I’m (Not) Happy

2016-08-29-22-48-23-2

Author:

Ilana Hawa

Tittle:

I’m (not) Happy

Cast: Cho Kyuhyun | Han Jihyun | Genre: Romance and sad| Lenght: Oneshot

Disclaimer:

Hai…aku balik lagi ^^ kali ini aku sedang iseng-iseng berhadiah membuat ff oneshot. Mianhae, karena aku ngegantungin ff The story of young CEOs hehe.. Semoga kalian tetap suka ya sama cerita yg kutulis. Sorry jika masih banyak typo dan mungkin feelnya belum dapet ^^ Enjoy!

***

 

   ‘Kau membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, namun kau juga menikam jantungku dengan sangat dalam’

 

_

 

“Han jihyun…ayo bangun.”

Aku mulai terusik dalam tidurku. Kedua alisku mengernyit ketika samar-samar ku dengar suara berat nan seksi yang sangat ku sukai. Aku juga mencium aroma menyegarkan yang sangat ku hapal dan selalu menjadi kesukaanku. Wangi parfum milik Cho Kyuhyun.

Aku membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali kemudian memfokuskan pandanganku pada satu objek di dalam kamar. Objek berupa kehadiran seseorang yang tak asing di mataku. Ya. Kyuhyun berada di dalam kamarku saat ini.

“Selamat pagi sayang. Tidurmu nyenyak?” Kyuhyun mengusap lembut pipiku dengan senyum yang membuatnya sangat tampan.

Aku mengangguk pendek. “Ayah mengijinkanmu masuk ke dalam kamarku?”

Kyuhyun itu kekasihku. Sedikit tak mengerti, kenapa ayah dan ibu memperbolehakan pria itu masuk ke dalam kamar putrinya. Kyuhyun tersenyum dan menarikku perlahan untuk bangun, membuatku bersandar pada kepala ranjang.

“Khusus untuk hari ini paman mengizinkanku masuk ke dalam kamar putri cantiknya. Kau tahu kenapa?”

“Apa? Kau menyuap ayah dan ibu dengan sesuatu?”

Kyuhyun menggeleng pelan lalu mendekatkan wajahnya padaku. Dengan jarak sedekat ini membuatku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Bola mata hitamnya yang bening, hidung mancungnya hingga bibirnya yang membuatku menahan nafas.

“Selamat ulang tahun sayang…” Kyuhyun mencium pipiku dengan lembut bahkan tanpa sadar nafasnya menerpa wajahku.

“Ulang tahun?” Aku mengerjapkan mataku, memandang bingung pada Kyuhyun yang terlihat mengulum senyumnya. “Aku berulang tahun hari ini?”

“Dasar bodoh.” Kyuhyun mendorong pelan dahiku dan membuatku terkekeh “Sekarang kau ucapkan permohonanmu setelah itu tiup lilinnya.”

Aku berjengit melihat pria itu menyodorkan satu birthday cake ke hadapanku, yang bahkan aku tidak menyadari keberadaan kue itu sejak tadi. Kyuhyun yang membawanya?

“Baiklah.” Sontak aku menangkup kedua tanganku dan memejamkan mata. “Semoga aku dan pria di depanku ini selalu bahagia dan selalu bersama sampai kapanpun. Amin.” Aku membuka mataku dan langsung meniup beberapa lilin yang menyala.

Kyuhyun tersenyum mendengarnya.

“Gomawo Kyu.” Aku mengusap lembut pipi Kyuhyun “23 tahun lalu, aku hadir di dunia ini dan melihat kedua orang tuaku pertama kali. Tapi hari ini, aku terbangun di hari kelahiranku, dan aku melihatmu pertama kali. Itu membuatku sangat bahagia.”

“Semoga kau selalu bahagia.” Gumam Kyuhyun sambil tersenyum dan mengusap puncak kepalaku.

Entah apa yang membuat kalimat Kyuhyun terdengar ganjal di telingaku. Kalimatnya begitu ambigu. Aku membuka mulutku hendak bertanya, namun ku urungkan saat kupikir itu hanya perasaanku saja.

“Kau tunggulah. Aku mau mandi dulu.” Aku menyibakkan selimut dan beranjak ke kamar mandi. Namun Kyuhyun mencekal pergelangan tanganku, membuatku berdiri di hadapannya yang masih duduk di sisi tempat tidur.

“Kau mau kemana? Kau melupakan satu perayaan lagi.”

“Ng? Satu perayaan lagi?”

Kyuhyun tersenyum lalu mengambil sesuatu dari balik punggungnya. Satu yang kurasakan saat melihat apa yang Kyuhyun sembunyikan sejak tadi adalah aku merasa wajahku merona. Aku merasakan wajahku memanas dan jantungku terus berdetak tak karuan.

“Selamat hari jadi sayang.” Kyuhyun memberikan satu buket bunga mawar padaku “24 bulan, 730 hari, 17.520 jam, 1.051.200 menit dan 63.072.000 detik.”

Aku tersenyum haru saat Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya. Demi tuhan, aku tidak tahu harus berkata apa, mengetahui Kyuhyun mengingat dengan jelas setiap waktu yang kami berdua lewati.

“Selamat hari jadi untuk kita. Maaf aku melupakannya. Kau tahu bagaimana bodohnya aku.” Ku tatap Kyuhyun dengan raut wajah bersalah. Aku merasa benar-benar bodoh karena melupakan hal penting seperti ini. Bahkan ulang tahunku pun aku tidak mengingatnya. Dasar ceroboh.

“Aku mengerti jika kau memang bodoh”

Aku mendelik sebal mendengar Kyuhyun mengiyakan jika aku memang bodoh. Pria itu tertawa pelan lalu bangkit dan berdiri di hadapanku.

Dia menangkup kedua pipiku. “Kau mandilah. Setelah itu temui ayah dan ibumu untuk sarapan pagi bersama. Arrachi?” Kyuhyun beranjak ke arah pintu namun ku cekal pergelangan tangannya. Dia menoleh lalu seolah bertanya dengan ekspresinya.

“Kau mau kemana? Kau melupakan satu hal.”

Kyuhyun tersenyum melihat aku melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan tadi.

“Apa?” Tanya Kyuhyun lembut.

Aku menghela nafas tanpa ku sadari. Pria itu benar-benar melupakannya atau ia hanya sedang mengerjaiku?

“Kau belum memberikanku ciuman selamat ulang tahun dan hari jadi kita. Kau melupakannya?”

Tahun lalu Kyuhyun langsung menciumku tepat setelah aku meniup lilin. Saat ini pria itu terlihat sedang berpikir namun tak lama ia tertawa pelan. “Sepertinya kali ini aku yang lupa.”

Kyuhyun kembali berdiri di hadapanku dan langsung membuatku memejamkan mata sambil tersenyum. Dadaku kembali berdebar setiap kali Kyuhyun akan menciumku. Aku mempoutkan bibir karena harapanku sia-sia. Menunggu hingga hitungan kelima yang kurasakan hanya sentuhan lembut yang mendarat di keningku.

“Kenapa? Kau mengharapkan aku mencium bibirmu? Kau lupa dimana kita sekarang? Kita di dalam kamarmu dan orang tuamu bisa saja masuk.”

“Tapi Kyu…” Aku berujar manja. Mungkin terdengar gila tapi aku menyukai ketika Kyuhyun menciumku.

“Mandilah. Setelah itu kita pergi jalan-jalan. Heum?” Kyuhyun mengacak lembut rambutku sebelum benar-benar keluar dari dalam kamar. Aku hanya menghela nafas pasrah lalu berlari ke kamar mandi.

***

Hari mulai berganti. Langit kota Seoul berubah kuning kemerahan dan hari akan beranjak malam. Berkeliling kota Seoul, pergi ke taman ria, menonton film hingga menikmati es krim di tepi sungai Han membuat kami berdua melupakan hari yang tak terasa mulai petang. Aku tengah asyik menatap pemandangan kota Seoul dari tempatku berdiri, Namsan Tower.

Aku sangat suka memandangi langit sore. Membuatku merasa bahagia dan membuatku merasa seperti kembali ke masa kecil dulu. Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Kyuhyun pergi entah kemana dan kurasa terlalu lama hanya untuk membeli minuman.

“Kemana dia?” Aku memutar kepalaku mencoba mencari keberadaan Kyuhyun di antara banyaknya pengunjung yang datang ke Namsan Tower. Tiba-tiba aku tersenyum memikirkan mungkin Kyuhyun tengah menyiapkan kejutan lagi untukku. Dasar bodoh.

“Kau akan memberiku kejutan apa lagi Kyu? Belum cukupkah hari ini kau membuatku menjadi gadis paling bahagia di dunia ini? Kyuhyun…aku sangat menyayangimu.” Aku bergumam pada diriku sendiri. Menutup wajahku yang merona merah dan jantungku yang kembali berdegup kencang. Rasanya seperti jatuh cinta untuk pertama kali.

Aku menghela nafas lalu kembali menoleh mencari Kyuhyun. Dan saat itulah mataku menangkap sosoknya yang tengah berjalan ke arahku. Aku tersenyum, melihat Kyuhyun menyembunyikan satu tangannya lagi di balik punggung. Kurasa benar. Kyuhyun menyiapkan satu kejutan lagi untukku.

“Kau dari mana saja? Aku menunggumu sejak tadi.”

Senyumku hilang saat ku lihat Kyuhyun hanya diam namun raut wajahnya sedikit berbeda.

“Ada apa?” Ku usap lembut wajahnya “Sesuatu terjadi padamu?

Kyuhyun menarik nafas panjang kemudian memperlihatkan sesuatu yang ia sembunyikan. “Untukmu…Han Jihyun.”

Aku mengerjap bingung, melihat apa yang Kyuhyun berikan padaku.“Bunga…tulip putih?”

Bukannya menjawab Kyuhyun justru berbalik memandang kota Seoul di kejauhan. Terdengar beberapa kali pria itu menghela nafas berat. Aku menatap bunga tulip putih di tanganku dan punggung Kyuhyun bergantian. Sejak kami berkencan, Kyuhyun tidak pernah memberiku bunga lain, selain mawar. Kenapa dia tiba-tiba memberiku tulip putih?

“Kau tidak suka?”

Aku mendongak dan tersenyum melihat Kyuhyun memandangku lalu berdiri disampingnya.

“Aku suka. Hanya saja…kenapa tulip putih? Di negara barat, bunga tulip putih itu melambangkan permohonan maaf yang dalam.” Aku menatap Kyuhyun lekat “Kau…sedang meminta maaf padaku?”

Aku beberapa kali menelan salivaku melihat bagaimana sikap Kyuhyun. Ia terdiam sambil tertunduk dalam. Tidak! Aku mencoba menghalau segala firasat buruk yang sikap Kyuhyun tunjukan saat ini.

“Han Jihyun…” Kyuhyun memegang kedua pundakku. Pancaran matanya berbeda. Bukan kebahagiaan karena telah menghabiskan waktu bersamaku, tapi yang kulihat dalam mata Kyuhyun hanya ada penyesalan dan rasa bersalah.

“Ng?”

“Kita akhiri semuanya. Aku ingin berpisah denganmu.”

Tidak bergerak, tidak berkedip, bahkan buket bunga tulip itu terlepas begitu saja dari genggamanku. Aku sontak menahan nafasku saat kalimat yang tak pernah terlintas dalam pikiranku akan Kyuhyun ucapkan.

“Kyu…”

“Aku di jodohkan…dan aku tidak bisa menolaknya.”

Aku menekan dadaku yang tiba-tiba terasa sesak karena menahan tangis. “Haruskah…haruskah kau mengatakan itu sekarang? Saat hari jadi kita dan ulang tahunku?”

“Aku tidak bisa menundanya lagi saat kulihat ibuku hampir bunuh diri! Aku tidak bisa melihat wanita yang kusayangi mengalami hal buruk Jihyun!”

“Lalu bagaimana denganku? Kau membiarkanku mengalami hal buruk? Kau menyakitiku…KAU MENYAKITIKU CHO KYUHYUN!!” Aku berteriak dan mendorong tubuh Kyuhyun yang bahkan tak bergeser sedikitpun. Ya. Aku tak memiliki kekuatan apapun lagi. Aku hanya bisa memukul pelan dadanya lalu mencengkeram bajunya sambil menangis

“Mianhae…” Kyuhyun memelukku. Erat dan semakin erat. Mengusap punggungku dengan lembut bahkan kurasakan pria itu mencium kepalaku. Walau sentuhannya tetap membuatku nyaman, namun ini hal terakhir yang bisa ia berikan padaku.

Dan semua perlakuan manis Kyuhyun membuat pertahananku semakin runtuh. Aku menangis dengan bahu yang berguncang hebat. Aku mengeluarkan semua yang kurasakan. Rasa marah dan kecewa pada takdir yang tiba-tiba menjungkir balikan kebahagiaanku.

“Jaga dirimu…dan selamat ulang tahun. Semoga kau selalu bahagia.” Kyuhyun kembali mencium keningku sebelum benar-benar pergi meninggalkanku. Meninggalkan semua cintanya padaku dan meninggalkanku sendiri dalam tatapan orang-orang yang memperhatikan kami sejak tadi.

“Aku tidak bahagia…Jika aku mengingat ini, aku tidak akan pernah bahagia.” Aku berbisik lirih memandang punggung Kyuhyun yang berjalan semakin jauh.

 

 

End

 

 

 

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. esakodok
    Sep 30, 2016 @ 20:02:31

    hah…kyuhyun..knapa dia g mencoba nnempertahankan cintanya dulu..pendekatan baek baek k ibunya…jihyun…baru aja bahagia langsung terpelanting ke dasar jurang

    Reply

  2. alifia
    Oct 02, 2016 @ 07:40:34

    Ih sakit jadi jihyun tapi harus lanjut nih masih ngegantung ff nya Thor

    Reply

  3. Monika sbr
    Oct 06, 2016 @ 18:28:28

    Kalau pada akhirnya diputusin kayak gini, kenapa juga kyuhyun harus repot membahagiakan jihyun dihari ulang tahunnya?? Jadi kasihan sama jihyun.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: