The Evil’s Amulet

121677927

Author: Desynta Putri B.

Title: The Evil’s Amulet

Main Cast: – Yesung as Jeromy Kim   – Lee Donghae   – Joon Nara    (OC) | Genre: Sacrificial, Evil | Rate: PG-13 | Length: One Shoot

***

 

Lapangan bola basket Seoul High School siang itu diramaikan oleh hiruk pikuk murid-murid dari kelas 3A. Matahari yang bersinar cukup terik ternyata tak menyurutkan semangat mereka untuk mengikuti jam mata pelajaran olahraga. Kebetulan materi kali ini adalah permainan bola basket. Menarik. Setidaknya begitulah menurut Lee Donghae, yang memang adalah kapten dari tim basket inti kebanggaan sekolah. Terilhat sejak tadi ia bersemangat memainkan bola oranye itu, meskipun seongsangnim1 belum datang. Men-dribble-nya ke kanan dan ke kiri, menipu dua temannya yang tengah merentangkan tangan untuk menghadang langkahnya.

Sontak gadis-gadis yang menonton di pinggir lapangan berteriak histeris, melihat namja2 berpredikat the-coolest-guy-of-school itu menunjukkan kemahirannya memainkan bola.

“Lee Donghae!! Uwaaaa…!”,

Seketika itu juga datang tiga teman lainnya, tak membiarkan Donghae memasukkan bola ke dalam ring dengan mudah. Tapi bukan Donghae namanya kalau kesulitan menghadapinya. Dengan badannya yang bisa dibilang kecil, ia dapat mengelabui musuh yang berbadan lebih kekar itu dengan kelincahannya. Dan dengan satu lompatan..

‘Ddakk!’, masuk dengan mulus ke dalam ring dua angka.

“Waa!!! Daebak3!”,

‘PRIIITTT!!!’, suara peluit seongsangnim menyadarkan semua orang di lapangan yang sejak tadi terpesona oleh permainan basket Lee Donghae. Dalam hitungan detik, semuanya pun bergegas membentuk barisan.

Seperti biasa, Seunghwa-seongsangnim berdiri tegap dan menatap tajam murid-muridnya, menunggu semuanya berhenti membuat keributan. Tapi yang tidak biasa adalah, disampingnya tengah berdiri seorang namja asing. Semuanya langsung menebak bahwa dia adalah murid pindahan, melihat ia juga berpakaian seragam olahraga.

“Seperti yang kalian lihat, kita kedatangan murid baru. Jeromy Kim, dari University of Canada”, sesaat namja itu mengangguk pelan memberi salam.

“Ia akan bersekolah disini selama winter break“,

“Seongsangnim! Kenapa dia harus masuk ke kelas kita?”, celetuk salah satu murid diikuti sorakan ‘hu’ dari yang lain.

“Diam semua! Cepat bentuk kelompok dan buat skema pertandingan basket. Kumpulkan laporannya minggu depan. Kerjakan!!”,

Seketika semua pun mengeluh. Tak lama setelah seongsangnim pergi, mereka sibuk memilih anggota untuk dijadikan dalam satu tim. Tak ayal, semua pun ingin masuk ke dalam tim Donghae.

“Tunggu, tunggu..”, Hyukjae, namja yang hobi nyeletuk itu menghampiri Jeromy, berdiri berhadapan dengan pandangan mengejek.

“Teman-teman, kita apakan newbie ini?”, ujarnya sementara mulutnya mengunyah permen karet.

“Hyuk, jangan cari masalah..”, teman disampingnya menyikut Hyukjae. Takut karena namja bernama Jeromy bukanlah tampang-tampang orang lemah.

“Hehe, tenang dia pasti tidak mengerti bahasa Korea. Jadi, apa yang membuatmu kemari, pabo4? Jangan-jangan kau tersesat. Perlu kuantar kau pulang ke rumahmu..?”, Hyukjae tertawa puas.

“Khamsahamnida5“, jawabnya dingin.

Hyukjae tertegun. Tak disangkanya Jeromy mengerti apa yang ia ucapkan.

“YYA! Dasar monyet, minggir kau!”, suara tersebut membuat perhatian Hyukjae tertuju pada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.

“Ah, mianhaeyo6, Jeromy. Jangan pedulikan dia”, seketika Donghae melemparkan bola basketnya pada Jeromy dan langsung ditangkapnya dengan baik. “Aku Donghae. Kau, bergabunglah ke dalam timku”.

Sudut mulut Jeromy terangkat.

 

 

Seminggu kemudian..

“Siapa kau?! Apa yang sedang kau lakukan di kelas 3A, hah?!”, pekik seorang gadis berambut keriting yang memergoki seseorang sedang memeluk seragam milik Jeromy.

“A-aku.. ini tadi terjatuh..”, gadis itu tampak ketakutan.

“Aish, aku ini yeojachingu7-nya tahu! Sini, berikan padaku!”, ia menariknya terlalu keras dan justru membuatnya robek.

“Kalian berdua sedang apa? Ribut sekali”, tiba-tiba Donghae dan Jeromy masuk ke dalam kelas, seusai jam pelajaran olahraga. Kelas dalam keadaan kosong dan hanya terdapat dua orang yeoja8 asing di dalam.

“A, Donghae oppa9, Jeromy oppa! Ada penyusup di kelas kalian. Dia, dia..”, ia segera melepaskan seragam yang telah robek tadi. “Gadis itu merobek seragam Jeromy oppa!!”,

“Ani10.. Bukan aku..”, ia langsung menutup mukanya dengan kedua tangan.

“Nara-ya11? Apa yang terjadi?”, tanya Donghae. Tapi belum sempat mendapat jawaban, Nara langsung berlari keluar.

“Tunggu!”, perhatiannya beralih pada gadis berambut keriting yang sedang memandangi Jeromy dengan kagum.

“YA! Kalau kau bilang Nara adalah penyusup, kau sendiri sedang apa disini, hah?”, teriak Donghae kesal.

“A-aku..? Ah, tidak. Aku baru saja mau pergi. Bye Jeromy oppa~!”, kemudian gadis itu pun pergi.

“Baru seminggu disini, kau sudah punya yeojachingu. Ck ck”, ujar Donghae.

“Maksudmu, tadi?”, Jeromy hanya tertawa sinis. “Yang seperti itu.. aku tidak pernah punya”,

Donghae mengelap keringat di lehernya. “Jinjjayo12? Berarti kau beruntung punya guru professional disini..”, lanjutnya, “Kau tidak lihat begitu banyak yeoja yang tergila-gila padamu?”, Donghae merangkul bahu Jeromy dan langsung ditepis olehnya.

“Aku tidak tertarik dengan mereka. Eh, gadis yang kau panggil Nara tadi.. dia pacarmu?”,

Donghae tertawa ringan.

“Dia? Aku dan Nara berteman sejak kecil. Tapi, semenjak SMA, aku jarang bertemu, bahkan ngobrol dengannya. Padahal ia ada di kelas 3C, rumahnya pun hanya berjarak 3 rumah dari rumahku”, kali ini Donghae menghela napas.

“Ia sering sakit-sakitan. Para guru pun juga tahu kalau fisiknya lemah. Bukannya aku sombong, tapi.. perasaanku mengatakan kalau dia itu terlalu introvert alias hidup di dunianya sendiri”,

“Donghae-ya, kau menyukainya?”, tanya Jeromy.

“Aish, kau ini. Aku menganggapnya sebagai dongsaeng13 imut-imut yang harus kujaga. Sudah jangan banyak tanya. Sepertinya kau butuh seragam baru lagi..”.

 

_______________________________________________________________

“Hahaha! Aku kasihan sekali padamu..”, suara tawa itu menyatu bersama hening malam.

“Cih, kau datang cuma untuk mengejekku?”,

“Haha.. Padahal kau ini pangeran iblis. Karena ulahmu sendiri kau jadi dihukum untuk turun ke bumi. Sungguh hina!”,

“Aku bersumpah akan membunuhmu kalau aku berhasil kembali ke Vortress!”,

“Terserah apa katamu. Yang jelas, aku tak sabar melihatmu mati, saat kau gagal menjalankan misimu. Saat musim dingin perlahan berlalu..”,

“Aku akan berhasil mengirim jiwa itu ke neraka, Marcus Cho. Cepat atau lambat”.

________________________________________________________________

 

“Saengil chuka hamnida14..!! Donghae oppa, aku memberimu coklat!”,

“Aku juga membawakanmu bunga, oppa!”,

Donghae dibanjiri hadiah dari para penggilanya karena hari ini adalah hari ulang tahunnya.
“Gumawo15.. Aduh aku jadi bingung di kelilingi yeoja-yeoja cantik..”,

“Kau sama sekali tidak terlihat bingung, Donghae-ya”, ujar Jeromy di belakangnya.

“Ah, Jeromy oppa! Aku juga membawakanmu bekal. Tolong diterima”, salah seorang dari mereka menyodorkan kotak bekal pada Jeromy.

“Sudah, sudah.. kami berdua mau pulang dulu. Sekali lagi, terima kasih atas kejutannya. Hehe..”, ujar Donghae langsung menarik Jeromy untuk segera keluar dari gerombolan para yeoja itu.

Bahkan kalau Donghae tidak mendapat kejutan seperti itu, ia tidak akan ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tiba-tiba saja ia teringat akan seseorang yang juga berulang tahun pada hari ini. Joon Nara.

 

 

Sore itu, Joon Nara menikmati rinai-rinai hujan yang jatuh melalui jendela kamarnya. Angin berhembus lembut menerpa pipinya yang tanpa sadar memerah, karena mengingat kejadian tadi siang di kelas 3A. Jantungnya berdebar tidak karuan, sampai-sampai ia memegangi dadanya dengan takut. Jujur, ia tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Dan ia yakin, bahwa apa yang ia rasakan sekarang menandakan kalau ia tengah jatuh cinta pada seseorang. Dan orang itu, adalah yang ia temui tadi siang.

“Nara-ya?”, terdengar suara eomma16-nya dari luar kamar, membawanya kembali ke dunia nyata. “Kau sudah meminum obatmu?”, tanyanya.

“Sudah eomma..”, jawabnya. Ia melirik meja kecil di samping tempat tidurnya. Bahkan makanannya untuk pun belum ia sentuh, begitu juga obatnya.

“Baiklah kalau begitu. Kau harus keluar Nara.. Ada teman yang datang berkunjung”,

Teman? Padahal selama ini Nara berpikir kalau ia sama sekali tidak punya teman. Terakhir kali dia punya teman waktu kecil, yaitu Donghae. Tapi kenapa seorang Lee Donghae, orang paling populer di sekolahnya itu datang berkunjung, setelah bertahun-tahun seakan menjadi orang asing baginya?

“Baik, eomma. Aku akan segera keluar”.

 

 

“Jeromy-ah.. Kau tahu apa saja yang disukai seorang gadis?”,

Jeromy menanggapi dengan alis saling bertaut. “Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah kau yang paling professional dalam hal menyangkut wanita?”,

“Aish, masalahnya, gadis yang satu ini beda. Aku tidak tahu harus memberinya hadiah apa untuk ulang tahunnya—”,

“Yeojachingu?”,

“Bukan. Sebenarnya.. untuk Nara”, Donghae menerawang jauh.

“Gadis itu? Hm, sepertinya aku tahu. Tapi aku juga tidak tahu ia bakal menyukainya atau tidak”,

“Apa?”, tanya Donghae penasaran.

Jeromy mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. “Ini”,

“Kalung?”,

“Bukan kalung biasa. Ini adalah amulet, dengan batu ruby sebagai matanya”, terangnya. “Merupakan simbol kesehatan yang dipercaya akan memberikan kesehatan bagi siapa yang memakainya”, Jeromy menaruh amulet itu di tangan Donghae.

“Cantik. Kau menjualnya? Pasti ini sangat mahal”,

“Dijual? Bisa dibilang begitu. Tapi bayar saja kalau Nara menyukai kalung itu”, ujar Jeromy terkekeh.

Seulas senyum penuh kepuasan mengiasi wajah namja itu, meninggalkan Donghae yang sibuk mengagumi kecantikan benda itu.

 

 

“Ah, Donghae oppa.. Ada perlu apa..?”, tanyanya setelah melihat Donghae yang sudah menunggu di depan pintu rumah.

“Nara-ya, saengil chuka hamnida! Aku cuma mau memberimu.. ini”, sebuah kotak kecil berwarna putih dan dihiasi pita biru itu, berpindah ke tangan mungil Nara.

“Oppa, aku tidak punya apa-apa untuk kuberikan padamu”, ujar Nara merasa malu.

Perlahan ia membuka kotak kecil itu.

“Oh, indahnya..”, Nara terkagum-kagum. “Gumawo, oppa”,

Donghae tersenyum tipis. “Amulet adalah lambang kesehatan, Nara-ya. Kau pasti langsung sembuh setelah memakainya”, ujar Donghae yakin seraya memakaikannya pada Nara.

“Jeongmal17?”,

“Percaya padaku. Oh iya, aku harap kau mau jalan-jalan ke Lotte World bersamaku minggu pagi besok”,

Nara menundukkan kepala.

“Waeyo18?”,

“Aku tidak yakin, oppa. Aku takut—”,

“Tidak apa-apa Nara-ya. Kau akan baik-baik saja! Ayolah, aku yakin jalan-jalan ke taman bermain tidak berdampak buruk untuk kesehatanmu. Sekali-kali kau harus merasakan angin sejuk di luar sana, okay Nara-ya?”, Donghae mengacak rambut yeoja itu kemudian pergi tanpa perlu mendengarkan jawaban darinya.

 

 

“Kau mau pergi kemana?”,

“Aku mau pergi ke Lotte World bersama teman lamaku, Nara. Apakah eomma masih ingat dengannya?”,

“Oh, Joon Nara?”, eomma-nya melepaskan apron yang dipakainya dan menghampiri Donghae yang sedang mengikat tali sepatunya, bersiap untuk berangkat. Sambil menyentuh pundaknya, “Bersikaplah yang baik dengannya, ya?”,

Donghae kemudian menatap eomma-nya. “Tentu saja, apa maksud eomma?”,

“Kemarin eomma mendengar berita. Setelah dipaksa untuk mengikuti tes kesehatan, Joon Nara di diagnosa memiliki penyakit jantung. Dan..”,

Donghae mengangkat alis. “Dan?”,

“Waktu hidupnya mungkin tinggal beberapa—”,

“Ya sudah, aku berangkat eomma. Aku tak mau dia menungguku lama”, Donghae memotong perkataan eomma-nya dan bergegas menyambar tasnya.

Ia sudah tahu apa kelanjutan dari kalimat itu. Napasnya kini tercekat. Entah kenapa itu begitu menakutkan baginya.

Selama di Lotte World, Donghae dan Nara menikmati banyak sekali wahana-wahana seru, yang belum pernah mereka rasakan. Atau mungkin tak pernah se-seru itu. Dan sepanjang itu, Nara tak pernah sedikit pun menunjukkan kalau dia mengeluh sakit. Bahkan dari sorot matanya, Donghae sangat senang mengetahui kalau Nara benar-benar bahagia menikmati waktunya. Donghae bahkan tak ingat perkataan eomma-nya, kalau hidup Nara akan segera berakhir. Sama sekali tak ingat.

“Gumawo. Jeongmal gumawo, oppa!”, ujar Nara ceria sambil menjilat es krim pelanginya. Bukan. Bukan Joon Nara yang lemah.

“Aku sangat senang jalan-jalan denganmu!”,

Donghae tersenyum. Tak menyadari bahwa di sisi lain, ada seseorang yang juga tersenyum menikmati pertunjukan.

 

 

“Donghae, kau tak apa? Kau pucat”, ujar Jeromy khawatir melihat temannya itu terlihat tidak sehat.

“Tak, apa. Aish, sepertinya aku kecapekan”, ia merebahkan kepalanya di bangku.

“Donghae-ya, kau harus ke UKS. Kajja19, kuantar kau kesana”, Jeromy pun bergegas menuntunnya menuju UKS.

Donghae sendiri tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya. Padahal, ia tahu, kalau dia adalah atlet bola basket yang terus berkutat pada latihan-latihan ekstra keras. Namun kali ini, respon tubuhnya benar-benar diluar dugaan, cuma karena berkeliling seharian di Lotte World. Rasanya tidak masuk akal.

“Aargh!”, Donghae merasakan sakit di dadanya.

“Donghae-ya! Bertahanlah”, dengan susah payah, Jeromy menahan berat badan Donghae seraya membuka pintu UKS. Tak ada siapapun di dalam kecuali mereka berdua.

“Istirahatlah”, ia membantu Donghae berbaring di salah satu ranjang.

“Aaargh, kenapa.. sakit sekali..”, Donghae tanpa henti memukul-mukul dadanya yang terasa amat sakit. Melebihi rasa sakit apapun yang pernah ia rasakan seumur hidup. Ia merasa, jantungnya..

Tiba-tiba Jeromy tertawa terbahak-bahak.

“Ugh, apanya yang lucu..”, kini keringat dingin mengucur dari tubuh pucatnya. Tubuhnya lemas tak berdaya. Kepalanya pun terasa sakit luar biasa.

Tawa Jeromy berhenti. Berganti dengan sebuah senyum. Senyum paling licik.

“Aku sudah bilang padamu. Teman gadismu itu akan sembuh jika memakai amulet itu..”,

“A-a..mulet?”,

“Ia menyukainya, kan? Maka sekarang kau harus membayar sesuai dengan harga amulet itu. Yaitu jiwamu”,

Seketika ruangan itu diselimuti oleh kegelapan. Di ujung penglihatannya, Donghae melihat sosok manusia berpakaian hitam gelap berambut merah, dengan sorot mata bagaikan serigala buas. Mata itu seakan mampu menghisapnya, menuju ke sebuah jurang gelap yang tak berdasar.

“Joon Nara sudah sepenuhnya sembuh dari penyakitnya. Dan kau, akan mati sebagai pengganti Nara..”,

“Arrgh!!”,

“Tentu kau masih punya kesempatan hidup, Donghae-ah. Asal kau bisa mengambil amulet itu dari Nara. Dan gadis itulah yang akan mati. Mudah bukan?”,

“J-jeromy.. Waeyo?..”,

Sekali lagi, namja bernama Kim Jeromy itu tersenyum licik.

“Senang berbisnis denganmu, Lee Donghae”,

Saat itu juga, Donghae merasakan kegelapan itu menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Arhh..”.

 

_______________________________________________________________________

“Jadi ini hasil kerja kerasmu, kakak?”,

“Tch, sudah kuduga. Manusia benar-benar bodoh. Kenapa mereka rela melakukan apapun demi sesuatu yang disebut cinta itu, hah?”,

“Kekeke.. Kau tahu siapa yang paling bodoh disini? Kau. Jeromy Kim”,

“Hahaha! Kenapa? Kenapa?”,

“Jangan pura-pura. Aku bertaruh kau tidak bersedia kembali ke Vortress”,

“Kau tak tahu apa-apa tentangku, Marcus Cho”,

“Tentu saja kau sangat bodoh karena percaya pada hal menjijikkan bernama cinta. HAH! Kau jatuh cinta pada makhluk bernama Joon Nara, kan? Menyedihkan!”,

_________________________________________________________________________

Epilog

(Donghae’s POV)

 

“Donghae oppa, gumawo. Sekarang aku sangat bahagia! Setelah memendam perasaan ini cukup lama, akhirnya aku bisa mengungkapkannya. Jeongmal gumawo, oppa!”, ujar Nara ceria sambil menjilat es krim pelanginya.

Nara..

Aku sudah pernah merasakan kebahagiaan. Dan juga kenangan-kenangan indah..
Aku hanya ingin, kau merasakannya juga, Nara-ya. Apapun untukmu asalkan kau ikut merasakannya. Meskipun pada akhirnya, hatimu sudah menjadi milik Jeromy Kim.

 

END

 

 

 

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: