The Meeting

back-dress-fashion-girl-favim-com-3706700

Judul: The Meeting

Penulis: BeeNim

Tema: Relationship, Sadness, Adulthood.

Word count: 1,871.

***

 

“Hallo, apa kabarmu?

“Aku harap kau tidak merasa aneh. Ah, maksudku, tentu saja kau tidak akan merasa aneh. Sudah enam tahun, kan? Tentu saja kau pasti sudah terbiasa dengan situasimu sekarang. Aku… Aku mulai terbiasa, kalau aku harus berpikir positif. Yah, kau mengenalku kan, aku ini manusia pesimis yang hanya bisa berpikir buruk, jadi susah bagiku mengatakan hal-hal yang positif. Bahkan saat ini aku sedang bertanya-tanya, apa yang kulakukan menyuratimu seperti ini? Toh bukannya keadaan akan berubah.

“Tapi tidak usah dipikirkan. Tolong jangan dipikirkan, karena aku masih hidup, melanjutkan hidupku.

“Setelah berpisah denganmu, semua tidak lagi sama. Tentu saja. Kau, cinta dalam hidupku, pergi setelah mengajakku menikah. Haha, gadis mana yang tidak gila kalau ditinggalkan dengan caramu meninggalkanku. Aku tak bisa berhenti menyalahkanmu, asal kau tahu saja. Meski aku juga tak bisa berhenti mencintaimu. Aku tak tahu bagaimana caranya melepaskanmu dari pikiranku. Belum tahu, jadi bersabarlah, mungkin sebentar lagi aku akan tahu.

“Hei, bagaimana petualanganmu? Sudahkah kau melihat banyak hal baru? Aku sudah. Aku menjalani hidup baruku dan karenanya aku bertemu dengan banyak sekali hal baru. Bos baruku, Micky, aku yakin kau pasti kenal dengannya, membawaku pada banyak peristiwa. Dia lelaki yang sangat lembut hati, fisiknya lemah, tapi kemauannya sekuat baja.

“Kupikir-pikir lagi, untuk apa pula kukatakan ini padamu. Dia kan temanmu juga. Hahaha. Lucu sekali ya bagaimana takdir selalu berputar-putar di tempat yang tidak jauh-jauh amat. Kau meninggalkanku, aku bertemu temanmu, dan sekarang temanmu itu salah satu orang terdekatku. Karena dia aku bisa bertahan. Karena dia aku bisa mengingatmu sambil tersenyum. Karena dia kau kembali hadir di hidupku.

“Biar kuberitahu sesuatu. Kupikir aku sudah lupa bagaimana caranya mencintaimu, tapi setelah bertemu dengan Micky, dia menunjukkan padaku bahwa aku masih mencintaimu dengan cara yang sama. Sakit hati yang muncul pun masih sama. Sakit hati karena aku tidak habis pikir bagaimana bisa kau meninggalkanku begitu saja, tanpa menjelaskan, tanpa menemuiku, tanpa apa-apa. Miris. Dan pedih. Tapi seperti yang kubilang, Micky membawamu kembali padaku dan aku tak bisa membantah diriku sendiri bahwa aku masih benar-benar mencintaimu. Dengan cara yang sama.

“Aku harap kata-kataku ini tak membuatmu bosan. Aku sebenarnya sudah bosan dengan kata-kataku sendiri. Karena kata-kata ini selalu kuulang-ulang setiap hari. Di akhir hari aku akan gelisah memilih antara membiarkanmu tahu hal ini atau tidak. Tampaknya, tiga tahun adalah apa yang kubutuhkan untuk mengumpulkan semua keberanian. Di sinilah aku, berdiri di hadapanmu, membacakan suratku untukmu.

“Kau, yang kucintai, tentu saja aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dengan hanya berdiri dan mengatakan aku mencintaimu. Tidak sesingkat itu, Sayang… Haha, jangan terkejut, aku memang memanggilmu ‘Sayang’. Aku tahu dulu kau ingin sekali aku memanggilmu dengan panggilan khusus tapi aku tak pernah mau. Untuk itu…

“Maaf, aku harus berhenti, ingusku sedang agak bandel dan tak bisa dikontrol. Jadi kulanjutkan ya, Untuk itu… kali ini aku memanggilmu Sayang. Untuk itu… aku meminta maaf karena baru kali ini berhasil memanggilmu mesra. Untuk itu… tolong dengarkan aku dengan seksama.

“Sayang, aku tahu kau sudah tahu, tapi aku ingin tetap mengatakannya padamu. Aku sangat bahagia sewaktu kau bilang padaku betapa kau mencintaiku. Malam itu, lewat telepon, perasaanku yang sudah mengembang karena melihatmu di televisi, meledak karena kau lantas meneleponku dan mengatakannya dengan pelan. Aku di kamar waktu itu, sendiri dan memeluk bantal. Ehehe, ya, agak menyedihkan karena hanya memeluk bantal; aku ingin memelukmu tapi bagaimana lagi, kau ada di seberang telepon.

“Kembali ke malam itu, kau mengatakannya lagi. Bahwa kau mencintaiku. Mungkin kau tidak tahu, tapi itu ucapan cintamu yang ke tiga ribu dua ratus tujuh kali. Percayalah padaku, aku menghitungnya. Karena meski aku tidak menunjukkannya padamu, aku sangat, sangat peduli pada apapun yang kau lakukan. Aku bahkan menghitung berapa kali sudah aku memungut bulu mata yang jatuh di pipimu. Aku mengikuti setiap gerakanmu dengan seksama. Dari cara tanganmu melambai saat bercerita, hingga cara sudut matamu berkedut ketika kau ingin membantah sesuatu. Semua darimu kuamati dalam diam, kurasakan setiap momennya, dan tanpa kusadari aku sudah tahu arti semua tingkahmu. Aku tahu arti kerutan wajahmu. Aku paham maksudmu saat kau menelan ludah. Kau, sudah jadi bagian dari napas yang kutarik setiap saat.

“Jangan remehkan hubungan selama tiga tahun, mengerti? Karena itu sama sekali tidak remeh.

“Sama sekali tidak remeh ketika aku menutup telepon malam itu tanpa bisa menutup bibir. Senyumku terus terkembang, gigiku kering karena tertawa terus. Aku tahu apa yang ingin kau katakan tapi tak terkatakan. Kau sudah pernah mengatakannya dua kali sebelumnya dan bilang bahwa kali ketiga kau mengatakannya, kau hanya ingin mendengarku menjawab ‘iya’.

“Tahukah kau, Sayang? Aku tak bisa menjawab ‘iya’ saat itu. Karena kau tidak bertanya. Tidak, aku tidak menyalahkanmu. Aku tahu bahwa kau ingin menggenggam tanganku saat menanyakannya lagi. Aku tahu bahwa esoknya, pagi-pagi sekali, kau akan ada di depan rumahku, bukan dengan segudang janji ataupun selusin bunga, tapi dengan seluruh harapan yang kau punya bahwa aku akan menjawab iya akan pertanyaanmu: apakah aku mau menikah denganmu?

“Ini kenyataannya, Sayang: aku tak sabar menunggu esok. Aku tahu kau mengumpulkan semua keberanianmu untuk mengajakku menikah denganmu. Karena kau mau istrimu nantinya menjadi anak orang tuamu, karena kau mau pendampingmu adalah kakak adikmu, karena kau mau menjadikanku keluargaku yang sesungguhnya, dan bertahun-tahun kau bersabar menungguku siap menjalani semua itu. Bukan sekedar membawaku masuk ke rumahmu sebagai menantu dan kakak ipar, tapi sebagai bagian yang sebenarnya dari keluargamu. Aku, aku tak sabar menunggu sampai aku berdiri di hadapanmu, mengiyakan permintaanmu dan menunjukkan padamu betapa aku mencintaimu karena sudah mau menungguku.

“Aku…

“Jadi…

“Jadi… Jadi kau paham kan bagaimana marahnya aku padamu karena pagi itu kau tidak muncul di hadapanku?

“Kau pasti tahu bagaimana perasaanku karena kau sudah sangat mengenalku. Kuharap kau tidak marah berlarut-larut padaku karena pergi tak ingin melihatmu lagi setelah kau tidak muncul langsung di hadapanku hari itu. Karena kau seharusnya sudah sangat mengenalku dan bisa menebak apa yang akan kulakukan kalau sampai semarah itu padamu.

“Aku tahu aku keterlaluan karena tidak mau tahu tentangmu selama enam tahun kemudian. Aku tahu aku bukan manusia yang baik karena mengabaikanmu selama enam tahun. Aku tahu kau kecewa padaku selama enam tahun ini. Maafkan aku. Maafkan aku, sungguh.

“Tapi tolong katakan padaku bagaimana aku bisa peduli padamu saat kau menghancurkan hatiku karena muncul di berita pagi? Beritahu padaku bagaimana aku harus merasa setelah berharap demikian tinggi akan menerima lamaranmu di pagi hari tapi yang terjadi justru mendengar berita kematianmu?

Dua mobil yang ditumpangi Super Junior mengalami kecelakaan di jalan layang dan meledak, seluruh penumpang dan supir yang mengendarai kedua mobil tersebut tewas seketika dan tak ada korban selamat.

“Katakan padaku, Sayang, bagaimana aku harus menerima kepergianmu yang seperti itu? Kau baru mengatakan kau mencintaiku sebelum aku berangkat tidur, dan keesokan paginya kau meninggalkanku begitu saja. Aku harus bagaimana?

“Lalu menghadapi mereka yang meraung-raung menangisi kepergianmu dan semua teman-temanmu, aku merasa begitu kecil. Mereka mencintai kalian dengan amat sangat, sementara aku hanya mencintaimu, sebesar sisa hidupku. Apa yang harus kulakukan? Aku ingin berduka, tapi bagaimana? Tak ada yang tahu kita bersama, bahkan aku belum sempat menyapa orang tua dan adikmu. Hari itu harusnya menjadi hari dimana aku bertemu mereka, dan kau memutuskan semua kesempatanku untuk melakukannya.

“Seseorang yang sangat kucintai selalu berkata, biarkan yang lalu berlalu, sebab saat yang lama berlalu yang baru akan datang mewarnai hidup.

“Sayangku, malam ini kukatakan padamu. Maafkan aku. Karena tidak mempercayai kata-katamu dan baru bisa melepaskan semuanya malam ini.

“Sampai aku bertemu Micky, aku tidak tahu bahwa aku masih hidup sambil menyalahkanmu. Tidak ada yang tahu aku kehilanganmu, tak ada yang sadar bahwa kau telah direnggut dariku, dan itu membuatku sangat marah. Di saat semua orang merasa berhak menangisimu, aku seperti dikucilkan karena tak punya alasan untuk melakukannya. Siapakah aku? Siapakah dirimu? Itu membuatku terus memendam kekesalan yang menyakitkan.

“Dan pada akhirnya aku bekerja pada Micky. Awalnya aku pikir aku sudah sangat putus asa karena mau bekerja untuk seorang cenayang, ah maaf, medium. Aku pasti sudah bukan aku yang dulu lagi karena lebih memilih bekerja bersama Micky daripada pergi wawancara di kantor yang mentereng. Aku ingin membenamkan diriku sendiri dalam gelap dan bayang, menolak melanjutkan hidup dengan berpikiran positif.

“Lalu Micky bercerita tentang kalian. Kalian yang mendatanginya di rumah, kalian yang entah bagaimana berhasil menemukan Micky dan minta diantarkan ke keluarga kalian masing-masing. Kalian, yang pada akhirnya berhasil membuat keluarga kalian mengadakan acara semacam ini untuk reuni. Kalian yang dengan kemampuan Micky, bisa muncul lagi di hadapan keluarga kalian meski hanya untuk satu malam. Micky menceritakan itu semua padaku.

“Dan aku ketakutan. Aku tak mau melihatmu lagi, Sayang. Aku tahu bahwa saat aku melihatmu lagi, aku yang sudah kembali direkat-rekatkan akan pecah lagi berkeping-keping. Dan untukku, itu tidak membawa apapun kecuali rasa sakit. Aku tidak mau merasa seperti itu lagi.

“Itulah sebabnya aku selalu menolak membantu Micky secara langsung dalam acara reuni kalian. Itulah mengapa aku tega membiarkannya bekerja sendirian mengurusi reuni kalian selama bertahun-tahun ini. Aku seegois itu. Itu benar.

“Dan kemarin malam, ibumu datang ke kantor. Melihatnya, aku melihatmu. Dan aku bertanya-tanya, apa yang sudah kulakukan? Mengapa aku terus membohongi diriku sendiri? Ada yang harus kukatakan padamu, ada yang harus kau ketahui dariku. Enam tahun sejak kau pergi, aku tak pernah menemuimu, tak sekalipun memanggil namamu, dan aku hanya bersembunyi dari luka yang sebenarnya sudah ada. Aku begitu bodoh.

“Sayangku, Kim Jongwoon Sayangku, untuk pertama kalinya sejak kau pergi, aku mau kau tahu bahwa aku pun bisa menangis untukmu. Aku, aku sangat mencintaimu sampai menolak kenyataan bahwa kau meninggalkanku begitu saja. Aku, demikian kehilanganmu sampai tidak mau mengakui bahwa aku sudah tersesat entah kemana. Kalau aku menangis, aku merasa aku kalah. Kalah darimu yang semena-mena pergi sendiri. Dan kali ini aku ingin kau mendengar bahwa aku mengaku salah.

“Begitu salahnya aku tak mau mengakui kau pernah hadir di hidupku. Begitu salahnya aku mengira bisa lolos dari sakit kalau menghapusmu dari memoriku. Begitu salahnya aku karena menganggapmu menghilang.

“Maafkan aku, Sayang. Karena keterlambatanku, karena keegoisanku, karena kepengecutanku.

“Aku mencintaimu, Kim Jongwoon. Senantiasa dan selalu. Tolong mengertilah kalau kubilang aku tak mampu mencintai yang lain lagi.”

Semua orang terdiam begitu wanita itu selesai membacakan suratnya. Micky, yang terkejut mengetahui asistennya ternyata bagian dari ‘keluarga’ salah satu jiwa Super Junior yang ditolongnya malam ini, bangun dan menuntun wanita itu keluar dari sorotan. Baru berapa langkah, Kim Jongwoon, dalam wujudnya yang berpendar kepucatan, melayang di hadapan mereka.

Lelaki itu mengulurkan tangan dan mengelus pipi wanita yang sekarang basah. Air mata seolah tidak bisa berhenti menetes dari matanya. Air mata enam tahun. Dia tampak menelan ludah, kemudian berkata, “Aku merindukanmu.”

Wanita itu memejamkan mata dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh ke lantai.

Semua mata menatap dan basah. Bagaimanapun, mereka tidak pernah menyangka akan masih ada yang begitu kehilangan setelah Super Junior pergi. Wanita ini, tidak pernah diketahui keberadaannya, dan mereka setengah menyalahkan Jongwoon karena itu, meski semua mengakui mengingat sifatnya, Jongwoon adalah orang yang rahasianya akan tetap terjaga sampai akhir.

Jongwoon, tidak tahu sampai kapan dia masih bisa berada di dunia ini, menatap sedih wanita itu. Sejak hari itu dia tidak berhenti berharap akan melihatnya. Tapi wanita ini tidak pernah sekalipun muncul. Dia khawatir, marah dan sedih karena merasa diabaikan; dan semuanya luruh malam ini, ketika melihat satu sosok yang sangat dikenalnya berdiri, tidak berubah bahkan setelah bertahun-tahun, menyampaikan surat yang tak pernah dipikirnya akan pernah dia terima.

“Hei, Sayang,” panggilnya pada wanita itu.

Wanita itu menatapnya.

“Mari kukenalkan kau pada keluargaku,” ujarnya sambil tersenyum.

 

-fin-

2 Comments (+add yours?)

  1. minah
    Oct 21, 2016 @ 21:08:47

    jadi si cewenya ini cenayang juga? bisa liat arwah? ‘-‘a

    Reply

  2. ayumeilina
    Oct 22, 2016 @ 19:38:35

    Amazeee baca FF ini. Terharu bgt. Isi suratnya dalem bgt. Kata2nya juga pas. Kaya lagi baca cerita nyata

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: