Animosty Of Heirs [1/?]

1472824167262

Animosty Of Heirs

Author : @deayustina96
Cast  : 1. Kim Jong Woon
: 2. Park Seo Joon
: 3. Choi Yun Hae (OC)
: 4. Yeon Eun Su
Genre : action, romance, psycho
Rate   : 15+

***

 

Apartement Seo joon, 06.15 KST

Sinar matahari masih enggan menampakkan cahayanya. Salju tetap turun hingga pagi menjelang walaupun, tidak begitu lebat seperti semalam. Banyak orang yang masih bermalas-malasan untuk bekerja jika mengetahui hujan salju masih saja turun. Merasa nyaman dan hangat. Yunhae masih tertidur dikamarnya setelah menghabiskan malamnya yang begitu panjang. Dia melenguh pelan merentangkan ke dua tangannya lalu duduk di tempat tidurnya dengan mata yang masih terpejam. Perlahan bola mata itu mulai mengerjap pelan.

Kesadarannya belum kembali secara utuh, namun indra penciumannya mencium bau roti panggang yang diolesi margarin dan selembar keju juga daging asap di dalamnya. Yunhae mengikuti indra penciumannya sampai pada akhirnya dia mencium aroma parfum yang familier. Matanya yang masih terpejam menyerngit heran kenapa baunya bisa berubah seperti ini…

ketika alam sadarnya itu kembali, matanya menatap pria didepanya. Pria yang sedang memakai apron berwarna merah jambu itu, sedang sibuk menata makannya yang sudah hampir jadi. Yunhae tersenyum melihatnya.

Seo joon mengalihkan pandangannya dan melihat Yunhae yang sedang duduk di kursi sebelah kanan. “ Sepertinya, kau sangat sibuk ya? “ godanya sambil menopang kepalanya dengan tangan kirinya.

“Apa aromanya sangat mengganggu tidurmu Nona? “ Tanya sambil menyuapkan satu potong Sandwich yang sudah jadi ke mulut Yunhae. Gadis itu menggeleng pelan dan mengambil

I potong roti lain lalu menyuapkannya ke mulut Seo joon. Ya, Yunhae paling suka roti panggang buatan Seo joon menurutnya, Roti ini sangat enak dan rasanya pas sekali di lidahnya. Bahkan aromanya saja bisa menggugah selera makannya. Mungkin karena dia menjalankan bisnisnya yang juga bergerak di bidang restoran jadi, dia sudah terbiasa untuk bereksperimen di dapur. Dan tentu saja jika, eksperimen itu berhasil langsung menjadi menu baru dalam restorannya.

“ Tidak, kenapa kau pagi-pagi datang kesini? “ Tanya Yunhae balik. Sejenak Seo joon mencium puncak kepala Yunhae. Hari ini, Seo joon berencana mengajak Yunhae ke Resort miliknya untuk bermain ski bersama. Kadang ada saatnya Seo joon merindukan bagaimana gadis ini merayunya, bagaimana gadis ini bergelayut manja di lengannya saat mereka berjalan bersama. Seo joon menatap gadis itu lekat-lekat. Mencoba melihat seberapa cantiknya wanita yang ia miliki saat ini. Rambut yang bergelombang dengan warna coklat keemasan. Serta kulit yang begitu putih hampir mendekati warna pucat. Entah itu sebuah penyakit atau apa tapi memang Yunhae memiliki warna kulit yang berbeda dari orang lain

“ apa kau hari ini libur? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. “ tanya sambil membelai lembut rambutnya.

“ Kurasa, aku hari ini libur. Memang kita mau pergi ke mana? “ tanya gadis itu dengan rasa ingin tau. Pupil matanya mulai membesar. Seperti sedang menunjukkan puppy eyes milikinya yang selalu membuat Seo joon tidak tahan untuk tidak menurutinya.

“ ehm, nanti kau juga akan tau. Bersiaplah! “ Seo joon segera berjalan keluar dan mengambil beberapa potong baju yang terlihat begitu hangat untuk dipakai. Gadis itu memiringkan kepalanya. Dalam otaknya dia bertanya kenapa Seo joon membawa baju itu. Apa dia ingin menawarkan baju itu kepada dirinya?

“ pilihlah salah satu dari ini? “. Dan ya, benar Seo joon menawarkan baju itu dengan senyum kebanggaan.

“ kau tidak perlu melakukan hal ini.Aku masih memiliki baju dan juga jaket tebal di dalam lemari.” Tolak Yunhae sambil berjalan ke dalam kamar mandi. Pria itu hanya tertawa dan segera duduk di sofa melihat kelakuan Yunhae yang selalu bersih dan rapi membuat Seo joon merasa nyaman untuk disini. Ya, Walaupun tinggal bersama ibunya juga saat menyenangkan tapi terlihat lebih membosankan.

Setelah 45 menit berlalu Yunhae mulai keluar dari kamarnya lalu memeluk Seo joon dari belakang. Yunhae menaruh dagunya di bahu Seo joon membuat bulu kuduknya merinding saat hembusan nafas gadis itu menerpa kulitnya.

“ memangnya kita mau pergi ke mana? “ tanyanya dengan nada yang begitu manja. Pria itu tersenyum miring mendengarnya. Bahkan umur gadis ini saja sudah tidak muda lagi, tapi suaranya seperti anak yang berumur 16 tahun. Terlalu lucu dan menggemaskan. Seo joon melirik jam tangannya. Dia berdiri sambil menggandeng tangan Yunhae

“ cha! Waktunya berangkat “ serunya sambil berjalan keluar. Gadis itu hanya menurutinya karena di dunia ini tidak ada orang yang bisa di ikuti selain, Seo joon. Maka ke mana pun Seo joon melangkah gadis itu tetap akan mengikutinya walaupun sampai ke ujung neraka sekalipun.

***

Deogyusan Resort, 10.30 KST

Setelah melakukan perjalanan selama 3 jam akhirnya, mereka sampai di Deogyusan Resort tepatnya berada diwilayah pegunungan gunung Deogyusan. Banyak orang yang mendatangi kawasan ini jika musim dingin tiba tentu saja, untuk bermain ski. Diantara mereka juga ada yang sedang belajar, ada juga yang hanya sekedar berlibur saja. Hamparan salju yang begitu luas dan tebal lalu udara yang begitu dingin hingga menembus tulang rusuk mereka. Di puncak Manseonbong sana, terlihat beberapa pemain ski sedang meluncur dengan hebatnya dan beratraksi dengan lincahnya. Bukankah ini terlihat menyenangkan untuk di tonton seperti ini.

Dulu Yunhae pernah mendengar kalau ada tempat bermain ski yang paling bagus. Dia pun mengatakannya pada Seo joon untuk bermain ski dengannya tapi, ternyata Seo joon tidak pernah tertarik untuk hal seperti ini. Hingga akhirnya, Yunhae melupakannya begitu saja.

“ kau pernah menceritakan keinginanmu bukan? Maaf, baru bisa mewujudkannya sekarang “ Seo joon meraih tangan Yunhae dan menggenggamnya. Seo joon tersenyum bila mengingat hal itu. Bukan karena Seo joon tidak tertarik hanya saja, saat itu dia sedang melakukan study akhirnya.

“ sekarang ayo kita bermain “ ajaknya dan pergi ke tempat penyewaan peralatan ski. Setelah memilih-milih, mereka pun keluar dari toko tersebut dengan peralatan ski mereka. Ada papan seluncur, sepatu, stik dan juga mantel yang begitu tebal. Setelah menaiki puncak Manseobong yang kira-kira tingginya 1.215 meter walaupun, cukup tinggi namun orang-orang disini tetap mendaki hingga puncak. Nafas Yunhae memburu ketika dia sampai pada puncak Manseobong.

Dari sini semua terlihat dengan jelas. Betapa indahnya pegunungan ini. Dia berseru dengan kagum. Bagaimana tidak, awan yang biru menyatu dengan putihnya salju. Entah bagaimana caranya Tuhan menciptakan alam yang begitu indah seperti ini. Yunhae tersenyum puas. Walaupun dia sangat kedinginan tapi, rasa dingin yang menerpa kulit sama sekali tidak terasa setelah mencapai puncak Manseobong ini. Bahkan, dia tidak ingin waktu berlalu begitu saja. Ingin rasanya dia mengulur-ngulur waktunya disini. Dan tentunya bersama pria nya.

“ Apa kau sudah siap? “

“ Tentu. kau meragukan keahlianku “

“ tidak, aku tidak meragukannya. Tapi mari kita bertaruh. Siapa yang memiliki waktu tercepat dan menyentuh garis finis di sana dia kan memenuhi semua keinginannya apa pun itu “ nada bicaranya terlihat datar namun, terkesan tegas di telinga Yunhae. Gadis itu sudah hafal benar bagaimana watak pria ini. Dia tidak ada mengingkari janjinya. Dan akan selalu menepatinya. Walaupun terkadang itu harus menunggu. Sebagai jawaban Yunhae hanya mengangguk pasti dan segera memakai kaca matanya.

“ Ready start! “
Yunhae meluncur lebih dulu sedangkan, Seo joon masih di belakang mencoba mencari celah untuk menyalip Yunhae. Seo joon mengambil sisi kanan dan menambah kecepatannya. Laki-laki itu mengayuh stiknya lebih kencang lalu Yunhae terlewati begitu saja. Seo joon menambah kecepatannya untuk memberi jarak yang jauh agar Yunhae tidak bisa menyalipnya balik. Perlawanan mereka semakin sengit ketika garis finis itu sudah berada di depan mata. Jarak Yunhae hampir mendekati Seo joon. Tak tinggal diam Seo joon mengikuti ke mana pun arah Yunhae di belakangnya.

Mencoba menghalanginya. Betapa bodohnya Seo joon karena kelengahannya sendiri akhirnya, Yunhae dapat menyalipnya dari sebelah kiri dan mengalahkan Seo joon. Mereka berdua mencoba mengatur nafas mereka masing-masing setelah menyelesaikan permainan ini.

“ Yunhae-sshi kau menempuh waktu 20. 12 detik sedangkan, Seo joon-sshi 20.30 detik “ kata seorang wasit. Walaupun hanya terpaut 18 detik saja namun, ternyata Seo joon tidak memenangkan pertandingan itu. Yunhae tersenyum puas melihat reaksi Seo joon

“ sudahlah, inikan hanya sebuah permainan. Ayo bermain lagi.” Yunhae menarik tangan Seo joon mengajak laki-laki itu untuk bermain lagi tapi, Seo joon menghentikan langkah Yunhae. Gadis itu menolehkan kepalanya dengan tatapan ada apa?

“ tapi perjanjian kita bukanlah main-main Choi yunhae. Sekarang, aku kan menuruti semua permintaanmu. Apa pun itu “ tanpa melihat kearah Yunhae , Seo joon mengatakannya dengan lantang dan terdengar jelas ditelinga gadis itu. Bahkan Seo joon menekan kata ‘ apa pun ‘.

Mungkin ini hanya perasaannya saja atau bagaimana. Tapi, nada suaranya seperti mengisyaratkan akan terjadi hal yang buruk setelah ini. Perasaan Yunhae mulai gelisah. Dia seperti bukan melihat Seo joon yang biasanya. Sayangnya, gadis itu menampik pikiran buruknya dan menggantinya dengan senyuman yang manis.

“ aku akan memintanya nanti. Sekarang ayo kita bermain lagi. “

 

Mencoba mengukir kenangan yang indah di tempat yang jauh dan tidak ada seorang pun yang dapat menemukan mereka, agar mereka dapat selalu bersama seperti sekarang. Walaupun mereka tau, jika terlalu banyak kenangan yang mereka buat itu berarti akan banyak rasa sakit yang mereka terima jika mereka mulai merasakan perasaan rindu satu sama lain. Gadis itu tersenyum dan menariknya untuk bermain ski. Bahkan gadis itu membuat boneka salju. Yunhae mengambil kameranya dan menyuruh Seo joon untuk berfoto dengan boneka buatannya itu. Gadis itu tertawa keras saat melihat ekspresi Seo joon yang begitu lucu, sedangkan Pria itu penasaran apa yang membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak lalu dia meraih ponsel Yunhae dan melihat hasil fotonya tadi. Seo joon mengerucutkan bibirnya saat melihat gambar dirinya yang terlihat seperti orang bodoh. Menghabiskan waktu dengan orang kita sayang membuat waktu berjalan dengan sangat cepat. Bahkan, waktu tidak terasa sudah menampakkan bulannya. Lampu-lampu mulai menyala dengan terangnya membuat salju yang telah turun sejak siang tadi menjadi berkilauan seperti permata. Dan udara juga semakin dingin disini.

Kini mereka sedang menikmati makan malam mereka di restoran Resort tersebut. Gadis itu makan dengan lahabnya membuat Seo joon tidak fokus untuk memakan makanannya dan malah memfoto Yunhae yang sedang asyik makan.

“ yak! Apa maksudmu? Kenapa kau tidak makan. Cepat habiskan makananmu! “

“ lihatkah dirimu “ tunjuknya dengan gambar yang berada di ponselnya.

“ ya..ya..ya terus saja kau lakukan sesuka hatimu “ ujar Yunhae dengan wajah tidak peduli dan melanjutkan kegiatannya.

Tiba-tiba ponsel Seo joon berdering lalu raut wajahnya pun berubah. Sebenarnya, dia tidak ingin menjawab panggilan tersebut. Karena dia tau, jika dia menjawab panggilan tersebut seketika itu pula kebahagiaannya hancur layaknya cermin yang terjatuh. “ Yunhae-ya tunggu sebentar ya “ ucap Seo joon dan berjalan menjauh dari meja mereka. Yunhae yang merasa aneh dengan ekspresi Seo joon, Mengikutinya dari belakang.

“ Nde eommonim “

“ aku sedang berada di Manseonbong. Nde Wae? “ jawabnya dengan malas.

“ eomma, kau tidak perlu khawatir, besok pagi aku akan kembali ke Seoul. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Yunhae. Apa eomma menyuruh orang lain untuk menjadi mata-mata? Tolong hentikan semua ini dan suruh orang suruhan eomma untuk pergi. Sekalipun, eomma tidak pernah suka dengan Yunhae aku akan tetap bersamanya.” Setelah kata terakhir itu telepon langsung di matikan oleh Seo joon. Dia memegang kepalanya yang entah kenapa terasa pusing. Sedangkan Yunhae yang bersembunyi di balik tembok itu hanya tersenyum miris. Kenapa selalu seperti ini?.

Walaupun, gadis itu tahu jika Nyonya Park tidak menyukainya tapi di tetap melanjutkan hubungannya dengan Seo joon selama 5 tahun terakhir karena, dia percaya dengan apa yang dikatakan Seo joon jika, suatu saat nanti ibunya pasti akan menerimanya. Hanya kata itu yang bisa membuat hubungan ini tetap terjalin.

Sejak pertemuan awalnya dengan ibu Seo joon, Yunhae mengerti semua gerak-gerik ketidak sukaan Nyonya Park pada dirinya tapi, Yunhae hanya menganggap jika itu hal yang biasa karena mengingat ini adalah pertemuan awal mereka. Ketika Seo joon berbalik gadis itu segera berlari menuju mejanya. Berpura-pura tidak tau apa yang sedang terjadi. Tapi, wajah Seo Joon tidak pernah bisa untuk di bohongi. Dia tersenyum saat melihat gadis yang sangat dia cintai juga tersenyum.

“ kita pulang saja ya? “ tanya gadis itu sambil meraih pergelangan tangan Seo joon yang besar dan juga dingin.

“ kenapa kau mengajak pulang. Kau bilang ingin menikmati malam disini. Aku sudah memesan kamar “

Yunhae menggeleng. Dia berdiri lalu menatap mata Seo joon lekat-lekat. “ Kurasa kita bisa lakukan hal itu lain waktu. Sepertinya hari ini kurang tepat. Kau besok juga harus bekerja, bukan? “ tanyanya dan berjalan meninggalkan Seo joon yang masih terpaku. Akhirnya, dia segera menyusul Yunhae yang sudah sampai di ambang pintu lalu meraih tangannya. Mereka pun berjalan berdua menuju tempat parkir.

Selama perjalanan pulang tidak ada satu pun suara yang terucap. Yunhae melihat kearah jendela mobil yang terlihat begitu gelap dan juga salju yang masih turun sedangkan, Seo joon masih kalut dengan pemikirannya. Saat ini pikirannya terpecah antara mengatakan maaf pada Yunhae apa dia pura-pura tidak melihat gadis itu ketika dia menerima panggilan telepon dari ibunya tadi.

Mobil itu berhenti tepat di depan apartement. Yunhae segera keluar dari mobil tanpa berkata apa pun. “ terimakasih untuk hari. Hati-hati ya “

Sambil menunggu lift untuk naik ke lantai 5. Pikirannya melayang entah ke mana. Seharusnya, hari ini akan menjadi hari yang paling menyenangkan untuk mereka mengingat mereka tidak pernah bertemu. Baik, Seo joon maupun Yunhae memiliki kesibukan masing-masing. Dan mereka berjanji jika mereka memiliki waktu luang mereka pasti akan bertemu. Tapi apa mau dikata jika yang merusak momen mereka adalah Nyonya Park sendiri. Terkadang gadis itu, berpikir apa hubungannya harus berakhir dengan Seo joon atau tidak dan dia juga merasa tidak enak kepada Nyonya Park dan Seo joon. Karena dirinya anak dan ibu itu bertengkar.

Lift itu berhenti di lantai 5, Yunhae pun segera keluar dan berjalan menyusuri lorong tersebut. Dia mulai memasukkan kode keamanannya ketika dia ingin menggapai gagang pintu tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang dengan nafas yang memburu seperti, habis lari beberapa meter.

“ hajima.. “ hanya kata itu yang bisa dia ucapkan sambil mempererat pelukannya.

Yunhae tersanjung dengan apa yang di lakukan Seo joon. Jadi dia tadi berlari untuk mengejarnya. “ Wae? Kau tidak lihat apa jika kau memeluk terlalu erat. Bahkan, untuk bernafas saja cukup sesak untukku bagaimana bisa aku pergi? “ guraunya.

Pria itu memutar tubuh Yunhae ke arahnya. Melihat kedua mata itu dengan intens. Bola mata yang selalu mencerminkan akan kebaikan hati dan juga ketulusan yang selalu terpancar. “ mian, kau pasti mendengarnya bukan? Kurahap, kau mau mengerti. Suatu saat nanti ibuku pasti akan bisa menerimamu. Jadi bersabarlah untuk saat ini “ ucapnya lirih. Tangannya kiri Seo joon menggapai pipi Yunhae yang merah merona. Wajahnya perlahan mendekati Yunhae. Hidung mereka mulai saling bertemu. Seo joon meraih bibir Yunhae dengan perlahan.

Mereka menikmati ciuman dengan gairah yang membara. Seo joon mendorong Yunhae untuk masuk ke dalam apartement mereka agar, tidak ada orang yang akan melihatnya sedang bercumbu saat ini. Seo joon memang sudah lama menjalan hubungannya dengan Yunhae. Setahun yang lalu, Seo joon sudah membicarakan hal ini kepada ibunya jika, dia ingin menikahi wanita tersebut.

Ibu Seo joon yang tidak suka dengan Yunhae hanya karena latar belakang gadis itu yang tidak memenuhi keinginan Nyonya Park sendiri. Hingga, akhirnya Seo joon diam-diam menemui Yunhae hanya untuk bertemu dengan gadis itu. Sedangkan, Yunhae sendiri sejak pertemuan pertamanya dengan Nyonya Park. Dia melihat pancaran ketidak sukaan dan pandangan merendahkan dari mata Nyonya Park. Dan saat itulah Seo joon melarang Yunhae untuk bertemu Nyonya Park. Pria itu takut jika ibunya nanti mengatakan hal yang kasar atau yang paling parahnya menyuruh Yunhae untuk pergi dari kehidupannya. Sama sekali tidak ingin kejadian itu menjadi kenyataan.

***

-Rumah Besar Kim 21.00 KST-
Rumah itu berdiri dengan megahnya di halaman yang begitu luas. Rumah yang bergaya hanok itu terlihat kecil dari luar. Tapi di dalamnya menyimpan segudang rahasia yang orang lain tidak tau. Di dalam rumah itu hanya ada Nyonya Park dan Seo joon saja. Semenjak ayahnya meninggal mereka berdua tinggal disana bersama saudara laki-lakinya. Tapi selang beberapa tahun saudara laki-lakinya itu pergi keluar negeri dan tinggal di sana.

Dalam sebuah ruang kerja yang begitu luas. Terlihat meja kerja di dipenuhi oleh tumpukan berkas dan di pojok ruang ada sebuah rak buku yang menjulang tinggi. Dan di sebelahnya terdapat kursi yang nyaman untuk membaca. Hening dan tanpa suara, Nyonya Park yang memakai kaca mata bacanya sedang berdiam diri di depan rak buku itu. Lalu dia menekan tombol tersebut. Rak buku itu berputar. Dalam kegelapan tersebut terdapat sebuah berangkas yang berukuran sedang.

Dokumen-dokumen itu tersusun rapi sesuai tahun kejadian. Dia mengambil dokumen yang bertuliskan tahun 2011. Dalam map tersebut tertulis riwayat kesehatan psikis seseorang. Lembar demi lembar dia baca dengan saksama. Seperti sedang mempelajari kekurangan musuhnya. Ya memang dia sedang mencari cela agar suatu hari nanti jika orang itu sudah memulai mengancam dirinya maka, senjata ini yang akan dia gunakan untuk menghancurkan orang tersebut. Siapa pun tidak ada yang boleh menghalangi jalannya.

Terdengar pintu di ketuk dari sini. Nyonya Park segera menutup map tersebut dan menutup berangkas itu kembali. Dia duduk dengan wajah angkuhnya. “ Masuklah “ setelah perintah itu meluncur dari mulut Nyonya Park para bodyguard itu masuk dengan sebuah barang bukti. Tangannya terulur meminta barang bukti tersebut. Sebuah foto yang menyiratkan kebahagiaan dan juga seulas senyum yang selalu terpancar. Dengan raut wajah yang kesal dan juga kemarahan yang membuncah Nyonya Park membuang foto tersebut dan menggebrak meja kerjanya.

“ aku harus selesaikan masalah ini segera. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Seo joon tidak boleh menikah dengan wanita tersebut! “ ujarnya dengan penuh rasa emosional. Bagaimana tidak? Anak yang selalu di banggakan. Anak yang selalu dia sayang hingga beranjak dewasa. Dia selalu berharap besar pada Seo joon tanpa mengetahui apa yang Seo joon inginkan. Apa yang Seo joon rasakan. Semua itu harus terjadi atas kehendaknya sendiri. Selama Seo joon baik-baik saja, maka semuanya akan terlihat baik-baik saja.

Ketika dia mengetahui jika dirinya akan melahirkan anak laki-laki. Pada saat itu Nyonya Park sungguh senang dan kelak anaknyalah yang akan menjadi pewaris Perusahaan Kim. Tapi lihatlah saat ini. Karena gadis itu, Seo joon menjadi orang yang membangkang. Orang yang sulit di atur dan mengabaikan ibunya. Kemarahan itu semakin di atas kepalanya ketika mengetahui jika saudara laki-laki Seo joon telah memutuskan untuk kembali. Orang yang sudah dia anggap ancam bagi dirinya sendiri.

***

Apartement Seo joon 08.00 KST

Yunhae barus saja selesai memasak untuk sarapan mereka. Dia melihat pria itu masih tertidur di sofa dengan selimut yang tebal. Matanya terpejam dengan indah. Bahkan ketika dia tidur saja sudah membuat jantung Yunhae terus bergetar. Dia membelai rambut Seo joon yang mulai panjang itu dan menyisirnya ke sebelah kanan. Begitu halus dan lembut. Sejenak dia memandang paras wajahnya. Rahang yang begitu tegas serta lekukan wajah yang begitu pas. Membuatnya seperti model kelas atas. Yunhae tersenyum ketika mengingat semasa kuliah dulu bersama Seo joon.

Dulu, Seo joon sempat kesal dengan gadis ini yang selalu terlihat seperti orang bodoh jika berada di depannya. Melakukan hal yang ceroboh dan diam ketika dia hanya di ejek oleh mahasiswa yang lain. Entah apa yang dia pikirkan sehingga wanita ini hanya diam saja hingga, suatu hari dia mulai jengah dengan mulut-mulut sialan itu. ” hentikan! Kalian pikir, kalian itu siapa? apa otak kalian sepintar dia! Apa salahnya jika dia seperti ini! Daripada kalian yang hanya membanggakan kekayaan orang tua kalian! ” setelah mengucapkan hal itu Seo joon menarik Yunhae pergi. Yunhae yang sempat shock mendengarnya hanya menuruti langkah Seo joon tanpa berkata apa pun.

“Sebenarnya apa yang ada di dalam otakmu! Kenapa kau diam saja! ” Seo joon sangat tidak suka melihat wanita ini diam saja ketika dia sedang disudutkan. Entah apa alasannya tapi memang seperti itu yang dia rasakan. ” lain kali, jangan hanya diam saja. Lawan mereka! ” kalimat terakhir itu seperti terdengar jika kau hanya diam saja aku yang akan bertindak. Dan ya, memang terbukti saat ejekan itu terlontar dari temannya tidak segan-segan Seo joon menghadiahkan sebuah pukulan yang sangat keras tepat di bawah rahangnya. Semua orang heboh kenapa Seo Joon membelanya? Apa mereka memiliki hubungan? Apa menariknya wanita itu? Dan saat itu berbagai gosip tentang mereka berkembang pesat dalam kampus.
“ Seo joonnie ireona. Ini sudah pagi, apa kau tidak pergi bekerja. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu “ ucapnya setengah berbisik ke telinga Seo joon. Pria itu hanya menggumam dan memutar tubuhnya memunggungi Yunhae. Bola matanya memutar dengan malas ketika melihat kelakuan Seo joon yang selalu seperti ini. Jika cara halus tidak bisa membangunkan Seo joon maka, harus ada cara yang lebih ekstrem untuk membangunkannya. Gadis itu sedikit menarik bahunya agar wajahnya dapat dilihat. Dengan secepat kilat Yunhae mencium bibir Seo joon dengan cepat.

Sudah dua kali dia melakukan hal itu. Tapi ketika ciuman kilat itu menghampiri Seo joon untuk ke tiga kalinya dia menahan gadis itu dengan kedua tangannya yang di letakkan di wajahnya. Yunhae yang sedikit terkejut itu berusaha melepaskan ciuman yang ditautnya. Cium itu semakin dalam hingga akhirnya Yunhae terlena oleh buayainya. Ciuman mereka terlihat begitu lama dan saling menikmati. Nafas mereka menderu satu sama lain. Mencoba mengatur kembali detak jantung yang tiba-tiba saja tidak terkontrol. “ kurasa, idemu itu tidak terlalu buruk. Mengingat, kau jarang sekali melakukan hal itu. “ sindirnya dengan senyum yang terpancar lebar. Yunhae memukul bahu Seo joon dan berdiri dari tempatnya.

“ cepat mandi dan segera sarapan “

Seo joon keluar dari kamar mandi dengan handuk yang disampirkan di kepalanya. Lalu sedikit mengeringkan rambutnya yang masih terlihat basah. Melihat gadis itu sudah duduk manis di meja makan membuatnya melangkah menghampirinya dan duduk di depannya. Tanpa suara di segera mengambil satu sendok penuh lalu menyuapkan ke mulutnya. “ enakkah? “ Tanyanya dengan penuh harap. Sep joon masih mengunyah makan itu dalam mulutnya

. Mencoba merasakan karena dia selalu kritik sekali soal makan. Ketika dia mengatakan jika makanan itu tidak enak ya memang tidak enak. Tapi, jika dia mengatakan itu lezat di akan terus memakannya hingga habis tanpa berkomentar lagi. Lagi, Seo joon menyuapkan makanannya dengan cepat hingga makanan itu habis bersih di piringnya. “ bagaimana bisa kau membuatnya? Ini sungguh enak sekali. Baru pertama kali ini kau membuat makanan seenak ini “ kata Seo joon. Benar bukan dugaan Yunhae.

“ tentu saja. Karena aku membuat dengan sepenuh hati dan juga cintaku “ ujarnya dengan nada yang sombong. Pria itu hanya tersenyum melihat ekspresinya. “ Kalau begitu, kau saja yang akan menjadi kokiku. Agar aku selalu bisa memakan masakkanmu yang penuh dengan cinta ini. “

sejenak gadis itu berpikir. “ lalu apa upah yang aku terima ? “

“ upahnya? Tentu saja, aku akan memberimu apa yang kau mau tanpa terkecuali “

“ benarkah? “ tanyanya sekali lagi. Seo joon mengangguk dengan pasti. “ tapi bukan untuk saat ini. Aku tidak tau pasti kapan itu terjadi. Tapi aku berjanji untuk secepatnya menjadikanmu koki masakku selamanya “ lanjutnya dengan raut wajah yang serius. Yunhae tersenyum dan meraih tangan Seo joon. “ akan ku tunggu hal itu “ jawabnya.

***

Incheon Airport, 07.00 KST

Seseorang dengan setelan jaket kulit hitam dengan masker yang sebagian menutupi wajahnya itu berjalan dengan tas ransel di punggungnya. Sebagai pelengkapnya dia memakai topi dan juga kacamata. Seperti tidak memberikan cela agar salju itu menyentuh tubuhnya. Dia baru saja keluar dari pintu kedatangan tiba-tiba saja ada sekitar 6 orang yang menghampiri dirinya. Seperti memberikan pengawalan ketat. Orang yang pertama menyambutnya dan berkata “ silakan ikuti kami. Anda mungkin harus segera ke rumah besar terlebih dahulu. Di sana sudah ada Nyonya Park dan notaris Kwak “. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti mereka. Jauh di dalam benaknya. Dia tidak ingin kembali ke negara kelahirannya. Dia sudah merasa nyaman untuk tinggal di tempat yang jauh karena jika dia kembali itu berarti dia membuka luka lama yang telah dia tutup rapat-rapat.

Setelah mobil itu berhenti tepat di depan rumah yang begitu besar. Matanya menyalang menyusuri setiap inci rumah tersebut. Di sana dia melihat kenangannya yang seperti berputar dalam dunia nyatanya. “ selamat datang Tuan muda Kim “ kata sambutan itu seperti pisau yang merobek halusinasinya. Dan dia pun tersadar. Tanpa membalas sapaan tersebut kakinya melangkah menuju ke dalam rumah. Walaupun sedikit berbeda namun, suasananya masih sama seperti waktu itu. Langkah kakinya mulai menciut saat kenangan buruk itu menghantui dirinya dari belakang. Kakinya mulai bergetar dan keringat dingin mulai terlihat dari sudut kepalanya. “ selamat datang kembali Kim Jong Woon-sshi. “ sapa notaris Kwak. Di sebelahnya duduklah Nyonya Park dengan tatapan malas. Jong woon tersenyum kaku. Dan mulai masuk dalam ruangan tersebut.

“ cepat katakan apa yang ingin kau katakan notaris Kwak. “ sergah Nyonya Park yang mulai merasa bosan.

“ baiklah. Mulai hari ini penerus generasi ke dua chaebol perusahaan Kim akan berkontribusi dalam perusahaan yang selama ini ia tinggalkan. Dia akan menunjukkan kepada semua orang jika dia mampu meneruskan apa yang sudah menjadi hak miliknya sejak dulu. Dan sesuai haknya dia akan langsung menjabat sebagai CEO dan semua saham yang selama ini di pegang oleh Park Ha Na harus di kembalikan kepada Kim Jong woon sebagai ahli waris yang sesungguhnya. “ intonasi yang begitu pas itu terdengar jelas oleh kedua pihak. Dan mulai sekarang, Jong woon berhak atas perusahaan tersebut.

“ sebelumnya saya meminta maaf notaris Kwak. Saya tidak ingin langsung menjadi CEO dalam perusahaan. Saya belum mengenal betul perusahaan tersebut dan juga saya belum terbiasa. Jadi tolong beri saya waktu. Dan untuk sementara ini saya cukup menjadi wakil direktur dalam perusahaan. Biarkan pemegang saham nanti yang akan menentukannya. Jika memang saya layak dalam menjalankan perusahaan ini. “ mendengar penjelasan yang panjang lebar tersebut Nyonya Park tersenyum lebar. Dia pun angkat bicara “ Kurasa, ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan Jong woon tadi. Bukankah dia harus memulainya dari dasar terlebih dahulu sebelum naik ke atas. Tidak mungkin kan jika pohon itu langsung berbuah manis pasti, akan ada prosesnya “

“ baiklah, kalau begitu. Saya setuju dengan anda Tuan Kim. Kalau begitu saya pamit pergi dulu “

Setelah notaris Kwak keluar dari ruangan. Tinggal Nyonya Park dan Jong woon saja. Mereka masih terdiam. Memikir apa yang barusan mereka katakan. Tak selang beberapa menit Jong woon berdiri dari duduknya. Dia melenggang pergi begitu saja tanpa kata apa pun. Namun, sebelum langkah Jong woon semakin jauh suara Nyonya Park terdengar memanggilnya. “ Jong woon-ah, apa kau akan tinggal disini? “ Jong woon tersenyum masam. Apa yang dikatakan Nyonya Park seperti ingin menghabisi dirinya ketika dia sudah masuk dalam perangkapnya. “ tidak perlu, aku akan tinggal di rumahku sendiri. Lagi pula, Rumah ini terlalu memiliki kenangan. Dan aku tidak ingin mengingatnya sama sekali “

Dari sudut matanya dia dapat melihat jika, Nyonya sedang menertawakannya. “ iya, rumah ini sangat buruk bagimu. Karena semuanya berawal dari sini maka, harus berakhir disini pula. Bukankah begitu? “ Jong woon menajamkan telinganya ketika kata yang memiliki makna itu terucap. Dia memutar tubuhnya ke arah Nyonya Park, meminta sebuah penjelasan yang tidak akan pernah di katakan oleh Wanita tersebut. Tapi, isyarat matanya menyiratkan akan bendera yang telah berkobar. “ kurasa kau benar ahjummonie. Kita lihat nanti. Apa semua akan berakhir disini atau di tempat lain. “ tungkasnya dan menutup pintu itu dengan keras.

Dia terus berjalan di lorong rumah itu dengan pikiran kalut. Berbagai pemikiran atas keputusan yang baru saja dia ambil itu mulai membebaninya tapi, dia merasa jika semuanya harus berjalan dengan semestinya. Walaupun, ini bukan keinginannya tapi dia sudah cukup sabar menghadapi orang yang menyudutkannya dan juga menyalahkannya. Dan ini adalah waktu yang tepat.

Ketika itu lamunannya mulai sirna saat mendengar seseorang yang menyapanya dari jauh ” hyung, kenapa kau tidak mengatakannya jika, kau akan datang kemari? ” tanya Seo joon ketika dia melihat seseorang yang sudah begitu lama meninggalkannya sendiri. Orang yang selalu dia rindukan.

” ah, aku hanya ingin membuat kejutan untukmu ” jawab pria itu. Pria yang di sebut hyung oleh Seo joon merupakan saudara dari ibunya. Selama ini dia tinggal di Amerika sejak usia 10 tahun tepatnya setelah kejadian kebakaran itu. Nyonya Park sendiri yang mengirimkannya ke sana agar, pria ini dapat melupakan kenangan pahitnya. Kepribadian Seo joon yang seperti adalah turunan dari mendiang ayahnya. Hanya sekali, Jong woon bertemu dengan ayah Seo joon ketika itu adalah pertemu keluarga untuk pertama kalinya. Tuan Park memiliki kepribadian yang hangat dan hati yang tulus dan untungnya saja Seo joon tidak seperti ibunya. Dan mungkin faktor itulah mengapa dulu Jong woon tidak mau meninggalkan Seo joon untuk bermain sendiri. Karena dia adalah orang yang sangat baik setelah ke dua orang tuanya.

” apa kau kemari untuk menemui ibu? ”

” iya, aku sudah menemuinya dan notaris Kwak tadi . Rasanya sudah lama sekali aku tak pernah ke rumah ini ” katanya sambil melihat-lihat rumah yang dulu memiliki kenangan yang indah baginya, tapi setelah kebakaran itu terjadi ternyata rumah ini banyak sekali perubahan. mungkin ini alasannya kenapa Nyonya Park merubah dekorasinya untuk melupakan kenangan buruk itu ” bahkan saat ini sangat asing sekali. ” tambahnya lirih.

“Ah, tentu saja. Setelah kejadian itu ibu merubah semuanya. Agar jika kau kembali lagi ke rumah ini. Kau tidak akan pernah mengingat kejadian itu lagi. Hyung, apa kau berniat untuk tinggal bersama kami? ”

” Tidak Seo joonie. Aku akan tinggal di rumahku. Seminggu lagi aku akan bergabung ke perusahaan. Jadi tolong bantu aku ” kata Kim Jong woon.

” Baiklah, nanti aku kan mengunjungimu “. Jong woon hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu begitu saja.

Dalam benak Seo joon dia merasa bingung kenapa harus ada notaris Kwak. Apa yang mereka bicarakan? Seo joon adalah pribadi yang tidak akan mengurusi urusan orang lain, selama hal itu tidak menyangkut pada dirinya dia tidak akan peduli. Ketika melewati ruang kerja ibunya saat itu juga ibunya keluar dari ruangan pintu.

“ Kau! Apa yang kau pikirkan, huh?! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pulang kemarin? Kenapa kau baru pulang sekarang? Apa yang kau inginkan?! “ urat nadi di sekitar leher Nyonya Park tergambar jelas. Kemarahannya pada anaknya sendiri seperti sudah mencapai batas maksimalnya. Dia tidak habis pikir tentang anaknya sendiri. Apa yang bisa dia dapat dari wanita seperti itu. Kenapa anaknya mencintai gadis itu hingga seperti ini?

“ Eomma, kenapa ibu selalu seperti ini? Sampai kapan pun aku akan tetap seperti ini jika, ibu juga bersikap seperti ini padaku dan Yunhae. Sudah berapa kali aku katakan pada ibu jika, aku sangat mencintainya. Bahkan aku siap merelakan semua hartaku demi hidup bersamanya. Apakah ucapanku kurang jelas selama ini? “

“Cukup! Ibu tidak ingin mendengarnya lagi. Dan sampai kapan pun ibu tidak akan pernah menyetujuinya. Karena dia adalah gadis yang tidak pantas untuk kita! “

“ baiklah, terserah ibu saja “ Seo joon melangkahkan kakinya melewati ibunya begitu saja.

Kepalanya semakin terasa pusing karena, pikirannya terpecah- pecah untuk saat ini. Hal yang harus dia lakukan pertama adalah bagaimana menyingkirkan Yunhae dari kehidupan anaknya, kedua. Bagaimana meyakinkan para pemegang saham untuk mempercayakan Seo joon sebagai Presdir di perusahaan. Selama Jong woon masih menjadi wakil direktur. Dia tidak boleh kehilangan semuanya. Semua yang telah dia bangun dan juga pencitraan dirinya selama ini. “ atur pertemuan dengan Yunhae siang ini “ perintahnya kepada sekretarisnya.

 

-TOBECONTINUED-

Catatan penulis : di tunggu komen dan sarannya. Maaf jika masih banyak typo. Masih pemula 🙂

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Oct 23, 2016 @ 08:47:50

    Apa hubungan jongwoon serta seojoon dan ibunya yaa? Penasaran dgn kelanjutannya.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: