Eternal Love

large

Eternal Love

By: eternalwhyn

Genre : Sacrificial. Love. Sadness. Mother

Rating : All ages

Cast : Kim Ryeowook, Hwang Hyorin, Park Hwayeong (Hyorin Mother)

Theme Song: Let’s Not – Super Junior

 

***

 

Aku menyusuri jalan ini kembali. Incheon,tempat ini telah banyak berubah, tapi suasananya masih sama seperti 15 tahun yang lalu. Langkah kaki membawaku menuju sebuah bangunan tua yang dihias dengan cat dinding berwarna warni. Teriakan anak-anak kecil yang tengah bermain terdengar di beberapa tempat. Aku menarik nafas panjang.

“Tuan… tolong lemparkan bolanya pada kami”

Teriakan beberapa anak laki-laki menghentikan lamunanku bersama datangnya sebuah bola yang samapai di kakiku. Kemudian aku tersenyum dan melemparkan kembali bola tersebut ke arah mereka.

Aku kembali asik dengan pikiranku sendiri, melihat keadaan tempat itu. Tempat dimana aku mengukir berjuta kenangan manis masa kecil bersama sepasang kakak beradik. Aku terpana melihat sebuah pohon beringin. Pohon itu masih disana, aku langkahkan kaki ku mendekati pohon itu dan tersenyum tanda inisal nama kami yang dulu kami buat masih ada disana, YJ, RW, dan HR.

Sebuah denting piano dari sebuah sudut ruangan kini juga mengalihkan lamunanku. Ruang musik, dulu kami juga sering bermain disana. Aku menghampiri tempat itu. Alunan piano itu semakin terdengar jelas ditelingaku, bahkan semakin jelas aku mendengar ada suara seseorang juga bernyanyi. Aku melihat seorang seorang gadis duduk di depan piano dalam ruangan tersebut, wajahnya sendu. Lagu Scientist milik Coldplay sukses gadis itu mainkan dengan sempurna. Suara indah dari gadis sangat menyatu dengan alunan musik piano yang dia mainkan. Dengan hati-hati aku mendekat kearahnya agar tak mengganggu aktifitas gadis itu. Tapi bodohnya tanganku justru menyenggol vas bunga yang berada tepat disampingku. Suara gaduh yang aku timbulkan sukses membuat gadis itu menghentikan aktifitasnya.

“Siapa itu?” kata gadis itu kaget

“Ah,,,Choesonghamnida”

“Ah…Choesonghamnida,Tuan.. Suara piano yang ku mainkan sangat menggangu” aku melihat gadis itu menundukkan kepalanya

“Ah… Tidak sama sekali. Permainanmu sangat bagus dan maaf jika kehadiranku menganggu mu,Nona”

Diam. Sunyi. Aku membenci kebodohanku yang merusak suasana hatinya yang sedang memaikan piano. Ayolah Katakan sesuatu.

“Tuan,,bisakah kau memberi tahuku jam berapa sekarang??” bagus!! Dia berbicara lagi padaku

“ah.. Jam 2,Nona”

“Terimakasih. Ternyata aku sudah terlalu lama di tempat ini. Aku harus pergi.” Gadis itu membungkukkan tubuhnya dan meraih tasnya. aku terpana saat gadis itu meraih dan mengenggam sebuah tongkat di tangannya. Ya, gadis itu buta. Gadis itu lalu melangkah menuju pintu dan meninggalkanku yang masih terpaku di tempatku berdiri.

“Annyeonghaseyo” suara serang wanita paruh baya mengagetkanku

“Ah.. Annyeonghaseyo Nyonya Lee. Lama tak bertemu”

“Kau?? Bukankah kau Ryeowook?? Aigoo.. sudah lama sekali Anda tak berkunjung kemari. Apa yang membawa Anda kembali??”

“Saya rindu suasana panti, karena mendapat kesempatan berlibur, jadi saya sengaja berkunjung kemari”

“Aigoo… seorang yang memiliki kesibukan yang sangat padat masih menyempatkan diri mengunjungi panti kami” nyonya kepala panti menepuk pundakku

“Saya juga dibesarkan di tempat ini,Nyonya. Jadi saya sudah menganggap ini rumah saya juga”

“Ah.. benar, meski Ryeowook memiliki keluarga yang utuh dan orang tua kandung, kau selalu datang kemari untuk bermain”

“Ne.. karena saya anak tunggal, saya sering merasa kesepian, saya sering bermain disini karena disini saya punya banyak teman bermain”

“Nyonya, Bagaimana keadaan Yongjae dan Hyorin??”

“Ah.. kedua kakak beradik itu, benar-benar anak yang malang”

“Apa terjadi sesuatu pada mereka? Dimana mereka sekarang?“

“Karena Yongjae telah meninggal dunia 5 tahun setelah kau pindah dari sini. Dan karena kecelakaan itu juga Hyorin kehilangan penglihatannya.”

Sambil duduk di sebuah bangku di dekat ruang musik, Nyonya Kepala Panti menceritakan apa yang terjadi pada kakak beradik tersebut.

“Setelah Kakaknya meninggal dunia, Hyorin tinggal bersama ibu kandungnya yang dulu pergi meninggalkan mereka, kini Hyorin dan ibunya juga tinggal tak jauh dari sini. Tapi yang aku dengar hubungannya dan Ibunya tak begitu baik. Dia menjadi sangat tertutup setelah kecelakaan itu. Tapi Hyorin juga masih sangat sering datang kemari, sekedar menemani anak-anak bermain dan juga menghibur anak-anak bernyanyi dan bermain musik. Tadi dia juga kemari. Apa kalian tak bertemu satu sama lain”

Aku terdiam, jantungku berderup kencang. Jadi gadis yang bertemu denganku di ruang musik tadi,mungkinkah…..

***

 

Hari kedua aku mengunjungi panti. Berharap aku dapat bertemu lagi dengan Hyorin kembali.

“Araseo,Eommonie. Aku tak akan terlambat pulang ke rumah nanti.” Suara seorang gadis dari depan pintu halaman Panti

“Aku akan menjemputmu nanti” kata wanita setengah baya yang berada tepat di samping gadis itu dan memegang tangan gadis itu tepat sebelum gadis itu melangkah memasuki halaman Panti

“Tak usah,Eommonie. Aku bisa pulang sendiri” Gadis itu menepis tangan ibunya dan melanjutkan langkahnya yang di bantu oleh sebuah tongkat di tangannya

Sang ibu menatap gadis itu dengan perasaan sedih. Dan melangkah meninggalkan panti dengan mata yang masih menatap ke arah puterinya yang melangkah memasuki panti.

Bruk! Barang-barang yang wanita itu bawa terjatuh saat ada pemuda yang menubruknya

“ah.. Choesonghamnida” kata wanita itu

“aish… Ya.. Ahjjuma!! Tak bisakah kau memperhatikan jalanmu” maki pemuda itu. Dasar tidak sopan, usia pemuda itu sepertinya lebih muda dariku tapi bagaimana mungkin dia memaki seorang yang lebih  tua,meski Ahjjumma itu yang salah karena tidak memperhatikan jalannya.

“Eommonie,,gwaenchanayo??” aku menghampiri wanita itu dan membantunya membereskan barang-barangnya yang jatuh berantakan

“Ne.. gwaenchanayo Anak muda. Gamshahamnida. Maaf merepotkanmu”

“Animida,Eommonie.. Ini.” Aku menyerahkan barang-barangnya yang terjatuh tadi.

“Gamshahamnida,Anak muda” kata wanita itu tersenyum. Aku membungkukkan badan dan wanita itu berbalik untuk melanjutkan jalannya.

“Eommonie… Apa kau ibunya Hyorin dan Yongjae??” kataku hati-hati. Wanita itu menghentikan langkahnya dan kembali berbalik ke arahku.

“Anak muda,,kau mengenal anak-anakku??”

“Ne”

Aku bertanya tetang apa yang terjadi pada Yongjae dan Hyorin selama belasan tahun ini. Wanita itu menceritakan semuanya dengan penuh air mata

“Aku yang bersalah, Aku bersalah dahulu meninggalkan mereka begitu saja seperti itu. Sudah sepantasnya Hyorin sangat membenciku seperti ini. Aku pantas mendapatkannya” ucapnya lirih

“Eommonie” Aku manahan air mataku yang hampir jatuh. Iba mendengar apa yang dialami oleh keluarga mereka.

“Ryeowook~ah.. aku mohon tolong jaga Hyorin kami. Karena sekarang mungkin hanya kau yang dia harapkan setelah Kakaknya meninggal. Selama 5 tahun ini, aku sering melihatnya menangis di makam Kakaknya dan menyebut namamu saat bercerita di pusara Kakaknya. Hanya kau yang dia miliki.”

“Animida,Eommonie. Hyorin masih memilikimu sebagai Ibu kandungnya. Mungkin hanya soal waktu sampai dia bisa menerimamu kembali. Dan kita masih bisa sama-sama menjaga Hyorin sampai kapanpun.”

Selesai bertukar cerita dengan Nyonya Park aku kembali ke Panti. Ruang Musik, Hyorin masih disana bermain dengan pianonya. Kali ini bukan Scientist Coldplay lagi yang dia mainkan musik ceria mengalun di seisi ruangan, karena ada beberapa anak kecil yang juga bersamanya. Sebuah senyum kini nampak di wajah gadis itu, Senyum yang mungkin hilang bersama luka hati yang dialaminya. Senyum yang pergi karena kesidihan yang datang di kehidupannya. Senyum yang pernah aku lihat 10 tahun lalu. Senyum yang mungkin selama ini aku rindukan. Senyum dari seorang gadis yang mengisi sebuah bagian dalam hatiku. Bukan sebagai teman, bukan sebagai sahabat, juga bukan sebagai adik.

“Tuan,,apa yang kau lakukan di pintu seperti itu?” suara seorang gadis kecil kembali membuyarkan lamunanku

“Ah… aku sedang mendengarkan kalian bernyanyi” jawabku tersenyum padanya

“Mengapa kau tak bergabung saja bersama kami??” kata gadis itu lagi

“Bolehkah aku ikut bergabung??” aku berkata pada mereka semua.

“Tentu saja,Tuan” suara riuh anak-anak itu semakin ramai. Dan beberapa anak dari mereka kemudian menarikku bergabung untuk bersama mereka. Kenangan masa kecil ku yang indah kini bisa aku rasakan kembali. Entah mengapa aku merasa bahagia saat ini.

“Permainan pianomu sangat bagus” kataku pada gadis yang berdiri di tepi jalan tepat di depan panti asauhan.

“Ah… rupanya kau,,Tuan” katanya

“Ah.. kau mengenaliku rupanya”

“wae??? Sejak aku tak bisa melihat, Tuhan memberi anugrah pendengaran yang sangat baik padaku” katanya sambil tersenyum

“ah.. mianhaeyo…”

“Tidak apa,Tuan.. Aku menerima keadaanku sekarang, meski terkadang aku rindu melihat indahnya dunia. Tapi impianku mungkin tidak akan pernah terwujud karena aku hanya bisa melihat dengan melakukan donor mata, dan donor mata hanya bisa dilakukan jika orang yang jadi pendonor meninggal dunia.” katanya lagi sambil tersenyum, benar-benar gadis yang luar biasa.

“Sepertinya kau sering datang kemari,Nona. Kemarin kau juga datang untuk bermain piano”

“Karena hanya tempat ini yang bisa membuatku merasa nyaman dan tenang. Sekaligus bisa mengingat terus mereka”

“mereka??”

“Kakakku” katanya melemah.

“benarkah?? Pasti mereka sangat mahir bermain piano juga”

“Tentu. Usianya lebih tua 3 tahun dariku. Selain kami berdua, kakaku juga memiliki teman yang sangat dekat dengan kami. Kami bertiga sama-sama mencintai musik. Dan tumbuh bersama di panti asuhan ini.”

“Lalu dimana mereka sekarang??”

“Kakakku telah meninggal dunia 5 tahun yang lalu”

“ah.. maafkan aku,Nona”

“Sudahlah. Itu hanya cerita masa laluku,Tuan” katanya tersenyum

“Aigoo.. mengapa kau terus memanggilku,Tuan?? Usiaku masih 26 tahun,Nona”

“Benarkah?? Jika Yongjae Oppa masih hidup usianya pasti sama denganmu”

“Benarkah?? Kalau begitu kau bisa memanggilku Oppa jika kau mau. Lagipula Oppa terdengar labih santai, mendengarmu memanggiku Tuan aku sepertinya terlihat sangat tua.” Kataku tertawa

“keureom,,Oppa. Namaku Hyorin” katanya tersenyum

“Aku tau”

‘Bagaimana mungkin kau mengetahui namaku??’

“Aku mendengar Anak-anak panti itu memanggilmu Hyorin Noonna dan Hyorin Eonnie”

“baiklah,Oppa Aku harus pergi”

“baiklah. Tapi apa Kau akan datang lagi besok??”

“Tentu saja. Sampai bertemu lagi”

Aku memandangi punggung gadis itu yang beranjak meninggakan tempat ini. Ku lihat dia berdiri di tepi jalan, menunggu waktu yang tepat untuk menyebrang jalan.

Suara keras benda bertubrukan dari tempat Hyorin berdiri tiba-tiba mengalihkanku . Kecelakan itu terjadi begitu cepat di depan mataku. Dengan cepat tempat tersebut menjadi ramai. Aku melihat Hyorin disana, tubuhnya tersungkur dengan wajah dipenuhi darah. Tak percaya dengan apa yang ku lihat, Aku berteriak memanggil namanya tapi dia tak menjawabku.

***

 

“Hyorin~ah kau sudah sadar?? Kau bisa mendengar suaraku??” aku memanggil namanya

“Kepalaku sakit” kata gadis itu

“Nona Hyorin, bukalah matamu” kata Dokter yang juga berada di samping kami

“Dimana aku??”

“Ini Rumah Sakit” jawabku

“Nona,, apa kau bisa melihat cahaya?? Apa kau bisa melihat kami??” kata Dokter itu

“Aku bisa melihat cahaya” katanya

Aku bersyukur karena hal ini. Berterima kasih pada Tuhan, karena tak terjadi hal yang buruk pada gadis itu.

***

 

“Bagaimana keadaanmu sekarang??’ Aku bertanya pada gadis itu. Duduk bersama di taman Rumah Sakit

“Jauh lebih baik. Dan banyak bersyukur, karena Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat dunia ini lagi”

“Aku juga begitu”

“Dan Oppa, terima kasih sudah menjagaku. Selama aku di Rumah Sakit”

“Bukan masalah,Hyorin~ah. Lalu apa rencana mu setelah ini??”

“Aku ingin berterima kasih orang yang telah mendonorkan matanya padaku. Aku berfikir siapa yang mendonorkan mata untukku? Orang tersebut selama hidupnya pasti orang sangat baik. Jadi aku ingin mengucapkan terima kasih pada keluarganya. Mungkin aku akan menemui keluarga mereka nanti. Ah,,dan juga aku merindukan Ibuku. Oppa,apa Ibuku semalam datang saat aku tidur lagi??”

“Ne..” jawabku sambil menggigit bibirku

Aku tak tahu apa yang harus aku katakan pada Hyorin. Nyonya Park Hwayeong,Ibu Hyorin telah meninggal dunia.Kecelakaan yang dialami Hyorin itu juga merenggut telah merenggut nyawa Ibunya yang saat itu mencoba menyelamatkan puterinya. Dan juga Nyonya Park merupakan orang yang menjadi pendonor mata untuk Hyorin, orang yang membuat Hyorin dapat melihat lagi adalah Ibunya sendiri

“Hyorin~ah.. Ibumu menitipkan sesuatu untukmu”

“Benarkah?? Apa itu??”

Aku menyodorkan benda itu pada gadis itu. Sepucuk surat yang diberikan polisi padaku. Surat itu di temukan dalam tas yang dibawa Nyonya Hwayeong saat kecelakaan itu terjadi.

Dengan hati-hati Hyorin membuka amplop itu. Dan mulai membacanya. Aku melihat raut wajah gadis itu berubah.Dia terlihat sangat terpukul. Lembaran surat itu hampir jatuh dari tangannya. Aku meraih surat tersebut. Aku terkejut membaca surat tersebut.

 

Hyorin~ah… Puteriku tercinta Hyorin

Ibu sangat bersyukur kau bisa membaca surat ini, karena saat kau membaca surat ini berararti kau sudah dapat melihat kembali. Selamat,Hyorin~ah.. kau bisa kembali melihat kembali indahnya dunia yang selama ini kau rindukan

Satu-satunya yang kumiliki di dunia ini hanya kau,Hyorin~ah. Aku menyayangimu lebih dari apapun didunia ini. Meninggalkan mu dan Yongjae bertahun-tahun lalu merupakan dosa besar yang telah aku lakukan dalam hidupku. Entah bagaimana caranya agar aku bisa menebusnya. Aku menyesali semuanya. Kepergian Yongjae, melihat keadaan mu yang seperti ini membuatku semakin membenci diriku. Ibu macam apa diriku?? Aku telah gagal menjadi seorang Ibu. Karena itu aku minta maaf padamu, aku bersalah pada kau dan Yongjae.

Kepergian Yongjae semakin membuatku bertekad aku harus menjagamu dengan baik.. Aku tak bisa kehilanganmu. Melihat keadaaanmu yang tak bisa melihat, aku semakin merasa sedih. Hatiku hancur melihat puteriku menderita seperti ini.

Aku terus berfikir, apa ini karma yang diberikan Tuhan padaku.

Karena itu aku bertekad bagaimanapun caranya aku harus membuatmu bahagia. Karenanya aku melakukan pendaftaran untuk jadi pendonor mata. Aku berharap dengan mendonorkan mata sebagai rasa syukur ku pada Tuhan. Kelak saat aku meninggal dunia nanti, aku ingin bisa memberi kebahagiaan pada orang yang tak beruntung karena tak bisa melihat dunia.Aku ingin melakukan satu kali kebaikan di akhir sisa hidupku. Aku berdoa pada Tuhan, berharap kau bisa memaafkan Ibumu yang tak berguna ini. Maafkan aku.

Aku menulis surat ini setelah aku mendaftarkan diriku menjadi pendonor mata. Entah kapan kau bisa membacanya. Tapi aku sangat takut, karena mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tidak ada disampingmu lagi.

Aku selalu berdo’a pada Tuhan, aku berharap setelah aku pergi kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu. Jaga dirimu baik-baik. Hiduplah dengan baik,Hyorin~ah. Memilikimu dan Yongjae dalam hidupku adalah sebuah Anugrah Terindah dari Tuhan. Terimakasih karena kau dilahirkan sebagai anakku. Maafkan aku karena tak bisa menjadi Ibu yang baik, yang tak bisa menjagamu dan Yongjae dengan baik. Di kehidupan yang akan datang aku harap kau bisa tetap terlahir sebagai anakku dan aku berjanji akan menjaga kalian dengan baik di sepanjang hidupku.

Yang selalu mencintaimu,Eomma

 

Jadi ini maksud Nyonya Park. Mungkin sejak awal dia sudah memiliki firasat waktu hidupnya tidak akan lama lagi, karena itu dia memintaku menjaga puterinya saat itu.

“Hyorin~ah.. sebenarnya Ibumu telah meninggal dunia. Kecelakaan yang kau alami saat itu,,Ibumu yang menyelamatkamu. Maafkan aku menyembunyikan hal ini. Dan juga,,orang yang mendonorkan mata untukmu adalah ibumu sendiri”

“Kau bohong padaku! Ini tak mungkin terjadi. Ibuku masih hidup kan??” airmata turun dari mata gadis itu

“Hyorin~ah” aku meraih pundaknya

“Oppa, Katakan apa yang kau katakan ini adalah bohong”

“mianhaeyo”

“andwaeeeeee” tangis gadis itu benar-benar pecah kini. Berteriak memanggil Ibunya.

aku hanya bisa memeluknya dengan erat. Gadis itu sangat terpukul dengan apa yang dialaminya. Dia sangat rapuh.

***

 

 

“Hyorin~ah ada yang ingin aku bicarakan denganmu”

“Na do,Oppa”

“Baiklah kau yang bicara lebih dulu”

“Oppa, sejak mengenalmu. Aku belum mengetahui siapa namamu.Kau menyebalkan, mengapa kau menyembunyikan identitasmu. Aku kan juga ingin…..”

“Ryeowook” aku memotong perkataanya. Apa yang dia tanyakannya ternyata sama dengan apa yang akan aku bicarakan dengannya. Aku memang harus mengatakan siapa diriku.

“ne??” gadis itu bertanya dengan raut wajah terkejut

“Ryeowook. Namaku Kim Ryeowook” aku berkata dan menatapnya

“Benarkah kau Ryeowook yang…’

“Ne”

“Nappeun!!! Mengapa kau membohongiku?? Aku membencimu!!” dia memukulku dengan tangannya. Aku menggenggam tangannya

“Hyorin~ah,, aku ingin memberitahumu dari awal. Tapi apa yang terjadi selama beberapa hari ini membuatku semakin sulit mengatakannnya. Kecelakaan yang kau alami, aku tak mungkin mengatakan ini saat kau sedang sedih karena kepergian ibumu. Aku tak mungkin melakukannya, aku tak ingn membuatmu semakin merasa sedih”

“Nan Arayo,Oppa” dia menatapku.

“ne???”

“sebenarnya aku juga sudah tau siapa dirimu. Nyonya Lee yang mengatakannnya padaku saat dia dan beberapa anak di panti datang menjengukku tempo hari” katanya tersenyum, lalu memelukku

“Oppa, Terimakasih karena kau sudah menjagaku. Kau seperti malaikat yang dikirim Tuhan untukku”

***

 

 

“Eommonie,,Aku datang.” Kata Hyorin datar.

“Apa kau baik-baik saja di sana?? Aku harap Yongjae Oppa menjagamu dengan baik disana seperti dia menjagaku selama kau pergi meninggalkan kami” Mata Hyorin semakin berkaca-kaca

“Eommonie.. Choesonghamnida.. Maaf aku, karena sikapku yang buruk selama kita bersama. Sungguh,, Aku menyayangimu. Aku hanya tak bisa mengungkapkan itu. Aku terlalu egois.”

“Eommonie,,jika harus memilih. Aku lebih memilih untuk menjadi buta seumur hidupku daripada aku harus menukarnya dengan hidupmu. Aku ingin bersamamu lebih lama, dan menunjukan bahwa aku menyayangimu,Eommonie.” Air mata gadis itu kini jatuh

“Eommonie.. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih karena kau sudah menjagaku. Dan terimakasih berkat kau aku bisa melihat dunia kembali. Aku janji akan hidup dengan baik dan melihat indahnya dunia dengan matamu. Tak usah mengkhawatirkan aku karena sekarang ada yang menjagaku” Gadis itu menatap kearahku kemudian tersenyum

“Eommonie,,aku bahagia menjadi puterimu. Aku juga berharap di kehidupan yang akan datang aku tetap terlahir sebagai puterimu”

Gadis itu meletakkkan bunga lili putih di atas makam mendiang ibunya. Aku menatap ke arahnya.

“Eommonie,,annyeonghaseyo.. aku Kim Ryeowook. Aku akan menjaga Hyorin seperti apa yang kau minta padaku. Aku akan menjaganya dengan baik. Yongjae~ah,,adikmu sekarang bersamaku aku juga akan menjaganya seperti kau melindunginya. Aku berjanji akan membuat Hyorin bahagia. Jadi aku harap Kau dan Eommonie bisa menerimaku” kataku sambil meletakkan bunga yang sama di makam yang berada tepat di samping makam Nyonya Park.

Aku memeluk pundak Hyorin dan tersenyum padanya. Sekarang aku mengerti, takdir membawaku kembali ke Incheon. Bertemu dengan Hyorin dan Ibunya, membuatku mengerti apa arti pengorbanan. Dan mengerti arti cinta abadi, cinta abadi yang diberikan oleh Ibu pada anaknya. Terimakasih Tuhan.

“Hyorin~ah.. aku akan membuatmu bahagia” ucapku dalam hati

 

-THE END-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: