Whatever You Are

tumblr_nd2w0iidzo1rhpoqvo1_500

Whatever You Are

By: dizflouren

Cho Kyuhyun | OC | Romance | Angst | Oneshot

***

Ia menarikku dengan langkah bahagia, mengiringiku berlari dengan senyum ketulusah hingga aku berhenti di sebuah tempat yang tak pernah bosan untuk aku kunjungi, tempat yang indah, menjadi tempat yang kami suka, banyak kenangam manis terukir di tempat ini, tempat dimana perasaan kami bersatu, tempat yang menjadi saksi bisu bagaimana kami tumbuh bersama hingga ikatan diantara kami terasa erat dan bersatu dalam harmoni.

“Hyo Eun-ah~~! Lihatlah tempat ini! Begitu indah, ne?” Tanya lelaki bertubuh lebih pendek namun lebih tua dariku saat kami duduk di sebuah pohon besar yang tumbang di pantai.

“ ne, oppa! Aku tak tahu apakah di New York akan aku temui tempat seperti ini…” jawabku sendu, raut wajah kecewa tersirat diwajahnya dan wajahku.

“apa kau bahagia untuk pergi ke New York?” tanyanya memecah hening yang dihiasi suara ombak.

“tentu saja tidak! Tapi jika aku tidak ikut appa… aku mungkin akan mati kelaparan dan terlantar, berjanjilah oppa selalu menungguku, ne?” ia mengangguk tanpa suara. “jinja?” tanyaku memancingnya berbicara,

”nde, jagi” jawabnya mesra, aku tersipu dan ia tersunyum , kembali dari kemurungannya beberapa saat lalu.

***

Kota ini, mokpo, sungguh kota ini banyak berubah, sepuluh tahun aku meninggalkan kota ini, sepuluh tahun New York menjadi tempat ku untuk tumbuh dari gadis remaja menjadi wanita yang dewasa, tinggal bersama appa yang merupakan seorang jendral polisi menuntutku tumbuh menjadi wanita yang tangguh, aku rindu kota ini, sungguh.

Musim dingin yang indah, meski aku datang ke kota ini bukan semata mata untuk berkunjung, melainkan aku sudah menanda tangani sebuah kontrak untuk menjadi seorang agen rahasia selama beberapa tahun, namun alasan ku menanda tangani kontrak itu karna aku merindukan kota ini.

“agen Kim Hyo Eun? Cho kyuhyun imnida, geoseul hwanyeonghabnida” sambut seorang staf berseragam polisi saat aku tibah di markas besar kepolisian korea, bukan hanya satu namun sekita sepuluh orang yang aku yakin nantinya termasuk satu tim denganku ikut menyambutku.

“gamsahabnida, kalian sungguh ramah. “ responku dengan membungkukan tubuh, memberikan salam. “Okey, namun aku bukan orang yang mengulur waktu, haja! bicarakan apa yang akan kita selesaikan” pria berseragam polisi itu menganggukan kepala dan menuntunku ke ruangan dimana para staff sudah berkumpul untuk menungguku, wajah mereka begitu santai, aku sempat menduga bahwa hari ini hari khusus untuk penyambutanku, namun aku ingin langsung menangani kasus.

Yah! Benar dugaanku, mereka semua menyambutku dengan ramah, aku terima penyambutan yang bagitu ramah dan hangat ini “baiklah, bisakah aku menjalankan tugas? Apa yang harus aku selesaikan?” tanyaku, membuat mereka semua bingung, aku memang tak terbiasa dengan penyambutan karna selama aku bekerja di New York tak ada yang bersedia mengulur waktu sebelum perkara selesai.

“tapi, agen Kim, kau baru saja sampai hari ini” kata salah seorang lelaki yang memakai pakaian resmi, sepertinya ia juga seorang agen rahasia, dan seorang polisi lelaki membisiskan sesuatu padanya.

Seorang wanita cantik berdiri dan mengulurkan tangannya,bermaksud untuk berjabat tangan, lalu kusambut uluran tangan itu “park Hana imnida “ aku hanya tersenyum dan mengangguk ”baiklah, to the poin, ne?” selanjutnya wanita itu mulai penjelasan “kota ini sedikit terganggu keamanannya, sekelompok pengacau membuat ulah yang merepotkan, merampok, melukai warga sipil, menindas para remaja, dan menyebabkan kekacauan, selidik demi selidik semua itu dilakukan oleh para gangster, bukan hanya satu gangster, namun beberapa golongan, dan semua gangster ternyata memiliki satu pusat, di sekitar kota mokpo markas pusatnya, untuk memusnahkan semua gangster pembuat onar, kita hanya perlu memangkas akarnya, bukan?” jelas wanita itu, menit selanjutnya seorang lelaki tampan bertubuh tegap dan berseragam serba hitam, captain Choi Siwon. yang merupakan ketua dari tim yang menangani kasus ini membagi tugas masing-masing anggota tim, aku ditugaskan untuk mengobservasi tempat yang dicurigai.

***

Hari selanjutnya…

Sebagai tenaga professional dan terlatih aku terbiasa bertindak dengan inisyatif sendiri karna menjadi seorang agen rahasia dibutuhkan inisyatif yang tinggi, tidak ada aturan tentang seragam yang digunakan dalam misi, hanya beberapa alat khusus yang memang harus digunakan, dan aku berinisyatif memakai pakaian casual guna menghindari kecurigaan.

Benarkah kota ini kini menjadi tidak aman? Siapa yang beraninya mengusik keamanan kota kecintaanku ini? Biar aku habisi dengan tanganku sendiri!

Aku masih sangat ingat jalan jalan yang ada di kota ini, meski gedung-gedung menjulang mulai menghiasi kota ini, namun aku tetap bisa menyusuri jalan-jalan di kota ini tanpa tersesat, ada sebuah tempat yang aku rindukan, dan detik ini ingin aku kunjungi.

***

“oppa, hari ini appa menjemputku, aku harus pergi..” kataku dengan airmata yang tak kunjung berhenti mengalir di pipi, ia hanya tersenyum tegar. Pantai ini saksi bisunya.

“jagi, ini, ambilah” ia memberiku sebuah kalung yang aku yakin ia buat sendiri mengunakan logan dan mengukirnya dengan penuh dengan ketelitian ‘mokpo, Lee & kim : 10 -10’ aku tersenyum melihat ukiran indah itu.

“oppa, apa maksudnya 10-10? Tanggal sepuluh bulan sepuluh?” tanyakau heran.

“aniya, tanggal sepuluh jam sepuluh” jawabnya dengan senyum teduh, aku mengerutkan dahi mendengarnya.

“apa maksudnya?”

“tidakkah kau melihat tanggal? Hari ini tanggal sepuluh ” jawabnya lembut kemudian tertawa kecil, aku hanya tersenyum.

“tapi ini sudah jam dua siang, oppa”

“bukankah kita selalu ke tempat ini jam sepuluh pagi?” tepatnya ia selalu membawaku ke pantai ini jam sepuluh pagi, saat ombak begitu indah baginya. “tanggal sepuluh jam sepuluh, aku selalu di tempat ini”

***

Aku tak kuasa menahan senyum jika mengingat paras wajahnya saat mengucapkan itu, janji konyol yang tak mungkin selalu bisa ia lakukan, kalung itu kini tak lagi menjadi kalung, kini berubah manjadi gelang yang jika sehari saja tak terlihat aku akan panik.

Kulirik jam tangan yang kupakai, jam setengah Sembilan, tunggu! Apakah ini tanggal sepuluh? Aku langsung memutar balik mobil yang aku kendarai menuju sebuah pantai yang terdapat pohon besar yang tumbang disana, tempat aku duduk bersama dengan ‘pangeran Lee’ yang sepuluh tahun lalu menebarkan cinta dihatiku, hingga kini pun aku masih menjaga rasa itu untuknya, konyol! Di satu sisi aku sadar bahwa ia tak mungkin lagi menunguku di tempat itu tanggal sepuluh jam sepuluh, namun disisi lain aku masih berharap adanya keajaiban dan kesetiannya pada janji yang sudah sepuluh tahun terlewati.

Pantai ini begitu sepi, selama sepuluh tahun aku meninggalkan kota ini, tidak ada yang breubah dari pantai ini, pohon besar yang tumbang masih berada di tempatnya hanya saja sudah sangat lapuk, dan suasana hatiku masih seperti yang dulu saat aku ke pantai ini, tenang, bahagia, dan damai, namun ada satu hal yang seolah hilang, ‘pangeran Lee’ ku, aku memang bodoh! Dia memang tidak berada disini! Kecewa sudah menguasai hati, namun aku tetap menikmati pantai ini. Kupejamkan mata dan kuhirup udara yang diantarkan obak menghempas tubuh ini.

“oraenmanieyo~~” kata seseorang mengusik kesendirianku, kubuka mata dan kulihat siapa yang beraninya mengusik kenikmatanku menikmati pantai kenangan ini, lelaki itu memandangi mataku begitu tajam ketika kubuka mataku.

“oppa!!! Bogo sipeosseo!!!” teriakku dengan segenap kebahagiaan, dia begitu tampan sekarang, dan begitu rapi, aku memeluknya tanpa basa basi.

“nado Hyo Eun-ah~~!” ia membalas pelukanku.

“Donghae oppa~~ “ panggilku saat kulepas pelukanku. “kau konyol sekali masih menungguku.. kau tetap pangeran Lee ku, kan?” tanyaku memicingkan mata, berharap ia mengangguk.

Ia menunduk dan terlihat begitu berat menajawabnya “iya, tapi~~” aku menatapnya seolah meminta ia menjelaskan masud ucapannya “gwenchana, aku selamanya menjadi pangeran Lee mu!” sambungnya dengan yakin, dan melihat sebuah gelang yang melingkar di tangan kiriku, ia tersenyum bahagia melihatnya, kulepaskan gelang itu dan membiarkannya melepas kerinduan pada gelang yang ia berikan padaku sepuluh tahun lalu.

“meski telah berubah menjadi gelang, bagiku ini tetaplah kalung, tapi gwenchana, kalung ataupun gelang, yang terpenting ‘mokpo, Lee & kim : 10 -10’ basih indah terukir” katanya yang meandangi gelang itu lekat-lekat

“gelang itu adalah perhiasan terindah yang pernah kutemukan, oppa” kata-kata dariku berhasil membuatnya tersenyum, sungguh senyuman paling manis yang pernah kulihat.

“sepertinya kau semakin modis, apa pekerjaanmu selama di New York?” tanyanya dengan nada khas yang tidak berubah, sungguh! mianhae, oppa. Aku tak bisa menjawab bahwa aku adalah agen Rahasia, aku benar benar tak bisa memberitahukan itu padamu.

ponselku berdering, pertanda ada panggilan masuk. Ah~~ dahaengieyo, panggilan ini seolah menyelamatkanku.

“mianhaeyo, agen Kim,pukul dua belas siang ini, kita akan berkumpul dan menyerahkan hasil observasi kepada pimpinan tim untuk menentukan tindakan selanjutnya.” Setelah informasi diberikan, sambunganpun terputus, seperti biasa. Tapi… ah omona!! Aku belum melakukan observasi! Bisa hancur image disiplinku! Kulirik jam tangan ku 10:15!!! Bagaimana mungkin aku ke lokasi observasi dengan waktu singkat dan menyerahkan hasil observasi dengan sempurnah, aku harus pergi sekarang!

“hem… oppa, berjanjilah kau akan menungguku lagi disini besok di jam yang sama, ne?” pintaku dengan tergesah gesah.

“sepuluh tahun aku sudah menunggumu disini, ditempat yang sama, semoga Tuhan mengizinkanku untuk menemuimu lagi, besok” jawabnya, aku tahu ia kecewa, namun aku juga tak bisa lebih lama mengulur waktu.

“oppa jangan bicara seperti itu” aku mencubit pinggangnya dan tersenyum, ia tertawa kecil dengan manjanya “saranghae nae prince”lalu menciumnya dan berlari ke mobil.

***

Donghae’s prov

Seumur hidupku baru dua kali aku mendapatkan sebuah ciuman dari satu-satunya gadis yang kucintai, sepuluh tahun lalu, ia menciumku saat appa nya menjemputnya dan ia harus segera pergi, dan kini, ia kembali mencium pipi ku untuk sebuah perpisahan, lagi.

Hyo Eun~ah! Tidak bisakah kau membayangkan betapa tersiksanya aku setelah kepergianmu? Menunggu mu satu hari sudah seperti setahun, bisa kau bayangkan bagaimana rasaku menunggumu selama sepuluh tahun? Tolong! Tepati janjimu untuk menemuiku besok.

Tunggu! Gelang ini… omona! Dasar gadis ceroboh, ia meninggalkan gelangnya padaku, ah sudahlah! Mungkin Tuhan memang menakdirkan pertemuan kami besok.

***

Kim Hyo Eun’s prov

Aku menyerahkan hasil observasi mendadakku ke meja rapat, menjelaskan beberapa foto yang kuambil di sebuh gedung mencurigakan di wilayah yang jauh dari keramaian, salah satunya dalah foto seorang lelaki yang keluar masuk gedung tersebut, meski singkat dan mendadak, mungkin hasil observasiku tak begitu buruk.

Sang ketua tim yaitu captain Choi mengamati satu persatu berkas yang sudah seluruh anggota tim serahkan di meja rapat, namuan entah mengapa ia lebih dulu mengamati map yang aku berikan, ah mungkin ia ingin melihat kemampuanku lebih dulu “pria ini! masih ingat laporan pemilik tokoh swalayan yang tokohnya dirampok oleh kalangan gangster? Yang gambar salah satu pelakunya tertangkap kamera CCTV? “ ucapnya terlihat sedikit antusias meki masih dalam image tegasnya. Ya, aku memang tak begitu mengetahui laporan itu, namun yang aku yakini tempat itu memang positif merupakan merkas besar para gangster pembuat onar.

“iya! Dia pelakunya! Kalau begitu sudah pasti tempat itu target kita” kata agen Lee hyukjae “ lalu apa tindakan kita selanjutnya?” sambungnya.

“kita kumpulkan bukti sebanyak banyaknya!” usul seseorang yang berada di sebelahku, ah ya ampu… yang benar saja!

“bukankah bukti yang ada sudah lebih dari cukup? Mengapa tidak langsung melakukan penggerebakn besok? Sebelum mereka mencium adanya pengintaian terhadap markas mereka dan usaha kita sia-sia!” akhirnya aku angkat bicara, mereka saling berpandangan dan menganggukan kepala hampir serentak.

***

Pengepungan dilakukan secara berlahan lahan, tanpa bunyi sisrine mobil polisi, tanpa ada peringatan melalui pengeras suara dari luar gedung, begitu sunyi namun dibalik kesunyian, puluhan mobil dan anggota polisi sudah dalam posisi siaga di halaman sebuah gedung usang, startegi sudah disusun rapi, kami memutuskan untuk tetap menunggu salah seorangdari mereka keluar.

“hem… oppa, berjanjilah kau akan menungguku lagi disini besok di jam yang sama, ne?” kalimat yang kemarin kuucapkan kepada Donghae oppa tiba-tiba terngiang kembali, memecah konsetrasiku, diam diam kulirik jam yang kukenakan, pukul setengah sepuluh. yah, aku mungkin akan sangat terlambat untuk menepati janjiku, namun kuharap prince Lee ku akan menungguku.

***

Donghae’s Prov

Aku selalu berharap pertemuan ku dengan Hyo Eun hari ini adalah pertemuan pembuka, semalaman aku berpikir bahkan hampir-hampir aku tak tidur merencanakan apa yang akan kuucapkan hari ini, memikirkan apa yang akan kukenakan, parfum apa yang akan ku pakai, sempurna!

Aku melangkah keluar, tentu dengan senyum bahagia dan cinta disetiap langskahku, ku harap Hyo Eun benar benar datang hari ini, cintaku yang sudah sepuluh tahun menghilang.

***

Kim Hyo Eun’s Prov

Semua pasukan semakin siaga bahkan ada yang sudah bersia-siap menarik pelatuk, namun berbanding terbalik denganku, tubuhku seakan hilang rasa setelah salah satu dari orang-orang yang berada di dalam markas itu keluar, memang awalnya pria itu keluar dengan santainya, namun sifat tenang dan santainya berubah menjadi ketegangan saat melihat jajaran mobil polisi berderet mengepung wilayah tempat ia berada, pria itu mengangkat tangan, pertanda tidak akan ada perlawanan, namun aku semakin melemas dibuatnya setelah kedua tangannya barada di kepala, dengan segenap rasa perih di hatiku, aku mendekati pria dengan seragam rapi yang dikepung puluhan polisi, captain Choi dan beberapa anggota polisi berusaha memperingatkanku, namun aku abaikan mereka seolah tak mendengar apapun. Sementara gerombolan gangster mulai keluar dari gedung itu.

“apa kau bagian dari mereka?!” Tanya nya itu begitu menyesakkan hati, aku tahu ia juga terkejut dengan apa yang sekarang terjadi.

“dan apa kau juga anggota dari mereka?!” aku balik bertanya dengan airmata mengalir sambil menunjuk pasukan gangster dibelakangnya. Ia mengangguk, semakin perih hatiku melihatnya.

“terpaksa aku bilang iya,maaf jagi, aku tumbuh menjadi lelaki jahat, aku tidak mau kau tahu, tapi apa boleh buat, toh posisi kita bertolak belakang, kan?” matanya berbinar hampir menjatuhkan irmata, aku merasa sesak mendenganya, sungguh aku tak kuat mendengar kata-kata tu, tak kuat menerima kenyataan ini, aku menutup telingku sementara ia terus mencoba menjelaskan. “tidak kuasangka aku akan tertangkap oleh orang yang kucintai”

“sudahlah Lee Donghae!! Jangan bicara lagi!!!” bentakku dengan pilu, aku sungguh tak besa menerima kenyataan ini, ini begitu mengejutkan dan menyakitkan.

“kau semakin tidak sopan, jagi! Memanggilku tanpa panggilan oppa!” jawabnya dengan maksud bercanda, namun sungguh! Ini tidak lucu.

“karna kau bukan Donghae oppa ku yang dulu, Donghae oppa tidak begini, Donghae oppa bukan orang jahat dan tidak berbahaya!” ia hanya tersenyum tipis dan memandangi mataku lekat-lekat dan airmatanya jatuh dengan lurus sempurna.

“aku rasa ini pertemuan terakhir kita” katanya kemudian mengambil sesuatu dari dalam jas yang ia kenakan.

DOR! DOR!

Dua buah peluruh mendarat di dadanya, membuatnya tergeletak bersimbah darah “HENTIKAN!!!!” pekikku hampir histeris, aku segera memangku kepalanya yang tergeletak, nafasnya terenggah-enggah darah begitu deras mengalir.

Ia masih sempat tertawa kecil meski merasakan sakit yang luar biasa “haha! Mereka mudah sekali salah paham, pa…dahal aku hanya ing…in mengambil ini” ia memberikan gelang yang ia ambil dari sakunya. “s-seharusnya k-kita bertemu di pantai hari ini, dalam situasi y-yang indah dan tenang, tak terduga keadaannya….” Racaunya denga terenggah-enggah.

“sudahlah oppa! Jangan beribicara lagi! Tutup mullutmu!” perintahku dengan suara bentakan yang terdengar parau diiringi butiran kristas mengalir deras di pipiku. “kalian!! Tolong!! Cepat panggilkan ambulance!!!!” teriakku memerintahkan siapapun yang bisa menolongku.

“oppa!!! Saranghae!! Apapun dan siapapun dirimu!! Kau cinta sejatiku!!” ucapku setengah hinsteris melihat kondisinya, ia hanya tersenyum meski menahan sakit.

DOR!

“Satu sama!” kata seorang dari segombolan gangster yang berbaris menantang polisi. Captain Cho dengan sigap melayangkan tembakan yang mengenai kaki orang yang melepaskan tembakan tadi.

Sebuah peluruh mengenai pundakku, aku terdiam sejenak, menikmati rasa sakit di pundakku, aku tahu peluru yang menacap di pundakku tidak membahayakan nyawaku, namun bagaimana denga peluru yang menancap di dada prince Lee ku? Darahmu menetes tak kalah deras.

“babo!!!!! Kuhabisi kalian yang menembaknya!!! Kupecahkan kepala kalian satu persatu!” Donghae oppa murkah dan berteriak sejadinya, membuat nafasnya semakin menipis.

“sudahlah, oppa! Oppa jangan berteriak lagi! Bertahanlah!” pintaku dengan nada yang semakin melemas.” Aku bahagia, karna dengan ini aku tahu betapa sakitnya rasa yang kau derita sekarang” sambungku.

“biar aku yang merasakan kegetiran ini, bukan kekasihku yang aku cintai, maafkan aku yang tersesat di jalan yang salah, yang menyebabkan kita tak bisa bersatu.” katanya dengan nada suara yang sangat kecil nyaris tak terdengar, airmataku semakin deras, Ia mengusap butiran bening di pipiku, tangannya dingin dan gemetar, tak lama tubuhnya pun beregtar, detik selanjutnya tubuhnya mendingin dan menutup mata dengan senyum yang sangat indah, tangannya yang menggenggam tanganku mulai mendirngin.

“OPPPAAAA!!!!” teriakku histeris, tak terima jika prince Lee ku meninggalkanku, sungguh! Aku tak pernah menduga hari ini akan terjadi! Sepuluh tahun, begitu egosikah aku yang meninggalkannya hingga kini saatnya dia yang meninggalkanku? Beginikah rasanya ditinggalkan? Mianhae,oppa… aku menyiksamu selama sepuluh tahun.

Apakan waktu sepuluh tahun adalah waktu yang lama hingga mampu mengubah seorang yang baik dan lembut menjadi seorang pimpinan gangster besar yang bengis? Oppa!! Mianhae! Aku meninggalkanmu hingga kau menjadi seperti ini! Kini pantai itu begitu tandus, menciptakan kegersangan di hatiku, kegetiran yang kau rasakan membawamu pergi hingga memisahkan kita, kini pilu menyelimuti hidupku, jika hanya kau yang boleh merasakan kegetiran, maka hanya aku yang bolehmerasakan kepiluan,adil? Mungkin. kau begitu tersiksa, ceritamu, kabarmu, tak pernah aku tahu, maafkanlah kegoisanku yang begitu kejam menyiksa cintamu, oppa. “untuk Donghae oppa yang telah damai disana, aku selalu disini tanggal sepuluh jam sepuluh.”

“Tuhan, kau sudah mengambilnya lebih cepat dari yang kuharapakan, apa itu karna Kau menyayanginya? Kumohon, Tuhan. Jaga lah lelaki jahat yang kejam itu dengan segenap Kasihmu, bukan demi dia, tapi demi aku, Hamba mu yang Kau ambil belahan jiwanya.”

 

 

-fin-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: