Fitting

fitting

.

IJaggys

Related Story: Reservation

.

I’m somewhere between cloud nine and fuck.

.

250px-Parental_Advisory_label.svg

.

.

.

“My boyfriend finally gave up and agreed with me when I said I’m fine—don’t call me.”

Kim Ryewook menatap Bos-nya dengan tertarik. Wanita sinting itu memiliki seorang kekasih? Bukankah setahunya Cheonsa hanya akan menjalin hubungan dengan pria yang bisa memberikannya handbag dari Chanel setiap bulannya?

“Men will eventually agree with you if you nag them long enough.” Lanjutnya sambil menaikan kakinya ke meja kaca yang berisi sketsa kasar tentang desain jas milik klien-kliennya. Jika Savile Row tahu apa yang dilakukan designer terbaik mereka di ruangan kerja yang mewah itu, mungkin Savile Row akan berpikir dua kali untuk tetap memperkerjakannya.

“Kau memiliki seorang kekasih? Aku berharap kekasihmu tidak berusia di atas 60 tahun, atau pria yang telah memiliki seorang istri. Kau tahu, itu memang kemampuanmu?”

Mendengar sindiran halus dari asisten tersayangnya itu membuat Cheonsa tertawa sarkastik sebelum mengumpat kasar.

“Kekasihku–dia sangat sempurna. Tampan, atletis, memiliki perusahaannya sendiri, dan yang terpenting dia hebat di atas ranjang.” Cheonsa kembali membayangkan pengalaman pertamanya dengan Donghae.

Pria itu menghubunginya dalam hitungan detik, dia membuat reservasi di sebuah hotel mewah, menjemputnya dengan mobil sport seri satu dan yang terpenting–Lee Donghae masih beraroma Jo Malone.

I fell in love with his eyes, and the way he looked at me as though I was a different kind of light.” 

Melihat Bos-nya sudah kembali berlaku tak waras, membuat dia harus bersiap mendapatkan komplain dari klien yang mempermasalahkan apakah designer mereka tengah mabuk atau memang sifat aslinya seperti itu.

“Be frank with me, its just a great sex—you’re not in love with him.” Selain menjadi asisten dan tempat pelampiasannya menyalurkan emosi, Ryewook memang mengenal karakter Han Cheonsa lebih dari apapun. Dia tahu apa yang wanita itu sukai dan apa yang tidak.

“Yeah, you’re right. It’s just a great sex—but we can still try to find out. I mean I know he’s nice and decent looking, but its me we’re talking about here.“ 

Lebih dari merasa bersalah, dia merasa seperti wanita jahat—jangan ucapkan kata brengsek, karena itu memang telah menjadi nama tengahnya. Setelah kencan pertama mereka yang berlangsung fantastis, Cheonsa belum bertemu lagi dengan Donghae—dia menghindari pria itu.

“Ya, seharusnya kau bilang kepada pria malang itu—bahwa kau hanya wanita jahat yang takut pada komitmen. Apa dia tahu kau menyebut dia sebagai kekasihmu, walaupun kau menolak pernyataan cintanya?”

Cheonsa tersenyum tak perduli mendengar analisis dari Ryewook. Cita-citanya memang menikahi pengusaha tampan seperti Donghae. Tapi tidak usah terburu-buru, dia masih memiliki hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan seperti—koleksi Chanel musim ini.

“Oh iya, sebentar lagi kau memiliki jadwal fitting dengan seorang klien. Setelah itu kau tidak memiliki jadwal apapun, berterima kasihlah kepadaku karena telah mengosongkan jadwalmu agar kau bisa berburu Chanel sepuasnya.” Ryewook memang yang terbaik, tanpa Ryewook mungkin dia telah keluar dari Savile Row.

Cheonsa kembali menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya yang nyaman, dia sibuk menatap layar ponselnya—memilih produk Chanel mana yang harus dia beli di bulan ini. Bunyi derit pintu tidak berhasil mengalihkan pandangannya dari layar ponsel sebelum sebuah suara yang familiar menyapanya dalam intonasi yang rendah, namun mematikan.

“Han fucking Cheonsa.”

Cheonsa membanting ponselnya dengan terkejut setelah melihat Lee Donghae—pria sempurna calon suaminya—ralat, pria sempurna calon Ayah dari anak-anaknya kini menatapnya dengan geram.

Genap sudah dua minggu dia berusaha menghubungi wanita jahat itu, dan Cheonsa mengabaikannya. Kini tidak ada alasan lagi untuk Cheonsa menghindar darinya, terimakasih Savile Row.

“Surprise!” sejujurnya dialah yang terkejut, mengutuk dirinya sendiri mengapa dia tidak menanyakan nama klien yang akan fitting hari ini kepada Ryewook.

“Apa kau mempermainkanku? Apa aku melakukan kesalahan di kencan pertama kita? Apa aku tidak bisa memuaskanmu?” pertanyaan yang terakhir jelas tidak terjadi. Donghae adalah epitome kesempurnaan, dan dia adalah pemain yang handal—hitung juga aroma tubuh Jo Malone-nya.

“Aku tidak bisa membicarakan masalah pribadi di kantor—kau tahu, Savile Row—mereka memiliki regulasi yang ketat bahwa designer tidak boleh menjalin hubungan dengan kliennya.” Sebenarnya itu hanya alasannya saja agar Donghae tidak memojokannya dengan semua pertanyaan itu.

Donghae terlihat semakin kesal, tapi dia berusaha tidak menunjukannya. Hanya dengan melihat wajah indah itu, kekesalannya telah menguap entah kemana.

“Baiklah, kita akan memulai sesi fitting. Suit milikmu ada di atas sofa, kau bisa berganti di fitting room yang berada di ujung sana.” Cheonsa menunjuk pintu berwarna coklat yang berada di ujung ruang kerjanya, tapi Donghae tidak bergeming—dia hanya menatap Cheonsa dengan dalam.

“Aku akan mencobanya disini.” Donghae menarik suit miliknya dengan kasar, jelas dia masih geram dengan prilaku Cheonsa yang mempermainkannya begitu saja.

“Maksudmu?” dia lebih tahu apa jawaban dari pertanyaannya sendiri, dia hanya memastikan apa Donghae benar-benar akan melucuti pakaiannya di depan matanya—dan karena tubuh atletis Donghae adalah kelemahan terbesarnya.

Sial, sepertinya dia tahu apa yang di inginkan Lee Donghae.

Donghae akan menguji batas kesabarannya, dan akhirnya dialah satu-satunya orang yang akan memohon kepada Donghae untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Sungguh Lee Fucking Donghae.

“Sebenarnya itu melanggar peraturan perusahaan.” Dia akan melakukan apapun agar Donghae tidak membuka bajunya disini. Tapi Donghae sepertinya telah berubah menjadi musang yang pandai.

“Benarkah? Apa Savile Row akan mengusir klien yang telah membayar harga yang sangat mahal, hanya karena dia tidak ingin melakukan fitting di ruangan yang telah ditentukan?”

Benar-benar pria yang pandai bersilat lidah.

“You can do whatever you please.” Perang dingin telah dimulai, Donghae tersenyum puas ketika melihat Cheonsa duduk di satu sofa dengan salinan file klien miliknya yang telah berada di tangannya.

Donghae memulainya dengan sangat sederhana, dia membuka jas hitamnya—kemeja putih yang membingkai tubuh atletisnya. Lalu dia mulai membuka kancingnya satu persatu, perlahan tapi pasti.

Aroma Jo Malone mulai tercium di udara, dan kini Donghae melepas kemeja putihnya, lalu menaruhnya tepat disamping Cheonsa. Sungguh penggoda.

Cheonsa menatap tubuh indah Donghae yang kini terekspos sempurna. Dia memikirkan betapa bodohnya dia mengabaikan pahatan sempurna dari Tuhan ini, dia bahkan tidak ingat betapa dia merindukan Donghae setelah melihat tatapan teduh itu menatapnya dengan intense.

“Fuck.”

Itu adalah kata-kata yang diucapkannya secara tidak sadar. Donghae menghentikan kegiatannya, tangannya berhenti membuka belt hitam yang berada di celananya.

“Apa yang kau katakan?”

Dia tahu Donghae telah mendengarnya dengan jelas, pria itu hanya senang melihatnya menderita karena egonya sendiri.

“Fuck you.” Cheonsa mengucapkannya tetap dengan mata yang terpatri ke tubuh Donghae. Dia tidak akan menyia-nyiakan pemandangan indah itu.

Donghae berjalan mendekat ke arah sofa itu, matanya menatap wajah Cheonsa dengan intense. Dia hampir dibuat gila karena Cheonsa terus mengabaikannya, membuatnya berpikir apa yang telah diperbuatnya sehingga wanita itu tidak mengingkannya lagi.

Donghae menyentuh wajah Cheonsa dengan perlahan, dia mengusap lembut bibir Cheonsa dengan ujung jarinya. Menggoda wanita itu hingga ke titik terakhir. Dia mendekatkan wajahnya, sebelum berbisik lembut ke telinga Cheonsa.

“How about fuck me?” 

Setelah kata-kata itu terucap, Cheonsa dengan sigap memutar posisi mereka sehingga kini Cheonsa berada diatas pangkuannya. Posisi favoritnya. Cheonsa mencium bibir Donghae dengan kasar, dan terburu-buru.

“God, you such a fucking tease. What would I do without you?” 

Donghae tertawa mendengar ucapan Cheonsa. Dia merengkuh Cheonsa ke dalam pelukannya, dan mencium bibirnya dengan lembut. Tidak usah terburu-buru Han Cheonsa adalah miliknya.

“Aku tidak bisa melakukan ini. Kau tahu, aku tidak bisa berkomitmen—semuanya menjadi sulit. Aku tidak ingin menyakitimu.” Cheonsa melepaskan pelukan mereka, dia menatap Donghae tepat di manik matanya, tanpa memperdulikan bahwa kini Donghae bertelanjang dada—dan Cheonsa berada diatas tubuhnya.

“Apakah itu alasanmu menghindariku? Apa kau benar-benar hanya mempermainkanku?” dilihat darimanapun Cheonsa memang terlihat seperti wanita terbuka dengan senyuman flirtatious-nya.

“Oh, awalnya memang seperti itu. Tapi kau terlihat seperti seseorang yang aku bayangkan untuk menjadi Ayah dari anak-anaku dimasa depan, dan untuk beberapa saat bayangan itu membuatku takut.”

Donghae hanya tersenyum. Senyuman luarbiasa indahnya seperti yang dia tunjukan saat pertama kali mereka bertemu. Jadi sekarang, siapa yang sebenarnya penggoda disini?

“Sebenarnya kau adalah wanita pertama yang membuatku membayangkan seperti apa keluarga kecilku nanti dimasa depan. Dan untuk beberapa saat itu juga membuatku takut—tapi—“

“Sebentar, kau tidak bermaksud melamarku dalam kondisi seperti ini bukan? Karena aku akan menolakmu jika aku mendengar apapun yang berhubungan dengan pernikahan. Because I’m somewhere between cloud nine and fuck.

Mereka bisa menjalani hubungan mereka tanpa perlu terburu-buru, mereka masih bisa menikmati banyak hal bersama—bukankah itu indahnya hidup?

“Tentu tidak. Mungkin nanti, ketika kau sudah siap—dan ketika aku telah menguasai seluruh trik kebohonganmu.”

Cheonsa memutarkan bola matanya dengan tidak perduli. Dia memiliki 1001 trik untuk berbohong, Donghae membutuhkan sekiranya puluhan tahun untuk mengetahui semuanya.

“Jadi bagaimana jika kita menjalani apa yang kita miliki sekarang? Aku tidak akan memaksamu jika semuanya tidak berhasil, tapi aku akan berjuang agar tetap membuatmu tergila-gila dengan tubuhku—bukankah itu satu-satunya cara untuk mendapatkanmu?”

Cheonsa tersenyum tanpa rasa bersalah, Donghae telah mengetahui kelemahannya—dan dia sempurna. Apalagi yang diinginkannya dari seorang Lee Donghae?

Oh, dia tahu apa yang diinginkannya.

Cheonsa tersenyum nakal dengan satu tangan melepas pakaiannya, Donghae menatap semua itu dengan tertarik—tapi belum sempat Donghae berkata, Cheonsa sudah menarik tangannya menuju pintu fitting room.

“Bagaimana jika kita memulai sesi fitting yang sebenarnya?” bisiknya dengan suara rendahnya yang menggoda, lalu dalam hitungan detik Han Cheonsa tengah mencium bibir Lee Donghae dengan lembut—dan mendorong tubuhnya masuk ke dalam ruangan itu, sebelum pintu itu tertutup dalam satu gerakan.

Oh, sungguh Han Cheonsa adalah hal terbaik yang pernah terjadi di dalam kehidupannya.

What every man wants is a lady by day and a sexual goddess by night, but for Han Cheonsa—she can do both.

 .

.

.

 

-fin-

.

.

.

HEHE lanjutannya nih, soalnya banyak yang kangen dengan HCS x LDH. Gemas emang mereka. Anyway, please drop a comment to support author works xo.

 

Personal Blog: What’s The Story Morning

xo

IJaggys

2 Comments (+add yours?)

  1. missrumii
    Oct 31, 2016 @ 10:44:04

    Author ngga tertarik buat bikin NC? Eheheh

    Reply

  2. ayumeilina
    Nov 01, 2016 @ 09:51:22

    Ngakak.
    Ini romantis manis2 gitu. Tapi gak tau knp malah ketawa bacanya 😂
    Akhirnya tergoda juga kan. Sia2 donk berminggu-minggu cuek bebek. Haha Han fucking Cheonsa 😂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: