Agelast

Agelast

Agelast                         

Cast :

Lee Donghae

Han Cheon Neul

PG/17

Author : Lvoeeastsea

Length : 8770 Words (Oneshoot)

http://angelalvoesj.wordpress.com/

***

            Ia tidak pernah tersenyum, ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya tersenyum. Sejak kecil ia tidak pernah mengenal kata senyum ataupun bahagia. Yang ia tahu adalah bagaimana caranya melenyapkan musuh dengan cepat dan tak terprediksi. Agelast, seseorang yang tidak pernah tersenyum.

Jangan ditanya alasannya. Ia dibesarkan dalam sebuah keluarga pembunuh bayaran yang selalu mendidiknya untuk hidup tanpa ekspresi. Datar dan tenang. Tanpa ada gairah dan tujuan hidup. Rasanya ia bukan lagi seorang manusia yang memiliki perasaan dan emosi dalam hidup. Satu-satunya hal yang menunjukan bahwa ia masihlah seorang manusia adalah ia butuh oksigen untuk bernafas, dan ia perlu makan dan minum. Hanya itu.

Kedua orang tua asuhnya telah lama mati, mungkin sekitar 8 tahun yang lalu saat FBI berhasil menangkap kedua orang tuanya pada saat misi melenyapkan salah satu pimpinan CIA namun gagal dan akhirnya di eksekusi. Tidak ada perasaan apapun dari dalam dirinya saat mengetahui kedua orang tuanya yang selama ini mendidiknya begitu keras dan kejam harus mengakhiri hidupnya dengan di eksekusi. Baginya, itu adalah sebuah resiko menjadi seorang pembunuh kelas atas. Sesuai dengan ajaran yang selama ini ia dapatkan.

Ia bahkan tidak mengenal Tuhan dan agama. Tidak ada yang pernah mengajarkannya untuk takut akan Tuhan, dan lawanlah dosa. Tidak ada, dan ia tidak pernah mau tahu apa itu dosa. Menurutnya, uang adalah satu-satunya tujuan dari misi membunuh. Angela Han, ia benar-benar tidak punya rasa kemanusiaan dalam dirinya.

***

Gadis itu mengetuk-ngetuk sepatu boots hitam miliknya pada lantai marmer disebuah pusat perbelanjaan di LA. Berpakaian layaknya remaja ala Amerika membuatnya tidak begitu mencolok, ia masih berusia 20 tahun, tentu saja ia masih cocok memakai pakaian anak muda. Sudah dua jam ia berada di sebuah cafe hanya untuk menanti sang targetnya yang harus ia lenyapkan dalam waktu kurang dari 24 jam. Ia meminum Vanilla Latte nya sedikit demi sedikit seraya terus mengawasi keadaan sekitar. Ia tidak pernah salah dalam memprediksi kedatangan target, kurang dari 5 menit lagi targetnya itu akan tiba.

Dugaan yang selalu tepat. Matanya berhasil membidik seorang pria bertubuh gembul dengan tinggi 188 cm yang baru saja masuk dari arah pintu cafe bersama seorang wanita berambut blonde. Erick Stephen, tangan kanan seorang pebisnis muda asal Jerman yang mau tak mau harus menerima ajalnya yang hampir tiba. Mata cokelat milik Angela itu menggelap saat pria itu berjalan santai ke arah meja kosong di samping mejanya. Tunggu saja, waktunya hampir tiba, ia akan membiarkan pria itu menikmati secangkir kopi untuk yang terakhir kalinya sebelum tiba ajalnya.

***

Lagi-lagi kasus pembunuhan dengan cara sadis terjadi di kota besar LA. Tepatnya disebuah cafe dalam pusat perbelanjaan. Tidak ada yang tahu kronologis pembunuhan itu dengan baik. Karena pria bernama Erick Stephen itu memang telah di temukan dalam kondisi perut hangus dalam toilet pria siang itu. Dan lagi-lagi sang pelaku pembunuhan tidak dapat ditemukan. Tidak ada yang tahu ciri-cirinya, jenis kelamin apa, kapan kejadian pembunuhan itu berlangsung. Semuanya nampak buram dimata para saksi dan polisi yang menangani kasus itu.

Mereka tidak menyadari bahwa ada seorang gadis remaja yang duduk dengan tenang seraya menikmati Vanilla Latte nya yang hampir habis. Mata cokelatnya nampak menatap secangkir kopi yang belum habis di meja sebelah. Misinya telah selesai, dan ia tidak punya alasan untuk tinggal lebih lama di tempat itu.

***

Entah sudah ke berapa kalinya wanita yang berada di bawah kuasanya itu mendesah panjang sepanjang malam ini. Pria itu hanya berusaha untuk menghargai ‘hadiah’ pemberian sahabat baiknya yang berusaha menyenangkan hatinya. Untuk itu ia berada di sini, di sebuah kamar hotel mewah dengan pencahayaan yang minim bersama ‘hadiahnya’.

Merasa sudah cukup puas, dirinya segera melepas kontak di bagian bawah tubuh keduanya dan berdiri dengan wajah acuh. “Where are you going Aiden?” tanya wanita itu dengan nafas tersengal-sengal dan wajah memerah. “None of your business baby” ucap pria bernama lengkap Aiden Lee itu dengan senyum ala cassanova miliknya. Aiden kembali memungut pakaiannya yang berserakan dilantai dan memakainya tanpa peduli dengan tatapan wanita ‘One night standnya’ yang menatap dirinya penuh memuja. Setelah selesai memakai seluruh pakaiannya, tanpa mau memandang wanita itu lagi, ia segera meninggalkan hotel itu tanpa peduli.

***

Louisiana

Angela menikmati sarapan sereal cokelatnya pagi ini dengan tenang. Tenang tanpa ekspresi yang telah menjadi ciri khasnya. Beberapa hari ini ia akan memiliki cukup banyak waktu untuk ia habiskan untuk tidur. Tidak seperti pembunuh bayaran lainnya yang lebih memilih menghambur-hamburkan uang mereka di bar, berjudi atau apapun itu. Menurutnya itu bukan sesuatu yang menarik minatnya sama sekali. Tidak, ia memang tidak pernah tertarik pada apapun.

Setelah sereal cokelat miliknya habis, ia segera mencuci piring bekas sarapannya itu lalu merebahkan diri di atas tempat tidur king sizenya yang berwarna putih. Sudah berapa lama ia tidak tidur? Terakhir kali ia merasakan rasanya empuk kasur mungkin sekitar tiga minggu yang lalu, saat ia menjalankan misinya di Taipei.

Matanya langsung terpejam begitu saja saat ia telah merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Ia mungkin akan bangun dua hari lagi untuk menjalankan kewajiban mengisi perutnya.

***

Aiden tersenyum miring saat mendengar berita pagi ini dari layar televisi LED nya di Villa miliknya yang bertempat di Manhattan. Benar-benar sebuah awal hari yang baik saat berita itu menampilkan kasus pembunuhan sadis di sebuah pusat perbelanjaan di LA. Perasaannya jauh terasa lebih ringan sekarang, pria bernama Erick itu akhirnya berhasil dilenyapkan setelah lama ia memburu pria gembul itu.

Pria lainnya yang bertamu pagi-pagi dirumahnya itu hanya menggeleng pelan seraya terkekeh saat melihat Aiden nampak begitu puas. “Ah, kau harus mengakui bahwa serviceku adalah service dengan kualitas terbaik Aiden. Orang suruhan kami kali ini sangat hebat dalam bidang semacam ini, seperti—Jack the Ripper versi modern” ucap pria bernama lengkap Young Won itu dengan nada bangga. Aiden tersenyum seraya menatap pria yang duduk tak jauh dari nya itu “Yah, service mu kali ini sangat memuaskan” ucap Aiden senang. Young Won hanya tertawa-tawa lalu mengambil secangkir kopi dari meja dihadapannya dan meminumnya. “Perasaanku jauh lebih baik sekarang, setidaknya si penipu itu telah mati” ucap Aiden tersenyum miring. Young Won hanya mengangkat bahu acuh, tak begitu peduli dengan ucapan Aiden barusan. Dirinya lebih memilih menyaksikan berita di layar televisi itu.

***

Louisiana

Angela benar-benar tidur 42 jam full sesuai dengan niat awalnya. Tubuhnya terasa jauh lebih segar sekarang, matanya telah ter-charge dengan baik untuk di gunakan beraktifitas kembali. Ia bangkit dari tidurnya lalu berjalan menuju pantry dapur dengan rambut panjangnya yang masih berantakan, khas orang yang baru saja bangun tidur. Matanya tajamnya menemukan sebuah karet rambut di atas meja makan dan mengambilnya. Seraya membuka kulkas, ia menggulung rambutnya hingga terlihat seperti sanggul, lalu mengikatnya asal-asalan.

Matanya kembali memilih-milih bahan makanan dari dalam kulkas untuk dijadikan menu sarapan paginya hari ini. Pilihannya jatuh kepada selada, daging ham, roti bulat dan singles chesse dari dalam kulkas. Ia akan membuat burger untuk sarapan paginya.

Dengan telaten tangannya mengiris roti bulat itu hingga menjadi dua bagian lalu mengolesinya dengan mentega satu per satu, memanaskannya di dalam pan bersama ham sebentar, lalu mengangkatnya kembali. Dengan hati-hati ia mulai meletakan daun selada, selembar keju dan ham itu di atas satu bagian roti, menghiasi bagian atas ham dengan saus tomat dan mayonnaise lalu menutupnya dengan bagian roti yang lainnya. Selesai.

Ia membawa hasil karyanya itu di atas meja makan lalu menikmatinya secara perlahan-lahan. Belum ada pekerjaan baru, otomatis dirinya saat ini adalah seorang pengangguran. Dan itu adalah hal paling membosankan. Dirinya masih belum terbiasa untuk bersantai-santai disaat tidak ada pekerjaan walaupun ia telah menekuni pekerjaan ini selama delapan tahun, terhitung semenjak kedua orang tua angkatnya ditangkap dan di eksekusi. Semasa kecilnya ia harus terus berlatih. Berlatih menembak, menggunakan pedang, pisau, kayu, bahkan tidak menggunakan apapun. Meracik racun, bahan peledak. Oh, yaampun ia mulai merindukan masa-masa perjuangannya itu.

Dengan wajah datar, ia mengunyah burgernya perlahan, menikmati setiap gigitan nya. Baiklah, setelah ini ia memutuskan untuk membersihkan rumahnya lalu mandi.

***

2 Months Later

Paradise Pub, Las Vegas

Young Won masuk dengan angkuh ke dalam sebuah high class pub. Banyak pasang mata yang menatapnya dengan terang-terangan, berharap setidaknya ada salah satu dari mereka yang akan berakhir di atas ranjang dengan pria tampan itu. Young Won nampak begitu tidak peduli dengan wanita-wanita yang mencoba mendekatinya itu. Tujuannya kemari adalah untuk urusan bisnis, dan jangan salah menduga, pria cassanova dengan sejuta pesona ini begitu tergila-gila dengan bisnis, dan ia lebih memilih berkencan dengan bisnisnya dari pada menikmati wanita-wanita yang rela melempar tubuh mereka padanya secara cuma-cuma.

Tatapannya tertuju pada seorang gadis dengan dress hitam sepaha yang begitu ketat menempel di tubuhnya yang tengah duduk di salah satu sofa sendirian. Ia tidak akan salah mengenal, sudah pasti gadis itu adalah rekan bisnisnya nanti. “Miss Han? Right?” sapa Young Won seraya mengambil tempat untuk duduk disamping gadis itu. Tidak ada senyuman manis yang tersungging dari bibir tipis gadis itu. Mata coklatnya menatap Young Won dengan datar lalu berucap “Yeah, are you Mr. Kim?” ucap gadis itu sekedar berbasa-basi. Young Won mengangguk dengan pasti lalu kembali mencoba menunjukan pesona cassanovanya pada gadis itu, siapa tahu hubungan mereka akan berakhir di atas kasur yang sama.

Gadis itu hanya menatap pria dihadapannya ini dengan datar. Sudah ada banyak rencana yang disusunnya malam ini khusus untuk target barunya, Young Won .

Mereka berdua berbincang tentang banyak hal seraya menikmati vodka masing-masing. Sesekali Young Won harus meneguk ludahnya sendiri saat matanya tak sengaja menatap belahan dada gadis itu yang cukup menonjol, membuatnya tergoda.

Merasa rencananya berhasil untuk membuat pria itu tergoda. Dengan sengaja gadis itu semakin merapatkan tubuhnya ke arah Young Won, dan dengan sengaja memperlihatkan beberapa bagian yang di yakininya cukup membuat pria itu tergoda. Young Won meneguk ludahnya kembali dengan susah payah. Rekan bisnisnya benar-benar hebat membuatnya bisa segelisah ini.

“Akan lebih baik jika kita berada di ruangan yang lebih privasi. Aku tidak nyaman berada disini”

***

Aiden mencoba menghubungi ponsel Young Won untuk kesekian kalinya. Pria itu masih belum menjawab panggilannya, membuatnya mendengus kesal. Aiden telah berada di dalam pub, tempat dimana Young Won berada saat ini menurut informannya. Aiden masuk ke dalam tempat itu, dengan mata menyipit ia berusaha mencari keberadaan pria itu di antara kerumunan banyak orang. Tapi tidak berhasil, ia tidak menemukan Young Won di antara orang-orang itu.

Beberapa jam yang lalu ia baru saja mendapatkan kabar bahwa Seo Joon Seok—rival Aiden dan Young Won, mengirim seorang pembunuh bayaran untuk melenyapkan Young Won. Untuk itulah Aiden berada disini, ia berharap ia masih sempat menyelamatkan rekannya itu dari jebakan ini.

Langkah cepatnya menyusuri sebuah lorong yang remang di lantai dua pub itu, tempat yang ia yakini sebagai tempat untuk menyalurkan nafsu para pengunjung. Dirinya tak sengaja menyambar seorang gadis bergaun hitam ketat yang berpapasan dengannya. “Sorry” ucap Aiden saat gadis itu hampir terjatuh. Gadis itu hanya menatap Aiden datar lalu mengangguk tanpa berucap apa-apa. Dengan segera, gadis itu berjalan meninggalkan Aiden dengan cepat. Aiden menatap punggung gadis itu yang berjalan semakin jauh. Sadar dengan tujuannya kemari, ia kembali melanjutkan pencariannya. Young Won, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya.

Tiba-tiba terdengar jeritan manusia dari lantai bawah diikuti suara kaki yang berjalan cepat menuju lantai dua. Beberapa orang berjalan menuju satu kamar dengan cepat, sementara orang-orang yang lain hanya berdiri takut-takut dari tangga. “What’s happened?” tanyanya pada salah satu pria berbadan kekar di dekatnya. “There was a man hanging outside the window” (Ada seorang pria tergantung diluar jendela) ucap pria itu. Mendengar penjelasan pria itu, Aiden membulatkan matanya, yang dipikirkannya saat ini adalah Young Won.

***

Angela menatap mayat pria yang sedang petugas keamanan evakuasi dari antara kerubungan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu dengan puas. Rencananya berjalan dengan lancar, pria bernama Young Won itu tengah tergantung di jendela dengan leher tercekik dasinya sendiri tak bernyawa. Awalnya ia cukup direpotkan karena pria itu berusaha memberi perlawanan. Namun, bukan Angela Han namanya jika ia tidak berhasil menumbangkan targetnya tanpa nyawa.

Tidak akan ada yang bisa melacaknya, semuanya telah ia atur dengan rapi. Dan sudah pasti, tidak akan ada saksi mata maupun bukti.

Setelah puas menatap ‘karyanya’ yang telah di evakuasi, ia berjalan angkuh meninggalkan kawasan itu. Tidak ada lagi alasan untuknya tinggal lebih lama ditempat itu. Misinya telah selesai.

***

Aiden tak percaya saat melihat tubuh terbujur kaku milik rekan kerjanya Young Won, atau mungkin—haruskah ia memanggilnya Kim Young Won? Pria berkewarganegaraan yang sama dengannya itu?

Aiden tak dapat menyembunyikan kesedihannya dan rasa bersalahnya karena tidak sempat menyelamatkan rekan kerjanya itu dari rencana pembunuhan. Ia berjanji akan menemukan pelaku pembunuhan itu secepatnya dan mengulitinya hidup-hidup. Setelah diperiksa oleh polisi, Aiden segera mengurus segala proses pemakaman rekannya itu, dan menghubungi keluarga Young Won di Korea untuk memberitakan kabar duka ini.

Ingatannya kembali menerawang pada saat kejadian itu berlangsung. Ya, ia masih ingat bahwa ada seorang gadis yang tak sengaja berpapasan dengannya di tempat itu kemarin. Gadis itu! apa jangan-jangan gadis itu si pelaku? Ia akan menyelidikinya. Ia pastikan bahwa gadis itu akan segera ia temukan. Gadis tanpa senyum dan ekspresi.

***

Louisiana

Angela menyantap makan siangnya dengan tenang di rumahnya yang sederhana. Menu makanannya siang ini adalah sup makaroni dengan roti tawar. Bahan makanannya bulan ini hampir habis, dan ia berniat untuk berbelanja bahan makanan dan keperluan rumah lainnya di supermarket setelah makan siang ini.

Begitu ia menyelesaikan makan siangnya, ia membereskan alat-alat makannya dan mencucinya. Lalu membersihkan diri sebelum pergi berbelanja. Letak supermarket tak begitu jauh dari rumahnya. Ia telah terbiasa berjalan kaki menuju supermarket seraya menikmati hangatnya kota Louisiana. Menikmati disini bukanlah kata menikmati yang benar-benar menikmati. Di tengah kesendiriannya ini, ia berusaha untuk terlihat lebih manusiawi yang memiliki rasa, menikmati, dan sebagainya. Ia tidak bisa merasakan itu semua. Seluruh kinerja otaknya tidak bisa mengikuti kata hatinya untuk terlihat lebih manusia.

Ia telah sampai disebuah supermarket dan masuk di dalam tempat perbelanjaan itu. Setelah mengambil trolly, ia mulai memilih-milih bahan makanan yang sekiranya cukup menarik untuknya. Ia mengambil tiga kota sereal coklat, susu cair, roti, keju, selai cokelat, daging, dan telur. Bahan makanan yang kelewat simple dan tidak cukup bergizi, namun setidaknya lumayan mengenyangkan. Ia mengambil beberapa bungkus kopi instan dan gula.

Setelah dirasanya telah cukup, ia segera mengantri di kasir. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, menandakan ada pesan email yang baru saja masuk. Ia tidak menyimpan nomor ponsel siapapun di ponselnya, dan ia juga tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada siapapun. Selama ini cara berkomunikasinya dengan para clientnya adalah dengan cara mengirimkan email. Toh, dirasanya sudah cukup aman, karena ia membuat securitynya dengan baik.

Ada pekerjaan baru, dan harus ia kerjakan malam ini. kira-kira itulah kesimpulannya dari teks surat yang dibacanya. Cukup menarik karena lokasinya berada di Louisiana.

***

New Orleans, Louisiana

Sebuah pub kecil di daerah pelabuhan barang Louisiana dengan mudahnya Angela temukan. Nampaknya pub ini cukup dipadati pengunjung lokal. Hari ini targetnya adalah seorang bartender bernama Casey. Sejak ia masuk didalam pub ini, ia sudah dapat membidik sang target sasarannya. Hanya tinggal menghitung waktu sebelum dirinya menghabisi sang target yang terlihat lemah itu.

“Boleh aku duduk disini?” tanya seorang pria asing padanya. Angela nampak tak begitu peduli dengan pria yang baru saja mengambil tempat duduk disampingnya, lagi pula dia tidak akan berlama-lama berada ditempat ini. Angela masih dapat mendengar dengan jelas ocehan pria disampingnya itu yang tengah membicarakan soal perbedaan wine dan vodka yang sangat membosankan itu. Ingin sekali ia membekap mulut pria cerewet itu dengan botol wine di meja dihadapannya. Mata tajamnya mengamati pergerakan pria bernama Casey yang tengah melayani beberapa pengunjung.

“Hei, bukankah ia seorang polisi? Apakah ia sedang menyamar?” ucapan pria cerewet disampingnya itu tak sengaja terdengar telinganya. Angela menoleh cepat ke arah seorang pria berjaket cokelat yang baru saja masuk ke dalam pub itu. Matanya membulat terkejut mendapati pria itu menatapnya. Leslie Joe. Ya, ia tentu saja tahu. Kepala polisi Louisiana yang cukup tersohor dengan kemampuannya dalam menangkap penyelundupan senjata dan obat-obatan ilegal di daerah ini.

Angela berusaha untuk menampilkan wajah setenang mungkin. Bisa saja incaran sang polisi itu adalah mafia-mafia yang kebetulan berada di pub ini—bukan dirinya. Matanya kembali melirik ke arah bar tempat pria bernama Casey itu berada tadi dan terkejut saat mendapati Casey sudah tidak ada di tempatnya. Melarikan diri, ya itu lah yang ada dipikirannya saat pertama kali mendapati tempat itu sudah kosong.

Ia tidak beranjak berdiri. Baginya, ia bisa menemukan pria itu dilain waktu. Akan lebih mudah pekerjaannya jika ia mendapatkan pria itu telah meringkuk di dalam penjara, dengan begitu ia bisa langsung menghabisinya tanpa perlawanan sedikit pun. Casey, ternyata ia adalah incaran Leslie Joe. Biarkan saja pria itu yang menemukannya.

Bermain mudah adalah trik nya.

***

Dallas, Texas

“Polisi? Ia menemukan Casey lebih dulu?! Akh! Shit!” maki Donghae murka saat mendengar informasi baru dari informannya. Rencananya berantakan karena ulah Leslie Joe. “Seharusnya pria itu tetap diam dan membiarkan Casey mati saja dari pada meringkuk di dalam penjara” ucap Donghae marah. Donghae meraih sloki berisi sampanye miliknya yang tersisa setengah gelas itu dengan kasar dan meneguknya. “Cari cara lain untuk menemukan gadis itu!”

***

Louisiana

Angela duduk tenang seraya menikmati roti selai cokelat miliknya. Sudah tiga hari sejak pria bernama Casey itu ditangkap polisi, dan ia masih sama sekali belum bergerak membunuhnya. Seharusnya ini akan menjadi lebih mudah baginya. Tapi ada hal lain yang baru saja ia sadari atas kejadian ini. Si client tidak lagi menghubunginya semenjak malam itu. Apa misi ini dibatalkan? Oh! Tidak! ia tidak mau mengenal kata batal ataupun gagal. Sekali mendapatkan misi, ia akan menyelesaikannya dengan cara apapun.

Ia beranjak dari duduknya seraya membawa piring kotor bekas sarapannya itu ke dalam bak cuci piring dan mencucinya. Hari ini ia putuskan untuk membunuh Casey di penjara.

***

Jail of Louisiana

Dengan pakaian lengkap seorang petugas yang membawa makanan para napi, Angela masuk dengan tenang ke dalam penjara tersebut dengan nama Maria. Bukan hal yang sulit baginya melakukan hal semacam ini. Ia telah dilatih untuk membunuh orang bahkan di dalam penjara sekalipun.

Waktu baru menunjukan pukul 17.00 waktu Louisiana, dan ia telah memulai aksinya. Layaknya seorang petugas pada umumnya, ia masuk ke dalam penjara lewat pintu belakang seraya membawa truk makanan yang hanya di jaga dua orang polisi. Ia melakukan seluruh pekerjaannya sebagai seorang petugas dengan baik. Mengatur seluruh makanan yang di angkut di dalam kereta makanan untuk diberikan kepada para napi sebelum jam makan malam tiba.

Setelah sudah cukup, ia segera membawa makanan-makanan itu masuk ke dalam sel tahanan. Satu per satu ia berikan kepada para tahanan itu, hingga tiba di sebuah sel tahanan yang ia yakini di huni oleh Casey, sang target. “Makananmu, selamat menikmati” ucap Angela dengan nada rendah seraya memberikan makanan lewat celah kecil yang memang di sediakan untuk makanan. Angela dapat melihat tubuh lemah Casey yang nampak tak begitu peduli dengan makanan yang baru saja ia berikan. “Kau tidak ingin makan? Terserah kau saja” ucap Angela seraya berlalu, meninggalkan Casey di sel tahanan tersebut.

Sekilas, Casey melirik tubuh si pengantar makanan tersebut yang telah berjalan menjauhinya lalu beralih menatap makanan yang baru saja datang itu. Ia memicingkan matanya saat tak sengaja menemukan sesuatu yang lain di dalam nampan makanan tersebut. Dengan hati-hati pria itu mendekati makanan itu dan menemukan bungkusan kecil berisi pil-pil obat di sertai secarik kertas.

“If you feel depressed, maybe you need a bit of heroine to calm down. (Jika kamu merasa tertekan, mungkin kamu membutuhkan sedikit heroin untuk menenangkan diri)”

***

Pagi-pagi sekali, Louisiana tiba-tiba menjadi begitu gempar setelah menemukan seorang tahanan yang tewas di dalam penjara. Pihak polisi belum menemukan penyebab kejadian tersebut, karena kejadian tersebut masih dalam proses penyelidikan.

Hal itu tentu saja sudah terdengar hingga ke Dallas, dimana Aiden berada saat ini. Pria itu nampak terkejut sekaligus geram saat mengetahui kejadian itu. Ya, ia geram karena ia sama sekali tidak mengira bahwa kejadian seperti itu bisa saja terjadi.

“Sial! Seharusnya aku menambah penjagaan khusus di tempat itu” ucapnya geram seraya membanting gelas berisi sampanye miliknya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai marmer rumahnya. “Aku harus ke Louisiana sekarang juga” ucapnya seraya bersiap-siap pergi. Ia harus menemukan sosok pembunuh yang telah membunuh Casey dan tentu saja—Young Won .

***

Angela sedang berjalan-jalan disekitar French Quarter seraya menikmati beberapa lagu yang dibawakan musisi jalanan di sertai aroma alkohol yang sangat menyengat, pasalnya daerah ini dipenuhi bar, restoran dan hal-hal lainnya. Ingat! Menikmati, bukan berarti menikmati yang sesungguhnya, Angela hanya ingin terlihat lebih manusiawi sekarang.

Sudah sebulan semenjak kejadian pembunuhan Casey. Dan ia merasa benar-benar telah menjadi pengangguran. Pembunuhan di penjara itu adalah pekerjaan terakhir yang ia lakukan. Bukan, ia bukannya telah berhenti. Hanya saja ia belum mendapatkan panggilan selama sebulan ini.

Karena itu ia memutuskan untuk berjalan-jalan walaupun sebenarnya ia lebih suka meringkuk di atas kasur seharian penuh. Ia tidak mungkin tidur selama sebulan penuh.

Setelah berjalan dalam waktu yang cukup lama, ia memutuskan untuk mampir di dalam pub, dimana Casey dulu bekerja. Hari masih cukup siang, namun pub tersebut selalu terlihat ramai. Ia memilih duduk di kursi tinggi dan meminta si bartender untuk memberikannya segelas cocktail. Alunan musik R&B terdengar memenuhi seluruh penjuru pub itu. Tidak ada hal yang benar-benar ia nikmati, namun ia tetap menggerakan tubuhnya mengikuti irama musik—agar terlihat lebih manusiawi.

“Hi! Boleh aku duduk disini?” sapa seorang pria berwajah Asia seraya duduk di kursi tinggi di samping Angela. Angela nampak tak begitu peduli dan lebih memilih menikmati cocktailnya seraya menggerakan tubuhnya sesuai irama musik. “Sudah sebulan aku berkunjung ditempat ini tapi aku belum pernah melihatmu sama sekali. Apa kau pengunjung baru?” ucap pria itu berusaha membuka percakapan. Angela menoleh ke arahnya dengan tatapan datar seperti biasa, “Tidak, aku hanya jarang berkunjung kemari” ucapnya.

Pria itu tersenyum seraya menatap Angela dengan tatapan seduktif miliknya. “Ah, sepertinya kau cukup sibuk untuk sekedar mampir disini” ujar pria itu lagi. Angela nampak tak berniat untuk membalas ucapan pria easy going disampingnya ini. Sekilas ia melirik pria itu memesan minuman yang sama dengannya pada seorang bartender. “Akan lebih menyenangkan jika kita sudah saling mengenal dan menjadi akrab. Aku orang Asia dan berkewarganegaraan Korea, namaku Lee Donghae, dan kau?” ucap pria itu lagi, kali ini ia mengulurkan tangannya ke arah Angela yang hanya menatapnya malas. “Aku tidak ingin akrab dengan siapapun Tuan” ucap Angela seraya menatap pria itu tajam tanpa niat membalas uluran tangan tersebut. Pria itu hanya tersenyum tipis seraya menarik kembali uluran tangannya. “Ah, sayang sekali” ucapnya.

***

            Aiden kembali ke kediaman barunya di New Orleans. Semenjak sebulan yang lalu atau mungkin lebih tepatnya adalah semenjak peristiwa pembunuhan Casey yang sampai sekarang ini belum juga ditemukan si pelaku pembunuhan.

Ia tahu bawa si pelaku pembunuhan tersebut tinggal menetap di Louisiana. Untuk itu ia berada disini. Memburu si pelaku pembunuhan yang telah menewaskan Young Won, sahabat baiknya.

Belum ada tanda-tanda pergerakan si pelaku yang ia duga adalah seorang gadis itu. Satu-satunya yang masih ia ingat dengan jelas adalah bibir datar itu. Waktu berjalan semakin jauh dan samar-samar ia hampir melupakan wajah gadis itu. Ia juga tidak berniat untuk memancing gadis itu dengan cara yang sama dengan Casey. Saat itu Casey memang adalah buronannya. Pria itu adalah pria yang telah melakukan pelecehan seksual terhadap adiknya saat adiknya itu tengah berlibur di LA musim panas tahun lalu.

Aiden membuka kulkas miliknya dan meraih sebotol wine dari dalam sana, membukanya, lalu menuang cairan itu kedalam gelas kosong miliknya. Ingatannya kembali berputar pada kejadian di pub tadi. Kejadian yang tidak pernah ia duga. Ia bertemu dengan seorang gadis bermata cokelat yang nampak biasa-biasa saja jika dilihat dari balutan pakaiannya. Masih sangat jelas di ingatannya tentang gadis itu, kaos putih yang nampak begitu longgar di tubuhnya di padukan hot pants berwarna biru dongker serta wajah tanpa makeup yang berhasil menyita seluruh perhatiannya. Hal itu bukan pertama kalinya ia temukan. Ia tentu saja telah melihat banyak gadis dengan pakaian biasa seperti itu, termasuk adiknya.

Ia membuka dua kancing atas kameja birunya. Tiba-tiba saja ia merasa begitu gerah saat mengingat wajah datar gadis itu. Wajah yang nampak menampilkan aura cantik yang luar biasa sekalipun tidak tersenyum dan terlihat begitu angkuh. Ia berharap ini bukan kali terakhir ia bertemu dengan gadis itu.

***

Angela tengah berbelanja bahan-bahan makanan di Supermarket. Matanya menelusuri rak-rak yang berisi beberapa merk selai roti sesuai rasanya. Tatapannya tertuju pada selai kacang di ujung rak lalu meraihnya dan memasukannya dalam trolly. “Hei! Kau gadis di pub sore itu bukan?” sapa seseorang dari hadapannya. Angela hanya menoleh ke arahnya dengan wajah datar seperti biasanya. Ia menggernyit bingung, merasa tak mengenali pria yang menyapanya seolah-olah mereka begitu akrab. “Apa aku mengenalmu?” tanya Angela datar.

Sementara pria yang tak lain adalah Aiden hanya tersenyum tipis seolah-olah tak begitu ambil pusing jika gadis itu lupa dengannya. “Ah, sepertinya kau lupa. Tapi tidak masalah, sekarang kita bertemu lagi. Namaku Lee Donghae” ucap Aiden seraya mengulurkan tangannya ke arah Angela. Angela hanya menatap uluran tangan di depannya itu tanpa berniat menyambutnya. “Maaf, tapi aku tidak berniat untuk berkenalan denganmu” ujar Angela acuh lalu berjalan meninggalkan Aiden. Aiden membulatkan matanya terlalu shock saat mengetahui bahwa ia kembali di abaikan oleh gadis yang sama untuk kedua kalinya. Runtuh sudah predikat pria Cassanova yang selama ini disematkan banyak orang untuknya.

Aiden menoleh ke arah perginya gadis itu seraya berdecak pelan. Ia menarik trollynya dengan kasar lalu mengejar gadis itu. “Hei, kau sudah mengabaikanku sebanyak dua kali” ucap Aiden seraya menahan langkah gadis itu. Angela nampak merasa mulai terganggu dengan kehadiran pria tak dikenalnya itu. “Lalu apa peduliku? Minggir, aku mau lewat” ucapnya dingin. Aiden kembali dibuat shock sekaligus malu karena merasa harga dirinya yang tinggi itu tiba-tiba saja di jatuhkan begitu saja oleh gadis ini. “Hei! Kau orang Asia bukan? Seharusnya kau punya tata krama” ucap Aiden sedikit keras.

Seumur hidupnya Angela tidak pernah merasa terganggu seperti hari ini. Kata-kata pria asing itu barusan sangat membuatnya jengkel. Ia menatap Aiden dengan wajah tidak suka yang sangat jelas ia perlihatkan. “Bukan urusanmu. Dan sebaiknya kau enyah dari hadapanku” ucap Angela lalu mendorong trollynya meninggalkan Aiden yang masih begitu terkejut dengan penolakan gadis itu. Tidak ada gadis yang pernah menolaknya sebelumnya. Ini benar-benar sudah kelewatan.

***

Aiden mengejar langkah Angela yang baru saja keluar dari Supermarket itu dengan memeluk bag paper berisi belanjaannya. Dengan cepat Aiden mencegat langkah gadis itu membuat gadis itu kembali berhenti dengan wajah kesal. “Hei, kenapa kau sombong sekali” ucap Aiden. Ia sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya yang mungkin saja sedang melihatnya terang-terangan. Angela hanya menatapnya malas lalu berucap “Kau menggangguku” ucap Angela dengan nada suara rendah. Aiden berdecak kesal lalu berkacak pinggang “Jika saja kau ramah padaku, aku tentu saja tidak akan mengganggumu”

“Aku tidak ingin berhubungan dengan siapapun termasuk kau Tuan” ucap Angela nampak tak peduli. Ia berniat melangkah kembali namun kembali terhalang dengan tubuh pria itu. Merasa begitu kesal, Angela menatap dingin kedua bola mata berwarna cokelat gelap milik pria itu. “Sebenarnya apa maumu?” ucap Angela. Aiden menatap gadis dihadapannya itu, kekesalannya tiba-tiba saja menguap setelah mendapat ide yang menurutnya brilian saat mendengar ucapan gadis yang belum ia ketahui siapa namanya itu. Aiden mengambil tangan kiri Angela yang tidak membawa apa-apa dan menariknya “Follow me”

***

Angela diam saja saat dirinya ditarik paksa pria asing itu masuk ke dalam mobil yang membawanya ke sebuah tempat. Ia cukup mengenal tempat ini karena ia pernah kemari beberapa kali, tempat ini berada di ujung daerah New Orleans. Tak jauh dari mobil itu, ada sebuah bangunan besar bergaya Eropa yang rupanya akan menjadi tempat tujuan mereka. Aiden sendiri nampak cukup lega karena gadis itu menurut saja saat ia membawanya.

“Ini rumahku” ucap Aiden bangga saat mereka telah tiba di depan bangunan megah itu. Angela sendiri nampak tidak begitu tertarik saat melihat bangunan itu, yang menjadi objek nya hanya sebuah pemandangan laut yang dapat menyejukan hatinya. Senyum penuh bangga milik Aiden luntur begitu saja saat menyadari bahwa gadis itu hanya mengagumi laut luas yang terpampang nyata, bukan rumahnya. Gagal sudah rencananya untuk membuat gadis itu luluh. Ia berfikir bahwa gadis itu akan luluh begitu saja saat mengetahui kekayaannya yang berlimpah ruah sama seperti gadis-gadis lainnya yang langsung saja lengket dengannya.

“Kau ingin berdiri disini saja tanpa masuk ke dalam rumahku dulu?” ucap Aiden nampak sebal melihat gadis ini sama sekali tidak memperdulikannya. Angela menoleh ke arahnya sekilas lalu berucap “Aku sudah menuruti kemauanmu, jadi sekarang biarkan aku pulang dengan tenang” ucap Angela seraya mengambil barang belanjaannya yang masih tertinggal di dalam mobil. Aiden berniat mencegah kepergian gadis itu. “Hei, setidaknya biarkan aku mengantarmu pulang”. Angela hanya menatap pria itu datar lalu berucap “Tidak, kau hanya akan merepotkanku saja”

***

Angela tiba dirumahnya dan meletakan barang belanjaannya itu di meja makannya. Ia mengeluarkan seluruh isi belanjaannya dari paperbag dan memasukannya ke dalam kulkas dengan rapi satu persatu. Setelah kegiatannya itu selesai, ia melirik jam di pergelangan tangannya yang telah menunjukan pukul 3 sore. Ia mendesah kesal saat menatap seluruh penjuru rumahnya yang telah bersih dan tertata rapi, kulkasnya yang telah terisi penuh, tidak ada baju kotor yang perlu ia cuci. Semua pekerjaan telah beres dan ia merasa bosan sekarang. Entah apa yang akan ia lakukan mengingat belum ada panggilan kerja saat ini.

Berendam air hangat juga bukanlah pilihan efektif mengingat hari begitu cerah dan terlalu cepat baginya untuk mandi sekarang. Menonton Tv? Oh ayolah! Ia tidak suka menonton Tv walaupun ia memiliki Tv plasma sekalipun. Itu hanyalah pajangannya agar terlihat lebih manusia. Lalu apa yang akan ia lakukan sekarang? Pergi ke klub malam dan minum beberapa gelas alkohol? Bukan ide yang buruk memang, tapi ia sedang tidak mood. Tidur? Tidak, bukan karna ia tidak mau, tapi akhir-akhir ini ia punya kesulitan tidur, mungkin karna ia terlalu lama tidur sebelumnya. Jadi apa yang akan ia lakukan sekarang? Mengiris-iris kulitnya dengan pisau agar ada kerjaan? Oh ayolah! Ia sedang menjalankan program ‘terlihat lebih manusiawi’ dan ia tidak ingin melukai dirinya lagi setelah bersusah payah menghilangkan seluruh bekas luka di tubuhnya. Wanita normal yang sering ia lihat adalah wanita yang ingin terlihat cantik dan seksi di depan pria, mereka tidak ingin memiliki bekas luka.

Setelah lama berfikir, akhirnya ia memilih untuk pergi ke klub malam saja dari pada harus tertekan di dalam rumahnya karena kebosanan. Ia masuk ke dalam kamar, sengaja mandi berlama-lama agar waktu berjalan cepat, mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih terlihat wanita dan sedikit berdandan. Tidak ada salahnya sesekali mencoba terlihat lebih wanita saat datang ke klub malam. Tiga jam adalah waktu yang ia habiskan berleha-leha di dalam kamar mandi, berganti baju, dan berdandan.

***

High Class Night Club

Sesekali berkunjung ke klub malam elit tidak masalah bukan? Lagipula ia juga jarang pergi ke tempat-tempat seperti ini jika tidak ada urusan ‘pekerjaan’. Masih cukup sore, namun sepertinya tempat itu cukup dipadati pengunjung, dan semakin bertambah banyak saat waktu semakin malam. Tubuhnya bergerak-gerak mengikuti irama lagu seraya menikmati whisky miliknya. Ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan para pria yang jelas-jelas memperhatikannya penuh minat. Bagaimana tidak? gaun putih yang hanya menutupi dada hingga pahanya nampak menempel begitu lekat mengikuti lekukan tubuhnya, tentu saja pemandangan seperti itu akan mengundang nafsu para kaum adam yang jelas-jelas langsung terpikat dan mencoba mendekatinya. Entah sudah berapa banyak pria yang mencoba menggodanya, namun ia sama sekali tak peduli.

“Oh, kita bertemu lagi” ucap Aiden seraya duduk disampingnya, bahkan tangannya dengan seenaknya melingkar di pinggang gadis itu seolah-olah mereka sudah akrab sebelumnya. Angela hampir saja mengumpat saat melihat siapa si pengganggu kesenangannya. Kenapa pria itu suka sekali muncul dimana-mana? Angela menepis tangan Aiden dengan kasar, dan menatap pria itu dengan tatapan tidak suka. “Enyahlah” ucapnya. Aiden sama sekali tidak merasa tersinggung ataupun marah. Entahlah, ia sendiri tidak tahu mengapa tubuhnya bereaksi seperti ini tiap kali bertemu dengannya. Aiden terkekeh lalu berucap “Ada pepatah yang mengatakan bahwa jika kita bertemu tiga kali dengan seseorang tanpa sengaja, berarti kita berjodoh”

Angela nampak tak mau ambil pusing dengan apa yang diucapkan pria itu. Lantas ia memilih bangkit berdiri, mencoba menjauh dari pria itu sejauh mungkin. Ia hampir saja mengumpat saat pria itu menangkap lengannya dan menahannya langkahnya. “Sudah dua kali aku gagal menahanmu, aku tidak ingin terjadi lagi untuk ketiga kalinya” ucap Aiden. Angela menatap Aiden dengan tatapan tajam, nyaris saja ia mendaratkan satu pukulan di wajah pria itu jika saja pria itu tak menahan tangannya. “Oh, kau sangat agresif sekali, dan cukup kasar. Menarik” ucap Aiden seraya tersenyum meremehkan.

“Lepaskan tanganku” ucap Angela berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria gila itu. Tapi dengan mudahnya pria itu menarik tubuhnya hingga menempel pada tubuh pria itu, dan tanpa aba-aba bibir keduanya telah menempel membuat Angela shock saat bibirnya menyentuh bibir pria itu. Seolah-olah tidak puas, pria itu mencoba mengeksplorasi bibir gadis itu tanpa izin. Namun dengan segera Angela melepaskan kontak fisik itu dengan kasar. “Damn it!” makinya dan hendak menampar pria itu. Tapi sekali lagi pergerakannya kalah cepat saat pria itu dengan cepat menahan kedua lengannya dan tersenyum remeh. “Menyerah saja” ucap Aiden sebelum dirinya meraih kembali bibir gadis itu, dan tanpa perlawanan lagi, Angela menyerah dan memilih menikmati apa yang pria itu tawarkan padanya. Ia melihat banyak wanita yang melakukan hal seperti ini, ia hanya mencoba mengikuti nalurinya agar terlihat lebih manusia.

***

Tubuhnya serasa remuk saat ia sadar dari alam mimpinya. Angela menyipitkan matanya, mencoba menyesuaikan matanya saat cahaya matahari masuk ke dalam retina matanya. Ia mengambil posisi duduk di atas tempat tidur seraya menutupi tubuhnya yang tidak terbalut apapun selain selimuti putih yang di pegangnya hingga menutupi lehernya.

Tidak ada rasa takut ataupun bersalah terpancar dari matanya saat ia melihat bercak darah di kasur dan seluruh pakaiannya yang telah berserakan dilantai bersama pakaian pria itu tadi malam. Oh ya! Ngomong-ngomong soal pria itu, kemana dia? Apa ia telah pergi meninggakannya begitu saja? Oh, baguslah. Dengan begitu ia tidak perlu repot-repot untuk bertemu dengannya lagi. Tapi sepertinya harapannya tidak terkabul karena pendengarannya tak sengaja mendengar suara gemericik air dari sebuah pintu di dalam kamar itu.

Tak lama kemudian pintu itu terbuka dan menampilkan sosok pria itu yang hanya menggunakan handuk putih sebatas pinggang hingga paha dan menatapnya dengan senyum cerah. “Sudah bangun?” ucap pria itu seraya menatapnya. Pria itu bahkan lebih memilih berjalan ke arahnya dari pada memakai pakaian terlebih dahulu. “Sayang sekali, aku harap kau sudah pergi” ucap Angela tanpa mengindahkan ucapan Aiden. Aiden terkekeh lalu menundukan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah Angela dan mengecup bibir gadis itu singkat. “Pergi kemana? Ini kan rumahku” ucap Aiden tenang. “Kupikir aku hanya dijadikan wanita one night standmu saja” ucap Angela datar, membuat Aiden gemas dan ingin menciumnya lagi.

“Sepertinya kau berharap sekali hanya menjadi one night standku” kekeh Aiden. Dengan gerakan sensual pria itu mengusap bibir gadis itu. Ia tidak lagi berniat memakai pakaiannya untuk sekarang dan beberapa menit berikutnya. Terlalu tertarik dengan pembicaraan konyol antara dirinya dengan gadis yang belum ia ketahui namanya itu. “Memangnya apa lagi yang biasa dilakukan pria semacam dirimu selain itu?” Aiden kembali terkekeh, menurutnya perempuan yang baru saja ia rebut kegadisannya semalam nampak begitu lucu dan semakin menarik di matanya.

“Sayang sekali, tapi sepertinya itu tidak berlaku untukmu” ucap Aiden dengan senyum miring. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Angela hendak berbisik sesuatu. “Kau tahu? ini untuk pertama kalinya aku meniduri seseorang yang masih gadis. Dan sepertinya tidak ada yang lebih baik darimu, jadi jangan pernah bermimpi bisa terlepas dariku. Aku tidak akan melepasmu” bisik Aiden membuat gadis itu membulatkan matanya. “Pervert” desis Angela dan dibalas dengan kecupan oleh Aiden. “Salahmu sendiri karna terlihat begitu menarik di mataku”

***

Pria gila itu benar-benar menawannya di dalam rumah pria itu. Sama sekali tidak ada celah untuknya bersembunyi ataupun melarikan diri. Yang ada, pria itu akan menemukannya dan kembali menguncinya di atas kasur hingga berjam-jam. Benar-benar maniak seks pikirnya. Untuk pertama kalinya Angela menyesal karena bertingkah menjadi lebih manusiawi jika ia tahu akan jadi seperti ini akhirnya.

Seperti saat ini, ia hanya bisa duduk diam di atas kasur seraya menatap tajam Aiden, sementara pria itu memakaikan pakaian untuk gadis itu. “Sudah puas bermain? Jadi biarkan aku pulang” ucap Angela penuh penekanan. Aiden sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapannya dan tersenyum miring. “Aku seorang pebisnis, dan seorang pebisnis tidak ingin mengenal kata rugi. Bagaimana kalau kita bernegosiasi dulu” ucap Aiden. Angela meludahi pria itu membuat Aiden membulatkan matanya begitu terkejut. Ia hampir saja terpancing emosi akibat perbuatan gadis itu. “Kau adalah orang pertama yang berani meludahiku, tapi kali ini ku maafkan” ucap Aiden. Pria itu mengangkat dagu Angela lalu berucap “Begini saja, kau akan ku biarkan pulang asalkan kau memberi tahu namamu. Sebenarnya mudah saja bagiku untuk mencarinya, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari bibirmu” ucap Aiden. “Namaku Natasha” ucap Angela, dan gadis itu nyaris menjerit saat dengan kurang ajarnya pria itu meremas dadanya dengan kasar. “Jangan membodohiku” ucap Aiden. “Sebenarnya mau mu apa?” ucap Angela dengan nafas yang tidak teratur. Aiden tersenyum licik lalu berucap “Kau menjadi milik ku selamanya”

***

Angela bangkit dari tempat tidur, memungut bajunya dan memakainya. Baiklah, itu bukan baju miliknya, itu adalah baju yang dibeli pria sialan itu. Ia menatap Aiden yang tengah tertidur pulas dengan posisi telungkup. Rasa-rasanya ia ingin sekali membunuh pria itu sekarang juga, namun otak warasnya mencegah perbuatan nekatnya itu. Ya, bisa saja ia akan mendapat masalah besar jika bertindak ceroboh. Karna itu ia memilih berjalan mengendap-endap keluar kamar. Ia hampir saja berhasil keluar dari rumah itu namun gagal karna pria itu kembali menangkapnya.

“Kau ingin pulang?” ucap Aiden dengan suara rendah. Sudah dua minggu ia menawan Angela dirumahnya. Angela mengangguk pelan, berharap usahanya untuk terlihat lemah akan berhasil. Aiden mengecup bibirnya singkat lalu berucap “Kenapa kau keras kepala sekali? kau tidak mau mengatakan siapa namamu, kau bahkan tidak pernah terlihat tersenyum sedikit pun. Seandainya kau menuruti kata-kataku, aku pasti tidak akan menyulitkanmu seperti ini” ucapnya.

“Angela Han itu namamu kan?, ternyata kau orang korea juga. Baiklah kau boleh kembali ke rumahmu. Tapi besok pagi karena ini sudah larut malam” ucap Aiden melembut. Angela tidak begitu terkejut, pria itu pasti mencari tahu namanya. Hanya saja ia cukup khawatir jika identitasnya sebagai seorang pembunuh bayaran terbuka. Angela hanya mengangguk dan menurut saja saat tubuhnya diangkat dengan entengnya oleh pria itu menuju kamar.

***

Aiden benar-benar menepati janjinya untuk membiarkan Angela kembali ke rumahnya pagi itu. Ia membiarkan gadis itu kembali ke rumahnya tanpa mengantarnya, sesuai dengan permintaan Angela.

Ah~ entah apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia bisa terperosok jatuh ke dalam pesona gadis biasa yang ia temui di Bar beberapa waktu yang lalu? dan kabar buruknya adalah gadis itu memiliki sifat acuh, angkuh, tidak pernah tersenyum dan tidak peduli, tidak seperti gadis-gadis yang biasanya ia kencani satu-dua hari. Gadis yang tidak peduli sama sekali saat ia menidurinya, gadis yang memaksanya untuk membiarkannya pulang.

Aiden sesekali tersenyum seraya menatap baju kotor di atas tempat tidur yang tadi di pakai gadis itu sebelum pergi. Ia tidak bodoh untuk mengasumsikan bahwa dirinya sedang dilanda asmara. Jadi seperti ini rasanya jatuh cinta. Ia mengambil baju kotor itu dan meletakan di tempat cucian, bergabung dengan baju kotor lainnya. Tak lama kemudian ponselnya berdering, dengan segera ia merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya.

Entah apa yang ia bicarakan dengan si penelpon, yang jelas mimik wajah pria itu nampak begitu serius, rahangnya mengeras, dan tatapan sendu yang tadi ia tunjukan berubah menjadi tajam dan sangat berbahaya.

***

Angela merasa dirinya tengah di awasi dari jauh. Semenjak ia kembali ke rumahnya beberapa jam yang lalu, ia merasa seperti diikuti seseorang, namun tidak ada satu pun orang yang ia lihat selain kendaraan yang berlalu-lalang di jalan. Ia berniat untuk membeli beberapa botol alkohol untuk mengurangi rasa depresi yang akhir-akhir ini dialaminya. Mungkin semenjak pria bernama Aiden Lee itu masuk ke dalam hidupnya. Pria kurang ajar yang berani-beraninya menidurinya, mengurungnya di dalam rumah besar pria itu. Pria yang entah mengapa membuat dirinya menjadi lemah tak berdaya, menjadi penurut layaknya seekor anjing yang begitu patuh pada majikannya.

Ia merasa dirinya tak lebih dari seorang peliharaan yang entah kenapa begitu patuh. Ia harus menghindari pria itu. Jauh-jauh dari pria brengsek sepertinya adalah satu-satunya jalan aman. Pria itu terlalu berbahaya.

Angela duduk di atas sofa putih di kamarnya seraya meletakan laptop hitam di atas pangkuannya. Ada beberapa email masuk yang baru diterimanya. Sepertinya dalam waktu dekat ini ia akan mendapatkan tugas baru. Dengan tidak sabar ia membuka pesan itu dan dengan teliti membaca isi pesan itu.

Bibirnya hanya membentuk garis datar saat setelah selesai membaca pesan itu. -I’ll pay you 1 million dolars, if you can kill Lee Donghae, President Director of ZCXC tonight- sebuah pesan singkat yang berisi tugas baru dengan bayaran fantastis. Angela tentu dengan senang hati akan menerima tugas itu.

Dengan cekatan, tangannya mengetik-ngetik keyboard laptopnya. Ia harus mencari tahu seperti apa sosok Presiden Direktur ZCXC itu. Matanya membulat terkejut saat ia tidak mendapatkan satu gambar pun yang bisa menunjukan seperti apa rupa pria itu. Hanya ada data tentang dirinya, namun ia tidak menemukan satu pun foto tentang targetnya. Ia kembali mendapatkan satu pesan dari si pesuruh, dan kali ini isinya berbunyi –At this time, he was in Louisiana, and he was a Korean-

Ada satu orang yang Angela kenal berkewarganegaraan Korea ditempat ini. Ia memiliki marga yang sama, dilihat dari rumahnya, Angela berasumsi bahwa pria itu kaya raya. Mata Angela membulat terkejut saat menyadari bahwa targetnya adalah pria itu.

***

Malam ini Angela harus kembali ke rumah itu apapun caranya. Banyak hal yang sudah ia pikirkan tentang rencana pembunuhan tersebut. Untuk pertama kalinya ia merasa sedikit takut dan khawatir selama ia bekerja di dalam bidang ini. Matanya terus bergerak gelisah menatap jam dinding yang terus berputar hingga hari telah petang.

Perasaannya sangat tidak enak, sementara waktu terus berjalan maju hingga mau tak mau akhirnya ia memutuskan untuk melakukannya. Ia harus bertindak profesional, ia harus berhasil membunuhnya malam ini.

Dengan segera ia mengambil jaket hitam miliknya, memakainya lalu segera keluar dari rumahnya.

***

Aiden membuka pintu rumahnya dan terkejut saat mendapati Angela berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah menggigil. Belum sempat ia membuka suara, gadis itu telah memeluknya erat, membuatnya harus merendahkan tubuhnya dengan wajah terkejut yang sangat jelas terlihat di wajahnya.

Terkejut bukan berarti ia tidak menerima perlakuan tiba-tiba dari gadis ini. Dalam beberapa jam saja gadis ini tiba-tiba berubah menjadi agresif, membuat hasratnya untuk menerkam gadis itu begitu menggebu-gebu. Dengan posesif, Aiden melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dan mengangkatnya seolah-olah berat badan gadis itu bukan masalah sama sekali. Dengan kaki kirinya ia menutup pintu rumahnya dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumahnya.

“Aku telah membiarkanmu kembali ke rumahmu tadi, tapi kenapa kau kembali lagi?” ucap Aiden seraya mendudukan dirinya di atas sofa empuk berwarna hitam di ruang tamunya, sementara Angela duduk di atas pangkuannya. “Kau juga tadinya mati-matian menahanku dirumahmu” balas Angela seraya memainkan kaos yang dikenakan Aiden. Aiden terkekeh gemas melihat tingkah gadis itu yang tiba-tiba saja berubah 180 derajat. Ia mengecup bibir gadis itu singkat lalu tersenyum. “Apa sekarang kau sadar bahwa kau membutuhkan diriku?” ucap Aiden dan di jawab dengan anggukan oleh Angela. Aiden mengusap rambut cokelat gelap milik gadis itu dan dengan intens menatap wajah Angela.

Angela sendiri masih memainkan perannya dengan baik sebelum menyerang Aiden yang telah menjadi targetnya malam ini. “Kau sudah makan?” tanya Aiden saat suasana di antara mereka begitu hening. Angela tersenyum, dalam otaknya ia terus berfikir keras bagaimana caranya untuk melumpuhkan lawannya dalam sekejap. Ia tidak boleh salah langkah atau ia sendiri yang akan mendapat masalah. “Kalau kau tidak keberatan, bisakah kau memasakan makanan untuk ku?” ucap Angela. Aiden menampilkan senyum terbaiknya lalu berucap “No problem”

***

Angela duduk manis di meja makan seraya menatap Aiden yang tengah sibuk memasak makanan untuknya di dapur. Pikirannya saat ini tengah buntu, entah tak tik seperti apa yang harus ia lakukan agar dapat melenyapkan pria itu secepat mungkin sebelum pria itu sadar bahwa nyawanya tengah terancam. Akan sangat fatal akibatnya jika hal itu benar-benar terjadi.

Memasukan racun ke dalam makanan atau minuman yang akan dikonsumsi pria itu bukan ide yang baik untuk saat ini. Menghujam tubuh pria itu dengan benda tajam juga bukanlah ide yang baik. Apa sebaiknya ia tembak saja? Tidak! itu terlalu beresiko untuknya, bisa saja FBI dapat melacak jejaknya. Otaknya terus berfikir keras hingga pria itu selesai memasak dan menyajikan makanan itu dihadapannya. “Makanlah, maaf aku hanya bisa memasak pasta” ucap pria itu lalu mengambil posisi duduk disampingnya.

Awalnya ia berniat untuk menolak makanan itu, tapi mengingat dirinya sendiri yang menyuruh pria itu memasakan makanan untuknya, mau tak mau ia mengambil sedikit pasta itu ke atas garpu yang ia pegang. Dengan perlahan-lahan gadis itu menyuap pasta itu ke dalam mulutnya sambil terus memikirkan cara membunuh Aiden.

Kepalanya tiba-tiba saja terasa sangat pening, entah itu efek dari pikiran beratnya atau ada hal lain yang memang membuat kepalanya pening. Matanya membulat saat menyadari apa penyebab dirinya begitu pusing. Namun sebelum ia sempat menatap Aiden, kesadarannya tiba-tiba direnggut begitu saja dan semuanya menjadi gelap.

***

Dunia terasa berputar-putar saat matanya perlahan-lahan kembali terbuka. Kepalanya terasa sangat berat membuatnya ingin sekali menutup matanya kembali. Namun hal itu tidak mungkin ia lakukan saat dirinya kembali sadar bahwa penyebab dirinya pingsan adalah pria sialan itu. Ya, ia tidak mungkin salah menebak bahwa pria itu dengan sengaja memasukan obat bius ke dalam makanan yang ia makan.

Sial! Seharusnya ia berfikir sampai disitu!

Samar-samar kesadarannya kembali pulih dari dunia yang awalnya terasa berputar-putar itu. Matanya menangkap objek pria di hadapannya itu tengah duduk di sofa dengan angkuhnya seraya menatapnya penuh dengan kesinisan. Sadar bahwa ternyata dirinya diikat di atas tempat tidur membuatnya meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari ikatan pada kedua tangan dan kakinya itu.

“Kau bisa melukai dirimu jika kau terus meronta seperti itu” ucap Aiden dengan nada rendah dan tersenyum penuh ejekan. Mata Angela berkilat penuh amarah “Sialan! Lepaskan aku” ucapnya. Aiden hanya tersenyum mengejek seraya bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Angela. “Sungguh sangat disayangkan jika gadis yang menarik perhatianku ini ternyata adalah seorang pembunuh” ucap Aiden. “Dan yang paling buruknya lagi adalah kau mencoba membunuhku” lanjutnya. “Aku hanya menjalankan pekerjaanku” balas Angela dengan suara rendah, kini ia dapat mengontrol emosinya kembali, lagi pula percuma saja ia mengamuk dan menghabiskan energinya dengan percuma.

“Ya, kau memang hanya melakukan pekerjaanmu” ucap Aiden lalu duduk di pinggir tempat tidur dan menyentuh dagu Angela dengan mata tajam. “Aku tidak bisa marah, karna itu memang adalah pekerjaanmu. Semua orang harus bekerja untuk menafkahi diri” ucap Aiden lalu merendahkan wajahnya untuk menjangkau bibir Angela dan mengecupnya singkat. Angela sendiri tidak bisa menolak karna tangan dan kakinya diikat dengan kuat hingga tidak bisa banyak bergerak. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan kekesalannya akibat perbuatan bejat pria itu adalah memakinya. “Brengsek”

Aiden tertawa, seolah-olah makian gadis itu adalah sebuah gurauan untuknya. “Kau tetap menarik sekalipun memakiku” ucap Aiden. “Tapi kau sudah melukaiku dan membunuh sahabatku. Dan karna hal itu, aku tidak punya alasan untuk tidak menghukummu” bisik pria itu di telinga kirinya sebelum pria itu meloloskan tubuh gadis itu dari pakaiannya dengan paksa hingga menciptakan suara sobekan bajunya.

***

Kepala Angela terasa berputar dan tubuhnya terasa begitu remuk seolah-olah tulang-tulang yang membentuk tubuh gadis itu telah hancur. Ia meringis saat merasakan perih pada tubuh bagian bawahnya. Entah berapa kali pria itu menghujamkan miliknya di dalam sana hingga membuat tubuhnya terasa lumpuh tak bertenaga. Matanya mengerjap saat menyadari bahwa hanya ada ia sendiri di dalam kamar ini tanpa sehelai benang pun. Membuat tubuhnya bergidik kedinginan akibat udara dingin yang menyentuh kulitnya. Ia bahkan baru saja menyadari bahwa kedua tangan dan kakinya telah lolos dari lilitan tali yang mengikatnya tadi malam.

Dengan hati-hati ia bangkit dari tidurnya, meraih pakaiannya yang telah hancur lalu berjalan ke arah lemari pakaian, mencari-cari pakaian dari dalam sana yang bisa menutupi tubuh polosnya. Setelah menemukannya, ia segera berjalan keluar kamar dan mendapati rumah itu benar-benar telah kosong tak berpenghuni selain dirinya.

Ia pikir, pria itu akan menghukumnya dengan cara menyiksanya hingga mati. Namun buktinya, ia masih hidup hingga sekarang walau tubuhnya penuh dengan bercak merah keunguan akibat perbuatan nista mereka semalam. Entah ia harus bersyukur atau tidak, pria itu tidak membunuhnya dan ia dapat hidup hingga saat ini.

***

Aiden duduk di dalam jet pribadinya yang akan membawanya kembali ke tanah airnya dengan raut wajah dingin tak berekspresi. Ini masih sangat pagi, bahkan matahari belum menunjukan cahayanya sama sekali. Perasaannya tengah kacau balau saat ini dan ia tidak ingin di ganggu.

Seharusnya ia membunuh gadis itu, gadis pembunuh yang telah membunuh sahabat terbaiknya—Kim Young Won dengan sadis. Bukannya mengajak seks gadis itu semalaman. Ia benar-benar sudah tidak waras! Bagaimana bisa ia tertarik pada gadis pembunuh yang telah membunuh sahabatnya? Aiden mengusap wajahnya frustasi lalu meraih gelas berisi Sampanye dan meneguknya hingga habis. Bagaimana bisa ia melupakan sosok gadis yang tak sengaja bertabrakan dengannya saat insiden pembunuhan Young Won? Gadis yang malah membuatnya jatuh hati dengan sekejap dengan wajah cantik tanpa ekspresi miliknya. Ia bahkan lebih memilih untuk menyembunyikan fakta bahwa gadis itulah si pembunuh bayaran incaran FBI, benar-benar gila!

Ia tidak tahu harus melampiaskan amarahnya ini pada siapa, Seo Joon Seok? Pria yang telah membayar gadis itu untuk membunuh Kim Young Won . Angela Han yang membunuh Kim Young Won? Ataukah ia harus menyalahkan dirinya sendiri karna terlambat menyelamatkan Young Won dan malah jatuh hati pada gadis yang notabene telah membunuh sahabatnya itu? Dengan emosi ia melempar gelas yang ia pegang itu hingga hancur berkeping-keping, membuat beberapa wanita yang memang dipekerjakannya untuk menjadi pramugari di tempat itu terkejut, Assisten keperacayaannya juga sama kagetnya dengan mereka.

“Cari tahu dimana keberadaan Seo Joon Seok! Temukan ia lalu bunuh ia!” perintah Aiden. Assistennya hanya mengangguk patuh dengan wajah takut saat melihat kilatan amarah di wajah atasannya itu.

Setelah mengucapkan perintahnya itu, Aiden menutup matanya, berusaha menghapus seluruh ingatannya dan seluruh perasaannya pada gadis itu. Ia memang tidak membunuhnya, tapi ia harus membunuh seluruh perasaannya dan ingatannya akan gadis itu. Gadis tanpa senyum yang membuatnya terperosok jatuh ke dalam emosi seseorang yang mengalami perasaan jatuh cinta.

***

Louisiana

Sudah sebulan setelah insiden di rumah Aiden waktu itu. Angela sendiri memutuskan untuk vakum dari pekerjaannya. Seluruh pesan dari klien nya ia tolak dan ia sendiri lebih memilih mengurung dirinya di dalam kamar.

Tubuhnya terlihat lebih kurus dengan wajah pucat membuat dirinya terlihat sangat mengerikan. Ia tidak memiliki gairah untuk beraktifitas dan nafsu makan pun sangat menurun drastis. Entah apa yang terjadi padanya semenjak pria itu pergi meninggalkannya. Ia tidak tahu sama sekali apa yang membuat dirinya seperti ini. Ia hanya menduga bahwa ia sedikit kelelahan dan banyak pikiran. Ia benar-benar terlihat sangat manusiawi sekarang.

Dua hari ini perutnya terasa begitu sakit dan ia sendiri harus bolak-balik ke kamar mandi karna mual. Apa mungkin ia sakit? Oh! Jadi seperti ini rasanya sakit? Sebelumnya ia tidak tahu seperti apa itu rasanya sakit karna ia sendiri belum pernah sakit selama hidupnya.

Siang ini ia berniat untuk membeli obat penghilang rasa mual karna ia sendiri tidak lagi dapat menahan rasa mual yang terus mengganggunya. Karna itu, dengan lemah ia berjalan menuju apotek terdekat dan membeli obat penghilang rasa mual. Baru saja ia hendak keluar dari apotek tersebut, ia merasa pusing membuat pandangannya mengabur. Hal yang terakhir kali ia ingat adalah ia ambruk dan semuanya menjadi gelap.

***

Hospital

Aroma obat-obatan berhasil masuk ke dalam indra penciumannya, membuat gadis itu sadar dari pingsannya. Matanya mengerjap saat menyadari bahwa ia berada di tempat asing yang dia kenal bernama rumah sakit. “Anda sudah sadar?” sapa seorang pria berhasil membuatnya menoleh dan menatap pria itu penuh kebingungan. “Ah, sepertinya kau memang sudah sadar. Tadi kau pingsan dan aku yang membawamu ke rumah sakit” ucap pria itu ramah.

“Oh ya, perkenalkan namaku Max Shim, aku orang Korea dan kebetulan aku berlibur disini. Namamu?” Mendengar pria itu memperkenalkan dirinya dengan ramah membuat Angela mendengus. Lagi-lagi ia harus berurusan dengan orang Korea.

Angela tidak berniat menjawab pertanyaan pria bernama Max Shim itu. Ia memilih bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi duduk. Ia meringis kecil saat merasakan rasa sakit pada perutnya lagi. “Kau baik-baik saja? Tadi Dokter mengatakan padaku bahwa kau sedang hamil 3 minggu.” ucap pria itu lagi.

Ucapan Max Shim membuat Angela dengan segera menoleh ke arah pria itu dengan wajah terkejut yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia hamil? 3 minggu? Bagaimana bisa? Melihat raut wajah gadis yang ditolongnya nampak sangat terkejut membuat Max Shim bingung, lalu bertanya “Kau baik-baik saja? sepertinya kau baru tahu kalau kau hamil. Apa itu mengejutkanmu?” tanya Max hati-hati. Angela menggeleng, ia tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Apakah ini karma untuknya? Apakah ini adalah hukuman yang harus ia tanggung atas perbuatan-perbuatannya? Matanya bergerak-gerak gelisah, apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus menggugurkan janin ini? Untuk pertama kalinya ia merasa sangat takut, jauh melebihi rasa takutnya saat Aiden tahu bahwa ia akan membunuhnya. Tubuhnya bergetar hebat, membuat Max yang berada tak jauh darinya dapat melihat hal itu dengan jelas.

“Kau baik-baik saja?” tanya Max hati-hati. Sekali lagi Angela menggeleng, ia menatap Max dengan mata berair. Untuk pertama kalinya ia merasakan air mata jatuh dari pelupuk matanya, “Aku—aku tidak baik-baik saja.”

Karma. Ini adalah akibat yang harus ditanggungnya. Ini adalah hukuman yang harus ia jalani dan ia sesali seumur hidupnya.

End

Makasih buat admin yang udah posting ff ini. hihihi~ ff ini udah di edit lagi karna sebelumnya pernah di publish diblog saya. Makasih juga buat para readers. Kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan^^ Thank you!!

3 Comments (+add yours?)

  1. Devi
    Oct 16, 2016 @ 03:50:02

    REALLY NEED SEQUEL THOR
    JEBAL
    KEREN BANGET

    Reply

  2. ayumeilina
    Oct 19, 2016 @ 20:32:15

    Specchless!!!!!
    Keren. Seru. Oke banget dah ni FF

    Rasanya sekarang pengen nyulik Hae. Mau bilang Han hamil.
    Mungkin Max bakalan jadi pengganti Hae…

    Reply

  3. Monika sbr
    Oct 23, 2016 @ 10:17:43

    Angela hamil anak donghae, nanti siapa yg akan jadi ayahnya yaa??
    Sequel dong thor.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: