Last Song [3-END]

grunge-flowers-aesthetic-tumblr-Favim.com-3935401

Author: Dewi Andriani

Tittle : Last Song

Cast: Kyuhyun, and Member Super Junior, etc.

Gendre  : Brothership, Sad, Angst, Hurt/Comfort

Length : Two/Three-shoot

***

Summary:

Rekaman Radio Star hari ini sudah berlangsung cukup baik. Mereka puas setelah melihat hasil akhirnya.  “S-suaraku…”  “Sebaiknya kau berkonsultasi dengan dokter.”  Endoskopi. Kini dirinya tengah melakukan suatu kegiatan pemeriksaan yang memang berhubungan dengan sakit yang dideritanya kini. / SM memutuskan untuk mengistirahatkan Kyuhyun selama 2-3 minggu guna pemulihan, Radio Star juga selama dua minggu akan siaran tidak bersama Kyuhyun. “Selama 3 Minggu ini apa keadaanmu membaik?”

 ***

Sebelumnya…..

 

Akhirnya setelah beberapa menit terlewati proses pemeriksaannya selesai. Hari ini sudah menjelang siang, panas yang terik diluar sana membuat kepalanya menjadi lebih sakit dari yang tadi sudah cukup sakit. Mengingat peralatan di rumah sakit itu sudah modern, tidak membutuhkan waktu lama untuk memperoleh hasil sebenarnya yang dirinya dapat.

 

Berkas itu tertumpuk begitu saja diatas meja kerja sang dokter yang memang selalu menanganinya selama hampir lebih dari 3 minggu ini. Menelaah dan meneleti setiap kalimat-kalimat medis yang tertera disana. Dirinya sangat tidak menyesal karena diciptakan menjadi manusia yang pintar dan mudah mengerti. Menjelaskan dengan singkat kepada pasien yang ada dihadapannya.

 

Kyuhyun memandang sang dokter dengan wajahnya yang dipenuhi rasa penasaran. “Apa hasilnya uisanim?”

Jaehyun menarik nafasnya dalam mencoba membuat pasien tidak terlalu terkejut. “Kanker laring atau bisa kita sebut sebagai kanker pita suara.” Kyuhyun memandang sang dokter dengan tidak bergeming. “Lalu?”

Lagi-lagi Jaehyun hanya bisa menghela nafasnya. Inilah salah satu resikonya memberikan kabar buruk bagi sang pasien. “Dan kankermu sudah memasuki tahap stadium 3.” Mata itu tidak mau berkedip. “Dengan kata lain?”

“Ini sudah memasuki stadium yang bisa dikatakan parah pada kasus kanker pada umumnya.” Jaehyun kemudian menyenderkan badannya pada kursi meja miliknya.

Lagi-lagi dia hanya bisa menangis dalam diam. “Jadi aku akan bisu dan….mati?”

Untuk pertama kalinya Jaehyun menyesal sebagai seorang dokter yang selalu jujur.

 

***

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

 

Satu minggu kini telah berlalu. Janji mereka akhirnya terpenuhi. Tak ada kerugian sedikitpun baik yang diterima oleh mereka maupun yang perusahaan terima. Masing-masing member yang mempunyai aktivitas pribadinya kini sudah selesai dan terlaksana dengan apik. Mereka berniat mengistirahatkan dirinya setelah tiba di dorm.

 

Bukan kemauan mereka yang mau selesai bersamaan dan sampai dengan bersamaan. Mungkin kebetulan. Mereka menyapa senyum memberikan isyarat salam bahwa sudah lama tidak bertemu. Memeluk satu sama lain menyampaikan rasa rindu yang selama ini mereka tahan karena harus berpisah.

 

Mata mereka mengernyit saat melihat suasana dorm yang begitu rapi. Padahal pada saat mereka meninggalkannya, dorm ini tidak serapih ini. Memandang satu sama lain kemudian mengedarkan pengelihatan mereka ke semua ruangan. Berharap menemukan ‘sesuatu’ yang sudah membuat dorm nampak begitu rapih dan bersih.

 

 

Mungkin jika saja mereka tidak sadar, mereka akan terkejut dengan seseorang yang kini tengah memberikan senyumannya untuk dihadapan mereka. Cengiran itu begitu polos. Apa mungkin itu efek karena dirinya adalah magnae? Karena setiap kali dirinya tersenyum, senyuman tersebut akan terkesan amat polos bagi mereka semua. Dengan wajah ceria sang magnae menarik lengan-lengan hyung-nya itu untuk duduk di kursi yang ada.

 

Heechul menatap Kyuhyun dengan pandangan yang terheran-heran. “Apa ada petir yang menyambarmu sehingga kau berbuat begini?” Kyuhyun menggeleng. “Anni. Aku memang sengaja.”

Leeteuk tersenyum setelah meletakan semua barang bawaannya. “Bagaimana keadaanmu?” Kyuhyun agak terdiam, namun setelahnya dia tersenyum dan menjawab dengan penuh semangat. “Aku sembuh hyung.”

“Sudah ku bilang kan Ryeowookie tak perlu khawatir mana mungkin magnae kita terkena kanker.” Heechul mengangguk-anggukan kepalanya. Kangin yang baru tiba mengernyit sebentar. “Ngomong-ngomong soal Ryeowookie, kemana dia?”

Kyuhyun yang tersadar dari lamunannya menjawab pertanyaan sang hyung. “Ah Wookie hyung sudah pulang ke rumahnya untuk mempersiapkan diri.” Leeteuk menghembuskan nafasnya lega. “Syukurlah keadaan memang seperti apa yang kita harapkan.”

Kyuhyun mematung di tempat. Salah jika Leeteuk menganggapnya begitu, karena harapan mereka tidak sesuai. Yesung yang melihat Kyuhyun melamun menepuk bahunya pelan. “Wae gerae? Apa ada sesuatu?”

Kyuhyun langsung tersadar dan menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak kok.” Leeteuk menangkap gelagat mencurigakan dari Kyuhyun. “Tak ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami?”

Kyuhyun menggeleng kembali mengisyaratkan bahwa mereka tak perlu khawatir. “Tidak. Aku hanya senang kalian sudah pulang.” Heechul merangkul bahu Kyuhyun dengan semangat. “Lihat magnae kita begitu sehat sekarang.”

Sajangnim, tidak akan mengakhiri kontrak kita bukan?” Pertanyaan Kyuhyun lantas membuat yang lain langsung terdiam. Yesung tersenyum dan menjawabnya. “Annyiyo Kyu. Ini semua berkat mu.”

Kangin mengangguki kalimat Yesung. “Jadi mulai sekarang kita, termasuk dirimu akan kembali sibuk. Jadi hyung berharap kau menjaga kesehatanmu.” Leeteuk menghampiri mereka yang tengah berkumpul. “Jangan buat kami khawatir lagi.”

Heechul mengacak rambut Kyuhyun dengan gemas. “Awas saja kalau kau sampai berani sakit lagi Kim Kyu.”

Kyuhyun hanya bisa mengangguki kalimat semua hyungdeul-nya.

 

Perasaan sedih langsung menyingkapi seluruh benak hatinya. Dirinya telah tega memberikan harapan palsu bagi semua hyung yang begitu menyayanginya. Harapan yang sebenarnya hanya sementara dan bisa hancur selamanya. Semua kata-katanya hanyalah suatu kebohongan yang terus bertambah untuk menutupi bagaimana sebenarnya penderitaannya ini. Penderitaan yang dimilikinya hanya akan membuat semua hyung-nya menderita juga.

 

Ditengah senda gurau itu tak ada yang menyadari bahwa kini dirinya tengah tersenyum getir. Pertengkarannya malam tadi dengan salah satu hyung yang usianya tidak terpaut jauh teringat olehnya. Dirinya benar-benar jahat karena mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya.

 

Kini kejahatannya dia lakukan lagi kepada semua saudaranya yang lain. Hatinya ingin jujur, namun sesuatu menghalanginya. Perasaan sayangnya terlalu kuat. Dirinya tidak ingin hanya karena dirinya semua saudaranya ikut menderita dan terkena imbas pahit dari semua ini. Namun hyung-nya yang selalu lembut itu menolak dan membuat mereka bertengkar.

.

.

.

.

.

 

 

 

 

Telepon itu dijatuhkan olehnya setelah mendengar apa yang tadi dikatakan oleh seseorang yang berada di seberang sana. Terpuruk. Karena dirinya tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Padahal selama ini dialah yang paling dekat dan mengawasi langsung seseorang yang tengah dititipkan mereka semua. Tapi dengan jarak sedekat itu kenapa dirinya tidak bisa menyadari semuanya.

 

Knop pintu toilet itu terbuka. Menampilkan seseorang dengan bibirnya yang begitu pucat. Air mata miliknya langsung mengalir kala menyadari, berat badan yang baru keluar itu sebenarnya semakin kurus. Dirinya tertipu dengan dia yang selalu mengenakan baju tebal sehingga mengesankan berat badannya masih proporsional.

 

Sebaliknya yang disana menatap heran orang yang tengah menangis dengan diam dihadapannya ini. Sebenarnya ada perasaan takut yang terselip di dalam batin yang dirinya miliki. Takut bahwa kenyataan sebenarnya telah diketahui orang tersebut dengan sendirinya. Pasti dia akan marah dan sakit hati karena tidak mendapatkan kejujuran dari orang yang sebenarnya selama ini berada sangat dekat dengannya.

 

“W-wookie… hyung.” Sungguh dirinya mengutuk keras kepada suaranya yang benar-benar berubah sekarang ini. Ryeowook melangkahkan kakinya perlahan mendekati sang dongsaeng. “Waeyo?”

Kyuhyun mencoba menormalkan kembali suaranya dan tersenyum serta tidak menganggap kejadian ini. “Aku kira hyung sudah tidur.” Ryeowook menggeleng dan menatap mata Kyuhyun dengan dalam. “Waeyo Kyuhyunnie?”

Kyuhyun berjalan mulai mendekat. “Hyung yang lain besok pulang.” Ryeowook kembali menggeleng. Sorot matanya berubah. Kekecewaan dan kemarahan jelas tercetak disana. “Waeyo Kyu? KENAPA KAU MEMBOHONGI KAMI DENGAN KEADAANMU YANG SEBENARNYA?!”

Kyuhyun tersentak dengan nada bentakan yang dikeluarkan oleh hyung mungilnya. Ini adalah pertama kalinya dia mendengar bentakan dari hyung-nya ini sepanjang dirinya bergabung bersama Super Junior. “Mianhae… kau sudah tahu hyung…”

“Dan aku pastikan aku tidak akan pernah tahu. TIDAK AKAN TAHU JIKA AKU TIDAK MENELEPON JAEHYUN UISA!” Dengan air mata yang tidak berhenti mengalir di kedua pipinya.

Kyuhyun sendiri hanya bisa menahan air mata yang kini menumpuk dipelupuknya. “Aku melakukannya karena tidak ingin karier kalian hancur. Biar aku saja yang menderita hyung, ini semua masalahku.” Ryeowook benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan sang bungsu. “Aku tidak bisa membiarkanmu. Aku akan menelepon yang lainnya dan memberitahukan ini semua.”

Kyuhyun membulatkan matanya dan menggeleng keras. “Jebal jangan hyung! Biarkan hanya kau yang tahu. Tolong!” Ryeowok memberikan ketidak setujuannya kepada Kyuhyun. “Hyung melakukan ini karena kami semua peduli padamu.”

“TAK USAH MEMPERDULIKANKU HYUNG!” Sungguh Kyuhyun tidak tahu mengapa kalimat itu keluar begitu saja dari dalam mulutnya. Ryeowook memandang Kyuhyun dengan pandangan penuh kekecewaan. “Baik. Mulai saat ini hyung tidak akan peduli padamu. Hari ini hyung akan pulang untuk enlist, sampaikan salamku pada hyung yang lainnya.”

Kyuhyun tidak tahu harus berbicara apa lagi, tenggorokannya sangat sakit. Telinganya mulai berdengung, nafasnya sesak. Ryeowook kembali berucap. “Dan satu lagi kau tenang saja, karena aku tidak akan memberitahu yang lain mengenai ini.”

 

Kyuhyun ingin melangkahkan kaki untuk mengejar sang hyung yang mulai menjauh. Namun sesaknya semakin menjadi. Obat cetuximab yang diberikan oleh dokter sama sekali tidak membantunya. Dirinya sungguh lemas. Pandangannya mengabur dan seketika itu juga semuanya menjadi gelap.

 

Dengan bekas air mata yang masih ada, dirinya mengangkat tubuh lemah tersebut. Hatinya sangat teriris, kala kali ini dirinya bisa dengan mudah mengangkat tubuh tersebut dengan sekali angkat. Padahal dahulu, dirinyalah yang paling tidak bisa mengangkat tubuh tersebut. Ditatapnya mata yang terpejam tersebut. Guratan sakit ada disana. Pasti penyakitnya memberikan sakit yang amat sangat. Hanya dirinya saja yang terus menahan semua hal tersebut dan menyembunyikan.

 

 

Lagi air matanya langsung mengalir. Dia merasa menjadi seorang hyung yang sangat tidak berguna untuk sang dongsaeng. Dengan langkah pelan meninggalkannya yang masih terlelap tidur. Terbangunlah Kyuhyun dari tidurnya. Dirinya ada di kamar tidurnya. Pasti tadi malam hyung-nyalah yang memindahkannya. Namun air matanya langsung mengalir saat tidak menemukan hyung-nya tersebut.

.

.

.

.

.

Mereka semua sedang melakukan persiapan untuk jadwal masing-masing. Kali ini mereka berlima semua lah sibuk. Karena biasanya satu diantara mereka tidak akan melaksanakan jadwal karena kasus yang sedang menerpanya. Kasus dirinya yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk pada waktu itu.

 

Leeteuk memperhatikan semua dongsaeng-nya. Melihat-lihat apakah mereka sudah siap atau masih ada yang memerlukan persiapan lain. Setelah semuanya sudah siap, sang leader mengajak mereka untuk sarapan. Mereka memakan sarapannya dengan tenang dan tanpa terburu-buru. Rasanya sepi, karena biasanya mereka semua akan berisik. Namun karena ditinggal oleh beberapa member yang enlist suasana menjadi semakin sepi.

 

Setelah beberapa menit akhirnya mereka menyelesaikan sarapan mereka semua. Setelahnya mereka saling membantu satu sama lain untuk membersihkan piring yang tadi mereka gunakan untuk sarapan. Walau sarapan hari ini tidak seperti biasanya. Karena mereka perlu memesan terlebih dahulu. Beginilah resiko jika sang ‘koki kecil’ mereka yang sebentar lagi memang akan melaksanakan jadwal enlist-nya.

 

 

 

 

Setelah semuanya selesai Leeteuk mengajak semua member untuk mulai menuju van. “Semua sudah siap. Bergegaslah Manager hyung sudah menunggu.” Kangin menggigit bibir bawahnya sebelum bicara. “Do’akan aku agar sidang kali ini berhasil.”

Leeteuk menatap dongsaeng yang terlihat kuatnya itu dengan lembut. “Kami selalu mendo’akan yang terbaik untukmu.” Heechul memutar bola matanya malas. “Jangan terus-terusan membuat masalah lagi Yoongwoon-ah.”

Kangin menunduk, mengerti kalimat sindiran yang diberikan oleh hyung cantiknya itu. “Sungguh ini adalah kali terakhir aku mengacau.” Yesung tersenyum dan berucap dengan bijaksana. “Semoga dengan ini kau mendapat pelajaran hyung.”

Leeteuk membenarkan kalimat dari Yesung. “Jadilah Yongwoon yang berkarisma kembali.” Kyuhyun juga tidak ingin ketinggalan dalam percakapan tersebut. “Di pengadilan nanti jangan mengacau.”

Kangin menatap magnae jailnya itu malas. “Kau lah yang mengacaukanku sekarang magnae.” Heechul malah menyemangati Kyuhyun. “Kau memang muridku Kim Kyu.”

“Ah kenapa kita malah keasyikan mengobrol, Manager hyung pasti akan mendumel karena kita lama.” Yesung bergidik saat membayangkan akan mendapat ceramah pagi dari sang Manager.

Leeteuk mengangguki kalimat Yesung. “Baiklah kajja.” Mereka semua menyahut dengan serampak. “Arrasseo.”

 

Omelan-omelan itu keluar dari seseorang yang kini tengah membonceng mereka semua. Semua member memutar bola matanya malas jika sudah mendengar sang manager mengomel dan mengoceh. Jujur saja lebih baik Leeteuk yang mengoceh, karena hyung tertua mereka itu lama-lama akan merasa bosan dan seketika berhenti mengoceh. Tidak seperti Manager hyung yang bisa mengoceh dan mengomeli mereka dari mulai pergi hingga tiba di tempat jadwal.

 

Mereka hanya menyibukkan diri masing-masing agar tidak mendengar omelan sang manager yang membuat gendang telinga sakit. Bisa dikatakan mereka lebih menyibukan diri dengan handphone dan earphone yang mereka miliki.

 

 

 

Kyuhyun menyelesaikan rekaman Radio Star kali ini dengan baik. Semua staff dan para host tetap Radio Star menyambut baik dengan comeback-nya setelah 3 minggu beristirahat total. Mereka gembira dengan kehadirannya kembali. Kim Gura dan Hwang Gyojin lah yang paling gembira dengan kembalinya dirinya.

 

Disana Kyuhyun memberikan penampilan yang begitu baik. Bahkan ketika ditantang untuk bernyanyi kembali, dirinya melakukan semua hal itu dengan amat baik. Membuat semua orang yang ada disana tidak bisa menahan diri untuk tidak menpuk tangan mereka. Suaranya benar-benar lembut dan membuat siapa saja yang mendengarnya serasa terbawa dengan alunan melodi-melodi indah yang dirinya bawakan.

 

Setelah rekaman selesai, Kyuhyun beranjak pergi meninggalkan studio MBC. Di luar gedung itulah akhirnya dia bisa jujur. Bernyanyi dengan suara tadi, sungguh membuatnya sakit. Imbasnya adalah sekarang. Tenggorokannya amat sakit dadanya begitu sesak seakan tidak ada oksigen yang mampu dirinya hirup.

 

Merogoh kantung celananya akhirnya dia mendapatkan yang dirinya inginkan sedari tadi. Cetuximab. Namun ketika dia akan memulai membukanya, dirinya tanpa sengaja menabrak seseorang. Seseorang yang benar-benar tidak dirinya harapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Matanya memandang lurus obat yang tadi terjatuh dan diambil olehnya. “Cetuximab.” Kyuhyun sangat mengenal suara siapa itu. “Sajangnim.”

Petinggi SM menatap Kyuhyun dengan lembut dan tersenyum. “Oh jika kau penasaran. Aku kesini karena diundang oleh temanku, salah seorang petinggi MBC.” Kyuhyun menundukan kepalanya. “Obat itu…”

“Ini aku kembalikan minumlah dengan baik Kyuhyun-ah.” Petinggi SM memberikan obat itu pada Kyuhyun kemudian tersenyum. Sebuah senyuman yang memiliki arti. Kyuhyun ingin bicara namun ucapannya langsung dipotong. “Sajangnim…”

Petinggi SM menatap Kyuhyun dengan menyipitkan kedua matanya. “Jam 2 siang ini temui aku di gedung SM.” Kemudian berlalu begitu saja.

Kyuhyun mengerti apa yang akan terjadi di gedung itu nanti. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan sesak yang belum kunjung hilang.

.

.

.

.

.

SM Entertainment Building

 

 

Banyak yang berlalu lalang di dalam sana. Ada yang membawa tumpukan berkas. Ada yang bolak-balik untuk memeriksa suatu file. Ada yang berjalan santai sambil mengobrol karena pekerjaannya dirasa sudah selesai. Ada yang masih panik karena pekerjaan mereka belum selesai. Ada yang sibuk memeriksa semua file dan masih banyak lagi pekerjaan lainnya.

 

Bukan hanya pekerjaan pada umumnya yang terjadi di kantor, namun juga ada beberapa pekerjaan yang berbeda. Diantaranya ada yang sibuk berlatih menari, bernyanyi, dan akting. Suatu keharusan yang harus bisa mereka semua kuasai, sebagai bagian dari artis dari perusahaan hiburan yang sebentar lagi akan debut. Bukan mereka bukan karyawan tetapi merupakan trainee yang berada di bawah pengawasan SM Entertainment.

 

Langkah kakinya benar-benar terasa amat lemas kali ini. Entah apa yang akan terjadi di suatu ruangan yang merupakan pemilik tertinggi perusahaan. Tak apa jika itu menyangkut dirinya, namun jika menyangkut dengan saudaranya yang lain dia tidak akan pernah sanggup untuk menerima semua kenyataannya.

 

Akhirnya dirinya tiba juga di depan suatu pintu sebuah ruangan yang sangat tak ingin orang sekitar sana masuki. Karena mereka sadar orang yang diperintahkan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut pasti memiliki masalah yang besar. Maka semua orang disana berusaha untuk tidak membuat masalah walau sekecil apapun. Namun apa yang dirinya lakukan? Dirinya malah menantang itu semua dengan melakukan semua yang tidak seharusnya.

 

Dengan tanpa dia duga, sang pemilik ruangan telah terlebih dahulu membukakan pintu untuk dirinya. Suatu penyambutan luar biasa yang tidak pernah sang pemilik lakukan kepada karyawan maupun artisnya yang lain. Dengan langkah pelan dirinya mengikuti sang pemilik yang kini sudah duduk kembali di kursi kerjanya.

 

Petinggi SM menatap kyuhyun dengan intens. Kyuhyun sendiri belum berani menatapnya. “Kau sudah berbohong.” Kyuhyun mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. “Sajangnim… aku bisa menjelaskan…”

Petinggi SM menggelengkan kepalanya, sama sekali tidak mau menerima penjelasan dari salah satu anak asuhnya. “Dan ini semua sudah terlalu jelas.” Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. “Jadi…….”

“Jadi untuk apa aku mempertahankan artis yang jelas-jelas sudah tidak akan bisa bernyanyi? Dan mereka yang sudah tidak diterima lagi di khalayak ramai. Lucu sekali kalian bekerja sama untuk menyembunyikan ini semua.” Petinggi SM menatap Kyuhyun dengan pandangan sinisnya.

Kyuhyun sangat sakit mendengar semua kalimat yang keluar dari Petinggi SM. “Ku mohon akulah yang sudah berbohong, saudaraku yang lain sama sekali tidak tahu mengenai ini.”

Petinggi SM tertarik dengan kalimat permohonan Kyuhyun tersebut. “Benarkah?” Kyuhyun mengangguk membenarkannya. “Hanya aku…”

Petinggi SM tersenyum dengan penuh arti. “Ckckck Cho Kyuhyun kau benar-benar ingin menjadi pahlawan.” Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya mendengar hal tersebut. “Tolong Sajangnim. Ini semua adalah impian kami.”

“Impian kami? Lucu sekali, bahkan kau sendiri yang akan menghancurkan impian itu Cho Kyuhyun. Suaramu akan hilang selamanya. Dan kau akan menjadi laut yang mengering.” Kalimat itu benar-benar diucapkannya dengan amat menusuk.

Kyuhyun tidak kuasa untuk tidak menahan air matanya agar tidak terjatuh. Kemudian membungkukan badannya dengan penuh hormat dan pengharapan yang besar. “Jebalhamnida Sajangnim. Jangan pecat kami.”

Petinggi SM mendecih. “Untuk apa saat ini melakukan hal itu. Ada hal yang lebih menarik yang akan menantiku, yaitu menyaksikan perpecahan kalian sendiri. Terlebih kau lah penyebabnya.” Jujur saja meski keadaannya masih amat lemah, dia ingin sekali memukul wajah menyebalkan itu. “Terima kasih Sajangnim.”

Lagi-lagi sang Petinggi SM mendecih. “Siapa bilang aku tidak akan memecat kalian? Aku tengah menunggu waktu yang pas untuk itu.”

 

Langkahnya begitu gontai. Impiannya bisa dibilang sudah tercapai saat ini tapi mengapa? Mengapa semua yang telah dirinya gapai hanya begitu singkat? Dirinya sudah hancur, dan kini masih ada orang yang lain yang masih ingin menghancurkannya. Matanya terpejam. Jujur dia amat lelah, namun jika dirinya menyerah sekarang sama saja dengan kalah.

 

Yang ada di pikirannya kini hanya bagaimana mempertahankan semua tetap seperti apa adanya. Tetap menjadikan keadaan ini sama. Tanpa perlu membuat perubahan yang pada akhirnya hanya akan membuat mereka sakit. Walau sebenarnya dia sendiri sudah amat sakit, baik batin maupun fisik.

.

.

.

.

.

 

Super Junior Dorm

 

Terlihat mereka semua tengah bersenda gurau. Mengobrol-ngobrol ringan mengenai sesuatu. Hanya saja mengenai mereka sendiri, bukan menggosip mengobrolkan orang lain. Terlihat wajah-wajah ceria mereka ketika saling bercanda. Lumayan ramai disana, hanya saja ada sesuatu yang mencolok diantara mereka semua. Walau memang mencolok memang selalu ada diantara mereka semua.

 

Ada 5 orang namja dengan rambut cepak serta seragam kepolisian yang ikut berkumpul bersama 5 orang lainnya yang mengenakan pakaian biasa. Mungkinkah rumah ini di geledah oleh pihak berwajib? Salah jika menebaknya dengan demikian, karena mereka adalah polisi-polisi yang tengah santai dan meluangkan waktu mereka untuk kemari.

 

Mereka yang berseragam tersebut, adalah 5 orang salah satu anggota dari mereka yang kini tengah menjalankan kewajiban militernya untuk negara. Suatu tugas yang memang sudah diwajibkan bagi semua namja dewasa yang berada di Korea Selatan yang apabila sudah cukup umur diwajibkan untuk mengabdi selama dua tahun lamanya kepada negara. Sebagai antisipasi bilamana nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

 

Heechul merangkul bahu sang dongsaeng dari mokpo yang sudah lama tidak dirinya jumpai. “Ah aku tidak menyangka bahwa aku bisa merindukanmu.” Donghae mengedikan bahunya tak peduli. “Tapi sayangnya aku tidak merindukanmu, dan malah merindukan Teukie hyung.”

Kangin terkekeh mendengar kalimat Donghae. “Hae-ah kau benar-benar sudah berubah lebih baik.” Heechul memberi usapannya pada Kangin. “Itu namanya perubahan tidak baik.”

Leeteuk menatap kelima dongsaeng-nya yang berseragam ini. “Kalian memang sudah diizinkan?” Seseorang yang sudah tidak terlalu tambun itu menjawab. “Hyung, kami ini bukan warga yang nakal.”

Eunhyuk mengangguki kalimat Shindong. “Tentu. Dan akulah yang paling baik.” Sungmin mencibir Eunhyuk. “Aku rasa kau lah yang paling banyak ditegur.”

Yesung akhirnya mengeluarkan suaranya juga. “Oh iya Wookie juga sebentar lagi akan enlist.” Ryeowook menyetujui kalimat Yesung. “Mungkin satu minggu lagi.”

Shindong menatap Ryeowook dari atas ke bawah. “Benar juga, rambutmu sekarang sudah hampir seperti kami.” Sungmin tersenyum melihatnya. “Tapi dia masih tetap imut.”

Siwon melihat-lihat ke sekeliling, merasa tidak menemukan sesuatu yang dicarinya. “Kyuhyunnie mana?” Leeteuk agak tersentak mendengarnya. “Sebentar lagi dia pulang.”

“Aku dengar Kyuhyunnie sakit?” Donghae mengajukan pertanyaannya kemudian. Membuat 5 orang lainnya seketika bungkam.

Siwon memperhatikan gelagat aneh dari mereka semua. “Adakah sesuatu yang serius?” Heechul menghembuskan nafasnya kasar. “Aish untuk apa menyimpannya, lagipula semua sudah baik-baik saja sekarang.”

Eunhyuk mengernyit mendengar kalimat Heechul tersebut. “Apa memangnya?” Leeteuk menghela nafasnya sejenak sebelum menjelaskan semuanya. “Kyuhyun hampir saja mengalami penyakit mematikan. Pita suaranya ada kemungkinan terkena kanker, selama 2-3 minggu dirinya benar-benar diistirahatkan. Masalah lain muncul jika Kyuhyunnie tidak sembuh dalam waktu itu Sajangnim akan mengakhiri kontrak kita masing-masing…”

Yesung pun ikut membantu Leeteuk untuk menjelaskannya. “Namun akhirnya Kyuhyun dinyatakan sembuh total.” Kangin mengangguk. “Jadi kita tidak perlu khawatir.”

Siwon menghembuskan nafasnya lega. “Perasaanku benar-benar terjadi ternyata.” Sungmin tersenyum menanggapinya. “Tapi syukurlah semua hal buruk itu tidak terjadi.”

Ryeowook mengepalkan kedua tangannya. Pandangannya menyorot begitu sedih. “Apakah kalian mempercayainya?” Heechul mengedikan bahunya. “Jika itu baik, kita harus percaya.” Ryeowook hanya terdiam tidak berbicara lagi, membuat Leeteuk menangkap sesuatu yang aneh.

 

Akhirnya orang yang sedari tadi mereka bicarakan tiba. Mereka langsung mengembangkan senyuman mereka saat melihat sang bungsu yang sudah tiba. Para namja berseragam itu langsung memelukinya satu persatu. Yang dipeluk hanya bisa memutar bola matanya malas. Hey dia itu sudah besar bukan seorang bayi lagi, namun tetap saja mereka memperlakukannya bak bayi yang amat lemah. Walaupun dirinya merasa senang akan hal tersebut.

 

 

 

Matanya menangkap sosok tersebut. Hyung yang sangat ingin dia meminta maaf kepadanya. Kedua mata mereka bertemu namun yang ditatap langsung membuang mukanya saat sudah bertatapan. Kini dirinya duduk di tengah-tengah mereka. Jika semua hyung-nya berkumpul begini mereka benar-benar jadi amat cerewet. Namun sayangnya sang hyung yang itu sama sekali tidak mau berkata sepatah katapun.

 

Ryeowook bangkit dari duduknya. Semakin lama dirinya berada disini, semakin gelisah perasaannya. Menyaksikan seseorang yang hanya berpura-pura kuat padahal sebenarnya sangat lemah itu membuatnya marah. Marah karena membuatnya merasa benar-benar menjadi seseorang yang tidak berguna.

 

Semua yang ada disana cukup terheran, karena dirinya yang tiba-tiba mengatakan akan segera pulang. Padahal belum terlalu lama mereka berkumpul bersama. Mungkin memang masih banyak keperluan yang perlu dirinya urus, jadi mereka tidak terlalu memikirkannya.

 

Sebelum pergi akhirnya Ryewook menatap mata sang dongsaeng. “Berhentilah bersembunyi Cho Kyuhyun.” Kemudian berlalu pergi setelah itu.

 

Tentu saja kalimat sang eternal magnae membuat mereka semua mengernyitkan keningnya bingung. Ditambah dengan Kyuhyun yang tanpa sadar sudah menangis meski tanpa mengeluarkan suaranya, membuat kebingungan mereka semakin menjadi. Dan Leeteuk merasa semakin mencurigai bahwa sebenarnya ada sesuatu yang dirinya tidak ketahui.

.

.

.

.

.

 

 

 

 

01 Oktober 2016

 

Lampu-lampu besar menyala disana. Lightning yang begitu luar biasa memang sengaja disuguhkan dalam pertunjukan kali ini. Di depan sana telah duduk jejeran para orang-orang penting yang merupakan para staff tertinggi. Juga banyak para jajaran tamu VIP yang memang sengaja diundang pada kesempatan kali ini.

 

Panggung yang didesain begitu mewah. Kemegahan amat terasa disana dengan tatanan panggung yang begitu luas. Hanya saja panggung ini dan mungkin tata cara lainnya agak sedikit berbeda dengan dimana mereka sering tampil. Terlebih mungkin salah satu diantara mereka akan membawakan lagu yang bukan menggunakan bahasa mereka. Sudah lama sekali dirinya tidak mengunjungi negara ini.

 

Ya mereka memang diundang sebagai MC dan pengisi acara dalam gelaran ulang tahun ini. Sebuah gelara ulang tahun untuk perusahaan pertelevisian Jepang. KNTV dan DATV, yang merupakan salah satu perusahaan pertelevisian Jepang yang cukup terkenal. Yang pada hari ini mereka berulang tahun bersamaan dengan ulang tahunnya yang ke-20 da ke-7.

 

Leeteuk membawakan acara tersebut dengan pembawaan yang apik. Syukurlah dirinya bisa menggunakan bahasa Jepang dengan fasih. Karena mereka memang sengaja untuk belajar bahasa Jepang, mengingat album grupnya juga ada banyak yang merilis album khusus untuk album Jepang.

 

Banyak pengisi acara yang sudah menyajikan penampilan mereka dengan secara baik. Semua bertepuk tangan karena merasa puas dengan penampilan para artis-artis yang ikut mengisi acara ulang tahun kali ini. Sekarang saatnya tiba salah satu bintang tamu spesial dari Korea untuk menunjukan penampilannya. Yang juga merupakan salah satu dongsaeng-nya di dalam sebuah grup yang dirinya ketuai.

 

 

 

Leeteuk berjalan ke backstage untuk memberitahu bahwa sekarang adalah gilirannya untuk tampil. “Kyuhyun-ah, sekarang giliranmu.” Kyuhyun menatap Leeteuk dengan tersenyum. “Ah nde hyung.”

Leeteuk tersenyum ceria menyaksikan sang dongsaeng yang sungguh tampan kali ini. “Berikanlah kita pertunjukan yang terbaik.” Kyuhyun mengangguk untuk memastikan harapan sang hyung tersebut. “Pasti hyung, kupastikan kau juga akan terkesan.”

“Ckckckck… dipuji sedikit kau langsung sombong.” Leeteuk menggelengkan kepalanya karena kenarsisan sang dongsaeng. “Setidaknya saat ini aku masih menyombongkan diri dengan suaraku.”

Leeteuk menangkap sesuatu yang aneh mendengar kalimat Kyuhyun. “Kyuhyunnie gwenchana?” Kyuhyun tersentak kala Leeteuk mengatakan itu. “Ah gwenchana.”

Leeteuk menyipitkan kedua matanya dan menatap Kyuhyun serius. “Hyung jadi ingat kalimat Ryeowookie pada waktu itu. Apa ada yang kau sembunyikan?” Kyuhyun malah mengalihkan jawabannya, karena staff disana sudah memanggil. “Hyung aku tampil dulu.”
Leeteuk hanya bisa menghembuskan nafasnya.

 

Dirinya bernyanyi dengan penuh penghayatan. Membuat semua orang yang mendengar suaranya disana merasa terbawa dengan alunan-alunan nada indah nan lembut yang telah dirinya bawakan. Semua mata memandang takjub pada dirinya yang tengah bernyanyi dengan begitu indahnya. Bahkan mereka menikmatinya dengan begitu sangat.

 

Dua buah lagu telah dirinya bawakan. Masing-masing dari dua lagu tersebut, adalah lagu miliknya sendiri. Dan kini saatnya untuk dirinya membawakan lagu spesial. Spesial karena akan membawakan lagu yang merupakan salah satu lagu ballad terkenal yang ada di Jepang. Dirinya sendiri sangat antusias dengan lagu yang akan dibawakannya ini.

 

 

 

 

 

Saat mic yang dirinya pegang sudah dekat. Tenggorokannya terasa begitu sakit. Telinganya berdengung sedemikian rupa membuat kepalanya merasakan sakit yang sama. Tak ada suara yang bisa dirinya keluarkan. Tim audio memeriksa, namun semua hal tersebut masih baik-baik saja. Dirinya menyadari apa yang tengah terjadi sekarang. Dengan sekuat tenaga dirinya mencoba untuk mencegah semua ini, namun rasa sakit itu semakin kuat. Tubuhnya amat lemas yang pada akhirnya membuatnya jatuh terduduk.

 

Semua orang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Kini sang artis terbatuk dengan begitu keras diatas panggung. Melihat situasi yang sudah tidak bisa diatasi, sang produser memerintahkan tim medis untuk masuk dan mengurus sang artis.

 

Leeteuk langsung menghampirinya dengan mata yang berkaca-kaca. Mencoba menenangkan sang dongsaeng. Batuknya terus berlanjut tanpa bisa behenti. Dirinya sendiri tidak bisa menahannya, obatnya sama sekali tidak bereaksi. Mata Leeteuk langsung terbelalak kala sang dongsaeng terbatuk dengan mengeluarkan darah. Tim medis yang melihat itu langsung bertindak cepat, namun karena kesadarannya yang semakin menipis akhirnya dia tidak sadarkan diri.

 

Acara akhirnya dihentikan mengingat situasi yang sudah tidak memungkinkan. Leeteuk menatap kemeja putih dengan darah yang tercetak disana. Apakah ini sesuatu yang disembunyikan itu? Apakah ini yang dikatakan dengan baik-baik saja?

.

.

.

.

.

 

 

 

 

 

 

02 Oktober 2016

Seoul International Hospital

 

Semua orang disana hanya saling terdiam. Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Menyisakan tanda tanya yang begitu besar bagi seseorang yang kini tengah bersandar di atas tempat tidur rumah sakitnya. Dirinya sangat ingin bicara, tapi karena tenggorokannya masih amat sakit membuatnya sama sekali hanya bisa diam.

 

Jaehyun memasuki ruangan rawat tersebut dengan langkah tergesanya. Memeriksa cairan infus yang kini terpasang disana. Memeriksa keadaan sang pasien. Hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar setelah dirinya bisa menyimpulkan kondisi sang pasien saat ini.

 

Disana juga ada kedua orang tua dari sang pasien. Untuk saja kamar rawat ini cukup besar untuk bisa menampung mereka semua yang telah seperti keluarga besar itu. Mereka berdua menatap sang dokter yang masih diam dan belum mau memberitahukan mengenai keadaan putra bungsu mereka berdua. Yang diperiksa amat mengerti alasan apa yang membuat sang dokter yang menanganinya belum mau bicara.

 

Tuan Cho memegang lengan Jaehyun dan berharap cemas. “Bagaimana keadaan putraku?” Jaehyun memejamkan matanya sejenak. “Apakah kalian akan sanggup menerima ini?”

“Katakan saja Jaehyun uisa, apapun itu katakan saja.” Nyonya Cho sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan si bungsu.

Jaehyun mengambil nafasnya dalam sebelum membeberkan penjelasannya. “Kanker laring yang diderita oleh Kyuhyun-ssi sudah mencapai stadium akhir. Aku harap Kyuhyun-ssi mau dirawat intensif kali ini.” Nyonya Cho tidak kuasa untuk menahan tangisannya. “Apakah…apakah… ini..”

Kyuhyun yang belum bisa berbicara mencoba bicara meski agak terbata. “E-e-eom…ma.. ji..ma…” Dengan erat Nyonya Cho langsung memeluk sang bungsu. “Kau akan baik-baik saja Kyuhyunnie kau akan baik-baik saja.”

Tuan Cho memandang Jaehyun dengan tatapan serius. “Aku rasa ada hal lain lagi yang ingin kau bicarakan uisa.” Jaehyun mengangguki kalimat Tuan Cho. “Untuk itu anda saya minta untuk memasuki ruangan saya sebentar lagi.”

Tuan Cho memandang sang istri dan kemudian mengajaknya berlalu. Namun sebelum pergi dirinya terlebih dahulu membungkuk pada Leeteuk. “Aku memohon maaf Jungsoo-ssi. Karena kuyakin putraku sudah melakukan kesalahan.” Leeteuk hanya bisa diam.

 

Setelah Tuan dan Nyonya Cho pergi meninggalkan ruangan yang terdengar kini hanyalah sebuah suara tangisan. Tangisan seseorang yang begitu menyesal karena tidak bisa jujur dan membuat semuanya menjadi lebih buruk pada akhirnya. Seolah tidak memperdulikan dirinya yang masih sakit, dia masih tetap menangis dengan dalam.

 

Tanpa disadari mereka yang berada disana juga tengah mencoba untuk tidak menangis. Mendengar isakan dari sesorang yang tengah sakit tersebut menangis dengan begitu pilu. Mereka hanya berpikir mengapa mereka begitu bodoh sampai tidak bisa menyadarinya. Padahal merekalah yang paling dekat, namun sampai bisa kecolongan?

 

Leeteuk beridiri dan menatap yang masih menangis itu. “Kenapa kau tidak pernah jujur pada kami?” Kyuhyun mendongakan kepalanya menatap hyung-nya yang lembut dengan takut. “M-mianhae.”

Leeteuk menggelengkan kepalanya. “Jadi kau ini menganggap kami apa sebenarnya? Ryeowook-ah jika kau sudah tahu semenjak awal kenapa kau juga tidak memberitahu kami!” Ryeowook sudah tahu bahwa dia juga akan ikut terkena imbas dari ini. “Aku memang…”

“Wookie hyung tidak salah! Aku yang salah karena melarangnya untuk memberitahu kalian! Aku tidak ingin kalian semua menderita karena kesalahan yang aku buat. Lebih baik aku yang hancur.” Kyuhyun dengan susah payah berbicara dengan panjang lebar.

Reaksi Leeteuk sungguh tidak bisa dibayangkan oleh semua yang ada disana. “KAU PIKIR KAU PAHLAWAN DENGAN BERBUAT SEPERTI ITU?! KAU PIKIR KAMI AKAN BERTERIMA KASIH HAH?! KAU MEMBUAT KAMI MALAH TIDAK BERGUNA!”

Yesung ingin melerai pertengkaran yang terjadi, namun Heechul sudah menarik lengannya. “Tidak Yesung-ah. Biarkan Jungsoo saat ini. Aku yakin dia bisa membuat keputusan yang baik.” Kangin ikut menambahkan. “Biarkanlah Jungsoo hyung bertindak.”

Kyuhyun menangis dengan bentakan yang sudah lama sekali tidak menghampirinya. Dirinya sadar dengan kesalahan besar yang sudah dirinya buat. “Aku memang bodoh hyungie…. Hiks….” Leeteuk meredupkan pandangannya menjadi pandangan yang begitu lembut kali ini. “Dan kau akan membuat kami merasa lebih bodoh karena membiarkanmu menangis.” Leeteuk kemudian mendudukan dirinya disisi tempat tidur Kyuhyun.

Melihat sang hyung yang sudah kembali melembut, Kyuhyun memeluknya dengan begitu erat. Menangis dengan isakan yang pilu. “Teukie hyung, apakah suaraku bagus?” Yesung menghampiri mereka berdua. “Suaramu adalah suara yang paling indah Kyuhyunnie.”

“Tapi jika aku tidak bisa bersuara lagi…” Kalimat Kyuhyun tersebut langsung ditepis dan tidak disetujui oleh Heechul. “Uri Kyunnie tidak akan bisu!”

Kangin mengangguk menyetujui pendapat dari Heechul. “Suaramu itu akan selamanya ada.” Ryeowook mengelus punggung Kyuhyun dengan sayang. “Dan hyung akan menolak jika kau meminta hyung untuk tidak peduli lagi, karena kami memang peduli padamu.”

Kyuhyun tersenyum di tengah rasa sakitnya.

 

 

Di dalam ruangan tersebut tengah ada 3 orang yang kini tengah terduduk. Dua diantaranya duduk berhadapan dengan seorang dokter yang berada dihadapan mereka. Dokter yang sudah selama ini menangani putra mereka. Dokter yang begitu sabar dengan tingkah laku pasien yang berwatak amat keras kepala.

 

Mereka berkumpul disini karena memang ada sesuatu yang serius yang akan mereka bicarakan. Mengingat dua orang dewasa ini merupakan wali dari sang pasien yang tengah dirinya tangani. Meski sebenarnya Jaehyun sendiri merasa amat berat untuk menyampaikan berita buruk yang tengah terjadi.

 

Jaehyun memandang pasangan itu dengan serius. “Trauma kecelakaan, salah satu penyebabnya. Kasus Kyuhyun sudah mencapai stadium lanjut.” Tuan Cho sudah amat tahu berita inilah yang akan mereka dapat. “Lalu apa yang akan terjadi?”

Jaehyun melihat sebentar daftar berkas-berkas pemeriksaannya. “Kanker Kyuhyun-ssi sudah menyebar bahkan kepada noda limfa dan yang lainnya.” Nyonya Cho menatapnya dengan amat cemas. “Lalu langkah apa yang harus kita lakukan?”

“Sebenarnya kita bisa melakukan operasi pengangkatan. Namun tubuh Kyuhyun-ssi sudah amat lemah jadi hal itu sudah tidak bisa dilakukan karena mengingat bagaimana bahayanya.” Jaehyun memberikan penjelasan dengan tenang.

Tuan Cho memejamkan matanya sejenak, sangat mengerti dengan situasinya saat ini. “Jadi mungkin ada langkah untuk menekan sedikit kanker itu?” Jaehyun memandang Tuan Cho sekilas dan mengangguk. “Radio terapi dan kemoterapi harus dilakukan.”

Nyonya Cho paham maksudnya. “Lakukanlah semaksimal mungkin uisanim.” Namun Jaehyun menjelaskan mengenai efek samping yang aka nada nantinya. “Namun proses bersamaan itu akan menimbulkan efek samping berupa kelelahan, mual, muntah, tidak nafsu makan serta sariawan.”

Tuan Cho mengangguk mengerti. “Lakukanlah jika memang itu baik uisa. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha.”

 

 

 

Malam itu dihabiskan oleh dua orang kakak-beradik yang tengah mengobrol bersama. Sang kakak adalah yeoja cantik yang kini sudah mempunyai suami dan keluarga kecil dengan menjadi seorang yeoja yang begitu menawan.

 

Mereka berdua mengobrol degan begitu asyik. Seakan mengingatkan mereka kepada masa-masa kecilnya dahulu. Dimana dulu mereka sebelum tidur akan mengobrol dan menghabiskan waktu bersama hingga akhirnya mengantuk dan tertidur. Sungguh mereka benar-benar merindukan hal tersebut.

 

Meski kali ini keadaan memang agak sedikit berbeda, karena sang namdongsaeng harus terbaring di atas tempat tidur karena sakitnya. Jujur sang noona amat sedih harus menyaksikan sang dongsaeng yang terbaring sakit ini. Bila saja boleh tahu, pasti penyakitnya itu memberikan rasa sakit yang amat sangat pada sang dongsaeng. Namun seperti biasanya sang dongsaeng selalu bisa menutupi semua ini.

 

Entah mengapa suasana menjadi tiba-tiba hening. Seperti tidak ada hal lain lagi yang bisa mereka bicarakan. “Noona… apakah takdirku adalah sekarang?” Ahra cukup kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Kyuhyun. “Apa yang kau katakana Captain Cho?”

Kyuhyun tersenyum dan kemudian mengedikan bahunya. “Entahlah noona. Aku merasa bahwa kali ini benar-benar akhir dari hidupku.” Ahra sangat sedih mendengar hal tersebut. “Kau tahu kau nakal.”

Kyuhyun mengernyit dengan sahutan Ahra. “Aku tidak menyakitimu?” Ahra mencoba menahan air matanya yang akan keluar. “Kau nakal karena membuat noona-mu menangis.”

Kyuhyun langsung menyesal kala melihat sang noona menghapus air matanya. “Mianhae noona. Lupakan ucapanku tadi.” Ahra mencoba tersenyum. “Tanpa kau suruh pun noona sudah melupakannya dari tadi.”

“Syukurlah noona-ku memang noona yang terbaik.” Kyuhyun tersenyum mendengar penuturan Ahra.

Sang noona kini mulai menyelimuti tubuh sang dongsaeng. “Sekarang kau harus tidur dan istirahat.” Kyuhyun mengangguk dan memejamkan matanya kemudian. “Jaljayo noona.”

 

 

Tidak lama Kyuhyun sudah terbawa ke dalam alam mimpinya. Menyisakan Ahra yang tengah memandangi wajah tersebut dengan pandangan sedihnya. Kali ini Ahra menangis, menangis dengan begitu dalam bahwa sebenarnya dia amat takut semua hal tadi benar-benar terjadi. Sangat takut untuk kehilangan.

.

.

.

.

.

 

 

 

 

 

07 Oktober 2016

 

Proses demi proses pengobatan sudah dirinya lewati hari demi hari selama berada di rumah sakit ini. Terkadang dirinya amat lelah karena harus melalu semua proses tersebut. Terlebih proses yang ada memberikan efek samping yang sangat tidak dirinya inginkan. Nafsu makannya semakin berkurang, lidahnya selalu pahit ketika memakan apapun. Tubuhnya terasa makin lemah dan seakan melayang.

 

Pada saat ini dirinya tengah berjalan-jalan sebentar di sekitar rumah sakit. Untunglah kali ini sang dokter mengizinkannya untuk keluar dari dalam kamar. Jujur saja dia sendiri sudah amat sangat bosan jika hanya harus terbaring dan duduk di dalam kamarnya. Meski terkadang hyungdeul lain suka datang dan menemaninya.

 

Dirinya tersenyum saat melihat sang dokter yang selalu menanganinya selama ini, tengah berjalan dihadapannya. Nampak dokter tersebut tengah tersenyum dengan sumringah dengan seorang dokter wanita cantik yang bisa dipastikan adalah salah satu rekan kerjanya di rumah sakit.

 

Sebuah ide jahil muncul di dalam pikirannya begitu saja. Entahlah meskipun dirinya tengah sakit, otak jahilnya tetap saja tidak lelah untuk memberikan sebuah ide-ide yang luar biasa. Sedikit berlari, akhirnya dirinya sudah tiba di depan pasangan dokter namja dan yeoja tersebut.

 

Kyuhyun kemudian tersenyum polos dihadapan para dokter itu. Sebaliknya sang dokter menatapnya dengan pandangan kesal, karena si pasiennya ini malah berkeliaran bahkan berlari tidak jelas dan malah mengganggunya. Kyuhyun mencoba bicara, namun tak ada satu suarapun yang berhasil dirinya bicarakan. Melihat hal tersebut, para dokter saling berpandangan dengan gelagat aneh salah satu pasien rumah sakit mereka.

 

“Kenapa? Kenapa aku tidak bersuara?! Aku bahkan sudah sangat berteriak!”

 

 

Lengan kurus miliknya kini mencoba meraba tenggorokannya. Sakit… sakitnya amat lebih sakit. Biasanya setelah melakukan pengobatan tadi, dirinya akan merasa ringan dan tidak sesakit ini. Kyuhyun terus mencoba bersuara, namun hal itu malah membuatnya semakin menyakiti dirinya sendiri.

 

Jaehyun dan Seohyun yang melihat itu langsung melarang sang pasien melakukannya. Karena jika lebih memaksakan diri itu malah lebih berbahaya. Nafasnya begitu sesak, telinganya amat berdengung, kepalanya sakit seakan dibentur sesuatu. Hingga kesadarannya sedikit demi sedikit semakin menipis.

 

Jaehyun langsung menepuk pipi Kyuhyun saat sang pasien mulai menutup matanya. “Jangan tidur Kyuhyun-ssi.” Seohyun ikut membantu. “Aku akan membawakan bangsal untuknya.”

Jaehyun menggeleng. “Anniyo. Saat ini tolong bantu aku untuk memerintahkan suster mempersiapkan ruangan ICU.”

Seohyun mengangguk dengan cepat. “Algeshimnida uisa.”

.

.

.

.

.

Di dalam ruangan tersebut tengah berkumpul orang-orang dengan pakaian resmi mereka. Bisa dipastikan mereka adalah salah satu suruhan dari salah seorang petinggi perusahaan hiburan terbesar di Korea. Mereka mengeluarkan berkas-berkas tebal yang membuat semua pandangan yang ada disana terpaku kepadanya.

 

Berkas-berkas tersebut kemudian dibacakan oleh salah seorang dari mereka. Dengan tajam telinga mereka semua mencoba menangkap dan memahami hal apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh orang-orang yang datang secara bergerombolan dihadapan mereka sekarang. Dan mereka semakin mengerti apa yang mereka ucapkan.

 

“Kontrak kami akhiri mianhatta.”

 

Setelah mengucapkan kalimat tersebut mereka berlalu pergi meninggalkan semua yang masih diam terpaku disana. Yang diakhiri kontraknya sendiri menandatangani surat tersebut tanpa ada perlawanan maupun pembelaan yang berarti. Merasa bahwa itu memang adalah hal yang terbaik, karena dirinya sendiri memang sudah tidak mampu melaksanakan semua yang ada dalam kontrak.

 

Heechul menggeram menyaksikan semua yang baru saja terjadi. Mereka sama sekali tidak bereaksi. Dengan langkah besarnya, dirinya meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan yang amat marah dan kacau. Bahkan ketika dirinya pergi tidak ada satupun dari mereka yang melarangnya, menandakan bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

.

.

.

.

.

SM Entertainment Building

 

 

Heechul benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran seseorang yang kini berdiri dihadapannya. Memang benar dialah sang Petinggi SM yang begitu disegani dan dihormati serta mempunyai keputusan yang tidak mungkin bisa ditolak. Tapi apakah dia mempunyai hati nurani? Melihat kehidupan seseorang yang sudah hancur dirinya malah senang dan ikut menambah kehancurannya itu.

 

Heechul menggoncangkan bahu dari Petinggi SM. “Apa karena Kyuhyun bisu kau bisa seenaknya hah?!” Petinggi SM tersenyum sinis. “Setidaknya ingat dahulu posisimu disini.”

Mendengar hal tersebut Heechul melepaskan cengkeramannya. “Kau menghancurkannya.” Petinggi SM menggelengkan kepalanya. “Aku sama sekali tidak melakukan itu, dia sendiri yang melakukannya.”

Heechul tidak percaya bahwa orang dihadapannya ini tetap tidak mau disalahkan. “Kau sama sekali tidak pernah mau mengaku.” Petinggi SM menatap Heechul dengan sinis. “Pikirkan kembali Heechul-ah. Apakah aku yang membuatnya bisu? Apakah aku yang membuatnya terkena kanker pita suara? Dia ingin bernyanyi. Tapi apakah bisa seseorang yang tidak bisa bersuara itu bernyanyi?”

Heechul terdiam, tidak bisa menolak perkataan sang Petinggi SM. “Kau benar-benar…” Petinggi SM membalikan badannya. “Kau tahu aku sudah berpikir untuk mengakhiri kontrak dengan kalian juga. Tapi aku pikir dengan tidak mengakhirinya akan lebih menarik.”

“Apa yang membuat itu lebih menarik untukmu Sajangnim yang terhormat?” Heechul memberikan penekanan pada kata akhirnya.

Petinggi SM tersenyum dan menatap Heechul sekilas. “Menyaksikan orang yang bisu itu hanya bisa mendengar saudara lainnya bernyanyi.” Mata Heechul berkilat marah. Namun dia masih mengingat posisinya.

 

Tak banyak yang tahu bahwa kini seorang Kim Heechul tengah menangis. Hal yang sangat jarang dijumpai dari seorang yang berwatak keras seperti dirinya. Dia merasa menjadi orang tidak berguna, karena tidak bisa menyelamatkan sang dongsaeng. Dia bahkan bisa menyelam, namun sang dongsaeng yang sudah tenggelam sama sekali tidak bisa dirinya bawa kembali ke daratan.

 

Kalimat-kalimat yang dikatakan sang Petinggi SM tadi memang benar adanya. Ini semua bukan keinginannya maupun yang lain, namun ini adalah kehendak yang telah dipilihkan oleh Tuhan. Sekalipun dirinya tidak pernah mengakui keberadaan Tuhan.

.

.

.

.

.

 

 

 

 

 

 

15 Oktober 2016

 

Helaian lebat itu kini semakin menipis. Air matanya semakin menetes kala mendengar suara yang dahulu pernah keluar dari mulutnya dengan lembut. Dahulu dirinya sungguh tidak menyadari bahwa Tuhan menganugerahkan sebuah suara yang begitu indah padanya. Apakah semua ini terjadi dikarenakan dirinya yang kurang bersyukur? Sehingga Tuhan kembali mengambil anugerahnya?

 

Senyuman getir itu keluar dari bibirnya yang kini sudah amat pucat. Kulit putihnya menjadi agak menghitam, karena proses radioterapi dan kemoterapi yang tiada henti dirinya lakukan. Dirinya sangat lelah. Proses-proses tersebut hanya tambah menyakiti tubuhnya yang memang sudah amat lemah itu.

 

Dirinya menangis menangis dengan sangat pilu. Mungkin jika dirinya bisa bersuara isakan yang keluar akan mengiris hati semua orang yang mendengarnya. Seseorang menepuk bahunya dengan pelan. Dengan linangan air mata, dirinya menatap seseorang yang tadi menepuk bahunya dengan pelan.

 

Namja berseragam tersebut memandang sang dongsaeng dengan sedih. “Apa-apaan ini?” Kyuhyun hanya memalingkan pandanganya.

Lee Sungmin mengelengkan kepalanya. “Apa kau akan seperti ini terus Kyu?” Kyuhyun mengangguk dengan amat pelan.

Sungmin tersenyum sinis dengan reaksi roommate-nya dulu itu benar-benar diluar bayangannya. “Kau sama sekali bukan Kyuhyun yang ku kenal.” Kyuhyun memandang hyung-nya itu dengan tidak percaya.

“CHO KYUHYUN BUKAN SEORANG YANG MUDAH MENYERAH!” Mungkin Sungmin marah, amat sangat marah dengan seseorang yang berada dengannya kini. Setelah itu Sungmin berlalu meninggalkan Kyuhyun yang masih tidak mau bereaksi.

 

 

 

Dirinya menunduk dalam setelah kepergian salah satu hyung yang tengah melakukan wajib militernya itu. Meski ditengah kewajibannya, sang hyung tetap menyempatkan dirinya untuk menjenguk dirinya. Namun yang dirinya berikan bukan penyambutan yang baik sehingga menyebabkan hyung kelincinya tersebut menjadi marah dan kecewa.

 

Dirinya tersenyum getir. Benar. Dirinya yang sekarang sama sekali bukan seperti dirinya. Dahulu saja dirinya tidak pernah menyerah dengan hal seberat apapun itu. Namun kali ini? Dirinya menyerah tanpa memberikan perlawanan. Seharusnya pada saat seperti inilah dirinya bangkit.

 

Sekarang dirinya sudah membulatkan tekad untuk bisa lepas dari semua penderitaannya ini. Berusaha untuk bangkit menjadi Cho Kyuhyun yang sebenarnya. “Hyaaaaaa. Aku pasti bisa!” Kyuhyun terkejut dengan suaranya yang tiba-tiba saja kembali.

 

“Aku…..bersuara kembali.”

.

.

.

.

.

Semakin hari keadaannya semakin membaik. Jaehyun sendiripun sangat terkejut dengan perkembangan pesat yang ditunjukan oleh sang pasien. Bahkan infus tersebut sudah bisa dilepaskan dari lengan kurusnya. Jaehyun memastikan bahwa semakin kedepan, keadaannya akan terus membaik. Dan jelas saja itu membuat semua orang yang mendengarnya tersenyum gembira untuk mensyukuri semua ini.

 

Pada sore hari ini entahlah, Kyuhyun meminta semua orang untuk berkumpul di dalam kamar rawatnya. Dirinya bilang bahwa ini adalah salam perpisahan sebelum dirinya benar-benar meninggalkan rumah sakit. Bahakan hyungdeul yang tengah menjalankan wajib militernya pun rela meminta libur untuk memehuni keinginan sang dongsaeng.

 

Kyuhyun memandang mereka semua dengan tatapan yang begitu teduh. “Aku akan bernyanyi untuk kalian.” Eunhyuk menyambut hal itu dengan antusias. “Benar. Sudah lama sekali kami tidak mendengarmu.”

Yesung memberikan sarannya. “Bagaimana kalau hyung ikut bernyanyi?” Kyuhyun menggeleng, menolak secara halus. “Anniyo hyung. Saat ini aku ingin bernyanyi sendiri.”

Ryeowook agak tidak setuju dengan penolakan Kyuhyun. “Kyuhyunnie kita ini K.R.Y” Donghae memutar bola matanya malas. “Sudahlah hyung, Wookie lagipula kalau kalian bergabung belum tentu akan lebih bagus.”

“Donghae-ah darimana kau belajar kata-kata pedas seperti itu?” Heechul bertanya dengan antusias. Kangin menyahutnya. “Aku rasa darimu hyung.”

Sungmin menggelengkan kepalanya. “Virus Chullie hyung harus diatasi.” Shindong membenarkannya. “Akan bahaya jika kita terjangkit.”

Siwon memutar bola matanya malas. “Kalau kalian terus berbicara kapan Kyuhyunnie bernyanyi.” Leeteuk sadar dengan kalimat Siwon dan meminta maaf pada keluarga Kyuhyun. “Josoenghamnida. Semua member memang begitu.”

Tuan Cho tersenyum maklum. “Aku rasa hal itulah yang membuat putra kami betah bersama kalian.” Nyonya Cho mengangguk menambahkan. “Bahkan sangat manja dan ingin terus bersama kalian.”

Ahra yang merasa waktu sudah terlalu lama mulai bicara. “Sekarang bernyanyilah Kyuhyunnie.”

 

Semua disana mendengarkan nyanyian indah yang dibawakan oleh Kyuhyun. Semua terbawa perasaan dengan nyanyian indah tersebut. Nafasnya semakin lemah, tubuhnya semakin lemas. Tidak ada yang menyadari dengan semua itu, karena mereka hanya bisa takjub dengan keindahan suara yang dirinya lantunkan.

 

Pandangannya semakin lama semakin memudar. Tenggorokannya mulai kembali sakit. Kepalanya pun tidak kalah sakitnya. Ketika mencapai akhir-akhir lagu suaranya semakin lama semakin memelan. Dan ditengah semua orang, mata itu tertutup dengan begitu rapat. Dan sungguh mereka ikhlas dengan kehendak Tuhan yang begitu indah.

 

 

 -THE END-

 

 

Fanfic ini aku tulis setelah mendengar kabar kurang membahagiakan dari uri magnae Cho Kyuhyun yang harus istirahat selama 2-3 minggu karena radang pita suara. Dan ternyata meski keliatan ringan penyakit itu bukan main-main. Bisa menimbulkan suatu yang lebih berbahaya lagi. Disini maafkan author ya jika malah memperpanjang deritanya Cho Kyu, eh read this ini hanya just fanfic.

 

Oh iya FF ini mungkin ada yang pro dan kontra tapi sepenuhnya ini hanya isi imajinasi author. Penggabungan dengan fakta rl dan imajinasi. Terimakasih buat Fanpage Kyuhyun a.k.a Cho Kyuhyun yang udah bantu author^^

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: