It’s Not A Love Story

12965804_1202307033126871_29333009_n

Tittle : It’s Not A Love Story

By: Rista Emi Rah

Rating : PG-13

Genre : Vampire, Relationship, Fantasy

***

Salju turun menghiasi malam ini. Suatu malam dingin yang akan menjadi dini hari. Hampir seluruh orang sudah berkelana di dunia mimpinya masing-masing. Namun, tidak dengan Hangeng. Lelaki berumur 20-an itu berjalan di trotoar jalanan kota Seoul, ia masih dalam perjalanannya menuju apartment-nya. Hangeng merapatkan jaket yang ia pakai, karena udara dingin itu makin menusuk kulitnya.

“Hiks…Hiks…Hiks…”. Sayup-sayup Hangeng mendengar sebuah isak tangis yang membuat langkahnya terhenti. Sontak Hangeng pun mengedarkan pandangannya, mencari sumber suara itu. Dan, mata sipitnya berhenti saat ia melihat sebuah gang. Kedua kakinya pun melangkah menuju gang itu.

Seperti dugaannya, di sudut gang, ia menemukan seseorang sedang duduk memeluk kedua lututnya. Tanpa merasa takut, Hangeng mendekati anak perempuan itu yang kedua pundaknya bergetar hebat.

“Nona, anda baik-baik saja?” tanya Hangeng yang sudah duduk tepat di depan anak itu. Pundak anak itu menurunkan frekuensi getarannya. Namun, sebagai gantinya, tubuh anak itu menegang. Hangeng pun hanya dapat menghela napasnya, ia sadar bahwa anak itu pasti berpikir bahwa dia adalah orang jahat.

“Aku…tidak…apa…apa,” anak perempuan itu mengangkat kepalanya, membuat rambut pendek tak menyentuh pundaknnya itu tidak mampu menutupi lehernya. Hangeng menyipitkan kedua matanya saat melihat sesuatu yang aneh namun tidak asing di leher anak itu.

“Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini? Ini sudah hampir dini hari.” Hangeng berusaha mengorek informasi dari anak perempuan itu.

“Aku…hanya ingin…berada…di sini,” terdengar dari suara anak itu bahwa ia sangat kedinginan. Hangeng pun melepaskan jaketnya, ia sampirkan benda itu di kedua pundak anak perempuan yang tidak ia ketahui namanya itu.

“Siapa namamu? Aku Hangeng. Kau lebih muda dariku, bukan? Kau bisa memanggilku Hangeng gege.” Hangeng mengambil posisi untuk duduk di samping anak perempuan itu. Anak perempuan itu menatap kedua mata sipit Hangeng lekat-lekat. Dia masih tidak mengerti kenapa orang asing seperti Hangeng itu begitu ramah dengannya.

“Namaku Cho Rihyun, gege.” Anak perempuan bermarga ‘Cho’ itu mengalihkan pandangannya dari Hangeng. Ia menatap lurus ke depan, sementara Hangeng tetap menatapnya.

“Apa kau sedang mempunyai masalah?” tanya Hangeng yang membuat Rihyun langsung menengok ke arah Hangeng yang justru menunjukan senyuman lembut nan damainya itu. “Kau bisa berbagi denganku. Tenang saja, aku bukan orang jahat.” Untuk kedua kalinya, Rihyun menatap kedua mata Hangeng lekat-lekat, mencari sebuah kebohongan dalam tatapan mata itu. Namun, Rihyun tidak menemukannya. Tidak ada kebohongan sama sekali dalam tatapan mata Hangeng, atau terlalu tertutup rapat?

“Hah.” Rihyun menghela napasnya berat. Ia kembali mengalihkan pandangannya dari Hangeng. Ia menundukan kepalanya kembali, namun tidak terlalu dalam. Anak perempuan itu memutuskan untuk mempercayai Hangeng. “Besok adalah hari ulang tahunku. Aku takut.”

“Takut? Kenapa harus takut? Bukankah itu bagus? Besok adalah hari jadimu, seharusnya kau senang, bukan takut” ujar Hangeng yang membuat Rihyun tersenyum sipul namun sinis.

Rihyun menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak setuju dengan pendapat yang diutarakan oleh Hangeng. Menurutnya, jika kata ‘ulang tahun’ itu ditunjukan kepadanya, itu salah besar. Namun, menurutnya, itu benar, jika kata ‘ulang tahun’ itu tidak ditunjukan kepadanya. “Aku yakin bahwa tidak akan ada orang yang ingat dengan ulang tahunku. Akhir-akhir ini, aku tertimpa banyak masalah besar. Aku pun sudah tidak mempunyai orang tua.”

“Bagaimana dengan keluargamu yang lainnya? Saudaramu?” tanya Hangeng yang tanpa Rihyun sadari bahwa lelaki yang sedang berbincang dengannya itu tidak merasa asing dengan masalah yang ia hadapai itu. “Lalu, bagaimana dengan teman-temanmu?”.

Rihyun kembali menggelengkan kepalanya pelan, sesuai dengan apa yang Hangeng pikirkan beberapa detik lalu. “Aku memiliki seorang oppa. Namun, dia tidak akan pernah mengingat hari ulang tahunku. Tahun lalu pun dia tidak mengucapkan selamat kepadaku. Padahal, aku terus menunggunya sampai sekarang.” Rihyun berhenti sejenak. Ia menghela napasnya berat, berharap bahwa tekanan yang ia alami juga keluar bersama udara yang ia hembuskan tadi. Kemudian, ia menarik napas lembut, lalu melanjutkan jawabannya atas pertanyaan-pertanyaan Hangeng tadi. “Jujur saja, aku tidak mempunyai teman. Meski, aku mempunyainya pun itu akan sia-sia. Aku berani taruhan bahwa mereka hanya akan memanfaatkanku untuk kepentingan mereka tanpa mempedulikan perasaanku. Bodohnya lagi, aku mau melakukannya.”

Hangeng terdiam mendengar penjelasan Rihyun barusan yang menurutnya belum selesai itu. Sementara itu, Rihyun justru terkekeh sendiri mendengar penjelasannya itu. Rihyun mengangkat kepalanya. Ia menatap nanar lautan hitam di atas sana. “Bahkan, aku ragu mereka semua mengetahui kapan aku ulang tahun. Menyedihkan sekali?”.

“Kalau begitu beritahu aku alamat rumahmu” ujar Hangeng yang membuat Rihyun kembali terkejut. Perempuan itu menoleh ke arah Hangeng yang masih setia menatapnya dengan senyum yang sedikit pun tidak memudar. “Kalau tidak ada yang memberikan selamat kepadamu, maka aku yang akan memberikannya. Beritahu aku alamat rumahmu, maka aku akan mendatangi rumahmu dan memberikanmu selamat.” Rihyun benar-benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh lelaki yang baru beberapa menit ia kenal ini. Sifat Hangeng yang menurut Rihyun terbilang baik itu membuatnya merasa aneh. Namun, sebuah perasaan lain yang hangat menyusup di sisi hatinya yang dingin. Menghangatkannya, mencairkannya, meluluhkannya ke dalam pesona Hangeng yang menawan.

Kedua bola mata cokelat Rihyun membesar maksimal secara tiba-tiba, bersamaan tubuhnya yang menegang. Namun, itu hanya berlaku selama satu detik. Setelah itu, kedua bola mata itu terlihat kosong dan tubuhnya menjadi lemas. Seorang lelaki tampan tersenyum melihat reaksi Rihyun itu.

SSS

Ting.Tong. Ting.Tong. Bel apartment yang ditempati oleh Rihyun berbunyi membuat Rihyun menggeliat tidak nyaman di atas kasurnya. Ia masih merasa damai dan nyaman di dalam dunia mimpinya hingga tidak mempedulikan orang yang terus-menerus menekan bel apartment-nya.

Ting.Tong. Ting.Tong. Ting.Tong. Namun, respon tidak peduli Rihyun itu tidak membuat bel apartment-nya berhenti berbunyi. Dan, itu berhasil membuat Rihyun bangun dan menyibakan selimutnya kasar. Ia menginjakan kedua kakinya di atas lantai kamarnya dengan perasaan kesal, karena waktu tidurnya harus diganggu oleh seorang tamu yang ia yakini bukanlah kakaknya itu. Ia pun melangkah menuju pintu apartment-nya.

Klek.”Good morning, Rihyun-ah.” Kedua mata Rihyun langsung terbuka lebar saat mendengar dan mendapati seorang lelaki tampan berdiri tepat di depannya itu. Mulutnya terbuka sedikit, tidak percaya dengan kenyataan yang ia hadapi ini. Hangeng benar-benar datang ke apartment-nya di hari ulang tahunnya, sesuai dengan janji Hangeng. Padahal, mereka baru bertemu kemarin. Rihyun benar-benar tidak menyangka bahwa janji Hangeng kemarin bukanlah sebuah kebohongan.

Aigoo, ada apa denganmu, Rihyun-ah.” Hangeng mencubit lembut kedua pipi Rihyun yang membuat Rihyun meringis kesakitan.

“Yack, appo!”. Rihyun melepaskan kedua tangan Hangeng yang membuatnya merasa sakit di kedua pipinya dan Hangeng hanya dapat cengengesan melihat kedua pipi Rihyun memerah, karenanya.

Saengil chukkae hamnida” ucap Hangeng lembut yang membuat Rihyun berhenti mengelus-elus kedua pipinya yang terasa perih itu. Semua aktifitas Rihyun berhenti seketika saat Hangeng memberikannya selamat atas bertambah umurnya itu. Semuanya, kecuali bernafas, hanya dadanya yang naik-turun, memberitahukan bahwa dia masih bernapas.

Happy birthday, wish you all the best,” kembali Rihyun mendengar Hangeng bersuara dengan lembut. Susah payah Rihyun menelan ludahnya. Dia merasakan sesak di dadanya yang membuat salah satu tangannya terangkat untuk memegangnya. Rihyun memejamkan kedua matanya lembut.

Selama tiga menit, suasana antara Rihyun dan Hangeng hanya diselimuti oleh keheningan. Tidak ada yang memiliki niatan untuk memulai percakapan. Dan, itulah waktu yang dibutuhkan oleh Rihyun untuk membuat dirinya tenang. Rihyun membuka kedua matanya, kemudian mengangkat kepalanya, menatap sosok lelaki yang masih menatapnya teduh itu. Ia tersenyum sipul kepada Hangeng. Namun, senyuman itu terlihat pilu di kedua mata Hangeng.

Gamsahamnida, gege” ucap Rihyun pelan yang dapat terdengar bahwa perempuan itu berusaha menahan tangisnya. “Gege adalah orang pertama yang mengucapkannya. Dan, mungkin menjadi orang terakhir yang mengucapkannya.” Hangeng hanya tersenyum mendengar ucapan Rihyun barusan. Ia tau bahwa Rihyun termasuk orang yang akan menjadi sangat sensitive, jika mendengar kata ulang tahun.

“Dimana oppa-mu?” tanya Hangeng.

“Sejak aku pulang, aku tidak menemukan oppa di apartment” jawab Rihyun yang membuat Hangeng tersenyum manis. Kemudian, tanpa meminta izin, Hangeng berjalan melewati Rihyun, memasuki apartment itu yang membuat Rihyun berteriak tidak jelas. Lalu, ia memutuskan untuk mengikuti lelaki itu.

“Kau belum sarapan, bukan?” tanya Hangeng saat mereka berdua sudah berada di dapur. Dia membalikan badannya, menghadap perempuan yang hari ini ulang tahun tersebut. Rihyun mengeryitkan keningnya tidak mengerti. Namun, dia tetap menjawab dengan sebuah gelengan kepalanya.

“Baiklah, aku akan membuatkanmu sarapan” ujar Hangeng yang membuat Rihyun mengangguk tanpa sadar. Namun, kemudian, ia langsung menggelengkan kepalanya cepat. Ia sadar dari lamunannya dan itu membuat Hangeng terkekeh geli. “Aku tidak menerima penolakan, lebih baik kau mandi dulu sana.” Rihyun memajukan bibirnya saat Hangeng dengan seenaknya memerintahnya. Namun, ia tidak memberikan bantahan sama sekali, justru ia melakukan apa yang Hangeng perintahkan.

Tanpa Rihyun ketahui, Hangeng tidak langsung membuatkannya sarapan. Kini Hangeng berjalan mengelilingi apartment Rihyun itu. Tidak ada satu benda atau satu sisi pun yang tidak tertangkap oleh kedua mata sipit Hangeng itu. Ia memperhatikan semuanya dengan teliti tanpa terlewati satu pun. Langkah Hangeng terhenti saat ia berada tepat di depan sebuah meja yang memajang berbagai bingkai foto yang menyimpan foto-foto Rihyun bersama kakaknya. Hangeng mengulurkan salah satu tangannya, meraih sebuah bingkai foto di mana tersimpan foto kakak Rihyun sendirian itu. Kedua mata sipit Hangeng itu menatap dengan teliti sosok lelaki dalam foto itu, menghapal senyumannya, tatapannya bahkan lekuk wajahnya. Sebuah senyuman sinis terbentuk di bibir Hangeng saat lelaki itu sudah hapal dengan pasti segalanya dari lelaki di dalam foto itu.

SSS

Hangeng mengeryitkan keningnya membaca apa yang tertulis di pintu masuk restoran miliknya itu. ‘Close’. Hangeng melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Hangeng kembali mendecak kesal seraya melipat kedua tangannya di dadanya. Hari sudah siang, seharusnya restorannya ini sudah penuh dengan pelanggan. Namun, restorannya itu masih tutup lebih lama 3 jam dari waktu yang sudah ditentukan. Tidak mau berlama-lama di depan pintu yang tidak akan dibuka itu, Hangeng pun melangkah menuju pintu belakang restoran yang biasanya dipakai untuk para pekerjanya.

Restoran yang tidak pernah sepi itu memang milik Hangeng. Sebuah restoran dengan bangunan bernuansa Eropa kuno itu biasanya buka dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam. Meski, bangunannya bernuansa Eropa kuno, tetapi makanan yang disajikan oleh restoran itu adalah makanan khas Jepang. Restoran yang memiliki nama Twelve Months Restorant itu memang termasuk restoran terkenal di ibukota Korea Selatan, Seoul. Ada berbagai alasan yang menjadikan Twelve Months Restorant termasuk restoran yang terkenal. Makanan dan minuman yang disajikan memang terbilang lezat, pelayanan yang diberikan pun juga sangat nyaman. Namun, terlepas dari semua itu, ada satu alasan lain, yaitu karena para pekerja di Twelve Months Restorant terkenal dengan rupa yang tampan dan hangat. Jadi, tidak heran jika mayoritas para pelanggan adalah dari kalangan perempuan.

“Sungmin,” Hangeng memanggil seorang lelaki yang berjalan di depannya. Lelaki bernama Sungmin itu menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya, agar berhadapan dengan Hangeng. Ekspresi wajah Sungmin yang tadi khawatir berubah menjadi cerah seketika. Hangeng mengeryitkan keningnya melihat perubah ekspresi Sungmin itu.

Hyung.” Sungmin berteriak memangil Hangeng yang memang lebih tua darinya itu seraya berjalan cepat dan memeluk tubuh Hangeng.

“Hey, ada apa?” tanya Hangeng yang memang tidak mengerti dengan sikap Sungmin yang aneh itu. Hangeng melepaskan pelukan Sungmin yang membuat Sungmin memajukan bibirnya, membuat wajahnya itu semakin imut. Namun, Hangeng tidak peduli dengan ekspresi imut Sungmin itu. Ia menatap Sungmin dengan tatapan menagih penjelasan atas keanehan yang ia dapatkan di restorannya itu.

“Kau kemana saja? Kami dari tadi mencari-carimu, Hangeng.” Bukan suara Sungmin yang Hangeng dengar, melainkan suara lain yang membuat Hangeng atau pun Sungmin menengok ke sumber suara. “Berkali-kali kami mengirimimu message, tapi tidak dibalas. Kami telepon, kau tidak angkat. Kemana saja kau, Hangeng?”.

Hangeng tersenyum ke arah lelaki yang bertanya kepadanya itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Leeteuk. Hangeng menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Aku hanya jalan-jalan, hyung. Mianhae, aku mematikan iPhone-ku.”

“Jangan melakukannya lagi, hyung. Aku merasa sesak dengan aura yang menyelimuti restoranmu ini.” Hangeng langsung merasakan sesak di dadanya saat Sungmin menyadarkannya itu. Sebuah aura mencekam yang membuat seluruh makhluk hidup merasa tidak nyaman itu tengah menyelimuti restorannya.

“Kau baru merasakannya?” tebak Leeteuk yang mengerti dengan perubahan deru napas Hangeng yang tiba-tiba itu. Sesak yang menyerang Hangeng itu membuat Hangeng sulit membuka mulutnya, hingga ia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang Leeteuk lontarkan.

“Lebih baik kita segera ke tempat semuanya berada.” Setelah mengucapkannya, Leeteuk pun berjalan menuju sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat mereka bertiga berada. Hangeng dan Sungmin pun mengikuti Leeteuk dari belakang dengan sesak yang menyerang mereka berdua.

SSS

Sret.

“Heechul hilangkan sayapmu itu?”. Sosok yang dipanggil Heechul itu menengok ke arah sumber suara yang berada tepat di belakangnya. Kedua mata Heechul menemukan tiga sosok yang tidak asing untuknya. Leeteuk, Sungmin, Hangeng. Ketiga pria itu berjalan memasuki ruangan kecil yang berada di sudut restoran ini yang dijadikan sebagai sebuah kamar peristirahatan para pekerjanya.

“Kau membuat aura di sini semakin buruk.” Heechul mendengus kesal mendengar penjelasan yang diberikan oleh Hangeng. Dia merasa tidak ada yang mendukungnya, setelah tadi Leeteuk menyuruhnya untuk menghilangkan sayap hitamnya itu.

Memang Twelve Months Restorant adalah sebuah restoran yang memiliki sebuah misteri besar di balik kesuksesannya. Hangeng yang menjadi pemilik restoran itu memang sengaja menyimpan misteri itu rapat-rapat, bahkan mungkin dapat dibilang bahwa Hangeng adalah orang yang sengaja membuat misteri besar itu. Sebuah misteri yang tidak mudah untuk dipercaya oleh manusia biasa dan dapat dipercaya bahwa mereka-para manusia-akan berpikir bahwa semua yang bekerja di restorant itu adalah makhluk jahat. Namun, itu tidak benar. Sedikitnya restoran itu memiliki satu evil, satu angel, satu hunter, dua werewolfs, empat wicthes, tiga fairies dan satu vampire. Mungkin wujud mereka sangat mengerikan dan menampilkan suatu aura jahat, namun mereka sangat baik. Hangeng sebagai pemilik restoran itu memang sengaja mengumpulkan semua makhluk berbeda jenis itu dalam satu tempat dengan satu tujuan yang tidak diketahui oleh siapa pun, kecuali dirinya.

Kini ketiga belas makhluk itu sedang berdiri di sekitar tempat tidur di dalam kamar dengan pencahayaan yang remang-remang itu. Semua pasang mata itu hanya menuju ke satu objek, yaitu lelaki yang tengah terbaring tidak sadarkan diri di tempat tidur itu. Namun, sebuah pengecualian untuk satu-satunya vampire di sana. Sesekali, ia melirik ke arah Hangeng yang terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Lelaki itu tau bahwa tubuh Hangeng sudah bermandikan keringat, karena aura yang dipancarkan oleh lelaki yang tidak sadarkan diri itu.

“Eunggh.” Sebuah suara kecil terdengar di dalam ruangan itu yang membuat semua kepala menoleh ke sumber suara. Lelaki tak sadarkan diri itu siuman, dia membuka kedua matanya, bangkit dari tempatnya, mengambil posisi duduk yang menurutnya nyaman.

“Kau sudah sadar?” tanya Leeteuk yang mengambil langkah mendekati lelaki yang terlihat lebih muda dari mereka bertiga belas. Namun, belum sampai ia berada di dekat lelaki itu, langkahnya sudah berhenti seketika saat aura sesak menghinggap di tubuhnya.

Lelaki itu hanya menutup mulutnya rapat dan memberikan sebuah anggukan kepala untuk menjawab pertanyaan Leeteuk.

“Siapa namamu?”, kali ini Heechul adalah orang yang memberikan pertanyaan kepada lelaki itu.

“Kenapa kau bisa berada di restoranku? Dimana kau tinggal? Apa kau mempunyai keluarga?”. Belum sempat lelaki itu menjawab, Hangeng sudah melontarkan pertanyaan lain untuknya. Itu membuat semua pasang mata melirik ke arahnya heran, karena sikap tidak biasa yang ditunjukan oleh Hangeng.

“Namaku Cho Kyuhyun, kalian bisa memanggilku Kyuhyun. Maaf, aku tidak ingat apa-apa soal kenapa aku berada di sini. Aku tidak mempunyai keluarga, aku tinggal sendiri di apartment-ku.” Lelaki bernama Kyuhyun itu menundukan kepalanya. Tangan kanannya terangkat memegang kerongkongannya yang terasa kering itu membuat suaranya terdengar aneh saat menjawab semua pertanyaan yang ditunjukan kepadanya.

“Kibum, kenapa kau membawa itu kemari?” tanya Leeteuk saat melihat sosok lelaki bernama Kibum masuk ke dalam ruangan dengan membawa segelas penuh sebuah cairan berwarna merah pekat yang berbau anyir itu.

Kibum tidak menjawab pertanyaan Leeteuk, ia justru berjalan mendekati Kyuhyun, menyuruh lelaki yang lebih muda darinya itu untuk meminum cairan yang ia bawa. Tanpa diduga oleh siapa pun, kecuali Kibum, Kyuhyun mengambil paksa gelas itu. Lalu, menghabiskan cairan kental berwana merah itu dengan rakus.

“Dia seorang vampire, hyungdeul.” Semua pasang mata sontak membesar saat mendengar apa yang Kibum katakan. Kibum menatap semua orang yang berada di sana satu per satu, hingga berhenti saat kedua matanya bertemu dengan Hangeng. “Sepertinya dia kelaparan hingga tanpa sadar ia ke sini, karena mencium bau minumanku yang lupa aku tutup tempat penyimpanannya.”

“Kau benar-benar seorang vampire?” tanya Heechul saat Kyuhyun selesai dengan kegiatannya. Sebuah senyuman terbentuk di bibir Kyuhyun, ia hanya dapat mengangguk menjawab pertanyaan Heechul. “Pantas auramu itu tidak terasa oleh Kibum. Kalian memiliki aura yang sama.”

Terbaca jelas bahwa Kyuhyun terkejut mendengar penjelasan terakhir Heechul. Ia menengok ke arah orang yang ia yakini adalah Kibum itu yang masih duduk di dekatnya. Kibum membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman sipul.

“Aku memang seorang vampire, Kyuhyun. Kami semua yang berada di sini bukan seorang manusia biasa. Kami ‘istimewa’.” Kyuhyun hanya dapat mengangguk pelan mendengar penjelasan Kibum itu.

Kibum pun mengenalkan kepada Kyuhyun semua yang berada di dalam ruangan tersebut. Ia memberitahukan kepada Kyuhyun nama dan makhluk apa orang yang sedang mereka berdua bicarakan. Sementara dua belas orang yang lainnya, mereka hanya dapat melihat dua orang yang paling muda di antara mereka itu sudah mulai akrab. Mereka pun sesekali mengangguk dan tersenyum saat nama mereka disebut oleh Kibum atau pun Kyuhyun.

Suasana di ruangan itu pun berangsur menghangat, membuat mereka-Leeteuk yang adalah angel serta Sungmin, Ryeowook dan Donghae yang adalah fairy-tidak merasa sesak lagi. Namun, sebuah pengecualian untuk satu-satunya hunter di sana yang bernama Hangeng. Lelaki itu masih bermandikan keringat, ia masih merasakan suasana yang dingin dan aura yang mencekam. Dadanya pun masih terasa sesak. Tangannya terkepal kuat hingga urat nadinya terlihat di permukaan kulitnya. Semua itu berlaku hingga Hangeng buka suara.

“Aku tidak mau restoranku bangkrut, karena kalian bersantai-santai seperti ini. Cepat bekerja.” Semuanya langsung terdiam saat Hangeng bersuara. Dan, dengan cepat semuanya pun bangkit dari tempatnya menuju tempatnya masing-masing. Namun, sebuah pengeculian untuk Kyuhyun.

Kyuhyun merasakan sesuatu yang aneh pada Hangeng. Ia merasakan bahwa Hangeng tidak menyukai dirinya. Ia sedih akan hal itu. Namun, ia juga merasakan bahwa ada satu sisi di dalam dirinya yang tidak menyukai Hangeng. Seperti menyuruhnya untuk menjauhi sosok hunter itu. Sepertinya sosok hunter itu sangat berbahaya untuknya. Seperti sebuah kata ‘takdir’ yang menakdirkan mereka untuk tidak saling bertemu dan berhubungan baik, seperti takdir di sebuah cerita berjudul ‘Romeo And Juliet’.

SSS

Ommo!!! Gege!!!”. Rihyun berteriak histeris melihat apa yang dihadiahkan oleh Hangeng.

Kini Rihyun sedang bersama Hangeng, duduk bersama di sebuah café yang letaknya cukup dekat dengan Twelve Months Restorant. Hangeng menutup kedua kupingnya saat Rihyun berteriak histeris. Dia berucap syukur, karena memilih meja yang jauh dari keramaian café ini. Jika tidak, ia akan mengutuk perempuan cantik di depannya ini, karena telah membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian café ini.

Hangeng menyadari bahwa anak perempuan di hadapannya itu sedang menatapnya dengan kedua matanya yang berbinar. Hangeng tersenyum sipul mengetahui alasan Rihyun menatapnya seperti itu. Dan, senyuman sipul itu membuat detak jantung Rihyun berdetak lebih cepat. Bukannya Hangeng tidak tau tentang perubahan detak jantung Rihyun itu, lelaki ini hanya menyembunyikan kenyataan bahwa ia mengetahuinya.

“Ini benar-benar untukku, gege?” tanya Rihyun yang tidak percaya dengan isi dari kotak hadiah yang diberikan oleh Hangeng beberapa menit lalu kepadanya.

Hangeng menganggukan kepalanya pelan seraya berkata, “iya, itu untukmu. Maaf, aku telat memberikannya, seharusnya kemarin aku memberikannya kepadamu. Kemarin, aku terlalu sibuk, jadi aku baru sempat membelinya tadi malam dan memberikannya sekarang. Maaf.”

Rihyun tersenyum manis mendengar penjelasan Hangeng itu. Terbaca jelas dari raut wajah Rihyun bahwa anak perempuan itu sangat senang sekaligus terharu dengan sikap Hangeng yang posisinya adalah orang yang baru ia kenal dua hari ini.

Gege tidak perlu meminta maaf. I’m very more happier with your gift, gege” ucap Rihyun tanpaa menghilangkan senyuman manis di bibirnya yang dibalas oleh Hangeng.

“Kalau begitu pakailah.” Hangeng melirik ke dalam kotak hadiah milik Rihyun itu.

Hangeng memberikan anak perempuan itu sebuah kalung berbandul batu sapphire blue yang berbentuk segilima dengan ukiran huruf ‘V’ dan ‘H’ di tengah-tengahnya. Terlihat sangat cantik, mewah dan anggun. Semua pasti akan jatuh hati dengan benda cantik itu, termasuk Rihyun.

“Apa yang mau gege lakukan?” tanya Rihyun dengan sedikit gagap yang tiba-tiba menyerangnya.

Hangeng yang tiba-tiba mengambil kalung itu dan berdiri dari tempatnya membuat Rihyun terkejut. Kini lelaki itu berdiri tepat di belakang Rihyun, ia melepas blue-white scarf yang dipakai Rihyun itu, kemudian memakaikan kalung itu di leher Rihyun. Tanpa Rihyun sadar dan ketahui, Hangeng sedikit melambatkan aktifitasnya. Lelaki itu memperhatikan dengan teliti sesuatu yang aneh berada di leher anak perempuan ini. Sesuatu yang aneh, namun tidak aneh untuk sosok hunter seperti dirinya.

“Bagaimana kabar oppa-mu?” tanya Hangeng seraya kembali ke tempat duduknya.

Rihyun terdiam saat mendengar pertanyaan Hangeng itu. Ia menundukan kepalanya dalam-dalam seraya memainkan jemarinya, membiarkan Hangeng menatapnya yang aneh ini. Rihyun tidak menangis, kedua matanya pun tidak terasa panas. Namun, tidak dapat Rihyun pungkiri bahwa dadanya terasa sangat sesak.

“Apa oppa-mu sudah mengucapkan selamat kepadamu? Atau bahkan dia sudah memberikan hadiah untukmu?”. Kembali Hangeng bertanya, kali ini membuat Rihyun tersenyum sipul. Perlahan, anak perempuan itu mengangkat kepalanya. Ia menatap Hangeng lekat seraya menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri berulang kali dengan pelan.

“Itu adalah keajaiban yang sangat besar dan mustahil terjadi, gege. Aku tidak yakin Kyuhyun oppa akan melakukannya. Tapi, aku memang bodoh. Meski tau bahwa itu tidak mungkin terjadi, aku masih tetap menunggunya.” Rihyun memberikan jawabannya dengan suara yang sedikit bergetar.

“Apa kau percaya denganku?” tanya Hangeng yang membuat Rihyun mengerutkan keningnya. Ia menatap Hangeng bingung. Namun, beberapa detik kemudian, anak perempuan itu terkekeh pelan.

Rihyun menyandarkan punggungnya di tempat duduknya yang empuk itu seraya memberikan jawaban kepada Hangeng. “Aku tau bahwa seharusnya aku tidak mempercayai kau, karena kita belum lama kenal, bahkan satu minggu saja belum. Namun, Hangeng gege berbeda dari yang lainnya. Kau memiliki sesuatu yang berbeda yang dengan mudahnya dapat membuatku percaya denganmu.”

Hangeng tersenyum mendengar penjelasan yang diberikan oleh Rihyun. Kemudian, lelaki ini memberikan pertanyaan kembali kepada Rihyun yang membuat Rihyun menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu tidak boleh ada rahasia di antara kita, bukan? Apa ada yang kau sembunyikan tentang oppa-mu dariku?”.

Rihyun tidak dapat menjawab apa-apa. Bibirnya tertutup rapat, tidak tau harusnya menjawab apa. Dia tidak mungkin menjawab jujur, namun dia juga tidak mau berbohong. Rihyun pun hanya dapat mengalihkan pandangannya dari Hangeng, berusaha agar tatapan mereka tidak bertemu. Namun, tindakan Rihyun itu salah. Karena, itu membuat Hangeng tersenyum penuh kemenangan dan licik. Dengan senyum seperti itu, semua orang pun dapat tau bahwa Hangeng adalah orang jahat. Namun, Rihyun tidak melihatnya.

Come on, follow me to my restorant!” ajak Hangeng yang sudah berdiri dari tempat duduknya. Ajakan Hangeng itu membuat Rihyun menengok ke arah hunter itu. Rihyun melihat Hangeng masih tersenyum lembut membuat sebuah perasaan yang hangat menjalar menyusup di sisi hatinya yang dingin. Menghangatkannya, mencairkannya, meluluhkannya ke dalam pesona hunter yang menawan itu yang berada di hadapannya ini.

Kedua bola mata cokelat Rihyun membesar maksimal secara tiba-tiba, bersamaan tubuhnya yang menegang. Namun, itu hanya berlaku selama satu detik, bahkan kurang. Setelah itu, kedua bola mata itu terlihat kosong dan tubuhnya menjadi lemas. Hangeng tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Rihyun itu. Sebuah reaksi yang menandakan bahwa anak perempuan di hadapannya ini sudah masuk ke dalam perangkapnya.

SSS

Kyuhyun yang baru saja masuk ke dalam dapur langsung melempar asal nampannya ke meja yang berada di dekatnya, membuat Heechul yang berada di dekatnya berteriak kepadanya. Namun, Kyuhyun tidak menanggapi respon Heechul yang menurutnya tidak penting itu. Ia berjalan mendekati Kibum yang sibuk mencuci piring. Lelaki itu duduk di atas meja yang berada di belakang Kibum. Bukannya Kibum tidak tau bahwa Kyuhyun menatapnya, mengajaknya berbicara. Namun, Kibum tidak mau meninggalkan pekerjaannya yang ia anggap lebih penting dari pada pembicaraanya dengan Kyuhyun.

Hyung, aku ingin bicara denganmu.” Bosan menunggu respon dari Kibum atas kedatangannya, Kyuhyun pun bersuara. Namun, Kibum hanya menjawab dengan gumaman aneh.

“Dimana Hangeng hyung?”. Kibum menghentikan pekerjaan sejenak saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kyuhyun. Kibum tidak menyangka bahwa Kyuhyun akan menayakan tentang Hangeng. Padahal, selama ini mereka berdua sama-sama menjaga jarak dengan alasan yang hanya Kibum, Hangeng dan Kyuhyun yang tau.

“Aku tidak melihatnya dari tadi pagi. Kemana dia, hyung? Biasanya, dia menjadi orang yang paling sibuk. Namun, sekarang, dia tidak ada di mana-mana. Aku pun sama sekali tidak merasakan auranya yang menyesakan itu” jelas Kyuhyun.

Kibum menghela napasnya lembut. Ia meletakan piring yang belum sempat ia cuci itu, membilas kedua tangannya, kemudian membalikan badannya. Ia menyandarkan pinggang, berdiri menghadap lelaki yang lebih muda darinya itu. Ia melipat kedua tangannya di dadanya.

“Bukankah itu bagus, kau tidak perlu merasakan sesak itu lagi, bukan?”. Terbaca jelas bahwa Kyuhyun menjadi bingung mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Kibum.

“Maksud, hyung?”.

“Argh.”

Kibum tersenyum sipul melihat perubah Kyuhyun yang tiba-tiba. Ia belum sempat menjawab pertanyaan Kyuhyun. Bukan karena ia tidak ingin menjawab. Namun, karena, lelaki ini langsung meringis kesakitan seraya memegang dadanya.

“Hangeng hyung sudah kembali. Jadi, segera kembali ke tempatmu, Kyuhyun.” Setelah mengucapkannya, Kibum langsung melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti tadi. Sementara Kyuhyun, ia masih tetap di tempatnya. Ia berusaha mengatur napasnya dan menghilang sedikit rasa sesak di dadanya itu.

“Kyuhyun, jangan mengganggu Kibum! Cepat antarkan pesanan ini ke meja lima belas.” Teriakan Heechul yang keras itu membuat Kyuhyun melompat dari tempat duduknya dan dengan segera berlari menuju Heechul. Ia tidak mau membangunkan diri evil dalam diri Cinderella itu.

Brak.

“Yack, apa yang kau lakukan, Kyuhyun?”.

Baru beberapa menit Kyuhyun keluar dari dapur, ia langsung masuk kembali ke dalam dapur. Ia membanting pintu dapur dan itu membuat Heechul kembali berteriak karenanya. Kibum meliriknya lewat sudut matanya, ia tersenyum miris melihat sikap Kyuhyun itu. Ia tahu dengan jelas apa yang membuat Kyuhyun seperti itu. Sementara itu, Kyuhyun sendiri tidak mengetahui kenapa dia seperti ini. Ada sesuatu dalam dirinya yang menyuruh tubuhnya untuk melakukan hal yang tidak masuk di akal ini. Dia bersikap seperti ini hanya karena melihat adiknya sedang bersama Hangeng di meja lima belas, pelanggan yang memesan pesanan yang seharusnya ia antarkan.

SSS

“Kau akan bermalam di sini?”. Kyuhyun mendongakan kepalanya saat mendengar sebuah suara yang tidak asing mendekatinya. Ia melihat Kibum berjalan mendekatinya yang duduk di meja lima belas.

Kyuhyun kembali menundukan kepalanya saat Kibum duduk di depannya. Ia masih bingung dengan sikapnya beberapa menit lalu. Saat ia melihat Rihyun bersama Hangeng, tertawa bersama lelaki itu, ada sesuatu yang membuatnya merasa sangat sakit. Bukan, dia bukannya cemburu. Ini lebih dari sekedar kata cemburu. Dan, rasa itulah yang membuatnya tetap berada di restoran bahkan setelah dua jam restoran itu tutup. Membuatnya hanya bersama Kibum di dalam restoran ini.

“Ada sesuatu yang ingin kau akui kepadaku?”. Kyuhyun mengangkat kepalanya, menatap Kibum. Ia membasahi kerongkongannya yang terasa kering itu.

“Aku tau bahwa kau berbohong mengenai keluargamu. Dan, sekarang, kau harus jujur kepadaku. Karena, aku tau bahwa kau dan keluargamu itu dalam bahaya. Ada sesuatu di dunia ini yang belum kau ketahui, yaitu kutukan hunter yang berhubungan dengan vampire.” Kedua mata Kyuhyun membulat sempurna saat mendengar penjelasan Kibum barusan.

“Kau harus jujur denganku sekarang. Beritahu aku semua tentang dirimu yang sebenarnya, Kyuhyun. Kita sama-sama vampire, sangat tidak mungkin aku membuatmu dalam bahaya” bujuk Kibum yang membuat Kyuhyun mau tidak mau menganggukan kepalanya.

“Aku mempunyai adik perempuan dan aku tinggal di apartment bersamanya, hyung. Hanya itu yang aku sembunyikan” ujar Kyuhyun.

“Apa dia juga ‘istimewa’?”. Kyuhyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Kibum barusan. Dan, itu membuat Kibum terkejut dalam diam. “Lalu, apa saja yang sudah kau lakukan kepadanya? Jangan bilang dia sudah menjadi salah satu korbanmu.”

Pertanyaan Kibum yang terdengar penuh emosi itu membuat Kyuhyun membasahi bibirnya, karena terlalu gugup. Namun, pada akhirnya, Kyuhyun pun memberikan jawaban kepada Kibum. Ia menganggukan kepalanya ragu dan itu membuat kedua bola mata Kibum yang hitam pekat berubah menjadi hijau. Kyuhyun yang menyadari perubahan warna pada bola mata Kibum pun ketakutan. Ia tahu apa alasannya atas perubahaan warna mata itu. Sosok vampire di depannya ini sudah mencapai emosinya yang tertinggi. Itu akan terjadi kepada semua vampire, jika mereka dalam emosi tertinggi.

BRAK. “Bodoh!” umpat Kibum yang sontak membuat Kyuhyun tidak berani bertatapan dengan Kibum. Sosok vampire di hadapannya itu sudah berdiri dari tempat duduknya, setelah ia memukul keras meja yang memisahkan mereka berdua itu.

“Kau benar-benar bodoh. Kau menghisap darah adikmu sendiri, kau benar-benar bodoh. Aku tau bahwa kau tidak tau sama sekali tentang kutukan hunter dan vampire, tapi aku yakin pasti sudah ada orang yang melarangmu menghisap darah adikmu sendiri. Namun, dengan bodohnya, kau melanggarnya. Kau benar-benar bodoh, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun hanya dapat terdiam saat Kibum benar-benar marah kepadanya. Dia tau bahwa dirinya telah salah melanggar larangan itu.

“Kau membahayakan adikmu, Kyuhyun. Kau membuatnya jatuh cinta kepada Hangeng hyung. Kau membuatnya masuk ke dalam perangkap yang Hangeng hyung buat.” Kyuhyun mengeryitkan keningnya mendengar ucapan Kibum barusan.

“Kau mau tau kenapa kau selalu merasa sesak saat kau merasakan aura Hangeng hyung? Kau mau tau apa kutukan hunter dan vampire itu, eoh?”. Kibum menatap Kyuhyun dengan tatapan meremehkan. Kini kedua mata Kibum kembali ke warnanya yang semula, tidak hijau lagi.

“Karena kutukan itu, kau beranggapan bahwa aura Hangeng hyung adalah aura yang paling menyesakan di dunia ini. Kau adalah red vampire, sementara aku green vampire. Kita sama-sama vampire, tapi berbeda klan. Kau dari klan red, sementara aku klan green. Matamu akan berubah menjadi merah saat kau mencapai emosi tertinggimu, sementara aku akan berubah menjadi hijau seperti yang kau lihat tadi.”

“Kau mau tau kenapa kita berbeda klan, eoh? Karena, aku tidak mempunyai saudara, sementara kau punya. Hijau berarti terlepas dari kutukan, sementara merah berarti tidak dapat terlepas dari kutukan itu. Hunters akan menghabisi klan red vampire dengan menggunakan saudara yang dimiliki oleh red vampire. Bisa saja hunters tidak dapat menemukan saudara red vampire, dengan satu cara. Tidak menghisap darah mereka, tapi kau melakukannya. Kini darah adikmu menarik perhatian hunters. Mereka dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang aneh di dalam adikmu, meski tidak ada luka terbuka.”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk melindungi adikku?” tanya Kyuhyun yang kini ketakutan sekaligus menghawatirkan keadaan adiknya yang sudah masuk ke dalam perangkap Hangeng .

Kibum menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, tidak ada yang dapat kau lakukan untuk menghindari kutukan itu. Hunters memiliki pesona tersendiri yang dapat dengan mudah menarik perhatian lawan jenisnya. Adikmu terperangkap dalam pesona Hangeng hyung, adikmu mencintai Hangeng hyung.”

Kyuhyun mengeryitkan keningnya. Ia tidak mengerti penjelasan Kibum barusan. “Kalau Rihyun mencintai Hangeng, bukankah ada kemungkinan Hangeng mencintai Rihyun juga? Kutukan itu dapat hilang begitu saja, karena cinta mereka, bukan?”.

Kibum terkekeh mendengar Kyuhyun berkata seperti itu. Kekehan itu membuat Kyuhyun semakin bingung. “Kau masih belum mengerti dengan arti sebenarnya kutukan itu, Kyuhyun. Satu kalimat yang menjadi pegangan para hunters yang memiliki pesona tidak tertolak itu, satu kalimat yang akan membuat kita tau cara mereka menghancurkan klan red vampire atau pun saudaranya.”

“Apa kalimat itu?”.

Kibum mengeluarkan secarik kertas kecil dari dalam jaketnya, kemudian ia memberikannya kepada Kyuhyun. Kibum tersenyum sinis melihat ekspresi Kyuhyun saat membaca kalimat yang ia tulis di kertas putih itu. Kibum bangkit dari tempat duduknya, berjalan menjauhi Kyuhyun, hendak pulang ke tempat tinggalnya.

“Apa maksud dari kalimat ini? ‘It’s not luv story’? Itu tidak masuk akal, sangat aneh, hyung”. Dengan kecepatan yang ia miliki, Kyuhyun langsung bangkit dari tempatnya, menahan Kibum untuk meneruskan perjalanan pulangnya. Ia menggerakan tubuh Kibum dengan paksa, agar sosok green vampire itu berdiri menghadapnya.

“Hangeng hyung membuat adikmu jatuh cinta kepadanya, membuat adikmu berpikiran bahwa hyung juga mencintainya. Namun, itu salah. Itu hanya cara untuk membuat kalian berdua berada di dalam perangkanya. Tidak ada cerita cinta di dalam kehidupan hunter.” Terbaca jelas bahwa Kyuhyun terkejut dengan penjelasan yang Kibum berikan.

“Apa tidak ada yang bisa aku lakukan?” tanya Kyuhyun dengan tatapan yang terbaca jelas bahwa ia sangat rapuh dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui itu.

“Sudah aku bilang tidak ada yang bisa kau lakukan untuk melindungi adikmu atau pun dirimu sendiri.”

“Pasti ada” ujar Kyuhyun.

Kibum menghela napasnya pelan. “Mungkin dengan membuat adikmu jauh dari Hangeng hyung akan berhasil.”

SSS

“KYA!!!”.

Rihyun berteriak saat ia membuka pintu apartment-nya. Sosok kakaknya yang tiba-tiba muncul di balik pintu itu membuatnya terkejut. Ia langsung menundukan kepala dan mengatur detak jantungnya.

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun dingin yang membuat Rihyun mendongakan kepalanya.

“Tumben kau bertanya, oppa.” Bukannya menjawab, Rihyun justru berkata tidak sopan kepada kakaknya itu.

Kyuhyun tidak menjawab ucapan adiknya yang tidak sopan itu. Justru kedua matanya tertuju kepada leher Rihyun yang tidak tertutup itu menunjukan jelas bekas luka yang ia buat saat ia menghisap darah adiknya beberapa hari lalu. Rihyun yang menyadari apa yang ditatap oleh kakaknya itu pun menutupi bekas lukanya dan terkekeh pelan.

Oppa, kelaparan? Ingin menghisapnya lagi? Silahkan hisap aku lagi sesukamu, oppa. Hitung-hitung sebagai tanda maafku, karena tanggal sebelas lalu aku tidak memberikannya.” Rihyun bersuara dingin kepada Kyuhyun yang menatapnya tajam, karena menyadari bahwa adiknya ini telah berubah karena Hangeng.

“Kenapa tanggal sebelas kau kabur?” tanya Kyuhyun.

“Karena, aku takut, oppa. Jika kau bertanya kenapa aku takut, maaf saja aku tidak akan menjawabnya” jelas Rihyun.

“Kau aneh. Jangan bertemu dengan Hangeng hyung lagi.” Rihyun menatap Kyuhyun tajam.

“Cih, kau melarangku seakan kau peduli denganku. Kemana saja oppa kemarin-kemarin? Aku sendirian dan Hangeng gege-lah yang menemaniku, bukan sosok oppa tidak bertanggung jawab sepertimu.”

Kyuhyun hanya dapat terdiam mendengar perkataan adiknya itu. Dia sendiri sadar bahwa dia bukanlah sosok kakak yang baik. Dia sudah berusaha, agar menjadi kakak yang baik untuk Rihyun. Namun, tanpa Kyuhyun ketahui itu adalah hal yang mustahil. Karena, memang sudah menjadi takdir red vampire menjadi sosok yang tidak bertanggung jawab untuk saudara-saudaranya.

“Lepaskan!”. Kyuhyun menahan salah satu tangan Rihyun saat adiknya itu melewatinya. Kyuhyun hanya diam seraya mengubah posisinya, agar kembali berhadapan dengan adiknya yang masih memberontak dalam genggaman tangannya. Kyuhyun masih menatap penuh arti kepada Rihyun, sementara Rihyun yang memang sudah terjebak oleh Hangeng pun menatap Kyuhyun muak.

“Cho Rihyun.” Sebuah suara tidak asing bagi Kyuhyun atau pun Rihyun itu terdengar jelas di kedua kuping mereka berdua. Baik Rihyun atau pun Kyuhyun, mereka berdua sama-sama menengok ke sumber suara. Kedua pasang mata itu menangkap sosok Hangeng yang berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari mereka berdua.

“Lepaskan!”. Rihyun menyentakan genggaman tangan Kyuhyun yang membuat genggaman tangan itu terlepas paksa.

“CHO RIHYUN!!!”. Kyuhyun berteriak keras dengan kedua mata terbelalak melihat adiknya itu berlari ke arah Hangeng yang disambut dengan senyuman manis dari Hangeng. “CHO RIHYUN!!!”. Sekali lagi, Kyuhyun meneriakan nama adiknya itu. Namun, tidak dipedulikan oleh sang adik yang terus berlari ke arah Hangeng. Tanpa disadari oleh keduanya, Hangeng telah tersenyum sinis kepada dua bersaudara itu. “CHO RIHYUN, BERHENTI!”. Tiga kali sudah Kyuhyun berteriak keras yang akhirnya berhasil membuat Rihyun menghentikan langkahnya.

Rihyun membalikan badannya menghadap sosok kakaknya kembali. Dia menatap remeh sang kakak yang membuat Hangeng terkekeh pelan, karena Rihyun benar-benar sudah masuk ke dalam jebakannya itu.

“Jangan dekati adikku, hyung!” bentak Kyuhyun saat melihat Hangeng berjalan mendekati adiknya yang masih berdiri menghadapnya itu.

“Apa hakmu melarangku?”. Hangeng berkata sinis sambil terus mendekati Rihyun.

“Rihyun, kemari! Jangan dekati dia.” Kyuhyun memberikan perintah kepada Rihyun. Namun, perintah itu ditolak mentah-mentah oleh Rihyun yang langsung menggelengkan kepalanya cepat.

“RIHYUN!”. Kali ini Kyuhyun membentak adiknya saat Hangeng yang sudah berdiri tepat dibelakang Rihyun. Rihyun meringis pelan saat bekas lukanya itu disentuh oleh Hangeng. Rasa sakit itu bukan hanya dirasakan oleh Rihyun, namun juga oleh Kyuhyun.

“Sepertinya Kibum sudah menceritakan semuanya kepadamu, Kyuhyun?”. Hangeng menengok ke arah Kyuhyun dengan tangan kanannya yang tetap memegang luka Rihyun itu.

“Jauhi adikku, hyung” ujar Kyuhyun sambil menahan sakitnya itu.

“Apa hakmu melarangku?”. Bukan hanya Hangeng yang menjawab. Namun, Rihyun yang memang sudah benar-benar masuk ke dalam jebakan Hangeng pun juga menjawabnya. Kini anak perempuan itu benar-benar sudah tidak mempunyai kendali diri lagi, kendali di dalam dirinya sudah diambil alih oleh sosok hunter bernama Hangeng itu.

Kyuhyun hanya dapat terdiam menyadari hal itu. Menyadari bahwa tidak ada cara lain untuk mencegah Hangeng yang akan memusnahkan dirinya dan Rihyun. Kini ia hanya dapat pasrah kepada Hangeng. Dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Perlahan, tangan kiri Hangeng mengambil sesuatu dari balik jaket yang ia pakai, mengeluarkannya dan memperlihatkannya kepada Kyuhyun. Sebuah pistol. Hangeng langsung mengarahkan moncongnya tepat ke dada Kyuhyun yang membuat Kyuhyun mengeryitkan keningnya tidak mengerti dengan sikap Hangeng yang seperti itu. Kyuhyun tidak mengerti kenapa Hangeng ingin menembaknya, jelas sekali bahwa dirinya tidak dapat mati ditembak oleh pistol meski peluru itu menghancurkan jantungnya. Dia tidak dapat mati. Itulah yang Kyuhyun ketahui. Namun, pikiran Kyuhyun itu dapat terbaca jelas oleh Hangeng. Sosok hunter itu pun terkekeh.

“Sepertinya Kibum belum menjelaskan bagaimana aku akan memusnahkan kalian berdua. Bukan begitu, Kyuhyun?”. Kyuhyun hanya dapat terdiam dalam kebingungannya. “Kini kau hanya vampire tanpa keistimewaannya. Dengan kata lain, kau hanya manusia biasa. Kau tidak ‘istimewa’ lagi.” Kedua mata Kyuhyun membulat sempurna saat mendengar penjelasan Hangeng barusan. Tanpa mempedulikan keterkejutan Kyuhyun, Hangeng melanjutkan penjelasannya.

“Kau lihat kalung yang dipakai oleh Rihyun sekarang ini. Itu adalah hadiah yang aku berikan kepada Rihyun tanggal 13 kemarin, tepat sehari setelah hari ulang tahunnya. Kalung berbandul batu sapphire blue berbentuk segilima dengan ukiran huruf V yang mewakili vampire dan huruf H yang mewakili hunter itu terlihat sangat cantik, bukan? Namun, dibalik kecantikan itu menyimpan suatu magic tersendiri. Kau perlu tau bahwa kalimat ‘it’s not a luv story’ itu hanya symbol dari semua yang kami lakukan. Sementara itu, kalung ini adalah cara yang kami lakukan untuk membuat saudara red vampire benar-benar terperangkap di dalam jebakan kami. Ditambah dengan tetap menyentuh bekas luka yang kau buat di leher Rihyun ini membuat sosok Rihyun dapat dengan mudah aku kendalikan dan membuatmu menjadi manusia biasa.”

DOR. Sebuah peluru meluncur ke arah Kyuhyun, merobek sisi tangan kiri Kyuhyun, membuatnya berdarah dan membuat Kyuhyun meringis kesakitan. “Apa yang kau lakukan?”.

“Bukankah kau masih tidak percaya dengan penjelasanku, eoh? Aku hanya membuktikannya. Lihatlah! Sekarang, sedikit pun kau tidak tertarik dengan darah” ujar Hangeng yang membuat napas Kyuhyun semakin memburu. “Sejujurnya ada satu cara agar aku tidak dapat memusnahkan kalian, yaitu dengan membuat Rihyun tidak memakai kalung ini dan aku tidak memegang bekas luka itu.”

“RIHYUN, CEPAT LEPASKAN KALUNG ITU, MENJAUH DARI HANGENG HYUNG!”. Hangeng tertawa lepas mendengar teriakan Kyuhyun yang tidak mendapat jawaban dari Rihyun itu.

“Percuma saja, itu semua sudah terlambat, Kyuhyun. Dia sudah berada di bawah kendaliku” jelas Hangeng yang membuat Kyuhyun semakin ketakutan. “Kau perlu tau bahwa kelemahan red vampire yang paling menonjol dan menguntungkan hunters adalah rasa tanggung jawabnya yang sangat-sangat kurang itu, melupakan hari ulang tahun saudaranya yang akan membuat saudara mereka terpuruk dan memilih kami, para hunters. Kau pun perlu tau satu hal juga, yaitu jika aku membunuhmu, Rihyun pun juga akan mati.”

DOR. Kedua bola mata Kyuhyun membelalak saat merasakan kesakitan di dadanya. BRUGH. BRUGH. Dua tubuh terpengaruh gara gravitasi Bumi.

SSS

“Ini pesanan anda, nona.” Hangeng meletakan sepiring makanan dan segelas minuman di meja lima belas.

Gamsahamnida.” Pelanggan tersebut mendongakan kepalannya. Ia menatap Hangeng lekat, membuat Hangeng tidak beranjak dari tempatnya. “Bisa kau temani aku?”. Hangeng mengeryitkan keningnya saat mendengar permintaan pelanggannya yang adalah seorang perempuan cantik itu. Tidak mau mengecewakan pelanggannya, Hangeng pun menurutinya. Ia duduk di depan pelanggannya.

“Mungkin ini sangat lancang, karena aku memintamu menemaniku dan mendengarkan curhatanku. Bisakah?”. Hangeng hanya dapat mengangguk dan diam medengar curhatan pelanggannya itu. “Namaku Stevani Lau, kau bisa memanggilku Stevani. Besok adalah hari ulang tahunku, aku tau bahwa aku seharusnya senang karena hari jadiku akan datang beberapa jam lagi. Namun, kini, aku justru takut. Oppa-ku yang bernama Henry Lau itu menyiksaku. Mungkin ini sulit dipercaya, tapi memang sebuah kenyataan bahwa oppa-ku itu seorang vampire. Selain, itu, dia pun tidak pernah mengucapkan selamat kepadaku. Bahkan, dia terus menjadikanku korbannya. Menyedihkan sekali, kan?”.

Tanpa diketahui oleh perempuan bernama Stevani itu, Hangeng tersenyum licik kepadanya. “Kalau begitu, beritahu aku alamat rumahmu. Aku akan memberikanmu selamat.” Stevani terkejut mendengar ujaran Hangeng barusan. Perempuan itu terlihat sangat senang, namun tanpa ia ketahui bahwa dirinya dan diri kakaknya itu sedang berada dalam bahaya besar.

-fin-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: