat menggagalkan rencanaku untuk membawa kabur Donghae. Tapi aksimu saat itu justru membuatku berpikir lagi dan menemukan ide cemerlang. Sekarang……..aku ingin kau semakin mendekatinya lalu buat ia berubah. Buat ia berpikir bahwa kau adalah malaikat yang di utus oleh Tuhan untuk membantunya.”

Setelahnya ia berjabat tangan dengan Max. Dan, ia sungguh ingin meludah ke tangannya sendiri sekarang. Persetujuan itu mengubah segalanya. Donghae membencinya. Donghae dibenci ayah dan adiknya. Mungkin tak lama lagi giliran Kyuhyun yang takkan sudi menatapnya.

Ia terdiam di tempat tidur. Bayang-bayang wajah ayahnya melayang-layang pada langit-langit kamar. Saat ayahnya memangkunya di depan kemudi mobil. Saat ayahnya memberikan banyak hadiah. Saat ayahnya mengajarinya menyetir dan masih banyak lagi. Dulu ia selalu membanggakan ayahnya di depan siapapun. Ia akan bilang bahwa ayahnya adalah ayah terbaik di dunia, bahkan di depan Kyuhyun sekalipun saat ia belum tahu apa-apa soal keluarga itu. Tapi semua berubah saat beberapa tahun lalu, tepatnya saat ia mendapati ibunya nyaris bunuh diri.

Ia masih mengingat kejadian itu. Ketika itu ia baru saja pulang untuk memberi tahu ibunya bahwa ia diterima disebuah universitas ternama. Namun, belum keluar semua kata-kata itu, ia lebih dulu menemukan ibunya sedang mengiris nadinya dengan pisau. Ia tak tahu apa-apa saat itu selain berpikir untuk segera membawanya ke rumah sakit. Dan ia sama sekali tak bisa menebak masalah apa kiranya yang mampu membuat ibunya berbuat begitu nekat. Malam sebelumnya bahkan ia ingat bahwa mereka masih bisa mengobrol di ruang keluarga sampai larut. Ayahnya juga ada meski hanya duduk sambil menonton dvd. Semua nampak baik-baik saja. Baru ketika ayahnya tak muncul selama berhari-hari di rumah sakit, ia sadar ada yang tak beres dengan orang tuanya. Lalu dengan segala usaha, akhirnya ia tahu apa yang menjadi akarnya.

Ayahnya berselingkuh. Ibunya mengetahui itu semua pagi hari setelah ia pergi untuk mengetahui hasil tes universitas. Selain pesan mesra yang ada dihandphone ayahnya yang tertinggal, ibunya juga menemukan tanda lipstick dipakaian dalam ayahnya. Lalu ayahnya kembali ke rumah untuk mengambil handphonenya. Saat itulah pertengkaran tak bisa dihindarkan sampai ayahnya pergi begitu saja. Dan setelah itu….entah setan bodoh mana yang merasuki pikiran ibunya sampai ibunya justru memutuskan untuk melukai diri sendiri.

Ia tahu, ibunya sangat mencintai ayahnya. Ketika muda, ibunya berjuang keras untuk mendapatkan restu dari orang tua agar diperbolehkan menikah. Ia sudah mendengar kisah itu dan ia tersanjung mendengar kekuatan mereka. Namun, setelah ia melihat ibunya yang terbaring lemah, ia tak lagi ingin mendengar cerita itu. Pandangannya terhadap ayahnya berubah drastis. Ia bahkan yang paling aktif menyuarakan agar orang tuanya bercerai saja. Sayang, ibunya justru punya pendapat lain.

Ibunya setuju untuk memberi ayahnya kesempatan. Ibunya percaya pada permohonan maaf ayahnya dan ibunya meminta agar mereka semua melupakan masalah itu. Amy sendiri sempat yakin bahwa ayahnya memang sudah berubah. Semua nampak tak ada yang salah. Sampai Max memperlihatkan foto serta video-video itu, barulah ia tahu tak ada yang bisa ia harapkan lagi dari ayahnya.

Ia bisa saja memberi tahu ibunya. Tapi, apakah ibunya akan bisa menerima dan sanggup mendengarnya? Ia takut. Ia benar-benar takut kalau ibunya akan berbuat bodoh lagi.

Ia menangis. Kenapa bisa ia memilih untuk menyembunyikannya? Ia melindungi keluarganya tapi ia merusak keluarga lain diluar sana. Ia tak mau melihat ibunya menangis tapi ada banyak orang yang menangis karena perbuatannya. Sementara ayahnya………………….ia merasa ini semua tidak akan membaik jika ia membiarkannya.

Ia bangkit. Secepat mungkin mengganti pakaian lalu pergi dengan mobil. Ia harus menemui ayahnya. Ia harus menyadarkannya. Ia harus berbuat sesuatu agar ia punya alasan untuk tak peduli lagi pada perintah Max.

Setibanya di kantor ayahnya, ia bergegas naik ke lantai 8.

“Ayahku ada di dalam?” tanyanya singkat pada sekretaris ayahnya. Tapi pertanyaan itu hanyalah formalitas semata. Ia terus berjalan tanpa peduli jawaban apa yang diberikan oleh wanita itu. Meski wanita itu berusaha menahannya dan terus berkata bahwa ayahnya sedang sibuk, ia tak peduli. Ia terus berjalan, ia tepis hadangan wanita itu lantas mendorong pintu dengan keras.

BRAKKKK

“NONA!!!”

Amy terpaku. Tanpa sadar kedua tangannya mengeras.

“Amy?”

Amy merasa dadanya akan meledak. Ternyata ayahnya memang sangat sibuk. Begitu sibuk sampai-sampai ia tak sudi lagi untuk melihatnya.

“Kenapa kau ada disini? Dengar, Amy, ini tak seperti yang kau lihat. Minji, sudah kubilang jangan biarkan siapapun masuk dan kau lupa mengunci pintu sebelum pergi, huh?”

Amy menangis. Hanya diperhatikannya kelakuan ayahnya yang sibuk mengancing kemejanya, memakai jas serta kacamatanya lalu marah-marah pada sekretarisnya. Matanya lalu tertuju pada seorang wanita yang juga sibuk merapikan pakaiannya. Tanpa basa basi ia mendekat kemudian menamparnya.

“Amy!!!”

“Jangan menahanku!”

PLAK

Amy menamparnya dua kali. Wanita itu memegangi pipinya yang memerah dan rasanya Amy ingin sekali menamparnya lagi. Tapi ayahnya buru-buru menahan.

“Lepaskan aku!”

“Amy! Jangan lakukan lagi! Kau harus dengar penjelasan ayah!”

“Ayah yang harus mendengarku!” teriak Amy sampai ayahnya tak bisa menyela lagi. Ia kembali menatap wanita itu lantas menarik kerah bajunya.

“Jangan pernah kemari atau muncul di hadapanku lagi atau aku akan mematahkan gigimu lalu membakar rambutmu.”

Amy melemparnya. Wanita itu lari terburu-buru sambil menenteng sepatunya. Dan setelahnya, Amy mendekati ayahnya.

“Amy, maafkan ayah. Ayah hanya-“

“Hanya selingkuh…..lagi?”

Ayahnya menunduk. Amy pun rasanya benar-benar malu melihat sosok pria yang berdiri di depannya itu.

“Aku sudah membuat kesalahan besar dengan menyembunyikan ini dari ibu. Asal ayah tahu, aku punya banyak bukti tentang kelakuan buruk ayah. Bukti-bukti itu akan segera sampai ke media dan juga ibu. Apapun yang akan terjadi kemudian, aku tidak peduli.”

“Amy!” ayahnya menahan lengannya.“Kau tahu ibumu pasti akan mencoba bunuh diri lagi.”

“Maka akan kupastikan ibu tidak akan melakukannya. Sekarang, lebih baik ayah pikirkan dan persiapkan diri ayah sendiri.”

Amy pergi. Ia senggol bahu sekretaris ayahnya dan tak menoleh sedikitpun kebelakang. Sekarang ia harus menemui ibunya dan menjelaskan semuanya. Setelah itu ia akan mencari Donghae. Kini, ia tak menemukan alasan lagi untuk menuruti semua perintah Max.

***

Kyuhyun duduk di sisi tempat tidur ayahnya. Ketika ia kemari setengah jam lalu, ayahnya sudah tertidur pulas. Dokter juga mengatakan bahwa keadaan ayahnya semakin membaik dan mungkin hanya butuh dua sampai tiga hari lagi untuk dirawat. Kedengarannya memang bagus, tapi ia tak yakin kondisinya akan sama setelah mengetahui bahwa ia tak berhasil membawa Donghae dan ibunya kemari.

Sejak kemarin ia sengaja tak mengunjungi ayahnya. Ia tak mau datang dengan kabar kurang mengenakkan. Ia pun memilih pulang, membersihkan diri, makan sup buatan pelayannya di rumah dan baru ke rumah sakit lagi siang ini.

Ia jadi penasaran, apa kiranya yang ingin disampaikan ayahnya? Apa ayahnya sudah menerima Donghae? Tapi kenapa? Setelah kejadian beberapa hari lalu, ia pikir membenci Donghae adalah salah satu hal paling benar yang ia lakukan selama ini. Ia ingin terus seperti ini. Hanya seperti ini dengan ia dan ayahnya. Meski ia tak bisa bayangkan jika ibu yang baru ia temui beberapa tahun ini takkan ia lihat lagi, ia tetap yakin dengan pilihannya.

Sekarang ia merasa benar-benar sendirian. Amy, Henry ataupun Max tak nampak lagi sejak kemarin. Bahkan tak ada satu pesan pun yang masuk ke handphonenya dari mereka untuk menanyakan keadaannya selain pesan dari sang manajer. Kemarin mungkin ia mengacuhkan mereka. Tapi sekarang ia butuh mereka, terutama Amy. Ia ingin bicara. Apapun itu, ia hanya ingin ada Amy disini.

Ia tersenyum. Setelah hubungannya dan Amy yang cukup buruk akhir-akhir ini, kenapa ia berani berharap Amy ada disini? Ia tahu Amy tak menginginkan perjodohan itu. Ia tahu Amy mungkin menjadi satu-satunya orang yang bersyukur karena acara pertunangan itu tertunda. Amy mungkin saja sedang mencari Donghae. Amy tidak berminat menemaninya. Sama sekali tidak.

“Kyuhyun…”

Gerakan tangannya yang hendak meremas rambut terhenti. Ia mendengar suara seseorang. Dan orang itu adalah orang yang baru saja ia pikirkan. Segera ia menoleh ke belakang.

“Amy?”

Amy ada disini. Di depan pintu sambil tersenyum padanya. Dan beberapa menit kemudian, entah bagaimana caranya mereka sudah duduk berdua di kursi taman rumah sakit. Amy duduk sambil memangku sebuah rantang berisi makanan.

“Kau pasti belum makan siang,” ujar Amy ringan. Kyuhyun masih diam, ia bahkan tak yakin bahwa ia berkedip sejak tadi. Ia hanya memperhatikan wajah Amy dengan teliti sambil berpikir.

Amy bersikap normal. Gadis itu bertingkah seolah tak terjadi apa-apa antara mereka dan semua peristiwa yang mereka alami beberapa waktu lalu tak pernah ada. Amy bahkan sempat tertawa setelah merasakan makanan dipangkuannya yang ternyata adalah masakannya sendiri.

“Rasanya cukup buruk. Sepertinya kau tidak perlu memakannya.”

Kyuhyun ikut tersenyum. Seminggu ke belakang, tepatnya setelah pengumuman pertunangan itu, ia tak pernah melihat Amy tersenyum dengan tulus lagi. Sekarang…ia dapatkan kembali senyum itu. Senyum yang biasa menyambutnya di malam hari saat mereka bertemu.

“Kita makan di luar saja, bagaimana?”  usul Amy.

Kyuhyun tak menyahut. Ia ambil rantang yang sudah tertutup itu lalu makan dengan lahapnya. Ia akui ada yang salah dengan makanan itu. Tapi ia tetap memakannya. Ia suka.

“Kyuhyun! Kau bisa sakit perut!!!”

“Setidaknya ini adalah buatanmu dan ini khusus untukku.”

Amy menyerah untuk merampasnya kembali dan memilih diam. Kyuhyun pun makan dengan tenang. Ia habiskan semuanya sampai tak ada sepotong sayurpun yang tersisa. Terakhir, ia bersendawa yang membuat suasana hening itu pecah oleh tawa.

Tapi kemudian mereka sama-sama diam. Kyuhyun tersenyum hambar sambil menutup rantang makanan itu.

“Aku tahu ini untuk Donghae hyung. Benar, kan?”

Tawa pelan Amy perlahan pudar. Ia mengambil rantangnya dan mengelus bagian tutupnya. Terdapat dua buah huruf disitu. Dan itu bukanlah insial dari Kyuhyun.

“Kau memasak secara khusus untuknya. Tapi kau tak menemukannya dimanapun. Jadi kau kemari dan memberikannya padaku.”

Amy menunduk, menghela nafas dengan berat. “Semalam aku ke rumahnya, tapi ia dan bibi tidak ada. Tadi pagi aku kembali kesana dan mereka tetap tidak ada. Aku menunggu sampai beberapa jam. Aku juga bertanya pada para tetangga dan mereka tidak tahu apa-apa.”

Amy diam sejenak. Tak diberitahukannya pada Kyuhyun jika ada satu benda yang ia temukan di depan rumah Donghae. Itu adalah lukisan wajah Donghae yang ia buat saat Donghae tertidur di rumah sakit. Ia tak pernah berpikir Donghae akan menyimpan lukisan itu. Ia tak tahu. Ia sungguh tak tahu.

Kyuhyun tersenyum pahit. “Kupikir aku belum mengatakan bahwa pertunangan kita batal.”

“Aku hanya ingin melihat kondisinya. Aku ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja.”

“Ia bukan dalam keadaan baik. Malam itu aku menghajarnya dan hampir membunuhnya. Tapi kau tidak perlu khawatir. Ada seorang ibu yang selalu berdiri disisinya. Kenapa kau tidak menanyakan keadaanku?”

Amy masih menunduk tanpa mengatakan apa-apa. Ia bingung. Hanya didengarnya hembusan nafas Kyuhyun yang terasa menamparnya.

“Aku sadar apa yang terjadi antara kita seminggu ke belakang. Aku mungkin egois. Aku dikuasai oleh kemarahan dan aku mengesampingkan banyak hal terutama perasaanmu. Kau boleh marah padaku. Kau kupersilahkan untuk melupakan perjodohan itu. Tapi aku tidak mau kehilangan sahabatku.”

Amy menatapnya. Disaat bersamaan Kyuhyun juga menatapnya hingga perlahan mereka sama-sama tersenyum.

“Apa kau mau memaafkanku? Kau tahu selama ini aku jarang sekali sudi mengakui kesalahanku.”

Entah bagaimana Amy sudah merasakan pipinya basah. Ia tak punya alasan untuk menolak uluran tangan dari Kyuhyun, sahabatnya yang lama menghilang. Maka ia menerimanya, lantas memeluknya dengan sangat erat.

“Maafkan aku atas perasaanku. Aku tak bisa membalasmu.”

Kyuhyun menerima pelukan Amy dengan seutas senyum. Kedua tangannya terangkat pelan dan sudah akan balas memeluknya. Namun, pada akhirnya ia hanya mengarahkan tangannya ke kepala Amy. Pelan-pelan ia mengelusnya lalu mengecupnya dengan lembut.

“Aku baik-baik saja. Masih banyak gadis diluar sana yang mengincarku. Kau jangan berlebihan,” ujarnya dengan nada bercanda. Tapi sayang, ia justru baru sadar bahwa sejak tadi ia juga hampir menangis. Segera ia menengadah dan melihat-lihat ke arah lain. Pelukan Amy cukup menguatkannya. Ia kuat.

Siang itu pun berlanjut. Kyuhyun enggan melepaskan pelukan Amy dan ia harap Amy sudi mengisi kekuatannya sampai ia siap untuk melihat kenyataan. Setidaknya hanya untuk beberapa jam ini. Setelah itu, ia akan dengan yakin melepasnya.

***

BYURRRR

Donghae dan ibunya terbangun. Mereka menemukan tangan serta kaki mereka terikat. Wajah serta separuh badan mereka basah dan Donghae merasakan nyeri ketika membuka mata ataupun membuka mulutnya.

“Lama sekali kalian tidur.”

Samar-samar Donghae melihat beberapa orang berdiri di depannya. Ada satu orang yang duduk di sebuah kursi. Namun, begitu ia menggeleng dan berkedip beberapa kali, ia sadar bahwa ia sudah tak bisa menyebutnya manusia lagi. Ia pun berusaha keras mengingat apa yang sudah terjadi. Dan setelah memaksa otaknya untuk bekerja lebih kuat lagi, ia akhirnya ingat bahwa kemarin ia dan ibunya di bawa kemari. Ia dipukuli tanpa maksud yang jelas sementara ibunya hanya bisa jadi penonton sejati.

“Jangan terkejut seperti itu. Aku akan segera mengenalkan kalian pada ibuku.”

Ibu? Dengan pelan Donghae menolah ke arah lain hingga menemukan Max berdiri di ambang pintu. Pria itu berjalan pelan mendekati ‘seseorang’ yang duduk di sebuah kursi goyang di depannya. Max mengusap rambutnya lantas mencium tangannya.

Donghae menelan ludah lantas saling pandang dengan ibunya. Apakah mereka salah melihat?
Max bertingkah seperti orang tak waras. Ia terus mengecup wajah ‘seseorang’ itu yang jelas-jelas tak lagi berbentuk manusia yang utuh.

“Max, apa yang kau…”

“Dia adalah ibuku. Beri hormat padanya!” gertak Max sambil menundukkan kepala Donghae dengan paksa. Setelah itu Max tiba-tiba saja berpindah pada Jae Gum lantas menarik rambutnya.

“Akh!”

“IBU!!!”

“Kau lihat wanita yang duduk di hadapanmu itu?”

Donghae berontak dalam keterbatasannya. Melihat ibunya merintih, ia sungguh ingin menghajar Max sampai tak bernafas lagi. Tapi ia tak berdaya. Ikatannya begitu kuat. Ia hanya nampak seperti ikan yang terdampar di daratan dan menggertak Max yang sayangnya sama sekali tak berguna. Max terus mengencangkan tarikannya dan mengatakan hal-hal yang tidak ia ketahui.

“Kau lihat? Ia adalah wanita yang sangat cantik. Harusnya sekarang ia duduk dengan tenang, memakai perhiasan mahal, minum secangkir teh panas sambil menonton film favoritnya.”

“AKH!!”

“MAX!! Hentikan!!!”

BUG

Satu tendangan melayang tepat ke wajahnya. Ia benar-benar buruk.

“Kau sudah merebut segala haknya. Kau merebut apa yang harusnya jadi miliknya. Dan kau tahu? Aku adalah orang pertama yang bertepuk tangan begitu tahu bagaimana perlakuan Cho Min Sook padamu. Kau pantas mendapatkannya. Bahkan bagiku kau pantas mendapatkan lebih dari itu.”

Max melepaskan kepala Jae Gum dan kembali mendekati ‘ibunya’. Ia bersimpuh. Dalam hitungan detik air matanya mulai jatuh dan mengecup lagi telapak tangan ‘ibunya’.

“Ibu, apa kau senang? Apa kau bangga padaku? Aku sudah berhasil membalaskan dendam ibu. Wanita itu sudah kuhancurkan. Keluarganya sudah berantakan dan akan kupastikan aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri dihadapan ibu.”

Kepala Donghae seketika tegak mendengar penuturan Max. Ia berontak lagi. Sekuat tenaga ia bergerak dan berusaha melepaskan ikatannya. Ia juga berteriak dengan segala umpatan yang ia punya. Namun, Max sama sekali tak menghiraukannya. Ia hanya memandang wajah ‘ibunya’ lalu mengelus pipinya.

“Ibu ingin aku membunuhnya secara perlahan? Baiklah. Akan kulakukan.”

Max berdiri. Ia mendekati Jae Gum yang sejak tadi hanya duduk pasrah di lantai. Sementara Donghae bergerak-gerak untuk menghalangi Max. Tapi pada akhirnya ia hanya kembali mendapat pukulan gratis dari orang-orang yang ada disekitarnya. Ia hanya bisa berteriak dan memohon agar Max tak menyakiti ibunya lagi.

“Max! Jangan lakukan apapun pada ibuku! Kau bisa membunuhku! Kau bisa melakukan apa saja padaku!!”

Max acuh. Ia mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya dan mendekatkannya pada pipi Jae Gum. Seruan dan permohonan Donghae menjadi lagu pengantar baginya. Ia pandang wajah kasihan Jae Gum lalu benar-benar menempelkan pisau itu ke pipinya.

“Aku tidak akan menghabisimu sekarang. Kau masih punya waktu untuk berdoa pada Tuhan serta menyadari kesalahanmu. Aku akan bermain-main denganmu sampai kau sendiri yang memohon padaku agar aku mencabut nyawamu. Sekarang….nikmati saja dulu.”

Sreeetttttttt

“MAX!!!!”

*******

“Jadi……mereka benar-benar sudah pergi?”

Kyuhyun mengangguk. Sebelum Amy berpamitan untuk pulang, Kyuhyun menceritakan apa yang terjadi semalam.

“Kau tidak tahu mereka pergi kemana?” tanya Amy lagi.

Sekali lagi Kyuhyun mengangguk. Ia berjalan lebih dulu lalu membukakan pintu mobil Amy.

“Kau jangan khawatir. Entah kenapa…aku merasa mereka tidak pergi jauh. Besok aku akan membantumu mencari mereka.”

“Kenapa kau melakukannya untukku? Bukankah ini untuk dirimu sendiri? Bukankah harusnya kau yang lebih punya kepentingan untuk bertemu mereka?” serang Amy. Kyuhyun seketika diam sambil meremas pinggiran pintu mobil.

“Tidak. Aku sudah tidak punya kepentingan lagi dengannya.”

Amy mendekat, melepaskan pegangan Kyuhyun pada mobil lalu memegang kedua tangannya. Sentuhan itupun memaksa Kyuhyun untuk menatapnya.

“Berhentilah berbohong dan mengikuti egomu. Kau tahu dengan pasti apa yang kau butuhkan. Kau jelas masih menginginkan mereka dan bagaimanapun kau menolaknya, mereka tetaplah keluargamu. Ibu dan kakakmu. Kau tidak berhak memutus tali itu.”

Kyuhyun menyingkirkan tangan Amy. Ia kembali membuka pintu mobil yang sempat tertutup. Ia arahkan matanya agar Amy lekas-lekas masuk. Dan begitu Amy sudah berada dalam mobil, ia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.

Sementara Amy hanya bisa menghela nafas memandang punggung Kyuhyun yang menghilang dibalik pintu. Nampaknya Kyuhyun masih bersikeras dengan pendiriannya dan enggan membuka pintu maaf. Ia benar-benar bingung menemukan cara untuk menyatukan mereka. Ini kesalahannya, ia yang membantu Max mengadu domba Kyuhyun dan Donghae. Dan sekarang Donghae sudah benar-benar pergi, apa yang bisa ia lakukan? Apa ia harus mengatakan padanya siapa Max sebenarnya? Tapi apakah Kyuhyun akan langsung percaya? Kyuhyun nampak menaruh kepercayaan besar pada monster seperti Max.

Drrtt

Handphone di dalam tasnya bergetar. Ia sempat melihat nama yang tertera disana dan ia tak berselera mengangkatnya. Ia memilih menyalakan mobil dan keluar dari basement rumah sakit. Namun, satu pesan dari sipenelepon itu mampu membuatnya berhenti mendadak.

“Donghae dan ibunya ada bersamaku. Kemari dan selesaikan tugasmu.”

Amy melempar handphonenya sembarangan. Ia tancap gas menuju kediaman Max. Max pasti membawa mereka kesana. Ia ingat Max pernah berkata bahwa mereka akan dihabisi di depan ibunya jika waktunya sudah tepat. Apa sekarang adalah waktunya?

Ia melaju lebih kencang lagi. Tak peduli dengan kekacauan yang ia buat, ia tetap melaju seakan ia yang punya jalan dan pengendara lainlah sang pengganggu. Sebuah mobil juga nyaris ditabraknya, tapi ia berhasil memutar mobilnya tepat waktu dan bisa melanjutkan perjalanan. Dan begitu sampai di depan rumah Max, ia melompat turun lalu mendorong pintu dengan kuat.

“MAX!!!”

Ia melihat ke atas. Beberapa orang nampak berdiri di depan pintu sebuah kamar dan ia tahu siapa pemilik kamar itu. Maka ia berlari ke sana. Didorongnya orang-orang yang menghalangi jalannya hingga ia bisa melihat siapa yang sedang mereka perhatikan.

“Donghae….??? Bibi..??”

***TBC***

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: