Opera [3/?]

Opera Cover

Part 3

Nama : i-Leetha
Judul Cerita : Opera
Tag (tokoh/cast) : Park Jung Soo, Song Joong Ki, Shin Seung Ri, Kim Seu Hwa, Ji Sung

Other Cast : Super Junior Member yang mungkin muncul dalam setiap part

Genre : Romance, Comfort
Rating : PG-13
Length : Chapter

 ***

 

Seung Ri memasuki kawasan mewah Royal Apartment. Ji Sung memintanya bertemu di tempat tersebut. Dan ternyata Jung Soo juga berada disana. Mereka berpapasan saat akan masuk kedalam lift. Seperti dugaannya, Ji Sung juga memintanya untuk datang.

“Bagaimana kabarmu hari ini Seung Ri-ya? Apakah sudah baikan sehingga kau melepas perbannya?” tanya Jung Soo saat mereka berdua berada dalam lift. Dia memegang lengan kanan Seung Ri untuk melihat bagaimana kondisi lukanya.

“Cukup baik. Lagipula kejadiannya sudah hampir seminggu yang lalu oppa. Lukanya sudah kering dan itu tidak menyakitkan lagi. Hanya perlu ditutupi seadanya saja,” jawab Seung Ri. “Eum, menurutmu apa yang akan dikatakan Ji Sung oppa hingga memanggil kita? Bukankah sudah lewat dua minggu sejak keputusan pemeran utama dalam proyek filmnya? Kenapa tiba-tiba dia memanggil kita hari ini?” tanya Seung Ri lagi saat mereka berdua hanya diam.

Molla. Apa kau tidak tahu? Ji Sung hyung adalah orang yang sangat sulit. Kita tidak akan bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. Jadi jangan pernah menerka-nerka apa yang akan dia lakukan,” jawab Jung Soo.

“Sepertinya kau tahu banyak tentang dia oppa.”

“Aku bertanya dari para sunbae yang pernah bekerja sama dengannya. Itulah mengapa aku tahu cukup banyak tentang dia.”

“Benarkah? Aku bahkan tidak berpikir untuk mencari tahu tentang dia. Tapi informasi itu sepertinya cukup membantu.”

“Tentu saja. Kajja.”

Jung Soo mempersilahkan Seung Ri untuk masuk ke dalam lift terlebih dahulu. Suasana gedung apartemen yang cukup sepi membuat Jung Soo tidak harus menggunakan penyamaran yang berlebihan. Tidak sembarang orang memang bisa masuk kesana mengingat kebanyakan penghuni apartemen tersebut adalah kalangan pebisnis dan pengusaha ataupun artis papan atas.

“Ah, terima kasih sudah membantuku sewaktu aku sakit kemarin. Mungkin aku tidak bisa melakukannya sendiri,” ucap Seung Ri setelah mereka keluar dari dalam lift.

“Bukankah sudah lewat? Tapi baiklah. Sebagai bayarannya, setelah ini kau harus mentraktirku makan. Setuju?”

“Eum, Setuju. Tapi kuharap jangan makanan mahal. Karena aku sama sekali tidak memiliki uang,” jawab Seung Ri yang disambut tawa kecil Jung Soo.

“Aku mengerti,” jawab Jung Soo.

Mereka tiba didepan kamar dengan nomor 2501, kamar milik Ji Sung. Tidak lama dia membuka pintu setelah mereka beberapa kali menekan bel. Ji Sung berdiri di depan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.

“Kalian sudah tiba? Silahkan masuk,” suruh Ji Sung. Mereka duduk di salah satu sofa. Sementara Ji Sung mempersiapkan minuman untuk mereka.

“Apa yang terjadi denganmu Seung Ri-ya? Apa kau terluka?” tanya Ji Sung saat melihat lengan Seung Ri yang diperban. Dia memegang lengan Seung Ri untuk memastikan kalau itu tidak terlalu parah.

“Hanya mendapat tiga jahitan oppa. Aku baik-baik saja. Lukanya juga sudah mengering.”

“Tapi siapa yang melakukan hal ini? Kau sudah melaporkannya pada polisi? Aku akan meminta temanku di kepolisian untuk menangkap mereka untukmu,” sahut Ji Sung. Dia bersiap-siap untuk menghubungi temannya itu.

“Tidak perlu oppa. Semua baik-baik saja. Ada apa kau memanggil kami kemari?” tanya Seung Ri kemudian.

Ji Sung meletakkan ponselnya dan menatap mereka berdua. “Ini mengenai projek yang kukatakan waktu itu,” jawab Ji Sung.

“Ada apa dengan projek itu oppa?”

“Jadi, apa kalian sudah tahu siapa yang akan menjadi pemeran utama dalam drama yang kukerjakan kali ini?” tanya Ji Sung memulai pembicaraan.

“Ini sudah lebih seminggu dari waktu yang kita bicarakan. Itu berarti bukan kami yang akan menjadi pemeran utamanya. Jadi bisa beritahu kami siapa pemeran utamanya?” tanya Jung Soo dengan nada tegas. Dia tahu hal seperti ini akan terjadi. Ji Sung tidak akan memilihnya dikarenakan sikapnya waktu itu. Dan Seung Ri, dia yakin Ji Sung tidak akan serius mengangkatnya menjadi seorang artis.

“Benarkah? Tapi aku belum memutuskan siapapun yang menjadi pemeran utamanya. Sebaiknya kita menunggu yang lainnya sebelum aku mengatakan siapa pemeran utamanya.”

“Yang lain?”

Bel apartemen Ji Sung kembali berbunyi. Jong Ki memasuki apartemen tersebut. Tidak lama Seu Hwa juga tiba disana. Jung Soo hanya bisa melempar tatapan benci pada Seu Hwa yang memilih tersenyum padanya.

“Mereka akan berpartisipasi dalam drama ini. Pemeran utama prianya adalah Park Jung Soo dan yang menjadi pemeran utama wanita adalah Shin Seung Ri,” ujar Ji Sung.

Hyung,” jawab Jung Soo dan Jong Ki bersamaan.

“Dan Jong Ki beserta Seu Hwa menjadi pemain pendamping.”

Oppa. Ini tidak benar. Bagaimana mungkin aku menjadi pemeran utama? Ini masih sangat baru buatku,” protes Seung Ri.

“Bukankah sudah kukatakan? Kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Aku yakin, kau akan bisa melakukannya,” sahut Ji Sung.

“Tapi oppa…”

“Baiklah. Ini adalah konsep cerita. Jung Soo akan berperan sebagai Dong Chan yang berprofesi sebagai artis papan atas. Jong Ki berperan sebagai Kang Woo, yang sangat menyukai Young Ah yang akan diperankan oleh Seung Ri. Jadi Seu Hwa akan berperan sebagai Yoon Ri dimana dia adalah mantan kekasih Dong Chan dan kemudian terobsesi pada Kang Woo. Bagaimana, apa kalian bisa menerima peran ini?” ucap Ji Sung sebelum Seung Ri menyelesaikan pembicaraannya.

“Jadi bagaimana jalan ceritanya hyung?” tanya Jung Soo.

“Aku akan membagi naskahnya pada kalian. Ini masih beberapa episode pertama. Untuk naskah selanjutnya, penulis akan menyelesaikannya nanti.” Ji Sung membagi naskah pada mereka. Mereka mulai membaca naskah yang ada di depannya saat ini.

Dia menurunkan naskahnya setelah membaca isi naskah tersebut. Jalan ceritanya sangat mirip dengan apa yang terjadi padanya. Sepertinya Ji Sung mengetahui sesuatu tentangnya. Atau mungkin dia juga tahu siapa yang dia nikahi waktu itu. Dan sekarang otaknya mulai berpikir. Mencoba menghubungkan semua yang terjadi padanya belakangan ini. Dengan demikian dia akan bisa menemukan siapa wanita itu. Terlebih lagi, wanita itu tidak pernah menghubunginya lagi.

“Sebenarnya ada apa ini?” gumam Jung Soo.

“Bagaimana Park Jung Soo-ssi. Apa kau setuju?” tanya Ji Sung.

“Baiklah. Jadi kapan kita mulai proyek kali ini?” Jung Soo balik bertanya. Kali ini dia penuh percaya diri.

“Seminggu dari sekarang. Lokasi pertama kita adalah Hotel Dibs. Aku sudah berbicara dengan manajer disana. Mereka setuju kalau tempat mereka dijadikan tempat syuting.”

“Baiklah.”

 

x-x-x

 

Jung Soo berulang kali membaca isi naskah itu di dalam kamarnya. Ya, isi naskah itu sangat mirip dengan kejadian yang ada padanya. Berawal dari pesta Cho Ahra sampai dia mabuk dan tidak sadar dia menikahi seorang gadis yang dia tidak tahu itu siapa. Sampai pada titik ini semua sama persis. Namun ada satu hal yang mengganjal. Sosok Kang Woo yang melihat semua kejadia itu. Dan yang menjadi pertanyaannya, jika kisah itu benar-benar berasal dari kisahnya, siapa yang menjadi Kang Woo didunia nyata? Dan bagaimana Ji Sung bisa tahu?

Jung Soo benar-benar sakit kepala dibuatnya. Sepertinya benar. Ji Sung benar-benar sangat sulit ditebak bagaimana jalan pikirannya. Sepertinya dia harus mencari tahu hal itu sendiri. Semua ini berhubungan. Bagaimanapun caranya, dia harus memecahkan teka-teki ini. Dan yang menjadi kuncinya hanyalah Kang Woo dalam drama ini. Jika drama ini nyata, maka hanya dialah kunci satu-satunya untuk menjawab siapa wanita itu.

Hyung, kau tidak makan?” tanya Ryeowook dari luar kamarnya.

“Aku akan turun sebentar lagi,” jawab Jung Soo. Dia melempar naskah tersebut ke atas tempat tidurnya dan turun untuk makan bersama teman-teman satu grupnya.

“Apa ada masalah? Sepulangnya dari rumah Ji Sung hyung, kau terlihat murung seperti itu. Apa terjadi sesuatu?” tanya Heechul.

Gwencana. Mungkin aku sedang lelah saat ini. Sebaiknya kita makan saja,” jawab Jung Soo.

Hyung, kau akan memerankan drama baru? Drama garapan Ji Sung hyung. Song Jong Ki, Jung Seu Hwa, Shin Seung Ri, dan kau sendiri. Apa kau menjadi pemeran utamanya?” tanya Donghae. Sepertinya Ji Sung sudah memperomosikan drama tersebut. Dan sepertinya antusias para penggemar tertuju pada drama itu. Bukan karena artis yang memerankannya, ini adalah sebuah proyek untuk menandakan kembalinya sosok Ji Sung dalam dunia perfiliman Korea. Dia memang sosok yang dinantikan.

Beberapa artis yang mendengar kabar ini merasa kesal karena tidak mendapat kesempatan tersebut. Seperti biasa, Ji Sung melakukan hal tersebut sendiri. Menentukan artisnya sendiri. Dan bagaimanapun caranya, dia akan membuat artis yang diinginkannya itu mengambil peran tersebut. Jadi tidak ada kesempatan buat yang lain jika dia sudah memilih.

“Jung Seu Hwa? Kenapa gadis itu bisa ikut di dalamnya? Apa dia memiliki maksud tertentu denganmu hyung?” tanya Kim Young Woon.

“Jangan berpikiran seperti itu Young Woon-ah. Itu hanya akan memperburuk suasana. Lebih baik bepikir sesuatu hal yang baik saja. Anggap saja kalau Ji Sung sedang mencoba mengorbitkan beberapa bintang baru. Kalian tahu sendiri kalau dia tipe orang yang sangat susah ditebak. Tidak ada yang bisa menebak jalan pikirannya,” jawab Jong Won.

“Kau benar hyung. Tapi siapa Shin Seung Ri? Aku tidak pernah mendengar nama itu,” tanya Sungmin.

“Sepertinya aku tahu. Apa pekerja di restorant itu?” tanya Kyuhyun saat melihat gambar Seung Ri dalam artikel yang dilihatnya.

Mwo? Apa kali ini Jung Soo mengangkatnya kedalam dunia entertainment seperti yang dia lakukan pada Seu Hwa?” tanya Heechul.

Ania. Dia direkrut oleh Ji Sung sendiri. Aku tidak ada kaitannya dengan hal itu,” jawab Jung Soo.

Daebak. Gadis seperti dia benar-benar hebat. Dia bisa membuat seorang Ji Sung memberikan peran utama padanya. Apa yang dilakukan gadis itu? Apa dia melakukan apapun untuk mendapatkan peran itu?” tanya Hyuk Jae.

“Yaa. Berhati-hati kalau berbicara Hyuk-ah. Apa kau tahu kalau dia itu adalah salah satu penggemar Super Fiction?” tanya Jung Soo.

“Benarkah? Sepertinya aku harus berkenalan dengannya dan belajar darinya bagaimana menaklukkan hati seorang Ji Sung,” ucap Hyuk Jae.

“Silahkan mencoba. Tapi aku yakin kau tidak akan tahan menghadapi gadis itu. Sudah. Aku harus pergi dulu. Jangan lupa kalian membersihkan rumah ini,” teriak Jung Soo sebelum dia keluar dari ruangan itu.

 

x-x-x

 

Seung Ri masih diam didalam mobil walau Jong Ki sudah mengatakan kalau mereka sudah tiba di apartmentnya. Ya, Jong Ki mengantarnya pulang setelah bertemu dengan Ji Sung.

“Apa yang kau pikirkan saat ini?” tanya Jong Ki.

“Aku sedang memikirkan keputusan Ji Sung oppa. Kenapa dia memintaku menjadi pemeran utama wanita, sementara dia tahu kalau aku tidak berpengalaman dalam hal itu. Apa itu tidak akan membuatnya rugi besar?” jawab Seung Ri.

“Sepertinya kau belum mengenalnya dengan baik. Semua orang yang bekerja dibidang ini tahu bagaimana gilanya seorang Ji Sung. Dia tidak dapat diprediksi ataupun ditebak. Dan hal gila seperti ini, bukanlah yang pertama kali. Dia sudah sering melakukannya. Tapi hasilnya tidak buruk. Melainkan sangat disukai dan digemari. Dan sekarang, dia memutuskan kembali berkarir di Korea setelah menghilang beberapa tahun. Warga Korea menantikan kejutan apa lagi yang akan dia buat di proyeknya kali ini. Kau tahu, antusias warga Korea sekarang tertuju pada proyek ini. Jadi bagaimanapun juga, lakukan yang terbaik. Dan juga, setelah ini kau akan berhadapan dengan yang namanya wartawan, penggemar ataupun masyarakat yang membencimu. Jadi kau harus mempersiapkan dirimu,” ucap Jong Ki.

Mendapat nasihat seperti itu membuat Seung Ri memperlihatkan senyumannya. Sedikit tersentuh dengan kepedulian Jong Ki padanya. “Baiklah. Aku paham. Kalau begitu aku masuk dulu. Terima kasih untuk tumpangan hari ini. Annyeong Jong Ki-ssi,” sahut Seung Ri kemudian.

Seung Ri keluar dari dalam mobil dan menunggu Jong Ki pergi dari tempat itu. Seseorang menariknya setelah mobil tersebut berbelok di pertigaan yang ada di depannya.

Nuguya,” teriak Seung Ri. Tapi suaranya tidak keluar. Orang itu menutup mulutnya dan menariknya ke sebuah lorong yang tidak jauh dari tempatnya.

“Kau. Apa yang kau lakukan oppa?” tanya Seung Ri saat melihat Jung Soo yang menariknya.

“Aku akan mempersingkat saja. Katakan siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Ji Sung? Apa kau mau menjebakku dan menjatuhkanku?” tanya Jung Soo.

“Apa maksud perkataanmu? Menjebakmu? Aku tidak paham sama sekali.”

Jung So sepertinya tidak terima dengan perkataan Seung Ri. Dia mendorong gadis itu hingga merapat ke tempok dan menguncinya dengan kedua tangannya. Tatapannya tidak seperti biasanya. Kali ini sangat menakutkan buat Seung Ri.

“Katakan padaku sekarang Seung Ri-ssi. Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Jung Soo lagi.

“Apa maksudmu? Aku tidak menginginkan apapun darimu. Kenapa kau jadi seperti ini? Apa yang mengganggumu?”

“Jadi kau masih mau bersandiwara di depanku? Baiklah. Kalau begitu akan kubuat kau mengakuinya.”

Jung Soo menarik Seung Ri menuju mobilnya yang berada tidak jauh dari tempat mereka. Setelah memaksa gadis itu masuk kedalam mobil, Jung Soo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka tiba di sebuah hotel. Dengan cepat Jung Soo menarik gadis itu memasuki hotel tersebut. Sepertinya dia sudah melakukan reservasi sebelumnya. Dia tidak melakukan reservasi saat ini.

Kamar dengan nomor 634 sekarang berada di depan mereka. Jung Soo membuka pintu kamar tersebut dan menarik Seung Ri masuk kedalamnya. Gadis itu sama sekali tidak dapat melawan dan hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Jung Soo.

“Ada apa ini? Kenapa kau melakukan ini?” tanya Seung Ri. Dia jauh terlihat tenang bila dibandingkan tadi.

“Katakan padaku, apa kau wanita yang aku nikahi?” sahut Jung Soo.

Mwo? Menikah? Apa kau menikah dan kau tidak tahu siapa yang kau nikahi?” tanya Seung Ri. Gadis itu terlihat sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Jung Soo.

“Apa sekarang kau masih berpura-pura?” cerca Jung Soo.

“Dengarkan aku baik-baik Park Jung Soo-ssi. Aku bukan wanita itu. Dan jika itu aku, apa kau bisa membuktikannya? Bukti apa yang kau miliki sehingga kau begitu yakin kalau itu yakin?”

“Naskah. Semua yang ada dalam naskah adalah kisahku. Dan naskah itu mengatakan wanita yang muncul dalam hidupku adalah wanita yang aku nikahi tanpa aku kenali,” jawab Jung Soo. Dia menunduk setelah mengatakan hal ini. Terlihat bodoh memang.

Seung Ri hanya tertawa setelah mendengar apa yang dikatakn oleh Jung Soo. Bukankah dia yang lebih dulu berada di dunia ini? Kenapa naskah itu dijadikannya bukti?

“Kau sungguh lucu oppa. Itu hanya naskah. Kenapa kau yakin kalau itu adalah kisahmu?” balas Seung Ri. “Tapi tunggu. Apa kau menikahi seseorang tanpa kau sadari seperti naskah ini?” tanya Seung Ri lagi.

Jung Soo hanya bisa mengangguk lemah. Dia segera turun dari tempat tidur. Emosi sesaatnya membuat dia mengatakan apa yang harusnya dia sembunyikan. Tanpa ada jaminan kalau Seung Ri tidak akan memberitahu media.

“Aku cemburu. Sepertinya aku tidak ada kesempatan lagi untuk bisa bersamamu oppa. Baiklah. Aku hanya akan menjadi penggemarmu saja. Penggemar yang sangat mencintaimu.”

“Apa selama ini kau berharap untuk bersama denganku?” tanya Jung Soo.

“Bohong jika aku mengatakan tidak. Aku penggemarmu, sangat mencintaimu melebihi seorang idola. Aku sangat berharap dapat berkencan denganmu. Kemudian menikah dan membina rumah tangga yang menyenangkan bersamamu. Tapi sepertinya itu hanya ada dalam pikiranku saja. Hanya ada dalam cerita fiksi buatanku. Bertemu denganmu di hotel, memerankan pemeran utama bersama denganmu, aku pikir itu adalah jalan untuk bisa bersama denganmu. Tapi sepertinya tidak mungkinkan? Kau sudah menikah walau kau tidak tahu siapa wanita itu.”

Jung Soo hanya bisa terdiam. Apakah hal ini sangat menyakitkan untuk Seung Ri? Entahlah. Yang dia tahu dia merasakan hatinya nyeri mendengar kalau Seung Ri hanya mencintainya sebatas idola. Tidak akan berharap lebih seperti yang dia lakukan dahulu. Dia berharap Seung Ri menarik apa yang dia katakan barusan.

“Tetap mencintaiku seperti itu Seung Ri-ya,” gumam Jung Soo. Dia sepertinya mulai tertarik dengan gadis itu.

 

x-x-x

 

Jam masih menunjukkan jam 6, tapi suara bel rumah Seung Ri terdengar berulang kali. Dia benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Dengan langkah penuh amarah dia berjalan menuju pintu.

“Kenapa jam segini sudah menganggu? Tidakkah kau tahu kalau nanti aku harus ke hotel?” teriak Seung Ri tanpa melihat siapa yang masuk.

“Oho, tenang nona. Kenapa pagi-pagi seperti ini kau sudah mengoceh seperti itu?” ucap Ji Sung. Mendengar suara itu, Seung Ri segera membungkuk memberikan salamnya. Dia merasa sangat malu saat ini.

Tanpa persetujuan terlebih dahulu, Ji Sung menarik Seung Ri keluar. Dia bahkan tidak memberi celah pada Seung Ri untuk menyuci mukanya dan segera memaksa gadis itu masuk kedalam mobilnya. Dia bahkan tidak memperdulikan pertanyaan Seung Ri yang menanyakan kemana Ji Sung akan membawanya.

Mereka tiba disebuah salon dimana para pegawai terlihat sudah menyambut mereka.

“Apa yang kita lakukan disini oppa?” tanya Seung Ri.

“Lakukan seperti yang kukatakan semalam,” ucap Ji Sung pada seorang pria yang diyakini Seung Ri adalah manajer tempat tersebut. Semua karyawan segera bergerak setelah mendapat perintah dari pria itu. Mereka membawa Seung Ri kedalam sebuah ruangan dimana terdapat sebuah bathup didalamnya. Air yang penuh busa serta helaian bunga mawar telah memenuhi bathup tersebut.

Dua orang wanita memasuki tempat tersebut setelah Seung Ri selesai dan segera membawanya ke ruangan lain. Disana dia disubur berbaring dan mereka mulai mengoleskan sesuatu ke badannya. Mereka mulai memijat keseluruhan tubuh Seung Ri yang membuatnya kembali merasa mengantuk. Rasanya baru sebentar dia tertidur, mereka kembali membawa mereka ke ruangan berbeda dimana berbagai macam gaun indah ada disana. Mereka mulai mencoba satu-persatu gaun yang ada disana. Dan pilihan jatuh pada gaun berwarna cream dengan panjang selutut dan memiliki renda disekitar pinggangnya. Gaun dengan lengan pendek tersebut menunjukkan sedikit bekas luka yang ada di tangan Seung Ri. Akhirnya sang desiner menyuruh agar Seung Ri menggunakan bleazer berwarna coklat padanya untuk menutupi bekas luka tersebut.

“Bawa ketempat berikutnya,” ucap pria itu pada karyawannya. Mereka kembali membawanya ke ruangan lain dimana berbagai jenis dan merk sepatu terpajang disana. Seperti sebelumnya, mereka mencocokkan satu persatu sepatu tersebut. Akhirnya sepatu jenis high heels berwarna pink lembut menjadi pilihan. Sepatu yang hanya menggunakan tali dengan hiasan berkilauan diatasnya membuat penampilan Seung Ri semakin maksimal.

Dan tempat terakhir adalah make-up dan rambutnya. Hairstylish andalan mereka yang menangani langsung. Dia memutuskan untuk memotong rambut Seung Ri hingga sebatas bahu dan membuat poni dibagian depannya. Make-up berwarna alami serta lipgloss berwarna pink lembut menghiasi bibirnya. Tidak lupa anting-anting yang terbuat dari besi putih sudah menghiasi telinganya.

“Dia sudah siap,” ucap sang manajer pada Ji Sung yang sedari tadi menunggunya di ruang tunggu.

Seorang karyawan wanita membawa Seung Ri keluar dan memperlihatkan hasil kerja mereka pada Ji Sung. “Sangat cantik. Kalian sungguh tahu apa yang kuinginkan,” ucap Ji Sung sambil tersenyum puas.

Ji Sung meraih tangan Seung Ri yang masih bingung. Dia bahkan baru sadar kalau Ji Sung sudah berpakaian rapi menggunakan tuksedo berwarna hitam. Dia bahkan baru sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Hari ini adalah konferensi pers untuk drama mereka.

“Kita ke hotel sekarang,” ucap Ji Sung setelah mereka berada dalam mobil.

 

x-x-x

 

Hotel Dibs tampak ramai saat para penggemar dari Super Fiction dan Song Jong Ki yang berkumpul disana. Mereka ingin melihat langsung pembuatan drama tersebut. Selain itu mereka juga ingin melihat pemeran utama wanita kali ini.

Ji Sung dan yang lainnya memasuki hotel. Pihak keamanan sudah mengamankan jalan yang akan mereka lewati. Ji Sung adalah yang pertama kali turun dari dalam mobil dan diikuti oleh Jung Soo, Jong Ki, Seu Hwa, dan terakhir Seung Ri. Para penggemar tampak berusaha untuk menyentuh mereka. Tapi keamanan jauh lebih kuat hingga mereka tidak bisa mendekati idola mereka itu.

“Wah, apakah kau benar-benar Shin Seung Ri? Kau sangat cantik hari ini,” ucap Jong Ki setibanya mereka di ruang tunggu.

“Jong Ki-ya, hentikan atau kau akan membuatnya gugup saat konferensi nanti,” tegur Ji Sung.

Arraseo hyung. Tapi apa ini benar dia? Ini sangat berbeda dari dia yang sebelumnya,” ucap Jong Ki.

“Sebaiknya kau bantu dia bagaimana menghadapi para wartawan nanti. Sebagai pemeran utama aku yakin kalau dia akan diberikan banyak pertanyaan nantinya,” seru Ji Sung.

“Biar aku yang melakukannya hyung,” sahut Jung Soo.

“Baiklah. Kalian berdua lebih baik.”

Jung Soo mengajak Seung Ri ke ruangan yang lain dan mendudukkannya diatas sofa. Dia berjongkok di depan Seung Ri dan meraih kaki Seung Ri.

“Apa yang kau lakukan oppa?” ucap Seung Ri dan berusaha melepaskan tangan Jung Soo.

“Tidak nyaman bukan? Berlaku seperti orang lain,” ucap Jung Soo. Dia berhasil melepaskan sepatu Seung Ri dan mulai memijat telapak kakinya. “Sepatu itu sangat tidak nyaman untukmu bukan?” ucapnya lagi.

“Kita akan mulai oppa. Hentikan,” ucap Seung Ri.

“Ini bukanlah dirimu. Bukan juga lingkunganmu. Tapi karena kau sudah melangkah memasuki pintu, akan sulit untuk berjalan keluar. Jadi kau harus menjalaninya. Berusahalah sebaik-baiknya atau kau yang akan terjatuh dan ditendang keluar. Namun jika kau ingin mundur, mundurlah sekarang sebelum terlalu jauh. Kau mengerti?” Jung Soo kembali memakaikan sepatu Seung Ri. Dia membantu gadis itu berdiri untuk memasuki ruangan konferensi.

“Tapi ini sudah konferensi pers, bagaimana mungkin aku mundur?” balas Seung Ri.

“Ini hanya pengenalan artis saja dan masih belum terlalu jauh untuk mundur. Jika kau menyatakan mundur sekarang, Ji Sung hyung bisa mengatasinya dengan mudah. Jika tidak, kau tidak bisa mundur lagi. Seluruh Korea sudah mengenalmu dan akan mengatakan kalau kau seorang yang tidak bertanggung jawab. Kau tahu bagaimana kejamnya netter Korea bukan?”

Seung Ri hanya diam. Terlihat memikirkan perkataan Jung Soo barusan. “Aku akan melakukannya oppa,” jawab Seung Ri kemudian.

“Baiklah. Jika aku boleh tahu, apa alasanmu melakukan hal ini?”

“Alasan? Aku tidak memiliki alasan apapun. Aku hanya ingin melakukan sesuatu hal yang baru. Sesuatu yang lebih menantang.”

“Baiklah. Tapi jika kau melakukannya hanya karena ingin dekat denganku atau Super Fiction, sebaiknya jangan lakukan. Aku akan dengan sukarela berada di dekatmu. Begitu juga dengan teman-temanku.” Jung Soo terlihat tersenyum mendengar ucapan Seung Ri barusan. Sebuah senyuman kecil untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Entah mengapa, tapi dia merasakan hal tersebut kala Seung Ri mengatakan hal tersebut.

“Bukan karena itu oppa…” Seung Ri kembali mempertegas alasannya.

“Baiklah kalau begitu. Konferensi akan segera dimulai, sebaiknya kita keluar.” Jung Soo mengulurkan tangannya pada Seung Ri untuk membantu gadis itu berdiri. “Tapi jika kau merasa tidak sanggup lagi, katakan padaku. Aku akan membantumu keluar sebisaku. Jangan hanya memendamnya sendiri Seung Ri-ya,” ucap Jung Soo sebelum mereka betul-betul keluar.

“Aku mengerti oppa. Aku akan melakukan yang terbaik. Gomawo,” jawab Seung Ri dan kemudian mengikuti langkah Jung Soo.

 

x-x-x

 

Ji Sung mendekati Seung Ri yang sibuk membaca naskah miliknya. Dia harus menghapal semua teks yang melibatkan dirinya. Perannya sangat penting disini.

“Kau melakukannya dengan sangat baik. Maaf tidak bisa menemuimu waktu itu setelah konferensi pers. Tapi aku tidak menyangka kau bisa memiliki percaya diri saat konferensi pers itu,” tegur Ji Sung.

“Kau disini oppa? Kau pasti sibuk menemui para teman-temanmu yang mengucapkan selamat atas comeback-mu oppa. Ah, tentang hal itu, aku hanya berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan semua orang yang memberikan kesempatan ini padaku,” jawab Seung Ri.

“Baiklah. Apakah sulit?” tanya Ji Sung.

“Apanya oppa?”

“Menghapal naskah.”

Ania oppa. Hanya saja aku selalu lupa beberapa kata dalam teksnya,” jawab Seung Ri.

“Benarkah? Bagaimana kalau kita jadikan lebih mudah saja?” saran Ji Sung.

“Lebih mudah? Bagaimana maksud oppa?”

“Ya. Kau tidak perlu menghapal semua yang ada dalam teks itu. Kau hanya perlu berimprovisasi saja. Balas semua apa yang dikatakan Jong Ki sesuai apa yang ada dipikiranmu. Bukankah itu lebih mudah?”

“Apa?”

“Bagaimana? Kalau kau setuju aku akan mengatakan pada yang lain untuk melakukan hal sama. Jadi kalian hanya perlu mengatakan apa yang ada dipikiran kalian. Tapi ada saatnya juga kalian harus menghapal teks untuk bagian yang berat. Tapi untuk bagian yang mudah, kalian bisa mengimprovenya sendiri. Bagaimana? Kau setuju?”

“Itu akan merusak naskah oppa. Aku akan menghapalnya dengan baik. Jadi jangan lakukan hal seperti itu,” jawab Seung Ri.

“Tolong panggil Jung Soo, Jong Ki, dan Seu Hwa kemari,” suruh Ji Sung pada salah satu kru yang berada didekatnya. Ji Sung tersenyum melihat wajah Seung Ri yang terlihat bingung.

Oppa, tidak perlu melakukan hal seperti itu,” ucap Seung Ri.

“Ini bukan karenamu Seung Ri-ya. Lagipula aku ingin melakukan sesuatu yang tidak biasa dari syuting. Jadi kau tenang saja dan dengarkan apa yang kukatakan.”

Mereka bertiga tiba ditempat mereka dan mengambil kursi masing-masing. Ji Sung mulai menjelaskan apa tujuan mereka dipanggil kemari. Tidak ada yang setuju jika dilihat dari raut wajah masing-masing. Itu akan sangat memberatkan mereka. Bagimana mungkin mereka bisa menyelaraskan adegan yang satu dengan yang lainnya? Belum lagi interaksi dengan pemain pembantu yang lainnya.

“Interaksi dengan pemain pembantu yang lain akan tetap sesuai naskah. Tapi interaksi diantara kalian tidak menggunakan naskah. Kalian melakukan improvisasi sendiri. Kalian hanya perlu memahami garis besarnya saja. Untuk percakapannya kalian lakukan sendiri tanpa naskah.”

Hyung, itu tidak mungkin. Ini akan sangat sulit,” protes Jong Ki.

“Bersiap-siap untuk memulai syuting scene satu,” teriak Ji Sung pada para kru tanpa mendengarkan protes Jong Ki. “Saranku, kalian bersiap-siap sekarang,” ucap Ji Sung pada mereka berempat. Tapi dari nada suaranya, hal tersebut lebih tepatnya perintah. Walau terlihat tidak menyukainya, mereka tetap bubar dan bersiap-siap untuk berlatih.

 

x-x-x

 

‘Apa kabarmu hari ini? Apakah semua berjalan lancar sesuai yang kau inginkan? Sesungguhnya aku sangat ingin bertemu denganmu. Tapi saat ini aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Kumohon tetaplah baik-baik saja sampai nanti saatnya kita bertemu. Aku sangat berharap dapat berkencan denganmu sebelum menikah dan membina rumah tangga yang menyenangkan bersamamu. Tapi sepertinya itu hanya ada dalam pikiranku saja. –Istri yang tidak kau kenal-‘

 

Jung Soo membaca pesan tersebut berulang kali. Mencoba memahami arti pesannya. Apa maksudnya dia akan meninggalkan Jung Soo, atau malah akan menunjukkan siapa dirinya? Dia kembali mencoba menghubungi wanita itu. Seperti biasa. Sudah tidak aktif. Dia berpikir untuk membalas pesan tersebut.

 

Bukankah kau istriku? Kenapa selalu bersembunyi? Tunjukkan padaku siapa kau. Setidaknya namamu. Aku tidak akan menuntutmu. Aku akan berusaha menjadi suami terbaik untukmu.

 

Jung Soo mengirimkan pesan tersebut. Walau bagaimanapun, wanita itu sudah berusaha memberikan perhatiannya. Menutupi apa yang terjadi demi karirnya. Bisa saja dia mengatakan pada publik kalau mereka menikah. Tapi tidak.

“Ada apa?” tanya Seung Ri yang kebetulan menghampirinya.

“Dia. Wanita itu mengirimiku pesan. Aku merasa sangat bersalah padanya Seung Ri-ya. Tapi dia tidak memberikan celah padaku untuk mengetahui siapa dia sebenarnya,” jawab Jung Soo.

Seung Ri menepuk bahu Jung Soo. Meminta agar dia lebih tenang. Jung Soo hanya menurut saat Seung Ri menariknya menuju lift. Seung Ri menekan tombol 20 yang merupakan lantai paling atas gedung itu. Seung Ri kembali menarik tangannya setibanya mereka dilantai 20. Mereka keluar dari ruangan. Dari atas gedung itu mereka bisa melihat seluruh kota Seoul.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jung Soo.

“Untuk menenangkan pikiran. Ini yang biasa kulakukan jika pikiranku sedang tidak bagus. Duduk diatas gedung. Membiarkan angin menerpa tubuh. Dengan demikian semua beban rasanya akan terlepas,” jawab Seung Ri.

“Apa kau yakin bisa?”

“Kenapa tidak mencoba? Itu sangat ampuh buatku.”

Jung Soo duduk ditepi gedung mengikuti Seung Ri. Kemudian memejamkan matanya Mencoba merasakan angin malam yang menerpa tubuhnya. Sebuah senyuman mulai terukir di wajahnya. Sepertinya hal itu bekerja juga untuknya.

“Kau lihat? Sebuah senyuman,” teriak Seung Ri yang sedari tadi menatap Jung Soo setelah dia memejamkan matanya. Jung Soo membuka matanya saat mendengar suara Seung Ri.

Gomawo,” ucap Jung Soo.

“Jika kau memiliki masalah, jangan pernah mencoba menyimpannya sendiri oppa. Bukankah kau mengatakan hal itu padaku? Untuk tidak memendamh masalah sendiri. Kau memiliki orang yang menyayangimu disekelilingmu. Mereka pasti akan mendengarkanmu dan memberikan saran jika kau memintanya. Jika tidak, kau bisa menemuiku kapan saja kau mau. Aku penggemarmu yang akan selalu mendukungmu,” sahut Seung Ri.

Tanpa sadar, Jung Soo menarik Seung Ri kedalam pelukannya. Gadis itu benar-benar tahu bagaimana dia. Sejak kehadirannya, Jung Soo bahkan hampir melupakan masalah yang dia hadapi. Dia bahkan hampir melupakan perkara pernikahan itu. Yang dia tahu hanya satu. Shin Seung Ri.

 

x-x-x

 

Syuting hari ini sudah berakhir. Mereka memilih merayakan syuting bertama di bar milik hotel. Seung Ri menegak absinte yang ada di depannya. Pekerjaannya hari ini sangat melelahkan. Minuman dengan kadar alkohol tinggi tersebut cukup membuatnya sedikit kehilangan kesadaran. Apa yang dikatakan Jong Ki waktu itu benar. Wartawan sudah menunggunya diluar sehingga dia memutuskan menunggu sedikit lebih lama.

“Bagaimana hari pertamamu?” tanya Jong Ki yang sudah duduk di sebelahnya.

“Berikan aku satu gelas,” pinta Jong Ki pada bartender yang ada bekerja disana.

“Cukup melelahkan,” jawab Seung Ri.

“Mungkin untuk selanjutkan akan semakin melelahkan.”

Seu Hwa yang sedari tadi memperhatikan menghampiri mereka. Dengan sedikit berbasa-basi dahulu tentunya. Dia menatap Seung Ri dari kepala hingga kaki.

“Jadi, kau yang bernama Shin Seung Ri?” tanya Seu Hwa dengan nada angkuhnya.

Ne. Dan anda Jung Seu Hwa bukan?” sahut Seung Ri.

“Sepertinya kau tahu banyak tentang aku. Jadi aku tidak perlu mengenalkan diri lebih lanjut. Ah, kau ternyata sudah dekat dengan Jong Ki oppa. Atau kau sudah dekat dengan yang lainnya? Aku cukup penasaran. Apa yang membuat Sutradara Ji memilihmu yang bahkan tidak pernah memiliki pengalaman dalam hal ini. Apa kau menggodanya?” tanya Seu Hwa.

“Jaga bicaramu Seu Hwa-ssi. Apa itu yang harus dilakukan sebagai sunbae pada hobae? Tidakkah kau diajari untuk berbicara lebih sopan?” bentak Jong Ki.

Mian oppa. Aku hanya penasaran saja. Apa salah aku bertanya hal demikian?” jawab Seu Hwa.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Jung Soo yang ikut bergabung dengan mereka. Dia mengambil minuman yang ada ditangan Seung Ri dan langsung meminumnya.

Annyeong Jung Soo oppa. Lama tidak bertemu,” sapa Seu Hwa santai. Tampaknya dia tidak merasa bersalah sama sekali.

Annyeong Seu Hwa-ssi,” jawab Jung Soo.

“Apa kau tahu kalau aku melakukan pemotretan baju couple dengan Jong Ki oppa?” tanya Seu Hwa. Dia berusaha memancing rasa cemburu Jung Soo. Dia sangat yakin kalau Jung Soo masih memiliki rasa terhadapnya. Dengan demikian, dia bisa membuat Seung Ri merasa tidak berguna karena Jung Soo sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya.

“Benarkah? Chukkae. Tapi aku harus mengkonfirmasi satu hal. Pemotretan itu adalah tawaran yang aku tolak sebelumnya. Apa jadinya kalau aku menerima dengan syarat tidak dengan dirimu? Apa yang akan terjadi padamu? Wah, aku tidak bisa membayangkan hal itu. Jong Ki-ssi, kuperingatkan padamu. Berhati-hatilah terhadap wanita seperti itu. Jangan sampai kau dirugikan,” ucap Jung Soo.

“Apa maksdumu?” tanya Seu Hwa.

“Kau tidak tahu? Jong Ki mengetahui hal ini. Tapi kau tidak tahu? Apa kau berpikir mereka menolakku dan lebih memilihmu? Tidak Seu Hwa-ya. Mereka menawariku terlebih dahulu. Setelah aku menolak mereka, mereka menawarimu. Dan perkara Jong Ki, bisa dikatakan aku yang meminta mereka untuk menawarkan pada Jong Ki. Bukan begitu Jong Ki-ssi?”

Jong Ki hanya tersenyum sambil mengangkat gelas yang dipegangnya. Wajah Seu Hwa terlihat memerah. Menahan amarah dan rasa malu bersamaan.

“Seung Ri-ssi, mau pulang denganku? Sepertinya mereka harus menyelesaikan urusan mereka. Lagipula kalau terlihat mulai mabuk,” ajak Jung Soo. Seung Ri menyetujui usulan Jung Soo dan mengikuti pria itu meninggalkan Seu Hwa dan Jong Ki.

Annyeong,” ucap Seung Ri sebelum meninggalkan mereka berdua. Langkahnya mulai tidak beraturan. Jung Soo menopangkan salah satu tangan Seung Ri pada bahunya dan membantunya berjalan.

“Tidak bisa menyentuh alkohol, malah nekat meminumnya. Dasar gadis bodoh,” ucap Jung Soo setibanya di dalam mobil yang ada di basement. Dia mengendarai mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.

Jung Soo menghentikan mobilnya di taman yang berada dekat dengan Sungai Han. Jung Soo membeli beberapa botol air mineral dan membangunkan Seung Ri. Dia memaksa Seung Ri meminum banyak air untuk menghilangkan alkoholnya. Berulang kali Seung Ri meminta berhenti, tapi sama sekali tidak diijinkan oleh Jung Soo sebelum dia benar-benar sadar.

“Kau sudah sadar?” tanya Jung Soo.

“Rasanya perutku mual,” ucap Seung Ri sambil menutupi mulutnya. Dengan cepat dia keluar dari dalam mobil. Dan benar saja, dia mengeluarkan seluruh isi perutnya.

“Sepertinya kau sudah baik-baik saja,” ucap Jung Soo yang hanya berdiri sambil melipat tangannya sebatas dada. Dia menyerahkan air mineral lagi pada Seung Ri.

“Dimana ini oppa?” tanya Seung Ri.

“Menurutmu?”

Seung Ri melihat kesekelilingnya. Sekarang dia tahu berada dimana. Mereka berdua berjalan menuju pinggiran sungai. Tidak ada pembicaraan diantara mereka selama hampir dua puluh menit. Bahkan Seung Ri sama sekali tidak bertanya kenapa mereka harus ketempat itu.

“Apa kau sangat mengenal Jung Seu Hwa? Sepertinya kau sangat membenci gadis itu,” tanya Seung Ri membuka pembicaraan.

“Apa kau sangat ingin tahu?” tanya Jung Soo. Seung Ri hanya mengangguk.

“Kita duduk disana. Aku akan menceritakan semuanya,” jawab Jung Soo sambil menunjuk kesebuah kursi yang berada didekat mereka.

“Jung Seu Hwa. Dia adalah penggemar berat Super Fiction sama seperti dirimu. Jika ditanya siapa personil yang sangat dia sukai, itu adalah aku. Seperti penggemar lainnya, dia tahu segala hal tentang aku. Tapi dia berbeda. Jika kau tahu sesaeng fans, seperti itulah dia. Tapi untuk sikap, dia tidak seperti itu. Dia tidak sebrutal yang selama ini kau tahu.” Jung Soo menghentikan pembicaraannya. Memejamkan matanya dan membiarkan angin malam menyentuh wajahnya.

“Dan karena itu kau jatuh cinta padanya?” tanya Seung Ri.

Ania. Aku tidak pernah jatuh cinta padanya walau aku tahu dia menyukaiku. Tapi aku selalu melakukan yang terbaik untuknya. Kami berteman seperti itu selama hampir dua tahun. Selama itu pula aku tidak pernah menyangka akan menyukai gadis itu. Aku meminta para produser untuk memasukkannya sebagai model setiap kali aku pemotretan. Itulah mengapa dia bisa menjadi seperti sekarang. Dan disaat aku menyukainya dan akan melamarnya, dia memilih meninggalkanku,” jawab Jung Soo.

Mereka berdua hanya bisa terdiam setelah Jung Soo selesai bercerita. Seung Ri tersenyum. Tapi dia tidak paham akan satu hal. Apa alasannya marah seperti itu? Apa karena dia masih mencintainya, atau karena sangat membencinya.

“Apa kau masih mencintainya? Seu Hwa eonnie,” tanya Seung Ri. Jujur saja, dia sangat penasaran akan hal itu.

“Cinta? Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Itu sudah hampir setahun lalu. Bagaimana mungkin aku masih mencintainya,” jawab Jung Soo.

“Lalu, kenapa sepertinya kau sangat membencinya oppa?”

“Aku tidak membencinya. Hanya saja merasa sangat kecewa. Hanya itu saja.”

“Kalau begitu apa kau memiliki seseorang yang kau cintai saat ini?” tanya Seung Ri lagi.

Jung Soo terdiam. Apa dia memiliki seseorang seperti itu? Mungkin saja. Terlebih pada gadis yang ada di depannya itu. Sewaktu konferensi pers, dia merasa tidak senang kalau Seung Ri mengatakan alasannya bukan karena dia. Dia bisa memaklumi hal itu saat itu.

Tapi belakangan ini, jika dia melihat Seung Ri bersama Jong Ki, dia merasakan hal aneh. Perasaan nyeri dalam hatinya. Apa artinya dia menyukai gadis itu? Tapi dia memilih hanya menganggapnya sebagai idola setelah dia tahu pernikahan itu. Sekarang, apa dia harus mencintai wanita yang tidak dia kenal itu? Haruskah?

“Lupakan hal itu. Tidak usah dibahas lagi. Kenapa tidak bercerita tentangmu? Kau sudah tahu cukup banyak tentang aku tanpa aku harus bercerita. Tapi aku belum mengetahui apapun tentangmu. Jadi katakan padaku,” pinta Jung Soo.

“Benarkah? Kau ingin tahu?”

“Tentu saja.”

“Apa yang ingin kau tahu tentangku? Tanyakan saja.”

“Semua tentang dirimu.”

“Aku penggemar Super Fiction. Apa itu sudah cukup?” tanya Seung Ri.

“Ayolah. Berhenti bercanda. Jadi, siapa kekasihmu saat ini? Apa dia tidak merasa marah mengetahui kau sangat mencintaiku?”

“Aku hanya memiliki satu hati. Jika aku mencintaimu, aku tidak akan mencintai pria lain. Bahkan untuk menyukai pria lain pun tidak ada dalam benakku. Setidaknya sampai saat ini.”

“Kenapa seperti itu?” tanya Jung Soo yang tidak paham dengan perkataan Seung Ri. Apa gadis itu benar-benar mengharapkannya untuk bersamanya?

“Aku hanya tidak ingin salah dalam memilih oppa. Sebelum aku menemukan seseorang yang tepat, aku akan terus mencintaimu.”

“Benarkah?” ucap Jung Soo yang akhirnya paham dengan pemikiran gadis itu. Sangat tulus untuk mencintai seseorang.

“Hm. Kenapa? Apa kau memiliki seseorang yang pas untuk menjadi kekasihku? Mungkin jika usulan darimu, aku bisa menerimanya,” ucap Seung Ri membuyarkan lamunan Jung Soo.

“Benarkah? Baiklah. Akan kucarikan untukmu.” Mereka berdua tertawa bersama sambil menikmati semilir angin yang berhembus.

 

 

TO BE CONTINUED…

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: