Opera [4/?]

Opera Cover

Part 4

Nama : i-Leetha
Judul Cerita : Opera
Tag (tokoh/cast) : Park Jung Soo, Song Joong Ki, Shin Seung Ri, Kim Seu Hwa, Ji Sung

Other Cast : Super Junior Member yang mungkin muncul dalam setiap part

Genre : Romance, Comfort
Rating : PG-13
Length : Chapter

***

Jong Ki berulang kali menekan bel dari kamar dengan nomor 2608. Kamar apartment itu adalah milik Seung Ri yang dibeli olehnya. Tidak dipungkiri kalau kehidupannya benar-benar berubah total setelah dia menerima tawaran Ji Sung. Berbagai tawaran berdatangan padanya. Mulai dari iklan, pemotretan majalah, model music video dan banyak lagi. Dan baru-baru ini dia diminta untuk menjadi model video clip untuk single terbaru Super Fiction bersama Jong Ki.

“Ada apa jam segini sudah mengangguku?” tanya Seung Ri setelah membukakan pintu. Dia bahkan tidak merapikan rambutnya yang sangat berantakan.

“Apa kau masih tidur?” tanya Jong Ki. Dia tertawa geli saat melihat penampilan Seung Ri saat ini. Baju tidur dengan motif kelinci serta sendal rumah dengan bulu berhiaskan kepala kelinci diatasnya. Rambutnya acak-acakan dengan mata masih setengah tertutup.

“Tentu saja. Aku bahkan baru saja memejamkan mataku. Tapi kau sudah menganggu dengan membunyikan bel seperti orang kesetanan.”

Jong Ki hanya tertawa dan segera masuk kedalam tanpa dipersilahkan terlebih dahulu oleh gadis itu. Tanpa ragu dia berjalan menuju dapur untuk menyeduh kopi dan membuat beberapa potong roti bakar.

“Apa kau mau kubuatkan roti panggang?” tanya Jong Ki.

“Tidak perlu. Aku bisa membuatnya sendiri. Kau tahu sendiri bagaimana roti buatanmu itu,” jawab Seung Ri. Dia kembali kedalam kamar dan merebahkan badannya. Berniat melanjutkan tidurnya lagi. Tapi suara Jong Ki kembali mengganggunya.

“Lagi dan lagi. Kenapa kau selalu mengejek roti buatanku?” teriak Jong Ki.

Seung Ri kembali bangun dari tidurnya dan berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju tempat Jong Ki. “Sudahlah. Tidak bisakah membiarkanku tidur lagi? Aku sangat mengantuk,” ucapnya.

Jong Ki hanya tertawa melihat Seung Ri. Tapi dia tidak setuju dengan keinginan Seung Ri. Bagaimana mungkin dia jauh-jauh datang kemari jika harus makan sendiri juga? Dia memutar musik dengan volume tinggi saat Seung Ri akan kembali ke kamar. Dengan terpaksa, Seung Ri menuruti keinginan Jong Ki dan mencuci mukanya.

Seung Ri duduk di sofa depan sambil membawa secangkir teh yang baru saja dia buat. Tidak lupa dengan roti panggang dengan selai nenas kesukaannya. Jong Ki mengikutinya dengan duduk di sebelah gadis itu. Tidak ada perbincangan diantara mereka hampir sepuluh menit. Mereka asik menikmati teh yang mereka buat sendiri.

Bel apartment Seung Ri berbunyi. Dengan cepat Jong Ki berdiri untuk membukakan pintu. Jung Soo terlihat berdiri di depan pintu dari layar yang dilihat oleh Jong Ki. Dia berpikir apakah harus membukakan pintu atau tidak. Seung Ri yang merasa kalau Jong Ki terlalu lama, mengikuti pria itu dan melihat Jung Soo.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak membukanya?” tanya Seung Ri dan segera membukakan pintu. Namun tangannya ditahan oleh Jong Ki. Dia menggeleng meminta agar Seung Ri tidak membukakan pintu.

“Ada apa denganmu?” tanya Seung Ri.

“Jangan bukakan pintu itu. Bisakah hari ini hanya aku dan kau saja? Kenapa dia selalu datang disaat kita berdua?” protes Jong Ki.

“Apa masalahmu?” Seung Ri kembali bertanya. Jong Ki terlihat aneh belakangan ini. Jika melihat Jung Soo dan Seung Ri berdua, dia selalu menghampiri mereka dan meminta gadis itu untuk menemaninya kemana saja dimana Jung Soo tidak ada.

“Haissh, baiklah. Aku menyukaimu. Jadi aku sangat tidak suka jika kau bersama dengan Jung Soo. Karena itu aku mau hanya hari ini saja, jangan bukakan pintu itu. Hanya hari ini saja, hanya kau dan aku saja. Bisakah kau melakukan hal itu?” pinta Jong Ki. Kali ini dia terlihat sangat serius. Hal itu tampak dari kedua matanya yang menyorotkan permintaan pada Seung Ri.

“Apa kau bodoh? Aku sudah berbeda. Jika kau bisa menghindarkan Jung Soo dariku, apa kau bisa menghindarkan yang lainnya? Para teman-teman artis, para kru, atau Ji Sung oppa. Apa kau bisa meminta mereka untuk tidak berada disekitarku?”

“Aku tidak masalah dengan mereka. Tapi tidak dengan Jung Soo. Apa kau tahu bagaimana penilaianku terhadapnya? Dia mengalahkanku dalam segala hal. Oke, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi dia memenangkan hatimu? Aku sungguh tidak bisa menerima hal itu Seung Ri-ya. Aku benar-benar iri melihatnya,” jawab Jong Ki.

“Apa kau bodoh? Penggemar, aku terlebih dulu mengenalnya dibandingkan dirimu. Jadi apa salah aku terlalu menggemarinya? Kenapa kau menjadi seperti ini Jong Ki-ssi?”

“Katakan padaku kalau kau hanya menyukainya sebatas idola saja. Kau tidak akan menyukainya sebagai pria. Apa kau bisa melakukannya? Jika kau bisa, aku tidak akan keberatan dengan hal itu.”

Seung Ri terdiam. Apa yang dikatakan Jong Ki memang benar. Tapi apa yang bisa dia perbuat. Dari awal dia memang mencintai Jung Soo dan berharap bisa bersama dengannya. Dia memang berjanji akan membatasi rasa cintanya hanya sebagai idola. Tapi dia tidak bisa. Semakin kemari, dia merasa semakin ketergantungan dengan Jung Soo. Jika tidak ada pria itu, dia merasa tidak akan bisa melakukan hal apapun.

“Kenapa? Apa yang kukatakan benar bukan? Kau menyukainya sebagai seorang pria,” sahut Jong Ki lagi.

“Kau sudah tahu dari awal. Sekalipun aku mencoba membatasinya, aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Sekarang terserah padamu. Aku hanya ingin menjalin komunikasi yang baik pada kalian berdua.”

“Seung Ri-ya, untuk kali ini saja. Kumohon dengarkan permintaanku,” ucap Jong Ki.

Seung Ri terlihat memikirkan perkataan Jong Ki barusan. Dia kembali menuju ruang tamu dan duduk diatas sofa sembari memegangi dahinya.

“Seung Ri-ya,” seru Jong Ki lagi.

“Kalian berdua sangat berarti buatku. Tolong jangan membuatku memilih Jong Ki-ssi.

“Seung Ri-ya…’

“Maaf, tapi bisakah tinggalkan aku? Aku benar-benar tidak ingin membuat kalian bertengkar. Jika hal ini membuat pertemanan kaian rusak dan kalian tidak bisa berkomunikasi baik, sepertinya kita tidak perlu saling bertemu lagi. Sebaiknya sekarang keluar dari rumahku. Saat ini aku benar-benar tidak menginginkan kalian berdua dirumahku,” sahut Seung Ri.

“Seung Ri-ya.”

Seung Ri menarik Jong Ki menuju pintu. Dia membuka pintu dan mendorong Jong Ki keluar. Jung Soo yang sedari tadi berdiri hanya bisa melihat mereka berdua dengan bingung.

“Ada apa ini?” tanya Jung Soo.

“Pulang dan jangan pernah mendatangi rumahku lagi,” jawab Seung Ri dan menutup pintu dengan keras.

“Ada apa?” tanya Jung Soo.

Jong Ki meninggalkan Jung Soo tanpa menjawab pertanyaan Jung Soo. Dia masih tidak mengerti apa yang terjadi. Dia kembali membunyikan bel apartemen Seung Ri. Tapi tidak kunjung dibuka yang membuatnya berhenti dan memilih kembali.

 

x-x-x

 

Seu Hwa memandang jalanan diluar dari dalam kafe tempatnya berada sekarang. Dia meminum minuman yang ada di depannya. Tidak lama seorang pria dengan kemeja biru yang dilapisi bleazer hitam menghampirinya. Dia menarik kursi yang ada di depan Seu Hwa dan melepas kaca mata hitamnya. Tersenyum manis. Atau lebih pada senyuman maaf karena keterlambatannya.

“Sudah datang,” tegur Seu Hwa ketus. Dia tidak memperdulikan senyuman pria itu. Rasa kesal karena sudah menunggu terlalu lama membuatnya tidak memandang pria itu

Pria itu menghentikan senyumannya dan memasang wajah serius. Dia memandang gadis yang ada didepannya dengan posisi kedua tangan dilipat sebatas dada. Tapi hal itu tidak mempan untuk Seu Hwa. Dia membalas tatapan pria itu juga.

“Ada apa memanggilku?” tanya pria itu kemudian. Nada suaranya terdengar datar dan tegas. Tidak terdengar nada bersalah karena membuat wanita yang didepannya menunggu.

“Sudah membuatku menunggu, masih bisa bersikap sok tegas seperti itu?” sindir Seu Hwa. Dia hanya tersenyum kecil saat pria itu tidak terpengaruh sama sekali. Pria itu adalah Ji Sung. Seu Hwa yang memintanya bertemu dimana Ji Sung yang menentukan dimana dan kapan. Tapi pria itu terlambat.

“Apa semua berjalan lancar?” tanya Seu Hwa kemudian.

“Apa kau memanggilku hanya untuk menanyakan itu?” balas Ji Sung. Dia mulai terlihat kesal karena Seu Hwa sama sekali tidak menanyakan hal lain sebelumnya. Seu Hwa memintanya untuk mendapatkan Jong Ki bagaimanapun caranya. Ide yang keluar dari Ji Sung adalah menyatukan mereka dalam drama yang akan dia kerjakan.

Awalnya, Seu Hwa tidak setuju jika mereka harus bermain dengan Jung Soo juga. Tapi ancaman Ji Sung yang mengatakan akan menggarap drama untuknya sendiri tahun depan jika dia menolak, membuat Seu Hwa menyetujuinya dengan terpaksa.

“Tentu saja tidak. Apa aku tidak bisa menemui oppa yang sudah lama tidak kutemui?” sahut Seu Hwa tidak mau kalah. Dia tersenyum manis kearah Ji Sung yang membuat Ji Sung berdecak.

“Cih, apa kau masih ingat memiliki seorang oppa sekarang? Bahkan kau tidak menghubungiku setelah namamu dikenal semua orang,” jawab Ji Sung. Dia tidak lagi memasang wajah serius. Melainkan wajah kesal karena perlakuan Seu Hwa.

“Ayolah oppa. Kau tidak mungkin dendam terhadapku kan?” Seu Hwa mengedipkan sebelah matanya agar saudara tertuanya itu tidak marah padanya.

“Kenapa tidak? Apa kau tidak tahu kalau aku itu pendendam? Dendamku sangat parah. Jadi jangan membuatku sakit hati.” Ji Sung terdengar mengancam Seu Hwa. Tapi hal itu tidak membuat gadis itu takut. Dia hanya tertawa dan kembali meminum minumannya. Ji Sung tertawa melihat Seu Hwa yang sama sekali tidak takut padanya. Sepertinya gadis itu benar-benar percaya kalau dia tidak akan menyakitinya. Bagaimana mungkin seorang saudara laki-laki menyakiti adik perempuannya? Terlebih setelah berpisah sekian lama.

Jung Seu Hwa dan Ji Sung adalah saudara kandung. Mereka sudah berpisah sejak Ji Sung berusia 8 tahun dan Seu Hwa berusia 5 tahun. Semua dikarenakan kondisi ekonomi mereka yang cukup sulit pada masa itu. Orangtua mereka terpaksa mengirim mereka berdua ke panti asuhan. Dan disanalah mereka berpisah. Seu Hwa diadopsi oleh seorang pengusaha tekstil dan Ji Sung diadopsi dan dibawa ke Amerika oleh seorang produser yang merangkap sutradara. Dan disana dia dikenal dengan nama Samuel Ji. Setidaknya itu yang diingat dan informasi yang diperoleh Ji Sung selama ini.

“Jadi, apa kau akan kembali ke Amerika oppa?” tanya Seu Hwa.

“Aku tidak berpikir. Bagaimana mungkin aku meninggalkan adikku yang sudah susah payah kutemukan. Sekarang aku hanya berpikir untuk menemukan ibu. Bagaimana menurutmu?” tanya Ji Sung.

“Menemukan orang yang sudah membuang kita? Apa kau bercanda oppa? Shireo. Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya lagi,” sahut Seu Hwa. Dia memang sangat sensitif jika harus membicarakan tentang ibu kandungnya. Sejak dia tahu kalau Ji Sung adalah saudara kandungnya dan dia adalah anak angkat keluarganya sekarang, Seu Hwa tidak pernah mau membicarakan keluarganya itu. Terlebih saat dia tahu kalau dia dan Ji Sung dibuang oleh ibunya.

Wae? Bagaimanapun juga, dia adalah ibu kita. Jika bukan karena dia, kita tidak akan bisa berada ditempat ini. Apa kau tidak berpikir hingga kesana?” tanya Ji Sung.

“Terserah. Aku tetap tidak ingin bertemu dengannya.”

Ji Sung hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Seu Hwa hidup senang dengan orangtuanya yang sekarang. Dia tidak akan pernah bisa melepaskan mereka berdua. Dia juga begitu. Kedua orang tua angkatnya benar-benar menyayanginya. Memberikan apapun yang dia inginkan. Apakah dia harus menemukan orang tua yang sudah membuang mereka? Apakah adil jika dia melakukannya?

“Song Jong Ki, apa kau menyukai pria itu?” tanya Ji Sung mengalihkan pembicaraan.

“Kau sudah tahu. Kenapa harus bertanya lagi oppa,” sahut Seu Hwa.Dia beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Ji Sung yang hanya tersenyum. Adiknya itu benar-benar keras kepala. Walau demikian, dia tidak mungkin akan membiarkan Seu Hwa berada dekat dengan mereka bertiga. Atau semua yang ada akan hancur berantakan. Tapi untuk menghentikan Seu Hwa adalah sesuatu yang tidak bisa dia lakukan. Adiknya itu benar-benar membuatnya sakit kepala.

“Apa kau akan benar-benar meninggalkan oppa disini?” tanya Ji Sung.

“Walau aku tidak ingin, tapi harus. Aku ada pemotretan hari ini oppa,” jawab Seu Hwa dan meninggalkan Ji Sung yang masih memilih berdiam ditempat tersebut.

 

x-x-x

 

Song Jong Ki merapikan pakaian yang sedang dia gunakan. Dia sedang melakukan pemotretan bersama Seu Hwa. Tidak seperti biasanya, hari ini dia tampak tidak fokus. Berbeda dengan Seu Hwa yang terlihat tersenyum sedari tadi.

“Jong Ki-ssi, ada apa denganmu? Kenapa kau tidak bisa fokus?” tanya kru yang bersama mereka. Dia berulang kali melakukan kesalahan yang membuat pemotretan mereka harus diulang berapa kali. Tentu saja ini akan menganggu ke jadwal mereka yang lain.

Mianhae. Aku hanya sedikit sakit kepala. Bisa kita istirahat sebentar?” sahut Jong Ki.

“Baiklah. Kita istirahat satu jam.”

Jong Ki meninggalkan tempat itu menuju mobil miliknya dan segera meninggalkan tempat tersebut. Dia tiba dimana Super Fiction tinggal. Dia harus bicara dengan Jung Soo saat ini juga. Dia membunyikan bel terus menerus. Kebetulan sekali, saat itu hanya ada Jung Soo disana.

“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau ada pemotretan hari ini?” tanya Jung Soo. Atau lebih tepatnya berbasa-basi. Dia tahu betul kalau Jong Ki ingin mengatakan sesuatu saat melihat wajah serius pria itu.

“Jauhi Shin Seung Ri,” ucap Jong Ki tanpa basa basi.

“Sebelumnya masuk dahulu. Apa kau ingin minum sesuatu?” tanya Jung Soo lagi.

“Cukup hyung. Sekarang dengarkan saja apa yang kukatakan. Jauhi Seung Ri.”

“Apa maksudmu? Jauhi Seung Ri? Kenapa aku harus melakukannya?” sahut Jung Soo.

“Apa kau tahu kalau Seung Ri menyukaimu? Jika kau tidak menyukai Seung Ri, sebaiknya jauhi dia. Aku mohon hyung. Jangan memperlakukan gadis sebaik dia hanya untuk melampiaskan amarahmu dari Seu Hwa,” jawab Jong Ki.

“Aku tidak pernah melampiaskan amarahku padanya. Lagipula Seu Hwa tidak ada hubungan denganku lagi. Dan tentang dia menyukaiku? Aku tahu kalau dia menyukaiku. Tapi sebagai penggemar. Bagaimana mungkin aku menjauhi penggemar yang sangat menyukaiku?”

“Sebagai penggemar? Apa kau terlalu polos atau memang berpura-pura tidak tahu hyung? Dia menyukaimu sebagai seorang pria hyung. Sebagai Park Jung Soo yang sesungguhnya. Bukan Park Jung Soo Super Fiction,” teriak Jong Ki.

“Jong Ki-ya, ada apa denganmu?” tanya Jung Soo mencoba mengalihkan topik.

“Terserah jika kau berpura-pura tidak paham. Sekarang aku akan bertanya dengan baik. Apa kau berniat bermain-main dengan Seung Ri setelah kau tahu akan hal ini?”

“Jong Ki-ah, kurasa kau tidak akan mengerti. Aku sendiri tidak mengerti apa yang dia inginkan. Dia juga menginkan aku untuk terus bersamanya. Tapi dia hanya menganggapku idola. Lantas aku harus memaksakan kehendakku? Jadi lebih baik aku melakukan apa yang dia inginkan. Dan sekarang, apa yang menjadi masalahnya?”

Hyung!!! Kau yang menjadi masalahnya. Kau hanya berpura-puta tidak tahu. Tapi sebenarnya kau tahu betul kalau Seung Ri benar-benar menginginkanmu bukan?” Nada suara Jong Ki sudah meninggi. Dia tidak tahu bagaimana cara meyakinkan Jung Soo lagi. Tapi demi kebahagiaan gadis itu, dia akan berusaha agar Jung Soo menyadari perasaannya.

“Kenapa? Apa kau menyukai Seung Ri juga?” tanya Jung Soo.

“Bagaimana jika kukatakan kalau aku menyukainya? Apa kau akan menjauhinya dan memberikan Seung Ri padaku?”

“Bukankah kau ada pemotretan? Segeralah kembali atau mereka akan menghukummu. Kau tahu bagaimana mereka bukan?” sahut Jung Soo. Dia mendorong Jong Ki untuk keluar dari rumahnya dan langsung menutup pintu.

Cukup lama dia terdiam di balik pintu. Walau Jong Ki berulang kali membunyikan bel, dia tidak bergerak sama sekali.

“Aku akan kembali hyung. Tapi ingatlah, jangan pernah abaikan peringatanku ini. Jika kau memang tidak ingin bersamanya, aku yang akan mengambil tempat itu.”

Jong Ki meninggalkan tempat itu untuk segera bertemu dengan Seung Ri. Dia harus meyakinkannya agar tidak selalu terbawa dengan kata-kata Jung Soo. Baru saja dia tiba, Seung Ri bersiap-siap akan pergi. Dia menahan Seung Ri sebelum gadis itu mengacuhkannya.

“Ada apa lagi?” tanya Seung Ri. Mereka hanya berdiri di depan pintu apartemen Seung Ri.

“Jung Soo hyung. Dia hanya menganggap kau sebagai seorang penggemar. Apa kau tidak mengetahui hal itu?” sahut Jong Ki.

Seung Ri menarik napas panjang. Dia membuka pintu apartemennya dan menyuruh Jong Ki masuk. Mereka duduk diruang tamu. “Aku tahu hal itu,” jawab Seung Ri tenang.

Mendengar hal itu, Jong Ki hanya bisa diam. Kenapa Seung Ri masih bisa berdiam diri mengetahui hal itu?

“Apakah kau hanya mengatakan hal itu?” tanya Seung Ri.

“Apa kau akan baik-baik saja dengan keadaan seperti itu?” sahut Jong Ki.

“Sejak aku mengenal mereka, aku mencintai seorang Park Jung Soo. Bahkan aku tidak memandang pria disekitarku dan hanya memberikan cinta yang kumiliki pada mereka. Walau aku tahu mereka hanya menganggap aku penggemar. Aku sudah belajar sejak lama. Dan sekarang dia didepanku. Sudah mengenalku dengan baik dan tahu kalau aku benar-benar mencintainya. Tapi dia tetap bersikap kalau aku hanyalah penggemarnya, sudah tidak menjadi masalah buatku.”

“Seung Ri-ya…”

Gwencana. Gomawo Jong Ki-ssi. Karena sudah mengkhawatirkanku. Apa kau tahu, aku juga penggemarmu dan aku juga mencintaimu seperti aku mencintai mereka dan akan selamanya seperti itu.”

“Seung Ri-ya…”

“Kau akan berangkat syuting? Bisa aku berangkat bersamamu? Aku sedang tidak ingin menaiki mobil vann. Sangat tidak mengenakkan. Kajja.”

 

x-x-x

 

Seu Hwa memasuki Hotel Dibs dan bertemu dengan Jung Soo dipintu masuk. Dia memberikan senyuman terbaiknya. Tapi pria itu mengacuhkannya dan terus berjalan mendahului Seu Hwa. Gadis itu hanya menoleh cuek dan melanjutkan langkahnya untuk bertemu dengan Seung Ri. Dia menemukan Seung Ri bersama dengan Jong Ki dan Ji Sung.

“Oh, kau sudah tiba?” tegur Ji Sung saat melihat mereka berdua memasuki loby hotel..

Seu Hwa hanya mengangguk dan memberi salam dan kemudian mengambil tempat disebelah Jong Ki. Otomatis, Seung Ri harus mengambil tempat yang lain. Tidak lama Jung Soo memasuki ruangan itu dan mengambil tempat disebelah Seung Ri.

“Ah, kalian sudah berkumpul disini?” tanya Jung Soo.

“Apa kalian tidak merasa bosan akhir-akhir ini?” tanya Ji Sung

“Sedikit,” jawab Jung Soo.

“Bagaimana kalau hari ini syuting kita tiadakan. Liburan bersama kru yang lainnya sepertinya menyenangkan. Apa kalian setuju? Mungkin kita bisa menemukan tempat yang bagus saat liburan kita. Bagaimana?” tanya Ji Sung.

“Apa kau serius dengan ucapanmu hyung?” tanya Jung Soo.

“Ah Jong Ki-ya, bukankah sesion berikutnya pemotretan kalian diadakan di Jeju? Jadi ini tidak akan menganggu jadwal pemotretanmu.”

“Baiklah hyung. Kau adalah sutradaranya. Lakukan sesuai keinginanmu,” jawab Jong Ki tidak bersemangat.

Ji Sung menatap mereka berempat. Suasana aneh bisa dirasakan oleh Ji Sung. Seperti sedang terjadi perang dingin diantara mereka berempat. Namun dia memilih tidak ikut campur dan bertindak seolah tidak tahu apa-apa. “Baiklah. Kita berangkat sore ini. Kalian bersiap-siaplah. Kita berkumpul di hotel Land di Jeju. Aku akan meminta temanku melakukan reservasi disana.”

“Baiklah hyung.”

Ji Sung meninggalkan mereka semua. Jong Ki segera menarik tangan Seung Ri untuk meninggalkan tempat itu. “Kita harus belanja dan berangkat kesana bersama-sama. Kau setuju?” ujar Jong Ki.

Ania. Aku yang akan pergi dengannya. Lagipula, kami harus menyatukan gemistri agar penampilan kami maksimal. Sebaiknya pergi dengan Seu Hwa. Bukankah dia sangat berharap pergi denganmu? Jangan melakukan hal seperti itu Jong Ki-ssi,” sahut Jung Soo.

“Hentikan kalian berdua. Aku tidak akan pergi dengan siapapun dari kalian berdua. Aku akan pergi dengan Seu Hwa eonnie. Kau bersedia pergi denganku eonnie?” tanya Seung Ri. Seu Hwa yang bingung hanya mengangguk tanda setuju. Seung Ri menarik tangan Seu Hwa dan mereka berdua meninggalkan tempat tersebut.

 

x-x-x

 

Hotel Land di Jeju bukanlah sebuah hotel mewah. Hanya sebuah hotel dengan panjang tanpa tingkat. Hanya terdapat 45 kamar disana. Semua kamar itu sudah di booking oleh mereka. Dan sesuai permintaan, mereka ingin itu adalah privasi. Tidak ada satu wartawan ataupun penggemar yang mengetahui keberadaan mereka disana.

Suasana hotel yang jauh dari kata mewah memang sengaja dipilih oleh Ji Sung. Dia ingin benar-benar berlibur dengan segala hal yang sangat sederhana. Karena menurutnya berlibur tidaklah harus sesuatu yang mewah.

Jika dilihat dari ukuran, tempat itu tidak bisa dikatakan hotel. Mungkin lebih tepat jika dikatakan motel atau villa. Berada di dekat laut sehingga suara deburan ombak bisa mereka dengar dengan sangat jelas.

Taman mini yang ada di depan hotel menjadi salah satu objek yang menarik dikarenakan bentuk-bentuk tanaman yang beraneka ragam. Mulai dari hewan hingga tumbuhan. Para pengurus taman memang mengurus taman itu dengan sangat baik.

Seung Ri dan Seu Hwa tiba paling akhir. Mereka disambut oleh para kru dan pemeran yang lain yang asik bercerita di lobi dimana mereka berkumpul sejak tadi. Jong Ki dan Jung Soo juga terlihat disana.

“Kenapa lama sekali?” tanya Ji Sung.

“Banyak yang harus kami persiapkan oppa. Apa kau tidak tahu bagaimana susahnya menjadi seorang wanita?” sahut Seu Hwa.

“Baiklah. Aku paham.”

“Jadi, dimana kamar kami? Barang-barang ini harus disimpan dahulu,” ucap Seu Hwa.

Ji Sung memberikan mereka masing-masing satu kunci. Kamar yang berbeda. Jung Soo yang sudah tidak tahan dengan sikap Seung Ri segera menarik koper Seung Ri untuk mengantarkannya kekamar. Dia berjalan duluan setelah berhasil merebut kunci kamarnya juga. Seung Ri hanya bisa mengikutinya tanpa bisa mengatakan apapun.

“Ada apa diantara mereka Sutradara Ji? Apa menurutmu mereka berkencan?” tanya seorang kameramen. Ji Sung hanya menggeleng.

“Sepertinya dia akan mengetahui kebenarannya sebentar lagi,” gumam Ji Sung. Jong Ki menatap Ji Sung. Pemikiran mereka sama. Ji Sung menatap Jong Ki memberi tanda agar dia jauh lebih tenang. Jangan berbuat sesuatu yang akan mengacaukan semuanya. Dia yang akan mengatur semua itu.

“Kau harus melupakan perasaanmu Jong Ki-ya,” gumam Ji Sung. Tanpa diketehui oleh Jong Ki, dia tahu kalau adik sepupunya itu menyukai Seung Ri. Hanya saja dia selalu mendiamkan hal itu. Tapi sekarang dia tidak bisa diam lagi. Dia harus menyadarkan Jong Ki.

 

Bisa kita bertemu hanya berdua hyung?

 

Ji Sung membalas pesan Jong Ki untuk bertemu setelah malam hari di tepi pantai. Sekarang tidaklah waktu yang tepat untuk mereka membicarakan hal itu.

 

x-x-x

 

“Apa yang kau lakukan? Bukankah ini akan membuat para kru merasa aneh? Bagaimana kalau mereka berpikir yang lain tentang kita. Apa kau mau seperti itu?” tanya Seung Ri setibanya dikamar. Dia berulang kali melihat kearah pintu. Takut jika seseorang melihat mereka dan berpikir yang tidak-tidak.

Jung Soo hanya diam. Seung Ri menarik bahunya agar Jung Soo menatapnya saat dia berbicara.

“Apa yang ada dalam pikiranmu saat ini oppa? Apa ada hal yang menganggumu?” tanya Seung Ri lagi. Dia terlihat sangat mengkhawatirkan pria itu.

“Kita…” ucap Jung Soo terputus. Seung Ri masih diam menunggu Jung Soo menyelesaikan ucapannya. Jung Soo berbalik melampiaskan kekesalannya dengan menghentakkan lantai dengan kakinya. Kemudian berbalik lagi menatap Seung Ri.

“Aku tidak bisa lagi lebih lama lagi. Aku harus mengatakannya sekarang,” ucap Jung Soo kemudian.

“Mengatakan apa oppa?” tanya Seung Ri yang hanya bingung melihat tingkah Jung Soo.

“Aku ingin kita memiliki hubungan yang jelas Seung Ri-ya,” ucap Jung Soo setelah dia berhasil mengumpulkan keberaniannya.

“Hubungan yang jelas? Apa maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu oppa.”

“Baiklah. Aku ingin kita berpacaran Seung Ri-ya.”

“Ada apa ini? Apa kau tidak sadar oppa?” tanya Seung Ri. Dia memegangi dahi Jung Soo untuk memastikan kalau pria itu tidak dalam kondisi sakit. Jung Soo memegangi tangannya dan kemudian memeluknya.

“Bagaimana jika ada yang melihat hal ini. Apa yang akan kau katakan?” ucap Seung Ri. Dia meronta berusaha melepaskan pelukan Jung Soo.

“Aku tidak bisa lagi. Aku tidak bisa melepaskanmu Seung Ri-ya. Tidak perduli jika kau hanya mencintaiku sebagai idola bukan sebagai pria. Tapi aku menganggapmu lebih dari seorang penggemar. Aku Berusaha menghilangkan perasaan ini. Tapi tidak bisa. Aku semakin merasa nyeri pada hatiku.”

Oppa…”

“Diamlah. Biarkan seperti ini dulu.”

Seung Ri mulai membalas pelukan Jung Soo. Ada rasa senang dalam hatinya mengetahui Jung Soo juga memiliki perasaan padanya. Tapi bagaimana dengan ‘istrinya’? Apa dia tidak ingin mencarinya lagi?

“Bagaimana dengan istrimu oppa?” Seung Ri memberanikan diri menanyakan hal yang menganggunya itu. Bagaimana mungkin dia berkencan dengan seorang pria beristri. Jung Soo melepaskan pelukannya secara perlahan. Dia memegangi kedua bahu Seung Ri.

“Aku akan tetap bersamamu bagaimanapun keadannya. Aku akan mengurus masalah itu. Jadi cukup percaya saja padaku. Hal ini tidak akan mempersulitmu,” sahut Jung Soo.

“Apa kau akan menceraikannya?”

“Aku bahkan tidak menikah secara hukum. Dan juga aku melakukannya tanpa sadar. Lagipula, tidak ada yang mengetahui hal itu, jadi semua sah-sah saja. Jika aku mencintai orang lain, itu adalah kesalahannya. Kenapa dia tidak muncul dan mencoba agar aku bisa mencintainya? Dia memilih bersembunyi dengan pesan-pesan dan hadiah-hadiah yang dikirimnya.”

“Tapi tidak seharusnya seperti ini oppa.”

Wae?”

“Apa aku akan dikatakan pihak ketiga yang merusak rumah tangga seorang Park Jung Soo jika aku menerimamu?” tanya Seung Ri.

“Aku akan menjamin itu tidak terjadi.”

“Baiklah. Aku akan mencoba. Tapi jika dia sudah menunjukkan dirinya, aku yang akan meninggalkanmu. Apa kau akan baik-baik saja jika demikian?”

“Apa maksudmu?”

“Anggap saja aku hanya menemanimu selama dia tidak ada. Jika istrimu sudah menunjukkan siapa dia sebenarnya, maka aku yang harus pergi.”

“Itu tidak mungkin. Aku tidak akan melakukannya,” protes Jung Soo.

“Aku tidak bisa melakukan hal yang lebih dari itu oppa. Bagaimanapun juga, aku tidak mungkin menyampingkan statusmu yang sudah menikah.”

“Baiklah jika itu maumu. Aku akan menunggumu di depan hotel pukul delapan. Sangat disayangkan jika kita tidak menikmati keindahan pulau ini. Oke?”

Arraseo.”

 

x-x-x

 

Jong Ki keluar dari dalam kamarnya untuk segera menemui Ji Sung di pantai. Sesuai perjanjian mereka. Dia tiba pertama sekali disana. Tidak lama, Ji Sung menghampirinya.

“Ada apa?” tanya Ji Sung.

“Apa kau tidak melihat kejadian tadi hyung? Apa kau akan tetap mendiamkan mereka?” tanya Jong Ki.

“Kenapa? Kau menyukai Seung Ri?” Jong Ki tertegun mendengar perkataan Ji Sung barusan. Bagaimana mungkin terkaan pria itu sangat tepat? Apakah dia terlalu menunjukkan hal itu? Tapi mengapa Seung Ri tidak menyadarinya sebelum dia mengatakan tentang perasaannya yang sebenarnya pada gadis itu?

“Bukan seperti itu hyung.” Jong Ki mencoba mengelak. Tapi untuk mengelabui seorang Ji Sung tidaklah mudah. Jong Ki hanya bisa menunduk yang membuat Ji Sung tersenyum kecil.

“Jong Ki-ah, kenapa kau tidak berpikir untuk melupakan Seung Ri? Kau tahu sendiri kalau kau tidak akan bisa memilikinya. Kenapa kau tidak mencoba untuk menyukai wanita lain? Sekalipun kau merahasiakannya, mereka bertemu seperti ini. Itu membuktikan kalau mereka memang ditakdirkan untuk bersama.”

Ania hyung. Mereka tidak ditakdirkan bersama. Dia menikah dengan Jung Seu Hwa. Tidak dengan Shin Seung Ri!!!” Jong Ki tidak terima dengan ucapan Ji Sung barusan.

“Tapi pada kenyataannya itu satu orang. Jung Seu Hwa yang dia nikahi hanyalah nama. Kenyataannya, dia menikah dengan Shin Seung Ri, dan seperti yang kau lihat. Dia dalam keadaan tidak sadar. Apa kau melihat kalau nama Jung Seu Hwa yang tertera? Mereka hanya memiliki surat nikah yang diberikan pendeta yang menikahkan mereka. Apa kau tidak berpikir kalau nama itu bisa diganti karena tidak memiliki kekuatan hukum? Atau mungkin dari awal tidak nama Seu Hwa yang tertera disana. Tapi nama Seung Ri. Karena jika dia dalam keadaan mabuk berat, dia tidak akan ingat siapa nama wanita itu.”

“Apa maksudmu hyung?”

“Seung Ri tidak sebodoh itu Jong Ki-ah. Kesempatan itu tidak akan disia-siakan olehnya mengingat bagaimana besarnya rasa cinta Seung Ri pada Jung Soo. Tapi aku yakin dia tidak wanita yang licik yang memanfaatkan hal itu. Jadi sekalipun dia merubah nama itu menjadi namanya, dia tidak akan mengambil keuntungan dari itu. Sekarang, kita hanya bisa terus melihat apa yang akan terjadi kedepannya.”

Hyung!!!”

“Sudah, kembali ke kamarmu. Atau akan ada yang melihat kita. Semua akan menjadi kacau.”

 

x-x-x

 

Jung Soo sudah berdiri sedari tadi di depan hotel. Tapi Seung Ri belum juga menunjukkan dirinya. Jung Soo tidak membawa ponselnya sehingga dia tidak bisa menghubungi gadis itu. Hari ini adalah milik mereka berdua. Tidak ingin ada yang menganggu. Itu adalah alasannya mengapa tidak membawa ponselnya.

“Kenapa kau lama sekali?” protes Jung Soo saat Seung Ri baru saja tiba.

“Aku harus berpikir harus mengenakan pakaian apa,” sahut Seung Ri.

Jung Soo hanya tertawa mendengar jawaban polos dari Seung Ri. Gadis itu bahkan tidak berniat membohonginya perkara alasannya terlambat. Jung Soo menarik gadis itu kedalam pelukannya. “Kau terlihat cantik dengan pakaian apapun,” ucap Jung Soo.

Jung Soo menarik tangan Seung Ri untuk meninggalkan tempat tersebut menuju tempat yang sudah dia tentukan sebelumnya.

“Kemana kita?” tanya Seung Ri.

“Ketempat yang sangat indah. Sebaiknya kau diam dan ikuti saja aku,” sahut Jung Soo. Dia terus menarik Seung Ri menuju pantai.

Tidak lama berjalan, mereka tiba di sebuah tempat dimana ada sebuah kain yang dibentangkan diatas pasir. Tidak lupa beberapa buah botol minuman dan makanan ringan juga sudah tersedia disana.

“Apa ini?” tanya Seung Ri.

“Ini tempat yang kumaksud. Kau tidak suka?”

“Kau sungguh lucu oppa,” sahut Seung Ri. Dia tidak menyangka kalau pikiran Jung Soo sesederhana itu.

“Kau tahu, duduk ditepi pantai yang diterangi sinar bulan bersama orang yang kucintai adalah keinginan terbesarku. Jadi aku akan melakukannya bersamamu,” ucap Jung Soo. Dia mendudukkan Seung Ri dan kemudian duduk tepat disamping gadis itu. Membuka dua botol minuman dan memberikan salah satunya pada Seung Ri.

Seung Ri kembali tersenyum. Disamping kesederhanaannya itu, dia menyimpan sebuah ketulusan. “Kau suka?” tanya Jung Soo.

Seung Ri mengangguk. Menurutnya. Kebahagiaan itu sederhana. Cukup jalani yang kau sukai, maka kau akan bahagia. Baginya, melihat Jung Soo tertawa adalah kebahagian terbesarnya. Jadi dia akan melakukan apapun untuk membuat ‘pria’nya itu tertawa.

Jung Soo beranjak dari tempatnya dan berpindah kebelakang Seung Ri. Dia memeluk Seung Ri dan meletakkan dagunya tepat dipuncak kepala Seung Ri. Membiarkan angin malam berhembus mengenai wajah mereka.

“Jangan pernah terlibat secara langsung dengan Jong Ki. Kau milikku sekarang,” ucap Jung Soo. Atau lebih tepatnya peringatan untuk gadis itu.

“Jong Ki? Wae? Aku dan dia berteman baik. Bagaimana mungkin aku tidak berhubungan dengannya?” tanya Seung Ri.

“Bisakah cukup mendengarkan apa yang kukatakan? Aku sangat tidak suka.”

“Huh? Apa sekarang kau cemburu oppa?”

Ania.”

“Benarkah? Kalau begitu aku tidak harus menghindarinya. Bukan masalah untukmu jugakan oppa?” Seung Ri menahan tawanya. Dia ingin melihat bagaimana tindakan pria itu setelah ini.

“Baiklah. Melihatmu bersama dengan Jong Ki masalah untukku. Dia menyukaimu Seung Ri-ya. Bagaimana mungkin aku bisa tenang melihat kau bersamanya?” Respon yang diharapkan oleh Seung Ri. Dia memilih untuk semakin mengganggu pria itu.

“Benarkah? Ah, seharusnya aku lebih dekat lagi dengannya. Mungkin hubungan kami bisa lebih baik lagi.”

“Ya!!!” Jung Soo melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis itu dengan kekesalan penuh.

Seung Ri tertawa melihat Jung Soo. Dia kembali menarik tangan pria itu dan melingkarkan lagi di pinggangnya. Kepalanya disandarkan di lengan Jung Soo yang berisi. “Arraseo. Aku tidak akan melakukannya.”

Jung Soo tertawa kecil melihat tingkah manja Seung Ri. Dia tahu kalau gadis itu hanya ingin mengerjainya. Perbincangan panjang membuat mereka lupa akan waktu. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Bahkan Seung Ri sudah tertidur di pelukannya.

Jung Soo tersenyum melihat wajah Seung Ri. Dia merebahkan Seung Ri dan meletakkan kepalanya diatas kakinya dan terus membelai puncak kepala Seung Ri. Membiarkan hal ini untuk sebentar saja sebelum dia mengantarkan gadis itu kedalam kamarnya.

 

x-x-x

 

Ruang makan di hotel tersebut sudah diisi oleh para kru dan artis yang dibawa oleh Ji Sung. Menu sarapan yang disiapkan oleh pihak hotel adalah nasi goreng dengan ayam bakar. Selain itu juga tersedia beberapa kue-kue basah dan roti panggang dengan tiga jenis selai. Jus dan susu juga disediakan oleh mereka.

Seu Hwa memasuki restoran itu dengan kaus berwarna biru dan hotpans putih yang menutupi setengah pahanya. Dia tersenyum kecil saat melihat Jong Ki disana. Setelah mengambil makanan untuknya, dia berjalan menuju meja dengan Jong Ki yang saat itu duduk sendiri.

“Apa tidak masalah jika aku makan disini?” tanya Seu Hwa. Kejadian di hotel saat itu membuatnya tidak nyaman. Jong Ki benar-benar mempermalukannya saat itu.

“Lanjutkan saja makanmu. Jangan berbicara denganku,” sahut Jong Ki.

Dengan cepat Seu Hwa duduk di depan pria itu. Seu Hwa mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya. Sementara Jong Ki terlihat hanya mengacak-acak makanan di piringnya. Selera makannya benar-benar tidak bagus saat ini.

“Apa ada yang menganggu pikiranmu?” tanya Seu Hwa.

“Maaf kalau aku menganggumu,” ucap Seu Hwa saat Jong Ki menatapnya. Dia melanjutkan makannya. Tidak berniat melanjutkan ucapannya lagi.

“Apa kau pernah menyimpan rahasia besar dari orang sekitarmu?” tanya Jong Ki kemudian. Seu Hwa tidak jadi memasukkan makanan itu kedalam mulutnya lagi. Dia hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jong Ki.

“Berarti kau tidak akan tahu bagaimana rasanya. Sudah. Lanjutkan makanmu. Pihak Inside mengatakan latar akan diambil disini. Jadi kita harus bersiap-siap,” sahut Jong Ki. Jong Ki meninggalkan Seu Hwa terlebih dahulu. Tidak mau tertinggal, Seu Hwa meninggalkan makanannya dan mengikuti Jong Ki.

“Kita pergi bersama,” ujar Seu Hwa. Tanpa ragu dia mengandeng lengan Jong Ki. Tidak seperti biasanya, kali Jong Ki membiarkan gadis itu bergelayun manja di lengannya. Dia hanya tersenyum tipis tanpa disadari oleh Seu Hwa.

Kebun bunga canola yang saat itu sedang mekar menjadi latar pemotretan untuk Jong Ki dan Seu Hwa. Para kru dari majalah Inside sudah berada disana sejak sejam yang lalu untuk melakukan persiapan. Tidak lama Seu Hwa dan Jong Ki tiba hampir bersamaan.

“Wah, indah sekali disini,” ucap Seu Hwa dengan rasa kagum yang luar biasa. Sudah berulang kali dia mendatangi tempat itu. Tapi ini pertama kalinya dia melakukan pemotretan disana. Apalagi bersama Jong Ki.

Oppa, mau mengambil foto selfie bersamaku? Satu kali ini saja. Aku mohon,” ucap Seu Hwa. Dia memasang wajah memohon sambil menunjukkan jari telunjuknya.

“Baiklah,” jawab Jong Ki tanpa berpikir.

“Benarkah? Asik.” Seu Hwa memberikan ponselnya pada Jong Ki untuk mengambil gambar mereka berdua. Jika dia yang mengambil, tidak akan dapat dikarenakan tinggi yang dimiliki oleh Jong Ki. Jong Ki menarik Seu Hwa agar lebih dekat dengannya.

“Ini.” Jong Ki menyerahkan ponsel Seu Hwa setelah mengambil beberapa foto.

“Oh. Oppa…” panggil Seu Hwa saat melihat Jung Soo dan Seung Ri berada disana. Jong Ki melihat kearah yang dimaksud Seu Hwa. Jung Soo menarik tangan Seung Ri untuk berbalik dan menarik Seung Ri meninggalkan tempat itu.

“Ada apa dengan mereka?” tanya Seu Hwa bingung.

“Apa kau sudah gila? Mereka berusaha menghindari para kru yang ada disini. Tapi kau malah berteriak memanggil mereka. Apa kau ingin ada skandal setelah ini?” ucap Jong Ki.

Omo…” Seu Hwa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia melihat apakah ada seseorang yang mencurigakan saat ini.

“Bersikap tenang saja. Jangan seperti itu.” Jong Ki menurunkan tangan Seu Hwa dan menariknya menuju tempat yang disediakan untuk mereka selagi mereka menunggu.

 

x-x-x

 

Ji Sung menghampiri Seung Ri dan Jung Soo yang terlihat duduk di salah satu cafe yang berada dekat hotel. Dia bisa melihat kalau mereka berdua baru saja menghindari sesuatu.

“Kalian disini?” tegur Ji Sung yang membuat mereka kembali terkejut. Serangan Ji Sung barusan benar-benar membuat detak jantung mereka naik.

Hyung,” sahut Jung Soo berusaha tenang walau sebenarnya keringat jagung sudah terlihat disekitar dahinya.

“Apa kalian menikmati liburannya?” tanya Ji Sung seolah tidak tahu situasi yang terjadi.

“Iya hyung. Kami baru saja ingin menghubungi yang lainnya untuk bergabung disini,” sahut Jung Soo.

“Benarkah?” Jung Soo mengangguk dan segera disambut senyuman Ji Sung.

“Yang lain sedang bersiap untuk mengadakan pesta BBQ ditaman belakang hotel. Apa kalian tidak tahu?” tanya Ji Sung.

“Pesta BBQ?”

“Hm. Ah, kalian berdua tidur cepat semalam. Bahkan jam 9 kami sudah tidak melihat kalian. Pasti melelahkan untuk kalian berdua. Benar begitu?”

Ne oppa. Ini pertama kalinya aku melakukan perjalanan seperti ini,” sahut Seung Ri.

“Baiklah. Kalian ingin bergabung sekarang?” ajak Ji Sung.

“Sepertinya tidak buruk. Kami akan segera kesana hyung,” jawab Jung Soo. “Kami menghabiskan makanan ini dulu,” ucapnya lagi sambil menunjuk kearah cake dan minuman yang ada dihadapan mereka.

“Baiklah. Kalau begitu aku menunggu kalian disana,” ucap Ji Sung sambil berjalan meninggalkan mereka.

“Apa menurutmu Ji Sung hyung tahu?” tanya Jung Soo setelah memastikan kalau Ji Sung benar-benar sudah pergi dari tempat mereka.

“Dia terlihat sangat tenang oppa. Mungkin dia tidak tahu tentang hal ini,” sahut Seung Ri.

“Tidak Seung Ri-ya, itu malah mencurigakan. Dia pasti mengetahui sesuatu tentang kita. Jadi sebaiknya kita berhati-hati saja. Kita lihat bagaimana kedepannya,” balas Jung Soo.

“Baiklah. Tapi bagaimana dengan pesta BBQ yang dikatakan? Apakah kita akan datang?”

“Tentu saja. Jika kita tidak datang lagi, pasti akan lebih mencurigakan. Kita tidak memiliki alasan yang tepat untuk berkelit lagi.”

“Baiklah. Kalau begitu kita bergerak sekarang?”

 

x-x-x

 

Taman belakang hotel Land dimana team Ji Sung bermalam terlihat ramai. Kepulan asap terlihat disatu titik dimana beberapa orang pria terlihat asik dengan tempat bakaran dimana mereka mulai memanggang satu persatu daging yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Mereka yang terlihat masih para kru dan staff. Para artis satupun belum menampakkan dirinya.

Jong Ki yang pertama kali memasuki tempat tersebut dengan santai. Dia mengenakan celana pendek berwarna coklat serta baju kaos berwarna hitam. Juga sepatu kain berwarna senada dengan celananya. Dia melihat kesekelilingnya dan melihat Ji Sung baru saja memasuki tempat tersebut.

“Oho, ternyata sutradara kami memiliki konsep santai ternyata,” ucap Jong Ki saat melihat pakaian Ji Sung. Baju kemeja tanpa kerah berwarna abu-abu beserta celana berwarna hitam dan sendal karet.

“Tidak usah meledekku Jong Ki-ya,” sahut Ji Sung. “Apa yang lain belum datang?” tanyanya lagi saat dia belum melihat yang lainnya. Jong Ki hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu.

“Ah, itu Seung Ri,” ucap Jong Ki. Seung Ri memasuki tempat tersebut dengan senyuman diwajahnya. Baju dengan motif garis-garis berwarna biru dan putih tersebut terlihat hampir menutupi celana jeans hotpants berwarna putih yang dikenakannya. Walau terlihat sedikit longgar dikenakannya, namun terlihat sangat bagus dibadan Seung Ri.

“Apa kau melihat Seu Hwa?” tanya Ji Sung.

“Aku belum melihatnya oppa,” jawab Seung Ri.

“Ah, dia disana,” ucap Jong Ki sambil menunjuk ke salah satu tempat dimana Seu Hwa dan Jung Soo masuk hampir bersamaan.

“Oh, apa mereka sudah baikan?” ucap Jong Ki.

Mola. Tapi jika dilihat, sepertinya mereka sudah baikan,” sahut Ji Sung yang saat itu berada di dekat Seung Ri.

“Baguslah. Jadi aku tidak perlu direpotkan lagi dengan semua tingkah aneh Seu Hwa,” jawab Jong Ki.

“Bagaimana menurutmu Seung Ri-ya? Mereka berdua terlihat serasi bukan?’ ucap Ji Sung.

“Ha? Hm, bisa dikatakan begitu oppa,” jawab Seung Ri.

“Kalau begitu, hari ini aku akan menemanimu,” ucap Jong Ki sembari menarik tangan Seung Ri menuju ke meja makan.

Beberapa makanan sudah terhidang diatas meja panjang yang disiapkan oleh pihak hotel. Kolam renang yang terdapat ditengah taman tersebut semakin memperindah suasana. Terlebih saat tempat tersebut didekorasi dengan pita berbagai warna. Tidak lupa lilin disepanjang tepi kolam renang yang berbentuk seperti lapangan balap. Tidak berbentuk dengan jelas.

Jong Ki mengambil beberapa jenis makanan ringan dalam piringnya dan membawanya ke meja dimana Seung Ri menunggunya. Setelah itu dia mengambil dua gelas jus jeruk, sesuai selera Seung Ri.

“Makanan utama belum siap. Sebaiknya kita menyantam makanan pembuka ini dulu,” ucap Jong Ki sambil menyerahkan sebuah garpu pada Seung Ri.

Gomawo oppa,” ucap Seung Ri.

“Oh? Kau memanggilku oppa? Setelah sekian lama?” ujar Jong Ki.

“Hm. Lagipula usiaku berada dibawahmu. Seharusnya sejak awal aku memanggilmu oppa. Maaf selama ini tidak memanggilmu seperti itu,” balas Seung Ri.

“Oho, baiklah. Kalau begitu, aku akan memanggilmu dengan nama…”

Oppa…” tegur Seu Hwa sebelum Jong Ki melanjutkan ucapannya. Dia mengambil tempat disebelah kanan Jong Ki yang masih kosong. Meja berbentuk segi empat tersebut memiliki 4 buah kursi dengan masing-masing satu buah ditiap sisinya. Saat ini, Jong Ki dan Seung Ri duduk berhadapan.

Eonnie, kau disini?” sahut Seung Ri yang segera melemparkan senyumannya. Seu Hwa hanya mengangguk dan mulai menikmati makanan pembuka yang dibawanya.

“Apa aku bisa bergabung?” ucap Jung Soo yang akhirnya bergabung dengan mereka. Tanpa mendapat persetujuan, dia segera duduk di bangku yang tersisa dan menatap mereka bertiga. “Apa ada yang salah?” tanyanya saat tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Walau demikian dia tetap melanjutkan memakan makanan pembuka miliknya.

“Kau tidak makan?” tanya Jung Soo saat dia tidak melihat piring didepannya. Hanya ada tiga buah piring dimeja mereka saat ini.

“Kami sudah selesai sejak tadi,” sahut Jong Ki sembari menunjukkan piring kosong yang sejak tadi berada ditengah-tengah meja.

“Apa kalian makan sepiring berdua?” tanya Jung Soo.

“Bisa iya. Bisa tidak. Seung Ri bahkan tidak menyentuhnya. Hanya mengaduk-aduknya dan kembali meletakkan garpunya. Padahal aku secara pribadi mengambilkan untuknya. Ah, benar-benar sangat mengecewakan,” sahut Jong Ki.

“Benarkah?” Jung Soo sedikit melirik kearah Seung Ri dengan tatapan tidak senangnya. Gadis itu hanya memalingkan wajahnya saat mendapat tatapan seperti itu darinya.

“Sepertinya makanan utama sudah siap. Kenapa kita tidak mengambilnya kesana?” ucap Jung Soo. Tanpa mendengarkan jawaban Jong Ki, dia menarik tangan pria itu meninggalkan meja makan.

Hyung, ada apa? Tidak biasanya seperti ini,” tanya Jong Ki.

“Tidak. Apa kau ingin melihat mereka berdiri mengantri demi mendapatkan daging panggang yang tidak seberapa ini?” jawab Jung Soo.

“Ah. Begitu rupanya. Ah, apa kau dan Seu Hwa sudah baikan?”

“Seu Hwa? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”

“Tidak. Hanya saja kami melihat kau dan Seu Hwa datang bersamaan hyung. Selain itu, kalian juga mengambil tempat dengan waktu yang hampir bersamaan. Apa lagi artinya jika kalian baikan. Aku benar?”

“Kami? Siapa saja yang melihat?”

“Aku, Ji Sung hyung dan Seung Ri.”

“Ah, sepertinya aku tahu mengapa dia bertingkah seperti itu,” ucap Jung Soo dengan setengah suara.

“Apa yang barusan kau katakan hyung?” tanya Jong Ki yang masih bisa mendengar gumaman Jung Soo barusan walau tidak jelas.

Ania, Sebaiknya kita cepat. Mereka mungkin sudah menunggu lama.”

Arraseo.”

Jung Soo dan Jong Ki tiba bersamaan dimana Seung Ri dan Seu Hwa menunggu mereka. Dengan cepat Jung Soo meletakkan piring yang dibawanya kedepan Seung Ri. Otomatis Jong Ki menyerahkan salah satu piring yang dibawanya pada Seu Hwa.

“Selamat makan buat semua,” ucap Jung Soo yang sudah siap dengan garpu dan pisau makan ditangannya. Secara perlahan dia mulai memotong daging yang ada dipiringnya menjadi potongan-potongan kecil. Kemudian memberikan piring tersebut pada Seung Ri dan mengambil piring milik Seung Ri kemudian melakukan hal yang sama.

“Oho, Hyung… kau benar-benar romantis huh? Apa ada sesuatu diantara kalian?” tanya Jong Ki yang sedari tadi memperhatikan tingkah Jung Soo.

“Sesuatu? Tidak ada sesuatu yang lain,” jawab Jung Soo yang terlihat sangat tenang.

“Benarkah?”

“Sudah diam dan makanlah. Kenapa tidak lakukan hal yang sama terhadap Seu Hwa?”

“Dia sudah selesai memotong terlebih dahulu. Jadi aku tidak perlu melakukannya lagi.”

Daebak…” sahut Seung Ri.

Waeyo?” tanya Jong Ki.

Seung Ri menunjuk ke salah satu tempat dimana sebuah kembang api terlihat. Percikan bunga api berwarna-warni dapat mereka lihat dengan jelas dari tempat mereka walau lokasi awal sedikit jauh dari hotel mereka. Kini semua mata tertuju pada arah yang ditunjuk oleh Seung Ri. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Jung Soo untuk menggenggam tangan Seung Ri.

 

x-x-x

 

[Seoul]

Apartemen Super Fiction terlihat dipenuhi oleh para wartawan. Mereka ingin meminta konfirmasi langsung dari Jung Soo tentang sesuatu yang baru saja terjadi. Sebuah media elektronik Dispatch merilis sebuah foto beserta pernyataan kalau Jung Soo sedang berkencan dengan seorang gadis. Walau wajahnya dikaburkan oleh media tersebut, tapi sepertinya semua yang melihat dapat mengetahui siapa gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Shin Seung Ri. Tidak dapat dielakkan lagi, kediaman Seung Ri pun tak luput dari sorotan para wartawan.

“Apa yang kau lakukan sekarang Jung Soo-ya?” tanya Jung Hoon yang baru saja tiba di apartemen mereka.

“Park Jung Soo!!!” Kali ini Jung Hoon lebih membesarkan nada suaranya saat Jung Soo tidak merespon pertanyannya. Jung Soo hanya bisa memegangi dahinya. Dia tidak dapat mengatakan apapun lagi.

“Apakah aku salah jika berkencan? Kenapa kalian harus memarahiku karena hal itu?” tanya Jung Soo. Dia sama sekali tidak paham dengan situasi saat ini. Mengapa semua menyalahkannya?

“Apa kau tidak memikirkan dirimu dan Seung Ri? Apa kau yakin Seung Ri bisa menghadapinya? Ini adalah debutnya. Bahkan film kalian belum tayang. Apa kau yakin mereka bersedia menonton drama itu?” sahut Jung Hoon.

Hyung!!!”

“Sutradara Ji meminta kalian mengklarifikasi keadaan ini. Dia meminta konferensi pers besok. Kau tahu apa yang akan kau lakukan bukan? Ingkari semua yang dikatakan di berita itu. Kau harus berpikir tentangnya Jung Soo-ya,” ucap Jung Hoon berusaha meyakinkan Jung Soo tentang masalah apa yang timbul jika dia membenarkan apa yang ada di berita saat ini.

“Aku harus bertemu dengannya dulu,” sahut Jung Soo.

“Kau tidak akan bisa masuk. Wartawan sudah berkumpul disana.”

“Aku akan mencobanya.”

Jung Soo meninggalkan apartemen tanpa mendengarkan perkataan Jung Hoon dan bersiap menuju kediaman Seung Ri. Seperti yang diduga, wartawan juga sudah memenuhi apartemen dimana Seung Ri tinggal. Bagaimanapun caranya, dia tidak akan bisa melewati para wartawan itu. Kedatangannya kali ini sia-sia. Dan sangat disayangkan lagi saat salah satu reporter melihatnya berada disana. Dia tidak sempat pergi dari tempat itu saat yang lain mulai memadati mobilnya.

Aish jinja,” rutuknya. Suatu kesialan lagi saat dia tidak menemukan ponselnya. Dia tidak membawa ponselnya. Sekarang dia benar-benar tidak dapat melakukan apapun untuk menghindari mereka.

“Shin Seung Ri keluar!!!?” teriak seorang gadis. Perhatian para wartawan tertuju pada suara itu. Sosok Seung Ri terlihat berjalan cepat menuju mobil. Dia datang bersama Ji Sung. Namun langkah Seung Ri sedikit terlambat dari para wartawan. Mereka kembali mengelilingi Seung Ri dengan kamera dan alat perekam mereka. Berbagai pertanyaan terlontar dari mereka yang sama sekali tidak didengar oleh Seung Ri.

“Kami akan mengadakan konferensi pers. Seung Ri berada dibawah naungan manajemen kami. Jadi jika ingin bertanya lebih, silahkan bertanya sewaktu konferensi pers yang akan diadakan besok. Kalian bisa kembali ke tempat kalian dan jangan menganggu ketenangan artis-artis kami. Maaf jika membuat kalian kecewa,” jawab Ji Sung. Dia berusaha membawa Seung Ri keluar dari kerumunan tersebut. Namun gagal.

“Jika kalian seperti ini, tidak akan ada konferensi pers dan kami akan meminta pihak keamanan untuk mengamankan tempat ini. Jadi tolong untuk sekarang tinggalkan tempat ini,” ujar Ji Sung lagi. “Ini bukan sekedar ancaman,” ucapnya lagi.

Mendengar hal itu, satu persatu wartawan meninggalkan tempat itu. Jung Soo segera keluar dari dalam mobilnya. Ji Sung memandang Jung Soo dengan senyum yang tidak biasa.

“Ada apa ini sebenarnya? Kenapa ada masalah seperti ini?” tanya Ji Sung pada mereka berdua yang hanya menunduk. Ji Sung hanya bisa berkacak pinggang sambil memegangi dahinya. “Kita bicarakan ini di dalam,” ucapnya kemudian.

“Katakan padaku, apa kalian bernar-benar berkencan?” tanya Ji Sung setibanya di apartemen Seung Ri. Mereka berdua hanya duduk sambil menoleh satu sama lainnya.

“Ini akan sangat menganggu jalannya syuting. Para penggematmu sudah berkumpul di hotel Jung Soo-ya. Kemungkinan besar kita tidak bisa melanjutkan syuting sekarang,” ucap Ji Sung lagi.

Mianhae hyung.” Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Jung Soo. Dia memegang tangan Seung Ri dengan erat. “Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Memang benar, kami berkencan. Apakah tidak boleh?” ucap Jung Soo kemudian.

“Jung Soo-ya…”

“Apakah seorang artis tidak boleh memiliki hubungan yang spesial dengan seseorang? Kenapa semua harus melampiaskan amarah padaku hanya karena aku dan Seung Ri berpacaran?” Suara Jung Soo mulai meninggi.

“Apa kau tidak paham? Para penggemarmu sangat protektif terhadap gadis yang kau kencani sekarang. Semenjak kejadian yang dilakukan Seu Hwa. Mereka tidak ingin kau tertipu lagi oleh gadis yang hanya mengejar popularitas. Dan sekarang, kau membuat Seung Ri menjadi target utama mereka untuk melihat apakah dia pantas menjadi pendampingmu. Apa kau siap melihat Seung Ri diperlakukan seperti itu?” jawab Ji Sung.

“Jika memang Seung Ri tidak berniat melakukan hal seperti itu, dia tidak akan menyerah hyung.”

“Lalu kau benar-benar siap melihat hal itu?”

Jung Soo hanya diam. Pertanyaan Ji Sung benar-benar susah untuknya. Bagaimana mungkin dia bisa melihat wanitanya diperlakukan seperti itu. Dia benar-benar harus mengambil keputusan.

“Aku yang akan mengatasi mereka,” ucap Jung Soo.

“Apa yang akan kau katakan?”

“Para penggemarku akan mendengarkanku. Jadi sebaiknya serahkan padaku hyung. Aku akan mengatasinya.”

Mendengar hal itu, Ji Sung meninggalkan apartemen Seung Ri dan sedikit membanting pintu saat dia keluar. Jung Soo berdiri dan bejongkok tepat di depan Seung Ri.

Gwencana?” tanya Jung Soo.

Seung Ri tidak menjawab. Dan kini air mata membasahi pipinya. Tangannya terangkat untuk menyeka airmata Seung Ri.

“Kenapa kau menangis?” tanya Jung Soo.

“Apakah ini akan menjadi masalah untukmu oppa?” Seung Ri kembali bertanya. Dia meraih tangan Jung Soo yang menyeka air matanya.

“Aku menjamin itu tidak akan menjadi masalah untukku. Untuk sekarang kita bertemu dengan teman-temanku dulu. Mereka orang pertama yang harus mendengar dari kita langsung,” ucap Jung Soo.

Jung Soo membawa Seung Ri keluar dari apartemen menuju mobilnya. Mereka tiba di apartemen Jung Soo yang berada di Gangnam. Mereka menempati sebuah apartemen yang berada di lantai 11 dan 12.

Nuguya hyung? Apakah dia wanita itu?” tanya Hyuk Jae setibanya mereka di dalam.

“Sebaiknya jangan bertanya yang lain-lain Hyuk-ah. Lebih baik membiarkan mereka menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan,” sahut Heechul.

“Kau benar hyung. Ah, ahgassi. Apa kau baik-baik saja? Perlu aku buatkan sesuatu untuk membuatmu jauh lebih baik?” tanya Siwon. Seung Ri hanya menggeleng.

“Wah, kau jauh lebih cantik dibandingkan pertemuan kita yang pertama,” sahut Kyuhyun.

“Kau sudah mengenalnya? Apa Jung Soo hyung yang memperkenalkannya sendiri?” tanya Donghae.

Ania. Dia adalah salah satu pekerja di Dibs Hotel. Aku bertemu dengannya saat pernikahan Ahra Noona. Wah, kau benar-benar hebat sekarang. Setelah menaklukkan Ji Sung hyung, kau mendapat peran utama darinya. Dan sekarang, kau berkencan dengan Jung Soo hyung. Sungguh. Benar-benar wanita yang menakutkan,” ucap Kyuhyun.

“Hentikan ucapanmu Kyuhyun-ya. Kau tidak pantas mengatakan hal seperti itu. Apa kau tidak memikirkan perasaannya saat kau mengatakan hal seperti itu?” Siwon memperingatkan Kyuhyun sebelum pria itu mengoceh lebih lanjut.

“Apa aku salah? Bukankah yang kukatakan benar?”

“CHO KYUHYUN!!!” teriak Young Woon

“Baiklah. Aku akan diam.” Kyuhyun meninggalkan mereka di ruang tamu.

“Jadi apa yang akan kalian lakukan? Aku dengan akan ada konferensi pers besok. Jung Hoon hyung yang akan menjadi perwakilan dari agensi kita disana. Dan menurut Jung Hoon hyung, tidak akan ada campur tangan agensi dengan apa yang akan kalian katakan besok. Itu murni karena keputusan kalian sendiri. Apa itu benar?” tanya Kim Young Woon.

“Benarkah? Kalau begitu kau harus menyangkalnya hyung. Kau tidak mau jika sesuatu yang buruk terjadi kedepannya bukan?” sahut Donghae.

“Bisakah kalian tidak mengatakan hal seperti itu?” pinta Jung Soo.

“Jung Soo-ya. Kami adalah teman-temanmu. Saranku, sebaiknya pertimbangkan semua. Bagaimana Seung Ri kedepannya. Semua yang kalian katakan besok akan menjadi penentu. Jadi sebaiknya kalian ingkari saja. Hal itu yang terbaik untuk saat ini,” ujar Heechul. Dia memberi masukan yang cukup baik untuk mereka semua.

Seperti yang dikatakan Jung Hoon, ini debut Seung Ri dalam dunia hiburan. Jika dia terlibat skandal seperti ini, citranya akan sangat buruk. Semua orang akan beranggapan dia hanya memanfaatkan ketenaran Jung Soo untuk menaikkan namanya. Seperti yang terjadi dengan Seu Hwa dulu.

“Kumohon. Bisakah? Aku membawanya kemari agar kalian mengenalnya. Tapi kalian mengatakan hal seperti itu. Apa aku salah jika berhubungan dengan dia?” Jung Soo menatap teman-temannya satu persatu.

“Tapi hyung… dia akan terlihat buruk. Tidakkah kau tahu bagaimana para penggemar kita sangat protektif dengan para wanita yang dekat dengan kita? Dia akan menjadi salah satu artis yang paling dibenci nantinya,” sahut Donghae.

Tidak bisa dipungkiri, popularitas Super Fiction memang sangat mendunia. Jika saja seorang artis dibenci oleh mereka, maka dia akan menjadi sosok yang paling dibenci. Itu berarti apapun yang dia kerjakan akan sia-sia. Baik itu lagu, drama, layar lebar, iklan, atau model video clip.

“Itulah mengapa aku butuh kalian. Kita hanya perlu meyakinkan mereka kalau hal seperti sebelumnya tidak akan terjadi,” ucap Jung Soo.

Hyung, apa kau yakin mereka bisa menerimanya?” sahut Jong Won.

“Mereka akan bisa menerimanya Jong Won-ah. Sebaiknya jangan biarkan pikiran negatif memenuhi pikiranmu,” jawab Jung Soo.

“Apa kau tidak melihat apa yang terjadi dengan Sungmin? Sa Eun sekarang memiliki banyak haters,” sambung Shindong.

“Aku akan memikirkan hal itu nanti,” jawab Jung Soo.

“Tapi hyung…” Donghae terlihat tidak terima dengan keputusan Jung Soo tersebut.

“Tenanglah Donghae-ya. Aku ingin bicara berdua dengan Seung Ri. Bisakah kalian tinggalkan kami dulu?” pinta Jung Soo. Teman-temannya hanya mengangguk sambil menepuk bahu Jung Soo sebelum meninggalkannya.

“Baiklah. Kami pergi. Kajja, sepertinya minum beberapa botol soju akan sengat menyenangkan saat ini,” jawab Siwon yang terakhir kali keluar dari ruangan itu.

Dan sekarang, mereka hanya berdua. Jung Soo sama sekali tidak mengatakan apapun sampai Seung Ri berbicara kalau mereka harus berbohong. Mereka tidak boleh mengatakan yang sejujurnya. Selain itu, setelah konferensi, mereka tidak akan memiliki hubungan apapun selain rekan kerja. Menurutnya, hubungan seperti ini akan sangat melelahkan buatnya. Dia tidak menginginkan hal seperti ini. Jika harus disangkal disaat sudah diketahui orang lain, buat apa dilanjutkan lagi? Itu akan semakin membuat mereka tersiksa karena harus semakin berhati-hati. Tidak dipungkiri mereka akan semakin disorot oleh semuanya untuk membuktikan ucapan mereka. Dan itu sangat tidak nyaman.

“Kita tidak pernah serius untuk memulai hubungan ini. Semua hanya untuk sementara. Seperti yang kukatakan waktu itu oppa. Dan kau menyetujui hal itu juga. Jadi sebelum semua menjadi semakin menyakitkan, akan lebih baik kalau semua diakhiri. Maaf sudah menyusahkanmu. Sampai jumpa besok. Aku harap kita masih bisa menjadi teman yang baik setelah ini,” ucap Seung Ri lagi. Dia membungkuk untuk memberikan salam sebelum dia meninggalkan Jung Soo.

“Seung Ri-ya…” Jung Soo berusaha mencegah Seung Ri untuk pergi.

“Tidak bisakah kita mengatakan yang sejujurnya Seung Ri-ya? Aku benar-benar tidak ingin kehilangan lagi. Aku hanya menginginkamu. Aku akan mengatakan semuanya dan menanggung semua resiko dari perkataanku,” ucap Jung Soo. Dia masih terus mencoba agar Seung Ri menyetujui hal tersebut.

Dengan senyuman yang sedikit dipaksa, Seung Ri hanya menggeleng menjawab pertanyaan Jung Soo. Dia menyentuh wajah Jung Soo dan menatap wajah itu dengan penuh kasih. Dia kembali tersenyum dan menurunkan tangannya.

Annyeong oppa,” ucapnya sambil berbalik.

“Aku berjanji akan membuat mereka menyetujui kita Seung Ri-ya. Kumohon jangan menyerah sebelum hal itu,” ucap Jung Soo sebelum Seung Ri benar-benar keluar dari pintu.

 

x-x-x

 

Seung Ri membeli beberapa botol minuman di swalayan yang kebetulan dilewatinya. Yang dia inginkan hanya melewati malam ini tanpa pikiran apapun. Rasanya, jika dia mabuk malam ini akan sangat baik buatnya. Setidaknya dia akan melupakan Jung Soo ataupun masalahnya.

Dia meminta supir untuk mengantarkannya ke Sungai Han. Menikmati malam disana akan sangat menyenangkan bukan? Tanpa ada yang mengetahui dimana dia berada. Dia berpesan pada sang supir agar tidak memberitahu pada siapapun dimana dia saat ini.

Dia mulai meminum soju yang ada ditangannya. Dengan sekali teguk, dia sudah menghabiskan satu botol. Perlahan airmatanya kembali jatuh. Ketenangan air Sungai Han tidak bisa membuatnya tenang. Dia merasa sangat gusar sekarang.

Eomma, apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumamnya.

“Apa aku harus mengatakan semuanya agar dia tidak meninggalkanku?” Kali ini suaranya dapat didengar jika saja dia memiliki teman untuk berbicara. Seung Ri kembali meminum soju yang masih ada disampingnya. Ini adalah botol ketiga dalam waktu hampir satu jam.

Dia perlahan meninggalkan tempat tersebut dengan berjalan sempoyongan. Nyaris terjatuh setiap kali berjalan. Dia sudah meminum melebihi kekuatannya. Batas kekuatan minumnya hanyalah dua botol. Tapi dia sudah menghabiskan tiga botol. Wajar saja dia mulai tidak sadarkan diri.

Seung Ri berjalan perlahan menuju jalanan yang terlihat sepi saat itu. Sambil memegang erat tasnya dia hanya bisa berteriak tanpa tahu apa yang dia katakan. Seung Ri sedikit tersadar saat lampu utama mobil mengenai matanya. Dia hanya bisa berdiri ditempatnya tanpa berniat untuk menghindar.

“Apa kau sudah gila?” teriak seorang pria saat dia hampir saja ditabrak mobil tersebut. Beruntung pria itu menariknya sebelum tubuhnya terhempas ke jalanan.

“Kau, bagaimana kau tahu aku disini? Ah, pasti supirku memberitahumu. Atau kau mengancamnya agar memberitahu aku dimana? Wah, kau sangat bernyali Jong Ki-ssi,” sahut Seung Ri. Dia berusaha menjauhkan tubuhnya dari Jong Ki.

“Aku sudah membaca apa yang ada diberita itu. Jadi aku mencarimu ke apartemen. Tapi aku tidak menemukanmu. Kau benar, aku mengancam supirmu. Jika tidak kulakukan apa yang akan terjadi padamu sekarang? Kau hampir saja mati bodoh!!!”

Seung Ri hanya tertawa. Bukan senang. Tapi menertawakan dirinya. Dia merasa kalau dirinya saat ini sangatlah menyedihkan. Berkencan dengan Park Jung Soo. Tapi tidak ada yang menyetujui hubungan mereka. Dan sekarang, dia bahkan tidak mengkhawatirkannya. Seorang Song Jong Ki yang selama ini selalu dia acuhkan lebih khawatir tentang kondisinya.

“Jong Ki-ssi, kenapa kau seperti ini. Apa kau menyukaiku? Benar-benar menyukaiku?” tanya Seung Ri ditengah ketidak sadarannya.

“Hentikan omong kosongmu. Kuantar pulang dan beristirahatlah. Besok akan jauh lebih berat jika kau seperti ini,” sahut Jong Ki.

“Shin Seung Ri menyedihkan bukan? Punya kekasih, tapi tidak perduli bagaimana kondisiku. Tapi kau. Kau yang selalu aku acuhkan jauh lebih mengkhawatirkanku. Wah, sepertinya aku akan segera menyukaimu Jong Ki-ssi.” Seung Ri pingsan setelah mengatakan hal itu.

Dengan cepat Jong Ki menggendong Seung Ri menuju mobilnya. Dia menidurkan Seung Ri di jok belakang. Jong Ki memperhatikan wajah Seung Ri yang terlihat sembab. Dia cukup yakin kalau Seung Ri menangis sejak tadi. Tapi dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun sekarang.

Jong Ki mengantarkan Seung Ri menuju apartemennya. Setibanya di depan pintu, dia tersadar kalau dia tidak mengetahui password apartemennya. Tidak ada jalan lain selain membawanya ketempatnya, atau ketempat Jung Soo.

Tapi, jika dia membawa ke apartemen Jung Soo, akan semakin memperumit masalah yang ada. Wartawan tidak akan melepaskan sedikitpun pandangan mereka dari Jung Soo ataupun Seung Ri. Jika mereka melihat Seung Ri keluar dari apartemen dimana Jung Soo tinggal, akan membuat mereka semakin sulit menyangkal hubungan mereka. Dan jalan satu-satunya adalah membawanya ke apartemennya.

Setibanya di apartemennya, dia melihat Jung Soo berdiri di depan pintu kamarnya. Untuk bersembunyi tidak lagi bisa dia lakukan. Jung Soo sudah terlebih dahulu melihatnya. Jung Soo mendekatinya dengan wajah yang sulit diartikan. Terlebih saat dia melihat Jong Ki menggendong Seung Ri yang dalam keadaan tidak sadar ke apartemennya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jung Soo. Dia berusaha menahan amarahnya.

“Aku hanya menolongnya. Dia mabuk dan hampir ditabrak oleh mobil. Sekarang dia pingsan. Aku membawanya keapartemennya, tapi sama sekali tidak tahu passwordnya,” ucap Jong Ki. Dia berusaha menjelskan agar tidak terjadi salah paham diantara mereka.

“Akan sangat aneh jika kau tahu passwordnya. Dan sekarang, kenapa kau membawanya kemari. Tidak membawanya ke hotel atau ketempatku?” tanya Jung Soo. Nada suaranya masih terdengar datar dan tenang.

“Aku sudah mempertimbangkan hal itu. Tapi akan sangat beresiko jika kulakukan. Berita mengenai kalian masih menjadi topik pembicaraan. Wartawan tidak akan melepaskan matanya dari kalian begitu saja. Jadi aku memutuskan untuk membawanya ke tempatku,” sahut Jong Ki.

“Berikan dia padaku.”

“Tidak hyung.”

“Bodoh!!! Apa kau pikir bisa membuka pintu dengan posisi seperti itu?”

Jong Ki melihat posisinya. Ia tidak akan bisa membuka pintu dengan posisi seperti itu. Dia menggendong Seung Ri di bagian depan sehingga kedua tangannya dia gunakan untuk mengangkat Seung Ri. Dia tersenyum kecil dan memberikan Seung Ri kedalam gendongan Jung Soo.

Jung Soo meletakkan Seung Ri kedalam kamar Jong Ki dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Jong Ki yang paham memilih meninggalkan mereka berdua untuk membuat minuman untuk mereka berdua. Tidak lama Jung Soo keluar dan menghampiri Jong Ki di ruang tamu.

Gomawo,” ujar Jung Soo.

Ania hyung. Kalian berdua temanku. Jadi aku hanya membantu seorang teman.”

“Bisakah kau menjaganya disaat aku tidak ada disampingnya?” tanya Jung Soo.

“Apa maksudmu hyung? Apa kau akan mengatakan kalau kalian tidak berkencan?”

“Kami memang tidak berkencan Jong Ki-ssi,” ucap Jung Soo.

“Kau tidak bisa berbohong hyung. Aku melihat kalian berdua berjalan berdua malam hari. Dan juga, kau tidur di kamar Seung Ri malam itu. Apa itu tidak memiliki hubungan namanya?”

“Apa kau melihat semuanya?”

“Tentu saja. Seung Ri sangat senang bisa berkencan denganmu. Tapi dengan ucapanmu barusan, apa kau berpikir akan menyangkal hubungan kalian?” tanya Jong Ki.

“Aku pergi. Tolong jaga dia.”

Hyung…”

“Ada saatnya kau harus menutupi kebenaran demi orang yang kau sayangi Jong Ki-ah. Karena tidak selamanya kebenaran yang kau utarakan akan membahagiakannya.”

Jung Soo meninggalkan tempat itu setelah mengucapkan hal itu. Yang dia pikirkan saat ini hanya bagaimana untuk menghadapi konferensi pers dan pertemuan dengan para penggemar besok. Apa yang harus dia katakan didepan para wartawan? Semua menjadi taruhan jika dia salah berbicara sedikit saja.

Jong Ki hanya bisa terdiam. Sepertinya dia tahu alasan kenapa Seung Ri melakukan hal yang sama juga. Melindungi Jung Soo. Sama seperti yang dilakukan oleh Jung Soo barusan. Keinginan mereka untuk saling melindungi benar-benar sangat luar biasa. Tidak perduli jika akhirnya mereka merasa sakit.

“Kalian benar-benar pasangan yang ditakdirkan untuk hidup bersama hyung. Kehadiranku sendiri tidak akan berpengaruh pada Seung Ri. Karena seluruh hidupnya hanya ada namamu saja. Park Jung Soo,” gumam Jong Ki.

 

 

TO BE CONTINUED…

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: