Seven, Ten, and Thirteen.

seven-ten-and-thirteen

Title: Seven, Ten, and Thirteen

Author: nchuhae

Main Cast: Lee Donghae, Kim Youngwoon, Shin Donghee

Length: Oneshot, 6k words

Genre: Drama, Angst, Slice of Life, Kid!AU

Rating: PG-13

***

Donghae mengayun tungkai menyusuri sebuah jalanan sempit dan ramai yang terletak di dekat pasar, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Seluruh bagian kiri wajahnya terasa sakit setiap kali ia berusaha untuk mengerjap. Sisa-sisa pemukulan yang dilakukan dua orang hyung-nya masih membekas di sana. Kaki kanannya kaku, nyaris tidak bisa ditekuk karena sudah beberapa kali patah dan tidak pernah ditangani dengan baik.

Lengan kanannya juga hampir sama. Dia ingat, belakangan nyaris tidak pernah menggunakannya. Lengan itu masih dibebat kain kasa yang kini sudah berubah warna karena tidak pernah diganti sejak pertama kali dipasang oleh pengurus panti, tak lama setelah ia didapati tergeletak di bukit belakang asramanya seminggu lalu. Tapi semua rasa sakit yang dialaminya mendadak hilang saat toko itu sudah tampak olehnya, sebuah toko roti di ujung jalan.

Bangunan itu jauh dari kata luas. Di depannya tampak sebuah boneka setinggi badan, berbentuk serupa koki gendut yang tersenyum lebar sambil mengangkat talang kecil berisi roti. Di bagian dada boneka itu, ada tulisan yang dicetak dengan huruf bersambung, memperlihatkan nama toko dan tahun berdirinya. Bagian depan toko sengaja tidak ditembok, hanya ada dinding dan pintu kaca yang membatasi ruangan tak seberapa luas itu dengan jalan setapak yang biasa dilalui para pejalan kaki.

Mengikuti aroma roti yang sedang dipanggang, Donghae berjalan terpincang-pincang mendekati tujuannya. Di tangan kirinya yang masih berfungsi dengan baik, Donghae menggenggam empat keping uang logam yang tampak sudah kusam karena sudah terlalu sering berganti pemilik. Bagi banyak orang, keping-keping berwarna perak pudar itu mungkin tidaklah berarti, tapi hal sebaliknya berlaku pada Donghae. Sekeping saja uang itu berkurang, maka dia tidak akan bisa memperoleh roti kesukaannya. Pemikiran itu membuat dia mengeratkan genggamannya, menjaga agar keempat benda itu tidak tercecer satu pun.

Ada aroma manis yang menyapa indra penciuman Donghae saat dia sudah berdiri di depan jejeran talang besar di mana puluhan roti beragam rasa dipajang penjual untuk menarik minat para calon pembeli. Ada roti bertabur abon, sayuran, sosis, keju, dan cokelat dengan beragam bentuk di sana, tapi perhatian Donghae tercuri oleh sebuah roti bulat berwarna hijau yang menguarkan aroma pandan. Dia menelan liur yang entah sejak kapan membanjir di mulutnya. Jaraknya dengan makanan itu kini hanya dibatasi oleh kaca tipis etalase toko.

Menempelkan lengan kirinya ke arah pintu kaca, Donghae mendorong pintu itu. Tidak ada ucapan selamat datang yang diterimanya. Yang ada hanya tatapan sinis dari beberapa pengunjung toko, juga tatapan jijik dari beberapa orang sisanya. Donghae tidak peduli. Dia sudah biasa diperlakukan seperti itu.

Dia menyeret kakinya mendekati satu rak di mana roti pandan kesukaannya terletak. Pria muda yang kira-kira berusia beberapa tahun lebih tua darinya, yang kebetulan berdiri di sana sambil memegang sebuah talang di tangan kiri dan penjepit di tangan kanannya, langsung bergeser dan memandangnya dengan risih. Donghae tidak menghiraukannya. Dia hanya ingin mengambil roti dan menuntaskan lapar yang sudah seharian menggerogoti perutnya.

Roti itu mengembang dengan sempurna. Tepat di bagian tengah, sang koki memotongnya dan mengoleskan krim dari gula dan mentega putih. Di atasnya, ada serbuk gula yang menempel, juga dua buah cokelat berbentuk pipih yang sekilas seperti mata yang sedang melotot lucu. Dengan melihatnya saja, Donghae sudah bisa membayangkan bagaimana sensasi yang akan dialaminya ketika makanan hijau yang tampak menggiurkan itu beradu dengan indra pengecapnya.

Donghae memindahkan uang logamnya ke tangan kanan. Dia sudah tidak terlalu butuh tenaga lagi untuk menggenggam benda itu. Tangan kirinya yang berfungsi dengan normal lebih baik dia gunakan untuk memegang rotinya. Menjulurkan tangan, Donghae bersiap mengambil makanan itu dan membawanya ke kasir.

Tangan Donghae tidak pernah berhasil menyentuh makanan yang diidamkannya itu. Sepasang tangan lain sudah terlebih dulu hinggap di bahunya, menarik paksa tubuhnya keluar dari toko dan mendorongnya hingga terjerembab di jalan.

“Pergi dari sini, Bajingan! Kau hanya akan membuat semua pembeliku kabur.” Suara berat itu terdengar membentaknya, disusul suara pintu yang dibanting dengan kasar, serta bisik-bisik penuh rasa ingin tahu dari orang-orang yang kebetulan lewat.

Ada gelombang rasa sakit tidak terperikan yang kembali menghantam tubuh kurus Donghae saat itu. Dia terjatuh tepat di bagian di mana tubuhnya terluka paling serius. Tangan dan kaki kanannya yang sebelum ini memang sudah memberinya rasa sakit yang tidak sedikit, kini semakin berdenyut, mendatangkan nyeri tidak karuan yang sempat membuatnya berpikir dia mungkin tidak akan bisa menggunakan bagian itu lagi kelak. Bahkan aroma manis roti sudah tidak lagi bisa menjadi anastesi baginya.

Tapi Donghae tidak ingin menyerah. Dia sudah melakukan perjuangan besar untuk bisa sampai ke tempat ini. Dia hanya ingin membeli roti itu. Dia sudah menabung. Pemilik toko roti tidak perlu tahu betapa susahnya dia mengumpulkan empat keping logam itu, yang jelas dia sudah punya uang sekarang.

Oh, tunggu dulu. Uangnya!

Donghae melemparkan pandangan ke arah tangan kanannya yang tertindih saat jatuh tadi. Tangan itu terbuka, dan uangnya sudah terlepas dari sana. Panik, Donghae menoleh ke kiri dan ke kanan. Matanya menyipit, aktif memindai jalan, berharap bisa segera menemukan kepingan uang logamnya dan kembali ke toko itu untuk membeli roti kesukaannya.

Bukan hal mudah bagi Donghae untuk melakukan itu. Jalanan di sekitarnya sudah kembali ramai setelah sebelumnya saat ia diusir oleh pemilik toko roti, orang-orang sengaja berjalan agak jauh darinya. Dia menemukan keping logamnya yang pertama setelah mencari hampir lima menit. Seseorang kebetulan menyenggol tubuhnya dan membuat pandangannya tertuju pada kisi-kisi saluran air. Logam bulat yang kusam itu tergeletak hanya beberapa senti dari lubang saluran air. Kesadaran dengan cepat menghampiri Donghae, dan di saat yang hampir bersamaan mengiris hatinya. Kepingan logamnya yang lain mungkin sudah menggelinding sedikit lebih jauh hingga akhirnya jatuh ke dalam saluran air. Dia cepat-cepat menyeret tubuh remuknya dan memungut uang itu sebelum seseorang tidak sengaja menendang dan menjatuhkannya ke saluran air. Setidaknya memiliki satu uang logam masih lebih bagus daripada tidak sama sekali.

Seseorang kembali menyenggol tubuh Donghae yang saat itu masih bersimpuh di jalan, membuat rasa sakitnya datang lagi. Tidak ingin terus-terusan seperti itu, Donghae mencoba berdiri, menyingkir dari jalan yang sesak itu.

Donghae sudah terbiasa dipukuli. Di panti asuhan tempatnya dirawat, dia adalah sasaran empuk segala bentuk penyiksaan. Setiap kali sumbangan dari para dermawan berkurang jumlahnya, penjaga panti akan melampiaskan kekesalan tak beralasannya kepada anak-anak yang seharusnya ia jaga. Donghae adalah salah satunya. Setiap kali Kangin dan Shindong—dua orang yang juga tumbuh di panti asuhan itu—merasa ingin memukuli seseorang, mereka akan mencari Donghae.

Mungkin karena Donghae penakut hingga tidak pernah berani melaporkan apa yang dialaminya kepada orang lain, mungkin juga karena dia kadang berharap di ujung pemukulan itu nyawanya bisa melayang dan dia bisa segera lepas dari penderitaan, dia selalu menerima begitu saja setiap kali bilah rotan atau bogem mentah menghantam tubuhnya yang ringkih.

Rasa sakit sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari hari-harinya. Tapi hari ini, rasa sakit yang dialaminya berbeda. Yang sakit bukan hanya tubuhnya, melainkan juga hatinya. Hati yang dikiranya sudah kebas karena terlalu banyak menderita itu ternyata masih bisa tersakiti lebih dalam. Lucunya, ini terjadi karena sepotong makanan dan tiga keping uang yang kini sudah tidak lagi dimilikinya.

Usianya tujuh tahun kala itu, dan yang ia inginkan hanyalah roti yang masih baru. Hanya sepotong roti. Apakah itu terlalu berlebihan?

***

Donghae tidak ingat sudah berapa lama dia berlari hingga paru-parunya kini serasa ingin meledak akibat kekurangan persediaan udara. Dia memutuskan menghentikan larinya, tahu bahwa jika dia memaksa untuk mengayun tungkainya lebih lama lagi, dia akan jatuh tak sadarkan diri karena kelelahan. Tubuhnya membungkuk dan kedua tangannya bertumpu di lutut, sementara mulutnya dibiarkan sedikit terbuka untuk memberi jalan pada udara untuk masuk.

Sekitar semenit kemudian, ketika laju napasnya sudah terasa netral, Donghae meluruskan tubuh dan mulai menggerakkan kakinya lagi. Dia berjalan lambat kali ini. Matanya awas mengamati tempat yang sekiranya bisa ia gunakan untuk bersembunyi. Donghae tidak tahu tentang seluk-beluk jalan yang melintang di depannya. Bahkan jika diingat-ingat lagi, dia tidak pernah mendatangi kawasan ini sebelumnya. Dia memang tidak terlalu memperhatikan jalan saat berlari tadi. Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana menjauh dari Kangin yang hari ini sedang marah besar, entah karena apa. Satu yang Donghae tahu, hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah menghilang dari panti jika tidak ingin menjadi sasaran kemarahan hyung-nya itu.

Dia sampai di sebuah lorong sempit di antara rumah-rumah penduduk. Lorong itu lebarnya hanya sekitar satu meter. Jika ada dua orang dewasa berjalan bersamaan di lorong itu, bahu mereka pasti akan saling menempel saat berpapasan. Jalanan itu gelap dan bau karena banyaknya sampah yang menumpuk di mulut lorong. Sekilas Donghae juga melihat tikus-tikus got berlarian dari satu tong sampah ke tong sampah lainnya untuk mencari makanan.

Itu sama sekali bukan tempat yang nyaman untuk dimasuki, tapi bagi Donghae, itu adalah tempat persembunyian yang pas. Kalaupun Kangin berhasil mengejarnya sampai ke sini, Donghae yakin pria yang lebih tua dua tahun darinya itu tidak akan menyangka bisa mendapati dirinya di dalam lorong sempit tersebut.

Donghae melangkah sedikit lebih jauh ke dalam lorong, hendak mencari tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah berlari. Di dekat sebuah tong berwarna biru di mana sampah-sampah plastik biasa dibuang, dia menghentikan langkah. Sebuah botol minuman yang masih terlihat penuh menarik perhatiannya. Donghae mengambil botol plastik berukuran sedang itu, membuka penutupnya, dan tanpa berpikir panjang langsung meneguk isinya. Rasa manis yang berasal dari minuman berwarna keunguan di dalam botol itu langsung memenuhi permukaan lidahnya. Donghae tidak pernah memakan anggur sebelumnya. Pengurus panti tidak pernah memberikan mereka makanan seperti itu. Tapi setelah mencicipi minuman yang baru saja diteguknya, Donghae langsung memutuskan bahwa buah bulat itu ternyata sangat lezat. Suatu saat nanti, jika dia sudah punya banyak uang, dia akan membeli kebun anggur yang luas. Pemikiran demikian berhasil menghadirkan seulas senyum di sudut bibir pemuda tanggung itu.

Donghae melanjutkan langkah sedikit lebih ke dalam. Dengan asal, dia menyambar sekotak kardus bekas di antara tumpukan sampah yang dilaluinya. Kardus itu berisi kertas-kertas yang tidak Donghae pahami isinya. Setelah mengeluarkan semua isinya, Donghae melepas selotip yang melekat pada permukaan kardus itu dan melipatnya sedemikian rupa hingga terlihat seperti tikar.

Di atas tikar barunya, Donghae duduk sambil meluruskan kakinya yang pegal. Punggungnya disandarkan pada dinding bata yang membatasi lorong sempit ini dengan bangunan di sebelahnya sedangkan tangannya disedekapkan di depan dada. Aroma menusuk dari sampah di mulut lorong pun berangsur berkurang. Donghae berpikir itu mungkin karena indra penciumannya sudah mulai terbiasa dengan bau tidak sedap itu. Dia memutuskan bahwa tempat itu ternyata tidaklah terlalu buruk. Memejamkan mata, Donghae melepas lelahnya sambil membayangkan kebun anggur yang kelak akan dimilikinya.

Usianya sepuluh tahun kala itu, dan baginya, kenyamanan adalah ketika dia bisa bebas dari ancaman pemukulan oleh Kangin, tidak peduli jika itu harus dibayar dengan tidur dalam lorong bau dan hanya beralas kardus bekas.

***

Kalau bisa memilih, Donghae pasti ingin memiliki hidup yang normal, bersama orang tua dan saudara yang akan selalu melindunginya. Kalau bisa memilih, saat ini dia pasti sedang berada di sekolah layaknya anak-anak lain seusianya, belajar dari guru-guru yang menyayanginya, bermain bersama teman-teman yang baik kepadanya. Dia ingin bisa bebas bemain bola, tanpa takut bajunya kotor dan kena pukulan rotan dari penjaga panti. Dia ingin bisa mengunjungi tempat-tempat indah seperti yang pernah dilihatnya di halaman kalender yang terpasang di ruang kerja pengurus panti. Dia ingin mempunyai teman-teman yang menyenangkan, yang akan bertukar cerita dan candaan bersamanya.

Tapi takdir tidak pernah membiarkan Donghae memilih. Karena seandainya bisa, dia pasti tidak akan terlahir dan tumbuh besar di panti asuhan tanpa tahu siapa keluarganya. Dia pasti tidak akan terperangkap dalam tubuh tak berdaya yang selalu menjadi sasaran empuk pemukulan orang-orang yang bahkan tidak terlalu dikenalnya. Dia juga pasti tidak akan bersusah payah mengusung tumpukan koran di tengah padatnya keramaian stasiun kereta api bawah tanah dan menawarkannya kepada orang-orang yang melintas.

“Koran, Tuan,” ujarnya kepada seorang pria paruh baya yang kebetulan lewat. Dengan langkah terseok-seok, dia mencoba mengejar calon pembelinya itu. Ketika langkah mereka sudah sejajar, dia mengambil sebuah koran yang terlipat rapi dan menyodorkannya kepada pria itu. “Berita hari ini sangat heboh,” Donghae menambahkan. Wajahnya dibuat semeyakinkan mungkin. “Seorang pengusaha terkenal ditemukan tewas di kediaman istri simpanannya!”

Pria itu menghentikan langkah dan menatap Donghae dengan pandangan tidak bersahabat. “Apa menurutmu aku terlihat seperti seorang penggemar gosip murahan?” bentaknya sebelum ia melanjutkan perjalanan menuju gerbong kereta.

Donghae menghela napas panjang. Matahari di luar sana pasti sudah meninggi, sementara korannya masih belum terjual satu pun. Kalau keadaannya terus seperti ini, bosnya bisa marah besar seperti kemarin. Lebih parah lagi, pria tua yang sudah kehilangan sebagian besar rambutnya itu bisa benar-benar memecat dirinya. Donghae tidak ingin hal itu terjadi. Meski uang yang diperolehnya dari berjualan koran tidaklah banyak, tapi setidaknya dengan berjualan dia bisa punya alasan untuk meninggalkan panti setiap hari. Apalagi kalau semua korannya sampai habis terjual, dia bisa punya uang lebih untuk ditabung. Dengan uang itu, dia bisa mengontrak sepetak kamar di dekat stasiun. Dia bisa benar-benar meninggalkan panti.

Pemikiran itu membuat Donghae kembali bersemangat menjajakan korannya. Kepada seorang gadis muda yang memakai setelan resmi, dia menyodorkan korannya dan berkata, “Koran, Nona? Indeks saham pagi ini menguat! Beritanya dibahas lebih detail di halaman sebelas koran ini.”

Donghae sebenarnya tidak tahu apa-apa soal apa yang baru saja dia bicarakan. Istilah itu pernah sekilas didengarnya dari tiga orang pegawai kantoran yang kebetulan melintas. Dia ingat betul bagaimana seriusnya ekspresi ketiga orang itu saat membahas perihal saham, maka dia pun menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah hal penting yang akan menarik minat para pegawai kantoran, termasuk noona yang sedang berdiri di depannya ini.

Gadis muda yang ditawarinya koran pun sepertinya menyadari hal itu. Tapi alih-alih membentak Donghae atas sikap sok tahunya, dia malah mengulas sebuah senyum yang sangat manis dan mengambil koran itu dari genggaman Donghae.

“Berapa harganya?”

Donghae menyebutkan sebuah harga yang sedikit lebih murah dibanding yang biasanya dia berikan kepada calon pembeli lain. Baginya, senyum manis yang tadi diberikan gadis di depannya sudah lebih dari cukup untuk menebus semua koran yang dia bawa. Kalau saja dia tidak ingat bahwa bosnya akan memintainya uang setoran sore nanti, dia pasti akan memberikan koran itu secara cuma-cuma kepada gadis di depannya.

Gadis itu tersenyum sekali lagi. Dia merogoh tas, mengambil dompet dari dalam sana, kemudian mengeluarkan selembar uang kertas berwarna hijau terang dengan gambar Raja Sejong di atasnya. “Kembaliannya untukmu,” ujarnya sebelum beranjak meninggalkan Donghae yang hanya bisa memandang uang itu dengan tatapan takjub.

Seumur hidupnya, baru sekali itu Donghae memegang uang yang nilainya begitu besar. Biasanya dia hanya mengantongi uang receh atau lembaran seribu won yang sudah lusuh. Itu pun bukan miliknya. Uang itu hanya akan mampir di tangannya sampai matahari terbenam. Setelah itu, uang tersebut akan berpindah tangan kepada bosnya.

Donghae menatap uang itu sekali lagi. Masih baru dan kaku, tanpa bekas lipatan sedikit pun. Tanpa sadar dia pun membaui uang itu dan menghirup aromanya dalam-dalam. Dalam hati dia mulai berhitung, kalau setiap hari dia seberuntung ini, berapa lama lagi dia harus bekerja hingga bisa membeli sebuah kebun anggur?

“Wah, kau sedang kaya, rupanya!”

Suara itu menghentak Donghae dari angan-angannya yang siap melambung. Pemuda itu membuka mata, hanya untuk mendapati seorang pria bertubuh gempal sedang tersenyum licik kepadanya. Tanpa peringatan, dia merebut uang itu dari genggaman Donghae.

“Ini milikku sekarang.”

Donghae ingin merebut uang itu dan cepat-cepat lari, tapi dengan setumpuk koran di tangannya, dia tahu tidak akan bisa kabur cukup jauh. Dia juga tidak ingin dipukuli lagi. Bekas lukanya tempo hari masih belum sepenuhnya hilang. Pada akhirnya, Donghae hanya bisa mengiba, meski dalam hati tahu usahanya tidak akan berhasil.

Hyung, uang itu bukan milikku. Aku harus menyetorkannya kepada bosku.”

Pria yang dipanggil Donghae dengan sebutan hyung itu menyeringai, tampak sama sekali tidak acuh. “Menurutmu aku peduli?”

“Shindong hyung….”

Pria berbadan besar itu berdecak emosi. Matanya melotot tajam, sedangkan tangannya sudah berada di kerah baju kaos longgar yang dikenakan Donghae, menariknya hingga sang pemilik tercekik. “Sekali lagi kau merengek seperti itu kepadaku, bisa kupastikan wajahmu akan kembali babak belur seperti tempo hari. Kau mengerti?”

Takut-takut, Donghae menganggukkan kepalanya.

“Baguslah kalau kau mengerti. Dan ini,” pria itu menjeda kalimatnya demi melemparkan sesuatu kepada Donghae. Dengan satu tangannya yang tidak memegang koran, pria yang lebih muda itu dengan sigap menangkap bungkusan yang dilemparkan kepadanya. Donghae menatap benda di tangannya dengan seksama, diam-diam mulai berusaha menebak apa sebenarnya yang berada di balik kertas tebal berwarna cokelat pudar itu. “Simpan benda itu baik-baik. Nanti siang aku akan mengambilnya.”

Sekali lagi, Donghae hanya bisa mengangguk patuh.

Lawan bicaranya terlihat sudah akan beranjak meninggalkan Donghae ketika dia tiba-tiba mengurungkan niatnya. Menatap tajam, dia memberi peringatan, “Jangan coba-coba membuka bungkusan itu. Kalau sampai nanti aku mendapati ada sedikit saja yang berubah dari bungkusan itu, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi padamu.”

Usianya tiga belas tahun kala itu, dan di usia segitu, Donghae tumbuh menjadi seorang anak yang patuh. Tidak sekalipun tangannya bergerak melepas kertas yang membungkus kotak titipan Shindong, meski pada kenyataannya dia tidak bisa menampik rasa penasaran akan benda yang menimbulkan bunyi kelontang setiap dia mengguncang kotak itu. Seandainya saja dia lancang membuka kotak itu, setidaknya dia akan tahu kenapa beberapa jam setelahnya, dua orang pria mendatanginya dan memukuli tubuh kurusnya hingga ia nyaris mati.

***

Donghae memandang ngeri sosok tinggi besar di depannya. Wajah remaja tiga belas tahun itu sudah lebam di sana-sini akibat pukulan yang diterimanya dari sosok tinggi besar itu. Di beberapa bagian, kulitnya sobek hingga mengeluarkan darah segar yang kemudian menetes, jatuh mengotori baju kausnya yang longgar dan lusuh. Kaki dan tangannya terikat kuat ke kursi kayu di mana tadi dia didudukkan dengan paksa. Jantungnya masih saja berdebar kencang setelah tadi pria berperawakan keras yang duduk di depannya itu menodongkan pisau ke lehernya. Donghae masih bisa mengingat rasa dingin yang melingkupi tubuhnya ketika ujung tajam benda itu menempel di kulitnya. Sedikit saja tekanan diberikan pria di depannya kepada pisau di tangannya, Donghae yakin benda itu akan langsung membuat uratnya putus dan nyawanya pun akan melayang tidak lama kemudian.

Pemuda itu sedang menimbang, apakah harus berterima kasih kepada pria lain yang juga berada di ruangan sama dengannya saat itu. Berbeda dengan pria yang tadi menodongkan pisau ke arah Donghae, pria yang satu ini berkulit bersih dan berbadan kecil. Tubuh kurus dan gaya berpakaiannya yang sedikit rapi membuatnya terlihat jauh lebih bersahabat di mata Donghae. Pria itu jugalah yang tadi sudah berbaik hati mengingatkan rekannya untuk tidak terbawa emosi. Kita tidak akan mendapatkan informasi apa-apa kalau anak ini meninggal, katanya.

Donghae tidak paham informasi apa yang dimaksud kedua orang itu. Sudah sejak tadi mereka menanyainya dengan satu pertanyaan yang sama: di mana bosmu?

Bos apa? Donghae tidak mengerti. Satu-satunya orang yang dia panggil dengan sebutan bos selama ini adalah pria tua berambut kelabu yang koran-korannya harus dia jajakan setiap hari di sekitar stasiun. Tapi rupanya, bukan bos itu yang orang-orang ini maksudkan. Karena jika memang benar, maka mereka tidak usah capek-capek bertanya. Bukankah mereka menyeret Donghae dan membawanya ke gudang kosong ini justru setelah pemuda itu keluar dari rumah bosnya selesai menyerahkan uang setoran korannya hari ini?

“Kau diberi makan apa olehnya, huh?” Pria berperawakan keras itu bertanya lagi, kali ini sambil menggebrak meja untuk yang kesekian kali sejak dua jam terakhir. “Bisa-bisanya kau lebih memilih dipukuli seperti ini hanya demi merahasiakan tempat persembunyiannya!”

“Aku benar-benar tidak mengerti yang Anda maksudkan, Ahjussi.”

Pria berperawakan keras itu menghela napas frustasi. Dia meraih sebuah kursi kayu yang sejak tadi dia duduki dan langsung membantingnya dengan kasar, menyebabkan salah satu kaki kursi itu patah.

“Pria pemilik heroin itu, Bajingan! Di mana dia? Berhenti berpura-pura bodoh!”

Pria berbadan kecil mendekati rekannya dan menepuk pelan bahu pria itu, mengisyaratkannya untuk mundur. Dia melangkah ke arah Donghae yang saat itu sedang gemetar karena ketakutan. Dalam-dalam, dia mengisap rokok yang baru saja dinyalakannya sekitar semenit lalu, kemudian mengembuskan napas panjang, membuat asap tebal beraroma nikotin memenuhi udara di sekitarnya. Dia membungkuk untuk menyetarakan pandangan dengan remaja yang terikat tak berdaya di hadapannya kemudian bertanya dengan dingin, “Kau benar-benar tidak mau memberitahu kami di mana bosmu?”

Donghae hanya bisa diam. Pertanyaan itu lagi. Harus berapa kali dia menegaskan bahwa dia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka maksud.

“Kau pikir kami akan percaya kalau kau terus bilang tidak tahu?”

Ditanyai seperti itu membuat Donghae merinding. Nada berbicara pria kurus bermata cekung itu nyaris datar, tapi entah kenapa Donghae justru merasa jauh lebih ketakutan dibanding sebelumnya. Sepertinya dia harus menarik kembali gagasannya tadi. Ahjussi berbadan kecil ini ternyata bisa jauh lebih mengerikan dibanding rekannya yang bertubuh tinggi besar.

“Sudahlah,” si badan besar kembali bersuara, nadanya tidak sabar. “Kita bunuh saja dia. Sejak tadi aku sudah geram karena tingkahnya. Dia juga sepertinya terlalu setia kepada bosnya.”

Demi menanggapi perkataan rekannya, pria berbadan kecil itu menyunggingkan sebuah seringai tipis yang berhasil membuat bulu kuduk Donghae meremang. Ketika dia sudah kembali memusatkan pandangannya kepada Donghae, pria itu berkata, “Kau mendengar apa yang baru saja dikatakan temanku, bukan? Kalau kau masih tidak berniat membuka mulut, aku khawatir kali ini tidak akan bisa membujuknya untuk tidak menggunakan pisaunya. Dan kalau itu sampai terjadi, kujamin kau benar-benar tidak akan bisa menggunakan mulutmu lagi.”

Donghae tidak tahu perkataan itu ditujukan sebagai bujukan atau ancaman. Yang dia tahu, saat itu air matanya sudah mulai luruh. Sering kali menjadi pelampiasan kemarahan Kangin dan Shindong membuatnya kadang berpikir bahwa kematian akan datang kepadanya akibat rusuk yang patah atau organ yang rusak karena dipukuli terlalu keras. Dia pikir dia akan siap ketika saat itu akhirnya tiba. Kematian, maksudnya. Tapi ternyata anak itu salah. Terpikir atau tidak, bayangan bahwa dia akan segera menjadi mayat tetap saja memberinya ketakutan yang jauh lebih besar dibanding yang selama ini akrab dengannya.

“Aku benar-benar tidak paham apa yang kalian bicarakan. Tolong lepaskan aku,” pintanya.

Si badan kecil hanya menjawab permintaan itu dengan tawa mengejek. Dia kembali menghisap rokok yang sebelumnya terkepit di antara dua jari tangan kanannya, menghidupkan nyala api di ujung benda itu setelah tadi sempat redup. Ada bunyi halus yang terdengar ketika api di ujung rokok itu pelan-pelan membakar tembakau di dalamnya.

“Menurutmu apa yang akan terjadi kalau aku menempelkan ujung rokok ini ke wajahmu?” Si pria berbadan kecil berkata lagi. Asap penuh racun lagi-lagi berhembus dari mulutnya ketika dia berbicara, membuat Donghae terbatuk-batuk.

“Yang jelas ini tidak akan sesakit tertusuk pisau. Benar, kan?”

Sebuah kengerian baru timbul di benak Donghae akibat kata-kata yang baru saja didengarnya. Kengerian itu bertambah ketika si pria berbadan kecil menyibak rambut yang menutupi sebagian wajahnya, mengusap keningnya, kemudian membebaskan rokok yang terkepit di antara kedua bibirnya, mengangkat benda itu ke depan wajah Donghae. Dalam hati dia berharap pria kurus ini tidak terpikir untuk menempelkan ujung rokok yang menyala itu ke kulitnya. Sudah cukup luka lebam yang didapatinya kali ini. Dia tidak ingin penderitaannya bertambah karena kening yang melepuh akibat terkena api.

“Kau tahu, Nak, aku selalu meninggalkan tanda pada hal-hal yang kusukai,” ujarnya sembari mempermainkan rokoknya di depan wajah Donghae. “Dan kau tahu berita baiknya? Kesetiaanmu pada bosmu membuatku menyukaimu.”

Pria berbadan kecil itu masih sempat mengucapkan satu kalimat lagi, kalimat yang sudah tidak lagi bisa terdengar dengan jelas karena tenggelam akibat teriakan Donghae.

Otak pemuda tiga belas tahun itu berputar cepat, berusaha mencari kata-kata yang sekiranya bisa menghentikan pria di depannya kembali menempelkan ujung rokok di wajahnya. Dia bukannya bangga pada wajah itu. Dia tidak akan pernah terlihat tampan karena akan selalu ada bekas pukulan yang senantiasa hadir di sana. Tapi Donghae tidak ingin menambah buruk wajahnya karena bekas rokok.

Dia masih belum paham apa hubungan antara dirinya dengan heroin dan seorang bos yang sedang dicari dua pria mengerikan di depannya ini, tapi dia harus mengatakan sesuatu. Sebuah alamat. Ya, dua orang itu menanyakan tempat tinggal seseorang kepadanya. Dan selama bertahun-tahun, hanya ada satu alamat yang dihapalnya di luar kepala. Takut-takut, dia menyebutkan alamat panti asuhan tempatnya tinggal selama ini.

Donghae baru bisa menghela sebuah napas lega saat melihat pria di depannya langsung membuang puntung rokoknya ke lantai yang kotor setelah menghisap benda itu beberapa kali lagi.

Pria bertubuh kecil itu menepuk pundak Donghae, persis seperti yang dia lakukan kepada rekannya beberapa saat lalu. Dengan senyum terulas di sudut-sudut bibirnya, dia berkata, “Aku tahu kau bisa diajak bekerja sama.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, dia bangkit dan berjalan lurus menuju pintu yang terletak tidak begitu jauh dari tempat mereka berada saat itu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Rekannya mengekor, meski dari tatapannya terlihat sekali kalau dia belum puas melampiaskan amarahnya kepada Donghae.

Ahjussi, apa kalian akan meninggalkanku seperti ini?” tanya Donghae yang saat itu masih terikat di kursi. Suaranya bergetar.

Donghae sebenarnya takut mengatakan itu, tapi jika tidak memberanikan diri bersuara, dia tidak bisa menjamin akan ada orang yang bisa segera datang dan melepaskan ikatan di tubuhnya. Saat melihat pria bertubuh kecil itu menghentikan langkah, harapannya timbul. Mungkin dia memang tidaklah terlalu jahat. Mungkin hanya suara dan sikapnya saja yang dingin. Mungkin di dalam hatinya, dia masih punya sedikit belas kasihan. Lagipula, bukankah Donghae sudah memberikan apa yang mereka inginkan? Tentu saja, alamat yang diberikannya tadi adalah alamat yang salah, tapi orang-orang itu tidak tahu kalau dia berbohong, bukan?

“Apa yang kau lakukan?” pria berbadan kecil menoleh ke samping, mendapati rekannya sedang menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.

“Kau ingin aku melepaskan ikatannya?” si badan besar bertanya tidak yakin.

Pria berbadan kecil itu menghela napas dan sengaja mengembuskannya keras-keras agar lawan bicaranya sadar betapa bodoh pertanyaannya barusan. “Bukankah kita tidak boleh meninggalkan jejak? Habisi anak itu!”

Mendengar perintah itu, si badan besar langsung menyeringai puas, berbanding terbalik dengan Donghae yang wajahnya langsung pias melihat pria di depannya merogoh saku jas dan mengeluarkan pistol dari dalam sana.

Usianya tiga belas kala itu. Dan di usia itu, Donghae harus menerima kenyataan bahwa selongsong peluru ditembakkan kepadanya karena alasan yang sama sekali tidak dia pahami.

***

Donghae mengerjapkan matanya berulang kali sampai akhirnya terbiasa dengan cahaya terang dan hangat yang merambat di dalam ruangan yang ditempatinya. Seseorang pasti telah memindahkannya ke sini, karena seingatnya, sebelum menutup mata, dia sedang berada di dalam gudang yang gelap dan dingin, dengan luka tembak di bahu sebelah kiri.

Pemuda itu menolehkan kepalanya demi mencari tahu di mana dia berada. Sejenak, dia berpikir sudah berada di surga. Memangnya apalagi penjelasan atas ranjang empuk di dalam kamar tidur indah dengan desain mewah yang selama ini hanya bisa dilihatnya di televisi? Dia mengenyahkan pemikiran itu tidak lama kemudian, saat dia berusaha bangkit untuk meraih segelas air minum di atas meja kayu kecil di sisi ranjang dan sekujur tubuhnya langsung diserang rasa nyeri yang seperti tidak akan ada habisnya. Kalau dia benar berada di surga, maka dia harus terlebih dulu mati. Tapi jika dia memang sudah mati, bukankah seharusnya rasa sakitnya kini sudah menghilang?

Donghae melawan rasa nyeri itu karena tenggorokannya yang benar-benar minta dialiri air. Menumpukan tubuh di lengan kanannya yang tidak terluka terlalu parah, dia berusaha bangkit dari posisinya yang semula terbaring. Pikirnya, dengan duduk dia bisa bergerak lebih leluasa dan tentu tangannya bisa pula menjangkau lebih jauh. Tapi ketika dia sudah berhasil mendudukkan tubuh remuknya, dia tahu pemikirannya itu salah. Rasa nyeri datang lagi, kali ini merayapi tubuhnya dengan dosis lebih banyak daripada sebelumnya. Tak tahan menghadapi siksaan itu, tubuhnya jatuh lagi ke kasur. Donghae hanya bisa menatap gelas bening berisi air yang diidamkannya itu sementara desakitan menderanya.

Seorang pria memasuki ruangan tempat Donghae berada tidak lama kemudian. Tubuhnya yang menjulang tinggi dibalut kaus hitam polos dan celana jeans berwarna serupa. Untuk mempertegas kesan maskulinnya, dia juga mengenakan jaket kulit berwarna cokelat gelap serta kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

Pria itu setengah berlari menghampiri Donghae yang meringkuk di atas kasur sambil meringis kesakitan. Dengan telaten, dia membantu pemuda itu agar bisa berbaring seperti semula.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya dalam Bahasa Korea yang terdengar aneh.

Donghae menggeleng pelan. Dia memperhatikan pria di dekatnya menanggapi gelengan itu dengan sebuah anggukan paham yang disertai senyum tipis.

Pria yang lebih tua itu kemudian menarik sebuah kursi kayu ke dekat ranjang tempat Donghae berbaring. Dia duduk di sana kemudian melepaskan kacamata yang dia kenakan, mengaitkan satu gagangnya di kerah baju. Sebuah senyum ramah terbit lagi di wajahnya yang bergaris kaukasia. Matanya yang besar menyipit saat tersenyum, tapi Donghae masih bisa melihat bahwa bola mata pria itu berbeda dengannya. Warnanya biru pucat, dan itu seolah menjelaskan kenapa Bahasa Korea-nya tadi terdengar berbeda.

“Minum,” Donghae berujar pelan.

Tanpa berkata apa-apa, pria tinggi itu sigap meraih gelas yang terletak tidak jauh darinya dan membantu Donghae untuk meminum isi gelas tersebut.

“Kau masih mau?” pria itu bertanya lagi setelah melihat Donghae dengan cepat menandaskan air yang dia berikan.

Untuk kedua kalinya Donghae menggeleng.

“Tubuhmu masih sakit?”

“Sedikit.”

“Kalau begitu lanjutkan istirahatmu. Kalau butuh apa-apa, panggil aku saja.”

Setelah merapikan selimut yang menutupi tubuh Donghae, pria asing itu bangkit dari duduknya. Dia sudah melangkah sampai di dekat pintu ketika terdengar Donghae memanggilnya dengan ragu-ragu. Pria itu menoleh, dengan sigap menghapiri Donghae dan menatap anak itu dengan sorot khawatir tergambar jelas di matanya. “Kenapa? Apa kau kesakitan lagi?” tanyanya.

Diperhatikan seperti itu membuat Donghae merinding. Selama ini tidak pernah ada orang yang mempedulikan keadaannya seperti pria di depannya ini. Sebuah tawa akhirnya lolos dari bibir anak itu. Tawanya memang membuat nyeri di tubuhnya sedikit lebih parah, tapi Donghae tidak keberatan. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang kini dia rasakan.

“Aku tidak apa-apa.”

Pria itu mengerutkan kening. “Lalu, kenapa kau memanggilku?”

“Untuk mengucapkan terima kasih.”

Sorot mata pria itu berubah lembut, dan alasan di balik itu semua adalah sesuatu yang baru Donghae ketahui alasannya belasan tahun kemudian. Saat itu, Donghae hanya tahu bahwa Tuhan mungkin sudah bosan menyiksanya sehingga Dia mengirim seorang asing yang baik hati kepadanya.

Pria itu menepuk pelan pucuk kepala Donghae. Di bibirnya, senyum menyenangkan itu hadir lagi.

“Beristirahatlah.”

***

Butuh waktu tiga minggu bagi Donghae untuk menyembuhkan luka-luka di tubuhnya. Rasa sakit yang menggelayuti otot-ototnya perlahan menghilang. Bahu kirinya yang sempat dihinggapi peluru sudah bisa dia gunakan dengan normal. Memar-memar yang nampak di kulitnya juga sudah nyaris tidak terlihat lagi. Hanya saja, bekas sungutan rokok di keningnya masih menolak untuk pergi.

“Kita bisa ke dokter untuk menghilangkannya.” Pria bermata biru yang selama tiga minggu ini telaten merawatnya pernah berkata di satu kesempatan.

Donghae tidak terlalu setuju dengan ide itu. Dia mungkin tidak bisa menyebutkan dengan pasti nominal yang harus dikeluarkan untuk membayar dokter, tapi dia tahu bahwa itu akan sangat mahal. Dia pernah sekilas membaca salah satu artikel di koran yang dijajakannya dan langsung tahu bahwa menghilangkan bekas luka bakar, terutama di wajah, butuh uang yang tidak sedikit.

Dia sudah sangat senang atas kebaikan pria asing yang belum juga dia ketahui namanya itu. Pria itu sudah memperlakukannya dengan begitu baik selama dia berada di tempat ini. Dia memberinya tempat bernaung yang nyaman, makanan yang enak, pakaian yang bersih dan wangi, dan di beberapa waktu tertentu menemaninya mengobrol hingga larut malam. Dengan segala macam perhatian seperti itu, Donghae merasa keterlaluan jika dia merepotkan pria itu lebih banyak lagi, apalagi hanya karena bekas luka bakar di wajahnya.

Donghae berkeliling rumah besar yang sudah ditinggalinya sejak tiga minggu terakhir. Dia memang sering melakukan itu setiap bangun tidur. Pria pemilik rumah yang memintanya melakukan hal demikian. Untuk melatih otot-ototnya agar tidak kaku, katanya.

Rumah itu kosong. Donghae tidak tahu ke mana pria baik hati yang setiap pagi selalu menyambutnya dengan senyum menyenangkan itu. Biasanya, setiap dia keluar dari kamar untuk berjalan-jalan di pekarangan rumah, pria sudah duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi hangat dan koran pagi. Hari itu, Donghae tidak mendapatinya di mana pun. Sempat terlintas di benaknya bahwa pria itu sedang bekerja, tapi ide itu dibantahnya tidak lama kemudian. Pria itu tidak pernah terlihat meninggalkan rumah lebih dari dua jam. Meski Donghae tidak pernah menanyakannya langsung, dia berani menyimpulkan bahwa pria yang sudah menolongnya itu bukan jenis orang yang menghabiskan sepertiga waktunya dalam sehari untuk bekerja di kantor.

Bosan, Donghae meraih satu dari setumpuk koran yang tergeletak begitu saja di bawah meja di teras rumah. Anak itu memperhatikan, pria penolongnya punya kebiasaan menumpuk semua bacaannya di bawah meja sebelum akhirnya membuang kertas-kertas tersebut di tempat sampah saat akhir minggu.

Ada beragam berita di halaman depan koran itu, tapi perhatian Donghae tercuri oleh satu tulisan besar yang di bawahnya terdapat foto seseorang yang dia kenal. Itu adalah berita penyergapan markas bos gembong narkoba, dan di bawahnya terdapat foto Shindong yang sudah tak bernyawa.

Donghae bukanlah orang dengan otak yang cerdas. Dia bahkan sama sekali tidak pernah mengecap jenjang pendidikan resmi yang memungkinkannya memperoleh pengetahuan-pengetahuan dasar. Tapi dia cukup peka untuk membaca keadaan, menghubungkan petunjuk yang ada, lalu menarik satu kesimpulan atas pertanyaan yang menggerogoti kepalanya. Setelah membaca artikel di koran itu, semua hal yang menimpanya tiga minggu lalu akhirnya terjelaskan.

Bungkusan yang diberikan Shindong kepadanya di stasiun. Dua orang tak dikenal yang tiba-tiba muncul dan memukulinya, bertanya tentang sesuatu yang sama sekali tidak dia pahami. Terakhir, berita yang baru saja disaksikannya. Semua itu membantunya untuk sampai pada satu dugaan kuat tentang apa yang sebenarnya telah terjadi dan betapa konyol kebetulan-kebetulan yang ada hingga dia harus ikut terseret oleh semua itu.

Donghae membuka koran-koran lain yang terbit hari setelahnya, berharap akan mendapatkan berita lain yang bisa memberinya penjelasan lebih mengenai keterkaitan Shindong dengan bos gembong narkoba itu. Dia tahu pria yang dipanggilnya hyung itu seringkali melakukan hal terlarang demi mendapatkan uang yang kemudian akan digunakannya untuk berjudi, tapi tidak pernah sekali pun muncul di pikirannya bahwa nyawa Shindong akan berakhir karena hal itu.

Berita yang dicari Donghae tidak pernah dia dapatkan karena tidak lama kemudian, pria bermata biru pucat itu datang dan dengan panik merampas koran dalam genggaman Donghae, seolah berusaha menutupi sesuatu. Untuk pertama kalinya, Donghae ketakutan karena sikap pria itu.

“Jangan membaca ini!” serunya galak.

“Kenapa?”

“Aku tidak ingin kau sedih.”

“Karena Shindong hyung?” Donghae bertanya tak yakin.

Eoh!” Pria itu menjawab cepat. Terlalu cepat hingga Donghae yakin bukan itulah alasan sebenarnya.

Tapi Donghae bukan orang dengan rasa ingin tahu berlebih. Dia sepenuhnya sadar bahwa tidak ada gunanya juga mendesak pria di depannya untuk memberinya penjelasan. Dia sudah cukup senang dengan keadaannya sekarang.

Berusaha menghilangkan ketegangan di antara dirinya dan pria di depannya, Donghae berujar, “Kau dari mana?”

Pria itu, seolah paham dengan apa yang coba dilakukan Donghae, langsung memasang senyum menyenangkannya yang seperti biasa. Dia menunjuk kantung roti yang tadi diletakkannya dengan asal di atas meja ruang keluarga. “Membeli sarapan.”

Keduanya lalu beranjak menuju ruang keluarga yang hanya berjarak beberapa langkah dari teras samping tempat mereka berada. Donghae dengan semangat membuka bungkusan itu sementara si pria bermata biru menuju dapur untuk mengambil minuman untuk mereka berdua. Dia kembali tidak lama kemudian dengan gelas berisi susu rasa vanilla di tangan kiri dan secangkir kopi di tangan kanannnya. Dia duduk di kursi di samping Donghae setelah meletakkan gelas dalam genggamannya ke atas meja, dan mendapati Donghae masih diam menatap isi bungkusan yang baru saja dibukanya.

“Kenapa?”

Donghae hanya menggeleng. Matanya masih lekat pada makanan yang tersaji di hadapannya. Dia kenal betul dengan makanan bulat berwarna hijau itu. Tampilannya masih sama seperti terakhir kali dia melihatnya dipajang di etalase toko. Krim putih yang dioleskan di bagian tengahnya masih tampak menggiurkan. Dua keping cokelat yang ditaruh di bagian atasnya juga masih mampu membuat Donghae berpikir bahwa itu adalah roti dengan bentuk paling lucu yang pernah dia lihat.

“Makanlah. Itu semua untukmu.”

Bola mata Donghae membulat, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia menoleh kepada pria di sampingnya dan bertanya, “Sungguh? Lalu kau?”

“Secangkir kopi sudah cukup untukku.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, tangan kanan Donghae langsung meraih makanan itu dan mengunyahnya dengan lahap.

Masih terekam sangat jelas dalam ingatannya, ketika suatu sore, sekembalinya dia dari toko untuk membeli barang titipan penjaga panti, dia melihat seorang anak menjatuhkan makanan yang sama di jalan. Anak itu membiarkannya begitu saja, seolah makanan berbentuk lucu itu sudah tidak lagi layak dimakan hanya karena terkena pasir dan debu dari aspal jalan. Donghae memungutnya. Setelah membuang bagian yang kotor, dia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Ketika akhirnya roti itu habis, Donghae hanya bisa berangan-angan untuk bisa mencicipinya lagi.

Donghae masih ingat, beberapa tahun yang lalu, dia menangis sepanjang hari karena uang yang dikumpulkannya dengan susah payah selama berminggu-minggu ternyata jatuh ke dalam saluran air hingga ia gagal mencicipi makanan yang diidamkannya itu. Dia juga masih ingat bagaimana setelahnya, ketika dia sudah kembali punya uang, dia kembali ke toko itu dan lagi-lagi diusir dengan kejam oleh sang pemilik toko hanya karena dia berpakaian kumal.

Pria yang duduk di samping Donghae hanya bisa menatap anak itu menikmati sarapannya dengan pandangan lembut. Pemandangan di depannya adalah hal yang sangat dia rindukan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali dia melihat seseorang menikmati hal sederhana dengan begitu gembira.

“Enak?”

Donghae menoleh, menatap lawan bicaranya, dan menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan kepadanya dengan sebuah anggukan antusias. Mulutnya terlalu sibuk mengunyah hingga dia merasa hanya akan membuat pria di depannya kebingungan memahami perkataannya jika dia memaksakan diri berbicara.

Pria bermata biru pucat itu tersenyum. Tangannya bergerak ke pucuk kepala Donghae. Tanpa peringatan, dia mengacak pelan rambut halus anak itu dan menyuruhnya untuk tidak terburu-buru mengunyah.

“Aku akan membelikannya lagi untukmu kalau kau suka.”

“Benarkah?”

“Kita bisa membelinya saat perjalanan pulang ke tempat tinggalmu nanti.”

Mendengar kata pulang, senyum Donghae langsung luntur. Makanan yang ada di mulutnya mendadak terasa hambar. Mungkin salahnya juga karena terlalu terlena dengan kehidupannya di tempat ini dan lupa di mana dia sebenarnya berasal.

Perubahan sikap anak itu tidak terlepas dari perhatian pria di sampingnya.

“Kau tidak mau pulang?” Dia menebak.

Donghae bukan jenis orang yang banyak bicara. Jika diminta menghitung, dia yakin bisa membilang seberapa banyak kalimat yang diucapkannya dalam sehari. Tapi pagi itu, kepada seorang yang bahkan sama sekali tidak dia ketahui namanya, dia menceritakan semua hal yang dia alami. Perlakuan penjaga panti, pemukulan yang dilakukan Kangin dan Shindong, penghinaan yang diterimanya dari orang-orang, bahkan cita-citanya membeli ssebuah kebun anggur. Inti dari cerita panjang itu hanya satu: dia tidak ingin kembali ke panti.

“Aku tidak bisa terus bersamamu di sini,” kata pria bermata biru itu.

“Bawa aku ke mana saja kau pergi. Aku akan setia kepadamu. Aku akan melakukan apa saja untukmu. Tapi kumohon, jangan bawa aku kembali ke panti.”

Pria bermata pucat itu tersenyum paham. “Sungguh, kau ingin ikut denganku?”

Usianya tiga belas kala itu, dan untuk pertama kalinya Donghae merasa mendapat kesempatan memilih. Dia tidak butuh waktu lama untuk menggunakan kesempatan itu. Baginya, membuat keputusan apakah harus menerima atau menolak tawaran ahjussi di depannya itu sama sekali bukan perkara sulit. Jawabannya sudah jelas. Tidak ada yang lebih buruk dari tempatnya tinggal saat ini. Meninggalkan panti asuhan itu adalah hal terbaik yang diberikan Tuhan kepada para penghuninya.

Pemuda itu menatap pria di depannya, kemudian mengangguk yakin.

End.

Authors Note:

  • Ini adalah bagian dari sebuah cerita bersambung dengan cast utama Lee Donghae dan seorang ex-member girlband. Setelah dipikir-pikir, dijadikan sebuah cerita yang berdiri sendiri pun chapter ini tetap bisa dibaca, jadi saya kirim buat menuh-menuhin entry ff di blog ini. Haha.. Fyi, gedenya nanti si Donghae jadi pembunuh bayaran.
  • Credit for the marvelous poster above goes to Alkindi from Indo Fanfiction Arts.

7 Comments (+add yours?)

  1. ayumeilina
    Oct 06, 2016 @ 20:04:52

    Ini keren. Tapi sadis 😨😱
    Donghae jadi pembunuh bayaran. Keren donk ya si ikan 😂
    Gaya penulisan sama bahasa yg di gunakan keren. Jadi enak di baca 😙😎😬

    Reply

  2. Rosya
    Oct 06, 2016 @ 23:31:41

    Ceritanya keren, gaya bahasanya bagus dan enak dibaca. Tragis banget masa kecil donghae. Pingin tahu kenapa akhirnya pria bermata biru pucat itu nolong Donghae. Penasaran juga sama gedenya donghae yg jd pembunuh bayaran

    Reply

  3. nyonyafishyhae
    Oct 08, 2016 @ 11:43:27

    kakaaaak~ masih inget aku gak?
    aku langsung ke sini pas ngeliat kamu mention2an sama temen kamu di twitter dan blg kalo kamu nulis lagi (uh, I’m such a stalker. hahaha)
    dan sumpah ini keren banget!! biasanya aku gak betah baca ff panjang (menurutku ini panjang lho utk ukuran oneshot), apalagi gak ada cinta2annya. tapi karena kamu yg bikin, dan castnya donghae, dan dari awal aku udah dibikin tertarik sm kisah penderitaannya si abang, jadi aku sukses baca ini sampe selesai tanpa dipending2.
    oiya kak, kalo mau baca kisah fullnya di mana ya? aku ke blogmu tapi ternyata masih diprivate..

    Reply

    • Lee Donghae's
      Oct 08, 2016 @ 17:00:52

      ingat dong.. uh, aku kok seneng ya distalkerin sama kamu? 😀 terima kasih sudah membaca. pertanyaan kamu udah aku jawab di twitter, jadi ga perlu dijawab lagi di sini dong ya 😉

      Reply

  4. Monika sbr
    Oct 16, 2016 @ 14:58:58

    Penasaran sama kelanjutannya.
    Semoga saja pria yg menolong donghae bukan seorang penjahat.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: