What If [14-END]

cover

Author : Rizki Amalia

Cast : Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Amy Lee (OC)

Max Changmin

Genre : Action, brothership, romance, family.

Rate : PG-15

***

Amy diam menatap keluar jendela. Dengan ekor matanya, ia melirik Donghae dan ibunya yang terus saja menunduk. Bisa dilihatnya begitu banyak luka ditubuh mereka, khususnya Donghae. Dan sesungguhnya hal yang pertama kali ingin ia lakukan begitu kemari adalah mengobati luka-luka itu. Tapi untuk saat ini tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu.

“Hey, kenapa kalian diam saja?” tanya Max yang baru kembali dari kamarnya di sebelah.

Amy tak sudi menoleh ke belakang. Ia hanya tersenyum sinis mendengar pertanyaan bernada mengejek dari Max. Namun, begitu ia mendengar derap langkah Max yang kian mendekat, ia segera berbalik lantas menatap matanya.

“Cepat katakan apa tujuanmu memanggilku. Kupikir tugasku sudah selesai dan aku berhak atas hadiahku,” ujarnya tegas. Sempat diliriknya Donghae dan ia yakin seratus persen Donghae sedang menatapnya penuh kemarahan.

“Baiklah, aku tidak akan basa basi. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku ada urusan yang sangat penting malam ini. Dan karena kau begitu menginginkan video serta foto-foto itu, maka aku akan memberimu tugas terakhir,” papar Max sambil mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku jasnya. Mata Amy pun membulat. Jangan bilang kalau ia diminta untuk……

“Aku dan beberapa orangku harus pergi. Tugas terakhirmu hanyalah berjaga disini. Yakinkan mereka untuk tidak melarikan diri sebelum aku kembali. Bagaimana?”

Tanpa sadar Amy menghembuskan nafasnya. Ia sudah berpikir kalau Max akan menyuruhnya melakukan hal mengerikan. Namun, belum juga ia menyanggupi, Max buru-buru menambahkan, “Tapi aku baru akan pergi setelah kau memberiku sebuah pertunjukan kecil dengan ini.”

Max memberinya pisau lipat tadi lalu Max memandang Donghae serta Lee Jae Gum bergantian. “Kau cukup memilih satu diantara mereka. Hanya goresan kecil,” ujarnya dengan tenang seakan ia hanya meminta Amy untuk meledakkan balon. Kenyataannya, Amy sedang berusaha keras agar tak nampak gemetar di depan Max. Sebisa mungkin ia mengontrol emosinya. Ia sungguh ingin membalik keadaan dengan menusukkan pisau itu kepada Max, ia akan tusukkan berkali-kali sampai Max yang memintanya berhenti, tapi ia sadar ia seorang diri diantara sekumpulan pria berbadan besar disini. Jika ia salah langkah, maka mungkin ia akan menyusul Donghae serta ibunya.

“Bagaimana? Gampang, bukan?” tanya Max sekali lagi. Amy pun tersenyum. Dipandangnya Donghae dan ibunya dengan santai lantas mendekati mereka.

“Sebelum kau meragukan apa yang kulakukan selama ini untukmu, kau harus melihat ini,” ujar Amy tenang dan dalam hitungan ketiga ia menggores lengan kiri Donghae.

Srettt

“Argh!”

“Donghae!!”

Amy tersenyum. Ia abaikan seruan Lee Jae Gum dan langsung berbalik. Ia perlihatkan warna merah pada pinggiran pisau tersebut pada Max. Max mengambilnya lalu meletakkannya di atas meja.

“Baiklah, sepertinya aku tak punya alasan untuk ragu. Sekarang aku akan pergi dan aku mau mereka tetap ada disini begitu aku kembali,” ujar Max yang seketika membuat Amy merasa beban yang ada dipundaknya runtuh. Ia benar-benar lega begitu Max menghilang dari pandangannya diikuti oleh beberapa anak buahnya. Senyumnyapun nyaris terkembang. Namun, semuanya tertunda begitu ia sadar rencananya takkan berjalan mulus.

Beberapa anak buah Max tetap berjaga di depan pintu, sementara satu orang pria lagi masuk lantas menyandarkan tubuhnya pada pinggir pintu.

“Apa kabar, Amy? Aku tak menyangka kalau kau adalah rekan yang disebutkan oleh Max.”

Amy menelan ludah. Heechul? Orang kepercayaan Max? Bagaimana bisa ia menjalankan rencananya?

***

“Bagaimana keadaan paman?” tanya Henry begitu masuk ke ruang rawat ayah Kyuhyun. Kyuhyun yang nampak hampir tertidur langsung meluruskan tubuhnya, melakukan peregangan barulah menjawab, “Sudah lebih baik. Yah, meski ayah sempat kecewa karena aku tidak berhasil membawa ibu dan Donghae hyung.”

Henry diam. Diletakkannya buah-buahan yang ia bawa ke atas meja. Dipandangnya ayah Kyuhyun dengan serius kemudian menghela nafas. Ia tak mengatakan apa-apa sampai akhirnya Kyuhyun menatapnya dengan bingung.

“Henry? Kau kenapa?”

Henry masih diam. Tapi sebenarnya ada yang ingin ia tanyakan dan itu semua berkaitan dengan semua kejadian dalam beberapa pekan ini. Ditengah situasi yang nampak kacau, ia rasa Kyuhyun lupa bahwa sampai detik ini Kyuhyun belum menjelaskan apa-apa padanya. Tentang ibunya yang entah muncul darimana, tentang Donghae yang dulu dilihatnya kerap bersama Amy, tentang perjodohan Amy dan Kyuhyun, dan juga tentang semuanya yang tak ia ketahui. Bukannya ia ingin ikut campur. Tapi rasanya ia tak mau sekedar menjadi penonton.

“Henry?” panggil Kyuhyun sekali lagi. Henry pun tersenyum. Ia membuka pintu lantas berujar singkat,”Ikutlah denganku.”

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada dipinggir jalan. Henry membawa Kyuhyun mengelilingi kota sejenak dengan mobil barunya lantas berhenti. Mereka menyandar pada mobil sambil memandang jalanan yang sangat ramai.

Untuk beberapa saat mereka tak mengatakan apapun. Dan kalau tidak salah sudah lama sekali mereka tidak seperti ini, jalan-jalan berdua untuk mencari udara segar lalu menumpahkan uneg-uneg.

Dulu Kyuhyun bahkan pernah secara rutin seminggu sekali mengajak Henry pergi, kebut-kebutan dijalan sampai dikejar polisi. Untunglah mereka bisa kabur dan wajah Kyuhyun yang tampan itu tidak masuk koran hingga imagenya sebagai penyanyi tidak luntur. Jika sudah begitu, Henry paham bahwa Kyuhyun sedang kesal dan ia tak bisa apa-apa selain membiarkannya melakukan apa saja. Karena setelahnya, Henry pasti akan mendapat celah untuk bertanya hingga ke akar-akarnya dan Kyuhyun pasti akan menjawab tanpa ada yang terlewat.

“Terima kasih,” ujar Kyuhyun dengan mata terpejam. Henry yang sedang menenggak colanya hanya tersenyum kecil. Setelah habis, ia buang kaleng colanya ke tong sampah lantas bertanya, “Terima kasih untuk?”

“Karena kau sudah membawaku kemari. Sepertinya beberapa hari ini aku terlalu sibuk sampai tak punya waktu untuk sekedar menghirup udara.”

Kyuhyun masih memejamkan matanya. Ia hirup udara dengan pelan lantas membuangnya. Masalahnya memang tak selesai begitu saja. Tapi ia merasa jauh lebih baik sekarang. Dan akhirnya ia sadar apa tujuan Henry membawanya kemari.

“Kau pasti bingung dengan semua ini,” ujarnya.

Henry mengangguk. “Akhirnya kau ingat juga denganku. Kau hampir saja lupa bahwa sejak paman di rawat di rumah sakit, aku hanya seperti badut. Oke aku tidak bodoh. Aku bisa menyimpulkan semuanya. Tapi tetap saja aku butuh penjelasan darimu langsung.”

Kyuhyun tersenyum kecil. Ia pun menceritakan semuanya dari awal. Bagaimana ia bertemu ibunya dua tahun lalu, bagaimana ia dan Amy sempat merenggang sampai pada kejadian semalam saat ibunya memilih untuk ikut dengan Donghae dibanding menuruti keinginannya. Selebihnya, Kyuhyun rasa ia tak perlu mengulang cerita yang dibongkar oleh Donghae dimuka semua orang beberapa hari lalu itu. Itu cukup jelas.

“Maaf karena aku menyembunyikan masalah keluargaku.”

Henry memasang wajah berpikir bak detektif. Ia lalu memandang Kyuhyun dan tersenyum lebar. “Aku memang akan marah. Tapi aku bisa maklum kalau kau berhati-hati pada orang yang mungkin tak pandai menjaga rahasia sepertiku.”

Mereka tertawa bersama. Kyuhyun mungkin bisa dikatakan sial sekaligus beruntung memiliki Henry. Teman curhat yang sebenarnya tak bisa dipercaya, tapi ia juga merupakan tempat curhat tak tergantikan bersama Amy. Kyuhyun sudah akan menimpali kalau saja handphone Henry tak berbunyi dan Henry buru-buru mengangkatnya. Awalnya Kyuhyun cuek. Namun, mendadak tubuh Henry tegak. Henry nampak kaget dan beberapa kali menatapnya.

“Kau serius? Kau tidak sedang mengerjaiku? Lalu kau ada dimana sekarang? Kenapa Max melakukan itu?”

Kyuhyun mendekat. Kenapa sekarang membawa nama Max? Dan kenapa kemudian Henry juga menyebut keluarganya?

“Baiklah. Aku mengerti. Ya, ya. Serahkan saja padaku.”

Henry memutus sambungan telepon. Ia nampak panik lalu mulai sibuk mengetikkan pesan pada seseorang. Setelah itu ia bergegas masuk ke dalam mobil. Kyuhyun yang bingung langsung mengikuti.

“Henry, ada apa? Kau bicara dengan siapa?”

Sambil menyalakan mobil, Henry menjawab singkat, “Amy.”

“Amy? Lalu apa yang ia katakan?”

Henry acuh. Sebelum menjalankan mobil, ia mengambil lagi handphonenya lantas menghubungi seseorang. Kyuhyun tak tahu siapa. Ia hanya berusaha menangkap pembicaraan tersebut.

“Yunho hyung. Ya, ini aku. Kau sudah membaca pesanku?”

“Dengar, kali ini aku tidak sedang membuat lelucon. Aku berani jamin itu bukan berita bohong. Leherku taruhannya!”

Kyuhyun semakin khawatir. Henry tak pernah seserius ini dan lagi…..apa yang sedang dibicarakannya?

“Percaya padaku, hyung. Kawan-kawanku dalam bahaya. Dan lokasi yang kusebutkan tadi adalah lokasi transaksinya. Kau harus kesana dan menggagalkannya.”

Siapa yang sedang dalam bahaya? Kyuhyun tak tahan. Ia memegang bahu Henry untuk bertanya. Tapi Henry masih sibuk bicara pada seseorang ditelepon itu. Setelah menunggu beberapa saat barulah Henry selesai.

“Hey, sebenarnya apa yang terjadi?”

“Kita harus kembali ke rumah sakit dan memindahkan ayahmu ke rumah sakit lain.”

“Apa? Tapi kenapa? Dan…siapa yang sedang dalam bahaya?”

Henry menjalankan mobil. Kyuhyun perlu berpegangan pada apapun karena mendadak Henry membawa mobil dengan gila.

“Kau akan segera tahu begitu kita sampai. Sekarang..biarkan aku konsentrasi menyetir.”

***

Donghae meringis pelan saat ibunya berusaha meniup luka goresan yang tadi dibuat oleh Amy. Donghae baru berhenti bersuara ketika sadar ada setitik air mata dari ibunya.

“Ibu, aku baik-baik saja. Jangan menangis.”

Awalnya ibunya tak peduli dan masih meniup-niup luka itu. Tapi kemudian wanita itu tak bisa menahan diri lantas menangis.

“Ibu tidak bisa melihatmu seperti ini. Ibu tidak bisa.”

Donghae menengadah. Andai tangannya tak diborgol, ia pasti akan mengusap air mata ibunya lantas mendekapnya. Tapi sekarang ia hanya bisa menenangkan ibunya melalui kata-kata dan ia tahu itu tak cukup berhasil.

Ditengah usahanya membujuk ibunya agar berhenti menangis, ia melihat Amy di depan pintu bersama empat orang penjaga. Amy membawa nampan berisi empat cangkir minuman yang langsung diterima oleh orang-orang itu.

Donghaepun buang muka. Sampai saat ini ia masih tak percaya bahwa Amy berada di belakang semua ini bersama Max. Dan sekarang Amy nampak bicara dengan hangat bersama orang-orang itu seolah ia tak punya dosa. Bagaimana bisa ia menaruh perasaan pada wanita seperti itu?

Amy begitu pandai merangkai kata dan menaklukannya. Ia berhasil diperdaya dan sialnya ia terlanjur mencintai wanita itu.

BUGGG

Ia menoleh ke asal suara dan terkejut melihat para penjaga pintu tumbang di depan Amy. Amy nampak menunduk untuk memeriksa semua kantung orang-orang itu. Tak lama, Amy mendapatkan kumpulan kunci dan ia langsung masuk ke dalam mendekati Donghae.

“Selagi Heechul ke toilet, sebaiknya kita lekas pergi dari sini. Semua penjaga itu sudah kuberi obat tidur,” ujar Amy cepat sambil berusaha mencari kunci yang benar untuk melepaskan borgol yang mengekang Donghae dan ibunya. Tapi baru saja borgol ibunya terlepas, Donghae menjauhkan tubuhnya.

“Rencana apalagi ini? Kau mau berbuat sok pahlawan?” tanya Donghae dingin. Amy pun diam sejenak. Tapi ketika didengarnya suara Heechul, ia pun mengabaikan itu lantas menarik paksa tangan Donghae untuk langsung membuka borgolnya. Begitu borgol terbuka, ia memegang bahu Donghae lantas menatapnya.

“Aku tahu kau membenciku. Aku sendiri tak berharap kau mau memaafkanku. Tapi sekarang, yang terpenting adalah kita harus pergi dari sini dan membawa ibumu ke rumah sakit.”

Mendengar kata ibu, Donghae langsung sadar bahwa ibunya memang harus segera dirawat karena luka disekujur tubuhnya. Maka dengan mengesampingkan keraguannya, ia memapah ibunya untuk keluar bersama Amy. Namun, belum sampai mereka ke depan pintu, Heechul sudah berdiri disana.

“Oh, jadi begini cara kerja rekanku?”

Amy terdiam.

“Sudah kuduga. Kau tak seperti yang Max kira.”

Amy dan Donghae masih diam. Donghae pun menghitung langkah Heechul dengan baik. Pada langkah ke lima sebelum Heechul menyerangnya, ia sigap mendorong ibunya kepada Amy lantas menahan kepalan tangan Heechul.

“Harusnya kau tidak lupa bahwa aku pernah mematahkan tanganmu,” ujar Donghae pelan. Heechul yang tak terima segera melepaskan tangannya dan tanpa menunda langsung menyerang Donghae.

“Donghae!!” seru Lee Jae Gum melihat anaknya dipukul. Amy yang melihatnya juga tak bisa tinggal diam. Maka ia membawa Jae Gum keluar lebih dulu lantas ia sandarkan pada dinding.

“Bibi tunggu disini dan jangan kemana-mana.”

Jae Gum mengangguk. Lalu tiba-tiba tubuh Donghae terlempar keluar. Amy pun membantunya berdiri.

“Hanya segitu kemampuanmu?” tantang Heechul sambil membersihkan darah dibibirnya.

Donghae pun berdiri bersama Amy. Mereka memasang kuda-kuda yang sayangnya malah mendapat tertawaan dari Heechul.

“Kalian ingin melawanku? Baiklah. Kita lihat siapa pemenangnya.”

BUG

Amy berhasil memukul wajah Heechul lebih dulu. Heechul lalu membalas dengan sebuah tendangan telak diperut. Donghae pun maju. Ia dan Heechul bergelut dan saling pukul. Beberapa kali Donghae harus menghantam dinding dan berkali-kali pula Heechul mencium lantai.

Perkelahian semakin membabi buta, terlebih ketika Heechul mulai menggunakan benda apa saja yang ada disekitarnya untuk melumpuhkan Donghae. Mulai dari vas bunga, patung – patung kecil di atas meja sampai sebuah tongkat base ball yang entah bagaimana ada disana.

Tapi mendapat semua itu, Donghae sama sekali tak gentar. Ia masih bisa berdiri tegak, bahkan ia masih bisa tersenyum sebelum Heechul melayangkan tongkat base ballnya. Dengan sigap Donghae menahan tongkat itu, memutar baliknya lantas mendorong Heechul ke lantai.

“Sepertinya kau benar-benar lupa sedang berhadapan dengan siapa,” ujar Donghae pelan. Heechul yang tak terima berusaha keras untuk berdiri. Ia berpandangan dengan Donghae dan seketika kedua tangannya mengepal. Ia pun sudah akan maju kalau saja Amy tak lebih cepat memukul kepalanya dengan tongkat base ball yang tadi tergeletak dilantai.

BUGGG

Heechul jatuh dan langsung tak sadarkan diri.

“Cepat! Kita harus segera pergi!” seru Amy. Ia buru-buru kembali pada Lee Jae Gum lantas memapahnya menuruni anak tangga. Donghae mengekor di belakang.

Beberapa pelayan di rumah Max menatap mereka dengan bingung sekaligus takut. Ada yang berdiri dengan gemetar dan ada yang cepat-cepat berlari ke dapur. Ada yang nampak berusaha menghubungi seseorang, tapi begitu mendapat tatapan membunuh dari Donghae, ia menjatuhkan handphonenya. Amy juga memandang mereka dengan tajam dan memberi kode untuk enyah dari pandangannya. Dan akhirnyamereka berhasil masuk ke dalam mobil dengan aman.

“Donghae, kau jaga ibumu di belakang. Biarkan aku yang menyetir,” perintah Amy tegas tanpa perlawanan dari Donghae. Meski sesaat sebelum masuk ke dalam mobil Donghae nampak ragu, akhirnya ia mengikuti semua perkataan Amy dan fokus menjaga ibunya. Bagaimanapun ia sangsi akan tindakan Amy, ia memilih untuk mengabaikannya dan hanya memikirkan ibunya yang harus segera mendapat perawatan.

Namun, selama perjalanan menuju rumah sakit ia tak bisa duduk dengan tenang. Selain karena ibunya, ia juga tak mengerti kenapa Amy melakukan semua ini. Masih segar diingatannyaa bagaimana ia melihat Amy bersama Max membicarakan soal kebodohannya dan juga Kyuhyun yang berhasil diperdaya. Baru kemarin ia bersumpah untuk tak berhubungan lagi dengannya. Tapi sekarang Amy justru menolongnya dan sekarang membawa ibunya ke rumah sakit. Sebenarnya apa lagi yang disembunyikan Amy? Apa ini bagian dari jebakan?

“Kita sampai.”

Donghae tersadar. Mobil sudah berhenti dan ia bisa melihat Amy turun sangat cepat lantas memanggil paramedis. Dalam hitungan detik dua orang pria datang dan membawa ibu Donghae masuk.

Sekali lagi Donghae dibuat bingung. Amy tidak nampak sedang bersandiwara. Wanita itu nampak benar-benar panik dan berusaha sekuat tenaga membantunya.

“Donghae?”

Amy mengguncang bahunya dan ia terkejut menemukan dirinya sudah berada di depan ruangan dimana ibunya sedang ditangani. Tapi ia lebih terkejut lagi karena sekarang ia bawa oleh dua orang perawat.

“Hey, apa yang ingin kalian lakukan?”

Amy menatapnya dengan tenang. “Donghae, kau tidak sadar kondisi tubuhmu?”

Donghae menunduk. Diperhatikannya sekujur tubuhnya lalu ia meraba kepalanya dan menemukan darah disana. Baiklah, ia tak sadar kalau tubuhnya memerlukan pengobatan. Ia sama sekali tak merasa sakit. Tapi ia tak bisa melawan. Dua orang perawat itu sudah membawanya masuk. Tepat sebelum pintu ditutup, ia menahannya lantas memandang Amy.

“Tetaplah disitu.”

****

“Bawa mobilnya lebih cepat!!!!!” seru Max pada supirnya. Ia pukul kaca mobilnya lalu ia acak-acak rambutnya sendiri. Kenapa semua menjadi kacau begini?

Sebelum ia tiba dilokasi transaksi bisnisnya, ia mendapat telepon dari anak buahnya bahwa polisi sudah mengepung lokasi tersebut dan tujuh puluh persen dari mereka tertangkap polisi beserta barang bukti yang berjumlah begitu banyak. Max tak habis pikir, darimana polisi tahu soal ini? Bukankah ia punya kolega disana yang bertugas untuk melindunginya jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi?

Sepertinya ia tak perlu lama-lama mencari penyebabnya. Ketika ia pulang dan hendak masuk ke dalam rumah, ia sadar bahwa mobil Amy tidak ada. Ia pun segera masuk, berlari menaiki anak tangga ke kamar ibunya dan darahnya semakin mendidih melihat orang-orangnya terduduk dilantai, sedangkan Heechul terkapar dengan darah mengalir dari kepalanya.

“Apa yang terjadi?” tanya Max sambil mengangkat tubuh seorang anggotanya yang tadi terduduk sambil memegangi kepala. Ia himpit tubuh kekar itu ke dinding lalu menarik kerah bajunya.

“Katakan apa yang terjadi!!!” tegasnya.

“Maafkan kami, Tuan. Tapi nona Amy berhasil mengelabui kami dan….”

BUGGG

Max langsung menonjok wajahnya sebelum pria itu selesai bicara. Ia masuk ke kamar dan hanya menemukan bekas tali pengikat.

“Bagaimana mungkin ini terjadi? Kenapa kalian bisa dibodohi oleh wanita itu?”

Tak ada yang berani menjawab. Dan setelahnya orang-orang itu beserta semua pelayan hanya bisa bersembunyi, menundukkan kepala dengan tubuh gemetaran. Max mengamuk dengan menghambur semua perabotan rumah. Suara pecahan benda kaca terdengar dimana-mana dan seorang pelayan tak berdosa menjadi pelampiasannya dengan mendapat pukulan betubi-tubi.

“Kalian semua kupecat. Keluar dari rumah ini!!!!”

Sementara semua orang sibuk berlari, Max mulai berusaha menenangkan diri. Ia berjalan cepat mengitari kamar lalu keluar menuju balkon.

Ia harus tenang. Ia harus segera berpikir. Berpikir dan berpikir!

Tapi belum sempat emosinya reda, ia sudah melihat tanaman-tanamannya yang rusak di bawah sana. Bahkan ada satu tanaman kesayangannya yang hancur bersama dengan potnya.

Baiklah. Jika ini yang diinginkan oleh Amy, maka artinya ia tidak akan menunda apapun lagi.

Kau yang mengajak perang. Lihat saja, foto dan video itu akan kusebar malam ini juga. Dan jika kau pikir aku sudah kalah, kau salah besar. Aku takkan melepaskan Donghae dan keluarganya dengan mudah.

Sebelum ia pergi, ia mendekati ibunya lebih dulu. Ia mengecup tangan ibunya lantas berkata, “Ibu tenang saja. Ini belum berakhir. Aku akan segera menyelesaikannya dan aku pasti akan membawa Cho Min Sook beserta keluarganya ke hadapan ibu dalam keadaan tidak bernyawa.”

Ia pun berdiri. Meski ibunya takkan pernah bisa menjawab, ia yakin ibunya setuju dengan apa yang ia lakukan.

***

Donghae keluar dari ruang rawatnya dengan hati-hati. Ia tak ingin membangunkan Amy yang nampak terlelap dikursi tunggu.

Sebenarnya ia tak boleh turun dari tempat tidur. Dokter menyarankannya untuk istirahat. Tapi semua orang juga tahu Donghae takkan pernah sepaham dengan dokter. Ia selalu merasa paling tahu dengan kondisi tubuhnya dan ia yakin ia baik-baik saja.

Ia pun duduk perlahan di sebelah kiri Amy. Dilihatnya kepala Amy yang jatuh pada sandaran kursi yang nampak begitu kelelahan.

Untuk sesaat tak ada suara. Donghae diam dengan pandangan yang kosong. Kepalanya ikut bersandar lalu perlahan ia menoleh ke kanan dimana Amy nampak damai dalam tidurnya.

Beberapa hari ini adalah hari yang berat untuknya. Kejutan datang tanpa jeda, banyak hal terjadi dan tak ada celah untuk sekedar menghela nafas dengan tenang. Kepalanya pusing, dadanya juga sakit. Dan penyebab semua itu adalah orang yang ada di sebelahnya ini.

“Amy…” bisiknya pelan. Dengan tangannya yang dibalut perban, ia rapikan helaian rambut Amy yang sebagian menutupi wajah itu. Dan setelahnya, tanpa sadar air matanya jatuh.

Disaat seperti ini, Amy nampak begitu polos. Amy nampak seperti orang yang beberapa bulan ini berada disisinya dan membawa perubahan positif pada dirinya. Ia seperti melihat Amy yang dulu. Yang ceria, yang penuh semangat dan pantang menyerah mendekatinya. Tapi setelah apa yang terjadi, masihkah ia bisa memandang Amy sepolos itu? Kenyataannya, wajah polos seperti itu yang sudah meluluhlantahkan hatinya.

“Kenapa kau melakukan semua ini?” tanyanya lirih. “ Kenapa kau harus datang dikehidupanku? Dan kenapa kau bisa mempermainkanku?”

Dadanya sesak. Ia luruskan pandangannya ke depan lantas memejamkan matanya sejenak. Ia bahkan masih merasakan nyeri didadanya tiap kali harus mengingat percakapan Amy dan Max.

Sebenarnya aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena kau sudah banyak sekali membantuku. Kau sangat luar biasa, Amy Lee. Kau adalah aktris yang hebat.”

“Terima kasih atas pujianmu, tapi aku tak membutuhkannya. Yang aku butuhkan adalah rekaman dan foto-foto itu. Kemarikan!”

“Eits, kenapa terburu-buru? Tidak ada dalam perjanjian bahwa aku harus menyerahkannya secepat ini. Tugasmu belum selesai.”

“Tugas apalagi? Aku sudah menuruti semuanya. Aku mendekati Donghae, aku membuatnya percaya padaku. Dia jatuh cinta padaku. Aku juga membuat Kyuhyun semakin menyukaiku. Aku bahkan membuat dua saudara itu saling benci dan aku sudah membantu banyak hal yang membuatmu berada pada titik ini. Kurasa aku pantas mendapatkan apa yang kau janjikan.”

Ia tersenyum pahit. Apapun alasan dibalik semua ini, ia tak peduli. Yang ia tahu, Amy sudah menjadikannya boneka yang bisa dipermainkan sesuka hati. Amy tak setinggi yang ia kira. Amy tak setulus yang ia simpulkan sebelumnya. Amy tak lebih dari seorang aktris.

Tapi….kenapa sekarang Amy disini? Membantunya?

“Donghae hyung??”

Ia menoleh ke kanan dan lekas-lekas ia menghapus air matanya.

“Kyuhyun?”

Dilihatnya Kyuhyun berjalan bersama Henry. Dan tak lama, Amy terbangun.

“Donghae? Kenapa kau disini? Bukankah harusnya kau dirawat?” tanya Amy yang belum menyadari kehadiran Kyuhyun dan Henry. Begitu mereka tiba dihadapannya, Amy langsung berdiri.

“Kalian?” Ia beralih pada Kyuhyun, “Kau sudah memindahkan ayahmu kesini?”

Kyuhyun tak langsung menjawab. Matanya tertuju pada Donghae dan juga pada perban yang ada dikepala, pipi, lengan dan telapak tangannya.

“Amy, sebenarnya apa yang terjadi? Henry sudah menjelaskannya padaku tapi…..tapi aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin Max melakukan semua ini? Lalu apa yang terjadi padamu dan juga……Donghae hyung?” tanya Kyuhyun yang sempat ragu untuk menyebut nama Donghae.

“Apapun yang kau dengar dari Henry, itu adalah benar. Aku yang menyuruh Henry untuk memindahkan ayahmu supaya Max tidak bisa berbuat sesuatu jika polisi gagal menangkapnya.”

Kyuhyun tersenyum tak percaya. “Aku masih tidak mengerti. Aku mengenal Max. Dia adalah-“

“Tunggu! Henry, kau sudah melakukan apa yang kuminta?” potong Amy sebelum Kyuhyun selesai bicara.

Henry mengangguk. “Yunho dan timnya sudah berhasil menggagalkan transaksi narkoba itu dan juga menangkap mereka. Tapi……”

“Tapi apa?”

“Yunho hyung tadi menelponku dan mengatakan bahwa tidak ada Max disana.”

Donghae dan Amy berpandangan serius. Jika benar Max lolos lagi, artinya sekarang Max berada diluar sana dan mungkin juga sadar bahwa Amy sudah membohonginya. Dan jika benar begitu maka….

“Henry! Amy!” seru seseorang dari kejauhan.

Mereka semua menoleh bersamaan dan menemukan seorang pria berkemeja yang berjalan cepat mendekati mereka.

“Hyung, bagaimana? Kau tetap tidak menemukan Max disana?” tanya Henry serius. Yunho menggeleng. “Tidak ada. Tapi…apa kalian yakin kalau Max pelakunya? Dia orang yang cukup punya nama. Dia pengusaha muda yang sukses dan dia tidak punya catatan buruk apapun.”

Amy dan Donghae tersenyum mengejek.

“Tunggu sampai aku menceritakan semuanya pada polisi, maka kalian akan percaya,” sahut Donghae dingin. Ia pun berpandangan dengan Yunho sejenak dan ia yakin Yunho belum lupa dengannya. Yunho tidak mungkin lupa dengan pria yang kerap keluar masuk penjara karena berbagai kasus yang dilakukannya.

Membuat keributan di sebuah cafe, kedapatan mabuk sambil mengendarai mobil temannya, kasus perkelahian di jalan beberapa bulan lalu? Ah, atau bagaimana dengan pukulannya dulu yang mengenai rahang Yunho hingga membiru? Yunho pasti ingat.

“Tunggu! Siapapun tolong katakan padaku bahwa ini hanya lelucon. Max tidak mungkin melakukan apa yang kalian tuduhkan. Dia temanku. Dia orang baik!” seru Kyuhyun yang yakin akan pandangannya.

“Ya, dia orang baik yang dulu menampungku. Dia menemaniku, dia menjadi temanku dan dia juga yang akhirnya menjerumuskanku pada barang sialan itu. Dan jika kau mau tahu kenapa aku ada disini, itu karena Max sudah melukai ibu dan sekarang ibu ada di dalam.”

Kyuhyun terdiam. Ibunya dirawat disini? Kepala Kyuhyun semakin pusing. Tadi Henry sudah menjelaskan bahwa Amy menyuruhnya untuk memindahkan ayahnya ke rumah sakit lain agar terhindar dari kejaran Max. Henry juga bilang ia diminta Amy untuk menghubungi polisi dan membocorkan transaksi narkoba yang akan dilakukan Max. Dan sekarang…….ibunya dirawat juga karena Max? Ia tak bisa menerima informasi sebanyak ini. Sulit baginya untuk percaya bahwa Max sudah melakukan itu semua. Tapi belum sempat ia bertanya lebih jauh, sekali lagi Amy menyela, “Kyu, dimana ayahmu?”

“Dilantai atas. Ada apa?”

“Ada yang menjaganya?” tanya Amy pelan. Kyuhyun, Henry dan Yunho berpandangan lantas berbalik cepat. Amy dan Donghae pun mengekor dan akhirnya bersamaan mereka masuk ke dalam lift. Begitu tiba dilantai yang dimaksud, mereka berlari menuju ruang rawat Cho Min Sook. Dari kejauhan, nampak dua orang polisi duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk. Yunho yang tiba lebih dulu langsung menyentuh bahu salah satunya. Dan seketika kedua polisi itu jatuh.

“Cepat periksa ke dalam!!” seru Yunho. Kyuhyun pun berlari paling cepat. Ia dorong pintu lantas memanggil ayahnya.

“AYAH!!”

Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada tempat tidur dengan tiang infusnya.

“Sial!! Bagaimana mungkin dia tahu kita ada disini?” tanya Amy pada siapapun yang mendengarnya. Ia pikir begitu ia berhasil kabur dari rumah Max, semua akan baik-baik saja. Max dan teman-temannya ditangkap polisi dan masalahpun selesai. Namun kenyataannya tak segampang itu. Sekarang ayah Kyuhyun dan Donghae menghilang dan sudah pasti ini adalah ulah Max.

Sementara Donghae dan yang lain sibuk dengan pikiran mereka sendiri, Yunho nampak sibuk dengan handphonenya. Lalu tak lama, beberapa orang yang berpakaian sama sepertinya datang.

“Kami akan memeriksa cctv dan memeriksa semua orang. Kami juga menutup semua akses masuk dan keluar,” ujar salah satunya. Donghae mengenalnya dan pria itupun sempat menaikkan alis saat menyadari kehadirannya.

“Kalian semua tetap disini, jangan ada yang bertindak nekat. Aku dan polisi lain akan menyelidiki ini secepat mungkin,” ujar Yunho dengan tergesa-gesa lantas ia pergi dengan teman-temannya.

“Dia menyuruh kita diam? Asal kalian tahu, kinerja mereka tak sehebat yang kalian bayangkan,” kata Donghae acuh. Kyuhyun dan Amy memandangnya, tapi ia tak peduli. Ia duduk disebelah polisi yang masih pingsan itu lantas menaikkan satu kakinya.

“Jadi benar ini semua adalah perbuatan Max?” tanya Kyuhyun. Donghae yang mendengarnya tertawa pelan.

“Kutebak, kau juga tidak tahu siapa wanita yang berdiri di sebelahmu itu,” celetuk Donghae sinis.

Kyuhyun menatap Amy cepat.

“Apa kau tidak bingung kenapa sejak tadi ialah yang nampak cukup paham soal Max? Tentu Amy punya jawaban yang masuk akal,” tambah Donghae yang berhasil membuat Amy gugup.

“Hyung! Apa yang kau katakan sejak tadi?”

Donghae diam. Ia malas meladeni Kyuhyun.

“Hyung, aku bertanya padamu!”

“Dia benar, Kyu. Aku memang tahu banyak soal Max. Karena aku….”

Amy menggantung kalimatnya. Ia tak yakin punya nyali untuk menjelaskan kebodohannya di depan Kyuhyun. Bagaimana jika setelah ini Kyuhyun akan membencinya seperti Donghae?

“Kenapa kau tidak berani mengatakannya?” tanya Donghae. “Apa perlu aku yang mengatakan pada Kyuhyun apa yang sudah kau lakukan?”

Amy tak tahan. Ia pun duduk di samping Donghae dengan kepala tertunduk. Di depannya, Kyuhyun menunggu dengan rasa penasaran yang tinggi. Dan setelah hening beberapa detik, Amy mengangkat wajahnya menatap Kyuhyun.

“Aku bekerja untuk Max.”

Kyuhyun terpaku. Kinerja otaknya sedang tidak bagus. Ia tak paham dengan maksud dari kata bekerja. Tapi jika benar Max seburuk yang semua orang katakan, apakah berarti Amy…..

“Beberapa bulan lalu setelah aku mengikuti acara peluncuran albummu, tak sengaja aku bertemu dengan Max. Awalnya aku tak merasa aneh. Tapi beberapa hari kemudian dia mendatangiku dan menawarkan kerja sama.”

Kyuhyun masih berdiri, mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh Amy. Ia belum mendengar lebih jauh, tapi belum apa-apa ia sudah merasa tak sanggup berdiri. Ia tak yakin dengan apa yang akan ia dengar lagi.

Sementara di sebelah Amy, diam-diam Donghae ikut mendengarkan. Meski sebelumnya ia berkata sudah tak peduli, nyatanya ia tetap ingin tahu alasan dibalik perbuatan Amy.

“Max memperlihatkan video serta foto-foto perselingkuhan ayahku. Menurut Max, ia bisa langsung mengirimkan bukti itu ke media dan dengan cepat ayahku akan kehilangan segalanya. Tapi selain itu, hal yang paling aku takutkan adalah ibuku. Karena dulu ketika ibuku mengetahui ayahku berselingkuh, ibuku melakukan percobaan bunuh diri. Dan karena itu, aku tak mau hal yang sama terulang. Jadi……dengan terpaksa aku menuruti semua perintah Max.”

Kyuhyun tersenyum pahit. Amy tak pernah cerita soal kondisi rumah tangga orang tuanya. Ia pikir selama ini hanya ia yang menyembunyikan masalah keluarganya.

“Max memintaku untuk mempermainkan kau dan Donghae. Aku jadi lebih sering ke rumah sakit untuk menarik perhatian Donghae. Aku juga sengaja membuat kau cemburu pada Donghae sehingga hubungan kalian memburuk.

“Itulah kenapa aku sama sekali tak menolak saat ayahku dan ayahmu berinisiatif untuk menjodohkan kita. Karena sebenarnya aku sudah tahu Max memang akan memancing ayahmu untuk berpikiran seperti itu. Semua itu agar Donghae terluka dan kembali ke kehidupannya yang lama. Dan sesuai keinginan Max, Donghae membuat pesta pertunangan kita berantakan. Semuanya….berjalan sesuai rencana.”

Kyuhyun merasa kedua kakinya lemas. Ia berjalan mundur hingga menabrak dinding. Di sampingnya, Henry juga terdiam. Henry tak bisa berkata apa-apa. Sedangkan Donghae memejamkan matanya.

“Jadi….selama ini…kau….” Kyuhyun tak sanggup mengatakan apa-apa. Amy yang sadar maksud Kyuhyun pun lekas berdiri.

“Aku sudah mengatakan semuanya dan aku tidak minta untuk dimaafkan. Apapun alasannya, meski aku berlindung dibalik alasan untuk melindungi ibuku, tetap saja aku salah dan aku sudah membantu Max memuluskan rencananya.”

Tak ada yang bersuara, bahkan Henry sekalipun. Ia menelan ludahnya mendengar pengakuan Amy.

Donghae lalu berdiri, ia tak mau jadi korban lagi dengan melihat tangis penyesalan Amy. Ia tak mau diperdaya lagi. Ia pun berjalan dan memutuskan untuk menemui ibunya. Tapi kemudian ia sadar sesuatu. Ia pun langsung berlari, masuk ke dalam lift. Begitu tiba, ia berlari lagi menuju ruang rawat ibunya dan apa yang ia takutkan pun benar terjadi.

Ibunya…….tidak ada disana.

***

Yunho dan kawan-kawannya keluar dari ruang cctv. Ia sudah dapat rekamannya yang memperlihatkan seorang pria memakai seragam dokter dan menyetrum dua orang polisi yang berjaga di pintu ruang rawat Cho Min Sook. Setelahnya ia keluar membawa Cho Min Sook yang tak sadarkan diri dengan kursi roda. Dari beberapa cctv, ditemukan bahwa pria itu membawa Cho Min Sook dengan ambulans dan ia sudah mencatat nomor kendaraannya. Timnyapun sudah bergerak mencari ambulans tersebut.

Yunho juga ingin menyampaikan ini pada keluarga Cho Min Sook sekaligus untuk memperlihatkan rekaman cctv itu. Yunho tak bisa mengenalinya karena orang tersebut menggunakan masker. Tapi karena ia tak menemukan mereka di ruang rawat Cho Min Sook, ia pun turun mencari mereka di ruangan sebelumnya. Dan benar saja, ia melihat semuanya berkumpul disana.

“Kami sudah melihat rekaman cctv dan…”

Yunho menunda perkataannya begitu Donghae memandangnya tajam. Donghae tiba-tiba mendekatinya, menarik kerah kemejanya lantas mendorongnya ke dinding.

“Apa yang kau lakukan sejak tadi, huh? Sekarang bukan cuma pria sialan itu yang dibawa pergi, tapi juga ibuku! Sebenarnya apa yang kalian kerjakan?” teriak Donghae tepat di wajah Yunho. Donghae lalu melepaskan Yunho dan bergerak kesana kemari dengan gelisah.

Yunho yang gerampun berbalik memarahi orang-orangnya. “Bukankah kalian bilang semua akses keluar masuk sudah dijaga ketat? Kenapa ini bisa terjadi?”

Donghae tersenyum mendengarnya. Kepalanyapun semakin pusing begitu mendengar Kyuhyun tak henti bertanya. “Sebenarnya apa motif Max melakukan semua ini? Untuk apa?”

Dengan gesit Donghae menarik Kyuhyun dan mendorongnya persis seperti apa yang ia lakukan pada Yunho.

“Berhenti membuatku sakit kepala dengan terus bertanya. Biar kuberitahu, Max adalah anak dari hubungan ayahmu bersama wanita lain. Dan Max kembali untuk balas dendam atas penderitaan ibunya. Paham?”

Setelah mengatakannya, Donghae mendorong Kyuhyun keras. Ia sudah dikuasai oleh emosi. Dan melihat semua orang hanya berdiam diri, emosinya semakin tak terkendali. Ia akan bergerak sendiri menyelamatkan ibunya.

Ia pun bersiap pergi. Tapi baru beberapa langkah ia mendengar handphone seseorang berdering. Ia menoleh ke samping dan menemukan Kyuhyun menatap handphonenya dengan ekspresi terkejut.

“Max….”

Donghae langsung merebut handphone itu.

“Cepat katakan dimana ibuku!!!”

Terdengar tawa diujung sana.

“Ini kau? Jadi kau dan Kyuhyun sudah berbaikan?”

Donghae hampir saja melempar handphone itu kalau saja Kyuhyun tak lebih cepat merebutnya kembali.

“Max, ini aku,” ujar Kyuhyun dengan lebih tenang.

“Oh, Kyu? Apa kabar? Maaf kalau kau harus tahu semuanya secepat ini. Harusnya berita buruk ini bisa ditunda. Tapi karena wanita penghianat itu, aku terpaksa bergerak lebih cepat.”

Kyuhyun memandang Amy sejenak kemudian kembali pada Max. “Apapun itu, sekarang katakan dimana ayah dan ibuku! Apa yang kau lakukan pada mereka?”

“Baiklah kalau kau sudah tidak sabar. Aku akan mengirimkan alamat dimana kau bisa menemukan orang tuamu. Tapi….jangan pernah melibatkan polisi. Aku tahu kau sedang bersama polisi sekarang. Bagaimanapun caranya, kau harus kemari bersama Donghae. Jika kau melanggarnya, akan kupastikan kau bahkan takkan sempat melihat tangis terakhir ayah dan ibumu.”

Sambunganpun terputus. Kyuhyun mengacak-acak rambutnya lalu menatap Yunho sebentar.

“Apa yang ia katakan?” tanya Yunho.

Kyuhyun acuh. Ia beralih pada Donghae. “Kita harus pergi.”

Donghae mengangguk. Mereka pun berjalan cepat. Namun, Yunho lekas menghalangi langkah mereka dengan merentangkan kedua tangan.

“Jangan berbuat nekat! Katakan dimana dia dan biarkan polisi yang bekerja.”

Donghae maju, tanpa basa basi langsung menonjok wajah Yunho. Ia dan Kyuhyun pun berlari. Dan sebelum mereka menjauh, Amy berusaha mengejar hingga mereka bertiga sama-sama masuk ke dalam lift.

“Kau?” tanya Kyuhyun saat melihat Amy masuk.

“Biarkan aku membantu. Biarkan aku menebus dosa-dosaku.”

Tak ada yang menjawab ataupun memberikan persetujuan. Tapi kenyataannya mereka sudah berada di dalam mobil Amy dan mereka melaju ke alamat yang sudah dikirimkan oleh Max.

****

Max membuka matanya. Tak sadar air matanya jatuh perlahan.

“Dia…ayah?”

“Iya, dia ayahmu.”

“Kenapa dia tidak tinggal disini?”

Max merasakan nyeri didadanya bertambah. Ia teringat kembali saat dimana ibunya pertama kali menceritakan tentang siapa ayahnya yang sebelumnya tak pernah ia lihat. Ia yang tadinya selalu bertanya-tanya dan berusaha berpikir positif mengenai ayahnya dalam sekejab berubah pikiran. Ayahnya tak sehebat yang ia kira. Ayahnya tak sebaik yang ia bayangkan. Ayahnya jauh berbeda dibanding dengan ayah teman-temannya. Ayahnyalah penyebab utama penderitaan ibunya. Ayahnya sudah menelantarkannya. Bahkan ia mulai ragu untuk menyebutnya ayah.

Saat itu ia belum cukup dewasa tapi ia sudah cukup umur untuk memahami apa yang membuat ibunya kerap menangis tengah malam. Dan akhirnya…ia bisa mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak bertindak adil padanya dan ibunya.

Sejak kecil ia tak didampingi oleh ayahnya. Ia hidup berdua dengan ibunya. Sejak kecil ia selalu menatap iri pada teman-temannya yang digendong oleh ayahnya atau ketika mereka pulang bersama. Ia juga ingat ketika diminta gurunya untuk mendeskripsikan sosok seorang ayah dalam beberapa paragraf. Bukannya mengerjakan, ia justru merobek kertas tugasnya lantas keluar dari kelas. Dan semua pun semakin buruk ketika ibunya pergi meninggalkannya.

Ia tak bisa menerima kenyataan. Ia menyangkal kepergian ibunya. Maka dari itu ia memutuskan untuk tidak memakamkan ibunya dengan normal melainkan mengawetkan jasadnya dan membiarkannya tetap berada di kamar. Dengan begitu, ia tak pernah merasa sendirian. Ibunya masih ada. Ibunya masih sering tersenyum padanya di atas kursi goyang yang menghadap ke televisi. Ibunya selalu ada saat ia butuh seseorang. Ibunya tak pernah tidur dan selalu menyambut saat ia pulang bekerja.

Dan sekarang penantian ibunya selama bertahun-tahun akan terbayar. Ia akan membawa jasad Cho Min Sook beserta keluarganya ke hadapan ibunya. Ibunya pasti akan bangga. Pasti!

Dilihatnya Cho Min Sook dan Lee Jae Gum yang duduk terikat dikursi. Kondisi mereka sama-sama baru sadarkan diri. Mereka nampak lemas dan kebingungan mendapati kondisi tubuh mereka dan juga lokasi dimana mereka berada. Max pun tersenyum. Bukan cuma karena ia begitu menikmati wajah bingung sekaligus takut mereka, ia juga senang melihat bom yang terpasang ditubuh mereka yang bisa meledak kapanpun sesuai keinginannya.

“Kau?” tanya Cho Min Sook dengan suara paraunya sambil menatap Lee Jae Gum. Wanita itu juga ingin bertanya tapi kemudian keduanya sama-sama menatap Max yang asyik duduk dikursi dengan satu kaki berada di atas paha.

“Max?” tanya mereka kompak. Max sampai bertepuk tangan pelan.

“Kejutan!! Bagaimana? Kalian senang dengan kejutan ini?”

Cho Min Sook dan Lee Jae Gum kompak berusaha melepaskan ikatan mereka. Namun, mereka segera menghentikan gerakan begitu sadar bahwa ada sesuatu ditubuh mereka.

Bom…..

“Jangan terlalu banyak tingkah atau bom itu akan meledak,” ujar Max dengan tenangnya.

“Max! Lepaskan Jae Gum dan anak-anakku. Kau bisa melakukan apapun terhadapku. Kau ingin membunuhku, menyiksaku. Aku tidak keberatan asal kau membebaskan keluargaku,” pinta Cho Min Sook dengan pelan dan hati-hati. Karena dilihatnya Max hanya tersenyum kecil, ia pun melanjutkan, “Aku tahu aku salah. Aku mungkin adalah pria paling buruk di dunia. Aku ayah yang paling menyedihkan yang pernah ada. Maka dari itu hukum saja aku, jangan hukum keluargaku. Jae Gum tidak tahu apa-apa sementara Donghae dan Kyuhyun…………..”

Cho Min Sook mengambil jeda sejenak. Ia saling tatap dengan Max dan Max nampak menunggu apa kelanjutan omongannya.

“Mereka adalah adikmu.”

Max membuang rokoknya, diinjaknya hingga hancur lalu ia menendang kursi tempat ia duduk sebelumnya. Ia lekas mendekati Cho Min Sook lantas menarik kerah bajunya.

“Dengar, aku bukan bagian dari keluargamu. Sampai kapanpun, aku…bukan…anakmu…yang artinya aku….bukan……saudara dari anak-anakmu itu!”

Max menjauh. Ia sudah akan menendang kursinya sekali lagi kalau saja tak mendengar suara mobil datang. Ia memberi kode pada Jae Gum dan Min Sook untuk diam. Ia tajamkan pendengarannya dan seketika ia tersenyum licik.

Sepertinya…………….mereka sudah datang.

****

“Disini?” tanya Amy pada Kyuhyun. Kyuhyun membaca pesan dari Max lalu memperhatikan sekelilingnya dengan teliti. Mereka berada di bekas pelabuhan di kawasan Yeosu. Ada banyak tumpukan kontainer tak terpakai serta mobil-mobil rongsokan. Ia juga bisa melihat sebuah ambulans yang sepertinya digunakan Max untuk menculik ayah dan ibunya. Tidak diragukan lagi. Inilah lokasinya.

Mereka bertiga pun turun bersamaan. Donghae melihat-lihat keadaan dan belum menemukan tanda-tanda kehadiran Max ataupun orang tuanya.

“Apa kau yakin Max tidak mempermainkan kita?” tanya Donghae. Kyuhyun menggeleng. “Aku yakin kali ini Max jujur. “

Kyuhyun melihat ke depan dan ia merasa bahwa ia bisa menemukan orang tuanya disana.

“Kita ke sana!” tunjuk Kyuhyun. Donghae pun mengangguk. Tapi sebelum ia pergi, ia berpesan pada Amy,”Kau tunggu disini. Seperti perintah Max, kami tidak boleh melibatkan siapapun.”

“Tapi-“

“Jika kau memang benar ingin menebus dosamu, maka tunggulah disini dan doakan aku dan Kyuhyun. Jika kami berhasil menyelamatkan orang tua kami, maka kau harus segera membawa mereka pergi. Jangan hiraukan kami.”

Kyuhyun terdiam mendengar perkataan Donghae pada Amy. Ia dan Donghae memang belum membuat kesepakatan apapun. Tapi ia setuju dengan ide itu. Dan masalah apapun yang sudah terjadi antara mereka, harus ia singkirkan sementara waktu demi keselamatan orang tua mereka.

“Kau mengerti?” tanya Donghae.

Amy mengangguk pelan. Donghae pun bergegas menyusul Kyuhyun. Namun, lagi-lagi ia berhenti ketika Amy memanggilnya. Ia berbalik. Dilihatnya Amy mendekat dan tanpa basa basi langsung mengecup bibirnya.

“Aku mungkin sudah banyak melakukan kebohongan padamu. Tapi satu hal yang selalu kukatakan dengan jujur.”

Donghae terpaku. Ia tak tahu harus melakukan apa selain menatap mata sendu Amy dan menunggu apa kalimat berikutnya.

“Aku mencintaimu. Dan itu adalah kenyataan yang takkan pernah berubah.”

Donghae merasa ia akan menangis sebentar lagi. Sebagian dirinya mengatakan bahwa sulit untuk mempercayai Amy, bahwa Amy sudah terlalu banyak menyakitinya. Tapi sebagian dirinya yang lain berkata bahwa kali ini Amy tak memberikan kebohongan dan bahwa ia harus mempercayai wanita yang ada di depannya ini.

Sementara Kyuhyun langsung buang muka melihat adegan tersebut. Sebisa mungkin ia mengalihkan pandangan dan pikirannya agar tak terganggu. Tapi percuma. Ia tetap merasakan ada bagian dadanya yang ditusuk dan itu oleh dua orang terdekatnya sendiri.

“Pergilah. Aku akan berjaga disini,” ujar Amy karena Donghae tak juga bicara. Donghae pun sadar lantas bergerak cepat mendekati Kyuhyun.

“Kau sudah melihat petunjuk? Apa Max tidak menghubungimu lagi?” tanya Donghae pada Kyuhyun. Kyuhyun menggeleng dan hanya memberi kode untuk terus berjalan.

Mereka berjalan pelan bersamaan melewati deretan kontainer. Kyuhyun mencoba untuk menelpon Max dan nada dering itupun menjadi penuntun mereka menuju lokasi yang tepat. Hingga beberapa menit kemudian, mereka menemukan orang tua mereka yang duduk terikat dikursi.

“Ayah!”

“Ibu!”

Seru keduanya bersamaan. Mereka pun langsung mendekat. Tapi tiba-tiba saja Max muncul di antara mereka dan menghalangi mereka. Saat itulah Donghae sadar ada yang tak beres dengan kedua orang tuanya.

“Max! Apa yang kau lakukan pada mereka? Kau menaruh bom?”

Kyuhyun terkejut mendengar pertanyaan Donghae. Ia pun ikut memperhatikan dan rupanya Donghae tidak salah melihat. Ditubuh kedua orang tuanya memang terpasang bom.

“Ada yang salah? Apa kalian harap aku akan menyerahkan mereka begitu saja pada kalian?” Max tertawa pelan.

“Max, kita bersahabat. Aku bahkan sudah menganggapmu sebagai kakakku dan aku-“

“Jangan pernah menganggapku sebagai saudaramu karena aku tak sudi diakui sebagai anaknya!!!” teriak Max yang menggema. Donghae dan Kyuhyun pun diam. Sama-sama mereka memberi kode pada orang tua mereka bahwa semua akan baik-baik saja.

“Baiklah, jadi apa maumu sekarang?” tanya Donghae to the point. Ia merasa tak perlu untuk bicara hal lain seperti Kyuhyun sebagai usaha mengubah pikiran Max. Ia tahu itu tindakan sia-sia.

“Pertanyaan bagus. Kau tahu benar apa mauku, Lee Donghae,” ujar Max sambil menyalakan rokok dari sakunya. Ia hisap rokoknya, ia keluarkan asapnya lantas tersenyum. Ia biarkan orang-orang di sekitarnya itu menunggu dengan tidak sabar.

“Seperti yang kalian lihat, ditubuh orang tua kalian terpasang bom. Bom itu bisa meledak kapanpun sesuai keinginanku karena aku memegang remote pemicunya.”

Max memperlihat remote kecil ditangan kirinya. Ia tunjuk tombol merah dan hijau yang menandakan bahwa hidup orang tua mereka tergantung dengan tombol itu.

“Tapi aku tidak akan meledakkan keduanya. Aku hanya akan meledakkan salah satu diantara mereka. Dan yang memilihnya adalah………………kalian.”

Donghae dan Kyuhyun sontak mengepalkan kedua tangan. Lee Jae Gum dan Cho Min Sook juga nampak terkejut. Dengan terbatuk-batuk Cho Min Sook berseru, “Kau gila, Max!!! Kau tidak perlu melakukan ini jika ini hanya caramu balas dendam atas perbuatanku. Kau bisa menghabisiku sekarang juga dan bebaskan semuanya!!”

Max tertawa keras. Ia nampak bahagia sekali melihat Cho Min Sook memohon seperti itu padanya.

“Itu bukanlah pilihan, wahai tuan Cho yang terhormat. Dan buat kalian…….” Max kembali pada Donghae dan Kyuhyun. Ia pandang keduanya dengan teliti.

“Aku ingin kalian melakukan duel.”

Donghae dan Kyuhyun berpandangan cepat. Kyuhyun diam-diam menelan ludahnya dan hampir berpikir untuk memukul Max. Tapi kemudian ia sadar bahwa itu adalah tindakan bodoh. Max bisa langsung meledakkan bom itu jika ia ceroboh.

“Kalian harus berduel dengan sungguh-sungguh. Siapa pemenangnya, maka dia berhak menentukan siapa yang akan diselamatkan,” tutup Max dengan santainya. Ia bisa melihat ada banyak keraguan dan kegalauan dalam mata dua bersaudara itu. Berita baiknya, itulah yang ia suka.

“Tidak ada pilihan lain?” tanya Donghae yang ia sendiri sudah tahu jawabannya. Tapi sungguh ia bukan sedang bertaruh dengan dirinya tapi dengan nyawa orang-orang terdekatnya. Ia mungkin benci ayahnya, ia juga tak punya hubungan baik dengan Kyuhyun, tapi bukan berarti ia akan dengan senang hati berduel dengan Kyuhyun. Ia tahu pasti dimana batas kemampuan adiknya itu. Kyuhyun bukan lawannya. Lalu jika ia memang menang…siapa yang akan ia pilih?

Ia meluruskan pandangannya dan melihat mata ibunya. Ibunya menangis tanpa suara dan ibunya menggeleng pelan. Lalu ia berpindah pada Cho Min Sook dan ia menemukan mata sayu yang seolah mengatakan bahwa ia tak perlu memikirkan hal lain selain keselamatan ibunya. Ya Tuhan…..apa yang harus ia lakukan?

“Sudah bisa dimulai? Aku tidak suka menunggu.”

Suara Max menyadarkan Donghae dan Kyuhyun. Secara bersamaan mereka bergerak lalu berdiri berhadapan. Kyuhyun yang sebelumnya mengenakan jaket mantel langsung melepasnya. Ia lepas satu kancing kemejanya lalu menggulung lengannya.

“Wow, kau nampak bersemangat sekali,” ejek Max yang seolah sedang melihat badut.

Tak lama, Donghae dan Kyuhyun bersiap. Mereka berpandangan dan mendengar hitungan mundur dari Max.

“5,………….4,……3,……..”

Donghae memejamkan matanya sejenak. Ia tak tahu apa pilihannya. Yang ia tahu, ia harus menyelesaikan permainan konyol ini. Semoga Tuhan memperlihatkannya jalan.

“SATU!!!”

“AAAA!!!”

BUG

Donghae diam saja menerima pukulan pertama dari Kyuhyun. Ia tak melawan.

BUG

Pukulan kedua dan ketiga mendarat tepat diperutnya. Berbeda dengan pukulan sebelumnya, kali ini Kyuhyun nampak tak main-main. Donghae pun mendongak. Ditatapnya mata Kyuhyun yang nampak menantang.

“Ayolah, Donghae. Aku tahu kemampuanmu,” seru Max yang membuat Donghae panas. Ia berdiri tegak. Ketika Kyuhyun mengarahkan kepalan tangannya, dengan cepat Donghae menahannya. Ia putar tangan Kyuhyun lalu melemparnya.

Sadar Donghae tak akan mengalah, Kyuhyun lebih mempersiapkan diri. Begitu sama-sama siap, ia menyerang Donghae. Donghae pun tak lagi diam. Ia melawan, menangkis, memukul balik hingga Kyuhyun jatuh.

Max bertepuk tangan melihat itu. “Bagus. Lanjutkan saja, Donghae. Kau tahu pasti kalau orang yang ada di depanmu itu selalu lebih beruntung. Dia disayang oleh ayahmu. Dia diakui oleh ayahmu. Dia bahkan mendapatkan apa yang tak pernah kau dapatkan. Kalian memiliki hak yang sama tapi kau tak pernah mendapatkannya.”

Donghae mengepalkan tangannya lebih kuat. Suara Max teringiang-ngiang dikepalanya. Ia pun tak bisa menahannya lantas dengan cepat menarik Kyuhyun untuk berdiri. Dengan membabi buta ia pukul Kyuhyun dan tak memberikan celah sedikitpun bagi Kyuhyun untuk melawan.

“Dia bukan adikmu! Dia sudah merenggut kebahagiaanmu!”

BUGG

“Hyung…”

“Donghae! Jangan lanjutkan itu!!!”

Seruan Lee Jae Gum membuat Donghae sadar dan menahan tangannya yang sudah berada tepat di depan wajah Kyuhyun. Kyuhyun yang nampak babak belur pun pasrah.

“Hentikan, Donghae! Jangan terpengaruh!!” seru Lee Jae Gum sekali lagi yang akhirnya berhasil membuat Donghae menurunkan tangannya.

“Oh, Lee Donghae. Kenapa kau diam saja? Habisi dia!!”

Donghae tak mempedulikan ocehan Max. Ia berikan kode pada Kyuhyun untuk balik menyerangnya dan dengan cepat Kyuhyun memukul wajahnya bertubi-tubi.

“Kerja bagus, Kyu! Tunjukan kemampuanmu yang sesungguhnya!”

BUGG

“Dia sudah merebut ibumu, Kyu! Kau selalu kalah olehnya. Ibumu hanya menyayanginya! Ibumu akan terus memilihnya, bukan dirimu! Dia juga sudah merebut Amy darimu. Amy tidak lagi melihatmu karena dia!!!”

Donghae hanya tersenyum saat menerima pukulan demi pukulan adiknya. Ia mulai merasakan nyeri dan sakit disekujur tubuhnya. Terlebih saat Kyuhyun memukul ke bagian luka yang sebelumnya sudah ada karena ulah Max dan Amy. Tapi ia tak bisa melawan. Ia tak bisa.

Ia pun menatap ke mata Kyuhyun saat Kyuhyun menarik bajunya. Dan ternyata…….Kyuhyun sedang menangis.

“Kyu….”

Kyuhyun diam menahan air matanya. Tangan sebelahnya sudah siap melayang lagi ke wajah Donghae, tapi ia tak melanjutkannya. Sedang di belakangnya, ada banyak suara. Ada Max yang menyuruhnya untuk menghabisi Donghae, orang yang disayang oleh ibunya. Lalu ada suara ayahnya, yang memohon agar ia tak mengikuti kemauan Max. Terakhir, suara ibunya yang menangis keras dan berkata bahwa apa yang dikatakan Max adalah bohong.

“Hyung….”

Donghae melihat setetes air mata Kyuhyun jatuh begitu saja. Mulut Kyuhyun nampak terbuka sedikit lalu meluncurlah sebuah kalimat yang diucapkan dengan sangat pelan.

“Jangan biarkan aku memilih antara ayah dan ibu. Aku tidak sanggup. Kalahkan aku….dan aku serahkan semua keputusan ditanganmu.”

Donghae terpaku. Kyuhyun sudah menurunkan tangannya lalu berjalan mundur.

“Lakukan, hyung. Selesaikan semuanya. Aku sudah sangat lelah,” pinta Kyuhyun untuk terakhir kalinya.

Donghae pun menarik nafasnya. Ia pandang wajah ibu, ayah, serta adiknya. Jika inilah pilihan terakhir, maka akan ia tuntaskan semuanya.

BUGG

Donghae memukul Kyuhyun. Berkali-kali Kyuhyun mencium tanah, maka berkali-kali pula Donghae menariknya lantas menyerangnya lagi. Kyuhyun sama sekali tak melawan. Ia pasrah, ia diam dan ia tersenyum ketika Donghae hampir menyelesaikan tugasnya. Maka ketika Donghae akan menumbangkannya, Kyuhyun memejamkan mata.

“Hentikan, Donghae!!!!”

BUGGG

Kyuhyun terjatuh. Wajahnya tepat menghadap ibu dan ayahnya. Meski penglihatannya memburuk, samar-samar ia melihat ibu dan ayahnya menangis. Ia juga melihat bagaimana Max menjadi satu-satunya orang yang bisa tertawa saat ini. Ia nampak sedang melihat pertunjukan drama yang berakhir bahagia.

Beberapa detik kemudian, bayangan ibu dan ayahnya semakin buram. Semua berubah menjadi putih. Dan dalam hitungan ke lima………..semuanya pun gelap.

“Kerja bagus, Hae. Sekarang kau kupersilahkan untuk memilih. Siapa yang akan kau selamatkan?” tanya Max sambil mendekati Jae Gum dan Min Sook.

Sementara Donghae masih menunduk. Belum usai rasa bersalahnya atas perlakuannya pada Kyuhyun, kini ia dihadapkan pada pilihan paling berat dalam hidupnya. Antara ibu dan ayahnya….manakah yang harus ia pilih? Adakah jalan lain untuk menghentikan Max?

Sejurus kemudian ia teringat dengan pesan Kyuhyun, bahwa ini adalah tugasnya, bahwa keputusan ada ditangannya. Maka setelah lama memejamkan mata, Donghae melihat ke depan dengan tegar. Ia tatap mata ibunya dan langsung saja ia menjawab pertanyaan Max.

“Lepaskan Cho Min Sook.”

Semua terhenyak. Cho Min Sook yang merasa disebut namanya sontak ingin bergerak. “Donghae, jangan memilihku! Selamatkan saja ibumu! Aku yang memulai kekacauan ini, biarkan aku mati!”

Donghae tak peduli. Ia acuhkan perkataan itu dan hanya fokus dengan ibunya. Ibunya tak mengatakan apa-apa, tapi ia bisa melihat seulas senyuman bangga diwajah itu.

“Apa aku tidak salah dengar? Kau memilih pria brengsek itu?” tanya Max yang sepertinya juga tak percaya dengan pilihan Donghae.

“Kau sudah mendengarnya, maka lepaskan dia,” ujar Donghae dingin.

“Baiklah. Aku akan melepaskannya.”

Max pun mendekati Cho Min Sook. Ia lepaskan bom dari tubuh pria itu lalu membuangnya ke laut. Setelah itu ia melepas ikatan yang melilitnya lalu membuka borgol ditangannya. Cho Min Sook yang sudah terbebas sempat memandang Jae Gum, tapi kemudian ia berjalan pelan mendekati Kyuhyun.

“Kau puas? Sekarang……….aku persilahkan kau mengucapkan kata-kata terakhir pada ibumu.”

Donghae tersenyum. Kini ia beralih pada Max. “Aku akan mengucapkannya……..tapi setelah kau mengalahkanku.”

Max mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Kita buat permainan ini menjadi lebih menarik. Kita berduel. Jika aku kalah, maka aku akan mati bersama ibuku. Jika kau yang kalah, maka kau harus menyerahkan diri ke polisi.”

Max menyeringai senang. Tanpa memberikan jawaban, ia maju mendekati Donghae lantas membuka jasnya, ia lepas juga kemejanya hingga otot-otot tubuhnya terlihat jelas.

“Kau benar. Kita buat duel ini menjadi lebih seimbang.”

Donghae tak mau kalah. Ia juga membuka kaosnya lantas melemparnya sembarangan. Tapi kemudian ia bukan fokus pada Max, melainkan pada jasnya. Kalau tidak salah, remote pemicu bom itu ada di balik jas tersebut. Beberapa meter di belakang Max, ia juga melihat Amy bersembunyi di balik sebuah mobil bekas. Ia dan Amy pun berpandangan. Ia memberi kode pada Amy dengan melirik jas Max. Amy mengangguk.

“Kau siap untuk kalah? Kuharap kau tak menyesal karena menantangku,” ujar Max dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Donghae tak gentar. Ia malah meledek Max.

“Justru aku ingin bertanya, apa nanti kau tidak akan menangis setelah kukalahkan? Tembok penjara itu sangat dingin, percayalah padaku.”

Max geram. Tanpa aba-aba ia menyerang Donghae lebih dulu. Mereka pun mulai berduel. Meski Donghae sudah mendapat banyak luka ditubuhnya, ia tak terlihat lemah sedikitpun di depan Max. Ia mampu menangkis bahkan menyerang balik pukulan Max. Dan sekalipun ia sudah lebih dulu bersimbah darah, ia tak terlihat akan kalah.

“Hanya segitu kemampuanmu, huh? Untuk seorang Max Changmin, hanya sampai disini?” tantang Donghae yang berhasil memicu kemarahan Max lebih besar lagi. Max pun maju dengan membabi buta. Ia berikan pukulan telak ke wajah serta perut Donghae secara beruntun hingga Donghae tak ada kesempatan memberikan serangan balik.

Max menggila. Ia berhasil membuat Donghae jatuh. Ia langsung menindih tubuhnya dan kembali memukul wajahnya berkali-kali.

“Apa kau sudah puas meluapkan kemarahanmu?” tanya Donghae yang berhasil menahan pukulan Max. Max menghentikan serangannya sejenak sambil mengatur nafas.

“Apa kau merasa bahagia melihat keluargamu menderita?” tanya Donghae lagi.

“Sudah kubilang kau dan semua yang ada disini bukanlah keluargaku!!”

“Kau tidak bisa menampiknya, Max. Bagaimanapun kau bilang tidak, kenyataannya adalah……dalam darahmu……..mengalir darah pria yang kau sebut brengsek itu.”

Max sudah akan memukul Donghae lagi, tapi lagi-lagi Donghae bersuara, “Sampai kapan kau menganggap dirimu begitu malang?”

Max diam.

“Kau tidak sadar bahwa aku iri padamu?”

“Jangan mempermainkanku!!”

“Aku tidak bohong, Max. Jika kau membenci kami atas penderitaan ibumu, aku minta maaf. Aku minta maaf karena terlahir sebagai anak dari pria itu yang sudah menyakiti ibumu. Tapi….tahukah kau jika aku sangat iri padamu? Kau tidak pernah hidup bersamanya, Max. Kau tidak tahu rasanya bagaimana hidup bersamanya. Kau tidak pernah merasakan tangannya yang panas. Kau tidak mengenalnya dan itu adalah hal yang membuatku iri.”

Max terdiam. Tanpa sadar ia melemah dan menurunkan kedua tangannya. Sementara di sisi lain, Cho Min Sook hanya bisa menangisi dosanya. Kyuhyun masih tak sadarkan diri dipangkuannya.

“Kau selalu mengatakan hidupmu lebih menyedihkan dibandingkan orang lain. Tahukah kau jika diluar sana masih banyak orang yang jauh lebih menderita dan menatap iri padamu? Kau punya ibu yang menjagamu dengan baik. Kau harus syukuri itu. Tapi tindakanmu dengan tidak menguburkannya dengan baik telah menyakitinya, Max. Kau melakukan kesalahan besar.”

Max membiarkan air matanya jatuh terus menerus. Tapi mendengar kata ibu, tubuhnya kembali menegang.

“Jangan bicara soal kesalahan dan kebenaran di depanku! Aku tahu kau hanya mengalihkanku supaya kau bisa menang, iya kan?” teriak Max tepat di wajah Donghae. Tapi Donghae malah tersenyum. Ia bahkan tertawa pelan.

“Kau sudah kalah, Max. Kau sudah kalah.”

“Apa maksudmu?”

Donghae berhenti tertawa lalu menunjuk ke belakang Max. Max pun mengikuti arah telunjuk Donghae dan ia terdiam menemukan Jae Gum sudah berdiri bebas bersama Amy. Amy membuang bom yang sebelumnya terpasang ditubuh Jae Gum.

“Kalian……….”

Max tak bisa berkata apa-apa. Ia pun baru menyadari bahwa ia sudah terperangkap jebakan bodoh Donghae. Jasnya ia lepaskan sedangkan remote dan kunci borgol ada disana. Ia pun tertawa sendiri.

“Hahaha…kau pintar sekali. Kuakui kau berhasil mengelabuiku,” ujarnya. Namun, dalam gerakan cepat ia kembali mengungkung tubuh Donghae. Dimulai dengan seringaian khasnya, ia menyerang Donghae.

BUGGGG

Donghae berhasil menghindar sehingga Max hanya memukul tanah. Ia pun berdiri dan kembali berduel dengan Max. Mereka seperti orang kerasukan dan tak mempedulikan keadaan sekitar. Donghae pun kali ini tak main-main. Ia bisa merasakan bagaimana pukulan Max bisa langsung menjatuhkannya. Tapi ia berusaha bertahan dan melawan.

“Kau pikir kau sanggup melawanku, huh?”

Max mendorong Donghae hingga punggung Donghae menghantam salah satu kontainer dengan kuat. Ia lalu memukul Donghae berkali-kali. Amy pun tak tinggal diam. Ia berlari mendekati mereka lantas menendang Max dari belakang. Max yang marah langsung berbalik dan memukul wajah Amy hingga Amy tersungkur.

“Jangan ikut campur, wanita penghianat!!!”

Donghae yang melihat hal itu seketika merasa mendapat kekuatan. Ia kepalkan kedua tangannya, ia kumpulkan semua tenaganya. Begitu Max kembali padanya, tanpa basa basi ia memukul wajah Max.

BUGG

Kali ini Donghae yang mengambil alih permainan. Max mundur berkali-kali, nyaris jatuh dan sudah babak belur dibuat Donghae.

“Aku berusaha untuk menyadarkanmu, tapi kau menolaknya.”

BUG

“Aku berusaha mempermudah jalanmu dengan menyerahkan diri ke polisi, tapi sepertinya kau terlalu bodoh untuk memahaminya.”

BUGG

“Jika ini yang kau inginkan, maka terimalah ini!”

“Angkat tangan!! Tempat ini sudah dikepung!!!”

Tangan Donghae yang sudah akan memberikan pukulan terakhir pada Max langsung terhenti. Ia memperhatikan sekitarnya dan ternyata sudah ada puluhan polisi mengelilingi mereka. Dan di belakangnya, Yunho berdiri mengarahkan senjata ke arah Max.

“Max Changmin, diam di tempat atau peluru ini akan menembus tubuhmu.”

Donghae melihat Max di depannya. Pria itu nampak tak punya kekuatan lagi untuk berlari. Dan sebelum Yunho berhasil meringkusnya, Max sudah tumbang.

*****

“Tuan, luka anda harus diobati.”

Donghae menyingkirkan tangan seorang paramedis yang hendak membawanya ke ambulans. Ia tak peduli dengan luka-lukanya. Itu urusan nanti. Yang terpenting adalah…..Ibunya sedang ditangani, ayahnya di bawa ke dalam ambulans dan Kyuhyun juga diobati dengan posisi duduk di pintu ambulans. Ia pun mendekati Kyuhyun.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun yang berkali-kali merintih karena ulah paramedis hanya tersenyum kecil.

“Aw….aw….aw…pelan-pelan!”

Donghae tertawa.

“Kalau kau bisa mengalahkannya, kenapa kau harus memukulku segala. Kupikir aku sudah mati,” gerutu Kyuhyun kesal. Donghae menepuk bahunya.

“Kalau aku langsung melawannya, maka kau tidak melakukan apa-apa, kau tidak berkorban sedikitpun. Lagipula aku tidak mengeluarkan kekuatanku yang sesungguhnya. Kau saja yang berlagak seolah-olah akan mati,” canda Donghae sambil mendorong lengannya yang sukses membuat Kyuhyun menjerit kesakitan.

“Hyung!! Itu sakit!!!”

Donghae acuh. Ia pun berbalik meninggalkannya lalu mendekati ibunya. Ia duduk di samping ibunya sambil memperhatikan para polisi yang sibuk memasang garis polisi serta mengumpulkan barang bukti. Ah….sepertinya untuk beberapa hari ke depan ia belum bisa hidup tenang karena akan dicecar banyak pertanyaan oleh polisi.

“Ibu bangga padamu,” ujar Jae Gum setelah mendapat perawatan singkat. Ia menyandarkan kepalanya dibahu Donghae.

“Ibu pantas kecewa karena tadi aku malah memilih ayah, bukan ibu. Aku minta maaf.”

“Tidak, sayang. Ibu tahu maksudmu dan kau tidak perlu minta maaf.”

Donghae menindih telapak tangan ibunya. Ia cium tangan yang sudah dibalut perban itu dengan penuh rasa sayang.

“Aku mencintai ibu……….lebih dari apapun di dunia ini,” ujarnya pelan. Jae Gum menangis lantas memeluk anaknya itu. Ia tak bisa menahan diri dengan tidak meluapkan kegembiraannya. Bukan hanya karena semua masalah sudah selesai, tapi juga karena Donghae benar-benar sudah berubah. Dulu, ia sering dianggap bodoh karena meyakini akan perubahan anaknya. Tapi sekarang….ia bisa memperlihatkan pada orang-orang bahwa anaknya bisa berubah dan bahwa apapun masih mungkin terjadi jika disertai usaha yang besar.

“Sudahlah. Sebaiknya ibu segera pergi ke rumah sakit bersama ayah dan Kyuhyun. Kasihan Kyuhyun, dia terus-terusan menjerit sejak tadi,” kata Donghae sambil menunjuk Kyuhyun. Jae Gum tersenyum lega. Satu hal lagi, sudah dua kali ia mendengar Donghae menyebut ayahnya.

“Ayah? Kau memanggilnya ayah?”

Donghae memandang Cho Min Sook yang kebetulan juga menatapnya. Tapi sedetik kemudian ia kembali menatap ibunya. “Aku akan berusaha,” jawabnya. Setelah meyakinkan ibunya masuk ke dalam ambulans, ia pun menjauh. Ia melihat Amy sedang berdiri di pinggir pelabuhan menatap lautan.

“Terima kasih,” ujarnya setelah berdiri di sebelah Amy. Amy yang terkejut secepat kilat mengelap pipinya. Donghae melirik sedikit.

“Kau menangis?”

“Aku tidak apa-apa,” sahut Amy sekedarnya.

“Aku tahu kau memang tidak apa-apa. Aku tadi bertanya apa kau menangis? Ah, tapi lupakan saja. Aku kemari karena ingin mengucapkan terima kasih. Karena bantuanmu juga Max akhirnya kalah.” Donghae melihat ke arah lautan di depannya. Angin yang berhembus membuat tubuhnya yang tak dilapisi apapun langsung merinding.

“Apa yang kulakukan belum bisa menebus dosaku.”

Donghae menoleh pada Amy. “Tidak ada yang bisa mengukur dosa seseorang. Tapi jika menurutmu kau masih berdosa, aku tawarkan satu cara untuk membuatnya menjadi lunas.”

Amy yang tertarik menatap Donghae. Mereka pun saling berhadapan dan Amy menunggu-nunggu apa yang akan dikatakan Donghae.

“Apa yang bisa kulakukan?”

Donghae tersenyum. Ia maju selangkah dan dengan lembut mencium bibir Amy. Ciuman yang berlangsung cukup lama itu diakhiri Donghae dengan sebuah bisikan ditelinga Amy.

“Menikahlah denganku.”

Amy terpaku di tempat. Belum juga ia menyembuhkan diri dari ciuman itu, ia sudah dibuat mati kutu dengan permintaan Donghae. Apakah ia tidak salah dengar?

“Kau tidak harus menjawab sekarang karena sepertinya aku setuju dengan pria jelek itu untuk ikut ke rumah sakit. Badanku mulai terasa nyeri,” keluh Donghae dengan santainya. Ia bersikap seolah ia tidak baru melamar seseorang. Ia pun bersiap pergi. Tapi kemudian ia berbalik, menawarkan tangannya pada Amy.

“Kita harus segera pergi. Udaranya tidak bagus untuk tubuhmu yang kurus itu.”

Awalnya Amy diam. Tapi melihat tangan Donghae yang sudah terjulur ke arahnya, akhirnya ia menerima tangan itu. Ia biarkan tangannya digenggam dan ia pun berjalan bersama Donghae dengan langkah ringan.

Donghae sendiri tak tahu apalagi yang ia temui di depan sana. Tapi dengan menggenggam tangan Amy, dan dengan senyuman ibunya disana, ia merasa siap menghadapi apapun.

*THE END*

2 Comments (+add yours?)

  1. silver
    Sep 27, 2016 @ 17:00:42

    Keren. ..thor d^^b yee.. tamat… happy ending pula.
    akhirnya max ke tangkep juga,yee..
    akhirnya donghae ama amy juga.~^O^~

    bikin afterstory dong! nasib kyu nya gmna? dia kan masih suka ama amy, trs hubungan donghae ama ayahnya gmna?

    *sorry br komen di part terakhirnya
    *sorry komennya kepanjangan

    Reply

  2. Monika sbr
    Oct 06, 2016 @ 18:12:10

    Akhirnya masalahnya bisa terselesaikan juga, dan berakhir bahagia. Tapi semoga aja kyuhyun bisa mendapatkan pengganti Ami.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: