Last Song [2/?]

grunge-flowers-aesthetic-tumblr-Favim.com-3935401

Author: Dewi Andriani

Tittle : Last Song

Cast: Kyuhyun, and Member Super Junior, etc.

Gendre  : Brothership, Sad, Angst, Hurt/Comfort

Length : Two/Three-shoot

***

Summary:

Rekaman Radio Star hari ini sudah berlangsung cukup baik. Mereka puas setelah melihat hasil akhirnya.  “S-suaraku…”  “Sebaiknya kau berkonsultasi dengan dokter.”  Endoskopi. Kini dirinya tengah melakukan suatu kegiatan pemeriksaan yang memang berhubungan dengan sakit yang dideritanya kini. / SM memutuskan untuk mengistirahatkan Kyuhyun selama 2-3 minggu guna pemulihan, Radio Star juga selama dua minggu akan siaran tidak bersama Kyuhyun. “Selama 3 Minggu ini apa keadaanmu membaik?”

“Demikian, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan untukmu. Tapi semoga nanti hasilnya berbeda dengan apa yang kubayangkan.”

“Apa hasilnya uisanim?”

“Kanker laring atau bisa kita sebut sebagai kanker pita suara. ”

“Teukie hyung, apakah suaraku bagus?”

Uri Kyunnie tidak akan bisu!”

“Trauma kecelakaan, salah satu penyebabnya. Kasus Kyuhyun sudah mencapai stadium lanjut.”

“Radio terapi dan kemoterapi harus dilakukan.”

Noona… apakah takdirku adalah sekarang?”

“Kenapa? Kenapa aku tidak bersuara?! Aku bahkan sudah sangat berteriak!”

“Kontrak kami akhiri mianhatta.”

“Apa karena Kyuhyun bisu kau bisa seenaknya hah?!” Helaian lebat itu kini semakin menipis. Air matanya semakin menetes kala mendengar suara yang dahulu pernah keluar dari mulutnya dengan lembut.

“Aku…..bersuara kembali.” Dan ditengah semua orang, mata itu tertutup dengan begitu rapat.

 

***

Chapter Two

 

Sosial media kini tengah memuat sebuah berita. Orang-orang terpaku melihat berita yang tengah terus menjadi booming tersebut. Ingin lebih yakin apakah berita itu benar ataukah berita itu sama sekali hanya hoax suatu berita yang dikarang oleh seseorang. Bola mata mereka terus bergerak untuk menyaksikan baris demi baris yang dimuat dalam berita tersebut.

 

Tidak. Tidak semua orang menyibukan diri untuk membaca berita yang dimuat tersebut, terlebih lagi berita itu hanyalah sebuah berita yang memuat berita hiburan. Banyak dari mereka yang memiliki kesibukan yang lebih penting dibandingkan dengan membaca suatu berita. Namun sebagian diantara merekalah yang kini tengah membacanya, atau bisa dibilang yang sebagian itu adalah penggemar dari salah satu idol group Korea Selatan.

 

Namun bila dilihat lebih tepatnya adalah mereka yang amat sangat menggemari salah satu anggota dari boy group yang bernaung dibawah agency besar SM Entertainment. Mereka itu atau bisa dibilang sebagai sparkyu, yang merupakan magnae dari Super Junior yang kini tengah gencar diberitakan tersebut.

 

Reaksi mereka setelah membaca apa yang menimpa idolanya berbagai macam, ada yang bersedih, biasa saja, dan ada yang sampai tidak rela jika idola mereka benar-benar akan vakum sementara dari dunia hiburan. Pihak SM sudah mengkonfirmasi semua hal tersebut dan semua pers tau dan langsung memberitakannya. SM memutuskan untuk mengistirahatkan Kyuhyun selama 2-3 minggu guna pemulihan, Radio Star juga selama dua minggu akan siaran tidak bersama Kyuhyun. Mereka berspekulasi bahwa kesehatan sang artis lebih penting dari jadwalnya. Namun untunglah semua pihak bisa mengerti dan terus memberikan dukungannya pada Kyuhyun agar segera bisa cepat sembuh dan kembali berkecimpung dalam dunia hiburan.

 

Kyuhyun memang sudah dikabarkan terkena radang pita suara. Hal ini juga sudah disadarinya saat menonton pertandingan Youngshik seorang atlet nasional tenis meja Korea Selatan. Bahkan saat itu dia juga tidak bisa berteriak demi suaranya. Penggemar benar-benar khawatir. Namun kini kekhawatiran mereka sedikit berkurang karena pihak manajemen memberikan kabar akan mengistirahatkannya beberapa waktu demi proses pemulihan yang cepat. Walau berat namun mereka bisa bersabar untuk itu dan berharap agar Kyuhyun benar-benar kembali sehat.

Super Junior Dorm

 

Tubuh itu dihempaskannya dengan kasar secara kasar ke sofa yang memang ada disana. Matanya mendongak, memikirkan sesuatu yang sangat sulit. Sesuatu yang baru saja membuat perasaannya begitu marah. Meski keinginannya dituruti, namun tak ada kata pengertian di dalam kalimat itu. Kalimat halus yang tertuang dalam berita yang semua orang baca itu sebenarnya memiliki sebuah makna kejam yang harus ditanggung.

 

Matanya langsung menatap kepada seseorang yang kini tengah menuangkan air putih dihadapannya. Rupanya salah satu dongsaeng-nya yang sebentar lagi akan enlist. Diteguknya air tersebut dengan lahap, dirinya begitu haus. Seharusnya juga dia merasa lapar karena sejak tadi siang dia juga tidak makan namun sepertinya rasa laparnya berganti dengan rasa kegelisahan dan kemarahan yang tidak bisa dia luapkan.

 

Sang dongsaeng kemudian mengambil posisi duduk disampingnya. Entahlah suasananya tiba-tiba saja menjadi sangat hening. Sebaliknya dirinya pun tidak tau akan memulai untuk berbicara apa, hanya memainkan gelas bening yang telah kosong itu di atas sebuah meja kaca kecil yang memang sengaja diletakan disana.

 

Hyung..” Ucap sang dongsaeng dengan begitu pelan. Tapi mampu membuat dirinya menoleh dan menatap bola mata milik sang dongsaeng. “Wookie-ah apa Kyuhyunnie sudah tidur?”

Ryeowook mengangguk dan mengalihkan pandangannya dari sang leader. Menatap lurus ke bawah. “Baru saja dia minum obat dan tidur.” Leeteuk mengangguk-anggukan kepalanya. Kembali Leeteuk berucap dengan pelan. “Wookie-ah, apa mungkin sekarang kita tengah dicoba lagi?”

“Aku rasa saat ini kita memang dicoba bukan, Teukie hyung?” Pertanyaan retoris itu malah keluar dari bibir Ryeowook. Pandangannya begitu tersirat dengan kekecewaan. “Apa yang membuatmu begini?”

Ryeowook tersenyum dengan getir. “Kau tahu hyung, saat ini aku sangat ingin tidak mempercayai diagnosa dokter yang mengatakan bahwa kemungkinan Kyuhyunnie terkena kanker pita suara?” Leeteuk tersentak mendengar kalimat Ryeowook yang begitu cepat. Apa ini memang karena dirinya yang kelelahan. “Kau bercanda bukan?”

“Untuk apa aku bercanda. Jika sang dokter mengucapkannya dengan begitu serius. Jika 2-3 minggu Kyuhyunnie tak kunjung sembuh kemungkinan itu semakin besar.” Ryeowook menundukan kepalanya semakin dalam.

Leeteuk sungguh tidak percaya dengan kenyataan pahit yang lagi-lagi memukulnya. “Kenapa waktunya harus sama?” Ryeowook menatap Leeteuk dengan pandangannya yang berkaca-kaca. “Waktu apa yang sama?”

Leeteuk mengalihkan pandangannya berusaha menahan agar air mata itu tidak terjatuh. “Jika 2-3 minggu Kyuhyunnie tak kunjung sembuh Sajangnim, akan mengakhiri kontrak kita baik grup maupun pribadi.”

Hyung…” Ryeowook hampir saja membalas kalimat Leeteuk, jika tidak ada seseorang yang memotong ucapannya. “MWORAGO?!” Seorang dengan wajah tampan sekaligus cantiklah yang kini berteriak.

 

Hampir saja teriakan Heechul menggema di seluruh ruangan dorm jika saja Leeteuk tidak langsung berdiri dan menutup mulutnya. Dengan pelan-pelan Ryeowook dan Leeteuk menjelaskan bahwa dongsaeng bungsu mereka kini tengah tertidur dan tidak boleh dulu dibangunkan.

 

Mereka semua minus Kyuhyun duduk bersama membentuk sebuah pertemuan. Para member lain menatap lekat kepada masing-masing mata yang dimiliki oleh dua orang yang kini akan mengatakan hal serius kepada mereka. Entahlah, namun hati mereka mengatakan bahwa mereka akan mendapatkan suatu penjelasan yang pasti membuat perasaannya sakit.

 

Air mata itu langsung meleleh dan pergi menuruni matanya dengan tanpa diperintah. Mata itu begitu perih dan memerah karena menahan rasa kepedihan. Jantung-jantung tersebut terasa mengalami luka yang begitu dalam. Sakit… tapi sakit yang dideritanya sama sekali tidak menimbulkan keluhan-keluhan fisik. Batin dari masing-masing lah yang terasa mengeluh dengan rasa sakitnya.

 

Sakit ketika mendengar suatu kenyataan yang sebenarnya sangat tak ingin diketahui. Sakit ketika mendengar bahwa ketidak adilan selalu saja berlaku pada mereka semua. Sakit karena tidak ada hal lain yang dapat dilakukan selain hanya bisa menuruti apa yang diinginkan orang yang berkedudukan tinggi diantara mereka.

 

Mencoba menahan mata yang dipelupuknya sudah penuh dengan air mata itu,, dirinya mencoba untuk berbicara. “Kita bisa melakukannya, ini semua demi Kyuhyunnie!” Kangin mengangguk mendengar penuturan hyung tertua keduanya itu. “Benar lagipula dalam 2-3 minggu, Kyuhyunnie pasti sudah bisa sembuh.”

Yesung mengelus bahu milik Heechul, tahu bahwa hyung-nya yang satu ini benar-benar terpukul dengan hal yang baru saja dirinya dengar. “Semua akan baik-baik saja.” Leeteuk sungguh bersyukur melihat mereka yang saling mendukung. “Kita akan melakukan semampu yang kita bisa lakukan.”

“Pastinya kita akan membuktikan bahwa kita ini akan bisa mengalahkannya dengan kekuatan yang kita miliki.” Kangin mengangguki semangat apa yang baru saja dikatakan oleh Ryeowook. “Benar kata Wookie. Kyuhyunnie juga tidak akan mungkin kalah dan menyerah begitu saja.”

Heechul yang sudah lebih rileks akhirnya mampu mengucapkan kalimat seperti biasanya. “Akan kulempar semua PSP miliknya jika sampai setan kecil itu menyerah.”

Yesung tertawa dengan celetukan Heechul tersebut. “Tapi disaat Kyuhyunnie sakit kau harus benar-benar berubah jadi ‘ibu’ yang baik hyung.” Heechul membulatkan kedua matanya. Membuat ekspresi seolah-olah dirinya marah. “Yang berperan ‘ibu’ disini adalah Jungsoo!”

Leeteuk memutar bola matanya malas dengan perdebatan kecil itu meski sebenarnya dia senang karena suasana sedih kini sudah menghilang perlahan. “Baiklah. Aku disini adalah eomma sekaligus appa kalian. Maka sekarang istirahatlah dan jangan ada yang protes.”

Arrasseo.” Kalimat skak mat Leeteuk tersebut berhasil membuat mereka tidak melayangkan protesannya dan mengangguk lesu sembari menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.

 

Knop pintu itu tertutup dengan perlahan. Isakan demi isakan dengan diam itu terdengar dari seseorang yang kini tengah duduk menyandarkan dirinya dibalik pintu. Kenyataan pahit yang kini secara perlahan memukul-mukul batinnya.

Dirinya takut bilamana apa yang mereka harapkan tidak bisa dirinya wujudkan. Takut jika waktu akan berhenti berputar dan membenarkan apa yang selalu mereka takuti. Takut bahwa kisah ini akan diakhirinya dengan kesedihan yang mendalam. Dirinya sungguh tidak sanggup untuk melihat saudara-saudaranya terluka lagi. Biarlah kali ini dia sendiri yang menanggung luka itu. Malam ini dihabiskannya dengan menangis tanpa mengeluarkan suara.

 

 

 

Pagi itu semua telah siap dengan pakaian yang mereka kenakan. Meja kecil di ruang makan dalam sana sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan. Tak ada yang special meski sebenarnya bisa saja, makanan mewah dipesan oleh mereka. Namun tidak seperti itu, walau sebenarnya mereka disangka dengan berbagai kemewahan tetapi mereka semua lebih menyukai mengenai kesederhanaan.

 

Meja makan kecil tersebut sudah penuh dikelilingi oleh orang-orang yang akan memakan sarapan paginya. Minuman-minumn menyehatkan juga tersedia disana, bukan suatu minuman yang tidak lazim susu putihlah yang sudah tersaji berdampingan dengan santapan sarapan. Tak ada yang bersuara ketika menikmati sarapan paginya kali ini. Dengan terlebih dahulu berdo’a sebelum memakan sarapannya, agar sarapan tersebut bisa bermanfaat bagi tubuhnya.

 

Tampaknya ada seorang yang kesal karena memperhatikan seseorang lain yang malah memisahkan sayur yang seharusnya dimakan olehnya. “Makan sayurmu Kyuhyun-ah!” Kyuhyun yang dinasehati hanya menghembuskan nafasnya kasar. “Mereka pahit.”

Leeteuk tersenyum maklum dan langsung mengembalikan sayur yang tadi dipisahkannya kembali ke dalam mangkuk Kyuhyun. “Jika kau banyak makan sayuran, pita suaramu akan cepat pulih.” Kyuhyun memiringkan kepalanya lucu. “Jinjjayo? Yang pahit seperti ini bisa membuatku cepat sembuh?”

“Sayuran itu seperti obat alami Kyuhyunnie. Dan satu lagi ini tidak pahit, karena hyung memasaknya dengan bumbu.” Ryeowook menjelaskan dengan matanya yang berbinar-binar.

Kyuhyun mengangguk mengerti dan mulai memakan sayuran tersebut dengan lahap meski sebenarnya lidahnya pahit karena memang masih tidak enak untuk makan. Sembari penuh mulutnya dia berbicara. “Aku akan makan banyak sayur.”

Kangin menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang dongsaeng yang demikian. “Ya ya ya kami tahu. Setidaknya kunyah dulu sebelum berbicara.” Yesung terkikik geli dengan bola mata Kyuhyun yang memang sudah bulat kembali lebih bulat. “Kau tahu hyung ingin mencubitmu dengan pipi penuh begitu.” Kemudian kedua tangannya bergerak mencubit pipi Kyuhyun dengan gemas.

Kyuhyun memutar bola matanya malas dan menatap Yesung tidak semangat. “Hyung sakit.” Leeteuk tersenyum karena magnae-nya itu. “Hari ini kau akan rekaman dulu Radio Star?”

Nde hyung setelah rekaman hari ini, baru aku mengambil cuti.” Heechul sebenarnya agak sedih karena saat cuti Kyuhyun akan kembali dulu ke rumah ayah dan ibunya. “Jangan merepotkan eomma dan appa-mu saat pulang.”

Kyuhyun mengerti bahwa hyung-nya yang tak pernah bisa jujur ini sedih karena akan ditinggalkannya. “Hyung setelah 3 minggu aku kembali.” Heechul memalingkan wajahnya karena malu. “Memang siapa yang merindukanmu?”

Yesung menggoda hyung-nya yang sedang malu. “Perasaan Kyuhyunnie tidak mengatakan bahwa kau merindukannya.” Kangin tertawa karena celetukan Yesung dan malah mempersudut Heechul. “Kaulah yang mengatakannya secara tidak langsung hyung.”

Leeteuk mencoba melerai perdebatan kecil tersebut. “Sudahlah sudah. Yang penting selama 3 minggu Kyuhyunnie beristirahat total dan cepat pulih hingga bisa kembali bersama kita.”

.

.

.

.

.

 

 

 

 

 

 

 

 

20 Agustus 2016

Radio Star

 

Kilatan-kilatan cahaya kamera itu mengarahkan dan memfokuskan diri kepada angel yang akan mereka ambil yang berupa adegan. Semua tim seperti biasanya melakukan kerjasama dan koordinir satu sama lain agar apa yang mereka mau terlaksanakan dengan baik. Mereka melakukan semua dengan cermat dan rapi.

 

Hanya perbincangan-perbincangam singkat dan padat yang tersaji pada rekamana hari ini. Tidak seperti biasanya dengan obrolan-obrolan panjang pada setiap harinya. Pada hari ini memang sengaja dilakukan perbincangan yang ringan karena memikirkan kesehatan salah seorang host mereka. Walau demikian host yang paling kawakan, yaitu Kim Gura memberikan sedikit bumbu agar rekaman hari ini tidak terlalu membosankan.

 

Mereka benar-benar menjaga kesehatan host mereka. Menjaga ucapan-ucapan, keterkejutan agar tidak memancing sang host yang tengah sakit berbicara dengan keras dan berteriak. Namun mereka juga tidak sepenuhnya memotong adegan, dan memberi kesempatan pada yang tengah sakit untuk berbicara dengan pelan meski hanya sepatah dua patah kata.

 

Sebelumnya para tamu juga sudah diberitahukan mengenai kondisi yang demikian. Syukurlah mereka bisa mengerti dan menjaga agar tidak menimbulkan sesuatu yang bisa membuat kondisi yang tengah sakit menjadi lebih parah.

 

Akhirnya rekaman telah selesai. Editing team tidak terlalu sulit untuk melakukan pemisahan antara adegan yang seharusnya tayang dengan adegan yang tidak seharusnya tayang. Syukurlah rekaman cukup baik meski memang agak terasa kurang menggairahkan dibanding hari-hari sebelumnya. Namun baik produser, host, dan semua tim yakin bahwa rekaman hari ini bila ditayangkan tidak akan kalah dari tayangan mereka sebelumnya.

Hwang Gyojin keluar dari gedung siaran dengan wajahnya yang sumringah. Siang ini begitu cerah, tidak terlalu dingin juga tidak terlalu panas. Angina sejuk yang membawa berita gembira dari sang Pencipta itu membalut dan melewati tubuhnya. Ada satu kilatan, dua kilatan, tiga kilatan cahaya kamera. Rupanya sekumpulan orang yang berstatus sebagai wartawan telah berkumpul dan menunggui serta memenuhi di luar gedung siaran MBC. Dengan senyum yang melekat terus diwajahnya, dirinya mulai menghampiri para wartawan itu.

 

Salah seorang wartawan yeoja mulai bertanya dengan agak cepat namun masih bisa dimengerti. “Apa Kyuhyun-ssi dalam keadaan sehat? Ini syuting terakhirnya kah?” Hwang Gyojin membalasnya dengan senyuman. “Baru saja, dan setelahnya dia langsung pulang.”

Seorang wartawan namja kemudian bertanya. “Bagaimana kah apa kondisi Kyuhyun-ssi lebih parah atau bagaimana?”

Hwang Gyojin mengambil nafasnya sejenak sebelum menjelaskan dihadapan semua media. “Dia masih cukup baik. Bahkan kerika tenggorokan Kyuhyun tidak dalam kondisi yang baik, ia tetap melakukan yang terbaik untuk acara. Ini bukan soal ia tidak bisa berbicara tetapi ini membuatnya tidak bisa berbicara dengan suara keras dan bernyanyi. Jadi para staff dan mc lainnya sangat berhati-hati untuk tidak membuatnya melakukan sesuatu yang mempengaruhi tenggorokannya selama rekaman.” Diam sejenak sebelum Gyojin melanjutkan kembali kalimatnya. “Kyuhyun sendiri mengatakan, ini sangat buruk bahwa ia tidak bisa ikut dalam rekaman minggu selanjutnya. Aku tahu ia sibuk melakukan pengobatan yang akan dimulai hari inni. Sesungguhnya aku pikir bukankah lebih baik melakukan pengobatan sebelum rekaman? Aku ingin berterima kasih pada Kyuhyun yang melakukan tanggung jawabnya sampai ia melakukan pengombatannya.”

Semau wartawan memperhatikan Hwang Gyojin dengan lekat, tidak ingin tertinggal satu kalimat pun dari apa yang dirinya jelaskan. “Jadi untuk rekaman minggu selanjutnya Kyuhyun-ssi tidak akan ada?”

“Bukan tidak ada setelah bed rest nya selama 2-3 minggu Kyuhyun akan kembali. Jadi selama 2 episode Radio Star akan tayang tanpa Kyuhyun. Mohon do’anya agar Kyuhyun cepat pulih dan kembali lagi bersama kami.” Gyojin berpamitan setelah mengatakn itu. “Terima kasih Hwang Gyojin-ssi atas waktu anda.” Berlalu lah mereka semua yang akan segera memuat penjelasan dari Hwang Gyojin.

 

Dalam perjalanan pulang itu tak berhenti dirinya memandangi seseorang yang duduk disampingnya yang tengah asyik dengan bendo kotak miliknya. Mengambil gambar dirinya sendiri sembari kemudian mengetikan kata-kata dan mengklik sebuah tulisan berwarna biru. Senyuman senang keluar dari bibirnya.

 

Ini bukanlah Seoul, namun mereka akhirnya sudah tiba di depan rumah seorang lainnya yang tadi hingga sekarang masih tetap mengotak-atik ponsel kotak tersebut. Merasa diperhatikan oleh seseorang, akhirnya dia memilih untuk menatap balik orang yang memperhatikannya.

 

Karena merasa sudah direspon oleh anak asuhnya Manager hyung kemudian bertanya dengan pelan. “Apa yang kau lakukan dengan ponselmu?” Kyuhyun tersenyum dan kemudian menunjukan postingannya. “Ini hyung.”

Manager hyung mengernyit, tidak ada yang spesial dengan apa yang ditunjukan Kyuhyun. “Itu hanya twitter tak ada yang menarik.” Kyuhyun tersenyum kembali. “Aku menuliskan kepada penggemar bahwa aku baik-baik saja dan mereka tak perlu khawatir.”

 

‘Rekaman RS baru saja selesai beberapa saat lalu. Aku benar-benar menyesal bahwa aku tidak bisa menjaga janjiku kepada fans untuk menyelesaikan drama musical sampai akhir… Aku menangguhkan semua siaran dan jadwal perusahaan untuk 2-3 minggu terhitung mulai besok dan aku akan berkonsentrasi pada pengobatan saja dan kembali. Aku akan menjadi sehat!’

 

“Kyuhyunnie kau akan segera pulih.” Sungguh dia mengerti mengenai kalimat Kyuhyun yang sebenarnya terdapat kalimat sedih disana. “Aku akan sembuh dan memenuhi janjiku kembali.”

Manager hyung mengelus bahu Kyuhyun yang sudah dianggap sebagai dongsaeng-nya sendiri ini. “Saat ini yang terpenting adalah kesehatanmu.” Kyuhyun mengangguk dan kemudian memasuki rumah yang sudah lumayan lama dia tinggalkan. “Annyeong hyung.”

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

 

Matanya meneliti dan menelaah sebuah akun media sosial yang baru saja 6 jam yang lalu aktif. Membaca dan memahami kata per kata dari setiap kalimat yang ada dalam postingan itu berusaha untuk meyakinkan bahwa kalimatnya suatu saat nanti akan benar-benar menjadi kenyataan melawan kenyataan buruk yang sudah pasti akan datang.

 

Air mata itu benar-benar tidak bisa dikontrolnya dengan cepat. Pergerakan tangannya terhenti kala air mata miliknya duluan lah yang merembes keluar dari matanya dengan cepat. Sakit sekali untuk merasakannya. Jika saja dirinya sesakit ini lalu bagaimana dengan seseorang yang memang sedang menghadapi semuanya?

 

Dengan lembut seseorang memeluk dan mengelus punggungnya. Menenangkan perasaannya yang memang kini dilanda dengan kegundahan. Berusaha menguatkan satu sama lain walau sebenarnya perasaan mereka semua sama, takut. Yaitu takut akan kehilangan untuk selama-lamanya walau pada dasarnya semua yang bernyawa pasti akan kembali kepada pemiliknya yang paling hakiki, yaitu Tuhan semata.

 

Ryeowook mencoba menstabilkan suaranya yang sebenarnya tengah kacau karena menahan tangisannya. “Aku ingin Kyuhyunnie cepat sehat. Dan apa yang diucapkannya lah yang benar bukan kalimat Jaehyun uisa pada saat itu.” Leeteuk mengerti dan semakin mengencangkan pelukannya. “Dengan berusaha dan berdo’a pasti semua itu bisa terjadi.”

Heechul yang memang juga ada bersama dengan yang lainnya langsung menghibur Ryeowook. “Kita tidak boleh lemah seperti ini, kita malah harus mendukungnya lebih lagi. Atlet Youngsik saja memberikannya semangat.” Yesung mengernyit karena tidak tahu nama siapa yang disebutkan Heechul tadi. “Youngsik nuguya?”

Kangin menggelengkan kepalanya dengan hyung-nya yang kurang up-to-date ini. “Dia atlit nasional tenis meja Korea. Saat itu Kyuhyun menyemangatinya.” Heechul mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Kangin. “Nah dia sengaja membuat akun twitter hanya untuk menyampaikan salam dan do’anya untuk Kyuhyunnie.”

Ryeowook penasaran dengan isi pesan dan salam yang diposting Youngsik yang disebut-sebut Heechul tersebut. “Boleh aku melihatnya?” Heechul tersenyum dan memperlihatkan kepada semua member. “Ini..”

 

‘Halo aku pemain tenis meja Jo Youngsik. Aku dengar dari temanku bahwa Kyuhyun hyung mendukungku selama olimpiade berlangsung dan merasa sangat gembira tetapi aku juga mendengar tentang masalah vocal nodul yang kau alami dan kau harus menghentikan jadwal kerjamu sekarang ini dan aku merasa benar-benar sedih tentang itu.

Oleh karena itu untuk pertama kalinya aku membuat akun twitter, untuk mengirimkan salam untukmu, semoga kau membaca pesanku dan aku berharap kau sembuh dengan cepat, aku akan selalu mendukungmu juga!

Kyuhyun hyung, fighting!’

 

Leeteuk sungguh terharu meski belum pernah bertemu, tetapi banyak orang yang mendo’akan sang dongsaeng. “Maka dari itu kita juga jangan terlihat lemah dan menyerah. Kita harus mendukung Kyuhyun lebih banyak.” Yesung menganggukan kepalanya meyetujui dengan kalimat sang leader. “Kyuhyun sedang semangat untuk sembuh, kita tidak boleh menunjukan kesedihan kita dan membuatnya patah arang.”

“Aku tidak akan sedih lagi dan lebih semangat.” Ryeowook tersenyum dengan semangat meski masih terlihat jelas ada jejak air mata di pipinya.

.

.

.

.

.

 

 

 

 

 

Pintu itu terbuka dengan pelan. Langkah demi langkahnya sengaja dibuat dengan sedemikian pelan. Memperhatikan sekeliling yang ada di dalam ruangan tersebut. Suasananya masih sama seperti ketika orang yang di dalamnya remaja. Lebih dari 6 tahun lamanya mereka tidak bisa membagi waktu bersama.

 

Kini langkahnya berhenti di depan sebuah tempat tidur. Memperhatikan wajah yang kini tengah terlelap dengan damainya. Sudah lama dirinya tak pernah melihatnya langsung karena kesibukan mereka masing-masing. Terduduklah dia disamping tempat tidur yang ada dihadapannya. Ada gurat sakit yang tercetak jelas diwajah seseorang yang sangat dikasihinya.

 

Tangannya terangkat untuk meraba kening sang pemilik tempat tidur itu. Panas. Panas berarti sakit. Itu adalah suatu hal mudah untuk dirinya simpulkan. Hanya saja perasaannya benar-benar mengatakan bahwa sakit itu bukan hanya sakit biasa yang tidak akan terlalu cemas memikirnnya. Otaknya cukup cerdas untuk mengetahui jenis penyakit apa yang mungkin bisa menghampiri seseorang yang begitu dikasihinya ini.

 

Merasa terusik, mata itu akhirnya terbuka secara perlahan-lahan. Tangannya langsung digenggam oleh yang sedari tadi cukup mengusik tidurnya. Genggamannya hangat. Sebuah genggaman yang sudah sangat lama dirinya rindukan. Badan yang tertidur itu, kini dia bangunkan untuk membenarkan bahwa yang sedari tadi mengganggunya adalah benar-benar yang paling dirinya rindukan.

 

Bola mata mereka bertemu. Sungguh benar-benar sama. Bola mata itu adalah bola mata indah ciptaan Tuhan yang tertanam di mata mereka masing-masing. Rasanya sesak. Sesak dengan rasa rindu yang begitu luar biasa terhadap seseorang yang kini berada dihadapannya. Meski bisa dikatakan dia sudah cukup dewasa untuk tak mengecap kerinduan secara berlebihan namun dia tidak bisa untuk menahan rindunya.

 

 

Air mata itu menetes begitu saja mengaliri pipinya, dengan lembut orang tersebut menghapus air matanya. “Kau sudah dewasa.” Sembari menahan tangisnya dirinya tersenyum. “Aboeji, terima kasih sudah mau datang dan menjengukku.”

Tuan Cho menggeleng dan kembali memberikan senyumannya yang begitu lembut untuk putra bungsunya tersebut. “Apakah kau berpikir bahwa aku adalah seorang ayah yang lebih mementingkan perusahaan dibanding anaknya sendiri?” Pertanyaan retoris tersebut membuat Kyuhyun menundukan kepalanya merasa menyesal. “Anniyo aboeji.”

Tuan Cho menghela nafasnya pelan kemudian mengelus rambut itu dengan lembut. “Jika boleh tahu sakit apa yang kau derita?” Kyuhyun mengangkat kepalanya untuk melihat sang ayah. “Pita suaraku terkena radang aboeji.”

“Apakah itu parah?” Tuan Cho bertanya dengan menyelidik. Kyuhyun memalingkan wajahnya. “2-3 minggu aku sembuh.”

Tuan Cho tersenyum dan memberikan pertanyaan yang sama. “Apakah itu parah?” Kyuhyun menggigit bibir bawahnya dan kembali berucap pelan. “Dengan istirahat total aku sembuh.”

“Apakah itu parah?” Nada Tuan Cho dibuat agak tinggi, namun taka da nada marah didalamnya. Kyuhyun kemudian memandang sang ayah. “Kenapa aboeji menanyakan pertanyaan yang sama sebanyak 3 kali?”

Tuan Cho menatap Kyuhyun dengan lembut. Namun pandangan itu seolah menohok hati milik Kyuhyun. “Kenapa kau berbohong?” Kyuhyun tersentak mendengar pertanyaan balik sang ayah. Air matanya tidak kuasa untuk tidak mengalir kembali. “Jika 2-3 minggu aku tak kunjung sembuh aku kemungkinan terkena kanker pita suara. Aku akan kehilangan semuanya aboeji.”

Hati Tuan Cho benar-benar tertohok, meski dia memang sudah tahu tapi mengetahui langsung dari sang anak membuatnya lebih merasa sakit. “Kau tidak kehilangan semuanya sayang. Tuhan begitu menyayangimu.”

“Tapi aku ingin sembuh appa…. Aku ingin sembuh…” Dipeluknya tubuh yang kini bergetar itu oleh Tuan Cho. Mengelusnya berharap beban sang anak bungsunya bisa berkurang meski hanya sedikit. “Dengar sayang. Kita akan berusaha untuk menyembuhkanmu dan tidak akan berhenti berdo’a serta berharap. Namun jika Tuhan lebih mengiginkanmu, jangan pernah menolaknya. Kehidupan disan adalah yang paling baik dengan kehidupan sekarang. Jangan pernah terbebani oleh kami, arrachi?”

Kyuhyun hanya menganggukan kepalanya dengan pelan.

Ada dua orang wanita berbeda umur yang ternyata mereka kini menangis juga. Memeluk satu sama lain seperti apa yang dilakukan didalam. Berharap dapat saling menguatkan walau pada dasarnya mereka amat terpukul menerima kenyataan ini. Haruskah mereka benar-benar kehilangannya untuk selamanya?

 

Mereka tahu bahwa Kyuhyun hanyalah titipan yang diberikan oleh Tuhan dan kini Tuhan mungkin akan mengambilnya kembali. Tapi bisakah mereka meminta agar sedikit lebih banyak diberikan waktu untuk bisa bersamanya? Memeluk dan menjaga sang bungsu hingga akhir? Hingga ia benar-benar menyerah dan menutup kedua matanya?

 

 

 

Pagi itu semua orang dalam keluarga kecil tersebut berkumpul bersama. Menyantap hidangan sarapan mereka dengan sunyi. Menjaga attitude. Bukan sebuah rahasia lagi bahwa dirinya adalah anggota dari salah satu keluarga terpandang Korea Selatan, dimana sang ayah dahulu pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan.

 

Hatinya senang karena melihat semua keluarganya berkumpul. Walau tidak terlalu lengkap, karena kakak iparnya mempunyai kesibukan lain sehingga tidak bisa datang. Dibalik sakitnya ini ada hikmah yang bisa dirinya petik.

 

Setelah beberapa menit akhirnya sarapan mereka sudah selesai. Dirinya sendiri tidak menghabiskannya, karena lidahnya yang memang hingga sekarang masih terasa pahit. Namun Nyonya Cho tersenyum dan memaklumi hal tersebut.

 

Yeoja yang sudah menjadi ibu rumah tangga itu memandang sang dongsaeng dengan semangat. “Kau akan pergi?” Kyuhyun mengangguk dan tersenyum. “Aku akan melihat musikalnya Sunggyu.”

Sang ibu menatapnya dengan pandangan khawatir. “Apa tidak apa-apa? Kondisimu?” Kyuhyun menggeleng dan kembali tersenyum. “Gwenchana eomma. Lagipula tidak terlalu jauh dan hanya sebentar.”

“Namun jika kau memang merasa sudah sangat sakit pulanglah.” Kalimat tegas itu membuatnya mau tak mau harus menganggukan kepalanya tanpa membantah.

Ahra tersenyum karena melihat raut kekesalan pada wajah yang dimiliki dongsaeng semata wayangnya itu. “Lihat appa, anakmu yang sudah sok dewasa itu merajuk.” Kyuhyun memandang Ahra dengan malas. “Noona kebiasaanmu dari kecil tidak pernah berubah.”

Nyonya Cho menggelengkan kepalanya. “Jangan mengolok-olok dongsaeng-mu Ahra-ya.” Ahra tidak menerima dengan nasihat sang ibu. “Aku tidak mengoloknya eomma, aku menertawakannya.”

“Sama saja dasar ibu-ibu!” Kyuhyun berucap dengan kesal untuk membalas kalimat kakaknya tersebut.

Tuan Cho tersenyum dengan keluarga kecilnya. “Hari semakin siang, bergegaslah untuk aktivitasmu masing-masing sebelum aku berubah pikiran dan melarang kalian. Dan Cho Kyuhyun minum obatmu.”

Arrasseo appa.” Jawab Kyuhyun dengan lemas.

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

 

 

Terlihat tangan seseorang tengah memasuk-masukan pakaiannya ke dalam koper. Memilih-milih keperluan apa saja yang harus dirinya bawa selama berada di luar negeri. Mencoba mempertimbangkan mana yang cocok dan mana yang tidak dengan negara yang masih berada dalam kawasan benua Amerika itu.

 

Bukan hanya dirinya ada satu orang lainnya yang juga mempersiapkan pakaian-pakaian, benda-benda dan hal lainnya yang juga dimasukan ke dalam koper. Hanya saja tujuan mereka berdua berbeda dengan koper yang kini sudah menggembung dengan keperluan dari masing-masing pemiliknya.

Sementara 3 orang lain yang juga ada disana hanya memperhatikan hal tersebut tanpa berkedim dan hening. Karena tidak mau merasa menjadi melamun, salah satu diantara mereka mulai mengaktifkan PC yang dia memiliki. Dirinya memainkan suatu permainan yang memang sengaja dirinya download sebagai ajang untuk latihan menjelang pertandingan yang akan diadakan beberapa hari lagi.

 

Yesung yang sudah selesai mem-packanging kopernya menatap Heechul yang terlarut dalam game tersebut. “Permainan apa itu hyung?” Heechul yang memang sedang terlarut membuat Ryeowook mau tidak mau harus menjawabnya. “Namanya League of Legends, yang salah satu game online strategi terpopuler di dunia.”

Yesung kembali mengernyit bingung dengan jawaban Ryeowook. Leeteuk tersenyum dan menghampiri mereka. “Sebentar lagi aka nada turnamen untuk permainan itu. Heechullie akan ikut terjun dalam turnamen bersama Minhwan, Seunghyun dan Hongki.”

“Heechul hyung benar-benar sudah ketagihan.” Ryeowook menatap kagum Heechul yang baru saja menang dalam permainannya. Kangin mengedikan bahunya. “Aku juga bingung kenapa Chullie hyung sangat tertarik dengan game yang menurutku cukup membosankan itu.”

Heechul yang mendengar membuka earphone yang tadi dikenakannya dan menatap Kangin dengan berapi-api. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya jantungmu berdebar-debar saat memainkan permainan ini. Ah Jungsoo kau akan ke Hawai?”

Leeteuk mengangguk dan tersenyum. “Nde hanya aku. Yesung akan konser di Jepang, Ryeowook siap enlist, kau ikut turnamen , Kyuhyunnie sedang dalam pengobatan, lalu Kangin….” Kangin merasa tidak enak karena ditatap Leeteuk dengan seperti itu. “Kau tahu sendiri masalah apa yang menimpaku hyung.”

“Baiklah Jungsoo selamat bersenang-senang.” Heechul membalikan posisi duduknya. Kalimat Ryeowook keluar dan membuat semua agak tersentak. “Kita terpisah-pisah sekarang.” Kemudian menutup matanya pelan.

Leeteuk cukup mengerti perasaan milik Ryeowook, dia juga yakin mereka semua memiliki perasaan yang sama. “Tapi kita akan selalu bersatu kembali pada akhirnya.” Ryeowook mengangguki ucapan sang leader. “Kita tidak akan kehilangan bukan? Kehilangan salah satu dari kita saat kembali?”

Semua terdiam cukup lama bingung dengan jawaban apa yang seharusnya diberikan. Mengerti maksud mendalam dali kalimat tanya milik Ryeowook.Yesung mencoba mencairkan suasana. “Tak akan pernah ada kita kehilangan, percayalah Ryeowookie.”

“Benar yang dikatakan Jungwoon.” Heechul beranjak dan mengacak rambut sang eternal magnae dengan gemas.

.

.

.

.

.

Semua orang bertepuk tangan setelah pertunjukan tersebut berakhir. Semua pemain yang berada di atas panggung membungkuk hormat kepada semua penonton yang ada disana, menyampaikan rasa terima kasihnya karena sudah meluangkan sedikit waktu mereka untuk menyaksikan pertunjukan musikal ini.

 

Di Korea sendiri drama musikal masih banyak disukai dan tidak terlupakan. Meski ditengah banyaknya drama-drama web dan drama-drama modern yang sudah sering tayang di televisi namun mereka masih banyak menyukai drama musikal yang kebanyakan ber-gendre sejarah dan dibawakan dengan dialog langsung dengan pembungkusan yang begitu apik.

 

Masker berwarna putih itu melekat diwajahnya. Mengenakan kemeja panjang berwarna biru dengan celana panjang dipadukan oleh sepatu cets membuatnya nampak begitu tampan dan menawan. Hari ini dirinya cukup puas setelah menyaksikan drama musikal salah satu dongsaeng-nya yang bertajuk ‘All Shook Up’

 

Meski dirinya tidak bisa banyak berteriak dan berkata banyak untuk memberikan dukungannya, namun dia sangat antusias. Sunggyu sendiri berterima kasih, karena ditengah masa pengobatannya dirinya mau meluangkan waktu untuk menyaksikan drama musikal yang dirinya berperan di dalamnya.

 

Melihat banyak kamera yang mengintai dirinya, dia mencoba berjalan cepat. Bukan maksud untuk tidak memberikan keterangan dan bersikap sombong pada pers, namun dirinya memang tidak boleh terlalu banyak dulu bersuara. Juga tidak ingin membuat para penggemarnya menjadi lebih khawatir walau sebenarnya mereka sudah cukup tenang. Akhirnya, dirinya bisa pulang dengan hati yang tidak perlu waspada.

 

 

 

Yeoja bergaya elegan itu sedang berjalan-jalan. Kemudian dirinya yang merasa kelelahan mulai memasuki suatu area café. Bermaksud untuk mengistirahatkan dirinya sembari menyantap sedikit camilan. Dirinya mengernyit saat diperhatikan oleh beberapa anak wanita remaja.

 

Dia tersenyum dalam hati. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah penggemar dari bungsu-nya. Dengan agak malu-malu salah satu diantara mereka mencoba menghampirinya. Dengan ramah dirinya mempersilahkan dia duduk dan mengobrol dengannya.

 

Anak remaja itu bertanya dengan sedikit takut. “Apa Kyuhyun oppa sudah membaik?” Nyonya Cho tersenyum menanggapinya. “Iya dia cukup baik.”

“Apakah tidak perlu pemeriksaan lebih lanjut?” Anak wanita remaja itu memberikan pertanyaannya kembali.

Nyonya Cho mengerti betapa khawatirnya dia ini. “Yang sakit adalah pita suaranya, jadi dia hanya perlu istirahat sebentar dan tetap berdo’a. Jadi jangan terlalu khawatir.” Remaja tersebut tersenyum lebar saat mendengar jawaban Nyonya Cho. “Syukurlah.”

Nyonya Cho menatapnya dan memberikan senyumannya yang begitu tulus. “Terima kasih sudah mendukung dan selalu mendo’akan anakku.” Mereka semua mengangguk. “Tentu sama-sama. Kami akan memberikan yang terbaik untuk Kyuhyun oppa.”

.

.

.

.

.

Waktu 2-3 minggu itu kini telah berlalu. Berharap perkembangan baiklah yang dirinya sekarang rasakan. Suaranya kembali normal. Tubuhnya tidak sakit. Tenggorokannya terasa lega. Namun itu hanya angannya saja. Karena pada kenyataannya yang terjadi sekarang. Tenggorokannya lebih sakit dibandingkan minggu-minggu lalu. Suaranya semakin sulit untuk dirinya keluarkan. Kepalanya bahkan sakit hampir satu minggu.

 

Setiap kali orang dekatnya bertanya, dirinya hanya akan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Memberikan senyumannya selayaknya pada hari biasanya. Bersikap selayaknya biasanya. Berbicara selayaknya biasanya. Namun tidak akan selamanya dia bisa menyimpan ini semua. Ada dua sudut dalam dirinya, yang pertama ingin jujur, namun yang kedua sebaiknya jangan. Dirinya tahu hal-hal apa yang akan terjadi jika sampai ini semua terjadi.

 

Dilangkahkanlah kaki-kaki jenjang miliknya kepada sebuah lorong panjang yang berada dalam rumah untuk menyembuhkan banyak orang sakit ini. Menatap mereka-mereka yang masih bisa tertawa gembira, meski sebenarnya harapan hidup mereka sedikit banyaknya adalah 10% dari mereka semua yang tinggal.

 

Menunggu beberapa saat. Akhirnya nama miliknyalah yang dipanggil oleh petugas kesehatan. Dengan jantung yang cukup tidak karuan, akhirnya mereka berdua kembali bertemu. Menampakan raut-raut wajah yang dipenuhi dengan pertanyaan berbeda satu sama lain.

 

Jaehyun menatap serius sang pasien yang kini duduk dihadapannya. “Selama 3 Minggu ini apa keadaanmu membaik?” Kyuhyun hanya menunduk dan hanya berucap dengan pelan. “Mungkin bisa kau tebak dari suaraku uisa.”

Jaehyun mengernyit suara sang pasien lebih parah dari keadaan sebelumnya. Dirinya beranjak dan membawa sang pasien untuk berbaring dan memeriksanya. Menghela nafasnya sebentar. “Seperti dugaanku sebelumnya dengan kemungkinan yang telah kusebutkan pada saat itu padamu Kyuhyun-ssi.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan uisa?” Kyuhyun bertanya dengan pandangannya yang begitu sedih. Jaehyun mengerti dengan perasaan sang pasien. “Demikian, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan untukmu. Tapi semoga nanti hasilnya berbeda dengan apa yang kubayangkan.”

Kyuhyun memandang Jaehyun dengan lurus. “Pemeriksaan seperti apa?” Jaehyun tersenyum dan berucap dengan lembt. “Biopsi, menentukan apakah penyakitmu itu tahap awal atau bukan. Tunggulah 10 menit lagi proses itu akan segera dilakukan.”

Kyuhyun berbaring dan menatap lurus ke atas, lebih tepatnya ke arah lampu yang tengah bersinar dengan terangnya. Pandangannya kosong. Biopsi. Dia bukan orang medis jadi tidak terlalu mengerti proses seperti apakah itu. Sakitkah? Tidak sakitkah? Dirinya tidak peduli. Dirinya hanya ingin tahu kebenaran apa yang sebenarnya akan dirinya dapatkan.

 

Akhirnya setelah beberapa menit terlewati proses pemeriksaannya selesai. Hari ini sudah menjelang siang, panas yang terik diluar sana membuat kepalanya menjadi lebih sakit dari yang tadi sudah cukup sakit. Mengingat peralatan di rumah sakit itu sudah modern, tidak membutuhkan waktu lama untuk memperoleh hasil sebenarnya yang dirinya dapat.

 

Berkas itu tertumpuk begitu saja diatas meja kerja sang dokter yang memang selalu menanganinya selama hampir lebih dari 3 minggu ini. Menelaah dan meneleti setiap kalimat-kalimat medis yang tertera disana. Dirinya sangat tidak menyesal karena diciptakan menjadi manusia yang pintar dan mudah mengerti. Menjelaskan dengan singkat kepada pasien yang ada dihadapannya.

 

Kyuhyun memandang sang dokter dengan wajahnya yang dipenuhi rasa penasaran. “Apa hasilnya uisanim?”

Jaehyun menarik nafasnya dalam mencoba membuat pasien tidak terlalu terkejut. “Kanker laring atau bisa kita sebut sebagai kanker pita suara.” Kyuhyun memandang sang dokter dengan tidak bergeming. “Lalu?”

Lagi-lagi Jaehyun hanya bisa menghela nafasnya. Inilah salah satu resikonya memberikan kabar buruk bagi sang pasien. “Dan kankermu sudah memasuki tahap stadium 3.” Mata itu tidak mau berkedip. “Dengan kata lain?”

“Ini sudah memasuki stadium yang bisa dikatakan parah pada kasus kanker pada umumnya.” Jaehyun kemudian menyenderkan badannya pada kursi meja miliknya.

Lagi-lagi dia hanya bisa menangis dalam diam. “Jadi aku akan bisu dan….mati?”

Untuk pertama kalinya Jaehyun menyesal sebagai seorang dokter yang selalu jujur.

.

.

.

.

.

 

 

 

 

To Be Continue……….

 

 

 

Fanfic ini aku tulis setelah mendengar kabar kurang membahagiakan dari uri magnae Cho Kyuhyun yang harus istirahat selama 2-3 minggu karena radang pita suara. Dan ternyata meski keliatan ringan penyakit itu bukan main-main. Bisa menimbulkan suatu yang lebih berbahaya lagi. Disini maafkan author ya jika malah memperpanjang deritanya Cho Kyu, eh read this ini hanya just fanfic.
DON’T BASH
DON’T BE SILENT READER
DON’T LIKE DON’T READ
KEEP REVIEW

1 Comment (+add yours?)

  1. leekhom
    Oct 11, 2016 @ 17:12:48

    Hey kyuhyunku sdh sembuh ngapa dibikin makin parah ;-(
    azemmm bikin gw nangis aja nih orang cukup yh kemaren dengan kyuhyun sakit aja q sdh mewek ini malah dibikin lbh parah

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: